top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mozes Gatutkaca Dibunuh Aparat Waktu Cari Makan

    SORE telah menghilang di Yogyakarta. Perut pun waktunya diisi. Mereka yang tidak memasak di rumah, tentu harus pergi ke warung kaki lima. Di Jalan Mrican, dulu ada banyak warung tenda yang menjual pecel lele, bermacam makanan nasi, lele goreng dengan sambel serta lalapan kubis dan daun kemanginya. Tentu ada banyak menu selain pecel lele di sana. Seperti orang-orang yang lain, Mozes Gatutkaca juga harus makan petang itu demi memenuhi kebutuhan perutnya. Dirinya, yang tidak masak di rumah, pun harus ke luar menyusuri Jalan Mrican. Dalam perjalanan, ada orang Mrican yang mengenalnya memperingatkannya bahwa adanya kekacauan di sekitar Jalan Gejayan pasca-demonstrasi. Karena merasa tak terlibat dalam demonstrasi, Mozes meneruskan perjalanannya ke arah selatan untuk mencari makan.

  • Jejak Kuasa Raja Sunda

    PERJALANAN penjelajah Portugis Tome Pires akhirnya sampai juga di Jawa. Sebuah negeri yang kebudayaannya jelas berbeda dengan Malaka (basis kekuatan Portugis di Asia) cukup membuatnya tercengang. Kondisi budaya dan politik di sana telah memberi pemahaman baru baginya. Satu kerajaan yang menarik perhatian sang penjelajah adalah Kerajaan Sunda, sang penguasa bagian barat Jawa. Keberadaan Sunda telah banyak diketahui Pires sejak pendaratan pertamanya di Jawa. Ia mendapat kabar dari orang-orang di pelabuhan tentang negeri itu. Berdasar informasi tersebut, Pires lalu menulis di dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental, tentang gambaran Kerajaan Sunda. “Sebagian orang menegaskan bahwa Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa. Sebagian lainnya, yakni orang-orang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan, meyakini bahwa Kerajaan Sunda menduduki sepertiga atau seperdelapan bagian pulau,” tulisnya.

  • Apa yang Salah dengan Lambang Palang Merah?

    PANITIA kerja RUU Palang Merah Indonesia (PMI) DPR RI studi banding ke Denmark dan Turki. Mereka berencana mengubah lambang PMI menjadi Bulan Sabit Merah. Entah atas dasar apa para anggota parlemen itu ingin mengganti lambang PMI. Palang Merah telah ada sejak masa Hindia Belanda. Pada 21 Oktober 1873 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang dibubarkan pada masa pendudukan Jepang. Sekira tahun 1932, Dr. R.C.L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan mengusahakan untuk mendirikan palang merah nasional. Mereka berusaha membawa rancangan itu ke konferensi Nerkai pada 1940, tapi ditolak mentah-mentah. Saat pendudukan Jepang, mereka mencoba lagi, namun kembali gagal. Baru pada 3 September 1945 Presiden Sukarno memerintahkan untuk membentuk badan palang merah nasional. Dua hari kemudian, Menteri Kesehatan Kabinet I, Boentaran Martoatmodjo membentuk Panitia Lima, terdiri dari: dr R. Mochtar (ketua), dr. Bahder Djohan (penulis); dan dr. Djuhana, dr. Marzuki, dr. Sitanala (anggota). Akhirnya, Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945.

