top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita Lama Soal Kudeta di Indonesia

    DI Bandara Halim Perdanakusuma, sesaat sebelum terbang menuju Jerman dan Hungaria, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan berdasarkan laporan intelijen akan ada gerakan kudeta. Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) yang didirikan ratusan tokoh di Cisarua, Bogor pada Januari 2013, akan turun ke jalan secara besar-besaran pada 24-25 Maret menuntut SBY turun karena dianggap gagal. SBY menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Sepulang dari lawatan, SBY mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, tujuh purnawirawan jenderal, 20 pemimpin redaksi media massa, dan petinggi 13 organisasi masyarakat Islam. Kepada mereka, SBY membagi cerita kudeta. Bukan kali ini SBY mengungkapkan adanya rencana kudeta. Pada 2009, dia menggelar jumpa pers untuk memaparkan sejumlah potret hasil kerja intel yang menunjukkan bahwa dia menjadi target teroris. Pada 2010, organisasi Petisi 28 menggulirkan isu kudeta saat umur jabatan presiden SBY genap setahun. Salah satu tokoh yang mendengungkan revolusi perebutan kekuasaan adalah Rizal Ramli, mantan menteri koordinator perekonomian era Abdurrahman Wahid. Tahun berikutnya, sejumlah purnawirawan jenderal berencana mengkudeta melalui gerakan Dewan Revolusi Islam. Semua gerakan itu tak terjadi.

  • Pilot CIA Lolos dari Hukuman Mati di Indonesia

    MINGGU malam, 18 Mei 1958 itu juga, berita tertangkapnya Pope sampai ke Markas Besar CIA di AS. Direktur CIA, Allen Dulles segera mengirim telegram kepada para perwira CIA di Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Singapura: tinggalkan posisi, hentikan pengiriman uang, tutup jalur pengiriman senjata, musnahkan semua bukti, dan mundur teratur. “Inilah saatnya bagi Amerika Serikat untuk pindah posisi. Sesegera mungkin, kebijakan luar negeri Amerika berubah arus,” tulis Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA. Dalam wawancara dengan Weiner pada 2005, Pope mengakui bahwa operasi CIA di Indonesia gagal. “Namun kami telah memukul dan melukai mereka. Saya suka membunuh komunis dengan cara apapun yang bisa saya lakukan. Kami membunuh ribuan komunis, meskipun setengah di antaranya mungkin tidak mengerti apa yang dimaksud dengan komunisme,” kata Pope.

  • Pratiwi Sudarmono, Wanita Indonesia yang Hampir Menjelajah Antariksa

    PADA Juli 1985, tim dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengunjungi Jakarta. Kedatangan mereka untuk mendiskusikan dan mengawasi proses seleksi payload specialist  Indonesia yang akan terlibat dalam misi penjelajahan ke luar angkasa. Payload specialist  merupakan individu yang dipilih dan dilatih oleh organisasi komersial atau riset untuk menangani muatan spesifik dalam misi luar angkasa. Mereka yang mengemban tugas ini juga melakukan eksperimen atau penelitian kedirgantaraan, mengoperasikan peralatan laboratorium luar angkasa, serta mengelola operasi harian stasiun luar angkasa dengan antariksawan lainnya. Menurut Colin Burgess dalam Shattered Dreams: The Lost and Canceled Space Missions , kandidat yang terpilih sebagai payload specialist  dari Indonesia akan terbang dengan pesawat ulang-alik Columbia dalam misi STS-61H, yang dijadwalkan untuk diluncurkan pada Juni 1986. Setelah pertemuan tersebut, tanggal 1 November, ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menunjuk anggota komite pengarah untuk menentukan dan mengawasi kriteria seleksi dalam memilih kandidat yang paling sesuai untuk peran ini. Bulan berikutnya, pemerintah Indonesia secara resmi menerima tawaran AS untuk mengizinkan seorang antariksawan Indonesia bergabung dalam misi pesawat ulang-alik untuk membantu peluncuran satelit komunikasi Indonesia.

