top of page

Hasil pencarian

9747 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Anak Buah Westerling Bikin Kudeta di Suriname

    KENDATI masih “bau kencur”, Desiré Delano Bouterse alias Dési Bouterse bukan sembarang bintara. Ketika masih berpangkat Sersan Mayor (Serma), bekas instruktur sport militer itu pada 25 Februari 1980 berani mengkudeta Presiden Henck Arron dan menggantikannya dengan dr. Henk Chin A Sen. Eks Serma Bouterse kemudian menjadi orang berkuasa di Suriname. Kudeta Bouterse itu dikenal sebagai Kudeta Sersan. Kabar kudeta Sersan Mayor Bouterse itu sampai juga ke Negeri Belanda. Itu menggelisahkan Frederik Ferdinand Ormskerk alias Fred yang hampir berusia 57 tahun. Fred kemudian membangun komplotannya dan kembali ke Suriname. Komplotan Fred itu dianggap berusaha melakukan kudeta balasan terhadap eks Serma Bouterse. Gerakan Fred rupanya melibatkan Johan Kasantaroeno dan Letnan Roy Bottse. Johan adalah mantan menteri yang dari nama belakangnya, Kasantaroeno, adalah keturunan Jawa. Sementara Letnan Roy Bottse adalah bekas perwira tentara. Keduanya kabur dari ibukota setelah Kudeta Sersan. Fred berhasil menghimpun pasukan lantaran konon, ada suntikan dana sebesar 30 ribu gulden dari Menteri Belanda Jan Pronk.

  • A Pious Watchmaker in Surabaya

    The DESIRE to risk his life for a better future fueled the determination of Johannes Emde, a young Dutchman, to leave home. This passion grew even stronger after being inspired by a sailor friend who told him about his experiences visiting many places. Emde finally signed up to become a sailor.  Good fortune came his way. Emde was accepted as a sailor on a ship sailing to Batavia (now Jakarta), with the salary of 90 guilders.  After arriving in Batavia, the adventure of Emde, who couldn't escape from military service, began. Exploring part of the coast of Kalimantan and getting involved in a war against pirates in the waters of Banjarmasin were just some of Emde's extraordinary adventures in the Dutch East Indies.

  • Cerita Lama Soal Kudeta di Indonesia

    DI Bandara Halim Perdanakusuma, sesaat sebelum terbang menuju Jerman dan Hungaria, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan berdasarkan laporan intelijen akan ada gerakan kudeta. Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) yang didirikan ratusan tokoh di Cisarua, Bogor pada Januari 2013, akan turun ke jalan secara besar-besaran pada 24-25 Maret menuntut SBY turun karena dianggap gagal. SBY menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Sepulang dari lawatan, SBY mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, tujuh purnawirawan jenderal, 20 pemimpin redaksi media massa, dan petinggi 13 organisasi masyarakat Islam. Kepada mereka, SBY membagi cerita kudeta. Bukan kali ini SBY mengungkapkan adanya rencana kudeta. Pada 2009, dia menggelar jumpa pers untuk memaparkan sejumlah potret hasil kerja intel yang menunjukkan bahwa dia menjadi target teroris. Pada 2010, organisasi Petisi 28 menggulirkan isu kudeta saat umur jabatan presiden SBY genap setahun. Salah satu tokoh yang mendengungkan revolusi perebutan kekuasaan adalah Rizal Ramli, mantan menteri koordinator perekonomian era Abdurrahman Wahid. Tahun berikutnya, sejumlah purnawirawan jenderal berencana mengkudeta melalui gerakan Dewan Revolusi Islam. Semua gerakan itu tak terjadi.

  • Pilot CIA Lolos dari Hukuman Mati di Indonesia

    MINGGU malam, 18 Mei 1958 itu juga, berita tertangkapnya Pope sampai ke Markas Besar CIA di AS. Direktur CIA, Allen Dulles segera mengirim telegram kepada para perwira CIA di Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Singapura: tinggalkan posisi, hentikan pengiriman uang, tutup jalur pengiriman senjata, musnahkan semua bukti, dan mundur teratur. “Inilah saatnya bagi Amerika Serikat untuk pindah posisi. Sesegera mungkin, kebijakan luar negeri Amerika berubah arus,” tulis Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA. Dalam wawancara dengan Weiner pada 2005, Pope mengakui bahwa operasi CIA di Indonesia gagal. “Namun kami telah memukul dan melukai mereka. Saya suka membunuh komunis dengan cara apapun yang bisa saya lakukan. Kami membunuh ribuan komunis, meskipun setengah di antaranya mungkin tidak mengerti apa yang dimaksud dengan komunisme,” kata Pope.

