Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jenderal Soedirman Menjadi Tawanan
PADA masa perjuangan muncul suasana saling mencurigai. Sampai-sampai rombongan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah ditawan oleh Batalion 102 pada 23 Desember 1948 di Bendo, kurang lebih 24 kilometer dari Tulungagung. Kapten Soepardjo, ajudan merangkap sekretaris pribadi Soedirman, dibawa ke markas batalion. Sedangkan Soedirman tetap di dalam mobil dengan pasukan pengawal yang telah dilucuti. Di markas batalion, Soepardjo hanya bertemu beberapa perwira yang tak dikenali. Dia pun meminta bertemu dengan komandan batalion, Kapten Zainal Fanani. Seorang perwira menjawab sulit bagi tawanan bertemu dengan komandan.
- Sang Jenderal Soedirman Berpulang
PERFILMAN Indonesia berduka dalam dua hari berturut-turut. Setelah Amoroso Katamsi wafat pada Selasa (17/4/2018) dini hari, menyusul aktor senior lainnya, Deddy Sutomo yang mengembuskan napas terakhir pada Rabu (18/4/2018) pagi. Deddy meninggal di kediamannya pada usia 76 tahun. Deddy lahir di Jakarta pada 26 Juni 1941. Menggeluti dunia peran sejak duduk di SMA. Bersama kartunis GM Sudarta, dia mendirikan Teater Akbar. Anggotanya kebanyakan dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Teater Akbar sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam). Dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 tercatat, setelah tamat SMA, Deddy sempat mengikuti kursus jurnalistik. Selain bergiat di Lembaga Seni Surakarta, dia pernah menjadi guru pelajaran prakarya di SMA dan SMEA di Klaten. Dia juga pernah menjadi deklamator "Sajak dan Pembahasan" di RRI Solo.
- Jenderal “Suci” Soedirman
DUA pria beda generasi itu bersitegang. Yang muda, Soedirman (diperankan Adipati Dolken), meminta yang lebih tua, Sukarno (Baim Wong), untuk ikut bergerilya dengannya. Mohammad Hatta (Nugie), yang berdiri di samping Sukarno, hanya mendengarkan. Soedirman khawatir akan keselamatan Sukarno dan Hatta setelah pendudukan Belanda atas ibukota Yogyakarta. Sukarno menolak. Baginya, hutan lebih berbahaya bagi keselamatannya ketimbang di kota di mana banyak orang mengenalnya. Hutan juga tempat bagi Soedirman dan anak buahnya (tentara) berjuang. Sukarno dan Hatta sebagai pemimpin politik akan tetap di kota untuk melanjutkan perjuangan menjalankan negeri. Raut wajah Soedirman menunjukkan kekecewaan. Sukarno-Hatta ingkar. Padahal, mereka sudah berjanji ikut bergerilya apabila Belanda kembali menyerang.
- Si Putih Penunjuk Jalan Jenderal Soedirman
KEBERHASILAN gerilya Jenderal Soedirman terletak pada kesediaan masyarakat membantu perjuangannya. Mereka menyediakan penginapan dan makanan, membuatkan tandu baru, memikul tandu, dan penunjuk jalan karena penduduk setempat lebih mengetahui arah jalan yang akan ditempuh. “Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” tulis buku Soedirman Prajurit TNI Teladan. Pada 24 Januari 1949 malam, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memutuskan jalan dari Desa Jambu menuju Warungbung. Penduduk setempat menyarankan agar paginya sudah harus berangkat ke tempat lain karena ternyata rombongan bergerek mendekati markas Belanda di Kasugihan, yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer.
