top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Babak demi Babak Kehidupan Julisa Rastafari

    PELUIT hijau bertali hitam itu senantiasa dikalungi. Selama sesi dua jam latihan di arena outdoor Gelora Bung Karno sore itu, Julisa Moertoetyana Rastafari memilih tarik suara untuk memberikan setiap arahan pada anak-anak asuhnya, tim basket putri Indonesia Muda (IM). Tidak hanya lihai memainkan telunjuk untuk memberi instruksi, ia acapkali memberi contoh dengan berlarian mendribel bola melewati hadangan anak-anak didiknya hingga bola masuk ke dalam ring dengan sempurna. Padahal, usianya sudah tak lagi muda. Pada 30 Juli lalu ia menginjak usia 57 tahun. Lebih dari separuh usianya dihabiskan di arena basket, baik sebagai pemain, pelatih, maupun pengurus Perbasi. “Ya melatih sampai saya enggak kuat aja. Lagipula Indonesia Muda sudah seperti rumah bagi saya,” tutur Julisa kepada Historia.ID menjawab pertanyaan sampai kapan akan berkiprah di dunia basket.

  • Catatan Digoelis Perempuan dari Tanah Pembuangan

    DI ATAS kapal yang berisi ratusan orang-orang yang sengaja disingkirkan ini aku memulai kisahku sebagai orang buangan. Kami, ratusan orang yang terombang-ambing di tengah laut menuju wilayah timur Nusantara, akan dibawa ke tempat tinggal baru, yaitu Boven Digoel. Tempat buangan bagi orang-orang yang dianggap pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai pengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat. Kami dibuang karena dianggap ikut ambil bagian dalam pecahnya pemberontakan 1926/1927 yang terjadi di wilayah Jawa dan Sumatra. Tidak, kami tidak melakukan tindakan keji seperti apa yang dilakukan para penjajah itu di negeri kami. Kami hanya menuntut hak yang sudah sepatutnya didapatkan oleh seorang tuan rumah yang wilayahnya dieksploitasi secara besar-besaran oleh pihak lain, yang menganggap wilayah itu sebagai milik mereka tanpa memikirkan nasib para penduduk lokal yang terdampak besar atas perlakuan sewenang-wenang yang mereka lakukan. Namun, bagi pemerintah kolonial, perlawanan kami yang meminta kembali hak-hak untuk mengelola wilayah kami sendiri justru dianggap sebagai sebuah kejahatan berat. Oleh sebab itu, hukuman yang diberikan harus lebih kejam dari dinginnya jeruji penjara. Dibuang dan diasingkan dari lingkungan tempat tinggal kami menjadi pilihan. Mereka ingin kami jera dan tidak lagi membangkang.

  • Sukarno dan Jah Rastafari

    KEDEKATAN Presiden Sukarno dengan para pemimpin dunia tak diragukan lagi. Bukan hanya dengan para pemimpin negara-negara Asia, Bung Besar juga menjalin persahabatan dengan para pemimpin benua hitam. Dari Presiden Aljazair Ben Bella hingga bapak bangsa Ghana, Kwame Nkrumah. Tak ketinggalan, salah satu pemimpin Afrika kharismatik, Haile Selassie. Haile Selassie merupakan kaisar Ethiopia periode 1930 hingga 1974. Tak hanya sebagai pemimpin Ethiopia, Haile Selassie bahkan dianggap sebagai “Yesus”-nya gerakan Rastafari atau biasa disebut “Jah”. Istilah Rastafari sendiri diambil dari nama Haile sebelum berkuasa, yakni Ras Tafari Makonnen. “Ras” merupakan gelar pangeran. Gerakan Rastafari memiliki banyak pengikut sejak pertama kali berkembang pada 1930-an. Gerakan yang lekat dengan musisi Bob Marley ini bahkan berkembang pesat di Jamaika dan wilayah Karibia lainnya. Nama besar Haile ini tentu tak luput dari perhatian Sukarno.

  • Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan

    SEBAGAIMANA wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi tempat berteduh yang ada di Petamburan. Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. Di TPU itulah Sersan Pongoh dimakamkan. Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat bintang jasa karena terlibat dalam operasi-operasi militer Belanda. Sersan Jesajas Pongoh lahir di Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878. Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897. Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, dia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL.

