top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Guru Spiritual Soeharto

    SOEHARTO merupakan pembelajar. Ilmu kebatinan salah satu yang paling diminatinya. Itu dimulai saat ia ngenger di rumah Hardjowijono, seorang mantri tani yang merupakan kerabat ayah angkatnya, di Wuryantoro, Wonogiri. Bersama Hardjowijono, Soeharto mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang selama ini absen dari kehidupannya. Ia sering diajak keliling mengikuti sang “ayah” memberi penyuluhan kepada petani-petani di berbagai tempat. Seringkali pula Soeharto diajarkan teknik bertani yang benar. Singkatnya, Soeharto diberi bekal untuk menjalankan kehidupannya kelak. “Saya mendapat kesenangan khusus bersama Pak Hardjo,” aku Soeharto dalam otobiografinya, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

  • Di Balik Heboh Silsilah Soeharto

    ADA indikasi keterlibatan Operasi Khusus (Opsus), sebuah unit intelijen yang dibuat dan diketuai Mayor Jenderal Ali Moertopo, di balik heboh silsilah Presiden Soeharto. Ini bisa dilihat dari keberadaan Aloysius Sugianto, tangan kanan Ali Moertopo yang merupakan pendiri dan pemimpin umum majalah POP. Majalah POP membuat heboh pada 1974. Dalam terbitannya edisi nomor 17, Oktober 1974, POP memuat sebuah artikel berjudul “Teka Teki Sekitar Garis Silsilah Suharto,” yang membuat panas telinga Presiden Soeharto. Di dalam artikel itu, Soeharto disebut masih keturunan kesultanan Yogyakarta, dari garis Sultan Hamengku Buwono II. Namun Aloysius membantahnya. Dia bahkan bilang, penerbitan artikel itu tanpa sepengetahuan dia. “Mungkin dipaksakan penerbitannya atau gimana. POP itu pemimpin umum memang saya. Tapi pemimpin redaksi dan penanggung jawabnya ya Rey Hanityo,” katanya kepada Historia.

  • Teka-Teki Silsilah Presiden Soeharto

    SAAT kampanye Pilpres 2014, tabloid Obor Rakyat menyebar kabar bohong perihal silsilah Joko Widodo. Di dalam tabloid itu, disebut Jokowi merupakan anak seorang Tionghoa bernama Oey Hong Liong, aktivis PKI. Drama Obor Rakyat berakhir di meja hijau. Dua pesakitannya, Setiyardi Budiono selaku pemimpin redaksi dan Darmawan Sepriyossa sebagai redaktur dijatuhi hukuman 8 bulan kurungan pada November 2016. Mereka dianggap mencemarkan nama baik dan menghina Jokowi. Pada 1974, kasus serupa menimpa Rey Hanityo, pemimpin redaksi majalah POP. Majalah POP, tahun II, nomor 17, Oktober 1974, memuat artikel berjudul “Teka Teki Sekitar Garis Silsilah Suharto”, yang mengisahkan Soeharto keturunan kesultanan Yogyakarta, dari garis Sultan Hamengku Buwono II.

  • Menelanjangi Silsilah Pribadi Presiden Soeharto

    PADA 13 April 2018, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy blak-blakan membuka ihwal pelabelan komunis yang dialamatkan pada Presiden Joko Widodo oleh lawan-lawan politiknya. Label tersebut, kata Romi, awalnya terjadi saat kampanye Pilpres 2014. Menurut Romi, isu bohong itu disebar secara masif melalui tabloid Obor Rakyat. Di dalam tabloid itu, disebut Jokowi merupakan anak seorang Tionghoa bernama Oey Hong Liong, aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI). Perihal publikasi riwayat orang nomor satu di negeri ini, sebuah majalah hiburan berbasis di Jakarta, POP (akronim Peragaan, Olahraga, Perfilman) pernah bikin heboh. Tak biasanya, majalah yang memuat tulisan-tulisan mode, gosip dan profil publik figur, kecantikan, berita olahraga, serta ulasan film itu mempublikasikan artikel terkait kehidupan pribadi Presiden Soeharto.