  • Sirnanya Kerajaan Pajajaran

    MEMASUKI abad ke-15, hampir tidak ada kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara yang mampu menahan gempuran pengaruh Islam di wilayahnya. Bukan hanya di Jawa, fenomena peralihan kuasa agama itu juga terjadi di pulau-pulau lain. Tidak ada yang mampu menghentikannya. Dan keadaan itu akhirnya sampai juga mengancam tanah Pasundan pada abad ke-16. Di Tatar Sunda sendiri usaha menghalau pengaruh Islam di tengah masyarakat sebenarnya telah dimulai sejak pertama kali agama itu masuk. Tercatat sejak era kekuasaan Galuh, para penguasa terus mengupayakan agar pengaruh Hindu-Buddha tetap menjadi yang utama di Jawa Barat. Bahkan ketika salah seorang pangeran Galuh yakni Haji Purwa, menjadi tokoh Muslim penting di tanah Sunda, kerajaan dengan cepat bertindak. Ia selamanya diasingkan dari negerinya sendiri oleh sang ayah. Namun pertumbuhan Islam yang begitu cepat, ditambah semakin melemahnya kekuatan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara membuat usaha raja-raja di tanah Sunda pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Kekuasaan Hindu-Buddha semakin terdesak. Puncaknya, raja Sunda memindahkan pusat pemerintahannya dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan (sekarang Bogor). Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran pun menjadi benteng terakhir dan salah satu harapan untuk tetap menghidupkan ajaran Hindu-Buddha di Nusantara.

  • Taktik Banten Taklukkan Pakuan Pajajaran

    KERAJAAN Pajajaran didirikan pada 1333 oleh beberapa bangsawan dari Galuh. Kerajaan yang beribu kota di Pakuan (kini, Bogor) itu untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat, dari selatan sampai utara, di bawah kekuasaan tunggal. Pajajaran melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara, termasuk ke Wahanten Girang atau Banten Girang. Sejarawan Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII mencatat, karena tak ada satu indikasi pun yang memungkinkan dugaan bencana alam, terpaksa disimpulkan bahwa Banten Girang musnah dalam perang sekitar tahun 1400. Banten Girang hancur dan perekonomian berhenti.

  • Kala Pesawat Mata-mata Amerika Dimangsa Jet Tempur Soviet

    BUAT mahasiswa seperti Martin Kakosian –di kemudian hari menjadi seniman-pematung tenar Armenia, kuliah lapangan merupakan kesenangan tersendiri. Selain bisa tetap bersama teman-teman, mereka juga akan terhindar dari kejemuan kuliah dalam ruang dan berpotensi mendapatkan hal-hal baru di luar. Maka begitu perjalanan field trip ke ibukota Yerevan tiba, mereka begitu antusias mengikutinya. Mereka berangkat menggunakan bus pada 2 September 1958 siang menjelang sore. Ketika sampai di Desa Nerkin Sasnashen (Nerkin Sasunashen) di Provinsi Aragatsotn, Armenia, Kakosian dan kawan-kawan “disuguhi” pemandangan tak lazim di langit. Pesawat-pesawat tempur MiG-17 AU Uni Soviet terlihat mengelilingi sebuah pesawat angkut yang berbadan lebih besar. Pesawat angkut itu ternyata merupakan C-130A-II “Hercules” AU Amerika Serikat (AS) bernomor ekor 60528. Pesawat yang berpangkalan di Rhein-Main AB, Jerman Barat, itu sedang menjalani tugas di Pangkalan Udara Adana di Incirlik, Turki.

  • Hari Tua Seorang Mata-mata

    FURQAN Lubis ingat betul masa ketika screening yang dijalankan pemerintah Orde Baru menghentikan jalannya menjadi dosen. Dia tak tahu apa yang membuatnya tak lulus. Alih-alih memberi tahu, si petugas malah berpesan: “Kamu jangan mencontoh orang tuamu, ya.” Penasaran, Furqan menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Zulkifli Lubis, ayahnya, menjawab singkat: “Itu kan orang yang tidak mengerti perjuangan.” Zulkifli Lubis tak pernah menceritakan kiprahnya dalam politik dan militer kepada anak-anaknya. Meski punya peran penting di kancah politik nasional pada 1950-an, dia menutupinya rapat-rapat. Pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang terpisah baginya. Anak-anaknya pun akhirnya tak ambil pusing. “Justru yang lebih tahu orang lain daripada anaknya sendiri,” ujar Furqan, anak keenam Zulkifli Lubis. Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya. Sejak paruh pertama 1960-an, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Rezim Sukarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran. Sukarno sendiri menjadi tahanan rumah, dengan akses sangat terbatas. Lubis, yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.

