top of page

Hasil pencarian

9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ayah Suzzanna Gugur di Subang

    HINDIA Belanda menjadi tempat yang diimpikan banyak pria Belanda untuk mengubah nasib. Di tanah subur nan kaya yang diperintah “kaki-tangan” ratu Belanda itu, kehidupan sejahtera jauh lebih mungkin diwujudkan ketimbang di negeri asal mereka, Belanda. Terlebih, warna kulit putih mereka memungkinkan mendapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak didapatkan orang-orang kulit berwarna akibat sistem rasis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Faktor itulah yang mendorong Willem van Osch yang lahir pada 19 Juni 1910 rela bertaruh nyawa mengarungi samudera ribuan kilometer jauhnya demi bisa mencapai Hindia Belanda. Pria asal Rosmalen, Belanda ini kemudian menjalani kehidupan berbeda di tempat yang baru. Dia diterima menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Pangkatnya sudah sersan mayor (serma) infanteri, dengan nomor stamboek -nya 89068.

  • Suzzanna Bangkit dari Kubur

    SUTRADARA Anggy Umbara menggarap film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Film produksi Soraya Intercine Films ini dirilis tahun 2018. Dalam wawancara di media, Anggy mengatakan film ini bukan remake , reboot , maupun biopic. Formulanya mirip film garapan Anggy sebelumnya, Warkop DKI Reborn (2016) . Kendati demikian, Anggy berjanji akan menyuguhkan sentuhan nostalgia dari film-film lama Suzzanna. Termasuk adegan-adegan ikonik dalam film horor yang dimainkan Suzzanna. Suzzanna memang dikenal lewat film-film horor. Namun, kariernya tak dimulai dari genre film yang buat bulu kuduk merinding itu.

  • Raja Alam dari Sambaliung Melawan Belanda

    DARI sekian banyak kerajaan kecil di Kalimantan Utara di zaman Hindia Belanda, Kerajaan Berau termasuk kerajaan yang besar. Pada 1787, Kerajaan tersebut diserahkan oleh Kerajaan Banjar kepada Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kerajaan Banjar, yang berpusat di Kalimantan Selatan, besar penguruhnya hingga ke daerah utara Kalimantan.   Setelah VOC bubar, Kerajaan Berau terpecah-pecah. Hendrik Herman Juynboll dalam Gids voor de tentoonstelling van ethnographische voorwerpen van Goenoeng Taboer (Oost-Borneo) menyebut, Berau terbagi menjadi Gunung Tabur, Bulungan, dan Sambaliung. Sultan Aliuddin Raja Alam, yang masih keturunan raja di sekitar Berau, memimpin Sambaliung. Karajaan ini muncul pada 1810-an. De Locomotief tanggal 30 Januari 1888 menyebut, Kerajaan Sambaliung mulanya bernama Tanjung. Sambaliung berasal dari kata "Sembah" yang berarti merendahkan diri, dan "Liung" berasal dari bahasa Banjar yang berarti "tidak diberikan". Jika disatukan artinya "sembah yang tidak diberikan".   “Raja Alam mempunyai istana di Tanjung dan sebuah lagi dekat Kampung Bugis di Tanjung Redeb sekarang,” catat Sjahrial Hanan dkk. dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Koloniaisme dan Imperialisme di Kalimantan Timur . Wilayah kekuasaan Raja Alam termasuk luas. Batu Putih juga menjadi basis kekuatannya.   Di bawah Residen Chr. Galdman, pemerintah Hindia Belanda mengirim utusan ke Raja Alam guna menandatangani kontrak politik agar tunduk kepada kebijakan pemerintah kolonial. Seperti juga kepada kerajaan-kerajaan lain, Kerajaan Simbaliung juga dijadikan negara bawahan pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Belanda. Namun, Raja Alam sangat menjaga kedaulatannya. Dia ingin kerajaannya bebas dari pemerintah kolonial. “Sampaikan saja kepada atasanmu bahwa kami pantang bertuankan kulit putih,” kata Raja Alam dan sekutunya kepada utusan Belanda, seperti dicatat Moh. Noor dkk. dalam Cerita Rakyat Dari Kalimantan Timur . Selain berani, Raja Alam punya pendukung di daerah pesisir timur Kalimantan. Raja Alam dekat dengan orang Bugis dan Sulu. Orang-orang Bugis dipimpin Panglima Limbuti, yang masih keturunan La Madu Daeng Pallawa, pendiri Kampung Bugis Tanjung Redeb. Raja Alam menikah dengan Andi Nantu, perempuan campuran Bugis-Kutai, putri Pangeran Petta dengan Aji Bungsu. Selain dengan orang Bugis, Raja Alam bersahabat dengan orang-orang Sulu (kini bagian Filipina) yang dikenal sebagai bajak laut ulung di Selat Makassar. Orang-orang Sulu ditetuai oleh Syarif Dakula. Belakangan, Syarif menjadi menantu Raja Alam setelah menikahi putrinya, yakni Ammas Mira.   Akibat penolakan Raja Alam, pemerintah kolonial Belanda memberi hukuman. Pada 1834, pemerintah kolonial mengirim ekspedisi militer dengan beberapa kapal perang di bawah komando Kapten Laut Anemaelt ke Sambaliung. Militer Belanda menyerbu Daerah Batu Putih dan Tanjung Redeb. Kekuatan Raja Alam berhasil ditaklukan. Raja Alam tertangkap dan diasingkan ke Makassar. Untuk sementara, Belanda mempercayakan wilayah Sambaliung kepada Aji Kuning sebagai Sultan Gunung Tabur. Sebelumnya dia menganggap Raja Alam berbahaya.   Raja Alam dan keluarganya tidak lama di Makassar. Kesepakatan baru muncul. Raja Alam bersedia tunduk pada hukum pemerintah kolonial sehingga dia diperbolehkan kembali ke Sambaliung. Pada 24 Juni 1837, Raja Alam dan putranya, Simoeso Maharaja Dinda, mengucapkan sumpah setia di hadapan gubernur Sulawesi dan sekitarnya mewakili pemerintah Hindia Belanda. Raja Alam diperbolehkan berkuasa lagi di bekas Kerajaan Sambaliung di Batu Putih. Namun, wilayah kekuasaannya dijadikan bagian dari Gunung Tabur. Raja Alam berkuasa hingga tahun 1844 dan dilanjutkan para penerusnya. Raja Alam yang pemberani itu belakangan diabadikan sebagai nama Batalyon Raider 613 di Kalimantan Utara.*

