Hasil pencarian
9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Kang Aeng dan Bung Karno
SUATU pagi di tahun 1920-an, Sukarno mengayuh sepeda tak tentu arah dan tujuan. Hingga tanpa sadar dia sudah ada di pelosok Bandung bagian selatan. Pandangannya membentur sosok petani yang tengah mencangkul sawah. Sukarno menghentikan sepedanya dan mendekati sang petani. Terjadilah dialog yang cukup akrab sebagaimana dikisahkan dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . “Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?” tanya Sukarno. “Saya, Juragan,” jawab sang petani.
- Rumor Doppelgänger Hitler (Bagian II)
RUMOR tentang doppelgänger atau sosok pengganti Adolf Hitler tak hanya muncul ketika pasukan Soviet mencari keberadaan pemimpin Nazi itu setelah menguasai Berlin pada akhir Perang Dunia II. Kabar Hitler memiliki sosok pengganti untuk menyesatkan musuh juga muncul tahun 1930-an. Sebuah surat kabar memuat berita bahwa Hitler memiliki sosok pengganti yang bertugas untuk menggantikannya dalam acara-acara tertentu. Menurut Sven-Felix Kellerhoff dalam artikel “Hatte Hitler Doppelgänger–Oder Nicht?” di WELT , 29 September 2023, taktik itu terbongkar karena sosis. “Semuanya berawal dari Bratwurste (sosis khas Jerman, red .). Makanan itulah yang mengungkap rahasia tersebut –setidaknya menurut South China Morning Post . Surat kabar berbahasa Inggris dari Hong Kong itu pada 18 Januari 1939 memuat berita spektakuler di halaman 14, pojok kanan bawah, dengan judul ‘Hitler Memiliki Kembaran’,” tulis Kellerhoff. Berita tersebut mengungkapkan bahwa di München, seorang pria yang memiliki penampilan seperti Hitler duduk di restoran hotel terkenal Vier Jahreszeiten. Pria itu tidak hanya memiliki kumis tipis yang khas di bawah hidungnya, tetapi juga mengenakan seragam partai berwarna cokelat dan ditemani beberapa pejabat dari Braunes Haus, markas besar partai NSDAP. Pria yang tampak seperti Führer dan Kanselir Reich itu memesan menu makan siang, Bratwurste yang ditulis dengan terjemahan bahasa Inggris, sausages . Disusul kalimat sederhana bahwa Hitler seorang vegetarian. Atas dasar ini muncul rumor pria itu hanyalah sosok pengganti. Lewat sosis yang dipesan oleh sosok pengganti itu terungkap bahwa Hitler memiliki sejumlah orang yang mirip dengannya dan bertugas dalam keadaan tertentu untuk menghindari kemungkinan Hitler dalam bahaya. “Tidak diketahui apakah redaksi di Hong Kong sendiri percaya dengan apa yang mereka terbitkan. Bagaimanapun, tidak ada surat kabar berbahasa Inggris lain yang memuat cerita ini, dan tidak ada reaksi apa pun terhadapnya yang tercatat. Namun, anggapan bahwa Hitler memiliki sekelompok kembaran tetap bertahan hingga abad ke-21,” tulis Kellerhoff. Anggapan Kellerhoff terbukti benar dengan populernya foto dari Berlin yang diambil pada Mei 1945. Dalam gambar yang diambil dari potongan film pendek itu terlihat beberapa tentara Soviet berdiri di depan mayat dengan kumis khas. “Seseorang telah meletakkan salah satu potret khas Hitler di dada mayat tersebut, meskipun hal itu justru semakin memperjelas bahwa mayat tersebut tidak mungkin orang yang digambarkan. Pasalnya, dagu, rahang, dan hidung, serta alisnya, terlalu berbeda,” tulis Kellerhoff. Jenazah pria berkumis tipis itu diduga adalah Gustav Weler atau Veler. Sejarawan Hugh Thomas mencatat dalam Doppelgangers: The Truth about the Bodies in the Berlin Bunker , upaya NKVD, badan polisi rahasia dan intelijen Uni Soviet, mencari bukti bahwa jenazah tersebut adalah Hitler justru membawa mereka pada rumor sosok pengganti Hitler. “Tugas yang tampaknya mustahil ini dengan cepat membuahkan hasil. Kelompok operasional di kota Bernau memeroleh informasi tentang seorang bernama Gustav Veler yang sangat mirip dengan Fuhrer. Hingga tahun 1944, dia tinggal di Berlin, pernah dipanggil lebih dari sekali oleh Gestapo, yang menyarankannya agar dia mengubah gaya rambutnya dan mencukur kumisnya. NKVD mengetahui bahwa Veler telah dipanggil oleh Himmler dan diperingatkan, ‘Jika kamu menata rambutmu seperti Fuhrer, kamu akan menghilang selamanya’,” tulis Thomas. NKVD mewawancarai anggota Gestapo yang pernah memanggil Veler. Foto Veler disertakan dalam laporan