Hasil pencarian
9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (1)
THE Petamburan Public Cemetery in Central Jakarta is quite exceptional. Despite being a public cemetery, Petamburan is reserved for non-Muslim residents of Jakarta. It is no surprise that many non-native people have been buried in Petamburan since colonial times. From Chinese, Japanese, to Europeans, including Jewish graves, each has its own burial block. There is also the grandest mausoleum in Southeast Asia here. The mausoleum is the burial place of Oen Giok Khow, a wealthy landlord in Batavia.
- Pelé adalah Sepakbola, Sepakbola adalah Pelé
PIALA Dunia 2022 Qatar sudah tutup buku. Nama Lionel Andrés Messi dielu-elukan bak “Tuhan” saban waktu usai ikut merebut trofi Piala Dunia untuk yang ketiga kalinya buat Argentina. Julukan “GOAT” (Greatest of All Time) melekat padanya dan bahkan, sejumlah pihak mengusulkannya mendapat anugerah Super Ballon d’Or. Mantan pelatih Real Madrid asal Italia Fabio Capello sampai menyetarakan Messi dengan Pelé. Namun, ocehan Capello sepertinya berlebihan. Sebagian tokoh sepakbola tetap menyebut pesepakbola terbaik hingga saat ini adalah Pelé. Tiada seorang pun di kolong langit, terutama yang mengaku penggila bola, yang tak mengenal siapa Pelé. Magisnya mampu menghipnotis siapapun yang pernah menyaksikan aksi-aksinya di tengah lapangan, baik mereka yang sebelumnya nol pengetahuan tentang sepakbola hingga para legenda sepakbola lintas zaman.
- Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia
HARI itu, 28 Oktober 1933, di Pau Grande, sebuah kawasan industri di Negara-bagian Rio de Janeiro, Brasil, Maria Carolina dos Santos melahirkan anak kelimanya di rumahnya yang sangat sederhana. Sang ibu memberinya nama baptis “Manuel” sebagaimana nama kakak iparnya. Sang bayi pun di rumahnya dipanggil Mané, tapi kelak dunia mengenalnya dengan nama “Garrincha”. Mané lahir dengan keadaan “spesial”. Kaki kanannya membengkok ke depan dan lebih pendek dari kaki kiri. Sementara kaki kirinya juga sedikit membengkok ke arah luar. “Sang ibulah yang pertama kali memperhatikan kedua kaki bayinya tak normal. Manuel mewariskan kondisi kakinya itu bukan dari ayahnya, Amaro Francisco, melainkan dari Maria Carolina sendiri, meski kondisi kaki ibunya tak seburuk putranya. Mungkin sebuah calliper akan sangat membantu tapi tiada yang terpikirkan hal itu di Pau Grande pada 1933,” tulis Ruy Castro dalam Garrincha: The Triumph and Tragedy of Brazil’s Forgotten Footballing Hero.
- Liur yang Lezat
LAURENT Manda, perempuan karier di Jakarta, masih ingat pengalaman kulinarinya di Ancol pada 1992. Bersama keluarganya, dia pergi ke Hailai Restaurant untuk sarapan. Menunya, sebuah hidangan istimewa, yang tak semua orang pernah merasakannya: sup sarang burung walet. Porsinya sedikit tapi harganya selangit. “Kalau orang Chinese bilang cia po, artinya makanan berisi obat-obatan buat memulihkan tubuh yang kurang sehat,” ujar Laurent kepada Historia . Namun, Laurent sendiri tak terlalu menyukainya karena, “Agak amis. Rasanya kenyal-kenyal seperti rumput laut.”
- Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa
SUATU hari di tahun 1954, rumah keluarga Him Ie Nyan di Pasar Baru, Jakarta kedatangan dua tamu. Mereka bukan akan pesan koper atau semacamnya lantaran Him Ie Nyan penjual koper kulit. Dua tamu itu adalah anggota satuan Pertahanan Sipil (Hansip). Di telinga Him Ie Nyan yang sedang duduk di meja, kedua hansip itu terdengar sedang marah-marah. “Sedang tidak punya uang, lain kali ke sini lagi,” kata Him Ie Nyan kepada dua hansip tadi. Kedua hansip tetap tidak mau pergi. Saking inginnya uang dari Him Ie Nyan, kedua hansip itu lalu menendang kursi Him Ie Nyan. Setelah pergi tanpa dapat uang, dua hansip itu tak lupa ngomel-ngomel . Him Ie Nyan hanya bisa bersabar. Kesedihannya tak terbendung, air matanya tertumpah. Merasa sebagai pendatang sulit baginya untuk melawan hansip, yang biasanya bukan pendatang. Him Tek Ji, anak laki-lakinya yang baru 10 tahun, pun tentu tak bisa berbuat banyak. Orang Tionghoa dianggap pendatang, tak punya backing di kekuasaan maupun dalam kemiliteran atau lembaga yang kemiliter-militeran macam Hansip. Begitulah keadaan keluarga Him Ie Nyan sebagaimana dikisahkan Him Tek Ji dalam memoarnya, Tedy Jusuf, Kacang Mencari Kulitnya. Orang Kristen ke Istiqlal Tak terasa, masa SMA Him Tek Ji hampir berlalu. Dia hanya tinggal menanti ijazahnya keluar. Kala itu ijazah SMA masih berharga lantaran lulusan SMA belum sebanyak sekarang. Pada 1962, lulusan SMA bisa jauh dari pekerjaan kuli dan ijazahnya tidak akan ditahan pemilik toko. Him Tek Ji sangat ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti Sukarno setengah abad sebelumnya. Tapi Tek Ji sadar keadaan. Ada adik-adiknya yang harus dibiayai sekolah dasar dan menengahnya. Tak hanya dirinya saja yang butuh uang hasil keringat ayahnya. Di tengah kegalauannya akan masa depannya itu, Him Tek Ji kedatangan salah satu pamannya dari Semarang. Kegalauannya pun sirna. “Apakah mau masuk AMN?” tanya Gustaaf Brugman, pria yang biasa disapanya sebagai Om Brugman itu. Tek Ji hanya terdiam. Esoknya, dirinya diajak Om Brugman pergi. Om Brugman berpakaian necis atasan dan bawahan putih dilengkapi dasi. Rupanya dia hendak mengantar Tek Ji mendaftar agar menjadi tentara. Mereka lalu pergi ke daerah Gambir. Mula-mula ke tempat yang kini menjadi Markas Kostrad, lalu ke Mabes Angkatan Darat dan akhirnya tempat yang kini jadi Masjid Istiqlal yang kala itu markas KODAM Jaya. Tek Ji pun mencoba peruntungannya. Kala itu yang terpikir olehnya hanyalah untuk menyenangkan Om Brugman. Brugman sendiri merupakan tentara. Dari dokumen tawanan perangnya, dia ditawan militer Jepang setelah Jepang berkuasa di bekas Hindia Belanda. Saat ditawan, dia tercatat sebagai personel zeni KNIL di Malang, Jawa Timur dengan pangkat Adj. Onderofficier. Tek Ji dan Brugman lalu ke bagian Ajudan Jenderal (Ajen) untuk mendaftar. Pendaftaran hampir ditutup, tapi Tek Ji masih bisa mendaftar dan akhirnya boleh ikut tes. Setelah mengikuti serangkaian tes, Tek Ji ternyata diterima dan berangkat menuju Magelang, tempat Akademi Militer Nasional (AMN) berada. Sekolah kedinasan gratis ini adalah pencetak perwira Angkataran Darat. Pendidikan dilaluinya hingga lulus. Setelah lulus sebagai perwira infanteri, Tek Ji menjalani kariernya dengan duka dan sukanya sebagai perwira. Dia akhirnya sampai menjadi contoh langka di Angkatan Darat, yakni menjadi brigadir jenderal keturunan Tionghoa. Jauh sebelum jadi jenderal, ketika masih menjadi letnan dua, Tek Ji pernah bertemu dua hansip yang dulu minta uang dengan kasar kepada ayahnya. Dua hansip