Hasil pencarian
9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram
TAHUN 1608 (sumber lain menyebut 1601/1610), penduduk Sumedang Larang ditimpa duka. Salah seorang penguasa terbesar mereka, Prabu Geusan Ulun, dipanggil Sang Pencipta. Raja yang membawa kejayaan bagi Sumedang itu meninggalkan wilayah kuasa yang cukup besar. Sepeninggalnya konflik politik pun tak terhindarkan hingga membagi Sumedang Larang menjadi dua: kerajaan yang berpusat di Dayeuh Luhur, diperintah Pangeran Rangga Gede; dan kerajaan yang berpusat di Tegal Kalong, dipimpin Pangeran Suriadiwangsa. Sumedang Larang sendiri lahir setelah Kerajaan Pakuan Pajajaran (terletak di wilayah Bogor sekarang) dikuasai oleh Kesultanan Banten pada 1579. Menurut Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Barat, peristiwa hancurnya kerajaan Sunda bercorak Hindu Buddha terakhir itu membuat kekuasaan orang-orang Sunda terdorong ke wilayah timur Jawa Barat, yakni Galuh dan Sumedang.
- Pasukan Mataram Diserang Wabah Penyakit
PANEMBAHAN Krapyak meninggal dunia pada 1613. Sultan Agung menggantikannya sebagai raja Mataram. Ia melanjutkan politik ekspansi ayahnya itu. Setelah merebut Malang dan Lumajang pada 1614, berikutnya ia menyerang Wirasaba. Saking pentingnya daerah itu, ia turun langsung ke medan pertempuran. "Raja ingin ikut menyerang melawan Wirasaba. Para pembesar menghalang-halanginya dengan sia-sia," tulis sejarawan H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Sultan Agung mengerahkan pasukan Mataram dan sekutunya dari pesisir. Jumlahnya mencapai 10.000 orang, tidak termasuk para petandu. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Martalaya. Mereka berbaris melintasi Madiun, di sana orang-orang Ponorogo menggabungkan diri.
- Tante Girang di Jalan Sabang
SORE itu, seperti biasa, kendaraan hilir mudik memenuhi ruas Jalan Sabang. Sementara di pinggir jalan, para penjaja makanan kaki lima mulai bersiap-siap membuka gerainya. Begitulah aktivitas yang terjadi saban hari di Jalan Sabang, yang kini lebih dikenal dengan nama Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat. Meski telah bersalin nama sebagai Jalan Haji Agus Salim, tapi orang-orang masih suka menyebutnya Jalan Sabang. Kawasan Jalan Sabang saat ini dikenal sebagai salah satu sentra kuliner di Jakarta Pusat. Mulai dari jajanan sate pinggir jalan, warung kopi, hingga restoran modern tersebar di Jalan Sabang. “Di Sabang ini terkenal tukang sate. Bung Karno tuh, tahun 1960-an main sini, makan sate. Nongkrong. Pacaran sama Baby Huwae,” tutur Taufik Hidayat alias Koh Abun, 69 tahun, sesepuh warga Jalan Sabang kepada Historia.ID.
- Mengalun Bersama Sejarah Jazz
MUSIK jazz dikenal berkat warga Afro-Amerika pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Banyak dikatakan, jazz berakar dari musik Afrika dan Eropa. Dalam pembentukannya, jazz tak bisa lepas dari peran orang kulit hitam di Amerika serikat. Dalam perkembangannya, jazz sering disebut sebagai musik yang memusingkan. Jazz, katanya, musik yang sulit dimengerti, membosankan, bahkan dianggap jadul. Namun, seiring perkembangannya, jazz mulai berinteraksi dengan berbagai jenis aliran musik lainnya. Seringkali dalam aliran musik rock, RnB, dan pop, misalnya, irama jazz muncul. Akibatnya, Jazz kini mulai mudah diterima semua kalangan. Pun penggemarnya tak hanya orang-orang dari generasi lama. Anak-anak muda juga mulai gandrung dengan jazz.
