top of page

Hasil pencarian

9859 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • CIA, Filipina, dan Permesta

    KETIKA bekerja di atase pers dan kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Manila, Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, berteman dekat dengan beberapa jurnalis Filipina. Salah satunya Benigno “Ninoy” Aquino yang bekerja di The Manila Times sebagai koresponden perang termuda dalam Perang Korea pada 1950 dan koresponden asing di Indo-China sampai 1954. Des Alwi mengajak Aquino dan tiga jurnalis ke Manado menjelang meletusnya Permesta. Mereka bertemu dengan Letkol Ventje Sumual, pemimpin Permesta. “Gara-gara ini saya dituduh mendukung pemberontakan Permesta,” kata Des Alwi dalam memoarnya di majalah Tempo, 25 November 2007. “Saya menetap di Malaysia setelah dituduh mendukung gerakan Permesta di Sulawesi Utara.”

  • Sukarno Menyingkap Kejombloan

    TAHUN baru atau saban hari lebaran kerap jadi ajang pertemuan keluarga besar. Pada momen itulah tali persaudaraan dipererat dengan mengunjungi kediaman sanak famili. Silahturahmi pun terjalin dengan saling bertanya kabar. Bagi orang tua kepada kerabat yang muda-mudi, lazim pula terlontar pertanyaan, “kapan menikah?” atau “siapa pacarnya sekarang?” Pertanyaan itu bisa jadi agak mengganggu bagi mereka yang masih betah melajang alias jomblo. Perihal kejombloan ternyata telah memantik perhatian Sukarno sejak dulu kala. Bung Karno membedah kegelisahan itu ketika dirinya menulis risalah berjudul Sarinah  pada 1947. Siapa nyana, menurut sang presiden, hubungan sepasang insan yang tidak berujung pernikahan penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah kapitalisme. “Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin,” ujar Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Belenggu “Pintu Belakang” Kapitalisme menurut Sukarno adalah suatu pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Sementara itu, sektor-sektor produksi bertumpu kepada si pemilik modal. Dengan demikian, kapitalisme menyebabkan nilai tambah tidak jatuh kepada buruh atau kelas pekerja melainkan ke tangan kaum majikan. Dalam pidato pembelaannya berjudul “Indonesia Menggugat” tahun 1930, Sukarno mengatakan kapitalisme merupakan cikal bakal imperialisme modern; penindasan manusia atas manusia. Sementara itu, dalam Fikiran Ra’jat  1932, Sukarno menyebut kapitalisme menuju kepada Verelendung , yakni menyebarkan kesengsaraan. “Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan-tarif, peperangan, -- pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang ini,” tulis Sukarno dalam “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” termuat di Fikiran Ra’jat  terbitan 1932 yang dikutip dari Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 . Lantas, bagaimana mungkin kapitalisme dapat menjadi benalu dalam percintaan? Sukarno menjawab bahwa pencaharian nafkah dan perjuangan hidup dalam masyarakat begitu berat. Banyak pemuda karena kekurangan nafkah tidak berani kawin ataupun kesulitan kawin. Perkawinan seolah hak istimewa bagi mereka yang punya kemampuan finansial mapan. “Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun,” kata Sukarno dalam Sarinah . Padahal, menurutnya pada periode itu seksualitas seseorang sedang menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak jiwa. Kesukaran menunaikan hasrat kodrati itu, lanjut Sukarno, bikin perjaka masygul terlena mencari jalan keluar lewat “pintu belakang”. Mereka akan tersesat dalam perzinahan dengan sundal ataupun perbuatan keji lainnya. Bagi laki-laki, laku amoral tersebut dianggap lazim atau lumrah. Tapi, perbuatan serupa mendatangkan celaka bagi kaum hawa. Cap buruk dan hujatan akan melekat pada dahi perempuan yang terjebak di “pintu belakang”. Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja namun tidak menunjuk kepada laki-laki; tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Begitu kira-kira pemikiran Sukarno. Berat di Ongkos Dalam Sarinah , Sukarno membayangkan kondisi masyarakat yang dia cita-citakan. Disitu, tiap-tiap lelaki bisa mendapat istri. Dan sebaliknya, tiap-tiap perempuan bisa mendapatkan suami. Namun, menurut Sukarno kapitalisme merintangi imaji itu. “Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalistis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali struggle for life  bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan,” kata Sukarno. Sukarno merujuk keadaan di beberapa tempat. Di Batak, Sukarno mengutip tradisi uang “mangoli” atau disebut juga dengan “sinamot”. Di Lampung berlaku istilah adat “jujur” sedangkan di Bengkulu disebut adat “kulo”. Di Flores tradisi ini bernama uang “belis”. Semua itu pada hakikatnya adalah adat jual-beli perempuan. Di Sumatra Selatan misalnya. Sukarno menyaksikan gadis-gadis tua yang tidak mendapat jodoh. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25, 30, atau 35 tahun. Jodoh yang tidak kunjung tiba lantaran adat yang memasang banyak penghalang, seperti uang hantaran yang selalu terlalu mahal. Adapun penyebab “muka tua” itu menurut Sukarno karena mereka terpaksa hidup sebagai gadis tua; “tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alami.” “Alangkah baiknya sesuatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah!,” demikian harapan Sukarno yang ditulisnya dalam Sarinah . Bung Karno sendiri dalam perjuangannya sedari zaman pergerakan hingga menjadi presiden Indonesia senantiasa memusuhi kapitalisme. Dalam berbagai pidato, sistem itu disebutnya sebagai penjajahan dalam bentuknya yang baru. Seperti disebut sejarawan Ong Hok Ham dalam “Sukarno: Mitos dan Realitas yang termuat di Prisma , 8 Agustus 1977, kapitalisme bagi Sukarno berarah ke pemiskinan. Dan selain itu, tentu saja, mempersulit orang untuk menikah karena terkendala biaya.*

  • Harga untuk Kemerdekaan Indonesia

    PADA Selasa sore yang panas, 23 Agustus 1949, delegasi Republik Indonesia, beserta Serikat Federasi Indonesia (BFO) dan Belanda, berkumpul mengelilingi meja besar berbentuk oval di “Room of Knights” (Ridderzal) di Den Haag, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dipelopori oleh diplomat Amerika Merle Cochran.