  • Resep Ekonomi dan Moneter Hjalmar Schacht

    HJALMAR Schacht pernah menjabat presiden bank sentral Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia menjadi konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Sumitro Djojohadikusumo, penasihat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono, kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Schacht. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Berikut ini resep ekonomi dan moneter dari Schacht. Valuta Memenuhi kewajiban utang dengan memperhatikan neraca pembayaran luar negeri; dan jika ada kesulitan devisen hendaknya diadakan penangguhan. Untuk memelihara keseimbangan dalam neraca pembayaran, impor tidak boleh melebihi jumlah hasil dari ekspor (devisen). Untuk menjaga keseimbangan dalam neraca pembayaran, perlu adanya pengawasan devisen oleh suatu dewan menteri. Perlu suatu armada kecil yang terdiri dari kapal-kapal polisi cepat untuk memberantas penyelundupan. Ciptakan ketertiban dan keamanan guna menghindarkan pelarian modal. Tiap-tiap bank peredaran harus dimasukkan ke dalam politik negara seluruhnya. Keuangan Negara Memelihara keseimbangan antara pengeluaran dan penghasilan negara. Pembukuan di Kementerian Keuangan harus diperbaiki. Politik pajak terutama bersandar pada perdagangan dan industri di kota-kota besar, hasil bumi, dan perkebunan. Perdagangan dan Perusahaan Bank Pedagang eceran perlu menjalin kerjasama guna mengadakan pembelian bersama-sama. Pertahankan firma-firma dagang Jerman dan Belanda. Bank industri harus mengembangkan diri, teurtama memusatkan perhatian pada pemberian kredit koperasi. Sistem Benteng masih dapat diteruskan, dengan perbaikan. Perlu suntikan modal pemerintah untuk berdirinya bank negara yang memberikan kredit perdagangan. Hapus sistem lisensi impor dan sistem sertifikat devisa. Campur tangan pemerintah terhadap Javasche Bank, yang dinasionalisasi, sebagai bank peredaran. Javasche Bank melepaskan usaha komersialnya. Efisiensi dan efektivitas birokrasi perdagangan. Pengusaha bumiputra mesti mempelajari teknik-teknik modern. Dirikan kamar-kamar dagang. Dasar-dasar Ekonomi Pertanian : Tingkatkan penanaman padi untuk kebutuhan dalam negeri; perluas sistem koperasi dan kredit petani; penangguhan pelunasan utang dan pengurangan bunga untuk petani. Pertukangan/Perburuhan : Perluasan sekolah dan kursus-kursus vak (keterampilan); dirikan balai-balai pertukangan; undang-undang perburuhan yang baik. Industri : Dorong investasi asing untuk mengolah bahan-bahan mentah. Perimbangan Ekspor dan Impor : Bentuk suatu panitia perancang yang menetapkan prioritas impor dan meningkatkan ekspor. Transportasi/Pengangkutan : Buat jalan-jalan raya; perluas tempat bongkar muat peti kemas; jalin kerjasama dengan perusahaan pelayaran Belanda; bentuk armada dagang sendiri. Transmigrasi : Dorong masyarakat bertransmigrasi dari Jawa ke Sumtara, Kalimantan, dan Sulawesi. Urbanisasi : Buat kota-kota penyangga dengan perhubungan yang teratur dan pabrik-pabrik. Listrik: Tingkatkan produksi listrik; adakan tenaga listrik baru, misalnya tenaga air; gunakan bis sebagai pengganti trem; undang perusahaan listrik asing.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht: Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler

