Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Langkah Militer Daendels
NAPOLEON Bonaparte, Kaisar Prancis, memandang Jawa mempunyai kedudukan penting bagi Prancis. Secara ekonomi, sebagian besar wilayah Jawa menghasilkan komoditas dagang bernilai jual tinggi di pasaran dunia. Dari segi militer, penduduk Jawa bisa berdaya guna sebagai tentara rekrutan Prancis untuk bersaing dengan Inggris di Hindia Timur. Sebab, Inggris pun mengincar Jawa. “Untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, Napoleon butuh sosok kuat dan berpengalaman di bidang militer. Pilihan Napoleon jatuh pada Daendels,” kata Djoko Marihandono. Daendels pernah ikut membantu tentara Prancis menghadapi Inggris dan sekutunya di berbagai tempat di Eropa. Daendels datang ke Jawa dengan menyandang pangkat marsekal. Dia berkuasa penuh atas angkatan darat dan laut, reorganisasi militer, pembangunan benteng pertahanan, dan strategi perang di Jawa untuk menghadapi Inggris. Berikut ini tindakan Daendels di bidang militer dan kekuatannya.
- Reformasi Atas Nama Revolusi
GUBERNUR Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaas Engelhard, meragukan Daendels sebagai gubernur jenderal karena tidak membawa surat resmi pengangkatan dirinya oleh Raja Belanda, Louis Napoleon. Engelhard menularkan keraguannya kepada Gubernur Jenderal A.H. Wiese dan mendesaknya jangan menyerahkan kekuasaan kepada Daendels. Menyadari keraguan Wiese, pada 9 Januari 1808 Daendels membuat pernyataan resmi secara tertulis dan dibacakan di depan sidang Pemerintahan Tertinggi (Hooge Regeering) bahwa dirinya gubernur jenderal yang baru. Engelhard memiliki kekuasaan yang besar dan kepentingannya terusik dengan kedatangan Daendels yang membawa misi mereformasi birokrasi di Hindia Belanda. “Salah satu tindakan yang diambil Gubernur Jenderal Daendels adalah reformasi total administrasi. Semua reformasi ini sangat penting. Dengan itu sistem lama Kompeni dihancurkan dan fondasi untuk sistem baru diletakkan,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia.
- Atas Nama Hukum Napoleon Bonaparte
PADA 1 Januari 1808, Herman Willem Daendels tiba di Pelabuhan Anyer, Banten, setelah menempuh pelayaran panjang dan berbahaya dari Belanda melalui Lisbon dan Maroko. Aroma udara yang dihirup dan cuaca lembab yang diresapinya terasa berbeda dari negeri asalnya di Belanda yang dingin dan kering. “Daendels tiba di Jawa dengan menumpang kapal Amerika yang berhasil mengecoh blokade Inggris,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan. Lima orang ajudan turut mendampingi Daendels setibanya di pantai Anyer. Dari kejauhan, serombongan pasukan dan pejabat Hindia Belanda yang dipimpin petinggi militer Banten, Pieter P. Du Puy, mewakili Gubernur Jenderal Albertus Henricus Wiese, hadir menyongsong kedatangan Daendels.
- Anak Hattem Penyambung Lidah Napoleon
KARIER Burchard Johan Daendels sebagai hakim kota memasuki masa senja. Putra pertama buah cintanya dengan Josina Christina Tulleken, sejatinya akan menggantikan posisinya. Demi menapaki kemungkinan itu, Herman Willem Daendels yang lahir di Hattem, Belanda pada 21 Oktober 1762, menempuh studi hukum di Harderwijk. Semasa kuliah Daendels kepincut pada ide-ide dan gerakan patriot yang santer dikumandangkan oleh dosennya, P.A. Roscam. Upaya mengubah sistem ketatanegaraan tengah gencar dilakukan kaum patriot di Belanda. Mereka terilhami oleh gerakan kaum republiken yang menentang sistem monarki di Prancis. Serampungnya menyelesaikan studi dengan menggarap tugas akhir bertajuk De Compensations, Daendels kembali ke kampung halamannya untuk menyebarluaskan ide-ide patriot kepada teman-temannya. Ia pun bergabung dengan orang-orang militan Patriot Belanda.
