Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menanti Reuni Tyson vs Holyfield
ANDAI samsak hijau yang bergantung pada seutas rantai atau punching ball oranye bisa bicara, mungkin ia akan teriak minta ampun setelah bertubi-tubi jadi sasaran pukulan petinju legendaris Mike Tyson. Walau usianya tak lagi muda, 54 tahun, berjuluk “si Leher Beton” itu sejak April 2020 sedang intens latihan di sasana Kings MMA, Huntington Beach, California, Amerika Serikat. Pukulan-pukulan kombinasi Tyson juga terus menerjang sepasang mitt tinju yang dikenakan pelatihnya kala sesi sparring . Derasnya peluh yang mengucur dari kepala dan tubuhnya kian memacu keganasannya “menembak” sasaran-sasaran itu dengan pukulannya, sebagaimana yang terlihat lewat video yang ia unggah di media sosial Instagramnya, @miketyson , Selasa (21/7/2020). Tyson sedang merencanakan serangkaian pertarungan. Tentu bukan pertarungan kompetitif, melainkan eksebisi untuk tujuan amal yang akan disalurkan lewat yayasan amalnya, TYSON Cares Foundation. Beberapa nama petinju dimunculkan untuk jadi lawannya di atas ring. Mulai dari Tyson Fury, Riddick Bowe, hingga Evander Holyfield yang telinganya digigit Tyson dalam pertarungan 23 tahun lampau yang populer sebagai “Bite Fight”. Evander Holyfield & Michael Gerard 'Mike' Tyson bersahabat di masa tua (Foto: Instagram @miketyson) Baca juga: Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson Jika keduanya bersua di atas ring kembali untuk kali ketiga, akan jadi momen bersejarah. Toh sejak Mei 2020, Holyfield yang kini berusia 57 tahun juga membuka diri menyoal pertarungan eksebisi Tyson vs Holyfield jilid III. “Mike dan saya sudah membicarakan tentang (eksebisi) ini dan sejak itu perwakilan saya dan dia juga sudah saling diskusi. Kami memang belum mencapai kata sepakat tapi yang pasti sudah ada pembicaraan ke arah sana,” kata Holyfield, disitat Essentially Sports , 19 Mei 2020. “Banyak orang-orang besar dari negara-negara berbeda ingin kami menggelar pertarungan. Saya pribadi, ya, jika ada cara untuk kami bertarung lagi, saya bersedia. Saya yakin akan jadi ajang besar. Lagipula takkan ada yang mendapat keputusan menang atau kalah atau tersungkur KO. (Hanya) eksebisi,” tambahnya. Di Balik Tyson vs Holyfield MGM Grand Garden Arena di Paradise, Nevada, Amerika Serikat pada malam 9 November 1996 jadi saksi pertarungan pertama Tyson dan Holyfield. Keduanya tengah dalam puncak karier kedua. Baik Tyson maupun Holyfield sebelumnya sama-sama mati-matian bangkit dari penurunan performa di tinju kelas berat dunia. Namun, itu bukan pertemuan pertama mereka. Menurut James J. Thomas II, pengacara yang turut jadi manajer Holyfield di karier profesionalnya, dalam biografi The Holyfield Way: What I Learned about Courage, Perseverance, and the Bizarre World of Boxing , keduanya bertemu untuk pertamakali saat meniti karier di tinju amatir. “Evander dan Tyson bertemu di ring pada awal 1984, sebagai dua dari beberapa petinju amatir teratas Amerika Serikat yang berkumpul di Colorado Springs, sebuah fasilitas pelatihan jelang Olimpiade 1984 di Los Angeles. Sosok Tyson di usia 18 tahun sangat berotot, powerful , cepat, dan bertalenta. Ia jadi perhatian di antara peserta seleksi dan tak heran tiada seorangpun yang mau berisiko cedera jika sparring dengan petinju ganas asal Brooklyn, New York itu,” tulis Thomas. “Kecuali Evander, petinju kelas berat-ringan berprospek dari Atlanta, Georgia yang pendiam, sopan, dan khas laiknya bocah dari Selatan. Ketika pelatih Pat Nappy kesulitan mencari lawan latih tanding dengan Tyson, Evander mengajukan diri. Pelatih sempat menolak karena mereka beda kelas dan Tyson berbobot 25 pound (11,3 kg) di atas Evander. Namun Evander bersikukuh