  • Pratiwi Sudarmono, Wanita Indonesia yang Hampir Menjelajah Antariksa

    PADA Juli 1985, tim dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengunjungi Jakarta. Kedatangan mereka untuk mendiskusikan dan mengawasi proses seleksi payload specialist  Indonesia yang akan terlibat dalam misi penjelajahan ke luar angkasa. Payload specialist  merupakan individu yang dipilih dan dilatih oleh organisasi komersial atau riset untuk menangani muatan spesifik dalam misi luar angkasa. Mereka yang mengemban tugas ini juga melakukan eksperimen atau penelitian kedirgantaraan, mengoperasikan peralatan laboratorium luar angkasa, serta mengelola operasi harian stasiun luar angkasa dengan antariksawan lainnya. Menurut Colin Burgess dalam Shattered Dreams: The Lost and Canceled Space Missions , kandidat yang terpilih sebagai payload specialist  dari Indonesia akan terbang dengan pesawat ulang-alik Columbia dalam misi STS-61H, yang dijadwalkan untuk diluncurkan pada Juni 1986. Setelah pertemuan tersebut, tanggal 1 November, ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menunjuk anggota komite pengarah untuk menentukan dan mengawasi kriteria seleksi dalam memilih kandidat yang paling sesuai untuk peran ini. Bulan berikutnya, pemerintah Indonesia secara resmi menerima tawaran AS untuk mengizinkan seorang antariksawan Indonesia bergabung dalam misi pesawat ulang-alik untuk membantu peluncuran satelit komunikasi Indonesia.

  • Tiga Prasasti Tarumanagara (Bagian I)

    KAMPUNG Cibuaya di Karawang geger pada suatu hari di tahun 1951. Muasalnya dari warga bernama Warsinah yang sedang menggali sumur. Bukan air yang didapat, dia malah menemukan sebuah arca. Kaget, warga awam itu pun segera melapor ke aparat setempat. “Benda ini ditemukan oleh Pak Warsinah dari Kampung Cibuaya, ditemukan ketika ia menggali sedalam 21 meter. Patung ini setelah dilaporkan kepada Lurah Erman langsung diberikan kepada Camat pada waktu itu,” tulis sejarawan Halwany Michrob dalam artikel di Buletin Kebudayaan Jawa Barat, edisi No. 2, tahun 1976, “Beberapa Masalah dan Latar Belakang Kepurbakalaan di Indonesia”. Belakangan, yang ditemukan Warsinah ternyata adalah arca Dewa Wisnu –kelak dikenal sebagai Arca Wisnu Cibuaya I. Kemudian pada 1957 dan 1975, berturut-turut ditemukan arca mirip sehingga disebut sebagai Wisnu Cibuaya II dan Wisnu Cibuaya III. Kampung Cibuaya pun pun mulai jadi situs penggalian para arkeolog. Semua ternyata masih berkaitan dengan sejarah Tarumanagara.

  • Pengemis dan Kapten Sanjoto

    SEBUAH rumah di Merbaboeparkweg alias Jalan Taman Merbabu, Malang ramai pada malam 27 September 1941. Sang tuan rumah, Kapten Raden Sanjoto Adi, punya hajat yang bukan kaleng-kaleng. Banyak dari para tamu yang datang merupakan petinggi militer maupun sipil. Hajat itu merupakan syukuran Kapten Sanjoto atas penghargaan yang diterimanya dari pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan itu didapat Kapten Sanjoto berkat kiprahnya dalam bidang sosial di daerah Gadang, Malang. Gadang, disebut Soerabaijasch Handelsblad  tanggal 19 Februari 1938, menjadi tempat penampungan para tunawisma. Untuk mewujudkan aksi sosial itu, sebuah yayasan bernama Pangoengsen Gadang didirikan. Yayasan yang dimiliki seorang Tionghoa tersebut mendirikan rumah penampungan untuk para tunawisma dengan sewa sebesar 100 gulden setiap bulannya.

