Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Sukarno Mengecam Agresi Belanda
YOGYAKARTA, 21 Juli 1947. Empat pesawat tempur Belanda mengelilingi kota Yogyakarta pagi itu. Mereka bermanuver secara rendah selama lebih kurang 15 menit. Sebuah ancaman singkat yang sukses menebar teror di langit ibukota Republik Indonesia. Ancaman tersebut juga praktis membuat rakyat ketakutan. Hampir tidak ada seorang pun yang berani untuk keluar rumah mereka. Sekira pukul 7, pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom di lapangan terbang Maguwo. Mereka juga menyasar lapangan-lapangan terbang lain, serta tangsi-tangsi militer Republik di sekitar Yogyakarta. Siangnya, lapangan Maguwo kembali mendapat gempuran. Kali ini mereka berhasil menjatuhkan delapan bom. Tidak cukup sampai di situ, pasukan infanteri Belanda mulai bergerak, menyasar pertahanan kaum Republik di dalam kota. Aksi militer Belanda itu merupakan buntut dari gagalnya pihak Republik dan Belanda mencapai kesepakatan. Bagi pihak Belanda, kaum Republik telah melanggar Perjanjian Linggarjati, dan menolak nota Belanda tertanggal 27 Mei 1947 yang meminta aksi tembak-menembak dihentikan. Pihak Republik juga dinilai masih terus melakukan perusakan-penusakan terhadap aset Belanda. Menanggapi sikap tersebut, Perdana Menteri Belanda Louis Beel memberi titah kepada Gubernur Jenderal Van Mook untuk melaksanakan aksi polisionil, dengan Yogyakarta sebagai target utamanya. Malam hari, sekitar jam 7, setelah Belanda membombardir Maguwo dan kepanikan terjadi di seluruh pelosok negeri, Presiden Sukarno memberikan sebuah pidato yang ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia, dan dunia umumnya. Dalam pembukaannya Sukarno mengatakan: “Pada permulaan bulan suci ini, apa yang telah lama dan selalu kita khawatirkan, sekarang sudah terjadi. Pihak Belanda, dengan perantaraan Perdana Menterinya Beel serta wakilnya di sini Dr. van Mook, rupanya telah memungkiri serta membatalkan perjanjiannya dengan Republik Indonesia atas maunya sendiri. Rupanya pula sebelum pernyataan pemungkirannya itu sampai kita, pihak Belanda telah memulai pula gerakan permusuhan terhadap kita. Republik kita, perwujudan cita-cita serta perjuangan rakyat Indonesia, sekarang diserang terang-terangan dengan senjata, dari darat dan udara,” ujar Bung Karno. Dalam pidato, yang tertulis dalam Daerah Istimewa Yogyakarta terbitan Departemen Penerangan RI, tersebut Sukarno juga mengatakan bahwa masuknya Belanda ke Yogyakarta seolah mengulang kembali kejadian yang sedih dan keji di dalam sejarah kemanusiaan. Semua itu terjadi lantaran tindakan sewenang-wenang yang didorong oleh nafsu akan penjajahan. Akan tetapi Sukarno yakin tidak ada satu pun pihak yang mendukung tindakan para penjajah itu. Tiap orang yang masih memiliki rasa keadilan di dalam dirinya tentu akan sadar bahwa kekerasan yang dilakukan Belanda tidak dapat dibenarkan apapun alasannya. Sementara Belanda sendiri, sebagai sebuah negara, imbuh Sukarno, tidak memiliki rasa keadilan tersebut. Sebab tidak mungkin negara yang adil akan berbuat onar di negara yang baru saja mengikrarkan kemerdekaannya. Secara terang-terangan mereka melakukan kurungan militer, politik, hingga ekonomi, hingga sosial tanpa memikirkan nasib rakyat yang tinggal di dalamnya. “Mustahil! Mustahil bagi tiap orang yang masih mengandung perasaan keadilan serta kebenaran! Oleh karena itu, maka pemungkiran pihak Belanda pada perjanjiannya dengan kita adalah pemungkiran penghargaannya pada kemerdekaan, keadilan, serta kebenaran. Dan kekerasan yang dilakukan pada kita adalah perkosaan pada kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kemanusiaan,” tegas Sukarno. Sukarno meminta rakyat untuk tidak menyerah. Dia sadar bahwa sejak tahun-tahun sebelumnya rakyat sudah dilanda derita. Harta benda, kebebasan, perasaan, serta kehormatan, segalanya diserahkan untuk pelaksanaan kemerdekaan dan menyelamatkan Republik. Dengan kembalinya penjajahan, mereka harus menelan derita untuk kedua kalinya. Meski begitu Bung Karno meminta semuanya bertahan dan tetap berjuang. Dia dan pemerintah Republik berjanji akan mengusahakan kemerdekaan yang sempurna bagi rakyat Indonesia. Presiden juga mengajak seluruh rakyat untuk bersama-sama berdoa agar bangsa Indonesia terhindar dari segala macam bencana, terutama ketidakadilan dari para penjajah yang sedang dan akan mereka hadapi. Terlebih ketika pidato tersebut mengudara, seluruh rakyat Indonesia sedang melaksanakan puasa di bulan suci Ramadan. “Yakinlah bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Adil, serta Benar, terlebih-lebih di dalam Bulan Suci ini, tak akan meninggalkan kita, selama kita tetap di jalan keadilan, kebenaran, serta kemanusiaan Ia yang akan menambah segala tenaga yang masih perlu kita adakan pada diri kita. Ia pula yang akan menuntun kita, melalui bencana ini, kepada keselamatan serta kemenangan kemerdekaan,” kata Bung Karno. Pidato Sukarno malam itu ditutup dengan seruan kepada seluruh rakyat Indonesia di Sumatra, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Maluku, Kepulauan Sunda Kecil, hingga Papua, agar serentak menggabungkan kekuatan untuk menolak “perkosaan” Belanda terhadap kemerdekaan Republik —lambang kemerdekaan, lambang kebenaran, lambang keadilan, dan lambang kesucian.*
- Moestopo Usulkan Gelar Doktor Kehormatan untuk Soeharto
Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.
- Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa
Yogyakarta, 17 September 1946. Suasana di Pendopo Kepatihan malam itu mendadak ramai. Orang-orang berkumpul di bangunan yang sekarang menjadi bagian dari kompleks Pemprov D.I. Yogyakarta tersebut. Berbagai kalangan hadir di sana. Mulai dari pejabat pemerintah daerah, pejabat Republik, pejabat keraton, hingga orang-orang dari golongan Tionghoa. Mereka datang untuk menghadiri sebuah perundingan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Indonesia-Tionghoa. Dalam sebuah arsip foto terbitan IPPHOS tahun 1946, yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, tampak hadir Wakil Presiden Mohammad Hatta, beserta jajaran menteri di Kabinet Sjahrir II. Di ruang konferensi tersebut Hatta terlihat duduk bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX (di sebelah kanan), dan Sri Paku Alam (di sebelah kiri). Tampak pula hadir Pamglima Besar TNI Jenderal Sudirman, serta Ketua DPA R.A.A. Wiranatakusuma. Dijelaskan dalam Daerah Istimewa Jogjakarta , terbitan Departemen Penerangan RI, tujuan Pemerintah Republik mengadakan pertemuan tersebut adalah konsolidasi soal bangsa asing yang hidup di tanah air. Sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang dan politik manifest 1 November 1945, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan bangsa asing di negerinya. “Meskipun masih banyak rintangan-rintangan teristimewa dari luar, pemerintah terus berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai negara yang merdeka terhadap bangsa asing. Di dalam kalangan bangsa asing, maka penduduk Tionghoa mempunyai tempat yang luas dan penting sekali,” tulis buku Departemen Penerangan RI itu. Di dalam konferensi tersebut dibahas berbagai persoalan yang melibatkan bangsa Tionghoa secara khusus, dan Indonesia secara umum, seperti perekonomian, kesosialan (pengungsian), pengajaran, dan keamanan. Bagi pemerintah Republik, keberadaan bangsa Tionghoa ini amat penting dalam proses pembangunan ekonomi. Terlebih mayoritas dari mereka bekerja sebagai pedagang dan pemilik perusahaan, baik besar maupun kecil. Sehingga diharapkan dapat berperan aktif membantu menstabilkan ekonomi negara. Setelah meyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Tionghoa, ketua panitia Tjie Sam Kong dari organisasi Tionghoa Chung Hua Tsung Hui (CHTH) membuka pertemuan malam itu. Setelah memberikan sedikit pidato pembukaan, pimpinan rapat selanjunya diserahkan kepada Tabrani dari Kementerian Penerangan RI sebagai wakil pemerintah. Pada kesempatan itu Tabrani menjelaskan bahwa pemerintah menilai kedudukan golongan Tionghoa lebih utama dibandingkan golongan asing lainnya. Sudah sejak lama, orang-orang Tionghoa menjadi bagian dari perjalanan negeri ini. Mereka juga turut andil menentukan gerak perekonomian, dan berbagai hal lainnya. Sama halnya dengan Tabrani, Bung Hatta juga menyebut bahwa kekuatan utama kalangan Tionghoa di Indonesia adalah perekonomian. Dalam sambutannya, dia mengatakan kalau golongan Tionghoa telah sejak zaman penjajahan Belanda menjadi perantara antara golongan penjajah dan golongan yang dijajah. “Orang-orang Tionghoa di negeri ini berasal dari kelas pedagang, mereka hampir semuanya pedagang. Dalam kapitalisme, tujuan dari para pedagang adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya sendiri. Karena kenyataannya pada pedagang Tionghoa menjadi kepanjangan tangan dari kapitalis asing di masyarakat Indonesia, mereka telah menimbulkan kesan yang tidak disenangi,” kata Hatta seperti dikutip Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Untuk menghilangkan kesan negatif warga Tionghoa, Hatta mengajak mereka ikut dalam sistem perekonomian baru yang dijalankan pemerintah RI. Sistem ekonomi tersebut didasarkan kepada kesejahteraan sosial. Segala jenis produksi dan distribui akan dibuat aturan baru. Maka kesan warga Tionghoa, imbuh Hatta, akan berubah dari lawan menjadi kawan. Dan dengan sendirinya “soal Tionghoa” hilang dari masyarakat. Setelah mendengar sambutan Wakil Presiden, dan sejumlah pejabat negara, acara dilanjutkan dengan agenda putusan rapat. Dalam hal ini seluruh peserta rapat, terutama golongan Tionghoa, menyatakan ketaatannya kepada keputusan pemerintah RI. Sementara pemerintah harus memperhatikan betul hak-hak warga Tionghoa. Selain itu, rapat juga mengakui perkumpulan CHTH sebagai organisasi khusus kepentingan Tionghoa. Mereka juga sepakat membentuk panitia Indonesia-Tionghoa untuk mengatur berbagai kepentingan kedua belah pihak. Kemudian di ranah ekonomi, ditetapkan bahwa hubungan kerja sama antara pemerintah dan golongan Tionghoa akan dijalankan. Pertimbangan dalam putusan tersebut adalah keberadaan warga Tionghoa yang telah berabad-abad lamanya di Indonesia harus tetap terjaga. Kerja sama yang kekal itu harus diwujudkan kembali dengan pembangunan di lapangan perdagangan. Di ranah lain, seperti pendidikan, pemerintah berjanji membantu menyediakan alat-alat pengajaran untuk sekolah-sekolah Tionghoa. Mereka juga diperkenankan menjalankan pendidikan mereka selama tidak membahayakan berdirinya Republik Indonesia. Di ranah penerangan, pemerintah akan memberikan pemahaman kepada seluruh rakyat tentang keberadaan warga Tionghoa bahwa mereka bukanlah musuh bangsa. Di sisi lain, warga Tionghoa juga akan diberikan pengetahuan tentang jiwa revolusi bangsa Indonesia. Konferensi Indonesia-Tionghoa di Yogyakarta ditutup pada malam 18 September 1946, bertempat di Balai Prajurit Ngabean. Tidak ada pertemuan khusus di sana. Acara hanya diisi oleh pertemuan ramah-tamah antara golongan Indonesia dan Tionghoa. Penutupan juga dihadiri pejabat Republik dan perwakilan golongan Tionghoa. “Kemudian sesudah dibacakan keputusan-keputusan konferensi, dipertunjukkan tari-nyanyian dari golongan Tionghoa, permainan anak-anak oleh murid Taman Siswa, dan lain-lainnya. Setelah diadakan sambutan-sambutan, malam perpisahan diakhiri,” tulis buku yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan RI tersebut.
