top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kebersahajaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

    BERTANYALAH ke para sepuh di Yogyakarta: siapa pemimpin yang menjadi panutan mereka? Pastilah jawabannya: Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hingga kini orang-orang tua di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya tak pernah akan melupakan sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebagai raja Jawa, banyak kalangan yang memandangnya sebagai sosok terbesar di sepanjang zaman. “Kami akan selalu mengingat dan menghormati sinuwun,” ujar Ki Herman Sinung Janutama, budayawan sekaligus penulis sejarah asal Yogyakarta. Sejatinya kisah kesederhanaan dan kemurahan hati yang dimiliki oleh lelaki yang dilantik sebagai raja pada 18 Maret 1940 itu, bukan saja diketahui oleh rakyatnya. Para kolega di luar lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pun menjadi saksi betapa pemurahnya Sri Sultan.

  • Ketika Sultan Hamengkubuwono IX Masih Bernama Henkie

    SABTU Pahing, 12 April 1912, di Yogyakarta lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dorojatun. Putra pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah itu kehadirannya amat dinanti. G.P.H. Puruboyo sendiri merupakan putra tunggal Pangeran Puruboyo dari garwa padmi  (permaisuri). Saat diangkat menjadi raja, G.P.H. Puruboyo bergelar Sultan Hamengkubuwono VIII. Sejak masih berusia empat tahun, sang ayah telah menentukan pendidikan apa yang akan diterima Dorojatun. Ia bersama saudara-saudaranya harus tinggal dengan keluarga seorang Belanda. Diceritakan Mohammad Roem, dkk dalam Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX,  Sultan ingin putra-putranya menanggalkan semua kemewahan keraton, dan hidup dalam kesederhanaan. Namun tetap bisa belajar dengan baik, layaknya para bangsawan kala itu. “Instruksi sang Pangeran ketika itu jelas, yaitu agar putra-putranya dididik sebagai anak orang biasa saja, tidak diistimewakan karena status sosialnya yang tinggi. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda,” tulis Roem, dkk.

  • Sultan Hamengkubuwono IX Naik Takhta

    PADA September 1939, Gusti Raden Mas Dorojatun menerima sebuah telegram dari ayahnya, Sultan Hamengkubuwono VIII. Dorojatun yang sedang menempuh pendidikan di Belanda bersama saudara-saudaranya, tidak menyangka akan dihubungi sang ayah. Terlebih surat itu memuat juga permintaan mengejutkan ayahnyat: sesegera mungkin kembali ke tanah air. Rupanya Sri Sultan khawatir kondisi gawat di Eropa pasca penyerbuan Jerman ke Polandia mengancam keselamatan putra-putranya di Belanda. Maka disiapkanlah rencana pemulangan oleh pejabat Belanda yang khusus mengurusi perjalanan para putra Yogyakarta. Namun tiket pelayaran menuju Hindia Belanda hanya tersisa satu kursi. Diputuskanlah di antara kelima putra Sultan, sesuai permintaan, Dorojatun berangkat lebih dahulu. Perjalanan pulang yang memakan waktu berminggu-minggu pun dimulai. “Terselip rasa kecewa sejenak karena ia merasa sebagai mahasiswa tingkat doktoral sebaiknya menyelesaikan studi sampai tuntas, lalu pulang membawa gelar yang diinginkan. Akan tetapi, dalam surat-surat dari rumah ia merasakan kecemasan keluarganya. Ia maklum, situasi memang gawat. Lagi pula ia mendengar kesehatan ayahanda akhir-akhir ini mundur keadaannya,” tulis Mohammad Roem, dkk.

  • Dana untuk Demo

    SEHARI setelah Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Brigjen TNI Sucipto, ketua G-V Koti (Komando Operasi Tertinggi), membentuk KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh). Ini adalah front aksi pertama yang dibentuk untuk melawan PKI. Ketuanya Subhan Z.E. dari Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik. Sucipto kemudian memfasilitasi pertemuan para aktivis antikomunis dari berbagai organisasi (NU, HMI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, PII, Sekber Golkar, Front Nasional, Gasbindo, Gemuis, KBKI, Partai Katolik, dan PSII), untuk bertemu dengan Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto di markas Kostrad. Sesudah mengadakan rapat tertutup, menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto , para pimpinan kelompok itu menyelenggarakan konferensi pers (rapat umum) pada 4 Oktober 1965. Yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang semacam Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, yang sejak lama bekerja sama dengan para perwira Angkatan Darat yang anti-PKI. Dengan adanya kerja sama sebelumnya, mereka mampu dengan cepat mengorganisasikan diri.

