Hasil pencarian
9799 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- AS Kembalikan Benda Bersejarah Peninggalan Majapahit ke Indonesia
JAKSA Wilayah Manhattan, Alvin L. Bragg Jr., mengumumkan pada Jumat (26/4), pengembalian 30 artefak kuno dari Kamboja dan Indonesia, yang dijarah maupun dijual secara ilegal oleh jaringan pedagang dan penyelundup artefak kuno Amerika. Melansir dari laman Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan, Bragg menyebut benda-benda bersejarah yang terdiri dari 27 artefak kuno dari Kamboja dan 3 dari Indonesia bernilai hampir US$3 juta. Barang-barang tersebut ditemukan setelah serangkaian investigasi yang tengah berlangsung terhadap jaringan perdagangan barang antik yang mengincar artefak-artefak kuno dari Asia Tenggara. Bragg menuding Subhash Kapoor, seorang pedagang seni Amerika, dan Nancy Wiener yang pernah terlibat kasus penyelundupan, berperan besar dalam aktivitas ilegal yang melibatkan puluhan artefak kuno dari Kamboja dan Indonesia ini.
- Sihir Api Petir dari Meriam Majapahit
BUKAN tanpa alasan tindakan Raja Kertanagara dari Singhasari yang memicu invasi bangsa Mongol ke Jawa, mengantarkan lahirnya Kerajaan Majapahit. Begitu Herald van der Linde menarik benang merahnya dalam bukunya, Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire. Majapahit, ungkap Herald, menguasai sebagian wilayah Asia Tenggara di abad ke-13 sampai awal abad ke-15. Pusatnya memang ada di Jawa tapi pengaruhnya begitu luas membentang dari Thailand selatan hingga area Filipina selatan. Kelahiran Majapahit bermula dari peperangan Singhasari dengan Kubilai Khan (Mongol) yang berniat menginvasinya. “Kertanagara menciptakan situasi untuk kebangkitan Majapahit. Ia memotong hidung duta China (Dinasti Yuan/Mongol, red.) yang diutus Kubilai Khan, orang paling berkuasa di dunia saat itu,” terang Herald dalam diskusi buku bertajuk “Majapahit: Nusantara’s Game of Thrones” di Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Jumat (19/7/2024).
- Hukuman Sultan Agung bagi Panglima yang Gagal
PANGLIMA pasukan Mataram yang baru, Tumenggung Sura Agul-Agul tiba di Batavia untuk menggantikan Tumenggung Baureksa yang mati bersama dua putranya dalam pertempuran pada 21 Oktober 1628. Tumenggung Sura Agul-Agul didampingi dua bersaudara panglima lapangan, Kiai Adipati Mandurareja dan Kiai Adipati Upa Santa. Mereka datang dengan harapan besar Batavia telah ditaklukan sehingga tinggal mengumpulkan harta rampasan. Mereka tercengang melihat keadaan yang sebenarnya. "Apa yang akan saya bawa untuk raja saya, raja Mataram," kata Mandurareja. Karena tidak mungkin merebut Batavia dengan penyerangan mendadak, Mandurareja menggunakan cara yang berhasil mengalahkan Surabaya, yaitu membendung sungai. Ribuan prajurit dikerahkan, namun VOC telah mengantisipasinya sehingga cara itu gagal.
- Sultan Agung dan Wabah Penyakit
SULTAN Agung tercatat sebagai raja terbesar Kerajaan Mataram. Ia berkuasa selama lebih dari tiga dekade (1613–1646). Ia menguasai seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Ujung Timur dan Madura. Tak hanya di Jawa dan Madura, kekuasaan Sultan Agung juga diakui oleh Sukadana di Kalimantan, Palembang, Banjarmasin, dan Makassar. Memang kecuali di Sukadana, angkatan laut Mataram bukanlah kekuatan penakluk yang besar atas pulau-pulau lain. Tetapi keberadaannya telah memberi kepada Mataram suatu pengaruh yang mungkin bisa dibandingkan dengan Majapahit. Sehingga, sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200–2004, menyebut “Sultan Agung merupakan penakluk terbesar di Indonesia sejak zaman Majapahit.” Satu-satunya kekurangan Sultan Agung adalah kegagalannya merebut Batavia dari VOC dan satu-satunya kerajaan di Jawa yang tetap merdeka adalah Banten yang terletak di ujung barat.
