top of page

Hasil pencarian

9710 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sniper Peranakan Beraksi di Kediri

    HINDIA Belanda sedang genting. Tentara Jepang sudah beberapa hari memasuki bagian barat Pulau Jawa. Sebelum tentara Jepang datang, ribuan laki-laki terkena wajib militer. Tak hanya mereka yang masih muda, mereka yang sudah berusia kepala empat dan bahkan anak sekolah menengah yang berusia belasan tahun pun juga kena wajib militer dan menjadi milisi bagi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Tentara KNIL di Jawa Timur pun merasa dalam bahaya. Sebab, tentara Jepang bergerak amat cepat ke arah timur. Nyaris tak memberi nafas bagi KNIL untuk bergerak membendung mereka. Tak hanya kota pelabuhan seperti Surabaya yang direbut, pada awal Maret 1942 kota pedalaman seperti Kediri pun sudah dirasuki tentara Jepang. Tanda bahaya pun menyala di kota Kediri, salah satu pusat keresidenan di Jawa Timur. Kota yang terletak di antara Gunung Kelud dan Gunung Wilis (kini Liman) itu dipertahankan 200 tentara di bawah Kapten J.C. Gijsberts.

  • Tarik-Ulur Karet KB

    SELEPAS meraih gelar doktor antropologi dari Australian National University (ANU), Masri Singarimbun memutuskan menetap di Australia. Dia bekerja sebagai pembantu Atase Militer KBRI di Canberra sekaligus research fellow di ANU. Pada 1973, ketika menghadiri sebuah pertemuan ilmiah di Australia, Rektor UGM Sukadji Ranuwihardjo menemuinya dan membujuknya pulang untuk mengembangkan almamaternya. Masri menerima tawaran itu, selain juga ingin membesarkan anak-anaknya di Indonesia. Pada tahun itu juga dia kembali ke Yogyakarta.  Selain mengajar, Masri mendirikan Lembaga Kependudukan UGM atau LK-UGM (kini, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan atau PSKK-UGM) dengan bantuan dana dari Ford Foundation dan menjadi direkturnya.

  • Menolak Membantu Agen CIA Pertama di Indonesia

    ARTHUR Campbell, agen CIA pertama di Indonesia, tiba di Yogyakarta dengan pesawat terbang pada September 1948. Sebelumnya, dia menjadi anggota OSS (Office of Strategic Service), cikal bakal CIA, selama Perang Dunia II. Dia kemudian ditempatkan sebagai atase konsuler di Konsul Jenderal Amerika Serikat di Jakarta. Campbell tinggal di wisma tamu negara di Yogyakarta. Di sana, dia bertemu dengan George McT. Kahin, seorang mahasiswa Amerika Serikat yang sedang melakukan penelitian untuk disertasinya di Johns Hopkins University. “Saya merasa agak gugup karena ditempatkan dalam rumah yang sama dengan Campbell,” kata Kahin dalam “Kenangan dan Renungan tentang Revolusi Indonesia”, yang termuat dalam Denyut Nadi Revolusi Indonesia .

  • Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

    SEJAK penaklukan Kerajaan Hispania oleh Kekhalifahan Umayyah kurun 711-715 Masehi, wilayah Andalusia (kini wilayah selatan Spanyol) pada abad ke-9 bergeliat sebagai pusat keilmuan dunia Islam di bumi belahan barat. Namun yang tak disangka, bangsa Viking di masa yang sama juga tengah gencar berekspansi ke selatan. Wilayah Andalusia termasuk yang dibidik. “Mulai 834 (Masehi) serangan-serangan bangsa Viking berubah menjadi ekspedisi berskala besar. Setiap biara, gereja, dan kota di Kepulauan Britania diserang dan dijarah orang-orang Nordik dari utara – kini Denmark, Swedia, dan Norwegia. Berturut-turut London dijarah (pada 841) kemudian Nantes, Rouen, Paris, dan pedalaman Gaul. Orang-orang Nordik dari Swedia juga merebut kota Kiev, di mana pemimpinnya, Rurik, mendirikan ibukota permanen setelah memperbudak para penduduk Slavik,” ungkap Arthur Herman dalam The Viking Heart: How Scandiavians Conquered the World. Di Andalusia sendiri memang sempat terjadi perpecahan pasca-Revolusi Abbasiyah (747-750), di mana Kekhalifahan Abbasiyah menumbangkan Kekhalifahan Umayyah. Di Andalusia, Abdulrahman bin Mua’wiyah (Abdulrahman I) mendirikan Emirati Qurtubah (Córdoba) pada 756 dengan ibukotanya di Córdoba, yang bertahan hingga tahun 1031. “Di bawah Dinasti Umayyah di Córdoba, kalangan Moors (Arab Afrika Utara, red. ) di Spanyol pada abad ke-9 dan ke-10, mencapai puncak kebudayaan dan peradaban jauh melebihi negeri-negeri lain di Eropa. Dalam sains dan pendidikan, dalam kesenian dan sastra, mereka yang menguasainya. Akan tetapi kemudian bangsa Viking hendak mengukur kekuatan mereka,” tulis Jón Stefánsson dalam artikel di buku Saga-Book of the Viking Club: Vol. VI , “The Vikings in Spain: From Arabic (Moorish) and Spanish Sources”. Emirati Qurtubah menguasai sisa-sisa wilayah Kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Sedangkan di utara Semenanjung Iberia (kini wilayah Portugal), Kerajaan Asturia juga berdiri pada 711 sebagai benteng kerajaan Kristen pasca-runtuhnya Kerajaan Hispania. Hubungan keduanya tergolong dinamis: terkadang berperang di perbatasan, kadang pula berdamai. “Para raja Asturia sebenarnya senang untuk berdamai dengan pihak Saracen (Arab muslim) ketika perdamaian itu menguntungkan mereka, terutama jika perdamaian itu membuat mereka lebih leluasa mengejar musuh mereka yang lain, para pemberontak Basque di Galicia,” ungkap David Abulafia dan Nora Berend dalam Medieval Frontiers: Concepts and Practices. Terlepas dari dinamisme konflik dan perdamaian itu, kedua pihak menghadapi musuh yang sama pada pertengahan abad ke-9. Pada medio 844, pasukan Kristen dan muslim sama-sama meladeni invasi armada Viking yang datang dari utara. Raja Asturia, Ramiro I, dalam lukisan potret karya Isidoro Lozano ( museodelprado.es ) Invasi ke Asturia dan Andalusia Armada Viking mengumpulkan 100 kapal lebih dulu di Noirmoutier, Prancis, dekat lepas pantai Samudera Atlantik. Kapal-kapal itu berisi sekitar 16 ribu prajurit, meski hingga saat ini belum ada sumber Arab, Spanyol, maupun sumber-sumber Skandinavia yang bisa memastikan siapa yang memimpin armadanya. Diperkirakan, mereka mulai tiba di Iberia medio Juni 844 (bertepatan Ramadhan 229 Hijriah). “Sumber-sumber Spanyol menyebut bangsa Viking dengan banyak sebutan, seperti hombre del norte (orang-orang Utara), kadang lothomani atau orang-orang barbar. Sedangkan sumber-sumber Arab menyebut mereka madjus atau kafir penyembah api dan berhala. Sumber-sumber Spanyol menyebut mereka lebih dulu menyerang Asturia di masa Raja Ramiro I (842-850). Sumber-sumber Arab menyebutkan invasi (ke Asturia) itu terjadi pada musim panas 844,” sambung Stefánsson. Kerajaan Asturia jadi yang pertama menyambut armada Viking dengan hunusan pedang dan panah pada musim panas 844. Armada Viking datang menyusuri Sungai Seine, Loire, dan Garonne hingga mencapai pantai utara Iberia. “Sebagian armada Viking mendekati pantai Asturia dekat Gegio (kini Gijón). Namun setelah mereka sadar kota itu punya perbentengan yang kuat, mereka pergi. Lalu mereka tiba di mercusuar tua yang dikenal sebagai Farum Brigantium (kini Menara Hercules) di kota A Coruña,” tulis Rolf Scheen dalam artikelnya di jurnal Militaria No. 8 tahun 1996, “Viking raids on the Spanish Peninsula”. Medio Juli 844, armada Viking pun mendarat dan melancarkan serangan untuk merebut A Coruña. Mereka lebih dulu menjarah desa-desa sekitar sebelum akhirnya bertemu pasukan Raja Ramiro I dalam pertempuran di dekat Menara Hercules. “Meski kerajaannya kecil, pasukan Asturia justru memperlihatkan keberaniannya menghadapi marabahaya itu. Sang raja menghimpun pasukan dengan cepat dan melalui pertempuran alot, pasukan Viking dikalahkan. Para penyintasnya diburu dan sekitar 70 kapal mereka dibakar,” ungkap Thomas D. Kendrick dalam A History of the Vikings. Patung Emir Abdulrahman II di kota Murcia ( condadodecastilla.es ) Kendati begitu, sisa-sisa armada Viking masih cukup kuat setelah mengumpulkan yang tersisa di Cabo Fisterra. Pada bulan-bulan berikutnya armada itu mulai berlayar ke selatan ke pesisir Andalusia di wilayah Emirati Qurtubah. Sayangnya di saat itu Emir Abdulrahman II belum memiliki armada laut untuk menangkal pendaratan pasukan Viking. Tak ayal, kota-kota seperti Al-Ushbuna (kini Lisbon), Qadis (Cádiz), Madinat Saduna (Medina-Sidonia), hingga Isbiliya (Sevilla) gagal memberikan perlawanan. Bangsa Viking menjarah kota-kota itu, hingga kemudian mendirikan kamp-kampnya di delta Sungai Guadalquivir. “Abdulrahman II mengirim utusan ke para gubernur di selatan dengan perintah mengumpulkan pasukan. Pasukan utamanya dipimpin Musa bin Musa al-Qasi dari Bani Qasi. Meski ia berasal dari kalangan rival sang, Musa berekonsiliasi dan mendapatkan kepercayaan sebagai panglima perangnya,” ungkap Brian A. Catlos dalam Kingdoms of Faith: A New History of Islamic Spain. Meski begitu, hingga kini belum ada sumber manapun yang bisa mengonfirmasi berapa jumlah pasukan yang dipimpin Musa. Yang hanya bisa dipastikan, pasukan Musa sukses menyergap bangsa Viking di tepi Sungai Guadalquivir. “Kavaleri Umayyah mengepung kamp-kamp mereka dan membakar kapal-kapalnya dengan ‘Api Yunani’, senjata mirip bom bakar napalm. Pihak Viking mengalami kekalahan hebat lagi. Yang terkepung dibantai habis dan para penyintasnya mundur dalam kepanikan,” tambahnya. Belajar dari invasi itu, Emir Abdulrahman II membangun armadanya. Pasalnya, itu bukan kali terakhir armada Viking datang merongrong. Pasalnya medio 858, armada Viking kembali melancarkan invasinya. “Sekitar 14 tahun kemudian, bangsa Viking balik lagi. Kali ini Emirati sudah siap. Armada muslim mencegatnya di pesisir Portugal pada 858 dan rencana mereka menjarah Lembah Guadalquivir harus dibatalkan, ketika Emir Muhammad I, juga sudah menyiapkan pasukan yang ia pimpin sendiri,” tandas Catlos.

