Hasil pencarian
9799 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jejak Peranakan dalam Alunan Sejarah Jazz
LAHIR dan populer di kalangan Afro-Amerika pada akhir abad ke-19, musik jazz terus berevolusi seiring pertemuan dan percampuran dengan beragam aliran musik. Jazz juga merambah ke berbagai tempat termasuk ke Indonesia. Musisi-musisi jazz tanah air bermunculan dari masa ke masa. Dari Likumahuwa Bersaudara, Indra Lesmana, Pra Budi Darma, Tohpati, Dewa Budjana, Syaharani, Andien, hingga yang kekinian macam dr. Teuku Adifitrian alias Tompi, Aditya Ong Trio, dan Joey Alexander. Mereka menjadi penerus tongkat estafet para maestro jazz Indonesia era Jack Lesmana, Bubi Chen, dan Ireng Maulana. Di masa awal kemunculan musik jazz, peranakan Tionghoa banyak memainkan peran. Selain Chen Bersaudara, ada Yong Kim, Oei Boen Leng, Freddy Prandi, dan Didi Chia. Oei dan Freddy merupakan guru bagi banyak musisi yang masih aktif di belantika musik Indonesia, termasuk gitaris band Gigi, Dewa Budjana.
- Jazz Menjembatani Jepang dan Amerika
KETIKA diperkenalkan di Jepang awal abad ke-20, jazz identik dengan kafe dan ruang dansa serta busana layaknya flappers dan dandies yang glamor. Para musisi Amerika dan Filipina kerap tampil di kawasan hiburan yang makmur di Osaka dan Kobe. Kaum muda perkotaan di Jepang pun kepincut. Jazz dianggap sebagai simbol modernisme, di tengah kondisi Jepang yang ultranasionalistik pasca kebijakan sakoku (isolasi). Sebagai musisi muda, Fumio Nanri, pemain terompet yang kelak dikenal sebagai pionir musisi jazz Jepang, juga menikmati iklim tersebut. Dia rajin tampil di ruang-ruang dansa untuk memainkan foxtrots sebagai musik untuk berdansa. Namun, situasinya tak selalu menyenangkan. Menurut sejarawan E. Taylor Atkins dalam Blue Nippon: Authentication Jazz in Japan, pejabat kota, polisi, dan aktivis sayap kanan terus-menerus menentang budaya ruang dansa di Jepang. Sebagai tanggapan, beberapa musisi jazz, penari, penyanyi, dan pemilik gedung dansa memilih keluar dari situasi tegang ini dengan pergi ke luar negeri.
- Mata-mata Mataram dalam Penaklukan Tuban
JATUHNYA Wirasaba (sekarang Mojoagung) ke tangan Mataram pada 1615, membuat bupati-bupati daerah timur (Surabaya, Tuban, Japan, dan Madura), merapatkan barisan. Pada 1616, mereka berkumpul di Surabaya untuk mempersiapkan menyerang Mataram. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh, seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun, karena tanahnya datar, beras murah, dan banyak air. Namun, seorang mata-mata Mataram, Randu Watang, yang telah lama bekerja pada adipati Tuban, melarangnya. "[Karena] Madiun, Jayaraga, dan Ponorogo ada di bawah kekuasaan Mataram, dan untuk melalui tempat-tempat tersebut, mereka harus bertempur berat. Ia menganjurkan untuk mengambil jalan melalui Lasem dan Pati. Nasihat yang buruk ini disetujui, dan penasihat yang baik (kajineman) itu dibunuh," tulis H.J. de Graaf, ahli sejarah Jawa, dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung.
- Petualangan Cinta Pangeran Mataram
PADA usia tertentu seorang putra mahkota, sudah harus memilih siapa pasangan yang nanti akan mendampinginya di istana. Umumnya keluarga kerajaan telah mempersiapkan beberapa calon, terutama dari kerajaan lain yang dinilai akan memperkuat posisi sang calon raja di dalam pemerintahan. Proses memilih dan menentukan itu dihadapi oleh putra Amangkurat I, Raden Mas Rahmat alias Pangeran Anom (kelak Amangkurat II) dalam persiapannya mengambil alih kekuasaan Mataram. Pada 1652, ketika putra mahkota dianggap telah menginjak usia siap menikah, keluarga mencalonkan putri Sultan Banten sebagai pasangannya. H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram menyebut rencana pernikahan itu merupakan pengesahan atas kerja sama yang sedang diusahakan kedua kerajaan Islam tersebut. Namun syarat yang diajukan keluarga Mataram, yakni mengirim salah seorang anggota keluarga Kesultanan Banten untuk tinggal di istana Mataram, dianggap terlalu berat.
