top of page

Hasil pencarian

9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Serdadu Jepang Dimangsa Buaya di Burma

    Kejahatan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Myanmar mengundang simpati dari berbagai pihak. Di Indonesia, elite sampai akar rumput ramai-ramai mengutuk perbuatan keji itu. Di dunia maya, solidaritas begitu tinggi. Unggahan berita terkait Rohingya bertebaran di berbagai laman, disebarkan melalui sosial media hingga grup WhatsApp . Kontan berita itu menyulut emosi para pembaca. Namun, warga net masih banyak yang meyakini dan menyebarkan berita hoax terkait Rohingya. Salah satu yang terkenal yaitu foto seorang pemuda yang tubuhnya terbakar. Berita-berita hoax menyebut pemuda itu Muslim Rohingya yang dibakar hidup-hidup. Padahal, pemuda itu merupakan aktivis Tibet bernama Jamphel Yesh yang membakar diri saat demonstrasi menentang kedatangan Presiden RRC Hu Jintao. Berita dari Burma (kini Myanmar) yang juga disangsikan kebenarannya pernah terjadi di masa lalu dan hingga kini masih dipercaya banyak orang yaitu tentang ratusan serdadu Jepang yang dimangsa buaya muara. Berita itu bermula dari kisah naturalis Bruce Stanley Wright dalam bukunya, Wildlife Sketches: Near and Far . Wright menceritakan Inggris makin gencar melakukan serangan menyusul melemahnya Jepang pada akhir 1944. Pada awal 1945, Inggris melancarkan operasi untuk merebut Pulau Ramree yang dijaga sebuah garnisun Jepang. Wright ikut dalam operasi ini. Meski Inggris menyerukan agar menyerah, pasukan Jepang memilih mundur sambil melawan, termasuk ketika operasi merebut Ramree mencapai tahap akhir pada Februari 1945. “Dalam keputusan khas samurai, komandan memutuskan tidak menyerah tapi membawa pasukannya keluar dengan rute yang tidak terblokir melintasi sepuluh mil rawa bakau. Itu adalah skenario mimpi buruk karena rawa-rawa ini adalah hutan lebat tak tertembus, gelap bahkan di siang hari, hanya beberapa mil dari lumpur hitam dalam, penuh dengan ular, nyamuk, kalajengking dan serangga berbahaya lainnya,” tulis Franck McLynn dalam The Burma Campaign: Disaster Into Triumph 1942-45 . Sekira satu batalion pasukan Jepang itu akhirnya mencapai rawa-rawa meski terus diburu pasukan Inggris yang sesekali membombardir dengan artileri dan serangan udara. Pada 18 Februari 1945 malam, pasukan Inggris yang mengejar berhenti dekat rawa-rawa itu. Peristiwa mengerikan pun segera terjadi. Wright mulai mendengar jeritan kesakitan serdadu Jepang. Makin lama, suara jeritan makin banyak. Suara jeritan itu kemudian diikuti suara tembakan membabi buta. “Malam itu (19 Februari) adalah kejadian paling mengerikan yang pernah dialami beberapa awak ML ( motor launch ). Tembakan senapan tersebar di rawa hitam yang ditimpali oleh jeritan orang-orang yang hancur terluka di rahang reptil-reptil besar. Saat fajar, burung-burung pemakan bangkai tiba untuk membersihkan apa yang ditinggalkan oleh buaya-buaya. Sekitar seribu tentara Jepang yang memasuki rawa-rawa Ramree, hanya sekira 20 yang ditemukan hidup,” tulis Wright. Wright mencatat para serdadu Jepang itu dimangsa buaya muara yang menghuni rawa hutan mangrove. Dari sekira 1000 personel hanya 20 orang yang selamat. Kisah ini sampai masuk dalam Guinness Book of Records. Kesaksian Wright, yang ditulis hampir 20 tahun kemudian, disangsikan banyak sejarawan dan ilmuwan. Selain satu-satunya sumber, kisah Wright tak pernah mendapat pemberitaan setelah dibukukan. Banyak sejarawan dan ilmuwan, seperti Franck McLynn, lalu melakukan penelitian terhadap kisah tersebut. Mereka tak hanya menggali arsip militer Inggris dan Jepang, tapi juga mewawancara banyak vetaran, baik Jepang maupun Inggris, dan orang-orang tua setempat. Hasil penelitian menyimpulkan tak satu pun yang menyebut pernah mengetahui pembantaian tentara Jepang oleh buaya rawa Ramree. “Apakah kita benar-benar percaya bahwa pasukan bersenjata Jepang, yang merobek-robek tank dan kendaraan bersenjata Inggris, benar-benar tak berdaya melawan buaya? Lalu tak adakah seorang pun serdadu Jepang yang tewas itu mati karena tembakan pasukan Inggris atau gigitan ular, atau terserang dehidrasi dan penyakit?” tulis McLynn mempertanyakan data-data dari kisah Wright Dari perspektif zoologi sederhana saja, kata McLynn, ekosistem rawa bakau dengan beragam kehidupan mamalia dan persaingan ketat untuk makan di dalamnya tak memungkinkan buaya hidup dalam jumlah begitu besar. “Bahaya dari ular memang cukup nyata, tapi sepertinya ini tidak cukup mengerikan untuk memuaskan imajinasi. Itu tidak cukup baik untuk para sensasionalis dan pembuat mitos, yang mengarang cerita liar dan tidak mungkin, kecuali (membuat kisah – red .) 20 orang dipenjara oleh Inggris sementara yang lainnya dibunuh oleh buaya. Kisah itu memiliki kemungkinan masuk akal, karena buaya muara atau air asin yang bisa tumbuh sepanjang 20 kaki dikenal sebagai pembunuh dan pemakan manusia,” tulis McLynn. “Yang lebih masuk akal, beberapa (bukan ratusan) serdadu Jepang yang terluka mungkin telah menjadi mangsa buaya air asin.”

