Hasil pencarian
9791 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lempar Kebakaran Sembunyi Tangan
TARAWEH berjamaah baru sampai rakaan keenam di masjid At-Taqwa, Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Sebuah kegaduhan memecah kekhusyukan. Dari seberang masjid, sekelompok warga berlari dan berteriak, “Kebakaran… kebakaran…!” Tersentak, jemaah seketika bubar. Mereka keluar dan melihat api berjelanak dari permukiman padat yang tak jauh dari masjid. Kemiyem, seorang jemaah, cepat lari ke rumahnya. Dia menyelamatkan apa saja yang mampu dia bawa. Api hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya yang sebagian besar terbuat dari kayu dan beratapkan seng. “Untung, waktu itu api belum sampai rumah saya. Keluarga saya akhirnya selemat,” kenang Kemiyem. Meski warga sigap, api lebih cepat membesar. Mobil pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi, tertahan di luar permukiman, karena jalan yang sempit. Tanpa ampun, si jago merah melahap permukiman itu pada 6 agustus 2012. Tercatat 286 rumah dan 400 ruko luluh lantak. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Meski tak ada korban jiwa, sebagian warga harus mengubur keinginan pulang kampung. Termasuk Kemiyem.
- Hikayat Demang Lehman dari Kesultanan Banjar
GENDERANG perang itu akhirnya ditabuh. Seluruh Banjarmasin dilanda kekacauan hebat pada 1859. Rakyat yang tersulut amarah sudah tidak bisa lagi menmaklumi sikap keterlaluan orang-orang Belanda. Setelah seenaknya melakukan monopoli perdagangan, mereka malah turut campur dalam proses pergantian takhta Kesultanan Banjar. Mulanya kebencian rakyat ditujukan kepada Sultan Tamjid, pemimpin Banjar yang diangkat pemerintah Belanda. Selain dianggap boneka kolonial, perangai sang sultan juga tidak disenangi rakyat. Ia kerap menjalankan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Namun pertentangan berubah menjadi keinginan mengusir para kolonial setelah keberadaan mereka semakin memberatkan kehidupan rakyat Banjarmasin. Pucuk perlawanan rakyat dipegang oleh Pangeran Hidayatullah, satu-satunya pewaris takhta yang diakui rakyat. Ia berjuang bersama pahlawan besar Banjarmasin, Pangeran Antasari, dan sejumlah bangsawan serta pemuka agama. Sang pangeran juga didampingi salah seorang pengikutnya yang paling setia: Demang Lehman.
- Lapor Kebakaran Berhadiah Uang
KEBAKARAN terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Tambora, Jakarta Barat, Kamis (27/10/2022) siang. Warga bahu-membahu memadamkan api dengan ember serta menghubungi petugas pemadam kebakaran. Kebakaran menyebabkan lima rumah hangus. Berbeda dengan masa kini di mana kebakaran dapat dilaporkan melalui telepon atau aplikasi pesan di ponsel pintar. Di masa lalu, informasi kebakaran kerap terlambat diketahui oleh brandweer atau pemadam kebakaran karena terbatasnya alat komunikasi. G.H. Von Faber dalam Oud Soerabaia menyebut rumah pribumi di Surabaya pada abad ke-18, yang sebagian besar dibangun dari bahan-bahan yang mudah terbakar, membuat upaya memadamkan api membutuhkan waktu yang lama. Alat yang digunakan untuk memadamkan api pun biasanya ember, panci, hingga wajan yang mudah ditemukan di dapur.
- Agar Si Jago Merah Tak Lagi Marah
BELAKANGAN ini Pemadam Kebakaran (Damkar) naik daun. Kendati semua orang tahu tugas dinas berslogan “Pantang Pulang Sebelum Padam” itu memadamkan kebakaran, masyarakat lebih memilihnya untuk bermacam urusan lantaran ketidakpercayaan terhadap polisi begitu tinggi. Terlebih, beberapa tahun terakhir masyarakat mulai tahu Damkar bisa melakukan pertolongan di luar bidangnya, mulai dari urusan remeh seperti mengganti bohlam lampu, melepaskan cincin, atau mengatasi sarang tawon hingga urusan yang menyangkut keselamatan jiwa-raga seperti melepas besi yang menjerat tubuh ataupun menangkap ular. Lantaran itulah baru-baru ini seorang perempuan asal Pekalongan yang menjadi korban penipuan mendatangi Damkar untuk mencurahkan isi hatinya. Putri, gadis itu, kecewa laporannya ke polisi sebelumnya tidak diindahkan dan dia malah ditawarkan membeli kue nastar buatan salah satu anggota di sana.
