Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Meruwat untuk Mengusir Kekuatan Jahat
Warga di Madiun, Jawa Timur, menggelar atraksi kesenian Dongkrek untuk mengusir pagebluk. Di antaranya ada yang menggunakan topeng genderuwoberwarna-warni. Dengan diringi musik, mereka berkeliling ke sudut-sudut sejumlah desa. Dalam Kesenian Dongkrek Internasilisasi Nilai dan Ketahanan Budaya , sejarawan IKIP PGRI Madiun, Muhammad Hanif, dkk. menjelaskan ritual ini sudah ada sejak 1867 dan terus berjaya hingga 1902. Kesenian ini lahir pada masa Raden Sosro Widjoyo, yang bergelar Raden Ngabehi Lho Prawiro Dipoero III menjabat sebagai Palang Caruban atau sekarang Kecamatan Mejayan. Palang setara dengan jabatan lurah kepala. Pada 1866, daerah Caruban diserang pagebluk yang menelan banyak korban. Raden Prawiro Dipoero berusaha mencari jalan keluar. Ia bermeditasi dan bertapa di wilayah Gunung Kidul Caruban. Saat bertapa, ia diganggu segerombolan genderuwo . Ia mengalahkan genderuwo itu dengan cemeti yang didapatkan nya dari seorang kakek sakti saat bertapa. Bahkan, Raden Prawiro Dipoero membuat genderuwo itu membantunya mengusir wabah penyakit. Ia bersama abdinya dan genderuwo berjalan keliling kawasan Mejayan. Mereka menggiring keluar roh halus pembawa wabah yang menyerang wilayah mereka. Setelah krisis pangan dan wabah berlalu Raden Prawiro Dipoera membuat topeng menyerupai sosok genderuwo. Ia menjadikanya topeng seremonial untuk diarak keliling kampung setahun sekali pada tengah malam. Ini sebagai ritual tolak bala atau mencegah agar wabah tak muncul kembali. Keyakinan adanya roh atau hantu jahat yang mendatangkan musibah bagi manusia sudah ada sejak lama. “Dalam prasasti ada kata hanitu atau hantu, ‘lenyaplah segala hanitu ’. Artinya sebagai suatu yang mengancam. Dalam keyakinan itu penyakit dianggap sebagai kekuatan jahat yang perlu disirnakan. Jadi nonmedis,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia. Mengusir Pengaruh Jahat Hari Lelono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan dengan tujuan sama, umumnya masyarakat Jawa menggelar upacara bersih desa. Ada juga yang menyebutnya ruwatan. Bersih desa berasal dari pengertian orang Jawa yang berarti membersihkan hal buruk. Tujuannya agar manusia terhindar dari bermacam gangguan, baik alam maupun roh jahat. Sementara ruwatan berasal dari kata ruwat, artinya luwar atau lepas. “Jadi, bersih desa atau dusun dan ruwatan berarti melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor,” jelas Hari Lelono dalam “Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana” , terbit di Berkala Arkeologi Vol. 35 , 2015 . Ruwatan bisa dilakukan terhadap alam semesta sebagai tempat hidup manusia, serta segala isinya seperti bumi, sungai, laut, danau. Pun ruwatan bisa dilakukan terhadap manusia secara individu maupun kelompok. Pada masa lalu, khususnya masyarakat Jawa dan Bali,mengenal upacara bhumisuddha. Artinya upacara kurban pemberian ( suddha ) bumi dari segala pengaruh jahat. Menurut Hari, pada masa Bali Kuno, sekira abad ke-10, dikenal upacara kurban yang disebut Haywahaywan dan pamahayu, yang berarti cantik, damai, dan sejahtera. “Selanjutnya masyarakat Jawa sekarang mengenal kata-kata mutiara: mamayu hayuning bawana . Maksudnya mempercantik dunia,” kata Hari. Upacara bhumisuddha tak berbeda jauh dengan ruwatan bumi. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bersih desa. “Bersih itu suddha, desa itu bhumi. Atau slametan sedekah bumi,” jelasnya. Ritual ini juga biasanya diiringi dengan persembahan “kurban” kepada Sang Penguasa Alam. Kurbannya berupa sesajian dengan segala macam perlengkapannya. Biasanya kegiatan ini dilakukan setelah musim panen,supaya masyarakat punya dana yang cukup untuk melakukan prosesinya. Hari menyebut masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur, biasanya melakukan upacara terpusat di Candi Sanggar, Dusun Wonogriyo. Mereka percaya di sana tempat tinggal roh-roh leluhur cikal bakal desa atau danyang . Karenanya pada waktu-waktu tertentu, mereka harus melakukan upacara menghormati para danyang. Tujuannya agar mereka selalu dijaga dan dihindarkan dari gangguan roh-roh jahat penyebab bencana. “Bencana itu baik berupa bencana alam maupun musibah seperti penyakit, kematian, dan pengaruh jahat lainnya,” jelas Hari. Roh Jahat Kegiatan menangkal roh jahat pembawa petaka pada masa kuno, dipahatkan pada pendopo Candi Panataran di Blitar, Jawa Timur. “Ada gambaran seorang tokoh memberikan sesajian yang dimaksudkan untuk menangkal gangguan yaitu hantu. Artinya ada tempat-tempat tertentu untuk menyirnakan penyebab petaka, disebut hantu jahat,” jelas Dwi. Arkeolog Setyawati Suleman dalam Batur Pendopo Panataran , menjelaskan bahwa dalam pendopo Candi Panataran itu seorang tokoh dengan tutup kepala tekes tampak sedang membawa sajian dalam bentuk tumpeng kepada Durga di pekuburan yang penuh dengan hantu. Ia berjumpa dengan hantu yang badannya setengah terkubur di tanah. Di atas relief ini terdapat tulisan yang oleh J.L.A Brandes, ahli purbakala Belanda, dibaca sebagai hanja hanja nngah . I nskripsi ini cocok dengan adegan tadi, yang berarti hantu berbadan setengah. Pada adegan ini tampak pula tangan besar yang terulur ke atas, ini adalah hantu tangan. Ia disebut dengan tetangan dalam kisah Sudhamala. Di atasnya kepala Bhuta tengah meringis. Soal hantu, ada inskripsi singkat lain yang ditemukan di relief pendopo ini. Tertulis hanja hanja kasturi. Mungkin yang dimaksud adalah hantu wangi. Kendati adegan di bawahnya tak memperlihatkan adegan yang ada hantunya. Dwi juga menyebutkan kisah Sudhamala yang ditemukan pada relief di dinding Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar dan di Candi Tegowangi di Kediri. Di sana ada adegan Sadewa, salah satu dari tokoh Pandawa, yang berhasil meruwat raksasi bernama Durga Ranini, penguasa Setra Gandamayu tempat para jin dan setan. Setelah diruwat, Ranini kembali ke wujudnya semula, Batari Uma yang canti k jelita. “Dalam Sudhamala ada Ranini penguasa Setra Gandamayu, yang digambarkan sebagai kekuatan jahat. Lalu setelah diruwat, murkanya diredakan,” jelas Dwi. Ada pula relief Angling Dharma pada dinding Candi Jago di Malang. Angling Dharma pada ujung cerita meruwat seorang resi dari wujudunya yang seperti raksasa. Kondisinyakembali stabil saat sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Paling Mudah Dicerna Dwi mengatakan segala bencana yang terjadi pada masyarakat kuno selalu dianggap sebagai murka alam atau murka ilahi. Karenanya masyarakat perlu meredakan murkanya. “Karena berkaitan dengan keyakinan jadi dilakukannya juga berdasarkan keyakinan tertentu,” jelas Dwi. Pada perkembangannya, menurut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, kemarahan roh-roh orang mati yang tak puas tetap merupakan penjelasan yang lebih cepat dan lebih mudah bagi suatu bencana yang terjadi. Itu bila dibandingkan dengan pandangan tentang kejahatan dari kitab-kitab suci yang ada. “Sekalipun agama-agama kitabiah berhasil mengurangi pengaruh roh-roh halus, orang tetap saja ada yang sakit, sial, dan mati,” katanya. Bagaimanapun, kata Hari Lelono, kepercayaan mempunyai fungsi salah satu n ya untuk mengurangi kegelisahan. “Dengan religi manusia bisa mendapat ketenangan untuk menghadapi hal-hal di luar jangakauan pikirannya, seperti kematian, penyakit, bencana, dan lainnya,” katanya.