- Alunan Lawas Festival Jazz di Indonesia
JAVA Jazz, Ngayogjazz, dan Prambanan Jazz menjadi agenda tahunan festival jazz Indonesia. Hingga kini, menurut wartawan musik senior Bens Leo, ada lebih dari 60 titik festival jazz di Indonesia. “Musisi jazz itu yang paling tidak memusingkan akan dibayar berapa. Mereka punya toleransi dan kegiatan berkesenian yang bagus. Karena itulah festival jazz ada di mana-mana,” kata Bens. Java Jazz, salah satu festival jazz termegah, menjadi gelaran rutin tiap tahun dan sudah masuk dalam kalender jazz internasional. Berjalan selama 13 tahun, Java Jazz digagas Peter Ghonta setelah terinspirasi North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda. “Ketika akan membuat Java Jazz Festival, dia berkomunikasi dengan penyelenggara di sana. Akhirnya bikin Java Jazz,” kata Bens.
- Jejak Peranakan dalam Alunan Sejarah Jazz
LAHIR dan populer di kalangan Afro-Amerika pada akhir abad ke-19, musik jazz terus berevolusi seiring pertemuan dan percampuran dengan beragam aliran musik. Jazz juga merambah ke berbagai tempat termasuk ke Indonesia. Musisi-musisi jazz tanah air bermunculan dari masa ke masa. Dari Likumahuwa Bersaudara, Indra Lesmana, Pra Budi Darma, Tohpati, Dewa Budjana, Syaharani, Andien, hingga yang kekinian macam dr. Teuku Adifitrian alias Tompi, Aditya Ong Trio, dan Joey Alexander. Mereka menjadi penerus tongkat estafet para maestro jazz Indonesia era Jack Lesmana, Bubi Chen, dan Ireng Maulana. Di masa awal kemunculan musik jazz, peranakan Tionghoa banyak memainkan peran. Selain Chen Bersaudara, ada Yong Kim, Oei Boen Leng, Freddy Prandi, dan Didi Chia. Oei dan Freddy merupakan guru bagi banyak musisi yang masih aktif di belantika musik Indonesia, termasuk gitaris band Gigi, Dewa Budjana.
- Jazz Menjembatani Jepang dan Amerika
KETIKA diperkenalkan di Jepang awal abad ke-20, jazz identik dengan kafe dan ruang dansa serta busana layaknya flappers dan dandies yang glamor. Para musisi Amerika dan Filipina kerap tampil di kawasan hiburan yang makmur di Osaka dan Kobe. Kaum muda perkotaan di Jepang pun kepincut. Jazz dianggap sebagai simbol modernisme, di tengah kondisi Jepang yang ultranasionalistik pasca kebijakan sakoku (isolasi). Sebagai musisi muda, Fumio Nanri, pemain terompet yang kelak dikenal sebagai pionir musisi jazz Jepang, juga menikmati iklim tersebut. Dia rajin tampil di ruang-ruang dansa untuk memainkan foxtrots sebagai musik untuk berdansa. Namun, situasinya tak selalu menyenangkan. Menurut sejarawan E. Taylor Atkins dalam Blue Nippon: Authentication Jazz in Japan, pejabat kota, polisi, dan aktivis sayap kanan terus-menerus menentang budaya ruang dansa di Jepang. Sebagai tanggapan, beberapa musisi jazz, penari, penyanyi, dan pemilik gedung dansa memilih keluar dari situasi tegang ini dengan pergi ke luar negeri.
- Mata-mata Mataram dalam Penaklukan Tuban
JATUHNYA Wirasaba (sekarang Mojoagung) ke tangan Mataram pada 1615, membuat bupati-bupati daerah timur (Surabaya, Tuban, Japan, dan Madura), merapatkan barisan. Pada 1616, mereka berkumpul di Surabaya untuk mempersiapkan menyerang Mataram. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh, seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun, karena tanahnya datar, beras murah, dan banyak air. Namun, seorang mata-mata Mataram, Randu Watang, yang telah lama bekerja pada adipati Tuban, melarangnya. "[Karena] Madiun, Jayaraga, dan Ponorogo ada di bawah kekuasaan Mataram, dan untuk melalui tempat-tempat tersebut, mereka harus bertempur berat. Ia menganjurkan untuk mengambil jalan melalui Lasem dan Pati. Nasihat yang buruk ini disetujui, dan penasihat yang baik (kajineman) itu dibunuh," tulis H.J. de Graaf, ahli sejarah Jawa, dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung.