- James Gavin, Jenderal Penerjun di Perang Dunia II
MISI Boston merupakan salah satu misi pentingdalam Operasi Pendaratan Normandia pada 6 Juni 1944. Tujuannya untuk mengamankan kota di belakang garis pertahanan tentara Jerman di Pantai Utah. Kota Sainte-Mère-Église akhirnya berhasil diduduki satuan-satuan penerjun Divisi 82. Tiga bulan kemudian, Divisi 82 terlibat lagi dalam operasi penerjunan di Belanda. Operasi itu disusun dan dipimpin oleh Jenderal Bernard Law Montgemory, yang pernah mengalahkan pasukan Jerman di bawah Jenderal Erwin Rommel di El Alamein, Mesir. Ketika operasi bersandi Market Garden itu digelar pada 17 September 1944, Divisi 82 dipimpin Mayor Jenderal James Maurice “Slim Jim” Gavin. Dalam operasi itu, Gavin tidak duduk di balik meja. Dia ikut terjun di Belanda.
- Kisah Polisi Kombatan di Balik Panggung Sejarah
DALAM sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, peran polisi kalah mentereng dari tentara. Tengok saja perbandingannya dari representasi yang masuk album pahlawan nasional. Sampai saat ini, jumlah pahlawan nasional dari kalangan kepolisian hanya tiga tokoh. Sementara dari kalangan militer jauh lebih banyak. Para tokoh polisi yang menjadi pahlawan nasional itu yakni Moehammad Jasin, Soekanto Tjokrodiatmodjo, dan Hoegeng Imam Santoso. Dua nama pertama telah dikenal sejak masa revolusi. Soekanto sebagai Kapolri pertama peletak dasar institusi kepolisian sedangkan Jasin adalah komandan Brimob pertama. Ia dijuluki Bapak Brimob Indonesia. Jasin memulai kiprahnya sebagai komandan Polisi Istimewa –cikal bakal Korps Brimob– di Surabaya. Seperti Jasin, Bambang Soeprapto Dipokoesoemo juga berkedudukan sama di Semarang. Namun, namanya tidak banyak tercatat di buku-buku sejarah. Dia mungkin tidak setenar Soeprapto yang militer, perwira tinggi TNI AD yang menjadi pahlawan revolusi.
- Komandan Polisi Istimewa Digebuki Anggota Laskar Naga Terbang
LASKAR Naga Terbang lebih cenderung sebagai gerombolan pengacau ketimbang berjuang di medan tempur. Pemimpinnya bernama Timur Pane, seorang tokoh laskar yang terkenal beringas. Konon katanya, Timur Pane adalah seorang mantan copet di Medan yang kemudian ambil bagian dalam Perang Kemerdekaan di Sumatra Utara. “Ia seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan di Sumatra Timur, mungkin juga sangat ditakuti, karena tindakannya kerap kali radikal, dan musuhnya yang ditangkapnya terus dipotong saja,” kata Mohammad Radjab, wartawan Antara yang pernah mewawancari Timur Pane di Parapat pada 15 Juli 1947, seperti dituturkannya dalam reportase Tjatatan di Sumatra (1947). Menurut Kementerian Penerangan, Timur Pane mengumpulkan beberapa barisan laskar dalam satu kesatuan pasukan yang besar. Dalam sekejap, Timur Pane mendaulat diri sebagai jenderal mayor sekaligus mengangkat serta anak buahnya menempati jabatan kolonel dan setara opsir.
- Awal Sejarah Polisi Singapura
KEPOLISIAN Singapura telah menangkap 25 orang dan menyelidiki 65 orang lainnya menyusul operasi antipenipuan skala besar yang dilakukan sejak pertengahan Februari hingga awal Maret. Operasi tersebut menargetkan individu-individu yang terlibat dalam penipuan peniruan pejabat pemerintah, penipuan investasi, dan penipuan pekerjaan. Polisi bekerjasama dengan bank-bank lokal dan berhasil menyita sekitar 1,9 juta dolar Singapura yang diduga merupakan hasil penipuan. Lebih dari 300 rekening bank yang terkait dengan transfer dana ilegal, kata Kepolisian, telah diidentifikasi dan dibekukan. Polisi Singapura punya reputasi amat baik. Kini, ia sebagai salah satu polisi terbaik dunia. Kisah berdirinya kepolisian Singapura tak bisa dilepaskan dari William Farquhar, orang Inggris pertama yang mendirikan dan memimpin permukiman Inggris di Pulau Singapura atau Tumasek.