- Krisis Barang pada Zaman Jepang
PANDEMI Covid-19 menyebabkan beberapa barang langka di pasaran. Contohnya masker dan cairan pembersih tangan. Belakangan barang kebutuhan pokok semisal gula ikut langka. Kekhawatiran muncul dari masyarakat terhadap ketersediaan barang kebutuhan pokok. Tapi pemerintah meyakinkan tidak akan ada kelangkaan barang kebutuhan pokok.
- Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma
SEBAGAI bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut andil dengan mengerahkan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Angkatan Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut logistik kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian diberitakan detik.com , 22 Maret 2020. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI itu diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.” Apa yang dilakukan para personil TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas mengangkut obat-obatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. Kejadian itu selalu diingat Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian menuliskannya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air. Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan. Adisutjipto dan dokter karbol –julukan yang melekat pada Abdulrahman Saleh karena kebiasaannya semasa sekolah kedokteran di Batavia mengepel asrama menggunakan karbol– akan berangkat ke Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Mereka akan terbang menggunakan pesawat DC-3 Dakota bernomor registrasi VT-CLA. Pertemuan berjalan akrab seperti biasa ketika kedua bawahan Suryadarma itu membahas masalah AURI dan perjuangan dengan sang KSAU. Ketika kunjungan selesai, kedua perwira muda AURI itu berpamitan seperti biasa mereka bertemu sebelumnya. Semua berjalan seperti biasa setelah itu. Adisutjipto dan dokter kadet berangkat ke Singapura, sementara Suryadarma mengurusi AURI dan Utami bersumbangsih dengan membantu perjuangan di garis belakang bersama gerakan perempuan. Namun, pada 29 Juli 1947 sore Utami mendapati kejanggalan di atas langit Yogyakarta. “Kita semua mendengar bunyi deruman sebuah pesawat Dakota. Suamiku heran karena biasanya pesawat kita yang datang dari luar negeri, mendarat di Yogyakarta pada malam hari kalau hari sudah sungguh-sungguh gelap. Saat itu sore hari yang masih terang-benderang,” ujarnya. Kejanggalan itulah yang membuat Suryadarma, kata Utami, segera berlari ke mobilnya untuk menuju Lanud Maguwo (kini Lanud Adisucipto) yang letaknya tak terlalu jauh dari kediaman KSAU. Kedua anak Suryadarma-Utami, yakni Priyanti dan Erlangga, ikut dengan ayah mereka. Utami menunggu di rumah dengan hati cemas. Kecemasannya seketika berubah menjadi kesedihan ketika suami bersama kedua anaknya tiba dari Maguwo petang itu. Suryadarma mengabarkan bahwa pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar sore itu ternyata Dakota yang –disewa AURI dari Kalingga Air milik Bidju Patnaik, pengusaha India yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto dan dokter karbol dan pesawat itu baru saja jatuh ditembak pesawat Belanda. “Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang membentur tanggul sawah,” kata saksi bernama Soma Pawiro sebagaimana dikutip Irna Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . “Hatiku tersayat-sayat rasanya,” kata Utami mengingat keadaan saat dia mendengar kabar pilu itu. “Untuk petama kalinya saya menyaksikan suamiku menangis sekembalinya dari Maguwo.” Malam itu juga Suryadarma –yang sebelum pulang ikut membawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– dan Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, dan Pangsar Jenderal Soedirman sudah ada di rumahsakit ketika mereka tiba. Suryadarma amat terpukul oleh kejadian itu, kata Utami. Selain kehilangan sahabat sekaligus bawahan-bawahan yang cakap, dia sebagai pemimpin AURI yang masih seumur jagung kehilangan pencetak-pencetak kader penerbang-penerbang baru. Praktis hanya tinggal Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi yang dapat diandalkannya untuk terus menjalankan roda kehidupan AURI. Sama dengan suaminya, Utami juga terpukul oleh kejadian tersebut. “Sebelumnya saya merasa ngeri melihat janazah para korban, tetapi rasa itu hilang ketika saya melihat wajah Adisoetjipto dan dr Karbol. Wajah mereka berdua utuh sepenuhnya, meskipun ada sedikit luka terbakar. Namun saya tidak dapat menahan airmata yang bercucuran. Baru beberapa hari yang lalu mereka berdua datang berpamitan ke rumah, karena akan berangkat ke Singapura untuk tugas penting ini. Sekarang mereka sudah kembali dari menjalankan tugas, tetapi mereka telah tidak bernyawa. Bagaimana saya tidak sedih dan bagaimana saya dapat menahan airmata mengingat itu semua,” kata Utami.
- Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua
SIAPAPUN akan takjub bila mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu memasuki pintu gerbang Rowobendo, Anda akan disambut pemandangan rimbunan pohon mahoni di kanan-kiri jalan. Begitu indah. Bak lukisan atau sebuah tempat nun jauh di masa lalu. Tapi ini awal dari perjalanan yang akan mengejutkan Anda. Alas Purwo punya objek wisata yang terbilang lengkap dan mempesona. Dari pantai pasir putih hingga padang savana. Dari situs sejarah yang menggelitik hingga goa-goa yang beraroma mistik. Anda bisa menunggangi ombak, meneliti hewan liar, dan masih banyak lagi. Alas Purwo memiliki keanekaragaman hayati dan satwa yang mengagumkan. Pada masa Hindia Belanda, kawasan hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam (1920) lalu suaka margasatwa (1936). Statusnya kemudian meningkat jadi taman nasional (1992) dan juga ditetapkan sebagai kawasan lindung nasional (2008). Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, keberadaan TNAP seluas sekitar 43.420 hektar adalah sebuah berkah. Pesona alamnya dimanfaatkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Salah satunya dengan menggelar sejumlah event yang memadukan olahraga dan wisata ( sport tourism ). Akhir November 2019, misalnya, digelar Alas Purwo Geopark Green Run yang diikuti sekitar 500 pelari dari dalam maupun luar negeri. Para peserta melewati lebatnya pepohonan mahoni lalu menyusuri pinggiran Pantai Trianggulasi yang berpasir putih. “Jadi kini akses ke hutan-hutan sudah beres, termasuk jalanan di Alas Purwo. Sekarang sudah mulus. Setelah kemarin sukses dengan Ijen Green Run, ada ide menggelar jungle run ,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ijen Green Run, yang digelar sejak 2016, memanjakan para pelari dengan kesegaran dan keindahan alam kaki Gunung Ijen. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Hutan Tua Alas Purwo adalah hutan tua, bahkan dianggap yang tertua, di Pulau Jawa. Dalam bahasa Jawa, Alas Purwo punya arti “hutan pertama” atau “hutan permulaan”. Maka, ia dikaitkan dengan mitos awal mula penciptaan Pulau Jawa. Sejumlah penelitian arkeologi memang terus dilakukan. Beberapa penelitian menemukan banyak goa yang mirip dengan goa hunian manusia prasejarah di wilayah karst lainnya. Karst adalah bagian yang mendominasi Alas Purwo. Menurut Obyek dan daya Tarik Wisata Taman Nasional Alas Purwo , hutan lindung ini memiliki sekira 40 goa alami. Beberapa di antaranya menjadi tempat laku spiritual atau semedi seperti Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Mangleng, dan Goa Kucur. Masyarakat sekitar percaya bahwa Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Kerajaan Majapahit yang menghindar dari serbuan Mataram. Mereka juga yakin hutan ini masih menyembunyikan Keris Sumelang Gandring, salah satu pusaka Majapahit . Di tengah Alas Purwo juga terdapat Situs Kawitan yang merupakan situs peninggalan Majapahit. Situs Kawitan, dalam bahasa Jawa juga berarti permulaan atau nenek moyang, ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk sekitar pada 1960-an. Karena diyakini sebagai tempat suci, di dekat situ didirikan Pura Giri Selaka. Sampai saat ini banyak umat Hindu mendatangi Pura untuk upacara keagamaan Pagerwesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Kesan mistis dan sakral itu, alih-alih dihilangkan, malah dipakai Pemkab Banyuwangi untuk mempromosikan Alas Purwo sebagai destinasi wisata. “Semakin tersembunyi semakin dicari, semakin mistis semakin diminati. Itulah Alas Purwo,” ujar Anas kepada kumparan.com . Hal itu pula yang memunculkan gagasan dari benak Anas untuk menggelar Festival Kejawen dalam waktu dekat. Tapi sebenarnya, jauh dari kesan mistis, Alas Purwo terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Karena lokasinya berbatasan dengan Samudera Hindia, TNAP diberkahi deretan pantai eksotis seperti Pantai Parang Ireng, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur, hingga Pantai Plengkung. Anda bisa bermain di tepi pantai, melihat konservasi penyu, atau berselancar di atas ombak setinggi enam meter. Jika tertarik dengan konservasi satwa liar, datanglah ke Sadengan, sebuah padang rumput atau savana yang luas. Awalnya tempat pengamatan banteng, Sadengan kini difungsikan sebagai “Wildlife Research Station”. Di sana Anda bisa mengamati burung merak, rusa, dan banteng Jawa. Ada juga pemandangan hamparan mangrove di sepanjang Sungai Segara Anakan di kawasan Bedul. B angunan Sanggrahan yang megah dengan motif rumah Osing, suku asli Banyuwangi. Masih banyak lagi. Bukan hanya rekreasi dan pariwisata, Alas Purwo cocok untuk tujuan penelitian hingga ilmu pengetahuan. Ia menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna. Hewan yang ikonik adalah banteng Jawa, lutung budeng, dan penyu. Sementara tumbuhan khas dan endemik adalah bambu manggong ( Gigantochloa manggong ) dan sawo kecik ( Manilkara kauki ). Pohon sawo kecil Alas Purwo pernah diminta khusus oleh Siti Hartienah Soeharto atau Ibu Tien untuk diukir fragmen Rama Tambak dari kisah Ramayana. Kini, batang sawo kecik berukir itu bisa disaksikan di Museum Purna Bhakti Pertiwi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Dengan semua itu, tak heran jika TNAP –bersama Gunung Ijen di Banyuwangi– ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, pada 2016. Selain itu, TNAP –selain Blue Fire di Gunung Ijen dan Pulau Merah d Banyuwangi– ditetapkan sebagai situs Taman Bumi atau Geological Park (Geopark) Nasional 2018. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Konsep Sport Tourism Dengan segala pesonanya, Alas Purwo kini menjadi salah satu destinasi favorit di Banyuwangi. Kunjungan wisatawan tercatat terus meningkat. Keberhasilan itu tak lepas dari upaya Pemkab Banyuwangi untuk memoles Alas Purwo. Pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana untuk mendukung pengelolaan kawasan digiatkan. Dari kantor balai hingga akses jalan di dalam kawasan. Jalan rusak berganti mulus. Bangunan tua nan usang berganti modern dan kokoh. Pasokan listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga sudah masuk. Tak bisa diabaikan inovasi dari Pemkab Banyuwangi dengan menggelar sejumlah event sport tourism . Misalnya balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) dengan titik start di Alas Purwo hingga melewati rute mendaki ke Gunung Ijen. TdBI digelar sejak 2012 dan jadi kejuaraan balap sepeda resmi Federasi Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International). Setiap tahun event yang diadakan di Alas Purwo, terutama sport tourism , makin bertambah. Pada 2019, selain Alas Purwo Geopark Green Run, Banyuwangi mengadakan ajang kompetisi bersepeda sekaligus berlari dengan nama Banyuwangi Savana Duathlon. Lalu, pada Banyuwangi Festival 2020, meluncurkan Alas Purwo Food Festival (Juni) serta World Surf League (WSL) Championship Tour (Juni) di Pantai Plengkung (G-Land) dan Banyuwangi International Geopark Walk (November). Yang membanggakan tentu saja terpilihnya Banyuwangi sebagai salah satu tuan rumah WSL Championship Tour. Ini adalah liga selancar paling bergengsi di dunia. Biasanya digelar April-Desember setiap tahunnya di berbagai pantai di dunia. Tahun ini terpilih Australia, Amerika Serikat, Brazil, Hawaii, Tahiti, Afrika Selatan, Portugal, hingga Prancis. ”Banyak daerah di belahan dunia lain yang sangat berminat menjadi tuan rumah. Kami bersyukur, justru Banyuwangi dipilih WSL,” kata Bupati Anas. Terpilihnya Banyuwangi tak lepas dari perhatian pemerintah daerahnya dalam mengembangkan sport tourism . Selain itu, G-Land punya ombak bagus dan berada di kawasan TNAP yang elok. Nah, kurang apa lagi. Setelah badai Covid-19 atau Corona berlalu, Alas Purwo bisa jadi pilihan berlibur yang menyenangkan. Yuk, siapkan dari sekarang.
- Kesedihan Haji Agus Salim
TAK ada yang meragukan kiprah Haji Agus Salim sebagai seorang pejuang. Sejak aktif di Volksraad (1921-1924), dia telah dikenal kritis dan garang terhadap berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap menindas rakyat. Bahkan ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih sebagai “komedi omong yang disensor” dari sebuah parlemen gadungan. “Usai melakukan kritiknya itu, Haji Agus Salim lantas keluar dari Volksraad,” ujar Agustanzil Sjahroezah, salah seorang cucu dari Haji Agus Salim. Di lain waktu, Haji Agus Salim pernah balik mempermalukan orang-orang yang menghinanya. Alkisah, suatu hari beberapa aktivis muda Sarekat Islam (SI) Merah yang berhaluan komunis mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim sebagai pembicara utamanya. Tujuan mereka datang tak lain hanya ingin “mengacaukan” rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi “genit-genitnya” secara intelektual. Setiap Haji Agus Salim yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda kiri tersebut serempak menyahutinya dengan suara: “embeeekkk”. Satu kali didiamkan.Dua kali masih tidak diacuhkan. Begitu kali ketiga embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba Haji Agus Salim mengangkat tangan seraya berkata: “Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan, agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidato yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka.” Demi mendengar kata-kata Haji Agus Salim itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun anak-anak muda itu, alih-alih meninggalkan ruangan, mereka yang seolah-olah menjadi “sekelompok badut muda” terpaksa harus “menikmati" ejekan masal itu dengan muka merah padam. Namun Haji Agus Salim yang cerdas, sangar dan jenaka pernah sangat bersedih. Itu terjadi pada akhir Januari 1946, saat Haji Agus Salim mendengar kabar anak ke-5-nya, Achmad Sjewket Salim gugur dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang. “ Paatje memang berduka sekali dengan meninggalnya Sjewket karena sebelumnya Sjewket yang selalu sakit-sakitan itu sudah dilarang untuk masuk Akademi Militer Tangerang,” ungkap a lmarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim. Ketika memimpin perjuangan diplomasi di Mesir pada 1947, Haji Agus Salim terlihat sering menggunakan sebuah jaket militer usang. Menurut diplomat senior M. Zein Hassan, kendati anggota delegasi Indonesia lainnya agak penasaran dengan kebiasaan orang tua tersebut, namun tak ada yang berani menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan. Hingga suatu malam, selagi semua anggota delegasi RI duduk di beranda atas Hotel Continental Cairo untuk menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan, tetiba Haji Agus Salim menyanyikan secara lantang sebuah lagu perjuangan. “Kami yang hadir semuanya terdiam seperti terpukau,” ungkap M. Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri . Situasi semakin hening begitu lagu selesai dinyanyikan, sejenak Haji Agus Salim terdiam lantas menangis tersedu-sedu, seolah ingin melepaskan segala sesak dada yang menekan dirinya. Lagi-lagi tak ada yang berani bertanya atau memulai pembicaraan. Keheningan itu mulai dipecahkan lagi oleh suara Haji Agus Salim sendiri. “Lagu itulah yang dinyannyikan anak saya, ketika pelor Jepang menembus dadanya,” kata Haji Agus Salim dalam nada parau. Sejurus kemudian, Haji Agus Salim kembali diam. Lalu saat beberapa detik berlalu, dia menghalau lagi keheningan sambil menunjuk jaket militer yang selalu dipakainya sehari-hari selama di Mesir. “Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid,” ujarnya. Sjewket, remaja 19 tahun yang telah tiada itu, memang selalu hidup dalam benak Haji Agus Salim . Bisa jadi dia sempat merasa menyesal karena tidak bisa meyakinkan putranya itu untuk tidak menjadi seorang prajurit. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein yang pernah mendengar langsung dari adik Sjewket, Islam Salim, Haji Agus Salim pernah menasehati Sjewket untuk berjuang lewat jalan lain. Toh perjuangan mempertahankan proklamasi tidak harus lewat menjadi seorang prajurit, kata Haji Agus Salim . “Tapi ya dasar pemuda yang sedang semangat-semangatnya ingin berjuang, Sjewket diam-diam mendaftarkan diri ke Akademi Militer Tangerang dan lulus hingga dia gugur bersama komandannya, Mayor Daan Mogot,” ungkap Rushdy. Mohamad Roem pernah melukiskan rasa cinta Haji Agus Salim kepada Sjewket. Ketika Haji Agus Salim sedang serius berdiskusi dengan para aktivis muda di rumahnya, tetiba datang Sjewket (yang saat itu berusia 4 tahun) mendekati Haji Agus Salim . Dalam bahasa Belanda, Sjewket kecil minta kepada ayahnya untuk menggaruk punggungnya yang terasa gatal. “Dengan wajah penuh kasih sayang, perhatian Haji Agus Salim langsung beralih kepada anaknya dan sesudah bertanya (juga dalam bahasa Belanda) sebelah mana yang gatal agar dapat digaruk dengan cepat, Haji Agus Salim menjalankan apa yang dimintakan,” ungkap Roem seperti tercuplik dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah.*
- Presiden Soeharto Becanda di Papua
AWAL Maret 1973, Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Papua. Itu adalah kali kedua Soeharto datang ke provinsi yang masih bernama Irian Barat itu, setelah kunjungan perdananya tahun 1969. Dalam kunjungan tersebut, Soeharto membawa sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Salah satu diantaranya ialah Jaksa Agung Soegih Arto.
- Muasal Logo Dolar
PANDEMI corona atau Covid-19 mengakibatkan perekonomian dunia kacau. Kebijakan lockdown yang diambil banyak negara dan pemerintahan di bawahnya untuk memutus penyebaran wabah corona mengakibatkan aktivitas ekonomi berjalan amat lambat. “Covid-19 adalah ujian terbesar bagi kita sejak pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini adalah kombinasi antara penyakit yang menebar ancaman dan dampak ekonomi yang menyebabkan resesi dalam skala yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan cnbcindonesia . com , 2 April 2020. Dampak pandemi bagi perekonomian juga amat kentara dalam perekonomian Indonesia. “Resesi yang semakin pasti, bahkan mungkin sudah terjadi, membuat investor menerapkan ‘ social distancing ’ dari aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Seretnya arus modal ke pasar keuangan Tanah Air membuat Rupiah melemah,” sambungnya. Lemahnya Rupiah terlihat dari nilai tukarnya yang anjlok terhadap Dolar AS. “Kemungkinan terburuknya Rupiah bisa mencapai 20.000 per Dolar AS,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikutip liputan6.com , 1 April 2020. Dolar AS merupakan mata uang standar dalam keuangan internasional. Posisi itu didapatkan Dolar AS setelah Perjanjian Bretton Woods ditandatangani oleh 44 negara Sekutu pada 1944. Pernjanjian tersebut menetapkan mata uang berlogo huruf S dengan garis vertikal di tengahnya (Dolar AS) itu sebagai mata uang cadangan dunia, yang didukung oleh cadangan emas terbesar di dunia. Logo Dolar AS ($) merupakan evolusi dari logo Peso atau Dolar Spanyol –mata uang paling populer di Benua Amerika dan negara-negara baru di seluruh dunia dari abad ke-16 hingga abad ke-18– yang secara tidak sadar dibuat oleh konglomerat Oliver Pollock. “Logo dollar berasal dari penyalinan simpelnya terhadap logo Spanyol untuk menggambarkan mata uang Spanyol versus mata uang yang lain,” tulis sejarawan Thomas E. Chavez dalam Spain and the Independence of the United States: An Intrinsic Gift . Pollock merupakan imigran asal Irlandia utara kelahiran tahun 1736 yang –mengadu nasib ke daratan Amerika pada 1762 – menjadi penyokong dana Revolusi AS saat berupaya melepaskan diri dari penjajahan Inggris. Bantuannya yang bernilai fantastis berperan penting antara lain dalam Kampanye Barat-Laut yang dilancarkan Jenderal George Rogers Clark. Kesuksesan kampanye tersebut dengan perebutan Illinois membuka wilayah barat laut bagi pasukan Amerika. “Itu adalah satu-satunya kampanye Amerika di barat Alleghenies dan $91.000 yang dikeluarkan Pollock untuk membiayai kampanye itu amat bernilai setiap sennya. Karena itu, pada perjanjian damai setelah perang, AS mengklaim batas baratnya melampaui Alleghenies hingga ke Mississippi, dan termasuk tanah di utara Sungai Ohio,” tulis jurnalis Walter G. Cowan dalam New Orleans Yesterday and Today . Berkat lobi Pollock ke Gubernur Louisiana Kolonel Bernardo de Galvez pula Spanyol akhirnya melibatkan diri dalam Perang Revolusi Amerika dan mendukung Amerika dalam melawan Inggris –lawan Spanyol dalam Perang Tujuh Tahun. Pollock memberikan pinjaman dana ketika Spanyol berencana melancarkan kampanye militer di selatan dan barat untuk membuka jalur pasokan bagi pasukan Amerika dan mencegah pengepungan militer Inggris terhadap pasukan Amerika. Meski itu menguras hartanya, sokongan dana Pollock membuahkan keberhasilan pasukan Kolonel Galvez merebut benteng-benteng Inggris di Alabama, Florida, Louisiana, dan Mississippi. Saking antusiasnya dalam membantu perjuangan Amerika, Pollock akhirnya bangkrut bahkan sampai dipenjara di Havana –pusat strategis Spanyol di Karibia – karena tak mampu membayar pinjamannya kepada para kreditor di sana. Kebangkrutan Pollock sampai membuat Kongress Kontinental (kini Kongres AS) mengeluarkan