top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menyusun Kamus Bahasa Melayu

    PADA 1857, sebuah kapal berpenumpang tiba di Riau. Kapal yang betolak dari Batavia itu sebagian besar diisi orang-orang Eropa. Mereka adalah pegawai negeri di pemerintahan Hindia Belanda yang baru dipindahkan dari wilayah Jawa ke Riau. Seorang peneliti berkebangsaan Jerman, Von de Wall, ada di antara rombongan pegawai tersebut. Von de Wall akan menempati jabatan asisten residen di Riau. Sebelumnya dia tinggal di Kalimantan sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda di Kutai. Selama bekerja di sana, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa dan sastra Melayu. Ketika itu, Von de Wall berhasil menyusun daftar kosakata baru yang belum dikenal. Dia juga cukup fasih mengucapkan bahasa Melayu. Hal itu membuat pemerintah pusat di Batavia terkesan. Mereka lalu mengangkat Von de Wall menjadi pegawai bahasa. Tugasnya: menyusun tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan Belanda-Melayu. Kedatangannya ke Riau merupakan bagian dari tugas tersebut.

  • Mumi Ibu Hamil dan Janinnya

    Selama beberapa dekade, salah satu mumi Mesir Kuno koleksi Museum Nasional di Warsawa sempat disangka mumi pendeta laki-laki. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa mumi itu seorang perempuan hamil dengan janin yang masih di dalam perutnya.  “Itu benar-benar tidak terduga,” kata Wojciech Ejsmond, arkeolog Polish Academy of Sciences yang memimpin penelitian itu, sebagaimana dikutip New York Times . Para peneliti dari Polandia menemukan mumi perempuan hamil itu ketika melakukan studi komprehensif yang dimulai pada 2016. Mumi itu salah satu dari 40 lebih mumi koleksi Museum Nasional di Warsawa yang mereka kaji.  “Antropolog kami memeriksa ulang area panggul mumi untuk menentukan jenis kelamin mumi dan memeriksa semuanya, dan dia mengamati sesuatu yang aneh di area panggul, semacam anomali,” kata Ejsmond. Anomali itu rupanya adalah kaki kecil janin. Para peneliti menyimpulkan bahwa mumi itu dibuat pada sekira abad pertama SM. Pembalsemmembuatnya dengan hati-hati di beberapa titik. Dia dimakamkan di samping beragam perhiasan dan jimat. “Jenazah itu milik seorang wanita berstatus tinggi yang dibungkus linen dan kain tenun polos dan disertai satu set jimat yang kaya,” jelas Ejsmond.  Awalnya Diyakini Mumi Perempuan Belum diketahui pasti dari mana mumi itu berasal. Sebelum menjadi koleksi Museum Nasional di Warsawa, pada 1826 mumi ini adalah sumbangan untuk Universitas Warsawa. Penyumbang mumi itu mengklaim muminya berasal dari makam raja-raja di Thebes, yakni situs permakaman terkenal para Firaun kuno. Namun, dalam beberapa kasus, barang antik diklaim berasal dari tempat-tempat terkenal untuk meningkatkan nilainya. Karenanya para peneliti masih meragukan asal-usul mumi itu. Awalnya mumi itu memang diyakini sebagai mumi perempuan. Mengingat peti matinya ditutupi ornamen warna-warni dan mewah. “Mumi itu disebut ‘mumi seorang wanita’ pada abad ke-19,” tulis para ahli dalam jurnal hasil penelitian mereka yang dipublikasikan bulan lalu di Journal of Archaeological Science . Namun, praduga itu berubah pada abad berikutnya. Pada 1920,terjemahan hieroglif di peti mati dan penutup mumi mengungkap nama pendeta laki-laki Mesir, Hor-Djehuty. Ditambah lagi hasil pemeriksaan radiologi pada 1990-an membuat beberapa orang menafsirkan jenis kelamin mumi itu adalah laki-laki. Sebagaimana dilansir Smithsonian Mag azine , ketika mumi kembali diteliti menggunakan sinar-X dan CT scan pada 2016, para arkeolog masih berharap akan menemukan tubuh laki-laki di bawah pembungkus kuno itu. “Kejutan pertama kami adalah bukannya menemukan penis, tetapi justru payudara dan rambut panjang, dan kemudian kami menemukan bahwa itu adalah wanita hamil,” jelas Marzena Ozarek-Szilke, antropolog dan arkeolog di Universitas Warsawa. “Ketika kami melihat kaki kecil dan kemudian tangan kecil , kami sangat terkejut.” Menemukan mumi seseorang dalam peti mati orang lain tampaknya biasa terjadi di Mesir Kuno. Sebab, orang Mesir kuno menggunakan ulang peti mati yang pernah dipakai sebelumnya. “Ada kalanya mumi tidak sama dengan peti mati tempat mereka disemayamkan,” kata Ejsmond. “Ini terjadi kira-kira 10 persen dari waktu ke waktu.” Tapi ada catatan dalam penelitian itu bahwa kenyataannya selama abad ke-19, para penggali dan penjarah ilegal juga sering membuka sebagian mumi dan mencari benda-benda berharga sebelum mengembalikan mayatnya ke peti mati. “Tidak harus sama dengan tempat mumi itu ditemukan,” tulisnya. Adapun mumi Warsawa ini memang menunjukkan tanda-tanda penjarahan. Kain pembungkusnya rusak pada bagian leher, di mana mungkin dulunya pernah menyimpan jimat dan kalung. Penyebab Kematian Soal penguburan perempuan hamil di Mesir Kuno sebenarnya sudah pernah diketahui. Namun, ini adalah penemuan mumi perempuan hamil yang pertama.  “Ini seperti menemukan harta karun saat Anda memetik jamur di hutan,” kata Ejsmond. “Kami kewalahan dengan penemuan ini.” Lewat pemindaian sinar-X diketahui sang ibu meninggal di usia antara 20 hingga 30 tahun. Sementara janin dalam kandungannya, dari ukuran kepalanya, berusia 26 dan 30 minggu. Jenis kelamin janin belum ditentukan. Para ahli juga masih belum mengetahui bagaimana “perempuan misterius” itu meninggal. Namun, mengingat tingginya tingkat kematian ibu di dunia kuno, kemungkinan kehamilan adalah faktor kematiannya. Untuk memastikan penyebab kematiannya, peneliti akan menganalisis sampel kecil darah yang diawetkan di dalam jaringan lunak mumi. Nasib Anak yang Belum Lahir Para peneliti penasaran dengan janin yang dibiarkan utuh di dalam tubuh ibunya. Pasalnya, pada kasus lain, bayi yang lahir mati akan dimumikan dan dikuburkan bersama orang tua mereka. Terlebih lagi, empat organ mumi, kemungkinan paru-paru, hati, perut, dan jantung, tampaknya telah diekstraksi, dibalsem, dan dikembalikan ke tubuh sesuai dengan praktik mumifikasi pada umumnya. Karenanya menjadi pertanyaan, mengapa si pembalsem tak melakukan hal yang sama pada bayi yang belum lahir.  Para peneliti berhipotesis bahwa janin pada usia tersebut akan sulit diekstraksi karena ketebalan dan kekerasan rahim. Jadi, pembalsem yang membuat mumi si ibu, mungkin tak dapat mengeluarkan janin tanpa merusak tubuhnya atau janinnya. “Mungkin juga ada alasan agama. Mungkin mereka mengira bayi yang belum lahir itu tidak memiliki jiwa atau akan lebih aman di dunia berikutnya,” kata Ejsmond kepada CNN .  Dalam publikasi para peneliti tercatat bahwa “Studi ini membuka diskusi tentang kepercayaan Mesir Kuno, dapatkah seorang anak yang belum lahir pergi ke dunia akhir?” Mereka berhipotesis, janin mungkin masih dianggap sebagai bagian dari tubuh ibunya karena belum lahir. Kepercayaan Mesir Kuno menyatakan bahwa penamaan adalah bagian penting sebagai seorang manusia. Karenanya bayi yang belum memiliki nama mungkin tak dianggap sebagai individu yang berbeda. “Jadi, perjalanannya ke akhirat hanya bisa terjadi jika dia pergi ke dunia akhir sebagai bagian dari ibunya,” tulis para peneliti. Penemuan janin itu pun sangat penting karena kehamilan dan komplikasinya biasanya hanya meninggalkan sedikit jejak. Bahkan tidak ada bukti osteologis. Alexander Nagel, peneliti di departemen antropologi Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, menyebut temuan mumi hamil itu sebagai “penemuan unik”. “Secara umum, belum banyak perempuan yang menjadi fokus studi di Egiptologi,” kata Nagel .  Teks kuno ada yang memberikan beberapa wawasan tentang praktik seputar perempuan hamil pada zaman kuno. Papirus dari sekira 1825 SM misalnya, mengungkapkan bahwa bahan seperti madu dan kotoran buaya digunakan sebagai alat kontrasepsi. Namun tetap saja pengetahuan tentang perawatan prenatal (kehamilan) zaman Mesir Kuno tak banyak.   Para peneliti pun berharap dengan mempublikasikan temuannya, keberadaan mumi perempuan hamil ini dapat menarik perhatian dari para dokter dan ahli di bidang lain untuk membantu tahap penelitian selanjutnya. “Ini adalah dasar yang baik untuk memulai proyek yang lebih besar tentang mumi ini,” kata Ejsmond. “Karena akan membutuhkan banyak ahli untuk membuat penelitian interdisipliner yang layak.” Dengan demikian, temuan terbaru dari mumi Warsawa itu membuka jalur baru ke dalam studi kesehatan prenatal dunia kuno.

  • Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I

    MENYIAPKAN makan siang, meminumkan obat sirup hingga mengoleskan krim pereda nyeri. Begitu rutinitas sehari-hari Kaminah merawat Sri Kusdalini yang sudah mulai digerogoti penyakit di pengujung usianya. Rutinitas itu dijalani Kaminah dengan tulus ibarat seorang adik kandung yang menyayangi kakaknya. Kaminah aslinya tak punya pertautan darah dengan Kusdalini. Tembok rumah sederhana di gang sempit di kota Solo dengan cat terkelupas di sana-sini dan atap yang hampir ambruk jadi saksi bahwa kedua perempuan renta itu punya sejarah panjang yang membuat keduanya sudah seperti kakak-adik kandung. Keduanya menjalani hidup dalam kemiskinan. Beruntung sejumlah tetangga dekat Kaminah dan Kusdalini begitu peduli. Tidak hanya sering berbagi kebutuhan hidup, mereka juga bergotong-royong memperbaiki atap rumah Kusdalini tanpa imbalan sepeser pun. Baca juga: Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput Potret kehidupan Kusdalini dan Kaminah yang memprihatinkan itu disajikan sineas muda Fanny Chotimah dalam pembukaan film dokumenter bertajuk You and I . Film ini mengikuti keseharian dua penyintas Peristiwa 1965 itu yang berkalang cinta kasih akibat pengalaman getir yang pernah dialami keduanya. Sutradara debutan itu juga menyuguhkan keterangan tertulis dalam sebuah sisipan dengan foto-foto lawas tentang siapa Kusdalini dan Kaminah. Kedua penyintas disebutkan sempat jadi tahanan politik (tapol). Mereka dipenjara penguasa Orde Baru dalam waktu berlainan tetapi menjalin persaudaraan di balik jeruji besi. Sri Kusdalini (kiri) & Kaminah (kanan) di masa mudanya. (KawanKawan Media). Kusdalini dan Kaminah ditangkap pasca-G30S 1965 sebagai bekas anggota dua kelompok paduan suara berbeda yang bernaung di bawah Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kebanyakan penyintas 1965, Kusdalini dan Kaminah dipenjara tanpa pengadilan. “Bermula dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia yang berubah jadi Gerwani). Kita sepaham seperjuangan dan bidangnya itu sama, keputrian. Dia suka nyanyi, aku juga suka nyanyi. Tapi dia di tingkat kota, (kelompok) Gita Patria. Kalau aku kan di tingkat ranting, kecamatan, gitu. Karena satu kelompok gitu (di tahanan), jadi lama-lama makin dekat,” kata Kaminah mengenang dengan logat Jawanya. Kusdalini dibui selama dua tahun. Sementara, Kaminah harus mendekam sampai tujuh tahun. Baca juga: Agar Tak Menguap dalam Senyap Ketika sudah dibebaskan, Kaminah tak diterima lagi oleh keluarganya. Hanya Kusdalini dan mendiang neneknya yang bersedia menampungnya di rumahnya yang sederhana. Untuk menyambung nyawa, Kaminah ikut membantu Kusdalini membatik dan membuka warung makan di depan gang rumahnya. “Yang paling mengesankan (saat) Mbak Kus dipanggil bebas, itu aku…aku sampai pingsan,” imbuh Kaminah menahan sesak di dada dan air mata. Dari ikatan persahabatan yang berubah jadi persaudaraan itu Kusdalini nekat kembali ke penjara demi rutin mengunjungi Kaminah. Ia tak peduli ancaman penjaga penjara demi mengobati lara hati yang masih menerpa Kaminah. “Dia terus jenguk saya. Ngirim (bawa makanan). Sampai diancam Pak Gito: ‘Kus, kamu kok masih ke sini? Mrene kowe arep dilebokke meneh opo piye (Kamu ke sini mau dimasukin penjara lagi atau bagaimana)?’ Katanya, ‘ Mboten’o, Pak. Mesakke adik kulo (Tidak kok, Pak. Kasihan adik saya) kalau tidak dijenguk.’ Dia diancam tidak takut. Sudah di luar, sudah pegang surat pembebasan masak mau diambil lagi? Tapi ya mungkin saja,” tambah Kaminah. Kaminah (kiri) setia menemani Kusdalini saat dirawat di RST Slamet Riyadi. (KawanKawan Media). Kebaikan Kusdalini itu membuat Kaminah tulus membalas budi dengan merawat Kusdalini yang dua tahun terakhir mengalami pikun dan masalah pendengaran. Lutut Kusdalini pun mulai nyeri sampai harus dirawat di Rumahsakit Tingkat III Slamet Riyadi. Di situlah Kaminah setia menemani berhari-hari di kamar rawat inap. Tetapi potret kehidupan Kaminah dan Kusdalini tak melulu pedih. Bercanda kerap dilakukan keduanya untuk mengisi waktu sekaligus membunuh pilu. Seperti saat keduanya menonton program sejarah Metro TV di layar kaca yang berkaitan dengan sejarah kelam Peristiwa 1965. “Itu lho, konco-koncomu (teman-temanmu) dibunuh,” kata Kaminah. “Itu di Jembatan Bacem, arah selatan rumah kita,” timpal Kusdalini. “Jasmerah…” celetuk Kaminah. “Opo Jasmerah?” tanya Kusdalini. “Jangan melupakan sejarah. (Perkataan) Bung Karno…” “Bung Karno? Sukarno masih hidup?” tanya Kusdalini polos. “Ya Allah. Bagaimana Aku bisa omong sama kamu kalau kamu lupa semuanya. Jasmerah itu jangan melupakan sejarah. Kowe kok lali kabeh (kamu kok lupa semuanya),” tukas Kaminah sambil menyunggingkan senyum. Warung makan yang jadi penyambung hidup Kusdalini dan Kaminah usai dibebaskan dari penjara. (KawanKawan Media). Bung Karno merupakan sosok yang paling dipuja Kaminah. Di masa lalu dia ikut paduan suara di bawah sebuah organisasi politik karena mendewakan sang proklamator. “Negara kita sudah makmur tapi adilnya yang belum. Itu yang diperjuangkan, keadilan dan kemakmuran, oleh Sukarno yang begitu gigih, presiden yang tidak korupsi. Makamnya saja sesederhana itu di Blitar. Jomplang sekali dengan makam Pak Harto. Sampai kapanpun mbah (saya) tetap konsisten dengan ajaran Bung Karno,” tandasnya. Untuk mendapatkan detail lebih kehidupan memprihatinkan dua penyintas renta G30S di Solo itu, baiknya tonton sendiri You and I yang diputar via aplikasi daring bioskoponline.com sejak 9 April 2021 Menanti Keadilan hingga Akhir Hayat Jembatan Bacem begitu lekat dalam ingatan Kaminah. Maka ada campur-aduk perasaan di batinnya kala mendapati jembatan dekat perbatasan Surakarta-Sukoharjo itu ditampilkan sebuah program sejarah di layar kaca. Jembatan yang tak jauh dari rumahnya itu bersama Bengawan Solo yang mengalir di bawahnya jadi saksi bisu pembantaian penduduk sepanjang 1965-1966. Menurut sejarawan University of British Columbia Profesor John Roosa dalam Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia, Jembatan Bacem sarat sejarah kelam kala pihak militer mengeksekusi ratusan terduga simpatisan PKI tanpa pengadilan. Eksekusi lazimnya dilancarkan setiap malam selama dua tahun hingga membuat Bengawan Solo berwarna merah. “Jembatan yang digunakan tentara sebagai tempat eksekusi memang sudah tidak lagi ada tapi satu pasak bata dan betonnya masih berdiri di tepi sungai bak reruntuhan benteng kuno. Tanpa alasan yang jelas jembatannya dirobohkan dan diganti jembatan baja di sebelahnya. Satu pilar bata yang sudah dirambat tumbuhan vegetasi itulah satu-satunya penanda lokasi eksekusinya,” tulis Roosa. Baca juga: Peliknya Rekonsiliasi Peristiwa 1965 Tak jelas berapa total korbannya. Tetapi, lanjut Roosa merujuk keterangan salah satu penyintas, korbannya tidak kurang dari 144 jiwa. Sebelum dieksekusi, mereka dibawa dengan truk-truk dari sejumlah penjara. Mereka dieksekusi dalam kegelapan malam. “Seorang sesepuh yang tinggal dekat sungai mengatakan bahwa dia dan para tetangganya sering mendengar letusan tembakan setiap malam dari arah jembatan. Setiap subuh tentara memerintahkan warga menyodok-nyodok mayat dengan galah untuk dihanyutkan ke laut saking padatnya sungai itu dengan mayat,” sambungnya. Ilustrasi penangkapan para simpatisan PKI. ( hrw.org ). Surakarta dan daerah-daerah di sekitarnya sejak 1920-an sudah jadi basis komunis, sebut Roosa. Maka pasca-pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta, operasi ganyang PKI oleh tentara dan anasir pemuda anti-komunis banyak dilakukan di sana. Pengganyangan di Surakarta dimulai pada 22 Oktober 1965 kala dua kompi RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) datang dari Jakarta. Mereka memegang perintah Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie untuk menangkapi dan melenyapkan para pimpinan PKI dengan mengoordinir militer dan kepolisian setempat. “Saat pasukan RPKAD tiba pada 22 Oktober, Surakarta sudah seperti kota terbuka di hadapan pasukan penginvasi. Para komunis yang mendominasi kota tak diatur atau membuat kubu pertahanan. Para pimpinan PKI juga tidak memerintahkan penduduk desa membuat barikade hingga pasukan yang masuk dari Boyolali tak menghadapi tantangan berarti,” sambung Roosa. Baca juga: Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan Di masa itulah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Sebagaimana para korban lain, keduanya sempat dikumpulkan di Balai Kota Surakarta untuk diinterogasi sebelum dikirim ke sejumlah penjara. Sayangnya, sutradara tak memberi keterangan lebih lanjut di mana Kaminah dan Kusdalini dipenjara. Ada kemungkinan keduanya ditempatkan di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp itu jadi “Pulau Buru”-nya tahanan perempuan. Mayoritas yang ditahan di Plantungan adalah para perempuan yang terindikasi aktif di politik, seni, atau olahraga dengan payung organisasi-organisasi kiri walau tidak cukup bukti untuk diajukan ke pengadilan. “Seperti Ibu Marniti. Ia diinterogasi semalaman di balai kota tentang aktitivitasnya yang berafiliasi dengan PKI. Ia sebelumnya juga anggota Gerwani dan suaminya adalah Kepala Cabang Pemuda Rakjat Surakarta. Dengan data seperti itu ia dianggap simpatisan dan ditahan tanpa diadili di Plantungan sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979,” ungkap Roosa. Upaya menuntut keadilan dari Kaminah, Kusdalini dan para penyintas di Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo. (KawanKawan Media). Bagi yang lebih apes, nyawa para simpatisan atau terduga PKI melayang di Jembatan Bacem. Kisah getir itu mengendap tidak hanya di ingatan para penyintas tapi juga di banyak warga sekitar, bahkan orang luar. Seperti yang dialami aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Firman Lubis. Dia mengetahuinya saat menjadi sukarelawan korban banjir di Solo pada akhir Maret 1966. “Saya merinding mendengarkan cerita tentang metode-metode yang digunakan untuk membunuh para terduga komunis. Sangat tidak rasional. Walau saya benci ideologi komunis, tetapi aksi-aksi di luar hukum yang direstui militer seperti itu membuat saya jijik, apalagi tidak semua korban aslinya adalah komunis. Aksi seperti itu tidak bisa dibenarkan. PKI yang mereka ganyang bukanlah kekuatan militer melainkan partai politik legal yang berisi orang sipil. Situasinya tidak bisa dibandingkan dengan masa perang,” tutur Firman, dikutip Roosa. Betapapun mengerikannya kisah penyiksaan itu di mata orang-orang, para penyintas seperti Kaminah dan Kusdalinilah yang bisa merasakan sakitnya. Lebih parah lagi, penderitaan mereka tak berhenti sampai di penjara saja. Setelah bebas dari penjara, mereka tak bisa jadi orang bebas seperti sedia kala. Kaminah tak bisa pulang karena ditolak keluarganya sehingga harus ditampung Kusdalini. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Kaminah tegar menemani Kusdalini di saat-saat terakhirnya. (KawanKawan Media). Keadilan. Itulah yang dituntut Kaminah dan ribuan penyintas lain. Keadilan belum kunjung tiba bahkan ketika Kusdalini dijemput ajal. Potret itu yang dihadirkan secara observatory oleh Fanny Chotimah lewat You and I . Ia mengangkat kisah getir dua penyintas renta itu untuk menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Di tingkat nasional, itu dilakukannya dengan menayangkan You And I secara daring. Di panggung internasional, You And I diikutkan ke dalam berbagai festival dan sempat memenangi film terbaik kategori Asia di DMZ International Documentary Film Festival 2020 di Korea Selatan serta masuk ke daftar 10 film dokumenter Asia terbaik 2020 versi New Musical Express (Inggris). “Ini adalah cerita tentang ironi kehidupan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kita bisa menemukan belahan jiwa di tempat mengerikan yang tak seorang pun mau mengalaminya. Mereka bertemu di masa muda di penjara dan melalui hidup dengan mimpi yang hancur selama lebih dari 50 tahun. Yang mereka alami adalah bentuk ketidakadilan. Bukan tidak mungkin juga terjadi pada kita. Ini yang jadi perhatian saya. Saya percaya pada keadilan dan kemanusiaan,” ujar Fanny dalam rilisnya. Data Film: Judul: You and I | Sutradara: Fanny Chotimah | Produser: Amerta Kusuma, Yulia Evina Bhara, Tazia Teresa Darryanto | Produksi: KawanKawan Media, Partisipasi Indonesia | Genre: Dokumenter | Durasi: 72 Menit | Rilis: 9 April 2021 (Bioskop Online)

  • Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall

    Pada 1995, sebuah buku berjudul  Dalam Berkekalan Persahabatan  atau  In Everlasting Friendship: Letters from Raja Ali Haji , terbit di Leiden, Belanda. Penyuntingnya seorang Jerman bernama Van der Putten, dan seorang Melayu bernama al-Azhar. Buku itu berisi surat-surat Raja Ali Haji, seorang penulis kenamaan Melayu, kepada sahabatnya Von de Wall, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, selama periode 1857-1872. Selama bertahun-tahun, keduanya berusaha mencari, dan mengumpulkan surat-surat tinggalan Raja Ali Haji yang sebagian besar tersimpan di Jakarta dan Belanda. Surat yang bisa ditemukan jumlahnya sangat terbatas karena banyak yang rusak dimakan usia. Itu pun hanya surat milik Raja Ali Haji. Sedangkan tinggalan Von de Wall hampir tidak ada jejaknya. Dalam surat-suratnya, Raja Ali Haji memperkenalkan dirinya secara lengkap beserta gambaran fisik serta wataknya. Kepada kawan Eropanya, dia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya. Lebih dari itu, Raja Ali Haji juga menceritakan alasan dan tujuannya mengarang, tentang keluarga, lingkungan tempat tinggal, kesehatan, sampai kesusahannya. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto Bagaimana keduanya bisa berkarib? Menyusun Kamus Melayu Dalam surat-surat yang dikumpulkan Van der Putten dan al-Azhar, termuat  Dalam Berkekalan Persahabatan , disebutkan bahwa pertemuan pertama Raja Ali Haji dan Von de Wall terjadi pada 1857 di Riau. Raja Ali Haji telah dikenal sebagai pengarang terkemuka Riau Lingga, sementara Von de Wall menjabat Asisten Residen Riau. Ketika itu Von de Wall sebenarnya tengah menjalankan dua tugas: menjadi asisten residen dan menyusun kamus Belanda-Melayu. Menurut Hendrik M.J. Maier dalam  Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar , tugas pertama hanyalah tugas sampingan, sedangkan pekerjaan pokoknya adalah penyusunan kamus Belanda-Melayu. “Tugas resminya ialah menyusun kamus bahasa dan tatabahasa Melayu yang boleh dipegang sebagai pedoman oleh pegawai negeri. Tetapi, tidak disangsikan Von de Wall diharapkan pula memberi taklimat kepada pegawai atasannya mengenai perkembangan politik dan ekonomi di kepulauan Riau,” kata Maier. Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir Von de Wall lahir di Giessen, Jerman pada 1809. Dia pertama kali menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda pada 1829 sebagai sersan pasukan berkuda ketentaraan Belanda. Pada 1831 dia dipromosikan menjadi pemimpin suatu pasukan pribumi di Cirebon. Karir militer Von de Wall dilepas setelah pada 1834 diangkat menjadi pemimpin sipil di Kalimantan. Selama hampir dua dasawarsa beriktunya dia mengabdikan diri pada pemerintah kolonial Belanda, dengan menempati sejumlah jabatan penting di Kalimantan. Salah satu prestasi Von de Wall yang membuat pejabat tinggi Belanda terkesan adalah ketika dia berhasil mengadakan perjalanan untuk menjalin hubungan baik dengan penguasa-penguasa di pedalaman Kalimantan. Di Kalimantan, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa Melayu. Dia pun lalu diminta oleh pemerintah pusat di Batavia untuk mengerjakan kamus Belanda-Melayu, yang keberadaannya amat penting dalam melanggengkan kekuasaan mereka di tanah jajahannya. Von de Wall menerima jabatan asisten residen sebagai kompensasi tugas tersebut, dengan bayaran mencapai 1.200 gulden sebulan. “Penyusunan kamus bahasa Melayu-Belanda dianggap sebagai tugas yang amat mustahak karena pemerintah Belanda didesak oleh perlunya pedoman ejaan dan pengembangan kosakata baku untuk pendidikan,” ungkap Jan van der Putten dan al-Azhar Pada 1857, Von de Wall tiba di Riau. Salah satu kesultanan Melayu di Pulau Sumatra tersebut terpilih sebagai tempat penelitian untuk penyusunan kamus karena dianggap memiliki kebahasaan Melayu yang paling asli dan murni dibandingkan daerah lain di Nusantara. Pada waktu itulah, Von de Wall pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Raja Ali Haji. Dalam surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji, diceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan sarjana Eropa tersebut. Dikatakan Raja Ali Haji bahwa dia dikenalkan oleh Residen Neuwenhuyzen kepada seorang pejabat pemerintah baru yang diberi tugas “memungut bahasa-bahasa Melayu”. “Maka dari karena inilah, apa hal ihwal saya dahulukan dengan setahu tuan juga, karena itulah jalan adab dan hormat di dalam kitab-kitab peraturan sahabat persahabatan orang-orang Islam adanya, sudah habis putih hati ikhlas saya kepada tuan serta putus pada pikiran saya yang tuan itu semata-mata mencari kebajikan atas saya jua,” kata Raja Ali Haji, sebagaimana termuat Maier. Menjalin Kedekatan Setelah pertemuan pertama, Raja Ali Haji dan Von de Wall semakin sering bertemu. Raja Ali Haji menjadi informan bagi Von de Wall dalam penyusunan kamus Belanda-Melayu. Dia juga membantu kawan Eropa-nya itu menerjemahkan dan mengumpulkan naskah-naskah di Kesultanan Riau Lingga, serta menyusun kosa-kata untuk kamus. Von de Wall tinggal di Tanjung Pinang, sedangkan Raja Ali Haji tingal di Penyengat. Jarak kedua tempat itu, imbuh Maier, lebih kurang satu jam naik perahu kecil. Pertemuan mereka biasanya diisi dengan saling bertukar ilmu. Von de Wall tentang kebahasaan Melayu, sementara Raja Ali Haji tentang pengetahuan Barat yang tidak pernah dia temukan di tempat kelahirannya. “Pertemuan itu semacam penjelmaan pertemuan dua kebudayaan, dua pandangan hidup, seperti dua kalajengking yang bersangkutan dan tidak berlepasan lagi,” ucap Maier. Pada awal terbentuknya kerja sama antara Raja Ali Haji dengan Von de Wall, ikatannya tidak didasarkan pada landasan formal. Raja Ali Haji hanya menerima imbalan berupa hadiah, seperti senjata dan buku, bukan uang. Baru setelah beberapa tahun bekerja dia mendapat tunjangan sebesar 30 rial sebulan. Hubungan persahabatan Raja Ali Haji dan Von de Wall kian erat seiring dengan banyaknya pertemuan keduanya dalam menyusun kamus Belanda-Melayu. Surat-surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji juga memberi kesan bahwa sastrawan Riau itu semakin membuka hatinya kepada kawan lain bangsa itu. Ketika sedang masa sulit akibat kekurangan uang, Raja Ali Haji selalu bercerita kepada Von de Wall. Dia juga akan mengutarakan kesedihannya ketika terjadi masalah di lingkungannya. Raja Ali Haji tak segan menceritakan segala hal kepada Von de Wall, termasuk masalah syahwatnya. Bahkan ketika Von de Wall sakit, Raja Ali Haji akan merasa bersedih. “Demi persahabatannya, Raja Ali Haji berani membuka diri secara halus dan sopan. Atas nama kerja sama, dia tidak malu meminta benda yang bermacam-macam. Permintaan itu biasanya tertanam dalam cerita yang cukup menyejukkan,” tulis Van der Putten dan al-Azhar. Tidak hanya dekat dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga cukup akrab dengan pejabat pemerintah Belanda lainnya. Dia kerap dihadiahi berbagai macam buku dari Timur Tengah oleh gubernemen di Batavia. Berbagai permintaannya pun sering dikabulkan, seperti ketika dia meminta sebuah senapan, lilin, mesin cetak, rokok, hingga perekat surat berwarna-warni.  Setelah menyelesaikan pekerjaan membuat kamus Belanda-Melayu, kedekatan Raja Ali Haji dan Von de Wall masih terjalin baik. Keduanya tidak pernah lupa saling bertukar surat. Namun semenjak kesehatan Von de Wall menurun, Raja Ali Haji jarang bertemu secara langsung. Kawannya itu juga lebih sering pergi ke Jawa untuk pemulihan kesehatannya. Menurut Maier, surat terakhir Raja Ali Haji kepada Von de Wall dikirim pada Desember 1872. Setelah itu tidak ada lagi catatan mengenai komunikasi keduanya. Diketahui bahwa, baik Raja Ali Haji, maupun Von de Wall wafat pada 1873. Sang pujangga meninggal di Pulau Penyengat, sementara kawan Eropa-nya di  Pulau Jawa.

  • Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin

    Waltraud Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their  Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II . Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada. Poster-poster miring tentang orang-orang Soviet ditempel di banyak tempat. Tujuan kampanye negatif terhadap Soviet itu adalah untuk mendapatkan dukungan penuh rakyat Jerman. Propaganda tersebut mendapat momennya ketika pasukan Jerman berhasil merebut kembali Desa Nemmersdorf di Prusia Timur dari Tentara Merah pada Oktober 1944. Di sana, pasukan Jerman menemukan jejak pembantaian penduduk desa oleh pasukan Soviet. “Laporan serdadu Wehrmacht bicara tentang sekitar dua puluh kematian –perempuan, anak-anak, dan orangtua. Fakta lain lebih sulit dipastikan, paling tidak karena mesin propaganda di Berlin segera mengirimkan fotografer dan juru kamera untuk melakukan kampanye sensasional,” tulis sejarawan Florian Huber dalam bukunya, Promise Me You’ll Shoot Yourself . Pembantaian di Nemmerdsdorf, The Horror of Nemmerdsdorf, segera menjadi berita yang disuguhkan suratkabar-suratkabar resmi partai maupun yang berafiliasi dengannya selama berminggu-minggu setelah itu. Propaganda itu berhasil mempengaruhi penduduk di berbagai tempat, termasuk Demmin. Waltraud dan keluarganya termasuk yang “termakan” isu tersebut. Keluarga Waltraud telah lama menunggu dengan cemas kenyataan akan tibanya pasukan Soviet. Maka begitu pasukan Soviet tiba di Demmin pada 30 April, mereka langsung masuk ke rumah sambil membarikade pintu-pintu yang ada agar para serdadu Tentara Merah itu tak bisa memasuki rumah mereka. Berbeda dari keluarga Waltraud yang tak memiliki pria karena ayah Waltraud belum kembali dari medan tempur, Gerhard Moldenhauer, seorang kepala sekolah di kota itu yang sejak 1930-an dia merupakan penentang Hitler, memilih melawan ketimbang membiarkan begitu saja pasukan Soviet menduduki kotanya. Setelah mendengar tiga jembatan diledakkan, Moldenhauer langsung mengambil senjatanya. Pertama-tama dia menembak istri dan ketiga anaknya, lalu memberitahu tetangganya bahwa dia baru saja membunuh keluarganya dan setelah itu akan melakukan hal yang sama pada tentara Soviet. Setelah kembali ke apartemennya, Moldenhauer berdiri di tepi jendela dan melepaskan beberapa tembakan ke arah pasukan pembuka tentara Soviet yang bergerak di Treptower Strasse. Beberapa serdadu Soviet langsung roboh dibuatnya. Tak ingin kalah cepat dari tentara Soviet yang bakal mendatangi apartemennya, Moldenhauer lalu menembak kepalanya sendiri. Dia mati. Bunuh diri menjadi pilihan banyak warga Demmin ketika kota itu diduduki pasukan Soviet di pengujung Perang Dunia II. Selain karena kota itu telah ditinggalkan pejabat, militer, maupun milisi Nazi, penduduk tak bisa melarikan diri karena tiga jembatan yang melintasi dua sungai yang memagari Demmin telah dihancurkan militer Jerman ketika mereka mundur. Penghancuran jembatan dilakukan agar mencegah pasukan Soviet bergerak lebih jauh ke Rostok. Namun di sisi lain, penghancuran jembatan itu membuat penduduk tak bisa melarikan diri dari Demmin. Para penduduk yang sudah termakan propaganda itu pun akhirnya memilih bunuh diri ketimbang mesti menghadapi kekejaman pasukan Soviet. Lothar Buchner, anggota Dinas Perburuhan Nasional berusia 27 tahun, merupakan di antara sekian banyak warga Demmin yang enggan mengahadapi kekejaman Soviet. Setelah mencekik dengan tali hingga tewas Georg-Peter, bayi berusia tiga tahun anggota keluarganya, Lothar gantung diri. Langkahnya lalu diikuti istrinya, saudara perempuannya, dan ibu serta neneknya. Tindakan Lothar juga dilakukan seorang polisi tua dan istrinya. Keduanya sama-sama gantung diri. Tindakan pasangan suami-istri itu kemudian diikuti dua putrinya. Hal serupa juga seorang istri muda letnan Jerman yang tinggal berdua dengan bayinya yang berusia tiga tahun. Pun dengan keluarga Bewersdorff, direktur asuransi kesehatan umum kota. Setelah menghabisi semua anggota keluarganya, termasuk dua cucunya yang berusia dua dan sembilan tahun, dia gantung diri. Cara berbeda dengan tujuan sama dilakukan putri seorang tuan tanah Waldberg dan tukang kayu berusia 47 tahun beserta istrinya. Mereka menembak kepala mereka sendiri untuk mati. Sekira 21 nyawa warga Demmin melayang pada 30 April itu.    “Dua puluh satu kasus bunuh diri ini –menggolongkan kematian anak-anak sebagai 'bunuh diri pembunuhan', sejalan dengan bahasa hukum yang umum– dicatat dalam kematian Kantor Catatan Sipil Demmin. Melihat daftar dan melihat serentetan kasus bunuh diri yang tiba-tiba di Demmon pada 30 April 1945, bahkan sebelum invasi Soviet, Anda merasa bahwa ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya –tetapi dua puluh satu kasus bunuh diri itu hanyalah permulaan,” tulis Florian Huber. Banyak penduduk yang kadung tewas itu sebetulnya tertipu propaganda Nazi. Di lapangan, kenyataannya banyak prajurit Tentara Merah yang jauh berbeda dari yang dipropagandakan. Terlebih setelah para serdadu Soviet itu melihat bendera putih tanda menyerah berkibaran di rumah-rumah hingga menara gereja. Maria Buske, istri pendeta setempat yang menjadi pekerja palang merah, bersama kedua putranya yang masih kecil dan ayahnya serta belasan pengungsi yang menumpang di rumahnya, merupakan di antara yang mengalami perlakuan baik pasukan Soviet itu. Awalnya mereka hendak mengungsi, namun gagal karena jembatan telah diledakkan. Mereka akhirnya berdesakan di rumahnya yang kecil sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa di blok rumahnya di Baustrasse. Tak lama kemudian, mereka kedatangan regu perintis pasukan Soviet berisi empat perwira plus 20 puluh prajurit yang membangun jembatan sementara. Kendati sejumlah prajurit meminta paksa arloji dan dan cincin kawin Maria setelah menggeledah rumah, mereka mengizinkan Maria dan keluarganya tetap tinggal di rumah itu. Bahkan, di rumah mereka ditempatkan seorang prajurit penjaga. Hal serupa dialami Irene Broker. Kendati sempat bersembunyi di galian dengan ditutupi tumpukan kompos, dia ditemukan seorang prajurit Soviet tua lalu dibawa kembali ke rumahnya. “Dia memberitahu kami bahwa tidak semua tentara itu baik – ada lebih banyak lagi yang datang dan kami harus bersembunyi. Kami melihat pesawat Rusia melintasi kota. Pusat kota diselimuti asap tebal. Ada kebakaran di semua tempat. Ketika saya melihat keluar jendela loteng, saya bisa melihat api berkobar ke langit,” kata Irene, dikutip Huber. Perlakuan baik yang diberikan tentara Soviet juga diterima Marie Dabs di rumah-pertaniannya, Deven Farm. Seorang prajurit Soviet yang mendatangi Deven Farm memberitahu Maria dengan bahasa Jerman bahwa tak perlu takut pada tentara Rusia. Namun, para serdadu Soviet kemudian menjarahi apapun yang ada di Deven Farm. Menjelang tengah malam, mereka memerintahkan Marie meninggalkan rumah-pertaniannya. Dengan membawa barang-barang yang tersisa, Marie membawa dua putrinya disertai Martha pembantunya mengungsi ke hutan di pinggiran kota. Namun, di tengah perjalanan mereka dihentikan sekelompok tentara. Seorang prajurit memerintahkan Nanni, putri Marie yang berusia 19 tahun, agar kembali ke Deven Farm. Sambil menangis Marie Dabs memohon agar perintah itu tak dijalankan. Beruntung beberapa perwira tinggi Soviet muncul dan membebaskan gadis itu. Marie, anak perempuan, anak laki-laki, dan Martha langsung lari menuju Deven Wood. Nahas, mereka ditangkap oleh lebih banyak tentara sebelum mereka sampai tujuan. Beberapa di antara mereka merampas tas Marie dan memeriksanya, sementara yang lain membawa lari Martha ke hutan. Marie dan anak-anaknya terpisah dari Martha ketika akhirnya mencapai Deven Wood. Di hutan itu mereka menghabiskan malam yang dingin bersama beberapa pengungsi lain.   Sementara itu, Martha tak mereka ketahui lagi nasibnya. Kemungkinan dia diperkosa para serdadu Soviet. Pemerkosaan merupakan perbuatan yang umum dilakukan serdadu Tentara Merah bahkan sejak sebelum memasuki wilayah Jerman. “Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis jurnalis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945 . Pemerkosaan oleh Tentara Merah itu pula yang paling ditakuti para perempuan di Demmin. Maka begitu mendengar kedatangan mereka, ibu dan nenek Waltraud segera membarikade pintu-pintu di rumahnya. Namun upaya itu jelas tak bisa mencegah prajurit Tentara Merah masuk rumah mereka. Kendati berhasil melarikan diri dari rumah, mereka kemudian tertangkap sepasukan Tentara Merah. Sekelompok prajurit lalu membawa paksa paksa ibu Waltraud dan memperkosanya. “Kami mengejar mereka dan berteriak, tapi mereka mendorong kami dengan popor senapan,” kata Waltraud, dikutip Laurence Rees. Antara 10-20 kali sang ibu dipaksa melayani nafsu binatang para serdadu Soviet di malam awal Mei 1945 itu. Saking frustrasinya, sang ibu lalu memeluk kedua putrinya untuk diajak bunuh diri dengan nyemplung ke sungai yang airnya deras. “Dan pada titik inilah nenek Waltraud menyelamatkan nyawa mereka untuk terakhir kalinya. Dia menahan ibu Waltraud dan berteriak, ‘Tolong jangan lakukan ini! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang harus kukatakan pada suamimu saat dia kembali dari medan perang dan kau pergi?’ Akibatnya, kata Waltraud, ibunya ‘menjadi lebih tenang’ dan membiarkan dirinya terbebas dari sungai dan pikiran untuk bunuh diri,” sambung Laurence. Dalam perjalanan, mereka melihat banyak ibu-ibu mengingatkan bayi-bayi mereka di pundak mereka lalu mencemplungkan diri ke sungai itu. Bunuh diri menjadi pemandangan umum di Demmin saat itu hingga setidaknya tiga hari setelah kedatangan pasukan Soviet. Bunuh diri gelombang kedua itu dilakukan penduduk Demmin sebagai akibat perkosaan masif yang dilakukan Tentara Merah. “Itu adalah malam dingin dan mengerikan yang kami habiskan di lantai hutan yang gundul... Saya membawa salah satu mantel bulu saya, dan selimut saya, jadi saya bisa menutupi anak-anak. Di kejauhan kami mendengar teriakan para perempuan yang disiksa dan diperkosa, dan melihat api pertama di atas kota yang terbakar,” kata Marie Dabs. Selain mencemplungkan diri ke sungai, mereka bunuh diri dengan cara menenggelamkan anak-anak dan anggota keluarga mereka lalu mengikuti, menembak, gantung diri, minum sianida, atau menyilet nadi mereka. Namun, tak semua upaya bunuh diri itu berhasil. Banyak upaya itu digagalkan serdadu Soviet. Seorang serdadu bahkan sampai berulangkali memotong tali yang digunakan seorang ibu untuk gantung diri. Upaya lain yang gagal, terjadi secara alami seperti tak mati setelah menembakkan diri sendiri, atau tak mati setelah mencemplungkan diri ke sungai. Banyak bayi yang ditenggelamkan oleh ibu mereka juga selamat. Betapapun, lebih dari seribu jiwa warga Demmin melayang akibat bunuh diri massal itu. Bunuh diri massal Demmin menjadi bunuh diri massal terbesar di Jerman selama Perang Dunia.

  • Ketika THR Bikin Geger

    DALAM beberapa hari terakhir, dan tentu saja juga dalam beberapa hari ke depan, perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada suatu jenis pendapatan di luar gaji reguler yang diterima para pekerja di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu THR alias Tunjangan Hari Raya. Pemerintah telah memastikan bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan menerima THR pada H-10 sebelum Lebaran, atau pada awal Mei 2021. Pemerintah juga mewajibkan para pelaku usaha untuk memberikan THR kepada buruhnya tanpa dicicil. Akan ada sanksi bagi yang tidak membayarkan THR. Pro dan kontra pun bermunculan.

  • Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika

    Ketika hadir di perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), raut wajah Bung Hatta tampak merenggut. Agak aneh memang kalau dalam suatu momen maha penting itu Bung Hatta malah bermuka muram. Sebagai ajudan, Mayor Soegih Arto menangkap suasana “mendung” yang ditampilkan wakil presiden. Sang mayor lantas bertanya, ada apa gerangan dengan Bung Hatta. “Bung Hatta menanyakan apakah saya sudah mendengar mengenai Hospitality Committee ,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Isu Hospitality Comitee  (HC) berkaitan dengan kartu akses yang dikeluarkan Panitia Ramah Tamah bagi delegasi negara peserta untuk menikmati fasilitas khusus. Menurut Hatta, panitia itu telah mengorganisasi dan menyediakan perempuan untuk menghibur para anggota delegasi. Hatta kemudian meminta Soegih Arto agar memanggil Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA. Setengah jam berselang, Roeslan tiba di kantor Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD), tempat Bung Hatta menginap. Pembicaraan antara Hatta dan Roeslan berlangsung secara empat mata. Setelah Roeslan pamit undur diri, Soegih Arto coba mengorek keterangan dari Bung Hatta. “Beliau menjelaskan, bahwa HC itu memang ada dan telah mendapat green light dari number one .” Bung Hatta tidak dapat berbuat apa-apa,” kenang Soegih Arto. Pejabat “ number one” yang dimaksud Soegih Arto ialah Presiden Sukarno yang merestui kegiatan Panitia Ramah Tamah.   Bukan Panitia Resmi Menurut Wildan Sena Utama, sejarawan UGM yang meneliti KAA sebagai tesisnya di Universitas Leiden, Panitia Ramah Tamah tidak termasuk dalam kepanitiaan resmi KAA. Struktur organisasi KAA dibagi menjadi Sekretariat Bersama yang dipimpin oleh Roeslan Abdulgani sebagai sekretaris jenderal. Sekretariat Bersama ini diisi oleh diplomat dari lima negara sponsor KAA. Sekretariat Bersama terbagi dalam enam komite yakni, Komite Politik, Komite Ekonomi, Komite Sosial dan Budaya, Komite Keuangan, Komite Pers, dan Komite Teknis. Dalam menjalankan tugasnya, Sekretariat Bersama dibantu oleh dua komite: Komite Antar Departemen di Jakarta dan Komite Lokal di Bandung dipimpin oleh Gubernur Jawa Barat. Jadi, Panitia Ramah Tamah ini berdiri di luar Sekretariat Bersama alias ilegal. Soal perempuan penghibur yang diorganisasi Panitia Ramah Tamah, Wildan enggan memastikan. Menurutnya, adalah biasa perhelatan internasional skala besar yang mendatangkan banyak tamu dan ekspatriat asing kerap mengundang para pekerja seks komersial yang datang untuk memanfaatkan kesempatan. Persoalannya, apakah mereka datang atas permintaan negara penyelenggara ataukah memang ada oknum dalam kepanitiaan yang bekerja sama dengan muncikari. Ini bisa juga dibedah dalam kerangka ekonomi. “Yang perlu dianalisis adalah apakah komite keramahtamahan berwujud pendamping perempuan yang biasa berperan sebagai LO ( Liaison Officer ), ataukah ada juga yang bisa diajak untuk ‘berkencan’. Ataukah memang ada oknum yang bekerjasama dengan muncikari menyediakan wanita penghibur di luar hospitality committee lalu hospitality committee kena imbas karena ada aktivitas lendir ini dan lalu mendapatkan tuduhan sebagai komite yang menyediakan wanita penghibur,” kata Wildan kepada Historia dalam pesan via surat elektronik.  Rumor tentang Panitia Ramah Tamah ini, kata jurnalis terkemuka Rosihan Anwar, menyebabkan Roeslan Abdulgani jadi sasaran kritik sebagian kalangan pers nasional saat itu. Roeslan disebut-sebut bertanggungjawab atas kegiatan gelap  Hospitality Committee yang menyediakan bagi anggota-anggota peserta fasilitas lady's escorts untuk menemani mereka di waktu santai dan istirahat. Rosihan kemudian mengonfirmasi desas-desus tersebut dari penelitian sejarawan Australia John David Legge yang menulis buku Sukarno: A Political Biography .    Dalam biografi yang terbit tahun 1972 itu, Legge mengatakan, atas dorongan Sukarno diadakanlah seleksi di kalangan mahasiswa perempuan. Lalu, dari mereka disediakan sejumlah hostess (pemandu tamu) yang pintar. Konon dari mereka diberi peran sebagai Mata Hari, mata-mata wanita Belanda yang kemudian menjadi spion Jerman dalam Perang Dunia I. “Benar tidaknya ada Mata Hari-Mata Hari di Konferensi Asia Afrika, wallahu'alam ,” kata Rosihan dalam Sejarah Kecil Indonesia: Petite Histoire Indonesia Jilid 2 . Gorengan Oposisi Kritik paling gencar menyoal Panitia Ramah Tamah datang dari suratkabar Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis. Indonesia Raya bahkan melakukan reportase lapangan dan memberitakannya secara eksklusif, termasuk mengunjungi rumah-rumah yang disinyalir beralih fungsi jadi tempat prostitusi serta mewawancarai para perempuan di sana. Mochtar Lubis menyebutnya sebagai salah satu isu terpenitng yang diangkat pada 1950-an.   Dari arus pemberitaan itu, terseretlah sejumlah nama pejabat penting. Diantaranya, Wakil Direkrut Percetakan Negara Lie Hok Tay yang punya andil dalam skandal Hospitality Committee . Pada tahun yang sama, Lie Hok Tay terlibat kasus korupsi pengadaan logistik pemilu 1955 yang ikut menyeret Roeslan Abdulgani juga. Namun, hanya Lie Hok Tay yang ditangkap dan diproses hukum. Meski radikal membongkar skandal, pemberitaan Indonesia Raya itu juga sempat menyulut keresahan kelompok perempuan. Koran Mochtar Lubis ini dianggap sensasional dan merendahkan harkat perempuan. Menurut David Hill dalam Jurnalisme Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis, 1922—1924 , koran ini ingin mengungkapkan dan mengutuk pelecehan yang mengandung eksploitasi seksual, tetapi tergiur untuk memaparkan bahan dengan cara yang bisa meningkatkan sirkulasi. Tidak dapat dimungkiri, gorengan isu skandal Panitia Ramah Tamah dalam KAA jadi makanan empuk bagi kaum oposisi. Mulai dari pra, perhelatan hingga pasca penyelenggaraan, suara penentangan terhadap KAA begitu gencar. Menurut Deni Rachman, peneliti dan kolektor literatur KAA, hal ini disebabkan orientasi politik luar negeri era kepartaian saat itu memungkinkan setiap partai mempunyai kiblat mitra luar negeri masing-masing.   “PNI berorientasi ke Asia-Afrika, PSI ke Eropa Barat, PKI ke Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina, dan Masjumi ke Timur Tengah dan Amerika Serikat,” ungkap Deni kepada Historia dalam pesan surat elektronik. Pendapat yang sama dikemukakan Wildan Sena Utama. Menurutnya, respon negatif terhadap KAA terlihat dari pemberitaan media yang mengambil sikap oposisi terhadap pemerintah. Untuk melancarkan kritik, isu Hospitality Committee tentu saja menguntungkan kelompok tersebut. “Daripada mengulas isu yang lebih substansial, ternyata mereka lebih tertarik dengan ‘isu esek-esek’. Isu-isu moral memang telah sangat penting dalam politik Indonesia sejak awal-awal Indonesia merdeka,” pungkas Wildan.

  • Kado Pemuda untuk Belanda di Bulan Puasa

    Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947 ketika umat Islam sedang puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Setahun kemudian, pada 21 Juli 1948, tepat pada hari ulang tahun agresi militer Belanda yang juga pada bulan Ramadan 1367 Hijriyah, terjadi peristiwa menggemparkan, yaitu pelemparan granat di dekat bioskop Rex di Senen, Jakarta. Kira-kira pukul 22.00 WIB seseorang berjalan di Kramatplein, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Atas petunjuk kedua orang itu, dia melemparkan granat ke arah kedai kopi yang terletak di persimpangan jalan. Granat mengenai meja, jatuh lalu meledak. Di antara orang yang sedang minum-minum di sana, lima orang serdadu KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda) dan lima orang preman terkena pecahan granat dan menderita luka-luka. Dua serdadu yang luka berat dibawa ke rumah sakit, yang lainnya bisa langsung pulang ke tangsi. Di antara preman itu, seorang Indonesia dan seorang Tionghoa juga luka parah, yang lainnya, seorang Indonesia, seorang Tionghoa, dan seorang Belanda luka ringan.n. Polisi segera datang untuk melakukan pemeriksaan. Polisi militerdan sepasukan dari basis komando kemudian menggerebek pemuda di mana-mana. Mereka menangkap 32 orang. Atas petunjuk salah seorang yang ditangkap, dilakukan penggeledahan di rumah salah seorang yang mereka tangkap itu. Di sini ditemukan dua buah granat tangan merek Mill’s 36, jenisnya sama dengan yang dilemparkan di kedai kopi.Ternyata,di antara 32 orang yang ditangkap itu terdapat pelaku pelemparan granat.Dia mengakui perbuatannya setelah pemeriksaan yang lama. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , menyebutkan bahwa koran-koran Belanda menuduh yang berbuat itu adalah TNI dari Yogyakarta, seperti dengan tegas dikatakan oleh Het Dagblad . Dikatakan pula bahwa pelempar granat itu berpakaian seragam tentara Belanda dengan memakai pet berlambang singa seperti yang dipakai KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia bernama Jumingan bin Surokromo, seorang anggota Arbeiderscompagnie  di Berelaan. Organisasi yang bertanggung jawab atas pelemparan granat itu bernama Pusat Organisasi Siasat Rahasia (POSAR 9) yang dipimpin oleh Suhadono bin Utomo yang memakai nama samaran Yudo. Dia berhubungan dengan Salendu dkk. di Cipinang dan Usman Sumantri dari SP 88 (Satoean Pemberontak). “POSAR 9 adalah salah satu organisasi gerilya di dalam kota yang mengganggu Belanda dari belakang. Mereka telah membentuk sel-sel dalam KNIL. Mereka mempunyai antara lain ‘fonds Lebaran’ dan sanggup membeli senjata-senjata,” tulis Nasution. Beberapa waktu setelah pelemparan granat itu, polisi menyita sepucuk mitraliur (senapan mesin) dan stengun dari Mukri, anggota POSAR 9 di Tanah Abang. Pemimpin aksi peggranatan itu adalah Suwagi bin Utomo, seorang serdadu pada Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Hindia Belanda). Anggotanya Sutadi dari Alg.   Bewakingscompagnie  (kompi pengawal) yang aktif dalam “fonds Lebaran” , Tiron, dan Sukaman yang juga anggota KNIL. Pengadilan Negeri yang diketuai oleh Cohen (mungkin Mr. Cohen Stuart) menjatuhkan hukuman mati kepada Yudo, Suwagi, dan Jumingan. Sedangkan anggotanya: Sukaman bin Wongsotaruno dihukum 9 tahun penjara, Darmowarsito bin Singodikromo (5 tahun), Tiron bin Gugis (13 tahun), Darmoraharjo bin Marsudiyono (9 tahun), Laso bin Makasaran (2 tahun), dan J. Harianya (9 tahun). “Pembela Mr. Mohd. Syah menerima hukuman penjara itu, tetapi menolak hukuman mati, mengingat latar belakangnya adalah politik, dan membandingkannya dengan kaum partisan di Eropa yang di mana-mana justru disanjung-sanjung,” tulis Nasution. Namun, hakim Cohen menolak kasus itu sebagai kasus politik. Menurutnya, perbuatan tersebut adalah tindak kriminal.