NKVD yang menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan Hitler. Pertanyaan mendetail kepada anggota Gestapo itu mengonfirmasi bahwa sosok yang mirip Hitler memang ada dan Gestapo menyadarinya. Meski rumor sosok pengganti Hitler semakin menyeruak di akhir Perang Dunia II, kebenarannya masih diragukan. Menurut Arthur H. Mitchell dalam Hitler’s Mountain: The Fuhrer, Obersalzberg and the American Occupation of Berchtesgaden , salah satu ajudan Hitler, Wilhelm Brueckner, setelah berakhirnya Perang Dunia II, meragukan pemimpinnya itu menggunakan sosok pengganti. “Kemungkinan menggunakan sosok pengganti dikecualikan karena rasa jijik Hitler terhadap strategi semacam itu. Namun, Brueckner telah berhenti menjadi ajudan pada 1940. Bukti yang lebih meyakinkan diberikan oleh Johannes Hentschel, kepala teknisi listrik di Kantor Kanselir dan orang terakhir yang meninggalkan bunker Fuhrer, yang menyatakan bahwa dia tidak pernah melihat kembaran Hitler,” tulis Mitchell. Pasukan Soviet yang tiba di bunker Fuhrer pada awal Mei 1945 begitu antusias ketika menemukan jenazah yang mereka anggap Hitler di antara beberapa mayat lain dan segera memotret mayat tersebut. Namun, kebahagiaan mereka hancur ketika seseorang menyadari bahwa mayat itu mengenakan kaus kaki yang dijahit, sama sekali bukan gaya khas Hitler. Beberapa hari setelah pemotretan itu, para staf Kanselir diminta memberikan pendapat. Tiga di antara mereka tidak mengenali jenazah tersebut sebagai Hitler. Sementara seorang pelayan menyatakan bahwa jenazah itu adalah seorang juru masak yang dikenalnya dan dibunuh karena kemiripannya yang mencolok dengan Hitler. “Seorang perwira Rusia di tempat kejadian menyatakan bahwa dua doppelgänger ditemukan –satu di jalan dekat sana dan satu lagi di dalam bunker. Namun, Peter Hoffmann, pakar keamanan pribadi Hitler, meragukan bahwa Hitler menggunakan doppelgänger , dan David Irving, yang menghabiskan bertahun-tahun meneliti Hitler, tidak menemukan bukti praktik tersebut,” tulis Mitchell.*
- Habis Sudah Sang Antagonis
PADA 2004, lembaga Frontier Consultant & Riset Jakarta mengadakan survei marketing celebrity image di enam kota besar dengan tiga ribu responden. Juara untuk kategori image antagonis jatuh kepada Torro Margens, aktor senior yang meninggal dunia pada 4 Januari 2019. Ya, karakternya sebagai penjahat yang melekat di benak banyak orang. Torro Margens, bernama asli Sutoro Margono, lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada 5 Juli 1950. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi aktor dan sutradara. “Saya mulai tertarik dengan dunia seni peran karena kecintaan saya pada fim India, pada waktu kecil. Setiap pulang nonton filmnya, selalu saya menirukan gerak akting pemain India di kaca. Lho kok beda? Kenapa tubuh saya yang kelihatan cuma sebagian? Kenapa nggak seperti di film, seluruh tubuh bisa kelihatan. Berangkat dari keinginan tubuh saya kelihatan di film seperti artis India, akhirnya saya menekuni seni teater,” kata Torro dalam wawancara dengan majalah Film tahun 1993.
- Melengserkan Dekan yang Suka Perempuan
MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Peraturan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi sebagai upaya melindungi korban dan menghukum pelaku pelecehan seksual. Peraturan ini didukung banyak pihak, namun ada yang menolak dengan alasan melegalkan zina. Permendikbudristek itu dikeluarkan setelah terjadi banyak kasus pelecehan seksual di perguruan tinggi yang penyelesaiannya tidak berpihak kepada korban. Bahkan, korban yang berani bersuara diserang balik oleh pelaku. Seperti kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Syafri Harto, dekan FISIP Universitas Riau. Dia melaporkan balik korban, mahasiswi berinisial L, dan akun instagram @komahi-ur yang memposting video pengakuan korban. Dalam sejarah pernah terjadi pemberhentian dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FHIPK) Universitas Indonesia karena perilakunya tidak senonoh. Ini diceritakan oleh Adnan Buyung Nasution (1934–2015), alumni FHIPK yang kemudian menjadi pengacara terkemuka, dalam biografinya, Pergulatan Tanpa Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto .
- Kebersahajaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
BERTANYALAH ke para sepuh di Yogyakarta: siapa pemimpin yang menjadi panutan mereka? Pastilah jawabannya: Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hingga kini orang-orang tua di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya tak pernah akan melupakan sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebagai raja Jawa, banyak kalangan yang memandangnya sebagai sosok terbesar di sepanjang zaman. “Kami akan selalu mengingat dan menghormati sinuwun,” ujar Ki Herman Sinung Janutama, budayawan sekaligus penulis sejarah asal Yogyakarta. Sejatinya kisah kesederhanaan dan kemurahan hati yang dimiliki oleh lelaki yang dilantik sebagai raja pada 18 Maret 1940 itu, bukan saja diketahui oleh rakyatnya. Para kolega di luar lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pun menjadi saksi betapa pemurahnya Sri Sultan.
- Ketika Sultan Hamengkubuwono IX Masih Bernama Henkie
SABTU Pahing, 12 April 1912, di Yogyakarta lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dorojatun. Putra pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah itu kehadirannya amat dinanti. G.P.H. Puruboyo sendiri merupakan putra tunggal Pangeran Puruboyo dari garwa padmi (permaisuri). Saat diangkat menjadi raja, G.P.H. Puruboyo bergelar Sultan Hamengkubuwono VIII. Sejak masih berusia empat tahun, sang ayah telah menentukan pendidikan apa yang akan diterima Dorojatun. Ia bersama saudara-saudaranya harus tinggal dengan keluarga seorang Belanda. Diceritakan Mohammad Roem, dkk dalam Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, Sultan ingin putra-putranya menanggalkan semua kemewahan keraton, dan hidup dalam kesederhanaan. Namun tetap bisa belajar dengan baik, layaknya para bangsawan kala itu. “Instruksi sang Pangeran ketika itu jelas, yaitu agar putra-putranya dididik sebagai anak orang biasa saja, tidak diistimewakan karena status sosialnya yang tinggi. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda,” tulis Roem, dkk.
- Sultan Hamengkubuwono IX Naik Takhta
PADA September 1939, Gusti Raden Mas Dorojatun menerima sebuah telegram dari ayahnya, Sultan Hamengkubuwono VIII. Dorojatun yang sedang menempuh pendidikan di Belanda bersama saudara-saudaranya, tidak menyangka akan dihubungi sang ayah. Terlebih surat itu memuat juga permintaan mengejutkan ayahnyat: sesegera mungkin kembali ke tanah air. Rupanya Sri Sultan khawatir kondisi gawat di Eropa pasca penyerbuan Jerman ke Polandia mengancam keselamatan putra-putranya di Belanda. Maka disiapkanlah rencana pemulangan oleh pejabat Belanda yang khusus mengurusi perjalanan para putra Yogyakarta. Namun tiket pelayaran menuju Hindia Belanda hanya tersisa satu kursi. Diputuskanlah di antara kelima putra Sultan, sesuai permintaan, Dorojatun berangkat lebih dahulu. Perjalanan pulang yang memakan waktu berminggu-minggu pun dimulai. “Terselip rasa kecewa sejenak karena ia merasa sebagai mahasiswa tingkat doktoral sebaiknya menyelesaikan studi sampai tuntas, lalu pulang membawa gelar yang diinginkan. Akan tetapi, dalam surat-surat dari rumah ia merasakan kecemasan keluarganya. Ia maklum, situasi memang gawat. Lagi pula ia mendengar kesehatan ayahanda akhir-akhir ini mundur keadaannya,” tulis Mohammad Roem, dkk.
- Dana untuk Demo
SEHARI setelah Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Brigjen TNI Sucipto, ketua G-V Koti (Komando Operasi Tertinggi), membentuk KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh). Ini adalah front aksi pertama yang dibentuk untuk melawan PKI. Ketuanya Subhan Z.E. dari Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik. Sucipto kemudian memfasilitasi pertemuan para aktivis antikomunis dari berbagai organisasi (NU, HMI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, PII, Sekber Golkar, Front Nasional, Gasbindo, Gemuis, KBKI, Partai Katolik, dan PSII), untuk bertemu dengan Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto di markas Kostrad. Sesudah mengadakan rapat tertutup, menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto , para pimpinan kelompok itu menyelenggarakan konferensi pers (rapat umum) pada 4 Oktober 1965. Yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang semacam Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, yang sejak lama bekerja sama dengan para perwira Angkatan Darat yang anti-PKI. Dengan adanya kerja sama sebelumnya, mereka mampu dengan cepat mengorganisasikan diri.
