top of page

Hasil pencarian

9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cricket Ala Hitler

    SAAT menjalani perawatan untuk menyembuhkan luka-lukanya di sebuah klinik, Kopral Adolf Hitler (kelak merupakan diktator fasis Jerman-Nazi) kerap melihat sejumlah tawanan perang Inggris memainkan cricket di kamp. Hitler penasaran. “Suatu hari dia (Hitler) mendatangi mereka (tahanan tentara Inggris) dan bertanya, apakah dia boleh menonton 11 orang bermain cricket. Mereka membolehkannya dan tentu saja turut dijelaskan pula aturan permainannya,” tulis Oliver Locker-Lampson, seorang veteran Perang Dunia I (PD I) dalam artikel bertajuk “Adolf Hitler As I Know Him” di suratkabar Daily Mirror , 30 September 1930. Artikel yang terpendam puluhan tahun itu terpublikasi kembali pada 2011 ketika dirilis John Simpson dalam bukunya, Unreliable Sources: How the 20th Century was Reported . Paparan Locker-Lampson itu mengungkap fakta bahwa ternyata Hitler sejak muda tak hanya hobi seni tapi juga meminati cricket.

  • Anggar untuk Hitler

    HELENE Mayer hanya ingin terus eksis sebagai atlet anggar. Dia tak peduli negara mana yang diwakilinya. Bahkan ketika banyak orang mengatakan dia egois, oportunis, hingga pengkhianat, Helene tak acuh ketika harus beraksi di bawah panji Jerman-Nazi. Toh, Helene tetap diakui sebagai atlet anggar wanita terbaik abad ke-20. Dia menyandang titel itu berdasarkan catatan Sports Illustrated tahun 2000. Majalah olahraga terkemuka Amerika Serikat (AS) dan dunia itu juga menyelipkan namanya sebagai satu di antara 100 atlet wanita terbaik abad ke-20. Helene juga dibadikan di Hall of Fame USA Fencing atau Organisasi Anggar AS. Lahir di Offenbach am Main, pinggiran kota Frankfurt, Jerman pada 20 Desember 1910, Helene Julie Mayer merupakan satu dari tiga bersaudara anak Ann Bertha Becker dan Ludwig Karl Mayer. Ann penganut Lutheran (Kristen Protestan) sementara Karl seorang Yahudi. Namun, Helene memiliki fisik tak lazimnya orang Yahudi melainkan seperti ras Arya Jerman: berambut pirang dan bermata biru.

  • Ketika Mimpi Hitler Tak Terwujud

    PERDANA Menteri Inggris Winston Churchill menolak ajakan damai Adolf Hitler pada 28 Mei 1940. Pemimpin Nazi-Jerman itu lantas merancang suatu misson impossible. Menurut Michael Kerrigan dalam World War II Plans That Never Happened, Hitler memerintahkan tentaranya menginvasi Inggris pada 16 Juli 1940 lewat Surat Perintah Nomor 16 yang berbunyi: “Karena Inggris tidak menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk suatu kesepakatan kecuali keadaan militernya yang memprihatinkan, saya memutuskan mempersiapkan dan jika perlu berkelanjutan melakukan operasi darat dan laut terhadap Inggris. Tujuan dari operasi ini untuk mencegah agar Inggris tidak dijadikan tempat untuk melanjutkan perlawanan terhadap Jerman. Jika memang diperlukan, seluruh pulau dapat diduduki.”

