Hasil pencarian
9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Saat Petani Mencipta Sejarah
DUMAS, juru tulis kantor asisten residen Cilegon sekaligus juru tulis pengadilan distrik kota, terbangun dari tidurnya. Pukul 2 dini hari 9 Juli 1888 terdengar suara gaduh di luar rumahnya dan membuatnya buru-buru membuka pintu rumah. Tapi begitu pintu terbuka, empat orang berkelewang sekonyong-konyong berteriak “Allahuakbar” dan menyerangnya. Meski terluka oleh sabetan kelewang, Dumas mati-matian menyelamatkan diri. Dia akhirnya berhasil melarikan diri ke rumah tetangganya, seorang jaksa. Sementara itu, di rumah Dumas para penyerang langsung mendatangi istri dan anak tertua Dumas yang sedang berusaha melarikan diri ke rumah Raden Purwadiningrat, seorang ajun kolektor yang merupakan tetangga Dumas. Bacokan mereka melukai bahu kanan istri Dumas. Beruntung para penyerang mengira sang istri babu, jadi membiarkannya. Malang justru menimpa Minah, babu Dumas, yang oleh para penyerang dikira nyonya rumah. Upayanya mendekap anak bungsu Dumas membuat tubuhnya menjadi sasaran bacokan senjata tajam. Dia terluka parah. Sementara, anggota gerombolan yang lain mengacak-acak isi rumah dan menghancurkan perabotan-perabotan yang ada.
- Terbit Lagi Setelah Tiga Dekade
MEMASUKI tahun 2015, J.J. Rizal, pria Betawi yang kondang sebagai sejarawan itu mulai sibuk. Dia pontang-panting menyiapkan penerbitan kembali naskah buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya begawan ilmu sejarah Sartono Kartodirdjo. Pemimpin penerbitan Komunitas Bambu (Kobam) itu menelpon sejumlah orang, untuk memastikan ihwal hak penerbitan buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya pada 1984 itu. Setelah mendapat sinyal lampu hijau dari keluarga Sartono, naskah naik cetak. Hasilnya, akhir Februari lalu buku yang tiga dekade lalu pernah jadi bahan pembicaraan di seantero jagad kajian ilmu-ilmu sosial dan sejarah bertengger di rak toko-toko buku di seantero negeri. Ada yang berbeda dari tampilan lamanya: ukuran buku lebih tinggi dengan ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca ketimbang terbitan pendahulunya. Pada 4 Mei lalu sebuah diskusi dihelat di Yogyakarta oleh Penerbit Kobam, sekaligus menandai peluncuran buku ini. Stefanus Nindito, cucu Sartono mewakili keluarga turut memberikan sambutan sekaligus membahas aspek biografis kakeknya. Sementara itu, sejarawan Sri Margana dari UGM didaulat untuk membahas karya guru besar dari kampusnya itu.
- Anak Kapten KNIL Membelot di Perang Aceh
DARI Italia, Johan Gamari Carli (1802-1872) berangkat ke Belanda. Putra dari Giovanni (Jean) Marie Carli dan Catharina itu lalu mendaftar masuk tentara. Pria kelahiran Dervio, Lecco, Lambordia pada 12 Maret 1802 itu lalu pada 22 April 1826 terdaftar sebagai sukarelawan untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dengan masa kontrak dinas enam tahun. Johan kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Pada 1830-an, pangkatnnya naik menjadi brigadir dalam satuan pengawal Sultan Hamengkuwono V di Yogyakarta. Masa itulah Johan mengawini Josina Justina Kladowits Kladowitz (1813-1881). Di kota itu pula beberapa anak Johan lahir: Fredrik, Petrus, Adrianus Bernardus, Gerardus, Josephine Emeli dan Johanna Petronella. Petrus kemudian mengikuti jejak ayahnya, jadi serdadu. Petrus Carli, disebut arsip Studbook 'Oost-Indisch Boek', Onderofficieren en minderen, 1832-1949, Nederlands-Indië , archive 2.10.50, inventory number 351, folio 35695, lahir di Yogyakarta pada 16 Mei 1839. Dia terdaftar menjadi