Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Medali Kehormatan Pahlawan Perang Vietnam yang Dipertanyakan
SEIRING hengkangnya mentari dari ufuk barat pada 11 April 1966, situasi kian mencekam. Parameter yang dibuat serdadu Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat (AS) mulai jebol. Desingan peluru Viet Cong makin gencar. Bill "Pits" Pitsenbarger (diperankan Jeremy Irvine), paramedis Angkatan Udara (AU) Amerika, memilih turut bertahan dan memanfaatkan upaya evakuasi terakhir dengan helikopter untuk koleganya yang terluka. Ia turut angkat senjata bersama segelintir pasukan Amerika yang tersisa hingga dini hari 12 April 1966. Saat tim evakuasi Amerika mendatangi lokasi itu lagi esok paginya, mayat-mayat serdadu Amerika bergelimpangan. Pits salah satunya. Tiga dekade berselang, pengajuan anugerah Medal of Honor –medali kehormatan tertinggi untuk anggota militer AS– untuk mendiang Pits muncul. Tugas me-review sebelum sang pahlawan dianugerahi penghargaan jatuh kepada birokrat Kementerian Pertahanan Amerika di Pentagon Scott Huffman (Sebastian Stan), sebelum penghargaannya diserahterimakan ke Frank Pitsenbarger (Christopher Plummer), ayah mendiang Pits.
- Tiongkok Kalahkan Vietnam di Paracel
PEMERINTAH Tiongkok berang. Pada 2 Juli lalu, kapal perang USS Stethem milik Amerika Serikat berada di dekat Pulau Triton, Kepulauan Paracel. Tiongkok menganggap kepulauan yang berada di Laut China Selatan itu miliknya dan pelayaran tersebut sebagai provokasi. Bagi Tiongkok, USS Stethem dinilai telah melanggar kedaulatan wilayahnya serta mengancam keamanan negeri Tirai Bambu. Sebagai respons, Tiongkok mengirim sejumlah kapal perang dan pesawat tempurnya. Menurut juru bicara Tiongkok Lu Kang, Beijing tak segan mengambil langkah apapun demi menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan negerinya. Hingga kini, Kepulauan Paracel masih menjadi sengketa antara Tiongkok, Vietnam, dan Taiwan. Masing-masing negara bersikukuh dengan klaimnya. Tiongkok dan Vietnam bahkan adu bukti baik dengan menyodorkan bukti artefak, catatan tertulis, hingga peta kuno.
- Persipura Mengalah di Vietnam
DI TENGAH peperangan, Vietnam menggelar Quoc Khanh Cup atau Vietnam National Day Tournament, kompetisi invitasi yang bergulir sejak 1961 sampai 1974. Kompetisi yang selalu digelar di Saigon ini tidak diadakan pada 1963, 1964, 1968, dan 1969. Tim nasional Indonesia berpartisipasi pada 1961, 1962 (runner up), dan 1970. Pada kompetisi tahun 1973, Indonesia diwakili oleh Persija Jakarta yang pulang membawa trofi setelah mengalahkan Malaysia 3-2. Pada kompetisi terakhir tahun 1974, Indonesia diwakili oleh Persipura Jayapura. Rombongan tim dipimpin oleh Gubernur Irian Jaya Brigjen TNI (Purn.) Acub Zainal. Untuk biayanya, dia meminjam sebesar Rp30 juta dari uang tanah ulayat masyarakat adat Suku Wadi, Bano, Merabano, Nasadit dan Sem.