  • Halt Order dari Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk

    SEJAK 22 Mei 1940, Jenderal Heinz Guderian, komandan Divisi Panser ke-10 Angkatan Darat (AD) Nazi-Jerman, gencar menguber ratusan ribu tentara Sekutu sampai ke Dunkirk di utara Prancis. Namun, Adolf Hitler mengeluarkan Halt Order alias perintah menahan serangan. Hitler melarang mesin-mesin perangnya terus menerobos ke pesisir Dunkirk untuk menghabisi sekira 300 ribu tentara Sekutu. Menurut P.K. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid I , keputusan Hitler itu bersifat politis. Hitler memerintahkan menahan serangan ke Dunkirk dan membiarkan Sekutu mengevakuasi ratusan ribu serdadunya ke Inggris, demi bisa berdamai dengan Inggris. “Hitler menganggap bangsa Inggris sebangsa (sesama ras Germanic ). Ini berarti Hitler merasa lebih dekat dengan Inggris daripada dengan Rusia, bangsa Slavonic yang dipandang rendah. Hitler membiarkan Inggris lolos di Dunkirk supaya Inggris tak kehilangan muka dan lebih bersedia damai dengan Hitler,” tulis Ojong.

  • Titiek Puspa Melintasi Zaman

    DUNIA hiburan Indonesia berduka. Legenda di bidang musik, teater, dan film, Titiek Puspa, meninggal dunia di usia 87 tahun. Putri sulung Titiek, Petty Tunjungsari, mengungkapkan, ibunya dilarikan ke rumah sakit setelah menyelesaikan syuting acara televisi pada 26 Maret 2025. Hasil pemeriksaan medis ditemukan adanya pendarahan di otak bagian kiri. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari dua pekan, maestro musik Indonesia itu tutup usia pada Kamis (10/4/2025) sore. Titiek Puspa bukan seniman biasa. Penyanyi yang puluhan tahun malang melintang di industri hiburan itu tak hanya piawai memanjakan telinga melalui suaranya yang merdu dengan husky voice  (umum disebut serak-serak basah, red. ) dan improvisasi yang jempolan, tetapi juga sukses menyentuh hati para pendengarnya melalui berbagai lagu yang ia ciptaankan. Tak hanya didedangkan sendiri, lagu-lagu ciptaannya juga dibawakan oleh penyanyi lain dan menjadi hit hingga kini. Beberapa di antaranya Gang Kelinci , Jatuh Cinta , Apanya Dong , hingga Kupu-kupu Malam . Sementara itu, aksi panggungnya yang lincah dan menghibur, serta sikapnya yang ramah dan hangat membuat pelantun Puspa Dewi dan Minah Gadis Dusun itu memiliki banyak penggemar dari beragam kalangan lintas generasi.

  • Abu Bakar, Pianis Hitler dari Indonesia

    HITLER sering menggelar konser pribadi di rumah peristirahatannya di Obersalzberg. Dia memiliki pianis, Ernst Hanfstaengl, anak dari Franz Hanfstaengl, pengusaha penerbitan di Jerman dan Amerika Serikat, yang sering membantu keuangan Hitler termasuk menerbitkan bukunya, Mein Kampf . Bahkan, Hitler dikabarkan menikahi anak perempuan Franz, Erna Hanfstaengl. Namun, Hitler membantah dan mengatakan “aku hanya kawin dengan seluruh rakyat Jerman.” Ernst pernah studi di Universitas Harvard dan berteman dengan Franklin D. Roosevelt. Mereka anggota New York Harvard Club. Ernst lulus kuliah tahun 1909 dan melanjutkan usaha ayahnya di Amerika Serikat. Dia menikah dengan Helene Niemeyer, seorang Amerika berdarah Jerman. Pada 1919, Ernst kembali ke Jerman dan menjadi doktor ilmu filsafat dari Universitas Muenchen. Hitler menunjuk Ernst sebagai kepala Biro Pers Luar Negeri di Amerika karena relasinya yang bagus.

