top of page

Hasil pencarian

9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita di Balik Lagu “Ayah”

    BEBERAPA tahun silam, Ariel Noah dan Candil, eks vokalis Serieus, menyanyikan lagu berjudul “Ayah”. Lagu lawas itu pun populer lagi. Lagu “Ayah” diciptakan dan dipopulerkan pertama kali oleh sebuah band asal Medan yang populer di tanah-air awal 1970-an. Nama band itu adalah The Mercy’s. The Mercy’s berisi anak-anak keluarga kelas menengah di Medan. Pendirinya Rizal Arsyad, Erwin Harahap, dan Rinto Harahap. Kecuali Harahap bersaudara, para pemainnya datang silih berganti. Sebagaimana umumnya band baru, mereka meretas kesuksesan dengan manggung dari pesta ke pesta dan membawakan lagu-lagu orang yang sudah terkenal. Namun, band ini pernah juga bermain di negeri jiran. Suatu ketika, The Mercy’s memainkan lagu “Tiada Lagi” di Radio Republik Indonesia ( RRI ) Medan. Tak dinyana, itu membuat nama The Mercy’s terangkat di Medan. Majalah Aktuil No. 110 1972 menyebut mereka kemudian hijrah ke Jakarta sejak September 1971.

  • Catatan Hitam Pendukung Kemerdekaan

    SETELAH Jepang melihat bayang-bayang kekalahan dari Sekutu, dan Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan janji kemerdekaan Indonesia di kemudian hari, sejumlah tentara Jepang memihak Indonesia. Di negeri sendiri, sikap mereka menjadi catatan hitam. “Bahkan mereka yang lari dari kamp interniran dinilai pemerintah Jepang sebagai desertir, bahkan subversi,” ujar Aiko Kurasawa, guru besar Keio University, Jepang, dalam acara peluncuran dan diskusi buku Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi karya Wenri Wanhar, di aula Ir Sukarno, Universitas Bung Karno, Jakarta (13/9). Pada Juli 1944, Jepang berada di ujung tanduk. Kepulauan Saipan jatuh ke tangan Sekutu. Garis pertahanan di Pasifik, yakni Kepulauan Solomon dan Kepulauan Marshall, bobol. Sebulan kemudian, Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan Indonesia diperkenankan merdeka di kemudian hari.

  • Pemerintahan di Tangan Orang-orang Tidak Kompeten

    AKSI unjuk rasa di berbagai wilayah menjadi gambaran dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap inkompetensi para pemangku kebijakan. Kritik tidak hanya diarahkan kepada kinerja mereka, tetapi juga pada respons dan pernyataan para pejabat yang nirempati sehingga memicu kemarahan publik. Respons masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang menyengsarakan rakyat mengingatkan pada sebuah istilah tua yang muncul pertama kali pada abad ke-17, yakni kakistokrasi. Berasal dari kata Yunani, kakistoraksi secara harfiah dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh orang-orang yang terburuk. Menurut ilmuwan politik Amerika Serikat, Norman J. Ornstein dalam “Political Disruption: Is America Headed Toward Uncontrollable Extremism or Partisan Goodwill?” termuat di Public Service and Good Governance for the Twenty-First Century , secara lebih luas, istilah kakistokrasi dapat berarti jenis pemerintahan yang paling tidak kompeten dan mengerikan.

  • Juru Foto di Bawah Desingan Peluru

    PESISIR Normandia, Prancis Utara pada pagi 6 Juni 1944. Desingan peluru senapan mesin dan ledakan-ledakan artileri Jerman di bibir pantai saling berlomba memekakkan telinga. Hari itu “Operasi Overlord” –atau sering disebut D-Day adalah operasi pendaratan pasukan Sekutu untuk membebaskan Eropa Barat dari tangan Jerman-Nazi– dimulai. Prajurit Satu Huston Riley merupakan satu di antara pasukan Kompi F, Batalyon ke-2, Resimen ke-16, Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat yang mesti mendarat pada gelombang pertama D-Day atau Invasi Normandia. Keadaan chaos tak sedikitpun memberi waktu buat Riley menebalkan nyali begitu ia turun dari kapal pendarat LCVP di sektor Omaha Beach. Riley sempat terjatuh dan setengah tenggelam. Ia berlindung sebisa mungkin selama setengah jam di pinggir pantai. Peluru senapan mesin Jerman mulanya hanya menyerempet ransel perbekalan di punggung serta di ujung sepatu boot-nya. Namun ketika ia kemudian tergeletak pasrah, empat peluru bersarang di bahunya. Tetapi hari itu maut belum menjemputnya. Seorang sersan dan seorang lagi yang tak familiar bagi Riley menarik tubuhnya untuk berlindung ke gundukan pasir yang lebih aman.