  • Tiga Prasasti Tarumanagara (Bagian I)

    KAMPUNG Cibuaya di Karawang geger pada suatu hari di tahun 1951. Muasalnya dari warga bernama Warsinah yang sedang menggali sumur. Bukan air yang didapat, dia malah menemukan sebuah arca. Kaget, warga awam itu pun segera melapor ke aparat setempat. “Benda ini ditemukan oleh Pak Warsinah dari Kampung Cibuaya, ditemukan ketika ia menggali sedalam 21 meter. Patung ini setelah dilaporkan kepada Lurah Erman langsung diberikan kepada Camat pada waktu itu,” tulis sejarawan Halwany Michrob dalam artikel di Buletin Kebudayaan Jawa Barat, edisi No. 2, tahun 1976, “Beberapa Masalah dan Latar Belakang Kepurbakalaan di Indonesia”. Belakangan, yang ditemukan Warsinah ternyata adalah arca Dewa Wisnu –kelak dikenal sebagai Arca Wisnu Cibuaya I. Kemudian pada 1957 dan 1975, berturut-turut ditemukan arca mirip sehingga disebut sebagai Wisnu Cibuaya II dan Wisnu Cibuaya III. Kampung Cibuaya pun pun mulai jadi situs penggalian para arkeolog. Semua ternyata masih berkaitan dengan sejarah Tarumanagara.

  • Pengemis dan Kapten Sanjoto

    SEBUAH rumah di Merbaboeparkweg alias Jalan Taman Merbabu, Malang ramai pada malam 27 September 1941. Sang tuan rumah, Kapten Raden Sanjoto Adi, punya hajat yang bukan kaleng-kaleng. Banyak dari para tamu yang datang merupakan petinggi militer maupun sipil. Hajat itu merupakan syukuran Kapten Sanjoto atas penghargaan yang diterimanya dari pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan itu didapat Kapten Sanjoto berkat kiprahnya dalam bidang sosial di daerah Gadang, Malang. Gadang, disebut Soerabaijasch Handelsblad  tanggal 19 Februari 1938, menjadi tempat penampungan para tunawisma. Untuk mewujudkan aksi sosial itu, sebuah yayasan bernama Pangoengsen Gadang didirikan. Yayasan yang dimiliki seorang Tionghoa tersebut mendirikan rumah penampungan untuk para tunawisma dengan sewa sebesar 100 gulden setiap bulannya.

  • Ketika Singa Jadi Lambang Kota Malang

    SEPAKBOLA merupakan olahraga yang populer di Indonesia. Penggemarnya mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Mereka datang ke stadion demi menonton aksi para pemain klub idolanya dalam mengolah si kulit bundar. Ada beberapa jenjang kompetisi sepakbola di Indonesia, yang paling populer adalah Liga 1. Kompetisi kasta teratas ini diikuti klub-klub terkemuka, salah satunya Arema FC yang didirikan pada 11 Agustus 1987. Klub asal Malang ini berjuluk Singo Edan. Singa mungkin diambil dari Singhasari atau lambang Malang pada zaman kolonial Belanda. Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe  menyebut Malang telah menjadi gemeente  atau pemerintah kotamadya sejak tanggal 1 April 1914 –tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Malang. Namun, lambang dan semboyan Gemeente Malang baru ditetapkan pada 1937 di masa pemerintahan Wali Kota J.H. Boerstra yang memimpin mulai tahun 1936 hingga 1942.

  • Menu Sederhana Presiden Pertama

    MUSLIH bin Risan hafal salah satu santapan favorit Presiden Sukarno. Apalagi kalau bukan sambal pecel. Ia hampir selalu ada di meja makan keluarga sang presiden. “Kalau enggak ada, pasti Bapak menanyakan,” ujar Muslih (70), bekas pelayan pribadi keluarga Sukarno, kepada Historia . Sambal pecel selalu menemani santap siang Sukarno, biasanya disajikan bersama lele plus lalapan daun singkong dan pepaya. Sukarno akan mencomot langsung dari cobekan dan menyantapnya dengan tangan zonder sendok dan garpu. “Kalau lagi makan pecel lele, Bapak seperti ‘tidak ingat sekitarnya’,” kata Muslih sambil terkekeh.

  • Politik Gentong Babi di Parlemen

    DALAM rapat Badan Anggaran DPR RI awal Mei 2010, sejumlah fraksi mengusulkan dana aspirasi yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp8,4 triliun atau tiap anggota DPR (560 orang) mendapat jatah Rp15 miliar. Fraksi yang paling gigih memperjuangkannya adalah Partai Golkar. Alasannya untuk program percepatan pembangunan di daerah pemilihan. Kritik pun berdatangan. Demonstrasi dilakukan, menyebut dana aspirasi ini sebagai “gentong babi”, yang rawan korupsi alias hanya memenuhi celengan para politisi. Istilah “gentong babi” ( pork barrel ) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah sasaran.

