Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sikut-sikutan Perlombaan Bom Atom Amerika-Jerman
ENAM Agustus 1945 menjadi hari tak biasa di kota Hiroshima yang sedang musim panas. Sekira pukul 8.15 pagi, dinamika kota itu berubah seketika. Bom atom “Little Boy” yang dijatuhkan Amerika Serikat dari pesawat pembom B-29 Superfrotress “Enola Gay” mengubah wajah kota industri itu dalam hitungan detik. Sekira 80 ribu orang menjadi abu, 50 ribu lainnya berangsur-angsur tewas akibat luka yang tak kunjung pulih akibat ledakan bom tersebut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini warga Hiroshima menggelar peringatan tragedi bom atom di Hiroshima Memorial. Walau dalam peringatan ke-75 kali ini sedikit berbeda lantaran masih pandemi virus corona , peringatan tetap dihadiri Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe. “Pada 6 Agustus 1945, sebuah bom atom menghancurkan kota kami. Rumor pada waktu itu menyatakan takkan ada yang bisa tumbuh lagi di sini setelah 75 tahun. Akan tetapi, Hiroshima pulih, menjadi sebuah simbol perdamaian,” tutur Walikota Hiroshima Kazumi Matsui, dikutip BBC , Kamis (6/8/2020). Kota Hiroshima yang menjadi "abu' beserta 80 ribu jiwa seketika pasca-dijatuhkan bom atom "Little Boy" (Foto: Libraro of Congress) Adalah Amerika Serikat (AS) yang menjatuhkan bom atom “Little Boy” yang mendatangkan petaka bagi warga Hiroshima itu. Menjelang akhir Perang Dunia II, AS menjadi satu-satunya negara yang memiliki bom atom. Kepemilikan itu tak lepas dari eksodus ilmuwan Jerman anti-Nazi ke negeri itu. Jerman merupakan salah satu negara yang pada saat perang telah mengembangkan senjata pemusnah massal itu dan bahkan nyaris mengalahkan Amerika. Kemajuan Riset Bom Atom Jerman Tak bisa disangkal, kemajuan pengembangan persenjataan Jerman mencapai kemajuan pesat ketika rezim Adolf Hitler berkuasa sejak 1933. Senjata-senjata mutakhir seperti roket V-1, misil balistik Vergeltung-2 (V-2), atau pesawat tempur bermesin jet lahir di masa itu. Sementara senjata-senjata mutakhir itu lahir, di laboratorium-laboratorium Jerman segudang ilmuwan handal bidang kuantum mekanis dan pembelahan inti uranium terus merisetnya untuk nuklir. Lima tahun sebelum Amerika membuat Manhattan Project pada 1942, riset tentang pembelahan inti atom sudah dihasilkan duet ilmuwan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann dari Kaiser-Wilhelm-Institut für Chemie lewat jurnal ilmiah Naturwissenschaften (Desember 1938). Hasil riset Hahn-Strassmann itu diberi judul “Über den Nachweis und das Verhalten der bei der Bestrahlung des Urans mittels Neutronen entstehenden Erdalkalimetalle”. Mengutip Mark Walker dalam Nazi Science: Myth, Truth, and the German Atomic Bomb , intisari laporan riset itu adalah keberhasilan Hahn dan Strassmann mendeteksi dan mengidentifikasi elemen barium usai menggempurkan uranium dengan partikel-partikel neutron, sampai terjadilah pembelahan inti uranium tersebut. Alat yang digunakan Otto Hahn dan Fritz Strassmann dalam pembelahan inti atom (Foto: deutsches-museum.de ) Namun, temuan itu tak mendapat tanggapan serius dari Hitler dan para petinggi militernya. Perhatian serius baru diberikan setelah Hitler diyakinkan Menteri Persenjataan dan Produksi Perang Albert Speer. Speer sebelumnya menerima proyek yang diajukan Paul Harteck, ilmuwan Universitas Hamburg, pada April 1939 lantaran tahu arti penting proyek tersebut bagi kemajuan perang dan secara pribadi kenal dengan Harteck lantaran sama-sama duduk di Heereswaffenamt (Pusat Persenjataan Militer) di mana Harteck duduk sebagai salah satu penasihat. Hitler kemudian mengeluarkan dekrit tentang Reichsforschungsrat (RFR) atau Dewan Riset Negara pada 9 Juni. “Dekritnya berupa reorganisasi RFR sebagai badan terpisah namun masih di bawah Kementerian Produksi Perang, di mana Reichsmarschall Hermann Goering akan bertindak sebagai presidennya. RFR tidak lagi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan lantaran dianggap kurang efektif,” tulis Walker. Selain Harteck, sembilan ilmuwan “sisa” –ilmuwan yang Jerman yang tak melarikan diri akibat kebijakan antisemit Hitler; sejumlah ilmuwan seperti Albert Einstein dan terutama Enrico Fermi, yang kelak berada di belakang layar Proyek Manhattan, memilih lari dari Jerman sebelum pecah Perang Dunia II– Jerman duduk dalam proyek pengembangan senjata nuklir tersebut. Sembilan ilmuwan di belakang proyek uranium Jerman-Nazi itu masing-masing bertanggungjawab pada sembilan sektor yang merupakan bagian dari tiga cabang dalam desain riset dan produksi induk. Ketiga cabang itu yakni pemisahan isotop uranium, pembangunan reaktor nuklir, dan produksi uranium dan air berat. Cabang terakhir membutuhkan dana paling besar. Sabotase Menggagalkan Bom Atom Hitler Beragam rencana Jerman tadi sudah terdengar di kuping PM Inggris Winston Churchill pada Juni 1942, yang lalu memberitahu Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt. PK Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II yang mengutip ulasan Brian Horrocks di majalah mingguan The Listener , 16 Juli 1959, menuliskan, Roosevelt sampai kebakaran jenggot mendengar kabar dari koleganya itu. Walaupun sejak 1939 Einstein sudah mengingatkan Roosevelt tentang adanya riset rantai reaksi nuklir dalam suatu massa uranium, Inggris dan Amerika kalah start dari Jerman dalam pengembangan nuklir . Saat Churchill mengabarkan Roosevelt, Jerman sudah dalam proses memproduksi air berat dengan salah satu yang terbesar di pabrik Norsk Hydro di Lembah Rukjan, Norwegia. “Air berat suatu bahan yang penting untuk pembuatan bom atom secara besar-besaran. Churchill menyampaikan kekhawatirannya bahwa Jerman akan mendahului Sekutu dalam pembuatan bom atom. Fatal akibatnya jika ini terjadi dan oleh karenanya harus dicegah dengan segala daya dan cara,” tulis Ojong. Dengan menguasai pabrik Norsk Hydro, Jerman bisa mencapai kemajuan lebih pesat dan Sekutu terancam ketinggalan dalam perlombaan senjata bom atom. Para ilmuwan Jerman hanya perlu menanti punya banyak persediaan air berat untuk memulai percobaan membelah atom uranium. Supaya tak tertinggal jauh, Sekutu mencoba mengejar dengan membuat Proyek Manhattan pada Agustus 1942. Proyek pimpinan Kolonel James C. Marschall ini melibatkan sejumlah ilmuwan pelarian dari Jerman, termasuk Fermi dan J. Robert Oppenheimer. Lief Tronstad (kiri depan) ilmuwan Norwegia yang kabur dari penahanan Jerman dan mengabarkan tentang produksi air berat Jerman (Foto: atomicheritage.org ) Namun tetap saja Sekutu telah tertinggal jauh ketika baru memulainya. Hal itu diketahui dari laporan Lief Tronstad. Tronstad merupakan ilmuwan Norwegia yang melarikan diri setelah sebelumnya dipaksa ikut terlibat dalam produksi air berat di Norsk Hydro. Dia menjadi otak di balik sabotase terhadap air berat di Norsk Hydro (Februari 1943). Mengetahui kesuksesan sabotase Tronstad, Sekutu yang tak rela membiarkan Jerman meninggalkannya lebih jauh lalu merancang misi sabotase kembali ketika Jerman berupaya memindahkan stok air beratnya yang tersisa dari Norwegia ke Jerman menggunakan kapal feri SF Hydro pada Februari 1944. Kali ini misi dipimpin Knut Haukelid, partisan Norwegia yang dilatih di Inggris. Bersama beberapa rekannya, Haukelid lebih dulu memonitor rute-rute dan cara-cara yang memungkinkan untuk bisa menyusup ke kapal Hydro yang dijaga amat ketat . “Haukelid dengan kawan-kawannya menyamar sebagai penumpang sebuah truk hingga bisa naik ke kapal itu tanpa kesukaran apapun. Ia membawa dua bom waktu buatan sendiri dari dinamit dan dua jam weker. Ia perhitungkan bahwa waktu peledakannya kapal harus berada di area terdalam Danau Tinn yang dilalui kapalnya. Ia menyetel waktunya untuk meledak pukul 10.45 pagi,” tulis Ojong. Pabrik Norsk Hydro (atas) & kapal feri SF Hydro yang disabotase partisan Norwegia (Foto: Norwegian Museum of Cultural History) Kapal Hydro sendiri berangkat pada malam 19 Februari dari Mæl dengan tujuan Tinnoset melalui Danau Tinn. Sebelum Hydro berangkat, Haukelid dan kawan-kawan dengan bantuan salah satu kru kapal sesama orang Norwegia berhasil menyusup ke dasar kapal dan memasangkan bom-bom di titik-titik strategis kapal. Setelah bom-bom itu ditanam, Haukelid dkk. segera meninggalkan kapal itu dan kabur ke pedalaman. Haukelid lalu mengabarkan Einnar Skinnerland yang akan memantau dari lereng-lereng gunung, bahwa bom sudah disetel untuk meledak pada 10.45 pagi pada 20 Februari atau beberapa jam setelah Hydro berangkat. Ketika Skinnerland memantau dengan seksama dari lereng gunung yang berdekatan dengan rute pelayran Hydro di Danau Tinn, dia melihat kilatan cahaya yang disusul gemuruh ledakan. Tak sampai lima menit, Hydro hancur dan tenggelam ke dasar danau. “Dengan demikian musnahlah persediaan air berat Jerman yang paling besar dan merupakan suatu pukulan hebat terhadap Jerman. Kerugian itu tak dapat diperbaiki lagi. Sekutu tiba-tiba saja memenangkan perlombaan pembuatan bom atom ketika mereka hampir saja kalah, di mana Amerika akhirnya menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima dan kemudian Nagasaki,” tandas Ojong.