- Jenderal Soedirman Tak Selalu Ditandu
JENDERAL Soedirman tak selalu ditandu ketika bergerilya. Dari Kompleks Mangkubumen Yogyakarta, dia dan pengawalnya naik mobil dan pick-up. Belanda mengetahui perjalanannya itu, sehingga pesawat cocor merah menghujani rombongan. “Rupanya mereka dapat mengetahui rombongan kami karena pada mobil yang kami tumpangi itu masih terpasang bendera Panglima Besar. Dalam keadaan gawat itu Pak Dirman saya dorong ke semak di pinggir jalan sehingga beliau terhindar dari bahaya maut,” kata Harsono Tjokroaminoto dalam otobiografinya, Selaku Perintis Kemerdekaan. Harsono menjadi penasihat politik Soedirman selama bergerilya. Lolos dari bahaya, Soedirman melanjutkan perjalanan dengan mobil sampai Bantul, lalu Kretek. Untuk menghilangkan jejak, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memerintahkan mobil dan pick-up yang dipakai rombongan dibawa pergi sejauh mungkin, kalau perlu dirusak di lain tempat. Malam itu juga, Soedirman dan rombongan menyeberangi Kali Opak. Sesampainya di seberang kali, mereka dijemput lurah Mulyono Djiworedjo, dengan dokar tanpa kuda.
- Pengunduran Diri Jenderal Soedirman
SEBAGAI pernyataan penutup dalam debat calon presiden pada 22 Juni 2014, Joko Widodo membacakan kutipan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Satu-satunya hak milik nasional Republik yang masih tetap utuh dan tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan hanyalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia). Maka sebenarnya menjadi kewajiban bagi kita sekalian yang senantiasa tetap mempertahankan tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk tetap memelihara agar supaya hak milik nasional republik itu tidak dapat diubah-ubah oleh keadaan yang bagaimana pun juga.” A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia menyebut kutipan tersebut merupakan bagian dari surat Soedirman tertanggal 1 Agustus 1949 kepada Presiden Sukarno yang ditulisnya ketika sakit. Ketika itu, terjadi krisis politik-militer di Yogyakarta. Sesuai Persetujuan Roem-Royen, Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada 3 Agustus 1949.
- Pangeran Makassar Membela Raja Louis-Prancis
SETELAH Daeng Mangalle terbunuh di Siam atas tuduhan konspirasi melawan raja Siam, dua anak laki-lakinya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, kemudian jadi tawanan perang. Beberapa pengikutnya menghabisi istri dan anak Daeng Mangelle dalam pertempuran September 1686 agar tidak menjadi tawanan atau budak, namun Daeng Ruru dan Daeng Tulolo selamat. Keduanya lantas dikapalkan ke Brest, Prancis pada November 1686 dan tiba di sana pada 15 Agustus 1687. “Keduanya masih muda, berumur masing-masing 14 dan 12 tahun,” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan. Keduanya disukai Raja Louis XIV yang berkuasa di Prancis hingga dipersilahkan belajar bahasa Prancis. Bahkan keduanya diperbolehkan memakai nama Louis sehingga Daeng Ruru sebagai Louis Pierre Makassar dan Daeng Tulolo sebagai Louis Dauphin Makassar.
