Hasil pencarian
9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Akhir Pemerintahan Perempuan di Aceh
KETIKA Thomas Bowrey tiba, Aceh sudah begitu lama diperintah seorang ratu. Begitu lama hingga rakyat mual ketika menyebut raja. Sebabnya, pemerintahan tirani raja terakhir mereka. Berdasarkan cerita, sang raja adalah seorang tiran paling kejam yang pernah ada. “Patut dikagumi betapa rakyat rela membiarkan sang raja hidup begitu lama dan memerintah sedemikian kejam,” catat pedagang asal Inggris itu. Di Aceh, empat putri raja duduk di singgasana secara beruntun setelah 1641. Padahal, di sanalah Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari disusun. Di kitab itu termuat kalau raja harus laki-laki. Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Jaringan Asia juga menulis masa itu perempuan tak bisa naik takhta karena dinilai kurang arif. Rakyat memerlukan imam untuk tampil di depan umum. Sementara perempuan tidak mungkin mengimami salat. Tidak pula dapat meninggalkan tempat tinggalnya yang terpencil di dalam istana. Namun, agaknya pemerintahan raja yang kejam sebelumnya menjadi salah satu alasan yang membuat rakyat permisif terhadap pemerintahan seorang sultanah. Meski itu bukan berarti pemerintahan perempuan di Aceh tanpa tantangan berarti. Kondisi sosial masa itu dicatat dengan cukup lengkap oleh para penjelajah asing di Aceh. Menurut Anthony Reid dalam Bowrey berdagang di kawasan Samudera Hindia pada 1670-an. Dia tinggal di Aceh saat ratu kedua mangkat pada 1678. Artinya, dia datang saat Sultanah Nurul Alam Nakiyatuddin memerintah (1675-1678). Bowrey mendengar, rakyat begitu waspada setelah Sultan Iskandar Thani mangkat. Itu sebelum istrinya, ratu pertama, Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin (1641-1675) memerintah di kerajaan Aceh. Mereka menjaga istana, kota, garnisun, dan semua benteng dengan ketat dalam upaya melindungi diri dari segala bentuk pemerintahan seorang raja. Aturan Bagi Sultanah Orang-orang bijak lalu berkumpul. Mereka memilih ratu sebagai pewaris takhta. Namun, mereka menetapkan beberapa aturan agar pemerintahan ratu tak perlu ditakuti. Pertamaratu tak boleh menikah dan tak boleh bergaul dengan laki-laki. Kedua,tidak satupun lali-laki di kerajaan diperbolehkan melihat rupa sang ratu. Ketiga,para bangsawan, hakim, dan petinggi lainnya tidak boleh melanggar undang-undang atau aturan yang berlaku. Mereka bahkan tak boleh melakukan apa pun tanpa seizin atau kehendak ratu. Keempat,pelayan ratu tak boleh kurang dari 500 orang. Mereka terdiri dari perempuan dan kasim. Kendati banyak aturan yang membatasi, para petinggi kerajaan rupanya sangat hormat dan patuh pada ratu. Tak ada yang berani bertindak atau menangani suatu hal penting tanpa memberitahu ratu. Sesuai aturan, tak seorang pun lelaki, perempuan maupun anak-anak diperbolehkan melihat rupa sang ratu. Kecuali, para perempuan dan kasim yang merupakan pelayannya. Pun beberapa kasim yang menjadi kepala penasihatnya diizinkan untuk berinteraksi langsung dengan ratu. Para kasim adalah orang yang cerdas yang bertugas memberi saran kepada ratu ketika hendak membuat keputusan. Konon, kata Bowrey, pelayan ratu berjumlah 100 kasim dan 1.000 perempuan tercantik yang ada di kota atau desa. Para pelayan perempuan ini tampil di muka publik. “Menurut saya, banyak dari mereka yang sangat cantik dan berkulit lebih putih daripada kebanyakan penduduk asli yang ada di sini,” katanya. Selain mereka, jika ada yang punya urusan dengan ratu, harus melalui penasihat ratu. Misalnya, Orangkaya tertinggi atau para Orangkaya lainnya akan datang ke istana. Ia akan menyebutkan urusannya kepada penasihat ratu yang akan menyampaikannya kepada ratu. Bila ratu mengizinkan akan mengirimkan cap sebagai tanda mereka diterima. “Apabila cap itu tak diberikan, berarti mereka tak boleh lagi mengajukan hal itu dan harus beralih ke urusan lain,” tulis Bowrey. Pada 1675, Ratu Tajul Alam Safiyatuddin wafat. Usianya sudah lanjut. “Saya sedang ada di Aceh ketika ratu mangkat, dan saya menyaksikan bagaimana rakyat berkabung untuknya,” ujar Bowrey. Ketika putri Iskandar Muda itu mangkat, para pejabat istana sudah menunjuk penggantinya. Dia berusia kurang dari 60 tahun ketika dinobatkan. “Rakyat kemudian menyadari fakta bahwa kematian sang ratu tak menyebabkan pergantian jenis kelamin atas siapa yang kelak memerintah,” kata Bowrey. Akhirnya, sebagian besar penduduk desa yang tinggal sekitar 20 atau 30 mil (kurang lebih 30-50 km) dari Aceh menentang sistem pemerintahan seperti ini. Mereka menginginkan seorang raja. Menurut mereka pawaris takhta sebenarnya masih hidup dan punya beberapa putra. Kepadanya mereka akan tunduk. Pewaris itu ada bersama penduduk di pedalaman. Dialah dalang di balik penentangan itu. Dia