top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pembunuhan Keji Panglima Keraton Yogyakarta

    DENGAN rasa sedih dan letih rakyat Sumodiningratan menggotong mayat Panglima Pasukan Yogyakarta ke pemakaman keluarga Sumodiningratan. Raden Tumenggung Sumodiningrat tewas dikeroyok pasukan gabungan serdadu Inggris dan Legiun Mangkunegaran pada penyerbuan Inggris ke keraton 20 Juni 1812. "Koyo kewan neng wono mboten ingkang gadah wono". Begitu perumpamaan yang dirasakan pengikut Sumodiningrat sebagaimana yang dikutip sejarawan Inggris Peter Carey dari salah satu surat yang dirampas Inggris. Mereka bingung bagaikan binatang hutan yang tak lagi memiliki hutannya. Dalam Babad Bedhah ing Ngayogyokarta karya Pangeran Panular, menjelang subuh, Pangeran Prangwedono (Mangkunegoro II) dan pasukan Legiun Mangkunegaran disertai Sekretaris Keresidenan John Deans dan pasukan Inggrisnya mendatangi kediaman Sumodiningrat. Gabungan kedua pasukan itu mengepung dan menghujani rumah Sumodiningrat dengan peluru meriam.

  • Ketika Inggris Membumihanguskan Keraton Yogyakarta

    PUKUL tiga dini hari Sabtu, 20 Juni 1812, keheningan mencekam menyelimuti Keraton Yogyakarta. Meriam di Benteng Vredeburg tak lagi memuntahkan api. Ini bukan situasi yang disyukuri, karena sejam setelahnya, dua jam sebelum fajar menyingsing, perintah serangan dikeluarkan ke berbagai komandan kolom di pihak Inggris. Kedatangan Inggris pada 1812 yang menempatkan Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal membawa pengaruh besar terhadap kedudukan Sultan Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh). Ia ingin memulihkan hak Raja Jawa yang dulunya tak didapatkan ketika Daendels berkuasa. Namun, rupanya Raffles tak jauh berbeda dari Daendels. Permintaan Hamengkubuwono II mengganti kedudukan Putra Mahkota dari Raden Mas Surojo (Hamengkubuwono III) menjadi Mangkudiningrat pun ditolak. Inggris lebih memilih Raden Mas Surojo untuk naik takhta karena ia dinilai lebih ramah dan penurut dibanding ayahnya. Inggris tak ingin mengambil risiko terjadi konflik di kemudian hari yang merepotkan pihaknya. Hal itulah yang kemudian berujung penyerbuan Inggris ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

