top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penobatan Raja pada Masa Hindu-Buddha

    SAMA halnya dengan masa kini, penobatan seorang penguasa pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi suatu hal yang penting bahkan bukan sekadar seremonial. Pada dasarnya, sulit menemukan data tekstual, baik prasasti maupun karya sastra yang secara khusus memberitakan penobatan seorang raja atau pejabat. “Beda dengan proses penetapan sima, banyak sekali mendapatkan infonya,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia.ID. Padahal, tradisi notulensi sudah ada sejak masa Hindu-Buddha. Salah satunya dikenal dengan sebutan citralekha, yaitu orang yang bertugas mencatat perintah raja. Dalam relief Candi Panataran pun diabadikan gambar murid yang mencatat ajaran dari seorang guru.

  • Rupa Istana Raja-raja Hindu-Buddha

    TAK banyak yang tersisa dari istana-istana pada era kerajaan Hindu-Buddha. Alih-alih membangun istana dengan batu seperti bangunan keagamaan yang megah, para penguasa memilih bahan yang mudah hancur. Meski begitu, keterangan soal rupa istana bisa diperoleh dari berita Cina, karya sastra, dan data arkeologi. Keterangan tertua soal ibukota kerajaan di Jawa disebut dalam berita Cina dari masa Dinasti Tang (681-906). Kota di Jawa itu dikelilingi tembok yang terbuat dari papan kayu. Di dalamnya terdapat rumah-rumah besar berlantai dua beratap daun kelapa. Bangunan-bangunan itu dibuat dengan bahan yang mudah hancur ketimbang bangunan keagamaan yang umumnya terbuat dari batu. Tidak disebutkan adanya bangunan batu untuk istana raja.

  • Susuk di Zaman Hindu Buddha

    BELUM lama ini jagat media sosial Indonesia kembali dibuat ramai dengan sebuah kisah berbau mistik dari salah seorang pengguna Instagram (@tasyabira). Unggahan yang dimuat ulang akun Twitter @yozerxx itu berisi hasil pemindaian x-ray seorang pasien yang memperlihatkan susuk dengan jumlah yang amat banyak. Pemilik akun @tasyabira diketahui tengah mengerjakan studi kasus tentang kepemilikan susuk seorang pasien berusia 55 tahun yang terdeteksi alat pemindai kesehatan. Dia mendapati di dalam tubuh pasien itu bertebaran ratusan jarum kecil di bagian perut, serta tiga buah di bagian mulut dan gigi. Menurutnya, susuk jarang menimbulkan komplikasi sehingga terkadang tidak terdeteksi di mesin pemindai kesehatan. Kalaupun terlihat, itu terjadi secara kebetulan. Dan biasanya ketika diambil foto x-ray kembali, letak susuk itu akan berubah. Susuk umumnya terbuat dari bahan emas atau tembaga, jadi bisa terlihat di mesin x-ray.

  • Pertukaran Pelajar antara Sriwijaya dan Nalanda

    SEBELAS abad lalu, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan diplomasi budaya yang saling menguntungkan. Nalanda dikenal sebagai universitas kuno dan kota kuno di India. Ia pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha dari tahun 427-1197 M di bawah Kerajaan Pala. “Di masanya ada hubungan langsung antara Sriwijaya dan Nalanda. Penting untuk diketahui, bahwa sebelum zaman modern, bangsa Indonesia sudah terhubung dalam hal yang sangat penting, yaitu pikiran,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam sambutannya di seminar “Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail,” di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa, 8 Agustus 2017. Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan bahwa hubungan Sriwijaya-Nalanda lewat pendidikan, khususnya pertukaran pelajar, terbukti ampuh membangun hubungan antarbangsa. “Karena pada akhirnya hubungan people to people penting meningkatkan hubungan antar dua negara,” katanya dalam pidato sebagai pembicara kunci.