  • Amin al-Husseini, Hitler, dan Tentara Muslim-Nazi

    30 APRIL 1941. Hitler mengirim surat balasan kepada Raja Farouk –raja kesepuluh dari Dinasti Muhammad Ali, yang menggantikan ayahnya, Fuad I, pada 1936– dari Mesir. Surat itu antara lain berisi pernyataan bahwa Hitler, “dengan senang hati akan mempertimbangkan satu kerjasama yang lebih erat,” sebagaimana dikutip John Roy Carlson dalam Cairo to Damascus . Hitler lalu meminta Farouk mengirim seorang agen rahasia resmi ke tempat “netral” untuk mendiskusikan kerjasama tersebut. Tempat yang disarankan Hitler: Bukares, Rumania, atau Ankara, Turki. Saat itu Perang Dunia II sedang berlangsung. Serupa dengan masa-masa sebelumnya, persaingan antarideologi mendominasi. Ideologi pula yang melatarbelakangi kerjasama Hitler dan Muslim.

  • Neraka Hitler di Stalingrad

    SUATU tempat di barat Rusia, 129 tahun pasca-invasi Napoleon Bonaparte ke negeri itu. Suasana tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Serdadu Tentara Merah di pos perbatasan tetap berjaga seperti biasa hingga sesuatu yang ganjil terjadi sekitar pukul 03.30 tanggal 22 Juni 1941. “Beberapa saat sebelum subuh 22 Juni 1941, serdadu patroli dan pos jaga terluar front barat Uni Soviet mencatat ada sesuatu yang janggal terjadi di langit. Bintang-bintang aneh terlihat di kejauhan, melintasi wilayah-wilayah Polandia yang telah direbut Nazi, menerangi garis langit sebelah barat,” tulis Sergei Smirnov dalam Heroes of Brest Fortress. Para serdadu jaga Rusia itu tak menyangka bahwa “bintang aneh” yang mereka lihat adalah cahaya dari pesawat-pesawat Jerman. Meski banyak mendapat penentangan, termasuk dari Jenderal Gerd von Rundstedt, Jerman melancarkan Operasi Barbarossa. “Dunia akan menahan nafas,” kata Hitler.

  • Membidik Nyawa Panglima Perang Asia Timur Raya

    HARI sudah menjelang senja ketika Letnan Mitsuyoshi Hamasuna memimpin satu peleton pasukan patroli masuk ke rimba di utara Buin, Pulau Bougainville, Papua Nugini pada 19 April 1943. Begitu tiba di lokasi pesawat jatuh yang sejak pagi ia lacak, perwira muda dari Angkatan Darat (AD) ke-17 Jepang itu terperangah. Tak disangkanya itu pesawat Jepang. Sehari sebelumnya, 18 April, ia memang melihat sebuah kepulan asap dari posnya. Tapi ia mengira ada pesawat Amerika Serikat yang jatuh hingga kemudian membawa 12 anak buahnya untuk melacaknya ke dalam hutan. Rupanya, pesawat jatuh yang ditemukan Hamasuna adalah pesawat pembom medium Mitsubishi G4M “Betty”. Pesawat bernomor registrasi 323 itu milik kesatuan Kōkūtai 705 (Grup Udara 705) AL Jepang. Yang lebih mengagetkannya adalah, jasad yang ada di dalamnya adalah panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto beserta jasad para bawahan sang panglima: Laksamana Pertama Rokorou Takata, Letkol Kurio Toiban, dan Letkol Noburu Fukusaki.

  • Perdana Menteri Israel: Pemimpin Muslim Palestina Ada di Balik Holocaust, Bukan Hitler

    PERDANA Menteri Israel Benyamin Netanyahu membuat pernyataan kontroversial. Dalam pidatonya di hadapan peserta kongres zionisme sedunia di Yerusalem, Selasa, 20 Oktober 2015 dia mengatakan Adolf Hitler bukan orang yang memerintahkan pembunuhan massal warga Yahudi di Eropa. “Hitler hanya ingin mengusir warga Yahudi dari Jerman,” kata Netanyahu dalam pidatonya. Rencana Hitler itu disampaikan kepada Husseini saat mereka bertemu pada 25 November 1941, di Berlin, Jerman. Namun ide tersebut, demikian kata Netanyahu, ditentang oleh Mufti Agung Palestina Mohammad Amin al-Husseini, pemimpin tertinggi muslim di Palestina pada 1921-1948.