- Sajak Pukulan Rotan
Suatu hari di tahun 1933. Chalid Salim tengah bertugas menginspeksi selokan bersama seorang dokter ketika seorang kopral datang menghampiri mereka. Atas perintah komandan kamp, kopral itu meminta sang dokter untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman pukulan rotan seorang tapol. Chalid dan sang dokter pun segera pergi ke tempat eksekusi. Di sana, seorang tapol telah ditelanjangi dengan kaki dan tangan terikat pada sebuah tiang. Hanya sepotong karung goni yang menutupi bagian kemaluannya. Namanya Idroes. “Sungguh keji pemandangan melihat seorang kawan sebangsa diperlakukan secara nista begitu,” kenang Chalid Salam dalam Limabelas Tahun Digul . Tak jelas musabab tapol itu sampai harus dihukum. Tapi, disebutkan tapol itu telah melanggar peraturan dan harus dihukum 15 kali pukulan rotan. Sang dokter kemudian mengajukan protes terhadap hukuman yang mirip pertunjukan gaya abad pertengahan itu. Namun, peraturan tetap peraturan. Algojo yang bertugas memberi hukuman adalah seorang sersan Indo-Belanda bertubuh kekar. Menurut Chalid, sersan itu tampak dengan sukarela menjalankan tugas kejam itu. Cemeti rotan tebal pun telah disiapkannya. “Maka sebelum kami menyadarinya, rotan itu sudah mengayun, lalu dengan kerasnya dipukulkan kepada pantat bugil si narapidana. Karena sersan itu dengan sengaja menghela rotannya, kulit si korban terkoyak di sana-sini. Dan sekalipun si korban membungkuk kesakitan, ia tidak pernah terpekik ataupun mengeram,” tulis Chalid. Tapol yang telah berlumuran darah itu kemudian di bawa ke rumahsakit. Luka-lukanya kemudian diberi balutan dengan salep. Ia diberi sebungkus rokok meski hal ini melanggar peraturan. Oleh dokter, ia diberi surat istriahat selama seminggu dan setiap hari diberi rokok. Kekejaman kamp Digul sebenarnya rahasia umum. Bahkan, laporan-laporan dari Digul telah sampai ke negeri Belanda. Penyair Belanda Jef Last (1898-1972) adalah salah satu penyair yang kerap memprotes keberadaan kamp ini dalam sajak-sajaknya. Menurut Harry A. Poeze dalam “Jef Last and his revolutionary poetry on Indonesia” yang termuat dalam Pramoedya Ananta Toer 70 Tahun , sajak-sajak Last tak diterbitkan lagi selama bertahun-tahun karena tersingkir dari sejarah sastra Belanda. Poeze kemudian mengumpulkan ulang sajak Last dan menerbitkannya pada 1994 dengan judul Liedjes op de aat van de rottan (Lagu berirama pukulan rotan) . Hukuman pukulan rotan bagi para tapol Digul tampaknya telah diterapkan sejak awal. Liedjes op de aat van de rottan ditulis Last pada 1928. Last juga beberapa kali menerbitkan beberapa buku kecil puisi, antara lain berjudul Partai Komoenis Indonesia , Digoel-Wilhelmus , dan De poenale sanctie . “Setiap buklet dijual hanya dengan sepuluh sen, ‘agar orang miskin dapat membelinya’,” tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia . Kala itu Last merupakan anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Sosial Demokrat Belanda. Ia bersahabat dengan Henriette Roland Holst, Mohammad Hatta, Sjahrir hingga Maria Ullfah. Last memiliki minat menulis tentang Partai Komunis Indonesia, pengasingan Boven Digul, serta eksploitasi kuli di perkebunan di Sumatera. Di Digul, para tapol wajib menyanyikan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”pada hari ulang tahun ratu. Namun, sebagian tapol menolak. Akibatnya, mereka kemudian diasingkan ke kamp yang lebih “berat” di Tanah Tinggi. “Kejadian-kejadian ini mendorong Last menulis apa yang disebut versi Digoel dari Wilhelmus ,” tulis Gerard A. Persoon dalam Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Menurut Chalid, Last juga merupakan salah satu aktivis yang juga mengkritik teman-teman aktivis Belanda yang tak melakukan aksi nyata untuk membubarkan kamp Digul. Aksi nyata yang dimaksud Chalid ialah pawai demonstrasi, pemogokan, atau menduduki perusahaan-perusahaan penting. “Jika ada diadakan aksi demikian, kamp tawanan kami tentu cepat akan dibubarkan. Namun mereka... tidak berbuat sesuatu apa!” tulis Chalid. Berangkat dari kenyataan itu, Last kemudian menggubah sajak berjudul Digoel-Digoel. Berikut adalah tiga bait pertama puisi Last yang diterjemahkan oleh Chalid Salim. Apa sebab aku tulis tentang Indonesia, dan bukan tentang tanah air sendiri? Di sana tubuh kawan-kawan dijadikan bulan-bulanan bagi senjata di tangan penjajah. Di sana mengayun tongkat rotan, sel penjara penuh sesak karena mereka menegakkan Bendera Merah. Kita kagum dan kita memuji bangga, tapi apakah yang kita perbuat? Perduli apa jika mereka mampus di neraka celaka kamp Digoel? Bila Sri Ratu memerintah genap tiga dasawarsa, keadaan dunia konon dianggap normal saja.
- Ketika Sri Sultan Berterimakasih
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta menjadi salah satu titik balik perjuangan rakyat Indonesia semasa Perang Kemerdekaan. Berkat peristiwa itu, seluruh dunia menyadari bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada dan sekaligus otomatis mempersulit posisi Belanda yang selalu mangkir untuk maju ke meja perundingan. Pada akhirnya mereka mau tidak mau harus bersedia melakukan dialog dengan pihak RI. Peristiwa yang dimotori TNI itu juga sedikit banyaknya telah membangkitkan semangat rakyat Yogyakarta untuk tetap bertahan dan berjuang. Setelah bertahun-tahun hidup dalam teror militer Belanda, mereka akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Tekanan orang-orang Belanda lambat laun mulai berkurang hingga akhirJuni 1949, sebagaimana disebutkan A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , rakyat Yogyakarta bisa merasakan kembali kebebasan. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2007 , menyebut begitu Belanda pergi, pemerintah RI segera menjalankan kembali aktivitas kenegaraan di Yogyakarta. Mereka mulai mengupayakan jalan diplomasi dengan pihak Belanda demi mencapai kemerdekaan seutuhnya. Begitu juga rakyat, sedikit demi sedikit memulai kembali kegiatan mereka sehari-hari seperti berdagang. Meski sekilas terlihat baik, rakyat masih diselimuti kekhawatiran akan munculnya tekanan dari pihak Belanda. Mereka belum sepenuhnya yakin para penjajah itu telah pergi dari tanah air mereka. Maka pada suatu kesempatan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan suatu pidato yang disiarkan Radio Yogyakarta. Selain menyampaikan kondisi terkini di Yogya, HB IX juga memberikan ucapan penghargaan atas perjuangan rakyat. “Paduka Yang Mulia Presiden telah mempercayakan kepada saya untuk sementara waktu menjelaskan keberesan pekerjaan negara di masa peralihan sekarang. Bersama-sama itu juga saya ucapkan selamat kepada saudara-saudara sekalian atas peristiwa yang penting ini. Yogyakarta sudah kembali, adalah berkah keuletan saudara-saudara sekarang baik yang bersenjata maupun yang tidak, dalam menghadapi segala kesulitan hidup sekian lamanya itu,” kata HB IX, seperti dikutip Daerah Istimewa Jogjakarta terbitan Kementerian Penerangan RI. “Dan penderitaan itu saudara-saudara sanggup alami, karena terdorong oleh cita-cita kita yang suci, cita-cita mencapai keadilan dan kesempurnaan hidup, yang sudah barang tentu mendapat lindungan Yang Maha Esa,” lanjutnya. Dalam pidatonya itu, HB IX sadar jika perjuangan rakyatnya tidak mudah. Ada begitu banyak kemalangan yang menimpa mereka. Kehilangan sanak saudara, hidup dalam rasa sakit, cacat fisik sepanjang hidup, hingga hidup dalam kemiskinan. Ada begitu banyak keluarga yang menjual semua harta bendanya demi dapat bertahan dalam perjuangan kemerdekaan. Ada juga para kaum terpelajar, imbuh HB IX, yang menolak hidup sejahtera di bawah kaki Belanda agar dapat menyaksikan dan merasakan sendiri kembalinya Yogya di tangan bangsa Indonesia. “Saudara-saudara, apakah artinya kembalinya Yogyakarta di tangan Republik lagi? Ini berarti, bahwa perjuangan kita bangsa Indonesia harus dilanjutkan. Bertimbun-timbun lah pekerjaan yang kita hadapi. Sudah barang tentu dari tiap-tiap warga negara diharapkan iuran dan sumbangsihnya yang sebesar-besarnya untuk menyempurnakan pekerjaan kita itu,” ujar Menteri Pertahanan ke-3 RI itu. Pada kesempatan tersebut , HB IX juga mengajak seluruh daerah bersatu memperjuangkan kemerdekaan. Cita-cita kemerdekaan tidak akan tercapai jika tidak dilakukan bersama-sama. Dia mengatakan kalau persatuan di antara bangsa harus ditanamkan, utamanya mereka yang sudah masuk dalam lindungan bendera Sang Merah Putih, daerah yang dikuasai oleh Pemerintah RI. Perjuangan baru, imbuh HB IX, tidak bisa lagi dilakukan seperti di masa lalu, di mana tenaga rakyat dikerahkan oleh masing-masing kepentingan. Gerakan yang terpecah belah itu akan menjadi terbuang percuma. Dia mengingatkan bahwa kepentingan negara harus ditaruh di atas kepentingan golongan atau partai. Semakin terpecahnya bangsa, makin bergembiralah pihak-pihak yang menghendaki keruntuhan Republik Indonesia. HB IX meminta semua warga negara Indonesia bersatu. Negara menjamin adanya hak demokrasi. Setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan suara, menentang apa yang tidak disetujui. Tetapi haru dilakukan melalui jalan-jalan yang sah, dengan tidak perlu mempertaruhkan keamanan negara untuk kepentingan golongan masing-masing. Selanjutnya soal keamanan negara, seluruh komando akan dipusatkan di bawah TNI. Hal itu dilakukan demi menghindari kesalahpahaman di antara golongan yang dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan, dan mengurangi kemungkinan provokasi yang tiap waktu dapat mengancam. Sebagaimana perintah dari presiden, rakyat sipil bisa membantu menjaga keamanan di kampung-kampung, dan membantu seperlunya. “Perlu juga di sini saya tegaskan lagi, bahwa barang siapa mulai saat ini masih mau mengacau, saya tidak segan-segan untuk mengambil tindakan yang setimpal. Teranglah bahwa kewajiban masing-masing sebagai warga negara Republik masih berat. Tapi soal yang berat ini akan terasa ringan, kalau dikerjakan bersama-sama,” kata HB IX. “Marilah kita percepat usaha untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan bersama itu. Selamat berjuang! Sekali Merdeka, tetap Merdeka!” ujar HB IX mengakhiri pidatonya.
- Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika
Bandung, 1928. Sebuah gagasan tentang perjuangan muncul dari goresan tangan seorang anak muda asal Surabaya yang baru saja menamatkan sekolah teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, dimuat harian Suluh Indonesia Muda , cukup membuat gempar Hindia Belanda. Sukarno, nama sang anak muda itu, membawa gagasan baru untuk gerakan kemerdekaan di tanah airnya. Sebuah ide perjuangan yang nantinya akan membawa semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika. Di dalam artikel tersebut, Bung Karno banyak menyebut tentang semangat Asia. Dijelaskan Bakran Asmawi, dkk dalam Pesan Pembaharuan dari Bandung , Si Bung menggambarkan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, dan kemenangan Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha di medan perang Afyonkarahisar, sebagai kemenangan Asia atas Eropa. Demikian halnya dengan kemenangan Mesir, Cina, dan India atas imperialisme Inggris yang telah bercokol lama di sana. Tidak hanya untuk bangsa Asia secara umum, kemenangan atas bangsa-bangsa Eropa itu, bagi Sukarno, merupakan kemenangan Indonesia juga, sebab imperialisme yang menjerat Indonesia bukan hanya Belanda saja, tetapi imperialisme internasional. “Dengan apa yang dikemukakan di atas maka kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, dengan gembira dan besar hati menginjak lapangnya Asiatisme. Zaman menuntut kita punya usaha sampai keluar batas-batasnya negeri kita, melancar-lancarkan kita punya tangan ke arah tepi-tepinya sungai Nil atau dataran Negeri Naga, menyeru-nyerukan kita punya suara sampai ke negerinya Mahatma Gandhi,” ujar Sukarno Gagasan Sukarno tentang gerakan kemerdekaan, dan ide persatuan di seluruh Asia dan Afrika tidak muncul begitu saja. Sudah sejak tahun 1930-an dia mempromosikan persoalan tersebut di dalam berbagai forum diskusi, rapat umum, hingga sejumlah besar artikel yang dimuat banyak surat kabar. Seluruh semangatnya itu kemudian dituangkan dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat. “Kalau Barong Liong Sai dari Cina bekerja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dengan Harimau dari Filipina, dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasional,” kata Sukarno dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka”, seperti tertuang dalam salah satu karya fenomenalnya, Di Bawah Bendera Revolusi . Sekitar Konferensi Ide penyelenggaraan konferensi se-Asia dan Afrika pertama kali tercetus dalam sebuah konferensi di Colombo, Sri Lanka tahun 1954, yang dihadiri lima negara baru merdeka di Asia: Sri Lanka, Burma, India, Pakistan, dan Indonesia. Sementara gagasan konferensi yang melibatkan negara-negara dari dua benua tersebut merupakan buah pikir Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Dikisahkan Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , usulan konferensi akbar itu tidak begitu saja diterima para pimpinan negara yang hadir saat itu. Mereka memiliki keraguan dan khawatir akan keberhasilannya. Setelah berkali-kali diyakinkan, mereka akhirnya sepakat. Ali pun menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar tersebut. “Waktu dibicarakannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” ungkap sejarawan Rushdy Hosein kepada Historia . Presiden Sukarno dan PM Ali bekerja sangat keras dalam memastikan keberhasilan acara perdana yang melibatkan negara-negara di Asia dan Afrika tersebut. Disebutkan Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti-Imperialisme , Bung Karno juga sedikit banyaknya terlibat dalam proses persiapan. Pada 6 April 1955, Sukarno didampingi PM Ali melakukan pemeriksaan terakhir persiapan KAA. Dalam majalah Merdeka , 16 April 1955, Bung Karno menemukan banyak ornamen kota yang perlu disesuaikan dengan suasana perhelatan KAA, seperti mengubah beberapa nama jalan dan gedung. Gedung Concordia, sebagai gedung pertemuan utama, diubah menjadi gedung Merdeka, gedung Dana Pensiun menjadi gedung Dwi Warna. Sementara itu, Jalan Raya Timur yang membentang di depan gedung sidang pleno, diganti menjadi Jalan Asia-Afrika. Presiden juga meminta panitia acara memastikan tidak ada jalan yang rusak. Kendaraan-kendaraan dan arus lalu lintas juga harus ditata agar terlihat rapi dan bersih. Presiden agaknya tak ingin para peserta yang sudah jauh-jauh datang kecewa dengan kondisi di Bandung. Dia juga turun langsung dalam mengawasi renovasi gedung-gedung yang akan dipakai sidang KAA. Dia memberi instruksi langsung kepada para arsitek mengenai desain interior gedung Merdeka, terutama renovasi balkon yang ada di tengah ruangan. Sukarno juga meminta Roeslan Abdulgani, imbuh Wildan, menyiapkan makanan-makanan khas Indonesia, seperti soto, sate, dan gado-gado, serta jajanan pasar seperti klepon, pukis, bika ambon, dan lemper, selama acara berlangsung, di samping makanan yang sudah disesuaikan dengan selera para peserta. Keterlibatan Bung Karno, bahkan sudah terjadi jauh sebelum KAA digelar, ketika PM Ali hendak pergi menghadiri Konferensi Colombo. Pada suatu pertemuan di Istana Merdeka, begitu mendapat surat undangan dari PM Sri Lanka Sir John Kotelawala, Bung Karno membicarakan kemungkinan diselenggarakannya pertemuan yang melibatkan banyak negara, ketimbang hanya pertemuan lima Perdana Menteri saja. “Ingat Ali, ini adalah tujuan kita bersama, hampir 30 tahun yang lalu kita dalam pergerakan nasional melawan kolonialisme telah menggemakan solidaritas Asia-Afrika,” kata Bung Karno seperti dikutip Roeslan Abdulgani, The Bandung Connection: Konperensi Asia-Afrika di Bandung Tahun 1955. Pidato Pembukaan Sebelum KAA secara resmi dibuka, para perwakilan delegasi yang menginap di Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger datang ke Gedung Merdeka dengan berjalan kaki. Digambarkan Basuki Suwarno, dkk dalam Lima Puluh Tahun Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 , mereka berjalan perlahan membelah kerumunan rakyat sambil melambaikan tangan, serta melempar senyuman. Peristiwa itu dikenal sebagai freedom walk , yang menjadi simbol perdamaian di acara tersebut. Menurut Wildan, Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Zhou Enlai (Cina), dan Sukarno menjadi sorotan utama dalam freedom walk tersebut. Citra yang mereka tampilkan menggambarkan sosok “orang besar” dari Asia dan Afrika yang dielu-elukan rakyat. Keempatnya menjadi ikonografi KAA di kemudian hari. “Kharisma mereka dipancarkan lewat gerak gerik dan respons terhadap sambutan audiens, selain lewat penampilan. Bagi rakyat yang hadir, orang-orang inilah simbol dari spirit nasionalis dan perjuangan revolusioner,” kata Wildan. Sekitar pukul 09.00, para delegasi telah memasuki ruang sidang. Mereka duduk di tempat yang telah diatur pihak panitia. Pembukaan acara pun berjalan lancar, tanpa kendala yang berarti. Kemudian tibalah waktunya bagi Presiden Sukarno, sebagai pimpinan tuan rumah, menyampaikan pidato pembukaan konferensi. Sukarno membuka pidato dengan gaya khasnya, penuh semangat dan berapi-api. Dia mengungkapkan rasa bangganya bisa menyelenggarakan peristiwa bersejarah tersebut. Dia juga menekankan bahwa lahirnya KAA merupakan hasil dari penderitaan rakyat di Asia dan Afrika. Mengambil judul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”, Bung Karno membahas tiga isu utama: kolonialisme, perdamaian dunia, dan solidaritas Asia-Afrika. “Inilah konferensi internasional yang pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna sepanjang sejarah umat manusia. Saya merasa bangga negeri saya menjadi tuan rumah bagi tuan-tuan,” katanya. “Pada hemat saya kita berkumpul di sini pada hari ini karena akibat dari pengorbanan. Pengorbanan yang dibuat oleh nenek moyang kita dan oleh rakyat dari generasi kita serta generasi yang lebih muda.” Menurut Sukarno berkumpulnya para pewakilan negara Asia dan Afrika di Bandung pada hari itu merupakan akibat dari krisis dunia selama berlangsungnya Perang Dingin. Dunia menjadi terpecah, jurang-jurang menganga di antara bangsa-bangsa, dan kedamaian di seluruh dunia menjadi terancam. Kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan. Perubahan perlu dilakukan melalui bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Sukarno juga menyoroti soal kolonialisme yang tidak pernah ada matinya di dunia. Masih banyak negeri di Asia dan Afrika yang terkurung oleh bencana itu. Mereka bahkan bertransformasi dari bentuk lamanya, menuju bentuk kolonialisme baru yang lebih modern. Namun menurutnya kolonialisme jugalah yang menjadi alasan mereka berkumpul di sana, duduk bersama mengadakan konferensi akbar. “Kita semua, saya yakin, disatukan oleh hal yang lebih penting dari hal yang tampaknya superfisial memisahkan kita. Kita bersatu, misalnya, oleh sikap yang sama dalam membenci kolonialisme dalam bentuk apa saja yang muncul. Kita bersatu oleh sikap yang sama dalam hal membenci rasialisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia,” papar Sukarno. Di akhir pidatonya, Sukarno mengajak negara-negara peserta KAA untuk membentuk front antikolonialisme, dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika. Dia mendorong mayoritas penduduk dunia mengambil langkah positif dalam mempengaruhi jalannya politik internasional. Bukan dengan membangun blok yang menentang blok yang sudah ada, tetapi berupaya mencari jalan keluar dari ketegangan akibat Perang Dingin. Sukarno juga berharap KAA tidak hanya membawa perdamaian di Asia dan Afrika, tetapi seluruh dunia. “Pidato pembukaan presiden tersebut telah menawan dan mengikat perasaan delegasi negara-negara peserta, dan telah menawan dan mengikat perasaan siapa saja yang bercita-citakan suatu kemegahan dan kemuliaan Asia-Afrika,” tulis Kamarsjah Bandaro dalam Asia-Afrika antara Dua Pertentangan .
- Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro
PUBLIK Spanyol patut kecewa. Di hadapan publik sendiri, timnas Spanyol asuhan Luis Enrique ditahan imbang 0-0 oleh Swedia dalam laga pembuka Euro 2020 Grup E yang dimainkan di Stadion La Cartuja, Sevilla, 14 Juni 2021. Bahkan akibat membuang beberapa peluang emas, bomber Álvaro Morata mendapatkan siulan dan ejekan dari fans. Padahal, Morata salah satu pemain senior yang paling diharapkan bisa memecah kebuntuan sekaligus memimpin tim muda Spanyol mengulang sukses di Piala Eropa 1964, 2008, dan 2012. “Akan lebih baik ketika publik bisa mengapresiasi Anda ketimbang memberi siulan. Saya ingin bertarung bersama orang-orang yang mengapresiasi kami dan membantu kami melewati masa-masa sulit. Jika kami bermain dengan cara yang sama melawan Polandia, saya yakin peluang-peluang itu akan berubah jadi gol. Saya pikir Morata paham bagaimana mengatasinya dan di laga berikutnya dia akan mencetak gol,” ujar rekan setim cum pemain debutan Pedri González kepada Marca , 15 Juni 2021. Pedro González López alias Pedri (kiri) berharap fans setia mendukung Spanyol usai ditahan imbang Swedia, 0-0 ( uefa.com ) La Furia Roja (julukan Timnas Spanyol) berharap publik tetap setia mendukung di dua partai grup tersisa, kontra Polandia pada 19 Juni dan Slovakia empat hari berselang. Dukungan yang diharapkan itu sebagaimana dukungan di final Euro 1964, kala skuad muda Spanyol meladeni juara bertahan Uni Soviet di Stadion Santiago Bernabeu di bulan yang sama 57 tahun silam. Tak jauh berbeda dari skuad Euro 2020, timnas Spanyol di Euro 1964 itu juga punya jalan sulit untuk sampai ke final. Pemain legendaris Spanyol Luis Suárez mengingat, di babak kualifikasi mereka susah payah untuk bisa menang 2-1 atas Irlandia Utara dan memetik skor yang sama di semifinal ketika bertemu tim kuat Hungaria lewat perpanjangan waktu. “Memori yang paling dikenang di final itu adalah atmosfernya karena (stadion) Bernabéu sangat penuh. Kami sangat menderita di semifinal melawan Hungaria, jadi fans sangat penting keberadaannya di belakang kami. Mereka memberikan rasa aman dan membantu kami tetap tenang,” kenang Suárez di laman UEFA. Di Euro kedua itu, Spanyol juga diisi para pilar muda minim pengalaman. Hanya Suárez yang punya pengalaman bermain di pentas internasional di antara skuad besutan José Villalonga kala itu. “Kami bermain sebagai satu tim. Kami sangat kompak dan memahami satu sama lain. Di skuad hanya saya pemain yang punya banyak pengalaman internasional. Saya yang paling tua (29 tahun) dan sudah lama bermain di luar negeri. Kami bukan sekumpulan pemain top dan kerjasama tim serta dukungan luar biasa dari publik Spanyol memberi semangat bagi tim muda kami untuk bisa meraih sesuatu,” lanjutnya. Final Euro 1954 di Estádio Santiago Bernabéu yang penuh sesak ( uefa.com ) Pertarungan Ideologi Franco vs Khrushchev Stadion Santiago Bernabéu bergemuruh tiada henti pada 21 Juni 1964. Stadion megah di distrik Chamartín, Madrid itu penuh sesak jelang final Euro 1964 yang mempertemukan Spanyol kontra Uni Soviet. UEFA mencatat 79.115 orang memenuhi Bernabéu, sementara suratkabar ABC menyebut 120 ribu penonton. Diktator fasis Spanyol Generalísimo Francisco Franco menyaksikan langsung partai puncak itu dari tribun kehormatan. Kala ia menyapa, seantero Bernabéu serentak berdiri dan memberi aplaus. “Di hadapan tim USSR (Uni Soviet), di mana bendera merah berkibar di atas stadion, di depan 600 jurnalis dari seluruh dunia dan di hadapan jutaan pemirsa televisi, 120 ribu penonton Spanyol memberi penghormatan kepada kepala negara. Sebuah gestur spontan rakyat Spanyol yang dipamerkan kepada Uni Soviet. Setelah 28 tahun masa damai, di balik setiap aplaus turut terdengar spirit 18 Juli (hari pertama Perang Saudara Spanyol, 18 Juli 1936),” tulis ABC edisi 23 Agustus 1964. Laga final itu jadi momen pertama Franco berkenan menjamu musuh komunisnya. Ia bahkan mengizinkan bendera palu-arit bersanding dengan Bandera de España di Bernabéu kendati Perang Dingin sedang panas-panasnya. Empat tahun sebelumnya, Franco lebih suka timnasnya tidak bertanding di lapangan hijau ketimbang bertanding namun bertemu Uni Soviet. Franco masih menyimpan dendam lantaran Soviet ikut menyokong kaum Republiken berhaluan kiri di Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Untuk itu Franco mencoba bernegosiasi dengan UEFA agar dua laga Spanyol kontra Uni Soviet dimainkan di negara netral. Tapi usulan itu ditolak Uni Soviet. Franco pun memaksa timnasnya mundur dari Euro 1960 kendati mesti kena denda dua juta franc Swiss dari UEFA. Skuad Spanyol di Piala Eropa 1964 ( sefutbol.com ) Khrushchev pun menertawakan Franco yang memaksa Alfredo Di Stéfano dkk. mundur ketimbang bertemu Lev Yashin cs. di dua laga home-away pada babak perempatfinal Piala Eropa 1960. “Partai perempatfinal Spanyol melawan Uni Soviet dijadwalkan pada 29 Mei di Moskow dan 9 Juni di Madrid. Tiket pertandingan di Moskow bahkan sudah habis terjual dan pada akhir April kedua pelatih telah menyerahkan daftar tim. Akan tetapi kabinet (pemerintahan Franco) memutuskan untuk menolak izin untuk tim Spanyol melawan Uni Soviet pada 25 Mei,” ungkap Juan Antonio Simón dalam “Football, Diplomacy, and International Relations during Francoism, 1937-1975” yang termaktub dalam Soccer Diplomacy. Banyak pihak menyayangkan keputusan Franco. Pasalnya, Timnas Spanyol yang dilatih Helenio Herrera itu masih dipenuhi pemain top. Selain Alfredo Di Stéfano, ada Luis Suárez, Luis Del Sol, Francisco Gento, Antoni Ramallets, Joaquín Peiró, Chus Pereda, dan Joan Segarra. “Kami pulang dengan kesedihan. Kami tidak bisa pergi ke Rusia. Padahal kami tertarik mengunjungi negeri yang masih jadi misteri bagi kami dan bagi kebanyakan orang Spanyol yang tak mengalami Perang Saudara atau Perang Dunia II. Saya ingat kami dikumpulkan di kantor federasi (sepakbola) di Madrid ketika mereka tiba-tiba mengatakan pertandingannya dibatalkan. Itu karena tekanan politik. Beberapa menteri mengizinkan tapi lainnya menolak. Tetapi Franco adalah bosnya dan dia berkata, ‘tidak’,” kenang Chus Pereda, dikutip Jimmy Burns dalam La Roja: A Journey through Spanish Football. Nikita Sergeyevich Khrushchev (kiri) & Francisco Franco Bahamonde (Library of Congress/Nationaal Archief) Rumor pun menyelimuti alasan di balik keputusan Franco itu. Yang paling diyakini adalah, Franco mengendus adanya konspirasi komunis setelah meneliti laporan kepolisian. Laporan kepolisian itu merangkum sejumlah media Uni Soviet yang mencoba mengompori spirit kaum separatis kiri di Spanyol untuk menggalang dukungan bagi Timnas Uni Soviet. Belum lagi pihak Khrushchev menuntut lagu kebangsaan Uni Soviet diperdengarkan bersamaan dengan bendera Uni Soviet yang diterbangkan dengan pesawat di langit Bernabéu. Bagi Franco, tuntutan itu ibarat deklarasi perang terhadap negerinya. Spanyol kala itu dianggap sebagai benteng terakhir fasisme di Eropa. Apapun alasan Franco, di Moskow Khrushchev “geli”. Dia meledek Franco yang memaksa timnasnya mundur. “Seantero dunia tertawa melihat trik terbaru (Franco) itu. Dari posisinya sebagai bek ‘sayap kanan’ yang mempertahankan prestis Amerika, dia mencetak gol bunuh diri dengan melarang para pemain Spanyol bertanding melawan tim Soviet,” ujar Khrushchev meledek. Timnas Spanyol tampil spartan di final Euro 1964 kontra Uni Soviet ( sefutbol.com ) Dua tahun kemudian, Franco insyaf. Dia mulai lebih membuka diri. Adalah Menteri Luar Negeri Fernando María Castiella dan Menteri Sekretaris Negara José Solís yang meyakinkan Franco bahwa olahraga bisa jadi ujung tombak kepentingan politik luar negeri dan meningkatkan relasi internasional. “Francoisme mulai mengandalkan gelaran olahraga sebagai alat konsolidasi identitas dan prestis nasional. Media massa pro-pemerintah juga mendukung dengan menyanjung Francoisme di masa perayaan 25 tahun masa damai usai Perang Saudara Spanyol. Olahraga juga memperkuat hubungan diplomatik Francoisme, terutama kerjasama mereka dengan Amerika Serikat dan pada akhirnya meretas jalan menuju Komunitas Ekonomi Eropa,” sambung Simón. Langkah awal mewujudkan keterbukaan Franco dilakukan dengan mengizinkan tim basket Real Madrid memainkan tiga laga final FIBA European Champions Cup 1963 kontra CSKA Moskow. Franco lebih menggebu memanfaatkan olahraga sebagai propaganda kala Spanyol dipercaya jadi tuan rumah Piala Eropa 1964. Alasannya, Euro ke-2 itu akan disiarkan ke seluruh dunia lewat dua stasiun televisi, Eurovision dan Intervision . Maka, Franco dengan bangga mau hadir ke tribun kehormatan Estádio Santiago Bernabéu untuk menyaksikan langsung final Spanyol kontra Uni Soviet. Ia pun harus melihat bendera palu-arit berkibar berdampingan dengan bendera negaranya. Spanyol meraih Trofi Henri Delaunay untuk pertamakali pada Euro 1964 usai menang 2-1 atas Uni Soviet ( sefutbol.com/olympics.org ) Pada final yang dipimpin wasit Arthur Holland asal Inggris itu, Suárez dkk. bertarung sengit sejak awal laga. Berkat besarnya dukungan moril penonton, Chus Pereda mencetak gol pembuka ke gawang Lev Yashin di menit keenam kendati dua menit kemudian disamakan oleh Galimzyan Khusainov. Skor itu bertahan hingga menjelang laga berakhir sehingga berpotensi akan dimainkan laga ulangan. Namun, enam menit sebelum pertandingan usai, Marcelino Martínez membukukan gol penentu. Euforia pun memenuhi seisi stadion. Franco ikut senang. Spanyol juara Piala Eropa untuk pertamakalinya di rumah sendiri. Momen itu pun digunakan Franco untuk membalas ejekan Khrushchev pada 1960. “Persatuan dan patriotisme kita telah dibuktikan kepada jutaan orang di berbagai belahan dunia yang menyaksikan pertandingan hebat ini lewat televisi,” kata Franco dikutip sepupu sang diktator, Francisco Franco Salgado-Araújo, dalam Mis Conversaciones Privadas con Franco .