kerap menyebarkan prasangka buruk tanpa bukti di kota maupun desa. Menolak Sultanah Tak cuma Bowrey, penjelajah dan navigator berkebangsaan Inggris, William Dampier juga mencatat kehidupan sosial Aceh di bawah ratu. Dia tinggal selama beberapa bulan di Aceh pada 1688-1689 dan membuat catatan perjalanan. Di dalamnya berisi soal konflik setelah ratu ketiga mangkat. Ketika itu, Sultanah Inayat Syah Zakiyatuddin (1678-1688) sedang memerintah. Dia menggantikan Nurul Alam Nakiyatuddin (1675-1678). Dalam catatan Dampier, ratu Aceh adalah perawan tua yang dipilih dari keluarga kerajaan. Dia mengaku tak paham bagaimana upcara pemilihan itu berlangsung. Pun soal siapa yang memilihnya. “Tetapi saya menduga mereka adalah para orangkaya,” katanya. Setelah terpilih, sang ratu terikat dengan istananya. Dia jarang melakukan perjalanan ke luar negeri. Ratu juga jarang terlihat oleh orang kelas bawah kecuali beberapa pelayannya. Namun, sekali dalam setahun dia akan berpakaian putih dan duduk di atas gajah. Dalam sebuah arak-arakkan, ia akan pergi ke sungai untuk mandi. “Tetapi saya tidak tahu apakah rakyat jelata diperbolehkan menonton sang ratu dalam prosesi seperti ini,” tulisnya. Zakiyatuddin wafat pada 1688. Waktu dia mangkat, Dampier tengah dalam perjalanan menuju Tonkin (kini di Vietnam utara). Zakiyatuddin digantikan Sultanah Kamalat Shah yang memerintah hingga tahun 1699. Banyak orangkaya yang tidak menyetujui pemilihan itu. Mereka menghendaki kembali laki-laki naik takhta. Empat orangkaya yang hidup jauh dari istana angkat senjata demi menentang ratu baru dan orangkaya lainnya. Mereka pun menghimpum 5.000-6.000 tentara untuk menyerbu kota. “Keadaan ini terus berlanjut. Bahkan ketika kami tiba di sini dan beberapa lama setelahnya,” jelas Dampier. Menurut Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia , sang ratu akhirnya mengundurkan diri pada 1699. Namun, bukan karena tuntutan itu, melainkan fatwa dari Makkah yang menegaskan pemerintahan perempuan bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal, pemerintahannya mendapat bantuan dari para ulama, khususnya Kadli Malikul Adil Syekh Abdurrauf Syiahkuala. “Peristiwa ini menandakan akhir dari pemerintahan ratu di kerajaan setelah berlangsung selama 59 tahun berturut-turut,” tulis Reid.
- Pembersihan Setelah Pembantaian di Tanjung Priok
NERAKA itu menghampiri A.M. Fatwa tepat seminggu setelah insiden berdarah di Tanjung Priok. Didampingi pengacaranya, lelaki asal Bone tersebut tengah diperiksa polisi ketika beberapa petugas dari Satuan Intel (Satuan Tugas Intelijen Khusus ABRI) langsung menyeretnya. “Pengacara saya diancam saat akan mendampingi saya,” ujar Fatwa. Fatwa dibawa ke markas CPM di Jalan Guntur, Jakarta. Dia diperlakukan tanpa mengenal kemanusiaan: dipukuli, disimpan dalam sel penuh air kencing, dihina dan dilarang mengaji serta salat lima waktu. Setelah puas memperlakukannya secara biadab, Satsus Intel membawa Fatwa dengan tangan terbelenggu ke Rumah Tahanan Militer Cimanggis, Depok.
- Awal Mula Hostes di Jakarta
ANDA penggemar dunia gemerlap (dugem) kota-kota besar? Jika iya, anda pasti tak asing dengan perempuan pendamping untuk tetamu di tempat hiburan malam. Mereka biasa disebut lady companion di tempat karaoke. Sedangkan di klub malam dan diskotek, mereka bernama lady escort. Tugas mereka mendampingi tetamu bernyanyi dan bergoyang. Kehadiran perempuan pendamping tetamu di tempat hiburan malam bermula sejak 1970-an. Dekade ini mencatatkan pertumbuhan awal tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Malam di kota-kota besar menjadi lebih panjang dengan kehadiran tempat hiburan malam.
- Di Selabintana Masa Depan Hindia dan Indonesia Ditentukan
HAWA dingin tak menghalangi orang-orang untuk beraktivitas. Minggu pagi, parkiran Selabintana Conference Resort (SCR) sudah ramai baik oleh para penginap maupun penduduk sekitar yang ingin liburan atau mengais rezeki. Di bawah pohon beringin tua raksasa, seorang nenek dengan sabar menunggui dagangannya dan melayani orang-orang yang bertanya. Pembeli bunga-bunganya datang silih berganti. “Murah-murah banget. Itu bunga yang kecil daunnya banyak di Pamulang gocapan , di sini tadi cuma sepuluh ribu,” ujar seorang ibu-pembeli asal Jakarta kepada Historia . Selabintana, sekira tujuh kilometer utara Sukabumi kota, sejak lama dikenal sebagai penghasil bunga dan sayur-sayuran. “Di lembah gunung itu terdapat kebun bunga, yang terkenal dengan bunga edelweisnya. ‘Musim Bunga di Selabintana’ merupakan salah satu judul dari pentas sandiwara keliling, Tjahaja Timoer, pada tahun empat puluhan,” tulis veteran Perang Kemerdekaan Mien Adi Hatmodjo dalam memoarnya yang dimuat di buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45 , “Perjuangan Rakyat Sukabumi”.
