top of page

Hasil pencarian

9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Keluarga KS Tubun Setelah G30S

    Pada malam 30 September 1965,   Margaretha Wagina sedang berada di rumah bersama anak-anaknya. Suaminya sedang bertugas di kota yang berbeda dengannya. Wagina ingat bagaimana dulu berkenalan dengan suaminya pada 1954. Waktu itu, dia tinggal di rumah saudaranya yang menjadi suster di Jakarta. Lalu, ia berkenalan dengan seorang perempuan yang bertunangan dengan anggota Brigade Mobil (Brimob). Wanita itu mengajak Wagina berfoto. Ia mengirimkan foto itu ke tunangannya yang sedang bertugas di Aceh. Foto itu tidak hanya dilihat tunangannya, tapi juga kawannya   yang sama-sama bertugas sebagai Brimob di Aceh. Kawan itu bernama Karel Sadsuitubun, yang dikenal dengan Karel Tubun atau KS Tubun. Kedua anggota Brimob itu pulang dari Aceh sekitar 1954. Wagina berkenalan secara langsung dengan KS Tubun. “Kami bergaul (berpacaran, red .) cukup lama yaitu lima tahun. Selama bergaul itu, Karel sering beroperasi di daerah, sehingga saya katakan bahwa kita tidak bisa terus-menerus begini. Sebab itulah akhirnya kami menikah dan dikaruniai 3 anak,” kata Wagina dalam   majalah Kartini  No. 25 tahun 1975. KS Tubun pernah terlibat dalam penumpasan PRRI dan operasi perebutan Irian Barat.n 1975. KS Tubun pernah terlibat dalam penumpasan PRRI dan operasi perebutan Irian Barat. Baca juga:  Profil Pahlawan Revolusi: Ahmad Yani, Jenderal Brilian Pilihan Sukarno yang Berakhir Tragis Pada malam 30 September 1965 jelang 1 Oktober 1965, KS Tubun sedang bertugas menjaga rumah Wakil Perdana Menteri dr. Johannes Leimena di Menteng, Jakarta Pusat, yang terletak di sebelah rumah Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Kala itu,KS Tubun sudah berpangkat Brigadir Polisi. Dia berjaga bersama Lussy dan Lubis. Frans Hitipeuw dalam Karel Sadsuitubun menyebut Lussy berjaga di bagian belakang rumah, sedangkan Lubis dan KS Tubun berjaga di bagian depan. Jelang pukul 4 subuh, gerombolan berseragam dan bersenjata di bawah pimpinan Pembantu Letnan Dua Djaharup merangsek ke rumah Nasution. Lussy yang berada di dalam rumah melihat kedatangan gerombolan itu. Dia bersabar dengan tidak menembak gerombolan itu agar Leimena tidak terancam. Beberapa anggota gerombolan lalu menyatroni bagian depan rumah Leimena. Mereka melucuti Lubis. Baca juga:  Profil Pahlawan Revolusi: Pierre Tendean, Ajudan Tampan yang Setia Sampai Akhir Sementara itu, KS Tubun yang sedang dapat giliran tidur dibangunkan dengan kasar oleh gerombolan itu. “Karel Sadsuitubun terbangun dan ia melihat yang ada di depannya bukan kawannya. Maka Karel terus melompat langsung berkelahi dengan anggota gerombolan PKI itu,” tulis Hitipeuw. A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 6 Masa Kebangkitan Orde Baru menyebut KS Tubun berhadapan dengan delapan orang prajurit Angkatan Darat terlatih yang ikut Gerakan 30 September. KS Tubun kelahiran Tual, Maluku Tenggara,14 Oktober 1928, dan sudah berkarier di kepolisian selama 14 tahun tewas ditembak gerombolan itu. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Pangkatnya dinaikkan dari Brigadir Polisi menjadi Ajun Inspektur Polisi II. Ia dijadikan Pahlawan Revolusi dan nama jalan salah satunya di depan kantor Historia.ID di Slipi, Jakarta Barat. Baca juga:  Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara Setelah pagi 1 Oktober 1965, kabar kematian KS Tubun sampai ke Wagina. Ia sedih dan kehilangan tapi harus kuat untuk menjaga ketiga anaknya: Phillipus Sumarno, Petrus Indro Waluyo, dan Linus Paulus Suprapto. Paulus masih berumur satu tahun ketika ayahnya gugur dalam tugas. Suatu hari, ketika ia berusia lima tahun merengek kepada ibunya. “Ayo, Mak. Kita lihat Bapak?” desak Paulus. “Ya, sebentar dong, Mak kan berpakaian dulu,” kata Wagina. “Cepat sedikit, dan kasihan Bapak menunggu,” desak Paulus lagi. Mereka lalu tiba di Kalibata. Tepat di pusara ayahnya, Paulus yang masih bocah bertanya,“Bapak dimana ya, Mak?” Baca juga:  Profil Pahlawan Revolusi: DI Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga Wagina tentu sulit mengatakan kepada anaknya bahwa ayahnya sudah lama pergi dari dunia ini. Ia tak kuat mengatakannya secara langsung. Tapi hari itu ia harus menunjukannya. “Ya di sini, di kuburan. Di dalam ini ada Bapak,” jawab Wagina dengan lemah lembut. Paulus pun bengong. Ia sudah tahu kuburan adalah tempat orang yang sudah mati. “Kalau begitu Bapak sudah mati?” tanya Paulus. Wagina mengiyakan. Paulus bertanya lagi, “Kalau begitu Bapak sudah mati?” Wagina hanya bisa mengangguk karena sedih. Begitulah kesedihan Wagina dan anak-anaknya. Wagina kembali merasakan kesedihan ketika pada 1970-an Petrus mengutarakan keinginanmenjadi polisi seperti ayahnya dan Paulus ingin jadi tentara. Setelah kematian KS Tubun, Wagina dan anak-anaknya harus meninggalkan Kedunghalang, Bogor. Sejak 1974 , mereka tinggal di sebuah rumah kavling yang dihadiahkan kepada keluarga ini di Jelambar, Jakarta. Jauh setelah kepergian KS Tubun , Wagina sering didatangi lewat mimpi. Keluarga penganut Katolik ini berusaha pasrah akan perjalanan hidup mereka. *

  • How "The Tiger of Asia" Lost Its Claws

    A thick mustache and beard framed his wrinkled face. His stare is sharp. His voice is deep and firm. At the age of 79, I Gusti Kompyang Manila still harbors a great passion for Indonesian football, keeping his dream to return the national team to the glorious position it once possessed alive.