- Sebuah Usaha Mengenal Sultan Hamengkubuwono IX
KENDATI memainkan peran penting, penampilan Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX) di dalam buku sejarah tak sesering tokoh republik lainnya. Soal tentangnya paling dikaitkan dengan posisinya sebagai wakil presiden RI kedua atau Wapres pertama semasa Presiden Soeharto. Selebihnya hanya terdengar sayup-sayup dalam berbagai perbincangan soal sejarah dan sesekali politik di negeri ini. Buku yang lumayan memberikan informasi tentang HB IX adalah Tahta Untuk Rakyat terbit pertama kali pada 1982. Buku yang disusun oleh para sahabat dekat HB IX seperti Mohammad Roem dan Mochtar Lubis itu memuat tulisan-tulisan mereka yang mengenal dekat HB IX dan juga kisah-kisah seputar kehidupan HB IX. Namun, sebagaimana buku “festschrift” yang ditulis oleh kalangan dekat HB IX, buku tersebut tak berjarak sama sekali alias kehilangan daya kritiknya. Maka penampilan HB IX pada buku tersebut tak lebih sebagai seorang yang menerima puja dan puji, nyaris tanpa cela sebagai manusia biasa.
- Sultan Hamengkubuwono IX dan Skripsinya
SETELAH lulus HBS (Hogere Burgerschool) di Bandung, pada Maret 1930, Gusti Raden Mas Dorodjatun berangkat ke Negeri Belanda untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebelumnya, dia masuk sekolah Gymnasium di Haarlem, karena perbedaan mutu pendidikan sekolah menengah dengan di Hindia Belanda, sehingga dia baru lulus pada 1934. Henkie, panggilannya, kemudian melanjutkan ke jurusan Indologi di Universitas Leiden, universitas tertua dan terkemuka. Orang-orang Belanda yang akan bekerja di pemerintahan Hindia Belanda biasanya mengambil jurusan Indologi. Di samping kuliah, Henkie bergabung dalam organisasi mahasiswa, seperti Leidse Studentencorps, Verenigde Faculteiten, dan Minerva. Henkie berhasil lulus dengan baik dalam candidaats-examen tahun 1937. Dia mendapat ijazah candidaat Indologi sehingga boleh melanjutkan pada tingkat doktoral (sarjana lengkap). Pada tahap ini, dia mengambil vak ekonomi sebagai mata kuliah pilihan, di samping beberapa vak penting lainnya.
- Hamka dalam Dua Zaman Penjajahan
HANYA perlu waktu seminggu buat Tengku Abdul Jalil untuk mengubah sikap dari kagum jadi antipati terhadap tentara Jepang. Sikap menentang itu timbul sejak 29 April 1942 saat Jepang memerintahkan seluruh rakyat Aceh melakukan seikerei , sikap badan membungkuk ke arah matahari terbit untuk menghormati kaisar Jepang. Kemarahan rakyat tak terbendung lagi. Tengku Jalil tak tinggal diam. Ulama tarekat itu menyerukan bahwa Jepang adalah Ya’juj dan Ma’juj (bangsa yang membuat kerusakan di bumi, red. ). “Agama kita telah runtuh karena perbuatan Majusi (kaum penyembah api, red. ), yang memaksa kita bertuhan kepada rajanya. Jika kita musuhi kafir Belanda yang keturunan Kitab (Ahli Kitab Nasrani, red .), maka kafir Majusi ini lebih wajib kita musuhi lagi,” katanya. Tekad Tengku Abdul Jalil sudah bulat. Jepang harus dilawan. Bujukan dan perintah pihak Jepang untuk menyerahkan diri tak digubrisnya. Puncaknya pada 11 November 1942 saat tentara Jepang mengepung madrasahnya, dia dan seratus muridnya melawan. 98 muridnya tewas. Tengku Abdul Jalil berhasil lolos dari kepungan. Dalam pelarian, dia menyusun serangan balik. Namun, tentara Jepang berhasil menyergapnya dan menghabisi nyawa ulama muda berusia 40 tahunan itu bersama sepuluh pengikutnya.





















