top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Pelaut Prancis di Nusantara

    Pada 15 Juni 1526, dua kapal penuh muatan di pelabuhan Honfleur, Normandi, Prancis, tengah bersiap melakukan perjalanan jauh. Seorang penjelajah berkebangsaan Italia, Giovanni de Verrazano, dipercaya Raja Prancis memimpin rombongan tersebut. Dengan bekal catatan pelayaran Ferdinand Magellan pada 1520 yang tersebar di seluruh Eropa, Verrazane membawa puluhan awak kapal menuju kepulauan rempah-rempah di Timur jauh. Pada pelayaran pertama itu, sang kapten mencoba mengikuti jalur Samudera Pasifik, persis seperti yang dilakukan Magellan. Tetapi jalur yang berat membuatnya terpaksa membalikan kemudi kapal. Ia pun memutuskan mengambil jalur lain, yakni melalui bagian selatan Samudera Atlantik, menuju wilayah paling ujung Afrika, kemudian memasuki Samudera Hindia. Verrazane memanfaatkan gerak Angin Timur dalam pelayaran tersebut. “Tapi, para awak kapal yang sudah kelelahan dan tidak mendapatkan bayaran dalam perjalanan yang sia-sia itu memutuskan untuk memberontak. Mereka menuntut agar paling tidak satu di antara dua kapal itu tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX . Akhirnya diputuskan, kapal kedua yang dipimpin Pierre Caunay yang akan melanjutkan pelayaran menuju Timur. Sementara Verrazano kembali ke Prancis. Sekira musim panas 1527, Caunay berhasil melihat garis pantai Pulau Sumatra. Ia pun segera merapatkan kapalnya, di sekitar wilayah pantai barat Aceh. Namun baru saja menginjakkan kaki di sana, para pelaut Prancis itu langsung ditolak penduduk setempat. Kedua kubu lalu terlibat pertempuran, hingga Prancis akhirnya memilih mundur. Nahas, kapten kapal dan sejumlah besar awak terbunuh. Kehilangan kapten kapal membuat awak yang tersisa memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mereka memilih kembali ke tanah airnya, melalui jalur mereka datang. Namun sayangnya para pelaut itu tidak pernah sampai ke Prancis. Sebagian memilih tinggal di Madagaskar, sementara lainnya terdampar di Mozambik. Banyak juga pelaut yang ditangkap oleh orang-orang Portugis. Pada 1529, saudagar kaya Jean Ango kembali mendukung perjalanan menuju Hindia Timur. Kali ini dua bersaudara Jean dan Raoul Parmentier de Dieppe dipercaya menjadi pemimpin pelayaran. Keduanya diberi kapal besar oleh Jean Ango, lengkap dengan perbekalan dan awak yang begitu banyak. Tugas keduanya masih sama: menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah Hindia Tmur. April 1529, kedua petualang memulai perjalanannya dari Dieppe. Dijelaskan Harry Charles Purvis Bell dalam The Voyage of Francois Pyrard of Laval to the East Indies , pada Oktober 1529, mereka berhasil mencapai pantai barat Sumatra. “Pelayaran itu dianggap perjalanan kilat pada masa itu (kurang dari dua puluh tujuh bulan) karena kapal hanya berhenti sebentar untuk alasan teknis di beberapa pelabuhan, padahal biasanya singgah lebih lama agar para awaknya dapat beristirahat,” kata Dorleans. Parmentier bersaudara sempat singgah di Pulau Pini, wilayah Nias sekarang, dan memberi nama pulau itu “Pulau Parmentier”. Pulau-pulau lain di Kepulauan Batu pun satu persatu diberi nama Prancis. Keduanya juga singgah di pulau Tiku, sebelah utara Padang sekarang, untuk memenuhi persediaan merica yang dianggap sangat berharga di negerinya. Tidak seperti pendahulunya, kontak pertama Parmentier bersaudara dengan para pribumi berjalan cukup lancar. Itu berkat salah seorang awak kapal yang bisa sedikit berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu. Para pelaut Prancis itu mendapat sambutan yang hangat. Mereka bahkan diundang makan malam bersama dalam sebuah acara penyambutan. Di sana, orang-orang Prancis mempelajari kebiasaan-kebiasaan penduduk yang terkadang dianggap tidak lazim, seperti kebiasaan makan sirih dan mabuk-mabukan dengan menghisap tanaman ganja. Para pria di tempat itu juga tidak bekerja, dan hanya menghabiskan waktu berjudi. Para penduduk Tiku digambarkan oleh pelaut Prancis sebagai seorang yang cukup terbelakang. Mereka berkulit hitam, dengan tubuh yang ramping dan tinggi. Cara berbicara mereka sangat keras tapi suara yang dikeluarkan tidak enak didengar. Mereka mengenakan pakaian dari kain berwarna merah, coklat, dan biru tua. Hampir seluruh penduduk bertelanjang kaki. Penduduk juga umumnya menggunakan ikat kepala atau topi jerami. Di tempat Parmentier bersaudara tinggal tidak dikenal adanya pelacuran. Meski pakaian para perempuan di sana tidak tertutup sempurna tapi ada hukum setempat yang melarang hubungan di luar pernikahan. “Kesucian benar-benar sangat dijaga di Sumatra, pelacuran adalah perilaku yang tak dikenal…,” kata Parmentier bersaudara seperti dikutip Ayang Utriza dalam Sejarah Hukum Islam Nusantara . Meski sempat disambut hangat, perundingan dengan pejabat pribumi di Tiku tidak cukup memuaskan. Pulau Tiku sendiri bukan tempat yang baik untuk berdagang. Tempat itu tidak lebih dari sebuah desa nelayan miskin. Hampir tidak ada saudagar yang menjual banyak rempah-rempah sebagaimana pencarian para pelaut Prancis tersebut. Perangai para penduduk juga berubah-ubah. Terkadang mereka baik dan bersahabat, namun sering dijumpai penduduk yang berperangai jahat dan licik. Gagal dengan upaya menguasai Tiku, pelancor Prancis itu memutuskan kembali berlayar menuju selatan. Mereka diketahui bergerak menuju Indrapura. Tapi di tengah-tengah pelayaran, Parmentier bersaudara terserang penyakit. Jean wafat pada 3 Desember 1529, sedangkan saudaranya Raoul menyusul lima hari kemudian. Sejumlah awak kapal juga banyak yang meregang nyawa akibat sakit tifus tidak lama setelah kedua kapten kapal mereka. “Para pelaut yang dapat bertahan mengangkut sedikit dagangan yang terdiri paling banter 30 barel merica dan berhasil kembali ke Prancis pada Juli 1530. Pelayaran yang sia-sia tersebut sekali lagi benar-benar membawa kerugian besar bagi pemilik armada Jean Ango,” tulis Dorleans.