resolusi kepada Departemen Keuangan dan pemerintah Virginia agar membayar dana yang dipinjamkan Pollock minimal 20 ribu dolar. Namun dana pinjaman pinjaman Pollock tetap tak dapat dibayarkan karena kedua otoritas tak memiliki dana sebanyak itu. Selepas bebas dari penahanannya pada 1785, Pollock ke Philadelphia dan bertemu Robert Morris, mantan rekan bisnis Pollock yang juga jadi penyokong dana Revolusi AS dan saat itu menjabat sebagai Pengawas Keuangan dalam kabinet George Washington. Selain membantunya dengan memberi penundaan waktu pembayaran utang Pollock kepada para krediturnya, Morris membantu Pollock dengan memasukkan kasus piutangnya ke dalam agenda Kongres. Hal itulah yang membuat Pollock mengirim ke Kongres buku besar catatan keuangan yang dipinjamkannya kepada pemerintah AS. Penulisan buku besar itu tanpa disadarinya membuat namanya kemudian diabadikan dalam sejarah Amerika. Pasalnya, Pollock menuliskan logo Peso atau populer disebut Dolar Spanyol –mata uang yang digunakan di AS dan menjadi acuan saat AS membuat mata uang sendiri– dalam buku besar itu dengan singkatan “ps” yang letak huruf “s”-nya di atas huruf “p” sehingga berbentuk ps . Penulisannya yang menggunakan huruf sambung membuat bentuknya menyerupai logo Dolar modern. “P dan S sering dihubungkan, dalam hal ini menunjukkan bahwa keduanya ditulis dalam satu gerakan pena yang tidak terputus. Rupanya itu adalah perubahan yang diperkenalkan secara tidak sadar, dalam upaya untuk menyederhanakan gerakan rumit pena dalam menuliskan ps florescent (model lampu neon),” tulis Florian Cajori, profesor sejarah-matematika dari Amerika, dalam artikelnya yang dimuat di Popular Science edisi Desember 1912, “The Evolution of the Dollar Mark”. Dari ketidaksengajaan yang dilakukan secara konsisten itulah Pollock menciptakan logo Dolar modern. “Dalam di manuskrip-manuskrip abad ke delapan belas (penggunaannya, red .) tidak lebih dari 15 atau 20 kali. Tak satu pun darinya yang mendahului yang ada dalam surat Oliver Pollock tahun 1778. Tidak ada manuskrip mengenai hal ini yang semenarik dan meyakinkan dari dua salinan surat sezaman itu, dibuat oleh tangan yang sama, dari sebuah surat yang ditulis pada 1778 oleh Oliver Pollock, yang saat itu merupakan ‘agen komersial Amerika Serikat di New Orleans’. Surat Pollock ditujukan kepada George Roger Clark, yang saat itu sedang memimpin ekspedisi untuk merebut Negara Illinois. Kedua salinan surat itu menunjukkan $ di badan surat itu, sedangkan dalam ringkasan catatan, pada penutup, $ dan ps florescent keduanya digunakan. Dokumen-dokumen ini benar-benar menunjukkan ‘logo dolar modern dalam proses pembuatan’,” sambungnya. Namun, sebelum tahun 1800-an logo “ciptaan” Pollock masih jarang digunakan orang. Penulisan nilai transaksi saat itu masih didominasi oleh penulisan kata “Dollar” atau singkatannya “Dol.”, “Doll”, atau “Ds.” di depan deretan angka. Lambat-laun orang yang menggunakan logo Dolar “ciptaan” Pollock terus bertambah. Pejabat tinggi AS pertama yang menggunakan logo tersebut adalah Morris “si penolong Pollock", yakni tahun 1792. Setelah 1800-an, penggunaan logo Dolar Pollock meluas baik dalam bentuk tulisan maupun cetakan. Setelah penggunaannya meluas hingga ke Meksiko (1830-an) dan Hawaii (1845), pemerintah AS lalu mengadopsinya untuk melambangkan mata uang Dolar-nya. “Jadi asal-usul Dolar adalah kesederhanaan itu sendiri. Ini adalah evolusi dari ps . di mana p dibuat dari satu goresan panjang saja. Transisi dari ps ke logo Dolar modern kita tidak dibuat oleh orang Spanyol; itu dibuat oleh orang Inggris yang melakukan kontak dengan orang-orang Spanyol. Tanggal paling awal $ dicetak bisa ditelusuri kembali ke tahun 1797,” tulis Cajori.*
- Roh Gunung dan Wabah Penyakit
PADA suatu pagi, setelah seminggu terus-menerus hidup seperti dirundung malang, raja Lombok memanggil semua pejabat, pendeta dan pangeran yang ada di Mataram. Raja mengatakan, selama beberapa hari hatinya sangat sakit tanpa tahu penyebabnya. “Aku telah bermimpi semalam Roh Gunong Agong, muncul di hadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung,” kata raja. Para hadirin di hadapannya diperbolehkan untuk ikut mengiringi kepergiannya hingga mendekati puncak. Namun ia harus melanjutkan pendakian seorang diri agar Roh Gunung Agung yang bersemayam di puncak gunung mau muncul di hadapannya. “Ia akan mengatakan sesuatu yang penting bagiku,” ujar raja. Persiapan pun dilakukan. Rombongan kerajaan berangkat pagi-pagi. Empat hari berlalu sampai raja harus mulai mendaki gunung dengan hanya diikuti rombongan kecil pendeta dan pangeran serta pembantu. Begitu mendekati puncak, raja memerintahkan para pengikutnya berhenti. Ia akan meneruskan perjalanannya dengan ditemani dua bocah pembawa kotak sirih. Puncak gunung berada di tengah bebatuan dan di pinggir kawah yang berasap. Sampai di sana, raja meminta kotak sirihnya dan menyuruh dua bocah tadi duduk diam sambil melihat ke bawah gunung. Raja pun menemui sang Roh Gunung Agung seorang diri. Tiga hari kemudian raja memanggil para pendeta, pangeran, dan para pembesar di Mataram. “Roh Agung telah berseru kepadaku,” kata raja. “’O Raja! Banyak wabah penyakit dan bencana akan melanda bumi, melanda manusia, melanda kuda dan ternak. Tetapi karena kau dan rakyatmu mematuhiku serta talah datang mendaki gunungku yang agung, aku akan memberitahukan cara menghindarinya’.” Raja pun berkata, Roh Gunung Agung memerintahkan mereka untuk membuat 12 keris keramat. Bahannya dari jarum yang jumlahnya mewakili jumlah penduduk di tiap desa. Satu jarum mewakili satu penduduk. Bila suatu penyakit yang berbahaya muncul di suatu desa, maka salah satu keris akan dikirim ke desa itu. “Jika jumlah jarum yang dikirim tak sesuai dengan jumlah penduduk, keris yang dikirim tidak akan berkhasiat apa-apa,” jelas raja. Dengan segera semua kepala desa mengumpulkan jarum. Setelah semua desa mengumpulkan, raja membagi kumpulan jarum itu ke dalam 12 bagian yang sama banyaknya. Lalu ia perintahkan pandai besi terbaik di Mataram untuk menjadikannya keris. Tiap keris dibungkus dengan kain sutra. Semuanya disimpan sampai pada saat nanti dibutuhkan. Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menceritakan kisah itu dalam bukunya The Malay Archipelago . Wallace melakukan perjalanan ke Lombok pada 1856 di tengah ekspedisinya berkeliling Nusantara. Ada maksud tersembunyi di balik pembuatan keris itu. Raja Lombok sebenarnya ingin juga mendapatkan data jumlah penduduk untuk disesuaikan dengan perolehan upeti yang seharusnya ia terima. Kendati begitu, “sabda” Roh Gunung Agung tetap saja dipercayai. Kehadiran 12 keris keramat membawa arti besar. Bila wabah penyakit muncul di suatu daerah, salah satu keris dikirimkan. Bila wabah mereda, keris dikembalikan dengan upacara penghormatan. Kepala desa lalu akan bercerita kepada raja tentang tuah keris itu. Sembari mereka mengucapkan terima kasih. Bila penyakit tak hilang, semua orang yakin ada kesalahan dalam jumlah jarum yang diserahkan oleh kampung itu. Karena kesalahan itu, keris keramat tak mampu melawan penyakit yang melanda kampung. Maka harus dikembalikan kepala desa dengan berat hati. “Walaupun demikian rasa hormat terhadap keris itu tidak berkurang karena mereka yakin kegagalan itu disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri,” catat Wallace. Dari penuturan Wallace, peran Roh Agung Gunung begitu besar dalam menentukan sikap masyarakat Lombok menghalau wabah penyakit. Kendati dalam kisah itu tak jelas wabah penyakit apa yang menjangkit, rupanya orang Sasak masih memberikan penghormatan yang sama pada sang penguasa gunung. Mereka mengenal tradisi menjamu dewi penguasa Gunung Rinjani untuk menjinakkan penyakit, khususnya cacar. Tolak Bala Suku Sasak Lalu Wacana, dkk. dalam Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat menjelaskan, secara umum orang Sasak di Lombok mengenal upacara tolak bala untuk mengusir wabah penyakit. Ritualnya disebut metulak. Metulak , kata dalam bahasa Sasak, yang artinya: tulak (kembali) dan metulak (mengembalikan). “Arti kiasannya menolak bala, yang dalam bahasa Sasak bahla ,” jelas Lalu. Dalam sebutan lain tolak bala disebut tulak bahla. Bahla artinya wabah. “Maksud upacara metulak ini adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhi dari segala marabahaya dan wabah yang dapat menimpa tanaman padi dan manusia,” tulisnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Baik itu karena umur, ilmu dan pengalamannya. Mereka harus memahami betul tata upacara metulak. Tak diketahui pasti sejak kapan dimulainya upacara metulak dilakukan. “Dari beberapa orang informan hanya menerangkan bahwa tradisi ini telah berkembang sejak nenek moyang mereka,” jelas Lalu. Yang jelas, setidaknya ada enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang akan diiringi dengan prosesi metulak . Yaitu saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit, pendirian dan penempatan rumah baru, potong rambut bayi, menjelang keberangkatan haji, wabah penyakit cacar ( ngayah ) menyerang, dan padi mulai berisi. Dalam bentuk yang lebih sempit, dikenal pula upacara Besentulak. Ini pun upacara tolak bala. Tapi kalau besentulak terbatas untuk suatu keluarga yang mengadakan upacara itu saja. “Diadakan pula pada waktu wabah cacar sedang berjangkit. Wabah cacar dalam bahasa Sasak disebut ngayah,” jelas Lalu. Dalam Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat yang disusun Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, disebutkan kalau pada masa kolonial kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan, terutama kesehatan. Dalam periode-periode tertentu penyakit epidemi selalu berulang, seperti cacar. Dewi Anjani Sang Penguasa Cacar Masyarakat Sasak punya perhatian khusus terhadap penyakit cacar. Mungkin karena wabah ini pernah menjadi yang paling ditakuti di wilayah Asia Tenggara. Ia menyebar termasuk sampai ke Nusantara. Hal itu banyak diungkap dalam catatan dari masa setelah abad ke-16. Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin menyebutkan, misalnya cerita dari abad ke-17 tentang didirikannya Ayutthaya pada abad ke-14. Kisah itu menyebutkan adanya janji bahwa kota itu bebas dari cacar. Lalu ada lagi Undang Undang Hukum Melaka yang disusun Kesultanan Malaka pada abad ke-15-16. Disebutkan bahwa penyakit kulit yang akut dibolehkan menjadi alasan perceraian atau penolakan pembelian seorang hamba sahaya. Bukti dari abad ke-16 dan ke-17 lebih banyak tersedia. Misalnya dalam catatan orang Portugis dan Spanyol yang menyebutkan penyakit cacar sebagai pembunuh penduduk di Maluku, Filipina, dan Ternate (1558), Ambon (1564), Balayan, Filipina (1592), dan Pegu (Birma Bawah) pada abad ke-17. Menurut Reid, di berbagai pusat penduduk dan perdagangan yang besar, cacar mungkin sudah menjadi endemik, terutama pada abad ke-16. Yang menjadi korban terutama anak-anak yang belum memiliki kekebalan. Penyakit itu bangkit setiap tujuh hingga sepuluh tahun. Sebaliknya, kata Reid, pada penduduk yang lebih terpencil, seperti di Borneo dan Filipina, cacar menjadi tamu yang tak begitu sering berkunjung. Namun tetap ditakuti. Penyakit ini menelan sebagian besar penduduk yang belum pernah kena. “Roh cacar banyak berperan dalam mitos rakyat, terutama di Borneo,” katanya. Di Lombok, kata Lalu, orang Sasak menganggap cacar sebagai rahmat Tuhan yang bersifat menguji iman dan ketakwaan umat manusia. Karenanya wabah ini tak dimusuhi, tetapi justru dijinakkan dengan jalan dijamu. Mereka mengenal upacara tolak bala yang disebut nemoe artinya menjamu tamu. Ini berbeda dengan arti tolak bala yang berarti mengusir jenis penyakit lain selain cacar. Yang dijamu adalah Dewi Anjani. Ia adalah ratu, makhluk gaib terpenting yang bersemayam di Puncak Gunung Rinjani. “Menurut kepercayaan suku bangsa Sasak, dewi ini menguasai wabah penyakit cacar sebagai piaraannya,” kata Lalu.*
- Nasib Nahas Lukisan Vincent van Gogh
BUKAN hanya warga Belanda yang menjadi korban pandemi virus corona (SARS-COV-2) dengan di- lockdown , sebuah lukisan berharga karya pelukis Vincent van Gogh pun turut jadi “korban”. Lukisan yang dipajang di Museum Singer Laren itu hilang dicuri pada Senin (30/3/2020) dini hari waktu setempat atau tepat di peringatan ke-167 kelahiran sang seniman. “Saya merasa marah dan sedih. Utamanya di masa-masa sulit seperti ini, saya merasa bahwa benda seni bisa jadi penenang untuk menginspirasi dan menyembuhkan kami,” tutur Direktur Museum Jan Rudolph de Lorm kepada The New York Times , Senin (30/3/2020). Lukisan karya Van Gogh yang dicuri itu bertajuk De pastorie in Nuenen in het voorjaar atau Taman Pendeta di Musim Semi. Lukisan berdimensi 25 cm x 57 cm itu tengah dipinjam Museum Singer Laren sejak 14 Januari dalam rangka pameran “Mirror of the Soul” yang mestinya bergulir hingga 10 Mei 2020. Pameran dan museum itu terpaksa ditutup menyusul kebijakan lockdown dikeluarkan pemerintah Belanda sejak 13 Maret 2020. Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring itu dipinjam Museum Singer Laren dalam rangka pameran dari Museum Groninger sebagai pemiliknya sejak 1962. Lukisan itu dikembalikan pada 2023 dalam sebuah tas terpal IKEA. Lukisan di Awal Kiprah Van Gogh The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang dibuat dengan pena dan cat minyak di atas kertas pada papan kayu itu dikerjakan pada medio Mei 1884. Saat itu merupakan masa awal karya Van Gogh dikenal publik sejak ia menekuni seni rupa tiga tahun sebelumnya. “Lukisannya berasal dari masa-masa awal, sebelum ia berperjalanan ke Arles dan Paris. Jadi lukisannya memang lebih gelap dan belum terlalu dikenal sebagai salah satu mahakarya Van Gogh,” sambung Direktur Museum Groninger, Andreas Blühm, dikutip The New York Times. Van Gogh membuat The Parsonage Garden at Neunen in Spring setelah pindah dari Den Haag, Sien Hoornik, Drenthe, dan tinggal bersama orangtuanya di Neunen, dekat Hervormde Kerk (Gereja Reformasi) tak jauh dari kota Eindhoven pada Desember 1883. Usianya baru 30 tahun ketika Van Gogh pindah. Ayahnya merupakan pendeta di gereja tersebut. Sejak tinggal di Neunen, Van Gogh banyak menciptakan lukisan bertema taman. Salah satunya, The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang ia buat sekira Mei 1884 atau enam bulan sejak pindah ke Neunen. Van Gogh merupakan sosok penyuka taman dan hobi berkebun. “Dia sangat menyukai taman pendeta di tempat ayahnya dan ketika ia hanyut dalam pengaruh impresionisme, dia menuliskan dalam catatannya betapa banyaknya taman yang dia kunjungi selama 10 tahun