top of page

Hasil pencarian

9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • S.K. Trimurti di Tengah Perpecahan

    RUMAH di Pakuningratan, Yogyakarta, ini cukup besar tapi masih kosong. Rumah ini pemberian Ny. Sri Mangunsarkoro, salah seorang pendiri dan ketua Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Tak kehilangan akal, S.K. Trimurti menyurati kawan-kawan seperjuangannya tentang niatnya membuat kursus kader. Isinya, minta bantuan. Respons pun berdatangan. Sumbangan berupa tikar, bantal, guling, alat dapur, hingga beras mengisi rumah itu. Bangku dan papan tulis dipinjam dari sana-sini. Trimurti pun siap menghelat kursus kader Barisan Buruh Wanita (BBW) seluruh Jawa. Jumlah peserta sekira 30 orang, dengan lama kursus sebulan. “Tentu saja mereka harus mau tidur di bawah, di atas tikar. Padahal, di antara para peserta ada yang datang dari kelompok ningrat, kaum terpelajar yang termasuk orang berada. Tetapi begitulah pejuang; tidak usah manja,” ujar Trimurti dalam biografinya yang ditulis Soebagijo I.N. Para peserta mendapat pelajaran tentang langkah perjuangan. Selain Trimurti, ada pengajar lain yang datang dan membantu tanpa pamrih. Trimurti sangat gembira. Setelah kursus kader berakhir, para siswa pulang, mengemban tugas untuk Republik yang masih muda.

  • S.K. Trimurti Bukan Tokoh Kelas Berat

    SETELAH beberapa hari menjalani tahanan rumah, S.K. Trimurti mendapat panggilan untuk datang ke penjara Jurnatan, Semarang. Seorang Kenpeitai Jepang bernama Nedaci menginterogasinya. Interogasi tak berjalan lancar karena perbedaan bahasa. “Pokoknya Trimurti mengerti bahwa Jepang mendakwa dia mau melawan Jepang,” tulis Soebagijo I.N dalam S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa. Trimurti menjawab bahwa dia tak memusuhi Jepang, Belanda, maupun bangsa lain. Yang dimusuhinya hanyalah sikap menjajah dari bangsa-bangsa itu. Jika Jepang datang untuk menjalin persaudaraan, dia akan menyambutnya dengan baik. Tapi kalau mereka datang untuk menjajah, dia akan melawan. Mendengar jawaban Trimurti, Nedaci memelototkan mata sembari menyemburkan sumpah serapah. Dia lalu berdiri dan duduk di bangku sebelah Trimurti. Trimurti melirik. Nedaci mengambil pentungan karet di meja dan memukul kepalanya berkali-kali. “Pada saat-saat tertentu dia sudah tidak merasakan sakit lagi,” tulis Soebagijo I.N.

  • S.K. Trimurti Bergerak

    DI TENGAH kuburan Cina di Wonodri, Semarang, di bawah terang bulan, mereka mengetik atau mencetak pamflet dengan menggunakan agar-agar, “karena tak ada percetakan yang mau mencetak,” ujar S.K. Trimurti kepada Erwiza Erman. Selesai, pamflet dibungkus kain lalu disimpan. Keesokan harinya, dua polisi rahasia Belanda (PID) datang dan menemukan pamflet itu. Trimurti dan Sutarni digelandang ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan, Trimurti mengaku sebagai pembuat pamflet itu, sehingga Sutarni dibebaskan. Setelah menjalani persidangan, untuk kali pertama Trimurti merasakan dinginnya penjara. Pada 1936, dia ditahan sembilan bulan di penjara wanita di Bulu, Semarang. Sementara Sutarni tetap menjalankan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI).

  • Gadis Berlawan dari Sawahan

    SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak. “Marak, artinya menghadap, mengabdi kepada suami. Macak, berarti menghias diri, masak, mengolah dan menyediakan makanan dengan baik, sedang manak adalah melahirkan anak. Ketika petuah-petuah semacam itu meluncur dengan derasnya ke telinga saya, saya masih terlalu kecil untuk membantah,” tulis Trimurti dalam memoarnya, “Dari Politik ke Kebatinan” yang dimuat majalah Tempo, 21 April 1990. Lahir dengan nama Surastri pada 11 Mei 1912 di Sawahan, Boyolali, Trimurti tumbuh di kala kesadaran perempuan mulai meningkat. Di Jakarta sudah berdiri organisasi perempuan pertama Poeteri Mardika yang bertujuan meningkatkan derajat perempuan, yang lalu diikuti perkumpulan serupa di sejumlah daerah. Gagasan kemajuan perempuan juga meluas. Namun, kungkungan adat dan pandangan kolot belum sepenuhnya hilang.

