top of page

Hasil pencarian

9844 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Misteri Pembela Omar Dani

    Sehari sebelum sidang perkaranya di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang dijadwalkan pada 1 Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya TNI Omar Dani akhirnya bertemu dengan R. Soenario, yang dipilih Teperpu untuk menjadi pembelanya. Dani berharap Soenario akan memberi banyak masukan hukum untuk persiapan sidang. Namun, Dani ternyata salah berharap. “Pembela tersebut dalam pertemuan pertamanya dengan Omar Dani hanya menyibukkan diri dengan segala macam cerita yang tidak ada hubungannya dengan tuduhan yang telah ditujukan kepada Omar Dani, kliennya,” tulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku . Selain membanggakan diri dengan menceritakan kesuksesannya ketika menangangi kasus Jungschlager, mantan tentara Belanda yang mendukung Gerakan APRA-Westerling, Soenario hanya bercerita tentang hal-hal remeh yang sama sekali tak berkait dengan permasalahan hukum yang dihadapi kliennya. Ketika diminta Dani membicarakan soal hukum, Soenario dengan enteng menjawab belum sempat membaca tuduhan, terlebih berita acaranya Dani. Soenario tak sedikitpun menunjukkan simpatinya. Sebelum berpisah, Soenario menyarankan agar Dani mengatakan di persidangan semua yang diketahuinya dan Soenario paling banter hanya bisa menolong Dani dengan menurunkan vonis dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Perkataan dan perbuatan Soenario jelas mengecewakan Dani. Lebih jauh, hal itu juga janggal dalam sebuah hubungan antara pengacara dengan kliennya. Bila pada umumnya pengacara akan selekasnya menemui klien untuk mendapatkan keterangan selengkap mungkin mengenai perkara yang membelit kliennya, Soenario sejak awal ditunjuk membela Dani tak menyediakan waktu untuk menemui Dani. “Dia bukan pembela pilihan Omar Dani, melainkan pembela yang diberikan, ditugaskan untuk bertindak sebagai pembela Omar Dani. ‘Penugasan’ itu tentu mengandung muatan-muatan yang hanya diketahui oleh pemberi tugas,” sambung Benedicta dan Soeparno. Tak jelas siapa orang yang menunjuk Soenario sebagai pembela Dani. Penunjukan Soenario dan perilaku yang diperlihatkannya sama-sama menunjukkan kejanggalan seperti yang terjadi pada sidang-sidang Mahmilub. “Pada Desember 1966, mantan Men/Pangau Laksdya Omar Dani diajukan ke muka Mahmilub. Mahmilub ini ternyata bukan untuk membuktikan kesalahan Omar Dani semata, lebih dari itu digunakan untuk membuktikan keterlibatan dan dukungan Presiden Sukarno kepada G30S. Akibatnya, sidang yang dipublikasi secara luas ini menimbulkan dorongan kuat bagi para penentang Presiden Sukarno untuk melakukan aksi-aksi penggulingan terhadap dirinya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Puasaran Politik . Yang pasti, penunjukan Soenario terjadi setelah permohonan Dani untuk mengajukan pembelanya ditolak. Pada Oktober 1966, ditanyai Teperpu apakah ingin mengajukan pembela sendiri atau tidak dalam persidangannya kelak. Mendapat secercah harapan itu, Dani lalu mengajukan nama Oei Tjoe Tat, mantan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden, sebagai pembelanya. Karena nama Oei ditolak dengan alasan sedang ditahan juga, Dani lalu mengajukan nama Mr. Sartono, pengacara Bung Karno di masa penjajahan, dan Mr. Iskak Tjokroadisurjo. Kedua nama tersebut dikenal sebagai ahli hukum sejak zaman kolonail dan bersama Bung Karno mendirikan PNI. Sekira dua pekan sebelum sidang perdananya (1 Desember 1966), Dani mendapat pemberitahuan bahwa dua nama yang diajuakannya sebagai pembela ditolak. Pihak Teperpu beralasan penolakan Sartono dan Iskak diambil karena keduanya telah mengajukan persayarakat yang sudah patut diketahui bahwa persyaratan tersebut tidak akan mungkin dipenuhi Teperpu. Dani yang penasaran pun mengejar dengan pertanyaan, persyaratan apa yang membuat Sartono dan Iskak jadi ditolak. Dani tak mendapatkan jawabannya karena Teperpu bungkam. Alhasil, Dani pun terpaksa menerima Soenario. Sebelum memasuki ruang sidang pada 15 Desember 1966 dengan agenda pembacaan tuntutan, Soenario menemui Dani di ruang tunggu gedung Mahmilub (kini Gedung Bappenas). Dia mengutarakan sesuatu. “Dia tidak mau membicarakan mengenai tuduhan dengan alasan bahwa dia juga diminta bertemu oleh ayah Omar Dani, di samping dia menyatakan masih belum siap mempelajari berkas-berkas perkara,” ujarnya sebagaimana ditulis Benedicta-Soeparno. Pernyataan janggal Soenario itu tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak Dani. Namun, Dani tak melanjutkan. Dia terus menjalani sidang demi sidang hingga akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahmilub pada 23 Desember 1966. Dalam perjalanan, Dani akhirnya menjalani hukuman penjara seumur hidup meski pada suatu periode dia sempat tiap malam menunggu regu tembak yang akan mengakhiri hidupnya. Dalam masa penahanan panjang itu, Dani yang mulanya tak diizinkan mendapat besuk dari keluarga akhirnya bisa mendapat besukan istri dan anak-anaknya kendati jarang. Dalam pertemuan pertama dengan istri dan anaknya itulah Dani mendapatkan informasi yang sedikit menguak “permainan” di balik persidangannya. Ternyata, tak pernah sekali pun orangtua Dani meminta seperti apa yang dikatakan Soenario. Pun dengan Sri Wuryanti istri Dani. Sebaliknya, Wuryanti malah memberi informasi yang membuka tabir misteri adanya "permainan" di balik pemilihan Sonario sebagai pembela Dani. “Teperpu telah bohong. Aku datang kepada Pak Sartono dan beliau mengatakan, ‘Jeng, katakan pada suamimu, Mas Omar Dani, bahwa saya dan Iskak tidak hanya mau, tetapi ingin membela suamimu, tetapi Teperpu tidak mengijinkan kami berdua bertemu dengan Mas Omar Dani sebelum sidang. Lha, itu namanya hukum apa??” kata Wuryanti menirukan perkataan Sartono, dikutip Benedicta-Soeparno.

  • Pernyataan Bersama AD-AURI yang Tak Disetujui

    Setelah Peristiwa G30S pecah, para anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terkena getahnya. Banyak personil AURI yang dilecehkan dan dihina. Perwira tinggi tak menjadi pengecualian. Laksamana Muda Udara Aburachmat mobilnya dengan sengaja ditabrak oleh jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kata mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksmana Madya Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku  yang ditulis Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno. Perlakuan diskriminatif akibat berita bahwa AURI terlibat di dalam Peristiwa G30S itu juga diterima para keluarga mereka. “Mobil-mobil WARA ditabraki, Ibu-ibu AU di pasar diludahi dan lain-lain,” kata Omar Dani dalam kesaksiannya kepada JMV Soeparno M. Cholil yang dimuat di buku Menyingkap Kabut Halim 1965 . Namun, perlakuan tersebut tak diterima para anggota AURI yang bertugas di Pangkalan AU (PAU) Atang Sanjaya, Bogor. Menurut Kolonel (Purn.) Pramono Adam, hal itu terjadi berkat kerjasama erat antara PAU Atang dengan Kodam Siliwangi yang dipimpin Mayjen Ibrahim Adjie. “Pak Ibrahim Adjie juga ngomong, AU tidak terlibat secara institusional. Kalau ada paling oknum. Dengan kita (Adjie) sudah sering ketemu, jadi tau situasi yang sebenarnya. Maka terus hubungan kita dengan Pak Ibrahim Adjie baik sekali,” kata Pramono kepada Historia  tahun lalu. Keyakinan Adjie bahwa AU tidak terlibat secara institusional membuatnya bersikap untuk memberi keamanan lebih kepada para personil AURI di wilayah kekuasaannya agar terhindar dari perlakuan-perlakuan buruk seperti yang diterima personil-personil AURI di Jakarta dan tempat-tempat lain. Dalam briefing  oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor, 4 Oktober 1965, Adjie menyempatkan menemui Menpangau Omar Dani sebelum briefing dimulai. Dani saat itu tinggal di Paviliun 3 Istana Bogor. “Mayjen Ibrahim Adjie sempat datang di Paviliun 3 dan mengusulkan kepada Omar Dani untuk membuat pernyataan bersama antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara,” tulis Bendicta-Soeparno. Dani yang menganggap ide Adjie amat bagus langsung mengiyakan ajakan sang tamu. Dia lalu mengajak Adjie mengkonsep pernyataan bersama itu yang berpijak pada amanat presiden agar merapatkan barisan dan menghentikan pertumpahan darah. Setelah selesai, pernyataan bersama itu dibawa Adjie yang menjanjikan akan menyerahkannya kepada Mayjen Pranoto Reksosamodra selaku caretaker  Menpangad. Namun hingga keesokan harinya, 5 Oktober, pernyataan bersama itu belum juga diumumkan. Maka ketika bertemu dengan Mayjen Pranoto di rapat pleno kabinet yang diadakan presiden di Istana Bogor, 6 Oktober, Dani memerlukan mengajak Pranoto mampir ke paviliunnya. Di tempat tinggal sementaranya itu Dani menanyakan kabar surat pernyataan bersama yang telah dibuatnya bersama Mayjen Adjie. “Jen. Soeharto tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Saya tidak bisa apa-apa!” kata Pranoto, dikutip Bendicta-Soeparno. Jenderal Soeharto yang dimaksud merupakan panglima Kostrad yang setelah G30S mengambilalih pimpinan AD.  Dani hanya bisa kecewa mendengar jawaban Pranoto. Sementara, semakin hari AURI semakin dipojokkan di masyarakat. Hal itu bahkan dialami sendiri oleh Dani ketika sudah pindah ke PAU Atang, Semplak pada 9 Oktober. Dani mengetahui bahwa beberapa personil RPKAD selalu berada di sekitar PAU untuk mengawasi. Lantaran merasa tak nyaman, Dani memerintahkan Dan PAU Atang Kolonel Udara Soewoto Soekendar agar meminta Danrem Bogor menghadap kepadanya. Di hadapan Dani, Danrem berjanji akan menjaga keamanan Dani beserta keluarga yang saat itu tinggal di Atang. Maka sejak itu, Dani merasa lebih aman. Tak jelas apakah sikap Danrem Bogor tersebut merupakan inisiatif pribadi atau perintah dari Pangdam Mayjen Adjie. Sebab, ketika Panglima Komando Regional Udara (Korud) Kolonel Udara Ashadi Tjahjadi menghadap Dani di PAU Atang pada 12 Oktober untuk menyampaikan permintaan bantuan air support dari Mayjen Adjie, Dani mendapatkan laporan kesepakatan yang dibuat Ashadi dengan Adjie. “Panglima Korud Jabar/Komandan Pangkalan Angkatan Udara Husein Sastranegara, Kol. Ud. Ashadji Tjahjadi datang di PAU Atang Sanjaya, Semplak untuk melaporkan bahwa dia telah menandatangani Pernyataan Bersama antara Kodam Siliwangi dan Korud Jabar yang ditandatangani oleh Mayjen Ibrahim Adjie dan Kol. Ud. Ashadi Tjahjadi, atas inisiatif Mayjen Ibrahim Adjie sebagai gantinya Pernyataan Bersama antar sesama angkatan, AD-AU,” tulis Benedicta-Soeparno.