  • Kebrutalan Pertempuran Surabaya

    DALAM Perang Dunia II, pasukan kavaleri Inggris dan Amerika Serikat menurunkan M4 Sherman di setiap palagan. Tank berwujud raksasa itu terbukti memang sukses memenangkan berbagai pertempuran terutama saat pihak Sekutu berhadapan dengan Jerman di palagan Afrika dan Eropa. Kegaharan Sherman dilukiskan secara ciamik dalam film Fury (2014) yang dibintangi oleh aktor kawakan Brad Pitt. Di film tersebut dikisahkan bagaimana Sherman dapat mengatatasi Tiger I, tank milik militer Jerman yang disebut-sebut memiliki tingkat kecanggihan luar biasa di zamannya. Namun tidak selamanya kisah Sherman adalah melulu kisah tentang kejayaan. Di palagan Surabaya, banyak Sherman dan para awaknya justru menjadi bulan-bulanan para pejuang Indonesia.

  • Pergi ke Gereja pada Masa VOC

    SEBUAH gereja menjulang tinggi. Tujuh jendela besar tampak pada bagian muka bangunannya. Tanah lapang di sekitarnya penuh dengan orang. Para budak, pembesar dan pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), dan orang-orang mardjikers  atau budak yang dimerdekakan baru selesai beribadah pada hari Minggu.

  • Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran

    PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017). Adegan Diana kecil (kanan) dalam sebuah kompetisi halang rintang bangsa Amazon. ( warnerbros.com ). Nilai kejujuran dengan keras dipegang Diana ketika berangsur dewasa dan hidup di tengah manusia biasa di Washington DC pada 1984.Diana menyamar sebagai pakar antropologi dan arkeologi di Museum Smithsonian bernama Diana Prince. Suatu hari, di tengah rutinitas pekerjaannya, Diana dewasa (Gal Gadot) bertemu rekan baru yang acap rendah diri, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Keduanya saling bantu menyelidiki sejumlah temuan benda kuno. Salah satu benda itu akan mengubah persahabatan mereka maupun situasi dunia secara global. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Benda kuno itu adalah batu citrine dari peradaban Mediterania. Batu tersebut ternyata bisa mewujudkan keinginan siapapun yang memegangnya. Termasuk Diana , yang hatinya sangat mendambakan kekasihnya yang telah meninggal bisa kembali hidup, Steve Trevor (Chris Pine). Sayangnya keinginan yang terwujud itu turut mendatangkan konsekuensi. Adegan pertarungan Wonder Woman melawan Barbara Minerva alias Cheetah. ( warnerbros.com ). Cerita kian dramatis ketika batu itu dicuri seorang pebisnis minyak oportunis, Maxwell Lord (Pedro Pascal). Akibatnya, situasi geopolitik dunia yang tengah panas oleh Perang Dingin turut terimbas sebagai buah dari keserakahan Lord. “Kita tidak bisa memiliki segalanya. Yang bisa kita miliki adalah kejujuran dan itu sudah cukup,” ujar Wonder Woman kala menghadapi Lord dalam sebuah konflik. Bagaimana kelanjutan aksi Diana Prince alias Wonder Woman dalam menyelamatkan dunia dari keserakahan Lord yang dibantu Minerva alias Cheetah? Baiknya Anda tonton sendiri Wonder Woman 1984 yang sudah tayangterbatas di beberapa bioskop maupun streaming di HBO Max sejak Natal 25 Desember 2020. Kembali ke “Khitah” Wonder Woman Di beberapa adegan, tone film sarat sinar lampu neon.Diiringi music scoring orkestra yang bercampur disko garapan komposer Hans Zimmer, penonton bakal dibawa bernostalgia ke era 1980-an. Untuk alur ceritanya, film Wonder Woman kali ini tak mengikuti alur kisah Wonder Woman di komik manapun.Sang sineas seolah ingin membawa penonton kepada karakter sejati Wonder Woman sebagaimana yang diciptakan psikolog William Moulton Marston pada 1941. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Jenkins menyadari bahwa Wonder Woman tak seperti pahlawan super mainstream, yang menghajar habis-habisan, bahkan membunuh tokoh penjahatnya. Wonder Woman, bagi Jenkins, adalah karakter yang memprioritaskan kejujuran untuk membuat semua orang punya keputusan yang lebih baik. “Hal menarik dari Wonder Woman adalah dia jagoan super yang tidak sering menghabisi tokoh penjahat dan lebih kepada mengonfrontir perbaikan dalam segala aspek umat manusia. Jadi dia seperti halnya seorang dewi yang berusaha terlibat dengan manusia biasa dan berusaha membuat semua orang lebih baik. Dia tak banyak bertarung, namun lebih banyak mengonfrontasi sebuah sudut pandang,” ujar Jenkins dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly , 24 Desember 2020. Sketsa pertama karakter Wonder Woman (kiri) ciptaan William Marston yang dibantu ilustrator H. G. Peter yang kemudian muncul pertamakali di All Star Comics #8. (Comixology/ comiclink.com ). Sejatinya, ketangguhan, kekuatan, maupun kecepatan yang jadi keunggulan Wonder Woman berhulu dari nilai-nilai cinta dan kejujuran. Patty Jenkins sangat kentara menonjolkan premis-premis itu sedari awal hingga akhir. Jalan ceritanya terinspirasi dari bagaimana Marson melahirkan karakter Wonder Woman berikut nilai-nilai yang dibawanya dalam memerangi kejahatan. Selain berprofesi sebagai psikolog dan pencipta purwarupa poligraf atau alat pendeteksi kebohongan, Marston merupakan salah satu anggota tim konsultan edukasi di penerbit All-American Publicatio ns dan National Periodicals di era 1940-an. Pada 1946, kedua penerbit itu berfusi menjadi DC Comics . Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Sampai di awal tahun 1940, jagoan super dari dua penerbit cikal-bakal DC Comics itu masih berupa para pahlawan laki-laki, mulai Batman, Superman, hingga Green Lantern. Marston ingin berkontribusi menciptakan karakter pahlawan super tambahan. Namun, diungkapkan Marguerite Lamb dalam artikelnya yang dimuat Majalah Bostonia edisi September 2001,“Who Was Wonder Woman?”, oleh istrinya, Sarah Elizabeth Holloway, Marstondisarankan untuk menciptakan pahlawan super perempuan. “Marston, psikolog yang dikenal menciptakan poligraf mengajukan ide untuk pahlawan super baru, di mana kekuatan utamanya terletak pada kekuatan pukulan atau lontaran api, melainkan dengan cinta. Elizabeth kemudian mengatakan: ‘Baiklah, tapi buatlah pahlawan supernya perempuan,’” tulis Lamb. William Moulten Marston dan istrinya Sarah Elizabeth Holloway (kiri) & Mary Olive Byrne yang jadi inspirasi karakter Wonder Woman. (Smithsonian Library/Boston University). Saran Elizabeth kemudian dijalankan Marston dengan meracik latar belakangnya dengan menyiratkan agenda feminisme dan memadukannya dengan muasal Wonder Woman sebagai keturunan dewi-dewi dari mitologi Amazon. Menurut Clare Pitkethly dalam “Recruiting an amazon: The Collision of Old World Ideology and New World Identity in Wonder Woman” yang dimuat dalam The Contemporary Comic Book of Superhero , mitologi Amazon bagi Marston merupakan gagasan yang tepat untuk meng- counter narasi-narasi dari mitologi-mitologi klasik yang didominasi tokoh laki-laki. “Wonder Woman melanjutkan narasi (mitologi Amazon) itu, di mana dominasi kulturnya akan kedigdayaan perempuan ikut dibawa ke ‘rumah barunya’, Amerika. Pesan Marston akan karakternya: ‘Wonder Woman adalah mentor perempuan yang memperlihatkan kepada para gadis muda bahwa mereka mampu melepaskan diri dari batasan-batasan aturan-aturan tradisional’,” kata Pitkethly. Lantaran Wonder Woman diciptakan kala Perang Dunia II sedang berkecamuk, Marston lantas men- setting kisah pahlawan super beralter ego Diana Prince itu sedang membantu kekasihnya, Steve Trevor, di departemen intelijen Angkatan Darat Amerika. Jiwa patriotismenya sangat kentara ditonjolkan dengan atribut rok biru bermotif bintang putih seperti yang ada dalam bendera Amerika. Inspirasi Poliarmi Untuk mengkonstruksikan fisik tokoh pahlawannya, Marston berangkat dari kehidupan pribadinya yang kontroversial dan keluar dari norma-norma tradisional. Sosok perempuan jelita Wonder Woman diciptakan dengan mengambil inspirasi dari pacar selingkuhannya, Olive Byrne. Diungkapkan Jill Lepore dalam The Secret History of Wonder Woman , dari penampakan fisik Olivelah deskripsi kecantikan dan keanggunan Diana Prince alias Wonder Woman diciptakan Marston. Rambut hitam, bentuk tubuh seksi, hingga “ Bracelet of Submission ” alias gelang anti peluru yang dipakai Olive semua dipindahkan Marston ke sosok Diana. “Awal mula Wonder Woman bersumber dari kehidupan Marston dan kehidupan dua perempuan yang dicintainya; keduanya juga menciptakan Wonder Woman. Marston bukan lelaki biasa, pun dengan keluarganya. Dia membimbing sebuah kehidupan rahasia dengan punya empat anak yang tinggal satu atap. Komik Wonder Woman jadi tempat favorit persembunyian kehidupannya,” tulis Lepore. Baca juga: Misteri Andromache of Scythia dalam The Old Guard "Lasso of Truth" atau tali laso kejujuran yang jadi senjata khas Wonder Woman. ( warnerbros.com ). Marston diketahui menganut poliarmi, suatu hubungan di mana seorang suami diperbolehkan istri resminya untuk memiliki seorang pacar. Marston diperbolehkan Elizabeth, yang juga seorang psikolog, punya hubungan dengan perempuan lain, Olive Byrne, yang sudah terjalin sejak 1925. Elizabeth dan Olive akur mengasuh empat anak Marston. Selain “Bracelet of Submission”, kelebihan lain milik Wonder Woman terletak pada senjata pamungkasnya, “Lasso of Truth”atau tali laso kejujuran. Senjata yang ditonjolkan Patty Jenkins itu dijadikan sebagai inspirasinya dalam menciptakan karakter sang pahlawan dalam Wonder Woman (2017) dan Wonder Woman 1984 (2020). Patty sengaja membedakan Wonder Woman ciptaannya dari Wonder Woman yang muncul di beberapa film lain keluaran DC Extended Universe, seperti Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) dan Justice League (2017) yang bersenjatakan pedang dan perisai. “Lasso of Truth” diciptakan Marston sejak karakter Wonder Woman muncul pertama kali diterbitkan di All Star Comics edisi ke delapan pada Oktober 1941. Tali laso yang merupakan kekuatan utama Wonder Women merupakan simbol nilai-nilai kejujuran. Marston menciptakannya terinspirasi dari sejumlah hasil poligraf ciptaannya, di mana dia mendapati perempuan lebih berkata jujur ketimbang laki-laki ketika dites dengan alat pendeteksi kebohongan. Dengan kekuatan kejujuran itulah maka Marston menciptakan Wonder Woman sebagai sosok pemimpin ideal yang bisa menciptakan perdamaian dunia. “Sejujurnya, Wonder Woman adalah propaganda psikologis untuk tipe perempuan (era) baru yang, saya yakini, mestinya pantas memimpin dunia,” tandas Marston, dikutip Lepore. Data Film: Judul: Wonder Woman 1984 | Sutradara: Patty Jenkins | Produser: Charles Roven, Deborah Snyder, Zack Snyder, Stephen Jones, Patty Jenkins, Gal Gadot | Pemain: Gal Gadot, Lilly Aspell, Chris Pine, Kristen Wiig, Pedro Pascal, Robin Wright, Connie Nielsen, Lynda Carter | Produksi: DC Films, Atlas Entertainment, The Stone Quarry | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: laga pahlawan super | Durasi: 151 Menit | Rilis: 25 Desember 2020. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker

  • Senjata CIA untuk PRRI

    SETELAH pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada Januari 1958, Sumitro Djojohadikusumo dan Letkol Ventje Sumual pergi ke Singapura. Ketika sedang makan di sebuah restoran, seorang asing mendekati mereka. Dia menawarkan senjata dengan cuma-cuma.

  • Gedong Bagoes Oka Menapaki Jalan Gandhi

    NI Wayan Gedong tak beruntung ketika berkesempatan mengunjungi India pada 1953. Tokoh panutannya, Mahatma Gandhi, telah meninggal lima tahun sebelumnya. Alhasil, Gedong tak bisa bertemu langsung tokoh yang banyak menginspirasinya itu. Kendati begitu, Gedong yang lahir di Karangasem, Bali pada 3 Oktober 1921 sebetulnya termasuk orang beruntung. Lahir dari keluarga pejabat kolonial, Gedong punya kesempatan yang tak dimiliki kebanyakan anak sebayanya, yakni mendapat pendidikan layak. Gedong bersekolah di Holands Inlandsche School (HIS) Klungkung, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Yogyakarta dan Algemeene Middelbare School (AMS) Batavia. Meski menikmati banyak keistimewaan, Gedong didik keras oleh ayahnya, I Wayan Komang, yang merupakan sekretaris Karangasem Raad. Komang termasuk orang yang menentang sistem kasta di Bali. Pendirian ini kemudian ditanamkannya pada Gedong sehingga membentuk karakter Gedong menjadi seorang yang egaliter. Selesai menempuh pendidikannya, Gedong mengajar di beberapa sekolah di Bogor, Singaraja, dan Denpasar. Ia juga sempat menjadi kepala sekolah SMA pertama di Bali, SMA Negeri Singaraja (1956-1963). Sastrawan Putu Wijaya dan aktor Ikranegara adalah termasuk murid-muridnya. Pada 1943, Gedong menikah dengan I Gusti Bagoes Oka, sekretaris di Paruman Agung yang kemudian menjadi wakil gubernur Provinsi Sunda Kecil. Semenjak menikah, Ni Wayan Gedong menggunakan nama Gedong Bagoes Oka. “…penambahan Bagoes Oka pada namanya sendiri menjadi tanda bahwa ia ingin sejajar dengan suaminya, dan tetap dipakainya nama Gedong sebagai tanda bahwa ia juga ingin mempertahankan jati diri dan kepribadiannya sendiri,” tulis Frederik Lambertus Bakker dalam The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals . Pada 1953, Gedong melakukan perjalanan ke Eropa dan India. Di India, ia mengunjungi Gandhi Ashram yang didirikan Mahatma Gandhi sejak 1915. Gandhi merupakan salah satu tokoh panutan Gedong, terutama karena ajaran Swadeshi, Ahimsa, Satya dan Karuna-nya. Meski tak bertemu Gandhi karena telah meninggal pada 1948, Gedong bertemu dengan Vinoba Bhave (1895-1982) yang dianggap sebagai ahli waris spiritual Gandhi. Gedong kemudian menghabiskan waktunya belajar di Ashram Gandhi selama di India. Ajaran-ajaran Gandhi kemudian disebarkan Gedong ketika ia pulang ke Indonesia. Pada 1976, ia mendirikan Ashram Gandhi Candidasa di bawah Yayasan Bali Canti Sena yang ia bangun pada 1970. Meski mengikuti model Ashram Gandhi di India, ashram ini memadukannya dengan keadaan masyarakat Hindu Bali. Ashram Gandhi Candidasa tidak hanya untuk mereka yang beragama Hindu. Semua orang diterima. “Ashram ini memang tidak mengenal perbedaan suku dan agama. Siapa yang berkenan ikut dapat masuk ke situ,” tulis Egy Massadiah dkk. dalam Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Bahkan, di ashram ini pula tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, YB Mangunwijaya, Th. Sumartana dan tokoh-tokoh lintas agama lain sering bertemu dan berdiskusi dengan Gedong. Ashram Gandhi kemudian juga didirikan di Denpasar dan Yogyakarta. Sebagai pluralis, Gedong telah malang melintang di bidang kemanusiaan dan perdamaian agama-agama baik di tingkat nasional maupun internasional. Gedong pernah menjadi direktur eksekutif Konferensi Asia untuk Perdamaian dan Agama. Pada 1994, Gedong menerima Jamnalal Bajaj Peace Award dari India karena telah mempromosikan ajaran Gandhi di luar India. Gedong juga memiliki perhatian terhadap isu perempuan dan anak. Ia merupakan ketua Yayasan Kosala Wanita, yang bergerak dalam bidang kesehatan ibu   dan anak ,  periode 1956-1963. Gedong juga merupakan anggota Komisi Hak-hak Asasi Wanita Asia. Di Bali, Gedong termasuk salah satu pembaharu Hindu Bali. Dalam tulisannya “Spiritualitas Baru dalam Agama Hindu” yang termuat dalam Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat,  misalnya , Gedong mengkritik masyarakat Hindu yang mementingkan ritual daripada spiritual. Hal itu menurutnya perlu dibenahi karena akan memberatkan rakyat kecil. “Perubahan hanya dapat diharapkan dari kehidupan spiritual kalangan terpelajarnya. Tekanan beban upacara yang dirasakan oleh cendekiawan Hindu mendorong mereka untuk memperdalam isi dari kitab-kitab suci demi menjernihkan pengertian mereka tentang agama sendiri,” tulis Gedong. Kegusaran Gedong tak hanya terhadap Hindu Bali, tapi terhadap turisme Bali yang semakin berkembang pesat. Wisata budaya dan agama, di satu sisi memberi penghidupan, di sisi lain menggeser spiritualitas menjadi hanya sebatas komoditas. “Di sinilah letak tantangan yang berat bagi mereka yang mendambakan kehidupan rohani Hindu,” ungkapnya. Di dunia politik, Gedong pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (1968-1972). Setelah Orde Baru lengser, Utusan Golongan di MPR yang sebelumya didominasi Golongan Karya (Golkar) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kemudian menjadi lebih beragam. Dari golongan agama, budayawan, hingga penyandang disabilitas. Gedong kemudian menjadi anggota Utusan Golongan Hindu MPR (1999-2002). Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Volume 3, pada 1950-an Gedong sangat dekat dengan tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), mulai dari Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, hingga Soedjatmoko. “Di masa tuanya, bila datang ke Jakarta, Ibu Gedong saya lihat pasti mampir ke rumah Soebadio Sastrosatomo dan di sana bertemu dan berdiskusi dengan kawan-kawan sosialis,” tulis Rosihan. Gedong Bagoes Oka meninggal pada 14 November 2002 di Jakarta. Wajahnya kemudian muncul pada meterai Pos Indonesia keluaran 2004. Sepanjang hidupnya, Gedong telah menerjemahkan beberapa buku Gandhi seperti From Yeravda Mandir , Ashram Observances in Action,  dan otobiografi Mahatma Gandhi .*

