top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Antimiras Zaman Kolonial

    Sejak masa kolonial, minuman keras ilegal kerap meresahkan. Sejumlah organisasi politik dan Pemerintah Hindia Belanda pun bertindak.

  • Ketika Hatta Kehabisan Uang

    Suatu pagi di pertengahan Agustus 1925. Serangkaian kereta berhenti di jalur antara Oslo dan Bergen, Norwegia. Masinis memberi kesempatan selama setengah jam kepada para penumpang untuk menikmati pemandangan alam yang sangat menakjubkan di area tersebut, terutama melihat keindahan lembah Fjord. Mohammad Hatta menjadi salah seorang penumpang itu. Dia sedang dalam perjalanan menuju Bergen, kota pelabuhan di pantai barat Norwegia. Bersama seorang kawan dari Perhimpunan Indonesia (PI), Samsi Sastrawidagda, Hatta ditugasi untuk mempelajari sistem kooperasi di Norwegia, Swedia, dan Denmark. Sebagai ekonom andalan organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Belanda itu, keduanya harus mempelajari cara orang-orang Skandinavia mengelola keuangannya. Tujuan misi belajar tersebut juga antara lain meningkatkan keuangan di tubuh PI secara efektif, serta menerapkan pengetahuannya kelak di tanah air setelah terbebas dari penjajahan.   Setelah melalui perjalanan cukup panjang, kira-kira pukul 4 sore, Hatta tiba di Bergen. Dia segera mencari tempat untuk bermalam. Selesai menaruh barang, keduanya bergegas menuju kantor pos untuk mengambil surat kiriman Nazir Pamontjak dari Belanda. Ketika di Denmark, Samsi sempat mengirim surat kepada Nazir untuk memberitahukan kesulitan yang sedang dihadapi mereka: kehabisan ongkos. “Sebelum berangkat dari Negeri Belanda, Nazir Pamontjak berkata kepada Samsi, apabila kamu orang kehabisan uang, tulis lekas surat atau telegram. Samsi percaya, bahwa Nazir Pamontjak akan berusaha mencarikan bantuan dari teman-teman,” tulis Hatta dalam otobiografinya  Memoir . Sewaktu bertanya kepada pegawai kantor pos, surat yang dimaksud rupanya sudah sampai. Pengirimnya benar Nazir Pamontjak. Betapa senang Hatta dan Samsi menerimanya. Waktu Samsi membaca isi surat itu, wajahnya tiba-tiba berubah, dia marah. Bukannya bantuan dana yang didapat, Nazir malah menyuruh mereka untuk pulang. Dia mengatakan PI tidak bisa memberikan tambahan uang. “Tidak perlu kita marah. Kita  toh  tahu kebiasaan Nazir Pamontjak memudahkan segala hal. Besok kita dapat pergi ke Konsul Belanda di sini, menerangkan kesulitan kita, meminjam uang kepadanya dengan berjanji sekembali kita di Nederland, utang itu akan kita bayar dengan wesel kawat,” kata Hatta mencoba menenangkan Samsi yang tak kunjung reda amarahnya. Samsi menerima usul kawannya itu. Keduanya memutuskan kembali ke penginapan. Mereka lalu menghitung sisa uang yang mereka punya untuk bertahan hidup di Bergen. Rupanya uang itu hanya cukup untuk ongkos tinggal selama dua hari. Itu pun sudah berhemat dengan hanya makan dua kali, pagi dan malam saja. Keduanya bisa sarapan agak siang, sementara makan malam bisa lebih awal. Cara itu dilakukan agar tubuh mereka bisa menerima ketiadan asupan di siang hari. Selama dua hari di Bergen, Hatta dan Samsi banyak menghabiskan waktu di kantor kooperasi perikanan dan pelabuhan. Sebagai daerah penyuplai ikan di Norwegia, Hatta ingin mempelajari cara-cara kooperasi perikanan Bergen mengatur distribusi dari pelabuhan ke pasar-pasar di pedalaman, mengingat waktu yang mereka punya cukup singkat agar kualitas hasil tangkapan tetap baik saat dijual. Selesai mempelajari segala hal tentang kooperasi perikanan Bergen, Hatta mulai memikirkan cara untuk kembali ke Nedeland. Di penginapan, dia menghubungi konsul Belanda honorair, membuat janji untuk bertemu. Tepat pada waktu yang ditentukan, Hatta dan Samsi telah berada di kediaman Si Konsul. Setelah memperkenalkan diri, keduanya menceritakan kesulitan keuangan yang tengah dihadapi. Mereka memberanikan diri meminjam uang untuk ongkos perjalanan pulang ke Nederland.  Konsul Belanda yang namanya tidak Hatta ingat itu sebenarnya bersedia memberi uang sebesar yang dibutuhkan, tetapi dia terikat oleh aturan dinas. Dia hanya boleh meminjami uang untuk kereta dari Bergen ke Oslo. Baru di ibu kota Norwegia itulah mereka akan mendapat bantuan lengkap dari konsul-jenderal untuk pulang ke Nederland. Maka diberinya mereka uang untuk berangkat menumpang kereta malam menuju Oslo. “Menurut kebiasaan di Norwegia pada waktu itu tiap orang yang menumpang kereta api malam selalu mengambil kereta tempat tidur, sekalipun ia meumpang kelas 3. Secara itu pula kami diperlakukan oleh konsul honorair. Tetapi esok harinya kami tidak menyewa kereta tidur, kami ambil saja kelas 3 biasa, yang mengherankan pegawai yang menjual karcis di stasiun. Dengan cara begitu kami dapat menghemat beberapa  krona ,” ujar Hatta. Setiba di stasiun Oslo, Hatta dan Samsi segera menuju hotel tempat mereka pernah menginap. Dari hotel keduanya menghubungi Konsul Jenderal, berharap bisa membuat janji bertemu hari itu juga. Tetapi sayang hari itu Si Konsul harus menghadiri rapat sehingga waktu bertemu terpaksa mundur sehari. “Menunggu sehari itu bertambah besar ongkos hidup kami di Oslo. Kami terpaksa makan di hotel, sebab sisa uang yang kami bawa dari Bergen tidak cukup apabila kami makan di luar,” kata Hatta. Esok paginya Hatta datang pada waktu yang disepakati. Sama seperti di Bergen, mereka menceritakan kesulitan yang menimpa mereka, serta kesediaan meminjami uang. Konsul Jenderal pun bersedia menyediakan uang sebanyak yang diperlukan untuk membayar sewa hotel dan tiket kerata api sampai di Nederland. Keesokan harinya Hatta dan Samsi kembali ke Nederland dengan kereta api pertama. Keduanya sampai dengan selamat di Amsterdam pada malam hari.

