Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dr. Raden Rubini Natawisastra, Pahlawan Nasional dari Kalimantan Barat
Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh dalam upacara di Istana Negara Jakarta, Senin, 7 November 2022. Kelima tokoh tersebut antara lain DR. dr. H.R. Soeharto (Jawa Tengah), KGPAA Paku Alam VIII (DI Yogyakarta), dr. Raden Rubini Natawisastra (Kalimantan Barat), H. Salahuddin bin Talibuddin (Maluku Utara), dan K.H. Ahmad Sanusi (Jawa Barat). Dua dari lima tokoh itu adalah dokter, yaitu dr. H.R. Soeharto dan dr. Raden Rubini Natawisastra. Dr. Rubini telah diabadikan sebagai nama jalan dan Rumah Sakit Umum Daerah di Mempawah, Kalimantan Barat. Siapakah dr. Rubini? Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad , 27 Mei 1919, memberitakan, Rubini menjadi salah satu pemuda yang lulus ujian masuk Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) tahun 1919. Ada lima pemuda dari Bandung yang lolos ujian masuk sekolah kedokteran untuk bumiputra itu. Selain Rubini, empat orang lainnya adalah Sabiroedin, Amiroesen, Joesoef, dan Soedibyo. Selama menempuh pendidikan di Stovia, Rubini dikenal sebagai siswa yang aktif dalam olahraga, mulai dari anggar hingga sepakbola. Pria yang lahir di Bandung pada 31 Agustus 1906 itu bergabung dalam kesebelasan sepakbola Stovia. Dia bersama Rehatta, Kapitan, dan Luhukay dikenal sebagai pemain sepakbola andal. Baca juga: Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Pertama Kelihaian Rubini dalam mengolah si kulit bundar membawa kemenangan bagi kesebelasan Stovia melawan tim sepakbola dari Sekolah Tinggi Hukum dalam pertandingan untuk memeriahkan peringatan 75 tahun Stovia. Bataviaasch Nieuwsblad , 18 September 1926, melaporkan, kesebelasan Stovia memenangkan pertandingan dengan skor 5-1 atas tim sepakbola Sekolah Tinggi Hukum. Rubini mencetak satu gol. Kesukaannya bermain sepakbola tak membuat Rubini mengabaikan pendidikan sebagai calon dokter. Dalam surat kabar De Locomotief , 5 Mei 1931, diumumkan, Rubini dipromosikan menjadi dokter pemerintah Hindia Belanda. Nama lain yang turut dipromosikan menjadi dokter pemerintah antara lain Dalliloedin Loebis, J. Leimena, R.M. Soekasno, Oey Kim San, dan Tan Kiat Boen. Setelah lulus dari Stovia, dr. Rubini bertugas sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat Pemerintah (Centrale Burgelijke Ziekenhuis) di Batavia hingga dipindahkan ke Pontianak, Kalimantan Barat pada 1934. Pengumuman mutasi Rubini tercantum dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad , 29 Agustus 1934. Saat bertugas di Kalimantan Barat, dr. Rubini mengabdikan diri untuk kemanusiaan dengan menjadi dokter keliling ke daerah terpencil dan pedalaman. Baca juga: Depati Amir, Pahlawan Nasional dari Pulau Timah Menurut buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Volume 2 , Dinas Kesehatan di Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang Residentie Arts yang berkedudukan di Pontianak dan membawahkan dokter-dokter di daerah: dr. Rubini di Pontianak, dokter militer Belanda di Singkawang, dr. Ismail di Sambas, dokter militer Belanda di Sintang, dr. Achmad Diponegoro di Putus Sibau, dr. Soedarso di Sanggau, dr. Soeharso di Ketapang, dan dr. Salekan di Mempawah. Pada 1941, menjelang pendudukan Jepang, Dinas Kesehatan di Kalimantan Barat dipimpin oleh seorang dokter tentara KNIL, yang diawasi oleh seorang Inspektur Kesehatan yang dijabat oleh dr. Raden Soesilo. Selain bertugas sebagai dokter di Pontianak, dr. Rubini juga terlibat dalam pergerakan kemerdekaan dengan menjadi anggota Partai Indonesia Raya (Parindra). Parindra berkembang dengan cepat di berbagai daerah di Kalimantan Barat di bawah pimpinan para Digulis, seperti R. Mahmud Susilo Suwignyo. Ia terpilih sebagai ketua Parindra wilayah Kalimantan Barat dalam Konferensi Parindra se-Kalimantan Barat pada 1939. Tokoh lainnya yang duduk dalam pimpinan wilayah adalah dr. Rubini. Baca juga: KH Syam'un, Pahlawan Nasional dari Banten Pada permulaan zaman Jepang, setelah keributan waktu pendaratan tentara Jepang di berbagai tempat di Kalimantan Barat dan penduduk mulai tenang kembali, pekerjaan di bidang kesehatan berjalan seperti biasa. Perbedaannya hanya pasien tidak begitu ramai mengunjungi fasilitas-fasilitas pengobatan seperti dulu. “Pimpinan Kesehatan pada permulaan dipegang oleh Sdr. dr. Rubini dengan jabatannya sebagai Eiseikakanco ,” tulis buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Volume 2. Di bawah pimpinan dr. Rubini,mulailahpekerjaan-pekerjaan disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah pendudukan Jepang dalam keadaan jauh berbeda daripada waktu masih di bawah pemerintah Hindia Belanda. Rumah sakit dan poliklinik dibuka, serta turne ke daerah-daerah dimulai lagi. Tenaga kesehatan tidak banyak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas, kecuali kurangnya alat-alat dan obat-obatan. Namun, keadaan secara umum segera berubah.Menurut buku Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura, Kalimantan Barat , pemerintah militer Jepang ( Minseibu ) menunjukkan kekejamannya dengan memeras sumber daya alam dan memaksa rakyat untuk mengumpulkan bahan makanan untuk kepentingan perang. Bahan makanan pun menjadi sulit yang mengakibatkan kelaparan, ditambah lagi Jepang melakukan penindasan dan penyiksaan. Baca juga: Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional dari Ternate Selain melarang perkumpulan-perkumpulan yang bersifat politik, menurut buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Barat , Jepang juga memberlakukan peraturan dan larangan yang tidak disukai rakyat, seperti larangan menyimpan senjata termasuk senapan untuk berburu dan larangan mengadakan pesta perkawinan atau kenduri. Penindasan dan penyiksaan Jepang memicu perlawanan rakyat. Pang Suma, seorang pemuka suku Dayak di Meliau, memimpin rakyat melawan pasukan Jepang yang dipimpin oleh Kapten Nagatani, seorang perwira Kenpeitai , yang dikirim dari Pontianak. Nagatani yang dikenal sebagai perwira cakap dan tangguh tewas dalam pertempuran itu. Kegagalan ekspedisi yang dipimpin Nagatani menggemparkan para pejabat Minseibu di Pontianak. Mereka berkesimpulan bahwa kemenangan gerakan rakyat di Meliau dan Tayan itu pasti akan mengobarkan perlawanan di tempat lain. Oleh karena itu, mereka meningkatkan kewaspadaan dengan mencurigai para pejabat Indonesia dalam Minseibu dan raja-raja. “Kaum intelektual Indonesia dan raja-raja merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan rakyat, terpaksa mengambil langkah untuk melawan Jepang, yang mereka anggap sudah kelewat batas dalam melakukan penindasan terhadap rakyat,” tulis buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Barat. Baca juga: Arnold Mononutu, Putra Minahasa jadi Pahlawan Nasional Gerakan bawah tanah di Pontianak berhubungan dengan gerakan bawah tanah di Banjarmasin. Tandjungpura Berdjuang menyebut pada awal tahun 1943, dr. Soesilo dan kawan-kawannya dari Banjarmasin datang ke Pontianak untuk mengadakan permufakatan dengan dr. Rubini dan pemuka-pemuka lainnya. Mereka menyatakan tekad untuk melawan Jepang. Namun, Jepang berhasil menggulung gerakan bawah tanah itu. Setelah kembali ke Banjarmasin, dr. Soesilo ditangkap dan dieksekusi mati. Sementara di Pontianak, Jepang melakukan penangkapan massal pada 23 Oktober 1943, seminggu setelah rapat rahasia yang dihadiri tokoh-tokoh gerakan bawah tanah di Pontianak. “Rupanya rapat itu diketahui oleh mata-mata Kenpeitai …Penangkapan berlangsung sejak saat itu sampai saat menyerahnya Jepang,” tulis buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Barat. Penangkapan para tokoh gerakan bawah tanah itu diumumkan dalam surat kabar Borneo Shimbun , 1 Juli 1944. Surat kabar itu hanya memuat namatokoh-tokoh terkenal termasuk dr. Rubini. Baca juga: Sultan Hamid II dan Polemik Gelar Pahlawan Nasional Menurut Abu Hanifah, dokter lulusan Stovia, dalam memoarnya, Tales of A Revolution, sejumlah dokter menjadi korban pembantaian Jepang, di antaranya dr. Raden Soesilo yang dikenal sebagai ahli malaria terkenal di Lembaga Eijkman yang juga merupakan adik salah satu pendiri Boedi Oetomo; dr. Achmad Diponegoro yang merupakan keturunan langsung Pangeran Diponegoro; serta dr. Rubini dan istrinya di Pontianak. Abu Hanifah menyebut Jepang memutuskan proses eksekusi dr. Rubini disaksikan oleh istri dan anak-anaknya. Jepang membawa Nyonya Rubini dan anak-anaknya,yang tengah berada di Jawa untuk mengunjungi keluarganya, kembali ke Pontianak dengan dalih dr. Rubini membutuhkan keluarganya karena sedang sakit. “Dr. Rubini dan istrinya kemudian dipenggal di depan anak-anak mereka. Saya melihat anak-anak ini setelahnya dan mereka masih agak shock ,”kata Abu Hanifah.* Baca juga: Kisah selengkapnya tentang dr. Raden Soesilo baca di Historia Premium: Dokter dalam Daftar Kematian
- Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa
Alunan musik gamelan terdengar berpadu dengan musik Eropa. Sembilan penari perempuan diapit empat orang pengapit di depan dan belakang berjalan memasuki pendopo Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY. Mereka membawakan tari Bedhaya Mintarga , tari klasik asal Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana X. Tari tersebut ditampilkan dalam rangka Pementasan Catur Sagatra 2022. Acara ini merupakan ajang silaturahmi empat swapraja dinasti Mataram Islam, yaitu Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta dengan Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo. Musik yang mengiringi awal tari itu merupakan Gendhing mares, perpaduan gamelan dan musik Eropa di Keraton Yogyakarta. Kata “ Mares” merupakan serapan dari kata Mars , sebuah komposisi musik Eropa yang sering digunakan untuk kepentingan militer. Gendhing mares sebagai musik hibrida dengan demikian menandakan interaksi sosial-budaya antara keraton dengan Barat. “Dengan mentoleransi kehadiran musik Eropa di istana Yogyakarta, para penguasa Jawa dapat mempertunjukan penerimaan dan apresiasi mereka terhadap kenyataan-kenyataan politik kala itu – kehidupan istana dalam konteks kolonialisme Eropa,” kata Sumarsam, profesor musik di Wesleyan University, dalam Merenungkan Gema Perjumpaan Musikan Indonesia-Belanda. Baca juga: Inggris Menjarah Keraton Yogyakarta Gendhing Mares dalam Tari Jawa Kelahiran Gendhing mares tak bisa dilepaskan dari musik mars yang dihadirkan militer kolonial pada abad ke-17. Sebagaimana VOC berupaya memainkan musik-musik tradisional di Nusantara, kerajaan-kerajan di Nusantara juga berupaya memainkan musik Barat tersebut. Percampuran pun terjadi antara musik lokal dan Barat. “Bahan-bahan musik yang diperkenalkan VOC dilokalisasi dengan cara berbeda-beda: didomestikasi ke dalam genre musik lokal, seperti dalam kasus tanjidor, digunakan sebagai simbol seperti pada gendhing mares , atau menghasilkan musik hibrida populer Indonesia berbasis Barat,” tulis sejarawan Bart Barendregt dan Els Bogaert dalam “Recollecting Resonances: Listening to an Indonesian-Dutch Musical Heritage”, termuat dalam Recollecting Resonance: Indonesian-Dutch Musical Encounters . “Perkawinan” musik itu, menurut Sumarsam, memainkan peran penting dalam perkembangan musik di berbagai daerah di Nusantara. Keraton Yogyakarta menjadi salah satu yang berperan penting bagi keberlanjutan “perkawinan” musik Barat-Jawa itu dengan kreasi musik baru. “ Musik militer diKeraton Yogyakarta muncul sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792),” ungkap akademisi musik R.M. Surtihadi dalam tulisannya di Journal of Urban, “ Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan TariKeraton Yogyakarta” . Prajurit Kraton Yogyakarta membawakan instrumen musik Eropa berupa tambur dan alat musik tiup ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ) Di keraton, musik Eropa dipadukan dengan karawitan Jawa dan digunakan sebagai hiburan pertunjukan, upacara protokoler, hingga ritual di dalam Keraton. Bahkan tari yang dianggap sakral di Keraton Yogyakarta seperti bedhaya dan srimpi menggunakan gendhing mares dalam iringannya. Gendhing Mares akan berbunyi ketika para penari melakukan gerakan kapang-kapang di awal dan di akhir tarian. Hal ini dilakukan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V. “ Gendhing mares menjadi fakta interaksi sosial antara warga istana Jawa dan orang Eropa,” tulis Sumarsam. Saat itu konflik antara istana-istana Jawa dan kolonialis Belanda sedang tinggi. Adanya hibriditas dari dua musik ini diharapkan dapat sedikit meredakan konflik. “Periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V (1923-1955) terjadi kontak budaya asing yang mengendap ke dalam budaya Jawa (keraton) dengan adanya perpaduan instrumen musik Barat ke dalam musik iringan tari Jawa ataupun upacara protokoler,” tulis Surtihadi. Babad Ngayogyakarta mengisahkan, suatu ketika ada perjamuan antara sultan dan pembesar Belanda. Selain terhidang makanan dan minuman, tersaji pula hiburan musik, tari, serta dansa. “ Setelah para musisi berhenti menghormat, minuman kopi, susu, dan teh, beserta kudapan sudah merata, bersamaan dengan iringan musik, ketika sudah selesai perjamuan diteruskan dengan, menari dansa, dan suka ria, minuman disajikan terus-menerus,” kata Babad Ngayogyakarta Vol. III. Baca juga: Alunan Gamelan Memikat Komponis Amerika Dalam jamuan tersebut ditampilkan tari Bedhaya, Srimpi, dan Trunajaya. Bunyi terompet dan tabuhan genderang bersamaan dengan musik karawitan mengiringi pementasan dua tari tersebut. Musisi yang menggarapnya adalah orang Belanda. “ Mulai membuat gendhing-gendhing sabrangan dengan diiringi suara musik terompet, genderang, bedhug, dan sejenisnya, untuk mengiringi Kapang-kapang maju/mundurnya Lelangen Dalem Bedhaya , serta Beksan Trunajaya , yang disuruh mengerjakan perpaduan gamelan dengan musik orang Belanda yaitu Van Gough serta Smith,” lebih lanjut Babad Ngayogyakarta mengisahkan. Keterlibatan alat-alat musik Eropa dalam gamelan Jawa diperbanyak pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VIII. Bila mulanya hanya alat musik tiup dan pukul saja, di masa ini ditambahkan dengan alat musik gesek. “ Karsa Dalem (panggilan hormat untuk Sultan yang berkuasa, red .) melengkapi iringan Kapangkapang Bedhaya/Srimpi, beksan Trunajaya, serta Srimpi Pandelori dan Srimpi Muncar, dengan tambahan instrumen musik gesek/ biola,” kata Babad Ngayogyakarta III . Baca juga: Maestro Gamelan di Kiri Jalan Kendati “berbau” pengaruh kolonial, Gendhing Mares tetap menjadi kebanggan bagi keraton Yogyakarta. Bahkan tari paling sakral di keraton, Bedhaya Semang, juga menggunakan Gendhing Mares untuk pengiring gerakan masuk dan keluarnya penari di area pentas. Padahal, tari ini sudah ada jauh sebelum Gendhing Mares muncul. Bedhaya Semang muncul sejak Sultan Hamengkubuwana I bertakhta. Tarian ini disinyalir sebagai warisan Sultan Agung saat Mataram masih menjadi satu kerajaan Islam. “Keputusan menggunakan Gendhing Mares dibuat oleh orang berperingkat tinggi, bangsawan, seorang pangeran muda, yang lebih menyukai Gendhing Mares karena wataknya yang bersemangat, sigrak,” ungkap Sumarsam.
- Suradi Bledheg Si Bandit Gunung
Dusun Gedong di Kabupaten Semarang tampak tenang dan damai. Orang-orang biasa berada di ladang sepanjang hari. Dusun yang mayoritas penduduknya beragam Kristen ini biasanya ramai jika ada acara di gereja saja, seperti pernikahan atau hari raya. Namun, pada satu periode sejarah, dusun ini pernah begitu mencekam karena kehadiran bandit-bandit gunung. Sukarto (90), warga sepuh dusun Gedong mengingat, hampir semua rumah di dusunnya pernah digedor grayak , sebutan lain bagi para bandit gunung. “(Yang diambil) pakaian, juga lembu,” katanya. Pasca kemerdekaan, gunung Merapi dan Merbabu menjadi salah satu wilayah paling berbahaya di Jawa Tengah. Sebagian besar daerahnya masih ditutupi hutan dengan jurang curam dan lereng yang terjal. Di sinilah para bandit gunung bermarkas sejak zaman kolonial. Baca juga: Asal Usul Bandit di Perdesaan Menurut Sukarto, tak ada orang berani melawan jika rumahnya digedor karena penggrayakan melibatkan belasan hingga puluhan bandit. “Kalau dihalangi, yang punya rumah dipentungi (dipukuli),” lanjutnya. Dipukuli gerombolan grayak barangkali jadi risiko paling ringan. Karena jika berani melawan, nyawa taruhannya. Dusun Gedong berada di wilayah Desa Tajuk. Kertoredjo, bekel (kepala desa) Tajuk pernah menyampaikan usulan untuk memperkuat keamanan dalam sebuah rapat kecamatan pada 4 April 1951. Pada hari itu juga, sekira pukul sembilan malam rumahnya langsung didatangi gerombolan grayak . Mereka bahkan bersenjata api. “Setelah pintu diketok dan seketika dibuka, dengan tiba-tiba telah dilepaskan beberapa tembakan ke arah pak bekel sehingga ia rubuh menemui ajalnya. Salah seorang keponakan yang datang menolong juga tak terlepas dari perbuatan gerombolan itu dan turut ditembak juga,” tulis Suara Merdeka, 7 April 1951. Baca juga: Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya Orang-orang tak bisa berbuat banyak. Jika sudah demikian, besok sorenya polisi datang hanya untuk memeriksa. Kasus-kasus penggrayakan tak pernah diusut tuntas. Dari sekian banyak bandit gunung, ada beberapa nama yang cukup terkenal seperti Darmopendot, Kampret, Ngusman Ali, hingga Hardjo Bagong. Namun, ada satu nama bandit paling ikonik di Merapi Merbabu: Suradi Bledheg. Suradi Bledheg ditembak mati dalam Operasi Merapi Merbabu pada 1 April 1951. ( Minggu Pagi , 13 Mei 1951). Racardus Yustinus Hari Susanto Hardjoloekito dalam skripsinya, “Gerakan Merapi Merbabu Complex (MMC) di Jawa Tengah Tahun 1950-1955”di IKIP Sanata Dharma tahun 1993, menyebut Suradi Bledheg merupakan tokoh pemersatu para bandit. Ricardus juga mencatat, ada intervensi Suradi Bledheg berhubungan dengan pihak Belanda di mana Belanda punya kepentingan mengacaukan perekonomian dengan perampokan ternak. Belanda memasok senjata kepada para bandit. Baca juga: Kisah Amat Boyan, Raja Bandit dari Medan Suradi Bledheg lahir di Kemusuk, Boyolali, dengan nama Suradi. Nama Bledheg disematkan orang-orang karena ia punya suara menggelegar sepeti bledheg (petir). Ia juga disebut memiliki kesaktian berpindah tempat dalam waktu singkat. Suradi Bledheg seringkali dianggap sebagai representasi organisasi bersenjata MMC. Namun, menurut beberapa jebolan MMC, Suradi Bledheg bukan siapa-siapa. Waluyo, bekas anggota MMC dalam arsip Anton Lucas Collection, menyebut Suradi Bledheg hanyalah seorang bajingan. Waluyo pernah meminta Suradi Bledheg untuk menggarong pengkhianat Republik yang bekerja sama dengan Belanda, bukan petani biasa. “Jangan sekali-sekali menggarong orang yang baik-baik. Lha, lama-lama setelah menggarong, kaum tani juga, maka keadaan menjadi panas,” ungkap Waluyo. Ricardus memasukkan Suradi Bledheg dalam MMC tahap pertama yang merujuk pada organisasi bandit atau grayak . Sementara MMC tahap kedua, di mana Waluyo bergabung, adalah MMC PKR (Persatuan Korban Rasionalisasi). MMC PKR berisi bekas tantara rakyat yang terkena program Reorganisasi-Rasionalisasi (ReRa) pada masa Kabinet Hatta. Meski berbeda entitas, kedua MMC ini sebenarnya beririsan. Baca juga: Cara Pemerintah Kolonial Redam Bandit Sosial Pada akhir Maret 1951dilancarkan Operasi Merapi Merbabu (MM) yang dipimpin oleh Letkol Suadi Suromihardho dan Mayor Salamun. Suradi Bledheg bersama dua pengikutnya, Hardjo Tukarno dan Jososami, ketahuan bersembunyi di Desa Brintik, Klaten. Mereka ditembak mati. “Selama operasi MM ini gembong utama dari gerombolan MMC di daerah Surakarta, Suradi Bledheg, yang merupakan momok bagi rakyat berhasil tertembak mati dalam suatu tembak-menembak dengan pasukan Ton-II Yon. 417 di Desa Brintik, Kelurahan Malangdjiwan, pada tanggal 1-4-1951 beserta dua orang temannya,” tulis Semdam VII/Diponegoro dalam Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro . Sisa-sisa pengikut Suradi Bledheg kehilangan patron dan pengaruh mereka di Merapi-Merbabu mulai meredup. Sementara MMC PKR masih berlanjut. Baca juga: Kisah selengkapnya tentang Merapi Merbabu Complex (MMC) baca di Historia Premium: Tentara Merah di Selingkung Gunung.