  • Robbie Coltrane dari Sketsa Komedi ke Semesta Harry Potter

    UNTUK kesekian kalinya, semesta Harry Potter yang menyihir jutaan penggemarnya berduka. Setelah pemeran Profesor Albus Dumbledore (Richard Harris) dan pemeran Profesor Severus Snape (Alan Rickman), kini giliran Robbie Coltrane, yang memerankan Rubeus Hagrid, menghadap Sang Pencipta. Coltrane wafat pada Jumat (14/10/2022) di Larbert, Skotlandia pada usia 72 tahun. Coltrane diketahui mengidap osteoarthritis atau radang kronis di sendi tulang rawan pada 2016. Sejak dua tahun terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan wafat di Rumahsakit Forth Valley Royal, Larbert, Skotlandia. Ia meninggalkan adiknya, Annie Rae; serta kedua anaknya, Spencer dan Alice. “Robbie seorang talenta yang unik, berbagi buku rekor Guinness dengan tiga kali berturut-turut memenangkan penghargaan aktor terbaik BAFTA bersama Sir Michael Gambon. Perannya sebagai Hagrid di film-film Harry Potter telah memberi kebahagiaan buat anak-anak dan fans dewasa di seluruh dunia. Aktor yang cerdas dan brilian. Saya akan merindukannya,” ungkap Belinda Wright, agen Coltrane selama 40 tahun, dikutip Daily Mail , Sabtu (15/10/2022). Baca juga: Obituari: Layar Lebar Chadwick Boseman Penulis Joanne Kathleen (JK) Rowling yang bukunya diadaptasi untuk franchise Harry Potter, menjadi salah satu orang terdekat yang terpukul. Ia menyampaikan belasungkawanya via akun Twitter -nya, @jk_rowling . “Saya tak pernah mengenal pribadi yang seperti Robbie lagi. Sosok yang tiada dua. Dia talenta yang luar biasa dan saya beruntung pernah mengenal dan bekerja bersamanya,” kata Rowling. Penulis Harry Potter Joanne Kathleen Rowling (kanan) saat bersama mendiang Robbie Coltrane (Twitter @jk_rowling) Para aktor kondang yang bermain di Harry Potter pun sama kehilangan. Daniel Radcliffe, yang memainkan peran utama Harry Potter, mengatakan punya banyak kenangan semasa satu frame di delapan seri franchise- nya. “Saya sangat bersyukur pernah bertemu dan bekerja dengan dia dan sangat terpukul mendengar ia tiada. Ia selalu bisa mengangkat moral kami dengan lelucon-leluconnya. Ia seorang aktor yang luar biasa dan pribadi yang menyenangkan,” ungkap Radcliffe dilansir CNN , Sabtu (15/10/2022). Aktris cantik Emma Watson yang memerankan Hermione Granger juga mengungkapkan kedukaan senada. “Robbie adalah paman paling menyenangkan yang pernah saya miliki. Tak heran ia memerankan karakter (setengah) raksasa karena ia mampu mengisi ruang dengan pribadinya yang brilian. Robbie, saya berjanji di set film akan selalu melakukan yang terbaik demi mengenang nama dan memori Anda,” ujar Emma. Baca juga: Obituari: Adieu , Jean-Luc Godard! Dari Panggung Teater hingga James Bond Coltrane lahir di Rutherglen, Skotlandia pada 30 Maret 1950 dengan nama Anthony Robert McMillan. Ia anak kedua dari pasangan Ian Baxter McMillan, dokter bedah forensik, dan Jean Ross Howie, guru musik sekaligus pianis. Sejak kecil, Coltrane lebih berminat mengikuti jejak ibunya di dunia seni ketimbang jadi dokter seperti ayahnya atau jadi pebisnis sukses sebagaimana kakek buyutnya, Thomas W. Howie. Setelah sekolah seni rupa di Glasgow School of Art, ia terjun ke seni peran dengan bergabung ke Traverse Theatre di Edinburgh pada 1978. Sejak itu pula ia menggunakan nama panggung “Coltrane”. “Coltrane adalah nama panggung saya yang saya ambil untuk menghormati pemain saksofon Jazz, John Coltrane yang menjadi pahlawan saya. Nama keluarga saya McMillan, salah satu klan dari dataran tinggi Skotlandia,” ungkap Coltrane dalam otobiografinya, Robbie Coltrane’s B-Road Britain. Baca juga: Obituari: Warna-warni Kehidupan Sean Connery Komedi di atas panggung seolah jadi pelarian bagi Coltrane. Meski tumbuh di tengah keluarga terpandang, masa remaja Coltrane disesaki banyak tragedi. “Coltrane yang sejak kecil dikenal dengan panggilan ‘Fat Rob’, menemukan komedi menjadi senjata terbaiknya. Tapi ceritanya tidak semua tentang tawa. Sejak remaja ia telah menderita, setidaknya karena dua tragedi. Pertama, kematian ayahnya karena kanker paru-paru. Kemudian adik perempuannya, Jane, melakukan bunuh diri,” tulis suratkabar The Herald , 14 September 2001. Robbie Coltrane (kanan) bersama para pengisi sketsa komedi Alfresco  (IMDb) Tak hanya memulai dari bawah sebagai aktor figuran, Coltrane juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir para direktur teater dan para aktor senior. Kerja kerasnya terbayar saat mendapat peran di serial komedi televisi, The Comic Strip Presents…, (1980-2016). Ia kemudian bermain dalam serial komedi sketsa Alfresco (1983-1984), di mana namanya mulai dikenal dan persahabatannya dengan para komedian muda lain yang kelak jadi legendaris, seperti Hugh Laurie dan Emma Thompson, dimulai. Sejak saat itu karier Coltrane sebagai komedian yang wara-wiri di serial televisi makin moncer. Beberapa di antaranya Tutti Frutti (1987) dan Blackadder the Third (1987) yang juga dibintangi Rowan Atkinson. Tawaran peran pendukung di sejumlah layar perak mengalir padanya, di antaranya film Henry V (1989), dia memerankan tokoh Sir John Falstaff; dan peran antagonis agen KGB Valentine Dmitrovich Zukovsky di franchise James Bond: Golden Eye (1995) dan The World is Not Enough (1999). Hingga akhir hayatnya, Coltrane tercatat bermain di 41 serial televisi. Di antara penghargaan yang pernah didapatnya adalah tiga piala BAFTA untuk aktor terbaik selama tiga tahun berturut-turut pada 1994-1996 untuk perannya di serial drama kriminal Cracker (1993-1995). Di layar lebar, Coltrane bermain di 55 film yang delapan di antaranya adalah franchise Harry Potter. Baca juga: Obituari: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Peran Robbie Coltrane di franchise  James Bond (Twitter @007) Pilihan Utama JK Rowling Sejak merampungkan buku pertama Harry Potter pada 1995 bertajuk Harry Potter and the Philosopher’s Stone , Rowling sudah menghadirkan tokoh Rubeus Hagrid. Sosok itu dibuatnya sebagai setengah raksasa setinggi 12 kaki (3,7 meter) karena  lahir dari ibu seorang raksasa, Fridwulfa, yang bersuami manusia biasa yang tak disebutkan namanya. “Hagrid karakter berambut hitam dan berjanggut yang saya ciptakan sejak hari pertama. Namanya berasal dari dialek bahasa Inggris lama. Kira-kira artinya, jika Anda ‘ hagrid’ , Anda akan mengalami malam yang buruk. Hagrid juga seorang peminum berat dan dia mengalami banyak malam yang buruk,” ungkap Rowling, dikutip Shringar Tiwari dalam Children’s Literature JK Rowling’s Mastery in Portrayal of Characters in Harry Potter Series. Latarbelakang karakter Hagrid juga dibuat Rowling sebagai eks-golongan Gryffindor semasa ia bersekolah di Hogwarts. Setelah dikeluarkan dari Hogwarts, tongkat sihirnya dipatahkan karena suatu kasus kecerobohan. Baca juga: Momok Nazi dan Mitos Indonesia dalam Fantastic Beasts Akan tetapi, kemudian oleh Profesor Dumbledore, Hagrid diperbolehkan tetap berada di sekitar Hogwarts sebagai penjaga sekolah dan merawat makhluk-mahkluk ajaib. Karena menjadi loyalis Dumbledore, Hagrid cepat akrab dengan Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger. Tak selamanya Hagrid bisa diandalkan karena kecerobohannya. Harrid digambarkan acap membawa sebuah payung usang. Payung itu sedianya menyembunyikan tongkat sihirnya yang ia perbaiki seadanya. Meski terkadang masih bisa melakukan sihir, ia tetap tak mampu melayangkan mantra “Expecto Patronum” untuk menolak makhluk jahat. Robbie Coltrane yang terlibat dalam delapan  franchise Harry Potter (Warner Bros) Ketika Harry Potter and the Philosopher’s Stone (di luar Inggris bertajuk Harry Potter and the Sorceres’s Stone ) akan difilmkan Warner Bros pada 1997, Rowling ikut memberi sumbang saran mengenai siapa-siapa yang akan memerankan masing-masing karakternya yang ditetapkan semua harus aktor Inggris. Khusus pemeran Hagrid, Rowling tak pernah punya opsi lain yang paling pas dan cocok selain Coltrane. “Para pemerannya ibarat dream cast tapi yang menjadi top list adalah Robbie Coltrane untuk (peran) Hagrid dan Maggie Smith untuk (Profesor Minerva) McGonagall. Saya pikir semua orang yang mengenal bukunya dan para aktornya akan setuju dengan saya. Robbie sempurna karena Hagrid karakter yang mudah disukai, dicintai, sedikit komikal tapi juga mesti punya sense bahwa dia sosok yang keras dan Robbie melakukannya dengan sempurna,” kata Rowling kepada The Telegraph , 4 November 2001. Baca juga: Obituari: Pelaut yang Menaklukkan Hollywood Selain mesti melakukan penyesuaian efek visual untuk menjadikannya seorang raksasa, Coltrane juga harus lebih menggali karakternya yang mencintai anak-anak agar  lebih relevan. Itu jadi kunci karakter Hagrid sebagaimana yang ingin ditonjolkan dari buku Rowling. Kesuksesan perannya berbanding lurus dengan meledaknya Harry Potter. Dimulai dari Harry Potter and the Philospher’s Stone (2001), berlanjut ke Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Harry Potter and the Goblet of Fire (2005), Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009), Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010), serta Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011). Pada 2006, Coltrane dianugerahi medali OBE (Officer of the Order of the British Empire) oleh Kerajaan Inggris untuk dedikasinya pada seni peran. Lima tahun kemudian, giliran anugerah kehormatan BAFTA Scotland Awards yang diterimanya. “Anak-anak menyukai Hagrid karena dia besar dan kuat dan ramah dan itu yang diinginkan anak-anak. Mereka menginginkan seseorang yang bisa melindungi mereka dan seseorang yang bisa berperilaku baik terhadap mereka. Dan banyak anak-anak di dunia nyata tidak punya sosok seperti itu dalam hidup mereka. Itu hal yang sangat menyedihkan,” tandas Coltrane, dikutip dari buku Harry Potter: Film Vault, Volume 11. Baca juga: Obituari: Akhir Hidup Si Pemeran Hitler