  • Bukti Keberagaman dari Muatan Kapal Tenggelam

    Pemerintah membuka peluang investasi asing dalam   pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia. Namun, para ahli arkeologi mengkritik kebijakan itu.  Selain terjegal aturan ketat dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kapal tenggelam   juga menjadi bukti keberagaman di Indonesia. “Jadi, bicara tentang temuan arkeologi bawah laut bukan cuma kapalnya, tapi kebudayaan yang dibawanya,” kata Widya Nayati, pengajar arkeologi maritim di Universitas Gadjah Mada, dalam forum konsultasi pengelolaan BMKT pasca terbitnya Perpres No. 11 Tahun 2021, yang diadakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) via daring, Kamis (18/03). Indonesia menjadi pusat pertemuan global pada 1480–1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai age of commerce. Dengan lautnya yang luas dan posisinya yang strategis, banyak kapal bermuatan barang berharga melintasi kepulauan Nusantara. Sehingga tak mengherankan   banyak peninggalan arkeologi bawah air di perairan Indonesia. Badan Riset Kelautan dan Perikanan KKP memperkirakan sekira 463 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia. Sedangkan laporan UNESCO mencatat 5.000 kapal tenggelam di Asia Tenggara, sepuluh persennya di perairan Indonesia. “Kapal tenggelam di lautan Indonesia ini warisan budaya yang menjadikan Indonesia punya budaya bermacam-macam seperti sekarang,” kata   Widya.  Fitra Arda, pelaksana tugas Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud, menjelaskan  cagar budaya bawah air bukan hanya kapal tenggelam, melainkan semua data arkeologi yang ditemukan di bawah air, baik di laut, sungai, maupun danau. Pun meliputi seluruh aspek hubungan manusia dengan laut, danau, sungai, dan rawa.  “Tak bisa lepas dari konteksnya. Tidak hanya menyangkut teknologi, melainkan juga aspek sosial, ekonomi, politik, dan religi,” kata Fitra. Misalnya, dari teknologi kapal yang tenggelam bisa diketahui asal-usul kapal itu, apakah milik Tiongkok, Arab, Asia Selatan, Eropa, atau Asia Tenggara. “Dari sisa-sisa muatannya bukan hanya keramik tapi komoditas darat dari tempat-tempat yang disinggahinya,” kata Widya. Dari muatan yang dibawa oleh kapal itu juga bisa diketahui proses transfer kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain. Widya menyebut koin Romawi yang ditemukan bersama dengan koin dari Dinasti Han, Tiongkok, di Sungai Brantas.  “Ia kontaknya tak hanya satu jalur, tapi banyak jalur. Saya bisa membayangkan kalau orang sekarang pulang dari Singapura di dompetnya masih ada uang dolar Singapura,” kata Widya.   Di dataran tinggi Dieng, di mana terdapat kompleks percandian Dieng dari abad ke-7-8 M, ditemukan keramik asal Changsha, Tiongkok. Kemudian di Situs Liyangan yang terletak di lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, juga ditemukan berbagai keramik dari masa Dinasti Tang pada abad ke-9-10 M.  “Artinya, kita tahu pengaruh Tiongkok sudah sampai sana. Bagaimana sampai ke sana?” kata Widya. Kontak dengan Tiongkok Lewat Keramik Keramik merupakan komoditas paling digemari masyarakat dunia pada masa lalu. Menurut Listiyani, peneliti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, dalam “Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan di Kabupaten Belitung”,   jurnal Relik No. 06 September 2008, hampir di setiap muatan kapal karam ditemukan keramik dalam jumlah yang tidak sedikit. Umumnya keramik-keramik itu dalam kondisi masih baik. Kendati ada pula yang sudah tidak utuh. Keramik yang diangkat dari kapal tenggelam kebanyakan dari Tiongkok masa Dinasti Tang hingga Dinasti Qing. Namun, sering juga ditemukan barang-barang keramik dari Thailand, Vietnam, Jepang, dan Eropa. Keramik juga menjadi muatan terbanyak yang ditemukan dalam kapal tenggelam di perairan Cirebon. Dari kapal yang dieksplorasi pada 2005–2007 itu diangkat 314.000 barang, 90 persen adalah keramik utuh dan pecahan. Menurut Eka Asih Putrina Taim, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam “Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon: Sebaran di Situs-Situs Arkeologi Sumatera Bagian Selatan”, jurnal Kalpataru  Vol. 25 No. 1, Mei 2016, selain keramik ditemukan juga berbagai jenis benda berharga, seperti perhiasan emas, batuan permata, artefak perunggu berupa arca, cermin dan alat-alat upacara; manik-manik, benda-benda logam dari emas, perak, perunggu, dan besi; serta koin, benda dari kaca, dan kayu. Eka menjelaskan, dari hasil analisis keramik diketahui hampir seluruh keramik kapal tenggelam di perairan Cirebon berasal dari masa Dinasti Tang Akhir atau periode Lima Dinasti berkuasa pada abad ke-9–10. Sebagian besar keramik itu dibuat di tempat pembakaran ( kiln ) di Provinsi Zhejiang. “Zhejiang merupakan pusat dan tempat awal keramik kualitas terbaik diproduksi di Tiongkok, dan telah berkembang sejak 1000 tahun yang lalu,” tulis Eka.Eka. Menariknya, dilihat dari bentuk dan teknologi kapal, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon itu menunjukkan teknologi yang umum dipakai oleh kapal-kapal di Asia Tenggara. Sehingga kapal itu diduga merupakan kapal Nusantara, bukan kapal Arab, Tiongkok maupun negara lain.   Kapal itu diduga kuat adalah kapal penyambung jalur lintas dagang yang membawa muatan dari pelabuhan di Pantai Timur Sumatra ke pelabuhan di utara Jawa pada abad ke-9-10. “Kita bicara masalah transfer kebudayaan, sehingga di Indonesia saya lihat selintas, saya bisa ngomong oh itu keturunan Arab, Tiongkok, Jepang, India. Itu bukti kebesaran transportasi yang membawa barang dan kebudayaan,”  kata Widya. Narasi Sejarah Bangsa Masalahnya, menurut Surya Helmi, anggota senior Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dalam diskusi “Nasib Warisan Budaya di Laut dalam Perpres No. 10 Tahun 2021” yang diselenggarakan IAAI Pusat   lewat daring, Rabu (10/03),   potensi cagar budaya bawah air terancam karena tak kunjung jelas pemanfaatan dan pengelolaannya. Kapal-kapal tenggelam yang menyimpan “harta karun” pengetahuan budaya dan sejarah jika dibiarkan takkan membawa manfaat karena keburu rusak oleh alam atau perburuan ilegal. Harry Satrio, direktur utama PT. Cosmix Asia sekaligus Sekjen Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT, mengatakan bahwa saat ini pemangku kebijakan menghadapi pilihan sulit. Melakukan pencarian, pengangkatan, dan pengelolaan barang-barang muatan kapal tenggelam membutuhkan dana yang besar. “Pemerintah punya dana [melakukan pengangkatan dan pengelolaan]? Ini pertanyaan saya. Lalu ke depannya bagaimana? Bagaimana membuat perusahaan tertarik [investasi] tapi bagaimana caranya agar Indonesia tak kehilangan warisan budayanya?” katanya. Harry prihatin dengan pencurian muatan kapal tenggelam yang masih ada di bawah laut. Dia pernah melihat pengangkatan muatan kapal tenggelam ilegal di Kepulauan Riau. “Kami prihatin sampai detik ini masih terjadi pencurian di Kepulauan Riau, cukong-cukong membeli dari nelayan, terutama akhir pekan,” katanya. Harry Octavianus Sofian, arkeolog Balai Arkeologi Palembang dalam “Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang–Belitung: Survei Awal Arkeologi Bawah Air”, Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat TH. III No. 1, Juni 2011, mencatat rusaknya Situs Karang Kijang di sebelah barat Selat Gaspar di perairan Pulau Belitung. Situs ini merupakan salah satu situs arkeologi bawah air yang dangkal. Kedalamannya hanya 1,5 m di bawah permukaan laut. “Karena letak dan kedalaman yang mudah dicapai oleh manusia serta BMKT-nya bernilai ekonomis maka Situs Karang Kijang dijarah, sehingga situs arkeologi ini menjadi rusak,” tulisnya. Harry mencatat, tinggalan arkeologi yang masih ada di situs itu berupa keramik dengan motif flora, naga, dan kura-kura. Keramik-keramik ini bentuknya mangkuk, buli-buli, dan guci. Sementara menurut nelayan, ada ribuan artefak keramik berupa mangkuk, buli-buli, dan guci utuh yang ditemukan dan dijarah oleh masyarakat. Karena sudah dirusak, tak diketahui lagi kapal apa yang mengangkut barang-barang   itu.   “Tidak diketahui pasti kapal kandas yang membawa kargo di Situs Karang Kijang. Apakah kapal China, seperti Situs Tek-Sing, apakah kapal Arab seperti Situs Belitung Wreck, atau kapal Eropa atau Nusantara yang mengangkut kargo keramik China,” tulisnya. Kendati sudah dirusak, kata Harry, situs ini menjadi bukti arkeologi keganasan Selat Gaspar dengan karangnya yang mampu membuat kapal kandas dan menumpahkan muatannya. Sebagaimana namanya, Karang Kijang yang merupakan penamaan lokal masyarakat setempat, hal ini untuk membedakan letak gugusan karang yang banyak terdapat di perairan Belitung. Menurut Widya, dari sebuah kapal tenggelam narasi tentang sejarah bangsa yang dibanggakan masyarakatnya bisa ditulis. Indonesia yang memiliki jalur rempah bisa dibuktikan salah satunya dengan muatan-muatan kapal tenggelam. Pun Indonesia yang kini beragam agamanya, DNA-nya, itu karena beraneka macam pula manusia yang datang ke Nusantara menggunakan kapal. “Kapal yang tenggelam itu hanya sebagian kecil dari cerita. Dari yang tenggelam itu kita bisa merekonstruksi sejarah Indonesia,” kata Widya. “[Kapal] yang tidak tenggelam ya kita tidak tahu ceritanya. Mereka selamat sampai rumah. Cagar budaya itu warisan, kalau mau dijual saya nangis  dulu deh , kita belum selesai menulis sejarah kita.”