itu tampak tertunduk. Keduanya merasa kalah seragam. Tek Ji tak bisa melupakannya. “Jangan coba-coba lagi ganggu Papa saya, saya tembak kepalamu. Mulai saat ini, kamu tidak boleh lewat depan rumah saya!” kata Tek Ji kepada kedua hansip itu. “Iya, Pak. Maaf,” kata hansip. Semasa berdinas di TNI, Tek Ji yang kemudian dikenal sebagai Tedy Jusuf itu pernah bertugas di Batalyon Infanteri 519 dan 507 (Sikatan) di Jawa Timur. Dia juga pernah dikirim ke Timor Timur. Setelahnya, dia pernah dipercaya menjadi komandan KODIM Jakarta Pusat, komandan KOREM Manado, lalu staf ahli panglima ABRI. Dia jadi jenderal di masa orde baru, ketika orang Tionghoa sulit berekspresi dan hanya dihargai karena perkara ekonomi dalam orde yang mendaku diri orde pembangunan itu.*
- Dewi Sukarno Setelah G30S
SEBUAH foto persegi yang menampilkan potret Jenderal Oerip Soemohardjo terpajang di sebidang tembok sebuah ruangan. Di bidang tembok seberangnya, terpajang sebuah lukisan besar kepala staf angkatan perang pertama itu sedang menunggangi kuda. Begitulah suasana Ruang Jenderal Oerip Soemohardjo di dalam Museum Satria Mandala, Jakarta. Dulunya, ruangan itu merupakan ruang santai istri Jepang Sukarno, Ratna Sari Dewi. “Kita berada di ruang santai. Dulu ada meja bulat khas Jepang untuk lesehan. Dulu juga ada televisi. Jadi saat santai bisa menonton televisi,” kata Kepala Sub-Seksi Promosi Museum Satria Mandala Yulianto Setiawan Yulianto kepada Historia.ID , sembari menunjuk posisi lukisan sebagai tempat dulu televisi Dewi Sukarno berada. Museum Satria Mandala awalnya merupakan rumah tinggal Dewi. Namanya Wisma Yaso. Di sanalah Dewi menyaksikan berita televisi tentang Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan setelahnya hampir day-to-day . Di hari-hari itu, ia hanya bisa pasrah dan merasakan kegetiran dalam kesendirian. Sejak 1 Oktober 1965 pagi, sang suami, Presiden Sukarno, belum kembali lagi ke Wisma Yaso. Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi dinikahi Sukarno pada Maret 1962. Menurut Masashi Nishihara dalam The Japanese and Sukarno’s Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations, 1951-1966 , Dewi pertama kali diperkenalkan dengan Sukarno medio 1959 oleh seorang pebisnis Jepang Masao Kubo. Kubo berharap dapat proyek bisnis pasca-Indonesia mendapatkan dana pampasan perang dari pemerintah Jepang. Wisma Yaso merupakan hadiah Sukarno kepada Dewi. Kala itu daerah tempatnya berdiri masih sepi, jalan di depannya masih bernama Bypass. “Ibu Ratna Sari Dewi minta dinamakan [rumah] ini Wisma Yaso. Karena dia pingin mengenang (Yasoo Nemoto, red. ) yang meninggal dengan bunuh diri,” terang Kepala Museum Satria Mandala Letkol Adm. Saparudin Barus. Ruang Jenderal Oerip Soemohardjo di Museum Satria Mandala yang dulu ruang bersantai Dewi Sukarno. (Historia.ID). Bertemu Janda Jenderal Yani Dewi duduk di ruang santai sambil menyaksikan siaran televisi pada 4 Oktober 1965. Rasa pilu menusuk hatinya kala menyaksikan pengangkatan jenazah para jenderal yang jadi korban keberingasan Gerakan 30 September dari sebuah sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur. “Hampir-hampir saya menutup mata. Saya sama sekali tidak mengerti, mengapa adegan-adegan sedih harus ditontonkan kepada umum. Barangkali maksudnya untuk memperlihatkan kepada rakyat fakta-fakta mengenai perbuatan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan itu. Kedengkian, kemarahan dan kesedihan hampir-hampir tidak dapat dipercaa bahwa Jenderal (Ahmad) Yani telah meninggal dunia,” tutur Dewi kepada majalah Shukah Asahi , dikutip