  • Kuliner Tiga Dunia

    Rumah Makan Abu Salim dipenuhi pengunjung siang itu. Berbeda dari resto-resto khas Timur Tengah lainnya di Jakarta, sebagian besar pengunjung justru bukan orang keturunan Arab. Mereka ingin ingin mencicipi menu andalan rumah makan ini: sate kambing dan nasi kebuli. Menurut Salim al Kaff, berusia 32, mayoritas pengunjung gandrung bersantap di Abu Salim justru karena kepiawaian para kokinya menyesuaikan cita rasa Timur Tengah dengan selera lokal. “Kendati bercitarasa Arab, takaran bumbunya sudah kami sesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Secara umum kami juga menambahkan unsur-unsur makanan lokal seperti bawang merah, bawang putih, mentimun, nanas, bengkoang ke menu sajian kami,” ujar Salim al Kaff (32), putra dari Ahmad al Kaff, pemilik Rumah Makan Abu Salim yang berlokasi di kawasan Condet, Jakarta Timur. Condet kerap disebut menggantikan peran Pekojan dan Krukut, keduanya di Jakarta Barat, sebagai penyandang kampung Arab. Banyak keturunan Arab tinggal di sana. Di Jalan Raya Condet, toko-toko bernuansa Timur Tengah menjajakan barang dagangan mereka seperti parfum, kurma, hingga habbatus sauda. Rumah makan Arab juga bertebaran. Selain Abu Salim, restoran Al-Mukalla juga cukup dikenal. Nama “Al-Mukalla” diambil dari nama kampung halaman leluhur si pemilik restoran, Ahmad Salmin (60), di Hadramaut, Yaman. Namun bukan sekadar nama, Al-Mukalla menyediakan menu-menu hidangan khas Yamani. Tentu saja cara pembuatannya sudah disesuaikan dengan citarasa lokal. Lihat saja menu andalannya, mughal gal; tumisan daging kambing yang diiris kecil-kecil, dibalut aroma rempah yang kuat dan disajikan dengan roti ala Timur Tengah. Ada banyak makanan khas Arab yang bisa cocok dengan lidah orang Indonesia. Sebut saja kafsah, kebuli, dan mandee. Ketiganya berbahan utama beras, minyak zaitun, daging kambing segar, dan rempah-rempah (kapolaga, pala, cengkeh, kayu manis dan jahe). Namun sejatinya, beras atau nasi, rempah-rempah, bawang dan daun-daunan tak dikenal dalam tradisi kuliner Arab. Lalu sejak kapan bahan-bahan yang biasa disantap oleh masyarakat Nusantara itu menyelusup ke budaya kuliner orang-orang keturunan Arab tersebut? Alkisah pada abad ke-18, tanah Jawa dibanjiri imigran Hadramaut (sebuah provinsi di Yaman), Hijaz, dan Mesir. Selain berdakwah, mereka mencari peruntungan dengan berniaga di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Banten, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, dan Semarang. Lambat-laun, mereka menyebar ke wilayah-wilayah lainnya seperti Bogor, Bandung, Malang, Pemalang, dan Tegal. “Maka, sejak itu, muncullah kampung-kampung Arab lengkap dengan tradisi, budaya, dan kuliner khas mereka” tulis L.W.C van den Berg dalam Orang Arab di Nusantara . Bagi orang Arab, ke mana pun merantau, mereka harus mengonsumsi masakan yang sesuai dengan lidah mereka. Ciri khas hidangan mereka bergantung pada bahan kurma, gandum, daging, dan labhah (yogurt tanpa lemak mentega). Namun di rantau, mau tak mau, bahan-bahan itu harus mengalami percampuran dengan bahan-bahan setempat. Salah satu jenis makanan khas imigran Arab yang cukup populer adalah nasi kebuli. Embel-embel “nasi” di depan nama makanan itu tentu saja terdengar agak aneh mengingat beras atau nasi secara geografis dan historis tak dikenal di dunia orang-orang padang pasir. Menurut wartawan-cum-sejarawan Alwi Shahab (81), kemungkinan besar orang-orang Arab mengenal beras atau nasi saat bersinggungan dengan orang-orang India. Disebutkan Alwi, sebelum tiba di Nusantara, orang-orang Arab biasanya singgah di India dalam waktu cukup lama. Di sinilah mereka mengenal nasi dan rempah-rempah yang dibawa orang-orang India dari kawasan Nusantara. “Buktinya, hingga kini makanan khas Arab yang menggunakan nasi mutlak harus berbahan utama beras basmati yang hanya ada di wilayah India,” ujar Alwi kepada Historia . Ada versi lain mengenai asal-usul nasi kebuli. Dalam Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa , Gagas Ulung dan Deerona menyebut para jurumasak Kerala, India, yang dibawa saudagar-saudagar Gujarat, bertanggungjawab terhadap pengenalan nasi kebuli kepada orang-orang Nusantara untuk kali pertama. “Pada abad ke-18, para imigran Hadramaut yang sebelumnya lama tinggal di Gujarat, kemudian mempopulerkan hidangan ini di Pulau Jawa,” tulis Gagas dan Deerona. Di Nusantara, terutama Jawa, citarasa nasi kebuli yang dikembangkan orang-orang Hadrami (sebutan untuk orang-orang Hadramaut) berubah kembali begitu bersentuhan dengan lidah orang-orang setempat. Masuklah bahan-bahan khas Nusantara seperti ketumbar, cengkih, kayu manis, salam koja, mentimun, dan bawang merah. Dengan demikian makanan ini punya citarasa tiga dunia: Arab, India, dan Nusantara. “Pengaruh lokal yang paling kentara di makanan Arab yang kami buat adalah penaburan bawang goreng di setiap makanan utama seperti nasi kebuli, nasi mandee, nasi biryani, dan nasi kafsah,” ujar Salim.