dan Nappy akhirnya mengizinkan dengan syarat, pertarungannya half speed (tidak 100 persen serius),” imbuhnya. Baca juga: Jalan Berliku Judoka Krisna Bayu ke Olimpiade Tetapi ketika lonceng dibunyikan, Holyfield justru bertarung dengan 100 persen kemampuannya. Keduanya sampai terlibat pergulatan sengit yang memaksa pelatih Nappy menghentikan sparring . Singkat cerita, Tyson gagal lolos seleksi tim Amerika, sementara Holyfield terpilih dan di olimpiade ia merebut medali perunggu. Keduanya lalu memilih jalan berbeda ketika masuk tinju profesional. Tyson tetap di kelas berat, sementara Holyfield dari kelas berat-ringan masih “bertualang” lagi di kelas jelajah sebelum masuk kelas berat di tahun 1989. Keduanya baru bertemu lagi 12 tahun setelah sparring di “pelatnas” tinju Amerika itu. “Holyfield dan saya sudah kenal lama. Kami berteman baik di (pelatnas) yunior Olimpiade. Dia memang selalu mendukung saya saat bertarung dan sebaliknya. Di tinju amatir dia sering kalah di mana semestinya dia bisa menang. Saat kami masih muda, kami takkan menyangka akan berhadapan dan sama-sama mendulang banyak uang,” ujar Tyson dalam otobiografinya, Undisputed Truth . Holyfield dan Tyson berkawan sejak masa muda di "pelatnas" tinju Amerika, di mana Holyfield berkalung perunggu Olimpiade 1984 (Foto: Instagram @miketyson/@evanderholyfield) Tyson saat itu belum lama keluar dari penjara akibat kasus pemerkosaan pada 1992. Karena campur tangan Donald Trump, pebisnis yang kini jadi presiden Amerika, Tyson bebas bersyarat pada 1995 meski hakim memvonisnya enam tahun penjara. Sekembalinya ke atas ring, Tyson merebut sabuk gelar kelas berat WBC setelah menganvaskan Frank Bruno hanya dalam tiga ronde pada Maret 1996. Di tahun yang sama, Tyson sukses meraih gelar WBA pada September setelah menyungkurkan Bruce Seldon lewat kemenangan TKO. Adapun Holyfield yang sempat pensiun pada 1995, comeback untuk mendaki tangga WBA agar bisa jadi penantang gelar. Debutnya gemilang meski menang lewat keputusan RTD (Referee Technical Decision) atas Bobby Czyz pada Mei 1996. Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu Bagi Holyfield, bisa menantang Tyson akan jadi “jalan pintas” untuknya menggapai masa keemasan keduanya. Tak lama setelah melawan Czyz, Holyfield meminta Thomas manajernya untuk mengikat kesepakatan pertarungan dengan Tyson meski saat itu Tyson sudah dijadwalkan bertarung melawan Seldon pada September. “Dia bilang sangat yakin bisa mengalahkan Tyson jika saya bisa membuat kesepakatan pertarungannya. Saya tanya, kenapa dia berpikir bahwa dia akan mengalahkan petinju berjuluk ‘ The Baddest Man on the Planet ’ ketika tiada satupun petinju kelas berat top bisa bertahan sekian ronde. Evander mengoreksi saya dan bilang bahwa dia tak berpikir, namun dia tahu akan mengalahkannya,” sambung Thomas. Holyfield (kanan) saat melawan Bobby Czyz (Foto: boxinghalloffame.com ) Holyfield lantas mengatakan, sejak ia berhadapan dengan Tyson di tinju amatir, ia merasa suatu saat akan kembali berhadapan di arena profesional dan di tahun itu adalah saat yang tepat. Tiada rasa gentar karena Holyfield selalu melihat celah atas keuntungan psikis terhadap Tyson. “Tiada alasan untuk takut pada Mike Tyson. Dia petinju hebat dan sangat powerful , namun dia hanya manusia seperti saya. Ibu saya mengajarkan hanya takut pada Tuhan. Lagipula saya yakin benar Mike takkan melukai saya separah kakak saya Eloise saat kami kecil. Mike memang punya power yang besar, tetapi begitupun saya,” tutur Holyfield, dikutip Thomas. Baca juga: Tinju Kiri Ali di Jakarta Pada April dan Mei 1996, Thomas menjajaki rencana itu dengan promotor kondang Don King. Rencana itu nyaris batal lantaran Don King dianggap Holyfield