  • Cerita Lucu dari Pertempuran Surabaya

    AKHIR Oktober 1945. Tentara Inggris  nyaris saja terbantai sia-sia di Surabaya. Guna mencegah situasi menyedihkan sekaligus memalukan itu terjadi, pimpinan militer Inggris kemudian meminta Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mengendalikan para pejuang Indonesia di timur Jawa tersebut. Seperti dikisahkan dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno-Hatta kemudian terlibat aktif secara langsung menghentikan aksi pertempuran di jalan-jalan kota Surabaya. Di setiap kerumunan massa dan pertahanan para pejuang republik, tak segan-segan Bung Karno menghentikan mobilnya dan berpidato dalam nada bersemangat. “Hentikan pertempuran! Kita mengadakan gencatan senjata dan tetaplah di tempatmu masing-masing! Jangan menembak! Itu perintah saya! Hentikan pertempuran segera!” seru Si Bung Besar dari atas mobil terbukanya. Bahkan karena pidatonya yang menyala-nyala itu pula, nyaris saja nyawa Bung Karno “lewat”. Ceritanya, saking bersemangat dan terpukaunya oleh gaya pidato Bung Karno, seorang remaja pejuang yang berdiri dekat Sukarno, secara tak sengaja menyenggol pelatuk senjata laras panjangnya yang tak terkunci. Akibatya: dor! “Senapan terkutuk itu meletus! Dan lagi tepat di belakang telingaku,” kenang Sukarno. Kendati sudah mendatangkan Sukarno dan Hatta, para pejuang Indonesia di Surabaya menganggap orang-orang Inggris hanya main-main saja saat berurusan dengan mereka. Hal itu semakin membuat kemarahan mereka kembali mencapai ubun-ubun, kala sepeninggal Sukarno, secara sepihak pihak Inggris justru memberikan ultimatum agar seluruh rakyat Indonesia yang bersenjata di Surabaya menyerah tanpa syarat. Tentu saja ancaman itu dianggap sepi oleh para pejuang republik. Alih-alih menyerah, pertempuran malah semakin dikobarkan dan mengakibatkan Brigadir A.W.S. Mallaby (pimpinan pasukan Inggris di Surabaya) tewas dalam suatu insiden di depan Gedung Internatio. Sejarah mencatat pada 10 November 1945, Inggris tanpa ampun membombardir Surabaya dari darat, laut dan udara. Serangan itu tentu saja disambut secara histeris oleh orang-orang Indonesia, kendati hanya sebatas sambutan lewat kekuatan infanteri dan artileri. Kegilaan orang-orang Indonesia itu memunculkan kengerian yang sangat di benak para serdadu Inggris. Kepada para wartawan, mereka menjuluki Surabaya sebagai “neraka” yang paling berdarah-darah pasca Perang Dunia II. Itu seperti diberitakan oleh New York Times , 15 November 1945.   Namun di balik kengerian dan kebrutalan perang di Surabaya, terbuhul kisah-kisah lucu yang mungkin jarang diketahui khalayak. Salah satunya pengalaman yang pernah diceritakan oleh Suhario Padmodiwiryo dalam otobiografinya Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit . Dalam suatu pertempuran kota, seorang pejuang kecil berusia kurang dari 15 tahun tetiba harus berhadapan satu lawan satu dengan seorang prajurit Sikh berjanggut lebat yang tinggi besar dan bersorban dari Divisi India di suatu lorong. Kedua langsung tertegun. Sang bocah yang tengah memegang senjata langsung membidik dan menarik picu. Klik! Peluru kosong. Setelah lepas dari situasi panik, dengan tenang Si Prajurit Sikh itu mendekati sang bocah. Dia kemudian merampas senjata macet itu dan mengomel tanpa henti dalam bahasa Inggris. Awalnya, sang bocah hanya menangkap kata “mama” saja dari mulut sang prajurit. Namun dia kemudian cepat mafhum bahwa prajurit Inggris itu memintanya pulang dan menyuruh pergi saja ke pangkuan sang ibu daripada harus ikut-ikutan berperang. Sebelumnya yakni dalam Pertempuran Akhir Oktober ada suatu kejadian lucu lagi yang dikisahkan oleh Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 . Saat bergerak mundur, satu kompi pasukan Inggris tersudut ke Kebun Binatang Wonokromo. Situasi itu menyebabkan muncul “ide liar” di kalangan para pejuang untuk diam-diam melepaskan semua harimau dan binatang buas yang ada di kebun binatang itu. Semua setuju. Namun baru saja akan dibentuk tim pelepas binatang-binatang buas itu, tetiba seorang kawan Des Alwi yang lebih dewasa melarangnya. “Jangan dilepas! Nanti setelah mereka memakan orang-orang Inggris, giliran kita juga bakal mereka habisi!”*