- Petualangan Cinta Pangeran Mataram
PADA usia tertentu seorang putra mahkota, sudah harus memilih siapa pasangan yang nanti akan mendampinginya di istana. Umumnya keluarga kerajaan telah mempersiapkan beberapa calon, terutama dari kerajaan lain yang dinilai akan memperkuat posisi sang calon raja di dalam pemerintahan. Proses memilih dan menentukan itu dihadapi oleh putra Amangkurat I, Raden Mas Rahmat alias Pangeran Anom (kelak Amangkurat II) dalam persiapannya mengambil alih kekuasaan Mataram. Pada 1652, ketika putra mahkota dianggap telah menginjak usia siap menikah, keluarga mencalonkan putri Sultan Banten sebagai pasangannya. H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram menyebut rencana pernikahan itu merupakan pengesahan atas kerja sama yang sedang diusahakan kedua kerajaan Islam tersebut. Namun syarat yang diajukan keluarga Mataram, yakni mengirim salah seorang anggota keluarga Kesultanan Banten untuk tinggal di istana Mataram, dianggap terlalu berat.
- Mataram Batal Menyerang Banten
SETELAH kekalahan Cirebon, Raja Mataram Sunan Amangkurat I,merencanakan sebuah ekspedisi ke Banten. Waktunya ditetapkan pertengahan tahun 1652. Pamannya, Pangeran Purbaya, ditunjuksebagai pemimpin penyerangan. Tiba-tiba para pemuka agama memberi tahu bahwa ayahnya, Sultan Agung, pada waktu akhir hayatnya telah berpesan agar senjata Mataram pertama-tama harus diarahkan ke timur kemudian ke barat; kalau tidak, Mataram tidak akan memperoleh berkah. “Berarti pertama-tama Blambangan (Banyuwangi, red.) harus direbut dari orang-orang Bali yang kafir, sebelum dapat menyerang kaum seagama di Banten,” tulis H.J. de Graaf dalam Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I.
- Ekspedisi Mataram Kuno ke Luar Jawa
PERJALANAN ekspedisi ke luar Nusantara bukan hanya dilakukan raja-raja Sriwijaya dan Majapahit. Penguasa Kerajaan Mataram Kuno telah melancarkan aneksasi ke kerajaan-kerajan di luar pulau Jawa. Ada lima zona komersial di Asia Tenggara pada abad ke-14 dan awal abad ke-15. Zona Teluk Benggala mencakup India Selatan, Srilangka, Birma, dan pantai utara Sumatra. Lalu kawasan Selat Malaka. Kemudian Kawasan Laut Tiongkok Selatan yang meliputi pantai timur Semenanjung Tanah Melayu, Thailand, dan Vietnam Selatan. Kawasan Sulu mencakup pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan. Sementara Kawasan Laut Jawa terdiri atas Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Nusa Tenggara.
- Bule Bela Indonesia Merdeka
SELAMA ini, sejarah Indonesia seakan hanya mengenal nama K'tut Tantri alias Muriel Stuart Walker yang menjadi propagandis bagi kemerdekaan Indonesia. Muriel yang dikenal dengan cuap-cuap pedasnya terhadap Inggris dan Belanda dalam perang di Surabaya (November 1945), merupakan warga negara Amerika Serikat keturunan Skotlandia. Dia mengawali kiprahnya sebagai seorang propagandis pro-Republik di Radio Pemberontakan Surabaya. “Dia tandem yang cocok bagi Bung Tomo,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein kepada Historia.ID. Namun, tak banyak orang mengetahui bahwa Muriel bukan satu-satunya. Ada beberapa bule yang pernah terlibat sebagai juru propaganda Indonesia dalam era revolusi. Di antaranya adalah John Edward, Piet van Staveren, dan Elisabeth van Voorthangsen.





