masa-masa produktifnya. Termasuk juga taman rumahsakit Arles, taman pertanian Provençal dekat Arles, Taman Puisi di Arles, taman rumahsakit jiwa Saint-Paul, taman bunga milik Dr. Paul Gachet di Auvers, dan taman mawar milik seniman Charles Daubigny di Auvers,” tulis Derek Fell dalam Van Gogh’s Gardens. Vincent Willem van Gogh di usia antara 17-19 tahun (Foto: Van Gogh Museum) Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring hanya satu dari sedikitnya empat lukisan bertema taman dekat gereja tempat ayahnya menjadi pendeta di Neunen yang ia buat. Pasalnya Van Gogh melukiskan taman itu di masing-masing musim sepanjang tahun. “Salah satunya menggambarkan taman yang tertutup salju, menegaskan garis perspektif yang diciptakan oleh dinding yang membatasi taman dan lingkungan sekitarnya. Latar belakangnya terdapat menara gereja berwarna gelap yang menyembul dari lanskap yang datar di bawah langit berwarna gradasi biru dan kuning terang,” lanjut Fell menerangkan karya Van Gogh bertajuk The Parsonage Garden at Neunen in the Snow (1885). Dalam The Parsonage Garden at Neunen in Spring, Van Gogh mendeskripsikan seorang wanita berpakaian gelap di tengah taman yang di belakangnya terdapat sisa bangunan menara gereja tua. Van Gogh melukiskannya dengan palet hijau dan coklat gelap, serta sedikit sentuhan gradasi warna merah, sebagai indikasi bahwa musim semi telah tiba menggantikan musim dingin. Selama dua tahun tinggal di Neunen, Van Gogh menciptakan delapan lukisan bertema taman gereja itu, termasuk The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang jadi karya ketiga sejak pindah pada Desember 1883. Di masa itu, ia mendapat tekanan emosional lantaran dalam kurun dua tahun itu, sering tercipta tensi tinggi antara dirinya dengan sang ayah dan sang adik, Theo, yang tinggal di Paris. “Sejak 1884 ia sering bersurat kepada Theo, bahwa dia akan mengirimkan lukisan-lukisannya untuk menebus pinjaman uang sebelumnya. Dia berharap Theo mau menjualkan lukisan-lukisannya di Paris dan hasilnya untuk membayar pinjaman uang, serta berharap ada keuntungan lebih yang juga bisa didapat Van Gogh,” tulis Susie Hodge dalam The Great Artists: Vincent van Gogh. Nahas, lukisan-lukisan Van Gogh itu tak laku. Para pedagang barang seni enggan membelinya lantaran belum terlalu mengenal nama Van Gogh. Sayangnya riwayat lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring di kemudian hari tak begitu terang. Hanya disebutkan pada 1927, lukisan tersebut dimiliki seorang kolektor J.A. Fruin dan dipajang di Galeri Seni Oldenzeel, Rotterdam, sebelum dibeli Museum Groninger pada 1962. Lukisan yang nilainya berkisar 1-6 juta euro (Rp18-108 miliar) itu kemudian dicuri orang atau kelompok tak dikenal tepat di peringatan ulang tahun ke-167 Van Gogh. Itu bukan kali pertama terjadi pencurian terhadap lukisan Van Gogh. Pada 1991, Museum Van Gogh di Amsterdam dibobol maling yang membawa kabur 20 lukisan sang seniman. Total kerugiannya mencapai sekira USD500 juta (Rp8,3 triliun). Hingga kini, kabarnya masih gelap. Lalu pada 2002, museum yang sama kecolongan lagi dua lukisan, namun kemudian ditemukan di Napoli setelah kepolisian Italia menggerebek sarang pengedar narkoba.
- Kejenakaan Haji Agus Salim
DIKENAL sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka. Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari Haji Agus Salim adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri Haji Agus Salim tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing. “ Patjee (panggilan akrab keluarga untuk Haji Agus Salim) tak pernah memerintahkan atau memaksa kami untuk belajar. Kalaupun ia ingin memberitahu sesuatu, pasti dilakukannya dalam suasana santai dan penuh jenaka,” ujar perempuan sepuh yang menguasai secara baik beberapa bahasa Inggris, Belanda dan Jepang tersebut. Mantan diplomat sekaligus tokoh Masyumi Mohamad Roem, mengakui asyiknya belajar dari Haji Agus Salim. Berbeda dengan guru-guru pada umumnya, Haji Agus Salim selain jenaka juga selalu tak menampilkan dirinya sebagai seorang yang paling tahu. Materi pengajaran pun akan mengalir begitu saja laiknya momen obrolan biasa. “Dia selalu tanamkan kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut,” ungkap Roem dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah . Ada kejadian lucu yang selalu dikenang oleh Roem dari Haji Agus Salim. Ketika tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, jalan menuju rumah Haji Agus Salim selalu becek jika turun hujan. Situasi tersebut tak jarang menjadikan para pemuda pergerakan yang kerap mengunjungi rumah Haji Agus Salim harus turun dari sepeda dan mengangkatnya ke atas guna menghindari lumpur yang memenuhi ban sepeda. Kondisi itu kadang menjadi bahan ejekan Haji Agus Salim jika para pemuda itu datang dalam kondisi sangat payah dan kotor karena harus menangani sepedanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mohamad Roem dan kawan-kawan, Haji Agus Salim sempat melontarkan leluconnya tentang itu: “Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik: manusia justru yang ditunggangi sepeda.” Bukan hanya orang Indonesia saja yang merasakan hal tersebut. Jeff Last, salah satu tokoh sosialis Belanda, termasuk manusia yang sangat mengagumi Haji Agus Salim. Jeff mengakui dari Haji Agus Salim bahwa ia mendapatkan penjelasan yang mengesankan tentang Islam. “Dalam kebijaksanaannya yang riang, beliau telah berhasil menghilangkan prasangka-prasangka yang bukan-bukan mengenai Islam yang saya peroleh ketika menjadi murid HBS Kristen,” tulis Jeff Last dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim . Begitu kagumnya Jeff kepada Haji Agus Salim hingga seusai orang tua tersebut menyampaikan ceramahnya di depan anak-anak muda marxis Belanda di Kijkduin pada 1929, ia nekat mengajak Haji Agus Salim untuk mengunjungi rumahnya di Jalan Baarsjes. Tanpa diduga Haji Agus Salim menyambut baik ajakan Jeff itu. Hanya dalam waktu semalam saja, Haji Agus Salim telah berhasil menarik hati seluruh keluarga Jeff. Haji Agus Salim dengan gayanya yang santai berbicara akrab dengan seluruh anggota keluarga Jeff dan bercanda dalam cerita-cerita jenaka dengan anak-anaknya Jeff. “Dalam waktu satu jam, ia telah berhasil menarik hati anak-anak saya,” kenang Jeff. Femke, salah satu putri Jeff sangat menyukai Haji Agus Salim. Begitu berkesannya Femke kepada Haji Agus Salim sampai dalam suatu kesempatan ia bertanya kepada ayahnya apakah Haji Agus Salim merupakan sinterklaas dari Indonesia? Kedekatan jiwa Haji Agus Salim dengan anak-anak menjadikan ia mudah sekali mengajarkan apapun kepada putra-putrinya. Ketika Jeff mengungkapkan rasa herannya atas kefasihan Islam (nama salah satu putra Haji Agus Salim) dalam berbahasa Inggris, ia bertanya kepada Haji Agus Salim: “Bagaimana mungkin anak itu menguasai bahasa Inggris begitu bagus tanpa bersekolah?” Menjawab pertanyaan itu, dalam nada santai seperti biasa, Haji Agus Salim menyatakan kepada Jeff: “Apakah kamu pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda tentunya akan ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan otomatis si Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.” Haji Agus Salim memang selalu istimewa di mata siapa pun. Uniknya, kendati dia seorang diplomat, sesepuh bangsa dan tentunya seorang yang sangat cerdas, tidak menjadikannya silau terhadap materi. Sampai akhir hayatnya, mantan jurnalis itu tetap memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.*