  • Aksi Massa yang Disita Polisi

    ADA kegemparan di kalangan elite Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam tahun 1926. Silang pendapat itu bermula ketika sekelompok kader pucuk PKI pimpinan Sardjono menyelenggarakan Kongres Prambanan, 25 Desember 1925, yang menghasilkan keputusan melawan pemerintah kolonial Belanda, selambatnya enam bulan setelah penyelenggaraan kongres. Untuk mematangkan jalannya pemogokan massal yang disertai pelawanan bersenjata sebagaimana keputusan kongres, partai mengutus Musso, Budisutjitro, dan Sugono untuk pergi ke Singapura menemui Tan Malaka. Mereka berniat meminta bala bantuan dari Moskow melalui Tan Malaka. Namun misi itu gagal karena Tan Malaka ada di Manila. Sebetulnya Tan Malaka sudah mengetahui rencana pemberontakan itu sejak awal 1926, namun kurang sreg. Dia menilai situasi revolusioner di Hindia Belanda belum benar-benar memenuhi syarat untuk sebuah revolusi. “Tetapi apakah rakyat proletar Indonesia sudah pula siap?... kalau belum siap, tak ada jalan lain buat pemimpin yang berani bertanggung jawab kepada rakyat dan diri sendiri, ialah terus mempersiapkan rakyat buat massa aksi,” kata Tan Malaka dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara.

  • Israel Nyaris Tenggelamkan Kapal Angkatan Laut AS

    RABU, 8 Juni 1967, pagi yang tenang di geladak kapal riset dan intelijen maritim AL AS USS Liberty seketika berubah mencekam ketika “tamu tak dikenal” mendekatinya. “Sesaat sebelum pukul 09.00 (waktu setempat), dua pesawat jet bermesin tunggal dan bersayap delta, mengorbit dekat Liberty tiga kali pada posisi 31-27 Utara, 34-00 Timur. Ketinggian pesawat diperkirakan 5.000 kaki, berjarak sekitar dua mil. Liberty memberitahu Komando atasannya, Armada Keenam dan yang lainnya tentang pengintaian ini, dan menyatakan bahwa identifikasi tidak diketahui dan belum ada laporan penguat yang akan diajukan,” tulis William D. Gerhard dalam Attack on the USS Liberty. Laut tempat Liberty berlayar itu, 13 mil lepas pantai Semenanjung Sinai, Mesir, merupakan area pertempuran pihak Israel dan pihak negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari. Saat itu perang tersebut memasuki hari ketiga. Meski AS menyatakan netral dalam perang tersebut, negeri “Paman Sam” tetap berkepentingan terhadap daerah itu sehingga mengirim Liberty untuk melakukan misi pengumpulan sinyal intelijen. “Washington menghabiskan pagi 8 Juni seperti hari-hari sebelumnya, memantau perang dari jarak aman,” tulis Michael B. Oren dalam Six Days of War: June 1967 and the Making of the Modern Middle East.

  • Sudiro, Anak yang Didambakan

    KETIKA itu, Senin, 24 April 1911, sekitar setengah enam pagi, seorang bayi lahir di Kampung Ledokratmakan, kini terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Menurut perhitungan almanak Jawa, bertepatan dengan 23 Bakdamulud 1841 tahun Wawu, Senen Paing, wuku Wukir. Primbon Jawa menerangkan, anak yang lahir dengan wuku tersebut memiliki watak yang berhati besar, tak dapat diungguli, rupanya bagus, perkataannya sedap, pekerjaanya terpakai, dan disayang oleh tuannya. Kehadiran bayi itu disambut gembira oleh keluarga, terutama kakek dan neneknya karena cucu pertama. Sebab, kurang lebih setahun sebelumnya, Ibu Hardjodisastro mengalami ketragan atau keguguran. Oleh karena itu, ketika mengandung lagi, dia pindah dari Klaten, tempat suaminya R. Hardjodisastro bekerja sebagai hoofdlaborant atau kepala laboratorium pabrik gula, ke Ledokratmakan. Maksudnya agar ibu dan bayinya mendapat pengawasan lebih baik. “Bayi yang baru lahir, setelah diterima dengan upacara kejawen, dimandikan dengan banyu gege (air yang dipanaskan dengan sinar matahari) dengan harapan agar dapat segera menjadi besar, lalu diberi nama oleh kakeknya: Sudiro,” tulis Soebagijo I.N dalam biografi Sudiro Pejuang Tanpa Henti. Kakeknya, Kyai Soemodimedjo memberi nama Sudiro dengan harapan kelak menjadi seorang laki-laki pemberani sesuai arti dari namanya.

  • Kisah Penemu Terkenal yang Menjadi Korban Rasisme

    BAGI kebanyakan orang di awal abad ke-20, suratkabar menjadi sumber informasi utama untuk mengetahui berbagai peristiwa terkini. Termasuk ketika kebakaran terjadi di pabrik Triangle Shirtwaist Factory yang berlokasi di kota New York pada 25 Maret 1911. Lewat pemberitaan suratkabar, insiden yang menewaskan 146 pekerja garmen itu segera menjadi perhatian nasional. Pembicaraan mengenai bencana industri paling mematikan dalam sejarah kota New York ini terdengar di berbagai negara bagian. Ada yang menuntut agar pemerintah melakukan reformasi undang-undang pencegahan kebakaran dan perlindungan keselamatan pekerja, banyak pula yang mencari cara agar peristiwa memilukan itu tak terjadi kembali di masa depan. Garrett Augustus Morgan merupakan salah satu orang yang melakukan hal nomor dua. Menurut F. Michael Higginbotham dalam Ghost of Jim Crow: Ending Racism in Post-Racial America, Morgan yang kala itu tengah merintis usaha di bidang ritel dan perbaikan mesin jahit terinspirasi untuk menciptakan sebuah alat pelindung keselamatan yang dapat digunakan petugas pemadam kebakaran (damkar) saat melakukan evakuasi terhadap korban kebakaran.

