Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tiga Menteri Keuangan Terbaik Indonesia di Dunia
UNTUK ketiga kalinya World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), mendaulat satu menteri sebagai Best Minister in the World Award atau Penghargaan Menteri Terbaik Dunia. Indonesia patut berbangga karena tahun ini penghargaan itu jatuh kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Sebelumnya, penghargaan itu diberikan kepada Menteri Lingkungan Australia Greg Hunt pada 2016 dan Menteri Kesehatan dan Sosial Senegal Awa Marie Coll-Seck pada 2017. Emir UEA merangkap Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA, Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, menyerahkan penghargaan itu kepada Sri Mulyani pada Minggu, 11 Februari 2018. Presiden Joko Widodo turut berbangga dan menyalami langsung Sri Mulyani pada rapat kabinet di Istana Negara, Senin, 12 Februari 2018. World Government Summit menilai Sri Mulyani mampu mengurangi 40 persen angka kemiskinan di Indonesia dalam lima tahun terakhir, memangkas ketimpangan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja yang luas, peningkatan tiga persen perekonomian secara transparan, mengurangi 50 persen utang Indonesia, serta peningkatan cadangan devisa tertinggi dalam sejarah Indonesia senilai 50 juta dolar Amerika.
- Anti Serangan Rudal Israel dalam Pesawat Kepresidenan
Otobiografi Presiden Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, dibuka dengan pembahasan keberhasilan Indonesia swasembada beras setelah lama menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Indonesia pernah mengimpor lebih dari dua juta ton beras. Akhirnya, pada 1984 petani Indonesia berhasil memproduksi beras lebih dari 25,8 juta ton, bandingkan dengan tahun 1969 yang hanya 12,2 juta ton. Soeharto pun diundang untuk memaparkan keberhasilannya dalam konferensi ke-23 FAO (Badan Pangan dan Pertanian PBB) di Roma, Italia, pada 14 November 1985. Sedangkan wakil dari negara maju ditunjuk Presiden Prancis Francois Mitterand.
- Ujung Hayat Kaisar Terakhir Jerman di Pengasingan
LANGIT di atas Doorn, Belanda, cerah musim panas 9 Juni 1941 itu. Ratusan pelayat berkumpul di aula makan Huis Doorn (Wisma Doorn) yang diubah jadi tempat persemayaman. Satu per satu menghaturkan doa dalam hati untuk mendiang Wilhelm II, der kaiser terakhir Jerman, yang dibaringkan di peti terbuka lengkap dengan seragam militer dan sejumlah medalinya serta atribut panji era kekaisaran. Wilhelm II menghembuskan nafas terakhirnya pada 4 Juni 1941 di usia 82 tahun. Sang kaisar wafat karena penyakit pulmonary embolism atau penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru di akhir masa pengasingannya. Para pelayat yang hadir di antaranya Reichkomissar di wilayah pendudukan Belanda, Arthur Seyss-Inquart; perwakilan Oberkommando des Heeres (OKH/Komando Tinggi AD Jerman) Generaloberst Curt Haase; Wehrmachtbefehlshaber (Panglima Tertinggi Tentara Jerman) di Belanda, General der Flieger Friedrich Christiansen; dan Komandan Abwehr (dinas intelijen militer Jerman) Laksamana Wilhelm Canaris. Generalfeldmarschall August von Mackensen, veteran Perang Dunia I kesayangan mendiang kaisar, bahkan datang langsung dari Dortmund.
- Tiga Maestro Pantomim Bertandang ke Indonesia
TIDAK hanya di atas panggung, seni pantomim juga bisa berkembang lewat layar lebar dan layar kaca. Aktor pantomim senior Septian Dwi Cahyo pernah mempopulerkannya kurun 1996-2003 lewat karakter Den Bagus –penampilannya mirip karakter Charlie Chaplin yang berkumis tebal dan mengenakan jas lengkap dengan topi bowler-nya– di acara komedi Spontan yang ditayangkan SCTV. Siapa yang tak mengenal Charles Spencer ‘Charlie’ Chaplin? Sosok kelahiran London, 16 April 1889 itu melejit berkat penampilan komikal slapstick nan satirnya di sejumlah film bisu pada awal abad ke-20, seperti The Tramp (1915), The Gold Rush (1925), dan The Great Dictator (1940). Lantaran ketiadaan dialog dalam film bisu di era itu, laku Chaplin dengan banyak gerak estetik alias dengan seni pantomim tentu mengocok perut para penontonnya. Toh sebelumnya ia pentas di panggung teater dengan berpantomim.