  • Triple Agent di Indonesia

    WOLFGANG Reif tiba di Jakarta pada 1971 untuk bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Demokratik Jerman atau biasa disebut Jerman Timur. Tak lama kemudian, dia direkrut oleh HVA (Hauptverwaltung Aufklarung), badan intelijen luar negeri Jerman Timur, bagian dari Stasi (Ministry of State Security atau State Security Service).

  • Joe Biden dan Pemimpin Gagap

    JOSEPH Robinette Biden Jr. alias Joe Biden dari Partai Demokrat untuk sementara memimpin perolehan suara Pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2020 (Rabu, 4 November WIB). Data Associated Press  per Rabu (4/10/2020) pukul 11 malam WIB menunjukkan, Biden unggul 238 electoral votes  dari Donald Trump yang diusung Partai Republik (213 electoral votes ). Untuk menang, salah satu kandidat harus meraup 270 electoral votes . Meski punya keyakinan besar, Biden berusaha untuk sabar menunggu perhitungan perolehan suaranya 100 persen rampung. “Bukan kewenangan saya atau Donald Trump untuk mendeklarasikan kemenangan pemilu ini. Melainkan kewenangan para pemilik suara. Kami senang dengan keunggulan kami. Kami percaya sudah berada di trek yang benar untuk memenangkannya,” kicau Biden di akun Twitter -nya, @JoeBiden , Rabu (4/10/2020). Bersama Kamala Harris sebagai calon wakil presidennya, Biden menang di 23 negara bagian. Jika Biden resmi terpilih jadi presiden Amerika ke-46, dia akan jadi presiden pertama yang punya kekurangan dalam berbicara di depan publik, yakni gagap.   Lahir di Scranton, Pennsylvania, 20 November 1942 sebagai anak sulung pasangan blasteran Irlandia-Prancis, Catherine Eugenia Finnegan dan Joseph Robinette Biden Sr., sejak kecil Biden sudah mengalami gagap bicara. Dituliskan Michael V. Uschan dalam biografi, Joe Biden , kegagapannya makin parah semenjak usia sekolah. “Sejak kecil ia sudah gagap dan tak pernah jadi masalah serius sampai dia mulai sekolah. Sebelumnya, teman-teman dan keluarganya menerima apa adanya dan dia tak merasa malu ketika tiba-tiba berhenti saat bicara. Namun kegagapan Biden semakin buruk di sekolah karena dia gugup bicara di depan orang banyak yang tak dikenal,” ungkap Uschan. Joe Biden (kiri) bersama Kamala Devi Harris sebagai Capres-Cawapres Amerika di Pilpres 2020. ( joebiden.com ). Tak ayal, Biden acap jadi korban olok-olok baik oleh teman-teman sekolahnya maupun gurunya. Pernah suatu ketika di masa sekolah dasar di St. Helena School, Pennsylvania, Biden diejek  “Tuan Bu-bu-bu-Biden” oleh kepala biarawati Suster Agnes Constance yang mengajar di kelasnya. Ejekan itu membuat Biden mengadu pada ibunya. Tanpa pikir panjang sang ibu pun mendatangi sekolah dan mencari biarawati perundung putranya. Dalam memoarnya, Promises to Keep: On Life and Politics, Biden mengenang sang ibu mendatangi sekolahnya dengan membawa Biden dan Frank adiknya yang masih bayi. Sang ibu langsung melabrak suster di ruang kepala sekolah. Meski Biden menunggu di luar ruangan, ia masih ingat betul pembicaraan itu yang terdengar sampai ke luar. Sang ibu menyela penjelasan yang diberikan suster. “Saya tahu itu, Suster, tapi apa yang Anda katakan?” “ Well , Nyonya Biden, saya tidak sungguh-sungguh mengatakan…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “ Well , itu tidak relevan, nyonya…” “Apakah Anda mengatakan Bu-bu-bu-bu-Biden?” “Ya, Nyonya Biden, saya saat itu sedang menjelaskan…” “Jika Anda bicara pada putra saya seperti itu lagi, saya akan kembali dan mencabik-cabik kerudung di kepala Anda. Apakah Anda mengerti?” kata sang ibu yang langsung membanting pintu kantor kepala sekolah dengan keras sembari membawa pulang Frankie dan memerintahkan Biden kembali ke kelas. Catherine Eugenia Finnegan bersama anak-anaknya. ( joebiden.com ). Setelah pengaduan akibat olok-olok terakhir itu, Biden tak pernah lagi mengadu walau perundungan tetap dialaminya bahkan hingga masa kuliah. Perundungan yang diterimanya terus berlangsung tak peduli Biden merupakan pemuda cakap dalam olahraga American footbal dan bisbol sejak SMA. Julukan-ejekan seperti “Joe Impedimenta” (Joe cacat) atau “Joe Dash” tetap diterimanya. “’ Dash ’ (tanda pisah, red. ) jadi julukan semenjak saya main American football. Saya memang cepat dan mencetak banyak touchdown . Tapi mereka memanggil saya ‘Dash’ lebih kepada saya bicara seperti kode Morse. Titik-titik-titik-titik- dash-dash-dash-dash, ” tambah Biden. Meski tak pernah mengatasinya dengan terapi, Biden berusaha mengurangi kegagapannya dengan banyak membaca puisi di depan cermin sejak masuk Archmere Academy di Claymont. Kegagapannya berulang-kali tetap muncul hingga ketika Biden menjadi wakil presiden Amerika ke-47 mendampingi Barack Obama (2009-2017). Toh, Biden bukan satu-satunya tokoh politik yang memiliki kegagapan bicara. Jauh sebelumnya, raja Inggris juga mengalami hal yang sama. George VI, Raja yang Gagap Raja Inggris George VI (1936-1952) diketahui juga punya kelainan syaraf yang sama dengan Biden. Raja yang lahir pada 14 Desember 1895 dengan nama Pangeran Albert Frederick Arthur George ini juga sudah mengalami kelainan gagap sejak kecil. Akibatnya ia tumbuh jadi bocah pendiam. Bicaranya hanya lancar di depan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun, menurut Mark Logue dan Peter Conradi dalam The King’s Speech: How One Man Saved the British Monarcy , publik baru mengetahui bahwa anak kedua Raja George V itu gagap ketika diminta berpidato pada upacara penutupan sebuah pameran di British Empire Exhibition Stadium (kini Stadion Wembley), 31 Oktober 1925. Pada 1926, sang pangeran mencoba mengatasinya dengan mengambil jasa terapis Lionel Logue. Sang pangeran dikenalkan kepada terapis asal Australia itu oleh kerabatnya, Lord Stamfordham. “Tuan Logue mendapati diagnosa bahwa George mengalami koordinasi (syaraf) yang buruk antara pangkal tenggorokan dan diafragma toraksnya. Ia menyarankan George untuk terapi vokal harian,” tulis Conradi dan Mark Logue, cucu Lionel Logue. Lionel George Logue, terapis pidato Raja George VI. ( npr.go.uk ). Sejak saat itu Logue rutin menerapi sang pangeran. Terapi makin intens setelah George diangkat menjadi raja pada Desember 1936 menggantikan kakaknya, Edward VIII, yang tak punya keturunan. Kendati demikian, tak pernah ada catatan detail metode apa yang digunakan dalam terapi rutin harian Logue terhadap pasien terpentingnya itu. Yang pasti terapi yang dilakukan di ruang tertutup itu membuat Raja George lebih rileks menghadapi publik. “Terapi (Logue) membuat George lebih bisa rileks dan menghindari kejang otot. Hasilnya, public speaking -nya meningkat pesat tanpa tergagap-gagap. Tuan Logue ikut menggerakkan lidah dan mulut untuk mendorong latihan pidato yang akan disiarkan di radio,” lanjutnya. Bimbingan terpenting Logue terjadi menjelang pidato radio deklarasi perang Inggris terhadap Jerman Nazi yang dikumandangkan Raja George VI pada 3 September 1939. Raja George VI tak boleh sekali pun terganggu gagap dalam pidato itu lantaran raja menjadi simbol terpenting yang jadi pegangan rakyatnya menyongsong Perang Dunia II. Raja George VI saat menyampaikan pidato 3 September 1939 menyatakan perang terhadap Jerman. ( thecrownchronicles.co.uk ). Maka sebelum pidato itu disiarkan, naskah dipelajari Logue terlebih dulu. Logue memberikan banyak coretan di naskah tersebut sebagaimana dilihat Mark Logue sang cucu yang memegang satu salinannya. Coretan itu dijadikan Logue sebagai penanda di mana sang raja harus berhenti bicara dan mengambil nafas, lalu melanjutkannya lagi. “Garis-garis vertikal ini dijadikan penanda berhenti sementara agar sang raja bisa mempersiapkan otot syarafnya untuk mengeluarkan suara di kata-kata berikutnya tanpa ragu dan gagap. Ada juga coretan untuk mengganti beberapa kata yang sulit dengan kata yang lebih mudah untuk diucapkan raja,” tandas Mark Logue. Upaya Logue berhasil. Pidato Raja George VI pada 3 September 1939 itu menjadi salah satu pidato ikonik pada Perang Dunia II. Pidato tersebut membakar semangat rakyatnya untuk bersiap menghadapi pasukannya Adolf Hitler.