  • Ketika Singa Jadi Lambang Kota Malang

    SEPAKBOLA merupakan olahraga yang populer di Indonesia. Penggemarnya mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Mereka datang ke stadion demi menonton aksi para pemain klub idolanya dalam mengolah si kulit bundar. Ada beberapa jenjang kompetisi sepakbola di Indonesia, yang paling populer adalah Liga 1. Kompetisi kasta teratas ini diikuti klub-klub terkemuka, salah satunya Arema FC yang didirikan pada 11 Agustus 1987. Klub asal Malang ini berjuluk Singo Edan. Singa mungkin diambil dari Singhasari atau lambang Malang pada zaman kolonial Belanda. Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe  menyebut Malang telah menjadi gemeente  atau pemerintah kotamadya sejak tanggal 1 April 1914 –tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Malang. Namun, lambang dan semboyan Gemeente Malang baru ditetapkan pada 1937 di masa pemerintahan Wali Kota J.H. Boerstra yang memimpin mulai tahun 1936 hingga 1942.

  • Menu Sederhana Presiden Pertama

    MUSLIH bin Risan hafal salah satu santapan favorit Presiden Sukarno. Apalagi kalau bukan sambal pecel. Ia hampir selalu ada di meja makan keluarga sang presiden. “Kalau enggak ada, pasti Bapak menanyakan,” ujar Muslih (70), bekas pelayan pribadi keluarga Sukarno, kepada Historia . Sambal pecel selalu menemani santap siang Sukarno, biasanya disajikan bersama lele plus lalapan daun singkong dan pepaya. Sukarno akan mencomot langsung dari cobekan dan menyantapnya dengan tangan zonder sendok dan garpu. “Kalau lagi makan pecel lele, Bapak seperti ‘tidak ingat sekitarnya’,” kata Muslih sambil terkekeh.