  • Pak Azis, Tukang Cukur Bung Karno

    SEKALI waktu, Mangil Martowidjojo, ajudan pribadi Presiden Sukarno, diminta presiden mencari seorang tukang cukur bernama Pak Azis. Waktu itu, sekira tahun 1950, Mangil baru datang dari Yogyakarta untuk bertugas sebagai pasukan polisi pengawal pribadi Bung Karno, cikal-bakal Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Mangil agak kesulitan mencari Pak Azis karena alamatnya tidak diketahui. Sejak ibukota pindah ke Yogyakarta di masa perang, Bung Karno tidak pernah lagi dicukur Pak Azis. Bung Karno hanya memberi petunjuk terbatas. “Orangnya sudah tua dan dulu badannya agak kurus,” kata Bung Karno merujuk Pak Azis. Petunjuk itu nyatanya tidak cukup membantu Mangil menemukan Pak Azis dengan lekas. Walhasil, Mangil mengubek-ubek setiap rumah di Jakarta yang bertuliskan “tukang cukur”. Mujur bagi Mangil tiba setelah salah seorang tukang cukur di bilangan Cikini mengetahui alamat Pak Azis tukang cukur, yakni dekat perkuburan Menteng Pulo. “Jadi kalau Bung Karno mau cukur, seminggu sebelumnya saya sudah harus memberi tahu Pak Azis,” kenang Mangil dalam memoarnya Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967 .

  • Rofiqoh, Generasi Pertama Kasidah Modern

    NAMA Rofiqoh Dharto Wahab tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah musik kasidah di Indonesia. Rofiqoh merupakan generasi awal penyanyi kasidah Indonesia yang pertama masuk dapur rekaman, RRI, dan TVRI. Rofiqoh, yang kelahiran 18 April 1945 di Keranji, Pekalongan, memiliki latar belakang keluarga yang religius. Menurut Jamal D. Rahman dalam tulisannya “Rofiqoh Dharto Wahab; Qariah dan Seniman Kasidah” di buku Ulama Perempuan Indonesia, orang tua Rofiqoh adalah orang terpandang di Pekalongan. Ayahnya, Kiai Haji Munawir memiliki pesantren Munawwirul Anam. Latar belakang keluarganya inilah yang membentuk karier Rofiqoh mentereng di kemudian hari.

  • Sudomo Sumber Berita

    SEKALI waktu, Laksamana TNI (Purn.) Sudomo meninjau Asrama Embarkasi Haji Donohudan di Boyolali. Waktu itu, Sudomo menjabat ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) . Sembari memeriksa fasilitas asrama, Sudomo bercengkrama dengan para calon haji yang sedang menunggu pemberangkatan. Perhatian Sudomo tertuju kepada calon haji tua yang duduk di pinggiran ranjang.  “Berapa umur Bapak,” tanya Sudomo. Bapak tua tersebut menjawab bahwa umurnya sudah 80 tahun.  Mendengar jawaban itu, Sudomo pun menimpali, “orang yang berumur di atas 80 tahun, Insya Allah dosa-dosanya sudah luntur, alias diampuni Allah,” kata Sudomo yang langsung dijawab, “Amin,” oleh si bapak tua.  Sudomo melanjutkan obrolan. “Umur saya sendiri 71 tahun, tapi umur dari alis ke mata atas,” kata Sudomo sambil menunjuk rambutnya yang sudah memutih. Sudomo lahir pada 20 September 1926 di Malang, Jawa Timur.