- Pembantaian Paman Sam di Vietnam
DIREKTUR My Lai Museum, Pham Thanh Cong, tak pernah melupakan peristiwa yang terjadi ketika dirinya berusia sebelas tahun. Peristiwa itu juga membekas pada keluarganya dan lebih dari 200 keluarga tetangganya. Pada pagi 16 Maret 1968, dia bersama ibu dan empat saudaranya mendengar suara helikopter yang membawa pasukan Amerika Serikat (AS). Sang ibu mengajak anak-anaknya berlindung ke dalam bunker sederhana yang ditutupi jerami di dalam rumah. Namun, upaya itu sia-sia. Serdadu AS memerintahkan semua orang di dalam rumah agar keluar. Kejadian mengerikan pun terjadi setelah itu. Sejak Yon ke-48 Vie Cong melancarkan Tet Offensive pada Januari 1968, militer AS membentuk unit khusus, Task Force Baker (TFB) di bawah pimpinan Letkol Frank Baker. TFB beroperasi di beberapa desa di Provinsi Quang Ngai, yang oleh intelijen AS ditengarai sebagai tempat mundur pasukan Yon ke-48 Vie Cong.
- Silent Majority, Richard Nixon, dan Perang Vietnam
ISTILAH silent majority menjadi sorotan warganet setelah pelaksanaan Pemilu 2024. Istilah ini dapat diartikan sebagai bagian terbesar dari populasi suatu negara yang terdiri dari orang-orang yang tidak terlibat secara aktif dalam politik atau tidak mengekspresikan pendapat politik mereka secara terbuka. Sejak kapan istilah ini populer? Istilah silent majority mencuri perhatian publik saat Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menyampaikan pidato terkait Perang Vietnam pada 3 November 1969. Pidato itu kini dikenal dengan sebutan “Silent Majority Speech”. Dinamakan demikian karena Nixon meminta dukungan dari “mayoritas penduduk Amerika yang tidak secara terbuka mengekspresikan pendapat mereka” untuk upaya Vietnamisasi yang akan dilakukan oleh pemerintahannya. Dalam otobiografinya, The Memoirs of Richard Nixon, mantan wakil presiden era pemerintahan Dwight D. Eisenhower itu menyatakan bahwa AS akan terus berjuang hingga pihak komunis setuju untuk menegosiasikan perdamaian yang adil dan terhormat di Vietnam, atau sampai Vietnam Selatan dapat mempertahankan diri mereka sendiri yang juga dikenal sebagai upaya Vietnamisasi.
- Alain Delon Ikut Perang di Vietnam
SETELAH putus sekolah di usia 14 tahun, dirinya hanya punya pilihan amat sedikit pilihan dalam hidup. Di antara yang sedikit itu, Republik Prancis negerinya di tahun 1950-an masih memberi tempat kepada remaja putus sekolah: menjadi sukarelawan. Suka tak suka, Alain Fabien Maurice Marcel Delon alias Alain Delon, remaja itu, pun masuk Marine Nationale (Angkatan Laut Perancis). Remaja bengal itu segera belajar hidup ala serdadu. “Di militer saya belajar disiplin, bagaimana menghadapi orang lain dan atasan, dengan stres dan dengan rasa takut,” aku Alain Delon, dikutip Thilo Wydra dalam Eine Liebe in Paris – Romy und Alain. Alain Delon bergabung di dalam satuan Fusiliers Marins. Berbeda dari pasukan bersenjata marinir pada umumnya, satuan itu bertugas menjaga kapal dan instalasi Angkatan Laut.
- Ketika Paman Ho dan Tan Malaka Bertemu
KEDEKATAN Presiden Sukarno dan Ho Chi Minh selalu dikaitkan dengan permulaan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Vietnam. Keakraban keduanya terlihat manakala mereka saling berkunjung ke negeri yang dipimpinnya masing-masing. Paman Ho, sapaan akrab Ho Chi Minh, mengunjungi Indonesia pada 27 Februari - 3 Maret 1959. Sedangkan kunjungan balasan dari Sukarno dilakukan pada 24 Juni - 9 Juli 1959. Namun rupanya jauh sebelum Sukarno berkarib dengan Ho Chi Minh, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) Tan Malaka telah lebih dahulu menjalin hubungan dengan tokoh komunis Vietnam tersebut. Dalam Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan, Arif Zulkifli, dkk. menyebut jika pertemuan Tan dan Ho terjadi pada 1922 di Moskow, Uni Sovyet. Tidak seperti pertemuan dengan Sukarno, yang dilakukan setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dan Vietnam dalam proses revolusi, hubungan antara Tan dan Ho terjalin ketika Hindia (nama Indonesia sebelumnya) masih memegang status jajahan Belanda dan Vietnam di bawah kuasa bangsa Prancis. Keduanya sama-sama sedang berusaha menggelorakan kebebasan di negerinya masing-masing.