  • Petualangan Hiu Kencana di Pakistan

    SURABAYA, JANUARI1966. Letnan Satu Budi Handoko tetiba mendapat perintah untuk bersiap menyelam. Dikatakan kepada awak kapal selam Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) itu bahwa dirinya akan bertugas selama 3 bulan. “Waktu itu belum dikasih tahu mau ditugaskan kemana, hanya diperintahkan untuk menyiapkan pakaian saja,” kenangnya. Dengan kapal selam RI Nagaransang yang dikomandani oleh Kapten (P) Basoeki, Budi kemudian bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Bersama RI Nagaransang, ikut pula kapal selam RI Bramastra (dikomandani oleh Kapten Jasin Soedirdjo). Setelah mengisi logistik di lepas pantai Jakarta, dua kapal selam jenis Whiskey buatan Uni Sovyet itu meluncur ke arah Samudera Indonesia. “Barulah di tengah Samudera Indonesia, ada pemberitahuan bahwa kami akan dikirim ke Pakistan guna membantu negara tersebut berperang melawan India,” ungkap Budi. * Jakarta, 10 September 1965. Panglima Angkatan Udara Republik Islam Pakistan Marsekal Madya Asghar Khan bertemu dengan Presiden Sukarno. Dalam kesempatan tersebut, selain menyampaikan surat dari Presiden Pakistan Ayub Khan, Asghar juga meminta dukungan kepada Bung Karno terkait konflik mereka dengan India. “Serangan India ke Pakistan itu sama dengan serangan ke Indonesia juga…”jawab Sukarno seperti dikutip oleh buku Story of  the Pakistan Navy, 1947—1972 (Riwayat Angkatan Laut Pakistan, 1947—1972) terbitan Seksi Sejarah Markas Besar Angkatan Laut Pakistan). Singkat cerita, Indonesia menyanggupi untuk mendukung Pakistan tidak hanya sebatas dukungan politik saja. Presiden Sukarno pun memerintahkan para panglima-nya untuk mengirimkan sejumlah peralatan militer ke Pakistan, meliputi beberapa tank baja, pesawat tempur, kapal perang dan kepal selam. ALRI sendiri mengirimkan Gugus Tugas ke-10-nya yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Laut) T.A. Natanegara. Kekuatan ALRI itu terdiri dari dua kapal cepat roket, empat kapal cepat torpedo, lima tank ampibi dan dua kapal selam. “Untuk kapal selam yang dikirim adalah RI Nagaransang dan RI Bramastra…” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 , yang ditulis dan diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. * Setelah 10 hari bergerak di lautan lepas, RI Nagaransang dan RI Bramastra pun sampai di Karachi, ibu kota Pakistan saat itu. Dengan barisan kehormatan, mereka pun disambut oleh pihak Angkatan Laut Pakistan dan langsung ditempatkan di sebuah mess. “Sejak itulah kami kerap melakukan patroli bersama dengan kapal selam Pakistan,” kenang Budi. Sejatinya ketika Gugus ke-10 ALRI tiba di Pakistan, kesepakatan damai antara Pakistan dan India baru beberapa hari saja ditandatangani oleh kedua pimpinan negara tersebut di Tashkent, Uni Sovyet. Namun mengingat situasi kawasan tidak bisa diduga, pihak Pakistan tetap meminta “sukarelawan” Indonesia untuk tetap siap-siaga. Termasuk RI Nagaransang dan RI Bramastra. “Untuk kebutuhan hidup (termasuk gaji perbulan dengan mata uang dollar), kami dijamin oleh pemerintah Pakistan…” ungkap Budi. Menurut Budi, tak ada sama sekali kontak senjata terjadi dengan India selama rombongan Indonesia ada di Karachi. Kegiatan militer hanya sebatas patroli dan latihan bersama saja. Jika pun ada kontak radio dengan kapal selam India, itu sebatas hanya “pamer kekuatan” saja untuk sekadar perang urat syaraf. Budi mengaku selama hidup di Karachi semuanya memang serba terjamin. Bukan saja soal makanan, tetapi juga mereka difasilitasi berbagai hiburan seperti menonton film di bioskop secara gratis. Namun soal makanan, sesungguhnya orang-orang Indonesia merasa tidak begitu cocok. “Mereka kan makanannya itu sejenis roti dan karee ya, kita sebetulnya kurang suka itu,” ujar Budi. Awal Maret 1966, misi militer  Indonesia di Pakistan yang diberi sandi Operasi Nasakom itu pun dinyatakan selesai. Saat melepas kru Hiu Kencana, Presiden Ayub Khan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap anggota Gugus ke-10 ALRI. Mereka, kata Ayub, merupakan contoh terbaik “prajurit-prajurit Ampera” yang bisa dicontoh oleh prajurit-prajurit dan rakyat Pakistan. “Ketika meninggalkan Karachi, kami dilepas dengan barisan kehormatan pula seperti saat kali pertama kami datang,” kenang Budi. Maka berakhirlah petualangan Korps Hiu Kencana ALRI di Pakistan.

  • Sejarah Panjang Nerazzurri dalam Inter 110

    WALAU langit sudah temaram, suasana di Stadio Giuseppe Meazza di Milan, Italia pada 22 Januari 2018 justru makin semarak. Puluhan ribu Interisti  (fans Inter Milan) memajang wajah optimis. Nyanyian dan sorakan penyemangat sudah menggelora walau sebagian dari mereka masih berada di antrean gerbang masuk stadion untuk menyaksikan Inter menjamu AS Roma. “Inter adalah segalanya!” seru seorang fans kepada seorang wartawan TV. “Inter adalah tim terbaik!” ujar fans lain. “ Forza  Inter!” jadi seruan penutup komentar sejumlah fans itu yang dikeluarkan sembari mereka membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera hitam-biru yang jadi warna kebanggaan I Nerazzurri  (julukan Inter). Adegan berganti ke laga sengit Inter kontra AS Roma. Scene -nya silih berganti dengan adegan bos Inter, Steven Zhang, yang berjalan santai menuju lorong stadion. Zhang jadi satu dari puluhan ribuan pemuja Inter yang berjingkrak kegirangan ketika empat menit jelang waktu pertandingan berakhir, Matías Vecino mencetak gol penyeimbang kedudukan lewat sundulannya. Cuplikan-cuplikan adegan yang muncul bergantian itu turut menaikkan adrenalin penonton dalam pembuka dokumenter bertajuk Inter 110  garapan sutradara Mirwan Suwarso yang dibantu editor Marcos Horacio Azevedo. Dokumenter ini dibuat dalam rangka perayaan milad ke-110 klub pada 9 Maret 2018. Inter 110 mengupas sejarah klub tersebut sejak berdirinya akibat “perceraian” dengan tim sekota, AC Milan. Fakta-fakta historisnya dihadikan lewat rekaman-rekaman lawas hitam-putih maupun penuturan 13 narasumber yang mewakili era masing-masing, di antaranya eks pemain Mario Corso (1957-1973), Giuseppe Baresi (1976-1992), Giuseppe Bergomi (1979-1999), Javier Zanetti (1995-2014), Marco Materazzi (2001-2011); eks pelatih Giovanni Trapattoni (1986-1991); eks Presiden Massimo Moratti (1995-2013); jurnalis senior Fabio Monti; serta Gianfelice Fachetti yang mewakili mendiang ayahnya, Giacinto Fachetti. Mereka mengisahkan sejarah Inter mulai dari dibangunnya tim di awal abad ke-20 hingga insan-insannya yang berpengaruh, seperti bintang legendaris Giuseppe Meazza. “Jika dinding (stadion) bisa bicara, mereka akan bercerita banyak hal tentang Meazza dan tim Inter. Banyak yang menganggap Meazza bermain dengan membungkus bola di kakinya. Itu karena tidak ada yang bisa mencuri bola darinya. Dia mewakili Inter di masa itu dengan cara terbaik. Skill dan permainan yang modern mampu memukau para fans,” ungkap Monti tentang Meazza. Empat legenda "Grande Inter": Alessandro Mazzola, Aristide Guarneri, Mario Corso & Gianfranco Bedin. ( inter.it ). Masa keemasan “Grande Inter” (1960-1967) yang dibesut pelatih visioner Helenio Herrera dengan tulang punggung tim Giacinto Fachetti, Armando Picchi, Sandro Mazzola, dan Luis Suárez jelas tak dilewatkan. Di masa itu Inter digdaya merebut Scudetto (gelar juara) Serie A musim 1964-1965 dan 1965-1966, serta European Cup (kini Liga Champions) 1963-1964 dan 1964-1965. “Grande Inter adalah tim istimewa, bukan hanya untuk fans tapi bagi pecinta sepakbola Italia maupun dunia secara keseluruhan. Pada saat itu Milan menjadi ibukota sepakbola dunia. Masa-masa yang menggembirakan untuk tim biru-hitam serta jadi sejarah tersendiri bagi sepakbola dari kota Madonnina,” kenang Gianfelice Fachetti. Sempat mengecewakan sepanjang 1970-an, Inter bangkit sesaat pada akhir 1980-an. Berpilarkan tiga bintang Jerman, Andreas Brehme, Lothar Matthäus, dan Jurgen Klinsmann, pelatih Trapattoni menghadirkan lagi gelar Serie A untuk Inter di musim 1988-1989. Namun, Inter kembali tenggelam di era 1990-an. Ketidakjelasan visi membuat Inter berkubang di bawah rival-rivalnya macam AS Roma, AC Milan, dan Juventus sepanjang dekade itu. Ketika Massimo Moratti mengambilalih kepemimpinan klub dan mendatangkan bintang Brasil Ronaldo Luís Nazário de Lima pada 1997, visi Inter mulai kembali jelas. Di milenium baru, Inter kembali harus bersaing sengit di antara “Magnificent Seven”. Baru pada 2010 di bawah besutan José Mourinho Inter bisa mengulang masa keemasannya dengan menyabet treble winners : Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.  Bos Inter Milan saat ini, Zhang Kangyang alias Stephen Zhang. ( inter.it ). Namun, lagi-lagi masa indah itu tak awet. Di musim-musim setelahnya, Inter lagi-lagi jatuh di bawah superioritas AC Milan dan Juventus. Inter bahkan pernah mengecap tujuh tahun puasa Liga Champions. Baru di musim 2018 titik awal kebangkitan Inter kembali muncul. “Inter punya sejarah luar biasa. Inter yang sebenarnya sudah ditentukan 110 tahun lalu. Kembali masuk Liga Champions setelah absen enam-tujuh tahun yang merupakan kompetisi terbaik, itu seperti sebuah sinyal. Di saat yang bersamaan juga jadi titik awal (kebangkitan) untuk kami. Seratus sepuluh tahun ke depan diharapkan akan sama fantastisnya atau bahkan lebih dari 110 tahun sebelumnya,” tandas Zhang. Untuk lebih menyelami dan menghayati historis Inter, baiknya Anda tonton sendiri Inter 110 di Mola TV . Feel -nya akan lebih terasa mengingat pada Minggu (2/5/2021) Inter sukses menyegel Scudetto ke-19 dengan menyisakan empat laga pamungkas di musim 2020-2021. Sepihak Rangkaian footage era modern dan lawas yang diiringi music scoring orkestra cukup mampu membikin suasana hati penonton naik-turun menyaksikan sejarah Inter. Hanya saja, transisi peralihan gambar wawancara narasumber yang silih berganti secara cepat cukup mengganggu. Di beberapa bagian, kata-kata narasumber acap terpotong. Sepatah-dua patah kata atau sepotong kalimat baru dilontarkan narasumber, sudah langsung berganti penuturan narasumber lain. Alhasil, penonton tak diberi kesempatan mencerna informasi narasumber sebelumnya. Bahasa juga menjadi soal. Mayoritas narasumber melontarkan pernyataan dalam bahasa Italia. Sialnya, tidak ada pilihan subtitle bahasa Inggris. Yang ada hanya terjemahan bahasa Indonesia di beberapa bagian yang terjemahannya kurang rapi sehingga logika kalimatnya membingungkan. Skuad "La Grande Inter" di musim 1964-1965. ( inter.it ). Lalu, subyektivitas dalam dokumenter ini cenderung kuat. Hampir semua narasumber adalah orang Inter, mulai mantan pemain, eks-pelatih, hingga bekas presiden klub. Satu-satunya narasumber dari luar hanya jurnalis senior Corriere della Sera Fabio Monti. Yang pasti, Inter 110 bukan rangkuman A-Z tentang Inter. Dokumenter ini juga sama sekali tak memberi ruang terhadap beberapa detail yang tak kalah penting bagi sejarah Inter, semisal tentang sembilan tokoh pendirinya (Giorgio Muggiani; Enrico, Arturo, dan Carlo Hintermann; Pietro Dell’Oro; Hugo dan Hans Rietmann; Carlo Ardussi; serta Giovanni Paramithiotti). Tim produksi juga tak menyinggung tentang logo klub, kefanatikan Interisti , atau markas tim. Soal yang terakhir, selain Stadio Giuseppe Meazza yang jadi kandang bersama Inter dan AC Milan, Inter juga sempat berkandang di Arena Civica pada 1930-1958. Siapa Giuseppe Meazza? Hal terakhir yang dijadikan bahasan adalah sosok Meazza. Kendati namanya diabadikan menggantikan San Siro sebagai nama stadion pada 3 Maret 1980, kiprahnya hanya sedikit disebut lantaran cerita Inter 110 didominasi era “Grande Inter”. Hanya dua kali namanya disebut Monti dari 13 narasumber. Padahal, seperti diungkapkan Monti di cuplikan wawancaranya, jika dinding stadion bisa bicara maka ia sebagai saksi bisu akan punya banyak cerita tentang Meazza. Bahwa Inter berjaya di era “Grande Inter”, itu memang benar. Tetapi, Inter sampai bisa begitu fondasinya dibangun oleh Meazza sesaat setelah lahir. Meazza yang lahir di Porta Vittoria, Milan, pada 23 Agustus 1910 mengabdi pada 1927-1940 dan 1946-1947. Meski dia pernah membela AC Milan dan Juventus, jasanya pada Inter tetap dihargai sehingga namanya dijadikan nama stadion. Hingga saat ini, belum ada satu pemain Inter pun yang mampu menyamai apalagi melewati rekor golnya untuk Il Biscione (284 gol). Kolase Giuseppe Meazza berseragam Inter Milan. ( inter.it ). Charles F. Church dalam The Blue Century: 1910-2010 mengungkapkan, Meazza dijuluki I Balilla atau si bocah kecil karena posturnya yang pendek. Anak yatim yang ditinggal mati ayahnya di Perang Dunia I itu ditolak tim akademi AC Milan gegara kekurangan fisiknya itu. Interlah yang bersedia menerimanya. “Julukan Il Balilla meluas setelah rekan tim seniornya, Leopoldo Conti, mengejeknya karena masih terlalu muda untuk bermain di tim: ‘Sekarang bahkan kita membiarkan anak-anak Balilla bermain,’” kata Conti, dikutip Church. Meazza dipercaya pelatih Árpád Weisz untuk melakoni debutnya di tim senior Inter pada 12 September 1927 di laga kontra Unione Sportiva Milanese di turnamen Coppa Volta. Dalam kemenangan 6-2 Inter atas US Milanese itu, Meazza menyumbangkan dua gol. Dalam sekejap Meazza memunculkan kekaguman. Tidak hanya rekan-rekan setim senior yang sempat meledeknya, pelatih tim rival AC Milan, Vittorio Pozzo, pun mengakui kedahsyatan permainan Meazza. “Pozzo yang kemudian melatihnya di timnas Italia mengatakan: ‘Memiliki dia (Meazza) di tim Anda berarti Anda sudah merasa unggul 1-0. Setelah debutnya untuk Inter, (suratkabar) La Gazzetta menuliskan: ‘Seorang bintang telah lahir’,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer . Giuseppe Meazza menerima trofi Jules Rimet usai Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 1938. ( fifa.com ). Meazza berjasa buat Inter lantaran mempersembahkan empat gelar liga dan satu Coppa Italia. Sementara, publik Italia memujanya karena berhasil membawa Italia juara Piala Dunia 1934 dan 1938. Prestasi itu membuat Meazza menjadi pemain Italia pertama yang mendapatkan sponsor pribadi. Meazza juga jadi satu-satunya pemain timnas yang diperbolehkan merokok, minum sampanye, hingga mendapat pemakluman atas gaya hidupnya yang flamboyan dan gemar keluar-masuk rumah bordil. Pasalnya, semua perilakunya di luar lapangan tak memengaruhi prestasinya. “Meazza menjadi pemain paling terkenal di generasinya, seorang legenda, seorang superstar sepakbola Italia. Pozzo memujinya sebagai pemain visioner, mampu membaca permainan dan memahami situasi agar lini serang tim bisa bekerja secara lancar. Jurnalis Gianni Brera menyebutnya sebagai satu-satunya pemain Italia sensasional yang bisa menyandingi para bintang Brasil dan Argentina,” sambung Foot. Nama Giuseppe Meazza diabadikan jadi nama stadio menggantikan nama Stadio San Siro sejak 1980. ( inter.it ). Saat Italia masuk kancah Perang Dunia II, Meazza hijrah ke AC Milan (1940-1942) dan kemudian Juventus (1942-1943). Ia comeback ke Inter pada 1946 setelah bertualang ke Varese (1944) dan Atalanta (1945-1946) sebagai pemain merangkap pelatih. Ketika Meazza tutup usia pada 21 Agustus 1979 akibat penyakit pankreas, segenap warga Italia berduka. Setahun berselang, AC Milan dan Inter Milan sepakat untuk mengubah nama Stadio San Siro menjadi Stadio Giuseppe Meazza untuk mengenang sosoknya. “Tak diragukan lagi, dia adalah salah satu pesepakbola Italia terbaik sepanjang masa. Dia adalah simbol bagi kebesaran negara kami dan kita sudah semestinya mengenang sosoknya,” tandas Silviano Pioli, rival Meazza di era 1930-an. Data Film: Judul: Inter 110 | Sutradara: Mirwan Suwarso | Produser: Luca De Angelis | Produksi: Mola TV, SuperSoccer TV, Inter Media Production | Distributor: SuperSoccer TV, RAI TV | Genre: Dokumenter | Durasi: 43 Menit | Rilis: 9 Maret 2018 (RAI TV), Mola TV