  • Aung San Suu Kyi Menulis Sejarah Arakan

    TRAGEDI kemanusiaan kembali menimpa orang-orang Rohingya. Mereka melarikan diri ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari tentara Myanmar. Kendati terlacak sejak abad 15, namun setelah junta militer berkuasa identitas Rohingya pelan-pelan dihapus. Arakan, nama wilayah yang identik dengan orang-orang Rohingya, secara resmi diubah menjadi Rakhine pada 1974. Hingga kini, pemerintah Myanmar tidak mengakui orang-orang Rohingya sebagai warga negara. Aung San Suu Kyi, yang mengecewakan karena diam melihat tragedi kemanusiaan Rohingya, pernah menulis sejarah Arakan dalam Let’s Visit Burma . Tulisan yang diterbitkan oleh Burke Publishing Company di London pada 1985 ini tidak menyebut orang Rohingya sebagai kelompok yang mendiami Arakan. Tulisan ini kemudian dimuat dalam Freedom from Fear (Bebas dari Ketakutan) yang terbit di Indonesia pada 1993. Arakan (kini Rakhine) merupakan salah satu dari tujuh suku bangsa minoritas di Myanmar yang menjadi negara bagian, selain Kachin, Kayah, Kayin, Chin, Mon, dan Shan. Semua suku bangsa di Myanmar dikelompokan dalam tiga suku bangsa besar yaitu Mon-Khmer, Tibeto-Myanmar, dan Shan Thai. “Orang-orang Arakan agak gelap asal asal usulnya. Diperkirakan mereka merupakan campuran orang Mongol dan Arya yang datang dari India. Dapat dipastikan bahwa para raja Arakan dahulu keturunan India,” tulis Suu Kyi. Di Arakan terdapat beberapa kelompok masyarakat antara lain orang Arakan, Thek, Dainet, Myuo, Mramagyi, dan Kaman. Namun, Suu Kyi tidak menyebut orang Rohingya karena Burma Citizenship Law tahun 1982 yang dikeluarkan junta militer secara resmi mengeluarkan Rohingya dari delapan suku bangsa dan 135 etnis. Orang Arakan adalah orang Tibeto-Myanmar dan bahasanya amat mirip dengan Bahasa Myanmar. Sebagian orang menganggapnya sebagai Bahasa Myanmar kuno. Bahasa kelompok ini juga memperlihatkan pengaruh bahasa Bengali. Lantaran posisi geografisnya, Bengali (kini Bangladesh) memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban orang Arakan. Pada abad ke-15, Bengali membantu Arakan melawan kekuasaan raja-raja Ava. Inilah awal Islam masuk ke Arakan. “Sejak itu, raja-raja Arakan menggunakan gelar Islam, walaupun mereka dan sebagian besar rakyatnya tetap beragama Budha. Namun, terdapat lebih banyak orang yang memeluk agama Islam di Arakan daripada di daerah Myanmar yang lain,” tulis Suu Kyi. Meskipun terdapat pengaruh Bengali dan Islam, menurut Suu Kyi, sebagian besar Arakan didiami orang-orang Budha selama berabad-abad. Menurut sejarah, Budhisme sampai di pantai barat Myanmar pada waktu Budha masih hidup. Hal ini memang tidak dapat dibuktikan, tetapi patung Budha yang paling terkenal dibuat orang-orang Arakan sekitar abad ke-2. Patung ini, Maha Myamuni, diambil oleh putra Raja Bodawpaya ketika merebut Arakan. Patung ini salah satu patung yang paling dimuliakan di Myanmar dan sekarang disimpan di Mandalay. Ada banyak pagoda dan kuil Budha di Arakan. Banyak hari raya keagamaan mereka merupakan festival para penganut Budha sama dengan yang dirayakan orang Myanmar. Namun terdapat pula adat kebiayaan orang Arakan yang sangat asing bagi orang Myanmar. “Suku bangsa Arakan menyukai perkawinan antara sepupu (anak-anak dari saudara laki-laki ibu atau dari saudara perempuan ayah). Hal ini mencerminkan pengaruh Islam,” tulis Suu Kyi.*

