top of page

Hasil pencarian

9871 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Persebaya dalam Pusaran Masa

    SUATU siang di Surabaya. Selain terik matahari yang menyengat kulit, dalam perjalanan menuju Stadion Gelora 10 November menggunakan sepeda motor mata “disuguhi” grafiti dengan kata Persebaya di berbagai sudut kota. Grafiti-grafiti yang terdapat di pagar beton maupun tembok bangunan terbengkalai itu jadi penanda besarnya kecintaan arek-arek Suroboyo terhadap Persebaya Surabaya. Klub sepakbola yang sejak lahir hingga kini terus mengisi lembaran-lembaran sejarah persepakbolaan nasional itu lahir dari perjuangan tokoh-tokoh Bumiputera di masa sepakbola tengah berkembang pesat di berbagai kota di Hindia Belanda. Persebaya memang bukan yang pertama di Surabaya. Setelah orang-orang Belanda punya Oost Java Voetbalbond (OOJV) sejak 1907 yang berganti nama menjadi Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) mulai 1914, golongan Tionghoa lebih dulu punya klub sepakbola setelah mendirikan Tiong Hwa Soerabaia pada 1914.

  • Pemain Persebaya Gugur di Pertempuran 10 November

    PAGI ini, 10 November, 74 tahun lampau. Kota Surabaya diguncang hebatoleh bombardir Inggris dari udara, laut, dan darat. Ketenangan kota metropolitan di timur Pulau Jawa itu berubah jadi “neraka”. Alih-alih menyerah, arek-arek Suroboyo pilih melawan. Spirit mereka dibangkitkan salah satunya oleh pidato Soetomo alias Bung Tomo. “Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap merdeka atau mati,” kata Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api.

  • Naga Wuhan di Bawah Mistar Persebaya

    ENAM abad setelah Laksamana Zheng He alias Cheng Ho datang ke Nusantara dan turut berlabuh di Surabaya, kiper muda dari negeri yang sama juga datang ke Surabaya. Dialah Zheng Cheng. Kiper kelahiran Wuhan pada 8 Januari 1987 itu tercatat jadi pesepakbola asal China pertama di Persebaya pada 2005. Saking berkesannya kenangan singkat itu, komisaris Persebaya Dahlan Iskan beberapa waktu lalu berniat kembali mendatangkan pemain dari Negeri Tirai Bambu lagi ketika bersua Xu Yong, konsul jenderal RRC di Surabaya. “Saya pernah mendatangkan Zheng Cheng saat masih menjadi pengurus Persebaya. Setelah bermain di Persebaya, kariernya kemudian melesat hingga jadi kiper timnas Tiongkok,” ungkap Dahlan, sebagaimana dilansir Harian Disway, 12 Maret 2024.

  • Grafiti Setelah Proklamasi

    WALI Kota Malang, Sutiaji menuliskan grafiti pertama di Jembatan Kedungkandang pada Senin (15/3/2021). Kegiatan ini untuk mengapresiasi komunitas seniman grafiti yang suka mengkritik dengan seni. Radarmalang.jawapos.com melaporkan, sekitar 20 komunitas dengan seratus orang lebih akan mengerjakan mural di Jembatan Kedungkandang ini selama dua minggu. Targetnya selesai sebelum ulang tahun Kota Malang. Wali Kota Sutiaji membuat grafiti titik. “Filosofinya titik, kita harus fokus. Kita berangkat dari satu titik dan menuju ke satu titik,” kata Sutiaji dikutip beritajatim.com. Sedangkan komandan Kodim 0833 menulis “TNI Bersama Rakyat” dan kepala Kejaksaan Negeri menulis “Orang Hebat Tidak Korupsi”. Tulisan-tulisan itu oleh warganet twitter diganti dan dijadikan meme. Dalam sejarah, grafiti menjadi slogan perjuangan setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

  • Pemain Hindia Belanda di Piala Dunia Tenggelam di Samudra Hindia

    SEBUAH pesta pernikahan diadakan di sebuah rumah di Sidoarjo, Jawa Timur pada 26 Juli 1938. Pasangan yang menikah adalah Emilie Stekkinger dengan Frans Albert Meeng. Emilie merupakan perempuan berparas Indo-Belanda kelahiran Blitar tahun 1911 yang disapa Miel. Pasangannya, Frans Meeng, seorang pemuda kelahiran Palembang tahun 1910 yang disapa Frans. Keduanya, sebut Avond Post tanggal 31 Desember 1937, bertunangan di akhir tahun 1937. Miel dan Frans akhirnya bisa berbahagia di hari bersejarah itu. Pasalnya, ada saja hambatan yang merintangi sebelum pesta pernikahan mereka berlangsung. Birokrasi pernikahan mereka yang tak tepat waktu membuat ayah Miel harus berada di tempat lain saat pesta dihelat. Belum lagi, mobil untuk mereka juga tak tersedia. Frans sendiri harus dagdigdug karena kereta api yang akan ditumpanginya untuk membawanya ke Surabaya tertahan satu jam di Stasiun Gambir, Batavia. Ketika tertahan di Gambir, Frans tetap tak bisa mundur dari pernikahannya di Sidoarjo. Sebab, koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 25 Juli 1938 sudah mengabarkan rencana pernikahan itu tepat sehari sebelum pernikahannya akan dilaksanakan.