  • Oligarki Zaman Kuda Gigit Besi hingga Era Jokowi

    ISU RUU Cipta Kerja yang belum lama ini diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga perihal Pilkada 2020 menyebarkan lagi aroma oligarki. Sangitnya bau oligarki tak hanya jadi pembicaraan di ruang-ruang diskusi formal, tapi juga di beraneka media sosial. Hingga lebih dari 20 tahun pasca-Reformasi di negeri ini, oligarki belum musnah meski sudah eksis semenjak zaman kuda gigit besi. Meski sederhanya oligarki merupakan sistem kekuasaan yang terpusat pada segelintir orang saja, kenyataannya yang terjadi lebih rumit daripada itu. Menurut Vedi R. Hadiz dan Richard Robison dalam Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets , oligarki, terutama di Indonesia, adalah suatu sistem kekuasaan yang terstruktur di mana terjadi fusi antara kekuatan politik birokratis dan kekuatan ekonomi. Konseptualisasinya, oligarki jadi sistem di mana kekuatan birokrasi yang memegang kendali sumber daya ekonomi bisa bergandengan tangan dengan kelompok yang punya kepentingan bisnis untuk meraup keuntungan bersama. “Oligarki yang ada di Indonesia sangat berkaitan erat dengan perkembangan kapitalisme di Indonesia. Kapitalisme sudah bersentuhan dengan Indonesia memang dari zaman Belanda tapi karena sifat dari struktur ekonomi kolonial itu sangat mercantil, dampaknya terhadap perubahan struktur sosial di internal masyarakat itu cenderung masih terbatas,” ujar Vedi dalam diskusi daring Historia.id  bertajuk  “Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia” , Kamis (5/10/2020). Lima tahun pasca-Indonesia merdeka, warisan kolonial itu sempat ingin diberangus lewat Program Benteng dan sisten ekonomi “Ali-Baba”. Tujuannya, tulis Irvan T. Harja dalam Metakuasa Perdagangan Global , adalah membangun kelas pengusaha nasional dari kaum pribumi. “Program-programnya di sektor perbankan komersil, pemerintah memberi bantuan dana kepada bank-bank swasta domestik. Di sektor manufaktur, dirancang Soemitro Djojohadikusumo dengan Program Darurat Ekonomi. Juga di sektor pertanian dengan memasukkan investasi asing,” ungkap Irvan. Namun program-program itu secara umum kandas pada 1957. Menurut Vedi, akar oligarki kolonial di struktur sosial-ekonomi masyarakat Indonesia belum habis sepenuhnya. Tak peduli di masa itu juga muncul beragam ideologi yang dibawakan partai-partai politik. “Tahun 1950-an ideologi banyak bermunculan karena konsolidasi negara pascakolonial belum terjadi secara penuh. Jadi antara merosotnya negara kolonial sampai dengan 1965 adalah masa di mana negara belum rekonsolidasi. Lalu Program Benteng itu juga gagal jauh sebelum 1965,” sambung Vedi. Profesor Vedi R. Hadiz dalam Dialog Sejarah "Riwayat dan Praktik Oligarki di Indonesia". ( Historia.id ). Kegagalan Prorgam Benteng antara lain disebabkan oleh penyalahgunaan si pemegang wewenang.  “Karena orang-orang yang diberikan fasilitas oleh negara itu menjualnya lagi. Bisnis yang sudah lebih tertanam kuat karena dia mempunyai posisi yang sudah lebih stabil karena dia lahir di dalam struktur sosial kolonial, jadinya dijual lagi. Tadinya kan ingin menggantikan orang-orang Tionghoa di kelas tengah yang dominan dalam bisnis. Karena di zaman kolonial mereka enggak boleh jadi petani, makanya masuk dalam perdagangan dan jadi perantara antara ekonomi tradisional dan modern yang dikuasai kolonial,” lanjutnya. Oligarki, lanjut Vedi, melejit lebih pesat di masa Orde Baru (Orba). Pasca-Sukarno jatuh dan digantikan Soeharto, kapitalisme dengan perekonomian nasionalnya secara dahsyat menyerbu Indonesia dan mempengaruhi penataan kembali struktur sosial dan ekonomi domestik. “Kita lihat di masa Orba muncul kelas kapitalis besar modern. Kelas borjuasi besar. Ini tidak mungkin berkembang tanpa hubungan dengan kekuasaan negara. Sampai sekarang pun hubungan bisnis dan politik terstruktur dengan cara yang berkaitan dengan asal-usulnya, bahwa bisnis besar diinkubasi oleh kekuasaan negara lewat kebijaksanaan-kebijaksanaan preferensi, proteksionisme, kredit, subsidi dsb.. Yang disebut-sebut sebagai bisnis-bisnis cukong itulah yang dimaksud sebagai kapitalisme Orba,” imbuh profesor kajian Asia di University of Melbourne itu. Dengan fokus pada pembangunan ekonomi, pemerintahan Orde Baru mengesampingkan aspek-aspek lain seperti politik demi tujuan utamanya tersebut. “Di zaman Orba situasi politik sudah enggak seperti 1950-an. Setelah masuk (zaman) Orba adalah representasi dari rekonsolidasi negara dari zaman kolonial. Lalu munculnya borjuasi besar sangat dimungkinkan karena ada situasi historis yang sangat spesifik, yaitu terjadinya boom minyak tahun 1970-an yang menyebabkan negara punya revenue yang besar, hingga memungkinkan memainkan peranan yang dominan untuk bisa memilih lahan bisnis apa yang dikembangkan, siapa yang boleh dan tidak boleh dikasih subsidi, kredit, dan proteksi,” tambah Vedi. Oligarki dari pusat itu lantas menjamah sejumlah daerah yang lantas berkaitan erat dan aristokrasi. Walaupun begitu, di era Orba oligarki masih terpusat dan ujung-ujungnya tak pernah lari dari Cendana (kediaman Soeharto) dan kroni-kroninya. Reinkarnasi Oligarki di Masa Reformasi Kala terjadi geger 1998 yang bermula dari krisis ekonomi yang berujung Reformasi, oligarki sempat mati suri. Namun kemudian ia berreinkarnasi dan bertransformasi. Tak lagi tersentralisir, oligarki kemudian terdesentralisir hingga jamak memunculkan “raja-raja kecil”. Hal itu tak lepas dari otonomi daerah (otda). Otda membolehkan pemerintah daerah turut menyediakan fasilitas yang memudahkan kemesraan hubungan keluarga-keluarga birokrasi politik dan keluarga bisnis. “Perkawinan” politik-bisnis itu lantas berfusi dalam kepentingannya dan melahirkan perusahaan-perusahaan. “Apa yang mestinya terjadi di Krisis 1998 itu sebetulnya kan memberikan peluang untuk reorganisasi ekonomi politik secara fundamental karena oligarki pada waktu itu goyah. Ia sempat vakum antara Mei-Agustus 1998, di mana waktu itu kekuatan-kekuatan oligarki kalang kabut,” ujar Vedi lagi. “Tapi tidak ada kekuatan civil society teroganisir yang koheren dan punya grassroot mencukupi, punya visi ideologis, serta agenda masa depan yang bisa menyatukan dan yang bisa mengisi kevakuman itu. Akhirnya setelah Agustus 1998, walau ada tantangan dari luar, reformasi dikendalikan kekuatan oligarki juga. Lalu dibentuk sedemikian rupa agar oligarki itu bertahan,” lanjutnya. Cara yang digunakan untuk mengembalikan oligarki, sambung Vedi, adalah dengan menguasai demokrasi di Indonesia melalui partai-partai besar yang dikuasai kepentingan-kepentingan oligarkis. Lalu kekuatan-kekuatan oligarki berkendaraan partai politik yang di zaman Orde Baru selalu berujung pada Cendana, di era Reformasi sudah bisa bermanuver sendiri dengan lebih cair dan dinamis, hingga membangun kekuatan untuk saling berkompetisi antara satu kekuatan dengan kekuatan oligarki lain. “Mereka saling bersaing menguasai instrumen-instrumen yang mengatur alokasi sumber daya politik dan ekonomi dan itu terjadi terutama di masa Pemilu dan Pilkada. Kalau kita lihat, partai ini kan yang ideologis sekali hampir enggak ada. Praktis semuanya, walau pakai retorika berbeda, pada dasarnya mereka himpunan dari aliansi-aliansi ekonomi politik dan mengorganisirnya untuk berkompetisi di arena politik formal,” terang Vedi. Presiden Soeharto di Orde Baru membuka keran kapitalisme yang meroketkan oligarki. ( nationaalarchief.nl ). Hal itu ibarat “naluri” bertahan oligarki di tengah terbukanya keran demokrasi di masa Reformasi. Oligarki ternyata tak seketika itu lenyap atas nama hak dan kesetaraan dalam demokrasi. “Asumsi yang keliru bahwa oligarki tak bisa beradaptasi dengan demokrasi. Bahwa oligarki bertentangan dengan demokrasi. Tidak seperti itu. Karena di dalam semua masyarakat yang sistemnya demokratis, tidak ada social economy equality . Demokrasi memberi Anda hak politik yang sama, tapi kemampuan Anda menggunakan hak itu tidak sama dengan orang yang punya akses terhadap sumber daya ekonomi yang lebih dari Anda,” jelasnya. Di alam demokrasi, kekuatan-kekuatan oligarki itu juga menyusup ke sebagian besar civil society. Tujuannya agar civil society yang sejatinya bisa jadi pengimbang antara kekuatan bisnis dan politik tak jadi batu sandungan. Sejumlah civil society di Indonesia justru sudah disusupi dan menjadi proxy kekuatan oligarki di akar rumput. “Karena oligarki di Indonesia tidak bisa dibatasi oleh kekuatan terstruktur dan teroganisir yang jadi pembatas terhadap operasi, jangkauan, dan kepentingannya. Misal kalau ada aliansi antara bisnis dan birokrasi di Swedia, ada tantangannya dari kekuatan serikat buruhnya yang berpusat pada civil society -nya, hingga jadi semacam pengimbang. Di Indonesia enggak ada,” tuturnya. Sejak Reformasi hingga era Presiden Joko Widodo praktik oligarki masih lestari. ( setneg.go.id ). Ketiadaan penyeimbang itu membuat panas pertentangan politik, terutama di masa-masa menjelang pemilu. “Ketika terjadi pertentangan politik, terutama di masa Pemilu, muncul mobilisasi massa dan belum tentu itu refleksi suatu gerakan civil society yang dalam benak banyak orang, tapi berkaitan dengan intra-oligarki competition. Jadi sudah disusupi, sudah dibajak untuk memobilisasi massa dengan anggapan atas dasar ideologis. Tapi yang menggerakkan belum tentu dimotivasi oleh pemikiran ideologis,” papar Vedi. Pada akhirnya, oligarki menjadi sistem yang takkan pernah punah di Indonesia. Pasalnya semua partai penguasa pasca-Reformasi, meski dengan kepentingan berbeda yang tak lagi tersentralisir, justru jadi jembatan antara dunia politik dan bisnis. “Kondisi seperti 1998 jarang sekali terjadi dalam sejarah. Kalau bicara bagaimana supaya oligarki itu punah atau hilang, sebetulmya memerlukan krisis lagi walau itu enggak menjamin. Nanti bisa ada kekuatan yang menandingi lagi, berulang lagi. Sehingga kita sekarang berada dalam suasana demokrasi tapi yang oligarkis,” tandasnya.