  • Umat Protestan dalam Cengkeraman VOC

    SEBUAH kapal terdampar di Singapura. Kapal itu baru saja dirompak. Salah seorang penumpangnya seorang pastor Katolik dari Sarekat Jesuit, sebuah sekte dalam agama Katolik, bernama Aegidius de Abreu, seorang Portugis. Dia dibawa orang-orang Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) ke penjara di Batavia. Di tempat ini, dia sebermula bebas mengunjungi penganut Katolik lain di penjara.

  • Natal Berdarah di Laut Tengah

    TAK ada hal aneh pada sore 22 Desember 1963 yang diingat Paul Sant Cassia, profesor antropologi di University of Malta, yang saat itu berusia sembilan tahun. Pada hari itu, kata Paul, ayahnya berangkat ke pabrik tempatnya bekerja seperti biasa. Ayahnya tetap bertahan bekerja di pabrik itu sebagai satu-satunya warga Siprus berdarah Turki karena begitu mencintai pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa hingga selepas pukul 10 malam Paul mendapati berita terjadinya kerusuhan di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja. “Pada tanggal 22 Desember malam perkelahian terjadi sekitar pukul 10.00 malam di pusat kota. Empat orang tewas dan banyak lainnya luka-luka. Perkelahian terjadi di dekat pabrik dan saya dan saudara laki-laki khawatir ayah akan terlibat ketika dia melakukan inspeksi di halaman pabrik. Kami meneleponnya dan memberi tahu dia bahwa ada masalah. Kami menyuruhnya pulang karena dia mungkin akan cedera jika orang Siprus Yunani mengidentifikasinya sebagai orang Siprus Turki,” kata Paul dalam bukunya, Bodies of Evidence: Burial, Memory and the Recovery of Missing in Cyprus . Kala itu ketegangan antara warga Siprus berdarah Turki dan warga berdarah Yunani tengah memuncak. Akibatnya, ibukota Nikosia dibagi menjadi wilayah untuk warga Siprus Turki di utara dan wilayah untuk warga Siprus Yunani. Masing-masing komunitas saling mencurigai. Warga berdarah Turki mencurigai warga berdarah Yunani sebagai pendukung Enosis atau ideologi nasionalis yang mengupayakan integrasi Siprus dengan Yunani. Pemilihan Polycarpos Goergadjis, mantan jagal EOKA semasa perjuangan kemerdekaan Siprus dari Inggris yang terlibat dalam pembunuhan terhadap kalangan sipil, sebagai menteri dalam negeri dianggap salah satu langkah strategisnya. Sebaliknya, warga berdarah Yunani menuduh warga Turki ingin menguasai Siprus dan selalu mengkhawatirkan masuknya militer Turki ke Siprus. Saling ketidakpercayaan itu muncul dikarenakan beberapa faktor. Antara lain, penerapan pajak terpisah antara warga Siprus Yunani dan Siprus Turki. Bentuk Republik Siprus yang bukan negara kesatuan, melainkan komunal dengan sebagian di antaranya federasi komunal, menurut Andrew Borowiec dalam  Cyprus: A Troubled Island , berandil pada kedaulatan terletak di tangan komunitas. Konstitusi nyaris tak berarti. “Faktor lain yang mendorong masyarakat ke arah konfrontasi langsung adalah banyaknya jumlah warga Siprus Turki yang menjadi pegawai negeri. Komunitas Yunani merasa bahwa rasio yang ditetapkan terlalu baik dan banyak warga Turki sebetulnya tak memenuhi syarat untuk pekerjaan yang mereka pegang,” tulis Borowiec. Ketegangan makin meningkat sejak Presiden Makarios III menghapus delapan ketentuan dasar dalam Perjanjian Kemerdekaan 1960 yang menjamin hak-hak warga Siprus Turki pada November 1963. "Tujuannya adalah untuk mengurangi (status dan peran, red .) warga Siprus Turki menjadi status minoritas belaka, yang sepenuhnya tunduk pada kendali orang Siprus Yunani, sebelum kehancuran atau pengusiran mereka dari pulau itu," tulis sejarawan John L. Oakes dalam “Cyprus–The Shame of Christmas 1963”, dimuat di cyprusscene.com . Makarios lalu, pada awal Desember, mengajukan usulan perbaikan 13 aturan yang menjadi sumber persengketaan, antara lain penghapusan aturan pemilihan anggota legislatif berdasarkan kuota etnis. Warga berdarah Turki menganggap usulan Makarios itu sebagai upaya untuk mengurangi partisipasi mereka dalam menjalankan negara. Pada 16 Desember, komunitas Turki, yang dimotori Menteri Pertahanan Osan Orek dan Ketua Turkish Communal Chamber Rauf Denktash, menolak rencana Makarios. Suasana makin tegang. Di tengah suasa tegang antar-etnis itu, pada dini hari 22 Desember, sekelompok polisi Siprus, berdarah Yunani, mengadakan razia di dekat red - light   district  ibukota. Mereka menghentikan sebuah taksi berisi seorang pemuda berdarah Turki dan seorang perempuan rekannya. Aparat meminta pemuda tersebut menunjukkan identitas, namun ditolak. Aparat lalu menembak mati kedua penumpang taksi tersebut. Sontak warga berdarah Turki yang ada di pasar Turki, tak jauh dari lokasi kejadian, datang. Mereka melawan para polisi tadi sehingga beberapa di antara aparat terluka. “Meskipun pembunuhan tersebut mungkin tidak dimotivasi oleh politik atau persaingan antaretnis, pembunuhan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman bagi masyarakat Siprus berbahasa Turki secara keseluruhan,” kata buku yang dieditori   Jon Celame dan Esther Charesworth,  Divided Cities: Belfast, Beirut, Jerussalem, Mostar, and Nicosia . Paginya, warga berdarah Turki segera berkumpul. Mereka menganggap kejadian pada dini hari sebagai bagian dari Enosis. Malamnya, bentrokan berdarah pun pecah di Nicosia. Pasukan-pasukan