  • Inilah Akta Kelahiran Sriwijaya

    TANGGAL 11 paro terang bulan Waisakha, bertepatan 23 April 682, Dapunta Hyang naik perahu dari pusat pemerintahannya, suatu tempat di tepi sungai, menuju sebuah kuil Buddha untuk merayakan Waisak. Dia berdoa untuk keberhasilan ekspedisi yang akan dilakoninya. Usai upacara, dia kembali ke pusat pemerintahannya untuk bersiap perang. Sebulan kemudian, tanggal 5 paro bulan terang Jyestha (19 Mei 682), Dapunta Hyang kembali naik perahu dari daerah Minanga. Kali ini, dia bersama 20 ribu-an tentara dengan membawa 200 peti perbekalan. Armada perang ini akan merebut daerah bernama Mukha --p-. “Boechari mulanya melokalisasikannya di daerah Batanghari, kemudian melokalisasikannya kembali di daerah Delta Upan sekarang. Di daerah itu ada sebuah kampung yang bernama Upang, letaknya 45 km sebelah timur Palembang,” tulis Bambang Budi Utomo dalam Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra.

  • Suku Laut Sriwijaya

    ENAM manekin berambut gondrong, berikat kepala putih, bertelanjang dada hanya memakai kain penutup daerah vital, dan menyandang sebuah tombak. Mereka berdiri dalam sebuah replika rumah kayu: hunian suku laut. Siapakah suku laut itu? Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, pernah meneliti suku laut yang replikanya ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional selama November 2017. Suku laut berdiam di pantai timur Sumatra. Mereka sudah berabad-abad lampau mendiami daerah rawa-rawa ini. “Merekalah para diaspora Austronesia, para penutur bahasa Austronesia. Mereka dari daerah Sambas, Kalimantan, yang kemudian menyeberang ke pantai timur Sumatra. Mereka mendiami daerah rawa ini. Mereka makan dari makanan yang hidup di air seperti ikan dan burung. Merekalah yang bisa disebut sebagai suku laut,” kata Bambang kepada Historia.ID.

  • Sriwijaya Tak Berkuasa hingga Thailand

    PELAJARAN sejarah menyebutkan, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim besar yang pernah ada di Nusantara. Wilayahnya membentang luas hingga Malaysia dan Thailand. Namun, menurut Bambang Budi Utomo, peneliti dari Pusat Penilitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), wilayah Sriwijaya hanya sepanjang Selat Malaka hingga pantai timur Sumatera. Hal itu dibuktikan dari temuan Prasasti Karangjati, Kedukan Bukit, dan Telaga Batu. Ketiganya menunjukkan wilayah inti kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit (605 Saka) di kaki Bukit Siguntang, misalnya, berisi tentang perjalanan Raja Dapunta Hyang dari Koying untuk menemukan tempat baru sampai membangun kota di Kaki Bukit Siguntang, Palembang.

  • Misteri Kerajaan Panai di Sumatra

    PANAI yang dialiri sungai diabadikan dalam Prasasti Tanjore yang berasal dari 10 abad yang lalu. Negeri ini menjadi salah satu yang digempur Rajendracola I setelah pemimpin wangsa Coḷa dari India itu menghabisi Sriwijaya yang makmur. Tiga abad setelahnya Mpu Prapanca seakan mengingatkan keberadaan negeri itu. Dia menyebut Pane sebagai salah satu dari negara-negara Melayu yang dibidik dalam rencana diplomasi Majapahit dan kemudian mendapat pengaruhnya. Paṇai pun seperti menjadi incaran negara-negara besar. Ia mungkin dulunya adalah sebuah negeri yang potensial. Namun kini keberadaannya masih misteri. Padahal sudah beberapa ahli memperkirakan letaknya.