sukarelawan pada 25 Oktober 1855 dan kemudian mendapat pangkat sersan. De Indisch Courant tanggal 27 April 1933 menyebut dirinya ikut serta dalam Ekspedisi Bone ke-2 –untuk menaklukkan Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan– tahun 1859. Di sana, dirinya terluka akibat tertembak. Luka tembak tak membuatnya kapok jadi serdadu. Karena itu pula kariernya terus menanjak. Sebelum 1860-an pangkatnya naik menjadi sersan mayor. Namun kemudian, demi bisa bersekolah untuk menjadi perwira, Petrus malah minta turun lagi menjadi sersan. Keputusannya tak salah. Usai pendidikan, kariernya moncer. Pada 1869, dia resmi menjadi letnan dua infanteri. Setahun kemudian, naik lagi menjadi letnan satu. Petrus kemudian bertugas di Kalimantan. Selama bertugas di Kalimantan, Petrus pernah serumah bersama seorang perempuan bumiputra bernama Carolien. Dari hubungan ini lahir seorang anak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 5 Desember 1866. Petrus dan Carolien menamainya Matheus Petrus Carli. Ketika Letnan Petrus dipindahkan ke Maluku, Matheus dibawa serta. Di Ambon, pada 31 April 1873, Letnan Petrus kawin lagi dengan perempuan Belanda bernama Anna Carolina Schmidhamer (1854-1944). Tiga tahun setelah kawin lagi, Petrus Carli naik pangkat lagi menjadi kapten. Namun, cerita pencapaian manis itu tak bertahan lama. Pada 1878, Kapten Petrus Carli terluka hingga sulit meneruskan dinasnya. Akhirnya pada 1878 dia dipensiunkan lalu mendapat kenaikan pangkat kehormatan menjadi mayor pada 1890. Ambon juga menjadi tempat tugas Matheus Carli, anak Petrus dengan Carolien, pada awal 1884. Menurut Studbook Stamboeken Bronbeek, Den Haag, archive 2.10.50, inventory number 365, Matheus pada 16 Februari terdaftar sebagai relawan dengan masa dinas 6 tahun dan mendapat uang muka sebesar 300 gulden. Setelahnya, sang serdadu juru tulis itu ditempatkan di Subkader Surabaya. Dalam hitungan tahun, pemuda Indo-Italia itu pun mendapat pangkat sersan. Seperti ayahnya, Sersan Matheus kemudian juga ditempatkan di Aceh. “Carli adalah seorang pemuda Hindia, putra seorang kapten yang sudah pensiun, dan seorang pemimpin yang cocok dalam segala hal. Seorang penembak jitu, ahli dalam semua jenis senjata, seorang pesenam hebat, dan berbadan tegap, ia sangat suka pamer dan seorang Don Juan berbahaya, yang tampaknya memiliki pengaruh cukup besar pada orang-orang Jawa di kompinya meskipun bukan untuk kebaikan,” catat Miles dkk dalam Herenningen uit den Va Heutzs Tijd en andere verhalen II . Sersan Matheus bukanlah tipe serdadu KNIL pemabuk. Dia jarang ke kantin untuk menenggak alkohol. Sersan Matheus, yang bertugas di Resimen ke-14, lebih sering terlihat di sekitar Kampung Merduwati dan Kampung Jawa di dekat bekas keraton Sultan Aceh di Banda Aceh yang oleh Belanda disebut sebagai Kotaraja. Matheus sebetulnya serdadu yang cocok menjadi intelijen karena cukup lancar berbahasa Aceh dan kenal huruf Arab. “Suatu hari ia menghilang. Lenyap tanpa jejak! Setelah penyelidikan menyeluruh, ternyata ia membawa senapannya, kantung peluru beserta semua aksesorinya, dan selain amunisinya sendiri, juga amunisi empat prajurit dari seksinya—total tidak kurang dari 250 butir peluru,” catat Miles dkk dalam Herenningen uit den Va Heutzs Tijd en andere verhalen II . Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 26 Februari 1891 memberitakan, pada pukul lima sore tanggal 6 Februari 1891 Matheus melakukan desersi di Kota Pohama. Pada bulan-bulan sebelum desersinya, Matheus pernah mencoba bunuh diri dengan pistol revolver di daerah Idi. Setelah Sersan Matheus membelot ke pihak Aceh, militer Belanda merasa mendapatkan gangguan lebih serius. Sebab, menurut Miles dkk., tembakan orang-orang Aceh ke markas tentara Belanda lebih akurat dari sebelum-sebelumnya. Setidaknya seorang serdadu KNIL tewas di Peukan Krueng Cut akibat serangan-serangan itu. Pihak Belanda meyakini Sersan Matheus yang berusia 25 tahun itu bergabung dengan kelompok Panglima Polem, orang kepercayaan sultan sekaligus panglima perang gerilyanya. Sersan Matheus bahkan menjadi semacam kepala staf dari salah satu panglima Aceh yang berperang melawan Belanda. Kabarnya, ketika desersi Sersan Matheus punya hubungan istimewa dengan seorang perempuan yang sering dikunjunginya di daerah Pendeti. Sayembara dengan hadiah 1.500 gulden untuk siapapun yang bisa membawa Matheus kembali lalu diumumkan pihak Belanda. Nama Sersan Matheus pun terkenal sebagai desertir hingga membuat nama keluarga Carli tercoreng. Mayor Petrus yang ketika itu masih hidup pun dibuat malu besar akibat ulah putranya. Saking jengkelnya, dia akan memberikan 1000 gulden bagi siapapun yang bisa membawa Matheus hidup atau mati dari kelompok Panglima Polem itu. Di mata orang Aceh sendiri, Matheus amat berharga. Het Vaderland tanggal 21 Agustus 1894 menyebut Matheus dihormati orang-orang Aceh. Kemudian, dalam sebuah pertempuran tahun 1894, Matheus terluka dan dikabarkan terbunuh. Padahal, sebelumnya dia masih berkeliaran membahayakan tentara Belanda. Militer Belanda sulit memburunya dan hanya mendapatkan sikat gigi dan coretan berbahasa Belanda darinya. Tak seperti nasib Matheus anaknya yang tidak diketahui kabarnya kemudian, Mayor KNIL Petrus Carli diketahui kemudian menghabiskan masa tuanya di Bandung. Pada 13 Maret 1933, sang mayor tutup usia di sana.
- Segregasi Lewat Bukti Registrasi
BEGITU mendarat di Jawa, bala tentara Dai Nippon bergerak cepat untuk mengatur wilayah pendudukannya. Pada 11 April 1942, Jepang mengeluarkan aturan registrasi bagi bangsa asing, Osamu Seirei No. 7. Aturan ini mewajibkan semua penduduk dewasa berumur 17 tahun atau lebih, kecuali orang Jepang dan orang Indonesia, mendaftarkan diri kepada penguasa. Undang-undang ini memang berlaku bagi Eropa (termasuk Indo) dan Timur Asing (Tionghoa dan Arab). Namun, karena kepentingan politis untuk merangkul umat Islam, kelak pada Juli 1944 Jepang mengeluarkan peraturan yang menganggap orang Arab sebagai “orang Indonesia”, yang berarti membebaskan mereka dari pendaftaran. Setelah mendaftar, mereka akan mendapatkan selembar kartu tanda penduduk (KTP) yang dalam bahasa Jepang disebut Gaikokujin Kyojuu Touroku Sensei Shoumeisho (surat bukti registrasi kediaman dan sumpah warga negara asing).
- Kisah Si Burung Merak Masuk Islam
W.S. RENDRA dianggap sebagai penyair terbesar setelah Chairil Anwar. Sajak-sajaknya dikenal tajam mengkritik keadaan sosial yang disebutnya “pamflet.” Padahal, di awal kepenyairannya, Si Burung Merak banyak menulis sajak tentang agama dan Tuhan sesuai dengan keyakinannya sebagai Katolik, seperti terangkum dalam Balada Orang-orang Tercinta (1957). Rendra lahir dari keluarga Katolik taat pada 7 November 1935 di Solo. Namun belakangan dia resah dan menceritakan kegelisahannya itu kepada sastrawan Ajip Rosidi. “Selama di Amerika untuk menenteramkan kegelisahan itu dia mempelajari agama Budha dan agama-agama Asia yang banyak dipelajari anak-anak muda Amerika… seperti agama Krisyna dan semacamnya. Tapi belakangan minatnya tertarik kepada Islam,” kata Ajip dalam otobiografinya, Hidup Tanpa Ijazah .