paramiliter Turki maupun Yunani saling serang. Otoritas Yunani kemudian memutus saluran telepon dan telegraf ke areal permukiman Turki. Tak lama kemudian, aparat kepolisian Siprus Yunani menguasai bandara Nicosia. "Ketika orang Siprus Turki keberatan dengan amandemen Konstitusi, Makarios menjalankan rencananya, dan serangan Siprus Yunani dimulai pada bulan Desember 1963," sambung Oakes. Esoknya, 23 Desember, pertempuran meluas. Kendati pada siangnya Presiden Makarios dan pemimpin Komunitas Turki sepakat melancarkan gencatan senjata, kondisi di lapangan terlanjur membara. Pertempuran telah mencapai beberapa daerah di luar Nicosia hingga Kota pelabuhan Larnaca. Pada hari itulah milisi Yunani yang dipimpin Nicos Sampson, mantan kombatan EOKA yang terlibat dalam pembunuhan terhadap warga sipil saat perjuangan melawan Inggris, menyerbu Omorphita di pinggiran Nicosia. Mereka langsung membunuhi orang-orang berdarah Turki.  “Tampaknya tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak,” tulis Borowiec. Menurut Oakes, yang mengutip Letnan Jenderal George Karayiannis dari Milisi Siprus Yunani, serangan oleh warga Siprus Yunani telah direncanakan sejak jauh hari, bukan spontanitas. Serangan itu berpijak pada rencana "Akritas", cetak-biru untuk pemusnahan Siprus Turki dan aneksasi pulau itu oleh Yunani. “Setiap Siprus Yunani bersenjata memburu mereka (penduduk berdarah Turki, red.). Dalam waktu satu bulan setelah serangan gencar pada 21 Desember 1963, ratusan warga Siprus Turki terbunuh, terluka, atau cacat. Daerah Turki di pulau itu dikepung dengan tujuan untuk membuat penduduk kelaparan sampai mati sehingga mereka tidak bisa lagi menentang kemauan politik ‘Yunani,’” demikian catatan UN Security Council dalam Documents Officiels , Volume 3. Kondisi kacau tersebut membuat Komisaris Tinggi Inggris di Siprus Sir Arthur Clark segera terbang ke negeri pulau di Laut Tengah itu dari cuti berobatnya di Inggris. Begitu tiba Arthur langsung “disuguhi” pemandangan mengerikan berupa tiga petani Turki tewas disandarkan di depan gerbang depannya. Di Rumahsakit Umum Nicosia, setidaknya tiga pasien berdarah Turki tewas ditembak. Keesokannya, 24 Desember, para milisi Yunani menyerang desa Mathiatis Ayios Vasilios. Sekira 59 warga berdarah Turki dibunuh malamnya. Pada awal 1964, Palang Merah Internasional bersama pasukan Inggris berhasil menemukan 21 jasad warga Turki yang dibunuh dan dipendam dalam lubang yang sama. Pertempuran masih berlangsung pada 24 Desember malam ketika Arthur bersama Mayjen Peter Young (komandan pasukan Inggris), Presiden Makarios dan pemimpin perwakilan Turki merundingkan gencatan senjata. Meski gencatan senjata berhasil dilaksanakan saat Natal, pertempuran kembali pecah hari berikutnya. “Di Omorphita pada 27 Desember, 550 orang disandera dan ditahan di sekolah Kykkos, tempat mereka bergabung dengan 150 sandera asal Kumsal. 550 di antaranya dibebaskan pada 31 Desember 1963,” tulis Paul Cassia. Namun, pertempuran berangsur mereda setelah pasukan gencatan senjata gabungan di bawah Mayjen Peter Young, yang dibentuk pada 24 Desember malam, dapat menguasai keadaan dan menegakkan hukum hingga pasukan perdamaian PBB tiba tahun berikutnya. Kota Nicosia dibagi menjadi dua, dengan utara diperuntukkan bagi warga berdarah Turki, berdasarkan garis yang dibuat pada rapat 24 Desember malam. Selain menyebabkan puluhan ribu warga dari kedua etnis mengungsi dan beberapa ribu di antaranya tak pernah kembali ke rumah mereka, “Natal Berdarah” itu merusak 270 masjid dan menewaskan lebih dari 300 warga Siprus Turki serta lebih dari 150 warga Siprus Yunani. “Tidak masuk akal untuk mengklaim, seperti yang dilakukan oleh orang Siprus Yunani, bahwa semua korban jiwa disebabkan oleh pertempuran antara orang-orang bersenjata dari kedua belah pihak. Pada Malam Natal, banyak orang Siprus Turki diserang dan dibunuh secara brutal di rumah mereka di pinggiran kota, termasuk istri dan anak-anak seorang dokter yang diduga oleh sekelompok pria yang terdiri dari 40 orang, banyak yang memakai sepatu bot tentara dan mantel besar. Meskipun Siprus Turki melawan sebisa mungkin dan membunuh beberapa milisi, tidak ada pembantaian terhadap warga sipil Siprus Yunani," demikian diberitakan The Guardian  edisi 31 Desember 1963. Ayah Paul Cassia merupakan satu di antara yang jadi korban tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai "Natal Berdarah" itu. Dia tak pernah terlihat lagi sejak terakhir kali ditelepon Paul dan kakaknya. “Ayah saya menghilang pada 1963. Dia adalah salah satu orang pertama yang dinyatakan hilang. Saya tidak menemukan apa yang terjadi sampai beberapa minggu kemudian. Seorang teman ayah saya, yang juga seorang Siprus Yunani, memberi tahu saya apa yang telah terjadi. Tak lama setelah kami berbicara dengan ayah, sekelompok pasukan EOKA pergi ke pabrik dan bertanya apakah ada warga Siprus Turki yang bekerja di sana. Pemilik pabrik berkata bahwa hanya ada satu, tetapi dia baru saja pergi. Orang-orang EOKA pergi ke atap pabrik dan menembak ayah saya. Kami pergi ke pabrik untuk mengkonfrontasi tentang ayah saya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang mereka tahu hanyalah bahwa dia menghilang saat bertugas,” sambung Paul.*