  • Ketika Aung San Merangkul Rohingya

    KRISIS kemanusiaan di Myanmar semakin berkepanjangan. Praktik kekerasan terhadap etnis Rohingnya pun semakin menggila. Puluhan ribu pengungsi memenuhi perbatasan. Situasi centang perenang itu menurut Hikmahanto Juwana tak lepas dari tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga Myanmar oleh rezim yang tengah berkuasa. "Bahkan ada kecenderungan pemerintah Myanmar melakukan ethnic cleansing (pembersihan etnis) saat terjadinya konflik antaretnis Rohingya dengan otoritas Myanmar,” ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia itu kepada Historia.ID. Apa yang dikatakan Hikmahanto diamini oleh berbagai kalangan. Moshe Yegar dalam Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma mengungkapkan, masyarakat Rohingya tidak lagi diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar sejak 1982. Dua dekade setelah terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Ne Win, hingga menetapkan pemerintahan junta militer. Paspor mereka dicabut, hak-hak politik mereka dikebiri. Dalam Debating Democratization in Myanmar yang dirangkum Nick Cheesman dan Nicholas Farrelly, masyarakat Myanmar tidak lagi dicantumkan sebagai satu dari 135 kelompok etnis resmi yang disebut national races di Myanmar. Padahal secara historis, Bapak Bangsa Myanmar, U Aung San, pernah merangkul kelompok Rohingya. Aung San, tak lain adalah ayah dari Aung San Suu Kyi, tokoh Myanmar yang menerima Nobel Perdamaian pada 1991. Aung San merangkul kelompok Rohingya, bahkan sebelum Myanmar (dulu Birma/Burma) merdeka pada 1948. Pada Perang Dunia II, Aung San dengan kelompok antifasisnya bahu-membahu dengan milisi Rohingya yang didukung Inggris dalam memerangi Jepang. “ Bokyoke Aung San dengan sangat ramah menerima Rohingya sebagai satu dari ras asli Burma sebagaimana Kachin, Kayah, Karen, Chin, Mon dan Rakhine. Dia menjamin kewarganegaraan (warga Rohingya) saat bertemu para petinggi muslim di Akyab, Mei 1946,” sebut U Kyaw Min alias Shamsul Anwarul Haque dalam artikel Legal Nexus Between Rohingya and the State di jurnal An Assessment of the Question of Rohingya’s Nationality. Setelah Myanmar resmi merdeka, masyarakat Rohingya sempat bisa hidup tenang. Hak-hak ekonomi dan politik bisa turut mereka nikmati. Mereka benar-benar bisa hidup setara di bawah payung Residents of Burma Registration Act yang dirilis 1949 dan disusul Burma Registration Rules pada 1951. Tidak hanya sebagai pemilik suara, seorang etnis Rohingya pun bahkan berhak menyalonkan diri sebagai anggota parlemen. Itu terjadi sejak 1951, ketika mereka mewakili daerah-daerah pemilihan (dapil) Buthidaung Utara, Buthidaung Selatan, Maungdaw Utara serta Maungdaw Selatan. Tercatat beberapa nama anggota parlemen terkemuka asal Rohingya. Sebut saja nama-nama seperti Abdul Gaffar, Abul Bashar, Sultan Ahmed, Daw Awe Nyunt (a) Zurah, Ezar Meah, Sultan Mahmood, Abul Khair, Rashid, hingga MA Subhan. Apresiasi pemerintah terhadap kebudayaan Rohingya diperlihatkan pula dengan adanya acara program bahasa Rohingya d BBS (Burma Broadcasting Service) atau stasiun radio milik pemerintah Myanmar. Hak-hak beragama pun dijamin oleh pemerintah. Untuk mengikuti ibadah haji misalnya, pemerintah Myanmar menerbitkan paspor bagi masyarakat Rohingya yang sudah memiliki NRC (Kartu Registrasi Nasional) dan FRC (Sertifikat Registrasi Orang Asing), agar mereka bisa pergi naik haji ke Makkah. Sayangnya, kehidupan mereka perlahan berubah suram semenjak kudeta dilakukan oleh pihak militer pimpinan Jenderal Ne Win pada 2 Maret 1962. Pemerintahan junta militer lantas melindas pemerintahan sipil AFPFL (Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis) yang kala itu dipimpin Perdana Menteri U Nu. Usai berhasil menggulingkan U Nu, secara sistematis hak-hak politik masyarakat Rohingya dihapuskan. Baik dalam mengikuti pencalonan, maupun memberikan suaranya dalam pemilu, melalui UU baru tentang Kewarganegaraan Tahun 1982. Benih-benih konflik mulai tertebar hingga menuai krisis hingga sekarang. “Rohingya telah ada di Rakhine sejak dunia diciptakan. Arakan adalah tanah kami; tanah India selama seribu tahun lalu,” cetus politisi Rohingya Kyaw Min dalam surat kabar The Economist,  3 November 2012. Pemerintahan junta militer Myanmar sedianya sudah mulai punah sejak 2016. Lewat Pemilu, NLD (Liga Nasional Demokatik) pimpinan Aung San Suu Kyi, hingga wakilnya, U Htin Kyaw jadi presidennya. Pun begitu, nasib masyarakat Rohingya belum menemukan titik terang dan justru belakangan kian suram. Suu Kyi nampaknya tidak belajar dari pengalaman sang ayah yang dikenang sebagai Bapak Bangsa Myanmar.*