  • Jajanan Tiga Bapak Bangsa

    RUTINITAS sore di Jalan Gereja Theresia No.72 Jakarta pada 1950-an itu masih diingat secara jelas oleh Ilya Arslaan. Bersama sang kakek Haji Agus Salim, Ilya kerap menunggu kedatangan tukang otak-otak (penganan yang terbuat dari sejenis ikan laut) langganan mereka. Yang ditunggu biasanya baru datang sekira jam 17. “Kalau sudah datang, kakek saya biasanya memanggil semua orang di rumah terutama cucu-cucunya untuk ikut jajan otak-otak,” kenang lelaki berusia 80 tahun itu. Ilya tak paham sejak kapan Haji Agus Salim menggandrungi kudapan yang biasanya selalu dibungkus dengan daun pisang itu. Namun yang jelas tiap sore dia kerap melihat sang kakek menikmati otak-otak. Biasanya penganan itu disajikan dengan segelas jus buah dan dihidangkan kala Haji Agus Salim melakukan kegiatan rutin membaca buku. “Hebatnya saat itu kami sudah memiliki blender , seseorang mengirimkannya langsung dari Amerika Serikat. Entah siapa, saya lupa. Yang jelas kalau membeli sendiri barang itu, jelas kami tidak akan sanggup,” ujar Ilya sambil tertawa. Lain dengan Haji Agus Salim, perdana menteri Republik Indonesia (RI) pertama Sutan Sjahrir memiliki kesukaan jajan sate ayam Madura. Dari salah seorang putri-nya, sejarawan Rushdy Hoesein sempat mendapat keterangan jika Sjahrir datang ke suatu tempat maka dia selalu mengutamakan sate ayam sebagai menu makan-nya. Ketika tinggal di Jalan Jawa No.61 Jakarta (sekarang Jalan H.O.S. Cokroaminoto), bersama keluarganya, Sjahrir tak jarang mendatangi tukang sate langganannya. Tempatnya ada di ujung Jalan Jawa. “Jadi kalau mau jajan sate ke sana, Sjahrir selalu jalan kaki bersama istri dan anak-anaknya,” ungkap Rushdy.  Sama seperti Sjahrir, salah satu makanan kesukaan Sukarno adalah sate ayam. Bahkan bukan rahasia lagi jika tiap mengunjungi satu tempat, Sukarno selalu meminta untuk disertakan hidangan sate ayam ini dalam menu makanannya. Terkait jajanan kesukaan Bung Karno itu, dikonfirmasi oleh putera sulungnya Guntur Sukarnoputra. Menurut Guntur, untuk sate ayam, di Jakarta Bung Karno memiliki langganan khusus yakni sebuah restoran sate ayam Madura bernama Layar Terkembang . Letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta. “Bapak sering mengajak saya mampir di restoran itu…” ungkap Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Soal berburu sate ayam itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di ujung Jalan Asia Afrika. “Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani (disusun oleh Ramadhan K.H.) Uniknya, Bung Karno sama sekali tak memegang uang untuk membeli makanan kesukaannya itu. Sebelum pergi, kata Priyatna, selalu dia akan menemui terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan meminta uang. “Djie coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih…” Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno. Jauh sebelumnya, Bung Karno memang sudah menggandrungi sejenis daging ayam bakar tersebut. Bahkan ketika  usai pengangkatannya sebagai presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945, dia “merayakannya” dengan jajan 50 tusuk sate ayam di pinggiran jalan Jakarta. “Aku jongkok di sana dekat selokan dan kotoran. Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai kepala negara,” ungkap Sukarno seperti dikisahkannya kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

  • Wisata Sumatra Era Kolonial

    Seberkas iklan pariwisata zaman kolonial menerangkan informasi yang menarik. Terlihat peta Pulau Sumatra dengan titik destinasi wisata andalan yang terhubung satu sama lain. Mulai dari keelokan Danau Toba di jantung Tanah Batak, pesona rumah gadang di Kota Padang, hingga Pulau Nias nan eksotis. Tempat-tempat wisata itu dapat dikunjungi lewat dua jalur rute perjalanan, yakni Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatra. “Sebuah tamasya yang indah untuk perjalanan liburan Anda berikutnya,” demikian pesan promosi yang ditawarkan Perusahan Pelayaran Belanda (KPM) bertitimangsa 1930 itu. Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi, kegiatan kepariwisataan di Sumatra pada masa kolonial tidak kalah dengan kepariwisataan di Jawa . Pada akhir abad  ke-19 hingga awal abad ke- 20, sejumlah destinasi wisata di Sumatra banyak tersua dalam buku catatan perjalanan maupun buku panduan turisme. Kebanyakan objek wisata yang ditawarkan adalah wisata pemandangan alam seperti gunung berapi, pegunungan, air terjun, ngarai (lembah), dan danau. Objek lain yang juga menjadi perhatian adalah bentuk bangunan rumah, seperti rumah gadang di wilayah Pantai Barat Sumatra. “Perbedaan dengan di Jawa adalah belum semua wilayah di Sumatra dipersiapkan untuk kegiatan wisata, khususnya sarana infrastruktur dan akomodasi yang baik,” kata pengajar Prodi Sastra Belanda UI yang meneliti “Pariwisata di Hindia Belanda” sebagai disertasinya ini kepada Historia .  Terbentur Infrastruktur Perhatian terhadap kegiatan kepariwisataan di Sumatra sebenarnya telah dipikirkan oleh beberapa pejabat kolonial yang progresif. Salah satunya ialah Louis Constant Westenenk, seorang pejabat kolonial di wilayah Pantai Barat Sumatra. Dia memperkenalkan potensi turisme, terutama kawasan bovenlanden (dataran tinggi) di Pantai Barat Sumatra. Pada 1907, Lois menyusun buku Veertien dagen in de Padangsche Bovenlanden. Karya tersebut pada 1913 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris bekerja sama dengan Vereniging Toeristenverkeer – VTV, asosiasi turisme Hindia Belanda – menjadi Sumatra: Illustrated Tourist Guide. A fourteen day’s trip in the Padang Highlands (the land of Minangkabau) .  Buku itu menjadi rujukan penting bagi para turis maupun pelancong yang ingin berkunjung ke dataran tinggi Minangkabau. Pada 1916, di Padang lahir Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra (VTS). Para pengurus dan anggota VTS merupakan gabungan dari pemerintah dan pengusaha yang berkaitan dengan kegiatan kepariwisataan, seperti pelayaran, kereta api, perbankan, perhotelan.Dari organisasi itu promosi dilakukan untuk menawarkan daya tarik objek wisata. “ Kebijakan pemerintah kolonial yang terpenting adalah promosi. Wilayah yang dipromosikan adalah Keresidenan Pantai Barat Sumatra dan Tapanuli,” ungkap Achmad Sunjayadi. Potensi turisme di Sumatra sayangnya tidak dipoles dengan infrastruktur dan akomodasi yang memadai. Kendala ini mengakibatkan industri wisata tidak dapat menyentuh seluruh wilayah. Karena pertimbangan stratergis, hanya segelintir yang mendapat dukungan infrastruktur. Daerah perkebunan Deli di Medan dan kota benteng pertahanan seperti Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batu Sangkar adalah beberapa diantaranya. Pemerintah kolonial menaruh perhatian untuk mengembangkan wisata di sana sebab keuntungan ekonomi dan keamanan sudah terjamin. Tantangan lainnya, pemerintah ketika itu lebih mengedepankan Jawa daripada Sumatra. “Hal ini menjadi kritik Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra terhadap Vereniging Toeristenverkeer di Batavia yang lebih menitikberatkan Jawa,” kata Sunjayadi lagi. Perbaikan Infrastruktur Selain promosi, pemerintah kolonial berupaya membangun dan memperbaiki infrastruktur berikut sarana penunjang kegiatan kepariwisataan. Akan tetapi, membutuhkan waktu panjang untuk mewujudkan itu semua. Sebagaimana dicatat sejarawan Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatera: Antara Indonesia dan Dunia , “jalan trans-Sumatra dibahas untuk pertama kali pada 1916, tetapi baru akhirnya selesai pada 1938.” Menurut Achmad Sunjayadi, pembangunan jalan di beberapa wilayah di Sumatra sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Mengutip Encyclopedia van Nederlandsch Indië  pembangunan itu bermula dari Padang menuju wilayah di pedalaman. Salah satu jalurnya melewati Lembah Anai. Jalur lainnya melewati Tiku menuju Lubuk Basung dan Matua. Jalur lain menghubungkan Fort de Kock dan Lembah Bonjol.   “Pembangunan jalan lintas Trans Sumatra pada 1920-an tentu memiliki kontribusi untuk kegiatan kepariwisataan di Sumatra, khususnya para wisatawan atau pejalan ( travellers ) yang menggunakan mobil (wisata mobil),” jelasnya. Wisatawan tipikal demikian adalah mereka yang senang bertualang dan memiliki banyak waktu menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Sebelumnya, para wisatawan hanya mengandalkan jalur laut. Minimnya minat wisatawan tipikal petualang di Sumatra lantaran tidak di semua kota tersedia akomodasi yang memadai dan juga tawaran untuk melihat objek wisata. Hal lain adalah faktor keamanan. Belum ada asuransi yang berani menjamin keamanan para wisatawan yang plesiran di Sumatra saat itu. Proyeksi pemerintah kolonial dalam kepariwisataan memang tidak pernah terwujud. Pada 1942, Jepang datang mengakhiri negara kolonial Hindia Belanda. Setelah itu,  zaman Indonesia merdeka berlangsung sampai saat ini. Kendati zaman berubah, Achmad Sunjayadi melihat adanya kesinambungan pengembangan kepariwisaan dari masa kolonial hingga era Indonesia. Seperti contoh, Danau Toba merupakan salah satu objek wisata yang disarankan dan dipromosikan dari dulu sampai sekarang. Begitu pula dengan objek wisata rumah gadang yang pernah menjadi ikon promosi kepariwisataan masa kolonial di Sumatra. Meskipun saat ini rumah gadang di Sumatra Barat sudah tidak sebanyak pada masa kolonial. Menurut Achmad, yang perlu dibenahi saat ini adalah sinergi berbagai pihak untuk kemajuan wilayah. Apalagi kini bergulir pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra yang dapat  mempermudah wisatawan petualang menjelajahi wilayah Sumatra. “Meminjam konsep pentahelix pada kegiatan kepariwisataan masa kini yaitu bisnis (pengusaha), pemerintah (dari pusat hingga desa), komunitas, akademisi, dan media yang akarnya ternyata sudah ada pada masa kolonial. Lalu bagaimana mengedukasi para wisatawan untuk ikut juga berperan (wisatawan atau pejalan bijak) dalam kegiatan kepariwisataan, supaya tidak hanya sekedar sebagai tamu,” pungkasnya.

