Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- CIA dan Lembaga Humor Indonesia
ARWAH Setiawan bukan pelawak tapi menaruh minat besar pada humor. Dia menyampaikan gagasannya lewat tulisan di berbagai media massa dan ceramah. Bahkan, dia memprakarsai sebuah wadah untuk mengembangkan humor. Wadah itu, Lembaga Humor Indonesia (LHI), berdiri pada 29 November 1978. Arwah bersama para pengurusnya, antara lain Kris Biantoro, S. Bagyo, G.M. Sidharta, dan Bambang Utomo, menghadap Wakil Presiden Adam Malik. “Tak jelas benar, apakah dalam acara berbincang-bincang itu muncul hal-hal lucu,” sebut buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982. “Belum jauh melangkah,” lanjut buku itu, “Arwah menerima ‘gelitikan’ pertama dari kalangan pelawak. Dia dituduh agen CIA, dinas mata-mata Amerika yang tersohor itu.”
- Mula Profesi Keperawatan
BRENDA Lind, perawat di Amsterdam Wilhelmina Gasthuis (rumahsakit), terpaksa resign dari tempat kerjanya lantaran mendapat tugas baru di Rumahsakit Militer Aceh di bawah instruksi palang merah Belanda. Bersama rekan sejawatnya, Brenda pun berangkat ke Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Setibanya di tujuan, Brenda dan temannya terkejut melihat kondisi rumahsakit di negeri jajahan yang jauh dari rumahsakit di negerinya. Kondisi rumahsakit di negeri jajahan pada awal 1900-an amat sederhana. Dinding kamar rawat inap terbuat dari bambu, ruangannya tanpa lampu, dipan terbuat dari kayu, dan lantainya kotor oleh bercak merah bekas ludah pasien pribumi –yang beruntung mendapat perawatan kesehatan cuma-cuma oleh pemerintah kolonial di rumahsakit– menyirih. Tidak semua perawat Eropa bisa beradaptasi dengan iklim tropis. Beberapa di antaranya jatuh sakit. Ada juga yang kembali ke negerinya. Brenda dan perawat-perawat lain itu merupakan perawat yang didatangkan ke Hindia Belanda.
- Horison Terbit di Awal Orde Baru
GONTOK-gontokan antarsastrawan menemui antiklimaks pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan. Orang-orang kiri, simpatisan PKI, dikejar-kejar aparat dan massa anti-PKI. Mereka dihukum tanpa pengadilan bahkan dibunuh dan dipenjara di Pulau Buru. Begitu pula dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tempat sastrawan kiri berhimpun. Tamatlah era ketika seniman-seniman kiri tak lagi punya panggung dalam dunia kesusastraan di Indonesia. Tersisalah kelompok sastrawan pengusung humanisme universal yang mendeklarasikan Manifes Kebudayaan. Inilah kelompok lawan sastrawan kiri Lekra yang sebelumnya terlibat polemik sastra sepanjang paruh pertama 1960. Setelah huru-hara 1965, sebagian dari anggota Manifes Kebudayaan kemudian menggawangi majalah sastra Horison.
- Tere Liye dan Asal-Usul Pengingkaran Sejarah Gerakan Kiri di Indonesia
SEBETULNYA, kalau saja pernyataan yang menihilkan peran tokoh-tokoh kiri (plus liberal dan aktivis HAM) itu datang dari seorang pemuda tanggung yang baru membaca satu-dua buku, mungkin masih bisa dimaklumi dan tak perlu dianggap soal besar. Tapi masalahnya pernyataan itu terlontar dari seorang penulis yang sudah menghasilkan puluhan karya yang kata-katanya selalu diamini oleh para penggemarnya. Kalau kita perhatikan, pernyataan Tere Liye yang bercampur sinisme itu sebetulnya hendak menggugat mereka, para aktivis kiri, liberal dan HAM yang hidup di masa kini, sebagai konsekuensi dari menguatnya polarisasi kelompok sekularisme versus religius pada hari-hari terakhir ini. Sehingga pernyataan ahistorisnya itu terlontar hanya semata karena ingin menyebarkan keraguan atas peran kelompok tersebut dari sejarah di Indonesia sekaligus mendelegitimasi peran mereka di hari-hari ini. Kita semua tahu keriuhan yang terjadi hari-hari ini banyak melibatkan kelompok tadi, ambil contoh dalam isu LGBT, heboh monumen laskar Cina di TMII dan pelarangan festival Belok Kiri pada pekan lalu. Pernyataan Tere Liye itu menimbulkan tafsir bahwa dia sedang membagi manusia Indonesia ke dalam dua kelompok besar: yang beragama dan yang tak beragama. Yang beragama (“ulama dan tokoh agama lainnya”) punya banyak jasa namun di luar itu, “silahkan cari,” katanya.