- Kritik Lewat Aneka Gerak Estetik
HUJAN yang mengguyur Cikini, Jakarta Pusat perlahan reda Senin sore itu. Beberapa mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berteduh di sebuah ruangan semi-terbuka dekat Masjid Amir Hamzah mulai membubarkan diri. Ruangan Teraseni itu bidang-bidang tembok dan pilar-pilarnya sarat karya mural dan pesan-pesan tentang seni. “Seni itu interpretasi dan ekspresi emosi jiwa yang selalu merakyat,” bunyi pesan di salah satu pilarnya. “Seni itu sederhana: goreng, angkat, lalu tiriskan,” bunyi pesan di sisi pilar lainnya. Ada juga pesan sederhana namun menohok: “Tolong sampah dibuang pada tempatnya. Jangan ditinggalin di areal sini!” Pesan dengan tulisan kecil itu sepertinya paling sering diabaikan. Pasalnya kondisi lantai Teraseni tak hanya dikotori serakan guguran dedaunan dari barisan pohon yang tertiup ke situ tapi juga sisa-sisa gelas plastik.
- Berpulangnya Yayu Unru, Aktor Watak yang Bersahaja
MENGENAKAN jaket biru tua dan topi warna senada, Yayu Unru mengangkat tangan tinggi-tinggi saat kami, penulis dan juru foto Historia, menyusuri jalan setapak di dalam kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia sudah menanti dengan sabar di anak tangga di muka Teater Luwes. Kebetulan juru foto Historia kala itu, Fernando Randy, satu dari sekian mantan mahasiswa Yayu di IKJ. Tak ayal tegur sapa kami begitu hangat. Segera ia menawarkan kopi yang ia pesan sendiri via aplikasi online sebagai penawar lelah dan udara dingin pasca-hujan di petang itu, 10 Desember 2022. Seiring obrolan pembuka secara off the record sebelum kami menyiapkan alat rekam, Yayu meluangkan waktu untuk bicara soal seni pantomim yang digelutinya di kampus IKJ pada awal 1980-an. Padahal sehari sebelumnya ia baru kembali ke tanah air setelah mengerjakan sebuah proyek syuting di luar negeri. Namun antusiasmenya mengalahkan rasa lelahnya, mengingat ia besar dari seni pantomim yang belakangan mungkin asing bagi sebagian besar generasi muda sekarang.
- Mementaskan Pantomim di Hadapan Jenderal hingga Pemabuk
KAMPUS Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sepi Sabtu, 10 Desember 2022petang itu. Hujan belum lama reda tapi sejuknya hawa masih tersisa. Suasana itu mengiringi perasaan sendu aktor watak Andi Wahyuddin Unru alias Yayu Unru saat mengingat dua sosok almarhum senior sekaligus mentornya dalam seni peran, khususnya mime atau pantomim: Sena Adiatmika Utoyo dan Didi “Petet” Widiatmoko. Yayu terduduk di ujung anak tangga di muka Teater Luwes. Di sisi kanan bidang tembok teater itu menampakkan wajah Sena A. Utoyo dalam bentuk mozaik yang terbuat dari lakban hitam sederhana, lengkap dengan tanggal lahirnya, 7/7/53 (7 Juli 1953) dan tanggal wafatnya, 7/11/98 (7 November 1998). Mozaik serupa di sebelah kiri dari pintu utama teater membentuk wajah Didi Petet, juga dengan tahun kelahiran, 1956, dan tahun mangkatnya, 2015. Keduanya merupakan aktor cum dosen IKJ yang mendirikan salah satu kelompok yang mempopulerkan seni pantomim di Indonesia pada era 1980-an, Sena Didi Mime (SDM).
- Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (2)
DESEMBER 1948, Belanda memutuskan untuk tidak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Keputusan tersebut diikuti dengan aksi penyerangan militer mereka ke Yogyakarta hingga menguasai ibu kota RI itu. Sukarno-Hatta dan para menterinya pun ditawan. Militer Indonesia merespon penyerangan tersebut dengan Perintah Kilat yang dikeluarkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Salah satu turunan dari perintah itu adalah memulangkan Divisi Siliwangi ke Jawa Barat guna mengobarkan kembali perang semesta melawan Belanda. Menurut Syarif Hidayat, Ajengan Yusuf Tauziri sudah memperkirakan Belanda akan mengingkari Perjanjian Renville dan Divisi Siliwangi akan dipulangkan kembali ke Jawa Barat. Karena itu, dia kemudian memerintahkan kepada para pengikutnya untuk bersiap menyambut kedatangan mereka.