  • Sukarno Ditodong Senjata?

    PADA 22 Agustus 1998, Soekardjo Wilardjito mendatangi kantor harian Bernas  Yogyakarta. Maksudnya menanyakan alamat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang ada di Yogyakarta. Dia hendak menuntut dan mengurus hak pensiun dan tunjangan veteran istrinya serta rehabilitasi nama baiknya karena dituduh anggota Partai Komunis Indonesia.  Pihak Bernas  menyarankan agar Soekardjo menyambangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Soekardjo mengikuti saran itu. Di LBH Yogyakarta, selain mengadukan nasibnya, Soekardjo mengaku sebagai bekas anggota pengawal Presiden Sukarno. Dia juga menceritakan peristiwa lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

  • Memburu Surat Sakti

    SELEMBAR surat itu tampak lusuh dan kusam, menguning dimakan usia. Sobek di sisi kanannya menyebabkan sebagian isi surat tak terbaca. Pada kop surat tertera: Presiden Republik Indonesia dan kata “Surat Perintah” mengikuti di bawahnya. “Tadinya kami sudah yakin bahwa ini adalah Supersemar yang asli. Karena kondisinya sudah rusak parah,” ujar Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mustari Irawan kepada Historia . Surat itu menjadi versi ketiga Supersemar yang berhasil didapatkan oleh ANRI. Menurut Mustari, surat itu diserahkan ke pihak ANRI pada 2012 oleh Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, ketua Yayasan Akademi Kebangsaan.

  • Praktik Klenik Surat Sakti

    NURINWA Ki S. Hendrowinoto dikenal sebagai penulis bermacam buku biografi. Pria berusia 64 tahun itu tak menduga akan menemukan lembar Supersemar yang semula disangkanya asli. Saat napak tilas ke petilasan Majapahit di Surabaya pada 2012, kepentingannya hanyalah penelitian untuk penulisan bukunya bertajuk Kitab Emas Wali Songo . Saat meriset, Nurinwa bersua dengan Indra Musafah, teman lamanya semasa SD Seruni di Surabaya. Perhatian Nurinwa terusik tatkala Indra, anak juru kunci petilasan itu, memperlihatkan sesuatu padanya. “Dia menunjukan kepada saya, iki loh  [Supersemar]. Ayahnya Indra itu bernama Ahmad Musafah,” tutur Nurinwa.