  • Penyakit Asma Memicu Penciptaan Alat Penyedot Debu

    TAK ada hal lain yang lebih menjengkelkan bagi James Murray Spangler selain membersihkan debu dan kotoran di karpet panjang yang melapisi lantai di William R. Zollinger Department Store. Bekerja sebagai petugas kebersihan di toko serbaada itu, Spangler yang memiliki asma kerap batuk dan bersin-bersin saat membersihkan karpet. Saat itu, Spangler baru saja pindah ke Canton, Ohio, Amerika Serikat untuk mengambil pekerjaan sementara sebagai petugas kebersihan di Gedung Folwell. Setelah beberapa tahun mengoperasikan alat pembersih karpet berukuran besar yang diciptakan Bissel, pria kelahiran 1848 itu menyadari pekerjaannya sering bersinggungan dengan debu yang memperparah asmanya. Oleh karena itu, pria yang dikenal sebagai penemu paruh waktu –Spangler sebelumnya telah menemukan beberapa alat kebutuhan pertanian– mengembangkan alat kebersihan yang dapat membantu pekerjaannya dan mampu mencegah penyakit asmanya semakin parah.

  • Agen OSS yang Memihak Indonesia

    SETELAH Jepang menyerah, Amerika Serikat mengirimkan petugas OSS (Office of Strategic Services) ke Indonesia di bawah Mayor Frederick E. Crockett. Dia mendarat di Jakarta bersama pasukan Sekutu pada 15 September 1945. Dia memimpin Operasi ICEBERG yang bertujuan untuk memulangkan tawanan perang Amerika Serikat dan membangun stasiun intelijen di Indonesia. Dalam Operasi ICEBERG, Crockett dibantu beberapa agen, di antaranya Jane Foster, Mayor Robert A. Koke, dan Letnan Richard K. Stuart. Crockett hanya bertugas sebentar. Pada 10 Oktober 1945, dia meninggalkan Jakarta ke Singapura, dan akhirnya kembali ke Amerika Serikat. Dia digantikan oleh Robert A. Koke sebagai kepala stasiun OSS mulai 2 Desember 1945. Dalam menjalankan tugasnya, Koke yang pernah tinggal di Bali sebelum perang, bersama Stuart, mewawancarai Sukarno dan para pejabat pemerintahannya. Mereka juga bertemu Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

  • Orang Indonesia Jadi Agen OSS

    PADA 8 Juni 1944, kapal selam Inggris, HMS Tradewind berangkat dari Trincomalee, Ceylon (Sri Lanka), untuk melaksanakan operasi OSS (Office of Strategic Services), pendahulu CIA. Salah satu tujuan operasi bersandi Ripley I itu untuk mendaratkan agen OSS asal Indonesia. Agen itu bersandi Humpy dan Johnny. Identitas dan peran Johnny belum diketahui, sementara Humpy terungkap dalam tulisan William J. Rust berjudul "Operation ICEBERG–Transitioning into CIA: The Strategic Services Unit in Indonesia", termuat di Studies in Intelligence Vol. 60, No. 1, Maret 2016. Humpy adalah kode untuk J.F. Mailuku yang lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 1917. Dia belajar teknik di sekolah, kemudian menjadi kadet angkatan udara di angkatan bersenjata kolonial Belanda. Sebelum Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, dia ikut dievakuasi ke Australia.

  • Asal-Usul Jeriken

    KEBANYAKAN orang tentu sudah tak asing dengan jeriken, yakni wadah tertutup yang dapat menampung cairan mulai dari air, minyak tanah, hingga bensin. Terbuat dari logam maupun plastik, jeriken dilengkapi dengan pegangan sehingga mudah dibawa atau dipindahkan. Wadah ini juga memiliki corong berkepala sempit untuk menuangkan cairan ke wadah lain. Kemunculan wadah tertutup yang dapat menampung cairan dalam jumlah tertentu ini diprakarsai oleh Adolf Hitler, diktator dan pemimpin Nazi Jerman. Wadah berbentuk persegi panjang yang terbuat dari baja tekan dan dilengkapi dengan pegangan bawaan ini mulanya disebut wehrmachtskanister atau tangki penyimpanan untuk kebutuhan angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page