  • Wanita Perkasa Pembela Jelata

    API Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, menyala dalam dadanya. Sepanjang hidupnya, Surastri Karma (S.K.) Trimurti tak pernah mengesampingkan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Sebuah lagu berjudul “Dialog Suami-Istri” bisa mewakili kekaguman sejumlah orang akan peran Trimurti, juga Kartini, dalam pendidikan. Lagu ini, dibawakan kakak-beradik Rita Ruby Hartland dan Yan Hartland, begitu akrab bagi pencinta musik country era 1980-an. Liriknya menyiratkan kebahagiaan sepasang suami-istri karena putri mereka menjadi seorang guru, yang mengamalkan ilmu untuk perangi kebodohan hingga jauh ke ujung desa. Begini sepenggal liriknya: Pergilah anakku simpan doaku… songsonglah tugasmu dengan senyummu banyak saudaramu yang masih buta huruf ajarilah mereka… Jadilah Kartini atau S.K. Trimurti pintarkanlah bangsamu. Namun, Trimurti bukan sekadar seorang pendidik. Dia juga wartawan, pengarang, politisi, serta aktivis buruh dan perempuan tiga zaman yang menunjukkan diri sejajar dengan sejawatnya, kaum lelaki. Dia pejuang perempuan yang komplet, yang disegani kawan maupun lawan. “Trimurti dikenal keberaniannya, kelincahan otaknya dalam perdebatan politik dan ketajaman penanya,” tulis Achmad Subardjo Djojoadisuryo dalam Lahirlah Republik Indonesia. “Yu Tri adalah satu pribadi yang istimewa dan yang jarang terdapat di kalangan masyarakat Indonesia. Api yang tetap menyala dalam tubuhnya tak mungkin dapat dipadamkan,” tulis Adam Malik dalam otobiografinya, Mengabdi Republik. “Bagi saya pribadi Yu Tri tetap Yu Tri, seorang ‘wanita jantan’ tanpa takut dan tanpa pamrih telah mengabdikan dirinya untuk kemerdekaan bangsa dan negara dan seiring ditimpa percobaan namun sama sekali tidak menyebabkannya menyesal.”* Berikut ini laporan khusus S.K. Trimurti Gadis Berlawan dari Sawahan S.K. Trimurti Bergerak Bukan Tokoh Kelas Berat Di Tengah Perpecahan Kiprah Menteri Bersandal Di Tengah Tokoh Kiri Murid Politik Bung Karno Menyalakan Api Kartini Pecah Kongsi Perkawinan Biarkan Batin Melayang Dua Buku Menguak Buruh

  • Kejaksaan Agung Membakar Buku-buku Komunisme

    SETELAH menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Letjen TNI Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi di bawahnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 1/3/1966. PKI ditumpas hingga ke akar-akarnya. Korbannya ditaksir mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Namun, PKI tetap ditakuti hingga kini. Pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran komunisme ditetapkan dalam TAP MPRS No. XXV/1966 tanggal 5 Juli 1966 yang masih berlaku hingga kini. Berdasarkan ketetapan tersebut dan UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan, Kejaksaan Agung memiliki wewenang untuk menyita dan memusnahkan karya-karya tentang komunisme. “Dengan pemusnahan inilah wewenang Kejaksaan Agung dilaksanakan,” kata Susanto Kartoatmodjo, jaksa dari Kejaksaan Agung, kepada Ekspres, 1 September 1972. Hasil razia Kejaksaan Agung selama empat bulan (April-Juli 1972) fantastis.

  • Tidak Membakar Buku

    BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad Saw. Pada 13 Juni 2012, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu. Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi tetapi tanpa pengerahan massa. Yang terjadi adalah polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode.

  • Kisah Kerajaan Lamuri di Aceh

    LEWAT Prasasti Tanjore dari abad ke-10, bangsa Cola di India mengingat kekuatan dahsyat Ilamuridesam. Kerajaan ini menandai adanya sistem kerajaan paling awal di Tanah Rencong. Prasasti Tanjore dikeluarkan penguasa Cola, Rajendracola I pada 1030, sekira lima tahun setelah ekspedisi ke wilayah Sumatra dan sekitarnya. Di dalam prasasti, Ilamuridesam tercatat sebagai salah satu negara yang ditaklukkan, selain Sriwijaya, Pannai, dan Malayu. George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha mengidentifikasi Ilamuridesam sebagai Kerajaan Lamuri. Lokasinya diperkirakan di ujung utara Sumatra. Setelah dikalahkan Kerajaan Cola, tulis O.W. Wolters dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII, Lamuri diubah menjadi salah satu mandala kerajaan Tamil itu. Penamaan Ilamuridesam pun baru ada sejak kekalahan itu.