- Sukarni Takut Kenpeitai
KAMIS, 16 Agustus 1945. Sedan itu meluncur cepat dari arah Bekasi menuju Jakarta. Memasuki wilayah Klender, Jakarta Timur tetiba mobil berplat nomor Jakarta itu memelankan lajunya. Rupanya perhatian para penumpangnya tertuju kepada asap yang mengepul tebal di kejauhan. Sukarni, tokoh pemuda Menteng 31, meloncat dari tempat duduknya. Sementara tangan kanannya masih memegang sepucuk pistol. “Lihatlah! Itu lihat sudah mulai. Revolusi sedang berkobar persis seperti yang kita harapkan. Jakarta mulai terbakar. Lebih baik kita cepat-cepat kembali ke Rengadengklok!” teriaknya seperti dikisahkan oleh Sukarno dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia karya Cindy Adams. Tidak mengacuhkan kata-kata pemimpin “penculikan” dirinya dan Mohammad Hatta, Sukarno malah memerintah sopir untuk terus melaju ke arah Jakarta. Begitu mendekati sumber asap tersebut, mobil berhenti. Mereka yang ada di kendaraan semuanya turun untuk menyaksikan lebih jelas pemandangan di depan mata. Selidik punya selidik, asap api itu ternyata berasal dari tumpukan jerami yang tengah dibakar seorang petani. Dengan tersenyum mesem, Sukarno lalu berpaling ke arah Sukarni. “Inikah api ledakan yang hebat berkobar-kobar? Ini bukannya pemberontakan besar-besaran. Ini bukannya perbuatan ratusan, ribuan orang yang menantikan isyarat untuk berontak. Ini hanyalah perbuatan seorang marhaen yang membakar jerami,” kata Sukarno setengah mengejek. Sukarni hanya terdiam. Sementara Achmad Soebardjo yang bertugas sebagai penjemput Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, melirik ke arah sang pimpinan pemuda radikal itu. “Dan cukup sampai di sini saja main pahlawan-pahlawanan-nya. Simpanlah pistol itu!” ujarnya. Rombongan Sukarno-Hatta tiba di Jakarta sekira jam 8 malam. Begitu sampai ibu kota, mobil langsung diarahkan ke rumah Bung Hatta di Jalan Miyadori (sekarang Jalan Diponegoro). Menurut Hatta dalam otobiografinya, Memoirs, di rumahnya itu mereka lantas mengadakan rapat untuk membahas cara bagaimana meneruskan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang tidak jadi diselenggarakan pagi harinya. Singkat cerita, pertemuan kecil itu memutuskan rapat PPKI akan diadakan di rumah Laksamana Maeda, seorang perwira tinggi Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) yang bersimpati kepada gerakan kemerdekaan Indonesia. Soebardjo sendiri mendapatkan jatah pekerjaan untuk menghubungi semua anggota PPKI yang saat itu diinapkan di Hotel Des Indes. Pertemuan kecil itu pun berakhir menjelang tengah malam. Masing-masing sepakat untuk pulang terlebih dahulu ke rumah masing-masing untuk sekadar melepaskan letih sejenak usai perjalanan panjang dari Karawang. “Lalu aku bagaimana?” tanya Sukarni. “Ya, pulang juga,” jawab Hatta. “Kalau begitu, aku minta Bung pinjami satu stel pakaian, karena dengan seragam PETA yang aku kenakan sekarang, aku dapat ditangkap oleh Kenpeitai (Polisi Militer Jepang),” ujar Sukarni. Mendengar ungkapan Sukarni itu, Soebardjo, Sukarno dan Hatta sontak tertawa terbahak-bahak. Sukarni pun jadi ikut-ikutan tertawa. “Saudara ini berani mengadakan revolusi menggempur Jepang. Tapi sekarang saudara takut akan ditangkap Kenpeitai karena memakai seragam PETA,” ujar Hatta, masih sambil tertawa. “Itu lain halnya, Bung. Menggempur Jepang dalam suatu revolusi, aku berani. Tapi akan ditangkap Jepang begitu saja karena seragam PETA, apa gunanya?” kilah Sukarni. Hatta lalu masuk ke kamarnya. Begitu muncul, dia menyerahkan satu stel pakaian kepada Sukarni. Pakaian itu teryata pas benar dengan postur Sukarni, walau celananya terlihat agak pendek sedikit. “Tapi tidak kentara,” kenang Hatta. Setelah menerima pakaian itu, Sukarni bersegera mengganti seragam PETA-nya. Tak lama setelah pamit kepada Hatta, Sukarno dan Soebardjo, sosoknya menghilang di balik kegelapan Jakarta. Sejarah mencatat, revolusi sebentar lagi akan dimulai di wilayah bekas Hindia Belanda tersebut.*
- Pasang Surut Hubungan Lebanon-Israel
Dunia kembali berduka. Selasa (4/8/2020), ledakan besar mengguncang Beirut, Lebanon. Bak bom atom, ledakan itu memporak-porandakan sebagian besar kota. Bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan pun hampir seluruhnya rata dengan tanah. Dilansir CNBC , setidaknya ada 70 orang tewas, dan ribuan orang yang terluka. Diutarakan Kepala Keamanan Abbas Ibrahim, ledakan itu terjadi di area pelabuhan, tempat menyimpan bahan peledak hasil sitaan pemerintah Lebanon bertahun-tahun lalu. Diketahui, di gudang penyimpanan itu juga terdapat 2.750 ton amonium nitrat, bahan mudah terbakar untuk kebutuhan pupuk dan peledak. Perdana Menteri Hassan Diab segera mengeluarkan perintah darurat nasional. Dia bersumpah akan mengusut tuntas kasus ledakan itu dan meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat. PM Diab juga meminta dunia internasional membantu pemulihan pasca bencana untuk Lebanon. “Saya mengirim permohonan mendesak ke semua negara yang berteman dan bersaudara dan mencintai Lebanon, untuk berdiri di sisi kami dan membantu kami, mengobati luka yang dalam ini,” ucap dia. Banyak negara mulai memberikan bantuan kepada Lebanon. Dari sekian banyak negara, penawaran bantuan dari Israel lah yang cukup disorot publik. Seperti diketahui, hubungan Lebanon-Israel tidak cukup baik. Keduanya sering terlibat konflik di daerah perbatasan. Bahkan beberapa pekan terakhir, ketegangan kedua negara dari bangsa Kanaan itu sedang memuncak setelah Israel menuduh adanya upaya serangan teroris dari Lebanon. Diberitakan Kompas , meski terjadi ketegangan, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pihak Israel telah mengontak utusan PBB Timur Tengah Nickolay Mladenov terkait pemberian bantuan untuk Beirut. Tawaran bantuan