- Nanlohy Bersaudara di Kapal Maut Junyo Maru
Sebagai orang tua, Hendrik Nanlohy dan Magdalena Watimurij boleh bangga dengan anaknya. Dua di antaranya jadi orang berpangkat dan mapan, sama seperti harapan kebanyakan orang tua zaman sekarang. Kedua anak mereka penghasilannya di atas 100 gulden ketika harga emas sekitar 2 gulden untuk satu gram. Selain tanah yang luas, mereka juga bisa membeli mobil. Mathijs Nanlohy, kerap disebut Thijs Nanlohy, lahir pada 3 Februari 1909. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950 , Mathijs sudah jadi perwira sejak 1931 setelah lulus dari Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Belanda. Setelah jadi perwira, dia menikah dengan Jeane Amalia Angenetta Niels pada 1937. Sementara itu, adiknya, Benoni Pedro Anthoni Nanlohy, kelahiran 29 Desember 1909, juga lulusan Akademi Militer Breda tahun 1933. Tak lama setelah dilantik, dia menikahi Sytske Baron. Pada 1936, Benoni kawin lagi dengan A.E.A. Felinger. Setelah lulus dari Akademi Militer Breda, Mathijs dan Benoni menjadi letnan dua infanteri tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) di Hindia Belanda. Baca juga: Donald Willem Poetiray dari Kamp Nazi ke TNI Mathijs pernah ditempatkan di Jawa dan Sumatra. Sementara Benoni pernah ditempatkan di Timor. Perang Dunia II lalu menghancurkan kebahagiaan Hendrik dan Magdalena. Bukan hanya karena Belanda menyerah kepada Jepang pada 8 Maret 1942 dan hilangnya penghasilan anak-anaknya yang tergolong besar. Tetapi juga kemalangan yang menimpa kedua anaknya. Ketika Jepang datang, Benoni bersama istrinya tinggal di Cimahi. Kartu tawanan perang Jepang menyebut Benoni anggota Batalyon ke-4 Resimen Infanteri ke-2 Divisi 1 KNIL. Pangkatnya kala itu letnan kelas satu infanteri. Setelah Belanda menyerah, dia ditahan Jepang. Kartu tawanan perang Mathijs Nanlohy. (Arsip Nasional Belanda). Sementara Mathijs sedang berdinas di sekitar Batavia ketika Belanda kalah. Kartu tawanan perang Jepang menyebut Mathijs tinggal di Batavia sebagai anggota Batalyon ke-6 Resimen Infanteri 1 Divisi 1 KNIL. Pangkatnya kala itu letnan kelas satu, tetapi lebih senior dari adiknya. Bouman mencatat, pada 1942 Mathijs ditempatkan di Tangerang memimpin sebuah kelompok orang Ambon yang kemudian mundur ke Cilacap. Namun, pada 13 Maret 1942 dia ditawan. Sekitar Oktober 1942, Mathijs mencoba memimpin usaha pelarian orang-orang Ambon dari kamp tawanan Jepang. Namun, usahanya gagal sehingga dia ditahan di Penjara Glodok. Dia juga pernah ditawan di barak nomor 6 kamp sekitar Hotel Borobudur. Baca juga: Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga “Penghuninya terdiri atas tawanan perang berbangsa Indonesia, di bawah pimpinan Kapten Thijs Nanlohy dari KNIL. Kapten ini di belakang punggungnya oleh bawahannya disebut Cabe Rawit,” kata Hadjiwibowo dalam Anak Orang Belajar Hidup: Dinamika Hidup 1942-1970 . Tentu saja Mathijs terus diawasi tentara Jepang. Jelang malam 15 September 1944, Mathijs dibawa ke pelabuhan. Benoni sudah berada di sana bersama beberapa perwira KNIL berdarah Ambon dan Manado. Jepang mempersatukan Mathijs dan Benoni dalam sebuah kesengsaraan. Mereka kemudian dinaikkan ke kapal motor Junyo Maru . Kartu tawanan perang Benoni Pedro Anthoni Nanlohy. (Arsip Nasional Belanda). Menurut Fairplay Weekly Shipping Journal , Volume 140, 1936, Junyo Maru adalah kapal buatan galangan Robert Duncan & Co. di Glasgow, Skotlandia. Kapal ini pernah memakai nama Sureway , Hartmore , Hartland Point , dan Ardgorm sebelum dinamai militer Jepang sebagai Junyo Maru . Junyo Maru yang membawa tawanan dan romusha (tenaga paksa) akan bertolak ke pantai barat Sumatera. Ketika kapal itu berada di perairan Bengkulu, dekat Mukomuko, disikat torpedo kapal selam Inggris HMS Tradewind , yang dinakhodai Stephen Lynch Conway Maydon. Pada hari nahas itu, 18 September 1944, Junyo Maru karam. Sebagian besar penumpangnya, yang di antaranya berusia lanjut, mengembuskan napas terakhirnya. Di antara penumpang yang tewas dalam peristiwa itu adalah Mayor Alexander Herman Hermanus Kawilarang, Mayor Benjamin Thomas Walangitang, kadet Andri Henri Mantiri, calon letnan penerbang Rompies, dan Benoni. Mathijs sendiri selamat. Begitu juga letnan dokter Pelamonia, Kapten Thenu, dan kadet Henri Sitanala, anak dokter ahli lepra J.B. Sitanala. Baca juga: Di Balik Makam Roso Mereka yang selamat masih ditahan militer Jepang dan tidak bebas dari kerja paksa serta kekurangan gizi. Mereka baru bisa bernapas lega setelah Jepang kalah pada 14 Agustus 1945. Setelah bebas, Mathijs kembali bertugas di KNIL. Pangkatnya naik menjadi kapten lalu mayor. Mathijs tidak memilih ikut Republik Indonesia, yang bagi sebagian serdadu KNIL, dianggap negara boneka bikinan Jepang. Pada masa Perang Dunia II, Jepang menjadi mimpi buruk bagi Mathijs. Mathijs sempat dilibatkan dalam komisi yang mengurusi nasib serdadu KNIL yang diberi pilihan masuk TNI atau ikut Belanda. Mathijs sendiri ikut ke Negeri Belanda pada 25 Juli 1950. Dia melanjutkan karier militernya di Koninklijk Landmacht atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda hingga pangkat kolonel.*
- Itaewon dari Masa ke Masa
Tak ada yang menyangka festival Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, berubah menjadi tragedi. Pesta Halloween yang kembali digelar setelah dua tahun tidak diadakan akibat pandemi Covid-19 itu ramai didatangi pengunjung, tak hanya warga lokal tetapi juga wisatawan dari berbagai negara. Ribuan orang mengunjungi Itaewon, salah satu distrik paling sibuk di Seoul, untuk merayakan pesta Halloween. Mereka berkumpul di restoran dan bar. Saat malam makin larut, kawasan Itaewon makin ramai didatangi pengunjung hingga menyebabkan kepadatan. Di salah satu jalan sempit para pengunjung berdesakan yang mengakibatkan banyak orang kesulitan bernapas hingga jatuh dan terinjak. Insiden itu menyebabkan 154 orang tewas dan beberapa orang terluka menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Itaewon yang terletak di wilayah Yongsan-gu merupakan salah satu distrik yang populer di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Kawasan yang dipenuhi beragam restoran, bar, dan pertokoan ini kerap menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai festival. Oleh karena itu, Itaewon masuk dalam daftar wajib dikunjungi para pelancong yang berwisata ke Seoul. Baca juga: Dari Harajuku ke Haradukuh Sebagai kawasan wisata, Itaewon menjadi tempat bertemu orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang. Itaewon telah menjadi tujuan para pelancong sejak zaman dulu. Korea Magazine terbitan Korean Culture and Information Service tahun 2015 menyebut nama Itaewon berasal dari tempat penginapan bagi para pelancong yang sudah ada sejak zaman Goryeo (918–1392). Setelah Jepang menginvasi Korea di bawah pimpinan Toyotomi Hideyoshi pada 1592–1598, Itaewon disebut “Itain” yang berarti “desa orang asing”, karena tentara Jepang di tempatkan di sana. Ketika perang berakhir tahun 1598, beberapa tentara Jepang menetap di sana. Pesta Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, yang menelan ratusan korban jiwa. (Youtube Watchers Club/Wikimedia Commons). Sementara itu, Song Doyoung dalam Migration and Diversity in Asian Contexts menulis, nama Itaewon mulai muncul dalam catatan sejarah pada abad ke-16 sebagai titik penghubung Seoul dengan wilayah selatan Korea. Pada akhir abad ke-19, wilayah Itaewon pernah diduduki tentara Cina kemudian dikuasai tentara Jepang hingga tahun 1945. Pada masa pendudukannya, Jepang mendirikan markas militer di daerah Yongsan. Wilayah Itaewon juga pernah menjadi rumah bagi sejumlah orang Amerika setelah Perang Dunia II dan Perang Korea (1950–1953) karena di wilayah tersebut terdapat pangkalan militer Amerika Serikat. Jieheerah Yun dalam Globalizing Seoul The City’s Cultural and Urban Change menyebut penggunaan awal daerah Yongsan –termasuk wilayah Itaewon– sebagai pangkalan militer karena lokasinya dekat dengan dermaga sungai. Selain itu, di masa perang, militer cenderung menggunakan kembali infrastruktur yang sudah ada. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Terletak tepat di pinggiran kamp tentara, Itaewon menjadi distrik komersial yang mendukung berbagai kebutuhan pasukan Amerika. Sejak 1950-an, toko dan klub di Itaewon telah berfungsi sebagai tempat rekreasi bagi personel militer Amerika. Di sisi lain, Itaewon pun menjadi gerbang masuknya budaya Amerika dan negara asing lainnya yang diperkenalkan kepada penduduk Korea Selatan. Seiring berjalannya waktu, distrik Itaewon tak hanya didominasi budaya Amerika. Wilayah itu berkembang menjadi melting pot , yang tak hanya dikenal sebagai pusat pariwisata, tetapi juga pusat pertukaran budaya. Menurut Doyoung, globalisasi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan pertukaran budaya terjadi di wilayah Itaewon. Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. (Brandon Butler/Wikimedia Commons). Popularitas Itaewon sebagai pusat pariwisata kian meningkat setelah diselenggarakannya Asian Games 1986 dan Olimpiade Seoul 1988. Secara khusus turis dari Barat dan Jepang mulai sering mengunjungi Itaewon di mana mereka dapat berbelanja tanpa khawatir terkendala bahasa karena bahasa utama di jalan-jalan Itaewon adalah bahasa Inggris dan Jepang. Gelombang kedatangan pekerja migran dari Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh ke Korea Selatan sejak awal 1990-an turut memberi warna baru bagi Itaewon. Wilayah itu juga menjadi tujuan wisata populer bagi wisatawan muslim terlebih di Itaewon terdapat Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) yang dibangun pada 1976. Meningkatnya jumlah pengunjung muslim berdampak pada berdirinya restoran-restoran halal di Itaewon. Restoran yang menyediakan makanan halal pertama kali di Seoul pada awal 1990-an berada di distrik Itaewon. Baca juga: Banjiha, Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite Setelah lebih dari tiga dekade Itaewon didominasi budaya Amerika, kawasan itu kini menjelma menjadi semacam “zona internasional” yang beragam secara budaya dan terbuka bagi orang asing di Korea Selatan. Jieheerah Yun dalam A Foreign Country in Seoul: Itaewon’s Multicultural Streets menulis, perkembangan yang beragam dalam lingkup komersial di distrik Itaewon membuat pemerintah Metropolitan Seoul menetapkan wilayah itu sebagai Zona Wisata Khusus pada 1997. Reputasi Itaewon sebagai pusat hiburan yang trendi dan kosmopolitan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak heran Itaewon kerap disebut sebagai “pintu gerbang menuju dunia”.*
- Duel Setan Yahudi dan Jin Hawara