- Sufi Perempuan Leluhur Wangsa Mataram
DALAM sejarah dinasti Jawa Mataram (abad XVI sampai sekarang) sudah diketahui ada beberapa perempuan yang memainkan peranan penting. Akan tetapi sumber-sumber sejarah yang masih ada jarang menjelaskan peranan mereka secara memuaskan. Babad-babad dan sumber-sumber lain lebih menekankan kegiatian para tokoh pria seperti pangeran, raja, kyai dan sebagainya. Namun demikian, di antara para perempuan berpengaruh yang paling menonjol dalam sejarah Mataram, Ratu Pakubuwana (lahir sekitar 1657; wafat 1732) merupakan tokoh yang kehidupannya dan pengaruhnya cukup jelas. Ratu Pakubuwana keturunan kaum bangsawan Jawa yang tertinggi, kisahnya dimulai dari seorang anak Panembahan Senapati Ingalaga (bertakhta 1584–1601), raja yang meletakkan fondasi-fondasi kerajaan Mataram. Anak Panembahan Senopati itu bernama Pangeran Juminah atau Blitar. Anak, cucu, dan cicit Pangeran Blitar itu juga dinamakan Pangeran Blitar. Yang terakhir ini adalah ayah Ratu Pakubuwana. Selama hidupnya, seperti biasa di kalangan bangsawan Jawa, Ratu Pakubuwana diberi nama-nama yang berlainan. Nama yang paling lama dipakai adalah Ratu Mas Blitar, yaitu nama Blitar yang merupakan tradisi keturunannya.
- Raja Airlangga Mengembalikan Kejayaan Mataram Kuno
JAWA seakan ditimpa pralaya, kehancuran dunia pada akhir zaman Kaliyuga. Istana Mataram Kuno di Jawa Timur terbakar tak bersisa. Serangan Haji Wurawari juga menewaskan Maharaja Dharmawangsa Tguh. Pemerintahannya berakhir pada 1016. Menantu sekaligus keponakannya, Airlangga, melarikan diri ke hutan. Setelah hidup bersama para rsi selama beberapa tahun, dia kembali ke puing-puing kerajaan mertuanya dan dinobatkan pada 1019. Ade Latifa Soetrisno dalam “Prasasti Baru Tahun 925 S/1030 M: Sebuah Kajian Ulang”, skripsi di jurusan arkeologi Universitas Indonesia tahun 1988, menyebutkan bahwa keadaan di Jawa ketika awal pemerintahan Airlangga masih sangat kacau. “Kerajaan Dharmawangsa telah terpecah menjadi sekian banyak kerajaan kecil yang menimbulkan kesukaran besar kepada Airlangga,” tulis Ade.
- Ketika Mataram Dilanda Kelaparan
“Gempa yang dahsyat, banyak gunung tinggi meletus sehingga banyak desa di sekelilingnya tertutup tanah dan batu-batu besar dari gunung. Sumber-sumber air dari Gunung Merapi meluap dan airnya mengalir deras, menggenangi tanah-tanah datar selama beberapa hari. Terjadi gerhana matahari, sampai segala-galanya tidak tampak. Turunlah hujan abu, dan berbagai penyakit melanda seluruh Mataram, mengakibatkan kematian manusia dan kebinasaan kerbau serta sapi dalam jumlah yang tidak terhingga…” Begitulah gambaran bencana alam di dalam Serat Kandha, yang terjadi di hampir seluruh Pulau Jawa, terutama wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram, pada pertengahan abad ke-17. Bencana itu sampai meluluhlantakkan tatanan kehidupan rakyat di sana. Serat Kandha menyebut jika bencana terjadi secara bertubi-tubi. Musim kering yang panjang, hujan deras, gempa, banjir, hingga gunung meletus, berlangsung secara tiba-tiba. Rakyat dibuat kewalahan karena menghadapinya tanpa persiapan. Selama hampir dua tahun lamanya (1674-1676) mereka hidup dalam kekhawatiran. Khawatir jika rentetan kejadian itu menjadi pertanda kehancuran bagi rakyat Mataram.
- Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram
TAHUN 1608 (sumber lain menyebut 1601/1610), penduduk Sumedang Larang ditimpa duka. Salah seorang penguasa terbesar mereka, Prabu Geusan Ulun, dipanggil Sang Pencipta. Raja yang membawa kejayaan bagi Sumedang itu meninggalkan wilayah kuasa yang cukup besar. Sepeninggalnya konflik politik pun tak terhindarkan hingga membagi Sumedang Larang menjadi dua: kerajaan yang berpusat di Dayeuh Luhur, diperintah Pangeran Rangga Gede; dan kerajaan yang berpusat di Tegal Kalong, dipimpin Pangeran Suriadiwangsa. Sumedang Larang sendiri lahir setelah Kerajaan Pakuan Pajajaran (terletak di wilayah Bogor sekarang) dikuasai oleh Kesultanan Banten pada 1579. Menurut Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Barat, peristiwa hancurnya kerajaan Sunda bercorak Hindu Buddha terakhir itu membuat kekuasaan orang-orang Sunda terdorong ke wilayah timur Jawa Barat, yakni Galuh dan Sumedang.
- Pasukan Mataram Diserang Wabah Penyakit
PANEMBAHAN Krapyak meninggal dunia pada 1613. Sultan Agung menggantikannya sebagai raja Mataram. Ia melanjutkan politik ekspansi ayahnya itu. Setelah merebut Malang dan Lumajang pada 1614, berikutnya ia menyerang Wirasaba. Saking pentingnya daerah itu, ia turun langsung ke medan pertempuran. "Raja ingin ikut menyerang melawan Wirasaba. Para pembesar menghalang-halanginya dengan sia-sia," tulis sejarawan H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Sultan Agung mengerahkan pasukan Mataram dan sekutunya dari pesisir. Jumlahnya mencapai 10.000 orang, tidak termasuk para petandu. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Martalaya. Mereka berbaris melintasi Madiun, di sana orang-orang Ponorogo menggabungkan diri.
- Tante Girang di Jalan Sabang
SORE itu, seperti biasa, kendaraan hilir mudik memenuhi ruas Jalan Sabang. Sementara di pinggir jalan, para penjaja makanan kaki lima mulai bersiap-siap membuka gerainya. Begitulah aktivitas yang terjadi saban hari di Jalan Sabang, yang kini lebih dikenal dengan nama Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat. Meski telah bersalin nama sebagai Jalan Haji Agus Salim, tapi orang-orang masih suka menyebutnya Jalan Sabang. Kawasan Jalan Sabang saat ini dikenal sebagai salah satu sentra kuliner di Jakarta Pusat. Mulai dari jajanan sate pinggir jalan, warung kopi, hingga restoran modern tersebar di Jalan Sabang. “Di Sabang ini terkenal tukang sate. Bung Karno tuh, tahun 1960-an main sini, makan sate. Nongkrong. Pacaran sama Baby Huwae,” tutur Taufik Hidayat alias Koh Abun, 69 tahun, sesepuh warga Jalan Sabang kepada Historia.ID.
- Mengalun Bersama Sejarah Jazz
MUSIK jazz dikenal berkat warga Afro-Amerika pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Banyak dikatakan, jazz berakar dari musik Afrika dan Eropa. Dalam pembentukannya, jazz tak bisa lepas dari peran orang kulit hitam di Amerika serikat. Dalam perkembangannya, jazz sering disebut sebagai musik yang memusingkan. Jazz, katanya, musik yang sulit dimengerti, membosankan, bahkan dianggap jadul. Namun, seiring perkembangannya, jazz mulai berinteraksi dengan berbagai jenis aliran musik lainnya. Seringkali dalam aliran musik rock, RnB, dan pop, misalnya, irama jazz muncul. Akibatnya, Jazz kini mulai mudah diterima semua kalangan. Pun penggemarnya tak hanya orang-orang dari generasi lama. Anak-anak muda juga mulai gandrung dengan jazz.
- Alunan Lawas Festival Jazz di Indonesia
JAVA Jazz, Ngayogjazz, dan Prambanan Jazz menjadi agenda tahunan festival jazz Indonesia. Hingga kini, menurut wartawan musik senior Bens Leo, ada lebih dari 60 titik festival jazz di Indonesia. “Musisi jazz itu yang paling tidak memusingkan akan dibayar berapa. Mereka punya toleransi dan kegiatan berkesenian yang bagus. Karena itulah festival jazz ada di mana-mana,” kata Bens. Java Jazz, salah satu festival jazz termegah, menjadi gelaran rutin tiap tahun dan sudah masuk dalam kalender jazz internasional. Berjalan selama 13 tahun, Java Jazz digagas Peter Ghonta setelah terinspirasi North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda. “Ketika akan membuat Java Jazz Festival, dia berkomunikasi dengan penyelenggara di sana. Akhirnya bikin Java Jazz,” kata Bens.





