itu dapat disalurkan melalui perantara internasional berupa bantuan medis, bantuan kemanusiaan, dan bantuan kegawatdaruratan. “Kami berbagi kepedihan dengan rakyat Lebanon dan dengan tulus menawarkan bantuan kami pada saat yang sulit ini,” kata Presiden Israel Reuven Rivlin. Lantas bagaimana sebenarnya hubungan Lebanon-Israel di masa lalu? Helikopter mencoba memadamkan api di sekitar ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon. ( BBC ). Hubungan Awal Hubungan Lebanon-Israel tidak pernah baik-baik saja. Keduanya kerap terlibat pergolakan bersenjata, terutama setelah terlibat perang. Tetapi di antara negara liga Arab lain, Lebanon menjadi yang pertama menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel. Bahkan Lebanon tidak ambil bagian dalam perang tahun 1967 dan 1973. Sampai wilayah yang disebut Switzerland of the East itu dianggap sebagai yang paling tenang. Dicatat Kristen E. Schulze dalam Israel’s Covert Diplomacy in Lebanon , sepanjang tahun 1950-an Lebanon banyak terlibat kerja sama dengan Israel. Di saat banyak negara Arab berkonflik dengan Israel, Lebanon disebut sebagai sekutu terdekat. Banyak juga negara yang menyebutnya sebagai pendukung Israel. Lebanon pernah juga memberi dukungan militer untuk menghentikan konflik di Suriah. Dampak hubungan itu membuat pertumbuhan orang-orang Yahudi di Lebanon cukup pesat terjadi. Mereka menempati beberapa wilayah di Lebanon. Tercatat juga, rute penerbangan langsung yang menghubungkan Beirut di Lebanon dan Yerusalem di Israel pernah dibuat. “Meskipun banyak dari laporan ini masuk ke dalam kategori konspirasi tradisonal, tapi beberapa pernyataan nyaris mengungkap kebenaran,” ujar Schulze. Kepulan asap hitam membumbung tinggi di lokasi ledakan. ( BBC ). Konflik Palestina Sejak Israel mengumumkan pendirian negara merdeka tahun 1948, gejolak konflik di Timur Tengah seakan tidak pernah berhenti. Dimulainya perang Arab-Israel tahun tersebut, membuat negara-negara di sekitarnya mau tidak mau ikut terlibat. Lebanon, sebagai salah satu negara terdekat, mendapat dampak konflik itu. “Lebanon selalu menarik perhatian negara-negara besar di kawasan Timur Tengah. Negeri itu sudah lama menjadi barometer konflik antara Israel dan negara-negara Arab yang tak kunjung usai. Bahkan wilayah Lebanon Selatan dapat disebut sebagai medan terbuka untuk memulai konflik antara Israel dan negara-negara Arab, yang sampai saat ini masih belangsung secara diam-diam,” tulis Ari Yulianto dalam Lebanon: Pra dan Pasca Perang 34 Hari Israel vs Hizbullah . Wilayah Palestina yang terus tergerus oleh keberadaan Israel, memaksa penduduknya pergi mencari tempat perlindungan aman. Ratusan ribu dari mereka memilih pergi ke Lebanon, membentuk komunitas baru di wilayah perbatasan sebelah selatan. Data PBB menunjukkan lebih dari 300.000 warga Palestina di Lebanon, menumbuhkan generasi Palestina baru di Lebanon. Dan di sana jugalah dibentuk barisan perlawanan terhadap pasukan Israel. Konflik terbuka, dipercaya sebagai yang pertama, antara Lebanon dan Israel terjadi pada 1978. Dijelaskan Ehud Yaari dalam Israel’s Lebanon War , gerakan pembebasan Palestina di Lebanon, PLO (Palestine Liberation Organization) kerap meluncurkan roket ke wilayah sipil Israel dari wilayah Lebanon. Sebagai tindakan balasan, Israel melancarkan operasi militer besar pada Maret 1978. Diceritakan Nino Oktorino dalam Konflik Bersenjata: Korps Lapis Baja Israel , operasi militer Israel itu berlangsung selama tujuh hari. Dikenal juga sebagai operasi terbesar sejak Perang Yom Kippur. Sekira 7.000 orang prajurit yang didukung kendaraan lapis baja, dan persenjataan lengkap pergi menyerbu wilayah selatan Lebanon. “Operasi menyebabkan puluhan pejuang PLO tewas atau ditangkap, dan sebuah jalur selebar 10 km di wilayah sepanjang perbatasan diduduki pasukan Israel. Semua instalasi PLO dihancurkan secara sistematis,” ungkap Nino. Lelah dengan konflik di negaranya, pemerintah Lebanon meminta Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 425. Mereka mendesak pasukan Israel agar keluar dari wilayah Lebanon. Demi membantu mengamankan keadaan, PBB membentuk badan pengawas pelaksanaan resolusi tersebut, yakni UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Namun meski setuju untuk keluar dari Lebanon, Israel tidak sepenuhnya percaya UNIFIL dapat mencegah PLO menyerang wilayah utara Israel. Maka zona keamanan milik Israel dibentuk, dengan Sa’ad Haddad sebagai pemimpinnya. Semakin lama konflik antara pejuang Palestina dan Israel berkembang menjadi lebih masif. Israel terus menargetkan daerah-daerah di Lebanon, yang mereka percaya terdapat PLO di dalamnya. Bahkan pada 1982, Israel kembali melancarkan operasi besar, dinamai Operation Peace for Galilee, ke wilayah Lebanon. Operasi itu dilancarkan menyusul serangan roket PLO ke daerah Galilee di utara Israel. Thomas Davis dalam 40 km Into Lebanon: Israel’s 1982 Invasion , mencatat operasi Israel itu memakan korban jiwa yang sangat besar, bahkan di Beirut saja tercatat ratusan jiwa dari kalangan sipil tewas. Tujuan operasi Galilee itu, selain menghancurkan PLO, memperluas wilayah Israel sebanyak 40 km ke arah Lebanon. Sehingga Isreal mencatut wilayah selatan Lebanon. Dari tahun ke tahun konflik di Lebanon hampir tidak ada habisnya. Serangan demi serangan terus dilancarkan kedua pihak. Tahun 2006 menjadi yang terbesar di abad ke-21. Kerusakan dan korban jiwa akibat perang sangat besar. “Israel berdalih bahwa selama Lebanon menjadi basis perlawanan bagi orang-orang Palestina, perdamaian Timur Tengah tidak akan pernah tercapai. Israel ingin mengontrol upaya perlawanan kelompok gerilyawan garis keras dengan menginvasi Lebanon,” tulis Abdar Rahman Koya dalam Hizbullah: Menentang Zionisme .
