top of page

Hasil pencarian

9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nona Manis Jagoan Bulutangkis

    HINGGA kini, predikat “Ratu Bulutangkis Indonesia” masih milik Susi Susanti. Kendati segudang prestasi sudah ditorehkan bintang-bintang putri Indonesia mulai Imelda Gunawan, Verawaty Fajrin, Ivanna Lie, Sarwendah, hingga Mia Audina Susi punya prestasi yang tak dimiliki bintang lain: medali emas Olimpiade. Susi bahkan menjadi pebulutangkis putri pertama di dunia yang merebutnya. Namun, teladan dari semua teladan pebulutangkis putri Indonesia merujuk pada satu nama: Minarni Soedarjanto. Soal skill dan prestasi, Minarni bisa bandingkan dengan bintang lain, tapi soal asam garam pengalaman hingga kecakapan berorganisasi, Minarni sulit dicari tandingannya. Lembaran sejarah karier bulutangkis Minarni dimulai sedari masa remajanya. Ensiklopedi Indonesia mencatat, legenda kelahiran Pasuruan, Jawa Timur pada 10 Mei 1944 itu mulai berbulutangkis sejak usia 13 tahun sebagai pemain tunggal.

  • Uber Cup, Lambang Supremasi Bulutangkis Putri

    GENAP 22 tahun Indonesia puasa gelar Uber Cup. Empat tahun berturut-turut para srikandi raket tanah air selalu kandas di perempat final. Terakhir, pil pahit mesti ditelan Greysia Polii cs. di Bangkok, Thailand, 21-26 Mei 2018, lantaran keok 2-3 dari tuan rumah di delapan besar. “Di atas kertas, Thailand masih di atas kita baik dari seeded dan ranking. Saat sempat unggul di atas angin, justru terbeban. Tertekan, main enggak lepas dan tegang. Faktor tuan rumah juga membuat lawan lebih percaya diri. Ini memang sudah sesuai target dan prediksi, paling tidak kita lolos delapan besar,” kata Susi Susanti, manajer tim, disitir situs resmi PBSI, 24 Mei 2018. Pencapaian itu jelas menunjukkan kemunduran prestasi bulutangkis putri Indonesia. Delapan besar dianggap sudah memenuhi target. Tak heran bila perkembangan bulutangkis putri Indonesia tertinggal dari Thailand yang masih se-lichting JKT 48.

  • Utami, Srikandi Bulutangkis Putri

    SETIDAKNYA ada lima wakil Indonesia yang masuk nominasi BWF Player of the Year 2018, sebuah penghargaan yang diberikan kepada para pebulutangkis jempolan dunia saban akhir tahun. Tiga di antaranya pebulutangkis putri. Ini menandakan Indonesia belum kehabisan talenta di nomor putri kendati harus diakui belakangan sulit menyandingkan diri dengan China, Korea, India, Jepang, bahkan Denmark. Tiga nama itu adalah Gregoria Mariska Tunjung dan Apriani Rahayu di kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, dan Leani Ratri Oktila di kategori Female Para-badminton Player of the Year. Tentu ada harapan nama-nama itu akan menyambung kelegendaan putri-putri Indonesia di panggung bulutangkis dunia. Pebulutangkis putri Indonesia sudah lama absen “bicara” di pentas dunia. Terakhir, era Susi Susanti dan Mia Audina yang sudah lebih dari 20 tahun. Keduanya merupakan pemegang tongkat estafet yang sudah dimulai sejak akhir 1960-an oleh Minarni Soedarjanto, Imelda Wiguno, Theresia Widiastuti, Regina Masli, dan Utami Dewi Kurniawan.

  • Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian I)

    BULUTANGKIS sudah puluhan tahun mendarah daging di Indonesia. Hampir setiap keluarga di perkampungan maupun perkotaan memainkannya, sebagaimana digambarkan Koko Koswara dalam lagu “Badminton”. Wajar bila banyak bintang bulutangkis, lawas maupun kini, yang punya hubungan keluarga baik satu darah ataupun lewat pernikahan. Dari 10 keluarga bulutangkis yang melahirkan bintang dengan prestasi membanggakan buat negeri ini, beberapa di antaranya berdarah Tionghoa. Mayoritas dari Pulau Jawa, sementara satu “dinasti” lainnya datang dari Indonesia Timur. Siapa saja mereka? Berikut rangkuman ke-10 keluarga bulutangkis tanah air sepanjang sejarah:

  • Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian II)

    SEJAK 1950-an sampai kini, bulutangkis masih jadi olahraga paling mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Kontinuitas prestasi yang tercetak tak hanya berkat pembinaan, melainkan juga karena garis keturunan dari orangtua ke anak ataupun dari kakak ke adik. Tak heran bila dalam bulutangkis, sebagaimana dalam sepakbola, terdapat banyak pemain satu darah yang acap menghasilkan prestasi di era berbeda. Setidaknya ada 10 yang tercatat mendirikan “dinasti” bulutangkis, lima di antaranya sudah diuraikan di bagian pertama. Berikut lima keluarga bulutangkis lainnya:

  • Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi

    SUDAH lebih dari sepekan pebulutangkis legendaris Verawaty Fadjrin tergolek di Rumahsakit Pusat Kanker Nasional Dharmais, Jakarta Barat. Sejak 17 September 2021, Verawaty dirawat intensif karena kanker paru-paru dan semenjak itu pula perhatian dan bantuan terus mengalir dari banyak pihak. Selain Presiden Joko Widodo, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri BUMN Erick Thohir, Menpora Zainudin Amali juga ikut menyumbang. Kemenpora bahkan menanggung biaya perawatannya di RS Dharmais. “Saya sampaikan pada keluarga maupun pada Pak Dirut (RS Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito), silakan dirawat secara maksimal dan pemerintah akan menanggung semuanya. Jadi enggak ada masalah, karena kita tahu ibu Verawaty ini adalah legenda bulutangkis Indonesia sehingga pemerintah memberikan perhatian dan apresiasi,” ungkap Zainudin di laman Kemenpora, 20 September 2021.

  • Sebelum Ferry Sonneville Juara Dunia Bulutangkis

    ORANG mengenalnya sebagai legenda bulutangkis Indonesia. Bersama timnya, dia ikut mengantarkan Indonesia menjuarai Thomas Cup pada 1958, 1961, dan 1964. Dialah Ferry Sonneville. Ferry merupakan anak dari pasangan Dirk Jan Sonneville yang berdarah Belanda-Perancis dan Leoni Elizabeth de Vogel berdarah Indo-Belanda. Dirk kelahiran Maos, daerah Banyumas, pada 22 Juli 1906. Dirk bekerja di perusahaan gas di sekitar Jatinegara, Jakarta. Hidup mereka berkecukupan untuk ukuran zamannya. Mereka tinggal di bilangan Kemayoran. “Sang suami gemar bermain tenis dan bahkan pernah menjadi juara tenis di Jakarta. Sedang sang istri gemar bermain bulutangkis, dan terkenal sebagai pemain yang tangguh,” tulis Wisnu Subagyo dalam Ferry Sonneville, Karya dan Pengabdiannya.

  • Pionir Kejayaan Bulutangkis Itu Bernama Tan Joe Hok

    BULUTANGKIS Indonesia tengah dinaungi kabut duka. Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara, bintang bulutangkis legendaris, wafat di usia 87 tahun. Sebagaimana yang dikabarkan PBSI, Tan Joe Hok tutup usia di Rumahsakit Medistra, Jakarta pada Senin (2/6/2025) pagi. “Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia menyampaikan dukacita yang mendalam dan doa terbaik untuk almarhum dan keluarga. Selamat jalan Tan Joe Hok. Warisanmu untuk bulutangkis (a)kan abadi,” tulis pernyataan PBSI di laman X-nya, @INABadminton, Senin (2/6/2025). Tan Joe Hok bukan sekadar legendaris, ia juga pionir kejayaan bulutangkis Indonesia. Pada dekade awal 1950-an, bulutangkis Indonesia masih dianggap “anak bawang” di panggung dunia. Namun bersama sejumlah bintang pelopor seperti Njoo Kiem Bie, Eddy Yusuf, hingga Ferry Sonneville, Tan Joe Hok membuat Indonesia mulai disegani di pentas internasional.

