top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengacau Banten, Kamid Tewas di Jakarta

    SUATU hari di awal tahun 1955, rumah Jaksa Agung Raden Soeprapto di Jakarta kedatangan seseorang dari Banten. Orang itu bukan orang sembarangan di Banten. Dia seorang bendeleider alias pemimpin gerombolan yang mengacau di daerah Banten. Kamid namanya. “Kamid menyatakan bahwa ia bersama kelompoknya akan menyerah dan seterusnya setia kepada pemerintah RI. Sebagai bukti niat itu, ia menyerahkan sepucuk senjata api miliknya,” catat Iip D. Yahya dalam Mengadili Menteri Memeriksa Perwira: Jaksa Agung Soeprapto dan Penegakan Hukum di Indonesia Periode 1950-1959. Sebuah janji lanjutan diutarakan Kamid si pengacau keamanan yang terkenal kejam meski punya niat untuk menyerah kepada pemerintah itu. Penyerahan massal akan diadakan di Serang, katanya.

  • Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto

    AWALNYA Presiden Soeharto ingin pernikahan anak pertamanya, Siti Hardijanti dan Indra Rukmana, putra pengusaha Edi Kowara Adiwinata, diadakan sederhana di rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, Ibu Tien tidak setuju karena menganggap kurang pantas seorang presiden menikahkan anaknya seperti itu. “Bagaimana rakyat kita nanti? Bagaimana kita bisa memberi tuntunan dalam membina budaya dan adat-istiadat kita kepada mereka di dalam upacara-upacara yang dianggap penting. Mantu itu ‘kan penting dan diharapkan hanya sekali,” kata Ibu Tien. Akhirnya, diputuskan upacara pernikahan diselenggarakan di Istana Bogor pada 29 Januari 1972. Ibu Tien seorang muslimah yang memegang teguh budaya Jawa. Sehingga, untuk kelancaran acara pernikahan, dia meminta kepada Sukamdani Sahid Gitosardjono untuk membuat sesajen. Sukamdani (1928–2017) adalah pengusaha hotel pendiri Grup Sahid dan ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) selama dua periode.

  • Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto

    SUATU hari, Prabowo Subianto membuat ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, terkejut. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, dia minta izin hendak memperkenalkan pacarnya. Bowo, sapaan akrab Prabowo, akhirnya mendapat lampu hijau. Sumitro terkesan dengan kepribadian pacar anak ketiganya itu saat mereka bertemu kemudian. Pak Cum, sapaan akrab Sumitro, juga merasa mengenal perempuan itu. “Siapa wanita ini? She looks familiar,” ujar Sumitro membatin, tulis Hendra Esmara dan Heru Cahyono dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang. Alih-alih menjelaskan lengkap, Bowo cuma memberitahu bahwa pacarnya itu termasuk salah satu murid Sumitro. Belakangan, Sumitro mengetahui bahwa pacar anaknya adalah Siti Hediyati, putri keempat Presiden Soeharto. Selain senang, Sumitro juga agak khawatir dengan keseriusan anaknya menjalin hubungan dengan Titiek, sapaan akrab Siti Hediyati.

  • Dari Matros ke Banteng Marhaen

    TAK lama bekerja di perusahaan keretaapi di Comal, pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini kemudian mendaftar ke masuk Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Mula-mula dia dididik di Kweekschool voor Indische Schepelingen van de Koninklijke Marine (KIS) Makassar. Setelahnya, dengan pangkat Kelasi Kelas Tiga dia ditempatkan di kapal-kapal perang Belanda. Lawi Soemodihardjo, begitu namanya. Dia lahir tahun nol, maksudnya 1900 di Batang. Ayahnya seorang mandor. Posisi ayahnya memungkinkannya mengenyam pendidikan formal di mana dia setidaknya berhasil lulus sekolah dasar berbahasa Belanda hingga bisa diterima di KIS. Selama berdinas di KM, Lawi pernah tinggal di Jagalan nomor 41, Surabaya. Pelaut ini sadar ada yang berbeda antara orang yang berkulit warna sepertinya dengan yang berkulit lebih putih darinya. “Akibat perbedaan nasib yang sangat menyolok antara 2 (dua) jenis asal keturunan Eropeaan dan Inlander, di kalangan anak Marine di Koninklijk Marine (KM) di Hindia Belanda gagasan untuk perbaikan nasib bagi anak marine di kalangan Pribumi (Inlander) diwujudkan dengan dibentuknya persatuan anak marine pribumi dengan nama Inlandsch Marine Bond,” sebut Lawi Soemodihardjo dalam riwayat yang dibuatnya pada 20 Mei 1973 –kemudian terhimpun dalam koleksi arsip Anton Lucas.