- Emas yang Dijarah Inggris
Selain menjarah manuskrip, bermacam benda budaya, dan batuan benteng ketika menaklukkan Yogyakarta, Inggris juga mengambil uang emas dan perak dari keraton. Sejarawan Peter Carey, dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan FacebookHistoria , Rabu (5/8/2020), menyebut jumlahnya 800.000 dolar Spanyol. Uang itu dibagi menjadi dua bagian: 400.000 dolar digunakan untuk membayar tunjangan ( prize money )bagi perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang, 400.000 dolar sisanya dikirim ke Benggala untuk diberikan kepada keluarga perwira dan prajurit. Dalam istilah Inggris harta tersebut disebut loot (jarahan) yang berasal dari kata India. Dan yang terjadi di Yogyakarta, loot ini dipakai untuk memberi tunjangan kepada pasukan Sepehi. Mereka diberi persentase dari harta jarahan. Di mana dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar merupakan pasukan Sepehi dari India. Peter menjelaskan, 800.000 ribu dolar Spanyol pada waktu itu setara dengan 150.000 poundsterling. Dalam kurs saat ini nilainya mencapai 11,5 juta poundsterling. Jumlah tersebut setara dengan 350 kilogram emas. Peter juga menanggapi hitungan 57.000 ton emas yang dilontarkan pihak keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Menurutnya, hal itu mungkin ditafsir dari beragam kekayaan yang diraup Inggris selama berkuasa di Jawa. Selain menjarah Keraton Yogyakarta, Inggris juga menguasai wilayah-wilayah seperti Pacitan, Kedu, Jipang, Rajegwesi, hingga Mojokerto. Wilayah-wilayah tersebut kemudian menjadi landasan sistem perpajakan Inggris untuk membiayai ekspedisi militer. “Jadi seumpamanya mau membuat satu penilaian, juga mungkin harus dipertimbangkan aneksasi dari teritorium, aneksasi dari tanah,” kata Peter. Ia mencontohkan wilayah Kedu yang sangat kaya saat itu. Pada tahun 1824, misalnya, wilayah Kedu pernah menjadi jaminan atas pinjaman 350 juta gulden pemerintah Belanda ke bank swasta Kolkata. Pinjaman itu dibuat untuk menjalankan roda pemerintahan yang hampir bangkrut. Untuk itu, menurut Peter, perlu adanya kajian yang rinci mengenai harta kekayaan yang akan dituntut. “Dan pekerjaan rumahnya adalah untuk betul-betul dengan teliti membuat salah satu tafsiran yang tepat mengenai apa sebenarnya nilai inti, nilai inti dari tanah, nilai inti dari benda-benda budaya, nilai inti dari 800.000 dolar Spanyol. Supaya ada semacam dakwaan seperti teman kami yang mendakwakan Belanda kepada penghakiman di Belanda mengenai Rawagede,” jelasnya. Dalam kasus Rawagede, kata Peter, gugatan yang diajukan berhasil dimenangkan karena argumentasinya kuat. Kasus yang diajukan juga disertai data hasil penelitian yang akurat. Alhasil, setiap janda korban pembantaian Rawagede mendapat kompensasi. “ So you have to make a case . Tidak sim salabim ya. It’s not mie instan. Sesuatu yang harus dengan tekun dan teliti membuat salah satu tafsiran, membuat salah satu daftar. Dan daftar itu nanti melalui jaringan diplomasi, melalui jaringan politik, antara Jokowi dengan Boris Johnson. Jaringan antara duta besar di London dan front office . Ada pengajuan,” jelas Peter. Peter menyarankan tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, dilakukannnya provenance research mendalam yang akan membuktikan bahwa benda-benda yang berasal dari Keraton Yogyakarta merupakan hasil rampasan atau bukan. Kedua, harus ada penilaian keuangan. “Bisa menggembor-gemborkan 57 ribu ton emas. Lima puluh tujuh ribu ton emas adalah miliar poundsterling ya, billion ya. Tidak mungkin setara dengan 800.000 dolar Spanyol. Jadi miliar itu datang dari mana?” katanya. Menurutnya, harus ada sejarawan seperti Thomas Lindblad untuk membuat satu perincian setiap tahun berapa hasil kekayaan yang diraup Inggris selama empat tahun menguasai Jawa. Penilaian dilakukan pada daerah-daerah yang dikuasasi Inggris, dari Kedu hingga Mojokerto. Yang ketiga, jelas Peter, perlunya dukungan dari pihak pengacara, sejarawan, budayawan serta dari pihak keraton agar tuntutan tepat pada sasaran.
- Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia
Acara obrolan Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto tentang penemuan obat herbal untuk Covid-19 menuai kontroversi. Bukan saja isinya, tapi juga penyematan atribut profesor pada Hadi Pranoto. Tak diketahui dari universitas mana dia memperoleh atribut itu. Belakangan, dia mengaku atribut itu hanyalah panggilan sayang dari teman-temannya. Meski Hadi mengaku dia memperoleh atribut “profesor” dari teman-temannya, atribut itu sejatinya tak bisa sembarang disematkan oleh suatu kelompok kepada orang tertentu. Penyebutan profesor memiliki aturan jelas dalam sejarah negeri ini meski ada kalanya tak tertulis. Profesor merupakan sebutan lain untuk guru besar. Profesor bukanlah gelar akademik, melainkan penyebutan untuk orang yang menjabat guru besar dalam struktur pengajar di universitas. Profesor berasal dari bahasa latin, artinya orang yang memiliki keahlian. Nama Hussein Djajadiningrat tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengemban jabatan guru besar dan memiliki atribut profesor. Dia memperolehnya dari Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum) di Jakarta pada 1924. Waktu itu hampir seluruh aturan dan sistem pendidikan tinggi di Hindia Belanda meniru aturan dan sistem pendidikan tinggi di Belanda. Termasuk pula penyebutan gelar untuk para sarjananya (Mr. atau Meester in de Rechten ) dan penyematan jabatan guru besar. Seturut dengan tradisi kampus-kampus di Eropa, kaprah pada masa itu komunitas akademik di sebuah kampus di Belanda saling mengusulkan seseorang untuk diangkat sebagai guru besar. Sebelumnya orang itu harus memiliki sejumlah karya akademik yang berbobot dan diakui komunitas akademik. Sebelum pengangkatan menjadi guru besar, seseorang harus menyiapkan pidato ilmiah. Dia akan membacakan pidato itu di hadapan komunitas akademik tempat dia bekerja. Pidato lazimnya disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang yang tidak sebidang dengan kepakaran atau keilmuannya. Menurut laman uu.se (Uppsala University, universitas pertama di Swedia) tradisi seperti ini telah berakar di kampus-kampus Eropa pada abad pertengahan (14–16 M). Tradisi pengukuhan guru besar masuk ke Hindia Belanda seiring dengan pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda sepanjang 1920-an. Tradisi tanpa aturan tertulis ini terus bertahan di perguruan tinggi Indonesia selama masa 1950-an. Bachtiar Rifai dkk. dalam Perguruan Tinggi di Indonesia menyebut masa ini sebagai masa bertahan atau survival perguruan tinggi . Masa ini perguruan tinggi Indonesia mendasarkan geraknya pada Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tentang pemberian kekuasaan kepada menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan untuk menyelenggarakan universitas. Sebagian besar isi UU itu berupa upaya penambahan tenaga pengajar dari orang Indonesia dan pengambilalihan perguruan tinggi dari tangan NICA Belanda. Sementara Nugroho Notoususanto dkk. dalam Sedjarah Singkat Universitas Indonesia menyebut masa 1950-an sebagai masa Indonesianisasi perguruan tinggi. Ini termasuk pula upaya mendorong pengukuhan guru besar dari kalangan bangsa Indonesia. “Lagi pula Senat Guru Besar sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda, demikian pula tenaga-tenaga dosen lainnya,” catat Nugroho. Memasuki dekade 1960-an, aturan tertulis tentang pengangkatan guru besar dan penyematan sebutan profesor mulai diperkenalkan. Ini seiring dengan keluarnya UU No. 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. UU ini mengatur penyelenggaraan pendidikan seperti tujuan, bentuk-bentuk perguruan tinggi, tingkat ujian dan gelar, jenis pengajar, dan definisi guru besar dan profesor. Pasal 11 ayat 7 menyebut pemakaian sebutan profesor diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Ada ancaman pidana jika seseorang sembarang menggunakannya. Tapi PP tentang pemakaian sebutan profesor tak kunjung keluar selama setahun. Ini membuat sejumlah perguruan tinggi menerapkan kembali konvensi lama tentang penyematan sebutan profesor. Seseorang pun terkadang menyematkan sebutan profesor di depan namanya secara mana suka. “Pernah terjadi bahwa gelar profesor telah digunakan secara disengaja atau tidak disengaja oleh yang bersangkutan sebelum keluar Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, hal mana sama sekali tidak dapat dibenarkan,” catat Himpunan Peraturan Perundang-Undangan tentang Perguruan Tinggi di Indonesia terbitan tahun 1975. Peraturan Tertulis Pertama Kekosongan peraturan tertulis tentang penyematan sebutan profesor mendorong Tojib Hadiwijaya, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, mengeluarkan Surat Keputusan No. 74 Tahun 1962 tentang Pedoman Sementara Mengenai Pengangkatan Guru Besar Pada Perguruan Tinggi dan Penggunaan Sebutan/Gelar Profesor. Inilah aturan tertulis pertama sejak Indonesia merdeka tentang pengangkatan guru besar dan penggunaan sebutan profesor. SK No. 74 memuat lampiran tentang tata cara pengangkatan seseorang menjadi guru besar dan penyebutan profesor. Menurut SK ini, guru besar adalah jabatan dalam suatu perguruan tinggi. Sedangkan sebutan profesor merupakan pengakuan dan penghormatan tertinggi pada seorang pengajar di perguruan tinggi. “Karena itu, pengangkatan menjadi Guru Besar dan penggunaan gelar Profesor harus diatur,” catat SK No 74. Syaratnya ada lima. Seseorang harus mempunyai spesialisasi bidang ilmu; menulis karya ilmiah dalam bentuk buku, majalah, jurnal, disertasi; memiliki pengalaman mengajar; bermoral dan berintegritas tinggi; dan berjiwa Pancasila-Manipol USDEK. Syarat terakhir tak lepas dari kondisi politik saat itu. Sukarno sedang giat-giatnya menggelorakan gagasannya tentang Manipol dan USDEK. Karena posisinya terus menguat, Sukarno pun ikut menentukan proses seseorang menjadi guru besar. Mula-mula para guru besar mengadakan rapat untuk mengajukan calon guru besar. “Bilamana dalam rapat tersebut dicapai suara bulat, usul pengangkatan sebagai Guru Besar (biasa atau luar biasa) diteruskan kepada Presiden/Ketua Perguruan Tinggi,” tulis SK No. 74. Presiden berhak menerima atau menolak pencalonan guru besar. SK No. 74 juga menyebutkan, jabatan guru besar tak mesti selalu harus diisi seorang bergelar doktor atau Ph.D. Sebaliknya, seorang bergelar doktor atau Ph.D tak lantas menjadi guru besar. Dengan demikian, seorang bergelar sarjana bisa saja menjabat guru besar dan memakai sebutan profesor. “Setelah cukup lama mengabdi sebagai akademisi, sudah ubanan bahkan karena sudah tua diplesetkan dengan ‘profesor linglung’,” tulis Adnan Kasry dalam Riau Pos , 13 Juni 2006. Profesor yang Pensiun Mengenai apakah penyebutan profesor itu bersifat permanen atau sementara, SK No. 47 menyebut akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Tapi Peraturan Pemerintah pun tak lantas cepat keluar. Akibatnya beberapa guru besar dan profesor masih membawa jabatan dan sebutan itu hingga liang lahat. Sebagaimana tertulis di batu nisannya. Bahkan sebagian menjadi nama jalan. SK No. 47 sempat ditinjau ulang melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 211/P/1976. Meski begitu, SK No. 47 baru diganti secara resmi setelah keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Sebutan Guru Besar atau Profesor, hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja… Karenanya seorang profesor yang telah pensiun, secara akademik tidak berhak lagi menuliskan kata ‘Prof’ di depan namanya,” catat Adnan Kasry, dalam Riau Pos , 13 Juni 2006. Kasry juga menyebut sejak UU No . 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas berlaku, guru besar hanya bisa diisi oleh seorang dose n yang bergelar doktor atau Ph.D . “Tidak seperti dosen sebelumnya,” kata Adnan.