- Serba-serbi Maskot Piala Eropa
DI mana ada perhelatan akbar olahraga, di situ ada maskot. Termasuk di Piala Eropa 2020 kali ini. Pada Piala Eropa (Euro) ke-16 ini, UEFA menghadirkan Skillzy, maskot ke-11 dalam sejarah Piala Eropa. Kendati Euro sudah dihelat pada 1960, baru dua dasawarsa kemudian panitia penyelenggaranya menghadirkan maskot. Sebagai bagian dari branding perhelatan itu, maskot mesti aktual, relatable, dan ramah bagi semua usia. Skillzy didesain UEFA dengan sosok yang lebih humanis dan intim dengan passion generasi muda. Skillzy terinspirasi dari pesepakbola jalanan dan freestyler yang belakangan ini nge -tren di seantero dunia. Ia digambarkan sebagai sosok humanoid berambut stylish , bermata besar, berjaket biru dengan logo Euro 2020 serta bersepatu merah dan membawa bola. Skillzy menyapa dunia pertamakali di Johan Cruijf ArenA, Amsterdam, Belanda pada 24 Maret 2019 dalam sebuah aksi trik-trik menimang bola bersama dua freestyler kondang, Liv Cooke dan Tobias Becs. “Kami ingin meninggalkan maskot tradisional yang kita lihat dalam gelaran-gelaran Euro sebelumnya demi menciptakan sebuah simbol yang bisa berinteraksi lebih dekat dengan fans sepakbola lintas benua. Penting bagi UEFA mendekatkan diri pada fans semua usia dan dengan menciptakan maskot yang secara fisik bisa memainkan permainan yang kita semua cintai agar bisa menginspirasi generasi muda dari Dublin (Irlandia) sampai Baku (Azerbaijan),” ujar Marketing Director of UEFA Events SA, Guy-Laurent Epstein, di laman UEFA , 24 Maret 2019. Skillzy melanjutkan kehadiran maskot di era sepakbola modern. Namun di sisi lain, ia juga menandai sejarah baru lantaran ke-10 maskot Euro sebelumnya berupa karakter-karakter tradisional yang menyimbolkan masing-masing tuan rumah. Berikut 10 maskot pendahulu Skillzy: Pinocchio (Euro 1980) Karakter "Pinocchio" yang jadi identitas Italia sebagai tuan rumah Piala Eropa 1980 ( uefa.com ) Euro 1980 di Italia jadi pijakan pertama gelaran Euro yang lebih modern. Di turnamen inilah untuk pertamakalinya diterapkan sistem penyisihan grup yang menggantikan sistem gugur. Selain itu, untuk lebih menyamai sistem di Piala Dunia, di Piala Eropa 1980 inilah pertamakali maskot dihadirkan, yakni Pinocchio. Karakter bocah dari buku Le Avventure di Pinocchio karya – yang paling banyak dicetak dengan multi-bahasa selain Alkitab dan Alquran– Carlo Collodi itu dianggap induk sepakbola Italia, FIGC, paling pas sebagai simbol yang mewakili Italia sebagai tuan rumah. Bedanya dari pinocchio yang ada di buku atau seri televisi, Pinocchio maskot Euro 1980 digambarkan sebagai boneka kayu tanpa jari kaki dan tangan tanpa mengenakan busana apapun. Ia sekadar sosok berhidung panjang yang diwarnai hijau-putih-merah sebagaimana warna bendera Italia mengenakan topi putih bertuliskan “Europa 80” sambil mengapit bola di sisi kanan. Mengutip Mondiali , 1 Mei 2021, maskot itu mulai diperkenalkan FIGC pada Oktober 1979 walau kala itu Presiden UEFA dan FIGC Artemio Franchi belum mau menyebut nama “Pinocchio” karena mengira hak atas nama Pinocchio masih dipegang Walt Disney. Tetapi pada momen drawing , 16 Januari 1980, nama Pinocchio akhirnya bisa dipakai maskot setelah Fondazione Nazionale Carlo Collodi memastikan hak atas buku Pinocchio yang dipegang Walt Disney telah habis kontraknya sejak 50 tahun sebelumnya. Péno (Euro 1984) La Coq Gaulois yang jadi simbol keberuntungan Prancis dan dijadikan maskot bernama Péno ( uefa.com ) Sebagaimana logo induk sepakbola dan tim nasionalnya, Prancis sebagai tuan rumah Euro 1984 menghadirkan sosok ayam jantan dalam versi antropomorfik. Maskot ayam jantan itu dinamai Péno. Nama Péno, sebagaimana dimuat laman UEFA, diserap dari kata “gaul” Prancis untuk menyebut penalti. Le Coq Gaulois (ayam jantan Gaul) jadi bagian sejarah Prancis sejak era Renaissance di abad ke-14. Ia diserap dari tradisi budaya yang menganggap ayam jantan sebagai hewan keberuntungan. “Ayam jantan jadi simbol bagi republik dan bagi perwakilan di olahraga dunia. Tim nasional Prancis mengenakan kostum dengan logo ayam jantan sejak 100 tahun lebih. Mereka pun menggunakannya sebagai maskot di banyak perhelatan olahraga demi menginspirasi keangkuhan dan keberuntungan orang Prancis,” tulis Margo Lestz dalam Berets, Baguettes, and Beyond: Curious Histories of France. Péno digambarkan sebagai seekor ayam jantan putih yang mengenakan kaus biru, celana putih, dan kaus kaki merah (seragam timnas Prancis) serta dilengkapi sepasang sepatu bola besar. Di bagian dada kirinya dicantumkan angka 84, merujuk tahun perhelatan. Péno seolah membawa keberuntungan buat Prancis. Di event itu, tuan rumah Prancis keluar sebagai juara. Berni (Euro 1988) Berni si Kelinci Paskah dijadikan harapan Jerman jelang unifikasi ( uefa.com ) Jika Prancis punya ayam jantan, Jerman Barat punya kelinci paskah ( Osterhaus) kartun sebagai simbol yang mewakilinya sebagai tuan rumah Euro 1988. Berni, nama kelinci itu, dihadirkan DFB, induk sepakbola Jerman sekaligus panitia penyelenggara, sebagai hewan kelinci enerjik mengenakan jersey hitam dengan logo Euro 1988, celana merah, kaus kaki kuning –menyimbolkan bendera Jerman– serta ikat kepala dan gelang tangan sporty putih. Osterhaus berbulu cokelat gelap itu punya makna kelahiran kembali bagi masyarakat Jerman. Kelahiran kembali yang dimaksud adalah kelahiran masyarakat Jerman yang bersatu di ambang unifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur menjelang peruntuhan Tembok Berlin. Nama “Berni” sendiri merujuk pada nama kota Bern di Swiss, kota di mana UEFA bermarkas dan Jerman (Barat) untuk pertamakali meraih Piala Dunia (1954) lewat “Keajaiban Bern”. Maka, Berni sebagai maskot jadi pengingat akan awal kejayaan sepakbola Jerman serta harapan akan persatuan negeri mereka lewat sepakbola. “DFB dalam pernyataan resminya mengungkapkan, ‘Berni adalah penggemar sepakbola yang tampan, antusias, dan menyimbolkan sisi positif dari olahraga paling populer di dunia’,” tulis suratkabar Zeit , edisi 10 April 1987. Rabbit (Euro 1992) Swedia menyontek Jerman untuk maskot Euro 1992 ( uefa.com ) Swedia seperti tidak siap jadi tuan rumah Euro 1992. UEFA memilihnya ketimbang Spanyol, yang juga mengajukan diri, lebih karena Spanyol belum lama menggelar dua event besar. Bujet Swedia untuk jadi tuan rumah pun pas-pasan. “Swedia dipilih komite eksekutif UEFA sebagai tuan rumah mengalahkan Spanyol karena Spanyol adalah tuan rumah pameran dunia (Expo 1992) dan Olimpiade. Putaran finalnya akan digelar di Stockholm, Gothenburg, Malmoe, dan Norrkoeping,” tulis suratkabar New Strait Times , 18 Desember 1988. Alhasil, Swedia seperti tidak mempersiapkan maskotnya dengan matang. Dilansir laman UEFA, Euro 1992 menghadirkan maskot bernama Rabbit, nama yang diambil mentah-mentah dari kata bahasa Inggris yang berarti kelinci. Pihak Swedia sama sekali tak punya ide orisinil. Selain nama maskot, wujud Rabbit juga meniru maskot Euro sebelumnya, Berni. Rabbit ibarat kloningan Berni. Perbedaannya hanya bulu Rabbit lebih terang dan kostumnya kuning-biru warna bendera Swedia. Goaliath (Euro 1996) "Goaliath" si singa yang jadi simbol Inggris sebagai tuan rumah Euro 