harian Sinar Harapan , 12 Oktober 1966. Pada malam kejadian, Dewi mengaku sedang bermalam bersama Presiden Sukarno di Wisma Yaso. Mereka bersama setelah Sukarno menjemput Dewi dari Hotel Indonesia memenuhi sebuah undangan dari duta besar Iran. Pada pagi 1 Oktober 1965, Sukarno berangkat dari Wisma Yaso tanpa diketahui Dewi tujuannya. Sejak itu ia nyaris sepekan tak bertemu lagi dengan Sukarno. Sejak menyaksikan pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi tadi, Dewi mengaku sulit tidur setiap malam. Ia juga mengaku kaget dengan prosesi iring-iringan jenazah menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan barisan kendaraan lapis baja karena belum pernah melihat prosesi pemakaman semacam itu sebelumnya. “Ucapan-ucapan untuk mengenang mereka yang berpulang diucapkan oleh Jenderal (Abdul Haris) Nasution, menyedihkan hatiku. Dia sendiri terluka, kakinya patah sewaktu meloloskan diri dari bahaya. Bahkan ia kehilangan anak perempuannya. Sebenarnya tidak mengherankan bila ia menjadi seorang ‘Setan Pembalas Dendam’. Namun sambil tersedu-sedu, kata-kata terakhir yang diucapkan itu masih mendengung di telingaku,” tambahnya. Dua pekan berselang, 14 Oktober 1965, seingat Dewi, pertemuan dengan keluarga para Pahlawan Revolusi diadakan di Istana Merdeka. Dewi mengaku sempat berbincang dengan Yayu Rulia Sutowiryo, istri mendiang Men/Pangad Jenderal Ahmad Yani. “Kami mengundang Nyonya Yani yang suaminya telah mengakhiri hidupnya dalam suatu kematian yang celaka itu, datang ke Istana Merdeka. Ia seorang wanita yang cantik dan biasanya suka bergurau,” kenang Dewi. Tentu dalam pertemuan itu Yayu tak seperti biasanya. Dewi bisa memaklumi. Namun meski pandangannya serius dan cenderung hampa, Dewi bisa merasakan ketegaran Yayu sebagai seorang istri perwira militer. “Saya tidak boleh membiarkan diriku dalam kesedihan. Saya mempunyai lima anak. Terlebih lagi saya harus menjadi contoh bagi janda-janda lain yang juga kehilangan suaminya. Sebagai janda seorang militer secara mental saya telah dibiasakan dengan pendapat bahwa suamiku mungkin tdak akan meninggal di ranjang. Suamiku telah dimakamkan dengan kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi dan hatiku telah terhibur,” kata Yayu kepada Dewi. Sebagai istri presiden yang sehari-hari berada di Jakarta, Dewi bisa lebih dekat dan lebih memahami situasi politik yang mencekam pasca-G30S. Pasalnya selain sering “disowani” para pebisnis Jepang di Wisma Yaso, Nishihara mengungkapkan bahwa Dewi juga sedikit-banyak “dimanfaatkan” pemerintah Jepang. “Melalui Dewi, para pejabat dan pelobi-pelobi Jepang bekerja sama dengan kelompok-kelompok di Indonesia untuk menjaga Sukarno tetap berada di pihaknya dan menjauhkannya dari genggaman komunis,” ungkap Nishihara. Tentu saja Dewi meyakini suaminya tak terlibat G30S. Dewi juga kian aktif setelah 1965. Tak hanya pemerintah Jepang, lawan-lawan politik suaminya, termasuk Nasution dan Soeharto, juga memanfaatkan Dewi untuk “jembatan” komunikasi dengan Sukarno. Ketika situasi kian memanas, Sukarno menginstruksikan Dewi untuk keluar dari Indonesia pada awal November 1966. Dewi kembali ke Jakarta menjelang wafatnya Sukarno pada Juni 1970 dan kemudian untuk berziarah ke Blitar. Ketika ia kembali, ia pun jadi sasaran media massa yang menanyakannya tentang hubungan Sukarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI). “Jika yang dimaksud adalah apakah dia siap membubarkan Partai Komunis, ya tentu saja, tetapi tuntutannya adalah agar dibuktikan dengan jelas bahwa Partai Komunis terlibat kudeta. Laporan yang diberikan kepadanya tidak akurat. Dia jujur dan adil, dan sementara itu tentara mulai membunuh. Dia meminta bukti kepada Sukarno karena dia ingin tetap obyektif. Dia tidak setuju bahwa hanya Partai Komunis yang dituduh merencanakan dan melaksanakan kudeta,” tukas Dewi kepada harian Leeuwarder Courant , 29 Juli 1970.*
