top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Perantau Tangguh yang Menaklukkan Batavia

    TRIJNTJE tak tahu di mana letak pasti Batavia, kota yang didirikan Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Yang ia tahu, kota yang berada jauh dari Belanda dan hanya dapat dijangkau melalui pelayaran selama berbulan-bulan itu menawarkan sebuah kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik. Seperti halnya orang-orang Eropa lain yang mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai VOC di wilayah koloni, mimpi untuk mengubah nasib itulah yang membuat Trijntje nekat mencari peruntungan di Batavia. Tak banyak informasi yang bisa didapat mengenai kehidupan Trijntje di Belanda. Namun, Herald Van der Linde mencatat dalam Jakarta: History of a Misunderstood City bahwa wanita yang berasal dari Amersfoort itu berlayar menuju Batavia dari Texel dengan menumpangi kapal Walcheren pada akhir tahun 1621. Setelah mengarungi lautan selama kurang lebih lima bulan, kapal yang ditumpangi Trijntje tiba di Batavia pada 27 Mei 1622. Di kota yang belum lama didirikan oleh Coen itulah ia memulai hidup barunya dan harapan untuk memiliki hidup yang lebih beruntung mulai terbuka ketika wanita muda itu berkenalan dengan Floris Hendricksz.

  • Demonstrasi Menolak Olimpiade Berujung Pembantaian

    PLAZA de las Tres Culturas di Distrik Tlatelolco, Mexico City masih disesaki sekitar 10 ribu massa mahasiswa dan pelajar di pengujung petang 2 Oktober 1968. Unjuk rasa dan orasi menolak penyelenggaraan olimpiade masih bergema ketika aparat militer Meksiko mulai mengepung. Menjelang pukul 6 petang, tetiba saja dua peluru suar ditembakkan ke arah massa yang memicu kepanikan dan berujung tragedi. Di hari itu, ribuan mahasiswa kiri dari UNAM, IPN, serta beberapa kampus lain dan pelajar dari berbagai sekolah menengah atas yang tergabung dalam Consejo Nacional de Huelga (CNH) atau Dewan Mogok Nasional menggelar demonstrasi besar-besaran. Sudah sejak Juli CNH menentang pemerintah yang dikuasai rezim otoriter Partai Revolusioner Institusional (PRI) yang sudah berkuasa sejak 1944.

  • Mendulang Suara dari Desa

    ALI Sastroamidjojo begitu sibuk. Dia berkeliling daerah untuk berkampanye demi kemenangan PNI; dari Jakarta hingga Bali, dari Sumatra Utara hingga Kalimantan. Dia berpidato dalam rapat-rapat umum. Dan untuk menarik perhatian massa, PNI menggunakan berbagai macam cara. Dewan Daerah PNI Jawa Tengah, misalnya, mengorganisasi perkumpulan para dalang. Mereka ditugaskan mengadakan pertunjukan-pertunjukan wayang dengan cerita yang disadur sesuai kepentingan PNI dalam pemilu. Temanya tentulah pahlawan pewayangan, misal Gatutkaca, yang dengan semangat “banteng” (lambang PNI) selalu menang dalam perjuangan membela rakyat kecil.

  • Ke Mana Perginya Barisan Sentot Pengikut Diponegoro?

    SENTOT Alibasah Prawirodirdjo (1808-1855) merupakan salah satu komandan andalan Pangeran Diponegoro. Dengan pasukannya yang –oleh Belanda disebut Barisan Alie Bassa Prawiro Derdjo– tangguh, Sentot menopang pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Namun, Sentot tidak berperang sampai habis. Pada 1829, Sentot sudah berhenti melawan tentara Belanda. Sentot bersama pengikutnya lalu pergi ke kulon . De Javasche Courant tanggal 23 Agustus 1831 menyebut Barisan Alie Bassa, yang terdiri dari 450 orang, naik kapal uap Van Der Capellen ke Batavia (kini Jakarta) dari Semarang pada 15 Agustus 1831.

  • Awal Mula Istilah Kuda Hitam

    ISTILAH dark horse atau “kuda hitam” tentu sudah tak asing bagi kebanyakan orang. Alih-alih menggambarkan seekor kuda berwarna gelap, istilah ini justru marak digunakan dalam lingkup perlombaan –baik olahraga ataupun kontestasi politik– untuk menggambarkan sebuah kemenangan tidak terduga dari kandidat maupun peserta yang semula tak diunggulkan atau tidak banyak dikenal. Merunut sejarahnya, istilah yang muncul pada abad ke-19 ini memiliki kaitan erat dengan kebiasaan bertaruh dalam pacuan kuda. Para petaruh biasanya akan menjagokan kuda-kuda pacuan yang dianggap kuat atau telah memenangkan banyak pertandingan. Para petaruh itu yakin kuda pacuan yang mereka pilih akan kembali memenangkan perlombaan dan mereka berpeluang besar untuk memenangkan pertaruhan.

