top of page

Hasil pencarian

9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pencak Silat Warisan Mataram Menembus Zaman

    BERBEDA dari kebanyakan pencak silat di Nusantara yang kondang dengan beragam ritual klenik dan mistik, Merpati Putih (MP) tidak punya itu. Sejak didirikan pada 1960-an, MP bebas dari bermacam ritual klenik atau ritual keagamaan tertentu. Alhasil, hingga zaman kekinian pun MP bisa dipelajari semua golongan. Bukan semata orang Indonesia, banyak orang luar pun mempelajarinya. MP dikenal dunia lewat aksi-aksi pemecahan rekor dari dua keunggulan ilmunya: pematahan benda keras dan ilmu getaran. Di Asian Games 2018, MP berkontribusi bagi kontingen Indonesia maupun Thailand baik lewat pelatih maupun atlet yang mempersembahkan medali.

  • Preserving Indonesia's Flora and Fauna

    One night, as they were about to enter their bedroom, Benjamin Galstaun and his wife, Henriette Esche, were stunned. Their bed was in complete mess with its kapok in disarray, burying Nora, the little tiger. The couple eventually spread a mattress on the floor and slept with Nora. Denta, the little elephant, did something else. Wanting to imitate his master's behavior, he sat on a rattan chair and... it broke! Meanwhile, Dora, an ape, destroyed all the kitchen cabinets. The antics of the little animals did not deter Galstaun. He still let the little animals roam the house before they grew up and were put in cages.

  • Menjaga Flora dan Fauna Indonesia

    SUATU malam, ketika hendak masuk kamar, Benjamin Galstaun dan istrinya, Henriette Esche, kaget. Kasur berantakan, dengan kapuk awut-awutan, dan di sana pula Nora, si macan kecil, membenamkan diri. Pasangan itu akhirnya menggelar tikar di lantai dan tidur bersama Nora. Lain lagi ulah Denta, si gajah kecil. Ingin meniru polah majikannya, ia menduduki kursi rotan dan... jebol! Sementara Dora, seekor kera, memporak-porandakan seluruh isi lemari dapur. Ulah para binatang kecil itu tak membuat Galstaun kapok. Dia tetap membiarkan satwa-satwa kecil berkeliaran di rumah sebelum tumbuh besar dan dimasukkan ke kandang.

  • Ziarah Sejarah ke Petamburan (3-Habis)

    DARI makam Johan Kepler Panggabean, kita berjalan terus ke pengujung belakang TPU Petamburan, terdapat blok makam Tionghoa. Di salah satu deretan, tersua makam Tan Tjeng Bok. Meski tak megah, keterangan pada nisannya menarik perhatian. Di bagian atas nisan, terukir tanda salib yang diapit dua sosok malaikat. Bagian selanjutnya menjelaskan siapa sosok yang dimakamkan. “Aktor Tiga Zaman. Telah Pulang ke Rumah Bapak di Surga. Lahir 04 Juni 1900. Wafat 15 Februari 1985. Tan Tjeng Bok (Pak Item),” demikian keterangan pada nisan. Tan Tjeng Bok adalah pelaku seni terkemuka Indonesia lintas zaman. Selain sebagai aktor film, dia dikenal sebagai seniman keroncong, pemain sandiwara, hingga pelawak. Seperti tersua pada nisannya, masa aktif Tan Tjeng Bok berkesenian meliputi tiga zaman.

  • Ajaran Amal untuk Ilmu Kebal

    KISAH perjuangan revolusi kemerdekaan di Indonesia seringkali berlumur bumbu mistis. Ganasnya peperangan melawan Belanda membuat para pejuang mencari berbagai cara untuk bertahan dalam pertempuran. Menjadi kebal adalah salah satunya. Menurut Kapten Soegih Arto, di masa revolusi banyak sekali pemuda pejuang yang berusaha memperoleh jimat. Benda bertuah itu diharapkan akan membuat mereka kebal dari tembakan pelutu ataupun tikaman bayonet. Beberapa dari mereka ada yang mencari sendiri atau mendapatkannya dari kiai maupun orang pintar. Ada yang dikalungkan di leher. Ada yang harus diikatkan di kepala. Ada harus dipakai sebagai sabuk, dan lain sebagainya.

  • Sersan Murtala Tak Kebal Peluru

    LETNAN Kolonel Kahar Muzakkar akhirnya mendapat pasukan tambahan setelah meninggalkan laskar Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pasukannya itu sekelompok bekas narapidana Nusakambangan, Jawa Tengah. “Beberapa di antaranya mungkin adalah tahanan politik (sekalipun nasionalisme lebih merupakan kejahatan bagi Belanda daripada bagi Jepang yang lebih baru menguasai penjara), tetapi beberapa lagi adalah bandit dan penjahat biasa –pencopet, pencuri, pembunuh,” catat Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII. Selain Kahar sendiri, pelatihan para bandit itu ditangani anak buah Kahar asal Sulawesi yang ikut berjuang di Jawa. Maulwi Saelan salah satunya.

  • Hasil Alami “Candi” di Purworejo

    BEBERAPA waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan temuan batu bersusun yang dikira bangunan candi di bukit Pajangan, Makem Dowo, Sidomulyo, Purworejo. Foto-fotonya sempat ramai di media sosial karena disangka merupakan candi yang sangat besar. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan beberapa ahli termasuk dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah, di bukit Pajangan tidak ditemukan adanya artefak. Para ahli menyimpulkan susunan batu itu adalah hasil alami yang disebut columnar joint. Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Muhammad Junawan menjelaskan, columnar joint merupakan hasil peristiwa geologis. Bentukan itu dihasilkan akibat aliran lava yang mengalami pendinginan dan pengkerutan hingga menyebabkan retakan. Struktur batuan beku ini sering kali memperlihatkan bentuk seperti kumpulan tiang-tiang maupun kolom-kolom.