  • Bung Karno dan Takhta Suci Vatikan

    PAUS Fransiskus tiba hari ini, Selasa (3/9/2024), dalam rangka lawatan apostoliknya di Indonesia yang berlangsung hingga Jumat (6/9/2024) mendatang. Salah satu agendanya adalah pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membicarakan perdamaian dunia. “Saya kira itu yang sangat penting yang akan kita bicarakan dengan beliau agar perdamaian di seluruh konflik perang, baik yang ada di Gaza (Palestina), Ukraina, dan konflik-konflik lainnya juga bisa kita selesaikan,” ujar Jokowi, dilansir laman resmi kepresidenan pada Kamis, 29 Agustus 2024. Paus Fransiskus selaku pemimpin tertinggi Katolik dunia cum Takhta Suci Vatikan memilih Indonesia sebagai salah satu kunjungan apostolik dan kunjungan kenegaraannya ke kawasan Asia Pasifik. Selain Indonesia, Paus Fransiskus diagendakan juga bertamu ke Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura.

  • Pertemuan Presiden Sukarno dan Paus Yohanes XXIII di Vatikan

    PEMIMPIN Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia. Dalam lawatan selama tiga hari (3—6 September 2024), Paus diagendakan menjalani sejumlah kegiatan dan pertemuan. Selain bertemu Presiden Joko Widodo, Paus Fransiskus turut diagendakan dalam pertemuan antaragama di Masjid Istiqlal hingga perayaan Ekaristi di Stadion Gelora Bung Karno. Paus Fransiskus menjadi pemimpin Gereja Katolik ketiga yang datang ke Indonesia, setelah Paus Paulus VI (1970) dan Paus Yohanes Paulus II (1989). Hubungan antara Indonesia dan Vatikan sudah merentang panjang. Presiden Sukarno menjadi presiden Indonesia pertama yang berkunjung ke Vatikan. Tidak hanya sekali, Bung Karno berkunjung ke Vatikan sebanyak tiga kali. Ini menjadikannya sebagai pemimpin dari negara mayoritas Muslim penerima medali kehormatan terbanyak dari pemimpin Takhta Suci Vatikan. “Aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu,” kenang Sukarno dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams (1966).