  • Warung Kopi Tertua di Indonesia

    Nongkrong sama teman rasanya tak lengkap tanpa ditemani kopi. Tak heran ngopi  jadi kegiatan favorit kaum urban baik anak muda maupun orang dewasa. Kedai-kedai kopi dengan beragam konsep mudah ditemukan di berbagai tempat di Jakarta. Salah satunya yang tertua adalah Kopi Warung Tinggi yang bermula dari warung nasi. Warung Tinggi didirikan oleh Liauw Tek Soen, seorang saudagar asal Cina. Ia melihat peluang usaha menjanjikan dari kopi yang menjadi komoditas andalan di Hindia Belanda. Ia kemudian mendirikan warung makan yang juga menyediakan kopi di kawasan Moolenvliet Oost (kini Jalan Hayam Wuruk) di Batavia. Bangunan warung didominasi kayu jati, berdiri di atas tanah seluas 500 meter, dan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian paling depan untuk berdagang, bagian kanan bangunan dijadikan warung nasi, sedangkan di bagian kiri untuk toko kelontong. Sementara itu, bagian tengah bangunan difungsikan menjadi tempat berdagang jahitan karya Liauw Tek Soen yang dikenal pandai menjahit. Warung itu menghadap ke Sungai Ciliwung dengan jembatan dari batang-batang pohon kelapa yang menghubungkan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada. Kala itu, kawasan Moolenvliet termasuk wilayah strategis karena penduduk kerap beraktivitas di Sungai Ciliwung. Selain itu, getek-getek bambu juga lalu-lalang sebagai alat transportasi masyarakat. Baca juga:  Sejarah Ritual Ngopi Hiruk pikuk aktivitas warga berdampak pada usaha Liauw Tek Soen. Toko kelontongnya kerap didatangi warga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Warung nasinya juga menjadi tujuan warga untuk mengisi perut setelah beraktivitas. Menyoal nama Warung Tinggi, Rudy Widjaja dalam Warung Tinggi Coffee: Kopi Legendaris Tertua di Indonesia, Sejak 1878  menulis, dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, warung Liauw Tek Soen tampak tinggi dan megah sehingga orang-orang sekitar menamainya berdasarkan ciri-ciri tersebut. Warung itu kian populer setelah Liauw Tek Soen menjual kopi pada 1878. Ia membeli biji kopi dari seorang pedagang wanita yang membawa kopi mentah menggunakan bakul –di kemudian hari pedagang wanita itu menjadi logo Kopi Warung Tinggi. Liauw Tek Soen mengolah sendiri biji kopi menggunakan kuali serta lesung dan alu. Kopi disangrai di dalam kuali besar berisi pasir. Setelah matang, biji kopi diayak sehingga terpisah dari pasir, lalu ditumbuk dengan lesung yang terbuat dari batu kali. Proses pengolahan kopi terbilang sederhana. Ia menggunakan kayu bakar untuk memanggang biji kopi. Guna memaksimalkan produksi kopi, ia merancang alat khusus yang mampu menggoreng lebih banyak biji kopi hingga matang secara merata. Baca juga:  Kopi yang Mengubah Eropa Setelah melalui berbagai proses, kopi pun disajikan kepada para pelanggan. Biasanya para pelanggan tak langsung meminumnya.Kopi yang masih mengepul itu ditutup dengan piring tatakan. Setelah rokok habis diisap barulah kopi dituang ke tatakan, ditiup-tiup lalu diseruput, dengan begitu ampasnya tidak ikut terminum. “Seperti inilah cara menikmati kopi yang sangat nikmat pada zaman tersebut,” tulis Rudy. Bisnis kopi yang dirintis Liauw Tek Soen kemudian diteruskan anak angkatnya, Liauw Tek Siong sejak tahun 1910. Mengutip Merek Jadul dan Kerawanan Generasi Ketiga terbitan Pusat Data Analisa Tempo, Liauw Tek Siong “dibeli” Liauw Tek Soen karena anak lelaki tunggalnya–yang keterbelakangan mental– dianggap tak mampu berdagang. Toko kopi Tek Sun Ho atau Tek Soen Hoo yang kemudian menjadi Kopi Warung Tinggi. (Dok. Rudy Widjaja) Bila mula-mula kopi hanya usaha sampingan dari warung nasi, di tangan Liauw Tek Siong yang dijuluki “sang pemula” produsen kopi perorangan di Indonesia, kopi dijadikan bisnis utama. Pada 1927, Liauw Tek Siong mendirikan pabrik sederhana bernama Tek Soen Hoo Eerste Weltevredensche Koffiebranderij atau Toko Tek Soen, Perusahaan Penggoreng Kopi Pertama di Weltevreden. Ia menggunakan nama Liauw Tek Soenuntuk menghormati dan mengenang ayah angkatnya. Toko yang mulai meracik kopi Luwak tahun 1940 ini juga dikenal dengan sebutan Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo. Ketegangan antara Belanda dan Jepang tahun 1942 berdampak pada Toko Tek Soen. Rudy menyebut situasi yang tidak aman membuat toko ini ditutup selama berbulan-bulan, sementara seluruh keluarga mengungsi ke Mega Mendung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri Liauw Thian Djie, putra sulung Liauw Tek Siong, berjualan kain keliling. Baca juga:  Rezim Kopi di Priangan Pada masa pendudukan Jepang, Toko Tek Soen kembali dibuka meski dengan cara meminjam kopi dari pengusaha lain yang dibayar belakangan. Setelah Indonesia merdeka, Liauw Thian Djie yang mewarisi bisnis kopi dari sang ayah, bertekad mengembangkan bisnis keluarga ini. Ia memulai dari kualitas kopi yang diproduksi tokonya. Menurut Rudy, anak kedelapan Liauw Thian Djie, ayahnyahanya membeli biji kopi berkualitas dari satu sumber di Pasar Pagi. Selain itu, ia juga memiliki cara unik memeriksa kadar air dalam biji kopi. “Beliau akan mengambil segenggam biji kopi, jika terasa dingin, berarti kadar air biji kopi tersebut besar; sebaliknya, jika sedikit hangat, berarti kadar airnya sedikit,” tulis Rudy. Toko Tek Soen mulanya hanya menjual satu jenis kopi yang dibungkus dalam kertas cokelat sederhana dan diberi cap. Bisnis kopi yang maju pesat pada 1950-an mendorong Liauw Thian Djie membeli mesin-mesin baru yang canggih. Salah satunyamesin goreng kopi buatan Belanda. Mesin bertenaga listrik ini berfungsi ganda, yakni menggoreng kopi dan alat pendingin. Baca juga:  Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa Selain itu, Liauw Thian Djie juga mulai menjual kopi racikan atau blend dengan mencampur beberapa jenis kopi. I a berhasil meracik lima jenis kopi bermutu tinggi yang menjadi andalan tokonya , yaitu Rajabica, Arabica Special, Arabica Super, Arabica Extra, dan Robusta. Pada 1960-an, Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo berganti nama menjadi Warung Tinggi. Setelah Liauw Thian Dhie tutup usia pada 1978, perusahaan dikelola oleh Rudy Wijaya bersama tiga saudaranya, yakni Darmawan, Suyanto, dan Yanti. Rudy membeli seluruh saham PT Warung Tinggi termasuk merek paten dan hak cipta dari saudara-saudaranya pada 1994. Ia kemudian membeli rumah di Jalan Daan Mogot untuk gudang dan pabrik kopi. Kerusuhan tahun 1998 berdampak pada usaha Warung Tinggi. Rumah dan pabrik kopi milik Rudy hancur. Bahkan, i a dan seluruh keluarganya mengungsi ke Singapura. Rudy membangun kembali Warung Tinggi pada 1999. Ia memindahkan pabrik kopi ke Tangerang . Pada 2001, generasi keempat me lanjutkan usaha keluarga ini dengan nama Bakoel Koffie. *

  • Candaan Bung Hatta dan Kawan-kawan di Bangka

    Setelah tiga hari ditawan pasukan Belanda di Gedung Agung Yogyakarta, pada 22 Desember 1948 Wakil Presiden Moh. Hatta bersama Presiden Sukarno, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Mr. Assaat, Mr. AG Pringgodigdo, dan Komodor Suryadarma diangkut dengan jip yang dikawal sekelompok serdadu bersenjata lengkap ke Lapangan udara Maguwo (kini Lanud Adisucipto). Mereka semua akan dibuang agar Republik Indonesia “musnah”. Dari Lapangan udara Maguwo, mereka diangkut menggunakan sebuah pesawat bomber  ke arah barat. Usai  singgah sejenak di Lapangan udara Cililitan (kini Lanud Halim Perdanakusuma), penerbangan mereka berlanjut tanpa diketahui tujuannya oleh seorang pun dari para pimpinan “Kiblik” yang ditawan itu. “Setelah kami naik kembali di bomber, kami lihat bomber itu terus terbang ke barat. Bomber itu mendarat di Pangkal Pinang. Lalu, diberitahukan oleh seorang pejabat orang Belanda bahwa di tempat itu diminta turun tuan-tuan, Mohammad Hatta, Mr. Assaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Tuan Suryadarma. Kami empat orang diturunkan di Bangka,” kata Bung Hatta dalam otobiografinya,  Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi . Dari Pangkal Pinang, Bung Hatta cs. lalu diangkut ke Muntok. Mereka ditempatkan di sebuah vila di Gunung Menumbing milik perusahaan tambang. Baca juga:  Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia “Gedung peristirahatan itu cukup luas dan bertingkat dua. Di luar gedung itu, di halaman yang sama, terdapat dua bungalow yang kecil, yang rupanya belum selesai dikapur. Waktu kami sampai di atas, sudah menunggu di sana Demang Abidin, Demang Muntok. Di situ ada pula seorang bekas kopral KNIL, orang Jawa. Sesudah ia pensiun ia bekerja pada Bangka Tin sebagai penjaga dan jongos di sana. Kepada kami ditunjukkannya kamar tidur kami,” sambung Bung Hatta. Setelah diperkenalkan kepada Demang Abidin dan seorang kontrolir Belanda lalu berbasa-basi sesaat, para pemimpin teras republik itu pun menjalani hari-hari pembuangan tanpa teman selain mereka berempat sendiri. Para serdadu pleton penjaga lokasi dilarang keras berkomunikasi apalagi bergaul dengan mereka. Namun, keterasingan mereka sedikit berkurang dengan bertambahnya kawan dua hari kemudian. Pada 1 Januari 1949, Ali Sastroamidjojo bersama Mr. Moh. Roem mengikuti mereka jadi penghuni rumah pembuangan Bangka. “Pagi-pagi benar kami diperintahkan untuk turut dengan seorang perwira Belanda naik jeep dan dibawanya kami ke jurusan Maguwo. Dengan cepat kami dimasukkan di dalam pesawat pembom B 26 yang segera terbang meninggalkan Maguwo. Dua orang serdadu kolonial bersenjata dengan sangkur terhunus menjaga kami. Kurang lebih satu setengah jam kemudian kami mendarat di lapangan terbang Bangka. Segera sesudah kami dimasukkan di mobil, maka dengan dikawal oleh sekelompok serdadu-serdadu berbaret merah itu kami dibawa ke Menumbing. Jalannya ke situ meliwati hutan dan kurang lebih 45 menit kemudian kami sampailah di tempat itu. Segera kami melihat Bung Hatta, Mr Assaat, Komodor Suryadarma dan Mr. A.G. Pringgodigdo sudah berada di itu. Mereka menyambut kami dengan gembira,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Baca juga:  Ali Sastroamidjojo, Sang Diplomat Ulung Selain Bung Hatta yang sempat membawa dua-tiga buah buku, tak ada yang sempat membawa bahan bacaan untuk membunuh waktu. Padahal bacaan tidak disediakan di sana. Radio yang dimiliki komandan pleton pun tidak boleh ikut digunakan oleh para tawanan. Hubungan dengan dunia luar mereka praktis terputus. Maka, hari-hari Bung Hatta cs. dihabiskan dengan sesekali berdiskusi, mengobrol, dan bermain semata.   “Kerja kami sehari-hari hanya membaca buku, bermain bridge , dan main catur. Ada pula di situ meja pingpong untuk anak-anak tentara yang menjaga kami, yang juga dapat kami pakai,” kata Bung Hatta. Namun, Belanda seolah belum puas mengisolir mereka. Isolasi terhadap para tawanan pun ditambah dengan pemasangan kawat berduri di luar dua ruangan yang dipakai para tawanan plus di sekeliling vila. Pengerjaannya selesai pada saat hari kedatangan Ali dan Moh. Roem. Baca juga:  Roem: Tidak Ada Waktu Membenci Sukarno “Jadi penawanan kami menjadi lebih sempurna, karena kami tidak bisa bergerak kecuali di dalam ruangan-ruangan yang dipagari kawat berduri itu. Kami merasa seperti hidup di dalam kerangkeng di kebon binatang. Tetapi itu tidak bisa mempengaruhi semangat kami. Tiap hari kami tetap menjalankan program sehari-sehari, yaitu berdiskusi, bersenda gurau dan tempo-tempo merenung dan ngelamun juga,” kata Ali. Pada saat bersamaan dengan selesainya pembangunan kawat berduri itu pula anggota Komisi Tiga Negara asal Australia Thomas Critchley tiba di sana untuk menemui Bung Hatta. Keberadaan pagar kawat berduri itu membuat Critchley kaget. Dia  berjanji memprotes upaya tidak manusiawi Belanda itu yang di forum PBB selalu dikatakan Belanda tidak ada. Baca juga:  Gunakan Adat Jawa, Pernikahan Bung Hatta Bikin Hadirin Tertawa Alhasil Bung Hatta cs. pun menjadikan adanya pagar kawat berduri itu sebagai bahan candaan mereka. “Korbannya” Mr. Moh. Roem yang akan memimpin delegasi Indonesia dalam Perundingan Roem-Royen yang akan datang. “Waktu mereka datang, kami permainkan Roem karena ia ketua delegasi Indonesia. ‘Bagaimana Saudara Roem,’ kata kami. ‘Ketua Delegasi dahulu Sjahrir menandatangani Perjanjian Linggarjati bahwa pada 1 Januari 1949 Indonesia Serikat akan merdeka, tetapi sekarang 1 Januari 1949 Ketua Delegasi dikurung oleh Belanda dalam kerangkeng.’ Kami semuanya tertawa gelak-gelak. Juga kontrolir Belanda yang mengantarkan mereka kepada kami,” kenang Bung Hatta.