- Mengakui Tan Malaka Sebagai Bapak Republik Indonesia
SUKARNO, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka disebut-sebut sebagai empat serangkai pendiri Republik Indonesia. Pada 1925, Sukarno masih kuliah teknik arsitektur di THS (kini ITB) Bandung. Begitu pula dengan Hatta yang mengambil studi ekonomi di Handels Hogeschool (kini Universitas Erasmus) di Rotterdam, Belanda. Sjahrir bahkan belum lagi merampungkan sekolah menengah MULO di Medan. Sementara itu, Tan Malaka sudah menulis risalah tentang konsep negara Indonesia merdeka dalam Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia ). Tan Malaka menulis risalah itu saat berada dalam pelarian di Kanton, Tiongkok pada April 1925. Isinya kemudian disempurnakan lagi di Tokyo pada Desember 1925. Namun, pengakuan terhadap Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia masih belum diresmikan oleh negara sampai saat ini. “Tan Malaka adalah penggaggas konsep Republik Indonesia ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan juga para founding fathers kita yang lain seperti Sukarno membaca dan mendapat inspirasi dari Tan Malaka,” kata sejarawan Asvi Warman Adam dalam diskusi “100 Tahun Naar De Republik Indonesia ” di Perpustakaan Nasdem, Jakarta, 21 November 2025. Menuju Republik Indonesia adalah manifesto politik Tan Malaka yang jauh mendahului proklamasi kemerdekaan. Dengan analisis tajam tentang kolonialisme Belanda, situasi global, dan strategi perjuangan rakyat, Tan Malaka menegaskan bahwa Republik bukanlah hadiah, melainkan hasil kesadaran dan organisasi kolektif. Dalam pengantarnya yang ditulis di Kanton, Tan Malaka mengatakan, jiwanya berharap dapat menjangkau kaum terpelajar Indonesia, dan buku yang ditulisnya ini dimaksudkan sebagai alat penghubung. Meski bukan diplomat, menurut Asvi, Tan Malaka seorang pemimpin Indonesia yang mobilitasnya sangat tinggi. Ia membandingkan Tan Malaka dengan Sukarno yang sebelum Indonesia merdeka baru sekali ke luar negeri, yaitu ke Jepang pada 9 Agustus 1945. Sebaliknya, Tan Malaka dalam rentang 1925–1945 telah berkelana dari satu negara ke negara lain. “Amsterdam, Berlin, Moskow, Tiongkok; Amoy, Shanghai, Kanton. Kemudian dia menyeberang ke Manila, Saigon, Bangkok, Hong Kong, Rangoon, dan Penang. Jadi, Tan Malaka termasuk pemikir yang traveller ya. Tapi, dia dalam banyak hal itu lebih sebagai buronan, dikejar-kejar oleh polisi Belanda, Inggris, dan lain-lain. Ini yang membedakan Tan Malaka dengan pemimpin Indonesia yang lain,” jelas Asvi. Setelah buron keliling dunia, Tan Malaka kembali ke Indonesia pada 1942. Sukarno sendiri menaruh hormat pada Tan Malaka. Itu sebabnya, dalam pertemuan mereka pada September 1945, Sukarno menuliskan testamen politik yang menyatakan kepemimpinan Republik diembankan kepada Tan Malaka, andai kata terjadi sesuatu terhadap Sukarno dan Hatta. Ketika dirundingkan dengan Hatta, isi testamen itu lantas direvisi. Maka, jalan tengahnya, pemegang amanah testamen itu ditambah dengan tokoh lain, yaitu Sjahrir, Wongsonegoro, dan Iwa Kusumasumantri. Diskusi “100 Tahun Naar De Republik Indonesia ” karya Tan Malaka di Perpustakaan Nasdem, Jakarta, 21 November 2025. (Martin Sitompul/Historia.ID) Tan Malaka kemudian bergerilya membentuk basis kekuatannya dalam front Persatuan Perjuangan yang mengusung kampanye “Merdeka 100 Persen”. Namun, akhir riwayat Tan Malaka berakhir tragis. Dia meringkuk dalam tahanan di penjara Yogyakarta, setelah dikaitkan dengan aksi Kudeta 3 Juli 1946 yang dilancarkan Jenderal Mayor Soedarsono. Tan Malaka dibebaskan pada 1948, setelah memperoleh amnesti dari Presiden Sukarno. Aktivitas politik Tan Malaka selanjutnya membentuk Partai Murba. Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi oleh pasukan Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya atas perintah Letda Soekotjo di Selopanggung, Kediri. Berakhirlah kiprah dan perjuangannya di masa revolusi. Pada 1963, Presiden Sukarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional bersama tokoh kiri Alimin. Klaim Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia mula-mula digaungkan oleh Mohammad Yamin, pakar hukum dan budayawan, yang semasa muda menjadi pengikut Tan Malaka dalam Partai Murba. Pada 1946, Yamin menulis ketokohan Tan Malaka dalam buku berjudul Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia . Kendati demikian, selama rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, nama Tan Malaka dihilangkan dari narasi sejarah. “Nama Tan Malaka ini saya kira patut diabadikan sebagai Bapak Republik Indonesia. Gelar Bapak Republik ini agar kiranya bisa diformalkan oleh negara. Kemudian pemakaman Tan Malaka di Selopanggung, Kediri itu bisa dipugar secara resmi sehingga masyarakat bisa menziarahinya (dan mengenangnya),” pungkas Asvi. Sementara itu, Airlangga Pribadi Kusman, dosen ilmu politik Universitas Airlangga, menyebut risalah Menuju Republik Indonesia yang ditulis Tan Malaka sebagai karya monumental. Manuskrip politik yang padat, lugas, dan tidak bertele-tele ini merupakan karya pertama dalam sejarah para pendiri bangsa yang berhasil menjelaskan jalan perjuangan revolusioner untuk menghasilkan Indonesia merdeka. Tan Malaka menunjukkan bagaimana perjuangan itu harus berhadapan dengan kondisi struktural yang berlangsung dalam skala dunia maupun Indonesia; kekuatan sosial apa yang terlibat; bagaimana proses dialektika dan syarat bagi terwujudnya Republik; serta program-program konkret dari Republik Indonesia yang hendak dibangun. “Karya ini ditulis Tan Malaka sewaktu di Kanton. Kanton ini penting pada waktu ia menulis tahun 1925. Kanton adalah pusat pergerakan kaum bawah tanah se-Asia. Kalau kita baca [memoar Tan Malaka] Dari Penjara ke Penjara , Tan Malaka berdialog panjang dengan Sun Yat Sen, dia bertemu Ho Chi Minh. Dia bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan Asia. Dan semua refleksi renungannya itu kemudian dituliskan dalam Menuju Rapublik Indonesia tahun 1925,” terang Airlangga. Selain itu, sambung Airlangga, karya Tan Malaka menjadi inspirasi bagi tokoh pergerakan nasional Indonesia lainnya. Sukarno menjadikannya rujukan sebagai sumber untuk mengadakan kursus politik. Begitu juga dengan Hatta. “Kalau saya bilang, kalau pakai istilah anak gen-z zaman sekarang secara positif, figur-figur seperti Sukarno, Hatta, dan yang lainnya, itu ketika membaca ini mengidap apa yang disebut sebagai FOMO ( fear of missing out ). Jadi, istilahnya kalau enggak membaca ini ya ketinggalan,” kata Airlangga.*
- Antara Raja Gowa dengan Portugis