  • Cerita Malari Versi Judilherry

    RAUT riang Judilherry seketika berubah tegang. Percakapan kami tetiba membangunkan kembali ingatannya tentang malapetaka 15 Januari 46 tahun lalu itu. Masih segar dalam ingatannya, malam itu ia bersama kawan-kawan sesama mahasiswa bergerak menentang kebijakan ekonomi pemerintahan Orde Baru. Kejadian itu memang sudah sangat lama, tapi masih melekat begitu dalam di ingatan Judilherry. “Saya bersama kawan-kawan mahasiswa bergerak demi menyampaikan hati nurani rakyat, menentang ketidakadilan. Tidak ada maksud lain di balik semua itu,” tegas Judilherry saat ditemui di Gedung Ganeca, Kalibata, Jakarta Selatan (14/1/2020).

  • Malapetaka Politik Pertama

    PENGULANGAN sejarah merupakan lelucon pada kali pertama dan akan menjadi tragedi pada pengulangan yang kedua. Demikian disampaikan oleh Daniel Dhakidae , mengutip Karl Marx, dalam sambutannya di acara mengenang 40 tahun peristiwa Malari pagi tadi (15/01) di Jakarta. Turut pula hadir dalam acara itu Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution dan sahibul hajat Hariman Siregar. "Indonesia dijajah oleh Belanda, kemudian oleh Jepang. Dulu yang datang Jan Pieter Coen, kemudian datang Jan Pronk, seorang new left tapi datang sebagai Ketua IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) untuk melihat pembangunan di Indonesia. Kemudian Tanaka seorang shogun , datang menemui Soeharto,” ujar Dhakidae.

  • Merehabilitasi Soeharto dari Citra Presiden Korup

    SETELAH mantan Presiden Sukarno (Presiden RI ke-1) dan Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke-4), MPR akhirnya memulihkan nama Soeharto (Presiden RI ke-2). Pekan lalu, MPR –atas permintaan Fraksi Golkar– resmi mencabut Ketetapan (TAP) MPR No. 11 Tahun 1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Dalam TAP tersebut, nama Soeharto disebut secara eksplisit di pasal 4, yang bunyinya demikian: “Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak, asasi manusia.”

  • Alkisah Eksotisme dan Prahara Sarawak lewat Rajah

    MATA Kapten James Brooke (diperankan Jonathan Rhys Meyers) berbinar-binar saking kagumnya dengan kekayaan alam yang dilihatnya ketika menyusuri Sungai Sarawak pada suatu hari di tahun 1839. Hutan hujan nan lebat dengan beragam flora dan fauna eksotis begitu memanjakan hasrat sang petualang Inggris itu. Ditemani sepupunya, Kolonel Arthur Crooksbank (Dominic Monaghan), dan keponakannya, kadet Angkatan Laut Inggris Charles Brooke (Otto Farrant), Brooke bertualang ke Sarawak dari Singapura. Sarawak menjadi menarik bagi Brooke untuk dijelajahi bukan karena luasnya semata tapi juga kekayaan flora, fauna, rempah-rempah, emas, dan tentu batubara yang belum lama jadi komoditas penting bagi Revolusi Industri (1760-1840).

  • Muljono Dukung PKI

    SEKITAR September 1967, beberapa anggota regu tembak berlatih. Mereka akan melaksanakan tugas mengeksekusi beberapa terpidana mati: bekas Letnan Kolonel (Letkol) Untung, Letnan Ngadimo, Mayor Sujono, dan Mayor Muljono Surjowedojo. Mereka dianggap bersalah dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Untung, Ngadimo, dan Sujono terlibat dalam G30S di Jakarta, yang menewaskan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani dkk. pada dini hari 1 Oktober 1965. Sementara, Mayor Mulyono adalah pelaku di balik tewasnya Danrem Yogyakarta Kolonel Katamso dan wakilnya, Letkol Sugijono, pada hari yang sama namun beda jam.

  • Berhulu di Parakan, Bermuara di Kudus

    DI kaki Gunung Sindoro–Sumbing, ikatan keluarga menjadi infrastruktur sosial yang menopang ekonomi lokal selama lebih dari satu abad. Rumah-rumah tua bergaya Indies berdiri di antara gudang-gudang tembakau yang sibuk setiap musim panen. Parakan, yang dulu masuk dalam kawasan Keresidenan Kedu, merupakan simpul vital bagi perdagangan tembakau rakyat. Di Kedu, sejak akhir abad ke-18, petani secara turun-temurun menanam tembakau varietas lokal. Para pedagang Tionghoa menjadi penghubung utama antara petani dan pasar. Jaringan pasar ini sangat luas, mencakup sentra industri rokok di Jawa hingga bursa komoditas di luar Jawa dan Eropa.

  • Menak Sunda di Balik Murka Bung Karno

    DARI semua presiden Republik Indonesia, hanya Sukarno yang berani melawan Amerika terang-terangan. Ini pernah dibuktikan lewat ucapan kerasnya, “ Go To Hell With Your Aid ” atau persetan dengan bantuan mu! Makian tersebut ditujukannya langsung kepada pemerintah Amerika Serikat.  “Dia benar-benar melakukannya,” kenang Howard Jones dalam memoarnya Indonesia: The Possible Dream .

bottom of page