  • Adidas dan Kemenangan Jerman Barat di Piala Dunia 1954

    HUJAN deras mengguyur Stadion Wankdorf, Bern, Swiss, saat final Piala Dunia 1954 yang mempertemukan tim sepakbola Jerman Barat dengan Hungaria berlangsung di awal bulan Juli. Pertandingan itu tak hanya memberi kenangan manis untuk Jerman Barat karena berhasil meraih gelar juara Piala Dunia untuk pertama kalinya, tetapi juga bagi Adolf “Adi” Dassler, pembuat sepatu asal Jerman yang merupakan orang di balik Adidas. Menurut Jason Coles dalam Golden Kicks The Shoes that Changed Sport, di atas kertas, Hungaria yang menjadi salah satu tim favorit dan digadang-gadang akan menjadi juara Piala Dunia 1954, dapat dengan mudah mengalahkan tim sepakbola Jerman Barat yang baru saja diizinkan kembali berkompetisi dalam kancah internasional setelah Perang Dunia II. Namun, ada dua hal yang tampaknya tak begitu diperhitungkan Hungaria di pertandingan final tersebut, yakni cuaca dan Adi Dassler. Tim sepakbola Hungaria tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencetak gol sejak babak pertama dimulai. Namun, tim sepakbola Jerman Barat tak ingin menyerah dengan mudah. Sempat tertinggal 0-2 dari Hungaria, tim asuhan Sepp Herberger itu mampu menyeimbangkan kedudukan menjadi 2-2 sebelum akhir babak pertama. Momen tak terlupakan terjadi saat hujan deras mengguyur Bern, Swiss, hingga menyebabkan Stadion Wankdorf berubah menjadi kubangan lumpur.

  • Gubernur Soerjo di Palagan Surabaya

    “Kita ini bangsa yang besar, tundukkan kompeni, kalahkan tentara Inggris. Kita harus menjaga kehormatan Bangsa Indonesia. Tunjukkan pada tentara Inggris bahwa kita bangsa Indonesia benar-benar ingin merdeka. Merdeka atau mati!”. Penggalan kalimat itu, sebagaimana dikutip Abdul Waid dalam Bung Tomo, dibacakan Bung Tomo di hadapan ribuan rakyat Surabaya pada pidato 10 November 1945, kala perang melawan Inggris pecah di Kota Pahlawan itu. Kepiawaian Bung Tomo memimpin rakyat Surabaya terbukti mampu membakar semangat perlawanan terhadap kaum penjajah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pejuang terkemuka Surabaya, yang namanya kerap diidentikan dengan peristiwa 10 November 1945 di ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut.

  • Toleransi Beragama Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker

    PULUHAN gubernur jenderal ditunjuk selama masa kekuasaan VOC di Batavia. Dari 37 gubernur jenderal, 34 gubernur jenderal benar-benar terlibat langsung dalam urusan kota yang kini dikenal dengan nama Jakarta. “Di masa kekuasaan VOC tidak ada jabatan dan fungsi tertinggi dalam administrasi pemerintahan kota. Semuanya harus dilaporkan kepada pemerintah pusat yang dijabat oleh Gubernur Jenderal bersama-sama dengan Dewan Hindia berkantor di Kastil Batavia,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Calon gubernur jenderal dipilih di antara anggota Dewan Hindia (Raad van Indie), lalu dilaporkan kepada Dewan Tujuhbelas (Heeren Seventien). Untuk dapat diangkat sebagai gubernur jenderal, seseorang tak hanya harus menjadi anggota Dewan Hindia, tapi juga harus menduduki posisi opperkoopman atau pedagang utama dalam struktur kepegawaian VOC. Hal itu didasarkan pada esensi utama VOC yang merupakan perusahaan dagang, sehingga jenjang kepangkatan dalam organisasinya pun menggunakan kriteria dagang. Pangkat opperkoopman dapat diartikan sebagai pedagang paling senior.