Lebih dari 150 orang meninggal dunia dalam Festival Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan (Korsel) pada Minggu (30/10/22) sore waktu setempat. Kendati belum diketahui secara pasti penyebabnya, kematian itu terjadi dalam gang sempit dekat stasiun keretaapi yang dipenuhi orang-orang yang menghadiri acara tersebut. “Detailnya masih belum ada, tetapi kesaksian dan rekaman media sosial menunjukkan banyak orang jatuh ke tanah di jalur sempit, sementara yang lain saling mendorong untuk masuk atau meninggalkannya,” demikian kompas . com , 31 Oktober 2022 memberitakan. Kendati tak sebanyak di Korsel, di Indonesia Halloween juga dirayakan sebagian orang. Berbagai pusat perbelanjaan dan café di kota-kota besar menyajikan dekorasi-dekorasi seperti patung tengkorak atau sosok hantu lainnya untuk merayakan Halloween. Artis-artis terkenal tidak ketinggalan. Mereka berdandan dengan busana karakter unik tokoh tertentu. Wujud hantu masih menjadi primadona di kalangan masyarakat dalam merayakan Haloween. Baca juga: Asal Usul Valak, Setan dari Masa Kegelapan Bicara soal hantu, Indonesia memiliki berbagai karakter hantu jauh sebelum Halloween masuk. Beberapa karakter hantu tercatat dalam karya sastra Jawa. Salah satu manuskrip yang menulis hantu adalah Nagari Siluman yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional. Manuskrip Nagari Siluman disinyalir sudah ada sebelum tahun 1930. Dari keterangan dalam sampul naskah, penulisan manuskrip dilakukan di daerah Kauman (daerah sekitar masjid) Yogyakarta. Penulisnya adalah Pawiradirya, seorang bupati kepala Mancanegara berkedudukan di Maospati, Madiun, yang saat itu Madiun masih berada di bawah Kesultanan Yogyakarta. Hantu-hantu dalam Nagari Siluman berbeda dari hantu-hantu Jawa yang sudah populer. Setidaknya ada 30 karakter hantu dalam manuskrip tersebut. Antara lain Setan Yahudi, Setan Yahari, Setan Yahkobra, Setan Yahgombak, Setan Yahkuncung, Setan Yahroban, Setan Yahmrala, Setan Yahkumpra, Setan Yahnglawet, Setan Yahbangkrik, Setan Irangas, Setan Gumbira, Setan Humbaran, Setan Srakah, Setan Kobar, dan Setan Rangkot. Baca juga: Asal Usul Setan Gundul Ilustrasi dalam manuskrip menggambarkan Setan Yahudi memiliki tubuh besar, tambun, dan berbadan bungkuk. Dari leher hingga kakinya berwarna hijau. Wajahnya berwarna biru, mata lancip dengan kerutan di sekitarnya dan bola mata berwarna hitam. Dari balik bibir berwarna jingga, ada empat gigi taring runcing. Hidungnya mancung dan besar. Rambutnya putih sepanjang bahu. Setan Yahudi menggunakan tiga buah anting berwarna hijau, kuning, dan jingga. Ia digambarkan tidak memakai pakaian sama sekali sehingga penisnya terlihat bergelayutan dengan warna hijau seperti bagian tubuhnya yang lain. Setan Yahudi adalah sosok makhluk dengan jenis kelamin laki-laki. Ia dapat memiliki keturunan dengan ritual bertapa. Setan Yahudi bersama puluhan keturunannya tinggal di hutan Pringgawi Suta. “Ini adalah cerita Setan Yahudi bertengkar dengan Jin Hwara di Hutan Pringgawi Suta,” demikian tertulis dalam Nagari Siluman . Pertengkaran dengan Jin Hawara disebabkan oleh perebutan tempat bernama Khayangan Lak Pangamun-amun. Duel Setan Yahudi dan Jin Hawara. (Gambar manuskrip koleksi Perpustakaan Nasional, dilansir dari Onny Amanda Putri). “Setelah Setan Rakut lahir, Setan Yahudi merasa tempatnya tidak cukup, kemudian ia mencari tempat baru berupa Khayangan Lak Pangamun-amun,” kata Nagari Siluman . “Siapa yang menduduki Khayangan Lak Pangamun-amun, itu adalah Jin Hawara, memiliki putra Jin Habodhag, Jin Habilis, dan Jin Habirawa Lodra.” Berita itu terdengar sampai ke telinga Jin Hawara. Tokoh jin utama dalam Nagari Siluman ini digambarkan sebagai sosok besar dan tambun layaknya Setan Yahudi. Perutnya sangat besar dan buncit dengan pusar menonjol di tengahnya. Dari leher hingga kaki berwarna coklat. Ia menggunakan celana dalam berwarna putih dan biru untuk menutupi kemaluannya. Rambut Jin Hawara panjang berwarna putih dan gimbal. Mukanya berwarna hijau, bibir jingga, dan gigi bertaring empat buah. Bola matanya berwarna hitam, dan di sisi mata terdapat kerutan. Alisnya tebal. Baca juga: Genderuwo yang Suka Menakut-nakuti Maka begitu mendengar rencana Setan Yahudi, Jin Hawara memasang siasat. Sebelum pasukan Setan Yahudi datang, Jin Hawara memerintahkan anak-anaknya untuk ke hutan Pringgawi Suta. Negosiasi antara anak-anak Jin Hawara dan Setan Yahudi tidak berjalan baik sehingga Jin Hawara datang langsung ke hutan Pringgawi Suta. “Hai Setan Yahudi, apa maksud kamu ingin mengambil tempatku? Tidak bisa seperti ini jika kamu tamak, sekarang kamu mau aku bunuh apa tidak?” ujar Jin Hawara. Setan Yahudi yang tidak sudi dibunuh oleh Jin Hawara pun melawan. Mereka akhirnya saling gigit. Tidak ada yang kalah ataupun menang. Keduanya lalu memutuskan berdamai. Jin Hawara kembali ke Khayangan Lan Pangamun-amun setelah itu dan Setan Yahudi tetap tinggal di hutan Pringgawi Suta.
- Awal Mula Pasar Ular
Suasana siang hari di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, bising oleh kendaraan lalu-lalang terutama mobil-mobil besar (tronton) yang mendominasi jalanan. Namun, sedikit menarik perhatian kala melihat sederet toko menjual keramik-keramik hias di pinggir jalan dekat stasiun Transjakarta Koja Permai. Saat itu, tak begitu ramai, namun yang membuat penasaran, beberapa pelancong termasuk turis asing jalan-jalan di kawasan yang dikenal dengan Pasar Ular. Ada beberapa cerita mengenai asal-usul Pasar Ular. Cerita pertama terkait sejarah kawasan Batavia. Banyaknya binatang buas di Batavia tercermin dari adanya tempat-tempat bernama binatang, seperti Rawa Buaya, Rawa Badak, dan Pasar Ular. Ira Lathief, pemandu tur Wisata Kreatif Jakarta, mengatakan ada yang bilang Pasar Ular awalnya berupa rawa-rawa dan banyak ular. Ada juga yang bilang dinamai Pasar Ular karena dulu barang-barang yang dijual barang selundupan, jadi dalam transaksi jual-beli harus licin seperti ular. Barang-barang yang ditawarkan kebanyakan pakaian, di antaranya celana jeans dan sepatu. “Awal mulanya Paul (sebutan untuk Pasar Ular) adalah pasar kaget, barang black market dijual dengan harga lebih murah, barang seperti sepatu bermerek yang dulu di mal nggak ada,” kata Ira dikutip liputan6.com . Seiring berjalannya waktu, karena telah banyak orang tahu, tak ada lagi barang selundupan yang dijual. Hanya saja, barang ditawarkan dengan harga miring karena langsung turun dari kapal. Baca juga: Pasang Surut Pasar Tanah Abang Cerita lain disebut dalam majalah Ummat tahun 1999. Asal mula nama Pasar Ular, konon seorang konsumen setia di pasar pelabuhan (Jalan Sulawesi) adalah seorang tetua dari Ambon. Setiap proses tawar-menawar, bapak tua ini tak lupa mencecarkan umpatan-umpatannya yang khas. “Dasar ular! Sama teman sendiri saja mau menggigit. Barang seharga Rp5 ribu dijual Rp15 ribu!” gertaknya. “Demikianlah selalu terjadi nyaris setiap hari. Maka, nama Pasar Ular pun untuk pertama kali ditabalkan di pasar itu,” tulis Ummat . Seorang pedagang berkata, “Kami memang harus selalu tawar-menawar. Sebab, kalau harganya pas banderol seperti di toko, nggak ada seninya.” Barang-barang yang dijual di Pasar Ular dulu kebanyakan barang elektronik. Entah kenapa kemudian pasokan utamanya kebanyakan berupa barang garmen. Lain lagi dengan cerita Iwan, seorang tukang ojek di kawasan Pasar Ular. Menurut Iwan, dulu Pasar Ular bernama Pasar Permai. Letaknya di dekat Pelabuhan Tanjung Priok, persisnya di Jalan Jampea. “Karena adanya pedagang daging-daging ular untuk kebugaran pria dan wanita akhirnya dikasih nama Pasar Ular sampai sekarang,” kata Iwan dikutip kumparan.com . Baca juga: 200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju Sementara itu, Zaenuddin H.M. dalam 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe mencatat cerita lain Pasar Ular. Pada 1959, Pasar Ular mulanya tempat berdagang secara kagetan di Kawasan III Pelabuhan Tanjung Priok. Ada yang menduga, nama Pasar Ular berasal dari kondisi tempatnya yang meliuk-liuk terutama di bagian lorong seperti bentuk ular. Dalam perkembangannya, pada 1973 sekitar 85 kios di Pasar Ular dan Pasar Buaya digusur. Laporan majalah Tempo , 4 Agustus 1973, menyebut Pasar Buaya berlokasi di pinggir Jalan Sulawesi, berseberangan dengan Pasar Ular. Konon, munculnya pasar ini karena ulah camat setempat yang kemudian menjadi staf walikota. Sejak 1969, Pasar Buaya terpaksa diresmikan di bawah pengawasan PD Pasar Jaya. “Dan justru karena seolah-olah punya status resmi, Buaya pun menjadi saingan Ular. Namun begitu penghuni-penghuninya tak merasa terusik. Mereka baru terkesiap setelah walikota Jakarta Utara menurunkan perintah menertibkan Pasar Ular dan Pasar Buaya,” tulis Tempo . Baca juga: Menengok Sejarah Glodok Pasar Buaya lenyap sementara Pasar Ular bertahan. Kini Pasar Ular ada di dua tempat, yaitu Pasar Ular di Kebon Bawang dan Pasar Ular di Plumpang, Rawa Badak Selatan. Kedua Pasar Ular ini memiliki ciri khas masing-masing. Pedagang di Pasar Ular Plumpang kebanyakan menjual pakaian, sepatu, dan tas. Sedangkan di Pasar Ular Permai, selain pedagang yang menjual tiga barang tersebut, juga terdapat pedagang keramik seperti guci dan peralatan rumah tangga, serta lampu hias. Pasar Ular Permai beroperasi sampai pukul 21.00 WIB. Para pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Beberapa turis asing juga kerap datang sekadar melihat-lihat atau memotret. Salah satu toko yang ramai di Pasar Ular Permai, yaitu Ida Jaya Crystal yang berdiri sejak 1995. Berawal dari toko sepetak, Ida Jaya Crystal berkembang menjadi toko mewah nan klasik. “Barang yang pertama kali dijual oleh Ibu Ida berupa barang-barang antik, kristal, guci, dan piring keramik. Seiring berjalannya waktu, Ibu Ida menjual peralatan dapur, home dekor, hingga bunga-bunga hias,” ujar Rama, pekerja bagian digital marketing Ida Jaya Crystal. “Berbeda dari toko lainnya, Ida Jaya Crystal memiliki produk hias berwarna gold yang banyak dicari oleh orang daerah. Barang tersebut selain diproduksi di Eropa, jumlahnya pun hanya tersedia di beberapa mal, itu pun dengan harga yang cukup tinggi daripada di sini,” kata Rama sambil menunjukan barang yang dimaksud. Baca juga: Keramik Antik Ciamik Toko-toko di Pasar Ular Permai kebanyakan menyetok barang-barang dari China, Ceko, dan Jerman. Tak hanya itu, barang-barang produksi lokal pun masih banyak ditemui seperti dari Jawa Tengah. Setiap toko membanderol barang-barangnya dengan harga bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah untuk barang-barang dalam negeri dan buatan China hingga jutaan rupiah untuk produk dari Eropa. “Ciri khas yang berbeda banyak ditawarkan oleh toko keramik di sini, yang jarang ada di daerah lain,” ujar Dedi, pembeli dari Pontianak, Kalimantan Barat. Para pembeli bisa membeli keramik dengan beragam motif, mulai dari motif bunga, pemandangan, binatang, kaligrafi, hingga batik. Selain keramik, keanekaragaman barang-barang yang dijual di Pasar Ular menjadi daya tarik tersendiri. Barang-barangnya berkualitas tapi harganya pas.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.