  • Tuan Tanah Kemayoran Eks KNIL

    SUATU pagi, sebuah kelapa jatuh dari pohonnya dan menimpa kepala seorang serdadu yang melintasi kampung di Kemayoran bernama Tanah Melayu. Serdadu yang berasal dari Kompi 1, Batalyon Infanteri ke-20 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu pun pingsan. Mengetahui kejadian itu, komandan kompinya yang –kelahiran 12 Januari 1886– bernama Kapten Infanteri Aart Merkelbach (1886-1932) langsung berusaha menolong dengan mencari pinjaman telepon untuk memanggil tenaga medis dari rumah orang Belanda terdekat. Namun, Kapten Merkelbach gagal mendapat pinjaman telepon dari tuan tanah kulit putih Belanda bernama Marinus Franciscus Lichtendahl (1888-1974). Kapten Merkelbach hanya bisa bicara dengan tukang kebunnya saja. Kapten Merkelbach kesal. Dengan sinisnya dia kemudian menulis kejadian itu di suratkabar. “Berbeda dengan sikap humanis dan suka membantu dari penduduk asli kampung Tanah-Melayu yang sederhana, Bapak MF Lichtendahl, mantan perwira Angkatan Darat Hindia Belanda, justru merasa tidak perlu bekerja sama dalam hal memanggil bantuan medis sesegera mungkin untuk mantan rekan seperjuangan yang mengalami kecelakaan,” kata Kapten Merkelbach beberapa waktu setelah kejadian, di harian Het Nieuws van den Dag edisi 28 Januari 1932. Tulisan Kapten Merkelbach berhasil menarik perhatian publik. M.F. Lichtendahl tak dianggap lagi sebagai wapenbroeder alias kawan seperjuangan oleh banyak orang Belanda. Bahkan Lichtendahl dikait-kaitkan pula dengan gerakan komunis di Jawa. “Penyelidikan resmi kemudian diluncurkan terkait kontak tertentu yang dilakukan letnan ini dengan Sneevliet di Semarang,” demikian Soerabaijasch Handelsblad edisi 30 Januari 1932 memberitakan. Sneevliet yang dimaksud adalah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (1983-1942) alias Maring. Ia menjadi mentor gerakan kiri kaum bumiputra di Semarang setelah dibuang negerinya. Soerabaijasch Handelsblad juga menyebutkan, pada dasarnya Lichtendahl hanyalah seorang pedagang. Namun, masa lalunya berbeda. Marinus Franciscus Lichtendahl pernah menjadi letnan KNIL. Stamboeken Officieren Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) 1815-1940 nomor inventaris 645 menyebut, anak Hermanus Lichtendahl dan Gerritdina Engels itu sudah jadi serdadu sejak 1906. Dia pernah ditempatkan di Resimen Infanteri ke-5 di Negeri Belanda. Setelah menjadi kopral dan sersan dia akhirnya menjadi letnan dua infanteri cadangan untuk KNIL. Pada 1914, dia naik kapal SS Prins van Nederlander ke Hindia Belanda kemudian bertugas di beberapa daerah seperti Batavia an Gombong. Pada 1916, dia naik pangkat menjadi letnan satu infanteri cadangan. Bisnis Gagal Saat bertugas di Gombong, Lichtendahl malah mendirikan perusahaan ekspor-impor dan berhubungan bisnis dengan pengusaha di daerah kerajaan di selatan Jawa. Koran Sumatra Bode tanggal 11 Agustus 1916 menyebut, Letnan Lichtendahl pada 1915 mendirikan perusahaan di Gombong yang bergerak di bidang ekspor impor bernama Imex. “Untuk menyatukan pemilik toko dan pengecer guna membentuk sebuah perkumpulan,” kata Letnan Lichtendahl dikutip Sumatra Bode, 11 Agustus 1916. Perusahaan itu hendak mengumpulkan modal sebesar satu juta gulden. Selain dengan Eropa, jaringan dagang internasional yang hendak dilibatkan adalah Tiongkok, Jepang, Australia, dan Amerika. Namun, bisnis Letnan Lichtendahl itu tidak berjalan mulus. Letnan Lichtendahl kemudian ditugaskan ke daerah lain. Koran Het Nieuws van den Dag tanggal 20 Oktober 1916 memberitakan, Letnan Lichtendahl dipindahkan dari Batalyon Infanteri ke-6 di Gombong ke Batalyon Infanteri ke-17 di Jambi pada Oktober 1916. Sebulan berikutnya, Letnan Lichtendahl dipindahkan lagi. Kali ini ke Batalyon Infanteri ke-10. Dari Jambi, dia dipindahkan ke Lahat, Sumatra Selatan. Pada September 1917, sebut koran De Locomotief tanggal 14 September 1917, dia dipindahkan dari Lahat ke Palembang. Karier Letnan Lichtendahl dipenuhi masalah setelah berada di Sumatra. Pada 1917, dia melakukan pemukulan dan itu dianggap pelanggaran. Het Nieuws van den Dag tanggal 8 Desember 1917 memberitakan, pengadilan militer menjatuhkan hukuman denda sebesar 10 gulden kepadanya karena telah sengaja melakukan pemukulan. Lichtendahl akhirnya ingin berhenti dari dinas militer. Het Nieuws van den Dag tanggal 11 November 1920 mengabarkan, dia akhirnya diberhentikan dengan hormat dari KNIL. Setelahnya, Lichtendahl memilih serius berbisnis di Hindia Belanda. Pertengahan 1921 Lichtendahl sudah berada di Batavia. Dia, kata Het Nieuws van den Dag tanggal 6 Juni 1921, sudah menjadi direktur di perusahaan bernama NV Kemajoran Oost dan juga menjadi komisaris di NV Bataviaasch Administratiekantoor. Dia lalu berkongsi dengan Tio Tek Hong (1877-1965) menjalankan bisnisnya yang antara lain bergerak dalam bidang judi lotere. Membuat Lichtendahl dikenal orang Belanda karena keterkaitannya dengan Lotere Kemayoran. Namun, bisnis jelas tak semudah yang diperkirakan. Lichtendahl pun tak selalu mulus berbisnis. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 18 September 1923 memberitakan bahwa Lichtendahl dan Tio Tek Hong diseret ke pengadilan dan dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman satu bulan penjara plus denda 200 gulden dengan tuduhan membuat lotere ilegal. Namun, hambatan itu berhasil dilaluinya. Malahan, era 1930-an barangkali menjadi era kejayaan Lichtendahl sebagai pengusaha di Batavia. Koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 2 November 1936 memberitakan, Lichtendahl mendapat tender senilai 208.000 gulden dalam proyek pengerjaan Lapangan Udara Kemayoran. Namun di masa ini pula, seperti diberitakan Bredasch Courant tanggal 20 April 1936, dia pernah ditahan polisi karena tuduhan pelecehan seksual. Akhir Hidup Kapten Merkelbach yang –juga datang ke Hindia Belanda sebagai letnan dua seperti Lichtendahl– mengeluhkan sikap Lichtendahl Sang “Tuan Tanah” Kemayoran pada 1933 pulang ke Negeri Belanda setelah pensiun dari KNIL. Koran Het Nieuws van den Dag tanggal 11 Oktober 1939 memberitakan pensiunan Kapten Merkelbach meninggal dunia mendadak di Epe pada 26 September 1939. Merkelbach juga pernah bertugas di daerah berbahaya seperti Aceh. Lichtendahl sendiri panjang umur sehingga merasakan derita Perang Dunia II. Perang juga membawanya ke era berbeda. Setelah Indonesia merdeka, dia tak mungkin lagi jadi tuan tanah di Kemayoran, yang sudah ada bandara yang dulu ikut dibangunnya. Roda zaman membuatnya dan juga banyak orang Belanda menjadi “pesakitan” di tanah yang dulu membuat mereka jaya.*