  • Warna-warni Kehidupan Sean Connery

    SANG “James Bond” pergi dengan tenang. Aktor legendaris Sir Thomas Sean Connery mengembuskan nafas terakhirnya di usia 90 tahun dalam tidurnya di kediamannya di Nassau, Kepulauan Bahama, pada Sabtu (31/10/2020). Disebutkan putra semata wayangnya, Jason Connery, sang ayah memang sudah sakit-sakitan, meski tanpa menyebut penyakit apa yang dideritanya. “Ayah sudah tidak sehat beberapa waktu belakangan ini. Sebuah hari yang menyedihkan untuk semua orang yang mengenal dan mencintai ayah saya dan sebuah kehilangan yang pedih untuk semua orang di dunia yang menikmati bakat luar biasanya sebagai aktor,” ujar Jason sebagaimana disitat BBC , Sabtu (31/10/2020). Siapa tak mengenal Sean yang memerankan sosok agen Inggris 007 James Bond di tujuh seri filmnya selama 1962-1983. Walau kemudian peran James Bond dimainkan aktor-aktor lain, Sean tetap tak tergantikan dan fondasi yang diwarisinya tetap abadi. Sebagai pemeran pertama James Bond di seri perdana, Dr. No (1962), Connery meletakkan fondasi karakter James Bond sebagai karakter pahlawan cerdik, berani, dan elegan. American Film Institute menempatkan Bond sebagai tokoh terhebat ketiga dalam sejarah perfilman versi, di bawah karakter Atticus Finch yang diperankan Gregory Peck dalam film To Kill a Mockingbird (1962), dan karakter Indiana Jones yang dimainkan Harrison Ford dalam film Raiders of the Lost Ark (1981). Menolak Manchester United Thomas Sean Connery menyapa dunia kala depresi ekonomi melanda Eropa. Ia lahir di Fountainbridge, ujung barat kota Edinburgh, Skotlandia pada 25 Agustus 1930 sebagai anak pertama pasangan Joseph Connery, pengemudi lori sebuah pabrik karet, dan Euphemia McBain McLean, asisten rumah tangga. Kakek Sean dari Joseph Connery merupakan imigran Irlandia yang pindah ke Skotlandia pada pertengahan abad ke-19. Walau hidup dalam keadaan melarat, Sean masih bisa mencicipi bangku sekolah. Namun ketika adiknya, Neil, lahir pada 1938, Sean memutuskan harus ikut membantu menopang ekonomi keluarga. Di usia sembilan tahun, ia menyambi jadi tukang pengantar susu untuk koperasi St. Cuthbert’s Co-operative Society. “Latarbelakang masa lalu saya sangat keras. Keluarga kami miskin walau saya tak pernah tahu seberapa melaratnya hingga bertahun-tahun kemudian,” tutur Sean dalam biografi yang ditulis Michael Feeney Callan, Sean Connery . Di masa muda Sean Connery sempat bertugas jadi awak Kapal Induk HMS Formidable. ( Twitter @OnthisdayRN). Sean kecil bahkan kemudian punya satu pekerjaan sambilan lain, yakni jadi pembantu di sebuah toko daging. Dengan dua perkerjaan part-time itu Sean membawa pulang tiga poundsterling dalam sepekan untuk menambah uang sewa rumah orangtuanya. “Di luar sekolah dan waktu kerja, kegemaran utama Tommy (panggilan kecil Sean Connery) adalah sepakbola. Di sebuah distrik yang populasinya padat, lapangan luas untuk bisa bermain bola lengkap dengan wasitnya adalah hal yang mahal. Connery sudah getol bermain bola sejak dia bisa berjalan. John Brady, teman kecil Connery, mengatakan, keunggulan Connery dalam bermain bola adalah dia bisa berlari cepat,” lanjut Callan. Setahun setelah Perang Dunia II selesai, Sean masuk Angkatan Laut Inggris. Dia masuk Sekolah kru meriam antipesawat di Pangkalan AL Portsmouth. Setelah lulus sebagai kelasi, ia ditempatkan di kapal induk HMS Formidable. Tapi itu hanya dijalaninya sebentar lantaran pada 1948 ia dibebastugaskan akibat punya penyakit duodenal ulcer di usus 12 jari. Namun baginya, tiada kata patah arang. Di usia 18 tahun dengan postur 188 cm, Sean yang aktif melakoni beraneka pekerjaan serabutan. Mulai dari pengemudi lori, penjaga kolam renang, buruh pabrik peti mati, pekerja bagian umum di belakang panggung King’s Theatre, hingga jadi model lukisan di Edinburgh College of Art dijalaninya. Sean bahkan mulai ikut berbagai kontes binaraga setelah berkenalan dengan instruktur fitness Angkatan Darat (AD) Inggris Ray Ellington. Sean Connery (duduk, kedua dari kanan) di tim Bonnyrigg Rose. ( scottishjuniorfa.com ). Profesi itu dijalaninya sambil tetap bermain bola bersama Bonnyrigg Rose dan East Fife FC di level amatir. Kecintaannya pada sepakbola itulah yang membuatnya menarik perhatian pelatih Manchester United Matt Busby yang kagum pada talentanya di lapangan hijau. Di suatu hari pada musim semi 1953 itu, Sean menjalani tur untuk pementasan teater musikal South Pacific di kota Manchester . Dia mendapat peran figuran di situ. Di sela-sela produksi, tim teater South Pacific menggelar pertandingan sepakbola persahabatan dengan sebuah tim amatir lokal. Entah bagaimana ceritanya, ada Matt Busby di pertandingan itu sedang memantau bakat-bakat baru. Menurut Christopher Bray dalam Sean Connery: The Measure of a Man , Busby terkesan dengan postur dan stamina Sean. Sang aktor pun ditawarkan trial satu hari di Old Trafford. Busby yang puas dengan performanya pun menawarkan kontrak senilai 25 pounds (senilai 703 pounds dalam kurs 2019) sepekan. “Sejujurnya sepakbola saat itu memang tak menghasilkan banyak uang, seperti juga dunia teater. Lagipula usia produktif dalam sepakbola tidaklah panjang. Connery sudah akan beranjak 24 tahun dalam beberapa bulan. Sebagus apapun seorang pesepakbola, seberapa besar Busby membantunya membangun talenta, Connery takkan banyak bermain hingga usia 30 tahun. Setelahnya harus kembali banting tulang tanpa masa depan yang jelas,” tulis Bray. Sean akhirnya menolak tawaran Busby untuk berseragam Manchester United. “Saya sangat ingin menerimanya. Tapi saya sadar bahwa pesepakbola top sudah akan masuk puncak kariernya di usia 30 dan saya saat itu sudah 23 tahun. Saya memutuskan untuk jadi aktor saja dan ternyata itu pilihan yang paling cerdas,” kenang Connery di laman federasi sepakbola Skotlandia, scottishfa.co.uk , 2 Juni 2015. James Bond yang Dibenci Dari panggung teater Connery perlahan membangun kariernya di dunia seni peran. Sean kemudian mampu menyewa jasa agen, Richard Hatton, yang membawa kariernya ke layar perak pertamanya. Film Lilacs in the Spring (1954) jadi debut Sean di dunia film meski hanya sebagai ekstra. Tiga tahun kemudian, Sean mendapat peran karakter pendukung bernama Spike di film No Road Back (1957). Dalam film ini untuk pertamakalinya nama Sean Connery muncul di credit film. Setelah ikut membintangi film kolosal bertema Perang Dunia II, The Longest Day (1962), di tahun yang sama Sean mendapat peran sebagai agen Inggris “007” James Bond untuk seri pertama film James Bond , Dr. No. Sejatinya, dia bukan pilihan utama Eon Productions. Pun bukan favorit sang sutradara Terence Young maupun Ian Fleming, pencipta karakter James Bond. Ian merasa badan tegap dan berotot Sean bukan imej yang ingin ia perlihatkan ke publik. “Dia (Connery) bukan sosok yang saya bayangkan tentang penampilan James Bond. Saya mencari figur Komandan Bond dan bukan sosok stuntman berbadan besar,” cetus Fleming, dikutip Paul G. Roberts dalam Style Icons, Volume 2 . Namun, Sean punya kharisma dan postur yang memancarkan daya tarik seks pada para perempuan. Kelebihan inilah yang dilihat Dana Broccoli, istri produser Albert Broccoli, dan Blanche Blackwell, pacar Ian. Keduanya meyakinkan produser dan Ian bahwa Connerylah sosok yang tepat memerankan James Bond. Setelah filmnya rilis, Broccoli dan Fleming tak menyesali bujukan dua perempuan terdekat mereka. Begitu masuk Amerika Serikat, Dr. No langsung menembus jajaran film-film box office . Saking bangganya, Ian sampai menciptakan latarbelakang keluarga James Bond yang punya silsilah asal Skotlandia di novel berikutnya, You Only Live Twice (1964). Di film Dr. No , Sean Connery pertamakali memerankan karakter James Bond. ( 007.com ). Nama Sean meroket setelah itu . Dia memerankan James Bond hingga lima film berikutnya: From Russia with Love (1963), Goldfinger (1964), Thunderball (1965), You Only Live Twice (1967), dan Diamonds Are Forever (1971). Namun seiring menguatnya popularitas James Bond, Sean makin tak betah lantaran imej James Bond acapkali melekat padanya meskipun dia sedang tidak dalam rangka mempromosikan filmnya. Andrew Yule dalam Sean Connery: Neither Shaken Nor Stirred menceritakan, di manapun Sean berada, selalu ada saja yang menyapanya dengan sebutan James Bond. Peduli setan dia memainkan peran berbeda di film-film berbeda, publik sudah mengabadikan imej bahwa Sean Connery adalah James Bond dan James Bond adalah Sean Connery. Itu bikin muak Sean. “Jika Anda masih merasa temannya, Anda takkan mengungkit subyek Bond. Memang dia aktor terbaik untuk memerankannya, namun dia menjadi sosok yang sama dengan Bond. Jika dia berada di jalanan, orang-orang akan berkata: ‘Lihat, itu James Bond!’ Itu yang membuatnya muak dan membencinya (karakter Bond),” ujar Michael Caine, aktor veteran dan sahabat Sean, dikutip Yule. Dalam wawancaranya dengan Majalah Life , 25 Agustus 2015, Sean menyatakan kejengkelannya pada James Bond. “Saya selalu benci James Bond sialan itu. Saya ingin membunuhnya. Saya sudah muak dengan semua imej Bond,” katanya. Karakter James Bond di- franchise-kan oleh Eon Productions kemudian diberikan pada aktor-aktor lain, seperti George Lazenby dan Roger Moore. Sean comeback memerankan Bond di tahun 1983 lewat Never Say Never Again. Namun, saat itu sudah digarap Warner Bros, bukan lagi oleh Eon . Sean Connery terakhir kali memerankan James Bond di film Never Say Never Again.  (Metro-Goldwyn-Mayer Studios Inc.). Bukan hal gampang membujuk Sean untuk mau memainkan James Bond setelah 11 tahun absen. Pasalnya setelah film Diamonds Are Forever (1971), Sean bersumpah takkan mau memerankan James Bond lagi. Tetapi bayaran USD3 juta (USD8 juta kurs 2019) yang ditawarkan produser Jack Schwartzman menggoyahkan sumpah Sean. Sebelum dijuduli Never Say Never Again , film itu diberi tajuk James Bond of the Secret Service . Namun Warner Bros kemudian tergelitik untuk menerima usul istri kedua Connery, Micheline Roquebrune, untuk mengganti judul menjadi Never Say Never Again . Judul ini merujuk pada sumpah yang dilanggar Sean. Maka di credit title akhir, Warner Bros membubuhi kontribusi Micheline: “ Never Say Never Again by: Micheline Connery. ” Tetapi itu bukan hanya film James Bond terakhir Sean. Film itu juga jadi babak akhir Sean terlibat dengan PH besar. Pasalnya banyak perkara sudah membelitnya sejak awal produksi. Selain gugatan Ian Fleming dan PH Eon, perkara lain ialah pertikaian antara produser dan sutradara, masalah finansial produksi, hingga pergelangan tangan Sean yang patah saat berlatih adegan perkelahian dengan koreografer Steven Seagal. Sejak itu Sean jarang mau jadi pemeran utama kalaupun membintangi film ber- budget besar. Sean juga mulai terlibat dalam produksi, baik sebagai produser maupun produser eksekutif sejak di film Rising Sun (1993), dilanjutkan Just Cause (1995), hingga Sir Billi (2012) yang menjadi film terakhirnya sebelum memutuskan pensiun. Namun, bukan karakter James Bond yang membawanya meraih anugerah tertingginya di dunia perfilman, melainkan karakter Jimmy Malone yang diperankannya di film The Untouchables (1987). Lewat Jimmy Malone, Sean menyabet Piala Oscar (Academy Awards). Piala Oscar disabet Sean Connery lewat perannya di film The Untouchables.  (Paramount Pictures/ seanconnery.com ). Sean juga mendapat anugerah BAFTA Film Award dan Golden Globe Awards untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dua anugerah terakhir didapatkannya lagi pada 1989 lewat film Indiana Jones and the Last Crusade. Sean sempat main di 20 serial televisi sebelum pensiun. Sebelum memutuskan pensiun pada 2012, Sean menjadi narator untuk film dokumenter Ever to Excel . Setelah pensiun, Sean memilih Nassau di Kepulauan Bahama –tempat syuting film Thunderball dan Never Say Never Again dilakukan– sebagai kediaman untuk menikmati hari-hari di usia senjanya. Hampir enam dekade (1954-2012) berkecimpung di dunia seni peran, Sean tercatat membintangi 76 film, termasuk dokumenter maupun film pendek. Dunia seni peran membuat Sean jadi salah satu figur paling dielu-elukan masyarakat Skotlandia selain Sir Alex Ferguson (legenda pelatih Manchester United). Polling suratkabar The Sunday Herald pada 2004 mengusung Sean sebagai “The Greatest Living Scot”. “Dia merevolusi dunia dengan potret pemberani dan jenaka dari agen rahasia (James Bond) yang seksi dan karismatik. Tak diragukan lagi dialah orang di belakang kesuksesan film-film seri (Bond) dan kami akan selamanya berterimakasih kepadanya,” tulis Produser Eon Productions Michael G. Wilson dan Barbara Broccoli, sebagaimana dinukil The Hollywood Reporter , Sabtu (31/10/2020).