  • Gan Kam, Tionghoa Penyelamat Wayang Orang Jawa

    Alunan gending karawitan terdengar merdu dari sebuah gedung di Jalan Kebangkitan Nasional, Solo. Di dalam gedung itu, sekelompok pemain wayang orang Sriwedari tampil dengan berbagai lakon. Meskipun kembang kempis di tengah arus globalisasi, Wayang Orang Sriwedari pernah menjadi kelompok wayang orang komersial yang amat populer. Wayang wong  (wayang orang) telah lama ada di Solo. Menurut  KPH Kusumadilaga, “penciptanya” ialah Kadipaten Mangkunegaran. “Mangkunegaran I (1755-1795) menciptakan pertunjukan wayang wong  dengan cerita wayang purwa,” tulis KPH Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda  yang terbit sekitar tahun 1850. Perkembangan wayang orang di sana merosot akibat Kadipaten Mangkunegaran mengalami defisit keuangan. Pementasan wayang orang tidak lagi dilakukan karena dianggap pemborosan. Para abdi dalem,  yang terdiri dari abdi dalem langenpraja  (kesenian) dan abdi dalem wayang wong , diberhentikan. Baca juga:  Gan Thwan Sing, Pencipta Wacinwa Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, pengusaha keturunan Tionghoa bernama Gan Kam memberanikan diri menjadi sponsor pementasan wayang orang di Solo. Ia lalu berinovasi dengan membuat wayang orang lebih komersial pada 1895, yakni dengan merekrut penari dan pemain wayang orang mantan abdi dalem  Mangkunegaran. “Gan Kam berhasil merayu Mangkunegara V untuk memboyong wayang wong  Mangkunegaran keluar tembok istana untuk dipasarkan, atau dapat dinikmati penduduk kota,” kata sejarawan Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi . Pagelaran wayang orang yang diinisiasi oleh Gan Kam dilakukan di sebuah bangunan besar berdaya tampung sekitar 200 penonton. “Bangunan itu diperkirakan bekas tempat pembatikan Gan Kam di sebelah selatan pasar Singosaren,” tulis akademisi seni Rustopo dalam Menjadi Jawa . Di tangan Gan Kam, bentuk pergelaran wayang orang berbeda dari yang dilakukan di dalam Kadipaten Mangkunegaran. Di Mangkunegaran, pergelaran wayang orang dilakukan di dalam arena. Pemain berada di tengah pendopo dan penonton menyaksikan di sekelilingnya. Baca juga:  Membaurkan Cina-Jawa dalam Wacinwa Sementara, pergelaran wayang orang yang dilakukan Gan Kam berbentuk prosenium. Pementasan dilakukan di atas panggung lebih tinggi satu atau dua meter dari posisi duduk penonton. Oleh sebab itu, wayang orang inisiasi Gan Kam sering disebut dengan wayang orang panggung. Apabila dalam pementasan arena, penonton dapat melihat dari empat sisi, di pementasan prosenium penonton hanya dapat melihat dari satu sisi. Sebagai pengusaha, Gan Kam menganggap penonton sebagai konsumen sehingga selera penonton dipikirkan. Salah satu hasilnya, ketika pertunjukan wayang orang dengan durasi panjang dianggap membosankan, ia mengusulkan kepada Mangkunegara untuk membuat pertunjukan lebih pendek. “Atas izin Mangkunegaran V, Gan Kam kemudian mengemas pertunjukan wayang orang dalam durasi waktu yang agak pendek, lebih mementingkan dialog daripada tarinya dan dapat menghibur penonton,” kata Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan dari Prespektif Politik, Sosial, dan Ekonomi. Inovasi Gan Kam tidak bertepuk sebelah tangan. Penonton pertunjukan wayang orang panggung berdatangan dari berbagai golongan, pribumi maupun Tionghoa. Mereka tidak segan-segan menonton pertunjukan ini bersama keluarga. Masyarakat tertarik karena belum pernah menyaksikan wayang orang, yang sebelumnya selalu ditampilkan di dalam istana. Pertunjukan Wayang Wong: drama dan tari tradisional Jawa di pelataran Mangkunegara di Solo. ( collectie.wereldculturen.nl ). Sebelum ada wayang orang panggung, masyarakat sudah sering melihat pergelaran wayang kulit. Akan tetapi setelah melihat pertunjukan wayang orang, mereka dibuat kagum oleh perlengkapan busana dalam wayang kulit yang melekat pada tubuh manusia. Sebagai pertunjukan komersial, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk menyaksikan wayang orang. Layaknya pertunjukan komersial ala Barat, Gan Kam membagi harga tiket berdasarkan kelas-kelas. Paling mahal kelas rose (VIP), kemudian di bawahnya ada kelas I, Kelas II, dan Kelas III. Harga tiket paling murah adalah kelas kambing, yakni untuk yang menonton berdiri. Kesuksesan Gan Kam dengan wayang orang garapannya menginspirasi seniman-seniman lain menciptakan wayang orang serupa. Kemunculan wayang orang populer lain seperti wayang orang Sriwedari, wayang orang Sedya Wandawa, atau wayang orang Sono Harsono, membuat ketertarikan penonton terbagi. Mereka yang bosan dengan wayang orang panggung karya Gan Kam beralih menonton wayang orang-wayang orang lain yang pentas di Solo. Baca juga:  Mantra Sakti Sang Dalang Wayang Ketatnya persaingan membuat jumlah penonton wayang orang panggung Gan Kam perlahan menurun. Penghasilan mereka pun menyusut. Mau tidak mau, Gan Kam harus menomboki biaya produksi meliputi honorarium pemain, biaya operasional, hingga pajak. Padahal di sisi lain, usaha batik milik Gan Kam juga mundur. Alhasil tidak ada sponsor untuk menunjang pergelaran wayang orang kelompoknya. “Tidak ada informasi kapan rombongan wayang orang panggung milik Gan Kam dibubarkan,” kata Rustopo. Kendati akhirnya tinggal nama, upaya Gan Kam telah membuat wayang orang menjadi inklusif dan disenangi rakyat. Meskipun modal yang dikeluarkannya cukup banyak dan tidak menuai keuntungan besar, jasa Gan Kam amat besar. “Investasi yang ditanamkan Gan Kam sangat penting ketika di dalam Istana Mangkunegaran kemudian tidak ada kehidupan wayang wong lagi karena sudah bergeser ke luar tembok istana, andai Gan Kam tidak melakukan itu kemungkinan besar wayang wong benar-benar mati sejak saat itu,” kata Rustopo.