1996 ( uefa.com ) Seperti Prancis dengan ayam jantannya, Inggris juga gemar menonjolkan singa sebagai identitasnya. Setelah Willie si anak singa jadi maskot Piala Dunia 1966, di Euro 1996 Inggris mengulanginya dengan menghadirkan maskot singa bernama Goaliath. Goaliath didesain FA (induk sepakbola Inggris) sebagai singa antropomorfik berwajah ramah berseragam Timnas Inggris, putih-biru, dan mengapit bola bermotif klasik hitam-putih di lengan kanannya. Nama Goaliath sendiri dipetik dari perpaduan kata “Goal” (gol) dan “Goliath”, musuh David yang terdapat dalam kitab Perjanjian Lama. Sebagaimana Willie pada 1966, Goaliath juga dijadikan memorabilia Euro 1996 yang tersebar di seantero Inggris. Penyerang Inggris Robbie Fowler dalam otobiografinya, My Life in Football, Goals, Glory & the Lessons I’ve Learnt, mengenang: “Histeria Euro 96 berubah jadi demam sepakbola. Di setiap suratkabar, stasiun pengisian bahan bakar, supermarket selalu berhias merchandise si singa ‘Goaliath’. Seantero negeri menggila dan berharap sepakbola (gelar juara) kembali ke rumahnya.” Sayangnya Inggris harus gigit jari. Goaliath “gagal” memberi keberuntungan. Di rumah sendiri, Timnas Inggris harus terhenti langkahnya di semifinal gegara kalah adu penalti dari Jerman. Benelucky (Euro 2000) Benelucky si maskot hybrid singa-setan merah (Twitter @EURO2020) Euro 2000 yang menjadi Euro pertama yang digelar di dua negara menghadirkan maskot hasil perpaduan simbol tuan rumah Belgia dan Belanda. Maskotnya berupa makhluk hibrid singa bertanduk dan ekor setan dengan rambut berwarna hitam-kuning-merah-putih-biru sebagai kombinasi bendera Belgia dan Belanda. “Maskotnya dinamai ‘Benelucky’. Sesosok setan yang justru mirip singa tanpa leher. Sosok setan diambil dari julukan (timnas) Belgia, Red Devil , dan singanya merupakan simbol Timnas Belanda,” tulis Michael Graf dalam Fussballmaskottchen. Untuk menentukan namanya, UEFA untuk pertamakalinya sampai menggelar jajak pendapat lewat sejumlah suratkabar Belanda dan Belgia. Dari enam ribu usulan yang masuk, nama “Benelucky” yang diusulkan Jurrian Reurings, pelajar asal Utrecht, diputuskan juri UEFA sebagai pemenangnya. Nama itu merupakan bahasa gaul dari perpaduan tiga negara serumpun, Benelux (Belgium, the Netherlands, Luxembourg) sekaligus penyatuan dua lema bahasa latin “Bene” dan bahasa Inggris “Lucky” yang berarti semoga beruntung. Kinas (Euro 2004) Kinas mempelopori maskot yang lebih humanis di Euro 2004 ( uefa.com ) Setelah Benelucky di Euro 2000, UEFA tak pernah lagi menampilkan desain maskot berupa hewan antropomorfik. Euro 2004 di Portugal dengan maskot “Kinas”-nya mempelopori penggunaan desain maskot lebih modern dan humanis. Dikutip dari laman UEFA , 31 Maret 2003, nama Kinas diambil dari penggalan kata “Bandeira das Quinas” yang bararti bendera nasional Portugal. Menariknya, Kinas bukan didesain UEFA atau panitia penyelenggara, melainkan oleh Warner Bros. Kinas digambarkan sebagai anak muda muda atraktif dan enerjik yang mengenakan seragam Timnas Portugal. Maskot yang lebih ramah terhadap generasi muda itu diperkenalkan pemerintah Portugal pada 29 Maret 2013 di auditorium Casa Serralves, Porto. “Menjadi penting bahwa maskot haruslah atraktif dan mesti bisa mewakili martabat negara. Saya menikmati reaksi publik saat maskotnya diluncurkan. Sambutannya sungguh hangat dan bagus,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Portugal Herminio Laoureiro. Trix dan Flix (Euro 2008) Si kembar "Trix and Flix" mewarnai Euro 2008 (Twitter @EURO2020) Seperti Kinas di Euro 2004, maskot untuk Euro 2008 di Austria-Swiss pun didesain Warner Bros. Karena digelar di dua negara, maskot yang dihadirkan pun berupa anak kembar bertopeng dengan warna kombinasi merah dan putih. Untuk menunjukkan tahun gelaran, satu anak mengenakan kaus bertuliskan angka “20” dan anak yang lain mengenakan kaus nomor “08”. Maskotnya juga diberi sentuhan gaya rambut spike yang mencerminkan Pegunungan Alpen. Untuk menentukan namanya dan terus menyambung interaksi kepada fans, UEFA menggelar jajak pendapat dari 27 September-8 Oktober 2006. Panitia meminta puluhan ribu fans untuk memilih satu dari tiga opsi nama: Zigi dan Zagi, Flitz dan Bitz, serta Trix dan Flix. Dari 67 ribu lebih suara yang masuk, nama Trix dan Flix mendapat suara terbanyak dengan 36,3 persen. Nama itupun resmi disandang maskot kembar hasil desain Warner Bros tersebut saat peluncurannya pada April 2007. “Seperti ketika orangtua mengumumkan kelahiran seorang anak. Nama anak itu memang tak disukai semua orang tapi faktanya dari hasil pemungutan suara 67.406 fans sepakbola Austria dan Swiss, nama itu (Trix dan Flix) paling populer,” ujar direktur penyelenggara Euro 2008 Christian Mutschler, disitat laman UEFA. Slavek dan Slavko (Euro 2012) Identitas Polandia dan Ukraina yang diwakili Slavek dan Slavko ( uefa.com ) Warner Bros (WB) kembali mendesain maskot untuk Euro 2012 yang dihelat di Polandia dan Ukraina. Mirip dengan Trix dan Flix, bedanya maskot kembar kali ini tanpa topeng. Masing-masing anak di maskot menonjolkan warna kebesaran yang jadi identitas tuan rumah. Satu figurnya mengenakan seragam dan warna rambut putih-merah khas Polandia, sedangkan satunya lagi perpaduan kuning-biru khas Ukraina. Nama maskot kembar itu juga merupakan hasil pemungutan suara yang diadakan UEFA. Dari tiga opsi nama: Slavek dan Slavko, Siemko dan Strimko, serta Klemek dan Ladko, Slavek-Slavko menang 56 persen suara dari total 39.233 fans. Maskot itu mulai diperkenalkan kepada publik di Teater Warsawa pada November 2010. “Kedua maskot merepresentasikan upaya dan komitmen bersama dua negara untuk menyukseskan penyelenggaraan Euro 2012. Kami berbagi gagasan yang sama dan kami sangat menantikan keceriaan dalam turnamennya. Satu-satunya yang memisahkan maskot itu adalah masing-masing dari mereka mendukung tim berbeda,” ujar Presiden FFU (induk sepakbola Ukraina) Grigoriy Surkis di laman UEFA . Super Victor (Euro 2016) "Super Victor" si bocah ajaib sebagai maskot Euro 2016 ( uefa.com ) Prancis sebagai penyelenggara Euro 2016 memilih mendesain sendiri maskotnya. Dengan konsep berupa karakter anak berkekuatan super setelah menemukan jubah, sepatu, dan bola ajaib, desain maskot pun dihadirkan berupa anak berseragam Timnas Prancis berikut sayap belakang dan bola. Pada 18 November 2014, panitia penyelenggara sudah meluncurkan maskotnya walau belum menentukan nama. Penamaannya dipercayakan kepada fans sepakbola dengan memilih satu dari tiga opsi: Driblou, Goalix, dan Super Victor. Dari total 107.790 suara yang masuk, nama Super Victor paling digemari dengan mendapatkan 51.781 suara. UEFA pun kemudian merilis hasil itu dan menetapkan nama Super Victor untuk maskotnya pada 30 November 2014. Lucunya, nama maskot itu persis nama merk alat bantu seksual perempuan buatan Amerika Serikat. UEFA pun menyatakan kesamaan nama itu hanya kebetulan belaka tanpa adanya unsur kesengajaan. “Yang bisa kami katakan adalah, barang-barang (mainan seks) itu bukan diproduksi UEFA. Nama Super Victor berdasarkan gagasan yang merujuk pada kekuatan super bocah kecil yang menemukan jubah, sepatu, dan bola magis,” kata UEFA .