- Empat Jenis Jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta
WACANA pengembalian benda jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta usai Geger Sepehi pada Juni 1812 tengah ramai diperbincangkan. Yang paling bikin gempar, keturunan Sultan Hamengkubuwono II menyebut ada 57.000 ton emas yang diambil dari keraton. Dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan Facebook Historia , Rabu, 5 Agustus 2020, sejarawan Peter Carey menyebut ada empat jenis benda yang dijarah Inggris dari Keraton Yogyakarta. Jenis pertama adalah manuskrip atau naskah-naskah kuno dari keraton. Ada 45 naskah yang diambil oleh Thomas Stamford Raffles. Hal ini diketahui dari surat sekretaris Raffles yang menyebut naskah-naskah ini. Jenis kedua adalah uang emas dan uang perak sebesar 800.000 dolar Spanyol. Uang ini diambil untuk membayar tunjangan atau prize money untuk perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang. “Separuh, 400.000 diberikan (kepada perwira-perwira) dan 400 ribu dikirim ke Benggala (India) untuk membayar tunjangan dari prajurit dan perwira yang punya keluarga,” kata Peter Carey. Dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar pasukan Sepehi dari India. Peter Carey menjelaskan, 800.000 ribu dolar Spanyol pada waktu itu setara dengan 150.000 poundsterling. Dan dengan kurs saat ini nilai 150.000 poundsterling setara dengan 11,5 juta poundsterling. “Dan itu sama dengan 350 kilogram emas,” kata Peter Carey. Jenis ketiga bermacam-macam benda budaya dari wayang hingga benda-benda bernilai seni lainnya. “Ada perampasan benda-benda budaya seperti keris. Tapi keris Kanjeng Kyai Monggang dan Kanjeng Kyai Guntur Madu tidak diambil,” kata Peter Carey. Jenis keempat setelah berhasil menjebol Benteng Baluwerti yang mengelilingi keraton, batu-batu dari reruntuhannya diangkut ke Pulau Bangka untuk membangun Benteng Fort Nugent. “Inggris mengambil semua batu-batu dari Baluwerti yang sudah ambruk. Mengangkutnya ke Pulau Bangka melalui Semarang. Supaya mereka bisa bangun benteng di Bangka,” kata Peter Carey. Keempat jenis jarahan itulah yang diambil Inggris dari Keraton Yogyakarta usai Geger Sepehi 1812. Tidak ada emas 57.000 ton. Sementara itu, kemenangan utama Inggris adalah menjatuhkan Sultan Hamengkubuwono II dan mengasingkannya ke Pulau Pinang (Penang, Malaysia). Inggris kemudian mengangkat kembali anaknya, bukan lagi sebagai pangeran wali tapi sultan yang sah, yaitu Sultan Hamengkubuwono III.*
- Sisca Soewitomo Gantung Panci
SISCA Soewitomo menjadi trending topic. Banyak orang berterima kasih karena telah menemani ibu-ibu memasak lewat berbagai acara, seperti Aroma di televisi Indosiar selama sepuluh tahun (1996–2006). Ibu Sisca memandu acaranya setiap Sabtu jam 08:00 WIB dan acara khusus setiap hari di bulan Ramadan. Acara Aroma juga disiarkan Surya TV Singapura setiap Kamis dan Jumat pukul 18:00 waktu setempat. "Sahabat-sahabat tercinta, setelah puluhan tahun saya di dunia kuliner dan ribuan resep yang sudah saya ciptakan, ini mungkin saat yang tepat untuk gantung panci," demikian pengumuman Ibu Sica di akun instagramnya. Dalam Resep Hidangan Lengkap Gizi Minim Minyak ala Sisca Soewitomo disebutkan bahwa Hj. Sis Cartica (Sisca) Soewitomo lahir di Surabaya pada 8 April 1949. Ibu dari tiga anak dan tiga cucu ini lulusan Akademi Pariwisata Trisakti tahun 1976. Ibu Sisca menjadi asisten dosen hingga dosen senior di almamaternya dari 1977–1991. Dia juga menjadi dosen paruh waktu jurusan perhotelan di Universitas Pelita Harapan (1997–1999). Untuk memperdalam ilmunya tentang kulier, Ibu Sisca mengikuti pendidikan di China Baking School, Taipei, Taiwan, lulus tahun 1980, dan American Institute of Baking di Manhattan, Kansas, Amerika Serikat, lulus tahun 1983. Sisca Soewitomo, pakar kuliner Indonesia. (Nugroho Sejati/Historia.ID). Sempat bekerja di perusahaan sebagai manajer proyek khusus dan product development manager , Ibu Sisca kemudian memutuskan bekerja sendiri sebagai konsultan kuliner ( culinary consultant ) dan penata saji ( food stylist ) untuk iklan kemasan atau iklan televisi. Ibu Sisca menjadi terkenal karena membagikan ilmunya lewat acara demo masak bersama media massa, organisasi perempuan, pusat perbelanjaan, kantor-kantor swasta dan pemerintahan. Misalnya, demo masak bersama tabloid Nova (sejak 1999), mengasuh rubrik boga mingguan Republika (sejak 2001), dan memandu acara Aroma di Indosiar yang menjangkau luas seluruh Indonesia. Selain lewat demo memasak, Ibu Sisca membagikan pengetahuannya memasak dengan buku. Dia seorang penulis buku masak yang produktif. Sejak 1998, dia telah menulis lebih dari 60 judul buku masak yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Pada 2007, Ibu Sisca menerima penghargaan dari ABC Culinary Academy atas perannya dalam membantu ibu-ibu menyajikan makanan melalui acara televisi, demo masak, dan buku masak. Tulisan ini direvisi pada 6 Agustus 2020 .