  • Menghidupkan Kembali Spirit Patrice Lumumba

    ADA yang tak biasa dalam gelaran Piala Afrika 2025 di Maroko yang berlangsung 21 Desember 2025–18 Januari 2026. Setiap tim Kongo bermain, di tengah-tengah euforia dan tabuhan genderang suporter di tribun stadion, berdiri dengan tenang dan tak bergerak hampir 90 menit dengan mengangkat tangan. Ya, “Patrice Lumumba” hadir menyemangati dan memberi spirit kepada timnas Kongo di lapangan. Tentu ia bukan sosok asli Bapak Pendiri Republik Demokratik Kongo itu. Ia dikenal para suporter Kongo sebagai Lumumba Vae. Nama aslinya Michel Nkuka Mboladinga. Pria berusia 49 tahun itu sudah melakukan pose Lumumba sejak 2013 meski baru viral belakangan pada Piala Afrika 2025. Lumumba Vae acap hadir dengan gaya rambut khas 1960-an dan kacamata browline atau kadang dijuluki kacamata aktivis HAM Malcolm X. Ia hadir mengenakan kemeja kuning, jas biru muda, dan celana merah khas warna bendera Kongo. Lumumba Vae berdiri di atas sebuah pedestal untuk bisa berdiri lebih tinggi di antara kerumunan penonton dengan mengangkat tangan kanannya khas pose patung Patrice Lumumba di ibukota Kinshasa. “Ia [Lumumba] adalah orang yang memberikan kami kebebasan untuk mengekspresikan diri kami. Ia mengorbankan jiwanya untuk kami, untuk memberikan kami kemerdekaan. Ia pahlawan bagi kami. Lumumba adalah spirit dan teladan buat kami. Saya berdiri dalam diam untuk memberi kekuatan kepada tim, untuk memberi energi kepada para pemain,” ujar Lumumba Vae kepada Associated Press , Rabu (7/1/2026). Sayangnya, Lumumba Vae akhirnya menangis dan menurunkan tangannya tatkala Kongo disingkirkan Aljazair di babak 16 besar pada 6 Januari 2026. Kendati pihak penyelenggara Piala Afrika 2025 menawarkan Lumumba Vae untuk tetap berada di Maroko sampai turnamen berakhir dengan kompensasi uang per pertandingan, ia memilih pulang ke negerinya di Kongo. Sosok asli Patrice Émery Lumumba (kiri) dan patungnya di ibukota Kinshasa (Independant edisi 13 Maret 1960/Fondation Carmignac) Sukarno dan Patrice Lumumba Patrice Émery Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di Katakokombe, Kasai, saat Kongo dijajah Belgia. Meski dibesarkan sebagai seorang Katolik yang taat, ia tumbuh di sekolah-sekolah Protestan. Di usia muda, Lumumba melalui buku-buku berkenalan dengan banyak tokoh pembaru Eropa seperti Jean-Jacques Rousseau, François-Marie Arouet alias Voltaire, hingga para penyair dan sastrawan semisal Jean-Baptiste Poquelin alias Molière dan Victor Hugo. Tak heran kemudian ia sering membuat puisi-puisi bertemakan anti-kolonialisme sembari bekerja serabutan jadi juru tulis kantor pos hingga sales minuman bir. Lumumba kemudian turut mendirikan organisasi yang menjadi partai beraliran sosialis, Mouvement National Congolais (MNC) pada 1958. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck menyebut, aktivisme Lumumba memerdekakan negerinya terpapar inspirasi dan kaitan langsung dengan Bandung Spirit atau Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Reybrouck, dalam public lecture berjudul “Sukarno and the Making of the New World” di Jakarta pada 22 Oktober 2025 mengungkapkan, gagasan gerakan dekolonisasi di Afrika mulanya dibawa pemimpin Mesir, Gamal Abdel Nasser yang hadir di KAA. Gagasan itu ditularkan kepada pejuang kemerdekaan Ghana, Kwame Nkrumah. Ia pula yang menginisiasi All-African People’s Conference (AAPC) di Accra, Ghana pada Desember 1958 dengan merujuk pada manifesto Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Semangat Bandung. “Nkrumah mengorganisir konferensi itu pada 1958 untuk para aspiring activists  dari [negeri-negeri] Sub-Sahara. Salah satu yang turut datang adalah pemuda dari Kongo bernama Patrice Lumumba. Jadi, ini semua dilihat sebagai pilar-pilar bagi lahirnya gerakan Pan-Afrika. Ketika Lumumba pulang ke Kongo, ia ikut menyebarkan Semangat Bandung. Beberapa bulan kemudian kebangkitan dan kemerdekaan terpicu di Kinshasa. Jadi, ada direct connection di situ, bahwa Semangat Bandung sangat menular,” terang Reybrouck. Kongo, negara terluas kedua di Benua Afrika setelah Aljazair, akhirnya meraih kemerdekaannya dari Belgia pada 30 Juni 1960. Lewat hasil pemilu pertamanya, Lumumba terpilih menjadi perdana menteri merangkap menteri pertahanan nasional di usia 34 tahun. Nahas, pergolakan politik dan konflik terjadi di Kongo yang baru merdeka. Dalam Krisis Kongo (1960-1962) pemerintahan Lumumba dikudeta dan diburu pemerintahan separatis Katanga pimpinan Moise Tshombe yang didukung pasukan bayaran Gendarmerie Belgia. Sudah sejak lama Lumumba jadi target Belgia, Inggris, dan Amerika Serikat. “Amerika dan Belgia sempat merencanakan pembunuhan, beberapa negara Barat juga meyakini Lumumba adalah sosok berbahaya bagi perusahaan neokolonial mereka di Afrika. Pada 