Hasil pencarian
9628 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berhulu di Parakan, Bermuara di Kudus
DI kaki Gunung Sindoro–Sumbing, ikatan keluarga menjadi infrastruktur sosial yang menopang ekonomi lokal selama lebih dari satu abad. Rumah-rumah tua bergaya Indies berdiri di antara gudang-gudang tembakau yang sibuk setiap musim panen. Parakan, yang dulu masuk dalam kawasan Keresidenan Kedu, merupakan simpul vital bagi perdagangan tembakau rakyat. Di Kedu, sejak akhir abad ke-18, petani secara turun-temurun menanam tembakau varietas lokal. Para pedagang Tionghoa menjadi penghubung utama antara petani dan pasar. Jaringan pasar ini sangat luas, mencakup sentra industri rokok di Jawa hingga bursa komoditas di luar Jawa dan Eropa.
- Menak Sunda di Balik Murka Bung Karno
DARI semua presiden Republik Indonesia, hanya Sukarno yang berani melawan Amerika terang-terangan. Ini pernah dibuktikan lewat ucapan kerasnya, “ Go To Hell With Your Aid ” atau persetan dengan bantuan mu! Makian tersebut ditujukannya langsung kepada pemerintah Amerika Serikat. “Dia benar-benar melakukannya,” kenang Howard Jones dalam memoarnya Indonesia: The Possible Dream .
- Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Kehormatan Pertama
UNTUK pertama kalinya, di Istana Merdeka berlangsung upacara pelantikan seorang jenderal bintang empat. Namun, penerima pangkat militer tertinggi itu bukanlah seorang perwira dari lingkungan angkatan bersenjata. Ia justru melekat di atas pundak warga sipil yang amat dihormati. Hari itu, 14 Januari 1960, Presiden Sukarno melantik Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Jenderal Kehormatan. “Sultan Hamengkubuwono orang besar berjasa bagi tanah air dan bangsa, diangkat jadi jenderal dengan bintang emas 4,” demikian diwartakan harian Merdeka , 15 Januari 1960.
- Dalam Jaring-jaring Kekuasaan
SETELAH melakukan pembicaraan dengan sejumlah partai politik, Ali Sastroamidjojo menghadap Presiden Sukarno pada Maret 1956 untuk melaporkan hasil pembentukan kabinet. Sukarno menunjukkan reaksi kecewa karena Ali sebagai formatur tak mengikutsertakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang meraih enam juta suara dalam pemilihan umum 1955. “Ini tidak adil!” ujar Sukarno. Dengan tenang Ali menjawab tak mungkin membentuk kabinet koalisi dengan PKI karena Masyumi dan Nahdlatul Ulama (NU) menolaknya. Sukarno membentak dan menuduh Ali kurang berusaha. Dengan keras pula Ali menantang Sukarno mencabut mandatnya. Sukarno menurunkan suaranya dan minta waktu seminggu untuk mengambil keputusan.
- Menggusur Marhaenis Gadungan
PADA 7 Juli 1963, PNI merayakan ulang tahun ke-36 di Stadion Utama Senayan. Dalam pidatonya, Ketua Umum PNI Ali Sastroamidjojo menerima Marxisme sebagai sumber Marhaenisme yang diusulkan Sukarno tiga tahun sebelumnya dalam kongres kesembilan di Solo. Definisi “Marhaenisme sebagai Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia” ini secara resmi diterima dalam kongres kesepuluh PNI pada September 1963 di Purwokerto. Setahun kemudian, dalam sidang Badan Pekerja Kongres PNI di Lembang, Bandung pada November 1964, PNI menafsirkan Marxisme sebagai sumber Marhaenisme dalam Deklarasi Marhaenis. Deklarasi ini menyebutkan bahwa “Marhaenisme sebagai suatu faham revolusioner yang berdiri di atas sendi-sendi aksi massa yang bertujuan menegakkan PNI sebagai partai pelopor. Untuk itu, unsur buruh dan petani ditetapkan sebagai soko guru partai dengan tidak mengurangi peranan golongan-golongan progresif lainnya.”
- Nyanyi Sumbang Desa Kingkang
TAK peduli apapun risikonya, pada Maret 1964, Kartonodimedjo mendatangi Pantosuhardjo yang menyewa tanahnya. Dia menuntut Pantosuhardjo menyerahkan separuh lahan sewaannya yang seluas 3.235 m2 untuk digarapnya sendiri. Menurut arsip Laporan DPP Petani Surakarta, aksi Kartonodimedjo, penduduk Desa Kingkang, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah itu dipicu pidato Ketua CC PKI D.N. Aidit pada Februari 1964. Aidit kecewa terhadap pelaksanaan land reform dan memutuskan mengadakan aksi sepihak. Pernyataan Aidit itu mendorong Barisan Tani Indonesia (BTI) Klaten, di mana Kartonodimedjo jadi simpatisannya, memulai aksi.
