Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Rosihan Tidur Berbantalkan Granat
SETELAH bertolak dari Makassar usai meliput Konferensi Malino, (Juni 1946) wartawan Merdeka, Rosihan Anwar menuju Yogyakarta. Dari Jakarta, Rosihan bersama Soedjatmoko, pemimpin redaksi Het Inzicht menumpang kereta api barang. Mereka duduk di bangku panjang yang melekat ke dinding gerbong. Di Krawang, kereta api berhenti. Beberapa pemuda anggota laskar rakyat naik sambil menenteng senjata dan ranselnya. Walaupun berdesak-sesakan, mereka dapat juga duduk. Masuk Cikampek, penumpang bertambah lagi. Tampak sekumpulan pemuda yang memakai kaplaars dengan pistol di pinggang memenuhi gerbong. Semuanya juga hendak ke Yogya, ibu kota sementara Republik Indonesia. Perjalanan panjang itu membutuhkan waktu sehari semalam. Rosihan pun kelelahan. Dia mencari cara agar tidur dengan nyaman. Terbersitlah ide untuk menjadikan rak barang yang ada di atas bangku dekat langit-langit gerbong sebagai tempat tidur. Lagi pula, Rosihan bertubuh kurus dan ramping sehingga tidak sulit nyempil di ruang sempit itu.
- Ketika Rosihan Anwar Mendampingi Diplomat Inggris
TAHUN baru 1946. Ibukota pemerintahan Republik Indonesia secara resmi dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Itu terjadi lantaran tentara Belanda kerap melakukan serangkaian upaya penyerangan terhadap pucuk pimpinan Indonesia di Jakarta. Tidak diakuinya ikrar kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi penyebab segala intimidasi itu terjadi. Maka kedua negara perlu segera mengambil jalan keluar atas permasalahan tersebut. Pada akhir Agustus 1946, pemerintah Inggris mengirimkan wakilnya ke Indonesia untuk menyelesaikan perundingan antara Indonesia dan Belanda. Adalah Lord Killearn, duta istimewa Kerajaan Inggris untuk Asia Tenggara, yang diperbantukan menengahi pertemuan kedua negara berkonflik tersebut. Pada 7 Oktober 1946, bertempat di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta, Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan diplomat Belanda Prof. Schermerhorn sepakat melakukan gencatan senjata hingga perundingan di Linggarjati terlaksana. Menurut Moh. Hatta dalam Memoir, pemilihan daerah Kuningan, Jawa Barat tersebut dilakukan agar akhir perundingan diadakan di tempat yang sejuk. Pihak republik juga ingin perundingan dihadiri Sukarno-Hatta yang kebetulan sedang mengunjungi Jawa Barat dan menginap di Kuningan.
- Rosihan Anwar Salah Jalan Berujung Kekal
“TIDAK ada niat atau cita-cita sebelumnya menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan tidak ada daya tarik bagi saya,” kata Rosihan Anwar dalam tulisannya “Kenang-kenangan Tentang Kehidupan Pers Indonesia di Masa Revolusi 1945–1949” di buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia. Profesi wartawan pada masa kolonial dipandang oleh Rosihan tak menjanjikan masa depan yang baik. Gajinya rendah takkan bisa bikin orang jadi kaya. Rosihan bercerita bahwa pada zaman kolonial, pemimpin redaksi Het Nieuws van den Dag ven Nederlandsch Mr W.K.S. van Haasters mengatakan pada pemimpinnya bahwa de Inlandsche Pers (Pers Pribumi) punya dua ciri utama yaitu bodoh dan kurang ajar (dom en onbeschaafd). Menurut Rosihan rendahnya pendidikan wartawan menjadi faktor penyebab rendahnya pula upah yang mereka terima. Pekerjaan wartawan membutuhkan keterampilan dan intelektualitas yang memadai. Tak banyak wartawan pribumi yang bisa memenuhi itu. Rosihan mengambil contoh Parada Harahap, pemimpin redaksi Tjahaya Timoer, yang hanya punya pendidikan formal sekolah dasar dan selebihnya otodidak. “Umumnya wartawan Indonesia zaman Belanda hanya sekolah setalenan, berpendidikan HIS (Hollands Inlandse School),” kata dia.
- Mengenang Rosihan Anwar Sang Anak Demang
PADA 1992, Rosihan Anwar beserta keluarga mudik ke Sumatera Barat. Anak-anak dan cucunya dibesarkan di Jakarta. Mereka asing terhadap keadaan dan budaya Ranah Minang. “Karena itu, saya bawa keluarga meninjau Sumatera Barat,” kata Rosihan dalam Petite Histoire IV. Di simpang tiga dekat pasar mobil, di Dangung-dangung tak jauh dari Payakumbuh, Rosihan menyambangi sebuah rumah batu bercat putih. Rumah itu bagaikan tak berpenghuni lagi kumuh. Rosihan mengetok pintu berkali-kali tapi tiada yang menyahut. Anak dan cucu-cucunya bertanya, kenapa Rosihan ke rumah kumuh itu? Rumah itu punya siapa? “Opa cari apa di sana?” Tanya seorang cucunya.