tak adil dalam pembagian pendapatan pertarungan. Di muka, Don King menawarkan Holyfield mendapat USD5 juta, sementara Tyson USD30 juta dari pertarungan itu. Negosiasi alot berjalan sampai Don King bersedia menaikkan tawaran USD10 juta untuk Holyfield, serupa dengan yang diterima Seldon ketika melawan Tyson pada September 1996. Tyson vs Holyfield I pada November 1996 (Foto: Youtube @ElTerribleProductions/Instagram @lesboxeursdudimanche) Sementara, Holyfield bersikeras setidaknya ia bisa mendapat USD15 juta. Tetapi akhirnya Holyfield sudi menerima USD10 juta dengan opsi rematch jika menang dan akan mendapatkan kenaikan hingga USD20 juta. Tyson pun tak butuh waktu lama untuk menyatakan kesediaannya meladeni Holyfield. Dia “pede” bisa mengalahkan kawan lamanya itu. “Holyfield sedang tak dalam performa baik dalam beberapa pertarungan sebelum pertarungan kami. Saya menonton dia saat melawan Czyz dan Czyz benar-benar menghajarnya sebelum dia kalah (dari Holyfield) di ronde kesepuluh. Jadi saya tak latihan serius jelang lawan Holyfield. Saya juga tak menetapkan strategi khusus, sekadar maju dan memukul saja. Lagipula saya diunggulkan 25:1,” kata Tyson mengenang. Sebaliknya, Holyfield menyiapkan diri dengan sangat serius. Dia merekrut eks-jawara WBA Mike Weaver sebagai asisten pribadi dan eks-jawara WBC David Tua sebagai lawan latih tanding yang punya style bertarung mirip Tyson. Tandukan Dibalas Gigitan Pertarungan Tyson vs Holyfield jilid I memperebutkan gelar kelas berat WBA akhirnya dimenangi Holyfield secara TKO di ronde kesebelas. Sesuai kontrak dengan Don King sebelumnya, rematch digelar karena Hollyfield menang. Tyson sangat menantikan tarung ulang itu lantaran ia merasa dicurangi oleh wasit yang mengabaikan serangkaian tandukan kepala Holyfield. Tim pelatih Tyson juga mencurigai Holyfield menggunakan steroid. “Croc (Steve ‘Crocodile’ Fitch, red. ) yakin bahwa Holyfield mengonsumsi steroid. Salah satu petinju mantan atlet olimpiade Lee Haney juga menggunakannya. Dia bilang Holyfield terlihat normal ketika timbang berat badan namun saat dia masuk ring, dia tampak seperti Goliath,” singkap Tyson. “Saya ingin melawan Holyfield lagi, saya sangat marah. Walau masih nyeri, saya sudah mulai latihan lagi malam setelah pertarungan. Saya marah mengingat kehilangan gelar, namun saya tak ingin menengok ke belakang,” lanjutnya. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Tyson vs Holyfield II pada Juni 1997 (Foto: Instagram @mistahprince/@boxinglegacy) Tyson belajar dari pengalaman sehingga menyiapkan diri dengan lebih serius. Ia beralih pelatih dari Jay Bright ke Richie Giachetti. Meski begitu, di pertarungan itu Tyson harus kembali merelakan gelar WBA gagal direbutnya. Ia dinyatakan kalah lewat keputusan diskualifikasi. Arena MGM Grand Garden kembali jadi medan pertarungan Tyson Holyfield II, 28 Juni 1997. Di ronde ketiga ketika pertarungan sengit, Tyson berulang-kali terkena tandukan Holyfield. Alhasil pipi dekat mata kanan Tyson sobek. Tiap kali insiden itu terjadi, Tyson protes namun wasit Mills Lane selalu menyatakan tandukan itu tidak disengaja. Tyson yang kesal lantas membalas dengan menggigit kuping kanan Holyfield ketika lawannya kembali “bermanuver” menunduk dan hendak menyundul Tyson lagi. “Saya akan melakukannya lagi jika terprovokasi dan sedang berada dalam situasi yang sama. (Wasit) Mills Lane tak melindungi saya dari tandukan-tandukan Holyfield,” ketus Tyson. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather Telinga kanan Holyfield setelah digigit Tyson (Foto: Instagram @evanderholyfield) Holyfield yang mengerang kesakitan berlari ke sudut ringnya dan dikejar Tyson. Ketika wasit sukar memisahkan Tyson, petugas keamanan pun naik ring untuk melerai keributan dan pertarungan dihentikan. Holyfield dinyatakan menang lewat putusan diskualifikasi dan Tyson disanksi larangan bertarung serta denda USD3 juta oleh Nevada State Athletic Commission, walau setahun kemudian sanksi itu dicabut. “Tetapi itu sudah berlalu. Hari-hari berikutnya sangat hebat. Saya juara dunia yang mendapat penghasilan USD33 juta. Jeleknya memang kuping saya jadi berbentuk runcing walau tentu ada hikmah di balik itu,” ujar Holyfield. Namun seiring keduanya pensiun dari tinju profesional, tiada rasa dendam di benak masing-masing legenda tinju dunia itu. Terlebih pada 16 Oktober 2009 dalam program TV “The Oprah Winfrey Show”, Tyson meminta maaf secara langsung pada Holyfield dan Holyfield dengan tulus memaafkan Tyson. Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat
- Awal Mula Orang Nusantara Mengenal Gorengan
Prasasti Rukam yang ditemukan di Temanggung dari sebelas abad lalu menyebutkan hidangan yang disajikan usai penetapan sima (tanah bebas pajak). Makanan itu diolah dengan cara diasinkan dan dipanggang. Beragam ikan dan daging tak dijelaskan proses pengolahannya. Prasasti-prasasti dari masa Jawa Kuno maupun Bali Kuno lebih sering mencatat makanan yang diolah dengan cara dikeringkan, diasinkan, diasap, direbus, dan dipepes (dikukus). Eny Christyawaty, peneliti Balai Arkeologi Medan, mencontohkan orang Mentawai yang masih mengolah makanan dengan cara seperti itu. Mereka mengolah daging dengan diasap atau direbus; mengasinkan makanan dengan air laut; serta mengolah sagu, keladi, pisang, dan ikan dengan dibakar. “Di kalangan orang Mentawai yang masih sangat tradisional tidak dikenal cara memasak dengan menggoreng,” tulis Eny dalam Jejak Pangan dalam Arkeologi. Cara mengolah makanan dengan menggoreng belum lama dikenal masyarakat Nusantara. Diperkenalkan Orang Tionghoa Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Jaringan Asia menyebut teknik menggoreng diadopsi dari orang Tionghoa. Kuali dan penggorengan pun adalah alat memasak yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa. Sinolog Thomas O. Hӧllmann dalam The Land of the Five Flavors: a Cultural History of Chinese Cuisine menyebut bahwa menggoreng adalah salah satu dari banyak metode memasak yang sudah lama dikenal oleh orang Tionghoa. Di dalamnya termasuk teknik stir-fry ( jian chao ) dan deep-fry ( zha ). Zha dilakukan dengan mencelupkan makanan ke genangan minyak panas. Teknik ini membutuhkan wajan atau penggorengan yang cukup dalam agar bahan makanan bisa tercelup dengan baik di dalam minyak panas. Di Nusantara, cara ini digunakan khususnya ketika membuat kudapan gorengan. Sementara itu, Jian chao atau tumisan dilakukan dengan sedikit minyak goreng yang dipanaskan di atas api bersuhu tinggi, lalu diaduk dengan cepat. Rongguang Zhao, ahli sejarah dan budaya makanan Tiongkok di Zhejiang Gongshang University, d alam A History of Food Culture In China , mengatakan bahwa metode ini adalah yang utama dalam mengolah masakan tradisional Tiongkok. Sejarah kuliner Tiongkok mengungkap bahwa teknik menumis berkembang dari penggunaan peralatan masak besi. Hӧllmann menjelaskan peralatan besi menjadi semakin penting untuk mengolah makanan sejak abad ke-3 dan seterusnya. “Orang Tiongkok sudah memanfaatkan teknologi pengecoran untuk membuat peralatan masak jauh sebelum teknologi itu tiba di Eropa,” catat Hӧllmann. Menurut Hӧllmann, bentuk awal wajan, wajan cekung yang dalam, mungkin telah dikembangkan ketika itu juga. Kata wok (wajan), yang berasal dari pelafalan kata pot ( guo ) dalam bahasa Kanton, telah umum di dunia Barat. Karenanya, di Tiongkok masakan yang ditumis atau digoreng kemungkinan besar sudah mulai dikenal antara abad ke-3 