  • Ketika Jepang Tertipu Mata-mata Palsu

    AKSI spionase Jepang di Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II tidak selalu berhasil. Dalam sebuah peristiwa, Jepang justru dengan mudah diperdaya oleh mata-mata gadungan yang berujung pada penangkapan sejumlah spion Jepang di Amerika. Peristiwa ini terjadi pada medio awal tahun 1941. Menurut Terry Crowdy dalam The Enemy Within: A History of Espionage, pada Mei 1941, FBI melaporkan telah menemukan kegiatan spionase seorang perwira Jepang bernama Itaru Tachibana. Sejak tahun 1939, Tachibana beroperasi sebagai pemilik klub malam dengan nama samaran Mr. Yamamoto, memata-matai peningkatan teknologi Angkatan Laut AS dan memimpin jaringan mata-mata terbesar di Pesisir Barat.

  • Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian II)

    SETELAH mendapat pengarahan lengkap, Noor Inayat Khan, putri bangsawan India, bersama agen wanita lainnya diterbangkan ke Prancis pada Juni 1943. Setibanya di sana, wanita bernama sandi Madeleine itu bergegas menuju Paris, di mana dia melakukan kontak dengan Garry, yang sirkuitnya diberi nama Cinema –kemudian diubah menjadi Phono– karena mirip bintang film Gary Cooper. Tak butuh waktu lama, Noor mulai menjalankan tugasnya. Menurut Peter Jacobs dalam Setting France Ablaze: The SOE in France During WWII, pada saat itu pesawat radio nirkabel Noor belum tiba –dia baru akan menerima perangkatnya sendiri beberapa minggu kemudian– sehingga dia bertemu dengan Gilbert Norman, perwira Angkatan Darat Inggris yang bertugas sebagai Eksekutif Operasi Khusus di Prancis selama Perang Dunia II. Pesawat radio Norman disembunyikan di Institut Pertanian di Grignon yang berada di pinggiran barat Paris. Dengan menggunakan perangkat radio milik Norman, Noor dapat melakukan transmisi pertamanya. “Transmisi itu terjadi hanya tiga hari setelah penempatannya dan merupakan respons tercepat dari operator radio setelah tiba di lapangan,” tulis Jacobs.

  • Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian I)

    “WANITA itu sangat pemberani. Dia benar-benar sangat pemberani. Yang paling mengesankan adalah dia memilih untuk meninggalkan Inggris, tempat tinggalnya, dan kembali ke Prancis –tempat dia dibesarkan– untuk berperang melawan Nazi bersama kami, dan untuk kami”. Wanita itu adalah Noor Inayat Khan, operator nirkabel wanita pertama yang disusupkan Inggris ke Prancis pada masa Perang Dunia II. Selain keberaniannya, ketenangan dan keteguhan hatinya saat tertangkap Nazi, membuat musuhnya terkesan. Wanita kelahiran Moskow, Rusia pada 1914 itu keturunan sultan pejuang. Dari garis ayah, Noor adalah cicit dari Tipu Sultan yang berjuluk Harimau dari Mysore, penguasa muslim terakhir di India bagian selatan pada abad ke-18. Sementara ayahnya, Hazrat Inayat Khan dikenal sebagai musisi dan mistikus.