- Penembak Jitu Desersi Ikut Panglima Polem
DI BIVAK Cot Dah, Lhokseumawe, Aceh antara 6-8 Juli 1899, seorang fuselier (prajurit infanteri) asal Ambon dengan nomor stamboek 54784 melapor kepada komandan peletonnya bahwa dirinya sedang sakit. Alih-alih mendapatkan izin, prajurit dari Batalyon Infanteri ke-3 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu malah dipukuli oleh sersan di peleton tersebut. Setelah dipukuli, prajurit bernama Kamby itu segera ditugaskan berjaga. Kamby harus terus waspada terhadap serangan para pejuang Aceh yang menjadi musuh pemerintah kolonial meski tubuhnya sedang sakit. Tugas itu tetap diselesaikannya. Setelah berjaga, Kamby dilaporkan hilang. Sumatra Courant, 7 September 1899, memberitakan, Prajurit Kamby membelot pada malam tanggal 6 menjelang 7 Juli. Kamby yang kabur membawa senjata terbilang canggih itu langsung dicap desertir oleh militer Belanda. Kamby, disebut De Avondpost, 28 September 1903, telah beberapa tahun menjadi serdadu di Aceh. Dia berpindah-pindah kesatuan selama bertugas dan berperang di Aceh. Het Vaderland, 29 Oktober 1903, menyebut Kamby penembak jitu yang terampil. Kamby membelot ke orang Aceh jejaring Panglima Polem, panglima perang Aceh yang sangat berpengaruh di daerah bekas Kesultanan Aceh yang telah dihancurkan pemerintah kolonial. Kamby membawa amunisi cukup banyak, sehingga pembelotannya amat menguntungkan Aceh. Kamby memulai hidup baru. Diberitakan De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, Kamby mengaku tak sadar ketika dibawa oleh orang Aceh. Dia terbaring sakit selama 16 hari di Desa Paja Bakun. Pemuka orang Aceh di situ adalah Tengku Ie di Mata. Setelah bergaul dengan orang-orang Aceh, Kamby yang beragama Kristen memutuskan menjadi muslim. Namanya berganti menjadi Djohan. Dari Paja Bakun, Kamby dibawa ke Blang Si Alif. Di sana dia berada di bawah perintah Teungku di Barat Alui Djalingen. Kamby dengan kemampuan dan kelebihannya diandalkan pihak Aceh dalam melawan Belanda. Hanya saja, di masa awal bersama orang Aceh, dia tidak membawa senapan canggihnya sendiri. Sebaliknya, pembelotan Kamby merugikan militer Belanda bahkan sampai marah. “Dia bertanggung jawab atas kematian atau cedera banyak mantan rekannya,” kata perwakilan militer Belanda, dikutip Het Vaderland, 29 Oktober 1903. Tak hanya itu, militer Belanda juga melakukan pembunuhan karakter dengan menyebutnya “tidak kompeten secara mental.” Kamby disebut berlaku aneh sebagai militer. Ketika masih bertugas, dia diacuhkan para atasannya. Numun, Kamby yang berada ada di pihak lawan juga dianggap berbahaya oleh militer Belanda. Tuduhan Kamby menyebabkan luka dan kematian kawan-kawannya di KNIL dibantah orang Aceh. De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, menyebut, Tuanku Raja Menkuta, kepala kampung terkenal di Aceh, menyatakan bahwa Kamby tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran apa pun. Bahkan, dia dijaga dengan ketat oleh orang-orang Aceh. Lebih dari tiga tahun Kamby bersama orang-orang Aceh. Akhirnya, pada 20 September 1903, Kamby menyerahkan diri di tangsi Paja Meundru, Pasai. Konon dia menyerah dengan sukarela. Kamby yang orang Ambon dianggap pengkhianat oleh serdadu KNIL dari Ambon di Kotaraja (kini Banda Aceh), sehingga dijauhkan dari mereka. Serdadu-serdadu Ambon KNIL dikenal loyal terhadap Kerajaan Belanda, maka Kamby bisa dihabisi jika berada bersama mereka. Sebagai prajurit desersi, hukuman berat menanti Kamby, setidaknya kurungan penjara. Kamby bukan satu-satunya serdadu KNIL yang desersi. Sersan Sersan Matheus, anak Kapten Carli, pernah desersi antara 1891-1896, lalu mati.*
- Anak Kapten KNIL Membelot di Perang Aceh
DARI Italia, Johan Gamari Carli (1802-1872) berangkat ke Belanda. Putra dari Giovanni (Jean) Marie Carli dan Catharina itu lalu mendaftar masuk tentara. Pria kelahiran Dervio, Lecco, Lambordia pada 12 Maret 1802 itu lalu pada 22 April 1826 terdaftar sebagai sukarelawan untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dengan masa kontrak dinas enam tahun. Johan kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Pada 1830-an, pangkatnnya naik menjadi brigadir dalam satuan pengawal Sultan Hamengkuwono V di Yogyakarta. Masa itulah Johan mengawini Josina Justina Kladowits Kladowitz (1813-1881). Di kota itu pula beberapa anak Johan lahir: Fredrik, Petrus, Adrianus Bernardus, Gerardus, Josephine Emeli dan Johanna Petronella. Petrus kemudian mengikuti jejak ayahnya, jadi serdadu. Petrus Carli, disebut arsip Studbook Oost-Indisch Boek, Onderofficieren en minderen, 1832-1949, Nederlands-Indië, archive 2.10.50, inventory number 351, folio 35695, lahir di Yogyakarta pada 16 Mei 1839. Dia terdaftar menjadi sukarelawan pada 25 Oktober 1855 dan kemudian mendapat pangkat sersan. De Indisch Courant, 27 April 1933, menyebut Carli ikut serta dalam Ekspedisi Bone ke-2 –untuk menaklukkan Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan– tahun 1859. Di sana, dia terluka akibat tertembak.