dan ke-6, selama Dinasti Wei, Jin, Utara dan Selatan. “Sebelum peralatan masak dari logam ditemukan, teknik ini tidak digunakan dalam masakan Tiongkok. Orang Tiongkok kuno tak melakukannya karena bisa merusak kuali gerabah,” tulis Zhao. Penggunaan Minyak Di Nusantara, keterangan mengenai makanan yang digoreng baru ditemukan pada masa yang lebih muda. Salah satunya dalam Serat Centhini karya bersama para pujangga Keraton Surakarta yang dipimpin Sunan Pakubuwono V, dan diselesaikan pada 1814. Di naskah itu diceritakan tentang sesaji dalam upacara. Ceritanya beragam masakan lauk pauk lengkap dalam acara kendurian upacara pernikahan. Di antaranya masakan berbahan daging. Ada yang ditusuk, disapit, dibakar, digoreng, direbus, maupun dikukus. Disebut juga menu sayuran yang ditumis. Tampaknya, orang Nusantara mulai terbiasa menggoreng makanan didorong oleh pemanfaatan buah kelapa sebagai minyak dan masuknya kelapa sawit pada abad ke-19. Pada awal abad ke-20, minyak kelapa menjadi hasil utama dari budi daya kelapa. Dari keperluan domestik, minyak kelapa kemudian menjadi komoditas perdagangan. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rucianawati dalam “Usaha Kelapa Rakyat di Daerah Jawa Timur pada Awal Abad ke-20” yang terbit di Lembaran Sejarah Volume 4 2001 , mencatat kala itu juga sudah ada beberapa pengusaha Eropa dan Tionghoa yang mengolah buah kelapa dengan mesin modern. Sedangkan rakyat membuat minyak kelapa langsung dari buah kelapa yang masih segar secara tradisional. Ragam penganan yang digoreng pun menjadi banyak diperjualbelikan. Seperti disaksikan Justus van Maurik, seorang pengusaha cerutu, ketika melancong ke Jawa pada abad ke-19. Dalam Indrukken van een totok (1897), ia bercerita tentang keberadaan para penjual makanan di warung pinggir jalan. Mereka menjual nasi, sayur, dan gebakken vischjes (ikan goreng) yang dibungkus bladeren (daun pisang). Di perkampungan orang Tionghoa, Maurik juga menjumpai beberapa warung kecil yang menjajakan berbagai hidangan, seperti nasi, ikan goreng dan asap, dendeng, sambal, kopi, buah-buahan, kembang gula, dan aneka macam kue.
- Sukarno vs Majalah Time
Di masa kekuasannya, Presiden Sukarno acap kali diberitakan secara miring oleh media asing. Dari sekian banyak, majalah terbitan Amerika Time dan Life menjadi media asing yang masuk daftar hitamnya. Sukarno mencurahkan kejengkelannya kepada Presiden John F. Kennedy ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada April 1961. “Majalah Tuan, Time dan Life terutama sangat kurang ajar terhadap saya,” ujar Sukarno kepada Kennedy sebagaimana dituturkan dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Siapa nyana, Time sebagai salah satu majalah ternama Amerika pernah menulis berita utama tentang Sukarno yang sumbernya berasal dari kabar isapan jempol. Ganis Harsono, juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) menjadi saksi bagaimana kekeliruan itu bisa terjadi. Dalam memoarnya, Ganis mengakui kelalaiannya meneruskan gosip belaka berbuah petaka. Baca juga: Ketika Sukarno dan Kennedy Berdebat Sebagai juru bicara Deplu, Ganis adalah figur yang cukup dekat dengan wartawan. Para juru warta dalam negeri maupun asing kerap kali mendatangi Ganis untuk meminta siaran pers. Tentu saja berita yang berkaitan dengan hubungan luar negeri Indonesia. Sekali waktu pada 1958, Ganis menyambangi kediaman Menteri Luar Negeri Soebandrio untuk menyiapkan bahan-bahan siaran pers. Karena Soebandrio masih menerima beberapa orang di ruangan tamu, Ganis masuk melalui jalan lain menuju ruang makan. Di sana, Ganis bersua dengan Ma’ruf, wartawan suratkabar Keng Po. “Saya cukup mengenal Ma’ruf. Dia adalah salah seorang kader inti Partai Sosialis Indonesia, dan