SULTAN Hasanuddin, pahlawan nasional dari Kerajaan Gowa-Tallo, dikenal gigih melawan maskapai dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Namun karena kalah, dirinya terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667). Gowa bukan tak memiliki teman bangsa Eropa. Portugis, yang jauh sebelum VOC berkuasa sudah lama di Makassar, merupakan sekutunya. Kedekatan Portugis membuat ada raja Gowa yang membiarkan agamawan dari Portugis menyebarkan agama Katolik di Makassar. Sebuah sekolah Katolik kemudian didirikan di sana era tersebut. Christian Pelras dalam Manusia Bugis mencatat, ada raja Gowa yang pernah jadi kristen meskipun belakangan raja-raja di Sulawesi Selatan, baik kawasan Bugis maupun Makassar, memilih Islam. Portugis di Makassar hanya fokus berdagang. Untuk itulah hubungan dengan raja-raja setempat seperti penguasa Tallo, Karaeng Pattinggaloang, dijalin Portugis. Karaeng Pattinggaloang tidak tertarik dengan ilmu pengetahuan Barat kendati menyukai benda-benda terkait dengannya. Dia kolektor peta, globe, dan barang-barang lain terkait ilmu pengetahuan. Benda-benda itu diperolehnya dari para pedagang Eropa yang membawakan padanya. Selain itu, Karaeng Pattinggaloang juga paham bahasa-bahasa dari Eropa. Sebelum ke Makassar, Portugis terlebih dahulu ke Malaka. Di sekitar Malaka, Portugis memperkuat diri. VOC adalah bahaya tersendiri bagi Portugis. “Setahun setelah menguasai negara-kota Melayu, mereka menjalankan program pembangunan ghali mereka sendiri untuk penggunaan lokal,” tulis Pierre-Yves Manguin dalam “Lancaran, Ghurab and Ghali: Mediterranean Impact on War Vessels in Early Modern Southeast Asia”, termuat dalam buku Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past . Ghali, yang juga disebut galion, galleon, galley, gale atau gali, disebut William Henry Smyth dalam The Sailor's Word-book merupakan sebuah kapal rendah, berstruktur datar, dengan satu dek, dan digerakkan oleh layar dan dayung. Sebelum di Asia Tenggara, ghali berkembang di Laut Mediterania. Tak hanya untuk dirinya, Portugis juga membuat armada ghali untuk sekutunya. Termasuk di Sulawesi Selatan. “Salah satu bantuan yang paling penting, di samping kerjasama, bantuan senjata dan amunisi, adalah pembenahan armada laut Kerajaan dengan memberikan instruktur dalam membangun kapal perang tipe gallei,” catat Mukhlis Paeni dkk dalam Sejarah Kebudayaan Sulawesi . Pada 1620-an, puluhan ghali dibuat Portugis untuk Kerajaan Gowa. Portugis melakukannya agar sekutunya bisa mengalahkan VOC yang juga menginginkan rempah-rempah dari Nusantara. Portugis dan Belanda saling bersaing sebagai “pemain” rempah-rempah di Maluku Utara. Masing-masing punya koneksi dengan raja-raja lokal. Dengan sokongan persenjataan Portugis, senjata api dan kapal, Gowa tentu bertambah kuat di awal abad ke-17 itu. Bahkan kerajaan Bugis seperti Bone pun kemudian diserang dan dikuasainya. Politik pendudukan Gowa sebelum era Sultan Hasanuddin itu membuat Gowa punya beberapa musuh di kemudian hari. Yang termasyhur Arung Palaka dari Bone. Setelah Bone dijajah Gowa, Arung Palaka berpihak kepada Belanda. Mendekatnya Arung Palaka tentu menambah kekuatan Belanda. Akhirnya, dengan bantuan Arung Palaka Belanda berhasil mengalahkan Gowa dan merebut bandar dagang Makassar yang ramai di zaman Gowa berkawan dengan Portugis itu. Berkuasanya Belanda yang Protestan belakangan ikut mempengaruhi penyebaran Katolik di Sulawesi Selatan. Dalam beberapa kasus, Belanda menekan Katolik dan membiarkan Protestan atau Calvinis berkembang. VOC mewaspadai agama yang dianut orang Portugis hingga lebih suka orang pribumi memeluk agama yang dianut orang Belanda. Alhasil, Katolik kurang berkembang di sana. Sebaliknya, Protestan lebih bisa berkembang sebelum abad ke-19 itu dan penganutnya lebih banyak daripada agama yang dianut orang Portugis.*






