- Rosihan Anwar Jatuh Bangun Koran Kiblik
SEBUAH kabar menyenangkan datang dari Soemanang Soerjowinoto, pemimpin redaksi harian Pemandangan, pada 1948. Soemanang memberitahukan Rosihan Anwar bahwa R.H.O. Djuanedi, penerbit Pemandangan, memiliki dana dan ingin menerbitkan koran yang membawa suara kaum kiblik. Sebelum Perang Dunia II, Djunaedi sudah menerbitkan harian Pemandangan dengan Soemanang sebagai pemimpin redaksinya. Djunaedi ingin memanfaatkan percetakan Pemandangan di Senen Raya 107 untuk menerbitkan sebuah koran lagi. Syaratnya sederhana. Nama depan koran harus dengan huruf “P”, sama dengan nama depan Pemandangan. Rosihan Anwar bukanlah orang baru di dunia jurnalistik. Dia pernah bekerja jadi wartawan Asia Raya dan Merdeka, sebelum kemudian menerbitkan Siasat. Tapi dia tak begitu puas dengan Siasat yang lebih menonjolkan sisi idealisme. Dia butuh perahu lain yang bisa dia nahkodai secara lebih bebas dan menguntungkan secara bisnis.
- Terpukau “Tanaman Suci” Tembakau
EKSOTIS dan berkhasiat. “Dunia Baru” Columbus bukan hanya membawa gelombang demam emas dan mutiara, namun juga hasrat keingintahuan bangsa Eropa terhadap sejumlah hewan dan tanaman lokal untuk dapat memanfaatkannya, secara komersial maupun medis. Tak semua sampel tanaman komunitas Indian Amerika yang dibawa mampu beradaptasi dengan iklim Spanyol. Koka adalah salah satunya. Namun, tembakau bisa tumbuh dan melesat menjadi pusat perhatian. Adalah Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam sampel tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicoba, khususnya daun tembakau, untuk merawat pasiennya. “Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes membanggakan tembakau dalam publikasinya yang terbit sekitar 1565-1574. Publikasinya dalam edisi bahasa Inggris terbit pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.
- Lagu “Akhir Cinta” Awali Panbers
SEBAGAI anak pegawai tinggi di Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sering berpindah kantor cabang, hidup anak-anak dari keluarga JMM Pandjaitan harus berpindah-pindah. Setidaknya mereka pernah tinggal di Surabaya dan Palembang sebelum di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wajar jika anak-anak dari pasangan Drs. JMM Pandjaitan-Bosani Sitompul itu ada yang sedikit paham bahasa Palembang. Sebagai orang-orang Batak, mereka terbiasa dengan musik sejak bocah. Maka tak heran selepas masa remaja, anak-anak itu sudah bisa bermain alat musik. Terlebih JMM Pandjaitan sang ayah dengan posisi di kantornya setidaknya mampu membelikan alat-alat musik murah untuk sekadar “ngeband”. Portohan Bonetua Marangin Sitorduga Pandjaitan alias Hans sebagai anak tertua dari empat anak JMM Pandjaitan lalu membentuk sebuah band. Dirinya memainkan gitar melodi. Lalu ada Benny –lengkapnya Mimbar Porbenget Mual Hamonangan Pandjaitan– yang pada 1971 sudah 24 tahun, bisa juga bermain tamborin dan banjo. Benny sang anak kedua bermain keyboard sambil bernyanyi di band.
- Di Balik Dukungan Palestina terhadap Revolusi Kemerdekaan Indonesia
PERAN Amerika Serikat (AS) dan Palestina terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia kembali jadi perdebatan panas. Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda berdebat keras dengan Prof. Ikrar Nusa Bakti terkait soal itu hingga berujung pada lontaran kata-kata tak pantas. Hal itu terjadi dalam sebuah program acara Rakyat Bersuara bertajuk “Krisis Gara-Gara Perang AS-Israel Vs Iran Menghawatirkan, Bagaimana Nasib Indonesia?” di stasiun televisi iNews TV, Selasa (10/3/2026). Dalam forum itu, influencer pro-Israel itu juga menghardik pengamat hukum tata negara Feri Amsari yang sempat menyinggung soal peran dan jasa Palestina terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia. Feri mengungkit adanya sumbangan harta dari wartawan dan baron media Palestina. Permadi menyebut kisah itu hoaks belaka. “Kalau tidak ada bangsawan Palestina yang menyumbang kepada bangsa ini, melalui Haji Agus Salim, belum tentu juga kita merdeka. Jadi kalau main utang-utangan sejarah, sebenarnya kita punya utang besar terhadap Palestina, itu sebabnya seluruh presiden kita, kecuali Prabowo,” ujar Feri sebelum kata-katanya disela Permadi, sebagaimana terlihat di Youtube Official iNews, Rabu (11/3/2026).
- Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai
AMERIKA SERIKAT (AS) bertanggung jawab atas serangan terhadap Sekolah Dasar (SD) Shajarah Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran 28 Februari 2026 lalu. Demikian bunyi hasil investigasi awal militer AS. Harian New York Times, 11 Maret 2026 mengungkapkan bahwa menurut beberapa pejabat pemerintah AS yang tak disebutkan namanya dan mengetahui temuan-temuan awal investigasinya, AS harus bertanggung jawab atas serangan misil Tomahawk ke SD Shajarah Tayyebeh. Sekitar 175 orang wafat, sebagian besar para siswi putri, serta 95 lainnya terluka. Sekolah itu dulunya merupakan bagian dari kompleks militer Korps Garda Revolusi Iran, IRGC. Bangunan itu lalu ditinggalkan dan kemudian dijadikan sekolah dasar dan area bermain anak. Sialnya, menurut temuan awal laporan tadi, Komando Pusat AS menggunakan data Defense Intelligence Agency yang sudah usang untuk melancarkan serangan.
- Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR
SEDARI lama, masa menjelang lebaran selalu menjadi periode sulit bagi kebanyakan orang dengan ekonomi lemah. Terlebih pada dekade 1950-an. Dekade 1950-an adalah era penuh kesengsaraan bagi kaum buruh Indonesia, baik buruh di perkebunan maupun di pabrik-pabrik. Jelang lebaran dan tanpa pemasukan tambahan menjadi masa yang mencekik bagi para buruh. Tradisi lebaran tak bisa dihindari rakyat jelata di Indonesia. Fenomena yang terus berulang tiap tahun itu akhirnya menjadi perhatian Raden Ahem Erningpradja dan orang-orang sepertinya di Serikat Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) yang berdiri sejak 1948. Bentuk perhatian ini pada gilirannya berubah menjadi aksi peduli.
- Nasib Pahit Kapal Perang Gegara Toilet
TERCANGGIH atau terbaru tak serta-merta menjadikan sebuah kapal perang bisa diandalkan setiap waktu. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) contohnya. Kapal induk sepanjang 337 meter dan lebar dek terbang 78 meter serta bobot 100 ribu ton itu ditarik mundur dari Asia Barat gegara masalah toilet. Gerald R. Ford termasuk kapal induk terbaru dan terbesar AS. Biaya pembuatannya yang dimulai pada 2005 mencapai 13 miliar dolar Amerika (lebih dari Rp.220 triliun). Setelah dibangun di perusahaan Newport New Shipbuilding dan rampung pada 2013, kapal induk itu diberi nama Gerald R. Ford –mengabadaikan nama Presiden AS ke-38– dan ditugaskan di AL AS pada 2017 menggantikan pendahulunya, USS Enterprise (CVN-65), kapal induk AS pertama yang bertenaga nuklir (1961-2017). Ditenagai dua reaktor nuklir Bechtel A1B PWR yang menggerakkan empat baling-balingnya, Gerald R. Ford bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 30 knot (56 kilometer per jam) dengan durasi 25 tahun sebelum proses mid-life refuel. Sebagai bandara terapung operasi udara, Gerald R. Ford mampu maksimal 75 pesawat berbagai jenis.
- Di Balik Tiga Koleksi Indonesia yang Dikembalikan dari Belanda
ENAM bulan pasca-Belanda mengembalikan artefak-artefak koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil “Manusia Jawa”, upaya repatriasi terkini kembali menghasilkan pengembalian tiga benda lain. Ada Arca Siwa, Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman, dan sebuah Al-Quran dari abad ke-19. Menurut laman resmi pemerintah Belanda, Selasa (31/3/2026), dua bendanya berasal dari Wereldmuseum Amsterdam, yakni arca Siwa dan Prasasti Damalung. Sementara yang berupa Al-Quran dari koleksi pemerintah kota Rotterdam yang disimpan di Wereldmuseum Rotterdam. “Penandatanganan persetujuan penyerahannya dilakukan Duta Besar Indonesia (untuk Belanda, red.) Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Youssef Louakili, dilakukan pada 31 Maret di (kantor) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan,” bunyi pernyataan tersebut.





















