Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Suku Laut Sriwijaya
ENAM manekin berambut gondrong, berikat kepala putih, bertelanjang dada hanya memakai kain penutup daerah vital, dan menyandang sebuah tombak. Mereka berdiri dalam sebuah replika rumah kayu: hunian suku laut. Siapakah suku laut itu? Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, pernah meneliti suku laut yang replikanya ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional selama November 2017. Suku laut berdiam di pantai timur Sumatra. Mereka sudah berabad-abad lampau mendiami daerah rawa-rawa ini. “Merekalah para diaspora Austronesia, para penutur bahasa Austronesia. Mereka dari daerah Sambas, Kalimantan, yang kemudian menyeberang ke pantai timur Sumatra. Mereka mendiami daerah rawa ini. Mereka makan dari makanan yang hidup di air seperti ikan dan burung. Merekalah yang bisa disebut sebagai suku laut,” kata Bambang kepada Historia.ID.
- Sriwijaya Tak Berkuasa hingga Thailand
PELAJARAN sejarah menyebutkan, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim besar yang pernah ada di Nusantara. Wilayahnya membentang luas hingga Malaysia dan Thailand. Namun, menurut Bambang Budi Utomo, peneliti dari Pusat Penilitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), wilayah Sriwijaya hanya sepanjang Selat Malaka hingga pantai timur Sumatera. Hal itu dibuktikan dari temuan Prasasti Karangjati, Kedukan Bukit, dan Telaga Batu. Ketiganya menunjukkan wilayah inti kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit (605 Saka) di kaki Bukit Siguntang, misalnya, berisi tentang perjalanan Raja Dapunta Hyang dari Koying untuk menemukan tempat baru sampai membangun kota di Kaki Bukit Siguntang, Palembang.
- Misteri Kerajaan Panai di Sumatra
PANAI yang dialiri sungai diabadikan dalam Prasasti Tanjore yang berasal dari 10 abad yang lalu. Negeri ini menjadi salah satu yang digempur Rajendracola I setelah pemimpin wangsa Coḷa dari India itu menghabisi Sriwijaya yang makmur. Tiga abad setelahnya Mpu Prapanca seakan mengingatkan keberadaan negeri itu. Dia menyebut Pane sebagai salah satu dari negara-negara Melayu yang dibidik dalam rencana diplomasi Majapahit dan kemudian mendapat pengaruhnya. Paṇai pun seperti menjadi incaran negara-negara besar. Ia mungkin dulunya adalah sebuah negeri yang potensial. Namun kini keberadaannya masih misteri. Padahal sudah beberapa ahli memperkirakan letaknya.
- Melacak Jejak Kerajaan Panai di Tanah Batak
SEKIRA menjelang akhir milenium pertama Masehi, muncul Kerajaan Panai di Sumatra bagian utara. Sepertinya kerajaan itu penting karena Kerajaan Cola di India dan beberapa kerajaan lain di Nusantara menyebut namanya dalam dokumen resmi mereka. Panai pertama kali diketahui lewat Prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dari tahun 1030. Prasasti ini dibuat Raja Rajendra Cola I dari Colamandala di India Selatan. Di dalamnya disebut bahwa Panai yang dialiri sungai merupakan salah satu yang digempur sang raja selain Sriwijaya. Penyerbuan Cola juga telah menaklukkan Malaiyur, Ilangasogam, Madamalingam, Ilamuri-Desam, dan Kadaram. Tiga abad kemudian nama Panai kembali muncul dalam Nagarakertagama, kakawin dari Kerajaan Majapahit karya Mpu Prapanca. Sebutannya sedikit berubah menjadi Pane. Ia disebut sebagai bagian dari negeri di Sumatra yang berada di bawah pengaruh Majapahit.
- Biaro-Biaro Padang Lawas dan Kerajaan Panai di Sumatra Utara
SETIDAKNYA 26 situs tersebar di Padang Lawas, Sumatra Utara. Di kawasan ini mengalir sungai-sungai, seperti Barumun, sungai induk yang mengalir dari arah barat laut ke tenggara kemudian berbelok ke utara. Lalu Batang Pane, anak Sungai Barumun, dan Sirumambe, anak Sungai Batang Pane, yang mengalir dari barat laut ke tenggara. Di tepi-tepi sungai itu ditemukan situs dari masa Hindu dan Buddha. Mulai dari hulu tepi Sungai Batang Pane, yaitu Situs Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Lalu di tepi Sungai Sirumambe, yaitu Situs Batu Gana, Aek Korsik, Lobu Dolok, Si Soldop, Padang Bujur, Nagasaribu, dan Mangaledang. Hingga ke tepi Sungai Barumun, yaitu Situs Pageran Bira, Porlak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah atau Tandihat 1, Tandihat 2, Longgong atau Tandihat 3 dan Si Pamutung. "Tidak semua lokasi tersebut terdapat runtuhan bangunan, tetapi di beberapa situs ditemukan artefak seperti prasasti, arca, dan stambha," kataSukawati Susetyo, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam diskusi via zoom berjudul "Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya untuk Kemajuan Bangsa" yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh beberapa waktu lalu.
- Kerajaan Aru, Riwayat Negeri Perompak
LIMA abad lalu, pelaut Portugis Tome Pires menggambarkan penguasa negeri Aru sebagai raja paling besar di seluruh Sumatra. Ia memiliki banyak penduduk dan lanchara (kapal). Ia juga menguasai banyak aliran sungai di wilayahnya. Sang raja menguasai barang-barang rampasan hasil penyerbuan. Rakyat dan aparat kerajaan pergi melaut untuk merompak. Mereka membagi hasil jarahannya dengan raja. Aru bermusuhan dengan tetangganya, Malaka. Negeri lain pun memandang Aru dengan buruk. “Tanpa mencuri, mereka tak akan bisa hidup, karena itu tak ada yang bisa berkawan dengan mereka,” catat Pires dalam Suma Oriental.