- Misi Zending dan Reaksi Umat Islam di Hindia Belanda
MEMASUKI abad ke-19, misi zending atau pekabaran injil di negeri kolonial semakin gencar digalakan pemerintah Belanda. Sebagai salah satu program kolonialisasi, para wakil gereja melakukan misi penyebaran ajaran Kristen di tengah masyarakat. Namun bukan perkara mudah menjalankannya. Para zending mendapat hambatan besar dari orang-orang Islam. Menurut M. Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , tidak ada satu agama yang amat menyusahkan para zending dan misionaris dalam pekerjaan mereka menyebarkan agama Kristen daripada Islam. Maka setiap mendapat kesempatan melakukan konferensi besar, perbincangan soal reaksi dunia Islam itu selalu menjadi pembahasan yang hangat. Begitu pula yang terjadi pada konferensi zending di Amsterdam, Belanda pada 25 Oktober 1938. Pertemuan para penyebar ajaran Kristen yang dihadiri Perdana Menteri Hendrikus Colijn itu mendapat perhatian besar pemerintah Belanda, terutama setelah beberapa tahun terakhir banyak upaya perlawanan di Hindia Belanda yang dimotori oleh golongan ulama. Maka satu pokok pembicaraan yang menjadi perhatian semua orang adalah “sikap Islam di Indonesia sekarang ini”. “Orang Islam yang berada di bawah pemerintah asing lebih konservatif memegang agama mereka daripada negeri-negeri yang sudah merdeka,” tulis Hendrik Kraemer dalam The Christian Message in a Non Christian World . Peristiwa Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Kamang, dan beberapa pemberontakan lain, penggeraknya adalah orang Islam. Bagi para zending, berbagai peristiwa perlawanan itu terjadi karena umat Islam di Indonesia memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan tenang. Masuknya Belanda tentu mengancam hal tersebut. “Tetapi di Indonesia agama Islam belum masuk benar ke dalam masyarakat sedalam-dalamnya. Masih ada keinginan hendak menyesuaikan adat istiadat dan kepercayaan lama dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama Islam,” lanjut Kraemer. Celah itu yang coba digunakan para zending untuk menyebarkan ajarannya, dan melemahkan ajaran Islam. Seperti yang dilakukan Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) di Jawa Barat. Dijelaskan Th. Van den End dalam Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963 , orang-orang NZV menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Sunda untuk mendekati masyarakat Sunda. Pendekatan lain yang coba dilakukan para zending untuk melemahkan ajaran Islam di Indonesia adalah dengan pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan ala Barat. Pengetahuan baru diyakini dapat menggantikan kebiasaan lama, yang pada akhirnya akan dapat melepaskan orang-orang dari genggaman Islam. Pengetahuan Barat yang liberal dijadikan senjata utama pendekatan terhadap umat Islam. Namun persoalan itu rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Natsir. Di dalam Pandji Islam tahun 1938, anggota Partai Islam Indonesia itu menyebut jika ikatan ajaran Islam antara generasi tua dan muda masih sama-sama lemah. Generasi tua terlalu terkekang dengan berbagai kepercayaan adat, sementara kaum muda terlalu mudah terpengaruhi oleh perubahan baru. Permasalahan yang menjadi penyakit kaum muslimin di Indonesia. “Sudah bukan barang yang mustahil lagi apabila sekarang terjumpa anak-anak kita orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Fatihah seumur hidupnya, dan hanya belajar mengucapkan kalimah Syahadat dengan bersusah payah diwaktu akan mengakadkan nikah di muka penghulu,” ungkap Natsir. Sama seperti Natsir, para zending juga memiliki kekhawatirannya sendiri dalam menjalankan misi agama mereka. Dalam konferensi, para zending menyarankan agar misi penyebaran ajaran Kristen dilakukan secepat mungkin, dengan cara-cara yang lebih baik. Sebab, dalam beberapa tahun kedepan, dikhawatirkan bangsa Indonesia akan lebih susah dimasuki oleh agama Kristen. Pengaruh Islam yang kuat sudah mulai terlihat dengan kehadiran organisasi-organisiasi berbasis keislaman, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Konferensi zending Amsterdam menyepakati beberapa poin yang disetujui pemerintah Belanda, melalui keputusan PM Colijn. Pertama , setiap kegiatan zending di Hindia Belanda akan mendapat tambahan bantuan. Kedua, setiap zending akan mendapat jatah uang setiap bulan untuk kehiduan mereka. Ketiga, menambah jumlah surat izin penyebaran agama Kristen untuk para zending baru. ”Dan kita hanya dapat berseru kepada penganjur-penganjur kita, terutama dalam pergerakan muslimin di Indonesia,” imbuh Natsir.*
- Sepak Terjang KSK dari Bosnia hingga Afghanistan
TIDAK sampai seperempat abad usianya, satu kompi terelit Kommando Spezialkräfte (KSK) atau pasukan elit Angkatan Darat (AD) Jerman dibubarkan. Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer menghapuskan pasukan elit itu dari Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman) pada 30 Juli 2020. Kompi ke-2 KSK dihapuskan karena sudah terlampau disusupi para simpatisan Neo-Nazi. Isu itu sudah merebak sejak Desember 2019. Pada Mei 2020, Militärischer Abschirmdienst (Badan Kontra-Intelijen Militer Jerman) bersama GSG 9 (pasukan elit kepolisian) menggerebek kediaman seorang anggota KSK berpangkat sersan mayor yang terduga sebagai simpatisan Neo-Nazi. Diberitakan The New York Times , 3 Juli 2020, di kediaman terduga ekstrimis sayap kanan itu ditemukan dua kilogram peledak sintetis PETN beserta sumbu dan detonatornya, sepucuk senapan serbu AK-47, dan ribuan butir amunisi yang diyakini dicuri dari gudang senjata militer Jerman. Penemuan itu diperkuat oleh penemuan sebuah buku kumpulan lagu-lagu mars SS (Schutzstaffel/pasukan paramiliter Nazi di Perang Dunia II) dan 14 eksemplar majalah beredisi para mantan prajurit SS. “Dia (sersan mayor KSK) punya sebuah rencana. Dan dia bukan satu-satunya,” tutur Komisioner Parlemen Jerman Eva Högl kepada The New York Times. Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer membubarkan KSK. ( bmvg.de ). Neo-Nazi bukan isu anyar yang menghantui Jerman pasca-Perang Dunia II. Selain di politik, virus Neo-Nazi beberapa kali menjangkiti institusi militernya. “Saya tak tahu apakah memang ada tentara bayangan (simpatisan Nazi, red. ) di Jerman. Tetapi saya khawatir. Tidak hanya sebagai komandan KSK, namun juga sebagai warga negara, di mana pada akhirnya hal seperti itu memang eksis dan mungkin rakyat kami juga bagian darinya,” kata Komandan KSK Brigjen Markus Kreitmayr. Brigjen Markus Kreitmayr, komandan terakhir KSK. ( bundeswehr.de ). MAD sendiri masih dalam proses menginvestigasi 600 prajurit, di mana 20 di antaranya anggota KSK. Tetapi Menhan Kramp-Karrenbauer menuntut hasil lebih dari MAD sesegera mungkin. “Kasus ini tidak hanya sebuah kemungkinan kasus yang terisolasi di internal militer namun sudah ada koneksi dan jaringan yang jelas dan mesti diinvestigasi lebih luas. Pekerjaan MAD belum memuaskan dan belum cukup,” ujar Kramp-Karrenbauer. Mula KSK Sejak berdirinya Bundeswehr sebagai pengganti Wehrmacht pada 1955, militer Jerman nyaris zonder pasukan elit. Pasukan setaraf komando pertama baru dimiliki Bundesmarine (AL Jerman) pada 1958, yakni Kampfschwimmer (kini Kommando Spezialkräfte Marine), sejenis komando pasukan katak. AD Jerman baru muncul Fernspäher (pasukan intai) yang hanya