  • Melacak Jejak Kerajaan Panai di Tanah Batak

    SEKIRA menjelang akhir milenium pertama Masehi, muncul Kerajaan Panai di Sumatra bagian utara. Sepertinya kerajaan itu penting karena Kerajaan Cola di India dan beberapa kerajaan lain di Nusantara menyebut namanya dalam dokumen resmi mereka. Panai pertama kali diketahui lewat Prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dari tahun 1030. Prasasti ini dibuat Raja Rajendra Cola I dari Colamandala di India Selatan. Di dalamnya disebut bahwa Panai yang dialiri sungai merupakan salah satu yang digempur sang raja selain Sriwijaya. Penyerbuan Cola juga telah menaklukkan Malaiyur, Ilangasogam, Madamalingam, Ilamuri-Desam, dan Kadaram. Tiga abad kemudian nama Panai kembali muncul dalam Nagarakertagama, kakawin dari Kerajaan Majapahit karya Mpu Prapanca. Sebutannya sedikit berubah menjadi Pane. Ia disebut sebagai bagian dari negeri di Sumatra yang berada di bawah pengaruh Majapahit.

  • Biaro-Biaro Padang Lawas dan Kerajaan Panai di Sumatra Utara

    SETIDAKNYA 26 situs tersebar di Padang Lawas, Sumatra Utara. Di kawasan ini mengalir sungai-sungai, seperti Barumun, sungai induk yang mengalir dari arah barat laut ke tenggara kemudian berbelok ke utara. Lalu Batang Pane, anak Sungai Barumun, dan Sirumambe, anak Sungai Batang Pane, yang mengalir dari barat laut ke tenggara. Di tepi-tepi sungai itu ditemukan situs dari masa Hindu dan Buddha. Mulai dari hulu tepi Sungai Batang Pane, yaitu Situs Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Lalu di tepi Sungai Sirumambe, yaitu Situs Batu Gana, Aek Korsik, Lobu Dolok, Si Soldop, Padang Bujur, Nagasaribu, dan Mangaledang. Hingga ke tepi Sungai Barumun, yaitu Situs Pageran Bira, Porlak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah atau Tandihat 1, Tandihat 2, Longgong atau Tandihat 3 dan Si Pamutung. "Tidak semua lokasi tersebut terdapat runtuhan bangunan, tetapi di beberapa situs ditemukan artefak seperti prasasti, arca, dan stambha," kataSukawati Susetyo, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam diskusi via zoom berjudul "Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya untuk Kemajuan Bangsa" yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh beberapa waktu lalu.

  • Kerajaan Aru, Riwayat Negeri Perompak

    LIMA abad lalu, pelaut Portugis Tome Pires menggambarkan penguasa negeri Aru sebagai raja paling besar di seluruh Sumatra. Ia memiliki banyak penduduk dan lanchara (kapal). Ia juga menguasai banyak aliran sungai di wilayahnya. Sang raja menguasai barang-barang rampasan hasil penyerbuan. Rakyat dan aparat kerajaan pergi melaut untuk merompak. Mereka membagi hasil jarahannya dengan raja. Aru bermusuhan dengan tetangganya, Malaka. Negeri lain pun memandang Aru dengan buruk. “Tanpa mencuri, mereka tak akan bisa hidup, karena itu tak ada yang bisa berkawan dengan mereka,” catat Pires dalam Suma Oriental.

  • Perlawanan Kerajaan Siau Terhadap Belanda

    PADA pertengahan abad ke-16, rakyat Kerajaan Siau dilanda kegelisahan. Gejolak perang mulai terjadi di banyak tempat di wilayah Sulawesi Utara tersebut. Tidak lama setelah raja pertamanya, Raja Lokongbanua (1510-1549) berpulang, kedua pangeran di negeri itu, yakni Angkumang dan Posumah, saling mengklaim hak atas takhta mendiang sang ayah. Melalui peperangan, Posumah keluar sebagai pemenang. Ia memerintah pada 1549-1587. Kerajaan Siau terletak di Sangir Talaud, Sulawesi Utara. Siau menjadi salah satu daerah paling utara di Nusantara, berbatasan langsung dengan Filipina. Tempat itu merupakan sengketa di antara pelaut Eropa pada abad ke-16. Spanyol dan Portugis berencana menjadikan Siau gerbang masuk ke wilayah Nusantara dari masing-masing basis kekuasaan mereka di Asia, yakni Filipina dan Malaka. Sementara Belanda ingin Sulawesi Utara, khususnya Siau, melengkapi monopoli rempah mereka di wilayah Timur Nusantara.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page