  • Sebuah Usaha Mengenal Sultan Hamengkubuwono IX

    KENDATI memainkan peran penting, penampilan Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX) di dalam buku sejarah tak sesering tokoh republik lainnya. Soal tentangnya paling dikaitkan dengan posisinya sebagai wakil presiden RI kedua atau Wapres pertama semasa Presiden Soeharto. Selebihnya hanya terdengar sayup-sayup dalam berbagai perbincangan soal sejarah dan sesekali politik di negeri ini. Buku yang lumayan memberikan informasi tentang HB IX adalah Tahta Untuk Rakyat terbit pertama kali pada 1982. Buku yang disusun oleh para sahabat dekat HB IX seperti Mohammad Roem dan Mochtar Lubis itu memuat tulisan-tulisan mereka yang mengenal dekat HB IX dan juga kisah-kisah seputar kehidupan HB IX. Namun, sebagaimana buku “festschrift” yang ditulis oleh kalangan dekat HB IX, buku tersebut tak berjarak sama sekali alias kehilangan daya kritiknya. Maka penampilan HB IX pada buku tersebut tak lebih sebagai seorang yang menerima puja dan puji, nyaris tanpa cela sebagai manusia biasa.

  • Sultan Hamengkubuwono IX dan Skripsinya

    SETELAH lulus HBS (Hogere Burgerschool) di Bandung, pada Maret 1930, Gusti Raden Mas Dorodjatun berangkat ke Negeri Belanda untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebelumnya, dia masuk sekolah Gymnasium di Haarlem, karena perbedaan mutu pendidikan sekolah menengah dengan di Hindia Belanda, sehingga dia baru lulus pada 1934. Henkie, panggilannya, kemudian melanjutkan ke jurusan Indologi di Universitas Leiden, universitas tertua dan terkemuka. Orang-orang Belanda yang akan bekerja di pemerintahan Hindia Belanda biasanya mengambil jurusan Indologi. Di samping kuliah, Henkie bergabung dalam organisasi mahasiswa, seperti Leidse Studentencorps, Verenigde Faculteiten, dan Minerva. Henkie berhasil lulus dengan baik dalam candidaats-examen  tahun 1937. Dia mendapat ijazah candidaat  Indologi sehingga boleh melanjutkan pada tingkat doktoral (sarjana lengkap). Pada tahap ini, dia mengambil vak ekonomi sebagai mata kuliah pilihan, di samping beberapa vak penting lainnya.

  • Hamka dalam Dua Zaman Penjajahan

    HANYA perlu waktu seminggu buat Tengku Abdul Jalil untuk mengubah sikap dari kagum jadi antipati terhadap tentara Jepang. Sikap menentang itu timbul sejak 29 April 1942 saat Jepang memerintahkan seluruh rakyat Aceh melakukan seikerei , sikap badan membungkuk ke arah matahari terbit untuk menghormati kaisar Jepang. Kemarahan rakyat tak terbendung lagi. Tengku Jalil tak tinggal diam. Ulama tarekat itu menyerukan bahwa Jepang adalah Ya’juj dan Ma’juj (bangsa yang membuat kerusakan di bumi, red. ). “Agama kita telah runtuh karena perbuatan Majusi (kaum penyembah api, red. ), yang memaksa kita bertuhan kepada rajanya. Jika kita musuhi kafir Belanda yang keturunan Kitab (Ahli Kitab Nasrani, red .), maka kafir Majusi ini lebih wajib kita musuhi lagi,” katanya. Tekad Tengku Abdul Jalil sudah bulat. Jepang harus dilawan. Bujukan dan perintah pihak Jepang untuk menyerahkan diri tak digubrisnya. Puncaknya pada 11 November 1942 saat tentara Jepang mengepung madrasahnya, dia dan seratus muridnya melawan. 98 muridnya tewas. Tengku Abdul Jalil berhasil lolos dari kepungan. Dalam pelarian, dia menyusun serangan balik. Namun, tentara Jepang berhasil menyergapnya dan menghabisi nyawa ulama muda berusia 40 tahunan itu bersama sepuluh pengikutnya.

  • Terpukau Revolusi Hijau

    PADA 14 November 1985 pukul 10.45, konferensi ke-23 Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di Roma, Italia, dibuka. Sekira 165 negara anggota mengirimkan wakilnya. Konferensi kali ini dikhususkan untuk memperingati 40 tahun FAO. J.B. Yonke, ketua konferensi FAO, membuka acara. Setelah memuji keberhasilan Indonesia dalam bidang pertanian dan swasembada beras sebagai “kinerja yang menakjubkan”, Yonke mempersilakan Presiden Soeharto untuk memberikan pidato. Tepuk tangan membahana. Berpidato dengan teks dan dalam bahasa Indonesia, Soeharto menguraikan perjalanan Indonesia menuju swasembada beras. “Hari ini, setelah melaksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun III… kami telah mampu meningkatkan kesejahteraan kami. Dari negara yang beberapa tahun lalu menjadi pengimpor beras terbesar di dunia, dengan total impor 2 juta ton per tahun, sekarang kami menjadi mandiri,” katanya. Soeharto juga menjelaskan kunci sukses peningkatan produksi pangan, khususnya beras, melalui intensifikasi dan ekstensifikasi; pembangunan pabrik pupuk, pemberian kredit lunak, penelitian dan penyuluhan, penetapan harga dasar gabah, hingga penerapan program Bimbingan Massal (Bimas). Sebagai tanda terima kasih, para petani Indonesia mengumpulkan 100.000 ton padi kering untuk negara-negara yang terkena kelaparan, terutama di Afrika.