  • Asal-Usul Daerah Tertua di Purworejo

    SUASANA sunyi menyergap kompleks makam pendiri daerah Loano, salah satu daerah tertua di Purworejo, Jawa Tengah. Letaknya di gugusan perbukitan Gunungdamar, sekira 1,5 kilometer ke arah barat kantor Polsek Loano. Sesekali suara tonggeret, serangga yang muncul sebagai penanda akhir musim penghujan, turut menyapa. Jauh masuk kedalam hutan, suara mesin gergaji mengalun, memotong batang pohon di hutan-hutan Purworejo. Di kompleks makam itu, terdapat dua nisan utama dalam satu cungkup. Di sekitar cungkup utama itu, masih terdapat sekira 13 nisan lain yang berukuran lebih kecil.

  • Kejutan untuk Istri Bupati Purworejo

    KENDATI belum setengah abad Gedong Tataan dijadikan daerah kolonisatie alias transmigrasi kolonial, keberhasilannya membuat daerah yang kini masuk Kabupaten Pesawaran, Lampung itu berulangkali didatangi bupati-bupati dari Jawa Tengah dan Jawa Timur era kolonial. Di awal abad ke-20 itu, Lampung ibarat masa depan bagi orang Jawa yang ekonominya lemah. Para pejabat lokal di Jawa ingin melihat sesuatu di Gedong Tataan itu. Tak tanggung-tanggung, yang datang ke sana bahkan ada yang raja. Koran De Locomotief, 9 Februari 1935 memberitakan, pada Rabu (6 Februari 1935) malam pukul 20.00, mobil yang ditumpangi Susuhunan Pakubuwono X (1866-1939) bersama istrinya Ratu Pembayun dan Ratu Mas tiba di Lampung. Beberapa pangeran ikut serta dalam kunjungan itu. Mereka disambut dengan tari-tarian dan langsung oleh Residen Rookmaker. Esoknya, 7 Februari 1935, Suhunan Solo mengunjungi Gedong Tataan. Mereka singgah di pendopo rumah asisten wedana Gadingrejo. Gadingrejo adalah pusat dari Distrik Gedong Tataan.

  • Menilik Sejarah Purworejo Sebagai Pusat Keraton Agung Sejagat

    MENGAKU sebagai Sinuhun, Totok Santosa Hadiningrat mendirikan dan memimpin Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah. Keraton yang belum selesai pembangunannya itu berpusat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo. Totok mengaku sebagai juru damai dan punya kekuasaan atas seluruh negara di dunia. Totok juga mengklaim KAS punya alat-alat kelengkapan di Eropa, dan Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai parlemen dunia yang menyokong mereka. Selain itu, Pentagon juga diklaim sebagai dewan keamanan KAS, bukan milik Amerika. Pendirian KAS menjadi bahan lelucon masyarakat karena otak-atik gathuk yang tak masuk akal. Masyarakat Purworejo dan lebih khusus Kecamatan Bayan sendiri tak ada yang percaya dengan omongan Totok. Jumeri, warga Bayan yang rumahnya bertetangga dengan Keraton jadi-jadian itu, mengatakan, sebagaimana diberitakan rmol Jateng, bahwa hanya dua orang tetangganya yang bergabung dengan Totok, lainnya tidak.

  • Hoegeng Iman Santoso Dipercaya Soemitro, Ditolak Soeharto

    SUATU hari, mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso senang. Sahabatnya, Soemitro Djojohadikusumo mengabarkan ingin menikahkan putranya, Prabowo Subianto. Pak Cum, sapaan Soemitro, meminta Hoegeng menjadi saksi dari pihaknya dalam pernikahan Prabowo dengan Siti Hediati Harijadi atau Titiek Soeharto. Hoegeng menyatakan bersedia. Keseriusan Pak Cum dibuktikan beberapa waktu kemudian. Di suatu sore, dia dan istrinya mampir ke rumah Hoegeng. Penampilan amat rapi keduanya membuat Hoegeng menduga Pak Cum dan istri pasti habis menghadiri acara penting. Benar, Pak Cum dan istri baru saja ke rumah Presiden Soeharto untuk merapatkan rencana pernikahan putra-putri mereka. Namun, Hoegeng justru mendapatkan keanehan dari wajah Pak Cum, yang sore itu tampak gundah. Aura wajahnya jauh dari cerah. Alih-alih menanyakannya, Hoegeng justru pura-pura tak tahu dan mempersilakan masuk kedua tamunya.

  • Hoegeng Pernah Keluar dari Kepolisian

    ISMAILAhmad, pemuda asal Maluku Utara, diperiksa polisi karena mengunggah humor Gus Dur di akun media sosialnya. Humor Gus Dur itu telah dikenal luas, tentang tiga polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng. Polres Kepulauan Sula menganggap humor itu mencemarkan nama baik institusi Polri. Gus Dur mungkin tak akan membuat humor itu bila Hoegeng Imam Santoso tak kembali ke Kepolisian. Di awal kariernya, dia pernah keluar dari Kepolisian. Pada suatu hari di masa revolusi, Hoegeng tengah berada di rumah orang tuanya di Pekalongan. Orang tuanya kedatangan tamu, Kolonel Laut M. Nazir, yang kemudian menjadi Panglima/Kepala Staf Angkatan Laut kedua.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page