- Menelusuri Jejak Chairil Anwar di Ibukota
LAHIR dan besar di Medan, Sumatra Utara, penyair legendaris Chairil Anwar punya ikatan kuat dengan Ibukota Jakarta. Di kota inilah, ia memulai perjalanan abadi menjadi penyair yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Pada 2022 ini, karya-karyanya kembali digaungkan di mana-mana sebagai peringatan seratus tahun kelahirannya. Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922. Pada usia 19 tahun, ia datang ke Jakarta, yang kala itu masih bernama Batavia. Di Jakarta, Chairil menumpang di rumah pamannya, Sutan Sjahrir, di Jalan Dambrink (kini Jalan Latuharhary) Nomor 19. Chairil tak perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri dan menemukan tempatnya di antara teman-teman baru, terutama ketika bicara soal kesenian. Chairil sering berkunjung ke Pasar Senen yang mana kala itu adalah tempat berkumpul dan berdiskusi para seniman, antara lain Ajip Rosidi dan Misbach Yusa Biran. Nama Chairil Anwar masih hidup di daerah ini.
- Chairil Anwar Bikin Affandi Ribut dengan Istri
CHAIRIL Anwar, penyair patriotik di zaman revolusi kemerdekaan, dikenal bersahabat karib dengan pelukis Affandi. Sewaktu Chairil tinggal di Karawang, Affandi dan istrinya Maryati acapkali berkunjung. Pun demikian sebaliknya. Namun, siapa nyana, persahabatan dengan Chairil pernah membuat Affandi terlibat urusan pelik sekaligus menggelitik. Sebermula dari kedatangan seorang perempuan yang mengetuk pintu rumah Affandi. Sang pelukis menyuruh Maryati membukakan pintu. Setelah pintu dibuka, Maryati melihat sesosok perempuan muda berdiri mencari tuan rumah. “Mau ketemu Bapak,” kata perempuan itu tersipu-sipu. Maryati curiga. Dia bergegas masuk kembali ke dalam rumah. Benaknya penuh dengan pikiran yang bukan-bukan. Apalagi kalau perempuan itu punya hubungan khusus dengan suaminya.
- Ketika Chairil Anwar Digelandang Serdadu Jepang
SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Ketika dalam perjalanan pulang dari Pasar Petojo, mata Mia Bustam, istri “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” Sudjojono, menangkap beberapa buku tua yang sedang dijajakan seorang tukang loak. Penasaran, Mia pun menghampiri tukang loak itu. Dia kaget campur bingung ketika ternyata buku-buku tua itu merupakan buku bagus, antara lain De Nieuwe Spijzen karya penulis Prancis Andre Gide. “Aku heran! Siapa pemilik buku ini? Mengapa buku karya Andre Gide dilempar ke tukang loak? Segera saja kubayar harganya seperti yang Abang Tukang Loak memintanya: Rp1,50. Dengan hati gembira aku membawa pulang buku itu,” kata Mia dalam memoar berjudul Sudjojono dan Aku . Gide merupakan penulis-sastrawan Prancis yang menerbitkan lebih dari 50 buku. Dia menjadi pejuang antikolonialisme setelah Perang Dunia I. Pada 1947, Gide menjadi pemenang Nobel Sastra.