  • Benarkah Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara?

    DESA Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di sana terdapat tinggalan Kerajaan Lamuri berupa bangunan seperti benteng, kompleks pemakaman, dan bekas hunian yang ditandai sebaran fragmen keramik. Di pemakaman itu ditemukan beberapa nisan unik. Berbentuktugu persegi yang meruncing ke atas seperti piramida. Penduduk setempat menyebutnya plakpling. Menurut Repelita Wahyu Oetomo, peneliti dari Balai Arkeologi Medan, nisan itumungkin bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Pasalnya, bentuk nisan itu menyerupai lingga dan menhir.Salah satu nisan ditemukan di dalam Benteng Kuta Lubuk. Cirinya menunjukkan masa yang jauh lebih tua daripada benteng itu.

  • Ujung Jalur Rempah dan Festival Bahari Pasaia

    BANYAK orang membayangkan wujud kekayaan yang luar biasa di ujung barat Jalur Rempah. Bayangan tersebut tidaklah salah, namun ada hal lain, yang tidak kalah menariknya, yaitu kebudayaan bahari, yang lebih berbicara kepada orang biasa, bukan raja/ratu, bangsawan, pejabat, atau pengusaha besar yang menguasai bisnis perdagangan jarak jauh. Jalur Rempah memungkinkan ribuan orang hilir mudik antarbenua, melintasi lautan dalam hitungan bulan, dengan bayangan kekayaan yang luar biasa, namun juga risiko yang sangat besar, termasuk kehilangan nyawa. Kebanyakan orang ini adalah orang biasa, sekedar menjalankan dan tidak terlibat di dalam penyusunan rencana besar. Salah satu kategori dari orang-orang biasa ini ada para pelaut Basques, penduduk sebuah negeri kecil di bagian utara Spanyol. Mereka memang hanya salah satu pihak, tetapi peran mereka di dalam perkembangan Jalur Rempah sangatlah besar. Adalah Juan Sebastian Elcano, orang Basques kelahiran kota Getaria, yang menuntaskan pelayaran keliling dunia pertama dalam sejarah.

  • Jalan Panjang Menghubungkan Sumatra

    PULAU Sumatra telah menjadi primadona sektor ekonomi sejak dulu kala. Beberapa wilayah di pulau itu merupakan sentra perkebunan tanaman keras, pertambangan, hingga destinasi wisata. Dengan sumber daya tersebut, Sumatra menjadi penghasil devisa negara terbesar setelah Jawa. Itulah sebabnya, pemerintah saat ini sedang menggencarkan pembangunan infrastruktur di Sumatra dengan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Menurut proyeksinya, Jalan Tol Lintas Sumatra akan membentang dari Lampung sampai Aceh sepanjang 2700 km yang terdiri dari 24 ruas jalan. Untuk mengerjakannya, PT Hutama Karya –BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur– ditunjuk sebagai pelaksana proyek bernilai investasi 206 trilyun ini. Dimulai pada 2014, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra diperkirakan akan rampung pada 2024 mendatang. “(Jalan Tol) Trans Sumatra penting sekali untuk menghubungkan wilayah Sumatra yang sebelumnya seperti kantung-kantung ekonomi yang berdiri sendiri,” kata Bondan Kanumoyoso. Menurut sejarawan dari Universitas Indonesia itu, Jalan Tol Trans Sumatra merupakan kesinambungan sedari zaman kolonial.

  • Menyuarakan Nasib Nelayan Melalui Lukisan

    LUKISAN berjudul “Lelang Ikan” salah satu ikon lukisan koleksi Istana yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta, 2-30 Agustus 2017. Lukisan terbaik Itji Tarmizi ini menjadi gambar utama di katalog pameran. Lukisan berukuran 140x195 cm itu menggambarkan seorang tengkulak yang dikelilingi nelayan, seorang ibu berkutang dengan bawahan kain dan anaknya tanpa pakaian kemungkinan istri salah satu nelayan, kuli panggul, hingga nelayan lain di belakang si tengkulak menatap tajam sambil memegang parang. Para nelayan itu seakan pasrah ikan-ikannya dibeli sang tengkulak dengan harga yang tidak diharapkan. Itji menggambarkan tengkulak itu ditemani anak atau cucunya yang mengenakan pakaian bagus lengkap dengan kalung mutiara. Dia mengenakan peci hitam, berkulit terang, berpakaian ala penguasa tapi juga mengenakan bawahan kain, lengkap dengan ikat pinggang besar.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page