19 September 1960 Presiden Amerika [Dwight Eisenhower] dan Menteri Luar Negeri Inggris [Alec Douglas] membahas Krisis Kongo. Sang presiden menyatakan keinginannya ‘bahwa Lumumba akan jatuh ke sungai penuh dengan buaya’,” tulis sosiolog Belgia, Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba. Hanya enam bulan memerintah, Lumumba ditangkap pasukan Kolonel Joseph Mobutu pada 1 Desember 1960. Lumumba dibawa dan ditahan di Katanga. Setelah disiksa, Lumumba dan dua rekannya dieksekusi regu tembak di bawah sebuah pohon pada 17 Januari 1961 malam. Hingga kini, jasad Lumumba tak diketahui rimbanya. Kelak, pada Juni 2022, Pemerintah Belgia mengembalikan sebuah gigi emas kepada keluarganya, sekaligus menyampaikan pengakuan dan permohonan maaf atas keterlibatan Belgia dalam pembunuhan Lumumba. Jalan Patrice Lumumba di Padangsidempuan, Sumatera Utara (Tangkapan Layar Google Maps) Kabar pembunuhan Lumumba sampai ke telinga Presiden Sukarno. Pemerintahan Sukarno mengabadikan namanya jadi nama jalan di Jakarta, Surabaya, dan Padangsidempuan, Sumatra Utara. “Pada 1961, Sukarno menamakan sebuah jalan di Jakarta Pusat setelah pembunuhan pemimpin Kongo Patrice Lumumba sebagai solidaritasnya kepada rakyat Kongo. [Namun] pada 1970-an, seiring adanya protes teroganisir terhadap nama jalan yang dianggap nama pemimpin kiri, pemerintahan anti-komunis Soeharto mengganti nama jalannya,” tulis Christophe Dorigné-Thompson dalam Indonesia’s Engagement with Africa. Pada medio 1977, Jalan Patrice Lumumba di Kemayoran, Jakarta Pusat diganti menjadi Jalan Angkasa. Begitu pula di Surabaya kembali diganti menjadi Jalan Raya Darmo. Mengutip begandring.com , Jalan Patrice Lumumba bergeser ke Jalan Ngagel, tetapi tidak lama diganti kembali menjadi Jalan Ngagel. Yang tersisa kini hanya gang kecil yaitu Kampung Lumumba Dalam dan Lumumba Buntu, keduanya masuk Kelurahan Ngagel, sedangkan Lumumba Timur masuk kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Sementara itu, Jalan Patrice Lumumba di Padangsidempuan tetap bertahan.*

  • Sebelum Jack Ma Tiba

    TAWARAN dari pemerintah Indonesia untuk menjadikannya sebagai penasehat e-Commerce Indonesia akhirnya diambil Jack Ma, orang terkaya di Tiongkok. Kesediaan Jack Ma dinyatakan usai pertemuannya dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution serta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Beijing, Tiongkok. Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan tahun lalu. Tawaran dari pemerintah Indonesia dilakukan menyusul keluarnya Peraturan Presiden No. 74/2017 mengenai Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik Tahun 2017-2019 atau juga disebut SPNBE 2017-2019, yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi berbasis elektronik. Jack Ma adalah pendiri dan executive chairman Alibaba, raksasa e-commerce asal Tiongkok. Di Indonesia, Alibaba menanamkan dana besar di Lazada dan Tokopedia. Merekrut ahli asing untuk membantu memetakan jalan perekonomian nasional bukanlah hal baru. Pada 1950-an, pemerintah Indonesia meminta Hjalmar Schacht, ahli keuangan Jerman, untuk memberikan resep untuk memulihkan perekonomian Indonesia yang masih terpuruk usai pengakuan kedaulatan. Hjalmar Schacht pernah menjabat presiden Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia bergiat sebagai konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Tak sampai di situ. Schacht membuat saran-saran praktis mengembangkan sumber daya alam. Saran itu dipakai dalam industri pertambangan melalui apa yang dikenal sebagai “ production-sharing agreement ” (PSA) atau kontrak bagi hasil produksi, formula khas Indonesia yang diadposi banyak negara. Schacht mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Dia juga membantu Indonesia memenangkan kasus lelang tembakau di Bremen, Jerman, tahun 1959. Sumitro Djojohadikusumo , kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Hjalmar Schacht. Saat itu dia penasehat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono . Sumitro pula, kali ini sebagai menteri keuangan, yang mendorong kedatangan ahli-ahli asing untuk membantu Biro Perantjang Negara (kini, Badan Perencana Pembangunan Nasional atau Bappenas). Yang terkemuka adalah Benjamin Howard Higgins, ahli keuangan Kanada. Selain Indonesia, Higgins menjadi penasihat ekonomi untuk pemerintah Kanada, Australia, Amerika Serikat, Libya, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Yunani, Brasil, dan lain-lain. Higgins tiba pada Juli 1952. Dia jadi penasehat kebijakan fiskal untuk membantu mempersiapkan pembentukan Biro Perantjang Negara tahun 1952 dan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertama tahun 1956.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht: Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler

  • Lelucon Jojon Tepi Jurang

    KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena pertunjukan komedi tunggalnya bertajuk “Mens Rea” dianggap menghasut dan menodai agama. Dalam penampilan itu, Pandji tak sekadar berkomedi, tapi juga melempar kritik sosial kepada penyelenggara negara seperti Polri dan TNI, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan secara umum pemerintahan Prabowo Subianto.  Salah satu sentilannya yang menuai sorotan menyebut Wapres Gibran mengantuk karena matanya sayu. Cara Pandji dalam berkomedi pun menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan komedi Pandji mengarah ke penghinaan secara fisik, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Bagi yang membelanya, materi itu sebagai ekspresi kritik sosial dengan bumbu komedi.  Komedi bertujuan untuk menghibur penonton. Ia bisa juga menjadi alat kritik sosial. Namun, komedi terkadang menimbulkan masalah bagi komedian. Entah karena silap lidah atau memang blunder yang disengaja. Hal ini pernah terjadi kepada pelawak Jojon di masa Orde Baru.  “Pelawak Jojon juga pernah silap saat melucui gambar di lembar uang kertas dengan perumpamaan yang terkesan merendahkan martabat. Buntutnya Jojon lama tidak muncul melawak di televisi,” demikian diberitakan Analisa , 16 Maret 1997.  Jojon yang bernama lengkap Djuhri Masdjan adalah salah satu pentolan Jayakarta Grup. Kelompok lawak ini beranggotakan Cahyono, Jojon, Suprapto alias Ester, dan Uuk. Sebagai maskot Jayakarta Grup, Jojon dikenal dengan banyolannya yang kocak dibalut aksi culun dan lugu. Selain itu, penampilannya dalam berkomedi juga terbilang nyentrik. Jojon selalu mengenakan kumis tengah menyerupai Charlie Chaplin serta celana kodok yang dipakai ketinggian. Gaya busana Jojon ini melahirkan jenama fesyen “celana Jojon” yang populer pada dekade 1990-an.  Hari nahas bagi Jojon datang ketika grupnya tampil di salah satu televisi swasta pada 1994. Dalam sebuah sketsa komedi, Jojon terlibat tebak-tebakan dengan tandemnya, Suprapto. Bermula dari pertanyaan Suprapto tentang gambar-gambar pada pecahan uang kertas rupiah.  “Uang 500 gambar apa?” tanya Jojon.  “Monyet,” kata Jojon.   Uang kertas pecahan 500 rupiah saat itu bergambar orang utan sebagai kampanye satwa nasional yang dilindungi. Ikon orang utan dalam uang 500 emisi tahun 1992 beredar hingga 1999.  “Kalau uang 50.000?” Suprapto melempar umpan lagi.  Jojon yang terdesak nyeletuk, “bapaknya monyet.”  Punchline dari Jojon begitu berani dan mengejutkan. Uang pecahan 50.000 itu bergambar Presiden Soeharto yang baru saja dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan. Apalagi Grup Jayakarta tampil rutin dalam program komedi di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) milik Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.  Pentas pun dihentikan. Para personel Jayakarta saling menyalahkan satu sama lain. Akibatnya lebih fatal bagi Jojon.  Lelucon Jojon memang tak sampai membuatnya kena cekal atau diseret ke dalam tahanan. Namun, menurut Adi Jojon, anak sulung Jojon, kejadian itu membuat Jojon kehilangan “periuk nasi” untuk sementara waktu. Tak ada stasiun televisi yang mau mengundang Jojon untuk manggung.  “Akhirnya sempat dirumahkan. Sempat tidak ada show kemana-mana,” tutur Adi dalam siniar Humoria Indonesia berjudul “ Kesaksian Putra Jojon tentang 500 Monyet dan Soeharto ”.  Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah tawaran melawak sepi, Jojon tak lagi menjadi bagian dari Jayakarta Grup. Menurut Cahyono, keluarnya Jojon karena perbedaan prinsip di antara mereka, khususnya dalam soal keuangan. Posisi Jojon pun digantikan oleh orang lain.  “Ya, sejak kasus itu mencuat di media massa, kami sudah positif tidak menggunakan Jojon, jadi Jojon bukan anggota Jayakarta lagi,” kata Cahyono dalam Bali Post , 14 April 1996.  Masa karantina Jojon baru berakhir pada 2003. Setelah rezim berganti, Jojon kembali melawak. Tak lagi bersama Jayakarta, Jojon bersolo karier sebagai pelawak tunggal.  Jojon tentu belajar dari pengalaman sebelumnya untuk lebih hati-hati dalam melempar guyonan. Dengan ciri khasnya yang tak lekang, ia perlahan-lahan eksis lagi di panggung hiburan. Tak hanya di pentas lawak, Jojon mulai merambah ke dunia film dan serial televisi. Ia juga langganan mengisi acara televisi untuk program komedi. Pada 2006, Jojon memenangkan nominasi SCTV Award untuk kategori Lifetime Achievement Award (Penghargaan Prestasi Seumur Hidup). Hingga akhir hayatnya, Jojon terus berkiprah sebagai komedian, menjadikannya sebagai salah satu pelawak legendaris Indonesia. Jojon wafat pada 6 Maret 2014 dalam usia 66 tahun.*