- Rapat Ikada yang Direka
Kencangnya hembusan angin tak mampu menghalangi massa dari Jakarta dan sekitarnya untuk hadir di Lapangan Monas. Mereka tak sabar menantikan para pemimpin republik naik podium. Maka saat Presiden Sukarno yang mereka elu-elukan tiba bersama jajaran kabinetnya dengan pengawalan dari Latief Hendraningrat dan Moeffreni Moe’min dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta Raya serta Komisaris Mangil Martowidjojo dari Polisi Istimewa, serentak mereka langsung menatap ke arah rombongan itu. Riuh pekik merdeka membahana ketika Sukarno akhirnya naik podium setelah Soewirjo (walikota Jakarta) dan Kasman Singodimedjo (BKR Pusat). Dahaga akan kepastian arah Proklamasi mereka terhapuskan sudah. Pertaruhan nyawa mereka ke tempat acara yang dijaga ketat serdadu Jepang bersenjata lengkap, tak sia-sia. Namun, mereka akhirnya kecewa karena Bung Karno hanya berpidato sebentar. “Saudara-saudara, kita akan tetap mempertahankan proklamasi kemerdekaan kita. Kita tidak mundur satu patah katapun! Saya mengetahui bahwa saudara-saudara berkumpul di sini untuk melihat presiden saudara-saudara dan untuk mendengarkan perintahnya. Nah, apabila saudara-saudara masih setia dan percaya kepada presidenmu, ikutilah perintahnya yang pertama! Pulanglah dengan tenang. Tinggalkan rapat ini sekarang juga dengan tertib dan teratur dan tunggulah berita dari para pemimpin di tempatmu masing-masing. Sekarang, bubarlah. Pulanglah saudara-saudara dengan tenang,” ujar Sukarno yang dengan apik diperankan Rahmad Sadeli dari Pustaka Betawi, dan dipatuhi massa. Begitulah suasana Rapat Akbar Ikada pada 19 September 1945 yang direkonstruksi Minggu (16/9/2018) petang kemarin di Lapangan Monas dengan tajuk “Samudera Merah Putih”. Reka ulang garapan Forum Warga Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu bertujuan untuk menghidupkan kembali satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Adegan massa rakyat yang berkerumun menanti kedatangan Bung Karno dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia) Rapat Raksasa Ikada diprakarsai Comite van Actie yang terdiri dari beragam elemen pemuda. Tujuannya ingin mempertemukan rakyat dengan para pemimpinnya sekaligus show of force di hadapan Gunseikanbu (pemerintah militer Jepang) yang ngotot mempertahankan status quo sampai datangnya Sekutu. Imbauannya dirilis Komite Nasional Kota Besar Jakarta. “Tapi penggerak-penggerak utama di belakangnya adalah kelompok-kelompok pemuda yang secara longgar berkerumun di sekitar Menteng 31. Kurir-kurir menyebar dengan cepat ke kabupaten-kabupaten di sekitar Jakarta, mendesak supaya banyak orang hadir,” sebut Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946. Tapi toh Jepang tetap bergeming dengan memerintahkan para serdadunya menjaga ketertiban jalannya rapat. Jumlah massa yang begitu besar membuat mereka gelagapan. “Secara psikologis kekuatan tentara Jepang yang bertindak atas nama Sekutu untuk mempertahankan status quo dapat dipatahkan,” sebut Soejono Martosewojo dalam Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdiannya (1). Meski kemudian rakyat membubarkan diri dengan kecewa lantaran singkatnya pidato Sukarno, lanjut Soejono, kepercayaan mereka terhadap pemerintah RI yang masih bayi ini menguat. “Kekompakan pemimpin dengan rakyat kian erat dan menjadi manifestasi yang tak kalah peranannya dibanding perjuangan fisik. Peristiwa ini jadi modal kekuatan batin yang melahirkan kepercayaan dan kepatuhan rakyat,” sambung Soejono. Oleh karena itu, reka ulang Rapat Ikada digelar sebagai pengingat bahwa massa yang berasal dari golongan rakyat kecil punya peranan besar dalam penguatan proklamasi kemerdekaan. “Peranan mereka secara historis penting karena membuktikan bahwa proklamasi merupakan keinginan seluruh rakyat, bukan segelintir elit yang dituduh Sekutu dan Belanda sebagai kolaborator Jepang,” tutur sejarawan JJ Rizal yang juga selaku ketua pelaksana rekonstruksi Rapat Ikada Selain detail adegan reka ulang yang dibuat semirip mungkin, kostum dan properti otentik sesuai kejadian asli dihadirkan oleh ratusan pesilat dari puluhan perguruan serta reenactors (pereka ulang sejarah) dari Bekasi, Bandung dan Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan dalam rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada. (Randy Wirayudha/Historia) “Ini kejadian penting dalam perjalanan republik ini. Kejadian di mana pemerintah tidak boleh melupakan rakyat yang selama pendirian awal republik menghibahkan tenaga dan nyawanya untuk menyelamatkan proklamasi. Warga kampung harus mendapatkan yang dijanjikan republik ini. Menjanjikan perlindungan, mencerdaskan, kesejahteraan dan mari kita kembalikan janji itu untuk lunas bagi orang-orang kecil. Mulainya di Jakarta dan harus lunas di Jakarta,” cetus Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam sambutannya.
- Ken Angrok Ksatria yang Terkalahkan
INILAH cerita Ken Angrok. Awal mula dia dijadikan manusia. Adalah seorang anak janda di Jiput. Berkelakuan tidak baik, memutuskan tali kesusilaan menjadikan perhatian bagi Zat yang Maha Gaib.