  • Warna-warni Kehidupan Sean Connery

    SANG “James Bond” pergi dengan tenang. Aktor legendaris Sir Thomas Sean Connery mengembuskan nafas terakhirnya di usia 90 tahun dalam tidurnya di kediamannya di Nassau, Kepulauan Bahama, pada Sabtu (31/10/2020). Disebutkan putra semata wayangnya, Jason Connery, sang ayah memang sudah sakit-sakitan, meski tanpa menyebut penyakit apa yang dideritanya. “Ayah sudah tidak sehat beberapa waktu belakangan ini. Sebuah hari yang menyedihkan untuk semua orang yang mengenal dan mencintai ayah saya dan sebuah kehilangan yang pedih untuk semua orang di dunia yang menikmati bakat luar biasanya sebagai aktor,” ujar Jason sebagaimana disitat BBC , Sabtu (31/10/2020). Siapa tak mengenal Sean yang memerankan sosok agen Inggris 007 James Bond di tujuh seri filmnya selama 1962-1983. Walau kemudian peran James Bond dimainkan aktor-aktor lain, Sean tetap tak tergantikan dan fondasi yang diwarisinya tetap abadi. Sebagai pemeran pertama James Bond di seri perdana, Dr. No (1962), Connery meletakkan fondasi karakter James Bond sebagai karakter pahlawan cerdik, berani, dan elegan. American Film Institute menempatkan Bond sebagai tokoh terhebat ketiga dalam sejarah perfilman versi, di bawah karakter Atticus Finch yang diperankan Gregory Peck dalam film To Kill a Mockingbird (1962), dan karakter Indiana Jones yang dimainkan Harrison Ford dalam film Raiders of the Lost Ark (1981). Menolak Manchester United Thomas Sean Connery menyapa dunia kala depresi ekonomi melanda Eropa. Ia lahir di Fountainbridge, ujung barat kota Edinburgh, Skotlandia pada 25 Agustus 1930 sebagai anak pertama pasangan Joseph Connery, pengemudi lori sebuah pabrik karet, dan Euphemia McBain McLean, asisten rumah tangga. Kakek Sean dari Joseph Connery merupakan imigran Irlandia yang pindah ke Skotlandia pada pertengahan abad ke-19. Walau hidup dalam keadaan melarat, Sean masih bisa mencicipi bangku sekolah. Namun ketika adiknya, Neil, lahir pada 1938, Sean memutuskan harus ikut membantu menopang ekonomi keluarga. Di usia sembilan tahun, ia menyambi jadi tukang pengantar susu untuk koperasi St. Cuthbert’s Co-operative Society. “Latarbelakang masa lalu saya sangat keras. Keluarga kami miskin walau saya tak pernah tahu seberapa melaratnya hingga bertahun-tahun kemudian,” tutur Sean dalam biografi yang ditulis Michael Feeney Callan, Sean Connery . Di masa muda Sean Connery sempat bertugas jadi awak Kapal Induk HMS Formidable. ( Twitter @OnthisdayRN). Sean kecil bahkan kemudian punya satu pekerjaan sambilan lain, yakni jadi pembantu di sebuah toko daging. Dengan dua perkerjaan part-time itu Sean membawa pulang tiga poundsterling dalam sepekan untuk menambah uang sewa rumah orangtuanya. “Di luar sekolah dan waktu kerja, kegemaran utama Tommy (panggilan kecil Sean Connery) adalah sepakbola. Di sebuah distrik yang populasinya padat, lapangan luas untuk bisa bermain bola lengkap dengan wasitnya adalah hal yang mahal. Connery sudah getol bermain bola sejak dia bisa berjalan. John Brady, teman kecil Connery, mengatakan, keunggulan Connery dalam bermain bola adalah dia bisa berlari cepat,” lanjut Callan. Setahun setelah Perang Dunia II selesai, Sean masuk Angkatan Laut Inggris. Dia masuk Sekolah kru meriam antipesawat di Pangkalan AL Portsmouth. Setelah lulus sebagai kelasi, ia ditempatkan di kapal induk HMS Formidable. Tapi itu hanya dijalaninya sebentar lantaran pada 1948 ia dibebastugaskan akibat punya penyakit duodenal ulcer di usus 12 jari. Namun baginya, tiada kata patah arang. Di usia 18 tahun dengan postur 188 cm, Sean yang aktif melakoni beraneka pekerjaan serabutan. Mulai dari pengemudi lori, penjaga kolam renang, buruh pabrik peti mati, pekerja bagian umum di belakang panggung King’s Theatre, hingga jadi model lukisan di Edinburgh College of Art dijalaninya. Sean bahkan mulai ikut berbagai kontes binaraga setelah berkenalan dengan instruktur fitness Angkatan Darat (AD) Inggris Ray Ellington. Sean Connery (duduk, kedua dari kanan) di tim Bonnyrigg Rose. ( scottishjuniorfa.com ). Profesi itu dijalaninya sambil tetap bermain bola bersama Bonnyrigg Rose dan East Fife FC di level amatir. Kecintaannya pada sepakbola itulah yang membuatnya menarik perhatian pelatih Manchester United Matt Busby yang kagum pada talentanya di lapangan hijau. Di suatu hari pada musim semi 1953 itu, Sean menjalani tur untuk pementasan teater musikal South Pacific di kota Manchester . Dia mendapat peran figuran di situ. Di sela-sela produksi, tim teater South Pacific menggelar pertandingan sepakbola persahabatan dengan sebuah tim amatir lokal. Entah bagaimana ceritanya, ada Matt Busby di pertandingan itu sedang memantau bakat-bakat baru. Menurut Christopher Bray dalam Sean Connery: The Measure of a Man , Busby terkesan dengan postur dan stamina Sean. Sang aktor pun ditawarkan trial satu hari di Old Trafford. Busby yang puas dengan performanya pun menawarkan kontrak senilai 25 pounds (senilai 703 pounds dalam kurs 2019) sepekan. “Sejujurnya sepakbola saat itu memang tak menghasilkan banyak uang, seperti juga dunia teater. Lagipula usia produktif dalam sepakbola tidaklah panjang. Connery sudah akan beranjak 24 tahun dalam beberapa bulan. Sebagus apapun seorang pesepakbola, seberapa besar Busby membantunya membangun talenta, Connery takkan banyak bermain hingga usia 30 tahun. Setelahnya harus kembali banting tulang tanpa masa depan yang jelas,” tulis Bray. Sean akhirnya menolak tawaran Busby untuk berseragam Manchester United. “Saya sangat ingin menerimanya. Tapi saya sadar bahwa pesepakbola top sudah akan masuk puncak kariernya di usia 30 dan saya saat itu sudah 23 tahun. Saya memutuskan untuk jadi aktor saja dan ternyata itu pilihan yang paling cerdas,” kenang Connery di laman federasi sepakbola Skotlandia, scottishfa.co.uk , 2 Juni 2015. James Bond yang Dibenci Dari panggung teater Connery perlahan membangun kariernya di dunia seni peran. Sean kemudian mampu menyewa jasa agen, Richard Hatton, yang membawa kariernya ke layar perak pertamanya. Film Lilacs in the Spring (1954) jadi debut Sean di dunia film meski hanya sebagai ekstra. Tiga tahun kemudian, Sean mendapat peran karakter pendukung bernama Spike di film No Road Back (1957). Dalam film ini untuk pertamakalinya nama Sean Connery muncul di credit film. Setelah ikut membintangi film kolosal bertema Perang Dunia II, The Longest Day (1962), di tahun yang sama Sean mendapat peran sebagai agen Inggris “007” James Bond untuk seri pertama film James Bond , Dr. No. Sejatinya, dia bukan pilihan utama Eon Productions. Pun bukan favorit sang sutradara Terence Young maupun Ian Fleming, pencipta karakter James Bond. Ian merasa badan tegap dan berotot Sean bukan imej yang ingin ia perlihatkan ke publik. “Dia (Connery) bukan sosok yang saya bayangkan tentang penampilan James Bond. Saya mencari figur Komandan Bond dan bukan sosok stuntman berbadan besar,” cetus Fleming, dikutip Paul G. Roberts dalam Style Icons, Volume 2 . Namun, Sean punya kharisma dan postur yang memancarkan daya tarik seks pada para perempuan. Kelebihan inilah yang dilihat Dana Broccoli, istri produser Albert Broccoli, dan Blanche Blackwell, pacar Ian. Keduanya meyakinkan produser dan Ian bahwa Connerylah sosok yang tepat memerankan James Bond. Setelah filmnya rilis, Broccoli dan Fleming tak menyesali bujukan dua perempuan terdekat mereka. Begitu masuk Amerika Serikat, Dr. No langsung menembus jajaran film-film box office . Saking bangganya, Ian sampai menciptakan latarbelakang keluarga James Bond yang punya silsilah asal Skotlandia di novel berikutnya, You Only Live Twice (1964). Di film Dr. No , Sean Connery pertamakali memerankan karakter James Bond. ( 007.com ). Nama Sean meroket setelah itu . Dia memerankan James Bond hingga lima film berikutnya: From Russia with Love (1963), Goldfinger (1964), Thunderball (1965), You Only Live Twice (1967), dan Diamonds Are Forever (1971). Namun seiring menguatnya popularitas James Bond, Sean makin tak betah lantaran imej James Bond acapkali melekat padanya meskipun dia sedang tidak dalam rangka mempromosikan filmnya. Andrew Yule dalam Sean Connery: Neither Shaken Nor Stirred menceritakan, di manapun Sean berada, selalu ada saja yang menyapanya dengan sebutan James Bond. Peduli setan dia memainkan peran berbeda di film-film berbeda, publik sudah mengabadikan imej bahwa Sean Connery adalah James Bond dan James Bond adalah Sean Connery. Itu bikin muak Sean. “Jika Anda masih merasa temannya, Anda takkan mengungkit subyek Bond. Memang dia aktor terbaik untuk memerankannya, namun dia menjadi sosok yang sama dengan Bond. Jika dia berada di jalanan, orang-orang akan berkata: ‘Lihat, itu James Bond!’ Itu yang membuatnya muak dan membencinya (karakter Bond),” ujar Michael Caine, aktor veteran dan sahabat Sean, dikutip Yule. Dalam wawancaranya dengan Majalah Life , 25 Agustus 2015, Sean menyatakan kejengkelannya pada James Bond. “Saya selalu benci James Bond sialan itu. Saya ingin membunuhnya. Saya sudah muak dengan semua imej Bond,” katanya. Karakter James Bond di- franchise-kan oleh Eon Productions kemudian diberikan pada aktor-aktor lain, seperti George Lazenby dan Roger Moore. Sean comeback memerankan Bond di tahun 1983 lewat Never Say Never Again. Namun, saat itu sudah digarap Warner Bros, bukan lagi oleh Eon . Sean Connery terakhir kali memerankan James Bond di film Never Say Never Again.  (Metro-Goldwyn-Mayer Studios Inc.). Bukan hal gampang membujuk Sean untuk mau memainkan James Bond setelah 11 tahun absen. Pasalnya setelah film Diamonds Are Forever (1971), Sean bersumpah takkan mau memerankan James Bond lagi. Tetapi bayaran USD3 juta (USD8 juta kurs 2019) yang ditawarkan produser Jack Schwartzman menggoyahkan sumpah Sean. Sebelum dijuduli Never Say Never Again , film itu diberi tajuk James Bond of the Secret Service . Namun Warner Bros kemudian tergelitik untuk menerima usul istri kedua Connery, Micheline Roquebrune, untuk mengganti judul menjadi Never Say Never Again . Judul ini merujuk pada sumpah yang dilanggar Sean. Maka di credit title akhir, Warner Bros membubuhi kontribusi Micheline: “ Never Say Never Again by: Micheline Connery. ” Tetapi itu bukan hanya film James Bond terakhir Sean. Film itu juga jadi babak akhir Sean terlibat dengan PH besar. Pasalnya banyak perkara sudah membelitnya sejak awal produksi. Selain gugatan Ian Fleming dan PH Eon, perkara lain ialah pertikaian antara produser dan sutradara, masalah finansial produksi, hingga pergelangan tangan Sean yang patah saat berlatih adegan perkelahian dengan koreografer Steven Seagal. Sejak itu Sean jarang mau jadi pemeran utama kalaupun membintangi film ber- budget besar. Sean juga mulai terlibat dalam produksi, baik sebagai produser maupun produser eksekutif sejak di film Rising Sun (1993), dilanjutkan Just Cause (1995), hingga Sir Billi (2012) yang menjadi film terakhirnya sebelum memutuskan pensiun. Namun, bukan karakter James Bond yang membawanya meraih anugerah tertingginya di dunia perfilman, melainkan karakter Jimmy Malone yang diperankannya di film The Untouchables (1987). Lewat Jimmy Malone, Sean menyabet Piala Oscar (Academy Awards). Piala Oscar disabet Sean Connery lewat perannya di film The Untouchables.  (Paramount Pictures/ seanconnery.com ). Sean juga mendapat anugerah BAFTA Film Award dan Golden Globe Awards untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dua anugerah terakhir didapatkannya lagi pada 1989 lewat film Indiana Jones and the Last Crusade. Sean sempat main di 20 serial televisi sebelum pensiun. Sebelum memutuskan pensiun pada 2012, Sean menjadi narator untuk film dokumenter Ever to Excel . Setelah pensiun, Sean memilih Nassau di Kepulauan Bahama –tempat syuting film Thunderball dan Never Say Never Again dilakukan– sebagai kediaman untuk menikmati hari-hari di usia senjanya. Hampir enam dekade (1954-2012) berkecimpung di dunia seni peran, Sean tercatat membintangi 76 film, termasuk dokumenter maupun film pendek. Dunia seni peran membuat Sean jadi salah satu figur paling dielu-elukan masyarakat Skotlandia selain Sir Alex Ferguson (legenda pelatih Manchester United). Polling suratkabar The Sunday Herald pada 2004 mengusung Sean sebagai “The Greatest Living Scot”. “Dia merevolusi dunia dengan potret pemberani dan jenaka dari agen rahasia (James Bond) yang seksi dan karismatik. Tak diragukan lagi dialah orang di belakang kesuksesan film-film seri (Bond) dan kami akan selamanya berterimakasih kepadanya,” tulis Produser Eon Productions Michael G. Wilson dan Barbara Broccoli, sebagaimana dinukil The Hollywood Reporter , Sabtu (31/10/2020).