- Kisah Bolang Melawan Jepang
Ketika balatentara Jepang mendarat pada awal 1942, serdadu KNIL Frederik Bolang alias Fred Bolang bertugas di kesatuan Batalyon Garnisun Kalimantan Barat. Waktu itu, KNIL tidak berdaya, sehingga Hindia Belanda dengan mudah diambil alih balatentara Jepang. Wilayah Kalimantan ditetapkan sebagai bagian dari Armada Selatan Kedua Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun). Bolang termasuk serdadu KNIL yang menjadi tawanan perang Jepang. Namanya tercatat dalam kartu tawanan perang Jepang koleksi Arsip Nasional Belanda. Di situ tertera F.M. Bolang lahir pada 10 November 1919 dan berasal dari Kampung Kawangkoan, Tonsea, Keresidenan Manado. Dia adalah anak dari N. Bolang dan K.A. Makatuuk. Bolang ditahan selama dua tahun di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Kuching, Serawak, Malaysia. Dia lalu dipekerjakan sebagai Heiho (pembantu tentara) atau romusha (pekerja paksa) oleh militer Jepang. Dia dan beberapa kawannya berhasil melarikan diri. Baca juga: Serdadu KNIL Jawa di Kalimantan Utara Koran Het Dagblad , 21 Mei 1949, menyebut Bolang dan kawan-kawannya melarikan diri ke pedalaman Kalimantan. Mereka kemudian bertemu dengan perwira militer Inggris yang terjun payung untuk menyusup ke Kalimantan. Dari Bolang, tentara Sekutu itu termasuk dari militer Australia, mendapat informasi mengenai kondisi militer Jepang di sekitar Kalimantan Barat. Perwira Inggris itu adalah Mayor Tom Harrisson (1911–1976), yang belakangan dikenal sebagai peneliti tentang Kalimantan. Tom bagian dari operasi-operasi khusus yang dilakukan Z Force Sekutu. Tom merasa beruntung bertemu Bolang dan dua kawan Manadonya, Cussoy dan Sulang. “Mereka adalah orang Kristen dari Sulawesi, serdadu di bawah komando Belanda, lalu di bawah Jepang,” tulis Tom dalam World Within: a Borneo Story . Tak hanya dapat informasi berharga, Tom juga mendapat bantuan terkait kekuatan militer yang harus dibangunnya. Ketiga bekas serdadu KNIL itu tentu paham soal taktik militer. Bagi Tom, mereka cukup bersemangat dalam tugasnya. Dalam membangun paramiliter dari penduduk lokal Kalimantan, ketiganya berperan dalam memberikan pelatihan. Semasa di Kalimantan, Bolang dianggap instruktur dan komandan tempur yang baik. Kartu tawanan perang Fred Bolang. (Arsip Nasional Belanda). Setelah Jepang kalah, peran Bolang dihargai militer Inggris. Het Dagblad memberitakan, Bolang mendapat penghargaan British Empire Medal (divisi militer) tahun 1949. Tak hanya itu, Bolang juga mendapat bintang Kruis Van Verdienst (Salib Jasa) dari Kerajaan Belanda berdasarkan Koninklijk Besluit 10 Januari 1950 Nomor 10. Kala itu, Bolang, anggota KNIL dengan nomor stamboek 38575, sudah sersan infanteri. Setelah Indonesia merdeka, Bolang sempat berdinas lagi di KNIL. Ketika terjadi pemberontakan KNIL pada 14 Februari 1946 di Manado, dia tidak terlibat. Koran De Locomotief , 4 September 1947, menyebut dalam Peristiwa Merah Putih itu, militer Belanda menganggap Sersan Bolang bersama Sersan Maukar dan Sersan Cussoy sebagai serdadu KNIL yang setia dan menjalankan pekerjaan sesuai aturan dinas. Namun, tidak di tahun 1950. Baca juga: Sersan Jawa dalam Peristiwa Merah Putih di Manado Menurut Ventje Sumual dalam Memoar Ventje H.N. Sumual , sebelum 3 Mei 1950, Bolang masuk dalam kelompok KNIL pro Republik Indonesia karena pengaruh dari Sersan KNIL Alex Mengko. Suhario Padmodiwirio dalam Memoar Hario Kecik menyebut mereka bersama merencanakan pembongkaran gudang senjata. Pemberontakan KNIL, dengan bantuan pemuda pro Republik Indonesia, tanggal 3 Mei 1950 itu lalu berlanjut pada pembentukan Batalyon Infanteri 3 Mei di dalam tubuh TNI. Setelah dikirim menumpas Republik Maluku Selatan, batalyon itu dipindahkan ke Jawa Barat lalu dinomori sebagai Batalyon 324. Semasa di TNI, Bolang berpangkat kapten dan menjadi Kepala Staf Batalyon 3 Mei. Ketika pecah Permesta pada 1958, Bolang yang sepuh dan berpengalaman kemudian diajak ikut dalam pasukan Permesta .*
- Pasukan Jelata Ki Ageng Suryomentaram
MESKI dikenal sebagai seorang spiritualis yang mengajarkan ilmu bahagia yang bersifat personal, Ki Ageng Suryomentaram tak lepas dari kehidupan politik di Hindia Belanda. Sejak 1930, ketika ajarannya mulai ramai dibicarakan, ia telah dicurigai oleh polisi rahasia Belanda, Politieke Inlichtingen Dienst (PID). “Betapa tidak akan curiga? Seorang pangeran yang turun. Yang pada dasarnya menaruh benci terhadap penjajahan. Bertempat tinggal di sebuah desa terpencil. Menyiarkan ajarah yang militan. Dikerumuni oleh ribuan murid, jauh dan dekat!” tulis majalah Minggu Pagi , 11 Februari 1951. Belanda curiga bahwa kelak Ki Ageng Suryomentaram menyiarkan ajaran “ratu adil”. Satu istilah yang dikhawatirkan Belanda muncul kembali seperti pada masa Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Ki Ageng Suryomentaram baru benar-benar terlibat politik pada masa pendudukan Jepang, ketika ia mengeluarkan wejangan “Jimat Perang”. Satu ajaran mengenai berani mati turut dalam perang bersama Jepang. Baca juga: Jimat Perang Tentara Sukarela Ki Ageng Suryomentaram dengan “Jimat Perang”-nya, disebut anaknya Grangsang Suryomentaram, berjasa dalam pembentukan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Namun, klaim ini masih simpang siur karena ada klaim lain dari Gatot Mangkupraja sebagai penggagas PETA. Marcel Bonneff dalam “Ki Ageng Suryomentaram, Javanese Prince and Philosopher (1892-1962)” yang termuat dalam Archipel No. 57, April 1995, menyebut versi Grangsang masih bisa diperdebatkan, namun peran Ki Ageng Suryomentaram dalam perjuangan kemerdekaan tampak jelas. “Mengenai hal ini tidak diragukan lagi, kesiapannya untuk mengangkat senjata selama periode 1947–1949 sebagai pimpinan Pasukan Rakyat Jelata untuk menghadapi tentara Belanda di dekat Yogya sudah dikenal luas,” tulis Bonneff. Pasca kemerdekaan, Ki Ageng Suryomentaram memang terlibat dalam gerakan melawan agresi Belanda. Ia memimpin pasukan gerilya yang dinamakan Pasukan Rakyat Jelata versi Bonneffatau Pasukan Jelata versi Grangsang. Nama pasukan ini tampaknya cocok dengan persona Ki Ageng Suryomentaram yang jelata. Baca juga: Laskar Partai Rakjat Djelata Teliti Sinar Matahari Dalam “Riwayat Hidup Ki Ageng Suryomentaram” yang termuat dalam Falsafah Hidup Bahagia ,Grangsang menyebut pasukan ini bermarkas di Wonosegoro, wilayah yang rawan pertempuran antara Republik dan Belanda di Kabupaten Boyolali. Namun, tak banyak catatan mengenai sepak terjang Pasukan Jelata. Setelah ibukota Yogyakarta diduduki pasukan Belanda, Ki Ageng Suryomentaram dan keluarganya mengungsi ke daerah Gunung Kidul. “Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tantara gerilya, dan masih memimpin pasukannya yang bermarkas di Wonosegoro,” tulis Grangsang. Pada masa ini, setiap malam Jumat, Ki Ageng Suryomentaram mengunjungi pemakaman raja-raja Jawa di Imogiri. Ia duduk di bangsal Suwargan dikelilingi oleh tentara-tentara gerilya dan masyarakat sipil. Mereka mendengarkan wejangannya mengenai kondisi bangsa Indonesia. Baca juga: Gelandangan Revolusioner “Ki Ageng mengatakan bahwa kelemahan bangsa Indonesia disebabkan karena gampang dipecah belah, gampang diadu domba, dan suka mengejar semat , drajat , kramat (harta, tahta, kehormatan) sehingga gampang untuk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme, asal bisa mendapatkan semat , drajat , kramat ,” tulis Grangsang. Selain pernah memimpin Pasukan Jelata, Ki Ageng Suryomentaram juga mengeluarkan ceramah-ceramah seperti “Pembangunan Djiwa Warga Negeri”, “Djiwa Persatuan”, “Djiwa Buruh”, “Tata Negara”, “Raos Pantjasila”, hingga “Pandangan Keadaan Dunia”. Pada 1957, Bung Karno mengundang Ki Ageng Suryomentam ke Istana Merdeka untuk dimintai pandangan mengenai berbagai permasalahan negara. Seperti biasa, Ki Ageng Suryomentam datang hanya memakai celana hitam, kaos, dan batik parang rusak barong yang dikalungkan di leher. Ia tetap menjadi jelata meski bertemu dengan seorang presiden. Kisah selengkapnya Ki Ageng Suryomentaram baca di Historia Premium: Pangeran Yang Bahagia .