- Yang Terlupa dalam Rapat Raksasa Ikada
Sembilan belas September 1945 di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas). Ratusan ribu manusia dari golongan akar rumput menuntut penegasan dari para pemimpin baru mereka, pemimpin yang masih membangun fondasi republik yang baru lahir sebulan sebelumnya. Mereka tak sabar untuk mendapat kepastian ke arah mana kemerdekaan yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 akan dibawa. Peristiwa yang dikenal sebagai Rapat Raksasa Ikada itu sayangnya dalam berbagai literatur sejarah yang bermunculan kemudian hanya mencatat nama-nama pembesar macam Presiden Sukarno, Hatta, Sukarni, atau Ali Sastroamidjojo yang hadir dalam show of force pertama republik itu. Rapat Raksasa Ikada seolah hanya panggung mereka. Jangankan nama rakyat yang hadir dari berbagai tempat, nama Tan Malaka sebagai penggagas pun baru dibuka dalam sejarah setelah reformasi. Oleh karenanya untuk membangkitkan memori dan terutama menghormati peran ratusan ribu rakyat yang terlupakan di peristiwa itu Forum Warga Betawi se-Jabodetabek bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghelat rekonstruksi Rapat Raksasa Ikada bertajuk “Samudera Merah Putih” di Lapangan Monas, Minggu siang (16/9/2018). Gelaran kolosal itu akan diramaikan 3000 pesilat Betawi dari 20 perguruan se-Jabodetabek dan puluhan reenactors (pereka ulang sejarah) dari Bekasi dan Bandung. “Itu untuk acara utamanya dalam rekonstruksi. Sementara, selain Pak Gubernur (DKI Anies Baswedan) sendiri akan turut hadir, dari IPSI juga akan mendatangkan 20 atlet silat peraih medali Asian Games 2018 sebagai pembuka atraksi palang pintu untuk penyambutan,” tutur sejarawan JJ Rizal dalam konferensi pers di Balai Kota DKI, Jumat (14/9/2018). Rizal menekankan pentingnya perhelatan ini sebagai pengingat bahwa Rapat Ikada berkaitan erat dengan peristiwa proklamasi. Tak semestinya ia hanya jadi catatan sejarah milik Bung Karno cs. Rakyat, penduduk Jakarta dan sekitarnya, mesti mendapat tempat. “Bung Hatta pernah mengatakan tak mungkin kita merayakan 17 Agustus kalau tidak merayakan Rapat Ikada karena itu kepentingan seluruh rakyat. Proklamasi paling hanya dihadiri 200 orang, mayoritas golongan elit. Sedangkan Rapat Ikada 19 September itu 250 ribu orang. Mereka datang tanpa takut dan peduli melihat banyak tentara Jepang dengan senjata terisi peluru dan sangkur terhunus,” lanjut Rizal. Konferensi pers rekonstruksi peristiwa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada. (Randy Wirayudha/Historia). Rapat Ikada, kata Ahmad Syarofi, merupakan penegasan dan penguatan terhadap Proklamasi 17 Agustus. “Ya karena pas proklamasi juga gaungnya tak begitu terasa. Hanya 200 orang. Sementara di Rapat Ikada, ratusan ribu orang itu datang dengan nyali besar. Karena Jepang melarang. Diselenggarakan dalam tekanan militer Jepang. Tapi kemudian gaung kemerdekaan kian meluas,” ujarnya. Oleh karena arti penting Rapat Ikada itu, sudah saatnya kita memberi tempat lebih besar dalam penulisan sejarah kepada satu nama yang selama ini terlupakan sehingga terdengar asing bahkan bagi masyarakat Jakarta sendiri: Letkol Moeffreni Moe’min. Tanpa peran tokoh yang kini tengah diajukan jadi pahlawan nasional itu, Rapat Ikada kemungkinan tak pernah ada. “Kita utang budi pada mereka yang hadir, terutama Moeffreni,” ujar ketua tim pengusul pahlawan nasional Moeffreni Moe’min itu kepada Historia . Peran Moeffreni, putra Betawi kelahiran Rangkasbitung, nyaris tak dikenang orang meski posisinya merupakan orang kedua di BKR Jakarta setelah Kasman Singodimejo. Eks anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) Tangerang dan alumnus pendidikan perwira PETA Bogor itu merupakan tameng hidup Bung Karno selama Rapat Raksasa Ikada. Moeffreni mengawal Bung Karno sejak dari saat dijemput di mobil, berjalan ke podium untuk pidato singkat, sampai kembali lagi ke mobil. “Moeffreni itu dengan berpakaian sipil berupa jas mengantongi empat granat nanas dan dua pistol. Itu granat siap diledakkan kalau Jepang macam-macam. Itu nilai heroiknya sosok Moeffreni,” lanjut Syarofi. Heroisme Moeffreni itulah yang menjadi pendorong Syarofi dan tim dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) mengsulkan pahlawan nasional Moeffreni sejak 2016, terutama setelah mendapat restu keluarga Moeffreni. Sosok Moeffreni dianggap pantas dijadikan pahlawan nasional asal Betawi setelah Ismail Marzuki yang jadi pahlawan pada 2004. “Di masa revolusi, Moeffreni jadi komandan Resimen V Jakarta yang kemudian berganti jadi Resimen Cikampek setelah Jakarta diperintah dikosongkan oleh Sekutu. Beliau juga memimpin pengamanan Perundingan Linggarjati. Setelah pensiun dinas militer, beliau mendarmabaktikan diri di DPRD DKI sampai MPR. Kini tinggal tunggu keputusan karena soal proses pengajuannya, bolanya sudah ada di Dewan Gelar,” tandas Syarofi.
- Peristiwa Tanjung Priok: Darah Pun Mengalir di Utara Jakarta
ZULKARNAIN masih ingat peristiwa berdarah 34 tahun lalu itu. Sebagai anak umur sembilan tahun, dirinya merasa aneh dan takut ketika kawasan Jalan Yos Soedarso dipenuhi truk-truk tentara dan mobil-mobil pemadam kebakaran malam itu. Bau anyir darah serasa menusuk hidung bersanding dengan bunyi teriakan para serdadu dan polisi mengusir orang-orang untuk menghindari kawasan tersebut. “Kebetulan saya dan bapak habis beli sepatu dan lewat daerah itu ketika mau pulang ke Cilincing,” ujar lelaki berdarah Sumbawa itu. Nasib Zulkarnain dan bapaknya tentu saja jauh lebih bagus dibanding Wasjan bin Sukarna (saat kejadian berlangsung berumur 32 tahun). Pengemudi mesin pengangkut barang di Pelabuhan Tanjung Priok itu tengah menunggu angkutan umum untuk pulang kala dia melihat munculnya keruman massa yang tengah berlari. Seiring kemunculan mereka, tetiba terdengar rentetan senjata.