  • Memandang Laku Menggelandang

    BERJARAK satu kilometer dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, terhampar sebuah taman kecil. Pepohonan menaunginya. Begitu rindang. Cukup untuk menghalau terik matahari. Suatu siang, dua lelaki duduk beralas matras di taman. Pakaian mereka lusuh, dari atas sampai bawah. Di dekat mereka ada buntelan sarung berisi pakaian. Laki-laki pertama masih muda, berusia 30 tahun. Dia pendiam dan tertutup. Dia menyebut dari Papua. Laki-laki kedua sudah renta, kelahiran Jakarta tahun 1944. “Kami bertemu untuk satu alasan: sama-sama menggelandang,” ujar Bambang Sucipto, lelaki renta itu. Lalu Bambang bercerita tanpa jeda. Dia menggelandang sejak 1994. “Kegagalan cinta. Rumah tangga saya hancur,” katanya. Dia masih punya anak dan saudara, tapi tak mau tinggal bersama mereka. “Biar saja saya jadi gembel. Biar bisa merasakan panas, hujan, kelaparan. Jadi orang kecil,” ujar Bambang, terkekeh.

  • Perburuan Gelandangan

    WETBOEK van Strafrecht (WvS) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 1915 menempatkan gelandangan sebagai pelaku pidana. Karena itu, pemerintah kolonial menangkapi banyak gelandangan melalui serangkaian operasi. Sasaran awalnya para anggota Sarekat Kere, organisasi penaung kaum gembel dan gelandangan, pada 1919. Resesi ekonomi 1930-an di Hindia Belanda membuat jalanan kota-kota besar ramai oleh gelandangan. Ini menjadi masa paling sibuk bagi pemerintah kolonial dalam memburu gelandangan. Mereka menyisir gelandangan dari jalan, memasukannya ke kamp-kamp kerja, dan menyingkirkannya dari masyarakat. Dalam pandangan pemerintah kolonial, gelandangan adalah inang virus kemalasan dan kerusakan moral bagi lingkungan sekitar. “Pusat-pusat kerja dan kamp-kamp kerja terutama ditujukan untuk menjaga pengangguran Eropa dari kemalasan, untuk mengurangi jumlah tunawisma dan orang-orang Eropa miskin di jalan-jalan serta untuk mencegah pengangguran membawa kerusakan moral bagi pemuda Eropa,” catat John Ingleson dalam Perkotaan, Masalah Sosial, dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial.

  • Gelandangan Revolusioner

    HUKUM di Indonesia melarang pergelandangan. Ini tersua dalam Wetboek van Strafrech (Wvs) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana buatan kolonial pada 1915 dan Rancangan KUHP 2019. Hukuman untuk orang menggelandang adalah penjara tiga sampai enam bulan pada WvS dan denda sejuta rupiah pada RKUHP. Apa salahnya menggelandang sampai dipukul rata jadi urusan pidana? Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, menggelandang pernah menjadi tindakan heroik untuk mempertahankan Republik. Ini terjadi di Yogyakarta semasa 1948—1949. Di sinilah pusat pemerintahan Republik Indonesia setelah Sekutu dan Belanda menguasai Jakarta pada 1947. Tapi tak lama kemudian, Yogyakarta pun berada dalam kendali pasukan Belanda pada Desember 1948. Mereka menawan Sukarno dan Hatta. Kedaulatan Republik terancam. Diplomat Republik kemudian mengupayakan perundingan dengan Belanda, sembari coba menarik dukungan negara-negara lain agar menekan Belanda.

  • Gelandangan Selalu Jadi Pesakitan

    “SETIAP orang yang bergelandangan di jalan atau di tempat umum yang mengganggu ketertiban umum akan mendapatkan sanksi paling banyak Rp1 juta,” demikian bunyi Pasal 432 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Pasal ini menjadi perdebatan banyak orang. Sebilangan orang melihat Pasal 432 RKUHP bertentangan dengan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945. Isinya amanat bagi negara untuk memelihara fakir miskin dan orang telantar. Sebagian lainnya justru memandang Pasal 432 RKUHP lebih baik daripada pasal tentang gelandangan buatan pemerintah kolonial. Hukumannya penjara 3-6 bulan. Tanpa memandang apakah gelandangan itu mengganggu ketertiban umum atau tidak. Tapi dua pasal tersebut memiliki kesamaan sentimen: gelandangan sebagai pelaku pelanggaran pidana.

  • Papa Mengepung Kota

    RAJA Dangdut Rhoma Irama punya gambaran tentang gelandangan, yang dia sebut tunawisma. Dengarkan saja lagunya, “Gelandangan”: Langit sebagai atap rumahku/ Dan bumi sebagai lantainya/ Hidupku menyusuri jalan/ Sisa orang yang aku makan. Dalam sejarah Nusantara, gelandangan adalah para pengembara atau pengelana, seperti ditulis dalam kitab termasyhur Jawa Serat Centhini, yang ditulis pada awal abad ke-19. Mereka, tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memasuki tempat-tempat paling tersembunyi di dunia pinggiran dan terpesona olehnya. Dunia pinggiran itu berfungsi sebagai katup pengaman sosial maupun cagar budaya. Hilangnya hutan-hutan mengakibatkan mereka beralih ke daerah-daerah kumuh di kota-kota besar dan mulai kehilangan gengsi.