- Timur Pane Si Jenderal Bohongan
Sekali waktu, anak buah Naga Bonar berembuk. Mereka membincangkan strategi untuk menghadapi Belanda. Besok hari, mereka akan merundingkan pembatasan garis demarkasi. “Untuk berunding dengan tentara Belanda, masing-masing kita harus punya pangkat, supaya mereka segan,” kata Lukman si juru bicara markas. Tidak tanggung-tanggung, pimpinan mereka Naga Bonar diberikan pangkat tertinggi: Marsekal Medan. Alasannya, Marsekal Medan ( field marshal ) itulah pangkat yang disandang para panglima besar dalam Perang Dunia II. Tapi, dalam kenaifannya Naga Bonar menolak dan salah pengertian. Dia minta pangkatnya ditambahkan menjadi Marsekal Medan-Lubuk Pakam. Lukman yang sekolahnya paling tinggi itu mengatakan pangkat demikian tidak ada. Naga Bonar jadi emosi. “Kalau tak ada, dibikin!” hardik Naga Bonar dengan logat Medannya yang kental. Akhirnya disepakati, Naga Bonar menjadi jenderal. Murad jadi kolonel, Pardjo jadi letnan kolonel, dan Lukman jadi mayor. Sementara itu, Bujang, asistennya Naga Bonar diberi pangkat kopral. Begitulah rapat kepangkatan itu diputuskan secara kilat seperti tersua dalam film Naga Bonar (1987) besutan sineas Asrul Sani. Fragmen di atas memang rekaan Asrul Sani semata. Begitu pula dengan sosok Naga Bonar. Hanya saja perkara menaikan pangkat diri sendiri dalam sekejap memang jamak terjadi di masa revolusi. Kisah paling beken barangkali menyangkut sosok Timur Pane, tokoh laskar legendaris dari Medan. Dari kiprah Timur Pane inilah Asrul Sani disebut-sebut terinpirasi menciptakan karakter Naga Bonar. Timur Pane, menurut catatan wartawan Antara Muhammad Radjab adalah seorang pedagang jengkol dan sayur-sayuran yang sekaligus berprofesi sebagai pencopet di kota Medan. Badannya pendek kecil, mukanya separuh bagian bawah kebiru-biruan, sorot matanya liar. Orang-orang mengenalnya memiliki nyali besar. Sewaktu terjadi Pertempuran Medan Area, Timur Pane menghimpun pasukannya dalam “Laskar Naga Terbang” yang terdiri dari para kriminal. Di kawasan Sumatra Timur, Timur Pane seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan. “Katanya, ia sendiri sudah banyak menyembelih orang di medan pertempuran. Kenekatan inilah yang menjadikannya terkemuka, ditakuti, dan namanya terkenal,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra . Uniknya, Timur Pane selalu melekatkan pangkat jenderal mayor pada namanya. Entah darimana si mantan copet ini memperoleh pangkat yang sekarang setara perwira tinggi bintang dua itu. Demi mengesankan citra diri sebagai perwira tinggi, Timur Pane punya lagak khas. Sebagaimana dituturkan Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , Timur Pane gemar sekali memasang bendera kuning ala Jepang pada kendaraannya. Di masa pendudukan Jepang, bendera kuning yang melekat pada kendaraan menandakan bahwa penumpang di dalamnya adalah seorang perwira tinggi, setingkat jenderal. Menurut Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Provinsi Sumatra Utara, kekuatan pasukan Timur Pane makin diperhitungkan setelah dia berhasil meleburkan beberapa barisan laskar ke dalam “Tentara Marsose”. Disitulah Timur Pane mendaulat dirinya sebagai jenderal mayor. Secara sepihak, Timur Pane menyatakan dirinya telah menjadi Tentara Republik Indonesia. Seluruh pasukannya, mulai dari komandan sampai kepada anak buah diberikan tanda pangkat militer. Untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat, Timur Pane banyak bikin ulah. Pada pertengahan 1947, Timur Pane serta pasukan pengawalnya mendatangi S.M. Amin selaku gubernur muda Sumatra Utara. Tanpa basa-basi, Timur Pane mendesak Amin agar pasukan Marsose diterima sebagai tentara republik. Namun yang lebih mencengangkan, Timur Pane meminta anggaran belanja untuk pasukannya sebesar 120 juta gulden setiap bulannya. Selain itu, aksi Timur Pane melalui Tentara Marsosenya menyebabkan friksi dengan TRI Divisi X Sumatra yang dipimpin oleh Kolonel Husein Jusuf dan kepala stafnya Letkol Hopman Sitompul. Seperti disebutkan Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 6: Perang Gerilya Semesta I , pasukan Timur Pane kerap melucuti TRI dan polisi negara yang ada di wilayahnya. Kendati demikian, pimpinan TRI Divisi X Sumatra maupun Komandemen Sumatra tidak dapat berbuat apa-apa. Timur Pane sendiri, kata Nasution awalnya diberi pangkat kolonel. Karena pengaruhnya begitu besar di kalangan kelompoknya, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta terpaksa merestui pangkat jenderal mayor kepada Timur Pane secara sementara. Itu diusulkan Residen Sumatra Timur Mr. Abu Bakar Jaar. Maka resmilah Tentara Marsose diakui Komandemen Tentara Sumatra sebagai kesatuan perang dengan nama Legiun Penggempur. Kendati demikian, kejenderalan Timur Pane itu hanya omong kosong. Ketika Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada akhir Juli 1947, pasukan Timur Pane kocar-kacir. Padahal dia telah sesumbar kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta akan merebut kembali kota Medan dari tangan Belanda. Pasukan Legiun Penggempur akhirnya dibubarkan setelah Hatta menetapkan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang. Dengan sendirinya, Timur Pane dicopot dari kedudukan militernya. Gelar jenderal mayor kebanggaannya pun tanggal begitu saja.
- Jayakatwang Mengakhiri Hegemoni Singhasari
Jayakatwang bimbang ketika menerima surat dari Arya Wiraraja. Di sana tertulis inilah saat yang tepat untuk menyerang Kertanagara. Singhasari sedang lemah karena para punggawa dan pasukan teladannya pergi menunaikan misi politik ke seberang lautan. Patihnya mendorong raja Glang-Glang itu supaya tak melewatkan kesempatan itu. “Ingatlah paduka, pendahulu paduka adalah raja terakhir di Kadiri, tetapi kemudian dikalahkan dan dijadikan bawahan pendahulu Kertanagara,” ujar sang patih. Jayakatwang pun memutuskan untuk menyerang Singhasari dengan mengirim dua pasukan.Pasukan pertama lewat utara untuk membuat keributan. Sedangkan pasukan kedua menyerang dalam diam, tersembunyi, melintasi hutan-hutan di wilayah selatan. Tak banyak yang memprediksi serangan itu. Mungkin hanya Mpu Ragananta, mantan patih tua yang dalam Pararaton disebut sebagai macan ompong. Peringatannya tak pernah didengar Kertanagara. Jayakatwang merupakan sepupu Kertanagara. D ia juga menjadikan adik Kertanagara, Turukbali, sebagai permaisuri. Putranya, Ardharaja, d ia nikahkan dengan salah satu putri Kertanagara. Dia juga mendapat kepercayaan Kertanagara untuk lungguh di tanah leluhurnya di Daha. Maka, wajar jika Jayakatwang membuat Kertanagara lengah. Maharaja Singhasari itu merasa jasanya telah cukup membuat Jayakatwang tak berhasrat pada kekuasaan yang lebih besar. “Tidak mungkin Jayakatwang berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kartanegara, sebagaimana dicatat Serat Pararaton. Ternyata, perkiraan Kertanagara salah. Serangan Jayakatwang berhasil menumbangkannya. Sehingga, Kidung Harsawijaya menyebutnyamenjadi penguasa di seluruh Pulau Jawa. Pengkhianat Singhasari Semula Jayakatwang adalah raja bawahan yang berkedudukan di Glang-Glang. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Bhumi Wurawan. Itu semua berkat pernikahannya dengan Turukbali, putri Singhasari. Pada 1271, pusat pemerintahannya pindah ke Daha. Kekuasaan Jayakatwang jadi bertambah meliputi Bhumi Wurawan dan Kadiri. Itulah mengapa Prasasti Kudadu, Kakawin Nagarakertagama, Serat Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mencatat Sri Jayakatwang sebagai penguasa Daha. Begitu pula berita Cina, Sejarah Dinasti Yuan , yang melaporkan pusat kekuasaannya berada di Da-ha. “Walaupun istana pusat pemerintahan telah berganti di Daha, ternyata Jayakatwang masih disebut sebagai Raja Glang-Glang, ” tulis Novi Bahrul Munib dalam skripsinya di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berjudul “Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyǝng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik”. Jayakatwang memperoleh kekuasaan atas wilayah Kadiri karena penguasa sebelumnya, Kertanagara, pindah jabatan. Sepupunya itu naik takhta menjadi maharaja di Singhasari. Prasasti Mula Malurung (1255) mencatat, saat masih menjadi putra mahkota, Kertanagara berkedudukan di Daha. Bhumi Kadiri dengan pusatnya di Daha agaknya menjadi tempat penggojlokan sebelum dia mewarisi takhta ayahnya. Karenanya, kata epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, tak berlebihanlah jika Jayakatwang kemudian sering diingat sebagai pengkhianat dan pengingkar janji. Seperti Mpu Prapanca menuliskannya dalam Kakawin Nagarakrtagama , “Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kadiri...Raja Kadiri Jayakatwang membuta dan mendurhaka.” Prasasti Kudadu (1294) pun mencatat bahwa Jayakatwang telah bertindak seperti musuh. Tindakannya buruk. Dia mengkhianati sahabat dan melanggar perjanjian karena telah mengharapkan runtuhnya Sri Kertanagara di Tumapel (Singhasari). Namun, menurut Boechari, sikap membelot Jayakatwang itu bukanlah hal yang tiba-tiba terjadi. Jayakatwang sudah lama memendam rasa tak puas dan sakit hati terhadap trah Kertanagara. Secara turun-temurun leluhur Jayakatwang memegang kekuasaan di Daha yang meliputi seluruh Bhumi Kadiri. Tapi, berdasarkan Nagarakrtagama , sejak Raja Kadiri Kertajaya jatuh pada 1222 M oleh Ken Angrok, raja-raja yang memerintah wilayah itu terus berada di bawah kendali Tumapel (Singhasari). Boechari berpendapat, mungkin itu yang menjadi sebab mengapa Jayakatwang memberontak. Dia merasa tak senang, wilayah kekuasaan moyangnya, Kadiri diambil oleh raja untuk diberikan kepada putra mahkota. “Sementara dia hanya dijadikan menantu dan mendampingi istrinya sebagai penguasa Glang-Glang,” jelas Boechari. Kendati begitu, dengan menjadi adik ipar sekaligus besan Kertanagara, Jayakatwang sadar dirinya telah diikat perjanjian damai dengan penguasa Singhasari itu. “Hubungan perkawinan dahulu merupakan upaya politik untuk menjamin loyalitas raja bawahan yang kuat, juga perjanjian persahabatan,” jelas Boechari. Maka, sejak Kertanagara masih bertakhta di Kadiri selama 38 tahun, Jayakatwang menahan diri. Sampai akhirnya pada 1292, dia tuntaskan rasa sakit hatinya dalam serbuan tiba-tiba ke Singhasari. “Demi menunggu saat yang tepat,” tulis Boechari. Mengembalikan Kejayaan Kadiri Tindakan Jayakatwang dianggap pengkhianatan oleh Singasari, tapi sebaliknya bagi Glang-Glang dan Daha. Bagi mereka peristiwa itu adalah pembebasan. Prasasti Kudadu mencatat bendera merah putih berkibar ketika kemenangan di tangan pasukan Jayakatwang. Menurut Novi Bahrul Munif dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan, pengibaran bendera merah dan putih oleh pasukan Jayakatwang itu merupakan simbol kemerdekaan pengikut Jayakatwang atas hegemoni Kerajaan Singhasari. Sebagaimana disebutkan KakawinNagarakrtagama , yang diinginkan Jayakatwang adalah kekuasaan di Bhumi Kadiri, bukan di Tumapel (Singhasari). “Sebagai salah satu keturunan raja-raja yang pernah bertakhta di Kadiri, Sri Jayakatwang berupaya mengembalikan kedaulatan Kadiri sebagai pusat kerajaan,” jelas Novi dalam skripsinya. Dari sisi geopolitik pun, dibandingkan Tumapel, pusat pemerintahan Singhasari, Daha sebagai pusat Kadiri lebih menguntungkan. “Tumapel berada jauh dari pelabuhan, sungai maupun laut,” tulis Novi. Perpaduan antara Gunung Kampud (Kelud) yang aktif dan aliran Brantas beserta anak sungainya menjadikan Kadiri sebagai daerah subur yang cocok untuk bermukim. “Pertimbangan kesuburan tanah itu dimanfaatkan Sri Jayakatwang untuk menghimpun kekuatan logistiknya,” jelas Novi. Proses distribusi hasil bumi juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, Daha dilalui Sungai Brantas yang lebar dan dalam. Bisa dibilang, dengan menguasai Bengawan Brantas berarti Jayakatwang juga telah menguasai urat nadi perekonomian Jawa. Karenanya seperti pendapat arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Prolog Editor: Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan , bahwa Jayakatwang sama sekali bukan pengkhianat bagi rakyat Kadiri. Dia justru merupakan pahlawan. Berbeda dengan padangan rakyat Singhasari yang menudingnya sebagai musuh negara. “Begitulah yang namanya sejarah politik. H akikat kebenaran itu tak ada. Yang ada adalah kebenaran berdasarkan kepentingan,” tulis Bambang.