  • Hoax Masa Revolusi

    Pertengahan 1946, Bekasi dibekap kecemasan. Beredar isu bahwa mata-mata Belanda dari arah Jakarta mengalir deras ke daerah-daerah Republik. Ciri-ciri mereka: selalu menyembunyikan kode dengan simbol-simbol merah-putih-biru, corak bendera kebangsaan Belanda. Akibatnya, penjagaan di stasiun-stasiun sekitar garis demarkasi pun diperketat. Kepada Historia , Mat Umar (90) menyatakan kesaksiannya bagaimana para penumpang kereta api dari arah Jakarta diturunkan di stasiun Kranji. Sebagian yang dicurigai kemudian dipisahkan dan langsung dieksekusi di belakang stasiun. “Saya melihat seorang bapak dan anak perempuannya dipenggal dengan sebilah clurit karena membawa kertas warna merah putih biru di tas mereka,” ujar eks anggota lasykar di Bekasi. Sementara itu di daerah Karawang terjadi saling curiga mencurigai di antara para pejuang. Pasalnya, seorang pemuda lasykar yang baru keluar dari tawanan militer Belanda “dipesan”oleh seorang letnan Belanda dari bagian intelijen untuk menyampaikan pertanyaan kepada seorang jenderal: mengapa sudah lama tidak pernah berkirim surat? Alih-alih menyampaikan “pesan” itu langsung kepada sang jenderal, bekas tawanan Belanda itu justru menyampaikan soal ini kepada atasannya langsung di kelasykaran. Maka beberapa hari usai pengaduan itu, seisi kota dipenuhi dengan selebaran gelap yang menyebutkan bahwa “Jenderal A” adalah agen NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda). Di lain kesempatan, seorang agen NICA beneran, secara sengaja menjatuhkan sepucuk surat di lantai sebuah kereta api yang menuju daerah Republik. Isi surat itu adalah “perintah-perintah dari NEFIS (Dinas Intelijen Belanda) kepada Mayor Anu disertai ucapan terimakasih atas laporan-laporannya”. Sesuai target sang intel, surat ini kemudian ditemukan oleh seorang anggota lasykar, dibawa ke markas dan dilaporkan kepada sang atasan. Kegiatan intrik mengintrik, fitnah memfitnah pun dimulai. Hoax (berita bohong) ternyata sudah dijadikan “senjata” sejak masa revolusi oleh intelijen Belanda. Biasanya cara-cara perang urat syaraf itu efektif membuat situasi kacau di garis belakang pihak Republik. Almarhum Jenderal A.H. Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam hoax yang diciptakan NEFIS karena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. “ Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam Tentara Nasional Indonesia Bagian I . Yang paling menderita dari adanya situasi tersebut tentu saja adalah rakyat sipil. Menurut Jenderal Nasution, akibat “kesembronoan” pihak lasykar dan tentara Republik saat menyikapi hoax , tak jarang jatuh korban jiwa dari kalangan rakyat sipil tak berdosa . Selain ancaman pembunuhan dan penyiksaan, “isu mata-mata Belanda” juga kerap dimanfaatkan oleh “para lelaki hidung belang” untuk menjalankan praktek pelecehan seksual terhadap para pedagang perempuan yang sehari-hari harus melintasi garis demarkasi. Itu bisa dilakukan oleh para anggota lasykar, tentara Republik maupun serdadu Belanda. Soe Hok Gie pernah membahas tentang nasib memilukan para perempuan tukang beras antara Krawang-Bekasi pada era revolusi tersebut. Ia menuliskan bagaimana untuk menghindari tewas atau ditangkap karena hoax , para tukang beras itu tak segan-segan mengorbankan harga dirinya dengan membiarkan mereka dilecehkan(bahkan disetubuhi) oleh para lasykar dan tentara yang menjaga perbatasan garis demarkasi. “ Di daerah garis demarkasi yang dijaga serdadu Belanda , mereka pun harus mengalami kejadian yang sama…” tulis Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan .

  • Pembunuhan Keji Panglima Keraton Yogyakarta

    DENGAN rasa sedih dan letih rakyat Sumodiningratan menggotong mayat Panglima Pasukan Yogyakarta ke pemakaman keluarga Sumodiningratan. Raden Tumenggung Sumodiningrat tewas dikeroyok pasukan gabungan serdadu Inggris dan Legiun Mangkunegaran pada penyerbuan Inggris ke keraton 20 Juni 1812. " Koyo kewan neng wono mboten ingkang gadah wono". Begitu perumpamaan yang dirasakan pengikut Sumodiningrat sebagaimana yang dikutip sejarawan Inggris Peter Carey dari salah satu surat yang dirampas Inggris. Mereka bingung bagaikan binatang hutan yang tak lagi memiliki hutannya. Dalam Babad Bedhah ing Ngayogyokarta karya Pangeran Panular, menjelang subuh, Pangeran Prangwedono (Mangkunegoro II) dan pasukan Legiun Mangkunegaran disertai Sekretaris Keresidenan John Deans dan pasukan Inggrisnya mendatangi kediaman Sumodiningrat. Gabungan kedua pasukan itu mengepung dan menghujani rumah Sumodiningrat dengan peluru meriam. Ketika itu sumadiningrat sudah ditinggalkan oleh sebagian besar pengikut dan kerabatnya. Mereka terlalu takut untuk bertahan setelah mendengar jatuhnya keraton utama Yogyakarta dalam penyerbuan tentara Inggris. Prangwedono pun maju ke depan masuk ke pelataran dengan niat menangkap Sumodinongrat, jagoan Yogya yang terkenal pemarah sekaligus pemberani. Prangwedono memerintahkan pasukannya untuk memberondong kediaman Sumodiningrat. Namun ternyata sang penasihat dekat Sultan HB II itu tak berada di kediamannya. Namun John Deans menemukan Sumodiningrat berlindung di dalam masjidnya. Tanpa babibu dia pun langsung jadi sasaran tembak para prajurit. Perlawanan tak ada gunanya. Penyerbu terlalu banyak. Kalah jumlah, Sumodiningrat dan pengawalnya pun turut terbunuh. Sementara pengikutnya lari tercerai berai. Tak puas hanya melihat Sumodiningrat mati dihujani peluru, John Deans menebas leher Sumodiningrat dengan pedangnya. Tapi tebasan itu tak sampai memisahkan kepala dari badannya. Menurut Peter Carey hal tersebut dilakukan Deans sebagai cara untuk menunjukkan gengsinya saja. "Saya kira dia ingin pencitraan seolah dia sendiri yang membunuh Panglina Pasukan Jogja walaupun sebenarnya tidak. Dia hanya ikutan mengeroyok," kata Peter, saat mengikuti Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812", di Yogyakarta, Rabu (30/8). Mayat Sumodiningrat kemudian dikerubuti pasukan. Baju dan perhiasan yang dipakainya jadi rayahan. Tak lama kemudian Prangwedono menyusul masuk masjid, berlama-lama memandangi tubuh Sumodiningrat. Sambil menatap wajah Sumodiningrat yang berjanggut itu dia berkata, " Makane aja kementhus! (jangan belagu – red .)". Episode kekejian selanjutnya adalah perintah Prangwedono dan John Deans untuk membakar serta menjarah wilayah Sumodiningratan dan seluruh daerah selatan keraton itu. Bahkan jenazah Sumodiningrat yang sudah dilucuti itu beberapa bagian tubuhnya dimutilasi. Mengapa Prangwedono sedemikian kesumatnya pada Sumodiningrat? Menurut Peter, Sumodiningrat pernah mengejek Prangwedono sebagai prajurit bayangan yang penuh kepura-puraan dan tak bernyali. Ejekan itu membuat Prangwedono tersinggung karena merasa jadi bahan guyonan. "Dia balas dendam kepada Sumodiningrat. Dengan begitu Pangeran Surakarta itu sangat benci sekali dengan Sumodiningrat," kata Peter. Menurut Peter, Sumodiningrat keturunan bangsawan Kedu yang jadi salah satu ujung tombak politik menantang birokrat kolonial. "Sebelumnya ia pun tak pernah mau menerima apa yang diminta Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels," katanya. Ada banyak kisah kematian Sumodiningrat. Ada versi yang mengatakan dia dibunuh pasukan Letkol. James Dewar yang memimpin serangan ke selatan keraton, sebelum serangan induk ke dalam keraton. Sementara cerita kematian sang panglima versi babad milik Panular tadi didukung Serat Sarasilah Para Leloehoer ing Kadanoerejan. Jenazah Sumodiningrat baru dibawa para punggawanya pada pukul 10.00 malam dengan menggunakan keranda. Sebelum dimakamkan, para pengikutnya itu terlebih dulu memandikannya lantas menguburkannya di Jejeran, 10 kilomter ke arah selatan Yogyakarta, di tepi Kali Code. "Ada lambang dari Keraton Yogya di nisan. Ini tempat akhir dari Sumodiningrat yang dulunya tanah bengkok milik Sumodiningrat," jelas Peter. Kini tak ada lagi warga setempat yang merawat ingatan mengenai tragedi yang menimpa Sumodiningrat itu.