  • Empat Prasasti Tarumanagara (Bagian II)

    TANPA mengenal hari dan waktu, perlintasan Bulan-Bulan di Kota Bekasi senantiasa ramai dengan pengendara dan warga dari dan menuju Stasiun Bekasi. Tak jauh di arah timur, tiga jembatan rangka bajanya di atas Kali Bekasi juga dilintasi berbagai macam keretaapi. Kali Bekasi jadi saksi bisu sibuknya masyarakat lintas peradaban. Di sanalah satu dari sedikit “warisan” peradaban Tarumanagara berada, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Tugu. Dalam prasasti itu, nama tua Kali Bekasi adalah Sungai Candrabhaga. Kali Bekasi yang membentang sekitar 35 kilometer panjangnya, bermula dari tempuran Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas di kawasan antara Bojong Kulur (Kabupaten Bogor) dan Jatiasih (Kota Bekasi). Sedangkan titik akhirnya di saluran inspeksi Cikarang Bekasi Laut (CBL) –yang dibangun sekitar 1970-an– di sekitar kawasan Babelan, Kabupaten Bekasi. Di masa Tarumanagara, Sungai Candrabhaga yang digali pada era Raja Purnawarman (memerintah 395-434 Masehi) dari daerah pedalaman langsung ke laut.

  • Rumor Doppelgänger Hitler (Bagian I)