  • Anak KNIL Jadi Penyanyi

    SUATU hari, Inspektorat Ketenagakerjaan Kerajaan Belanda menganggap seorang bocah telah dipekerjakan tanpa izin kerja. Bocah itu adalah Barbara Alexandra Reemer, yang bernyanyi dalam program TV KRO . Umurnya masih 15 tahun dan terhitung belum 10 tahun tinggal di Belanda. Ayah nona yang pandai menyanyi dan dikenal sebagai Sandra Reemer itu pun kesal.   “Putri saya dan juga putra saya Frankie secara rutin tampil untuk orang sakit, dan tidak diperlukan izin kerja untuk itu. Saya menganggap itu standar ganda,” terang Franciscus Justinus Reemer alias Frans Reemer di Leeuwarder Courant edisi 22 September 1964.   Frans tak berhenti di sana. Hingga dia membongkar masa lalunya yang sangar. “Tuan, seandainya Anda tahu. Saya adalah anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger, red .). Saya pernah menjadi anggota Mahkamah Tentara... Saya bahkan pernah menjatuhkan hukuman mati,” sambungnya.   Frans muda ikut dalam Perang Dunia II di Hindia Belanda (kini Indonesia). Dalam kartu tawanan perang Jepang atas nama dirinya, Frans disebut bertugas di Batalyon Depot Infanteri ke-7 di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1942 dengan pangkat Vandrig. Pangkat itu setara letnan dua dan biasanya disandang para bekas taruna Akademi Militer Kerajaan di Bandung seperti Abdul Haris Nasution atau Tahi Bonar Simatupang atau taruna Corps Opleiding voor Reserve Officiern (CORO) yang mencetak perwira cadangan di Bandung.   Frans yang kelahiran 12 Februari 1920 itu berayahkan Frans Chr. J. Reemer dan beribu Tjiaw Nio. Pada 1942, ayahnya sempat tinggal di Gedong Delapan Bandung. Sebelum masuk militer, Frans adalah pegawai perusahaan listrik Bandung NV Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO). Frans yang mengaku asal Batavia ini jadi tinggal di Bandung waktu mudanya.   Namun ketika tentara Jepang menyerbu Jawa, Frans dan kawan-kawan tentara KNIL-nya tidak mampu menahan. Frans akhirnya ditawan.   Sebabai tawanan yang hidup dalam kerangkeng besi, Frans tak terus-menerus disiksa. Kesempatan itu dia gunakan untuk belajar bahasa.   “Selama pendudukan Jepang, saya bertugas sebagai penerjemah,” aku Frans di koran De Nieuwe Limburger  tanggal 13 November 1963.   Penderitaan Frans di kamp tawanan baru berakhir akhir 1945, jadi dia 3,5 tahun ditawan. Setelah tentara Jepang menyerah, Frans kemungkinan diaktifkan kembali sebagai militer dengan pangkat letnan. Pangkat terakhirnya di KNIL adalah letnan satu.   Setelah 1945, mahkamah militer Belanda beberapa kali menjatuhkan hukuman mati kepada penjahat perang dari tentara Jepang. Frans termasuk di dalam mahkamah yang menjatuhkan vonis tersebut. Namun tak jelas siapa yang pernah divonis mati Letnan Frans.   Begitu Bandung agak aman, Frans bertunangan dengan Petronella Cornelia Johanna Kuitems alias Nelly Kuitems. Perempuan kelahiran tahun 1925 –diperkirakan lima tahun lebih muda dari Frans– itu blasteran Jawa-Belanda. Frans sendiri selain mengalir darah Belanda di tubuhnya, juga darah Tionghoa dan darah Sumatra. Indische Courant voor Nederland  tanggal 5 Februari 1949 memberitakan, mereka bertunangan di Bandung pada 12 Januari 1949.   Setelah perang Indonesia dengan Belanda berakhir, Frans kembali menjadi orang sipil. Frans dan Nelly kemudian tinggal di Bandung. GEBEO menerimanya kembali bekerja. Di masa inilah, pada 17 Oktober 1950, Sandra lahir di Bandung. Frankie juga lahir di kota ini.    Selain bekerja, di Bandung Frans bisa melampiaskan hobi bermusiknya dengan nyaman. Dia bisa bermain biola dan bernyanyi untuk sebuah orkes simfoni. Belakangan dia bermain gitar. Anak-anaknya juga diajarinya bermain gitar.   Meski nyaman tinggal di Bandung, keluarga Indo dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu tak memilih kewarganegaraan Indonesia. Pada 1958, mereka ikut dideportasi buntut nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Keluarga itu pun kemudian tinggal di Belanda.   Frans mendapat pekerjaan sebagai akuntan. Di Belanda, bakat musik Sandra dan Frankie terlihat dan hingga dapat panggung. Awal kariernya dirintis ketika masih belasan tahun, Sandra pernah merekam lagu Melayu macam “Nona-nona”, “Kopi Susu”, “Kapal Ladju”  dan lain-lain di era 1960-an.   “Saat ini, saya seorang akuntan, tetapi juga penulis lirik. Banyak lagu yang dinyanyikan Sandra adalah karya saya sendiri,” aku Frans di De Nieuwe Limburger  tanggal 13 November 1963.   Lagu-lagu Sandra ada pula yang berbahasa Jepang. Pengalaman Frans sebagai tawanan perang Jepang amat membantunya menyiapkan lagu untuk anaknya.   Karier Sandra makin cemerlang di era 1970-an. Duetnya dengan Andres cukup sukses. Pada awal 1970-an lagu “Storybook Children” karya Chip Taylor dan Billy Vera yang mereka nyanyikan laris didengar publik Belanda dan juga Indonesia. Masa itu pula Sandra pernah berkunjung ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Ahmad Albar, yang juga pernah sukses di Belanda sebelum menjadi rocker Indonesia yang legendaris. Sandra masih manggung sebagai penyanyi hingga era 1980-an.*

  • Politik Gentong Babi di Parlemen

    DALAM rapat Badan Anggaran DPR RI awal Mei 2010, sejumlah fraksi mengusulkan dana aspirasi yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp8,4 triliun atau tiap anggota DPR (560 orang) mendapat jatah Rp15 miliar. Fraksi yang paling gigih memperjuangkannya adalah Partai Golkar. Alasannya untuk program percepatan pembangunan di daerah pemilihan. Kritik pun berdatangan. Demonstrasi dilakukan, menyebut dana aspirasi ini sebagai “gentong babi”, yang rawan korupsi alias hanya memenuhi celengan para politisi. Istilah “gentong babi” ( pork barrel ) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah sasaran.

bottom of page