- Asal Usul Valak, Setan dari Masa Kegelapan
TENGAH malam di Gereja St. Cârţa, pedalaman Rumania medio 1952. Dengan langkah terburu-buru, dua biarawati yang dilanda kepanikan menuju sebuah pintu ruangan keramat. Pintu bertuliskan Finit hic Deo (Latin: Tuhan Berakhir di Sini) itu jadi penanda bahwa di balik pintu itu adalah tempat di mana doa-doa Tuhan takkan mempan terhadap satu zat menyeramkan di dalamnya. Adegan mencekam itu jadi pilihan sutradara Corin Hardy untuk langsung menyuguhkan scene yang membuat “ sport jantung” dalam film The Nun . Film berdurasi 96 menit ini berkisah tentang asal-usul Valak slot5000 , hantu biarawati atau suster menyeramkan yang sebelumnya muncul dalam universe -nya Conjuring. Dalam adegan itu, seorang suster jadi korban sesosok iblis di balik pintu keramat dan seorang lagi, Suster Victoria (Charlotte Hope), melarikan diri tapi akhirnya terpaksa gantung diri. Jasadnya ditemukan Maurice ‘Frenchie’ Theriault (Jonas Bloquet), pemuda dari Desa Bierten yang dalam kurun triwulan rutin memasok logistik gereja. Vatikan yang mendengar kejadian aneh itu langsung mengirim Pastor Burke (Demián Bichir) dan Suster Irene (Taissa Farmiga) ke tempat kejadian perkara untuk menyelidiki. Dengan Frenchie sebagai pemandu jalan, Burke dan Irene segera merasakan banyak keganjilan dan aura tak mengenakkan di gereja tersebut. Gereja St. Cârţa yang menyeramkan (thenunmovie.com). Berbagai kejadian mistis terus menghampiri Frenchie, Burke, dan Irene selama penyelidikan itu. Ditimpali music scoring garapan Abel Korzeniowski yang pas, jump scare di berbagai adegan menghasilkan adegan horor ciamik. Terutama, saat sosok Valak (Bonnie Aarons) menampakkan wujudnya pada Irene. Adegan-adegan saat saat Pastor Burke maupun Suster Irene diganggu sosok Valak tak ubahnya adegan di film-film bertema zombie. Mereka akhirnya mendapat kesimpulan siapa Valak yang sebenarnya. Arwah Suster Oana (Ingrid Bisu) membeberkan bahwa sosok Valak yang acap muncul tengah malam di lorong-lorong gereja merupakan jelmaan iblis yang sengaja menampakkan sosoknya menyerupai biarawati. Iblis itu pada Abad Pertengahan “dipanggil” dari neraka oleh Duke of St. Cârţa, penguasa pedalaman Rumania yang mendiami Puri St. Cârţa sebelum bangunannya dijadikan gereja. Nyaris 96 menit adegan mencekam tanpa henti. (thenunmovie.com). Valak sempat muncul di ruangan keramat di bawah tanah puri. Namun tak lama, puri itu diserbu pasukan Vatikan. Sementara, Valak dikirim kembali ke neraka dengan sebuah relik berisi darah Yesus Kristus. Namun, semasa Perang Dunia II Valak muncul lagi gara-gara ruang bawah tanahnya hancur oleh bombardir udara. Dengan darah Yesus Kristus itulah Suster Irene membinasakan Valak. Lucunya, mirip dengan aksi dukun ketika mengusir setan dalam film-film horor tanah air, si Valak hangus terbakar setelah disembur darah Yesus oleh Suster Irene. Muasal Valak Sebagaimana Conjuring 2 dan Annabelle: The Creation, film ini bak prekuel dari film-film ber- genre horor supranatural. Semua film itu menampilkan banyak penasaran terhadap sosok setannya karena tak diikuti penjelasan. Tak heran bila The Nun jadi salah satu film horor paling dinanti para “fans” Valak. Sosok Valak sendiri aslinya bukan seperti yang digambarkan dalam film, berupa hantu suster menyeramkan. Dalam The Nun, Valak sebenarnya sedikit diterangkan di adegan saat Pastor Burke mengulik sejumlah buku sihir yang ditemukannya di Gereja St. Cârţa. Valak sejatinya berwujud malaikat kecil yang mengendarai naga berkepala dua, yang dianggap panglima dari 38 legiun arwah jahat, persis seperti yang dideskripsikan dalam buku sihir abad XVII Lesser Key of Solomon . Dalam beberapa manuskrip, disebutkan namanya Volac, Ualac, atau Volach. Wujud asli iblis Valak Pendeskripsian Valak berupa sosok biarawati di The Nun menurut penulis skenario James Wan berangkat dari makhluk halus nyata yang acap menghantui Lorraine Warren. Dia merupakan pakar investigasi paranormal yang kisahnya bersama sang suami, Ed Warren, difilmkan dalam The Conjuring, The Conjuring 2, dan Annabelle: Creation . “Dikisahkan oleh Lorraine bahwa penampakan makhluk halusnya seperti angin yang berbentuk wanita berjubah. Hanya Lorraine yang diganggu sosok ini dan saya ingin membuat hantu ini bisa menyerang keyakinan dia. Sesuatu yang juga bisa mengancam keselamatan suaminya. Dari situlah ide sosok ikonografis dari ikon keagamaan (biarawati) ini muncul di kepala saya,” ungkap James Wan, dikutip mirror.co.uk , 6 September 2018.