  • Bola-bola Piala Dunia (Bagian I)

    KHUSUS Piala Dunia 2018, FIFA menggunakan bola resmi yang kembali menyandang nama Telstar, tepatnya Telstar 18. Nama Telstar, bola buatan produsen alat olahraga asal Jerman Adidas, pertama kali eksis sebagai bola resmi Piala Dunia di Meksiko 1970. Seperti Telstar 1970, Telstar 18 juga dibuat di Pakistan. Sebelum Piala Dunia 1970, penetapan bola resmi dari FIFA belum ada. Lazimnya, bola dipilih tuan rumah. Desain panel bola zaman old umumnya mirip bola voli. Warna dasar bola juga bukan putih tapi beragam, dari kecoklatan hingga kekuningan. Merek bola zaman baheula bermacam-macam. Berikut aneka bola Piala Dunia sebelum 1970 dengan beraneka kisah di baliknya.

  • Bola-bola Piala Dunia (Bagian II)

    PIALA Dunia selalu menghadirkan bola dengan desain dan teknologi berbeda. Khusus untuk Piala Dunia 2018 Rusia, Adidas selaku pemegang hak merilis bola Telstar 18. Angka 18 dicantumkan untuk menandai tahun Piala Dunia ini dihelat. Dibuat oleh Forward Sports asal Sialkot, Pakistan yang berlisensi Adidas, bola Telstar 18 memiliki enam panel bertekstur yang tidak dijahit, melainkan dilem satu sama lain. Dengan warna putih-hitam, Telstar 18 berpola vintage dengan motif piksel untuk mendekripsikan era digital. Dalam tiap bola Telstar 18 terdapat sebuah chip NFC (Near-Field Communication) yang menampilkan konten dan informasi mengenai bola tersebut dan bisa diakses via ponsel pintar. Teknologi ini menjadikan Telstar 18 bola pertama yang memiliki chip.

  • Piala Dunia yang Tak Diakui

    ENAM dekade silam, Swedia menggoreskan tinta prestasi tertinggi, sebagai finalis Piala Dunia (1958). Kini jalan untuk menyamainya atau bahkan melewatinya (baca: juara) cukup terbuka mengingat di Piala Dunia 2018 ini Andreas Granqvist dkk. sudah memijak babak perempatfinal. Inggris jadi lawan Swedia dalam laga yang akan dimainkan Sabtu (7/6/2018). Bukan mustahil Swedia bisa merebut tiket semifinal. Terlebih, di Rusia keunggulan di atas kertas bukan segalanya. Tengok saja nasib Spanyol, Portugal, Argentina, atau Jerman. Swedia bahkan bisa “juara” seperti ketika tahun 1942. Tapi, adakah Piala Dunia 1942? Perang Dunia II masih panas-panasnya tahun itu.