- Ho Chi Minh Hidup Bersama Rakyat
HO CHI MINH berjenggot putih dengan pakaian sederhana ala Vietnam dan selalu beralas kaki potongan ban. Ia lahir 19 Mei 1890 (sumber lain menyebut 1892) dan wafat 2 September 1969, tujuh tahun sebelum penyatuan kedua Vietnam. Tokoh bersahaja ini, menurut Roeslan Abdulgani, memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjajaran Bandung tahun 1959. Ia mengaku sekolah dari alam. “Alam mengajar saya bagaimana mencintai dan membenci: membenci penindas, egoisme, dan perang.” Strategi Perjuangan Perjuangan Ho Chi Minh dimulai dengan mempersiapkan embrio partai secara rahasia. Tahun 1925, di Canton, ia menciptakan sel partai dengan merekrut kader-kader. Filsafat perjuangannya seperti buah. Bila kita melihat buah, hanya terlihat kulitnya saja. Isi di dalamnya terus berkembang. Kekuatan buah itu terletak pada bijinya yang keras dan tidak tampak dari luar. Jika buah itu jatuh dan membusuk, bijinya bertebaran di tanah dan kembali tumbuh menjadi tanaman yang kemudian berbuah lagi. Untuk melancarkan aksi di Vietnam, Ho memiliki dua basis. Pertama, co sa atau “tempat berpijak”; keluarga yang bersimpati pada gerakan, menampung mereka untuk sementara, dan ikut melakukan kamuflase. Kedua, chien ku atau “zona perang” tempat partai, gerilyawan, dan rakyat.
- Kepergian Pemimpin Vietnam
KETIKA menjadi presiden, Ho Chi Minh tinggal di kompleks istana kepresidenan di Hanoi. Namun, jangan mengira rumahnya bak hotel berbintang. Dia menempati gubuk kecil di belakang istana dengan sedikit harta kekayaan: satu stel pakaian khaki, kipas dari daun palem, dan sepasang sandal karet yang selalu dia gunakan bahkan ketika menerima tamu negara. Ho Chi Minh membentangkan tali di tengah jalan antara gubuknya dan istana; dia selalu meloncatinya bila melintas. Tak ada yang tahu apa maksud sebenarnya dari perbuatan itu. Yang pasti, dia hanya menggunakan Istana untuk menerima tamu dan acara kenegaraan lainnya. “Tidak kuat batinnya kalau tinggal di istana,” ujar Amarzan Lubis, delegasi Harian Rakjat yang menyambanginya di Hanoi pada 1964. Kesederhanaan Ho Chi Minh “mengerem” gaya hidup mewah para pejabatnya. Pernah suatu kali seorang pejabat mengatakan bahwa gaya hidup Ho mewakili rakyat dan partai mungkin tak akan ada lagi setelah kematian Ho. Ho Chi Minh menjawab enteng tapi pedas: “Bahkan ketika saya masih hidup seperti ini beberapa orang dari Anda masih mengeksploitasi rakyat. Apakah Anda akan mengambil seluruh yang mereka punya bila saya hidup mewah?”