  • Menggeruduk Rumah Penggede Orde Lama

    Selama berkuasa, Presiden Sukarno ditopang oleh sejumlah pengusaha swasta yang loyal. Mereka andil dalam membiayai aneka proyek mercusuar gagasan Bung Karno. Sebagai imbal baliknya, para pengusaha ini menikmati fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan roda bisnis. Apakah itu dalam bentuk kredit lunak, proyek tender, hingga ekspor-impor komoditi. Setelah terbit Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, beberapa pejabat negara dianggap sebagai biang kerok penggarong uang negara. Atas perintah Jenderal Soeharto, para pengusaha yang dekat dengan Sukarno turut jadi target penangkapan. Mereka yang paling menonjol jadi sasaran bulan-bulanan masyarakat. Itulah yang terjadi salah satunya kepada eks Menteri Urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam (JMD). Sebelum menjabat menteri, JMD merupakan presiden direktur Bank Nasional Indonesia (BNI). Lama berkecimpung di sektor ekonomi, JMD bergaul akrab dengan pengusaha ternama masa itu. Ia berperan dalam mencairkan kredit luar negeri berjangka setahun (DPC) kepada beberapa pengusaha rekanan. Dalam Supersemar, JMD masuk daftar penangkapan kategori ketiga. Kategori ini merujuk pada pejabat yang hidup amoral dan asosial; hidup dalam kemewahan di atas penderitaan rakyat. Baca juga:  Meringkus Loyalis Sukarno Harian Berita Yudha edisi Minggu, 27 Maret 1966 menyebut rumah milik JMD di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jadi sasaran penggerebekan kesatuan aksi mahasiswa dan pelajar. Salah satu kompleks perumahan di atas tanah seluas 8000 meter persegi itu lebih mirip taman tempat raja-raja dulu bersenang-senang. Menurut koran yang berafiliasi dengan Angkatan Darat ini, salah satu rumah yang termewah oleh JMD ternyata dijadikan tempat bersuka ria bersama simpanan-simpanannya. Dari jalan raya, rumah itu tampak seperti gedung biasa saja. Namun, ketika dimasuki, terdapat satu kompleks luas dengan tiga gedung yang dibatasi tembok tinggi. Di salah satu gedung itulah JMD biasa menghabiskan waktu dengan beberapa perempuan secara bergantian. Begitu masuk ke dalam,  seisi rumah terlihat mewah lengkap dengan perabotan serba modern. Kisah “taman firdaus” duniawi JMD akhirnya tersingkap setelah seluk-beluk rumah tersebut digeruduk massa. “Di dalam gedung itu didapati berbagai macam foto wanita telanjang, di antaranya terdapat bintang-bintang film Indonesia. Di samping ini juga terdapat alat-alat pemotret serta alat-alat kecantikan dan obat-obat hormone,” sebut Berita Yudha . Baca juga:  Jusuf Muda Dalam, dari Uang Panas hingga Selebritas Menurut keterangan pelayan rumah, seperti dikutip Berita Yudha , JMD dalam seminggu empat kali mengunjungi rumah peristirahatannya itu. Setiap tuannya itu datang selalu disertai wanita. Kadang-kadang si wanita datang lebih dulu. Datangnya pun tak tentu. Kadang-kadang pukul 12 siang, terus menginap. Kira-kira pukul 6 sore kemudian wanitanya pulang. Lanjut lagi pukul 7 malam, datang lagi wanita lain. Ia mengaku, rumah tersebut baru digunakan selama 8 bulan terakhir. “Wanita yang sering berkunjung ke sini umumnya berumur sekitar 18 sampai 23 tahun. Karena demikian banyak dan berlainan yang datang kemari, maka saya sangat sulit untuk mengenalnya satu-satu di antara mereka itu. Tapi yang sudah saya kenal benar ialah 2 orang wanita pegawai Bank Negara,” ujar si pelayan.   Berbeda dari penggerudukan rumah JMD, dalam proses penangkapan Teuku Markam terjadi perlawanan. Markam adalah Direktur PT Kulit Aceh Raya Kapten Markam (Karkam). Dialah raja karet dari Sumatra yang tajir melintir.   Selain itu, Markam merupakan salah satu pengusaha Istana yang menikmati fasilitas DPC. Markam dikenal dekat dengan Presiden Sukarno dan kawan dari JMD. Baca juga:  Tajir Melintir Teuku Markam Markam ditangkap pada 23 Maret 1966. Tentara menjemput Markam di kediamannya di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Namun, penangkapan itu, menurut koran Malaysia Berita Harian , 1 April 1966, didahului baku-tembak antara anak buah Markam dan tentara yang hendak menciduknya. “Tentara berjaya menangkap Tuan Markam dan pengikut-pengikutnya,” kata Berita Harian . Markam kemudian dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan. Pada masa Orde Baru, semua harta Markam maupun aset PT Karkam disita oleh negara. Tapi, setelah bebas pada 1974, Markam bangkit lagi dengan merintis PT Marjaya yang bergerak di bidang kontraktor.    Baca juga:  Runtuhnya Kerajaan Bisnis Teuku Markam, Sang Taipan Istana  Kisah mirip JMD juga melanda Potan Harahap. Ia merupakan tangan kanan JMD yang menjabat sebagai gubernur pengganti BNI Unit III. Menurut Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno , Potan salah satu pengusaha asal Sumatra yang termasuk jajaran tim penasihat ekonomi presiden. Dalam kedudukannya itu, Potan bertugas menghimpun dana revolusi dari sejumlah pengusaha. Pada akhir Maret 1966, rumah Potan di Jl. Adityawarman No.21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diserbu serombongan massa. Sejumlah satpam penjaga rumah Potan tak berdaya menghadapi jibunan orang yang menggeruduk sejak pukul 5.30 pagi. Kebanyakan massa ini berasal dari kesatuan aksi mahasiswa. Pintu rumah Potan yang memakai kunci luar negeri, dikampak oleh mereka sampai ringsek. Setiba mereka di depan pintu kamar, Potan tak kunjung keluar. Ketika pintu kamar dibobol, Potan ditemukan sembunyi di dalam lemari pakaian dalam keadaan meringkuk ketakutan. Baca juga:  Drama Penangkapan D.N. Aidit “Dia berjongkok di atas tumpukan uang rupiah baru, menggigil pucat melihat para mahasiswa itu,” kata Berita Yudha , 24 April 1966. Menurut Berita Yudha , sejumlah besar dokumen penting ditemukan dalam kamar rumah Potan Harahap. Pada tas koper merek Samsonite tersua surat-surat katebelece dari Menteri Kehakiman Astrawinata maupun JMD. Sementara itu, di meja kerja Potan didapati dokumen-dokumen yang menyangkut perkara moneter. Terselip pula setumpuk buku travellingcheque yang siap diuangkan senilai ratusan ribu dolar Amerika. Yang lebih menyilaukan mata, ditemukan satu sak besar berisi penuh dengan butiran-butiran permata, berlian, dan perhiasan berharga lainnya.    Demikianlah sekelumit cerita penggerebekan kediaman Potan Harahap. Setelah itu, tak banyak lagi informasi yang tercatat mengenai tindak lanjut kasus hukum Potan Harahap. Namun yang jelas, mayoritas pejabat dan pengusaha loyalis Sukarno mengalami nasib nelangsa di zaman Orde Baru.      Baca juga:  Omar Dani, Panglima yang Dinista