  • Kerjasama Gagal Semaoen dan Hatta di Belanda

    PEMBERONTAKAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa dan Sumatra pada November 1926 dan Januari 1927 dapat dengan cepat ditumpas oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan gagal disebabkan buruknya organisasi, terpecahnya pimpinan, hingga represi yang sebelumnya dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap organisasi berhaluan kiri. Pemberontakan itu telah disiapkan jauh-jauh hari oleh sejumlah pimpinan PKI. Sebuah pertemuan yang kemudian dikenal dengan Kongres Prambanan dihadiri kader-kader pucuk PKI pimpinan Sardjono pada 25 Desember 1925. Hasilnya, peserta kongres menyepakati keputusan melawan pemerintah kolonial Belanda.Pemberontakan diharapkan terwujud selambatnya enam bulan setelah kongres. Meski begitu, tak semua orang setuju dengan pemberontakan itu. Salah satunya adalah adalah Tan Malaka yang menilai situasi revolusioner di Hindia Belanda belum benar-benar memenuhi syarat untuk sebuah revolusi. Apa yang dikatakan Tan Malaka terbukti. Pemberontakan gagal dan dalam sepekan, polisi kolonial menangkap ribuan orang yang diduga terlibat pemberontakan. Hukuman berat diberikan kepada mereka; beberapa pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sementara ratusan orang lainnya dibuang ke Boven Digul, Papua.

  • Lampung Tanam Lada Gegara Banten Jualan

    BUDIDAYA lada (Piper nigrum) di Lampung saat ini cenderung berkurang. Menurut penelusuran Abd Rachman Hamid, pengajar sejarah Universtas Islam Negeri Radin Intan, dan kolega penelitinya di Lampung, saat ini perkebunan lada Lampung masih ada di daerah Sukadana, Lampung Timur. Lampung Timur dan Selatan yang tanahnya relatif rendah, kemungkinan daerah penanaman lada. Terlebih, keduanya lebih dekat dengan Banten. Banten adalah kerajaan penting di ujung barat pulau Jawa di masa lalu sekitar abad ke-16 hingga ke-17. Pengaruhnya tak hanya di sekitar bagian barat Jawa, tapi juga sampai ke Sumatra. Letak Banten cukup strategis karena berada di persimpangan jalur pelayaran laut Jawa, Laut Cina, dan Samudra Hindia.

  • Jejak Ali Moertopo dalam Kerusuhan Lapangan Banteng

    LAPANGAN Banteng penuh sesak oleh massa simpatisan Golkar hari itu, 18 Maret 1982. Mereka tumpah-ruah dalam merayakan kampanye Golkar menjelang Pemilu 1982. Suasana makin riuh kala penyanyi dangdut Elvi Sukaesih ikut meramaikan kampanye. Setelah asyik digoyang dangdut, juru kampanye utama Golkar yang juga Menteri Penerangan Ali Moertopo siap-siap naik ke pentas hendak berorasi. “Setelah Ali Moertopo tampil di panggung di tengah teriakan yel-yel kampanye, para penjaga panggung serentak mengeluarkan gergaji dan botol bensin dari balik jaket mereka. Gergaji dan bensin itu dipakai untuk merobohkan dan membakar panggung. Keadaan seketika menjadi sangat kacau. Prosesnya berjalan amat cepat,” kenang Sarwono Kusumaatmadjia, sekretaris jenderal (sekjen) Golkar periode 1983—1988, dalam Memoar Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Koridor Tengah. Di tengah para hadirin yang kaget dan kebingan, sambung Sarwono, orang-orang berbaju AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), organ pemuda Golkar, membuang jaket dan baret AMPI. Di badan mereka ternyata sudah melekat kaus oblong bergambar lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam suasana yang kacau itu, para perusuh ini memekikkan seruan takbir.