  • Revolusi Amerika dalam Pidato Sukarno di KAA

    AMERIKA Serikat berusaha menggagalkan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika. Caranya dengan merencanakan pembunuhan tokoh utamanya seperti Sukarno dan Zhou Enlai, hingga menandinginya dengan membentuk Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO, South East Asia Treaty Organization). Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani mengetahui hal itu. “Berita-berita sandi yang kita terima dari Amerika menunjukkan bahwa di sana ada kecurigaan dan kekhawatiran tentang jalannya Konperensi Bandung ini. Diperkirakan bahwa kolonialisme Barat akan menjadi bulan-bulanan dan sasaran pokok. Apalagi akan hadirnya RRC. Ini akan merugikan kedudukan Amerika di Bandung,” kata Roeslan dalam Bandung Connection . Roeslan berusaha menetralisir kekhawatiran AS itu demi hubungan baik Indonesia-Amerika. Dia teringat peristiwa penting bagi sejarah Amerika pada 18 April 1775 yaitu Revolusi Amerika.

  • Yang Santai di KAA

    DUA hari jelang KAA dibuka, para delegasi negara undangan sudah tiba di Indonesia. Para delegasi ini dari negaranya masing-masing tiba di Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan melalui darat ke Bandung. Kota Bandung sudah dipenuhi dengan poster-poster tentang penyelenggaraan KAA. Tepat malam Minggu, 16 April 1955, Sekretariat Bersama KAA, menghelat acara penyambutan berupa makan malam di Gedung Merdeka, yang semula disebut Gedung Concordia. Tampak dalam gambar, seorang pelayan, menuangkan minuman kepada keempat delegasi dari Afrika. Lelah akibat perjalanan panjang seolah sirna. Suasana santai, akrab, terlihat dalam acara makan tersebut.

  • Sejarah Awal BNI

    TAK lama setelah Indonesia merdeka, R.M. Margono Djojohadikusumo, pegawai Volkscredietwezen (perkreditan rakyat) dan jawatan koperasi sejak masa kolonial, memiliki gagasan mendirikan bank nasional yang akan melayani lalu lintas perdagangan. Sejak masa kolonial hingga saat itu bangsa Indonesia tidak memiliki bank nasional. Bank-bank yang ada, seperti bank perkreditan serta bank dagang dan sirkulasi, milik bangsa-bangsa asing, seperti De Javasche Bank. Margono mengajukan gagasannya kepada kemenakannya, Ir. Surachman, wakil menteri keuangan. Namun, Surachman menanggapinya dengan mengatakan, “Mengapa anda mau bersusah-susah. Nanti kita ambil alih seluruh Javasche Bank lengkap dengan aparatnya yang berpengetahuan dan berpengalaman itu.” Margono kemudian mendatangi Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hatta menyambut baik gagasan tentang satu bank pusat itu. Keduanya bersama-sama menyusun Surat Kuasa kepada Margono untuk membentuk Bank Negara Indonesia. Surat Kuasa bertanggal 16 September 1945 ini ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta dalam rapat kabinet pada 19 September 1945 jam empat sore.