  • Celaka Dua Belas di Pintu Dua Belas

    LANGIT pucat di Kepanjen, Malang, menaungi kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menengok Stadion Kanjuruhan pada 5 Oktober 2022. Dari video yang diunggah Sekretariat Presiden di akun Youtube -nya , tampak ekspresi datar Jokowi menyiratkan keprihatinan kala menatap Pintu   12, 13, dan 14 yang jadi saksi bisu pada tragedi Sabtu kelabu, 1 Oktober 2022. Dari tribun, sesekali ia juga melirik akses tangga-tangga menuju tiga pintu tersebut yang sudah diberi garis polisi. Pun juga dengan keadaan sekitar lapangan yang masih bertebaran bermacam benda sisa-sisa tragedi yang merenggut 132 jiwa dan melukai lebih dari 500 lainnya itu. “Sebagai gambaran, tadi saya melihat bahwa problemnya ada di pintu yang terkunci dan juga tangga yang terlalu tajam, ditambah kepanikan yang ada, tapi itu saya hanya melihat lapangannya. Saya kira kita memang perlu evaluasi total semuanya, baik manajemen pertandingan, manajemen stadion, manajemen penonton, manajemen waktu, manajemen pengamanan agar peristiwa ini tidak terjadi lagi,” kata Jokowi di laman kepresidenan , Rabu (5/10/2022). Baca juga: Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola Tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai laga Arema FC kontra Persebaya itu mulai menampakkan “secercah cahaya dalam terowongan” pihak-pihak yang bertanggungjawab. Tak sampai sepekan pascatragedi, kepolisian pada 6 Oktober sudah menetapkan sedikitnya enam tersangka. Salah satunya berinisial SS selaku security officer  Arema FC. Sehari sebelum penetapan tersangka oleh polisi, SS jadi salah satu pihak yang dianggap bertanggungjawab sehingga dijatuhi sanksi larangan beraktivitas dalam kegiatan sepakbola seumur hidup oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Alasannya karena SS lalai membuka pintu keluar yang mestinya sudah dibuka 10 menit jelang bubaran laga. Momen Presiden Jokowi menengok kondisi Stadion Kanjuruhan ( pssi.org ) PSSI juga mengganjar hukuman serupa kepada ketua panita pelaksana (panpel) Arema, Abdul Haris. Sementara, Arema FC sendiri divonis menjalani partai usiran berjarak 210 kilometer dari homebase -nya di Malang hingga akhir musim Liga 1 2022-2023 ditambah denda Rp250 juta. “Kepada officer atau steward , orang yang mengatur semua keluar masuk penonton pintu semuanya. Siapa itu? Security officer Arema FC adalah Suko Sutrisno. Dia bertanggung jawab kepada hal yang harus dilaksanakan tapi tidak terlaksana dengan baik. Merujuk pada pasal 68 huruf A, junto pasal 19, junto pasal 141 Komdis PSSI, tahun 2018, saudara Suko Sutrisno sebagai petugas keamanan security officer tidak boleh beraktivitas di lingkungan sepakbola seumur hidup,” ungkap Ketua Komdis PSSI Erwin Tobing di laman PSSI , 4 Oktober 2022. Baca juga: Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Selain tindakan berlebihan dari aparat keamanan hingga disertai tembakan gas air mata, akses pintu keluar Stadion Kanjuruhan jadi perkara tersendiri yang belakangan viral di media sosial. Utamanya Pintu 13 yang menyisakan banyak kisah memilukan hati dari para penyintasnya. Kondisi sejumlah tribun, termasuk di Tribun 13, sudah chaos karena ribuan suporter saling mencari selamat dari kepulan asap gas air mata. Akses tangganya curam dan sempit. Lebih celaka lagi, ternyata pintu keluarnya terkunci. Akibatnya, roster ventilasi di sebelah Pintu 13 dijebol agar mereka bisa keluar dari tribun. Pascatragedi, lokasi Pintu 13 paling banyak dijadikan lokasi tabur bunga. Daun pintu besinya tak hanya menampakkan coretan bertuliskan “RIP” tapi juga ucapan-ucapan duka yang tertempel di banyak bagiannya. Pun di sisi kanan dan kiri temboknya, berhias tulisan sederhana: “Selamat Jalan Saudaraku 01-10-22” dan “Saudaraku Dibunuh. Usut Tuntas, 01-10-22.” Nahas di Pintu Dua Belas Duel Superclásico antara dua tim sekota asal Buenos Aires, River Plate dan Boca Juniors, selalu jadi partai panas. Rivalitas keduanya amat keras. Pertemuan dua klub itu selalu memancing fanatisme massa masing-masing suporter. Bagi Miguel Durrieu (46), fans Boca, duel klub tersukses di Argentina itu justru akan membuka luka bagi batinnya. “Kepanikan, rasa takut, dan banyak jeritan. Saya terjatuh dan pingsan tapi saya masih selamat. Saya tak pernah bertemu siapa yang menyelamatkan saya. Sejak saat itu saya tak pernah menonton Boca lagi,” kenang Durrieu kepada Clarín , 24 Februari 2017. Durrieu jadi satu dari sekian suporter Boca yang jadi penyintas Tragedia de la Puerta 12 atau Tragedi Pintu 12 pada 23 Juni 1968 petang di Stadion El Monumental (kini Estadio Antonio Vespucio Liberti). Petaka tersebut memakan korban jiwa 71 fans Boca tewas dan 128 lainnya terluka. Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan Pada petang dengan udara dingin di musim semi itu, River Plate tengah menjamu Boca Juniors di laga Torneo Metropolitano. Laga itu juga jadi pertandingan terakhir legenda hidup Amadeo Carrizo sebelum sang kiper cemerlang itu hijrah ke klub Peru, Alianza Lima. Stadion El Monumental saat itu disesaki 90 ribu penonton yang mayoritas suporter tuan rumah, River Plate. Suporter tim tamu kala itu dilokasikan ke tribun utama. “Pertandingannya membosankan (berakhir imbang 0-0, red. ) dan tampak fans Boca sudah mulai pergi menjelang laga berakhir menuju akses keluar. Tepat ketika laga usai dan saya hendak menuju ruang ganti dari tribun media, saya melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, mencurigakan, dan tidak biasa,” tutur jurnalis senior Cherquis Bialo yang juga menjadi saksi mata, pada kolomnya di laman Infobae , 23 Juni 2020. Partai panas River Plate vs Boca Juniors pada 23 Juni 1968 di Estadio El Monumental ( historiadeboca.com.ar ) John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports Around the World: History, Culture, and Practice menulis, petaka itu pecah karena beberapa faktor. Salah satunya berkelindan dengan kondisi politik di Argentina. Terlebih, suporter Boca dan River Plate juga tak hanya konflik terkait sepakbola tapi juga terkait penguasa politik yang, dalam petaka ini, berkaitan dengan tindakan polisi terhadap fans Boca. Suporter Boca yang mayoritas berasal dari kalangan kelas pekerja, sudah lama jadi pendukung fanatik Jenderal Juan Perón yang dikudeta pada 1955. Sementara, pendukung River Plate, yang kebanyakan berasal dari kaum miskin, mendukung rezim junta militer yang pada 1968 dipimpin Letjen Juan Carlos Onganía. “Saat terjadi petaka itu juga sempat ada pelemparan gelas plastik berisi air kencing kepada aparat polisi, pembakaran bendera River Plate, dan yel-yel anti-pemerintah yang ditujukan kepada diktator militer Juan Carlos Onganía oleh suporter Boca yang masih berada di tribun atas,” ungkap Nauright dan Parrish. Baca juga: Intisari Rivalitas Sepakbola Sejagat Hal itu berimbas pada ribuan suporter Boca lain di tribun bawah yang sedang berusaha keluar dari tribun menuju Pintu 12. Dari sejumlah pengakuan saksi mata dan penyintas, akses tangga ke Pintu 12 tanpa penerangan yang laik dan saat itu pintu geser besinya hanya terbuka separuh. Lebih lagi ternyata palang pintu putar di depan pintu geser itu menambah penghalang bagi para penonton. “Saya bisa memastikan bahwa 10 menit jelang laga berakhir, Pintu 12 masih terkunci. Putra saya yang berumur 10 tahun sampai pingsan karena berdesakan. Saat ada yang membuka setengah pintunya, mereka yang sudah ingin keluar masih harus dihadapkan pintu putar. Sungguh luar biasa situasinya saat itu,” kenang Enrique Acuña, penyintas Tragedi Pintu 12 lain. Puerta 12 alias Pintu 12 pascatragedi (El Gráfico/La Nacion/ole.com.ar) Alih-alih selamat, sejumlah suporter yang berhasil meloloskan diri dengan susah payah kemudian malah berhadapan dengan sepasukan polisi berkuda yang marah akibat lemparan air kencing dan yel-yel anti-pemerintah tadi. Alhasil, para suporter yang sudah lolos dari pintu besi dan palang berputar berusaha menyelamatkan diri kembali ke arah Pintu 12 dan itu yang memicu “longsor manusia” di akses tangga dan Pintu 12. “Beberapa saksi mata masih ingat ketika pintunya belum dibuka dan beberapa lainya mengatakan pintu palang putarnya belum dipindahkan. Padahal pintu dan palang pintunya mestinya sudah dibuka 15 menit menjelang laga bubar. Polisi berkuda menggunakan tongkat memukuli suporter yang keluar dan memaksa mereka untuk mundur. Setelah terjadi tindakan represif polisi yang terprovokasi itulah tragedinya bermula,” tulis Andreas Campomar dalam ¡Golazo! A History of Latin American Football. Baca juga: Nahas di Stadion Ibrox Para suporter yang dipukul mundur itu bertubrukan dengan suporter yang hendak keluar. Tekanan yang terjadi menimbulkan efek domino, ribuan suporter bertumbangan dan saling menindih satu sama lain. “Tindakan polisi membuat panik dan menimbulkan suasana yang dramatis hingga memakan korban jiwa. Antara mereka yang ingin segera keluar dari tribun karena kedinginan dan mereka yang ingin menyelamatkan diri dari polisi menyebabkan mereka saling berdesakan dan kebingungan, jatuh, dan saling menjerit saat tertindih,” sambung Bialo. Estadio El Monumental pada 1960 sebelum direnovasi (atas) dan kini setelah direnovasi ( cariverplate.com.ar ) Akibatnya, ratusan orang terluka dan mengalami sesak nafas. Sebanyak 71 di antaranya akhirnya tinggal nama. Terlepas dari Presiden River Plate William Kent yang menuding pihak kepolisian sebagai penyebabnya, investigasi selama dua bulan justru tak menghasilkan seujung kukupun keadilan untuk para keluarga korban. Mayoritas korban tewas masih sangat muda, antara usia 13-25 tahun. Meski Hakim Oscar Hermelo yang memimpin investigasi selama dua bulan telah menetapkan dua tersangka dari ofisial River Plate, Americo Di Vietro dan Marcelino Cabrera, serta memberi ancaman sanksi 200 juta terhadap River Plate, kasusnya disetop Majelis Kriminal dan Banding. “Saya sudah menetapkan tersangka terhadap dua orang tapi ketika majelis meninjau ulang, penyelidikan lebih jauh dan kelanjutannya tidak bisa diteruskan,” timpal Hermelo. Baca juga: Lembaran Getir Tragedi Heysel Sementara pihak klub, terlepas sempat menuding pihak polisi, menggalang dana dengan dibantu AFA (federasi sepakbola Argentina) mencapai 100 ribu dolar. Dana itu diniatkan sebagai santunan kepada keluarga korban tewas yang masing-masing akan mendapat seribu dolar dengan syarat, keluarga korban takkan menuntut pihak klub. Lantas berbarengan dengan renovasi El Monumental jelang Piala Dunia 1978, semua pintu yang menyandang nomor diganti dengan huruf. Termasuk Pintu 12 yang berubah menjadi akses pintu keluar darurat Sektor L. Menariknya, pihak klub Boca Juniors pun seakan mengubur dalam-dalam memori pahit itu selama bertahun-tahun tanpa adanya peringatan. Baru pada 2015, sejumlah fans Boca mendesak pihak klub untuk mau mengakui dan memperingati, hingga kemudian pada 50 tahun kejadian pihak klub secara resmi menggelar peringatan rutin. Pintu 12 yang diubah menjadi Pintu L pasca El Monumental direnovasi ( cariverplate.com.ar )