- Batik ala Bung Karno
SUDAH rahasia umum apabila Presiden Sukarno bukan hanya cakap dalam berpolitik melainkan pula mumpuni dalam soal seni. Bakat seninya sudah tampak sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Hampir semua bidang seni menjadi perhatian khusus Sukarno. Mulai dari seni dua dimensi seperti lukisan, batik, hingga seni tiga dimensi seperti patung dan karya arsitektur. Soal batik, Sukarno pernah melontarkan gagasan soal batik Indonesia. Bung Besar menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus menyuarakan pesan persatuan Indonesia; sehingga batik di kemudian hari tidak lagi dikenal sebagai batik dari daerah penghasil batik tetapi batik yang mencerminkan persatuan Indonesia. "Bung Karno memerintahkan kepada Go Tik Swan untuk menemukan batik Indonesia," kata Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus pengajar di Universitas Pancasila, dalam diskusi virtual bertema "Bung Karno Sang Arsitek" yang dihelat Historia.ID, Selasa, 2 Juni 2020. Go Tik Swan atau Panembahan Hardjoanagoro semula adalah penari yang kemudian menjadi pengusaha batik di Surakarta.
- Pakde-Pakde Ari Wibowo
PIHAK Indonesia pernah terlibat penjualan senjata api ke Biafra, Nigeria, Afrika, yang dipakai untuk perang saudara dan juga ke Israel. Mayor Jenderal TNI Hartono Wirjodiprodjo, yang pernah menjadi Direktur Peralatan Angkatan Darat hingga 1965, adalah orang yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini. Ia diseret ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) pada 23 Agustus 1971. “Masyarakat amat menghargai putusan pimpinan Angkatan Darat untuk memajukan Mayor Jenderal Hartono ke depan Mahkamah Militer Tinggi. Dengan ini pemerintah membuktikan tidak pandang bulu,” puji Mochtar Lubis dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Meski dipersalahkan, jenderal pendukung Presiden Soeharto itu, baik-baik saja. Menurut Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia, Hartono dihukum dua tahun penjara di mana ia menjalaninya di rumah.
- Beda UMNO dengan Golkar
KOTA Malaka di Negara Bagian Melaka, Federasi Malaysia merupakan kota bersejarah. Selain punya peran penting di Selat Malaka sejak zaman dulu, kota Malaka punya banyak museum. Salah satunya Muzium UMNO. Bersebelahan dengan Muzium Rakyat yang tak jauh dari Benteng Portugis A Famosa, di depan Muzium UMNO terpajang keretaapi lawas yang jadi salah satu pajangan Melaka Historical Vehicle Park. Uang masuk Muzium UMNO hanya dua Ringgit. Amat murah. UMNO, singkatan dari United Malays National Organisation alias Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu, di mata kebanyakan orang Indonesia identik dengan mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, yang meski sudah lebih dari 95 tahun usianya masih juga bisa terpilih. Organisasi tersebut kerap disamakan dengan Golongan Karya (Golkar) di Indonesia kendati banyak pula perbedannya.
- Lief Java dan Ismail Marzuki
PADA 1936, ketika masih berusia 17 tahun, Ismail Marzuki bergabung dengan orkes keroncong yang populer di Batavia. Lief Java mempertemukannya dengan musisi-musisi keroncong hebat pada masanya. Perkumpulan ini merupakan kawah candradimuka yang melambungkan banyak nama besar. Lief Java didirikan oleh Suwardi atau terkenal dengan sebutan Pak Wang pada 1918. Mula-mula orkes keroncong ini bernama Rukun Anggawe Santoso, kemudian berganti nama menjadi Lief Java pada 1923. Menurut Amir Pasaribu dalam Musik dan Selingkar Wilayahnja, kala itu kombinasi instrumen yang dipakai Lief Java cukup sederhana. Hanya viol (biola), suling, gitar, dan celo.