  • Tjong Ling, Mata-mata Sultan Banten

    PRAMOEDYA Ananta Toer ditahan hampir setahun (1960-Agustus 1961) karena menerbitkan buku yang bersimpati kepada Tionghoa, berjudul Hoakiau di Indonesia. Buku itu berisi kumpulan tulisannya setiap minggu di Bintang Timur, koran Partindo (Partai Indonesia). Dalam buku itu, Pram menyebut bahwa Hoakiau (orang Tionghoa) di masa penjajahan Belanda mempunyai sumbangsih yang bisa diperhitungkan, tidak dapat disangkal, sekalipun ada juga Tionghoa yang merusak jasa itu. Misalnya, Sacanegara, seorang Tionghoa, berkong-kalikong dengan Ratu Syarifah Fatimah dari Banten, seorang keturunan Arab, yang bekerja sama dengan Belanda hendak menguasai Kesultanan Banten. Pramoedya mengutip buku Fakta yang Dilupakan karya E.H. Bahruddin untuk menyebut contoh orang Tionghoa yang berjasa. Bahruddin menulis, karena Tionghoa bisa berdagang dan berhubungan, tidak jarang mereka menjadi mata-mata.

  • Jack Charlton, Legenda yang Acap Bikin Kiper Berang

    KARIERNYA tak bergelimang harta. Namanya bahkan kalah beken dari sang adik. Namun mendiang Jack Charlton dikenal luas sebagai pemimpin natural dan berkarakter. Meski jasanya terhadap Inggris di Piala Dunia 1966 acap dibayangi para bintang lain, ia dicintai setiap insan di kampung halamannya, Ashington, hingga akhir hayat. Charlton beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada Jumat, 10 Juli 2020 (Sabtu, 11 Juli WIB) di kediamannya karena kanker limfoma di usia 85 tahun. Tak hanya di kota kelahirannya, namanya juga sudah terpatri abadi di benak warga kota Leeds karena ia menghabiskan karier profesionalnya sebagai one-club man di Leeds United (1952-1973). “Dia seorang legenda ketika sepakbola belum seperti sekarang. Dia tak bermain demi banyak uang. Dia mencintai sepakbola dengan sepenuh hati dan dia sosok yang sangat menyenangkan,” tutur Maria Wood, salah satu warga Ashington, dikutipBBC, Sabtu (11/7/2020).

  • Semaoen Anak Didik Sneevliet

    PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.

  • ABRI Masuk Kampus Calon Guru

    UNTUK ke sekian kalinya, Soeharto dilantik menjadi presiden pada 11 Maret 1998. Ketika itu krisis moneter sudah melanda Asia. Ekonomi Indonesia pun hancur seketika. Harga bahan makanan, yang era itu dikenal sebagai Sembilan Bahan Pokok (Sembako), mendadak naik. Begitu pula harga minyak bahan bakar seperti bensin. Soeharto berusaha membuat masyarakat tetap tenang dan menyerahkan semua padanya. Namun sia-sia, sebagian golongan mulai tak percaya lagi padanya. “Sejak 4 Mei 1998, mahasiswa Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan, saat para demonstran terlibat bentrokan dengan petugas keamanan,” catat Djadja Suparman dalam Jejak Kudeta 1997-2005.

  • Perlawanan dari Gejayan

    ALIANSI Rakyat Bergerak menyerukan kepada seluruh mahasiswa dan elemen masyarakat Yogyakarta untuk mengikuti aksi #GejayanMemanggil pada 23 September 2019. Massa akan bergerak dari Gerbang Utama Universitas Sanata Dharma, Pertigaan Revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Bundaran Universitas Gadjah Mada, ke pusat titik kumpul di Pertigaan Colombo, Gejayan. “Gejayan di tahun 1998 menjadi saksi perlawanan mahasiswa dan masyarakat Yogya terhadap rezim yang represif. Di tahun 2019, Gejayan kembali memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah,” demikian bunyi seruan #GejayanMemanggil. Dalam selebaran yang viral, #GejayanMemanggil menyebut pemerintah telah memojokan rakyat melalui RKUHP, RUU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lingkungan dan RUU PKS yang tak kunjung disahkan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page