  • Ketika Hatta Merayakan Natal di Jerman

    JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mengenal negeri-negeri di Eropa. Lalu atas usulan Dahlan, keduanya sepakat berkeliling Jerman dan Eropa Tengah. Mereka berencana menghabiskan waktu seminggu di sana. Hatta memulai perjalannya pada 20 Desember, dengan perkiraan kembali ke Belanda tanggal 27 Desember. Ia berangkat dengan kereta api dari Den Haag menuju Hamburg. Turun di stasiun, Hatta lalu berkeliling ke Berlin, Praha, Wina, dan Munchen. Di masing-masing tempat ditentukan bahwa keduanya akan menetap selama satu atau dua hari. “Di masa itu aku melihat perbedaan nilai uang yang hebat. Uang Gulden  Belanda berbanding dengan Mark  Jerman seperti 1 dan 100. Sebelum Perang Dunia I perbandingannya 10 dan 6. Satu Mark nilainya 60 sen Belanda. Jerman mulai dipukul inflasi. Uang Austria inflasinya lebih hebat lagi,” ujar Hatta. Pengalaman itu ia bagikan dalam otobiografinya, Memoir . Di Jerman, Hatta menemui kenalannya, Tuan Le Febvre, bekas residen di Sumatra Barat yang tinggal di Hamburg setelah pensiun. Sedangkan Dahlan juga mempunyai kenalan di sana, namanya Usman Idris. Kawannya itu berasal dari Bukittinggi. Ia datang ke Nederland setelah PD I, sekira tahun 1919, dan memilih menetap di Jerman setelah kesulitan bertahan hidup di Belanda. Berkat itu, Usman Idris menjadi teman berkeliling Hatta di Jerman. Selama pergi melancong itu, Hatta menyewa kamar pada Frau Jachnik di Papendamm. Di rumah tersebut terdapat empat kamar dan ditinggali oleh empat orang anggota keluarga. Dua di antaranya disewakan kepada Hatta. Setiap pagi, mereka mendapat sarapan gratis. Menurutnya, biaya hidup di Jerman murah sekali jika dibandingkan dengan Belanda. “Keluarga itu mempunyai seorang anak laki-laki kecil, berumur kira-kira 4 tahun,” ujar Hatta. “Mereka gembira sekali dan sangat berterima kasih, waktu malam sebelum Natal kami bawakan bagi mereka kue Natal dan untuk anaknya sebuah mainan, pasangan kereta api yang dapat berjalan sendiri atas lingkaran relnya. Supaya dapat berjalan berkeliling pernya diputar dulu.” Pada perayaan Natal, 25-26 Desember, Hatta banyak menghabiskan waktu di kediaman Le Febvre. Dan berkat keramahan si tuan rumah yang menahan mereka untuk kembali terlalu cepat ke Belanda, rencana berlibur seminggu di Eropa Tengah terpaksa diubah. Hatta dan Dahlan memutuskan menetap lebih lama di Jerman. Setidaknya sampai pergantian tahun. Le Febvre meminta Hatta melihat suasana Natal di Jerman, yang mungkin tidak akan ditemukan di Nederland. “Lihatlah cara rakyat Jerman merayakan hari-hari Natal dan Tahun Baru. Lucu sekali, sekalipun mereka dalam kesusahan dan kesukaran hidup,” kata Le Febvre. Dalam kunjungannya ke Jerman itu Hatta tidak lupa mengunjungi sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Kecintaannya terhadap buku membuatnya memborong banyak sekali judul dari berbagai penulis terkenal. Ditambah lagi harganya yang amat murah. Bagi orang Jerman mungkin akan terasa mahal, namun berhubung Hatta memakai gulden , harga sudah bukan jadi persoalannya. Sebanyak lebih dari 10 buku ia beli dari sana dan dengan bantuan Universitas Hamburg, buku-buku itu dikirim ke alamat tempat tinggalnya di Rotterdam. “Selama di Hamburg masih sempat kami pada suatu malam bersama-sama dengan Dr. Eichele dan Usman Idris melihat opera. Sebelum menonton kami makam malam dahulu pada sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum, aku pesan air es. Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa,” kata Hatta.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page