  • Cerita Penderita Kusta Jadi Mata-mata di Perang Dunia II (Bagian I)

    JOSEFINA “Joey” Guerrero berjalan terseok-seok di jalanan Manila ketika ibu kota Filipina itu diduduki Jepang pada 1940-an. Sebagai bagian dari gerakan bawah tanah menentang pendudukan Jepang, Joey mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi tentang gerak-gerik prajurit dan fasilitas militer Jepang. Selain itu, ia juga berperan sebagai kurir yang menghubungkan informasi rahasia di antara gerilyawan. Pasukan Dai Nippon terkenal keji dalam mengawasi masyarakat di wilayah koloninya. Mereka tak segan melakukan kekerasan kepada orang-orang yang dituduh mata-mata atau gerilyawan saat melakukan pemeriksaan dan interogasi. Akan tetapi, sikap prajurit Jepang berbeda kepada Joey karena kondisinya sebagai pengidap kusta. Dalam artikel “Heroes: Joey” di majalah TIME, 19 Juli 1948, dilaporkan bahwa sebelum perang Joey adalah seorang primadona di masyarakat Manila. Ia muda, cantik, dan lincah. Suaminya seorang mahasiswa kedokteran kaya raya di Universitas Santo Tomas. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Wanita yang lahir di Quezon, Filipina, pada 1917 dengan nama Josefina Veluya itu mulai menderita kusta pada 1941.

  • Cerita Penderita Kusta Jadi Mata-mata di Perang Dunia II (Bagian II-Selesai)

    PADA suatu malam di bulan Desember 1944, Joey sedang berbaring di tempat tidur ketika tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang semakin dekat. Wanita yang terlahir dengan nama Josefina Veluya –lalu dikenal sebagai Josefina Guerrero setelah menikah dengan mahasiswa kedokteran bernama Renato Maria Guerrero– di Filipina pada 5 Agustus 1917 itu terkejut saat mengintip dari jendela, sebuah mobil perwira Jepang berhenti di depan rumahnya di Ermita. Jantungnya berdegup kencang. Sejak beberapa waktu lalu ia menjadi buruan Kempeitai yang terkenal sangat kejam karena dicurigai sebagai mata-mata yang membantu gerilyawan Filipina dan militer Amerika Serikat. Rekan-rekan gerilyawan meminta Joey untuk menghilang selama beberapa waktu. Namun, ketika pencarian terhadapanya mulai mengendur, ia kembali beraksi sebagai mata-mata. Tak lama setelah mengintip dari jendela, suara langkah kaki diikuti ketukan keras di pintu menyadarkan Joey dari kepanikan. Ia bertanya-tanya adakah yang mengadukannya ke pihak Jepang dan membocorkan informasi tempat tinggalnya kepada mereka. Ketika ketukan semakin keras, ia pun membuka pintu. Begitu pintu dibuka, dua orang pria menerobos masuk ke dalam rumah Joey. Ternyata, kedua tamu tersebut bukan orang Jepang, melainkan seorang gerilyawan Filipina dan perwira Amerika. Mereka meminta izin untuk menyimpan “ban cadangan”, yang sebenarnya adalah bahan peledak rakitan, di rumahnya. Bahan peledak itu kemudian digunakan gerilyawan Filipina untuk menyerang titik-titik pertahanan dan fasilitas milik Jepang.

  • Jaksa Priyatna Tantang Jenderal Duel Pistol

    SEPAK terjang Priyatna Abdurrasyid di dalam Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara) akhirnya menghasilkan banyak musuh di kalangan Angkatan Darat. Banyak pejabat perusahaan negara dan militer berlindung di balik orang-orang kuat seperti Sukarno atau Jenderal Yani yang tak sadar dijadikan tameng oleh mereka. Sementara itu Operasi Budhi yang keras melawan korupsi pun mengusik perasaan presiden ketika Direktur Perusahaan Dagang Negara Harsono Reksoatmodjo diperiksa atas tuduhan menggunakan wewenangnya untuk mendirikan perusahaan pribadi. Orang dekat presiden itu dituduh telah merugikan negara ratusan juta rupiah. Priyatna ingat suatu sore dia sampai harus meminta nasihat Menteri Pertama Djuanda ketika tugas mengharuskannya menangkap Harsono. Priyatna tak takut, tapi gamang lantaran tak ingin melukai hati sang presiden.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page