- Kisah Moestopo, Penyandang Gelar Terbanyak
Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang telah memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. “Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat , 20 Februari 1986. Lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 tersebut memang sudah meniti karir sejak muda. Dalam usia 24 tahun, Moestopo sudah mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya. Karena kepintarannya, dia lantas diangkat sebagai asisten dari dokter gigi ternama di Surabaya saat itu yakni Prof. Dr. M. Knap. “Jika dia pergi ke luar negeri, saya selalu disuruh menggantikannya, “ ujar Moestopo dalam sebuah buku kecil berjudul Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof.Dr. Moestopo. Tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, Moestopo juga mendermakan keahliannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau hari libur, Moestopo muda akan berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di Alun-Alun kota Gresik. Ketika balatentara Jepang berkuasa, Moestopo diangkat sebagai wakil kepala pada Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (Shikadaigaku Ikabu) yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Sjaaf. Justru di era itulah, Moestopo kemudian memiliki minat menjadi seorang militer. Pada 1944, dia kemudian memasuki Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. “Kawan-kawan se-angkatan Pak Moes di PETA antara lain Pak Gatot Soebroto dan Pak Dirman (Soedirman, Panglima Besar TNI pertama),” ungkap R. Muslich M, salah satu putra Moestopo. Semasa dididik menjadi perwira PETA itulah Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasi-nya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, eks pimpinan Pertempuran Surabaya itu berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare ’. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu. Ketika pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya pada akhir Oktober 1945, sebagai komandan Badan Keaman Rakyat (BKR) Jawa Timur dia mendapuk dirinya sendiri sebagai Menteri Pertahanan RI ad interim sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur. Soal itu sempat menjadi sebab pertengkaran mulut antara dirinya dengan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Untunglah Presiden Sukarno cepat melerai dan “membebastugaskan” Moestopo untuk diangkat sebagai salah satu penasehat militernya. Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), Moestopo terbilang aktif di berbagai palagan. Namanya dikenal harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena insiatif-nya membentuk Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) yang dia ambil dari lingkungan dunia hitam seperti kaum pencoleng, perampok dan pekerja seks komersial. Menurut almarhum Letnan Jenderal (Purn) Himawan Soetanto yang pernah menjadi anak buahnya, soal itu sempat mengegerkan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogayakarta. “Tapi ya gimana, semua orang tahu Pak Moes itu memang orangnya nyentrik. Jadi ya dimaklumi saja, apalagi saat itu lagi zaman darurat juga kan,” ujar mantan Panglima Kodam Siliwangi tersebut. Ketika pihak Angkatan Perang RI pimpinan Kolonel A.H. Nasution bersebrangan dengan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta pada 17 Oktober 1952, Moestopo menempatkan dirinya di kubu Nasution. “Dialah yang mengerahkan massa dari Tanjung Priok untuk berdemo ke Istana Negara,” ungkap Satya Graha, eks wartawan senior yang pernah menjadi anak buah Moestopo di Jawa Timur. Usai pensiun dari tentara, Moestopo lebih banyak menjalankan kehidupannya di dunia pendidikan. Pada 1961, dia kemudian mendirikan Universitas Moestopo Beragama. Embel-embel kata “beragama” itu ternyata memiliki makna tersendiri. Menurut Muslich, itu ditabalkan sebagai ciri kepribadian Moestopo yang selalu berupaya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan melaksanakan pola kehidupan kerukunan antar umat beragama. “Bapak akan marah sekali jika ada mahasiswa-nya yang tidak melaksanakan perintah agamanya,” ujar Muslich. Secara tegas, Moestopo juga mengharamkan mahasiswa didikannya untuk mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, terlibat dalam tindakan kriminal, merongrong almamater dan terlibat dalam tindakan subversiv melawan negara. Bahkan secara khusus, Moestopo menyebut praktek-praktek dan prilaku seks yang tidak dia sukai. “Jangan sekali-kali mahasiswa melakukan onani dan mahasiswi melakukan (praktek) lesbian, yang menyebabkan daya pemikiran dan penangkapan kuliah menjadi lemah,” ujarnya seperti terkutip dalam buku kecil memperingati 100 hari wafatnya. Sebagai tokoh, Moestopo tentu saja banyak mendapatkan gelar kehormatan. Secara pribadi, sang jenderal eksentrik itu sangat menghargai gelar-gelar kehormatan yang ditabalkan kepadanya. Dalam berbagai kesempatan, dia kerap tanpa ragu menuliskannya secara lengkap 18 gelar itu. Bisa jadi jika ditambah gelar yang lain yang tak sempat dia tuliskan (seperti Pahlawan Nasional), Moestopo akan tercatat sebagai manusia yang memiliki gelar terpanjang sepanjang sejarah Indonesia.
- Jejak Bung Karno di Jakarta
Mengulas Bung Karno dari berbagai segi tak akan ada habisnya. Pemikiran dan gagasannya masih hidup hingga saat ini. Salah satunya tentang pembangunan kota. Pria kelahiran 6 Juni ini punya andil besar atas berdirinya bangunan dan monumen di Jakarta sehingga kota ini memiliki identitas tersendiri. Berikut adalah beberapa bangunan dan monumen yang lahir dari ide Bung Karno. Monumen Nasional yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Monumen Nasional (Monas) Dibangun pada 1960-an, Monas menjadi lambang perjuangan rakyat Indonesia dalam merengkuh kemerdekan dari para penjajah. Tidak mudah untuk membangun monumen setinggi 132 Meter ini. Perlu waktu hingga 14 tahun lamanya. Selain itu, dalam prosesnya Sukarno tidak menemukan karya yang sesuai dalam sayembara pembabgunan tugu monas sehingga beliau menunjuk langsung Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono sebagai arsitek monumen yang di atasnya dilapisi emas tersebut. Hingga kini Monas menjadi salah satu objek wisata populer di Jakarta. Monas yang kini menjadi salah satu tempat wisata di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung saat melihat kemegahan Monas. (Fernando Randy/ Historia.id ). Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Hotel Indonesia Dua bangunan untuk gelaran Asian Games edisi keempat, 1962. Hotel Indonesia diresmikan pada 5 Agustus 1962. Hotel ini menjadi hotel bintang lima pertama di Indonesia saat itu. Sedangkan SUGBK dibangun untuk memenuhi persyaratan Federasi Asian Games yang menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games. Salah satu syaratnya adalah ketersediaan kompleks olahraga. Dengan latar belakang keilmuan teknik sipil, ambisi dan selera yang tinggi, Sukarno akhirnya terjun langsung. Mulai dari pemilihan tempat sampai perancangan dua bangunan yang hingga kini masih berdiri tegak itu. Suasana di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat pertandingan Liga Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tim Persija Jakarta saat merayakan gelar juara Piala Presiden di SUGBK. (Fernando Randy/ Historia.id ). SUGBK saat menyelenggarakan pembukaan Asian Games 2018. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di sekitar Hotel Indonesia saat malam hari. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hotel Indonesia yang merupakan hotel bintang lima pertama di Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Wisma Nusantara Terletak tidak jauh dari Hotel Indonesia, bangunan ini lahir karena keinginan Sukarno untuk membangun gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Dalam perjalanannya, bangunan setinggi 100 meter tersebut mengalami berbagai gejolak. Salah satunya adalah sempat mangkraknya pembangunan gedung tersebut karena kehabisan dana akibat penurunan nilai rupiah pada masa 1960-an. Wisma Nusantara rampung pada 1972. Bangunan ini sempat menyandang sebagai gedung tertinggi di Asia Tenggara hingga 1983. Wisma Nusantara yang masih berdiri tegak di Jakarta hingga kini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat Dua patung yang bertekstur kasar dan keras karya pematung legendaris Edhi Sunarso. Cerita patung Dirgantara dimulai pada 1965. Sukarno meminta Edhi membuat patung untuk mengenang jasa para penerbang Indonesia. Edhi pun merealisasikan pesanan Bung Karno dengan membuat patung setinggi 11 meter tersebut dan diletakan di daerah Pancoran. Sedangkan patung Pembebasan Irian Barat lahir karena Sukarno menganggap bahwa patung J.P. Coen, Gubernur VOC, yang lebih dulu ada di Lapangan Banteng adalah simbol warisan kolonial yang tidak sesuai dengan negeri ini. Itulah mengapa Bung Karno berinisiatif menggantinya dengan patung yang menjadi simbol para pejuang Trikora dan masyarakat Irian Barat yang memilih menjadi bagian dari Republik Indonesia. Hingga hari ini kemegahan Patung Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat masih bisa dinikmati. Patung Dirgantara di kawasan Pancoran Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Dirgantara yang tampak kokoh di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di sekitara pancoran dan Patung Dirgantara yang berdiri tegak hingga sekarang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Pembebasan Irian Barat yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Perintah dari Bung Karno yang terpampang di Lapangan Banteng Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Pembebasan Irian Barat yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Masjid Istiqlal Tempat ibadah yang berada di tengah kota Jakarta ini merupakan salah satu bangunan buah pemikiran Bung Karno. Friedrich Silaban ditunjuk menjadi arsitek masjid yang mulai dibangun pada 1961 tersebut. Walau sempat ada polemik karena Silaban adalah seorang Nasrani, namun itu tak sampai menghambat pembangunan Istiqlal. Kolaborasi Bung Karno dan Silaban inilah yang akhirnya membuat Jakarta mempunyai tempat ibadah yang begitu besar dan bergaya modern hingga saat ini. Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung saat berkunjung ke Masjid Istiqlal beberapa waktu. (Fernando Randy/ Historia.id ).





