    HARI-hari terakhir Perang Dunia II di Eropa diliputi berbagai cerita yang memicu munculnya teori konspirasi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah rumor tentang kembaran Adolf Hitler, diktator Jerman pemimpin Nazi. Rumor mengenai doppelgänger  atau kembaran Hitler berkembang luas ketika pasukan Soviet merangsek masuk ke wilayah Berlin. Setelah memenangkan pertempuran, mereka berusaha mencari keberadaan Hitler sebagai legitimasi atas keberhasilan mengakhiri Perang Dunia II. Pencarian pemimpin Nazi itu membawa Soviet ke taman Kantor Kanselir Reich pada 2 Mei 1945. Robert J. Hutchinson dalam What Really Happened: The Death of Hitler menyebut Letnan Kolonel Ivan Klimenko, tentara Soviet dari unit kontraintelijen SMERSH (akronim Rusia untuk Kematian bagi Para Mata-mata), tiba di taman Kantor Kanselir Reich pada awal Mei. Dia dibantu seorang warga Jerman, melihat jenazah propagandis Nazi Joseph Goebbels dan istrinya, Magda, yang hangus terbakar namun masih dapat dikenali dengan jelas, tergeletak di dekat pintu masuk. Di lain tempat, pasukan Soviet menemukan jenazah anak-anak Goebbels di Vorbunker. “Fotografer Soviet mengambil foto-foto detail jenazah-jenazah tersebut di taman Kantor Kanselir Reich, lalu para tentara membawa jenazah-jenazah itu ke Penjara Plotzensee yang terletak di dekat sana, tempat pasukan Soviet mendirikan pos komando. Pasukan Soviet baru saja menangkap Hans-Erich Voss, seorang petinggi Nazi yang meninggalkan bunker... Pasukan Soviet segera mengetahui bahwa Voss merupakan bagian dari staf Laksamana Dönitz sehingga mereka membawanya kembali ke Fuhrerbunker untuk mencari jenazah Hitler,” tulis Hutchinson. Saat berjalan melalui area taman, Voss melihat jenazah seorang pria dengan kumis pendek mirip Hitler. Jenazah tersebut memiliki luka di bagian kepala akibat tembakan di dahi. Voss kemudian memberikan informasi kepada pasukan Soviet bahwa jenazah pria itu mungkin mantan pemimpinnya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah penilaiannya itu benar. Jawaban Voss yang kurang meyakinkan membuat Klimenko kembali ke penjara untuk menanyakan keberadaan Hitler kepada perwira Jerman. Beberapa di antaranya dibawa ke area bunker. “Sebagian besar dari mereka membantah bahwa pria yang tewas itu adalah Hitler. Namun, foto jenazah tersebut –yang diduga sebagai jenazah Gustav Weler, doppelgänger  Hitler– ditayangkan dalam film berita yang dirilis oleh Soviet. Oleh karena itu, selama beberapa hari, ada laporan berita bahwa Soviet telah menemukan jenazah Hitler,” tulis Hutchinson. Klimenko mengira jenazah pria yang ditembak di dahi itu adalah Hitler, sehingga ketika seorang prajurit Soviet memberitahunya bahwa dia menemukan jenazah pria dan wanita yang terbakar parah dan terkubur di area dekat pintu keluar Fuhrerbunker, tak jauh dari jenazah Joseph Goebbels dan Magda, Klimenko memerintahkan anak buahnya itu menguburkan kembali jenazah tersebut. Pemimpin Soviet Josef Stalin berambisi untuk mengetahui keberadaan Hitler, hidup atau mati. Sehingga, Klimenko dan para pejabat militer Soviet menugaskan anak buahnya untuk mencari dan mengidentifikasi orang atau jenazah yang diyakini sebagai Hitler. Klimenko menghubungi mantan atase pers Soviet di Kedutaan Besar Berlin, Andrei Smirnov, yang pernah mengenal Hitler secara pribadi. Dia dibawa ke bunker untuk memeriksa mayat yang ditembak di dahi. Beberapa jenderal berkumpul di sekitar mayat tersebut, yang kini dipindahkan ke sisa-sisa bangunan Reich Chancellery yang hancur akibat bom. Setelah melihat jenazah tersebut, Smirnov bersikeras bahwa jenazah tersebut bukan Hitler. Pernyataan itu semakin menguatkan pandangan bahwa Hitler memiliki doppelgänger atau sosok pengganti untuk menyesatkan lawannya. Sosok pengganti atau doppelgänger dianggap umum khususnya berkaitan dengan keamanan seorang pemimpin negara. Menurut Arthur H. Mitchell dalam Hitler’s Mountain: The Fuhrer, Obersalzberg and the American Occupation of Berchtesgaden , perwira Britania Raya Bernard Montgomery dan Dwight Eisenhower , mantan presiden Amerika Serikat yang pernah menjadi komandan tertinggi pasukan Sekutu di Eropa Barat dalam Perang Dunia II, memanfaatkan sosok yang mirip dengan mereka untuk kepentingan keamanan dan propaganda. “Sebelum D-Day, Letnan Clifton James menyamar sebagai Monty (julukan Montgomery, red .), dan dengan proses seremoni yang telah ditentukan, terbang dari Inggris ke Gibraltar, lalu ke Aljir. Hal ini dilakukan untuk memberi kesan bahwa Sekutu sedang mempersiapkan invasi ke Prancis Selatan. Selama Pertempuran Bulge pada Desember 1944, dengan beredarnya rumor bahwa pasukan pembunuh Nazi sedang memburu Eisenhower , Letnan Kolonel Baldwin B. Smith mengambil alih identitas Ike (panggilan Eisenhower, red. ) selama beberapa hari,” tulis Mitchell. Taktik dan strategi untuk menyesatkan musuh di masa perang membuat spekulasi doppelgänger Hitler bermunculan di koran-koran Amerika Serikat dan Inggris. Mereka berpandangan bahwa Führer menggunakan sosok pengganti untuk menghindari penangkapan atau kematian. Kabar mengenai doppelgänger Hitler tak hanya muncul ketika pasukan Soviet mencari jenazahnya. Jauh sebelum itu, pernah ada surat kabar yang memberitakan tentang penggunaan body double atau sosok yang mirip dengan Hitler untuk menyesatkan informasi dan mata-mata musuh, meski kebenarannya diragukan dan berujung menjadi teori konspirasi.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page