  • Kriuk Sejarah Kerupuk

    Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu memastikan Indonesia akan membeli sebelas unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia senilai Rp15 triliun. Pembelian ini dengan cara barter berbagai komoditas. Menariknya, salah satu produk yang akan dibarter adalah kerupuk. Mungkin ini kali pertama alutsista dibarter dengan kerupuk . Kerupuk merupakan makanan ringan yang disukai banyak orang. Selain bisa dimakan langsung, kerupuk biasanya melengkapi berbagai jenis makanan. Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman kerupuk sudah ada di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau 10 yang tertulis di prasasti Batu Pura. Di situ tertulis kerupuk rambak (kerupuk dari kulit sapi atau kerbau) yang sampai sekarang masih ada dan biasanya jadi salah satu bahan kuliner krecek. “Kerupuk kulit dengan bahannya kulit ternak dibuat dengan cara sesudah lapisan selaput dibuang dan bulunya dihilangkan biasanya dengan jalan dibakar, kulit digodog hingga empuk kemudian diiris-iris dan dijemur hingga kering,” tulis A.G. Pringgodigdo dalam Ensiklopedi Umum. Pada perkembangannya, kerupuk juga menyebar ke berbagai wilayah pesisir Kalimantan, Sumatra, hingga Semenanjung Melayu. Masyarakat Melayu di sana menjadikan kekayaan laut macam ikan hingga udang, menjadi kerupuk. “Itu tercatat dalam naskah Melayu karya Abdul Kadir Munsyi saat menyebut Kuantan (Malaysia), sekitar abad 19, dia juga membahas keropok (kerupuk). Kerupuk mulai disukai di mancanegara sedari masa kolonialisme Hindia Belanda dan dianggap jadi pelengkap yang harus ada dalam berbagai kuliner Nusantara yang mereka santap,” kata Fadly kepada historia.id . Meski awalnya dianggap pelengkap, namun perlahan kerupuk mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat bangsa Eropa. Sampai-sampai ada ungkapan “kurang nikmat menyantap makanan Nusantara tanpa kerupuk”. “Tentunya juga selain sambal. Di Suriname yang jadi tempat migrasi orang Jawa di masa kolonial, kerupuk jadi makanan yang populer. Buat orang-orang mancanegara, kerupuk jadi satu hal yang melekat dan menarik minat karena menganggap kerupuk adalah identitas kuliner Indies (Hindia Belanda),” kata Fadly. Selain kerupuk kulit, menurut Pringgodigdo, kerupuk juga terbuat dari tepung singkong (tepung kanji), tepung terigu sedikit dan garam secukupnya ditambah daging udang atau ikan. Jenisnya bermacam-macam tergantung bahan lain yang ditambahkan, misalnya kerupuk udang atau kerupuk ikan. “Nama dagang kerupuk juga biasanya diambil dari nama bahan tambahannya: kerupuk udang, kerupuk (ikan) tenggiri, dsb., atau menurut tempat pembikinannya, seperti kerupuk Sidoarjo, kerupuk Palembang, dsb.,” tulis Pringgodigdo. Ada juga nama dagang yang menggunakan nama pemilik perusahaannya. Misalnya, kerupuk “Sudiana” di Jalan Kopo Bandung. Sebelumnya, Sudiana bekerja di pabrik kerupuk milik Sahidin. Keuletannya membuat dia diangkat menantu oleh Sahidin dan membangun perusahaannya sendiri. Sahidin dan Sukarma, pengusaha kerupuk asal Tasikmalaya, memulai usahanya sejak tahun 1930 di daerah Jalan Kopo depan Rumah Sakit Emanuel Bandung. Mereka begitu tersohor sehingga namanya diabadikan menjadi nama gang. “Buruh-buruh pabrik yang pernah bekerja di pabrik mereka tidak sedikit yang bisa berdiri sendiri. Bahkan, 250 pengusaha kerupuk di Bandung sebelumnya pernah bekerja pada Sukarma dan Sahidin,” tulis Tempo , 13 Oktober 1979. Setelah menjadi komoditas ekspor, kini kerupuk menjadi salah satu produk yang akan dibarter dengan pesawat tempur Sukhoi. “Pamornya naik. Ini jadi penanda bahwa sensasi cita rasa kerupuk di mancanegara tidak bisa dianggap remeh,” kata Fadly.