  • R. Soeprapto, Jaksa Agung Perintis Reformasi Hukum

    SUATU hari di ruang kerja Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo terjadi perdebatan sengit. Kala itu, Ali memanggil Raden Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung, untuk membicarakan kasus dugaan korupsi Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, pada 1956. Ali meminta Soeprapto mendeponir atau membatalkan kasus Roeslan. Ali berpendapat dakwaan terhadap Roeslan tak bisa dilanjutkan. Meski Roeslan diberatkan oleh tiga orang saksi, ada tiga saksi lain yang meringankan Roeslan. Jadi kasusnya seimbang. Tapi Soeprapto menolak mentah-mentah argumen itu. Kasus hukum bukanlah pertandingan sepakbola yang bisa berakhir imbang. Ali terus mendesak Soeprapto. Dia mengatakan penuntutan terhadap seorang menteri dari partai besar bisa menyebabkan gejolak pemerintahan. Apalagi pemerintah lagi pusing-pusingnya dengan pergolakan daerah. Soeprapto membalas, urusan gejolak dan pergolakan daerah adalah tanggung jawab pemerintah. Tak ada sangkutannya dengan kasus Roeslan.    Ali dan Soeprapto sama-sama keras. Tak ada kesepakatan pada pertemuan itu. Soeprapto bosan juga didesak terus. Akhirnya, dia mengatakan lantang kepada Ali. “Saya berada di bidang judicial service , bukan civil service ,” kata Soeprapto. Dia lalu keluar ruangan sembari membanting pintu. Demikian kenangan Prof. Dr. Andi Hamzah, mantan juniornya Soeprato, dalam seminar “Pengusulan Jaksa Agung R. Soeprapto Sebagai Pahlawan Nasional” yang digelar oleh Kejaksaan Agung bekerja sama dengan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Indonesia via zoom  pada 17 Maret 2021. Andi menambahkan, Soeprapto memegang teguh independensi lembaga dan profesinya sesuai dengan undang-undang saat itu. Karena itu, dia menolak segala bentuk intervensi dari lembaga eksekutif. Dia juga tak segan mengadili orang-orang yang menyeleweng. Sekalipun posisinya setingkat menteri. “Dia menangkap tiga menteri: Menlu Abdulgani, Menteri Kehakiman Mr. Djody Gondokusumo, dan Menteri Kemakmuran Iskaq Tjokrohadisurjo,” kata Andi. Selain menteri, Soeprapto juga mengadili sejumlah perwira militer, pengusaha kakap, dan tokoh politik Sultan Hamid II. Ketika mengadili teman seorang perwira militer, Soeprapto memperoleh tantangan. Perwira itu tak suka temannya diadili oleh Soeprapto dan anak buahnya. Si perwira mengutus bawahannya untuk menemui Soeprapto. Bawahan itu menyampaikan akan ada penangkapan terhadap jaksa yang menjadi tim Soeprapto. Soeprapto tak gentar dengan ancaman itu. Di hadapan anggota militer itu, dia meletakkan pistolnya di meja. “Bila akan melakukan upaya paksa penahanan kepada jaksanya, silahkan melangkahi diri dan mayat beliau dulu,” kata Prof. Dr. Indriyanto Seno Adji, anak dari Oemar Seno Adji, salah satu teman kerja Soeprapto. Indriyanto mengaku banyak mendengar integritas dan sikap Soeprapto dari ayahnya. Menurut Oemar, Soeprapto memiliki pandangan bahwa tak boleh ada diskriminasi dalam penegakan hukum. “Itu sebabnya Soeprapto menangani perkara besar dan kecil, kaya dan miskin, tanpa dipilih,” kata Indriyanto. Soeprapto juga sohor dengan sikap sederhana dalam hidup. Dia tak banyak mengejar harta benda. Bahkan, dia menolak pemberian hadiah gelang emas untuk anaknya. “Jarang sekali penegak hukum seperti Pak Soeprapto. Jujur, sederhana. Jaksa yang perutnya kempis,” kata Indriyanto. Indriyanto menerangkan, kesederhanaan Soeprapto tampak dalam tindakannya. “Dia tak banyak omong. Dia lebih memegang adagium facta sunt potentiora verbis  atau perbuatan itu lebih kuat daripada kata-kata,” kata Indriyanto. Asvi Warman Adam, profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menggambarkan karakter lain Soeprapto. Meski tegas dan tak sungkan berbeda pendapat dengan orang lain, Soeprapto tetap menaruh hormat pada orang tersebut. Ini kelihatan dari peristiwa perdebatan Perdana Menteri Ali dengan Soeprapto. “Sekalipun Ali dan Soeprapto sama bersikap koersif dalam rapat kabinet. Seusai rapat, sikap keras itu hilang. Soeprapto menaruh hormat kepada Ali dan mengobrol tentang soal lain seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Asvi. Fahrizal Afandi, doktor hukum jebolan Universitas Leiden, menyoroti peran Soeprapto sebagai perintis reformasi hukum di Republik Indonesia pada 1950-an. “Soeprapto turut berperan dalam membangun jaringan struktur peradilan di Indonesia,” kata Fahrizal. Peran Soeprapto paling nyata terlihat ketika dia mengubah sifat pengadilan. “Dari lembaga untuk memata-matai anak negeri, menjadi lembaga pengadilan yang digunakan untuk menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat,” kata Fahrizal. Peran Soeprapto bukan tanpa hambatan. Fahrizal melihat ada dua jenis hambatan selama Soeprapto berikhtiar memperbaiki hukum di Indonesia. Hambatan itu terbagi dua, internal dan eksternal. “Hambatan internal berasal dari lembaga yang dipimpin Soeprapto. Antara lain kurangnya pegawai terlatih, minimnya anggaran, dan minimnya fasilitas,” kata Fahrizal. Sementara hambatan eksternal muncul dari keadaan dalam negeri secara nasional. “Kondisi politik tidak stabil, pemberontakan di daerah, dan intervensi dari partai,” kata Fahrizal. Tapi Soeprapto berhasil mengatasi hambatan tersebut. Hukum tegak dan pengadilan memberikan kepastian hukum. “Sampai Daniel S. Lev dan Herbert Feith, dua Indonesianis terkemuka, menyebut periode di mana Jaksa Agung Soeprapto memimpin Kejaksaan (1950–1959), merupakan zaman keemasan sistem peradilan pidana di Indonesia,” kata Fahrizal. Susanto Zuhdi, guru besar sejarah Universitas Indonesia, menyatakan sepak terjang Soeprapto telah membuatnya jadi pahlawan di kalangan penegak hukum. “Nilai dan semangat perjuangan Soeprapto begitu melekat. Dia selalu hidup. Pahlawan itu selalu hidup,” kata Susanto. Susanto memaparkan, sepak terjang Soeprapto tak terbentuk semalam. Sikap itu terbentuk melalui proses panjang. Temuan risetnya menunjukkan Soeprapto telah masuk dalam daftar orang terkemuka di Jawa buatan Jepang. Daftar itu memuat orang-orang penting pada masanya. Bisa karena keahlian atau pengaruhnya di masyarakat. Menurut Susanto, ingatan tentang Soeprapto perlu dihidupkan kembali dalam tindakan keseharian penegak hukum masa ini. Di tengah karut-marut dan rusaknya lembaga penegak hukum, kehadiran Soeprapto sangat penting. “Sebab pahlawan itu dihadirkan karena ada kebutuhan kita yang mengharuskannya hadir,” kata Susanto.*