  • Melihat Pesona Masjid Cut Meutia

    Sebuah bangunan bertingkat tiga bergaya art nouveau di Jalan Taman Cut Meutia, Jakarta Pusat, itu seperti kantor. Tapi sesungguhnya bangunan peninggalan abad ke-19 itu sebuah masjid. Inilah Masjid Cut Meutia. Bangunan masjid dulunya kantor biro arsitek Belanda bernama Naamloze Vennootschap Bouwploeg pada 1879. “Sejarah masjid Cut Meutia pasti sangat panjang. Yang menarik adalah Masjid Cut Meutia ini mengalami beberapa kali pergantian gedung dari awalnya menjadi kantor arsitektur, terus kantor PT KAI, lalu ada juga kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara ketika itu dipimpin oleh Almarhum Jenderal A.H. Nasution,” kata Muhammad Hussein, Ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia (Ricma). Suasana Masjid Cut Meutia tempo dulu. (Wikimedia Commons). Cut Meutia yang juga dikenal sebagai masjid tanpa kubah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Lalu setelah MPRS tidak berkantor lagi di Cut Meutia, bangunan yang didominasi oleh warna putih tersebut sempat ingin dirobohkan dan dihancurkan. “Jadi setelah tidak jadi dirobohkan, Almarhum Jenderal A.H. Nasution mengusulkan untuk menjadikan Cut Meutia menjadi cagar budaya. Lalu terbentuk Remaja Islam Masjid Cut Meutia. Baru diresmikan oleh Pak Ali Sadikin sebagai masjid,” lanjutnya. Masjid Cut Meutia mempunyai beberapa keunikan. Masjid ini tak ada kubah selayaknya masjid-masjid di Indonesia. Kiblatnya miring ke kanan. Kemudian juga di lantai dua masjid tepatnya di ruang rapat anggota RICMA terdapat sebuah ruangan kecil yang berkapasitas empat orang. Terdapat sebuah brankas untuk menyimpan dokumen sejak era kolonial Belanda. Suasana di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung sedang menjalankan ibadah salat dengan menggunakan masker. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung yang berada di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung menjaga jarak saat menunaikan salat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu ruangan yang dipakai untuk kegiatan RICMA di masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Dengan semua ciri khas dan sejarahnya panjangnya, bangunan seperti Masjid Cut berusaha dilestarikan dengan semaksimal mungkin. Beberapa perawatan dilakukan dan dimaksudkan agar tidak ada lagi berbagai bangunan sejarah yang rusak. Bangunan yang menjadi cagar budaya pada 1961 ini sekarang membutuhkan berbagai perbaikan. “Jadi sebenernya kita pengen juga dilihat sama pemerintah pusat atau DKI. Kayak kemaren ada renovasi, tapi renovasi kita sendiri yang jalan. Terus kedepannya pengen ada perhatian khusus buat Cut Meutia. Ini masjid sejarah dan sudah dilestarikan ya setidaknya pemerintah melihat itu sih,” tutupnya. Pengunjung saat menunaikan ibadah salat di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung saat menunggu buka puasa di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Akmal, petugas keamanan yang bekerja sejak tahun 1990 di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung tertidur di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Kisah Alan Shearer di Arena