- Mataram Batal Menyerang Banten
SETELAH kekalahan Cirebon, Raja Mataram Sunan Amangkurat I,merencanakan sebuah ekspedisi ke Banten. Waktunya ditetapkan pertengahan tahun 1652. Pamannya, Pangeran Purbaya, ditunjuksebagai pemimpin penyerangan. Tiba-tiba para pemuka agama memberi tahu bahwa ayahnya, Sultan Agung, pada waktu akhir hayatnya telah berpesan agar senjata Mataram pertama-tama harus diarahkan ke timur kemudian ke barat; kalau tidak, Mataram tidak akan memperoleh berkah. “Berarti pertama-tama Blambangan (Banyuwangi, red.) harus direbut dari orang-orang Bali yang kafir, sebelum dapat menyerang kaum seagama di Banten,” tulis H.J. de Graaf dalam Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I.
- Ekspedisi Mataram Kuno ke Luar Jawa
PERJALANAN ekspedisi ke luar Nusantara bukan hanya dilakukan raja-raja Sriwijaya dan Majapahit. Penguasa Kerajaan Mataram Kuno telah melancarkan aneksasi ke kerajaan-kerajan di luar pulau Jawa. Ada lima zona komersial di Asia Tenggara pada abad ke-14 dan awal abad ke-15. Zona Teluk Benggala mencakup India Selatan, Srilangka, Birma, dan pantai utara Sumatra. Lalu kawasan Selat Malaka. Kemudian Kawasan Laut Tiongkok Selatan yang meliputi pantai timur Semenanjung Tanah Melayu, Thailand, dan Vietnam Selatan. Kawasan Sulu mencakup pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan. Sementara Kawasan Laut Jawa terdiri atas Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Nusa Tenggara.
- Bule Bela Indonesia Merdeka
SELAMA ini, sejarah Indonesia seakan hanya mengenal nama K'tut Tantri alias Muriel Stuart Walker yang menjadi propagandis bagi kemerdekaan Indonesia. Muriel yang dikenal dengan cuap-cuap pedasnya terhadap Inggris dan Belanda dalam perang di Surabaya (November 1945), merupakan warga negara Amerika Serikat keturunan Skotlandia. Dia mengawali kiprahnya sebagai seorang propagandis pro-Republik di Radio Pemberontakan Surabaya. “Dia tandem yang cocok bagi Bung Tomo,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein kepada Historia.ID. Namun, tak banyak orang mengetahui bahwa Muriel bukan satu-satunya. Ada beberapa bule yang pernah terlibat sebagai juru propaganda Indonesia dalam era revolusi. Di antaranya adalah John Edward, Piet van Staveren, dan Elisabeth van Voorthangsen.
- Bule Belanda Dukung Sukarno Merebut Papua
DIA tiba di Indonesia sebagai sukarelawan dalam Marine Brigade (Brigade Marinir) Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Dia adalah J.C. van der Lugt (ada yang menulisnya Cor van der Lugt). Sebelum dikirim ke Indonesia, pria kelahiran Belanda sekitar tahun 1927 ini hanyalah seorang pemuda yang bekerja sebagai perawat bibit tanaman pertanian di masa Belanda masih diduduki tentara Jerman. Setelah Belanda terbebas dari tentara Jerman, pemuda asal Amsterdam ini bergabung dalam militer Belanda pada 20 Juni 1945. Algemeen Handelsblad tanggal 11 Januari 1962 menyebut dia kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk pelatihan marinir oleh Marinir Amerika Serikat. Setelah menjadi Marinir Kelas Tiga, Lugt dikirim ke bekas Hindia Belanda yang mulai disebut Indonesia karena telah memproklamasikan kemerdekaannya. Daerah kerja Marinir Belanda semasa revolusi kemerdekaan Indonesia adalah Jawa Timur. Nieuwe Courant (15 Maret 1947) menyebut, Brigade Marinir Belanda tiba di kota Surabaya, kota pangkalan Angkatan Laut Belanda sejak zaman Hindia Belanda, pada Maret 1946. Mereka kemudian disebar ke berbagai daerah konflik. Dalam Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947, pasukan Marinir Belanda yang terkenal kejam menyebar ke daerah-daerah di luar Surabaya sampai ke Keresidenan Besuki.