  • Grafiti Setelah Proklamasi

    WALI Kota Malang, Sutiaji menuliskan grafiti pertama di Jembatan Kedungkandang pada Senin (15/3/2021). Kegiatan ini untuk mengapresiasi komunitas seniman grafiti yang suka mengkritik dengan seni. Radarmalang.jawapos.com  melaporkan, sekitar 20 komunitas dengan seratus orang lebih akan mengerjakan mural di Jembatan Kedungkandang ini selama dua minggu. Targetnya selesai sebelum ulang tahun Kota Malang. Wali Kota Sutiaji membuat grafiti titik. “Filosofinya titik, kita harus fokus. Kita berangkat dari satu titik dan menuju ke satu titik,” kata Sutiaji dikutip beritajatim.com . Sedangkan komandan Kodim 0833 menulis “TNI Bersama Rakyat” dan kepala Kejaksaan Negeri menulis “Orang Hebat Tidak Korupsi”. Tulisan-tulisan itu oleh warganet twitter  diganti dan dijadikan meme . Dalam sejarah, grafiti menjadi slogan perjuangan setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Selain pekik perjuangan “merdeka”, semboyan-semboyan kemerdekaan juga terpampang di mana-mana. Iwa Kusuma Sumantri, pelaku sejarah, dalam Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah , menyebut “Tan Malaka-lah yang pada waktu itu menciptakan slogan-slogan yang dapat membangkitkan semangat kita, baik dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa Indonesia.” Sejarawan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946 , menyebutkan bahwa pada awal September 1945, Ahmad Subardjo meminta nasihat kepada Tan Malaka yang mengusulkan agar melakukan propaganda melalui semboyan-semboyan, seperti “Pemerintah dari Rakyat, untuk Rakyat, dan oleh Rakyat”, “Indonesia untuk Bangsa Indonesia”, dan “ Hands of Indonesia! ”. Menurut Poeze, semboyan-semboyan itu, dan banyak lagi lainnya, kemudian dilukis para pemuda di tembok-tembok, dan dengan mobil dan kereta api yang tersebar jauh ke luar Jakarta. Mereka menggalakkan moral, semangat juang, dan menyerukan perlawanan mati-matian terhadap musuh. “Semboyan-semboyan itu dibuat dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dengan maksud untuk menjadi perhatian Sekutu dan pers dunia. Tujuan itu berhasil,” tulis Poeze. Iwa menambahkan bahwa “pengaruh slogan-slogan itu sungguh luar biasa, membahana dan menggelegar khususnya di seluruh Jakarta. Akhirnya merembet ke kota-kota lain sehingga rakyat pun sadar dan berkobarlah semangat mereka menanggapi Proklamasi dan kemerdekaannya.” Menurut Muhammad Yamin, pelaku sejarah, dalam Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia , satu semboyan dari berpuluh-puluh semboyan yang ditulis pada dinding-dinding atau kereta api yang bergerak di pulau Jawa, yang “sangat menusuk otak dan perasaan ialah: Respect our Constitution, August 17! Hormatilah Konstitusi kami tanggal 17 Agustus!” “Slogan itu ditulis dalam bahasa Inggris,” Yamin menjelaskan, “karena insyaf akan keadaan politik Internasional sesudah kapitulasi Tokyo dan karena mengetahui bahwa kekuasaan Anglo-American di bawah pimpinan panglima MacArthur dan panglima Mountbatten telah memberi perintah akan mendaratkan tentara Inggris dan Belanda ke tanah Indonesia yang sudah merdeka di bawah kekuasaan Republik Indonesia sejak tanggal 17 Agustus 1945.” Rakyat Indonesia serentak berteriak kepada bangsa-bangsa lain: Jepang yang sudah terguling dan Inggris-Belanda yang akan mendaratkan pasukan agar menghormati dan tidak melanggar kedaulatan negara Indonesia merdeka. “Semboyan ini berisi petunjuk bagi bangsa yang belum insyaf dan berisi nasihat bagi bangsa yang hendak menjalankan agresi ke dalam negara Republik yang baru berdiri,” kata Yamin. Namun, Inggris (Sekutu) dan Belanda tetap mendaratkan pasukannya. Maka, pecahlah perang kemerdekaan Indonesia. “Peperangan kemerdekaan Indonesia itu mempunyai tujuan,” kata Yamin, “sedangkan penyerangan Belanda-Inggris yang melanggar kedaulatan Republik Indonesia semata-mata tindakan agresi yang bermaksud hendak melanjutkan kolonialisme, kapitalisme asing dan imperialisme; dasar dan tujuan mereka ialah semata-mata merampas kemerdekaan bangsa Indonesia.”*

  • Perang Tanding di Iwo Jima (2)

    LETNAN Jenderal Tadamichi Kuribayashi memiliki sikap dan strategi yang sangat berbeda dengan Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito, koleganya dari Divisi ke-43 Tentara Kekaisaran Jepang yang memimpin perang di Saipan. Jika Saito membolehkan sake (minuman keras khas Jepang) beredar di bunker-nya, maka Kuribayashi melarang sama sekali anak buahnya meminum setetes pun sake selama berhadapan dengan tentara AS di Iwo Jima. Sebelum membangun pertahanan di Iwo Jima, Kuribayashi memerintahkan agar penduduk sipil menyingkir ke daratan Jepang. Dia meyakini bahwa sebuah pangkalan militer harus terbebas dari penduduk sipil karena mereka dianggap hanya akan menghambat suatu operasi militer yang besar. Sang jenderal juga menabukan kehadiran perempuan penghibur di basis pertahanannya. “Dia berpendapat perempuan penghibur hanya akan menghancurkan moral para prajuritnya,” ungkap R.S. Boender dalam Terhempas Prahara ke Pasifik . Kuribayashi sangat mafhum jika para prajuritnya tidak hanya harus membangun benteng pertahanan yang tangguh, namun mereka pun harus memiliki mental sekuat baja. Terlebih mereka akan melakukan perlawanan dari bawah tanah dalam jangka waktu yang tak terhingga. Perasaan bosan dan putus asa tentu saja harus dienyahkan. Mengapa sang jenderal lebih memilih pasukannya untuk membangun benteng-benteng beton di bawah tanah? Lewat suatu riset yang panjang, Kuribayashi meyakini pulau yang ditutupi pasir hitam Gunung Suribachi dan dipenuhi karang itu akan kuat menahan bom-bom AS. Dan keyakinannya itu memang menemukan kebenaran di lapangan. Sebelum mendaratkan pasukannya ke pantai Iwo Jima, pesawat-pesawat B-29 AS telah membombardir pulau tersebut selama 72 hari  berturut-turut. Tidak cukup itu, kapal-kapal perang Angkatan Laut AS tiga hari sebelum D-day  juga ikut menghajar Iwo Jima dengan ribuan ton peluru. Namun ajaibnya benteng pertahanan yang dibangun oleh para prajurit Divisi ke-109 tetaplah utuh. Upaya identifikasi pertahanan Jepang yang dilakukan oleh Angkatan Udara AS dari atas juga seolah tak menemui hasil. Karena kemahirannya dalam ilmu penyamaran, sarang-sarang senapan mesin dan meriam tersamarkan oleh sekumpulan tanaman bunga yang beraneka ragam. “Foto yang diambil oleh pesawat pengintai tak ada gunanya,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik . Jumat, 16 Februari 1945 mulailah Armada ke-5 AS bergerak ke Iwo Jima. Tiga hari kemudian mereka mendaratkan pasukannya di pantai berpasir hitam tersebut. Menurut informasi resmi Museum Nasional Perang Dunia II, lebih dari 70.000 prajurit USMC (Korps Marinir Amerika Serikat) pimpinan Letnan Jenderal Holland M. Smith diturunkan guna menghadapi 23.000 anak buah Letnan Jenderal Kuribayashi. Pendaratan mereka pada awalnya berjalan mulus. Namun begitu jarum jam menunjukan angka 9, senapan mesin dan meriam-meriam Jepang mulai menyalak seolah dengan suara-suara itu mereka ingin menghantarkan neraka kepada para marinir tersebut. Para penyerbu yang bertiarap lalu bergerak dengan tubuhnya memang selamat dari hajaran senapan mesin. Namun begitu mortir raksasa Jepang yang memiliki diameter 320 mm menyalak, maka para perangkak pun tak bisa berbuat apa-apa selain harus menerima hantaman peluru mortir dan pecahannya. Dalam hantaman pertama ratusan prajurit marinir langsung berjatuhan. Sebagian besar dari mereka langsung tewas di tempat. Panik yang menggila meliputi pasukan marinir kala itu. Dalam situasi tersebut, keunggulan teknik militer AS sama sekali tak berguna. Mereka hanya bisa menembakan senjatanya secara membabibuta karena musuh yang mereka harus hadapi tidak terlihat seorang pun. Berbeda dengan kolega-koleganya di palagan Pasifik lainnya, Kuribayashi sama sekali “mengharamkan” pasukannya untuk melakukan serangan banzai . Mereka diperintahkan untuk tinggal di dalam benteng pertahanan sembari menghabisi musuh sebanyak-banyaknya. Praktis pasukan marinir harus merebut tanah Iwo Jima secara permeter, benteng perbenteng sambil merangkak dengan perut. Itu pun terjadi dengan korban yang sangat banyak. Akibat tembakan meriam kaliber 320 mm, sebagian besar korbannya tewas dengan kondisi luka yang mengerikan. “Belum pernah saya melihat tubuh-tubuh yang begitu rusak di Pasifik seperti di Iwo Jima,” ungkap jurnalis perang Robert Sherrod dalam laporannya di majalah Time,  5 Maret 1945. Awal Maret 1945, perlawanan pasukan Jepang mulai mereda. Pertempuran kemudian hanya dilanjutkan dengan operasi-operasi pembersihan semata. Selama hampir sebulan, Pertempuran Iwo Jima telah mengorbankan hampir 27 ribu prajuritnya dengan rincian: 6.821 orang tewas dan 20.000 lainnya terluka parah, cacat dan menjadi gila. Sementara itu di pihak Jepang, dari 23.000 prajurit hanya sekira 200 orang yang bisa ditangkap hidup-hidup dan menjadi tawanan. Menurut Boender, sebagian besar dari tawanan itu bukanlah orang Jepang melainkan orang Korea dan Taiwan. Kuribayashi sendiri “dicurigai” telah tewas di ujung utara dari Iwo Jima. Secara fisik, jasadnya tak pernah teridentifikasi oleh pasukan AS. Hal itu terjadi karena seluruh mayat tentara Jepang yang ditemukan di bunker-bunker tersebut sama sekali tak beridentitas dan tanda pangkatnya secara sengaja dimusnahkan. Dalam memoirnya, Coral and Brass ,  Jenderal Holland Smith mengenang Kuribayashi sebagai musuh yang sangat cerdik, kuat dan pantang menyerah. Dalam nada kagum, dia menyatakan bahwa jika pihak Jepang memiliki berbagai bintang jasa maka sudah sepatutnya Kuribayashi mendapatkan semua bintang-bintang itu. Bahkan kepada jurnalis perang Robert Sherrod, seorang perwira AS pernah mengatakan tak berharap Jepang akan melahirkan kembali manusia seperti Kuribayashi.*