  • Jagoan Udara Bernama Leo Wattimena

    Jangan coba-coba meniru aksi Leo Wattimena. Pesan itu tercetus dari kolega Leo sendiri sesama penerbang, Roesmin Noerjadin. Di kalangan sejawatnya, Leo terkenal sebagai penerbang “gila”. Kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat sambil akrobatik tidak dapat ditandingi siapapun.   “Saya pernah meniru satu kali, tapi langsung diperingatkan Pak Roesmin Noerjadin, agar jangan meniru orang gila itu lagi,” kenang Moesidjan. Pada 1958, Moesidjan salah satu penerbang pesawat tempur P-51 Mustang dalam Skadron 3 AURI yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Komandan skadronnya saat itu ialah Roesmin Noerjadin. “Kalau kamu ulangi, kamu enggak usah jadi penerbang tempur,” kata Roesmin ditirukan Moesidjan dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Teguran itu bukan tanpa alasan. Belajar dari pengalaman, seorang penerbang lain pernah mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Gara-gara mau meniru gaya Leo Wattimena, pesawat yang dikemudikan Letnan I (Udara) Subagyo jatuh menghujam landasan ketika lepas landas. Subagyo pun gugur seketika. Sebagai jagoan di udara, Leo Wattimena tidak bermodal keberuntungan semata. Dibandingkan rekannya sesama penerbang, Leo selalu mengambil bobot yang lebih berat untuk mengasah kemampuan. Ternyata, Leo diam-diam sudah sering melatih berbagai gaya atraksi di udara. Inilah rahasianya. Dia sering berlatih terbang di atas gumpalan awan dan menganggap awan sebagai landasan.  Ukurannya, kalau sampai pesawat menyentuh awan, berarti pesawat telah jatuh. Setelah berkali-kali percobaan, barulah atraksinya itu dilakukan di atas landasan.      Selain giat berlatih, Leo punya postur tubuh yang menunjang untuk ukuran pilot pesawat tempur. Secara kasat mata, Leo terlihat kekar, berleher pendek, dan bertubuh gempal. Leher pendek sangat menguntungkan bagi penerbang tempur karena jarak jantung memompakan darah ke kepala menjadi dekat. Dengan demikian, sang pilot akan mudah mengatasi kondisi kehilangan kesadaran ketika berada di ketinggian tertentu. “Postur fisik Leo memang mendukung. Di selalu bisa cepat mengatasi kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Dengan Mustang kesayangannya, Leo mengangkasa sesuka hati. Begitu pula di kalangan AURI, Leo adalah penerbang tempur yang disegani. Tapi, itu semua tidak membuat Leo lupa daratan. Di balik reputasi gemilang itu, Leo memperlihatkan kehidupan pribadi yang sederhana. Pada 1956, Leo menikahi Corrie Dingemans seorang perempuan indo asal Jakarta. Pada awal perkawinannya, keluarga Leo tinggal di mess di kawasan Setiabudi. Sebenarnya, Leo sudah ditawari rumah besar di kota tetapi tidak diambilnya karena ingin tinggal di Halim Perdanakusuma. Pada awal 1960, keluarga Leo kemudian berpindah ke Komplek Trikora Halim. Salah satu kebiasaan Leo yang diingat banyak koleganya adalah secara berkala mengantarkan beras kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Dia mengantarkannya langsung dengan pesawat Mustang yang dikemudikan sendiri. Padahal, pekerjaan itu bisa dititipkan kepada anak buahnya.   Dikisahkan dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, ketika operasi Trikora pembebasan Irian Barat, Leo pernah mendapat tugas mengirim gula dari Jakarta ke Makassar. Sementara itu, di rumah Leo sendiri sedang tidak ada gula. Alih-alih aji mumpung, Leo malah memilih untuk tidak mau mengambil sedikit pun gula untuk keperluan rumahnya. “Tanpa gula kita bisa membesarkan anak-anak,” begitu kata Leo kepada istrinya. Sekali waktu, Leo juga pernah tersulut amarah sebagai tanda solidaritasnya kepada pasukan terdepan. Pada saat makan bersama, Leo tiba-tiba membuang makanan miliknya karena menyaksikan para prajurit yang akan diterjunkan ke Irian Barat cuma dikasih makan tempe. Sementara itu, para perwira tinggi yang duduk di garis belakang mendapat jatah makan dengan lauk daging ayam. Luapan emosional itu semata-mata ditunjukkan Leo karena menghormati hak-hak prajurit yang belum tentu dapat kembali pulang dari pertempuran dengan selamat. “ Spirit de corps -nya tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dikutip Iswadi. Di hadapan siapapun yang mengenalnya, Leo juga tidak sungkan unjuk kebolehan selain menerbangkan pesawat. Leo memiliki hobi menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak. “Kalau ada Leo, tidak pernah sepi,” begitulah teman-temannya mengenang sosok Leo Wattimena.

  • Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji

    SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah. “Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam. Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri  Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.

  • Sukarno, Pan Am, dan CIA (1)

    DALAM kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, Presiden Sukarno suka menyewa pesawat Pan American World Airways. Namun, pemerintah Uni Soviet tak senang Sukarno menggunakan pesawat musuhnya, Amerika Serikat.

  • Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba

    Sabtu pagi 58 tahun silam di Pangkalan AU McCoy, Orlando, Florida, Amerika Serikat. Mayor Udara Rudolf Anderson sibuk mempersiapkan semua hal untuk penerbangannya. Dia akan menjalankan penerbangan satu jam 15 menit di atas Kuba untuk misi pengintaian ( air spy ). Meski berbahaya, misi itu dijalaninya dengan senang. Tak tampak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya. “Terbang adalah hidup dan hasratnya. Saat kanak-kanak, dia membuat pesawat model dan bercita-cita menjadi pilot,” tulis Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Sementara Anderson sibuk mempersiapkan penerbangannya, Sabtu (27 Oktober 1962) pagi itu orang-orang di Havana dan di sebagian besar kota-kota di Kuba beraktivitas seperti biasa. Masyarakat beraktivitas seolah tak mengetahui ada bahaya besar yang mengancam mereka. Kepanikan warga tak terlihat padahal negeri mereka sedang berada dalam ancaman kehancuran oleh nuklir Amerika Serikat. “Orang-orang pada umumnya tidak menunjukkan antusiasme atau kepanikan. Mereka telah membeli stok barang-barang seperti parafin, minya, kopi, tetapi tidak ada hiruk-pikuk di toko-toko, dan persediaan makanan tampaknya masih mencukupi,” kata Duta Besar Inggris untuk Kuba Herbert Marchant sebagaimana dikutip Michael Dobbs dalam One Minute to Midnight . Ketiadaan kepanikan warga Kuba juga disaksikan wartawan Argentina Adolfo Gilly. Alih-alih harapannya bertemu Che Guevara berhasil ketika dia mengunjungi Kementerian Perindustrian, dia malah mendapati kabar bahwa Che berada di Pinar del Rio. Seorang asisten juga memberitahunya berita buruk. “Kami memperkirakan penyerangan (Amerika, red .) siang ini antara pukul tiga dan empat,” kata sang asisten, dikutip Dobbs. Asisten tersebut tak menunjukkan wajah ketakutan saat memberi kabar, seolah kabarnya seringan kabar akan datangnya sebuah tamu delegasi asing. Pun dua milisi yang dilihat Gilly di bawah, tak sedikit pun menunjukkan kepanikan akan bahaya dahsyat yang akan datang. Dengan tanpa beban salah seorang milisi itu menyatakan kepada kawannya bahwa sang kawan harus menunggu sampai perang usai untuk bisa mencukur rambut karena mereka yakin serangan AS akan segera datang. Suasana mengerikan yang seolah tak dipedulikan warga Kuba itu terjadi dalam masa Krisis Misil Kuba (16-28 Oktober 1962). Krisis yang membawa dunia di ambang perang nuklir itu dipicu oleh penempatan sejumlah rudal balistik Uni Soviet di Kuba. Penempatan itu merupakan respon Uni Soviet atas kesepakatan yang dicapai antara PM Nikita Khrushchev dan pemimpin Kuba Fidel Castro tiga bulan sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Castro meminta Soviet menempatkan rudal-rudal balistiknya di sejumlah tempat di Kuba untuk mengantasipasi agar invasi seperti Invasi Teluk Babi pada 1961 yang disokong Amerika Serikat tak terulang kembali. Penempatan sejumlah rudal balistik itu pun memicu Amerika mengerahkan lebih banyak penerbangan mata-mata ( air spy ). Pasalnya, dalam penerbangan perdana pada 14 Oktober 1962, pesawat U-2 Amerika yang dipiloti Letkol Richard Heyser berhasil memotret situs-situs rudal balistik Soviet di Kuba. Ketika keesokannya Anderson menjalankan misi serupa, lebih banyak situs rudal balistik Soviet ditemukan di dekat Sagua la Grande, Kuba Tengah. Amerika pun makin gencar memata-matai tetangganya lewat udara dengan mengerahkan 4028th Strategic Reconnaissance Weather Squadron, 4080th Strategic Reconnaissance Wing. Penerbangan mata-mata Amerika dirintis sejak masa pemerintahan Eisenhower dan diprakarsai CIA dengan sasaran wilayah udara Soviet. “Untuk mewujudkan misi tersebut, CIA membuat U-2 Program guna menghasilkan pesawat khusus spionase yang bisa terbang setinggi 65.000-70.000 kaki agar tak bisa dijangkau pesawat-pesawat dan rudal-rudal Soviet. U-2 Program sejalan dengan Skunk Works, program pengembangan pesawat Lockheed Martin yang dijalankan bekerjasama dengan  dengan CIA. “Ketika CIA mengambil alih keamanan Skunk Works, menyegel perimeter dengan orang-orang berpakaian preman berwajah serius yang membawa senjata otomatis, dan mengatur untuk mendanai kontrak Lockheed senilai $35 juta melalui perusahaan tiruan, (Clarence L Johnson, desainer pesawat – red .) Kelly memilih tim khusus dan menyelesaikan cetak birunya untuk pesawat revolusioner,” tulis Francy Gary Powers Jr. dan Keith Dunnavant dalam Spy Pilot: Francis Gary Powers, the U-2 Incident, and a Controversial Cold War Legacy . Setelah menyasar wilayah udara Soviet, penerbangan mata-mata Amerika itu juga menjangkau Kuba. Namun demi keamanan, Presiden Kennedy mengalihkan misi tersebut dari CIA ke AU AS. “Kennedy lebih memilih tampilan biru Angkatan Udara terbang di atas Kuba daripada pilot CIA: lebih sedikit pertanyaan yang akan diajukan jika mereka ditembak jatuh,” tulis Dobbs. Anderson, pilot AU AS, merupakan bagian dari misi tersebut. Dia telah sukses dalam banyak misi mata-mata tersebut. Oleh karena itu, dia sempat protes ketika komandannya menyuruh istirahat sehari karena lukanya saat bertugas di Alaska. Nama Anderson tak ada dalam daftar empat penerbangan mata-mata pada Sabtu (27 Oktober) pagi itu. Namun, Anderson akhirnya berhasil melobi dan jadi satu-satunya pilot yang menjalankan misi penerbangan mata-mata pada hari itu. “Satu per satu dari tiga misi pertama dibatalkan pada Sabtu dini hari. Angkatan Laut sedang melakukan pengintaian pada ketinggian rendah terhadap situs-situs rudal, jadi tidak masuk akal jika mengirim U-2 ke wilayah yang sama pada saat Soviet mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka. Seorang pilot, Kapten Charles Kern, sudah duduk di kokpit pesawatnya ketika ada perintah dari Washington untuk membatalkan penerbangan. Tinggal tersisa misi 3128 –misi Anderson,” sambung Dobbs. Maka setelah semua persiapan diselesaikan dengan baik dengan bantuan Kapten Roger Herman, Anderson langsung mengudarakan pesawatnya No. 56-6676 dari Pangkalan AU McCoy pada pukul 9.09 pagi. Melewati rute pantai timur Florida, Anderson dapat melihat pantai pasir putih Cayo Coco dan Cayo Gullermo, tempat mancing favorit Ernest Hemingway, tak lama kemudian. Namun, di sanalah pesawat Anderson ditangkap oleh radar Soviet. Seorang perwira Soviet yang mencatat masuknya pesawat asing itu langsung mengabarkan sistem pertahanan udara di lain tempat. Sistem pertahanan udara, yang diseluruh Kuba dikomando oleh Mayjen Statsenko, pun segera disiagakan. Sementara pemerintah Kuba mengumumkan keadaan bahaya dan memerintahkan Komite Pertahananan Lokal untuk memberi beberapa instruksi kepada pejabat lokal dan penduduk. Di ruang kontrol sistem pertahanan anti-serangan udara Soviet di dekat Banes, Kuba, Mayor Gerchenov memerintahkan tembak kepada pesawat Anderson menggunakan dua rudal. Tak lama kemudian, dua rudal pun melesat ke udara memburu pesawat Anderson. Di layar monitor, dua titik terus bergerak mendekati sebuah titik yang merupakan pesawat Anderson. Tak lama kemudian, di langit yang gelap, cahaya benderang muncul. “Beberapa pecahan peluru menembus kokpit, menembus setelan tekanan parsial pilot dan bagian belakang helmnya. Rudolf Anderson mungkin tewas seketika. Dia entah bagaimana selamat dari ledakan awal, dia pasti mati beberapa detik kemudian, karena kehilangan oksigen dan karena depresurisasi,” sambung Dobbs. “’Target Nomor 33 dihancurkan,’ lapornya pada pukul 10.19 pagi.” Reruntuhan pesawat Anderson mayoritas jatuh ke daratan sekira delapan mil dari situs SAM Banes. Sebuah sayapnya jatuh di Desa Veguitas, sementara ekor pesawat jatuh ke laut, dan bagian badan pesawat berikut tubuh Anderson di dalamnya jatuh di ladang tebu. Pada 31 Oktober, Sekjen PBB U Thant, yang baru menemui Castro, mengumumkan Anderson telah tewas. Pemerintah Kuba kemudian menyerahkan jenazahnya pada 4 November. Presiden Kennedy lalu menganugerahi Anderson, satu-satunya korban jiwa dalam Krisis Misil Kuba, dengan First Air Force Cross. Upaya perdamaian yang dibangun Presiden Kennedy dan PM Soviet Khrushchev lewat surat-menyurat pribadi sejak 1961 pun kembali membentur tembok dengan kematian Anderson. Padahal, pada Jumat malam 26 Oktober sebelum misi Anderson, Kennedy menyepakati tawaran Khrushchev untuk menarik rudal-rudal Amerika di Turki sebagai ganti penarikan rudal-rudal Soviet di Kuba. Atas kematian Anderson, Kennedy didesak Kepala Gabungan Kepala Staf untuk mengerahkan serangan balasan pada Senin, 2 November 1962. Namun, Kennedy tak segera mengiyakan. Setelah berpikir keras, dia akhirnya mengambil keputusan penting. “JFK membatalkan pembalasan Angkatan Udara atas jatuhnya U-2. Dia melanjutkan pencarian resolusi damai. Kepala Gabungan kecewa. Robert Kennedy dan Theodore Sorensen kemudian membuat draf surat untuk menerima proposal pertama Khrushchev, sambil mengabaikan permintaan selanjutnya agar AS menarik misilnya dari Turki,” tulis James W. Douglass dalam JFK and the Unspeakable: Why He Died and Why It Matters .