  • Misteri Piala Dunia di Patagonia

    EUFORIA dan pengaruh sepakbola tak mengenal situasi dan kondisi. Bahkan saat sebagian besar wilayah di bumi terbakar Perang Dunia II, pesta permainan si kulit bundar tetap bergulir lewat perhelatan Piala Dunia 1942 di Amerika Latin. Sebagaimana “Piala Dunia” tak resmi di Jerman, Piala Dunia ini juga tak diakui. Organisasi sepakbola manapun, terlebih FIFA, tak pernah mengakuinya. “Memang Piala Dunia 1942 tak pernah disebutkan di buku sejarah manapun, namun pernah dimainkan di Patagonia, Argentina,” ungkap Osvaldo Soriano dalam Pensare con i Piedi. “Piala Dunia” Patagonia, wilayah yang –kini terbagi antara Argentina dan Cile– pada 1942 masih masuk ke dalam kekuasaan Raja Antoine III dari Kerajaan Araucanía dan Patagonia, berlangsung pada medio November 1942. Turnamen ini digagas Menteri Olahraga Kerajaan Patagonia asal Balkan, Count Vladimir von Otz. Pesertanya diikuti 12 tim.

  • Mengenalkan Indonesia di Piala Dunia

    PERHELATAN Piala Dunia 2018 akan dimeriahkan dengan penampilan drummer Indonesia. Kunto Hartono, drummer kelahiran Banyuwangi, unjuk kebolehan dengan menggebuk drum selama 24 jam di Moskow, Rusia. Rencananya, aksi Kunto dimulai 14 Juli pukul 16.00 waktu Moskow dan berakhir pukul 16.00 keesokan harinya pada hari final Piala Dunia 2018. Ada sekira sepuluh lagu nasional dan tradisional Indonesia yang dibawakan, seperti lagu “Bendera” dari band Cokelat, “Bubuy Bulan”, dan “Rek Ayo Rek”. Untuk mempersiapkan pertunjukan itu, Kunto bersama rombongannya berangkat ke Moskow pada Kamis (12/07) ini pukul 09.00 WIB. Menggebuk drum berjam-jam bukan pertama kali dilakukan Kunto. Pada Oktober 2002, dia memecahkan rekor MURI dengan menabuh drum 24 jam nonstop di Plaza Balaikota Bogor. Pada Agustus 2003, Kunto kembali memecahkan rekor MURI dengan menabuh drum selama 61 jam 15 menit di GOR Padjajaran, Bogor. Namun, catatan itu belum memuaskannya lantaran masih sebatas rekor nasional. Pada 30 Desember 2016 Kunto kembali unjuk kemampuan. Di pelataran Benteng Kuto Besak, Palembang, Kunto menggebuk drum nonstop selama 145 jam dan mencatatkan namanya dalam Guinness World Record. Aksi Kunto di Moskow merupakan bagian dari acara “The Beats of Indonesia, From Indonesia with Drum”. Acara ini bertujuan mengangkat nama Indonesia sekaligus mempromosikan program “Wonderful Indonesia” dari Kementerian Pariwisata dan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. “Dengan rekor unik dan kemampuan hebat yang dimilikinya, pertunjukan ini diharapkan ikut mengangkat nama Indonesia di dunia internasional,” kata Indra Bigwanto, co-founder GVM Networks. Kunto akan bermain drum dengan mata tertutup. Di sekitar area pertunjukan, GVM Networks yang memprakarsai acara itu meletakkan layar LED berukuran besar yang menampilkan pariwisata Indonesia. “Saya berterimakasih kepada GVM Networks yang telah memfasilitasi keberangkatan saya ke Rusia. Saya berharap nama Indonesia bergaung saat final Piala Dunia 2018,” kata Kunto. Awalnya, Kunto berencana menabuh drum non-stop sebelum laga Belgia versus Inggris hingga menjelang pertandingan Prancis versus Kroasia. Namun, mempertimbangkan aspek keamanan, rencana tersebut disesuaikan dengan kebijakan pihak keamanan Rusia. Kunto tampil di Rusia untuk mempromosikan Wonderful Indonesia dan Asian Games 2018. Acara ini didukung oleh GVM Networks, yang menaungi Bolalob.com, Opini.id, Womantalk.com, Historia.id, dan Bobotoh.id.*

  • Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair

    SETELAH sempat tertunda, peresmian Monument Soekarno di Alger, Aljazair terlaksana pada Sabtu (18/7/2020) pagi waktu setempat atau sore WIB. Monumen tersebut menjadi penanda hubungan persaudaraan antardua negara yang terpisah 12 ribu kilometer jauhnya. Pembangunan monumen itu diinisiasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Alger, didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan dipercantik sebuah patung Sukarno dari lempengan-lempengan besi karya pematung Dolorosa Sinaga. Peresmian itu dihadiri antara lain oleh Menteri Luar Negeri Aljazair Sabri Boukadoum, dan Gubernur Provinsi Alger Youcef Charfa. Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan cucu Sukarno, hadir secara virtual dari Jakarta.

  • Patung Bung Karno Berdiri di Aljazair

    JAUH di mata tapi dekat di hati. Meski jarak Indonesia dan Aljazair terbentang lebih dari 12 ribu kilometer, persahabatan antara kedua negara dan rakyatnya yang berbeda belahan dunia itu begitu dekat. Perekatnya tiada lain Bung Karno. “Itu yang saya rasakan semenjak menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair pada Maret 2016 lalu. Setiap kali hadir di berbagai forum di Aljazair dan pihak manapun yang mendengar nama Indonesia, pasti teringat nama Bung Karno. Faktanya beliau sangat diapresiasi karena mendukung Aljazair sebelum merdeka pada 1962,” ungkap Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah saat dihubungi Historia.ID. “Nama Indonesia begitu ngetop di Aljazair karena Bung Karno. Karena selain turut mengundang (delegasi kelompok perjuangan kemerdekaan) Aljazair, tahun 1956 pemerintah Indonesia membuka (kantor) perwakilan FNL (Front de Libération Nationale) di Jakarta (Jalan Serang, Menteng, Jakarta). Bayangkan, sampai seperti itu dukungan Bung Karno,” tambahnya.

  • Djamila Bouhired Srikandi Aljazair

    MONUMEN Sukarno telah berdiri di pusat kota Algiers, Aljazair. Monumen yang didesain oleh Ridwan Kamil dan Dolorosa Sinaga itu merupakan permintaan pribadi Gubernur Algiers sebagai penghormatan Aljazair pada Sukarno. “Bung Karno sangat dihormai di Aljazair. Karena inspirasi Bung Karno, juga karena semangat Dasa Sila Bandung di KAA 1955 yang memberikan inspirasi bagi para pendiri Aljazair untuk merebut kemerdekaan dari penjajah di sana. Ini merupakan kehormatan nama Indonesia di mata dunia,” ujar Ridwan Kamil di akun twitter-nya, 6 Mei 2020. Hubungan Indonesia dengan Aljazair memang sudah cukup lama terjalin. Sejak Konferensi Asia Afrika yang pertama, Indonesia juga beberapa kali memberi bantuan kepada negara-negara yang belum merdeka termasuk Aljazair.

  • CIA Gagalkan KAA II di Aljazair

    PADA 19 Juni 1965 dini hari yang sepi terdengar berondongan senapan mesin, mungkin ke udara. Deru panser bergerak membawa tentara yang bertugas memutus semua kawat telepon yang terhubung ke istana presiden. Pasukan bersenjata menyerbu istana dan membawa Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella yang sedang tertidur lelap. Gerakan militer itu hanya berlangsung sepuluh menit. Sejak saat itu berakhirlah kekuasaan Ben Bella. Dia dikudeta oleh Kolonel Houari Boumediene, Panglima Tentara Pembebasan Aljazair. Alasannya Ben Bella berkuasa dengan sewenang-wenang, seorang diktator yang meninggalkan dasar musyawarah. Tidak ada perlawanan dari penjaga istana maupun pasukan lain. Setelah itu pun tidak ada perlawanan. Ini membuktikan semua pasukan telah dikuasai Boumediene. Kudeta itu terjadi kurang dari sepekan sebelum Konferensi Asia Afrika II dimulai di ibu kota Algier. Boumediene menjamin KAA II akan tetap diselenggarakan sesuai rencana.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page