  • Jagoan Udara Bernama Leo Wattimena

    Jangan coba-coba meniru aksi Leo Wattimena. Pesan itu tercetus dari kolega Leo sendiri sesama penerbang, Roesmin Noerjadin. Di kalangan sejawatnya, Leo terkenal sebagai penerbang “gila”. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak dapat ditandingi siapapun.   “Saya pernah meniru satu kali, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, agar jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada 1958, Moesidjan salah satu penerbang pesawat tempur P-51 Mustang dalam Skadron 3 AURI yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Komandan skadronnya saat itu ialah Roesmin Noerjadin. “Kalau kamu ulangi, kamu enggak usah jadi penerbang tempur,” kata Roesmin ditirukan Moesidjan dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Teguran itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, seorang penerbang lain pernah mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Gara-gara mau meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dikemudikan Letnan I (Udara) Subagyo jatuh menghujam landasan ketika lepas landas. Subagyo pun gugur seketika. Sebagai jagoan di udara, Leo Wattimena tidak bermodal keberuntungan semata. Dibandingkan rekannya sesama penerbang, Leo selalu mengambil bobot yang lebih berat untuk mengasah kemampuan. Ternyata, Leo diam-diam sudah sering melatih berbagai gaya atraksi di udara. Inilah rahasianya. Dia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai landasan.  Ukurannya, kalau sampai pesawat menyentuh awan, berarti pesawat telah jatuh. Setelah berkali-kali percobaan, barulah atraksinya itu dilakukan di atas landasan.      Selain giat berlatih, Leo punya postur tubuh yang menunjang untuk ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan bertubuh gempal. Leher pendek sangat menguntungkan bagi penerbang tempur karena jarak jantung memompakan darah ke kepala menjadi dekat. Dengan demikian, sang pilot akan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran ketika berada di ketinggian tertentu. “Postur fisik Leo memang mendukung. Di selalu bisa cepat mengatasi kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Dengan Mustang kesayangannya, Leo mengangkasa sesuka hati. Begitu pula di kalangan AURI, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu semua tidak membuat Leo lupa daratan. Di balik reputasi gemilang itu, Leo memperlihatkan kehidupan pribadi yang sederhana. Pada 1956, Leo menikahi Corrie Dingemans seorang perempuan indo asal Jakarta. Pada awal perkawinannya, keluarga Leo tinggal di mess di kawasan Setiabudi. Sebenarnya, Leo sudah ditawari rumah besar di kota tetapi tidak diambilnya karena ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Pada awal 1960, keluarga Leo kemudian berpindah ke Komplek Trikora Halim. Salah satu kebiasaan Leo yang diingat banyak koleganya adalah secara berkala mengantarkan beras kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengantarkannya langsung dengan pesawat Mustang yang dikemudikan sendiri. Padahal, pekerjaan itu bisa dititipkan kepada anak buahnya.   Dikisahkan dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, ketika operasi Trikora pembebasan Irian Barat, Leo pernah mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sementara itu, di rumah Leo sendiri sedang tidak ada gula. Alih-alih aji mumpung, Leo malah memilih untuk tidak mau mengambil sedikit pun gula untuk keperluan rumahnya. “Tanpa gula kita bisa membesarkan anak-anak,” begitu kata Leo kepada istrinya. Sekali waktu, Leo juga pernah tersulut amarah sebagai tanda solidaritasnya kepada pasukan terdepan. Pada saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanan miliknya karena menyaksikan para prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat cuma dikasih makan tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di garis belakang mendapat jatah makan dengan lauk daging ayam. Luapan emosional itu semata-mata ditunjukkan Leo karena menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu dapat kembali pulang dari pertempuran dengan selamat. “ Spirit de corps -nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi. Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tidak sungkan unjuk kebolehan selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo, tidak pernah sepi,” begitulah teman-temannya mengenang sosok Leo Wattimena.

  • Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji

    SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah. “Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam. Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri  Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.

  • Sukarno, Pan Am, dan CIA (1)

    DALAM kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, Presiden Sukarno suka menyewa pesawat Pan American World Airways. Namun, pemerintah Uni Soviet tak senang Sukarno menggunakan pesawat musuhnya, Amerika Serikat.

  • Larbi Benbarek, Bintang Sepakbola Prancis yang Dilupakan

    SUATU hari yang cerah di bulan September 1992. Abdelkader Larbi Ben M’barek alias Larbi Benbarek (diperankan Mohamed Khashla) baru selesai mendirikan salat di kediamannya. Tak lama kemudian, Hassan (Abdelhamid Qarqouri) sahabatnya mengajaknya ke Stade Mohammed V di Kasablanka, Maroko untuk menyaksikan laga timnas Maroko. Namun sesampainya di tujuan, Larbi ditolak masuk. Ia tetap dilarang masuk ke stadion ketika menunjukkan selembar kartu pas berlogo FIFA. Penolakan itu jadi kali terakhir Larbi menengok stadion terbesar Maroko itu lantaran seminggu kemudian, pada 16 September 1992, Larbi mengembuskan nafas terakhirnya. Prolog film Larbi: Ou le destin d’un grand footballeur  (2011) garapan sineas Driss Mrini itu dengan gamblang menggambarkan figur seberpengaruh Larbi Benbarek begitu cepat dilupakan. Tidak hanya dalam ingatan publik Prancis, negeri tempat Benbarek berkarier hingga bersinar di masa muda, namun juga di negeri kelahirannya, Maroko. Nama Larbi Benbarek memang terbilang asing bagi penikmat sepakbola era modern. Maklum, pesepakbola muslim yang pernah menjadi bagian dari timnas Prancis itu melanglang buana di Eropa pada 1930-an hingga 1950-an. Namanya tenggelam oleh sederet nama bintang yang terus bermunculan di era-era setelahnya. Terlebih setelah era Zinedine Zidane pada 1990-an dan Paul Pogba pada masa kini, yang sama-sama mempersembahkan trofi Piala Dunia kepada Prancis. Padahal, Zidane, Pogba, Karim Benzema, hingga Adil Rami merupakan penyambung tongkat estafet dari peran yang dimainkan Benbarek. Meski prestasi yang ditorehkan Benbarek tak sebaik bintang-bintang penerusnya, Benbarek peletak fondasi kiprah peranakan Afrika Utara sebagai tulang punggung di timnas Prancis yang diakui dunia. Larbi Benbarek sebelum jadi bintang di Prancis, hidup sengsara di Maroko. ( onisep.fr / fff.fr ). Bermain dengan Sandal Sejatinya, sejak 1936 timnas Prancis sudah punya anggota pesepakbola muslim imigran seperti Ali Benouna dan Benbarek. Namun, bintang yang paling kondang saat itu ialah Benbarek. Benbarek lahir di Casablanca pada 16 Juni 1914. Saat dia lahir, Maroko masih terbagi dua, antara di bawah kolonialisme Prancis dan protektorat Spanyol. Casablanca bersama Marrakesh jadi kota besar yang dikuasai Prancis. Benbarek yang datang dari keluarga miskin di pinggiran Casablanca sudah menjadi yatim sejak kecil. Satu-satunya kesenangan yang bisa dirasakannya ialah main sepakbola di jalan dengan bertelanjang kaki sebagaimana anak-anak sebayanya di lingkungannya. Sepatu bola masih jadi barang mewah bagi si yatim itu. Benbarek berkawan baik dengan Marcel Cerdan yang kelak jadi petinju besar Prancis. Diungkapkan C. R. Pennell dalam Morocco Since 1830: A History , Banbarek bahkan nyaris menggeluti tinju yang tengah ditekuni Cerdan. “Tinju jadi alternatif (selain sepakbola) untuk melarikan diri dari kemiskinan. Sahabat Benbarek muda adalah Marcel Cerdan, putra dari seorang tukang daging di Casablanca. Pada 1939, Cerdan menjadi juara dunia kelas menengah,” tulis Pennell. Larbi Benbarek (jongkok, kedua dari kiri) di Skuad Olympique Marseille, klub Prancis pertamanya setelah merantau dari Maroko. ( om.fr ). Di usia 16 tahun, Benbarek memilih sepakbola sebagai jalan hidupnya. Seraya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan minyak, Benbarek mulai merajut peruntungan di lapangan bersama klub amatir FC Ouatane de Casablanca.  Pada 1930, ia akhirnya main di klub profesional L’Idéal Club de Casablanca. “Larbi Benbarek tak pernah mengenakan sepatu sepakbola, jadi dia memainkan laga profesional perdananya mengenakan sandal. Saat itu (debutnya) melawan klub raksasa US Marocaine, tiga kali juara Piala Afrika Utara. Benbarek mencetak dua gol,” ungkap Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Perlahan tapi pasti Benbarek mulai ditakuti banyak pemain bertahan. Bermodal stamina prima, driblling apik, gaya permainan ala Brasil, dan postur tinggi, Benbarek dikenal sebagai gelandang serang yang trengginas. Pasca-mengantarkan L’Idéal menjadi finalis Coupe du Maroc de Football 1935, Benbarek direkrut US Marocaine. Di tahun itu juga Benbarek mulai sering dipanggil tim Maroko IX, pendahulu timnas Maroko. Saat itu Maroko masih jadi jajahan Prancis dan belum punya timnas. Tiga kali Benbarek mengumpulkan caps di laga-laga persahabatan antara tim-tim serupa di Aljazair dan Tunisia. Titik balik kariernya terjadi usai membawa US Marocaine menjuarai Liga Maroko dan kampiun Championnat d’Afrique du Nord de Football (Piala Afrika Utara) 1937. Kecemerlangannya menarik minat klub Prancis Olympique Marseille yang kemudian meminangnya dengan mahar 44 ribu franc alias 50 kali lipat gajinya kala jadi petugas kebersihan. Dewa Sepakbola Benbarek langsung membuktikan diri sebagai pemain paling menonjol di antara pemain-pemain dalam gelombang pertama imigran muslim di sepakbola Prancis, 1930-an. “Benbarek langsung memberi kesan luar biasa di Prancis. Dia mencetak dua gol pada debutnya di Liga Prancis dan dalam empat bulan berikutnya, sebagai warga Prancis, ia terpilih mewakili Les Bleus (julukan Timnas Prancis),” tulis sejarawan International Centre for Sports History & Culture De Monfort University Matt Taylor, di laman lcfc.com , 20 April 2020. Larbi Benbarek (jongkok kedua dari kiri) masuk Timnas Prancis sejak 1938. ( histoire-immigration.fr ). Debut Benbarek di timnas Prancis terjadi pada laga persahabatan kontra Italia di Napoli, 4 Desember 1938. Sayangnya, Prancis kalah 0-1. Namun dalam laga persahabatan kontra Polandia, 22 Januari 1939, Benbareck mencetak hattrick pertamanya dan Prancis menang 4-0. Kiprah manis Benbarek namun harus terhenti hingga 1945 karena Perang Dunia II pecah. Benbarek pun pulang ke Maroko selama perang. Ia kembali ke Prancis usai perang untuk memperkuat Stade Français yang ditukangi Helenio Herrera. Tiga tahun berselang kala Herrera pindah ke klub Spanyol Atlético Madrid, Benbarek turut dibawa Herrera sehingga menjadi pemain kulit hitam pertama di Liga Spanyol. Kepindahan Benbarek menggegerkan publik Prancis yang tak rela ditinggal pergi Benbarek. “Para jurnalis di media-medianya mengecam dalam suratkabar-suratkabar: ‘Jual (monumen) Arc de Triomphe atau jual Menara Eiffel, tetapi jangan jual Benbarek!’” sambung Rendell. Larbi Benbarek (berdiri, keempat dari kanan) jadi bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. ( atleticodemadrid.com ). Namun angka 17 juta franc, seperti diungkapkan Mickael Grall dalam Red Card!: 20 Broken Destinies of Legendary Footballers , (sumber lain menyebut 8 juta franc) sebagai rekor mahar Atlético untuk Stade Français terlalu mubazir untuk ditolak. Jadilah Benbarek melebarkan sayapnya ke Semenanjung Iberia sebagai pemain bintang berkulit hitam pertama di Liga Spanyol. Jika kelak legenda Argentina Diego Maradona dijuluki “Si Tangan Tuhan”, Benbarek lebih dulu disematkan julukan Pie de Dio alias “Kaki Tuhan” oleh publik Madrid, mengingat keunggulan postur di bagian kakinya yang jenjang. Keputusan Herrera mendatangkan Benbarek ke klub rival sekota Real Madrid itu tak keliru meski harus mengeluarkan mahar 17 juta franc –sumber lain menyebut 8 juta franc– sehingga kepindahan Benbarek mencetak rekor. Sepanjang sepakterjangnya di 113 laga bersama Atlético (1948-1953), Benbarek menorehkan 56 gol. Ia jadi pahlawan kala Atletico menyabet dua gelar liga berturut-turut (1950 dan 1951) dan satu titel Copa Eva Duarte (kini Supercopa de España ) pada 1950. Edson Arantes do Nascimento alias Pelé (kanan) yang memuja Larbi Benbarek. (Twitter @MoroccoStats). Namun, kebintangan Benbarek gagal diuji di Piala Dunia. Prancis mundur dari keikutsertaan di Piala Dunia 1950. Sementara di Piala Dunia 1954, penampilan Benbarek mulai menurun seiring bertambahnya usia. Benbarek memainkan laga terakhirnya bersama timnas Prancis di laga persahabatan kontra Jerman Barat di Hannover, 16 Oktober 1954. Benbarek kembali ke Prancis pada 1953 dan bermain untuk Marseille. Senjakala kariernya dihabiskan Benbarek di USM Bel-Abbes (Aljazair) sebagai pemain-pelatih pada 1955 dan Rabat FUS pada 1957. Di tahun yang sama usai pensiun, ia dipercaya menukangi timnas Maroko yang lahir tak lama setelah merdeka dari Prancis. Sejak saat itulah nama Benbarek mulai dilupakan. Namun, ia tidak pernah dilupakan oleh Pelé , bintang legendaris asal Brasil. Dalam sebuah pertemuan di tahun 1957, Pelé, yang baru mulai mendaki kebintangannya, mengungkapkan kekagumannya pada Benbarek. “Bagi banyak pemain yang pernah melawannya, Larbi Benbarek tak sekadar pesepakbola Afrika hebat pertama: dialah yang terhebat. Pelé disebutkan sampai menyembahnya: ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia dewanya.’ Tetapi di awal 1990-an hidupnya terisolasi dan terlupakan, bahkan di Maroko, di mana jasadnya saja baru ditemukan seminggu setelah ia meninggal (16 September 1992),” tulis Rendell.

  • Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba

    Sabtu pagi 58 tahun silam di Pangkalan AU McCoy, Orlando, Florida, Amerika Serikat. Mayor Udara Rudolf Anderson sibuk mempersiapkan semua hal untuk penerbangannya. Dia akan menjalankan penerbangan satu jam 15 menit di atas Kuba untuk misi pengintaian ( air spy ). Meski berbahaya, misi itu dijalaninya dengan senang. Tak tampak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya. “Terbang adalah hidup dan hasratnya. Saat kanak-kanak, dia membuat pesawat model dan bercita-cita menjadi pilot,” tulis Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Sementara Anderson sibuk mempersiapkan penerbangannya, Sabtu (27 Oktober 1962) pagi itu orang-orang di Havana dan di sebagian besar kota-kota di Kuba beraktivitas seperti biasa. Masyarakat beraktivitas seolah tak mengetahui ada bahaya besar yang mengancam mereka. Kepanikan warga tak terlihat padahal negeri mereka sedang berada dalam ancaman kehancuran oleh nuklir Amerika Serikat. “Orang-orang pada umumnya tidak menunjukkan antusiasme atau kepanikan. Mereka telah membeli stok barang-barang seperti parafin, minya, kopi, tetapi tidak ada hiruk-pikuk di toko-toko, dan persediaan makanan tampaknya masih mencukupi,” kata Duta Besar Inggris untuk Kuba Herbert Marchant sebagaimana dikutip Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Ketiadaan kepanikan warga Kuba juga disaksikan wartawan Argentina Adolfo Gilly. Alih-alih harapannya bertemu Che Guevara berhasil ketika dia mengunjungi Kementerian Perindustrian, dia malah mendapati kabar bahwa Che berada di Pinar del Rio. Seorang asisten juga memberitahunya berita buruk. “Kami memperkirakan penyerangan (Amerika, red .) siang ini antara pukul tiga dan empat,” kata sang asisten, dikutip Dobbs. Asisten tersebut tak menunjukkan wajah ketakutan saat memberi kabar, seolah kabarnya seringan kabar akan datangnya sebuah tamu delegasi asing. Pun dua milisi yang dilihat Gilly di bawah, tak sedikit pun menunjukkan kepanikan akan bahaya dahsyat yang akan datang. Dengan tanpa beban salah seorang milisi itu menyatakan kepada kawannya bahwa sang kawan harus menunggu sampai perang usai untuk bisa mencukur rambut karena mereka yakin serangan AS akan segera datang. Suasana mengerikan yang seolah tak dipedulikan warga Kuba itu terjadi dalam masa Krisis Misil Kuba (16-28 Oktober 1962). Krisis yang membawa dunia di ambang perang nuklir itu dipicu oleh penempatan sejumlah rudal balistik Uni Soviet di Kuba. Penempatan itu merupakan respon Uni Soviet atas kesepakatan yang dicapai antara PM Nikita Khrushchev dan pemimpin Kuba Fidel Castro tiga bulan sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Castro meminta Soviet menempatkan rudal-rudal balistiknya di sejumlah tempat di Kuba untuk mengantasipasi agar invasi seperti Invasi Teluk Babi pada 1961 yang disokong Amerika Serikat tak terulang kembali. Penempatan sejumlah rudal balistik itu pun memicu Amerika mengerahkan lebih banyak penerbangan mata-mata ( air spy ). Pasalnya, dalam penerbangan perdana pada 14 Oktober 1962, pesawat U-2 Amerika yang dipiloti Letkol Richard Heyser berhasil memotret situs-situs rudal balistik Soviet di Kuba. Ketika keesokannya Anderson menjalankan misi serupa, lebih banyak situs rudal balistik Soviet ditemukan di dekat Sagua la Grande, Kuba Tengah. Amerika pun makin gencar memata-matai tetangganya lewat udara dengan mengerahkan 4028th Strategic Reconnaissance Weather Squadron, 4080th Strategic Reconnaissance Wing. Penerbangan mata-mata Amerika dirintis sejak masa pemerintahan Eisenhower dan diprakarsai CIA dengan sasaran wilayah udara Soviet. “Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program guna menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65.000-70.000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan  dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Lockheed senilai $35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson, desainer pesawat – red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Setelah menyasar wilayah udara Soviet, penerbangan mata-mata Amerika itu juga menjangkau Kuba. Namun demi keamanan, Presiden Kennedy mengalihkan misi tersebut dari CIA ke AU AS. “Kennedy lebih memilih tampilan biru Angkatan Udara terbang di atas Kuba daripada pilot CIA: lebih sedikit pertanyaan yang akan diajukan jika mereka ditembak jatuh,” tulis Dobbs. Anderson, pilot AU AS, merupakan bagian dari misi tersebut. Dia telah sukses dalam banyak misi mata-mata tersebut. Oleh karena itu, dia sempat protes ketika komandannya menyuruh istirahat sehari karena lukanya saat bertugas di Alaska. Nama Anderson tak ada dalam daftar empat penerbangan mata-mata pada Sabtu (27 Oktober) pagi itu. Namun, Anderson akhirnya berhasil melobi dan jadi satu-satunya pilot yang menjalankan misi penerbangan mata-mata pada hari itu. “Satu per satu dari tiga misi pertama dibatalkan pada Sabtu dini hari. Angkatan Laut sedang melakukan pengintaian pada ketinggian rendah terhadap situs-situs rudal, jadi tidak masuk akal jika mengirim U-2 ke wilayah yang sama pada saat Soviet mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka. Seorang pilot, Kapten Charles Kern, sudah duduk di kokpit pesawatnya ketika ada perintah dari Washington untuk membatalkan penerbangan. Tinggal tersisa misi 3128 –misi Anderson,” sambung Dobbs. Maka setelah semua persiapan diselesaikan dengan baik dengan bantuan Kapten Roger Herman, Anderson langsung mengudarakan pesawatnya No. 56-6676 dari Pangkalan AU McCoy pada pukul 9.09 pagi. Melewati rute pantai timur Florida, Anderson dapat melihat pantai pasir putih Cayo Coco dan Cayo Gullermo, tempat mancing favorit Ernest Hemingway, tak lama kemudian. Namun, di sanalah pesawat Anderson ditangkap oleh radar Soviet. Seorang perwira Soviet yang mencatat masuknya pesawat asing itu langsung mengabarkan sistem pertahanan udara di lain tempat. Sistem pertahanan udara, yang diseluruh Kuba dikomando oleh Mayjen Statsenko, pun segera disiagakan. Sementara pemerintah Kuba mengumumkan keadaan bahaya dan memerintahkan Komite Pertahananan Lokal untuk memberi beberapa instruksi kepada pejabat lokal dan penduduk. Di ruang kontrol sistem pertahanan anti-serangan udara Soviet di dekat Banes, Kuba, Mayor Gerchenov memerintahkan tembak kepada pesawat Anderson menggunakan dua rudal. Tak lama kemudian, dua rudal pun melesat ke udara memburu pesawat Anderson. Di layar monitor, dua titik terus bergerak mendekati sebuah titik yang merupakan pesawat Anderson. Tak lama kemudian, di langit yang gelap, cahaya benderang muncul. “Beberapa pecahan peluru menembus kokpit, menembus setelan tekanan parsial pilot dan bagian belakang helmnya. Rudolf Anderson mungkin tewas seketika. Dia entah bagaimana selamat dari ledakan awal, dia pasti mati beberapa detik kemudian, karena kehilangan oksigen dan karena depresurisasi,” sambung Dobbs. “’Target Nomor 33 dihancurkan,’ lapornya pada pukul 10.19 pagi.” Reruntuhan pesawat Anderson mayoritas jatuh ke daratan sekira delapan mil dari situs SAM Banes. Sebuah sayapnya jatuh di Desa Veguitas, sementara ekor pesawat jatuh ke laut, dan bagian badan pesawat berikut tubuh Anderson di dalamnya jatuh di ladang tebu. Pada 31 Oktober, Sekjen PBB U Thant, yang baru menemui Castro, mengumumkan Anderson telah tewas. Pemerintah Kuba kemudian menyerahkan jenazahnya pada 4 November. Presiden Kennedy lalu menganugerahi Anderson, satu-satunya korban jiwa dalam Krisis Misil Kuba, dengan First Air Force Cross. Upaya perdamaian yang dibangun Presiden Kennedy dan PM Soviet Khrushchev lewat surat-menyurat pribadi sejak 1961 pun kembali membentur tembok dengan kematian Anderson. Padahal, pada Jumat malam 26 Oktober sebelum misi Anderson, Kennedy menyepakati tawaran Khrushchev untuk menarik rudal-rudal Amerika di Turki sebagai ganti penarikan rudal-rudal Soviet di Kuba. Atas kematian Anderson, Kennedy didesak Kepala Gabungan Kepala Staf untuk mengerahkan serangan balasan pada Senin, 2 November 1962. Namun, Kennedy tak segera mengiyakan. Setelah berpikir keras, dia akhirnya mengambil keputusan penting. “JFK membatalkan pembalasan Angkatan Udara atas jatuhnya U-2. Dia melanjutkan pencarian resolusi damai. Kepala Gabungan kecewa. Robert Kennedy dan Theodore Sorensen kemudian membuat draf surat untuk menerima proposal pertama Khrushchev, sambil mengabaikan permintaan selanjutnya agar AS menarik misilnya dari Turki,” tulis James W. Douglass dalam JFK and the Unspeakable: Why He Died and Why It Matters .