di kalangan wartawan dia lebih dikenal sebagai seorang politisi,” kenang Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Ma’ruf bertanya kepada Ganis, apakah ada siaran pers yang dapat diberitakan. Ganis menyarankan Ma’ruf agar meminta keterangan lengkap kepada Menteri Soebandrio saja. Tiba-tiba, Ma’ruf melontarkan berita aneh yang berasal dari Nyonya Suprapti. “Siapa Nyonya Suprapti itu?” tanya Ganis. “Nyonya Suprapti adalah seorang dukun yang meramalkan akan segera terjadi perang antara Amerika dengan Republik Rakyat Cina (RRC), dan katanya RRC akan menang,” terang Ma’ruf. Baca juga: Sepuluh Teori Konspirasi Amerika yang Terbukti Benar Mendengar itu, Ganis cuek saja. Dia hanya percaya fakta bukan gosip murahan. Namun untuk menyenangkan Ma’ruf, Ganis berjanji akan membicarakan gosip itu di tempat minum kopi. Sekadar main-main, dalam benak Ganis. Pertemuan dengan Ma’ruf maupun urusan di kediaman Soebandrio pun selesai begitu saja. Ganis kembali ke kantor Departemen Luar Negeri di Jalan Pejambon. Pada siang harinya, Ganis kedatangan wartawan Time J. Bell bersama dengan pembantunya – penerjemah bahasa – S.T. Hsieh, seorang Cina nasionalis yang tinggal di Jakarta. Mereka hanya membicarakan hal-hal yang ringan. Ganis mengatakan pada Bell bahwa tidak ada keterangan pers hari itu. Saat bercengkrama, Ganis melihat Hsieh sedang membaca sebuah buku. Ternyata itu buku horoskop yang biasa dipakai untuk meramal. Mendengar itu, ingatan Ganis terbawa kepada celotehan Ma’ruf tadi pagi. Begitulah, Ganis menyampaikan cerita Ma’ruf kepada Hsieh tanpa ditambah maupun dikurangi. Beberapa bulan berselang, Agustus 1958, Time muncul dengan berita utama mengenai Presiden Sukarno. Dalam sampul depan majalah itu, wajah Bung Karno ditampilkan seperti drakula yang memandang dengan tatap penuh ancaman. Mengenai potret Sukarno dalam sampul, bukanlah masalah berarti. Yang jadi persoalan, Time dalam laporannya memuat ramalan Nyonya Suprapti bahwa RRC akan mengalahkan Amerika Serikat. Dengan demikian. Sukarno akan bersorak-sorai. Baca juga: Sukarno, Majalah Playboy, dan CIA Ganis segera menelepon Hsieh. Dia mengatakan betapa bahaya menyiarkan berita isapan jempol dalam negara yang sedang keadaan darurat perang. Hsieh berkilah dengan mengaku bahwa Bell-lah yang menulis berita setelah memaksa dirinya menerjemahkan pembicaraan dengan Ganis. Sepekan setelah kejadian itu, Hsieh ditangkap. Dari Hongkong, Bell mendatangi kantor Deplu untuk minta pembantunya, Hsieh dibebaskan. Ganis yang menghadapinya keburu berang dan mengusir Bell. Namun Bell berdalih, katanya, keterangan tambahan itu bukan darinya melainkan editornya di New York. Jadi, Bell menolak bertanggung jawab namun bersikukuh membebaskan Hsieh dari tahanan. Time kemudian mengirim orang lain sebagai pengganti Bell di Indonesia. Seorang berkebangsaan Kanada dengan postur tinggi tegap bernama Paul Hermuses. Untuk mengurus pembebasan Hsieh, Hermuses melobi ke Istana. Melalui ajudan presiden Letkol Sugandi, Ganis mendapat informasi “sumber dari laporan utama Time itu tidak lain ialah juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia sendiri, dan karena itu pembantu Time S.T. Hsieh harus segera dibebaskan.” Baca juga: Sukarno dan Majalah Playboy “Saya harus menyalahkan diri sendiri karena telah menjadi korban tipu muslihat Ma’ruf yang telah menyebarkan gosip di ibukota,” ujar Ganis. Pada akhirnya semua pihak dirugikan akibat berita itu. Hsieh, pembantu Time tersebut tetap mendekam di penjara. Majalah Time , Bell, dan Hermuses dilarang masuk ke Indonesia. Di sisi lain, Bung Karno menuai kesan negatif dalam pergaulan internasional gara-gara liputan sensasional Time . Sementara itu, Ganis Harsono dinyatakan persona