- Serdadu Belanda Menolak Perangi Indonesia
SUATU hari di tahun 1947. Seorang anggota BKPRI (Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia) Madiun mendatangi MBT (Markas Besar Tentara) di Yogyakarta. Moerijanto, nama utusan BPKRI itu, memohon agar MBT membebaskan Piet van Staveren dan menyerahkannya kepada mereka. “Aku pikir mustahil orang-orang kiri itu (BPKRI) melakukan hal tersebut jika sebelumnya tidak dikonfirmasi oleh Partai Komunis Belanda (CNP) bahwa ada anggotanya yang sedang ditahan pihak tentara Indonesia,” ungkap J.C. Princen. Lewat lobi-lobi tingkat tinggi yang sangat alot, Piet kemudian berhasil diboyong ke Madiun. Menurut Asmudji, di Madiun dia disambut dan diperlakukan layaknya seorang pahlawan oleh orang-orang kiri. Nyaris tiap hari, secara bergilir Piet selalu didapuk untuk menceritakan pengalaman hidupnya hingga sampai Indonesia di hadapan para kader Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Bisa dikatakan Piet seolah menemukan habitatnya di Madiun.
- Demi Buruh dan Tani yang Tertindas
PAGI baru saja memasuki Madiun ketika Radio Gelora Pemuda (RGM) mengudara seperti biasa. Namun, berbeda dengan siaran-siaran yang lalu, saat itu RGM menampilkan seorang penyiar berbangsa Belanda bernama Peter Volkland. Dalam bahasa Belanda, sang penyiar menyerukan agar semua serdadu Belanda yang sedang bertugas di Indonesia untuk tidak mematuhi segala perintah menindas rakyat Indonesia. “Banyak dari kalian yang nanti akan tewas dalam perang ini, tapi untuk apa? Sesungguhnya apa yang kalian lakukan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan Belanda yang katanya sedang kalian bela. Secara tidak sadar kalian hanya tengah membela kepentingan segelintir elite keluarga kerajaan.” “Wahai kawan-kawanku sesama pemuda Belanda darah kalian tidak pantas tumpah untuk sebuah keluarga yang memiliki lebih banyak darah Jerman dibandingkan darah Belanda… Serdadu-serdadu Belanda janganlah berkhianat kepada orangtua kalian sendiri, apakah kalian sadar bahwa orang-orang yang tengah kalian hadapi di sini adalah para buruh tani laiknya orangtua kalian di Belanda sana…”
- Ketika Genderang Buruh Ditabuh
19 Mei 1948. Ribuan buruh dan petani kapas di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, mendatangi kantor Badan Textil Negara (BTN) di Solo. Mereka menuntut pembayaran upah yang tertunda sejak 1947. Aksi itu memicu munculnya aksi mogok di berbagai tempat. Sejak 26 Mei, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) mengambil-alih aksi tersebut. Konflik kian memanas ketika mereka bentrok dengan Serikat Tani Islam Indonesia yang berafiliasi dengan Masyumi. Untuk mengatasinya, Kementerian Perburuhan dan Sosial mendudukkan wakil-wakil pihak yang bertikai di meja perundingan. Hasilnya, kedua pihak sepakat menandatangani “Akte Persetudjuan”. Sayang, akte tersebut akhirnya hanya jadi secarik kertas lantaran BTN tak tergerak menjalankannya. Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat pun turun tangan dengan membentuk Panitia Enquete. Lagi-lagi, Panitia Enquete tak memberi banyak hasil. Baru setelah Perdana Menteri Mohammad Hatta mengadakan pertemuan dengan pimpinan SOBSI pada 14 Juli, pemogokan dihentikan. Pemogokan Delanggu bukan hanya aksi buruh dan tani pertama setelah Indonesia merdeka, tapi juga menjadi bahan ajar penting bagi pemerintah dalam menangani masalah perburuhan.
- Serikat Buruh Nasionalis, Antara Perjuangan Kelas dan Kepentingan Nasional
PBB gagal mengesahkan suatu resolusi agar Belanda merundingkan masalah Irian Barat dengan Indonesia. Akibatnya meledak gerakan anti-Belanda, di antaranya pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda. Serikat buruh pertama yang melakukan aksi pengambilalihan adalah KBKI (Konsentrasi Buruh Kerakyatan Indonesia). Pada 3 Desember 1957, sekelompok pimpinan KBKI memaksa masuk ke ruangan manajer di kantor pusat KPM (Perusahaan Pelayaran Belanda) di Jalan Merdeka Timur Jakarta, dan menyatakan mengambilalih KPM. “Menghadapi situasi demikian, pihak manajemen mengemukakan bahwa mereka harus membicarakannya terlebih dahulu dengan pemerintah, dan dijawab oleh pimpinan mereka, ‘kami dan kaum buruh adalah pemerintah!’” tulis Bondan Kanumoyoso dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia.





