  • Ujung Perseteruan Sukarno dengan Presiden Prancis

    Presiden Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno.  “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959--1969. Antipati de Gaulle, menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno  bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia  yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “ Le Grand Seducteur ” atau sang perayu agung. Pemimpin Kamboja Norodom Sihanouk tahu apa yang terjadi antara Sukarno dan De Gaulle. Sebagai sahabat Sukarno, Sihanouk dapat mendukung gagasan Sukarno tentang kemerdekaan dan antiimperialisme. Sihanouk juga dapat memahami kegemaran Sukarno dalam bercinta. Namun bagi de Gaulle, kepribadian Sukarno yang lekat dengan syahwat adalah tercela. “Tidak semua pemimpin negara asing menyukai Sukarno seperti saya,” kata Sihanouk kepada Bernard Krisher dalam World Leaders I Have Known . “Di mata de Gaulle dan istrinya yang bermartabat baik,” lanjut Sihanouk, “Sukarno adalah seorang playboy yang jangak (cabul).” Sebaliknya, Sukarno pun menilai Prancis tiada beda dengan bangsa-bangsa imperialis Eropa lainnya. Dengan kata lain, Sukarno juga menggolongkan de Gaulle sebagai pemimpin negara yang ikut melakukan penjajahan. Eksploitasi kemanusian itu bahkan kerap kali diserukan Sukarno memakai adagium Prancis yang terkenal, “ exploitation de l’homme par l’homme ”. Sekalipun demikian, Sukarno sekali waktu memutuskan untuk bertemu dengan de Gaulle.   Dalam otobiografinya, Sukarno menyebut perjumpaan pertama dengan de Gaulle terjadi di  Wina, Austria. Sekira tahun 1961, Sukarno berkunjung ke Austria dalam suatu lawatan sekaligus berobat. Di saat yang sama ada de Gaulle di sana. Sebagai orang yang lebih muda, Sukarno yang mendatangi de Gaulle lebih dahulu. Pertemuan itu menjadi berkesan sebab de Gaulle tidak menyangka kalau Sukarno fasih berbahasa Prancis. Mereka pun saling berbincang dalam bahasa Prancis tanpa penerjemah. Lagi-lagi de Gaulle takjub dengan lawan bicaranya. Sukarno yang di masa mudanya melahap pemikiran pemikir-pemikir Prancis abad pencerahan ternyata paham betul sejarah revolusi Prancis yang disebut “ La grande revolution ”. De Gaulle yang tadinya benci Sukarno berangsur-angsur mulai simpati. Menurut Sigit, de Gaulle memang beralasan untuk mengaggumi Sukarno. Dalam bukunya, Sigit mengutip cerita menarik saat berlangsungnya percakapan antara de Gaulle dan Sukarno. Cara Sukarno menghadapi de Gaulle membuktikan kejeniusannya dalam berdiplomasi.    “Presiden Sukarno, mengapa Anda selalu tidak bisa berteman dengan Prancis,” tanya de Gaulle. Pertanyaan itu merujuk kepada sikap Indonesia yang gigih membantu perjuangan kemerdekaan Aljazair. Tapi, pertanyaan itu dibalas dengan cerdik oleh Sukarno. Katanya, “Tuan Charles de Gaulle, kami melakukan ini sesuai dengan ajaran revolusi Prancis, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).” “Mendengar jawaban tersebut, Charles de Gaulle hanya manggut-manggut tanda mengiyakan,” tulis Sigit. Perjumpaan itu merupakan awal yang baik bagi hubungan Sukarno dan de Gaulle selanjutnya. Sebab, Sukarno menjalin beberapa pertemuan lagi dengan de Gaulle dikemudian hari. Pada bulan Juni 1963, Sukarno melakukan kunjungan ke Paris dan bertemu de Gaulle. Sukarno mengunjungi Paris lagi pada 20 Oktober 1964. Kunjungan terakhir Sukarno ke Prancis berlangsung pada Juli 1965. Pada 1 Juli 1965, pesawat Sukarno mendarat di bandar udara Paris setelah lawatan di Kairo, Mesir mempersiapkan KTT Asia-Afrika II. Presiden de Gaulle kembali menyambut Sukarno di Istana Elysee. Dari yang tadinya benci, “setelah itu sikapnya (de Gaulle) berubah,” kenang Sukarno dalam otobiografinya. De Gaulle sendiri dalam pemerintahannya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang berpandangan moderat. Dia melakukan sejumlah terobosan penting bagi negara dunia ketiga. Pada 1962, misalnya Prancis memberikan hak referendum bagi Aljazair yang kemudian memilih untuk merdeka. De Gaulle juga bersedia “mengusir” markas NATO dari Paris ke Brussel di Belgia dan itu tentu saja  mengejutkan blok Barat. Pada saat negara Eropa lainnya ogah memandang Tiongkok, De Gaulle malah membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Sukarno mengapresiasi kebijakan de Gaulle itu sebagai langkah yang luar biasa. Dia menyebut de Gaulle berani tampil beda di luar kebiasaan. Saling menghormati diantara keduanya menjadikan Prancis sebagai negara Barat yang lebih bersahabat bagi Indonesia ketimbang negara Barat lainnya.

  • Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis

    PERSEPAKBOLAAN Prancis turut terguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron  pada 2 Oktober 2020. Ia menyatakan akan menetapkan undang-undang (UU) tentang sekularisme lantaran menganggap Islam kini sudah menjadi agama yang berada di ambang krisis. Pernyataan itu diperparah dengan pidatonya pada 21 Oktober 2020 setelah munculnya kasus pemenggalan Samuel Paty, guru sejarah di Paris, oleh seorang imigran muslim Chechen. Paty dibunuh setelah memamerkan karikatur Nabi Muhammad SAW di hadapan murid-muridnya. “Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun, gambar-gambar, bahkan jika yang lain menghentikannya. Sang guru (Paty) dibunuh karena ia mewakili republik. Kami akan melindungi kebebasan yang Anda ajarkan dan kami akan membawakan sekularisme,” cetusnya di Universitas Sorbonne, dinukil Euronews , 21 Oktober 2020. Pidato Macron pun menuai kecaman, termasuk dari pemerintah Indonesia. Karikatur Nabi Muhammad dianggap penodaan dan penghinaan terhadap tokoh paling dihormati dunia Islam. Presiden Prancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron (kiri) saat berpose dengan trofi Piala Dunia 2018 yang tujuh di antara skuad Prancisnya terdapat para pemain muslim. ( fifa.com ). Kecaman juga datang dari dunia sepakbola Prancis. Paul Pogba menyesalkan penghinaan terhadap agamanya itu yang sejatinya merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. “Saya marah, syok, dan frustrasi oleh media yang memanfaatkan saya untuk membuat headline palsu terkait isu yang kini sedang terjadi di Prancis dan membubuhkan tentang agama saya dan timnas Prancis. Saya menentang semua bentuk teror dan kekerasan. Agama saya adalah agama perdamaian dan penuh kasih,” ungkap Pogba di akun Instagram -nya @paulpogba , Selasa (27/10/2020). Pogba jadi bagian dari tujuh pemain muslim yang menghuni Les Bleus (julukan timnas Prancis) kala memenangkan Piala Dunia 2018. Selain Pogba, pemain imigran muslim Prancis kala itu adalah Benjamin Mendy, N’Golo Kanté, Adil Rami, Djibril Sidibé, Nabil Fekir, dan Ousmane Dembélé. Prestasi mereka mengulang prestasi dua dekade sebelumnya. Di Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane, yang juga muslim peranakan, berjasa besar menghadirkan trofi Piala Dunia ke Prancis untuk pertama kalinya. Para bintang tersebut menjadi penyambung untaian historis sepakbola Prancis yang sejak 1930-an sudah diramaikan pemain, pelatih, hingga wasit peranakan muslim. Berikut enam pionirnya: Ali Benouna Ali Benouna (jongkok paling kanan) pemain muslim pertama di Timnas Prancis. ( sfrc.fr ). Lahir di Alger, Aljazair pada 23 Juli 1907, Benouna tercatat jadi pemain muslim dan peranakan Afrika Utara pertama yang bermain di Liga Prancis. Dia bahkan jadi yang pertama menghuni tim nasional (timnas) Prancis, pada 1936. Benouna memulai kariernya di Prancis sejak Juli 1930 bersama klub FC Sète. Kala itu klub-klub Prancis memulai tren merekrut pemain dari Aljazair dan Maroko. “Sejak 1929 FC Sète dan Olympique Marseille jadi klub spesialis merekrut para pemain dari Arika. Selama musim 1933-1934, winger brilian Ali Benouna berjasa membawa FC Sète memenangi dua gelar (Coupe de France dan liga) dan menjadi pemain Afrika Utara pertama yang terpilih masuk timnas Prancis,” tulis Claude Boli dalam “African Sports Personalities and the African Diaspora in Europe” yang dimuat dalam buku Sport in the African World . Benouna tercatat hanya dua kali membela panji triwarna Prancis di bawah asuhan pelatih asal Inggris, Gabriel Sibley ‘Kid’ Kimpton. Data FFF (induk sepakbola Prancis) menyingkap, debut Benouna terjadi pada 9 Februari 1936 di stadion Parc des Princes, Paris. Dalam laga persahabatan kontra Cekoslovakia itu, Prancis menelan kekalahan 0-3. Laga kedua cum terakhir Benouna dilakoni dalam laga persahabatan kontra Belgia di Stade Olympique de Colombes, 8 Maret 1936. Prancis menang 3-0. Selebihnya, Benouna bertualang di level klub. Selain bersama FC Sete, ia memperkuat US Boulougne pada 1936-1937, Stade Rennais setahun berikutnya dan mengakhiri karier pada 1939 di RC Roubaix. Larbi Benbarek Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek yang berjuluk "Mutiara Hitam" di skuad Prancis. ( lcfc.com ). Meski dipuja legenda sepakbola Pelé, Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek alias Larbi Benbarek, pesepakbola pertama yang berjuluk “Mutiara Hitam”, dilupakan oleh publik. Padahal, Benbarek bintang sepakbola Prancis pertama yang diakui dunia, pada 1930-an, meski bukan muslim pertama yang bermain di Liga Prancis atau timnas Prancis. “Pelé mengatakan (pada 1975): ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia (Benbarek) adalah dewanya sepakbola.’ Tetapi pada 1990-an Benbarek begitu terisolasi dan terlupakan, bahkan di tanah kelahirannya (Maroko, red .), di mana jasadnya hampir sepekan tak ditemukan setelah kematiannya,” tulis Matt Rendell dalam Olympic Gangster. Pemain kelahiran Casablanca, 16 Juni 1914 itu memulai petualangannya di Eropa bersama Marseille pada 1938. Meski kedatangannya terlambat lantaran beberapa bulan sebelumnya Piala Dunia 1938 sudah digelar di Prancis, performanya di musim perdananya (1938-1939) begitu dahsyat. Sepuluh gol torehannya membuat publik Prancis berdecak kagum. Pelatih Gaston Barreau pun manggilnya ke timnas. Kala Perang Dunia II berkobar, Benbarek pulang kampung ke Maroko dan baru kembali ke Prancis pada 1945 bersama Stade Français. Namanya makin bersinar kala direkrut Atlético Madrid pada 1948. Hingga enam tahun berikutnya ia membukukan 113 gol serta berperan menyumbang dua gelar Liga Spanyol di musim 1949-1950 dan 1950-1951. Sempat kembali ke Marseille pada 1953, Benbarek menghabiskan kariernya di kampung halamannya bersama Fath Union Sport de Rabat pada 1957. Sementara, kariernya di timnas Prancis membentang dari 1938-1954 dengan koleksi 17 gol. Pada 1998 atau enam tahun pasca-kematiannya (16 September 1992), ia dianugerahi FIFA Order of Merit. Amadou Jean Tigana Nama Amadou Jean Tigana melejit bersama Girondins Bordeaux. ( girondins.com ). Pada 1950-an, rasisme masih jadi isu paling mengusik kaum imigran di Prancis. Termasuk yang dialami Jean Tigana, bintang Prancis era 1980-an, di masa kecilnya. Lahir di Bamako (Mali), 23 Juni 1955, Tigana sempat menyembunyikan identitasnya sebagai muslim setelah bermigrasi ke Prancis pada usia empat tahun. “Sebelumnya, para pesepakbola menyembunyikan fakta bahwa mereka seorang muslim. Contohnya Jean Tigana, yang mengganti namanya dari Touré Amadou Tidiane. Di masa kini kebalikannya, para pesepakbola menjadi mualaf setelah mendapatkan hidayahnya,” tutur Charaffedine Mouslim, Presiden Étudiants Musulmans de France (EMF/Perhimpunan Pelajar Muslim Prancis), disitat SoFoot , 13 Desember 2009. Tigana mengakui, sejak kecil acap jadi korban perundungan berbau rasisme di sekolahnya. “Saya sering diserang dan dihina. Saya dicaci dengan kata-kata negro kotor atau Arab busuk, tanpa memedulikan bahwa di dalam hati saya merasakan sakit hati. Saya tak bisa melawan dengan tangan kecil saya,” kenang Tigana, dikutip Lindsay Sarah Krasnoff dalam The Making of Les Bleus: Sport in France, 1958-2010 . Sepakbola jadi satu-satunya tempat Tigana menyalurkan emosinya. Ia bersinar sebagai gelandang sentral bersama Olympique Lyonnais sejak 1978 dan dua tahun kemudian dipanggil ke timnas Prancis. Untuk pertama dan terakhir kali, Tigana menyandang ban kapten timnas pada 16 Juni 1987 kala Prancis meladeni Norwegia dalam kualifikasi Euro 1988 di Stadion Ullevaal, Oslo. Tigana tercatat sebagai pemain muslim imigran pertama yang menyandang ban kapten timnas Prancis. Zinedine Zidane Zinedine Yazid Zidane yang keturunan Aljazair menyandang ban kapten Timnas Prancis periode 2005-2006. ( fifa.com ). Jika di era klasik Benbarek jadi pujaan, di era modern Zidane-lah yang paling disanjung. Lahir di Marseille pada 23 Juni 1972, Zidane sudah berseragam timnas Prancis sejak 1988 di kategori U-17 setelah mendaki karier bersama Cannes. “Saya memang punya keterkaitan dengan dunia Arab. Ada di dalam darah saya melalui orangtua saya. Saya sangat bangga sebagai orang Prancis tapi saya juga bangga akan keturunan ini dan keragaman yang ada di dalamnya” kata Zidane saat diwawancara Esquire , 8 Agustus 2016. Sejak melejit bersama Bordeaux pada 1992 dan Juventus empat tahun kemudian, Zidane tak pernah luput dari pemanggilan timnas. Prestasi demi prestasi dia gapai baik untuk perorangan maupun kolektif. Puncaknya, dua golnya di final Piala Dunia 1998 mengantarkan Prancis meraih Piala Dunia pertamanya. Zidane satu-satunya pemain muslim di skuad besutan Aime Jacquet itu. Tapi nahas, ia mengakhiri masa baktinya di timnas Prancis, di final Piala Dunia 2006, dengan “coreng”. Peristiwa pahit itu terjadi akibat provokasi berbau rasisme. Emosi Zidane meledak setelah keluarganya diejek sebagai keluarga teroris oleh bek Italia Marco Materazzi. Zidane langsung menanduk Materazzi dan akibatnya dikartu merah oleh wasit. Meski Pancis akhirnya kalah dalam adu penalti di laga itu, publik Prancis tetap berada di belakang Zidane. “Saya tahu Anda sedih dan kecewa tapi saya juga Ingin mengatakan bahwa seluruh negeri sangat bangga. Anda telah memberi kehormatan pada negara dengan kualitas luar biasa dan semangat petarung yang fantastis, di mana itu selalu menjadi kekuatan Anda di masa-masa sulit dan masa-masa kemenangan,” ujar Presiden Prancis Jacques Chirac dikutip The Guardian , 10 Juli 2016. Vahid Halilhodžić Lahir di Bosnia, Vahid Halilhodžić mendapat kewarganegaraan Prancis pada 2004. ( fifa.com ). Meski paspornya belum lama berganti dari Bosnia ke Prancis setelah dinaturalisasi, Vahid Halilhodžić dihormati publik dan bahkan pemerintah Prancis sebagai salah satu pionir pelatih muslim dalam sepakbola Prancis. Pada 2004, ia menerima anugerah Legion d’honneur atau medali kehormatan dari pemerintah Prancis kelas Chevalier (ksatria) untuk pengabadiannya dalam sepakbola selama 34 tahun. “Kehormatan dari hati saya yang paling dalam. Tak pernah dalam hidup saya mengalami perasaan semacam ini. Saya merasa sangat senang, melebihi capaian meraih sebuah trofi. Tapi apakah saya laik mendapatkannya? Terlepas dari itu saya ingin berterimakasih kepada (publik) Prancis dan Presiden Prancis (Jacques Chirac). Ini sangat berarti buat saya yang datang dari Bosnia dan belum lama dinaturalisasi,” ungkapnya kepada Le Parisien , 15 Juli 2004. Mantan kapten timnas Yugoslavia era 1980-an itu mulai berkarier sebagai pelatih di Prancis pada 1993 dengan menangani klub kasta keempat Liga Prancis, AS Beauvais. Pria kelahiran Bosnia (Jablanica) itu mengukir reputasinya di liga teratas kala mulai menukangi OSC Lille pada 1998. Setelah menangani Stade Rennais pada 2002, dia menukangi Paris Saint-Germain (2003-2005) dan mempersembahkan trofi Coupe de France di musim perdananya. Saïd Ennjimi Saïd Ennjimi wasit muslim asal Prancis pertama berlisensi FIFA. (Twitter @SaidEnnjimi75). Kendati Prancis punya sekitar 45 wasit berlisensi FIFA baik yang masih aktif maupun yang sudah gantung peluit, Saïd Ennjimi masih jadi satu-satunya wasit peranakan muslim. Dia lahir di Casablanca, Maroko, 13 Juni 1973. Sosok yang juga berprofesi sebagai akuntan itu sudah berkecimpung sebagai wasit profesional sejak 1998 setelah bermigrasi dari Maroko pada 1975. Pada usia 17 tahun dia sempat mengadu peruntungan dengan jadi pemain di klub AS Coubertin. Namun ia ditolak dan malah disarankan menukar masa depannya dari pemain jadi wasit. Ennjimi yang tak takut mencoba, perlahan mendapatkan lisensi nasionalnya pada 1991. Delapan tahun kemudian, dia dipercaya memimpin kompetisi profesional di liga kasta keempat, Championnat National 2. Namun sebagai imigran muslim, ia pernah ditempa perlakuan rasis kala memimpin laga. “Prancis selalu menjadi negara rasis. Akan tetapi saya merasa keadaannya selalu berbalik dengan sendirinya. Terdapat enam juta muslim di Prancis dan walaupun terdapat beberapa pengecualian, mereka mencintai negaranya (Prancis). Saya berpikir bahwa sepakbola selalu membuat orang-orang rukun dan mempromosikan integrasi. Saya salah satu contohnya,” tutur Ennjimi, dikutip Jeune Afrique , 12 November 2016. Karier Ennjimi melejit pada 2004 kala mulai memimpin laga-laga di Ligue 1, kasta teratas Liga Prancis. Puncak karier sosok yang dikenal tegas di lapangan itu ialah mendapat lisensi UEFA dan FIFA pada 2008. Dari situ ia mulai jadi pengadil di laga-laga Liga Champions, Euro, dan Piala Dunia hingga kini.