  • Kegigihan Asa Bafagih

    DI ANTARA perintis Kantor Berita Antara , Asa Bafagih kurang begitu populer. Sejak 1945 hingga sekarang, Kantor Berita Antara merupakan kantor berita dan lembaga penyiaran resmi milik Republik Indonesia. Nama-nama seperti Adam Malik, A.M. Sipahutar, Pandu Kartawiguna, dan Sumanang jauh lebih dikenal sebagai pendiri Antara. “Waktu Adam Malik dan Pak Asa berani menerobos, terus mengakali para penjaga dan redaktur Domei , itu hebat. Karena waktunya cepat sekali. Tiba-tiba [berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia] tersiar. Besoknya kita menerima pengakuan kedaulatan dari Mesir. Jadi, itu sebuah prestasi,” kata Dirut LKBN Antara, Benny Siga Butar-butar dalam diskusi buku Asa Bafagih: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia karya Nabiel A. Karim Hayaze di Gedung Antara Heritage, Jakarta Pusat, 5 April 2026. Dari kiprah senyap Asa Bafagih, menurut Benny, Antara yang sudah menginjak usia lebih dari delapan dekade ini harus mencari akarnya. “Identitas itu tidak boleh hilang. Asa Bafagih adalah bagian dari harapan dan kehidupan Antara dulu, sekarang dan masa depan,” katanya. Asa Bafagih merupakan tokoh pers Indonesia berdarah Arab kelahiran Tanah Abang, Jakarta pada 14 Desember 1918. Nama lengkapnya Abdillah bin Syech bin Ali Bafagih yang kemudian disingkat menjadi Asa Bafagih. Karier jurnalistiknya diawali sebagai redaktur mingguan terbitan Medan, Pandji Islam untuk wilayah Jawa, kemudian suratkabar Pembangunan terbitan Jakarta dalam rentang waktu 1938–1942. Pada 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang, Asa Bafagih menjadi redaktur Kantor Berita Domei yang kemudian menjadi Antara setelah Indonesia merdeka. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Asa Bafagih terlibat dalam penyiaran berita itu. Dia kemudian menjadi ketua Kantor Berita Antara cabang Jakarta. Dalam Lima Windu Antara disebutkan Adam Malik dari tempat persembunyiannya menelepon ke kantor Domei , mendiktekan bunyi Proklamasi yang baru saja dibacakan Sukarno. Asa Bafagih yang menerima telepon, meneruskannya kepada Pangulu Lubis untuk disiarluaskan. Pangulu mengirimkan naskah berita Proklamasi ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei , di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan , semacam badan sensor pemerintah pendudukan Jepang. Dari situlah berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia tersiar sampai ke luar negeri. Setelah Antara , Asa Bafagih membesut berbagai surat kabar sebagai pemimpin redaksi sepanjang periode 1950-an. Mulai dari suratkabar Merdeka (1947–1951), Pemandangan (1951–1954), Duta Masjarakat (1954–1957), dan kembali lagi ke Merdeka (1957–1959). Selain berkarier di dunia jurnalistik, Asa Bafagih juga sempat berkiprah di politik sebagai anggota DPRD Jakarta di masa revolusi dan anggota DPRGR mewakili kelompok wartawan tahun 1959. Di samping kemampuannya sebagai penulis andal, Asa Bafagih juga seorang poliglot. Dia menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Prancis. Kefasihan berbahasa dan intelektualitasnya menyebabkan Presiden Sukarno mengangkat Asa Bafagih sebagai duta besar untuk Srilanka pada 1960 dan duta besar untuk Aljazair hingga 1968.  Asa Bafagih. (Dok. Keluarga).   Saat Asa Bafagih bertugas di Srilanka, dua anaknya lahir yaitu Rusdi Jayaputra dan Fitri Budi Satria. Kedua nama anaknya mengambil unsur bahasa Sanskarta sebagai wujud diplomasi Asa Bafagih untuk mengenal negeri Srilanka. Dari pernikahannya dengan Salmah Shahab, keluarga Asa Bafagih dikaruniai delapan orang anak, empat laki-laki dan empat perempuan. Usai menunaikan tugas duta besar, Asa Bafagih kembali berkhidmat dalam dunia jurnalistik. Sebagai kolomnis, tulisan-tulisannya dimuat di koran-koran nasional seperti Merdeka , Angkatan Bersendjata , dan Kompas . Pembaca-pembaca harian tersebut begitu meminati artikel yang ditulis Asa Bafagih, terutama analisisnya tentang geopolitik Arab, termasuk isu Palestina. Sebagian besar kehidupan Asa Bafagih dikontribusikan untuk pers Indonesia bahkan hingga akhir hayatnya. Perhelatan Sidang Dewan Pers 1978 di Semarang menjadi agenda terakhir Asa Bafagih. Dalam perjalanan pulang, Asa Bafagih wafat di Solo pada 13 Desember 1978. Keesokan hari jasadnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Buya Hamka, yang juga sahabat Asa Bafagih, menjadi imam salat jenazah di acara perkabungan. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, jejak hidup Asa Bafagih bersentuhan langsung dengan fase-fase paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Namanya disebut dalam perjuangan kemerdekaan, pers nasional generasi awal, konsolidasi demokrasi awal, hingga diplomasi internasional di panggung Asia Afrika. Kendati demikian, ketokohan Asa Bafagih hanya sekilas tercatat dalam historiografi nasional. “Nama Asa Bafagih tidak asing, namun juga tidak benar-benar hadir. Ia hidup dalam arsip, lembaran artikel di media, catatan kaki, dan fragmen-fragmen ingatan keluarga. Selama perjalanan hidupnya sebagai jurnalis, perintis pers Indonesia, dan diplomat, Asa Bafagih memiliki integritas yang sangat tinggi dan kesederhanaan. Sesuatu yang barangkali sangat mahal di zaman sekarang,” kata Nabiel. Pada 1982, Menteri Penerangan Harmoko, yang masih terhitung murid Asa Bafagih, menyematkan pengahargaan Perintis Pers Indonesia kepada Asa Bafagih. Namun, jurnalis senior Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto menilai, ketokohan Asa Bafagih sepi dari ingatan apalagi pembicaraan. Namanya bahkan sayup-sayup di kalangan Nahdliyin atau orang-orang Nahdlatul Ulama, partai tempat Asa Bafagih berkiprah politik, maupun di lingkungan pers nasional. “Ini menjadi ironis. Orang yang kerjanya memberitakan peristiwa-peristiwa penting, tapi tidak terberitakan, padahal dia adalah orang penting,” kata Okky, buyut dari tokoh pers dan Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo, “Boleh jadi juga selaras dengan pembawaan Asa Bafagih yang memang tidak suka menonjolkan diri.”*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page