- Soendari Gigih Lawan Poligami
MENGETAHUI suaminya punya kekasih gelap, Siti Soendari marah besar. Adik dr. Soetomo, salah satu pendiri Budi Utomo, itu minta suaminya, Koesoebjono, meninggalkan kekasihnya yang orang Belanda itu. Soendari lahir di Nganjuk, 9 April 1909. Ia anak ketujuh dari pasangan Raden Soewadji dan Raden Ayu Sudarmi, anak Kepala Desa Ngepeh Raden Ngabehi Singowidjojo. Pada awal pernikahan, Soewadji masih bekerja sebagai guru. Namun kerja kerasnya membuat dia akhirnya naik menjadi wedana Maospati, Madiun. Soewadji meninggal ketika Soendari berusia satu tahun. Bayi Soendari lantas dibawa sang ibu ke rumah kakeknya di Ngepeh. Kakeknya yang sudah sepuh itu kemudian meninggal ketika Soendari berusia 4 tahun. Lantaran kehilangan ayah dan kakek, dr. Soetomolah yang menjadi sosok “ayah” baginya. Menurut anak sulung Soendari yang menyusun biografi Siti Soendari: Adik Bungsu dr. Soetomo , Santo Koesoebjono (dan istrinya, Solita Sarwono) , didikan Soewadji diteruskan Soetomo pada adik-adiknya. Soetomo ingin agar adik-adik perempuannya juga mendapat pendidikan tinggi sama seperti lelaki. Sri Oemiyati, kakak perempuan yang paling akrab dengan Soendari, misalnya, melanjutkan studi guru di Belanda. Oemiyati di kemudian hari dikenal sebagai kepala Sekolah Kartini di Cirebon dan anggota Dewan Kota Semarang pada akhir 1930-an. Soendari sendiri mulai kuliah di jurusan hukum Universitas Leiden pada 1927. Ia kakak tingkat sekaligus teman dekat Maria Ullfah yang kuliah hukum di Leiden mulai 1929. Mereka satu indekos dan patungan uang makan untuk bertahan hidup. Lantaran Soendari tak begitu pandai mengelola keuangan, Marialah yang mengatur uang belanja. Seperti dikisahkan Gadis Rasyid dalam Maria Ullfah Subadio, Pembela Kaumnya, Soendari kerap sarapan bersama di kamar Maria. Makan siang dan makan malam mereka lakukan di kantin yang disediakan untuk mahasiswa. Di hari libur, jika kampus dan kantin tutup, Soendari dan Maria memilih untuk masak sendiri agar lebih hemat. Semasa mahasiswa itulah Soendari bersama Artinah Samsoedin menghadiri Kongres Wanita Internasional Melawan Perang Imperialis dan Fasisme, Agustus 1934 di Paris. Harry A Poeze dalam Di Negeri Penjajah menulis kongres itu diselenggarakan atas prakarsa kaum komunis. Keikutsertaan Soendari dan Artinah atas ajakan Setiadjit dan Roesbandi. Setelah lulus dari Leiden, Soendari kembali berkumpul dengan Maria. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di Struiswijkstraat (kini Salemba Tengah). Maria bertanggung jawab pada urusan uang belanja, sementara Soendari mengurus kebersihan rumah. “Setelah lulus, bekerja sejak 1934 sampai menikah tahun 1939. Setelah menikah, ibu tidak lagi bekerja. Pada 1952 kemudian sekeluarga pindah ke Belanda,” kata Solita Sarwono dan suaminya Santo Koesoebjono (anak Soendari) pada Historia. Soendari menikah dengan Koesoebjono. Menurut Solita, ayah mertuanya tersebut mulanya bekerja sebagai mantri polisi (jabatan di bawah asisten wedana), kemudian ia mendapat promosi menjadi asisten wedana dan terakhir menjadi walikota Semarang. Selama di Semarang, sambung Solita, Soendari bergabung dengan Perwari, organisasi penentang poligami yang jauh lebih lantang dari Gerwani. Kala suaminya diam-diam menjalin kasih dengan perempuan Belanda dan tak bisa meninggalkannya, Soendari memilih pergi membubarkan perkawinannya. Ia kembali ke Jakarta bersama kedua anaknya, Habimono dan Indriya yang masih SD dan SMP. Soendari juga harus bekerja untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Ia pun bekerja di Bank Rakyat Indonesia di Jakarta dan mendirikan perpustakaan di bank tersebut. Bekal pendidikan tingginya membuat Soendari mampu melanjutkan hidup setelah perceraian. “Setelah kembali ke Jakarta, Bu Soendari bekerja untuk men- support anak-anaknya,” kata Solita. * Tulisan ini diralat pada 14 Januari 2020 dengan tulisan berjudul Empat Siti Soendari dalam Sejarah Kaum Putri*
- Sejarawan Sukarnois Berpulang
GRUP WhatsApp Alumni Sejarah UI terhentak oleh kabar duka. Berita tersiar: Peter Kasenda meninggal dunia (10/9). UI kehilangan salah satu sejarawannya yang produktif. Meski terhitung sebagai junior, saya tak pernah jumpa beliau di kampus. Maklum saja, Peter Kasenda alumni sejarah UI angkatan 1980 sementara saya angkatan 2010. Terpaut dua puluh angkatan. Kali pertama bersua dengan Bang Peter sekira medio 2013 di Megawati Institute. Saat itu, beliau membawakan materi tentang pemikiran Sukarno. Guyon dan tawa selalu menyelingi kuliahnya, menjadikan pemikiran Sukarno begitu hidup dan tak berjarak. Selalu tentang Sukarno. Sedari lama Peter menggumuli pemikiran Sukarno. Peter Kasenda menulis mulai dari pemikiran Sukarno muda, percintaan Sukarno, hingga hari-hari terakhir presiden pertama Indonesia itu. Skripsinya berjudul “ Machtsvorming dan Machttsaanwending : Studi awal terhadap tulisan-tulisan