- Kartosoewirjo Hampir Tertangkap
JENDERAL TNI A.H. Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, menerima telepon dari Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie, Panglima Divisi Siliwangi, yang melaporkan bahwa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, imam DI/TII, terlah ditangkap. Besoknya, Nasution terbang ke Bandung. Dia bersama Ibrahim Adjie pergi ke Cipanas untuk menyaksikan dan mendengar laporan peristiwa penangkapan Kartosoewirjo. "Saya mendengar laporan terperinci," kata Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5. Termasuk laporan tentang Kartosoewirjo yang pernah hampir tertangkap.
- Mula Lorem Ipsum
“LOREM ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit...” Sering mendapati penggalan kalimat nonsense ini? Tak perlu Anda menerjemahkannya, karena rangkaian kata-kata itu tak ada maknanya. Kalimat zonder arti itu seringkali kita dapati di sekolah, kampus, ataupun berbagai tempat kerja. Gunanya sebagai peraga penempatan teks dan lazim digunakan agar si pembuat atau penanggap lebih fokus kepada desain tata letak, bukan terhadap isi tulisan atau makna kata-kata peraganya. “Kata-kata itu sudah digunakan mungkin sejak adanya kemajuan (teknologi) percetakan, dan sejatinya berasal dari penggalan kalimat Latin karya Cicero. Teks itu menyalin karya Cicero yang hilang awalan katanya atau beberapa diacak (susunan katanya) atau dibuat salah ejaannya,” ungkap pakar bahasa Latin, Simon R.H. James, dalam A Smattering of Latin.
- Penulis Sunda dengan Nama Pena Tionghoa
MAS “Kanduruan” Kartaatmaja adalah seorang mantri guru, sebuah jabatan yang sangat dihormati di era kolonial. Ia punya istri bernama Raden Ratna Soerasti. Darinya, Mas Kunduruan mendapatkan beberapa anak. Mulai dari Anih, Djakaria, Uang Ranuatmadja, Imi Soeratmi, Daeng Soetigna, Onong Siti Soehara, Oeteng Soetisna, dan Oejeng Soewargana. Keluarga mereka terakhir tinggal di Pangandaran. Kala itu, Pangandaran hanyalah kota kecil. Sarana dan prasarana terbatas, bahkan kurang. Termasuk akses pendidikan. “Ketika itu di Pangandaran belum ada sekolah, bahkan antara Parigi dan Cijulang pun belum ada sekolah. Kartaatmadja sebagai mantri guru kemudian membuka sekolah di Pangandaran. Ia rajin ke desa-desa untuk mencari murid agar anak-anak desa mau bersekolah. Hasilnya cukup mendapat perhatian dan maju sehingga ia mendapat anugerah gelar Kanduruan Kartaatmadja,” tulis Helius Sjamsuddin dan Hidayat Winitasasmita dalam Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia. Kondisi tersebut membuat seseorang yang ingin maju mau tak mau mesti ke Bandung sebagai pusat di Jawa Barat. Di sanalah pendidikan yang lebih baik bisa didapat. Maka ke Bandunglah Daeng Soetigna dan adik-adiknya belajar. Salah satu adik Soetigna, yakni Oejeng, terbilang sangat cerdas. Ia pernah bersekolah di Hollandsch Inlandsch Kweekschool (HIK) Bandung dan lulus tahun 1938.
- Kembali ke Sunda Kelapa
SEJAK pukul 8.00 WIB tanggal 15 Juli 2024 KRI Dewaruci, yang digandeng dua kapal tarik, mulai terlihat dari kejauhan memasuki alur dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamal), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sekitar pukul 08.23 WIB, kapal layar antik Angkatan Laut itu mulai terlihat di lapangan dermaga Kolinlamil. Musik militer pun berkumandang menyambutnya. Begitulah sambutan terhadap KRI yang 38 hari silam meninggalkan dermaga Kolinlamil. Pada 7 Juni 2024, KRI yang dikomandani Letnan Kolonel Ronny Lutviadhani itu beranjak dari Kolinlamil dengan membawa Laskar Rempah, awak media, peneliti, dan undangan lain dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) Batch 1 dengan rute ke Belitung Timur dan Dumai. Dari Dumai, Dewaruci membawa Batch 2 menuju Sabang, Malaka, dan Tangjung Uban. Kini, KRI legendaris itu membawa peserta Muhibah Batch 3 dari Tanjung Uban dan Lampung dengan selamat.





