- Suka Duka Calon Haji di Tempat Karantina
Para calon jemaah umroh asal Indonesia patut bersyukur. Pasalnya, pemerintah Arab Saudi melonggarkan persyaratan umroh untuk jemaah Indonesia. Pelonggaran itu disampaikan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq al Rabiah kala bertemu Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta pada 24 Oktober 2022. Ada empat poin dalam pelonggaran persayaratan itu. Yang terpenting mungkin terkait syarat kesehatan, yang menjadi alasan utama di balik dihentikannya untuk sementara kegiatan haji dan umrah akibat Covid-19. Tawfiq menegaskan, persyaratan kesehatan dihapus. “Saya ingin menyampaikan bahwa kami dari Kerajaan Arab Saudi sangat menyambut seluruh jemaah umrah Indonesia, tanpa harus ada batasan dan ikatan-ikatan yang terkait kesehatan, jumlah, dan semuanya kami menyambut dengan sebaik-baiknya. Tidak ada syarat-syarat kesehatan. Yang terkait tentang jemaah umrah, tidak ada ikatan dengan syarat-syarat kesehatan, tidak ada juga yang terkait dengan umur,” kata Tawfiq sebagaimana diberitakan kompas . com , 25 Oktober 2022. Sebelumnya, pemerintah Saudi menetapkan persyaratan kesehatan ketat terhadap jemaah haji dan umrah dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, pasca-mencabut larangan masuk total akibat pandemi Covid. Para calon jemaah diwajibkan menjalani karantina 14 hari di negara ketiga. Baca juga: Haji Terganggu Pandemi Dengan dihapuskannya persyaratan kesehatan, karantina para calon jemaah pun ditiadakan. Para jemaah haji yang berangkat pada tahun ini, 2022, sudah membuktikannya. “Tidak ada karantina terpusat selama 21 hari kepada jemaah haji. Kami ulangi, tidak ada karantina kepada jemaah haji kita,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana, dikutip laman kemenag.go.id , 14 Juli 2022. Karantina merupakan persyaratan yang wajib dijalani para calon jemaah haji sejak lama. Para jemaah di masa kapal uap mesti menjalani dua kali karantina. Di tanah air, mereka melakukannya di Pulau Rubiah, Sabang; Onrust, atau Kuiper (kini Kahyangan) di Kepulauan Seribu. Begitu tiba di Laut Merah, mereka mesti kembali karantina di Pulau Kamaran, pantai barat Yaman sebelum masuk ke Pelabuhan Jedah. “Ketika memasuki Laut Merah, kapal haji harus singgah untuk menurunkan jamaah haji yang akan dikarantina di stasiun-stasiun Kamaran, Abu Saad, Abu Ali, dan Wasta. Sesungguhnya stasiun karantina di Laut Merah itu telah dirintis pada 1838 oleh Turki Utsmani, masa pemerintahan Sultan Mahmud II (1808-1839), bekerja sama dengan beberapa negara Eropa yang mempunyai perwakilan di Turki,” tulis M. Shaleh Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia . Bangunan tempat karantina haji di Pulau Kamaran pada masa Inggris. ( awazthevoice.in ). Persyaratan karantina untuk para calon haji awalnya dimaksudkan untuk melindungi orang Turki –selaku penguasa Tanah Hijaz– dan Eropa –yang memiliki perwakilan di Hijaz– dari penyakit menular. Dipilihnya Kamaran sebagai salah satu tempat karantina merupakan hasil dari Konvensi Paris 1903. Fasilitas karantina di Kamaran diusahakan pemerintah Turki, sementara operasionalnya ditangani organisasi Internationale Gezondheidsraad yang berisi perwakilan Inggris, Prancis, dan Belanda. Sejak 1873, kapal-kapal haji asal Hindia Belanda (kini Indonesia), Semenanjung Malaya, dan India wajib singgah di Kamaran. Usai Perang Dunia I, Kamaran yang termasuk ke dalam wilayah Timur Tengah berada di bawah kekuasaan Inggris. Akibatnya, keamanan pulau dijaga oleh pasukan Arab di bawah perwira-perwira Inggris. “Kampung jemaah yang ditahan di karantina itu diberi berpagar kawat sekelilingnya dan dijaga oleh agen-agen polisi bangsa Arab dan Afrika. Tegap-tegap tubuhnya, hitam kulitnya, tetapi kotor pakaiannya,” kata Raden Adipati Aria Wiranatakusuma, bupati Cianjur lalu Bandung yang pada 1945 menjadi menteri dalam negeri RI, dalam catatan perjalanan hajinya, termuat dalam Naik Haji di Masa Silam : Jilid II . Baca juga: Awal Mula Haji Nusantara Para jemaah dibawa ke pulau dari kapal mereka menggunakan perahu lantaran pantai di Kamaran tak memungkinkan kapal besar bersandar. Barang-barang bawaan mereka diangkut dengan perahu lain. Karena ketidaktahuan, banyak jemaah memasrahkan begitu saja barang-barang mereka kepada tukang-tukang perahu. Padahal, itu bisa berakibat fatal. “Sekalian barbang-barang dan uang kita terserah saja di dalam tangan tukang-tukang perahu itu. Sekalian barang-barang tadi dibuang-buang orang saja ke tepi laut, sehingga bercampur-baurlah semua. Waktu inilah acap kali orang kehilangan uang, karena banyak orang yang menyimpan uangnya di dalam uncang saja,” tulis Dja Endar Moeda, pendiri suratkabar Pewarta Deli dan Insulinde , dalam “Perjalanan ke ‘Tanah Suci’” yang termuat di buku yang sama. Begitu menginjakkan kaki ke pulau, para jemaah langsung dibersihkan. “Sekaliannya jemaah-jemaah itu dibuka pakaiannya, dimandikan dan setelah itu baru mereka boleh pergi ke bangsal karantina. Untuk mandi itu mereka dapat kain sarung merah ganti kain basahan. Mereka dimandikan dengan air lysol ,” sambung Wiranatakusuma. Baca juga: Ketika Berhaji Dilarang VOC Setelah bersih, para calon haji ditempatkan di dalam bangsal-bangsal karantina. Selain kotor, tempat itu juga sarat akan bau tak sedap. Tiada perhatian soal sanitasi di Kamaran. Bangsal-bangsal, kamar mandi, jalan-jalan, bahkan perilaku penduduk setempat jauh dari bersih. “Ya, kami telah sampai ke negeri yang belum mengetahui arti dan faedah kebersihan dan pada permulaan dari segala kekotoran,” kata Wiranatakusuma. Wiranatakusma melihat betul bagaimana perilaku mukim –maksudnya penduduk– yang jauh dari perhatian akan kebersihan. Seorang anak yang membantunya membersihkan ayamnya usai dipotong, selain memiliki masalah pada telinga juga kotor tangannya. Lalu ketika menyiapkan piring untuk makan, anak itu hanya mengelapnya dengan kain pinggang kotornya. Hal itu membuat Wiranatakusuma kehilangan nafsu makan sehingga hanya makan sedikit. Di lain waktu, Wiranatakusuma diajak makan ke sebuah restoran milik orang Maroko oleh salah satu dokter di tempat karantina, dan keduanya dijamu pemilik resto. Kecuali Wiranatakusuma, mereka semua, termasuk pemilik resto, makan dengan lahap semua menu yang terhidang tanpa alat makan. Hidangan langsung diambil dengan tangan mereka yang kotor tanpa cuci tangan terlebih dulu. “Apabila tangannya terlalu bergelumang dengan makanan itu, maka disekakannya saja ke dinding rumah itu. Supaya jangan melanggar adat kesopanan, maka saya ambil juga kue martabak sedikit, sebab belum saya ketahui tatkala itu, bahwa kue itu dibawa orang dengan tangannya saja ke dalam, sedang tangan itu amat kotornya,” kata Wiranatakusuma. Baca juga: Resolusi Membatasi Haji Selain dengan membeli, para jemaah sebetulnya bisa makan dengan memasak sendiri. Beras dam ikan asin diberikan untuk para jamaah oleh koki kapal. Hanya peralatan untuk memasaknya saja yang mesti mereka upayakan sendiri. Selain soal kebersihan, hal penting lain yang mesti diperhatikan para jemaah di Karakan adalah keamanan. Banyak orang-orang Baduwi senang mencuri bawaan atau menipu jemaah di sana. Itu bahkan sudah dimulai sejak para jemaah turun dari kapal ke perahu-perahu yang akan membawa mereka ke daratan. Di darat, upaya pencurian ataupun penipuan/pemerasan terus berlangsung selama jemaah tinggal (biasanya kurang-lebih seminggu). Jemaah yang lemah akan jadi santapan penipuan atau pemerasan. Wiranatakusuma sendiri pernah mendapati air minum botolnya telah berkurang separuh akibat diminum orang tanpa seizin darinya. “Di pulau ini misti membayar $5, lima ringgit burung, seseorang, yaitu harga air dan kayu. Uang ini wajib dibayarkan kepada tuan dokter yang menjaga di situ. Kalau mandur Badui meminta uang harga kayu atau air itu, jangan diberikan satu sen jua pun,” tulis Dja Endar Moeda.