Soekarno tahun 1926–1933” rampung tahun 1987. Dalam abstraksi skripsinya, Peter mengulik pemikiran Sukarno yang dituangkan secara tertulis. Beberapa di antaranya terdapat di harian Indonesia Moeda , Soeloeh Indonesia Moeda , dan Fikiran Ra'jat , kemudian pledoi pembelaan Indonesia Merdeka dan risalah Mencapai Indonesia Merdeka yang ditulis Sukarno antara 1926–1933. Melalui buah pikiran Sukarno tadi, Peter meneliti bagaimana Sukarno punya gagasan untuk menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda yang mencengkram tanah airnya yang begitu indah, kaya dan subur itu. “Kepada mereka yang tak pernah merasa menikmati hasil pembangunan,” tulis Peter Kasenda dalam satu halaman khusus. Kepada merekalah Peter mendedikasikan karyanya. Tak lupa dia mengucap terimakasih kepada orang-orang kecil macam pedagang buku bekas di Kramat Raya dan Pasar Senen. Mereka yang mau bersusah payah mengadakan buku-buku yang diperlukan Peter dalam penelitiannya. Sebelum dikenal sebagai sejarawan produktif, sejak muda Peter telah aktif menulis, baik di media maupun jurnal. Tulisan pertamanya mengenai Sukarno dimuat harian Prioritas pada 2-3 Oktober 1986. Skripsinya pun kemudian dibukukan pada 2010 berjudul Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926 – 1933 . Selain itu, Peter juga membukukan sejumlah penelitian sejarah kontemporer maupun biografi. Beberapa karya Peter antara lain: Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011), Hari-hari Terakhir Sukarno (2012), Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD: Zulkifli Lubis (2012), Soeharto (2013), Sukarno, Marxisme & Leninisme (2014), Bung Karno Panglima Revolusi (2014), Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (2015), Hari-hari Terakhir Orde Baru (2015), Soekarno Di Bawah Bendera Jepang (2015), Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016). Di kalangan sejawat, Peter dikenal sebagai sosok yang karib. Rekan sepantaran Ali Anwar yang juga redaktur senior Tempo mengenang Peter yang selalu menyapa “selamat pagi” di grup WhatsApp Sejarah UI. Menurut Ali, Peter adalah segelintir contoh sejarawan sejati. Meski pada era Orde Baru banyak orang alergi dengan Sukarno, Peter tetap tekun menulis tentang Sukarno yang diawali dari beberapa surat kabar sampai buku. “Peter sosok yang bersahaja, menganggap adik-adik kelasnya sebagai teman. Dia amat ikhlas membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan literatur dan bimbingan,” kata Ali Anwar lewat pesan WhatsApp . Pun demikian terhadap junior yang lain. Hendaru Tri Hanggoro, alumni sejarah UI 2005 yang juga rekan sesama jurnalis di Historia mengingat Peter sebagai sosok sederhana nan rendah hati. “Bang Peter, senior yang sangat ramah dan kemana-mana naik angkot,” tutur pemuda yang akrab disapa Ndaru ini. “Terakhir kali ketemu beliau di dalam terminal Kampung Rambutan, 2017, dengan kemeja batiknya.” Tak hanya di kalangan terdekat, Peter juga cukup dikenal lintas angkatan. Setidaknya melalui karya-karyanya. “Intelektual panutan dengan sejumlah karya-karya tentang Sukarno yang baik hasilnya,” kata Agil Kurniadi, alumni sejarah UI 2010. Rekan lain seangkatan saya, Servulus Erlan de Robert pun senada. “Cerdas dan humoris. Seorang sejarawan-cum-penulis yang produktif,” ujar Erlan. “Saya banyak menikmati karya-karya mendiang. Ia dan buah-buah pemikirannya akan tetap lestari.” Insan sejarah patut berterimakasih pada Peter Kasenda karena karya-karyanya. Selamat jalan Bang Peter.*
- Kolega Sang Panglima Mandala
Amir Machmud merupakan salah satu perwira Soeharto yang paling diandalkan. Ketika kampanye pembebasan Irian Barat berlangsung, Amir Machmud menjabat Kepala Staf Gabungan II yang membidangi urusan operasi. Soeharto sendiri adalah panglimanya di Komando Mandala. Apalagi saat persiapan Operasi Jayawijaya. Amir sering mendampingi Soeharto mengadakan peninjauan ke berbagai pos-pos penting. Pada kesempatan itulah, Amir makin mengenal watak Soeharto. Menurut Amir, meski pendiam, Soeharto adalah seorang konseptor ulung. “Pembawaannya sederhana tetapi selalu serius,” kenang Amir dalam Otobiografi H. Amir Machmud: Prajurit Pejuang . Kalau ada hari-hari libur, kebanyakan perwira mengadakan piknik, rekreasi, dan lain-lain. Namun Amir menyaksikan Soeharto selalu berdiam di markasnya. Soeharto juga punya kebiasaan bertirakat, terutama menjelang suatu tindakan yang penting. “Pada saat-saat itu seharian ia tak makan dan minum,” kata Amir. Kelak di kemudian hari, Amir menjadi orang dekat Soeharto ketika si panglima Mandala ini naik takhta kepresidenan. Klik Perwira Menjadi panglima Komando Mandala barangkali kiprah paling membanggakan dalam karier ketentaraan Soeharto. Tapi sang jenderal tak bekerja sendirian. Soeharto dalam otobiografinya menyebutkan beberapa nama yang membantunya menyusun operasi militer. “Wakil saya dalam melaksanakan tugas ini, sebagai Wakil