  • Sutan Sjahrir Memodali Chairil Anwar Jualan Barang Bekas

    KAMP interniran Salemba menjadi salah satu tempat interniran bagi warga Belanda di Jakarta semasa pendudukan Jepang. Salah satu penghuni kamp ialah seorang wanita Belanda penghuni rumah di Van Brenweg 19 (kini Jalan Latuharhary), Menteng, Jakarta Pusat. Ketika sang nyonya dalam interniran, rumahnya disewakan kepada Sutan Sjahrir. “Rumah itu juga memiliki garasi, tempat Chairil Anwar seharusnya tinggal. Namun, pemilik Belanda itu menyimpan dua peti kayu besar (yang digunakan untuk pengiriman) di dalam garasi dan peti-peti itu terlalu berat untuk dipindahkan. Lagi pula, tidak ada ruang di dalam rumah untuk menaruhnya,” tutur Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmeg and the Indonesian Nationalist Movement. Di rumah kawasan elite itu, Sjahrir tak tinggal sendirian. Sjahrir memboyong serta Des Alwi dan Lily, anak-anak angkatnya semasa pengasingan di Banda Neira. Turut menumpang pula keponakan Sjahrir, Chairil Anwar bersama ibunya, Saleha. Sepupu jauh Sjahrir itu tak lama tinggal di sana. Saleha kemudian membuka usaha warung nasi di Jatinegara, namun karena kurang berhasil lantas pulang kembali ke Medan. Des Alwi menggambarkan suasana di rumah Sjahrir yang cukup nyaman itu. Salah satu sisinya menghadap ke Sungai Ciliwung dan jalur kereta api Manggarai-Tanah Abang di sisi lainnya. Hanya kereta sesekali melintas yang mengganggu ketenangan. Nyonya Belanda pemilik rumah, entah bagaimana, berhasil keluar dari kamp sebulan sekali untuk mengutip uang sewa rumahnya sebesar 60 gulden. Biaya sewa itu terbilang murah apalagi rumahnya sudah dilengkapi perabotan. Saban kali ketemu, nyonya rumah dan Sjahrir selalu akrab bercengkerama. Sjahrir berjanji akan menjaga dengan baik rumah dan perabotannya seperti miliknya sendiri. Namun, Sjahrir ternyata tongpes alias kantong kempes. Dia tak punya kerjaan tetap karena menolak bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Sjahrir hanya beroleh sedikit sangu dari kawan-kawan seperjuangannya. Menurut Lily, putri angkat Sjahrir kepada penulis biografi Sjahrir, Rudolf Mrazek, Sjahrir melatih anak-anak angkatnya untuk hidup sederhana. Sjahrir juga mengajari mereka agar mandiri, termasuk membekali dengan keterampilan seperti mengetik untuk dapat melamar pekerjaan. “Oom Sjahrir tidak memiliki penghasilan, karena, entah mengapa, dia selalu berkeliling daerah, jauh dari rumah. Kemudian kami tahu bahwa kepergian ini terkait dengan gerakan bawah tanah,” kata Lily dikutip Mrazek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia. Chairil Anwar yang lebih dulu punya akal untuk mencari cuan lewat jual beli barang bekas. Dia punya ide membeli sepeda, radio, kulkas, peralatan makan hingga barang pecah belah dari keluarga Belanda, lalu menjualnya kepada orang-orang Indonesia. Saat itu, banyak warga Belanda dan Indo-Belanda yang terimpit ekonomi akibat tekanan pendudukan Jepang. Untuk itu, Chairil minta pinjaman uang kepada Sjahrir. Sjahrir bersedia memodali asalkan Des Alwi dilibatkan karena sama-sama menganggur. “Dengan lima puluh gulden, Chairil dan saya pergi dari rumah ke rumah di antara keluarga-keluarga Belanda dan Eurasia yang kehilangan suami dan ayah, yang semua prianya berada di penjara. Kami membeli sepeda seharga tiga puluh lima gulden dari seorang wanita Belanda yang suaminya ditahan di kamp penjara Jepang,” terang Des Alwi. “Dua hari kemudian kami menjualnya seharga tiga puluh tujuh gulden kepada Amir Hamzah Siregar, seorang pengacara muda teman Paman Rir. Chairil membeli buku-buku seri Multatuli, dan saya mengambil untung dari lampu dan dinamo yang telah kami lepas dari sepeda.” Jual-beli barang bekas itu perlahan menjadi usaha nirlaba semata-mata untuk membantu Sjahrir mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya. Mulai dari tabung radio dan suku cadang yang tidak terdaftar, dinamo listrik kecil, pistol, buku, mesin tik, pita, alat tulis, dan kabel. Alat-alat itu berguna bagi Sjahrir untuk menyokong perjuangannya di bawah tanah. Salah satunya adalah radio yang digunakan Sjahrir untuk memantau kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Des Alwi menuturkan, dirinya dan Chairil membeli radio Philips dari wanita Indo seharga 125 gulden. Sjahrir membayarnya dan memeriksa radio tersebut. Saat itu, mendengarkan siaran radio dari negara-negara Sekutu secara sembunyi-sembunyi bisa dipenjara bahkan dipancung oleh dinas polisi rahasia Jepang, Kempeitai. “Ia menemukan bahwa radio tersebut, meskipun terdaftar dan disegel oleh Jepang, dapat diubah ke gelombang pendek tanpa merusak segel dengan menekan kenop dengan hati-hati,” kenang Des Alwi. Sjahrir memereteli radio tersebut agar bisa mengudara tanpa melepas segelnya. Pengeras suaranya dilepas, dibungkus dengan kain batik, lalu disembunyikan di balik pakaian di dalam lemari. Dalam biografi Chairil yang ditulis Hasan Aspahani, kata “batik” menjadi kode Sjahrir kepada Des Alwi dan Chairil agar segera menyiapkan radio perangkat rahasia tersebut, jika ingin mendengarkan siaran, dengan sebuah headphone. Bahkan, Des Alwi pernah memberanikan diri membawa radio yang selalu dibungkus kain batik itu melewati pos serdadu Jepang di ujung jalan. Supaya tidak mencurigakan, dia membawanya naik delman di siang bolong. Ini adalah radio bersejarah dan mestinya tersimpan di museum perjuangan. “Karena radio itu dibeli Sjahrir untuk memantau perkembangan situasi dunia,” tandas Hasan. “Sadar atau tidak, peran kecil yang dilakukan Chairil [dan Des Alwi] itu, amat besar artinya bagi pergerakan kemerdekaan.”*