- Perang Vietnam Berakhir di Meja Perundingan
SAIGON, 30 Januari 1968, lewat dini hari. Warga kota baru usai merayakan tahun baru Imlek. Sebagian besar masih larut dalam pesta. Tak ada yang mengira kalau malam itu pertempuran dahsyat akan meletus. Sementara itu, pasukan Vietcong menyelusup ke kota. Tepat pukul 02.30, rentetan senapan membahana, mengagetkan pegawai Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Tentara Republik Vietnam (Selatan). Tak siap, korban pun berjatuhan. Fase ini menjadi babak awal perdamaian di Vietnam. Perang itu terus berkobar hingga Agustus. Pasukan Vietcong berada di atas angin meski mereka gagal merebut Saigon. Sebaliknya, AS dan Vietnam Selatan kehilangan banyak tentara. Sebagian yang tersisa mengalami depresi. Penyalahgunaan obat-obatan seketika menjadi kaprah di kalangan mereka. Dukungan publik AS untuk Lyndon B. Johnson, presiden AS kala itu, pun menyurut. Menurut Simon M. Dennis, profesor sejarah pada Universitas Michigan, dalam “The War in Vietnam 1965-1968”, hanya 26 persen rakyat AS yang mendukung Johnson menangani Perang Vietnam. Sadar tak didukung, Johnson menolak dicalonkan sebagai presiden pada 1969. Posisinya digantikan Richard M. Nixon.
- Perang Amerika di Vietnam
SORE hari, 2 Agustus 1964. Sebuah kapal perusak Amerika Serikat, USS Maddox sedang berpatroli di Teluk Tonkin. Sudah sekira enam bulan AS menggelar operasi laut rahasia dengan Vietnam Selatan dalam operasi intelijen bersandi Desoto dengan mengemban misi “memancing dan merekam” reaksi Vietnam Utara terhadap serangan-serangan komando. Tiga kapal patroli Vietnam Utara melaju mendekati USS Maddox. Mengira akan diserang, komandan USS Maddox, Kapten John Herrick, memerintahkan untuk melepaskan tembakan. Bantuan yang sebelumnya diminta pun datang. Empat jet tempur F-8E Angkatan Laut datang dan menembak perahu-perahu patroli itu. Penumpangnya menyelamatkan diri. “Insiden serupa” terjadi dua hari kemudian. Kapal AS berpatroli di lepas pantai Vietnam Utara di tengah cuaca buruk. Tiba-tiba kapal menerima radar, sonar, dan sinyal yang mereka percaya adanya serangan dari Vietnam Utara. Selama dua jam kapal itu menembaki target di radar sembari bermanuver. Insiden ini sampai ke Washington. Presiden dan Pentagon menyebutnya serangan tanpa alasan oleh Vietnam Utara atas kapal-kapal AS di perairan internasional.
- Kawan Sehaluan dari Negeri Seberang
AMARZAN Loebis dan rekan-rekannya dari delegasi Harian Rakjat mengajukan dua syarat kepada delegasi Bintang Merah, Vietnam Utara ketika mereka mendapat tawaran untuk mengunjungi negara bekas jajahan Prancis itu. “Kami ingin bertemu Paman Ho dan Vo Nguyen Giap,” kata Amarzan kepada mereka pada perayaan ulang tahun Partai Komunis Tiongkok 1 Oktober 1964, di Peking. Bintang Merah, seperti juga Harian Rakjat dengan PKI, memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Vietnam Utara. Menurut Amarzan media tersebut memiliki kedekatan dengan Departemen Penerangan. Sehingga untuk mengatur pertemuan dengan Ho Chi Minh bukanlah hal yang sulit. Delegasi Vietnam menyanggupi permintaan Amarzan dan kawan-kawan. Usai menghadiri acara, delegasi Harian Rakjat yang terdiri dari Samtiar, Baroto, Yuliarso, Amarzan Lubis dan pemimpin redaksi Harian Rakjat Mula Naibaho itu bertolak menuju Hanoi, Vietnam Utara. “Di antara delegasi saya-lah yang paling muda,” kenang Amarzan.





