  • Larangan Menyirih Beralih Menjadi Merokok

    Para perempuan di Batavia (sekarang Jakarta) keluar rumah dengan diikuti para pelayan yang membawa payung, buku doa, kipas, kotak sirih, dan baskom untuk meludah. Kebiasaan menyirih yang menjadi budaya timur rupanya dilakukan pula oleh orang-orang Belanda. Sejarawan Universitas Gadjah Mada Sri Margana menjelaskan hampir semua kerajaan-kerajaan di Nusantara memiliki kebiasaan menginang atau menyirih. Kebiasaan ini dilakukan para perempuan zaman dulu untuk mempercantik diri agar bibirnya bisa menjadi merah. “Kalau laki-laki di dalam getah pinangnya itu, bila dicampur injit (kapur sirih) bisa membuat rileks, tapi itu bukan nikotin,” ujar Margana kepada Historia . Kebiasaan menyirih kemudian menular kepada orang-orang Belanda melalui pernikahan campuran. Pada masa VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), perempuan Belanda belum diperbolehkan datang ke Batavia. “Jadi, umumnya pejabat VOC menikah dengan perempuan Indonesia atau orang India, budak yang dimerdekakan, atau orang Indo. Orang yang memiliki darah campuran antara Belanda-Indonesia, biasanya ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Belanda, merekalah yang ikut nginang atau nyirih,” kata Margana. Menurut sejarawan University of New South Wales Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia, setiap orang yang datang dari Eropa mengomentari kebiasaan mengunyah sirih yang merangsang air liur dan meninggalkan warna merah sebagai hal yang menjijikkan. Jean mengutip catatan penjelajah Prancis, Jean-Baptiste Tavernier, yang berkunjung ke Batavia pada abad ke-17. “Laki-laki dan perempuan selalu mengunyah (sirih) ketika mereka pergi ke luar, bahkan ketika di gereja ... Mulut mereka dipenuhi air liur merah, seakan-akan mulut mereka habis ditinju,” tulis Tavernier. Bagi Jean munculnya kebiasaan menyirih di kalangan orang Belanda menjadi penanda pembauran ras dan suatu bentuk adopsi terhadap kesenangan Asia. Ketika Inggris berkuasa di Batavia pada awal abad ke-19, istri Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, Olivia Mariamme Raffles merasa jijik dengan kebiasaan menyirih para perempuan di Batavia. Dia memerintahkan untuk membuang semua tempat ludah dari kediaman resmi gubernur. Dia tidak menawarkan sirih kepada perempuan-perempuan yang menemaninya berpesta selama kurang lebih dua minggu. Ketidaksukaan Olivia diikuti oleh orang-orang Inggris lain di Batavia. Pendatang-pendatang baru dari Inggris yang memiliki posisi tinggi ingin gaya hidup mereka dicontoh oleh kelompok elite Batavia. Jean menulis bahwa para perempuan yang datang ke pesta yang diselenggarakan orang Inggris dilarang untuk membawa kotak sirih. “Karena kesadaran ras dan kelas orang mulai meninggalkan tradisi-tradisi pribumi yang dianggap merendahkan derajat mereka. Lama-kelamaan kebiasaan menyirih hilang kemudian muncul rokok ketika tembakau mulai berkembang di Hindia Belanda. Perempuan juga meninggalkan kebiasaan menyirih dan berganti menjadi rokok,” tulis Jean.

  • Kekejaman Inggris di Jawa

    BANYAK orang yang menganggap dijajah Inggris lebih baik daripada dijajah Belanda. Barangkali karena mereka melihat kemajuan negara-negara bekas jajahan Inggris. Bagaimana dengan Indonesia, bukankah Indonesia juga pernah dijajah Inggris meski hanya lima tahun (1811-1816)? “Generasi sekarang, khususnya orang Jawa malah menganggap Inggris sebagai bangsa pembebas. Sebelumnya, orang Jawa mendapatkan kekejaman dari Gubernur Jenderal Daendels dan penggantinya Willem Janssens. Penjajahan Inggris kesannya tidak negatif,” kata Peter Carey, sejarawan asal Inggris, dalam acara tur sejarah “Jejak Inggris di Jawa 1811-1816,” yang diselenggarakan Penerbit Buku Kompas, di Semarang, Senin, 28 Agustus 2017. Carey, penulis buku Inggris di Jawa (1811-1816) , mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro ketika diminta membandingkan Inggris dengan Belanda oleh menantu Gubernur Jenderal de Kock, dia menilai Inggris dengan positif. “Selama di Jogja saya tidak pernah menjumpai orang secerdas dan seulet John Crawfrud (Residen Inggris di Yogyakarta, red ). Dia menguasai bahasa Jawa Kromo Inggil hanya dalam waktu enam bulan,” kata Carey mengutip ucapan Diponegoro. Carey justru berpendapat sebaliknya bahwa salah satu warisan Inggris adalah untuk meremehkan orang Jawa. Misalnya, buku History of Java karya Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, membuat orang Jawa berpikir saat ini mereka mengalami degradasi. Buku itu menebar desas-desus kalau budaya Jawa sebenarnya pernah unggul dan agung sebelum akhirnya semakin memburuk. “Sebenarnya dulu agung sekali, tapi sekarang menjadi tidak bernyali. Dalam tiga jam Keraton Yogyakarta yang paling hebat di Jawa Tengah bagian selatan itu bisa ditaklukkan,” kata Carey. Lebih dari itu, kata Carey, penjajahan Inggris menyisakan kekejaman seperti terlihat dalam Babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816) karya Pangeran Panular, putra Sultan Hamengkubuwono I dari istri selir. Dalam babad itu tercatat bahwa Pangeran Sumodiningrat, seorang keturunan sultan pertama, meninggal di kediamannya dalam penyerbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Sumodiningrat dibunuh pasukan yang dipimpin oleh John Deans, sekretaris Keresidenan Yogyakarta. Pakaian Sumodiningrat dilucuti, badannya dipotong-potong. “Lehernya ditebas. Anak buah John Deans lalu mempreteli semua pakaian dan perhiasan yang dipakai Sumodiningrat,” ungkap Carey. Menurut Carey, kekejaman juga dilakukan oleh Raffles terhadap anak buahnya sendiri. Anak muda banyak yang meninggal ketika melayani letnan gubernur jenderal itu. Dia tidak peduli kepada kesehatan anak buahnya. Jika Inggris melakukan kekejaman, bagaimana bisa penjajahannya dipandang lebih baik daripada Belanda? “Ini soal pencitraan,” kata Carey. “Inggris punya satu industri untuk membuat buku yang mengagungkan Inggris, khususnya Raffles.”*