- Hidangan Favorit Napoloon
BERMULA dari kemenangannya dalam Pengepungan Toulon (29 Agustus-19 Desember 1793), yang menyelamatkan Revolusi Prancis, reputasi Napoloon Bonaparte terus menanjak. Karier militer dan kemudian politik terus didakinya secara perlahan tapi pasti. Puncaknya, 9 November 1799, Napoleon mendaulat dirinya sebagai premier consul atau pemimpin tertinggi republik. Namun, capaian itu tak berbanding lurus dengan selera makannya. Berbeda dari Louis XVI (1774-1792) yang menggemari beragam sajian premium macam bouillabaisse (sup ikan), coq au vin (ayam masak anggur), hingga beouf bourguignon (semur daging), Napoloon tak punya makanan favorit. Ia hanya menikmati hidangan-hidangan sederhana seperti kentang dengan bawang bombay, sup kentang, kacang-kacangan rebus, dan omelette. Ia juga tak punya kebiasaan berlama-lama di meja makan. “Napoleon punya kebiasaan makan yang mengherankan. Ia tak pernah makan lebih dari 25 menit. Selain makan dengan cepat porsinya pun sedikit. Favoritnya sekadar kentang yang digoreng dengan bawang bombay. Di rumah, saat makan bersama istrinya, Josephine, ia menyukai ayam panggang,” tulis Frank McLynn dalam Napoleon: A Biography.
- Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin
PRESIDEN Joko Widodo dan para pejabat negara serta figur publik menerima vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021. Vaksinasi ini untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia divaksin yang akan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama (Januari–April 2021) vaksinasi diberikan kepada petugas kesehatan, petugas publik, dan lansia. Sedangkan tahap kedua (April 2021–Maret 2022) vaksinasi diberikan kepada masyarakat rentan dan masyarakat lainnya. Melihat ke belakang, Presiden Soeharto dan rombongan juga pernah menerima vaksin dalam kasus khusus. Saat itu, Soeharto tengah mengadakan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara.
- Penolakan Vaksin Dulu dan Kini
SEJAK beberapa tahun bekalangan, gerakan anti-vaksin muncul di tanah air. Alasan di balik gerakan beragam. Ada yang beranggapan vaksin mengganggu sistem kekebalan anak, dilarang agama, atau mengira vaksin jadi penyebab autisme anak. Meski klaim terakhir telah dibantah para ilmuwan, gerakan ini tak lantas surut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut keraguan penggunaan vaksin jadi satu dari sepuluh ancaman terbesar pada kesehatan global 2019. Buntut penolakan ini tak sepele, ada kemunculan kembali penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksin. Padahal beberapa penyakit pernah hampir diberantas di masa lalu. "Ada infeksi yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun atau kita tidak ingat kapan terakhir kali kita melihatnya," kata Michael Angarone, asisten profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, Amerika Serikat, seperti ditulis Beritagar.ID.





