- A.A. Maramis Bergelut dengan Kesehatan
CAHAYA jingga menyembul di langit Bandara Halim Perdanakusuma sore itu. Beberapa tokoh penting dalam sejarah Republik Indonesia tengah menunggu A.A. Maramis pulang. Achmad Subardjo, Sunario, Arnold Monotutu, dan Rachmi Hatta tampak diantaranya. Hadir pula pejabat Departemen Luar Negeri dan tokoh-tokoh Minahasa dari Paguyuban Kawanua. Para wartawan turut mengintili. Sebuah pesawat milik Garuda mendarat di landasan pacu, merapat ke sisi terminal, dan berhenti. Sepasang kakek-nenek keluar, tertatih-tatih menuruni tangga pesawat. Sang kakek terlihat lemah. Dia celingak-celinguk memandang deretan Subardjo dan kawan-kawannya. Dialah Alexander Andries Maramis, salah satu founding father RI yang tersisa. Dia akhirnya pulang ke Indonesia pada Minggu, 27 Juni 1976, setelah malang-melintang di mancanegara. Sejurus kemudian Alex menghampiri Subardjo dan memeluknya erat. Alex memang sudah menjadi pelupa. Dari sekian banyak orang yang menunggunya di bandara, Dia hanya ingat pada Subardjo. Tak lama Rachmi menghampiri Alex. ”Ik ben mevrouw Bung Hatta,” (saya ini istri Bung Hatta), ucapnya, seperti termuat dalam Tempo edisi 17 Juli 1976. Banyak bakti Alex kepada Indonesia. Dia ikut memperjuangkan kebangsaan Indonesia di masa kolonial Belanda melalui Perhimpunan Indonesia. Menjelang kemerdekaan, Alex turut serta dalam BPUPKI, juga dalam Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta. Setelah Indonesia merdeka, Alex menjadi menteri keuangan dalam Kabinet Presidensial, Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II, serta Kabinet Hatta I, dan Menteri Luar Negeri PDRI. Alex pernah menjadi utusan Indonesia pada Konferensi PBB di Havana (1947-1948) dan menjadi anggota Mahkamah Arbitrase tahun 1950. Kiprah terakhirnya adalah menjadi duta besar Republik Indonesia. Dia berturut-turut menjadi dubes di Filipina, Jerman Barat, Rusia, dan Finlandia. Karena sederet baktinya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Alex penghargaan-penghargaan berupa Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tingkat III (1960), Bintang Gerilya (1961), dan Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (1969). Menuju Indonesia Sejak 1957, Alex bersama istri Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth) dan anak semata wayangnya Lexy Maramis menetap di Lugano, Swiss. Di sana, Alex hidup kesepian sekian lama. Kesepian membuatnya gampang sakit-sakitan. Pratisto, dokter ahli bedah otak asal Indonesia yang bermukim di Bern, berbaik hati merawat Alex. Pratistolah yang mendiagnosis bahwa Alex mengidap sakit lantaran kesepian. Lugano adalah kota ramai. Kerap dikunjungi turis. Namun Alex dan istri jauh betul dari keramaian itu. Karakter masyarakat Swiss yang individualistis membuat Alex semakin merana. ”Siapapun juga kalau hanya beberapa hari atau sebulan, akan mampu baginya mengatasi situasi keterasingan tersebut. Tapi kalau sudah sekian tahun tidak akan ada seorangpun yang sanggup menjalaninya,” tulis F.E.W. Parengkuan dalam A.A. Maramis, S.H berdasarkan pengakuan Pratisto. Keinginan Alex untuk pulang sudah muncul sejak 1972. Sang istri Beth mengungkapkannya pada Buana Minggu edisi 17 Juli 1976. “Coba saudara bayangkan, bagaimana kalau salah satu dari kami meninggal di tanah yang jauh, sedangkan kami ingin berkubur di negeri tercinta ini,” sebut Beth. Alex juga menyampaikan keinginannya kepada sang adik, Andries Alexander Maramis (Inyo) di Jakarta dalam surat-suratnya pada 1973. Kepada Inyo, Alex minta dicarikan rumah di bilangan Menteng. Sunario turut menangkap keinginan Alex ketika berkunjung ke Lugano tahun 1975. Sepulangnya ke Jakarta, Sunario menceritakan keadaan Alex kepada Subardjo dan kelompok Kawanua. Keinginan Alex untuk pulang terkendala biaya. Perjalanan dari Swiss ke Indonesia itu membutuhkan banyak biaya. Keluarga Kawanua dan sahabat-sahabat Alex di Indonesia urun rembuk. Untuk mencari dana kepulangan Alex, mereka membuat Panitia Penyambutan Kedatangan Mr. A.A. Maramis, yang diketuai oleh Achmad Subardjo. Panitia mulai bekerja. Rapat-rapat diadakan di rumah keluarga Maramis di Jalan Merdeka Timur 9, Jakarta. Rencana-rencana disusun. Panitia segera meminta bantuan instansi-instansi pemerintah dan swasta terkait. Beberapa di antaranya adalah Sekretariat Kabinet, Departemen Luar Negeri, KBRI, PT. Garuda, dan PT. Djakarta Lloyd. Sebagian anggota Kawanua juga turut menyumbang dana. Akhirnya dana terkumpul dan persiapan matang. “Menurut rencana ia akan kembali ke tanah air permulaan Mei, tetapi kemudian diundurkan tanggal 26 Juni,” terang Kompas, 12 Mei 1976. Tapi kepulangan Alex pun mundur sehari dari jadwal. Alex dan istri berangkat dari Lugano dengan pesawat maskapai Swiss Air. Mereka didampingi oleh dokter Pratisto. Sepanjang perjalanan, Alex kerap tidur. Pratisto tak berhenti memeriksa keadaan Alex. Swiss Air mendarat di Bandara Changi, Singapura. Di sana rombongan Alex beristirahat sejenak. Dari Singapura, pesawat Garuda membawa Alex dan rombongan kembali ke tanah air. Sesampai di Indonesia, Alex rencananya tinggal sementara di villa di Megamendung, Bogor. Pemerintah yang menyiapkannya. Namun Subardjo menolaknya. Sebab, di sana Alex akan kembali kesepian, seperti dialaminya di Lugano. “Yang penting ia harus banyak bergaul supaya kesehatannya pulih kembali. Dan di Jakarta ia punya teman dan sanak keluarga,” ucap Subardjo yang dikutip Kompas, 6 Juli 1976. Beberapa hari kemudian, dokter Pratisto kembali ke Swiss. Perawatan Alex diserahkan kepada tim dokter kepresidenan yang ditunjuk langsung oleh Presiden Soeharto. Kompas edisi 1 Agustus 1977 menyebut tim dokter kepresidenan mengusulkan Wisma Pertamina di Jakarta Pusat sebagai tempat bermukim Alex dan istri. Pemerintah setuju dan memfasilitasi kebutuhan hidup Alex di Wisma Pertamina. Kampung Halaman Abadi Selama di Jakarta, kesehatan Alex sebenarnya cenderung membaik. Tapi suatu hari Alex pingsan di rumahnya subuh hari pada 17 Mei 1977. Sebelumnya, Alex berusaha bangun dari tempat tidurnya dengan bertopang pada kursi. Dia kemudian terjatuh karena kursi tak mampu menopangnya. “Kursi tempat dia bertahan turut pula roboh dan menimpa tubuhnya sehingga ia berteriak minta tolong,” tulis Parengkuan. Alex segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dan menginap di ruang Intesive Care Unit (ICU). Alex dirawat tim dokter kepresidenan dan tim dokter RSPAD Gatot Subroto pimpinan dokter Eljasyak Ali. Alex tidak sadar diri. Dia mengalami pendarahan otak sehingga harus dibantu alat pernafasan. Sepanjang perawatan, kesehatan Alex terus memburuk. Tak ada keterangan tentang apakah setelah Alex dirawat, dia sempat siuman atau tidak. “Yang jelas bahwa sejak peristiwa itu kesehatannya tidak dapat dikembalikan seperti sedia kala,” ungkap Parengkuan. Anggota keluarga bergantian menjaga Alex di RS. Antaralain sang kakak Antje Maramis dan keponakannya, Richard Maramis. Pagi hari, 31 Juli 1977, Richard kembali ke rumah keluarga di Merdeka Timur 9 sehabis menjaga Alex semalaman. Antje akan menggantikannya menjaga. Hari menjelang siang saat tetiba telepon rumah berdering. Di ujung telepon terdengar perwakilan dari Bina Graha berbicara. Ada kabar duka. Alex Maramis wafat. Menurut tim dokter, Alex wafat pada pukul 09.40 WIB, tak lama setelah Richard pulang. Pada hari itu juga jenazah Alex dibawa dari rumah sakit untuk disemayamkan di rumah keluarga. Sanak kerabat, kawan-kawan, dan masyarakat berdatangan untuk bertakziah. Presiden RI dan istri turut melayat. Esok hari, jenazah Alex dibawa ke Gereja Immanuel untuk didoakan dalam prosesi yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 10.00. Kemudian, jenazah dibawa lagi ke kantor Departemen Luar Negeri. Setelah itu, jenazah Alex dibawa ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, untuk disemayamkan pada 1 Agustus 1977. Untuk itu, Pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Komando Garnisun Ibukota nomor SKEP/42/VIII/19. Pasukan Kawal Kehormatan Angkatan Darat mengawal iring-iringan jenazah ke TMP. Di TMP, tampak Bung Hatta dan Bung Tomo. Juga para pejabat tinggi Republik Indonesia dari kalangan birokrat dan militer. Prosesi pemakaman Alex dimulai tepat pukul 13.00 siang. Menteri Sosial RI, M.S. Mintaredja menjadi inspektur upacaranya. Wakil Gubernur Lemhanas Hadi Tajeb dan beberapa pejabat Departemen Luar Negeri turut mengusung peti jenazah dari tempat upacara ke liang lahat dengan diiringi tembakan salvo Pasukan Kawal Kehormatan. Pemakaman Alex diliput banyak media massa nasional. Kabar kematiannya pun sampai ke Belanda. “Alexander Maramis, menteri keuangan utama Indonesia dan menteri luar negeri di pemerintah Indonesia di pengasingan di New Delhi, telah meninggal di Jakarta pada usia 80,” tulis harian Belanda, De Volkskrant edisi 5 Agustus 1977. Beth mengenang Alex sebagai sosok suami dan ayah yang baik. Bagi Beth, hidup bersama Alex merupakan pengalaman hidup yang manis. “Saling pengertian, saling menghargai dan saling menghayati terutama saling mencintai adalah resep perkawinan kami,” ucap Beth yang termuat dalam majalah Kartini, edisi no. 73, Agustus 1977. “Saya akan tetap di sini mendampingi Alex, sampai hayatku terlepas dari badan,” lanjutnya. Tak lama setelah kematian Alex, pada tahun yang sama juga Beth menyusul pulang kampung ke keabadian. MURI dan Pahlawan Nasional Puluhan tahun berlalu setelah Alex wafat. Namanya tenggelam. Tapi pada 2007 nama Alexander Andries Maramis ramai di media massa setelah Museum Rekor Indonesia (MURI) pimpinan Jaya Suprana mendaulat Alex sebagai menteri keuangan di Indonesia yang telah menandatangani banyak mata uang. Tanda tangan Alex terbubuh pada 15 jenis Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) kertas terbitan 1945-1947. ”Menurut Jaya Suprana, rekor Maramis merupakan rekor abadi karena satu-satunya menkeu yang menandatangani 15 mata uang kertas pada era 1945 hingga 1947,” tulis Antara dalam https://www.antaranews.com/berita/81918/penghargaan-muri-untuk-menkeu-pertama-maramis. Penghargaan diberikan dalam perayaan Hari Keuangan RI ke-61 yang berlangsung di Gedung Utama Departemen Keuangan, 30 Oktober 2007. Menteri Keuangan Sri Mulyani mewakili MURI memberikan penghargaan tersebut kepada keluarga Maramis. Sri Mulyani mengakui bahwa Alex punya peran terhadap sejarah Kementerian Keuangan saat ini. Alex pun menjadi teladan di kalangan jajaran pegawai kementerian itu. ”Kami juga berterima kasih kepada keluarga Maramis karena beliau (Alex Maramis) telah memberi contoh dan inspirasi kepada kami,” urai Sri. Nama Alex Andries Maramis kembali mengharum pada 2019. Presiden Joko Widodo menobatkan Alex sebagai Pahlawan Nasional, pada 7 November. Pengangkatannya tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 120/TK/Tahun 2019. Meski telah lama berpulang, Alex tak pernah dilupakan.*