  • Misi Pengusaha Sebelum Supersemar

    MAYJEN TNI Alamsjah Ratu Perwiranegara, Asisten VII Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Soeharto, mengusulkan menggunakan pihak ketiga untuk membujuk Presiden Sukarno agar membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan menyerahkan mandatnya kepada Soeharto. Pihak ketiga tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan Sukarno, yaitu pengusaha A.M. Dasaad dan Hasjim Ning. Saking dekatnya, kata Alamasjah dalam otobiografinya, Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim , Dasaad dapat bebas keluar masuk kamar Sukarno.  Alamsjah bertemu Dasaad dan Hasjim di rumah Dasaad di Pegangsaan Timur Jakarta pada 9 Maret 1966 malam. Alamsjah menceritakan bahwa negara dalam keadaan kritis. Menurutnya Sukarno tidak memenuhi tuntutan massa: tidak membubarkan kabinet tapi malah memperbanyak menteri (kabinet seratus menteri), tidak menurunkan harga melainkan menurunkan nilai uang, dan tidak membubarkan PKI.

  • Tiga Versi Supersemar

    SETELAH menggandakan Supersemar di kantor G-V KOTI, Brigjen TNI Budiono, sekretaris MBAD, membawa naskah Supersemar asli ke Kostrad. Kolonel Soedharmono meminta satu lembar kopi Supersemar sebagai dasar pembuatan konsep pembubaran PKI. Namun, Lettu Moerdiono yang hadir pada waktu itu, punya keterangan lain bahwa setelah memfotokopi Supersemar, Budiono tidak mau memberikan kopiannya kepada Moerdiono. “Waktu dia keluar, saya meminta surat itu. Tapi dia bilang, ‘enggak bisa, ini rahasia.’ ‘Lha, ini saya untuk kerja’. ‘Enggak bisa.’ Ya, sudah. Saya nanti juga dapat. Jadi, semuanya dibawa ke Kostrad. Saya enggak dapat. Dari Kostrad baru dikirim lagi,” kata Moerdiono dalam wawancara dengan majalah Forum Keadilan , 31 Maret 1994.

  • Situasi Mencekam Sebelum Supersemar

    HARI Jumat, 11 Maret 1966, Presiden Sukarno mestinya memimpin rapat Kabinet Dwikora II atau Kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Namun, sejak pagi, para demonstran telah menutup jalan menuju Istana Negara, tempat para menteri akan bersidang. Mereka menolak karena Sukarno masih menyertakan menteri-menteri yang dicurigai terlibat Gerakan 30 September 1965. “Pagi-pagi sekali sebelum sidang dibuka ribuan mahasiswa datang berbondong-bondong menuju Istana. Mereka mendesak masuk ke halaman Istana,” tutur Soebandrio dalam Soebandrio: Kesaksianku tentang G30S . Saat itu, Soebandrio menjabat Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I.

  • Kisah Ibrahim Adjie dan Supersemar

    JUMAT, 11 Maret 1966. Telepon di kediaman Mayjen TNI Ibrahim Adjie berdering siang itu. Begitu diangkat oleh Pangdam III/Siliwangi tersebut, terdengar suara Letjen TNI Maraden Panggabean, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, di seberang sana. Dia memberi kabar bahwa Presiden Sukarno telah diamankan dari Jakarta ke Bogor, menyusul terganggunya sidang kabinet di Istana Negara karena kehadiran pasukan liar. Sekira jam 15.00, giliran Komandan Resimen Tjakrabirawa Brigjen Moh. Sabur yang menelepon Adjie. Dia menyampaikan pesan dari Presien Sukarno agar Adjie menghadap ke Istana Bogor hari itu juga. “Dengan mengendarai jip, Bapak langsung berangkat dari Bandung untuk menghadap Bung Karno,” kenang Kikie Adjie, salah satu putra Ibrahim Adjie, kepada Historia.ID .

  • Sukmawati Sukarnoputri: Supersemar Merupakan Tes Kesetiaan

    SUPERSEMAR atau Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diberikan Presiden Sukarno kepada Letjen TNI Soeharto merupakan tes kesetiaan. Hal itu dinyatakan Sukmawati Soekarnoputri saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Membaca Sejarah: 51 Tahun Supersemar vs 19 Tahun Reformasi” yang diselenggarakan PARA Syndicate di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017). “Jadi, sebetulnya bagi Bung Karno ini suatu surat tes. Soeharto ini sebenarnya masih mau patuh atau tidak dengan pemerintah,” ujar Sukmawati. Sukmawati mengatakan bahwa isi surat itu salah satunya adalah untuk tetap patuh dalam bertindak dan bermusyawarah dengan para panglima, bukan hanya dengan Angkatan Darat. Namun, pada praktiknya, Soeharto lebih memilih bertindak sendiri.

bottom of page