  • Greenland Dikuasai Denmark, Diancam Amerika Serikat

    GREENLAND, pulau terbesar di dunia itu luasnya 2,16 juta kilometer persegi, sekitar 19,6 persen lebih besar dari luas wilayah Indonesia. Menariknya, Indonesia punya hubungan perdagangan dengan negeri yang berada di bawah kedaulatan Denmark itu meski nilainya relatif kecil. Mengutip data Market Inside , per Oktober 2024-September 2025 nilai perdagangan kedua negara ini mencapai US$146 ribu atau setara Rp2,46 miliar. Indonesia mengekspor berbagai macam produk besi dan baja, mesin dan peralatan elektronik, produk-produk keramik, tekstil, hingga furnitur. Meski masih di bawah Denmark, Greenland bisa mengatur negerinya sendiri sejak 2009, termasuk soal perdagangan. Hak otonom mereka dapatkan lewat Undang-Undang Pemerintahan Mandiri sehingga mereka punya parlemen dan perdana menteri (PM). Suatu perubahan yang selangkah lebih dekat menjadi negara merdeka. Hanya saja belakangan ini Greenland mulai diusik. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mencaploknya dengan alasan keamanan nasional. Ia cemas dengan jalur perdagangan baru di kawasan Arktik yang dilalui kapal-kapal Rusia dan China. Dampaknya, Denmark meradang. Hubungan antara AS dengan Denmark, yang sama-sama bersekutu di NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, menimbulkan ketegangan. Menjadi menarik karena rupanya Greenland juga punya sejumlah kekayaan alam berupa mineral tanah jarang. “Jika AS memilih untuk menyerang negara [anggota] NATO secara militer, maka segalanya akan berakhir, termasuk NATO dan keamanan yang telah dijaga sejak akhir Perang Dunia II,” kata PM Denmark Mette Frederiksen, dikutip CNN , 9 Januari 2026. Terbaru, Menteri Luar Negeri (Menlu) Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menlu Greenland Vivian Motzfeldt terbang ke Washington DC untuk bertemu Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Menlu Marco Rubio pada Rabu (14/1/2026). Hasilnya inkonklusif. Baik AS maupun Denmark dan Greenland tidak menyepakati beberapa hal fundamental. Sementara Presiden Trump melalui akun media sosial  Truth Social , @realDonaldTrump pada Rabu (14/1/2026), bersikukuh Greenland harus berada di bawah kendali AS. Di Greenland, AS punya Pangkalan Antariksa Pituffik yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari ibukota Nuuk, sebagai basis sistem peringatan misil penting di kawasan Arktik. “AS butuh Greenland demi keamanan nasional. Vital bagi Golden Dome yang kami bangun. NATO semestinya jadi ujung tombak kami. JIKA TIDAK, RUSIA ATAU CHINA AKAN DAN ITU TIDAK BOLEH TERJADI! Secara militer tanpa kekuatan besar AS, yang sudah saya bangun sejak periode pertama, NATO tidak akan jadi kekuatan efektif atau kekuatan penangkal –bahkan tak secuil pun! Mereka dan saya tahu itu. NATO jadi jauh lebih kuat dan efektif bersama Greenland di tangan AMERIKA SERIKAT. Kurang dari pada itu tidak bisa diterima,” kata Trump. Tanah Orang Inuit Dalam usaha meyakinkan dunia internasional bahwa AS berhak berada di Greenland, sebelumnya Trump pernah berseloroh dan menyinggung sejarah, bahwa meskipun orang-orang Denmark pernah mendaratkan kapal di Greenland 500 tahun lalu, bukan berarti mereka bisa memilikinya. Faktanya, daratan Greenland mulai dihuni manusia sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi (SM) yang datang dari daratan lain dari barat yang kini menjadi wilayah Kanada. Masyarakat itu bertransformasi jadi pribumi Inuit. Makanya tak sedikit orang-orang Inuit ada di kawasan Arktik seperti Kanada, Greenland, Siberia di Rusia, hingga Alaska di AS. Mereka terkenal dengan sebutan “Orang Eskimo”. Dalam lidah orang Inuit, negeri itu disebut Kalaallit Nunat artinya “Tanah Orang Inuit Kalaallit”. Adapun pemukim dari Skandinavia atau Viking dari Eropa Utara baru datang kemudian. Dikisahkan dari manuskrip saga Eiríks saga rauða dari abad ke-13, Erik Thorvaldsson alias “Erik Si Merah” dari Norwegia adalah orang Skandinavia pertama yang datang ke negeri itu dengan membawa 14 kapal pada tahun 982. Ia pula yang menamakan negeri itu sebagai Grœndland. “Pada musim panas, Erik pergi untuk bermukim di negeri yang ia temukan, di mana ia menamakannya Greenland dengan alasan orang-orang akan tertarik datang jika negeri itu dinamai dengan nama yang disukai,” tulis saga tersebut. Erik mendirikan tiga pemukiman awal di pesisir timur, barat, dan pedalaman tengah, serta di beberapa fjord atau teluk panjang yang menyempit. Sedangkan Kerajaan Norwegia Lama baru mengklaim Greenland sebagai wilayah kekuasaannya pada tahun 1261 di masa Raja Haakon IV Haakonsson. Sebaran masyarakat pribumi Inuit dari Greenland sampai Alaska. (X @GreenlandRepDC). Denmark dan AS di Greenland Pada 1380 terjadi Persatuan Kalmar sebagai unifikasi Norwegia dan Denmark. Jauh kemudian Denmark-Norwegia berpisah dan melalui Traktat Kiel 1814, Kerajaan Denmark mengklaim Greenland, Islandia, dan Kepulauan Faroe dari Kerajaan Norwegia. Maka, sejak 1814 itulah Greenland resmi dikuasai Denmark. Meski begitu sempat ada kekosongan kekuasaan ketika Denmark diduduki Jerman pada Perang Dunia II (1939-1945). Di saat itulah militer AS menduduki beberapa wilayah Greenland dengan alasan mencegah invasi Jerman. Samuel Eliot Morison dalam History of United States Naval Operations in World War II, Volume 1: The Battle of Atlantic September 1939-May 1943 mencatat, AS sampai membangun Pangkalan Udara Bluie West-1 di Narsarsuaq di pesisir selatan dan Pangkalan Udara Bluie West-8 di Søndre Strømfjord di pesisir barat. Uniknya, pendudukan AS itu tanpa persetujuan pemerintahan Denmark yang masih diduduki Jerman. Pendudukan itu tercapai setelah Duta Besar Denmark untuk AS Henrik Kauffman menyerahkan kendali pertahanan Greenland yang bikin kaget pemerintahan Denmark sendiri. Baru pada 1953, pemerintah Denmark menyatakan Greenland bukan lagi koloni, melainkan wilayah yang terintegrasi. Di tahun itu pula Denmark dan AS dalam kerangka NATO, menyepakati persetujuan Greenland Defense Agreement, di mana AS diberikan keleluasaan mendirikan basis militer, yaitu Pangkalan Udara Thule (kini Pangkalan Antariksa Pituffik). Greenland Ingin Merdeka Terlepas dari banyaknya tuntutan untuk merdeka, Denmark memberikan status otonomi kepada Greenland pada 2009. Greenland pun punya pemerintahan sendiri, sebagaimana juga Kepulauan Faroe. Meski begitu Denmark masih mengendalikan sektor hubungan internasional dan keamanan. Meskipun demikian bukan berarti keinginan masyarakat Greenland untuk merdeka dari Denmark sirna begitu saja. “Greenland mengalami ‘Denmark-isasi’ setelah Perang Dunia II hingga memunculkan gerakan kemerdekaan meski baru menghasilkan ‘Home Rule’ atau pemerintahan mandiri pada 1979 hingga lebih jauh menghasilkan Undang-Undang Pemerintahan Mandiri pada 2009,” tulis Ulrik Pram Gad, Uffe Jakobsen, dan Jeppe Strandsbjerg dalam “Politics of Sustainability in the Arctic: A Research Agenda” yang termuat dalam Northern Sustainabilities: Understanding and Addressing Change in the Circumpolar World Satu dari sekian kasus “Denmark-isasi” yang kontroversial adalah penetapan kebijakan perempuan Inuit di Greenland untuk menggunakan alat kontrasepsi secara paksa untuk membatasi pertumbuhan populasi pada 1960-an dan 1970-an. Baru pada September 2025, PM Denmark Mette Frederiksen menyampaikan permintaan maaf atas nama Pemerintah Denmark. “Hari ini, hanya ada satu hal yang bisa dikatakan: Maaf. Maaf atas segala hak yang dirampas dari Anda dan rasa sakit disebabkan oleh itu. Sebuah bab dalam sejarah bersama kita yang seharusnya tak pernah tertulis. Atas nama [Pemerintah] Denmark. Maaf,” ujar PM Frederiksen, dilansir ABC , 25 September 2025. Kini, dengan adanya ancaman aneksasi dari Trump, masyarakat dan politikus yang terus mengupayakan kemerdekaan Greenland seolah mendapat musuh baru. Salah satunya sebagaimana yang disuarakan Aki-Matilda Høegh-Dam, anggota Parlemen Greenland termuda (22 tahun) dari Partai Naleraq yang pro-kemerdekaan. “Dalam banyak cara, kami terisolasi dari dunia selama 300 tahun, terutama dalam hal hubungan luar negeri. Namun sekarang kami terpojok dan ini semua membuat masyarakat gelisah. Semua partai di Greenland menyatakan bahwa kami tidak ingin jadi orang Amerika –dan kami juga tidak ingin jadi orang Denmark. Kami ingin jadi orang Greenland. Kami sudah punya satu penjajah; kami tidak butuh penjajah baru,” tandas Høegh-Dam, dilansir Al Jazeera , Selasa (13/1/2026).