- Setelah Daendels Dipanggil Pulang
KOLONEL Jean Phillippe Francoise Filz, pemimpin Fort Victoria, menyerahkan benteng itu beserta 400 peti rempah yang siap dikirim ke Amerika, kepada Inggris. Kalah jumlah pasukan, Filz memilih menyerah sebelum bertempur. Berikutnya Inggris menguasai benteng Nassau dan benteng Amsterdam di Manado pada 16 dan 24 Juni 1810, serta Ternate pada 26 Agustus 1810. Daendels sangat marah ketika menerima laporan bahwa Ambon diserahkan begitu saja kepada Inggris pada 19 Februari 1810. Dia memerintahkan menangkap dan mengadili Filz. Mahkamah militer tinggi memvonis Filz dengan hukuman mati. “Setelah Inggris menguasai Ambon, Daendels yakin sebentar lagi Jawa akan diserang,” kata sejarawan Djoko Marihandono kepada Historia.ID. Oleh karena itu, lanjut Djoko yang menulis disertasi tentang sentralisasi kekuasaan Daendels di Universitas Indonesia tahun 2005, “Daendels memutuskan untuk membangun benteng pertahanan terbesar di Meester Cornelis (sekarang Matraman Jakarta).”
- Polisi Khusus Bentukan Daendels
DI ZAMAN kolonial, Tegal yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, merupakan daerah pemasok beras ke bagian timur Nusantara. Karena punya nilai strategis, pemerintah kolonial secara khusus memproteksi kawasan ini. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut keamanan di kota Tegal dilakukan oleh sejenis kesatuan polisi pribumi berkuda. Mereka berseragam dan berpeci biru dengan senjata kelewang dan pistol. Kesatuan tersebut dinamai: Jayeng-sekar. “Pasukan ini berada di bawah perintah masing-masing kepala distrik (kabupaten) tetapi di ibukota karesidenan (prefektur setara provinsi, red.) di bawah pejabat kulit putih,” tulis Pram.
- Ini Alasan Kenapa Jalan Daendels Berakhir di Panarukan
SETELAH Jalan Anyer-Panarukan selesai, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan tiga peraturan terkait dengan pengaturan dan pengelolaan jalan raya ini. Peraturan pertama dikeluarkan pada 12 Desember 1809 berisi aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan. Peraturan kedua keluar pada 16 Mei 1810 tentang penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya. Peraturan ketiga tanggal 21 November 1810 tentang penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah maupun swasta dari Jakarta, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya. Kendati tujuan awalnya terutama untuk kepentingan ekonomi, Jalan Anyer-Panarukan kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Pos. Daendels mengumumkan pembentukan Dinas Pos pada 3 Agustus 1808, peraturannya telah disusun pada 18 Juli 1808. Dinas Pos berada di bawah Komisaris Urusan Jalan Raya dan Pos yang dipimpin oleh Van Breeuchem dengan gaji 5.000 ringgit per tahun.
- Sepuluh Fakta di Balik Pembangunan Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan
HERMAN Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811). Dalam waktu relatif singat itu, dengan tangan besinya berhasil membangun di berbagai bidang, baik untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan karena ditugaskan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Namun, pembangunan monumental dan melekat padanya adalah Jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos yang panjangnya mencapai seribu kilometer. Kendati menyebut proyek Jalan Anyer-Panarukan sebagai genosida karena menelan ribuan korban, sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengakui, dibandingkan pada masanya jalan itu sama dengan jalan Amsterdam–Paris. Pembangunannya yang hanya setahun (1808-1809) satu rekor dunia pada masanya. “Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya,” tulis Pramoedya dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.