  • Kudeta Perwira Muda Negeri Sakura

    KENDATI bersalju dan udara dingin menusuk tulang pada pagi 26 Februari 1936, Ahmad Subardjo (di kemudian hari menjadi menteri luar negeri Republik Indonesia pertama) tetap memutuskan untuk pergi ke pusat kota Tokyo dari tempat tinggalnya di Distrik Hunchu. Namun belum lagi menginjakkan kakinya ke tangga, seorang penjaga pintu mencegatnya. “Penjaga pintu membisiki saya, lalu lintas di kota sedang macet karena suatu kecelakaan yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Sekalipun demikian, saya memasuki jalanan yang masih ada lalu lintas. Saya melihat rombongan orang-orang Jepang berhenti di jalan berbicara satu sama lain dengan suara yang lemah. Karena saya tidak dapat berbahasa Jepang, saya tidak dapat keterangan mengenai apa yang terjadi,” kata Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Di pusat kota, tempat dia bertemu banyak relasi dari kalangan ilmiah, barulah Subardjo mendapat sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pagi itu. "Ternyata, ada rencana dari opsir-opsir muda dan tentara untuk membunuh pejabat-pejabat tinggi pemerintah yang dekat pada takhta kaisar, tetapi belum ada keterangan-keterangan yang terperinci,” kata Subardjo.

  • Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II

    SORE 14 Agustus 1945 itu, Kepala kantor berita Jepang Nippon Hōsō Kyōkai (NHK) Hachiro Ohashi sibuk mengatur anak buahnya dari tim perekam. Selepas menerima pesan dari Menteri Biro Informasi Hiroshi Shimomura, ia segera memerintahkan Direktur Teknis Daitaro Arakawa memasang alat-alat yang dibutuhkan ke Kementerian Dalam Negeri. Para teknisi NHK itu lantas mengecek ruangan demi ruangan untuk mendapatkan spot yang takkan bergaung ketika dipasangi aneka peralatan rekaman. Dipilihlah ruangan Goseimu (kantor administrasi kekaisaran) di lantai kedua yang lantainya diselimuti karpet dengan tirai tebal yang menutup jendelanya. Ruangan itu paling pas. “Lalu para teknisi NHK itu menyiapkan piringan hitam yang akan direkam, juga mikrofonnya. Yang tak kalah penting, aliran listriknya juga mereka sambungkan dengan gulungan kabel dari generator kecil, seandainya listrik padam mengingat Tokyo tengah sering dibombardir (Sekutu) dari udara,” tulis Jim Smith dan Malcolm McConnell dalam The Last Mission: The Secret History of World War II’s Final Battle.

  • Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang

    SEBAGAI titisan Dewa Amaterasu, suara Kaisar Jepang Hirohito terlalu suci untuk didengar kuping siapapun, termasuk pejabat pemerintahan sekalipun. Namun, untuk kedua kalinya Tennō Heika (Yang Mulia Kaisar Shōwa) harus kembali bicara demi menyetop debat kusir tiada henti anggota kabinet di Dewan Tertinggi untuk Haluan Perang, 14 Agustus 1945. Upaya kaisar utamanya bertujuan untuk mencegah kemusnahan bangsanya. Pada rapat besar itu, kaisar menegaskan bahwa keinginannya tak berubah. Seperti pada rapat serupa empat hari sebelumnya, Tennō Heika berinisiatif mengintervensi keputusan untuk menerima Deklarasi Postdam (26 Juli 1945) dari Sekutu sebagai syarat menyerahnya Jepang. Dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) kian membuka mata sang kaisar akan bahaya kehancuran negerinya di depan mata. Diperparah lagi, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang dengan menginvasi negeri boneka Jepang, Manchukuo (Manchuria), pada 8 Agustus 1945. Invasi yang mengakhiri Pakta Netralitas Soviet-Jepang yang disepakati pada 13 April 1941 itu membuat Jepang kian terpojok.

  • “We Were Deceived by Emperor Hirohito”

    IN a war, no one wins. War doesn't only inflict suffering to those who are attacked. In some cases, the aggressors can be the indirect victims of the hidden political agenda of the ruler. While still living in Japan, Mitsuhiro Tanaka worked as a woodcutter. After being drafted, he was trained in Manchuria, China, at the age of 20, before being assigned as a warship machinist in Indonesia. When Japan lost the war, Tanaka came to Magelang and subsequently decided to live there and marry a Chinese woman. Tanaka reasoned that at that time, there were no more ships carrying prisoners of war, and even if he insisted on returning home, he was sure he would be killed by the Allies.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page