  • Alkisah Kompi Parang Berdarah

    Kota Medan, pertengahan 1947. Di tiap-tiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. Demikian isinya. “Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.” Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Dalam beberapa sumber lain namanya disebut Bahren. “Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki Singa Medan Area,” tulis Tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area . Bahrin termasuk rombongan dari Aceh pertama yang terjun ke kancah Front Medan Area. Di Aceh, Bahrin berkedudukan sebagai komandan Batalion II Resimen I Divisi Gajah II di Kutacane. Longmarch menuju Medan dilakukan sejak Februari 1946, tak lama setelah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan Aceh itu turut serta para pejuang Gayo dari Blangkejeren dan Kutacane, Aceh Tenggara. Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari kekuatan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama pasukan. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda disebutkan, Batalion Bahrin kerap beroperasi di malam hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya. Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda. “Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuh berdarah dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian dilanjutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”. Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya mempunyai 17 buah senapan api dan selebihnya adalah parang dan kelewang. Pada April 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Mayor Bahrin menjadi komandan RIMA menggantikan Mayor Hasan Ahmad. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda. Hanya dua bulan saja Bahrin menjabat komandan RIMA. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah peristiwa nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pematang Siantar. Motif pembunuhan misterius. Menurut anggota pasukan Batalion Bahrin, sebagaimana dikutip Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik memasuki kompleks pemukiman Batalion Bahrin yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung makanan dalam kompleks pemukiman. Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-matanya ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front,” ujar Jakobi.

  • Membela Kebenaran Tanpa Pamrih

    Budi Sutomo menekuni kuliner sejak remaja. Dia kemudian mendalami tata boga di bangku sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. Pengalaman kerjanya di berbagai hotel, bakery , restoran, hingga industri catering memperkaya pengetahuannya di bidang kuliner. Dia mulai dikenal setelah menjabat radaktur boga di majalah Kartini dan Sartika , food stylist beberapa produk iklan, serta konsultan bakery dan restoran. Lebih dari 50 buku tentang gizi dan kuliner yang sudah ditulis dan diterbitkannya. Saat ini, Budi Sutomo mengasuh rubrik diet dan nutrisi di majalah Dokter Kita , redaktur majalah Sri Arum , kontributor Yahoo Kuliner , pengasuh rubrik Ask the Expert , majalah Pastry & Bakery , redaktur boga majalah TIM Taiwan , chef Nestle Indonesia, serta host acara masak di DAAI TV Indonesia . Di balik kesibukannya dalam dunia kuliner, rupanya Budi mengidolakan sosok Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia yang meninggal dunia akibat racun arsenik. Kepada Historia , Budi berbagi kekagumannya mengenai sosok itu. Mengapa mengidolakan Munir? Dia selalu membela kaum tertindas sampai akhir hidupnya. Membantu total tanpa imbalan. Sejak kapan mengenal sosoknya? Sejak saya kuliah tahun 1990-an. Saya tahu dari buku, majalah, dan media elektronik. Apa yang Anda ingat dari perjuangan Munir? Ketika dia membela kaum buruh. Contohnya kasus Marsinah dan kaum marjinal lainnya. Lalu saya paling ingat soal kasus penculikan aktivis mahasiswa yang sampai sekarang banyak yang tak kembali. Marsinah adalah aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya di Sidoarjo yang diculik dan ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993. Sementara penculikan aktivis terjadi dilakukan Tim Mawar bentkan Kopassus menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, dengan 13 di antaranya belum kembali. Bagaimana perjuangan atas kaum marjinal sepeninggal Munir? Keberpihakan Munir dan kesediaannya membantu kaum marjinal menarik simpati. Ini justru menginspirasi banyak anak muda, bahwa hak asasi manusia harus ditegakkan. Sepeninggal beliau, saya pikir sekarang bermunculan banyak pahlawan hak asasi manusia. Perjuangan Munir juga menginspirasi Anda? Ya. Semangat berbagi dan membela kebenaran tanpa pamrih. Juga harus menghargai hak orang lain dan tak boleh melanggar hak asasi manusia. Itu sangat menginspirasi. Menurut Anda, apa tantangan penegakan HAM sekarang? Terkadang nyawa taruhannya. Membela hak asasi manusia kaum marjinal pasti akan berhadapan dengan penguasa yang memiliki power . Apa harapan Anda mengenai kasus kematian Munir? Menolak lupa. Artinya, kebenaran harus diungkap, fakta harus ditegakkan, dan hukum tak boleh memihak. Saya berharap kasus ini akan terungkap oleh pemerintahan sekarang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page