- Perlawanan Kerajaan Siau Terhadap Belanda
PADA pertengahan abad ke-16, rakyat Kerajaan Siau dilanda kegelisahan. Gejolak perang mulai terjadi di banyak tempat di wilayah Sulawesi Utara tersebut. Tidak lama setelah raja pertamanya, Raja Lokongbanua (1510-1549) berpulang, kedua pangeran di negeri itu, yakni Angkumang dan Posumah, saling mengklaim hak atas takhta mendiang sang ayah. Melalui peperangan, Posumah keluar sebagai pemenang. Ia memerintah pada 1549-1587. Kerajaan Siau terletak di Sangir Talaud, Sulawesi Utara. Siau menjadi salah satu daerah paling utara di Nusantara, berbatasan langsung dengan Filipina. Tempat itu merupakan sengketa di antara pelaut Eropa pada abad ke-16. Spanyol dan Portugis berencana menjadikan Siau gerbang masuk ke wilayah Nusantara dari masing-masing basis kekuasaan mereka di Asia, yakni Filipina dan Malaka. Sementara Belanda ingin Sulawesi Utara, khususnya Siau, melengkapi monopoli rempah mereka di wilayah Timur Nusantara.
- Menelusuri Jejak Kerajaan Glang-Glang
Sri Jayakatwang berhasrat memerdekakan diri dari pengaruh Kerajaan Singhasari. Dari Glang-Glang di Bumi Wurawan, dia menyerbu istana Kertanagara, membawa nasib buruk bagi kekuasaan Singhasari. Pasukannya menyerang dari dua jurusan. Dari utara mereka menuju Jurang Angsoka. Sorenya mereka berkemah di Turan. Paginya menjarah Desa Memeling, membuat penduduknya lari mengungsi ke ibu kota. Pasukan yang menyerang dari selatan bergerak melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana mereka langsung masuk ke kota Singhasari. Demikianlah kisah itu menjadi akhir bagi Singhasari. Namun, ini adalah awal kekuasaan untuk Jayakatwang, raja dari Glang-Glang.
- Sersan Tolo dapat Bintang dari Kerajaan Belanda
SETELAH melancarkan agresi militer pertama, sejak 21 Juli 1947, tentara Belanda terus merangsek masuk ke Jawa Tengah. Militer Belanda juga mengerahkan serdadu KNIL yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Salah satunya Sersan Tolo. Dengan ditemani seorang juru tulis sipil, juru bahasa, dan pembantu, pada 3 Agustus 1947, Sersan Tolo bergerak memasuki daerah Republik Indonesia sejauh 25 km di daerah Tegal. Rombongan Sersan Tolo itu untuk melakukan penyelidikan. Tiba-tiba rombongan Sersan Tolo bertemu patroli tentara Republik Indonesia. Dalam sebuah pertempuran, Sersan Tolo membunuh dua tentara dan menawan seorang sersan. Sersan Tolo dapat menggali informasi dari sersan itu. Beberapa hari kemudian, berdasarkan informasi itu, tentara Belanda melakukan pembersihan yang dianggap sukses.
- KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis
KENANGAN masa kecil, apalagi yang jarang didapati, biasanya amat membekas pada diri seseorang dan akan terpatri dalam ingatan orang yang mengalaminya. Itu juga dialami Michael John Cleote Crawford Rutherford alias Mike Rutherford, musisi sekaligus pembetot bas grup rock Inggris Genesis. Pada April 1956, dirinya diajak ayahnya mengunjungi kapal perang besar yang sedang bersandar di Pelabuhan Portsmouth, Inggris. Meskipun tidak paham, Mike kecil amat senang bisa menjejakkan kaki di atas kapal tersebut. “Kapten minum teh di rumah kami, saya diundang untuk menghabiskan hari berikutnya di atas kapal sebagai balasan,” kenang Mike dalam The Living Years The First Genesis Memoir.
- Tudingan Kotor Pada Aturan Menyalakan Lampu Motor
SEIRING bertambahnya jumlah sepeda motor di Indonesia, meningkat pula angka kecelakaan di jalan raya. Pemerintah berupaya menekan angka kecelakaan dengan mengeluarkan peraturan sepeda motor wajib menyalakan lampu utama di siang hari. Peraturan ini tercantum dalam Pasal 107 ayat (1) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) No. 22 Tahun 2009. Sanksi bagi pelanggar adalah pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp100.000. Butuh waktu lama sebuah peraturan dapat diberlakukan. Peraturan sepeda motor menyalakan lampu utama di siang hari (Daytime Running Light/Lamp) pertama kali dikeluarkan oleh Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada 1988.
- Perkara Lampu, Sukarno Digampar Serdadu Jepang
ERA penjajahan Jepang (1942-1945) dikenang bangsa Indonesia sebagai masa-masa penuh kesengsaraan. Selain merampas bahan-bahan sandang seperti tekstil dan bahan pangan utama rakyat seperti beras, tentara Jepang pun tak segan-segan melakukan tindakan keras kepada rakyat yang dianggap tak patuh kepada peraturan mereka. “Paling ringan kalau tidak menurut, kita digampar oleh mereka,” ujar Atma (92 tahun), anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang tinggal di Bogor, kepada Historia.ID. Main tangan yang dilakukan militer Jepang itu tak saja dialami oleh rakyat kecil. Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno juga ternyata pernah mendapatkan gamparan dari seorang perwira Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) berpangkat kapten.





