  • Arsitek Kesultanan Banten

    DUA pucuk surat tulisan tangan Kyai Ngabehi Cakradana tersimpan di Kopenhagen. Di muka amplop salah satunya bertahun 1671-1672, ditambahkan catatan dalam bahasa Denmark: "Cinabij Sabandorz hos sultanen til Bandtam" artinya "syahbandar kota Pecinan untuk sultan Banten." Dari kata-kata itu diketahui bahwa Cakradana adalah syahbandar kerajaan sekaligus pemimpin masyarakat Tionghoa. Ternyata tak hanya itu. Dia juga dikenal sebagai arsitek permukiman dan pertahanan Banten. Tak diketahui pasti tempat dan tanggal lahir Cakradana, tapi kemungkinan dia lahir sebelum tahun 1630. Dia keturunan Tionghoa dan menyandang nama Tantseko. Mengawali karier sebagai pandai besi, dia kemudian diangkat menjadi syahbandar dan kepala bea cukai di bawah syahbandar utama, Kaytsu. Diduga, kedudukan sosial Cakradana naik berkat Kaytsu. Cakradana menggantikan Kaytsu, yang wafat pada 1674, sebagai syahbandar utama pada 23 Februari 1677 dengan gelar Kyai Ngabehi Cakradana. Dia meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam. Sebuah sumber Inggris tahun 1666 menyebut Cakradana "orang yang paling disukai sultan." Pedagang Prancis di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen, tak ragu menulis: "Jelas bahwa dia adalah anak emas raja."

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page