- Bogem Mentah untuk Chairil Anwar
MINAT Chairil Anwar terhadap dunia sastra memang telah terasah sedari remaja. Waktu bersekolah di MULO Medan, Chairil tercantum sebagai anggota redaksi majalah dinding Ons MULO Blad . Di sana, Charil kerap menuangkan karya dalam bentuk prosa. Di balik jiwa seninya, Chairil memiliki kepribadian yang nyentrik. Chairil yang gemar bermain pingpong itu akan selalu berteriak jingkrak-jingkrak kalau menang. “Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar,” tutur Hans Bague Jassin dalam bunga rampai Memoar Senarai Kiprah Sejarah Jilid 1. Waktu itu, Chairil siswa MULO (setara SMP) berusia 14 sedangkan Jassin lima tahun lebih tua dan duduk di bangku HBS (setara SMA). Perkenalan Chairil dan Jassin selanjutnya terjadi di Batavia. Pada zaman pendudukan Jepang, Chairil menjadi penyiar radio Jepang sembari menulis puisi dan sajak. Sementara itu, Jassin bergiat di majalah Panji Pustaka sebagai wakil pemimpin redaksi. Mereka terlibat aktif diskusi sastra yang diselenggarakan Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Dalam wadah itu, Chairil dan Jassin mulai bersahabat karib.
- Ketika Chairil Anwar Berdebat dengan Serdadu Belanda
PASAR Senen, Jakarta di era berlakunya Perjanjian Renville (1948) merupakan wilayah Belanda. Kendati jatuh bergantian ke tangan penguasa yang berbeda, sejak 1930-an, kawasan itu tetap menjadi tempat nongkrong yang nyaman bagi para jago, seniman, pedagang barang bekas dan tukang catut. Di tahun 1940-an, Pasar Senen bahka kerap menjadi tempat bertemunya para mahasiswa pejuang kemerdekaan. “Pada mulanya, para mahasiswa pejuang tersebut datang ke Senen untuk menjual atau membeli buku ke toko loak Nasution (yang) terletak di belakang Bioskop Grand,” ungkap Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban Pasar Senen . Chairil Anwar termasuk seniman yang kerap mangkal di Pasar Senen. Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar: Sebuah Biografi , selain memang Pasar Senen sudah menjadi tempat tongkrongan favoritnya sejak zaman Jepang, secara jarak, kawasan itu memang tidak terlalu jauh dari kantornya di Gunung Sahari.
- Chairil Anwar Sang Pejuang
KARAWANG-BEKASI sejak 21 Juli 1947 adalah kesedihan. Haji Sidin masih ingat bagaimana di perbatasan antara kedua kota itu terjadi pertempuran yang cukup besar selama tiga hari berturut-turut antara para pejuang Indonesia dengan para serdadu Belanda. “Itu yang mati banyak. Ratusan mungkin jumlahnya, ya tentara ya masyarakat biasa,” kenang lelaki berusia 91 tahun itu. Dalam Gangsters and Revolutionaries , sejarawan Robert B. Cribb menyebut pertempuran besar dan brutal itu terjadi setelah para serdadu Belanda dari Batalyon 3-9-RI Divisi 7 Desember merangsek ke Karawang via Bekasi. Penyerbuan itu dilakukan, persis sehari setelah Gubernur Jenderal NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) H.J. van Mook mengumumkan pembatalan sepihak kesepakatan Perjanjian Linggarjati yang pernah ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda beberapa bulan sebelumnya. Inilah yang mengawali Aksi Polisional I Belanda (pihak Republik menyebutnya sebagai Agresi Militer Belanda I).
- 8 Perempuan Gebetan Penyair Chairil Anwar
CHAIRIL ANWAR, penyair besar yang eksentrik dan diakui sebagai pembaru puisi Indonesia. Selama hidupnya yang relatif muda, dia menghasilkan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Beberapa puisinya dibuat untuk perempuan-perempuan yang mengisi hatinya. Kendati penampilannya urakan, namun Chairil dikenal sebagai pemuda yang banyak penggemarnya terutama di kalangan gadis-gadis. Dia digemari karena rupanya bagus, kulitnya putih dan wajahnya menyerupai Indo. Chairil juga dikenal “pintar” memikat gadis-gadis karena dia mudah berkenalan dengan siapa saja, lelaki maupun perempuan. Chairil pernah tertarik pada beberapa perempuan. “Di antara gadis yang pernah menarik perhatian Chairil ialah Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sri Arjati, Ida, dan Sumirat,” tulis Pamusuk Eneste dalam Mengenal Chairil Anwar .





