  • Dardanella Menembus Panggung Dunia

    Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan pertunjukkan di gedung Munchener Kunstlerhaus, Munich, Jerman, pada 1939, setelah rombongan Dardanella selesai mementaskan “Si Bongkok”, salah satu lakon paling populer dari rombongan sandiwara ini. The Malay Opera Dardanella merupakan salah satu rombongan teater paling bersinar di pertengahan pertama abad ke-20. Dardanella disebut sebagai perintis teater Indonesia modern karena menampilkan pertunjukan dengan pendekatan baru yang dinilai lebih sesuai dengan selera zaman. Rombongan sandiwara ini dimotori oleh Andjar Asmara, Astaman, Ferry Kok, Miss Dja, Miss Riboet II, dan Tan Tjeng Bok yang dijuluki “Java’s Big Five” atau “Dardanella’s Big Five”. Sejarawan Jaap Erkelens membahas tuntas sejarah Dardanella dan perkembangan kesenian teater Indonesia yang diawali dengan kehadiran lakon stambul di Hindia Belanda dalam buku Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana  yang baru terbit oleh Penerbit Buku Kompas (2022). Buku berukuran besar ini diperkaya dengan foto-foto pemeran dan pertunjukan, berita koran, guntingan iklan, dan dilengkapi CD berisi lagu-lagu Dardanella. Buku setebal 500 halaman ini menjadi rujukan utama sejarah Dardanella. Baca juga:  Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga Ketertarikan Erkelens terhadap Dardanella berawal dari kesukaannya mengoleksi piringan hitam yang berisi lagu-lagu dari masa sebelum Perang Dunia II. Saat berburu piringan hitam di pasar-pasar loak Jakarta,ia menemukan beberapa lagu dalam bahasa Melayu yang kebanyakan lagu-lagu keroncong dan stambul. Beberapa lagu tersebut dinyanyikan oleh penyanyi Miss Riboet yang tergabung dalam rombongan Maleisch Operette Gezelschap Orion dan sejumlah kecil dinyanyikan penyanyi rombongan Dardanella. Penemuan itu mendorong Erkelens menggali lebih dalam mengenai sejarah perkembangan sandiwara di Indonesia, khusunya rombongan Dardanella. Ia mengumpulkan berbagai berita, resensi, dan iklan di media massa,untuk menguraikan sejarah Dardanella dan perjalanannyaselama tur keliling Indonesia dan dunia. Dardanella didirikan oleh Vladimir Klimanoff alias A. Piedro pada 21 Juni 1926. Sebelum Dardanella dan Orion milik Tio Tek Djien Jr. berdiri tahun 1925, hiburan masyarakat Hindia Belanda adalah pertunjukan lakon stambul yang mementaskan beragam kisah dari cerita-cerita Timur Tengah dan seputar dongeng 1001 malam. Dalam pementasannya, para aktor dan aktris dibolehkan menyusun lirik pantun sendiri tetapi terikat pada lagu tertentu yang mereka gunakan sepanjang cerita dipentaskan. Selain itu,mereka juga diizinkan melakukan improvisasi saat tampil di atas panggung. Baca juga:  Bung Karno Dikerjai Anggota Grup Sandiwaranya Berbeda dengan lakon stambul, Dardanella dan Orion mencoba menampilkan pertunjukan dengan gaya baru. Bila pementasan stambul biasanya terdiri atas sejumlah babak yang berlipat ganda,Piedro mengurangi jumlah babak yang dipentaskan rombongannya menjadi tidak lebih dari delapan. Piedro juga menerapkan sejumlah aturan secara ketat bagi aktor dan aktris dalam rombongan Dardanella. Misalnya, mereka diwajibkan menghafal skrip karena tak diizinkan melakukan improvisasi di atas panggung. Kisah yang dipentaskan Dardanella juga tak melulu dari dongeng 1001 malam. Mereka juga turut mengadaptasi cerita film bisu untuk dipentaskan di panggung pertunjukan. Bahkan, Piedro memberanikan diri mementaskan lakon baru yang merupakan saduran dari apa yang kala itu disebut “Indische roman” yang membahas mengenai masalah-masalah sosial dan peristiwa yang benar terjadi. Selain itu, dalam pementasan Dardanella, kata-kata tak lagi dinyanyikan seperti halnya dilakukan para pemain lakon stambul. Piedro memindahkan nyanyian lagu-lagu dan aksi badut ke jeda di antara babak yang kemudian disebut “ekstra”. Meski bahasa yang digunakan dalam pementasan lakon-lakon Dardanella menggunakan bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar, para pemeran yang tampil dalam adegan-adegan ekstra juga piawai bernyanyi dalam bahasa Inggris dan Belanda, sehingga penonton seolah-olah sedang menonton film bersuara di bioskop. Baca juga:  Omar Rodriga, Aktor Sandiwara di Medan Laga Menurut Erkelens, upaya-upaya yang dilakukan Piedro lambat laun berhasil meyakinkan pemain maupun penonton bahwa waktu telah berubah. Hal senada juga diungkapkan Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950 Bikin Film di Jawa , bahwa pembaruan yang dilakukan kelompok Orion dan Dardanella menjadi penanda peralihan era lakon stambul ke era toneel , istilah Belanda untuk kata sandiwara. Popularitas Dardanella kian menanjak semenjak tampil perdana di Theater Orient, Surabaya pada 8 Agustus 1927. Iklannya dimuat koran Pewarta Soerabaia , 1 Agustus 1927. Lakon pertama yang dipentaskan berjudul “The Sheik of Araby”. Tak berselang lama,Dardanella mengadakan tur keliling: Makassar, Ternate, Ambon, Manado, Balikpapan, Samarinda, Semarang, Yogyakarta, Batavia, danSumatra. Dardanella kemudian memulai tur mancanegara pertama pada 1935. Dalam tur ini, Dardanella terbagi dua kelompok, yakni kelompok teater dan kelompok tari. Kelompok tari yang bernama The Royal Balinese Dancers memulai “Tour d’Orient” di Singapura. Setelah itu, rombongan mengadakan pertunjukan di Hong Kongselama empat hari, 6–9 Maret 1935 pukul 17.00 dan 21.30. Baca juga:  Perempuan dalam Teater Bung Karno Setelah Hong Kong dan Canton, Dardanella meneruskan perjalanannya ke Shanghai. Pada akhir 1935, kelompok tari dan teater Dardanella kembali bertemu di Singapura. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan keliling Asia melalui Malaya,Birma (kini Myanmar), dan India. Popularitas Dardanella membuat perusahaan film India, Radha Film, tertarik mengangkat menjadi film salah satu lakon populer,“Dr. Samsi”. Erkelens menyebut proses rekaman film itu dimulai pada awal Februari 1936 di Calcutta. Sayangnya, sukses pembuatan film tak cukup untuk menutupi segala ongkos yang diperlukan untuk membiayai rombongan sebesar The Royal Balinese Dancers. Rasa tidak puas itu membuat sejumlah anggota rombongan memilih kembali ke Tanah Air. Piedro bersama sisa rombongannya memutuskan kembali ke Singapura. Di Negeri Singa, Dardanella mengumpulkan uang untuk berangkat ke Eropa melalui Asia Selatan dan Timur Tengah. Baca juga:  Sepakbola Seniman Panggung Dardanella Dardanella memulai tur Eropa pada 1 Oktober 1938. Selama satu tahun, mereka berkeliling negara dan kota-kota besar seperti Zurich (Swiss), Strasbourg (Prancis), Brussels (Belgia), Amsterdam (Belanda), hingga Berlin (Jerman). Dalam pertunjukan di Budapest, Berlin, dan Wiesbaden, Dardanella tak hanya mementaskan tarian tetapi juga drama, yakni lakon “Si Bongkok”. Pementasan lakon tersebut mendapat responspositif dari publik. Menurut Ferry Kok, salah satu anggota Dardanella, perusahaan film Jerman, UFA (Universum Film Aktiengesellschaft) bahkan menawarkan kontrak untuk pembuatan film “Si Bongkok”. Perang berdampak pada tur Eropa Dardanella. Saat Perang Dunia II meletus pada September 1939, Piedro bersama rombongan melarikan diri ke Amerika Serikat. Setelah sempat menggelar tur keliling Amerika Serikat selama dua bulan dengan mengunjungi New York, Chicago, Denver, Cleveland, San Fransisco, dan Los Angeles, sejumlah anggota Dardanella memilih kembali ke Tanah Air. Seusai Perang Dunia II, Dardanella tercerai-berai sehingga berakhirlah riwayat nya . Meski begitu pertunjukkan Dardanella pada masa jaya telah menjadi acuan bagi banyak rombongan sandiwara lainnya. *