Panglima adalah Kolonel (L) Soebono dan Kolonel (U) Leo Wattimena, dan Kepala Staf kami adalah Kolonel (Inf.) A. Tahir,” ujar Soeharto kepada Ramadhan K.H dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Selama bertugas di markas Mandala, di Makassar, Soeharto menampilkan kepemimpinan yang sama sebagaimana dirinya mengasuh Divisi Diponegoro. Gaya ini, menurut sejarawan Robert Elson dicirikan oleh kelompok perwira komplotan “ala klik” di sekeliling Soeharto. Untuk membentuk kesetiaan diantara pasukannya, Soeharto sangat memperhatikan kebutuhan mereka. “Mereka merespon Soeharto dengan sangat loyal dan penuh hormat,” tulis Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik . Sosok utama dari kelompok perwira Soeharto adalah Kolonel Soedomo yang ditunjuk sebagai Panglima AL Mandala. Dari kubu AD, tersebutlah Brigjen Rukman dan Kolonel Amir Machmud. Rukman, mantan rekan Soeharto di Sekolah Staf Komando AD (SSKAD) dipercayakan memimpin operasi pendaratan dalam rencana invasi bersandi “Jayawijaya”. Selain Rukman dan Amir, beberapa nama lain yang patut diperhitungkan ialah Letkol Ali Moertopo, Mayor Untung Sjamsuri, dan Mayor Benny Moerdani. Ali dan Untung merupakan anak buah Soeharto sewaktu di Divisi Diponegoro. Sementara Benny, prajurit komando dari satuan RPKAD (kini Kopassus). Ketiganya perwira menengah yang kebanyakan bekerja di lapangan tempur. Ali Moertopo bertugas mengembangkan kemampuan Komando Mandala di bidang intelijen dan operasi penyusupan. Untung Sjamsuri adalah komandan batalion dari satuan Banteng Raiders yang diterjunkan ke kota Sorong. Dia bergerilya dalam Operasi Srigala. Seperti Untung, Benny pun memimpin pasukannya menembus rimba di Merauke dalam Operasi Naga. Dalam misi infiltrasinya, Untung dan Benny pernah hampir mati lantaran tertawan oleh tentara Belanda. Setelah kampanye berakhir, pengorbanan mereka menyabung nyawa diganjar penghargaan. “Benny dan Untung sama-sama penerima Bintang Sakti, tanda kehormatan tertinggi bagi seorang anggota ABRI,” tulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, & Petualang. Nasib Para Kolega Misi Irian Barat akhirnya dimenangkan. Komando Mandala lantas dibubarkan. Dari semua perwira klik Soeharto, tak semuanya bernasib sama. Ada yang bersimpang jalan karena perkara politis. Ada pula yang tetap membina hubungan patron-klien, terlebih ketika Soeharto berkuasa. Soebono dan Tahir relatif aman. Pada 1973, Soebono menjadi orang nomor satu di matranya sebagai Kepala Staf AL. Tahir sempat diangkat menjadi Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dan kemudian berkhidmat sebagai ketua umum Legiun Veteran. Pun demikian dengan Amir Machmud yang dipercaya Soeharto menjabat Menteri Dalam Negeri selama tiga periode. Soedomo barangkali yang paling langgeng mendampingi Soeharto. Antara 1969--1973, Soedomo berjaya menjadi KSAL. Ketika diangkat menjadi Panglima Kopkamtib (1978--1983), Soedomo membantu Soeharto menggebuk mereka yang oposisi terhadap Orde Baru. Soedomo menduduki sejumlah posisi penting lainnya yakni Menteri Tenaga Kerja, Menteri Kordinator Politik dan Kemanan dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung hingga Soeharto lengser. Di tangan Soeharto, karier militer Benny Moerdani melejit. Puncaknya ketika Soeharto mendapuk Benny sebagai Panglima ABRI (1983--1988). Dia menjadi tangan kanan sekaligus pelindung Soeharto meski pada akhirnya tersingkir. Benny terpental dari gelanggang kekuasaan karena menyinggung Soeharto soal kelakuan bisnis anak-anak Soeharto. Sementara Rukman sempat menggantikan Soeharto mengomandoi daerah Indonesia Timur. Dia merupakan panglima Cenderawasih pertama. Setelah prahara 1965, Rukman mengalami nasib nahas. Terindikasi sebagai perwira kiri, Rukman dipenjarakan dan kiprah militernya berakhir seketika. Untung Sjamsuri lebih tragis lagi. Dianggap terlibat makar dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S), penerima Bintang Sakti ini dieksekusi mati pada 1966, saat Soeharto mulai mengambil alih kepemimpinan negara. Satu nama yang juga patut disebut adalah Leo Wattimena. Panglima AU Mandala ini adalah seorang penerbang tempur. Dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto , Salim Said menuturkan betapa hubungan Leo dan Soeharto sangat baik selama kampanye Trikora. “Kalau Leo terbang, biasanya Seoharto menanti di pangkalan udara sampai Leo mendarat kembali,” kata Salim Said. Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto mendadak rusak pasca 1965. Citra AU begitu tercoreng - termasuk para perwiranya – karena dituding mendukung G30S. Leo kemudian dikirim ke Roma sebagai Duta Besar Indonesia untuk Italia. Kepada Salim Said yang berkunjung ke Italia pada 1970, Leo menuturkan harapannya untuk mendapat tempat di Departemen Pertahanan selepas masa dinas jadi dubes. “Tapi,” kata Salim Said, "bagi Soeharto dia sudah selesai.”





