  • Subronto K. Atmodjo, Komponis Sukarnois

    SELAIN Sudharnoto, Bintang Suradi, dan Titik Kamariah, di Ansambel Gembira ada nama Subronto Kusumo Atmodjo yang tak bisa dilewatkan. Subronto sering kali membuat lagu untuk Ansambel Gembira dan sempat memimpin ansambel ini hingga kejatuhannya pada 1965. Astuti Martoyo, mantan anggota Ansambel Gembira, menyebut bahwa Subronto adalah sosok yang cerdas. Selain sebagai pelatih, ia juga komponis sekaligus konduktor. Lagu-lagu ciptaannya sering kali menjadi lagu andalan Ansambel Gembira. Astuti mengenal Subronto jauh sebelum ia bergabung dengan Ansabel Gembira. Astuti mengenang, lagu “Suburlah Tanah Airku” ciptaan Subronto adalah lagu yang hampir pasti bisa dinyanyikan anak sekolah pada waktu itu. “Beliau itu sangat pandai karena ia membuat lagu yang massal. Lagu massal yang gampang dinyanyikan,” kata Astuti Martoyo kepada Historia.ID. Subronto lahir dari keluarga petani di Kabupaten Pati pada 1929. Ayahnya menginginkan Subronto menjadi petani, namun musik tampaknya menjadi panggilan jiwanya. Ketika melanjutkan pendidikan di SMA Taman Siswa Yogyakarta, Subronto justru gandrung dengan gamelan. Semua instrumen gamelan pun dikuasainya. Ketika menjadi Ketua Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Semarang, untuk pertama kalinya ia menonton pertunjukan Sudharnoto yang sudah sohor namanya. Ketika pindah ke Jakarta, kepada Sudharnotolah ia banyak belajar tentang musik. Subronto bergabung dengan Ansambel Gembira pada 1952. “Waktu itu ia belum kerja, masih luntang-lantung. Malah, katanya, pernah mengombrengkan baju dengan bersama Mas Dharnoto,” sebut Koesalah Soebagyo Toer dalam Ke Langit Biru, Kenangan tentang Gembira.   Di Ansambel Gembira, Subronto menjadi salah satu anggota yang menonjol baik sebagai penyanyi maupun dalam urusan organisasi. Dia juga yang mengusulkan agar Ansambel Gembira tidak hanya mementaskan lagu-lagu perjuangan melainkan juga lagu rakyat atau lagu daerah. Koesalah yang juga sempat bergabung dengan Ansambel Gembira menyebutnya sebagai orang paling berjasa di Ansambel Gembira selain tiga pendirinya. “Itu tidak hanya karena kedudukannya sebagai Penanggungjawab Kesenian, melainkan juga karena ketokohannya sebagai pendidik, pembimbing, dan panutan pemuda,” kenang Koesalah. Selain tenar sebagai pemimpin Ansambel Gembira, Subronto juga dikenal karena sering membuat lagu yang terinspirasi dari pidato-pidato Sukarno. “Setiap statemen politik Bung Karno yang disampaikan kepada masyarakat dibikinkan (Subronto) lagu,” kata Titik Kamariah seperti dikutip Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam tulisannya “Bersama Lekra dan ansambel: melacak panggung musik Indonesia: 1950-1965”, termuat dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia, 1950-1965. Pidato-pidato Sukarno menjadi inspirasi Subronto. Dua lagu di antaranya ialah “Nasakom Bersatu” dan “Resopim”, yang sering dibawakan Ansambel Gembira dari panggung ke panggung. Subronto memang tidak pernah menempuh pendidikan musik, namun ia belajar kepada banyak orang. Selain kepada Sudharnoto, ia juga sering mendatangi Amir Pasaribu dan Sudjasmin. Nasib membawanya kuliah di jurusan Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel Kesenian di Sekolah Tinggi Musik Hanns Eisler, Berlin. Subronto lulus pada Agustus 1965. Pramoedya Ananta Toer dalam  Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut Subronto adalah orang yang menemukan bahwa pelog, tangga nada diatonik dalam musik Jawa, ternyata berasal dari Gereja Phrygia di Asia Minor. Pelog masuk melalui Surabaya dan tersebar ke seluruh Jawa dengan beragam modifikasi. Sementara pelog yang masih mendekati aslinya disebut masih bertahan di Madura. Di luar Ansambel Gembira, Subronto bekerja sebagai karyawan di Departemen Pendidikan, Pengamatan, dan Kebudayaan (PPDK). Selain itu, ia juga aktif menulis di media massa dan menjabat sebagai redaktur majalah Pemuda.  Beasiswa di Berlin juga didapatnya dari penugasan Departemen PPDK. Subronto sempat bekerja di Kedutaan Cekoslovakia. Pada 1953, ia mengikuti Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia di Bukares, Rumania. Kemudian pada 1957, ia menjadi Ketua Seksi Kesenian delegasi Pemuda/Mahasiswa pada Festival Pemuda dan Mahasiswa Demokratik se-Dunia di Moskow. Kiprah Subronto di Ansambel Gembira berakhir ketika pada 1968 ia ditangkap karena menjadi pimpinan Ansambel Gembira sekaligus komponis ternama Lekra. Ia berpindah dari penjara ke penjara sebelum dibuang ke Pulau Buru. Namun, pembuangan tak mematikan jiwa musiknya. Menurut Hersri Setiawan dalam  Memoar Pulau Buru, Subronto memimpin grup musik Bandko, singkatan dari Band Markas Komando. Setelah bebas dari Pulau Buru pada 1977, Subronto diajak oleh Alfred Simanjuntak untuk bergabung dengan Yayasan Musik Gereja. Sejak itu, ia mulai sering menciptakan lagu-lagu rohani Kristen. Namun, lagunya yang terkenal “Kantata Bintang Bethlehem” sebenarnya telah diciptakan di Pulau Buru. Subronto meninggal dunia di Bekasi pada 12 November 1982.*

  • Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum

    HARI Penerbangan Nasional tahun ini, Selasa (27/10/2020), patut dijadikan cermin untuk merenungkan sudah sejauh mana Indonesia melangkah dalam dunia kedirgantaraan. Persaingan ketat di bidang kedirgantaraan internasional yang telah diikuti negara seperti RRC, India, bahkan Brazil, boleh dibilang belum “mengikutsertakan” Indonesia secara penuh di dalamnya. Kondisi tersebut seakan mundur dari masa ketika Indonesia masih bayi. Menurut Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta Kolonel Sus. Dede Nasrudin dalam webinar “Gatotkaca Mengguncang Dunia”, Selasa (27/10/2020), republik yang walaupun masih bayi sudah berusaha menelurkan pembuktian kompetensinya dalam hal dirgantara berkat penerbangan yang dilakukan Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945. Saat itu yang digunakan adalah pesawat bekas Jepang, Yokosuka K5Y alias “Cureng”. “Hari ini ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional sejak 27 Oktober 1945 Pak Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng dengan identitas roundel merah putih pertamakali terbang di atas Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) dan kota Yogyakarta. Ini bukti kepada dunia internasional bahwa kita sudah bisa menerbangkan pesawat dengan pilot asli orang Indonesia berlogo merah putih,” ujarnya. Sejak saat itu, hasrat untuk “menaklukkan” angkasa terus disemai para anak bangsa di bawah komando KSAU Komodor Suryadarma. Para bawahannya yang juga berhasrat tinggi di bidang dirgantara lalu maju dengan konsep dan usaha masing-masing. “Sejak TNI AU didirikan 9 April 1946 dengan nama TRI (Tentara Republik Indonesia) Udara, dibentuk juga salah satunya Biro Rencana dan Konstruksi yang berada di Maospati (Lanud Iswahyudi). Inilah cikal bakal industri penerbangan yang dipelopori Wiweko dan Nurtanio,” lanjut Dede. Baca juga: Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali Dari sanalah embrio industri dirgantara Indonesia lahir. Lewat Opsir Udara III Wiweko Soepono dan Opsir Muda Udara Nurtanio Pringgoadisuryo, swaproduksi pesawat Indonesia dirintis. Dimulai dari modifikasi pesawat-pesawat peninggalan Jepang di Perang Kemerdekaan, Indonesia melangkah ke produksi sendiri lewat pesawat-pesawat NWG-1 ( glider ) pada 1946, Gelatik atau Capung di era Sukarno (1965) hingga N-250 “Gatotkaca” di era selanjutnya. Pesawat-pesawat tersebut lahir di bawah naungan institusi yang silih berganti datang dan pergi. Dari Biro Perencanaan dan Konstruksi (1946), Depot Penyelidikan Percobaan dan Pembuatan AURI (1950), Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat atau Kopelapip (1964), Lembaga Persiapan Industri Penerbangan Nurtanio atau Lapipnur (1971), PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (1976), PT Industri Pesawat Terbang Nusantara alias IPTN (1985) hingga PT DI (2000). Glider/Pesawat Luncur GX-001 "Kampret" salah satu alutsista buatan anak bangsa pada 1951 (Randy Wirayudha/Historia) Berawal dari Akhir dan Berakhir dari Awal Kelahiran pesawat N250 “Gatotkaca” tak lepas dari kisah pemanggilan Bacharuddin Jusuf Habibie oleh Presiden Soeharto agar pulang dari Jerman ke tanah air. Dalam pertemuan keduanya di Jalan Cendana pada 28 Januari 1974, Soeharto mengutarakan keinginannya membangan industri dirgantara. Menurut A. Makmur Makka dalam Inspirasi Habibie, dalam pertemuan itu Soeharto mengungkapkan istilah “tinggal landas” dalam hal pengembangan teknologi untuk pembangunan ekonomi. BJ Habibie (kiri) & Presiden Soeharto ( The Technological State in Indonesia ) Habibie menginterpretasikan istilah itu sebagai perintah membangun pesawat yang bisa digunakan dalam strategi pembangunan. Habibie pun menjelaskan panjang lebar tentang industri penerbangan dan tentunya tugas-tugas Habibie sebelum memimpin IPTN. “Jadi kapan saya bisa melihat pesawat yang kamu ceritakan tadi?” tanya Soeharto, dikutip Makmur. Habibie, lanjut Makka, pun menjanjikan tempo satu dekade dari pertemuan mereka malam itu. Baca juga: Habibie Kecil dan Soeharto Muda Djoko Sartono Sastrodihardjo, kepala program N250 IPTN, masih ingat betul ketika Habibie mulai memimpin IPTN sejak 1976. Prinsipnya, sebelum bisa memproduksi pesawat sendiri, akan sangat bijak untuk belajar dari negara yang sudah maju. “Pada waktu Pak Habibie diperintahkan untuk membangun kemampuan dirgantara, moto beliau adalah: ‘Kita berawal dari akhir dan berakhir pada awal.’ Artinya kita mengenal dulu teknologi kedirgantaraan, baik itu dari segi memproduksi, kemudian utamanya mengembangkan sendiri kemampuan teknologi dirgantara,” kata Djoko dalam webinar. “Berawal dari akhir artinya, waktu itu IPTN mengirimkan tim ke Spanyol untuk mempelajari instalasi dan produksi (pesawat) NC-212 yang kemudian kerjasamanya (dengan Construcciones Aeronáuticas SA/CASA) dibikin dengan lisensi di IPTN. Dari situ kita belajar lebih dalam, terkait pengembangan produksinya,” sambung pria yang turut dalam tim yang dikirim ke markas CASA di Madrid itu. Pesawat NC-212 (atas) & Pesawat CN-235 produksi bersama IPTN dan CASA ( indonesian-aerospace.com ) Baca juga: Nurtanio, Patriot Udara Indonesia Lantas berikutnya adalah pengembangan kemampuan integrasi pesawat terkait desain maupun manufacturing . IPTN kemudian melakoni joint-development CN-235, pesawat angkut komersial medium. CASA dan IPTN masing-masing mengerjakan 50 persen. “Pada 1980 kita memulai conceptual design -nya dan hampir setahun mengembangkan bersama, akhir 1980 kita pulang untuk mengerjakan paket kita sendiri. Desain yang kita dapatkan utamanya adalah soal center wing . Juga dengan pengembangan konfigurasinya,” tambah Djoko. Pesawat CN-235 yang dinamai “Tetuko” pun kemudian sukses diuji terbang perdananya pada 11 November 1983. Tepat 10 tahun dari percakapan awal dengan Presiden Soeharto, Habibie kembali menghadap ke Cendana. “Di ruangan yang sama di Jalan Cendana, Habibie melapor: ‘Pak CN-235 Tetuko sudah terbang. Begitu pula dengan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong’,” tulis Makmur. Gatotkaca Pesawat Anak Bangsa Dari semua yang dipelajari Djoko dkk., mulai dari konsep desain hingga sisi pemasaran, pada 1989 Habibie akhirnya memutuskan untuk membangun pesawat yang 100 persen karya anak bangsa. Untuk bisa mengguncang dunia, dilahirkanlah proyek N250 yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire . N250 jadi satu-satunya pesawat komuter yang mengaplikasikan teknologi yang di masa itu baru diaplikasikan dalam pesawat jet berbadan besar Airbus A340 dan Boeing 767. “Kita langsung mengaplikasikan sistem fly-by-wire untuk tiga axis (poros). Boeing maupun Airbus sempat menyarankan kita mengumpulkan pengalaman dulu di satu axis . Tapi Pak Habibie menetapkan kita langsung tiga axis . Waktu itu (kompetitornya) ada Saab 340 dan ATR 42 yang masih mengembangkan satu axis tapi kita satu-satunya yang langsung tiga axis ,” kata Djoko. Baca juga: Empat Burung Besi yang Dikandangkan Teknologi fly-by-wire diklaim membuat N250 lebih aman. Selain itu, tambahnya, “Lebih efektif, lebih murah, lebih safety , dan lebih bisa diandalkan karena biasanya kita tidak hanya tergantung pada satu komputer. Kalau perlu tiga komputer ditambah back up -nya. Dari segi bobot juga jadi lebih ringan.” Guna mendukung konsep tersebut, IPTN membangun beragam instalasi pengujiannya. Desain dan konstruksinya diaudit oleh utusan-utusan dari pabrikan Boeing, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), maupun Federal Aviation Administrasion (FAA/Lembaga Penerbangan Amerika). Dari PT DI di Bandung, Gatotkaca kini mendarat di museum di Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Untuk manajemen pemasarannya, IPTN bekerjasama dengan Amerika dengan membentuk joint-corporation American Regional Aircraft Industry (AMRAI) dan European Regional Aircraft Industry (ERAI). Purwarupa PA1 yang kemudian dinamai N250 “Gatotkaca”. Untuk menerbangkan pesawat berbobot kosong 13 ton itu digunakan mesin turboprop Allison AE2100 C. Mesin tersebut bisa memacu Gatotkaca dengan kecepatan maksimal 610 km/jam serta melejit ke ketinggian maksimal 25 ribu kaki (7.620 meter). N-250 kemudian melahirkan empat varian: PA1 , PA2, PA3, dan PA4. PA1 alias “Gatotkaca” punya kapasitas 50 penumpang, sementara PA2 yang dinamai “Krincing Wesi” bisa membawa penumpang 68 orang. Saat proyeknya di hentikan, PA3 baru 70 persen rampung dan PA4 masih dalam bentuk cetak biru. Menyelamatkan Gatotkaca N-250 PA1 “Gatotkaca” dengan nomor registrasi PK-XNG akhirnya melakoni debut terbangnya pada 10 Agustus 1995. Take off dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung pada pukul 10.15 pagi, maiden flight Gatotkaca tidak hanya disaksikan Presiden Soeharto namun juga jutaan pasang mata rakyat lantaran disiarkan via televisi. “Banyak yang terharu dan meneteskan air mata, tak terkecuali Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, serta Wapres Try Sutrisno. Beberapakali terlihat Presiden mengusap wajahnya dengan sapu tangan putih. Bahkan Ibu Tien spontan memeluk dan menjabat tangan memberi selamat kepada Habibie, seraya menahan haru yang bercampur bangga,” tulis Makmur di buku lainnya, The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan. Kebanggaan akan N250 “Gatotkaca” kian memenuhi dada kala pesawat itu sukses ferry flight melintasi Asia-Afrika-Eropa. Ferryflight itu dilakukan untuk menghadiri Paris AirShow 1997. Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu Namun, semua berubah kala krisis moneter menerpa Indonesia pada 1998. Pemerintahan Soeharto memilih manut pada International Monetary Fund (IMF) demi mendapatkan bantuan untuk menghadapi krisis. Soeharto menerima persyaratan IMF agar subsidi pemerintah untuk IPTN disetop. Habibie, Djoko, dan semua rekannya di IPTN pun terpukul. “Jadi hal itu sangat memukul kita juga. Terus terang, sebagian besar SDM kita yang sudah terlatih dengan program itu, akhirnya pergi ke (pabrikan) Embraer di Brasil, ke Boeing, ke Airbus di Hamburg. Kita waktu itu (1998) sudah punya hampir 900 jam terbang. Untuk mendapatkan sertifikasi kita butuh 700 jam terbang lagi. Diharapkan waktu itu sebetulnya tahun 1999 kita sudah bisa mendapat sertifikasinya,” kata Djoko menyesali. Setelah telantar di PT DI, N250 "Gatotkaca" dirawat untuk dijadikan wahana edukasi di Muspusdirla Yogyakarta (Instagram @museumdirgantara) Gatotkaca pun telantar bak rongsokan. Tak diurus PT DI hingga 25 tahun kemudian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memutuskan “menyelamatkan” Gatotkaca dengan memindahkannya dari Bandung ke Jogja. Pada 26 Agustus 2020, pesawat canggih nan nahas itu dipugar dan disarangkan ke Muspusdirla. “Agar jangan salah persepsi. Kok katanya tragis ditempatkan di museum. Padahal justru di museum ini bisa dilihat oleh semua kalangan. Karena kita (TNI AU) juga punya kaitannya sejak 1946 yang saya ceritakan tadi. Sekarang ini kita rawat agar generasi muda bisa melihat bahwa kita sudah melangkah lebih jauh dalam perkembangan kedirgantaraan,” ujar Dede. “Kalau di sana (PT DI) mungkin telantar. Kondisi body -nya sudah enggak putih lagi, sudah hitam. Beberapa bagian juga karatan dan jamuran. Sebelum dikirim ke sini, dicat kembali agar kemudian jadi wahana edukasi buat masyarakat. Terlebih sebenarnya kecanggihan N250 ini sampai berapa tahun ke depan enggak akan ketinggalan teknologinya,” imbuhnya. Keputusan Marsekal Hadi didukung Djoko sebagai salah satu “bidan” yang melahirkan Gatotkaca. Baginya, amat sakit mengenang kenyataan proyek pesawat itu dipaksa terhenti. “Saya sendiri kalau lewat dekat PT DI, karena saya tinggal di Cimahi, kok merana karena posisinya di luar. Kena panas dan kena hujan. Tapi ya itu faktanya. Jadi dengan dimuseumkan mungkin lebih terawat dan harus bisa dilihat generasi penerus bahwa 25 tahun lalu kita pernah bikin pesawat yang mengguncang dunia,” tandasnya. Baca juga: Akhir Tragis Alutsista Legendaris

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page