  • Tayub yang Dilarang Sultan

    Guna mewujudkan rasa syukur dan menggali potensi budaya tradisional yang dimilikinya, masyarakat Dukuh Cempluk, Kelurahan Mangunan Kapanewon Dlingo, Bantul, Yogyakarta menggelar acara “ Merti   dusun”  (bersih-bersih dusun) September lalu. Dalam acara ritual tiga tahun-an yang dihelat Jumat Kliwon itu, dipentaskan pula tari Tayub Bayar Danyang. Ada tujuh penari –berbusana coklat muda dikombinasikan dengan kuning– yang membawakannya. Bersama-sama, mereka menari di panggung terbuka yang dibuat di batas tebing Watu Goyang, destinasi wisata yang ada di Dlingo. “Ini perwujudan rasa syukur masyarakat setelah pandemi dan berbagai kendala namun masyarakat masih bisa tetap panen,” kata Lurah Mangunan Aris Purwanto, diberitakan yogya.inews.id , 16 September 2022. Baca juga:  Memaknai Ulang Tari Jawa Kendati kian terpinggirkan, tayub, sebagaimana banyak seni tradisional lain, masih eksis di Yogyakarta. Kondisinya jelas berbeda dari masa lalu. Kisaran abad ke-19 hingga ke-20, pertunjukan tayub masih menjadi favorit masyarakat di Yogyakarta. Sebagai hiburan rakyat, tayub dapat ditemukan dengan mudah dari desa ke desa. Lantaran hiburan ini melibatkan banyak orang, tentu amat rawan terjadi kekacauan. Oleh karena itulah Sultan Hamengkubuwono VI membuat peraturan khusus untuk pergelaran tayub. Menurut Serat Angger Pradata Awal  hasil translitrasi Endah Susilantini, dkk., tidak seluruh masyarakat diizinkan mengadakan hiburan tayub. “Orang yang diijinkan Sultan menyelenggarakan pergelaran tayub hanyalah rakyat kesultanan Yogyakarta yang berpangkat bupati dan sejenisnya,” demikian kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Rakyat biasa diizinkan mengadakan pergelaran tayub namun hanya boleh pada siang. Keperluannya pun harus jelas, semisal untuk acara perkawinan anak, selamatan tujuh bulan kehamilan, khitanan, dan bagi orang yang memiliki nazar tertentu. Apabila dalam pergelaran tayub terdapat selisih paham antar-orang hingga menyebabkan timbul korban luka atau bahkan mati, maka orang yang mengadakan pergelaran tayub wajib bertanggung jawab. Nantinya patih pejabat Kesultanan Yogyakarta bergelar Adipati Danureja yang akan menetapkan hukuman. Ada ketentuan berbeda-beda terkait hukuman tersebut. Untuk rakyat kesultanan berpangkat Kliwon ke atas, hukumannya berupa denda sebesar 50 reyal. Rakyat yang berpangkat Mantri ke bawah, dendanya 25 reyal. Baca juga:  Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah Sementara, apabila pergelaran mengakibatkan korban luka atau jiwa, ada aturan lebih lanjut. Apabila ahli waris orang yang menjadi korban tidak terima, maka dapat melanjutkan gugatannya ke perdata. Nanti akan ada dua penanggung jawab dari kesultanan yang menanganai perihal ini. Kasusnya akan diperiksa terlebih dahulu oleh abdi dalem bergelar Tumenggung Nitipraja. Hasilnya kemudian diserahkan ke pemerintah. Hukuman yang sesuai akan ditetapkan oleh Adipati Danureja. Hukuman bagi pelaku bisa berupa denda atau lecut (pecut, red. ) dan pembuangan. Denda bagi pelaku yang melukai tergantung pada kebijakan dan kejadiannya. Akan tetapi jika pelaku tidak dapat membayar, maka di- lecut sebanyak 300 kali lalu dibuang ke luar wilayah kerajaan. Ini berbeda dengan pelaku pembunuhan. “Orang yang membunuh diberi hukuman denda sebesar 500 reyal, jika tidak membayar denda, dilecut sebanyak 500 kali, lalu dibuang ke (hutan) Lodaya atau ke (hutan/pantai) Ayah,” kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Sejak awal, sultan tidak mengizinkan pergelaran tayub dilakukan pada malam hari tanpa sebab. Apabila ketahuan melanggar peraturan tersebut, penyelenggara akan dikenakan denda sebesar 25 reyal. Kemudian jika terjadi pertengkaran, maka keluarga korban tidak dapat menuntut. Meskipun ahli warisnya tidak terima, gugatan mereka pasti ditolak Tumenggung Nitipraja. Peraturan tersebut dilengkapi lagi dalam Serat Angger Pradata Akhir . Serat tersebut mengatakan agar tidak bergunjing bahkan sampai bertengkar jika ada orang meninggal saat pergelaran Tayub. Denda akan dilayangkan kepada siapapun yang memulai pertengkaran. “Siapa yang memulai akan didenda sepantasnya, jika itu diulangi lagi dalam pertengkaran diumpamakan sebagai anjing yang sedang kawin”, kata Serat Angger Pradata Akhir .

  • Mantiri Dikira Menteri

    Belum lama berdiri, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) langsung bekerja. Dengan pesawat mereka, AURI harus wira-wiri ke berbagai tempat. Termasuk menjelang Perundingan Linggarjati, yang mana AURI mengirimkan Komodor Muda Abdul Halim Perdanakusuma, Opsir Muda Udara II Muhammad Sujono, dan Opsir Muda Udara III R.I. Mantiri. Mereka berangkat dari Yogyakarta yang sedang menjadi ibu   kota Republik Indonesia. Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel. Mereka kemudian mengirim telegram ke Yogyakarta dengan mencantumkan nama pendek mereka bertiga. Tak lama datang wartawan yang ingin mewawancarai tentang pergantian kabinet. Mereka bertiga   bingung. Pergantian kabinet tentu urusan Presiden Sukarno atau Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mereka pun menyelidiki. Ternyata nama-nama pendek mereka ditulis sebagai: Perdana Menteri Sujono. Perdana dari Halim Perdanakusuma, Menteri dari Mantiri, dan Sujono dari Muhammad Sujono. Begitu cerita lucu tentang sejarah AURI yang dicatat majalah Angkasa  No. 1 Tahun XXV, 1975. Baca juga:  Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis Di lain waktu, Mantiri mengalami kejadian lucu lagi terkait namanya.Waktu itu,dia menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Campur Darat di Tulung Agung, Jawa Timur. Dalam perjalanan ke Campur Darat dari Yogyakarta, rombongan Mantiri selalu mendapat sambutan istimewa dari para lurah. Mereka disuguhi ayam dan kambing, menu lezat dan mewah di zaman perang yang sulit. Tak hanya suguhan makanan, tenaga sukarela juga disediakan untuk membawa barang-barang rombongan. Rombongan AURI itu mendapat sambutan istimewa karena kurir yang mendahului mereka mengatakan kepada lurah-lurah yang dilaluinya bahwa “Bapak Menteri” dari Angkatan Udara akan melewati desa mereka. Ternyata yang datang “Mantiri” bukan “Menteri”. Dua kali nama Mantiri terbaca atau dikira sebagai Menteri. Mantiri sendiri adalah marga Minahasa. Dalam bahasa lokal di daerah asalnya, Mantiri diartikan sebagai pembuat benda halus. Jadi, Mantiri jelas bukan Menteri apalagi Mantri. Mantiri yang ini adalah Opsir Muda Udara III atau setara pembantu letnan. Baca juga:  Penerjunan Pertama Indonesia Mantiri, disebut Angkasa , juga seorang perwira AURI yang ikut menghadapi blokade udara Belanda. Suatu kali, ketika naik pesawat amfibi Catalina menuju Singapura, pesawat mereka berpapasan dengan pesawat Belanda. Mantiri nekat membuka pintu kokpit pesawat dan mengayun-ayunkan samurai ke arah pesawat musuh. Pesawat Belanda kemudian menghilangmungkin mengira samurai itu senapan mesin 12,7 yang menakutkan. Ketika berpangkat Kapten pada Oktober 1947, Mantiri menjadi saksi kekonyolan Belanda. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Belanda mengklaim banyak daerah yang dikuasainya. Namun, sebuah pesawat Belanda yang membawa rombongan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk meninjau wilayah yang dikuasai Belanda terpaksa mendarat di daerah yang dikuasai Republik Indonesia yaitu di Pameungpeuk, Garut . Buku Album Perjuangan Kemerdekaan, 1945–1950 dari Negara Kesatuan ke Negara Kesatuan menyebut ketika pesawat Belanda itu mendarat, Letnan Mantiri sedang berada di sana. Baca juga:  Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda Tidak banyak data tentang Mantiri. Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 menyebut Mantiri pernah belajar di Vliegschool (Sekolah Penerbang) kolonial di Kalijati pada 1941, lalu pada 28 Oktober 1941 ditugaskan sebagai Milisi Pribumi pada Depot Batalion KNIL 1 di Bandung. Pada 9 Januari 1942, dia naik pangkat menjadi Kopral Milisi. Setelah Indonesia merdeka, Mantiri ikut serta berada di pihak Republik. Dia belajar terbang lagi kepada Komodor Muda Agustinus Adisutjipto hingga punya kemampuan terbang. Mantiri sempat menjadi perwira logistik AURI. Setelah Agresi Militer Belanda II, dia menjadi anggota Staf AURI di Jawa Timur. Baca juga:  Tragedi Kematian Magellan Setelah 1950, Kapten Penerbang Mantiri menjadi Komandan Pangkalan Udara Mandai. Sebelumnya, diamenjadi Inspektur Penerbangan Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS). Koran  Java Bode , 29 April 1950, menyebut Mantiri sudah berada di Makassar dan menyebut bahwa lapangan terbang itu masih cukup layak kondisinya. Java Bode , 2 Mei 1950, juga menyebut Mantiri pernah ikut melakukan kunjungan dengan pesawat yang kendarainya. Kapten Mantiri rupanya pecinta sejarah. Koran Het N ieuwsblad voor Sumatra , 7 November 1953, dan De V rije P ers , 4 November 1953, memberitakan bahwa Mantiri bersama A . W . F . de Rook telah merilis naskah sejarah berjudul De eerste wereldreis en het rijk Minahassa yang akan diterbitkan V an Hoeve Bandung. Di dalamnya disebut bahwa penjelajah Fernando de Magelhaens atau Ferdinand Magellan tidak tutup usia di Filipina tapi di Minahasa. Mantiri mengaku telah menyelidikinya selama 15 tahun. *

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page