- “Raja Hutan” Bob Hasan Pulang ke Haribaan Tuhan
MOHAMMAD ‘Bob’ Hasan berpulang ke haribaan Illahi pada Selasa (31/3/2020) di usia 89 tahun. Taipan kayu yang intim dengan Soeharto sang penguasa Orde Baru itu meninggal di RSPAD Gatot Subroto setelah lama menderita kanker paru-paru. Siapa tak kenal Bob Hasan? Ia salah satu pengusaha dan kroni Soeharto paling berpengaruh sepanjang Orde Baru. Kedekatan itu membuat ia leluasa berbuat, termasuk memberi perhatian terhadap olahraga atletik di Indonesia. Terlebih, setelah ia menjabat ketua PB PASI sejak 1978. Pada cabang-cabang lain, ia juga bersumbangsih di Percasi, PB PABBSI, dan PB Persani. Bob Hasan lahir di Semarang pada 24 Februari 1931 dengan nama The Kian Seng. Identitas orangtuanya tak jelas. Banyak sumber menyebutkan Bob menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Mohammad ‘Bob’ Hasan setelah diangkat anak oleh Gatot Soebroto, perwira TNI yang dihormati banyak perwira muda macam Ahmad Yani dan Soeharto semasa revolusi fisik hingga Orde Lama. Namun, Raden Eddy Soeroto Koesoemonoto dan Muhammad Salim Jamaleng dalam studi tentang analisa logika Gerakan 1 Oktober 1965 yang dibukukan bertajuk Jaringan Zionis Van der Plas Jatuhkan Bung Karno, menyebut Bob Hasan bukan anak angkat Gatot. “Ternyata Bob Hasan adalah anak kandung Gatot Soebroto dengan wanita keturunan Cina, nama kecilnya The Kian Seng, lahir di Semarang dan ikut ibunya. Setelah umur 10 tahun baru ikut Gatot Soebroto, diakui anak angkat,” sebut Raden Eddy Soeroto dan Jamaleng. Masa depan gemilangnya bermula dari perkenalannya dengan Soeharto ketika Gatot masih menjabat komandan TT IV/Jawa Tengah (kini Kodam IV Diponegoro). Hubungan Bob Hasan dan Soeharto kian erat saat Soeharto naik menjadi komandan TT IV/Jawa Tengah menggantikan Kolonel Moch. Bachrum pada 1956. Bob Hasan (tengah) wafat di usia 89 tahun karena kanker paru-paru (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Bob Hasanlah yang dilibatkan Soeharto dalam sejumlah aktivitas perdagangan. Dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa, Joe Studwell menyebut, selama Soeharto menjabat komandan kodam, Bob Hasan “diberi” keleluasaan menggulirkan aktivitas perdagangan monopoli bersama kolega Tionghoanya, Liem Sioe Liong. “Soeharto menghadapi ancaman pengadilan karena penyelundupan pada 1959, namun berkat dukungan ayah angkat Bob Hasan, Jenderal Gatot Soebroto, ia hanya dipindahkan ke Sekolah Staf Angkatan Darat di Bandung,” ungkap Studwell. Penyelundupan yang melibatkan Bob Hasan dan Liem Sioe Liong itu adalah penyelundupan dan korupsi gula dan beras. Kasusnya ditangani tim inspeksi TNI AD pada 18 Juli 1959 yang berbuntut pada pencopotan Soeharto dari jabatan pangdam. Soeharto berkilah bahwa ia sengaja melakukan penyelundupan beras dari Singapura itu demi kebutuhan beras di Jawa Tengah yang kala itu tengah gagal panen. “Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” ujar Soeharto dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Dewi Soekarno dan Raja Hutan Di masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, nama Bob Hasan disebut-sebut berinisiatif ingin meredakan ketegangan antara Sukarno dan Soeharto. Menurut Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto , cara yang digunakan Bob Hasan adalah mengundang Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi Sukarno, istri resmi keenam Sukarno, untuk bermain golf di Rawamangun. “Nah pada saat yang sama ia juga mengundang Mas Harto bermain golf di lokasi yang sama. Niat Bob Hasan baik, barangkali melalui lobi pada Dewi, hubungan Mas Harto dan Bung Karno bisa lumer kembali,” ungkap Probo. Namun apa lacur, Ibu Tien yang lantas mengetahuinya malah murka. Kemarahan Ibu Tien berdampak pada Soeharto yang didiamkan berhari-hari. “Kasihan sekali Mas Harto. Melihat ini saya jadi prihatin. Saya datangi Bob Hasan dan saya tegur. ‘Aduh, buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah.’ Bob minta maaf karena ia tidak mengira akan terjadi konflik antara Mas Harto dan Mbakyu Harto,” lanjutnya. “Di rumah, saya segera temui Mbakyu Harto dan menjelaskan maksud baik Bob Hasan mempertemukan Mas Harto dan Dewi. Mbakyu Harto akhirnya bisa mengerti dan mau bicara lagi dengan suaminya,” sambung Probo. Kisah tersebut kemudian dibantah Bob Hasan lewat memoarnya yang terbit pada 2010. “ Ndak ada itu (main) golf dengan Dewi Sukarno. Dewi tidak pernah main golf. Dia orang night club , bar girl di Tokyo. Waktu itu saya juga masih muda, ndak ada soal golf dengan Pak Harto,” kata Bob Hasan, dikutip detik.com , 8 Juni 2018. Bob Hasan jadi salah satu kroni paling setia rezim Soeharto (Foto: antikorupsi.org ) Semenjak Soeharto resmi menjadi presiden Indonesia kedua pada 1968, geliat Bob Hasan dalam bisnis kian menggurita. Bob memulainya dengan mendorong Soeharto menengok bisnis kehutanan di dua pulau terbesar di barat Indonesia: Sumatera dan Kalimantan. “Pada 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lain. Dalam kesempatan itu Bob menjadi mitra patungan perusahaan Amerika Serikat Georgia Pacific; Bob pun menjadi perantara mempertemukan perusahaan-perusahaan asing dengan mitra patungannya di Indonesia,” tulis Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara . Namun ketika pemerintah mulai melarang ekspor kayu gelondongan pada 1981, Georgia Pacific terpaksa dijual dan dibeli Bob Hasan dengan perusahaannya, Kalimanis Group. Sejak saat itu Bob yang memimpin Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) sekaligus APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia), dijuluki “raja hutan” karena menguasai pemasokan dan pasar kayu lapis terbesar di dunia dengan memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas dua juta hektar. Karena itulah maka Majalah Forbes edisi 28 Juli 1997 mendaulatnya sebagai salah satu dari 500 orang paling tajir di dunia dengan kekayaan USD3 miliar. Setahun berikutnya, konglomerat yang juga melebarkan sayap bisnisnya ke bidang media (pendiri Majalah Gatra ), asuransi, otomotif dan keuangan itu diangkat Soeharto menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Kabinet Pembangunan VII. Jabatan yang jadi “kado” ultah Bob Hasan dari Soeharto itu diberikan pada Maret 1998 atau beberapa hari setelah beranjak usia ke-67. Namun seiring jatuhnya Soeharto, mulai rontok pula hegemoni Bob Hasan sebagai salah satu kroni paling setia. Ia tak lagi kebal hukum. Pada Februari, Bob Hasan 2001 sebagai direktur utama PT Mapindo Pratama diseret ke meja hijau atas korupsi pemetaan hutan senilai Rp2,4 triliun. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonisnya hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan, ditambah denda Rp15 juta, dan mewajibkan melakukan ganti rugi Rp14 miliar. Menganggap vonis itu terlalu lembek, jaksa menuntut lagi kasusnya ke Pengadilan Tinggi, yang kemudian menelurkan keputusan baru berupa vonis penjara delapan tahun. Tapi Bob kemudian bebas bersyarat pada Februari 2004 setelah menjalani masa tahanan berpindah-pindah dari LP Salemba, Cipinang, Batu, dan Nusakambangan.






