- Kisah Tiga Pilot AURI
Kolonel Alex Evert Kawilarang tengah berunding dengan Jenderal Mayor KNIL Schaffelaar di Makassar pada Agustus 1950. Tiba-tiba muncul dua pesawat Bomber B-25 melintas di atas kota dan menembaki kampemen KIS, tangsi KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger), dengan peluru berkaliber 12,7. “Bagaimana bisa bicara tentang cease fire (gencatan senjata) kalau dua kapal terbang terus menembak?” tanya Schaffelaar. Kawilarang tak hilang akal. “Penghentian tembak-menembak baru pada waktu mulai cease fire ,” kata Kawilarang. Tak hanya tembak-menembak yang kemudian berhenti, para serdadu KNIL pun dikosongkan dari kota Makassar sehingga Makassar pun damai. Begitu tercatat dalam otobiografi AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih . Dua Pilot Bomber Dua pesawat Bomber B-25 itu dipiloti Letnan Raden Ismail dan Letnan Petrus Gertrudus Otto Noordraven untuk memadamkan pemberontakan KNIL di Makassar.Dua pesawat bomber itu belum lama diserahkan KNIL kepada APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) dan disiagakan di Lapangan Udara Mandai, utara kota Makassar. Tak hanya alat-alat perang bekas KNIL yang diserahkan kepada APRIS, bekas anggota KNIL pun diterima masuk ke dalam APRIS. Termasuk Ismail dan Noordraven. Ismail dan Noordraven pernah berada dalam Skadron ke-18 dari Militaire Luchtvaart (Penerbangan Militer). Satuan bagian dari KNIL ini mengungsi ke Australia ketika Hindia Belanda diduduki Jepang pada Perang Dunia II. Baca juga: Pilot Bumiputra Pertama “Kami bisa dipercaya kawan-kawan Indonesia, tapi kami diuji. Begitulah cara saya menerbangkan semua tindakan melawan pemberontakan di Republik,” kata Noordraven, seperti dicatat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950 . Noordraven terlibat dalam penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) dan operasi-operasi militer lainnya. “Angkatan Udara kita menggunakan bekas-bekas KNIL dan bomber kita, Noordraven, Ismail, dan lain-lain yang sudah berpengalaman dan penuh dedikasi ikut dengan TNI,” tulis Abdul Haris Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Volumes 1-2 . Majalah Dharmasena , Januari No. 42 Tahun XVI/1991,menyebut Noordraven menerbangkan pesawat untuk Angkatan Udara sejak 30 April 1950. Hari itu untuk pertama kalinya Republik Indonesia mengoperasikan pesawat Bomber B-25 Mitchel dengan nomor punggung M-456.Noordraven sebagai pilotnya. Kesatuan pesawat bomber dan pilotnya itu adalah Skadron 1/Pembom. Kartu tawanan perang Petrus Gertrudes Otto Noordraven. (Arsip Nasional Belanda). Noordraven berasal dari keluarga tentara. Menurut Stamboek van Noordraven , ayahnya, Petrus Gertrudus Otto Noordraven , yang bernama sama dengannya, kelahiran Zaandam, Belanda, 22 September 1888. Ketika pensiun dari KNIL, dia berpangkat adjudant onderofficier setara pembantu letnan. Ayahnya, seorang Belanda, pernah bertugas di Jambi dan Palembang. Sementara ibunya, Hubertine Fransina Samson lahir di Ambon, 27 Agustus 1893. Jadi, Noordraven adalah seorang Indo. Noordraven lahir di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, 15 Desember 1921. Pemuda yang dilatih menjadi pilot oleh KNIL biasanya lulusan sekolah menengah, baik HBS maupun AMS. Pemuda Indonesia yang bernasib seperti Noordraven adalah Raden Ismail dan Raden Iswahjoedi. Ketika di Australia, mereka berpangkat sersan penerbangan KNIL. Situs AU, tni-au.mil.id , menyebut Noordraven mulanya hendak dijadikan penembak pesawat Bomber yang ditempatkan di buntut pesawat ( tail gunner ). Baca juga: Mantan KNIL yang Menolak Masuk TNI Ketika Noordraven berada di Australia, ayahnya menjadi tawanan perang. Ayahnya sebetulnya sudah pensiun, namun diaktifkan kembali sebelum Jepang datang. Kartu tawanan perang menyebut ayahnya tertangkap sebagai anggota stadwatch (penjaga kota) di Bandung. Semasa revolusi kemerdekaan, Noordraven tak berada di pihak Republik Indonesia. Dia termakan propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia adalah boneka Jepang. Selain itu, sebagai Indo-Ambon, dia tentu akan sulit diterima. Baru setelah tahun 1950, dia memilih ikut Republik Indonesia. Noordraven mencapai pangkat kolonel di TNI AU. Setelah tak lagi bertugas di TNI AU, Noordraven terjun ke dunia usaha. Dia tutup usia pada 15 Maret 2011. Pengalaman Ismail lain lagi. Menurut wawancara Bouman dengan Ismail pada 1988, Ismail terakhir di ML KNIL hanya sampai pangkat pembantu letnan, tidak seperti Noordraven yang mencapai letnan. Namun, Ismail sudah penerbang. Baca juga: Dulu Sersan Bisa Terbangkan Pesawat Bouman mencatat, pada 1941 Ismail bekas murid MULO setara SMP melamar menjadi bintara penerbang. Pada Oktober 1941, dia berada di Depot Batalyon ke-2 di Gombong untuk belajar menjadi penembak mitraliur. Pada Februari 1942, dia melapor ke detasemen pelatihan penerbangan di Tasikmalaya dan berangkat ke Australia. Meski tidak menjadi pilot semasa Perang Dunia II, namun Ismail tetap menjadi kru penting pesawat pengebom sebagai penembak sayap. “Saya tidak mendapat pelatihan militer hingga tahun 1948 di Kalijati, di mana saya mendapat Brevet Militer Utama pada tahun 1949,” kata Ismail seperti dicatat Bouman. Setahun kemudian, Ismail bergabung dengan TNI AU. Dari pembantu letnan di KNIL, Ismail dapat pangkat letnan di TNI AU dan terakhir mencapai pangkat kolonel. Berita kelahiran anak pasangan Poerwono dan Louise Mathilde Lutter. ( Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia , 13 November 1947). Ayah Pilot, Anak Penyanyi Perang Pasifik membuat Poerwono harus menyeberang lautan. Pemuda kelahiran 29 Desember 1920 ini, pada 1942 dilatih dalam Vrijwillige Vliegers Corps atau Korps Penerbang Sukarela. Dia termasuk calon penerbang yang dibawa Belanda ketika tentara Jepang menduduki Hindia Belanda. Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945–1950 menyebut Poerwono diberangkatkan ke Australia naik pesawat. Selain Poerwono, Abdul Halim Perdanakusumah, Ruslan Danurusamsi, dan Iswhjoedi termasuk yang dilarikan ke Australia dengan pesawat terbang. Sesampai di Australia, Poerwono masuk kelas penerbang di sekolah penerbang dan navigator udara. Pada 31 Maret 1942, sebagai pilot magang, dia diberi pangkat sersan kelas dua. Baca juga: Bangsawan Jawa Memilih KNIL Pada pertengah tahun 1942, Poerwono dikirim belajar ke Amerika. Menurut catatan Bouman, setidaknya ada sepuluh calon penerbang dari Hindia Belanda. Ketujuh calon lalu ditempatkan di bagian operasional ML KNIL.Satu tewas, yakni Samallo, dan hanya Kwee Tek Tjoe dan Poerwono yang mendapat lisensi penerbang. Poerwono tentu harus menghibur diri di kala perang. Majalah Yank , 20 Januari 1943, menyebut Sersan E. Poerwono Kartokoemohardjo sering berkunjung ke USO Club di Kansas City. O.G. Ward dalam De Militaire Luchtvaart van het KNIL in de jaren 1942–1945 menyebut Poerwono kemudian menjadi letnan penerbang kelas dua. Poerwono, sebut Bouman,ditempatkan di Skadron ke-18 ML KNIL di Australia. Sebagai militer, Poerwono dijauhkan dari masalah politik oleh petinggi tentara macam Jenderal van Oyen. Baca juga: Kesaksian Putri Tentara KNIL Semasa di Australia, Poerwono menikahi wanita Australia, Louise Mathilde Lutter. Usia istrinya empat tahun lebih tua darinya. Setelah Jepang kalah, dia masih terikat dinas dengan armada Kerajaan Belanda hingga kembali ke Indonesia sebagai penerbang KNIL. Anasir Skadron ke-18 kemudian pindah basis ke Cililitan. Pada 10 November 1947, Poerwono dan Lutter dikaruniai anak perempuan bernama Henriette Louise Poerwaningsih yang lahir di Margriet Hospital, daerah Jalan Mampang. Begitu kabar Het dagblad , 13 November 1947. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesiadan KNIL bubar, Poerwono bergabung dengan AURIS dengan pangkat kapten. Dia bertugas di beberapa daerah pada masa pergolakan daerah tahun 1950-an. Dia berdinas di AURI hingga pangkat letnan kolonel. Baca juga: Mohammad Sardjan dan Islam Hijau Ketika Poerwono masih aktif di AURI, putrinya yang kemudian dikenal dengan Henny Poerwonegoro, sudah mulai tertarik dengan musik sejak sekolah. Musik membuatnyaakrab dengan anak-anak Muhammad Sardjan, politisi Masyumi yang menjadi Menteri Pertanian. Henny terkenal sebagai penyanyi dan pembawa acara anak-anak bersama Seto Mulyadi alias Kak Seto. Anak laki-laki Sardjan, Mochamad Tauchid Hardjana biasa dipanggil Toto Sardjan, adalah pemain drum cukup dikenal di Jakarta era 1960-an.Henny juga suka bermain drum seperti Karen Carpenter. Anak Sardjan yang lain adalah Siti Qadarsih alias Titi Qadarsih, ibu dari Indra Q, mantan personel Slank. Toto yang lama pacaran dengan Henny akhirnya menjadi menantu Poerwono. Meski beda agama , pernikahan Henny (K rist en) dan Toto ( Islam ), bertahan lama. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Rietma Dhanty Angelica Immaculata Tauchid, yang dinikahi musisi Elfonda Mekel alias Once. *





















