- 22 Mei 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 11 Mar
SELEPAS meraih gelar doktor antropologi dari Australian National University (ANU), Masri Singarimbun memutuskan menetap di Australia. Dia bekerja sebagai pembantu Atase Militer KBRI di Canberra sekaligus research fellow di ANU.
Pada 1973, ketika menghadiri sebuah pertemuan ilmiah di Australia, Rektor UGM Sukadji Ranuwihardjo menemuinya dan membujuknya pulang untuk mengembangkan almamaternya. Masri menerima tawaran itu, selain juga ingin membesarkan anak-anaknya di Indonesia. Pada tahun itu juga dia kembali ke Yogyakarta.
Selain mengajar, Masri mendirikan Lembaga Kependudukan UGM atau LK-UGM (kini, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan atau PSKK-UGM) dengan bantuan dana dari Ford Foundation dan menjadi direkturnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