  • Subronto K. Atmodjo, Komponis Sukarnois

    SELAIN Sudharnoto, Bintang Suradi, dan Titik Kamariah, di Ansambel Gembira ada nama Subronto Kusumo Atmodjo yang tak bisa dilewatkan. Subronto sering kali membuat lagu untuk Ansambel Gembira dan sempat memimpin ansambel ini hingga kejatuhannya pada 1965. Astuti Martoyo, mantan anggota Ansambel Gembira, menyebut bahwa Subronto adalah sosok yang cerdas. Selain sebagai pelatih, ia juga komponis sekaligus konduktor. Lagu-lagu ciptaannya sering kali menjadi lagu andalan Ansambel Gembira. Astuti mengenal Subronto jauh sebelum ia bergabung dengan Ansabel Gembira. Astuti mengenang, lagu “Suburlah Tanah Airku” ciptaan Subronto adalah lagu yang hampir pasti bisa dinyanyikan anak sekolah pada waktu itu. “Beliau itu sangat pandai karena ia membuat lagu yang massal. Lagu massal yang gampang dinyanyikan,” kata Astuti Martoyo kepada Historia.ID. Subronto lahir dari keluarga petani di Kabupaten Pati pada 1929. Ayahnya menginginkan Subronto menjadi petani, namun musik tampaknya menjadi panggilan jiwanya. Ketika melanjutkan pendidikan di SMA Taman Siswa Yogyakarta, Subronto justru gandrung dengan gamelan. Semua instrumen gamelan pun dikuasainya. Ketika menjadi Ketua Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Semarang, untuk pertama kalinya ia menonton pertunjukan Sudharnoto yang sudah sohor namanya. Ketika pindah ke Jakarta, kepada Sudharnotolah ia banyak belajar tentang musik. Subronto bergabung dengan Ansambel Gembira pada 1952. “Waktu itu ia belum kerja, masih luntang-lantung. Malah, katanya, pernah mengombrengkan baju dengan bersama Mas Dharnoto,” sebut Koesalah Soebagyo Toer dalam Ke Langit Biru, Kenangan tentang Gembira.   Di Ansambel Gembira, Subronto menjadi salah satu anggota yang menonjol baik sebagai penyanyi maupun dalam urusan organisasi. Dia juga yang mengusulkan agar Ansambel Gembira tidak hanya mementaskan lagu-lagu perjuangan melainkan juga lagu rakyat atau lagu daerah. Koesalah yang juga sempat bergabung dengan Ansambel Gembira menyebutnya sebagai orang paling berjasa di Ansambel Gembira selain tiga pendirinya. “Itu tidak hanya karena kedudukannya sebagai Penanggungjawab Kesenian, melainkan juga karena ketokohannya sebagai pendidik, pembimbing, dan panutan pemuda,” kenang Koesalah. Selain tenar sebagai pemimpin Ansambel Gembira, Subronto juga dikenal karena sering membuat lagu yang terinspirasi dari pidato-pidato Sukarno. “Setiap statemen politik Bung Karno yang disampaikan kepada masyarakat dibikinkan (Subronto) lagu,” kata Titik Kamariah seperti dikutip Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam tulisannya “Bersama Lekra dan ansambel: melacak panggung musik Indonesia: 1950-1965”, termuat dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965. Pidato-pidato Sukarno menjadi inspirasi Subronto. Dua lagu di antaranya ialah “Nasakom Bersatu” dan “Resopim”, yang sering dibawakan Ansambel Gembira dari panggung ke panggung. Subronto memang tidak pernah menempuh pendidikan musik, namun ia belajar kepada banyak orang. Selain kepada Sudharnoto, ia juga sering mendatangi Amir Pasaribu dan Sudjasmin. Nasib membawanya kuliah di jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Sekolah Tinggi Musik Hanns Eisler, Berlin. Subronto lulus pada Agustus 1965. Pramoedya Ananta Toer dalam  Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut Subronto adalah orang yang menemukan bahwa pelog, tangga nada diatonik dalam musik Jawa, ternyata berasal dari Gereja Phrygia di Asia Minor. Pelog masuk melalui Surabaya dan tersebar ke seluruh Jawa dengan beragam modifikasi. Sementara pelog yang masih mendekati aslinya disebut masih bertahan di Madura. Di luar Ansambel Gembira, Subronto bekerja sebagai karyawan di Departemen Pendidikan, Pengamatan, dan Kebudayaan (PPDK). Selain itu, ia juga aktif menulis di media massa dan menjabat sebagai redaktur majalah Pemuda.  Beasiswa di Berlin juga didapatnya dari penugasan Departemen PPDK. Subronto sempat bekerja di Kedutaan Cekoslovakia. Pada 1953, ia mengikuti Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Bukares, Rumania. Kemudian pada 1957, ia menjadi Ketua Seksi Kesenian delegasi Pemuda/Mahasiswa pada Festival Pemuda dan Mahasiswa Demokratik se-Dunia di Moskow. Kiprah Subronto di Ansambel Gembira berakhir ketika pada 1968 ia ditangkap karena menjadi pimpinan Ansambel Gembira sekaligus komponis ternama Lekra. Ia berpindah dari penjara ke penjara sebelum dibuang ke Pulau Buru. Namun, pembuangan tak mematikan jiwa musiknya. Menurut Hersri Setiawan dalam  Memoar Pulau Buru, Subronto memimpin grup musik Bandko, singkatan dari Band Markas Komando. Setelah bebas dari Pulau Buru pada 1977, Subronto diajak oleh Alfred Simanjuntak untuk bergabung dengan Yayasan Musik Gereja. Sejak itu, ia mulai sering menciptakan lagu-lagu rohani Kristen. Namun, lagunya yang terkenal “Kantata Bintang Bethlehem” sebenarnya telah diciptakan di Pulau Buru. Subronto meninggal dunia di Bekasi pada 12 November 1982.*

  • Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum

    HARI Penerbangan Nasional tahun ini, Selasa (27/10/2020), patut dijadikan cermin untuk merenungkan sudah sejauh mana Indonesia melangkah dalam dunia kedirgantaraan. Persaingan ketat di bidang kedirgantaraan internasional yang telah diikuti negara seperti RRC, India, bahkan Brazil, boleh dibilang belum “mengikutsertakan” Indonesia secara penuh di dalamnya. Kondisi tersebut seakan mundur dari masa ketika Indonesia masih bayi. Menurut Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta Kolonel Sus. Dede Nasrudin dalam webinar “Gatotkaca Mengguncang Dunia”, Selasa (27/10/2020), republik yang walaupun masih bayi sudah berusaha menelurkan pembuktian kompetensinya dalam hal dirgantara berkat penerbangan yang dilakukan Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945. Saat itu yang digunakan adalah pesawat bekas Jepang, Yokosuka K5Y alias “Cureng”. “Hari ini ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional sejak 27 Oktober 1945 Pak Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng dengan identitas roundel merah putih pertamakali terbang di atas Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) dan kota Yogyakarta. Ini bukti kepada dunia internasional bahwa kita sudah bisa menerbangkan pesawat dengan pilot asli orang Indonesia berlogo merah putih,” ujarnya. Sejak saat itu, hasrat untuk “menaklukkan” angkasa terus disemai para anak bangsa di bawah komando KSAU Komodor Suryadarma. Para bawahannya yang juga berhasrat tinggi di bidang dirgantara lalu maju dengan konsep dan usaha masing-masing. “Sejak TNI AU didirikan 9 April 1946 dengan nama TRI (Tentara Republik Indonesia) Udara, dibentuk juga salah satunya Biro Rencana dan Konstruksi yang berada di Maospati (Lanud Iswahyudi). Inilah cikal bakal industri penerbangan yang dipelopori Wiweko dan Nurtanio,” lanjut Dede. Baca juga: Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali Dari sanalah embrio industri dirgantara Indonesia lahir. Lewat Opsir Udara III Wiweko Soepono dan Opsir Muda Udara Nurtanio Pringgoadisuryo, swaproduksi pesawat Indonesia dirintis. Dimulai dari modifikasi pesawat-pesawat peninggalan Jepang di Perang Kemerdekaan, Indonesia melangkah ke produksi sendiri lewat pesawat-pesawat NWG-1 ( glider ) pada 1946, Gelatik atau Capung di era Sukarno (1965) hingga N-250 “Gatotkaca” di era selanjutnya. Pesawat-pesawat tersebut lahir di bawah naungan institusi yang silih berganti datang dan pergi. Dari Biro Perencanaan dan Konstruksi (1946), Depot Penyelidikan Percobaan dan Pembuatan AURI (1950), Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat atau Kopelapip (1964), Lembaga Persiapan Industri Penerbangan Nurtanio atau Lapipnur (1971), PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (1976), PT Industri Pesawat Terbang Nusantara alias IPTN (1985) hingga PT DI (2000). Glider/Pesawat Luncur GX-001 "Kampret" salah satu alutsista buatan anak bangsa pada 1951 (Randy Wirayudha/Historia) Berawal dari Akhir dan Berakhir dari Awal Kelahiran pesawat N250 “Gatotkaca” tak lepas dari kisah pemanggilan Bacharuddin Jusuf Habibie oleh Presiden Soeharto agar pulang dari Jerman ke tanah air. Dalam pertemuan keduanya di Jalan Cendana pada 28 Januari 1974, Soeharto mengutarakan keinginannya membangan industri dirgantara. Menurut A. Makmur Makka dalam Inspirasi Habibie, dalam pertemuan itu Soeharto mengungkapkan istilah “tinggal landas” dalam hal pengembangan teknologi untuk pembangunan ekonomi. BJ Habibie (kiri) & Presiden Soeharto ( The Technological State in Indonesia ) Habibie menginterpretasikan istilah itu sebagai perintah membangun pesawat yang bisa digunakan dalam strategi pembangunan. Habibie pun menjelaskan panjang lebar tentang industri penerbangan dan tentunya tugas-tugas Habibie sebelum memimpin IPTN. “Jadi kapan saya bisa melihat pesawat yang kamu ceritakan tadi?” tanya Soeharto, dikutip Makmur. Habibie, lanjut Makka, pun menjanjikan tempo satu dekade dari pertemuan mereka malam itu. Baca juga: Habibie Kecil dan Soeharto Muda Djoko Sartono Sastrodihardjo, kepala program N250 IPTN, masih ingat betul ketika Habibie mulai memimpin IPTN sejak 1976. Prinsipnya, sebelum bisa memproduksi pesawat sendiri, akan sangat bijak untuk belajar dari negara yang sudah maju. “Pada waktu Pak Habibie diperintahkan untuk membangun kemampuan dirgantara, moto beliau adalah: ‘Kita berawal dari akhir dan berakhir pada awal.’ Artinya kita mengenal dulu teknologi kedirgantaraan, baik itu dari segi memproduksi, kemudian utamanya mengembangkan sendiri kemampuan teknologi dirgantara,” kata Djoko dalam webinar. “Berawal dari akhir artinya, waktu itu IPTN mengirimkan tim ke Spanyol untuk mempelajari instalasi dan produksi (pesawat) NC-212 yang kemudian kerjasamanya (dengan Construcciones Aeronáuticas SA/CASA) dibikin dengan lisensi di IPTN. Dari situ kita belajar lebih dalam, terkait pengembangan produksinya,” sambung pria yang turut dalam tim yang dikirim ke markas CASA di Madrid itu. Pesawat NC-212 (atas) & Pesawat CN-235 produksi bersama IPTN dan CASA ( indonesian-aerospace.com ) Baca juga: Nurtanio, Patriot Udara Indonesia Lantas berikutnya adalah pengembangan kemampuan integrasi pesawat terkait desain maupun manufacturing . IPTN kemudian melakoni joint-development CN-235, pesawat angkut komersial medium. CASA dan IPTN masing-masing mengerjakan 50 persen. “Pada 1980 kita memulai conceptual design -nya dan hampir setahun mengembangkan bersama, akhir 1980 kita pulang untuk mengerjakan paket kita sendiri. Desain yang kita dapatkan utamanya adalah soal center wing . Juga dengan pengembangan konfigurasinya,” tambah Djoko. Pesawat CN-235 yang dinamai “Tetuko” pun kemudian sukses diuji terbang perdananya pada 11 November 1983. Tepat 10 tahun dari percakapan awal dengan Presiden Soeharto, Habibie kembali menghadap ke Cendana. “Di ruangan yang sama di Jalan Cendana, Habibie melapor: ‘Pak CN-235 Tetuko sudah terbang. Begitu pula dengan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong’,” tulis Makmur. Gatotkaca Pesawat Anak Bangsa Dari semua yang dipelajari Djoko dkk., mulai dari konsep desain hingga sisi pemasaran, pada 1989 Habibie akhirnya memutuskan untuk membangun pesawat yang 100 persen karya anak bangsa. Untuk bisa mengguncang dunia, dilahirkanlah proyek N250 yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire . N250 jadi satu-satunya pesawat komuter yang mengaplikasikan teknologi yang di masa itu baru diaplikasikan dalam pesawat jet berbadan besar Airbus A340 dan Boeing 767. “Kita langsung mengaplikasikan sistem fly-by-wire untuk tiga axis (poros). Boeing maupun Airbus sempat menyarankan kita mengumpulkan pengalaman dulu di satu axis . Tapi Pak Habibie menetapkan kita langsung tiga axis . Waktu itu (kompetitornya) ada Saab 340 dan ATR 42 yang masih mengembangkan satu axis tapi kita satu-satunya yang langsung tiga axis ,” kata Djoko. Baca juga: Empat Burung Besi yang Dikandangkan Teknologi fly-by-wire diklaim membuat N250 lebih aman. Selain itu, tambahnya, “Lebih efektif, lebih murah, lebih safety , dan lebih bisa diandalkan karena biasanya kita tidak hanya tergantung pada satu komputer. Kalau perlu tiga komputer ditambah back up -nya. Dari segi bobot juga jadi lebih ringan.” Guna mendukung konsep tersebut, IPTN membangun beragam instalasi pengujiannya. Desain dan konstruksinya diaudit oleh utusan-utusan dari pabrikan Boeing, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), maupun Federal Aviation Administrasion (FAA/Lembaga Penerbangan Amerika). Dari PT DI di Bandung, Gatotkaca kini mendarat di museum di Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Untuk manajemen pemasarannya, IPTN bekerjasama dengan Amerika dengan membentuk joint-corporation American Regional Aircraft Industry (AMRAI) dan European Regional Aircraft Industry (ERAI). Purwarupa PA1 yang kemudian dinamai N250 “Gatotkaca”. Untuk menerbangkan pesawat berbobot kosong 13 ton itu digunakan mesin turboprop Allison AE2100 C. Mesin tersebut bisa memacu Gatotkaca dengan kecepatan maksimal 610 km/jam serta melejit ke ketinggian maksimal 25 ribu kaki (7.620 meter). N-250 kemudian melahirkan empat varian: PA1 , PA2, PA3, dan PA4. PA1 alias “Gatotkaca” punya kapasitas 50 penumpang, sementara PA2 yang dinamai “Krincing Wesi” bisa membawa penumpang 68 orang. Saat proyeknya di hentikan, PA3 baru 70 persen rampung dan PA4 masih dalam bentuk cetak biru. Menyelamatkan Gatotkaca N-250 PA1 “Gatotkaca” dengan nomor registrasi PK-XNG akhirnya melakoni debut terbangnya pada 10 Agustus 1995. Take off dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung pada pukul 10.15 pagi, maiden flight Gatotkaca tidak hanya disaksikan Presiden Soeharto namun juga jutaan pasang mata rakyat lantaran disiarkan via televisi. “Banyak yang terharu dan meneteskan air mata, tak terkecuali Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, serta Wapres Try Sutrisno. Beberapakali terlihat Presiden mengusap wajahnya dengan sapu tangan putih. Bahkan Ibu Tien spontan memeluk dan menjabat tangan memberi selamat kepada Habibie, seraya menahan haru yang bercampur bangga,” tulis Makmur di buku lainnya, The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan. Kebanggaan akan N250 “Gatotkaca” kian memenuhi dada kala pesawat itu sukses ferry flight melintasi Asia-Afrika-Eropa. Ferryflight itu dilakukan untuk menghadiri Paris AirShow 1997. Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu Namun, semua berubah kala krisis moneter menerpa Indonesia pada 1998. Pemerintahan Soeharto memilih manut pada International Monetary Fund (IMF) demi mendapatkan bantuan untuk menghadapi krisis. Soeharto menerima persyaratan IMF agar subsidi pemerintah untuk IPTN disetop. Habibie, Djoko, dan semua rekannya di IPTN pun terpukul. “Jadi hal itu sangat memukul kita juga. Terus terang, sebagian besar SDM kita yang sudah terlatih dengan program itu, akhirnya pergi ke (pabrikan) Embraer di Brasil, ke Boeing, ke Airbus di Hamburg. Kita waktu itu (1998) sudah punya hampir 900 jam terbang. Untuk mendapatkan sertifikasi kita butuh 700 jam terbang lagi. Diharapkan waktu itu sebetulnya tahun 1999 kita sudah bisa mendapat sertifikasinya,” kata Djoko menyesali. Setelah telantar di PT DI, N250 "Gatotkaca" dirawat untuk dijadikan wahana edukasi di Muspusdirla Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Gatotkaca pun telantar bak rongsokan. Tak diurus PT DI hingga 25 tahun kemudian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memutuskan “menyelamatkan” Gatotkaca dengan memindahkannya dari Bandung ke Jogja. Pada 26 Agustus 2020, pesawat canggih nan nahas itu dipugar dan disarangkan ke Muspusdirla. “Agar jangan salah persepsi. Kok katanya tragis ditempatkan di museum. Padahal justru di museum ini bisa dilihat oleh semua kalangan. Karena kita (TNI AU) juga punya kaitannya sejak 1946 yang saya ceritakan tadi. Sekarang ini kita rawat agar generasi muda bisa melihat bahwa kita sudah melangkah lebih jauh dalam perkembangan kedirgantaraan,” ujar Dede. “Kalau di sana (PT DI) mungkin telantar. Kondisi body -nya sudah enggak putih lagi, sudah hitam. Beberapa bagian juga karatan dan jamuran. Sebelum dikirim ke sini, dicat kembali agar kemudian jadi wahana edukasi buat masyarakat. Terlebih sebenarnya kecanggihan N250 ini sampai berapa tahun ke depan enggak akan ketinggalan teknologinya,” imbuhnya. Keputusan Marsekal Hadi didukung Djoko sebagai salah satu “bidan” yang melahirkan Gatotkaca. Baginya, amat sakit mengenang kenyataan proyek pesawat itu dipaksa terhenti. “Saya sendiri kalau lewat dekat PT DI, karena saya tinggal di Cimahi, kok merana karena posisinya di luar. Kena panas dan kena hujan. Tapi ya itu faktanya. Jadi dengan dimuseumkan mungkin lebih terawat dan harus bisa dilihat generasi penerus bahwa 25 tahun lalu kita pernah bikin pesawat yang mengguncang dunia,” tandasnya. Baca juga: Akhir Tragis Alutsista Legendaris

  • Pelatihan Perwira Angkatan Darat di Jerman

    WARTAWAN berita T-Online , Jonas Mueller-Töwe bersama rekannya meneliti arsip-arsip rahasia Dinas Intelijen Jerman (Bundesnachrichtendisenst atau BND) untuk mengungkap peran BND dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Hasil penelitiannya diterbitkan di t-online  pada 13 Juli 2020.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page