  • Soeharto Agen Revolusi Hijau, Mau Dijadikan Pahlawan Nasional? 

    USULAN memberikan gelar pahlawan bagi Soeharto, dilihat dari sisi mana pun, tak ada benarnya. Di samping capaian-capaian dalam ranah kemiliteran, ia digadang-gadang sebagai gelarnya sebagai Bapak Pembangunan. Gelar yang membuatnya layak dianggap sebagai pahlawan ini perlu kita telusuri lebih dalam. Ada dua elemen pembangunan pada masa Repelita I hingga IV yang dianggap menjadi keberhasilannya Soeharto, yaitu pengendalian populasi dan produksi pangan. Faktor kunci pada pengendalian populasi terletak pada program Keluarga Berencana dan institusi birokratiknya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sedangkan faktor kunci pada elemen kedua terletak pada Revolusi Hijau. Inilah yang akan saya uraikan di sini.  Pada November 1985, Soeharto sebagai presiden RI, diundang untuk memberikan pidatonya dalam konferensi peringatan FAO ke-40 di Roma sebagai representasi negara berkembang. Undangan prestisius ini dipicu oleh keberhasilan Soeharto dalam meningkatkan produksi pangan, bahkan pertumbuhan per kapita produksi serealia antara 1974/5-1984/5 berada di posisi tertinggi kedua di Asia setelah Burma. Dibandingkan dengan rata-rata produksi serealia yang indexnya berada di angka 119 per kapita pada 1984/5, Indonesia berada di angka 140 di tahun tersebut, melampaui Cina yang memiliki index produksi per kapita sebesar 131.

  • Penerbangan Terakhir Kapten Mulyono

    DI ANTARA para kadet Sekolah Penerbang Maguwo, Mulyono terbilang yang menonjol dari kawan-kawan seangkatannya. Dia gigih berlatih untuk bisa menerbangkan pesawat. Pemuda Mulyono juga dikenal mempunyai pembawaan tenang, baik hati, terampil, dan ramah terhadap orang lain. Sebelum masuk sekolah penerbang, Mulyono merupakan masinis keretaapi di Madiun. Karena kebaikan hatinya, kawan-kawan kadet suka berkelakar terhadap Mulyono. “Mukanya yang hitam itu hangus akibat selalu mencium asap batubara kereta api,” demikian kawan-kawan Mulyono meledeknya seperti terkisah dalam Sejarah Angkatan Udara Indonesia 1950-1959 . Meski masih kadet dengan nol jam terbang, Mulyono siap tempur kala melancarkan serangan udara balasan ke basis militer Belanda setelah agresi pertama. Pimpinan pelaksana serangan Komodor Muda Halim Perdanakusuma memerintahkan beberapa kadet menyerang Belanda di beberapa kota di Jawa Tengah. Kadet Sutardjo Sigit mendapat tugas menyerang Salatiga, Mulyono menyerang Semarang, dan Suharnoko Harbani menyerang Ambarawa.

  • Kapten Mulyono, Penerbang Tempur Pertama Indonesia

    KECELAKAAN pesawat terjadi di Kampung Kedung Klinter Surabaya, petang hari 12 April 1951. Dalam kecelakaan itu, pilot AURI (kini TNI-AU), Kapten Mulyono yang menerbangkan pesawat tempur P-51 Mustang meninggal di tempat. Sementara itu, enam orang penduduk setempat meninggal dunia dan tiga orang luka-luka. “Dengan kecelakaan ini AURI kehilangan penerbang yang cakap,” lansir Sin Po , 13 April 1951. Tidak hanya AURI yang berduka atas gugurnya Mulyono. Keesokan harinya, warga Surabaya turut berkabung. Walikota menyerukan pengibaran bendera setengah tiang atas insiden itu. Tentulah Kapten Mulyono bukan penerbang biasa.

  • Jejak Berlawan dari Bumi Lorosa’e

    TAKSI kuning yang membawa saya dari Bandara Internasional Nicolau Lobato menuju Timor Hotel di kota Dili, Timor-Leste, melaju santai. Sepanjang jalan, beberapa toko atau restoran masih menggunakan papan nama berbahasa Indonesia.   Pengemudi taksi juga fasih berbicara bahasa Indonesia. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Mulai dari Basuki Thajaja Purnama atau Ahok dan Pilkada DKI hingga kasus kematian Mirna Salihin yang santer dibicarakan di sana. Kendati Tetun dan Portugis merupakan bahasa resmi, bahasa Indonesia tetap digunakan. Saluran stasiun televisi swasta Indonesia juga masih menjadi primadona, sehingga orang-orang Timor-Leste, akrab dengan sinetron atau lagu-lagu pop berbahasa Indonesia.   “Sekarang yang lagi rame di sini dangdut D’Academy di Indosiar. Timor-Leste kirim wakil ke sana,” kata Ruben Gusmão, teman saya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page