- Sejarah Sebagai Ilmu Berbangsa
MENGAPA kita perlu belajar dari sejarah? Kita semua mengenal sejarah, karena sejarah merupakan mata pelajaran yang mulai dikenalkan kepada kita sejak masih duduk di Sekolah Dasar hingga menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas. Kedudukannya sebagai mata pelajaran wajib menempatkan sejarah sebagai ilmu pengetahuan yang wajib dipelajari oleh semua generasi muda bangsa. Hal yang paling penting dalam kandungan materi pelajaran sejarah adalah melacak kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Belajar dari sejarah juga untuk mengetahui asal usul segala sesuatu, karena segala sesuatu itu memiliki sejarah, termasuk asal usul manusia dan perkembangan peradabannya, sehingga kita menyadari adanya perbedaan di setiap bangsa, suku bangsa dan keadaan negara lain di seluruh dunia. Pemahaman terhadap kekuatan-kekuatan historis akan menjadi hal penting mendasar yang dapat menghubungkan setiap individu dan mempengaruhi cara kita membangun interaksi satu sama lain.
- Kisah Penemu Terkenal yang Menjadi Korban Rasisme
BAGI kebanyakan orang di awal abad ke-20, suratkabar menjadi sumber informasi utama untuk mengetahui berbagai peristiwa terkini. Termasuk ketika kebakaran terjadi di pabrik Triangle Shirtwaist Factory yang berlokasi di kota New York pada 25 Maret 1911. Lewat pemberitaan suratkabar, insiden yang menewaskan 146 pekerja garmen itu segera menjadi perhatian nasional. Pembicaraan mengenai bencana industri paling mematikan dalam sejarah kota New York ini terdengar di berbagai negara bagian. Ada yang menuntut agar pemerintah melakukan reformasi undang-undang pencegahan kebakaran dan perlindungan keselamatan pekerja, banyak pula yang mencari cara agar peristiwa memilukan itu tak terjadi kembali di masa depan. Garrett Augustus Morgan merupakan salah satu orang yang melakukan hal nomor dua.
- Nurnaningsih Datang, Kota Medan Berguncang
BANDARA Polonia hari itu tumpah-ruah oleh warga Medan yang datang. Mereka sengaja ke sana untuk menyambut kunjungan bintang film Nurnaningsih. Mayoritas yang datang adalah pemuda-pemuda dan pelajar. Momen yang ditunggu tiba ketika Pesawat Garuda yang membawa Nurnaningsih mendarat. Turun dari pesawat, Nurnaningsih menyapa kerumunan besar dengan lambaian tangannya. Dia juga murah hati mengumbar senyum manis dan kerlingan mata kepada para penggemar. Orang-orang berdesakan demi menyaksikan artis peran sejumlah film itu. Aparat keamanan sampai dibuat kewalahan.
- Mengulik Sejarah Suku Dayak Iban di Sarawak
BANYAK tradisi-budaya yang asing bagi James Brooke (diperankan Jonathan Rhys Meyers) dan rombongannya ketika pertamakali bersua etnis Melayu dan Dayak Iban. Mulai dari praktik perbudakan hingga tradisi mengayau atau berburu kepala manusia. Maka ketika sudah mampu menyingkirkan komplotan pemberontak dan menjadi Rajah Sarawak pertama berkulit putih, ia “mereformasi” beberapa aturan. Selain menghapus perbudakan di dalam komunitas Melayu, ia juga melarang tradisi Ngayau .
- Soeta Ono Jagoan Rimba
TEKANAN membuat orang mesti realistis. Acapkali tekanan membuat orang mesti menyesuaikan diri agar selamat meski harus “berbelok” sedikit, bahkan meninggalkan prinsip hidupnya. Hal itulah yang dialami Tumenggung Soeta Ono di pedalaman Kalimantan. Laki-laki kelahiran Telang Siong, Kalimantan Tengah, 1822 itu sebetulnya cukup terkemuka di kampungnya yang tidak jauh dari Amuntai, Kalimantan Selatan. Putra pasangan Kalimah dan Suma itu telah dikenal Belanda setidaknya sejak 1861. Ketika usianya masih sekitar 29 tahun, dia terlihat sebagai seorang prajurit rimba yang kokoh dan dianggap sebagai seorang yang cerdas dan disegani.
- Berkunjung ke Rumah Penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok
HARI ini, 75 tahun lalu, sebuah rumah di Karawang, Jawa Barat, menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia. Rumah Rengasdengklok, begitu orang menyebutnya, menjadi tempat para pemuda menyembunyikan Sukarno dan Hatta dari pengaruh Jepang. Para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Menteng 31 membawa mereka beserta Fatmawati dan Guntur, istri dan anak Sukarno, dari Jakarta ke Rengasdengklok pada pagi 16 Agustus 1945.






