berjumlah satu kompi dan fungsinya sebagai pasukan intai jarak jauh. Kedua unit elit itu belum meliputi spesialisasi kontra-terorisme. Kebutuhan akan pasukan elit dengan fungsi yang lebih komplit baru dirasa ketika terjadi penyanderaan warga Jerman di luar negeri, seperti kasus penyanderaan sejumlah warga Jerman kala berlangsungnya Genosida di Rwanda pada 1994. Para sandera berhasil dievakuasi dari Rwanda bukan oleh militer Jerman, melainkan oleh pasukan Brigade Para-Komando Belgia. Saat itu Jerman tak punya pasukan elit untuk beroperasi di luar negeri. Pasukan komando kepolisian GSG 9 berdasarkan regulasi hanya beroperasi di dalam negeri. “Insiden di Rwanda itu jadi dorongan pembentukan KSK pada 1996, sebuah unit dengan fungsi penuh untuk operasi-operasi pengintaian, operasi pembebasan sandera, dan bantuan operasi senyap pasukan reguler. Dalam hal kontra-terorisme, KSK punya pengecualian untuk bisa beroperasi di luar perbatasan Jerman dan di zona-zona konflik,” tulis Leigh Neville dalam The Elite: The A-Z of Modern Special Operations Forces . “KSK diorganisir menjadi empat kompi komando, masing-masing (kompi) terdiri dari empat peleton patroli dan satu kompi komando khusus yang bertanggungjawab atas persenjataan elektronik. Pembagiannya merujuk pada pasukan khusus SAS (Special Air Service, pasukan khusus AD Inggris),” sambungnya. Kommando Spezialkräfte berdiri pada 1996 dan diaktifkan pada 1997 lewat bantuan Inggris dan Amerika. ( bmvg.de ). SAS dijadikan rujukan lantaran pembentukan KSK pada 1996 dibantu SAS, GSG 9, dan Detasemen Operasi Khusus ke-1 AD Amerika Serikat (Delta Force). Lantaran KSK akan difungsikan di semua operasi di darat, laut, maupun udara, perekrutannya diambil dari matra darat, laut, dan udara dengan syarat dan kualifikasi tertentu. Ketika lahir pada 20 September 1996, KSK sudah memiliki personil yang ditempa dengan beragam pelatihan ekstra keras di semua kompinya. Namun KSK baru aktif setelah 1997 dengan basisnya di Calw. Saat diaktifkan, KSK dipimpin Brigjen Fred Schulz. Bosnia hingga Afghanistan Ujian pertama KSK datang setahun berselang. Mereka dikirim ke Bosnia sebagai bagian dari pasukan Jerman yang diperbantukan di bawah payung NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Sejak 1996 pasca-Perang Bosnia, Jerman menyokong SFOR (Stabilization Force) dengan tiga ribu personilnya. Salah satu aktivitas SFOR adalah menggelar operasi-operasi senyap memburu para penjahat perang yang bersembunyi di Bosnia, Serbia, maupun Kroasia. Saat itu pemerintah Serbia dan Kroasia menolak mengekstradisi para penjahat perang yang masuk dalam daftar International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia. KSK beberapakali diterjunkan bersama pasukan khusus negara lain seperti Sajeret Matkal (Israel), SAS (Inggris), Commandement des Opérations Spéciales (COS, Prancis), dan US Army Special Forces “Green Berets”. Mengutip How Western Soldiers Fight: Organizational Routines in Multinational Missions karya Cornelius Friessendorf, operasi pertama KSK di Bosnia adalah menggerebek dan menciduk Milorad Krnojelac pada 15 Juni 1998 di Foča, Serbia (kini Bosnia dan Herzegovina). Krnojelac merupakan penjahat perang yang menjalankan kamp interniran Bosnia dan dituduh atas pembunuhan terhadap 29 orang dan penyiksaan terhadap 59 lainnya di kamp interniran. “Penangkapannya dibantu pasukan khusus Prancis, di mana persiapan operasinya sudah dilakukan setengah tahun sebelumnya. Mereka mulanya memantau aktivitas Krnojelac dan mencegat percakapan telepon untuk mencatat kebiasaan-kebiasaannya. Bahkan tiruan rumah Krnojelac dibuat di Jerman untuk latihan,” tulis Friessendorf. “Setelah ditangkap, Krnojelac langsung dibawa ke kendaraan lapis baja dan diterbangkan dengan helikopter ke Zagreb, dan dari sana diterbangkan ke ICTY di Belanda, di mana dia menerima vonis 15 tahun penjara,” lanjutnya. Tersangka penjahat perang yang diburu KSK, ki-ka: Milorad Krnojelac, Radomir Kovač & Janko Janjic. (ICTY). Setelah sukses melewati ujian pertamanya, KSK kembali diterjunkan untuk menangkap penjahat perang lainnya, Radomir Kovač. Sebagaimana Krnojelac, Kovač yang mantan komandan paramiliter Serbia dengan kejahatan perang pemerkosaan dan perbudakan seks para wanita muslim Bosnia, juga ditangkap di Foča lewat misi klandestin 250 kombatan KSK pada tengah malam antara 1-2 Agustus 1999. Pada 20 Agustus 1999, KSK ditugaskan bersama pasukan Belanda ke Orahovac di Kosovo untuk menjemput paksa tiga tersangka penjahat perang guna dibawa ke markas pasukan perdamaian PBB di Pristina. Dari sana, KSK kembali ditugaskan ke Foča. “Pada 12 Oktober 2000 dalam misi menangkap Janko Janjic di Foča, sempat menimbulkan insiden. Dalam operasinya, KSK menggerebek rumahnya pada malam hari dengan meledakkan pintu depan. Walau di dalam rumah juga terdapat keluarganya, KSK tak kesulitan mengidentifikasi Janjic lewat tato tengkorak di kelopak matanya,” ungkap Friessendorf. “Saat tengah dikepung, Janjic menyatakan dia memilih meledakkan diri ketimbang tertangkap. Ia lalu mengambil sebutir granat dari sabuk pinggangnya: ‘Aku sudah mati sejak lahir!’ teriak Janjic sebelum meledakkan dirinya. Tubuhnya hancur dan tiga anggota KSK terluka,” tambahnya. Dua bulan pasca-serangan 9/11 oleh Al-Qaeda di New York, Amerika Serikat (11 September 2001), Jerman sebagai bagian dari NATO ikut mengirim pasukan ke Afghanistan. Menukil Nigel Cawthorne dalam Warrior Elite: 31 Heroic Special-Ops Missions from the Raid on Son Tay to the Killing of Osama bin Laden , KSK terlibat Pertempuran Tora Bora bersama Delta Force, SAS, SBS (Special Boat Service, pasukan khusus AL Inggris), dan pasukan Aliansi Utara Afghanistan melawan Taliban dan Al-Qaeda, 6-17 Desember 2001. “Tora Bora diduga menjadi kompleks gua tempat persembunyian Osama bin Laden. KSK turut terlibat mengawal serangan di sisi sayap,” tulis Cawthorne. Ilustrasi pasukan elit Jerman di Afghanistan. ( deutschesheer.de ). Meski secara taktis pertempuran itu dimenangkan pasukan koalisi Amerika, secara strategis pertempuran itu jadi blunder. Milisi Taliban dan Al-Qaeda masih bisa bergerilya, ditambah Osama bin Laden berhasil kabur meski pemerintahan Taliban di Afghanistan yang melindungi Al-Qaeda ambruk. KSK jadi alat negara yang dibanggakan dalam beragam operasi mancanegara. Namun, KSK jadi duri dalam daging di dalam negeri karena tersusupi simpatisan Neo-Nazi. Bukannya jadi salah satu garda pelindung demokrasi Jerman, KSK justru jadi ancaman dari dalam. “Jika orang yang mestinya melindungi demokrasi kita malah berkomplot melawan kita, maka kita menghadapi masalah besar. Bagaimana kita bisa menemukan mereka?” kata Kepala Badan Intelijen Negara Bagian Thuringia, Stephan Kramer, dikutip The New York Times . “Mereka adalah orang-orang yang ditempa dengan pengalaman pertempuran dan paham bagaimana caranya menghindari pemantauan karena mereka sendiri dilatih melakukan pengintaian. Yang kita hadapi adalah musuh dari dalam,” tandasnya.
- Kartosoewirjo Hampir Tertangkap
JENDERAL TNI A.H. Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, menerima telepon dari Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie, Panglima Divisi Siliwangi, yang melaporkan bahwa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, imam DI/TII, terlah ditangkap.
- Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris
KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia Bonnie Triyana dalam live Historia . id bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu (5/8/2020). Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi. Kolonel Colin Mackenzie (kiri) & SS Matilda, kapal dagang EIC yang membawa prasasti kuno dari Hindia Timur ke Kolkatta (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Prasasti berbentuk tablet setinggi dua meter dan berbobot tiga ton itu diambil perwira Skotlandia Kolonel Colin Mackenzie untuk diberikan ke Gubernur Letnan Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles. Lantaran dijadikan sebagai benda persembahan untuk Lord Minto, prasasti tersebut dikirim Raffles ke Kolkata pada Mei 1813 menggunakan kapal dagang milik East India Company dari Surabaya. “Masalahnya satu isu, walaupun dulu dirampas, sekarang sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Ini menjadi lebih rumit. Prasasti Sangguran di perbatasan Skotlandia-Inggris menjadi salah satu benda budaya yang sangat digemari pasukan Skotlandia dan setiap tahun ada semacam reuni kembali ke kediaman Lord Minto. Ada suatu peleburan budaya dari benda itu kepada budaya lokal,” tutur Peter. Hal serupa berlaku pada Prasasti Pucangan atau Calcutta Stone yang berasal dari tahun 1041. Prasasti berisi kisah kelahiran kekuasaan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan, itu ditemukan sendiri oleh Raffles dan juga dikirim sebagai persembahan untuk Lord Minto. “Itu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya ada di gudang tua yang bocor di Indian Museum dalam keadaan porak-poranda,” sambungnya. Prasasti Sangguran atau Minto Stone di pekarangan kediaman Lord Minto (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Merupakan tantangan tersendiri untuk bisa mengembalikan dua prasasti dari abad kesembilan dan abad ke-11 itu. Pasalnya, pada 2006, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kedutaan Besar RI di London sudah menyambangi pihak pewaris Lord Minto, namun gagal karena tidak ada titik temu soal kompensasi. “Harus dibuat semacam kasus. (Keluarga) Lord Minto tidak akan gamblang kirim kembali. Harus ada desakan (lagi) dari pemerintah Indonesia dengan semua fakta dari penelitian, sehingga bisa dengan laik balik ke sini,” papar Peter. Yang pasti, kata Peter, butuh persiapan banyak hal untuk menempuh jalan repatriasi yang berliku. “Harus diajukan kasus, tidak simsalabim, tidak seperti mie instan. Harus lewat ketekunan dan ketelitian membuat tafsiran, dan melalui jaringan diplomasi antara Pak (Presiden RI) Jokowi dengan (Perdana Menteri Inggris) Boris Johnson, antara duta besar, ada pengajuan kepada pemerintah dan penghakiman (jalur hukum, red. ),” lanjutnya. Sejarawan Peter Carey (kanan) dalam bincang live “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” Peter juga memberi warning agar pihak Indonesia harus menyiapkan dan meyakinkan bahwa dua benda itu bisa ditempatkan di lokasi yang lebih baik. Sehingga, jika kelak dikembalikan, kedua prasasti tidak seperti Prasasti Pucangan di Kolkata yang diletakkan di gudang yang bocor. “Seumpama benda (prasasti) itu kembali, apakah situasinya akan lebih baik dari sebelumnya? Pengalaman saya pada 1989 dengan British Council untuk mengembalikan 75 naskah yang diambil Inggris, kita kembalikan dalam bentuk microfilm kepada pihak Museum Nasional dan Keraton Yogyakarta. Dalam rentang 10 tahun itu hancur semua. Sebab tidak disediakan ruang yang atmospheric , ruangan ber-AC, ditaruh di lemari, tidak dipakai,” ujar Peter mencontohkan. “Harus ada kebijakan persiapan menerima kembali supaya lebih bermanfaat. Mesti ada riset yang menjelaskan benda ini milik si anu, si itu. Harus ada tafsiran berapa nilainya. Semua harus teliti, terperinci, dan tepat sasaran. Kalau tidak, jangan harap (bisa kembali),” tutupnya.
- Misi Rahasia Jenderal S. Parman
SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberitahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman”, kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku . Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964. Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno. Kepada Oltmans Parman berkisah, dirinya telah mengenal Bung Karno sejak berusia 16 tahun. Sewaktu konflik melanda tentara dalam Peristiwa 17 Oktober 1952, Bung Karno sempat tidak suka kepada Parman mengingat dia disebut-sebut sebagai orang-nya Nasution. Namun ketika Zulkifli Lubis (yang merupakan perwira intel kesayangan Bung Karno saat insiden itu berlangsung) terlibat dalam PRRI-Permesta, “hubungan antara Bapak dan saya baik kembali,” kata Parman ditirukan Oltmans. Dari Atmil ke Asisten I/Intel Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Dalam Siapa Dia? Perwira Tingggi TNI-AD , Harsja Bachtiar mencatat karir militer Parman dimulai sebagai penerjemah kempetai (polisi militer) di zaman Jepang. Setelah Indonesia memperoleh kedaulatan, Parman menjadi komandan Corps Polisi Militer (CPM). Pada 1951, Parman sempat mengikuti pendidikan Associate Military Company Officer School di Georgia, AS. Pada 1959, Parman diangkat menjadi atase militer untuk Kerajaan Inggris dan bertugas di London. Tugas sebagai Atmil dijalaninya selama tiga tahun. Di periode itu, Jenderal Abdul Haris Nasution merupakan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD). Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama mencatat, Parman menjadi salah satu Atmil Indonesia yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam “Operasi C”. Nasution menyebut misi para Atmilnya tersebut sebagai diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Ketika Nasution berkunjung ke London pada 1961, Parman turut menyambut. Di hotel, kata Nasution, Parman dengan teliti menyiapkan gayung dan lain-lain kebiasaan Indonesia di kamar mandi. “Agar merasa tidak terlalu asing,” kata Parman ditirukan Nasution. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia. Pimpinan dalam tubuh Angkatan darat beralih dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman kemudian ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Di dalam negeri, Angkatan Darat menghadapi lawan politiknya Partai Komunis Indonesia (PKI). Parman merupakan salah perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI. Dalam rencana itu, buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara. “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV . Wara-wiri Lintas Negara Mengurusi intelijen Angkatan Darat membuat Parman punya jaringan di mana-mana. Tidak terkecuali di luar negeri. Keberadaan Parman di negeri asing pernah pula disaksikan sejawatnya yang lain, Brigjen Soegih Arto, duta besar Indonesia untuk Birma. Pada pertengahan 1964, Sukarno mengutus Soegih Arto ke Inggris untuk menjajaki perundingan penyelesaian konfrontasi Malaysia. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris. Ketika singgah di rumah Atmil Indonesia di Paris, Soegih Arto bertemu dengan Parman. Soegih Arto heran mengapa Parman berada di Paris namun sungkan bertanya. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman juga mengemban misi yang sama dengannya. Jika Soegih Arto ditugaskan berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto melihat Atmil Indonesia untuk Inggris, Kolonel Sasrapawira menjemput S. Parman. “Beliau diutus karena Beliau adalah Chief Intelligence Angkatan Darat, tetapi juga karena pernah menjabat sebagai Atase militer di Inggris,” kata Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti, Parman merupakan utusan Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Dalam upaya itu, Parman mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis pada 9 Oktober 1964. Meski demikian, pembicaraan tidak berlanjutkan dengan perundingan resmi antar negara. “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” tulis Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Koneksi dengan CIA? Sepekan lebih berselang, Parman bersua dengan Oltmans di New York. Pembicaraan diantara mereka kemudian menyinggung nama Werner Verrips. Menurut Oltmans, Verrips adalah orang Belanda agen CIA. Pada 1950, Verrips terlibat perampokan Bank Indonesia di Surabaya dan S. Parman adalah perwira CPM yang menangkapnya. Mengenai sosok Verrips, Oltmans mengonfirmasi sejumlah hal kepada Parman. Kepada Oltmans, Parman membenarkan dirinya mengenal Verrips secara pribadi. Mereka bahkan baru bertemu di London untuk membahas masalah Malaysia. Namun Parman membantah pengakuan Verrips mengenai kedekatannya dengan Ahmad Yani. “Ia membual,” kata Parman, “Ia sama sekali tidak mengenal Yani.” Parman kemudian meminta bantuan Oltmans untuk dapat bertemu Verrips. Dengan menggunakan telepon hotel, Oltmans menelepon rumah Verrips di Huister ter Heide, Utrecht, Belanda. Istrinya, Anneke, memberikan nomor tempat Verrips dapat dihubungi. Segera Parman dan Verrips mengobrol lewat telepon. “Kedua 'sahabat lama’ itu mengobrol lewat telepon lintas-atlantik. Tak lama lagi mereka akan bertemu di Belanda, atau mungkin di London,” kata Oltmans. Pada 4 Desember 1964, Verrips mengalami kecelakaan mobil. Dia meninggal dalam peristiwa nahas itu. Apakah kejadian yang menimpa Verrips itu berhubungan dengan Parman, Oltmans sendiri tidak dapat membuktikannya. Pada awal Januari 1965, Oltmans kembali ke rumahnya di Long Island. Dia kemudian menemui Zairin Zain, duta besar Indonesia untuk AS. Dari Zain, Oltmans mengetahui bahwa dirinya juga menjadi target pelenyapan. Kata Zain, Verrips mengetahui terlalu banyak dan selalu ingin buka mulut kepada siapa saja. Sementara itu, Oltmans selalu ingin memuat segala yang ia ketahui dalam koran. Menurut Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI, Oltmans dan Verrips sudah mengetahui adanya kegiatan mencari dukungan dari Belanda dan Washington atas rencana hendak menggulingkan Sukarno. “Rencana yang tidak mereka setujui dan dikhawatirkan akan melaporkannya kepada Sukarno.”*






