    UNTUK pertamakalinya Premier League atau Liga Inggris melahirkan Hall of Fame. Alan Shearer bersama Thierry Henry jadi dua pesepakbola legendaris pertama yang masuk jajaran kehormatan itu. Shearer dipilih langsung oleh pihak Premier League bukan tanpa alasan. Sepanjang karier profesionalnya pada 1988-2006, Shearer kondang sebagai sosok striker  tengah klasik dan hingga saat ini pun namanya belum tergeser sebagai pengumpul gol terbanyak Liga Inggris dengan 260 gol. “Jika Anda melihat para pemain hebat di Liga Inggris, setiap pekan, setiap tahun –saya merasa sangat terhormat bisa ada di Hall of Fame. Yang saya inginkan sejak dulu hanya jadi pemain profesional. Sudah jadi mimpi saya memenangkan trofi, mencetak gol di St. James’s Park, mengenakan seragam Newcastle United bernomor sembilan dan itu fantastis. Saya menikmati setiap menitnya,” tutur Shearer, dilansir BBC , 26 April 2021. Newcastle United adalah klub idola yang diimpikan Shearer sejak dini. Butuh perjuangan berat melewati jalan berliku untuk mewujudkan mimpi itu. Walau trofi Liga Inggris didapatnya di klub lain, Shearer enggan melupakan mimpi masa kecilnya. Saking cintanya, ia sampai menolak pinangan klub Manchester United dan Real Madrid demi Newcastle. Maklum, Shearer merupakan pria kelahiran kota tersebut. Lahir di Gosforth, Newcastle upon Tyne pada 13 Agustus 1970, Shearer tumbuh sebagaimana anak-anak sebayanya yang mengidolai Newcastle. Sejak umur tiga tahun sudah sering dipakaikan seragam Newcastle oleh ayahnya, Alan Shearer Sr., yang juga fans fanatik The Magpies. Alan Shearer (kanan) bersama Thierry Daniel Henry jadi yang pertama dimasukkan ke jajaran Hall of Fame. (Twitter @alanshearer). Shearer dan seorang kakaknya hidup di tengah keluarga sederhana. Ayahnya hanya pekerja pabrik lembaran besi American Air Filters. Sedangkan ibunya, Anne, seorang pegawai rendahan dewan kota. Karena anak pertamanya perempuan, bernama Karen, Alan Sr. menaruh harapan besar pada si bungsu soal obsesinya terhadap sepakbola. “Bersekolah di SMP dan SMA Gosforth, Alan tumbuh bermain bola di jalanan belakang rumahnya dan juga bermain untuk tim sekolahnya. Biasanya dia pilih posisi gelandang karena ia ingin terlibat lebih sering dalam permainan. Alan juga jadi kapten yang membantu Newcastle City Schools XI di turnamen tahunan di St. James’ Park, sebelum bergabung ke klub amatir Cramlington Juniors dan kemudian Wallsend Boys Club di usia 13 tahun,” ungkap Tony Matthews dalam Alan Shearer Fifty Defining Fixtures. Kegilaan Shearer pada si kulit bundar akhirnya mempengaruhi prestasinya dalam pelajaran di sekolah. Beberapa kali ia ditegur guru meski tak pernah dianggapnya. “Saya tak pernah tertarik pada pelajaran sekolah. Saya selalu tak sabar menunggu jam istirahat makan siang agar bisa bermain bola di luar. Saat guru-guru menjelaskan bahwa kecil kesempatan saya jadi pesepakbola, saya selalu mengabaikan. Di dalam hati saya tahu bahwa saya terlahir untuk sepakbola dan bukan yang lain,” kenang Shearer dikutip Euan Reedie dalam Alan Shearer: Portrait of a Legend, Captain Fantastic. Lahirnya Striker Klasik Di tim sekolah maupun Cramlington Juniors, Shearer terbiasa bermain di posisi gelandang tengah untuk membuka jalan serangan bagi timnya. Tetapi ketika pindah ke Wallsend Boys Club, pelatih Les Howey melihat potensi lain padanya dan mengubah posisi Shearer dari gelandang ke penyerang tengah, dan ternyata tepat. Shearer kemudian mendapat tawaran trial dari West Bromwich Albion, Manchester City, Southampton, dan Newcastle United. Akan tetapi Shearer punya alasan mengapa ia belum mau membela klub masa kecilnya, Newcastle, dan justru memilih berlabuh ke klub Southampton pada 1986. “Jack (Hixon, scout Southampton) mengajak saya ke The Dell Stadium meski saya mengidolai Newcastle. Saat harus memutuskan, kepala saya mendominasi hati saya untuk menandatangani kontrak dengan Southampton. Insting saya mengatakan bahwa itu keputusan tepat. Southampton klub yang lebih kecil dan saya ingin lebih dulu mengembangkan karier di luar sorotan,” imbuh Shearer. Southampton jadi klub profesional pertama Alan Shearer. ( southamptonfc.com ). Keputusan Shearer tepat. Hanya butuh dua tahun menimba ilmu di tim akademi Southampton, Shearer langsung promosi ke tim utama di bawah asuhan Chris Nicholl. Ia melakoni debut profesionalnya di Liga Inggris sebagai pemain pengganti dalam laga kontra Chelsea, 26 Maret 1988. “Dua pekan setelahnya ia memulai Liga Inggris sebagai starter dan langsung jadi tajuk berita dengan mencetak hat-trick dalam kemenangan 4-2 The Saints (julukan Southampton) atas Arsenal di The Dell. Menjadikannya pemain termuda, di usia 17 tahun dan 240 hari, yang mencetak hat-trick di liga teratas, menggeser nama Jimmy Greaves yang sempat bertahan selama 33 tahun,” sambung Matthews. Dalam sekejap namanya kondang di media-media hingga Nicholl berusaha keras melindungi striker mudanya itu agar tetap fokus. Nicholl juga mendesak manajemen memberi kontrak baru senilai 18 ribu pounds berdurasi tiga tahun jika Southampton tak ingin kehilangan Shearer. Lewat performa apiknya di Southampton, Shearer pun menerima panggilan tugas ke timnas Inggris U-21 dan kemudian timnas senior. Namun selama kiprahnya di pentas internasional berseragam The Three Lions sepanjang 1990-2000, Shearer gagal mempersembahkan satu pun gelar . Alan Shearer (kanan) menjalani debutnya di timnas senior Inggris pada 1992. (Twitter @alanshearer). Juara di Blackburn dan Mimpi Newcastle Dari musim ke musim Shearer selalu jadi rebutan klub-klub mapan Inggris. Pelatih Manchester United Alex Ferguson dan Blackburn Rovers Kenny Dalglish yang paling semangat merayu Southampton demi mendapatkan jasa striker klasik nan subur itu. Pada Juli 1992, Dalglish akhirnya berhasil membawa Shearer ke Blackburn Rovers. Kepindahan Shearer merupakan buah deal Southampton dan Blackburn yang menukar tambah Shearer dengan David Speedie dengan nilai transfer 3,6 juta poundsterling, nilai termahal Liga Inggris saat itu. Namun Shearer bisa tampil maksimal bersama Blackburn pada 1994 lantaran di musim perdananya lutut kanannya dibekap cedera ACL ( anterior cruciate ligament ). Berduet dengan Alan Sutton di lini depan, Shearer mengantarkan Blackburn memenangi Liga Inggris di hari terakhir musim 1994-1995 pasca-bertarung sengit lawan Manchester United. Itu gelar liga pertama Blackburn setelah delapan dasawarsa. Shearer sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik versi Professional Footballers Association dan Golden Boot Liga Inggris. Dengan 37 golnya di musim itu ia lagi-lagi mematahkan rekor Jimmy Greaves (30 gol). “Saya senang nama saya tercatat bersama seseorang sebesar Jimmy Greaves. Dia memberi contoh buat semua pemain soal bagaimana caranya mencetak gol. Nama saya yang disandingkan bersamanya adalah sebuah kehormatan dan keistimewaan. Saya tak pernah menargetkan rekor apa pun. Saya hanya ingin menikmati sepakbola saya setelah cedera lutut kanan,” ujar penghobi olahraga golf itu, dikutip Reedie. Puncak karier Alan Shearer di Blackburn Rovers kala juara Premier League 1994-1995. ( fifa.com ). Setelah semusim bertahan di Ewood Park usai juara, Shearer mewujudkan mimpinya bermain untuk Newcastle sekaligus memupuskan mimpi Manchester United dan Real Madrid yang mencoba meminangnya. Shearer resmi hijrah ke St. James’ Park pada 30 Juli 1996 di bursa transfer jelang musim 1996-1997 dengan nilai 15 juta poundsterling, rekor transfer dunia kala itu. Shearer tak peduli kritikan fans Blackburn. “Beberapa pemain dikritisi karena dianggap tak punya loyalitas. Well , saya sudah lama ingin pulang dan bermain untuk klub yang selalu saya idolakan. Saya pikir itu bukanlah suatu tindak kejahatan,” kata Shearer kala meninggalkan Ewood Park. Cedera lutut kambuhan yang menghantuinya tak serta-merta mengurangi performanya di depan gawang. Shearer tetap jadi penyerang tengah klasik yang disegani tak hanya di Liga Inggris tapi juga di pentas Eropa. Namun, Shearer gagal mempersembahkan satu gelar pun buat klub kesayangannya itu. Prestasi terbaiknya hanya mengantarkan Newcastle jadi runner-up liga di musim perdananya, 1996-1997. Di kompetisi Eropa pun sama. Shearer gagal mengantarkan Newcastle lolos dari penyisihan Grup C Liga Champions musim 1997-1998. Namun di musim 2002-2003, Shearer sukses meloloskan Newcastle ke fase kedua. Newcastle sukses menekuk balik tiga tim yang mengalahkannya di penyisihan Grup E: Juventus, Dynamo Kyiv, dan Feyenoord. Kolase Alan Shearer di tim masa kecilnya, Newcastle United. ( fifa.com / uefa.com /Twitter @NUFC). Performa Shearer mengundang decak kagum banyak pihak. Salah satunya bomber AS Roma asal Argentina, Gabriel Omar Batistuta. “Setelah pertandingan melawan Juventus saya bertemu Alex Del Piero yang juga punya kekaguman besar terhadap Shearer. Dia selalu bisa meneror bek-bek Juve ketika bertanding di Newcastle. Mereka mengakui bahwa dia adalah lawan yang paling sulit. Pelatih (Juventus) Marcello Lippi selalu memantau performa Shearer. Sampai-sampai para penyerangnya seperti Alex, David (Trezeguet), dan Marcelo (Salas) disuruh membawa pulang rekaman permainan Shearer untuk dipelajari,” kata Batistuta kepada Sky Sports pada Februari 2003. Tetapi kisah Shearer di Newcastle tidak melulu manis. Shearer bertikai dengan pelatih Ruud Gullit sepanjang musim 1998-1999. Gullit berupaya merombak tim karena merasa pengaruh Shearer terlalu besar. Dalam laga derbi kontra Sunderland, Gullit nekat mencoret Shearer dan Duncan Ferguson dari Starting XI. Shearer dan Ferguson dimainkan hanya sebagai pemain pengganti. Anehnya, setelah kalah 1-2, Gullit justru menyalahkan Shearer dan Ferguson. Gullit akhirnya didepak dari kursi kepelatihan. Shearer menyanggah punya peran dalam pemecatan Gullit. “Ruud tak senang dengan pemain senior tapi ada satu orang yang takkan pernah bisa ia singkirkan dan tak lain saya sendiri. Dia berjudi dengan mencadangkan saya saat melawan Sunderland. Kami kalah dan Ruud menyalahkan saya dan Duncan yang masuk sebagai pengganti. Tidak lama setelah itu Ruud dipecat,” kenang Shearer kepada Chronicle Live , 13 Desember 2016. Limabelas tahun setelahnya, Shearer tetap mengingatnya walau sudah memaafkan. Keduanya bertemu lagi untuk pertamakali di sebuah pesta dalam rangka Piala Dunia 2016. “Di pesta itu saya perkenalkan dia kepada istri saya dan bilang bahwa inilah orang yang mencadangkan saya. Dia (Gullit) mengatakan: ‘Saya minta maaf. Saya orang Belanda yang masih muda dan arogan saat itu dan sekarang saya sudah jadi pribadi yang berbeda’. Dan sejak itu kami bersahabat baik,” lanjutnya. Laga testimoni dan perpisahan untuk Alan Shearer. ( nufc.com ). Newcastle menjadi pilihan Shearer mengakhiri kariernya sebagai pemain. Cedera ligamen di lutut kirinya akhirnya memaksa Shearer gantung sepatu pada April 2006. Sebagai bentuk apresiasi, klub membentangkan spanduk kehormatan setinggi 25 meter dan panjang 32 meter di tribun Gallowgate Stadion St. James’ Park selama 19 April hingga 11 Mei. Di hari terakhir itu, klub menggelar partai kontra Glasgow Celtic untuk partai perpisahan Shearer. Laga yang juga dijadikan sebagai laga amal itu dimenangi Newcastle 3-2. Shearer mendapat kepuasan mencetak sebutir gol dari titik putih di menit ke-93. Gol itu disambut gemuruh puluhan ribu fans. Gemuruh tersebut terus menggema di akhir laga kala Shearer bersama istri dan anaknya melakoni lap of honour. “Saya akan merindukan momen berjalan di lorong, 90 menit (pertandingan) dan adrenalin yang terpacu. Perasaan itu takkan pernah bisa tergantikan,” tukas Shearer.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page