  • Pasang Surut Hubungan Indonesia dan Iran

    SITUASI panas di Iran akibat aksi protes besar-besaran terhadap pemerintahan Republik Islam dikabarkan mulai mereda. Kendati begitu pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tehran, tetap mengimbau ratusan warga negara Indonesia (WNI) di Iran tetap waspada. Demonstrasi besar itu bergulir sejak 28 Desember 2025. Nahasnya, aksi damai itu berubah jadi kerusuhan berdarah yang menewaskan lebih dari tiga ribu jiwa. Bahkan, beberapa sumber menyebut korban mencapai lima ribu jiwa. Pemerintah Iran menuding agen-agen asing dari Israel dan Amerika Serikat (AS) yang memprovokasi kerusuhan. Presiden AS Donald Trump bahkan pernah sesumbar akan membantu rakyat Iran. Meski demikian, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz di forum Dewan Keamanan PBB pada Kamis (15/1/2026) membantah AS terlibat konspirasi asing dalam gejolak politik di Iran. Terlepas dari potensi konflik antara AS dan Iran, pemerintah Indonesia terus memantau warganya. Mengutip laman resmi Kemlu RI , ada sekitar 329 WNI di Iran yang terkonsentrasi di kota Qom. Belum ada rencana untuk mengevakuasi WNI dari Iran. Akan tetapi Kemlu RI mengimbau mereka untuk tetap waspada dan memantau perkembangan situasi demi mengantisipasi eskalasi situasi keamanan. Pun bagi WNI yang hendak berperjalanan ke Iran hendaknya ditunda dahulu. Hubungan Nusantara dan Persia Hubungan masyarakat Indonesia dan Iran sudah terjalin sebelum Islam tersebar di Nusantara. Pasalnya, di abad ke-7 sudah tercatat tentang suatu bani atau kumpulan orang yang ditengarai berasal dari Nusantara dan berdiam di Teluk Persia, yakni orang-orang Sayabiga. Dari sejumlah sumber, belum diketahui secara pasti dan detail sejak kapan dan dari mana orang-orang Sayabiga itu berasal. Tak sedikit yang menyebut orang-orang itu asalnya dari Pulau Jawa. Banyak pula yang menyebutnya dari Sumatra, khususnya dari Kerajaan Sriwijaya. Satu yang pasti, ini membuktikan bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. Salah satu catatan paling awal tentang orang-orang Sayabiga terdapat dalam catatan perjalanan saudagar dan penjelajah Persia, Sulaiman al-Tajir al-Sirafi berjudul Rihlah As-Sirafiy. Berisi kisah perjalanannya sekitar tahun 815 Masehi dari Persia ke India, China, dan Nusantara yang ia sebut sebagai Kerajaan Zabaj. Dalam beberapa sumber disebut Zabag atau Sabak. Al-Sirafi menceritakan, Kerajaan Zabaj berada di antara India dan China dan bisa dicapai dalam sebulan pelayaran. Penguasanya menyandang sebutan Maharaja yang menguasai banyak pulau seluas lebih dari 1.000 farsakh atau sebutan ukuran luas Persia kuno. Orang-orang dari Kerajaan Zabag itu lantas bermigrasi ke Sind, India (kini di Pakistan) hingga ke Teluk Persia. Sebutan Sayabiga atau Sayabija terbentuk dari lidah orang Persia terhadap para pendatang dari Zabag atau Sabak. Perpindahan orang-orang Sayabiga dari tanah India ke Teluk Persia tak lepas dari invasi Persia ke Lembah Indus. Penguasa Persia menjadikan orang-orang Sayabiga sebagai tambahan kekuatan pasukannya. “[Orang-orang] Sayabiga adalah para prajurit yang alami, berdisiplin, terbiasa dengan laut, pelayan yang setia, di mana kualitasnya sangat cocok untuk mengabdi di dalam pasukan darat maupun laut, untuk bertindak sebagai pengawal dan sebagai prajurit,” tulis Martijn Theodoor Houtsma dkk. dalam The Encylopaedia of Islam: A Dictionary of the Geography, Ethnography and Biography of the Muhammadan Peoples, Volume 4 . Sementara orang-orang Persia kemudian mulai banyak yang berdagang ke Sumatra. Bahkan, komunitasnya terdapat di Barus. “Hubungan antara Persia dan Nusantara telah berlangsung berabad-abad silam. Sejak lama terdapat komunitas Persia di Barus serta beberapa tempat di Pulau Sumatra. Karena pelayaran melalui Sri Lanka, maka mereka menggunakan jaringan maritim India yang sudah ada saat ini. Baru pada abad ke-8 jalur maritim antara Teluk Persia dengan Nusantara lebih berkembang. Pada situs arkeologi Majapahit di Trowulan ditemukan keramik Persia dari abad ke-15 dan 16,” tulis sejarawan Asvi Warman Adam dalam Pelurusan Sejarah Indonesia. Dari KAA ke Orde Baru Di era modern, Iran yang berada di bawah pemerintahan kekaisaran Shah Reza Pahlavi, memberi pengakuan kedaulatan dan menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Indonesia mulai tahun 1950. Lima tahun berselang, Shah Reza Pahlavi mengirim delegasi ke Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Robert Steele dalam Pahlavi Iran’s Relations with Africa: Cultural and Political Connections in the Cold War mencatat, ketika itu Iran memberangkatkan delegasi yang dipimpin Direktur Jenderal Seksi Politik Luar Negeri Kemlu Iran Jalal Abdoh dengan didampingi Amir Aslan Afshar. Nama terakhir ini disebutkan diplomat Iran yang pro-Belanda. Maklum, Dinasti Pahlavi saat itu sangat pro-Barat. “Dalam pidatonya di hadapan kongres [KAA], Abdoh menerangkan posisi Iran yang cenderung moderat. Ia mendorong para delegasi untuk menghindar dari subjek-subjek yang bisa menimbulkan perbedaan di antara bangsa-bangsa dan menyarankan tidak memanfaatkan konferensi itu untuk mempromosikan ideologi-ideologi politik,” tulis Steele. Di era Dinasti Pahlavi pula Presiden Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan pertama ke Iran. Ia datang untuk menghadiri perayaan 2.500 tahun Kekaisaran Iran pada 1971. Shah Reza Pahlavi membalas kunjungan ke Indonesia pada 1974. Dinasti Pahlavi tumbang pada 1979. Shah Reza Pahlavi mengungsi ke AS. Tak heran ia sangat menantikan pergantian rezim lagi demi bisa kembali berkuasa di Iran. Terlepas dari itu, pemerintahan Presiden Soeharto memilih waspada terhadap arus Revolusi Islam Iran yang bisa menular ke Indonesia. “[Kewaspadaan] itu terjadi dari tahun 1979 hingga 1987. Film revolusi 1979 dan Yaum Al-Quds dianggap upaya Teheran untuk mengekspor revolusi ke Indonesia,” tulis sejarawan dan pengamat politik Timur Tengah, M. Riza Sihbudi dalam Islam, Dunia Arab dan Iran: Bara Timur Tengah. Tak ayal pemerintah melalui Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin, kini Badan Intelijen Negara/BIN), memantau Kedutaan Iran di Jakarta dan orang-orang yang pernah ke Iran dan kembali ke Indonesia. Tiga Fase Hubungan Indonesia dan Iran Ketegangan antara Indonesia dan Iran perlahan mereda pada 1990. Bahkan, Presiden Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan lagi ke Iran pada 1993. Riza Sihbudi dalam kolom “Makna Kunjungan Presiden ke Iran” di harian Republika, 16 November 1993, menguraikan kembali perihal tiga fase relasi antara Indonesia dan Iran. Yang dimaksud adalah fase era 1979–1989, 1989–1991, dan 1992–1993. “Fase pertama (1979–1988) Indonesia berusaha ‘menjaga jarak’ dengan Iran. Ini sekurang­-kurangnya disebabkan adanya kekhawatiran terhadap pengaruh revolusi Islam Iran di Indonesia. Memang sulit dipungkiri, revolusi Iran membangkitkan kekaguman sebagian anak muda Indonesia. Waktu itu misalnya, tak sedikit kamar­-kamar kos mahasiswa Islam Indonesia dihiasi poster Ayatullah Khomeini,” tulis Riza Sihbudi. Faktor kedua menjaga jarak karena sikap Indonesia yang berusaha netral. Utamanya ketika terjadi Perang Iran-Irak (1980–1988) dan konflik Iran-Arab Saudi (1979–sekarang). Meski kemudian pemerintah Orde Baru cenderung pro-Saudi. “Fase Kedua (1989–1991) adalah masa transisi, dalam hubungan ekonomi politik kedua negara, di mana mulai positif perubahan sikap Jakarta terhadap Teheran pada fase ini tak terlepas dari terjadinya perubahan politik di Iran sendiri. Berakhirnya perang Irak-Iran, wafat Imam Khomeini, naiknya kaum ‘moderat’ di bawah [Presiden Akbar Hashemi] Rafsanjani ke panggung politik bersamaan dengan mulai menghilangnya slogan-slogan ‘ekspor revolusi’ merupakan faktor yang mempengaruhi arus ‘moderasi’, baik politik dalam maupun luar negeri,” tambah Riza Sihbudi. Di era inilah relasi Jakarta-Teheran mulai membaik. Baik dalam kerangka bilateral maupun multilateral. “Fase ketiga, dimulai sejak 1992, adalah ‘era baru’ hubungan Indonesia-Iran. Kedua negara tampak sudah benar-benar meninggalkan sikap saling curiga. Fase ini ditandai kunjungan Presiden Rafsanjani untuk menghadiri KTT GNB (Gerakan Non-Blok) ke-10 di Jakarta [September 1992]. Saat itu Rafsanjani juga mengadakan pertemuan khusus dengan Soeharto. Sejak itulah kedatangan pejabat tinggi Iran ke Indonesia, dan sebaliknya, seakan-akan sudah hal rutin,” tandasnya.*

  • Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

    DI Kebun Raya Bogor, ada nama jalan yang terdengar asing. Nama itu tidak diserap dari makna lokal, malah cenderung bernuansa Eropa. Jalan Astrid namanya. Nama ini merujuk kepada sosok Putri Astrid, putri Kerajaan Belgia yang pernah berkunjung ke Bogor pada masa kolonial. “Putri Astrid ini seorang botanis, pencinta tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Akhirnya namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di Kebun Raya Bogor,” tutur Suryagung, arsiparis sekaligus ketua tim pameran ANRI ketika memandu Historia.ID dalam pomeran arsip 75 Tahun Hubungan Indonesia-Belgia, beberapa waktu silam.  Pada 1928, Putri Astrid berkunjung bersama suaminya, Pangeran Leopold, putra mahkota Kerajaan Belgia. Waktu itu mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Jadi, perjalanan Astrid dan Leopold ke Kebun Raya Bogor masih dalam momen berbulan madu. Selain ke Bogor, pasangan ini juga mengunjungi Surakarta, Surabaya, dan Bali.   Ketika di Kebun Raya Bogor, Putri Astrid paling senang dengan bunga kana ( Canna hybrida ) atau disebut pula bunga tasbih. Setelah kunjungan itu, pengelola Kebun Raya Bogor kemudian membuat Jalan Astrid untuk menghormati Putri Astrid dan Pangeran Leopold. Di tengah ruas Jalan Astrid itu ditamani 29 petak bunga, yang merujuk tahun pembuatan jalan tersebut, 1929.  Menurut tim penulis LIPI dalam Kebun Raya Bogor: Dua Abad Menyemai Kekayaan Tumbuhan Bumi di Indonesia , bunga kana mengisi 29 petak bunga di Jalan Astrid. Bunga-bunga kana ini berwarna merah dan kuning serta daun yang berwarna gelap. Komposisi warna ini melambangkan warna bendera Belgia, yaitu merah, kuning, dan hitam. Bersamaan dengan itu, dibangun pula danau teratai raksasa yang diberi nama Danau Victoria.  Putri Astrid dari Swedia yang kemudian menjadi Ratu Belgia, permaisuri Raja Leopold III. (Repro Kronprinsessan Astrid /Wikimedia Commons). Pada 1932, Leopold dan Astrid kembali ke Hindia Belanda untuk memperluas kunjungan mereka ke Jawa (Sarangan), Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Leopold kelak naik takhta sebagai raja Belgia dengan gelar Leopold III pada 1934. Sayang, Astrid tak lama mendampingi Leopold sebagai ratu.  Ratu Astrid meninggal dunia pada 1935 akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan hiking di Swiss. Leopold yang mengendarai mobil mengalami luka ringan. Rakyat Belgia berkabung atas wafatnya ratu mereka yang masih muda dan cantik jelita itu. Tidak hanya orang Belgia, rakyat Swedia juga ikut berduka, sebab Astrid berasal dari Swedia. Astrid yang lahir di Stockholm, Swedia pada 17 November 1905, merupakan cucu dari Raja Swedia Oscar II.  Putra sulung Leopold dan Astrid, Baudouin kelak menjadi raja Belgia menggantikan ayahnya. Baudoin naik takhta sebagai raja pada 1951. Sama seperti orangtuanya, Baudouin juga pernah berkunjung ke Indonesia.  Raja Baudouin bersama permaisurinya, Ratu Fabiola, tiba di Jakarta pada 21 Oktober 1974. Kedatangan mereka dalam rangka kunjungan balasan setelah Presiden Soeharto berkunjung ke Belgia dua tahun sebelumnya. Dari lamanya kunjungan, Baudoin dan Fabiola tampaknya menikmati hari-hari mereka selama di Indonesia.  “Raja Baudouin dan Ratu melakukan kunjungan ke Indonesia selama 13 hari. Betah juga ya mereka di sini,” ujar Suryagung berkelakar.  Raja Baudouin dan Ratu Fabiola dalam penyambutan saat tiba di Bali pada 1974. (Katalog Pameran Arsip 75 Tahun Hubungan Indonesia-Belgia/ANRI). Majalah Tempo , 16 November 1974, menyebut kunjungan Raja Baudouin dan Ratu Fabiola sebagai rekor jalan-jalan tamu kenegaraan di Indonesia yang paling lama. Mereka berkunjung dari tanggal 21 Oktober sampai 2 November 1974. Pasangan ini mengikuti tidak kurang dari 65 acara. Mulai dari Jakarta, Bogor, Padang, Medan, Magelang, Yogyakart, Sala, kembali Jakarta, kemudian Bali.  Kegiatan Raja Baodoin dan Ratu Fabiola mecakup tur budaya ke Candi Borobudur di Jawa Tengah, serta perjalanan ke Sumatra Utara untuk mengaggumi Air Terjun Sipiso-piso yang menghadap ke Danau Toba. Sejalan dengan kunjungan raja dan ratu Belgia ini, pemerintah Belgia menyumbangkan 300.000 tablet obat cacing kepada Indonesia. Maklumlah, penyakit cacingan saat itu masih marak diderita anak-anak Indonesia.  Pada 22 Oktober 1974, Ratu Fabiola mengunjungi Kebun Raya Bogor sekaligus menjejaki jalan bersejarah Jalan Astrid untuk menghormati ibu mertuanya, Ratu Astrid. Di sisi lain, sikap Baudouin yang begitu gentle  terhadap Fabiola juga menarik perhatian. Meskipun sudah ada protokol, Baudouin selalu mengantar istrinya ke depan pintu mobil yang dalam iring-iringan termasuk nomor dua. Turun tangga, jalan-jalan, lengan Fabiola selalu tak lepas dari genggamannya.  “Selalu mesra seperti orang pacaran saja,” kata Nelly Adam Malik, istri Menteri Luar Negeri Adam Malik, seperti dikutip Tempo .  Selain Baudouin, adiknya Pangeran Albert juga beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Antara 1970–1985, Pangeran Albert melakukan tiga kali kunjungan ke Indonesia bersama delegasi ekonomi besar. Pangeran Albert kemudian naik takhta menggantikan Baudouin yang tidak memiliki anak.  Putri Astrid di Kebun Raya Bogor menunjuk palang nama "Jalan Astrid" yang tak merujuk pada neneknya, Ratu Astrid. (Katalog Pameran Arsip 75 Tahun Hubungan Indonesia-Belgia/ANRI). Albert II dinobatkan sebagai raja Belgia pada 1993 hingga 2013. Albert II kemudian digantikan oleh anak sulungnya Philipe. Raja Philipe menjadi raja Belgia yang masih berkuasa sampai saat ini.  Anak kedua Albert II, Putri Astrid pernah berkunjung ke Indonesia. Pada Maret 2016, Putri Astrid bersama delegasi besar dari kalangan bisnis dan akademisi, melakukan misi ekonomi ke Indonesia. Putri Astrid juga merupakan cucu dari Raja Leopold III dan Ratu Astrid. Kunjungannya ke Indonesia sekaligus untuk melihat rekam sejarah neneknya di Jalan Astrid Kebun Raya Bogor.  “Sangat indah... sangat indah. Saya senang berada di sini,” kesan Putri Astrid, dilansir Kompas , 17 Maret 2016, saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor.  Putri Astrid mengabadikan dokumentasi dirinya ketika berada di Jalan Astrid. Dalam sebuah potret, Putri Astrid tampak menunjuk plang nama “Jalan Astrid”. Jejak sejarah kiranya mempertemukan cucu dan nenek dari kerajaan Belgia itu di Kebun Raya Bogor.*

  • Saran dengan Muatan Modal Jerman

    PADA 3 November 1951, Hjalmar Schacht meninggalkan Jakarta setelah memberikan saran-saran mengenai ekonomi dan keuangan bagi pemerintah Indonesia. Di negeri asalnya, dia mencoba kembali menjalankan profesinya sebagai bankir. Sempat mendapat penolakan dari Senat, dia akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan dan menang. Pada Januari 1953, dia mendirikan Bankhaus Schacht & Co. di Dusseldorf, Jerman. Tapi hubungan dengan Indonesia tak terputus. “Dalam tahun-tahun berikutnya menyusul kunjungannya ke Indonesia, Schacht dimintai pendapat mengenai hal-hal keuangan oleh pemerintah Indonesia,” tulis Horst H. Geerken dalam Hitler’s Asian Adventure.

  • Resep Basi Ekonom Nazi

    KONSULTAN ekonomi pemerintah Indonesia, Hjalmar Schacht menyelesaikan laporan dalam bahasa Jerman pada 9 Oktober 1951. Laporan itu kemudian diterbitkan pemerintah Indonesia dalam bahasa Indonesia dan Jerman. Semua pejabat tinggi pemerintah mendapat salinan agar bisa mempelajarinya. Schacht membagi laporannya dalam tujuh bab. Bagian pertama menjelaskan latar belakang kedatangan dan tugasnya di Indonesia. Bagian kedua menyentuh keadaan umum seperti pemulihan keamanan, pembenahan birokrasi, bantuan luar negeri dan modal asing/swasta, serta peningkatan standar hidup dan prestasi kerja. Dan bab-bab berikutnya berturut-turut membahas dasar-dasar ekonomi, perdagangan dan perusahaan bank, keuangan negara, valuta, serta kesimpulan dan penutup. Laporannya kurang tersusun rapi. Pembahasannya tumpeng tindih dan kadang diulang-ulang. Tapi, kekurangan ini tentu tak mengurangi arti penting laporannya.

bottom of page