  • K’tut Tantri Penyintas Kamp Interniran Jepang

    PENGHUNI kamp interniran Jepang tak hanya orang-orang Belanda. Warga negara lain yang dicurigai Jepang juga ikut dicokok masuk kamp interniran. Hal inilah yang terjadi kepada Muriel Stuart Walker, seorang jurnalis kebangsaan Skotlandia. “Dia orang Amerika kemudian ditahan di Kediri dan sempat ditelanjangi. Dalam keadaan telanjang bulat, ia disuruh jalan,” kata pakar cagar budaya Nunus Sapardi dalam diskusi bukunya beberapa waktu silam. Nunus merupakan penulis dua buku tentang kamp interniran Jepang, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Meski berdarah Skotlandia-Viking, Muriel memiliki kewarganegaraan Amerika setelah ikut ibunya pindah ke Amerika di usia remaja. Ia kemudian menikah dengan Karl Jenning Pierson, warga Amerika keturunan Swedia. Pada 1932, Muriel meninggalkan suaminya dan pindah ke Bali. Ia terpikat dengan lansekap dan budaya Bali setelah menyaksikan film Bali, The Last Paradise ketika berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Setibanya di Bali, Muriel diangkat anak oleh Anak Agung Ngurah, penguasa Puri Bangli, yang memberinya nama K’tut Tantri. Dalam tradisi Bali, K’tut adalah sebutan untuk anak keempat. Di Bali, K’tut Tantri menjadi pelukis dan menjalankan usaha penginapan. Kehidupannya yang tenang di Pulau Dewata berubah ketika Jepang datang pada 1942. Ancaman serangan tentara Angkatan Laut Jepang menyebabkan K’tut Tantri pindah ke Surabaya. Hingga suatu hari, dia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang, Kempeitai . Identitasnya sebagai warga Amerika ketahuan dan dicurigai sebagai agen intelijen Sekutu. Dia pun dimasukan ke kamp interniran di Kediri. Dalam memoarnya Revolt in Paradise , K’tut Tantri mengisahkan suramnya suasana di kamp interniran. Kamar selnya hanya dilengkapi sehelai tikar rombeng dan sehelai lagi untuk pembungkus segenggam jerami. Selain itu, ada galian lobang di tanah sebagai kakus berikut seember air kotor untuk cebok. Di tempat itu, dia menghabiskan waktu seminggu menunggu panggilan interogasi. Jatah makan di kamp interniran hanya dua kali sehari, pagi dan malam. Menunya pun memprihatinkan. Untuk sarapan, hanya nasi dengan garam. Kelaparan sudah jadi penderitaan yang lumrah. Tidur beralaskan tikar yang dipenuhi kutu-kutu jerami. Kesempatan mandi dan menyisir rambut jangan diharapkan, karena tidak pernah diizinkan. Kekotoran dan kelaparan adalah senjata untuk meruntuhkan mental para tawanan. Namun, yang paling menjijikkan, ketika dia harus buang hajat yang sungguh merendahkan harga dirinya sebagai manusia sekaligus perempuan. “Tapi, yang paling terkutuk ialah kalau pengawal memandang kami tak putus-putusnya pada waktu kami terpaksa menggunakan lobang di lantai yang jijik itu,” kenang Tantri dalam memoarnya yang dialihbahasakan menjadi Revolusi di Nusa Damai. K’tut Tantri juga menyaksikan kelakuan orang Belanda yang tanpa malu mengaku berdarah Indonesia demi mencari selamat dari kekejaman Jepang. Pemerintah pendudukan Jepang mengumumkan, orang Belanda keturunan Indonesia tidak akan ditawan dan yang diinternir akan dibebaskan. Menyambut maklumat itu, banyak keluarga Belanda totok dari kelas atas mendaftarkan diri untuk diinternir sebagai orang Indo. Berbeda halnya dengan perangai mereka di masa kolonial yang congkak dan angkuh terhadap pribumi. “Sebelum Jepang datang tak ada orang yang lebih angkuh daripada Belanda-Belanda ini. Jangan coba-coba menyebut mereka keturunan Indonesia sebab ini berarti menghina. Dengan perasaan getir aku memandangi beberapa pejabat Belanda dengan istri mereka, yang pernah mengecewakan kehidupanku di Bali karena bergaul rapat dengan penduduk, yang sekarang mengaku dirinya sebagai golongan Indo. Malah istri seorang bekas pembesar tinggi tidak segan-segan untuk mendaftarkan diri,” sentilnya. K’tut Tantri mendapat deraan siksa selama di kamp interniran. Ketika diinterogasi, dia dipaksa mengaku