- Beratnya Medan Trikora Papua
SATU per satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur di Papua. Setelah Prajurit Satu Miftahul Arifin ditemukan jasadnya, tim gabungan TNI-Polri kembali menemukan tiga jenazah prajurit lain yang gugur diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Disrtik Mugi-Mam, Nduga, Papua, 15 April 2023. Akibat serangan itu, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono meningkatkan status di Papua menjadi Siaga Tempur di wilayah-wilayah dengan kerawanan tinggi. Pendekatan soft approach yang dipilih selama ini dinilai mantan KSAL itu tidak efektif. Salah satu faktor terpenting yang membuat KKB sulit ditaklukkan adalah kondisi geografis. Sebagaimana dialami para prajurit TNI terdahulu, musuh utama para prajurit bukanlah prajurit lawan melainkan alam. Alam Papua, terutama di bagian tengah, yang pegunungan dengan selimut hutan lebat membuat siapapun leluasa bersembunyi tanpa mudah diketahui.
- Eks KNIL Ikut Bebaskan Papua
SETELAH tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) bubar pada pertengahan 1950, Sersan Rolland Joseph Teppy memilih berdiam di Papua. Kala itu Papua belum diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) seperti dalam kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Rencananya Papua akan diserahkan setahun setelah KMB. Namun, Belanda terus menguasai Papua hingga setelah 27 Desember 1950. Bekas Sersan KNIL Teppy pun tak bisa diam. Menurut George Junus Aditjondro dalam “Marthen Indey Pejuang Irian Barat”, Prisma Nomor 2 Februari 1987, Sersan Teppy berasal dari Manado. Dia pejuang Merah Putih. Marthen Indey adalah orang yang dekat dengan Sersan Teppy. Eks Sersan Teppy langsung mengorganisir gerakan bawah tanah di kota Hollandia (kini Jayapura) begitu mengetahui Belanda terus menguasai Papua. Risiko perjuangan harus ditanggungnya. Koran Indische courant voor Nederland, 23 April 1956, menyebut Teppy kemudian ditangkap dan dipenjara selama beberapa tahun. Dia hendak berontak di sekitar Ifar Gunung.
- Jalan Panjang Mewujudkan Monumen Nasional
MONUMEN Nasional (Monas) dibuka untuk umum pertama kali pada 12 Juli 1975. Tidak mudah untuk mewujudkan Monas dan membentuknya secara utuh dalam satu gagasan besar. Perlu waktu hampir 14 tahun untuk merampungkan pembangunan fisik tugu setinggi 132 meter ini. Gagasan pembangunannya pun dirembug selama hampir enam tahun. Siapa penggagas pembangunan Monas masih simpang siur. Adolf Heuken, sejarawan Jakarta, dan Solichin Salam, penulis buku Tugu Nasional dan Soedarsono, menyebut penggagasnya adalah Sukarno. Kala itu pusat pemerintahan Indonesia kembali ke Jakarta setelah mengungsi di Yogyakarta selama hampir tiga tahun sejak 1947. Sukarno berpikir perlu ada sebuah bangunan di Jakarta untuk mengekalkan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaannya.
- Dari Lapangan Kerbau Sampai Lapangan Monas
BANYAK orang telah masuk kerja kembali pada 10 Juni kemarin setelah libur panjang Lebaran 2019. Tapi sebilangan orang masih memiliki jatah liburnya hingga beberapa hari lagi. Mereka memanfaatkannya dengan membawa keluarga ke tempat wisata. Salah satunya ke kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Ribuan orang tampak mengunjungi kawasan Monas pada Selasa, 11 Juni 2019. Banyak keluarga antre lebih dari sejam demi naik ke puncak Monas. Tiketnya murah. Antara Rp2.000 sampai Rp10.000 per orang, bergantung usia pengunjung. Keluarga lainnya merasa cukup berkeliling taman atau gelar tikar menikmati rindangnya kawasan Monas secara gratisan. Kawasan Monas dulunya hanyalah padang rumput luas. Lukisan karya E. Hardouin, pelukis Prancis (hidup pada 1820–1854), menunjukkan beberapa hewan ternak memakan rumput sehingga kawasan ini sempat bernama Buffelsveld (lapangan kerbau).





