  • Lima Walikota Jadi Gubernur dan Presiden

    DALAM Rakernas Korpri di Jakarta pada Selasa (3/10/2023), Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyinggung soal rekam jejak dirinya sebagai satu-satunya presiden yang berangkat dari walikota. Hal itu ia utarakan ketika membahas soal prioritas penggunaan anggaran. “Saya mengalami karena pernah jadi walikota (Solo) dua kali, pernah jadi gubernur (DKI Jakarta), pernah jadi presiden dua kali. Enggak ada di Indonesia seperti itu. Dari bawah, walikota, dua kali; gubernur; presiden, dua kali. Jadi saya mengalami betul, mengerti betul situasi di lapangan seperti apa,” kata Presiden Jokowi. Sejak Republik Indonesia berdiri, memang tidak ada presiden yang punya latar belakang menduduki jabatan eksekutif dari bawah selengkap Presiden Jokowi. Tapi di dunia internasional, rekam jejak demikian bukan hanya milik Jokowi. Berikut lima di antaranya:

  • Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat

    JELANG perang di pentas Thomas dan Uber Cup 2018 lalu, tim Indonesia sudah diguyur bonus rupiah. Pada 8 Mei 2018, Li-Ning selaku sponsor mengguyur Rp500 juta, Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memberi santunan asuransi kepada masing-masing anggota tim putra dan putri Rp500 juta. Andai mereka menang di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018, mereka bakal makin “kuyup". Sayang, bonus tak berbanding lurus dengan prestasi. Tim Thomas Indonesia yang dikapteni Hendra Setiawan, gugur di semifinal. Tim Uber yang dikapteni Greysia Polii bahkan lebih parah, hanya bisa sampai perempatfinal. Alih-alih menyadari kegagalan itu, Manajer tim Susi Susanti malah menyatakan hasil tim Uber sudah sesuai target. Perbulutangkisan putri Indonesia jelas mundur. Banyaknya bonus justru membuat prestasi bulutangkis putri Indonesia melempem.

  • Bunga Mawar dari The Teng Chun

    SEBAGAI anak tertua dari pengusaha hasil bumi kaya bernama The Kim Le, The Teng Chun mestinya bisa meneruskan jejak ayahnya berdagang. Pada usia 18 tahun, dia bahkan dikirim ke Amerika untuk belajar ilmu dagang di New York. Tapi minat Teng Chun justru tercurah pada dunia film setelah, bersama Fred Young, seorang sutradara peranakan Tionghoa, belajar menulis skenario di Palmer Play Theatre. Lima tahun tinggal di New York, Teh Teng Chun, lahir di Surabaya pada 18 Juni 1902, singgah di Shanghai. Di sana dia makin intens mendalami dunia film. Salah satu karyanya, sebuah film bisu Whell of Desteny. Balik ke tanah air pada 1930, setelah sempat menekuni profesi sebagai importir film-film Mandarin, setahun kemudian Teng Chun memproduksi film garapannya sendiri, Boenga Roos dari Tjikembang, diangkat dari roman karya Kwee Tek Hoay. Dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, Leo Suryadinata mencatat Boenga Roos dari Tjikembang sebagai film Indonesia pertama yang hadir dengan suara. Di film ini Teng Chun memborong nyaris semua pekerjaan: produser, sutradara, penata fotografi, sekaligus penulis skenario. Sayang, film ini tak terlalu mendapat apresiasi dari media.

  • Dari Kolonialisme ke Nasionalisme: Warisan Mesin Ujaran Kebencian

    PADA 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 18 Juni sebagai Hari Internasional Menentang Ujaran Kebencian (International Day for Countering Hate Speech). Bagi sebagian orang, hari ini mungkin terasa simbolik belaka. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ia menandai pengakuan global bahwa ujaran kebencian kini bukan lagi sekadar problem sosial, melainkan telah menjelma menjadi persoalan struktural dan politis. Ujaran kebencian sering kali dikaitkan dengan individu: warga biasa, buzzer politik, atau kelompok fanatik. Padahal, terlalu sedikit perhatian diberikan pada peran negara dalam mereproduksi –bahkan memanipulasi– ujaran kebencian demi kepentingannya sendiri. Dan di sinilah letak persoalan mendasarnya: nation-state modern, alih-alih menjamin perlindungan, justru kerap menjadi arsitek eksklusi sosial yang dilembagakan. Sebagian besar negara-bangsa yang ada hari ini adalah produk kolonialisme. Di Asia Tenggara, Afrika, hingga Timur Tengah, batas-batas negara ditentukan bukan oleh relasi kultural atau sejarah alami komunitas, melainkan oleh logika administrasi kolonial: siapa yang bisa dikendalikan, dan wilayah mana yang bisa dieksploitasi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page