sebagai mata-mata Sekutu. Jika jawabannya tidak memuaskan, dia diintimidasi dengan pukulan fisik yang menyebabkan tubuhnya memar dan lebam. Begitulah yang dialaminya selama tiga minggu menjalani interogasi. Hingga akhirnya, tentara Jepang mengaraknya ke jalanan alun-alun Kediri dengan melucuti pakaiannya. Namun, dia memuji akhlak orang Jawa yang menjunjung tinggi susila dengan tidak membuka pintu dan jendela rumah mereka. “Sekilas pandang melihat tindakan itu Jepang, orang merasa jijik dan menyingkir ke segala jurusan. Dan pintu-pintu rumah dan jendela ditutup. Tak seorang pun terlihat di tengah jalan, kecuali Jepang dan perempuan kulit putih yang memar, kotor, dan tak berpakaian sehelai benang pun, yang mereka coba untuk menjatuhkan akhlaknya dan melemahkannya,” tutur K’tut Tantri. Meski proses interogasinya sarat kekerasan dan tak berperikemanusiaan, K’tut Tantri terkesan kepada beberapa penjaga yang bersahabat. Seperti seorang penjaga yang menawarkan makan bakmi setelah dia menjalani pemeriksaan, atau penjaga yang menghiburnya dengan bernyanyi lagu Love in wilderness dengan aksen Jepang. Bebas dari Kamp Interniran Lepas dari kamp interniran, K’tut Tantri dipenjara di Surabaya selama dua tahun hingga Jepang angkat kaki dari Indonesia. Setelahnya, dia bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Dia menjadi penyiar radio untuk Radio Barisan Pemberontak Indonesia (RBPRI) di bawah pimpinan Bung Tomo.   Dengan nama panggung Surabaya Sue, peran K’tut Tantri menjadi sorotan ketika dia menyiarkan serangan Inggris dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Jalannya pertempuran tersiar ke seluruh Eropa, menuai simpati dari berbagai negara terhadap perjuangan rakyat Surabaya. K’tut Tantri kemudian menjadi penyiar radio Voice of Free Indonesia yang mengudara ke mancanegara, sekaligus membuatnya dekat dengan para pemimpin Indonesia, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Amir Sjarifoeddin. Di masa revolusi, dia terlibat dalam penyelundupan opium untuk dibarter dengan senjata. Dia bersahabat dekat dengan Presiden Sukarno pada 1950–1960-an. K’tut Tantri berhasil melalui berbagai kesulitan semasa hidupnya. Dari semuanya, masa pendudukan Jepang, terutama kehidupan di kamp interniran sebagai episode paling pahit yang hampir merenggut nyawanya. Kendati demikian, dia dalam memoarnya tak menyingkap sepenuhnya apa yang terjadi di kamp, seperti alasan dia dibebaskan. Timothy Lindsey dalam The Romance of K’tut Tantri and Indonesia: Text Scripts History and Indentity menduga K’tut Tantri menjalin kerja sama dengan Jepang. Bahkan, dia dispekulasikan menjadi wanita simpanan pejabat tinggi Jepang. Namun, hingga wafatnya pada 27 Juli 1997 dalam usia 98 tahun, misteri itu tak pernah terjawab. K’tut Tantri membawanya lenyap bersama ke perabuannya di Bali, sebagaimana wasiatnya. Atas jasa dan perjuangannya, pada 1998 pemerintah Indonesia menganugerah penghargaan Bintang Mahaputera Nararya.*

  • Pesta Ulang Tahun yang Gagal

    PENDUDUKAN ibukota, Yogyakarta, oleh pasukan Belanda (Desember 1948) membuat Dan Yon 307/Kala Hitam Divisi Siliwangi Mayor Kemal Idris memutuskan untuk long march  membawa pulang pasukannya kembali ke Jawa Barat. Rute yang ditempuh untuk mencapai Jawa Barat adalah Wonosobo-Banyumas-Brebes. “Dalam waktu relatif singkat saya instruksikan untuk segera berangkat. Sesuai rencana semua keluarga batalyon, termasuk istri saya yang sedang hamil 7 bulan mengandung anak kedua saya, Anggreswara Kemalawati, tetap tinggal di Yogyakarta. Tetapi ada di antara keluarga yang memaksa ikut. Akhirnya saya perkenankan keluarga yang memaksa harus turut dengan menanggung risiko apa yang terjadi,” kata Kemal Idris dalam otobiografinya, Bertarung dalam Revolusi . Long march dapat berjalan dengan segera karena telah direncanakan secara matang sebelumnya. Perencanaannya bahkan sampai tingkat divisi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page