  • Putra Mahkota yang Terbuang

    CURHAT Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, kepada Oprah Winfrey di sebuah program stasiun televisi CBS  belum lama ini mengguncang internal Kerajaan Inggris. Dalam acara yang dibuat pada 7 Maret 2021 itu, keduanya curhat banyak, mulai dari isu rasisme, media-media Inggris yang melacak latar belakang keluarga Meghan, hingga kekangan yang bikin depresi Meghan selama berada di lingkungan kerajaan. “Dalam bulan-bulan saya sedang hamil, semuanya dalam waktu bersamaan, kami mengadakan pembicaraan bersama saya dan Harry (dengan anggota kerajaan senior), bahwa dia (bayi di kandungan Meghan) takkan diberi gelar dan juga pembicaraan mengenai seberapa gelap warna kulitnya saat lahir,” kata Meghan kepada Oprah. Hal itu diverifikasi Oprah saat Harry bergabung dalam wawancara itu. Harry membenarkannya meskipun tak mau menyebutkan siapa saja yang ditengarai melontarkan pertanyaan berbau rasisme itu. Harry hanya ingin berbagi perasaan, betapa ia dan Meghan begitu terkekang di dalam istana. “Saya terjebak di dalam sistem, sebagaimana keluarga saya. Ayah dan kakak saya (Pangeran Charles dan Pangeran William) keduanya juga terjebak. Mereka tidak bisa pergi dan saya merasa sangat kasihan soal itu. Semua senyum di depan kamera tak lain adalah bagian dari tugas (sebagai anggota kerajaan),” aku Harry. Bagi pihak istana, apa yang dicurahkan Harry dan Meghan kepada Oprah tak lebih dari sekadar tudingan. Pihak Istana memberi pernyataan: “Segenap keluarga merasa sedih mendengar apa yang dialami Harry dan Meghan beberapa tahun terakhir ini. Isu-isu yang dikemukakan, terutama tentang ras, sangat mengkhawatirkan. Sementara beberapa ingatan akan klaim itu mungkin berbeda dan oleh karenanya menjadi perhatian serius kami dan akan ditangani oleh keluarga secara privat. Harry, Meghan, dan Archie (putra Harry-Meghan) akan selalu dicintai oleh anggota keluarga,” demikian bunyi pernyataan tertulis istana, dilansir CNBC , 9 Maret 2021. Pernyataan pihak istana itu langsung dibantah Pangeran William kala dicecar wartawan saat mengunjungi sebuah sekolah di London Timur. “Yang pasti kami bukanlah keluarga yang rasis. Saya belum bicara pada dia (Harry), namun akan segera saya lakukan,” ujarnya sebagaimana dikutip Variety , 11 Maret 2021. Tak ayal, klaim Harry dan Meghan menuai pro dan kontra, khususnya di Inggris. Kegegeran itu seolah jadi klimaks pasca-mundurnya putra mahkota setelah Charles dan William itu dari kehidupan istana pada Januari 2020. Kontroversi Harry ibarat mengulang kisah yang dilakukan kakek buyutnya, Raja Edward VIII. Edward Melawan Arus Bernama lengkap Edward Albert Christian George Andrew Patrick David, putra sulung Raja George V ini jadi putra mahkota garis pertama dan langsung menggantikan sang ayah yang meninggal pada 20 Januari 1936. Sebagai penerus, ia tetap mempertahankan namanya dan memilih gelar Raja Edward VIII. Sejarawan Philip Ziegler dalam King Edward VIII: The Official Biography mengungkapkan, sudah banyak tradisi lama yang ia langkahi sejak hari-hari pertamanya sebagai raja. Seperti menjadi anggota kerajaan pertama yang datang ke Dewan Penobatan di Istana St. James, London dengan pesawat yang terbang dari Sandringham. Ia juga menyaksikan proklamasi penobatannya dari balik jendela istana tersebut. “Pendekatan yang tidak lazim dengan perannya juga menyangkut gambar uang koin yang terpahat gambar dirinya. Dia melanggar tradisi dengan gambar di koin yang menghadap berlawanan dengan para pendahulunya. Edward bersikeras ingin wajahnya menghadap ke kiri hanya untuk memperlihatkan belahan rambutnya,” imbuh Ziegler. Puncak laku kontroversialnya adalah ketika Edward menyampaikan rencananya  menikahi kekasihnya, Wallis Simpson, pada Perdana Menteri (PM) Inggris Stanley Baldwin. Hal itu menjadi problem karena Wallis masih berstatus sebagai istri orang meski sedang dalam proses cerai. Terlebih, tradisi dari Gereja Inggris melarang seorang raja Inggris menikahi janda dari proses cerai. “Sebagai raja, Edward juga memegang gelar kepala Gereja Inggris dan para agamawan berharap Edward menaati tradisi itu. Jika tidak, Uskup Agung Cosmo Gordon Lang meminta Edward turun takhta,” ungkap Robert Pearce dan Graham Goodlad dalam British Prime Minister From Balfour to Brown. Empat putra mahkota Inggris, ki-ka: Pangeran George, Pangeran Edward, Pangeran Albert yang lantas jadi Raja George VI & Pangeran Henry. ( npg.org.uk ). Agar tetap bisa bertakhta, Edward menawarkan kompromi berupa dia dan Wallis akan menjalani pernikahan morganatik. Dengan begitu, Edward tetap bisa jadi raja namun Wallis takkan digelari permaisuri. Pun anak-anak mereka kelak, juga takkan punya gelar setara anggota kerajaan senior. Kerabat kerajaan pun geger. Negeri-negeri persemakmuran seperti Australia, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan, dan Selandia Baru pun sama. Alhasil, PM Baldwin memberi Edward tiga opsi: batal menikahi Wallis, menikah tanpa persetujuan para perdana menteri, atau turun takhta. Edward memilih opsi ketiga. Pada 10 Desember 1936, Edward menyerahkan takhtanya kepada adiknya, Pangeran Albert (George VI), kendati belum setahun berkuasa. Edward lantas menerima gelar lamanya lagi, Duke of Windsor, gelar yang dibuat sang adik untuk sang kakak. “Mustahil bagi saya untuk memanggul tanggung jawab yang besar dan melepaskan tugas saya sebagai raja sebagaimana keinginan saya tanpa bantuan dan dukungan perempuan yang saya cintai. Keputusan ini adalah keputusan saya pribadi,” ujar Edward dalam pidato radionya pada 11 Desember 1936 malam, dikutip arsip yang diunggah di laman resmi kerajaan . Kontroversi Politik Edward harus menerima pengasingannya selama dua tahun di Prancis. Pada 3 Juni 1937 di Château de Candé, Tours, Prancis, Edward meminang Wallis setelah kekasihnya itu resmi bercerai dari suaminya, Ernest Aldrich Simpson. Pernikahan itu tidak dihadiri anggota Kerajaan Inggris. Pelanggaran terhadap larangan kerajaan menimbulkan konsekuensi besar bagi finansial Edward. Properti Edward di Wisma Sandringham dan Puri Balmoral diambil alih Raja George VI. Untuk hidup sehari-hari, Edward hanya diberikan sokongan sebesar 300 ribu poundsterling per tahun. Lalu, masa pengasingannya akan diperpanjang sampai waktu yang tak ditentukan dan jika memaksapulang ke Inggris tanpa undangan raja, aliran dana tahunan itu akan disetop sepenuhnya. Kegetiran itu sedikit-banyak “memupuk” pikiran politik Edward mengenai situasi Eropa saat itu. Jika pihak kerajaan sedang mewaspadai kebangkitan Jerman di tangan Kanselir Adolf Hitler, Edward justru bersimpati dan berpikir bahwa fasisme yang diusung Hitler bisa jadi senjata pamungkas untuk membendung arus komunisme dari Uni Soviet. Pangeran Edward, Duke of Windsor bersama istrinya, Wallis Simpson. ( npg.org.uk ). Seperti menampar wajah sang adik, Edward dan Wallis bahkan berkenan menerima undangan Dr. Robert Ley, pemimpin Front Buruh Jerman yang jadi undebouw Partai Nazi, untuk melawat ke Jerman sepanjang 11-23 Oktober 1937. Kunjungan itu akan jadi momen yang ditunggu-tunggu Hitler. “Pemerintahan Jerman percaya bahwa (Duke of) Windsor dipaksa turun takhta sebagai imbas dari pandangan pro-Nazi dan itu makin mendorong keinginan mereka untuk menggelar karpet merah bagi sang pangeran,” tulis sejarawan Andrew Roberts dalam The House of Windsor. Hitler, Ley, dan Joachim von Ribbentrop (duta besar Jerman untuk Inggris) segera menyiapkan rencana penyambutan laiknya perjamuan kenegaraan. Sementara, Buckingham dan Downing Street (kantor PM Inggris) memberikan kecaman kendati tahu kunjungan itu bersifat pribadi. Edward tetap tutup kuping menanggapinya. “Edward dan Wallis datang dengan keretaapi ‘Nord Express’ dari Prancis dan tiba di Stasiun Friedrichstraße, Berlin pada Senin pagi, 11 Oktober. Sang Duchess (Wallis) berpenampilan dengan sejumlah perhiasan dan berdandan sebaik mungkin laiknya anggota kerajaan. Mereka disapa Ley sebagai delegasi penyambutan yang termasuk di dalamnya Von Ribbentrop dan Gauleiter (kepala cabang Partai Nazi) Berlin, Arthur Gorlitzer. Ley yang menyapa, mencium tangan sang Duchess, dan menyebutnya: ‘Yang Mulia’,” ungkap Susana de Vries dalam Royal Mistresses of the House of Hanover-Windsor: Secrets, Scandals and Betrayals. Salah satu agenda kunjungan Pangeran Edward di Jerman. (Bundesarchiv). Di luar stasiun, sekira dua ribu warga berkerumun ingin menyambut Edward dan Wallis. Tak ketinggalan barisan wartawan. Ley lantas mendampingi Edward dan Wallis beristirahat di hotel yang mereka sediakan di Kaiserhof sebelum menjalani agenda pertama, jamuan makan malam di Restoran Horcher’s. Di gala dinner pada malam 11 Oktober itu, Edward dan Wallis disambut Inspektur Tata Kota Albert Speer serta Menteri Propaganda Joseph Goebbels bersama istrinya, Magda. “Sang pangeran sosok yang rupawan –kawan yang baik dan simpatik serta punya pemikiran terbuka. Sangat disayangkan ia bukan lagi seorang raja. Bersamanya, kami (Jerman-Inggris) bisa membantu persekutuan,” kata Goebbels dalam buku hariannya yang dikutip J. Petropoulos dalam Royals and the Reich: The Princes von Hessen in Nazi Germany. Agenda Edward dan istrinya yang didampingi Ley kemudian berisi peninjauan perkembangan industri otomotif, transportasi, dan militer Jerman. Agenda puncaknya, 22 Oktober, bersua Hitler di Berghof –kediaman Hitler di Berchtesgaden, Bavaria. Saat bertemu, Edward dengan senang hati memberi salam khas Nazi. Itu dilakukannya sebagai balasan dari kebaikan yang diterima Edward dan istrinya. “Dia (Wallis) diperlakukan seperti putri kerajaan, tidak seperti keluarga Kerajaan Inggris memperlakukan dia sebagai orang luar dan buangan. Para aristokrat Jerman juga akan selalu menunduk sebagai tanda hormat kepadanya dan dia diperlakukan dengan segala martabat dan status yang pantas ia dapatkan, sebagaimana yang diinginkan sang pangeran (Edward),” singkap Andrew Morton dalam Wallis in Love: The Untold Life of the Duchess of Windsor, the Woman Who Changed the Monarchy. Adolf Hitler kala menjamu Pangeran Edward dan Wallis, Duchess of Windsor di Berghof. (Bibliothèque Nationale de France). Sementara Wallis menikmati jamuan teh ditemani menteri zonder portofolio Rudolf Hess, Edward berbicara privat dengan Hitler selama sejam di ruangan lain. Edward dan Hitler larut dalam pertukaran pandangan tentang situasi geopolitik terkini. Edward disebutkan mendukung niat Hitler untuk berekspansi ke Eropa Tengah dan Eropa Timur. Hitler, sebagaimana diungkapkan Ziegler, sangat terkesan dengan sosok Edward. Hanya satu hal pada Edward yang tak disenangi Hitler, yakni keinginan Edward untuk bicara didampingi penerjemah ketimbang bicara langsung dengan bahasa Jerman. Hitler tahu bahwa Edward bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Di awal masa perang, Edward yang ditunjuk pihak kerajaan sebagai penghubung British Military Mission di Prancis, masih punya simpati pada Jerman. Namun, kemudian ia harus mengungsi dari Paris ke selatan, hingga ke Spanyol dan Portugal ketika Prancis sudah diduduki Jerman. Edward lalu ke Kepulauan Bahama dan diangkat jadi gubernur jenderal kepulauan itu pada Juli 1940. Baginya, itu adalah jabatan buangan. Pada akhir perang, Edward dan Wallis bisa kembali ke Prancis. Mereka hidup sederhana dan tak pernah lagi muncul di media selama beberapa waktu. Baru pada 1955 Edward dan Wallis jadi sorotan media Amerika kala mengunjungi Presiden Dwight Eisenhower di Gedung Putih. Pada 1970 Edward kembali jadi berita dalam kunjungan ke tempat yang sama atas undangan Presiden Richard Nixon. Sampai akhir hayatnya, Edward tetap jadi eksil.Hanya jasadnya saja yang lantas dipulangkan ke Inggris pascawafat pada 28 Mei 1972 di kediamannya di Paris pada usia 77 tahun. Jasadnya disemayamkan di Kapel St. George’s di Kastil Windsor sebelum dikebumikan di Royal Burial Ground pada 5 Juni 1972.