- Komponis dari Betawi
JAUH sebelum daerah Kwitang di Jakarta sesak dengan bangunan rumah, toko, dan gedung perkantoran, di sana pada 1900-an tinggallah sebuah keluarga Betawi berada. Pemiliknya, Marzuki, memiliki bisnis bengkel mobil. Dia tinggal bersama seorang anak lelakinya, Ismail, yang lahir pada 11 Mei 1914 –kelak nama sang ayah melekat pada namanya, menjadi Ismail Marzuki. Istrinya meninggal dunia saat Ismail berusia tiga tahun. Kepiawaian Marzuki dalam urusan kunci inggris dan oli rupanya tak menurun pada anaknya. Sedari kecil, Ismail yang kerap disapa Maing justru menaruh hati pada musik. Dia gemar mendengar alunan merdu dari gramafon milik keluarganya. Saat itu, dia pun mencoba bermain rebana, ukulele, dan gitar seperti kegemaran ayahnya bermain rebana dan kecapi serta handal melantunkan lagu bersyair Islam. Ismail menjalani sekolah formal di HIS Idenburg Menteng, sementara untuk urusan agama di Madrasah Unwanul Wustha. Ismail kemudian melanjutkan pendidikan ke MULO di Jalan Menjangan, Jakarta. Setelah lulus, dia bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan.
- Biarkan Batin Melayang
SUATU sore, karena keasyikan bermain petak umpet, S.K. Trimurti kecil pulang begitu malam tiba. Dia berjalan sendirian melalui lorong-lorong kecil dengan pepohonan besar di kiri-kanan jalan. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh berdebam. Dia kira buah nangka. Ternyata, sosok hitam kecil yang makin lama makin besar hingga setinggi pohon nangka. Dia lari sekuat tenaga. Ketika membantu ibunya membatik, Trimurti menceritakan pengalaman aneh itu. Saparinten, sang ibu, menjawab: “Itu memang suatu kemampuan yang hanya dimiliki almarhum kakekmu. Ternyata, kemampuan melihat badan halus itu diturunkan kepadamu.” Sejak itu, Trimurti percaya akan kekuatan makhluk halus. Keyakinan itu mendorong minatnya pada soal-soal kebatinan. Minatnya mengendap lama karena kesibukannya dalam politik. Baru pada 1958, dia bisa meluangkan waktu untuk mendalami kebatinan. Dia mengikuti kursus tertulis di Akademi Metafisika Surakarta di bawah pimpinan Dr. R. Parjana Surjadiputra, seorang dokter dan direktur Rumah Sakit Umum Semarang yang juga tokoh aliran kebatinan.
- S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini
BANGUNAN di Jalan Kramat Raya itu tak seberapa besar. Ia terhimpit di antara bangunan lainnya. Pagar besi menjadi pembatas antara jalan dan halaman kecil yang dihiasi tanaman dalam pot. Suasananya cukup tenang, sekalipun terletak tak jauh dari jalan utama yang sibuk. Beberapa perempuan renta, penghuni Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, lalu-lalang. Sebagian penghuni panti menyimpan masa lalu yang kelam. Lestari, berusia 78 tahun, berjalan membungkuk. Pada 1967, dia ditangkap tentara dan ditahan selama sebelas tahun karena keikutsertaannya dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dituding terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Dia masih bersemangat ketika berbicara mengenai Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) maupun Gerwani, nama yang kemudian dipakai. Lestari ikut kongres pertama Gerwis di Surabaya pada 1951, kala usianya masih sekira 21 tahun, dan diangkat menjadi ketua Gerwis cabang Bojonegoro, kota kelahirannya. “Salah satu isu yang diperjuangkan adalah pembatasan usia minimal perkawinan. Gerwis juga membuat TK Melati di tiap kecamatan yang berdiri anak cabangnya. Pemilihan simbol melati karena bunga ini harum namun berpenampilan sederhana dan bisa tumbuh di mana saja. Pembangunan TK ini dibiayai oleh kerelaan anggota dan dana sosial masyarakat,” ujarnya.





