- Polisi Bersenjata, Solusi Pemerintah Kolonial Atasi Kerusuhan
SEWAKTU berkuasa, pemerintah Hindia Belanda biasanya mengerahkan tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) untuk menyelesaikan segala kerusuhan di Nusantara (Indonesia) sebagai solusinya. Kerusuhan yang berakar dari ketimpangan ekonomi, misalnya, adalah perkara penting yang harus diselesaikan pemerintah kolonial selalu dengan kekerasan. Hal itu antara lain berangkat dari fakta tak memadai jumlah polisi yang berada di bawah kendali dari Binnenland Bestuur (BB/Departemen Dalam Negeri) di banyak daerah. Polisi desa atau polisi umum biasanya kalah jumlah oleh perusuh. Mula-mula, tentara KNIL jadi andalan. Namun, penggunaan militer lebih luas yang diinginkan Gubernur Jenderal Van Heutz mendapat banyak penolakan. Sang “penakluk” Aceh itu akhirnya mendapat jawaban pada kepolisian. Ia pun segera menugaskan Boekhoudt dan Priester untuk merancang usulan reorganisasi kepolisian.
- Cerita Para Bhayangkara
PERTENGAHAN September 1948. Akibat terjadinya Peristiwa Madiun, hubungan kota Madiun dengan kota-kota lain termasuk ibu kota Yogyakarta dan Blitar terputus. Sementara itu, di Madiun sendiri sedang terjadi penculikan dan pembunuhan oleh kaum komunis terhadap para pejabat pemerintah Indonesia. Demi melakukan koordinasi penumpasan, Djawatan Kepolisian Negara (DKN) di Yogyakarta menugaskan Komisaris Polisi Soeprapto untuk menyampaikan surat perintah kepada Moehammad Jasin, komandan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur yang sedang ada di Blitar. Penyampaian surat perintah itu rencananya akan dilakukan lewat penerjunan Soeprapto dan dua perwira TNI (salah satunya adalah Mayor Islam Salim) di Alun-Alun Blitar. “Di Maguwo, mereka mendapat petunjuk (kilat) melakukan penerjunan dengan parasut tanpa latihan terlebih dahulu,” demikian menurut buku Brimob: Dulu, Kini dan Esok yang disusun oleh Atim Supomo dkk. Penerjunan itu sendiri terpaksa dilakukan, karena di Blitar tidak ada bandar udara yang memungkinkan sebuah pesawat mendarat secara mulus.
- Kisah di Balik Falsafah Bhayangkara
KEBAKARAN hebat melanda Mabes Polri di Jalan Trunojoyo pada 1995. Di tengah puing-puing, Noegroho Djajoesman, sekretaris Direktorat Samapta Polri, berhasil menyelamatkan benda berharga berbentuk panji-panji: Pataka Polri. Penemuan pusaka itu diceritakan kepada ayahnya, Hendra Djajoesman. Sang ayah tahu persis sejarah Pataka Polri karena pernah menjadi ajudan Soekanto. “Tiang Pataka berasal dari pohon yang terdapat di Pulau Karimun Jawa, yang secara khusus diambil Soekanto dengan cara tirakatan,” kata Hendra dalam biografi Nugroho Djajoesman, Meniti Gelombang Reformasi. Menurut Hendra, Pataka Polri dibuat khusus oleh Soekanto dan benderanya dijahit oleh Nyonya Soekanto, Lena Mokoginta. Setengah abad sebelumnya, tepatnya 1 Juli 1955, Pataka itu diserahkan secara simbolis oleh Presiden Sukarno kepada Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Hari itu, di Lapangan Banteng, adalah perayaan ulang tahun kepolisian sekaligus peresmian gedung Mabes Polri.
- Lena Mokoginta Soekanto, Pendiri Bhayangkari
BEGITU mendengar Kongres Wanita Indonesia akan mengadakan pertemuan pada akhir Agustus 1949, Hadidjah Lena Mokoginta Soekanto, istri Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, langsung bersemangat untuk ikut bergabung. Selain karena keinginannya bergabung dengan perjuangan perempuan, Lena menyadari selama masa perjuangan kemerdekaan, bantuan dari para istri polisi masih terpencar dan belum terlihat secara nyata. Maka, Lena merencanakan pendirian organisasi agar para istri polisi bisa ikut turun dalam perjuangan kemerdekaan dengan pembentukan dapur umum dan membantu palang merah. Lena lantas mencarikan nama yang pas untuk organisasi barunya itu.





