  • Perang Tanding di Iwo Jima (1)

    KETIKA kali pertama diluncurkan pada 2 Februari 2007, film Letters from Iwo Jima  mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika Serikat (AS). Antusiasme itu semakin terlihat manakala setelah penayangan perdana tersebut banyak orang AS dan Jepang yang mengajukan izin untuk mengunjungi Pulau Iwo Jima. Demikian keterangan yang dilansir IMDb.com , situs mengenai konten film, televisi dan selebritas paling otoritatif dan populer di dunia. Letters from Iwo Jima  berkisah tentang pertempuran antara para prajurit Jepang dengan tentara AS di Pulau Iwo Jima pada Februari-Maret 1945. Namun berbeda dengan film padanannya, Flags of Our Fathers , film kolosal yang dikeluarkan Hollywood itu lebih melihat peristiwa tersebut dari sisi Jepang. Dalam sejarah Perang Dunia II, pertempuran Iwo Jima memang merupakan bentrok paling alot di Pasifik. Menurut Mark Khan dalam The Battle of Iwo Jima: Raising the Flag, February—March 1945 , itu sejenis perang tanding yang jatuhnya korban di kedua belah pihak nyaris sama besarnya. R.S. Boender, orang Indonesia yang terlibat dalam Perang Pasifik (di pihak AS) mengakui bahwa dibandingkan palagan lainnya, pertempuran di Iwo Jima adalah yang tersulit. Mau tidak mau, militer AS harus mengakui kebrilyanan taktik perang Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. “Dia menciptakan medan bertangga dari beton yang tak bisa ditembus oleh kendaraan lapis baja, kecuali oleh jumlah pasukan yang berganda dengan semangat perang habis-habisan,” ungkap Boender dalam otobiografinya, Terhempas Prahara ke Pasifik  (disusun oleh Hanna Rambe). Iwo Jima merupakan pulau kecil. Luasnya  hanya 8 mil persegi. Kendati demikian, dalam pertarungan AS vs Jepang di Pasifik, pulau tersebut memiliki arti yang sangat penting karena merupakan pintu gerbang menuju Tokyo. Saipan memang telah dikuasai oleh pasukan AS Desember 1944. Namun untuk melakukan operasi pemboman ke Tokyo, jarak Saipan-Tokyo masihlah terlalu jauh yakni sekira 1.200 mil. Dalam jarak sejauh itu, pesawat pemburu tidak akan berdaya melindungi pesawat pembom B-29, kecuali “para pemburu” itu dilepas dari sebuah kapal induk yang berlayar lebih dekat ke daratan Jepang. “Kekurangan ini akan hilang sama sekali, kalau Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan juga berada dalam pengawasan Sekutu,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik. Karena perhitungan itu pula, militer AS pada akhirnya memutuskan untuk menguasai Iwo Jima. Mereka kemudian mengirimkan tim intelijen dari laut dan udara untuk mengamati medan pulau yang pantainya berpasir hitam tersebut. Hasil pengamatan itu menyimpulkan bahwa Iwo Jima bisa dikuasai dalam lima hari. Sementara itu pihak Jepang sendiri sangat paham jika Iwo Jima memang layak dipertahankan. Menurut salah satu eks staf Kuribayashi bernama Mayor Horie, ketika prajurit-prajurit AS mendarat di Saipan pada 15 Juni 1944, Jepang mulai memperkuat kedudukannya di Iwo Jima. Lima belas hari kemudian, Daihonei (markas besar Kekaisaran) mengangkat Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi sebagai komandan Divisi ke-109, langsung di bawah kendali Tokyo. Hingga 1 Februari 1945, ada sekira 23.000 pasukan Jepang di Iwo Jima. Namun demikian, persedian logistik untuk mereka sangatlah minim. “Ada persediaan beras untuk 70 hari dan makanan lain untuk 60 hari,” ungkap Horrie seperti dikutip oleh Walter Karig dan kawan-kawan dalam Battle Report (V).   Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena di Iwo Jima, ketersediaan air layak minum sangatlah kurang. Bahkan untuk menghemat persediaan air bersih yang ada, untuk keseharian sebelum pertempuran terjadi, mereka terpaksa mengkonsumsi air hujan. Dengan kondisi seperti itu, wajar apabila kondisi fisik para prajurit Divisi ke-109 hampir 20% tidak memenuhi syarat  untuk pergi bertempur. “Banyak yang sakit typhus ,” ungkap Horrie. Situasi itu menyebabkan sebagian perwira diam-diam menjadi pesimis akan memenangi peperangan. Mereka berpikir, jika Jepang tidak memiliki lagi armada laut dan udara, maka kemungkinan besar AS akan menguasai Iwo Jima  hanya dalam waktu sebulan. Maka muncullah ide gila itu: Iwo Jima lebih baik ditenggelamkan saja. Ide itu ditentang habis oleh Kuribayashi. Dia berpendapat bahwa untuk menenggelamkan Iwo Jima diperlukan banyak bahan peledak yang sejatinya justru diperlukan guna melawan serbuan tentara AS. Maka keluarlah ketentuan dari sang jenderal yang menetapkan tiap serdadu Jepang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri. Mereka harus bertempur semaksimal mungkin dan merusak musuh sebanyak mungkin. “Kami bermaksud membuat lubang di bawah tanah sepanjang 18.000 meter,” ujar Horrie. Rencana itu pun dimulai sejak Desember 1944. Sayang, ketika para marinir AS mulai berdatangan ke Iwo Jima, terowongan bawah tanah itu baru selesai 5.000 meter saja!*

  • Mengintip Praktik Santet

    Santet atau ilmu teluh bertujuan untuk mencelakai orang yang tidak disukai dengan mengirimkan energi negatif dari jarak jauh.

  • Bertahan Hidup di Tanah Bencana

    Liangan, berjarak 8 km dari Puncak Sindoro. Menyimpan jejak peradaban yang tumbuh fase demi fase sejak abad ke-6. Namun, erupsi hebat Gunung Sindoro menguburnya pada abad ke-11.  Liangan merupakan kompleks permukiman di lereng timur laut Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs arkeologi ini terdiri dari permukiman luas dan kompleks. Di dalamnya ditemukan hunian, peribadatan, dan pertanian. Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan”, Berkala Arkeologi  Vol. 35 Edisi No. 1 Mei 2015,   menjelaskan erupsi Gunung Sindoro menyebabkan Situs Liangan terkubur oleh aliran piroklastik bercampur dengan awan panas dan aliran lava yang terus berlangsung itu kemudian disusul dengan aliran lahar dingin dan membentuk Kali Langit yang akhirnya memisahkan bangunan-bangunan di Situs Liangan yang awalnya satu kesatuan. Ketebalan material vulkanis hasil erupsi Sindoro akhirnya memendam Liangan hingga sedalam antara 7-10 m. Materialnya beragam, dari abu vulkanik, pasir, kerikil, kerakal, hingga bongkah-bongkah batu yang sangat besar.  Namun, apa yang terjadi di Liangan sepuluh abad lalu itu bisa dikatakan merupakan bencana tanpa korban jiwa. Pasalnya, tak ditemukan data yang bisa menunjukkan hal itu. Berkaitan dengan Mataram Kuno Situs Liangan atau versi masyarakat disebut Liyangan, oleh Sugeng Riyanto dalam “Situs Liangan dalam Bingkai Sejarah Mataram Kuno”, Berkala Arkeologi Vol. 37 Edisi No. 2 November 2017, dikaitkan dengan Layang. Layang adalah daerah tingkat watak yang dikuasai oleh Raka i Layang Dyah Tlodhong.  Menurut Sugeng, kendati masih diperlukan kajian lebih mendalam, kata layangan dan liyangan sangat dekat. Ini pun menjadi pertimbangan untuk mengatakan bahwa Liyangan adalah Layang, daerah yang menjadi tempat asal Dyah Tlodhong. “Jika itu benar, Situs Liangan merupakan daerah watak yang salah satu penguasanya, Dyah Tlodhong, menjadi raja Mataram menggantikan Pu Daksa,” catat Sugeng.  Pada masa Jawa Kuno dikenal tiga satuan wilayah pemerintahan. Ada wanua, watak , dan pusat kerajaan.  Wanua adalah satuan terkecil setingkat desa. Pemimpinnya disebut Rama. Wanua-wanua mengumpul menjadi sebuah satuan wilayah yang disebut watak. Watak dipimpin oleh seorang Rakai.  Watak adalah sebuah wilayah otonom. Ia memiliki pemerintahan sendiri yang mengurus segala keperluan wanua-wanua di bawahnya. Di atas watak terdapat pusat kerajaan yang dipimpin oleh seorang Maharaja.  Setelah menjadi penguasa di watak Layang, Rakai Layang Dyah Tlodhong diangkat menjadi putra mahkota. Dyah Tlodhong naik takhta menggantikan Mpu Daksa yang merebut singgasana dari kekuasaan Balitung sekira 908 M. Ia selanjutnya menjadi raja Mataram dari 918/919 hingga 928. Setelah ditinggalkan oleh Tlodhong yang menjadi raja Mataram, daerah Layang kemungkinan diperintah oleh kerabat Tlodhong. Daerah ini terus ada bahkan setelah Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Jawa Timur pada 929 M.  Permukiman dan peradaban di Layang akhirnya berhenti setelah muntahan material letusan dahsyat Gunung Sindoro menguburnya. “Belum dapat dipastikan kejadiannya namun mestinya setelah pertengahan abad ke-11,” catat Sugeng. Jalanan kuno di Situs Liyangan. (Dok. Kemendikbud). Membaca Pertanda Letusan itu dahsyat. Tapi, seperti ditulis Sugeng Riyanto dalam Situs Liyangan dan Sejarahnya , masyarakat Liangan kuno mampu menyingkir sebelum kejadian.  “Mereka rupanya dapat menebak dengan jitu melalui tanda-tanda yang diketahui secara turun-temurun, pengetahuan berdasarkan pengalaman selama ratusan tahun bermukim di lereng Sindoro,” catatnya.  Selama masyarakat Liangan menetap di lereng gunung itu tentunya telah terjadi beberapa kali letusan. Kendati tak besar, kejadian itu lalu diingat pertandanya hingga menjadi pengetahuan yang dimiliki masyarakat Liangan kuno. Pengetahuan itu nantinya sangat bermanfaat terutama dalam membaca tanda-tanda menjelang letusan dahsyat, yang kemudian membuat mereka bisa menyelamatkan diri. Bukan hanya nyawa mereka, tetapi juga harta benda dan ternak.  “Itulah sebabnya selama diteliti, tak dijumpai adanya korban jiwa maupun hewan ternak, tak juga benda berharga di situs itu,” catat Sugeng.  Sementara itu, Baskoro Daru Tjahjono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta berjudul “Ketahanan Pangan pada Masa Jawa Kuna”, Rabu (10/3/2021), mengatakan orang Liangan sadar mereka tinggal di daerah rawan bencana, letusan gunung api, rawan longsor, banjir bandang, dan gempa bumi. Menyadari hal itu mereka pun menyiapkan diri melalui sistem ketahanan pangan yang baik.  Masyarakat Liangan diberkati alam yang subur karena berada di lereng gunung berapi yang aktif. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan mereka mengolah tanah untuk area pertanian.  Hasilnya melimpah. Tak habis dalam sehari. Mereka pun menyimpan hasil panen itu di dalam lumbung. Selain untuk menyimpan persediaan makanan, lumbung padi juga untuk persembahan upacara dari masyarakat. Menurut Baskoro, temuan lumbung padi di Situs Liangan mengindikasikan masyarakat Liangan pada masa Mataram Kuno telah mampu menjaga ketersediaan pangan dalam waktu yang cukup lama “Ketahanan pangan ini penting untuk persediaan maupun untuk menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi,” kata Baskoro. Bagaimana pun Gunung Sindoro telah menyediakan kebutuhan dasar bagi masyarakat untuk membangun hunian dan mendorong terbentuknya permukiman Liangan kuno. Namun pada akhirnya Gunung Sindoro pula yang menghentikan peradaban itu dengan muntahan laharnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page