non grata alias orang yang tidak disukai di Istana, walaupun tidak secara resmi. Sukarno sendiri, kata Ganis, tidak pernah memperlihatkan kemarahannya terang-terangan. Meski demikian, selama dua tahun antara 1958—1960, Ganis diperlakukan dengan dingin setiap kali hadir dalam upacara-upacara resmi di Istana. Menteri Soebandrio juga “menghukum” Ganis dengan membebas-tugaskannya dari pekerjaan humas kepresidenan dalam perjalan Sukarno ke luar negeri. Baca juga: Bentakan Menlu RI Buat Diplomat AS Dalam disertasinya yang dibukukan Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 , Baskara Tulus Wardaya menelusuri ihwal sikap antipati media Amerika pada Sukarno. Menurut sejarawan Universitas Sanata Dharma ini, banyak kalangan di Amerika merasa gusar saat mengetahui sepulangnya dari kunjungan ke Amerika pada Mei 1956, Sukarno melakukan kunjungannya ke Uni Soviet dan RRC. Bung Karno yakin bahwa banyak rakyat Amerika yang melihat kunjungannya ke kedua negara komunis tersebut sebagai “balasan yang tidak sopan” atas keramah-tamahan mereka. “Media massa Amerika mulai mencercanya, dan ‘mulai mengatakan bahwa orang yang ngakunya percaya pada Tuhan itu ternyata adalah seorang dedengkot Komunis,’” tulis Baskara. Sejak itulah media massa Amerika doyan melancarkan serangannya kepada Sukarno dengan berita-berita bernada provokatif.
- Sudjojono, Proklamator Seni Rupa Modern Indonesia
Pelukis Sindudarsono Sudjojono hidup dalam empat zaman berbeda. Dari zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, hingga Orde Baru. Perannya dalam dunia seni rupa Indonesia juga cukup penting. Ia sudah menulis wacana-wacana seni rupa Indonesia sejak muda dan melahirkan gagasan seni rupa Indonesia modern. Peneliti seni Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa berkat perannya itu, Sudjojono diibaratkan sebagai proklamator seni rupa modern Indonesia. “Pak Djon ini harus kita tempatkan sebagai, kalau dalam konteks politik, beliau itu seperti seorang proklamator. Beliau itu Sukarnonya seni rupa Indonesia. Dia yang pertama memproklamasikan keberadaan seni lukis Indonesia. Itu dia lakukan di tahun 1939,” kata Aminudin. Menggantikan Mooi Indie Tulisan-tulisan Sudjojono sejak 1939 terhimpun dalam buku Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman yang terbit pada 1946. Buku ini kemudian menjadi rujukan para sejarawan untuk memahami konteks lahirnya seni rupa modern Indonesia. Lebih jauh, jika Raden Saleh didapuk sebagai pelopor, melalui manifestonya Sudjojono adalah proklamator. Dalam tulisannya yang terbit dalam Majalah Keboedajaan dan Masjarakat pada Oktober 1939, Sudjojono mengimbau pelukis-pelukis Indonesia untuk tidak melukis dengan gaya mooi indie . Mooi indie sendiri kala itu tengah populer dan memiliki corak yang khas yang menggambarkan pemandangan Hindia Belanda yang molek. Sebagai gantinya, laki-laki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara pada 1913 ini menganjurkan para seniman fokus pada persoalan-persoalan kebangsaan. Tentang kesadaran bahwa saat itu rakyat berada dalam penjajahan. “Sudjojono saat itu mengatakan bahwa kita harus keluar dari gaya ini ( mooi indie ). Itu menjadi sangat terkenal sekali karena tulisan ini seperti manifesto atau seperti proklamasi,” kata Aminudin. Namun, menurut Aminudin, hal ini seringkali disalahpahami oleh para sejarawan. Banyak yang mengira Sudjojono memaksakan atau mengharuskan realisme. Padahal, Sudjojono justru menawarkan gagasan tentang bagaimana membangun corak seni lukis Indonesia baru. Bukan Melawan Barat Kesalahpahaman tenyata tak hanya sampai di situ. Aminudin menyebut bahwa seringkali mooi indie sendiri sering diidentikkan dengan seni rupa Barat. Hal ini kemudian memunculkan kesimpulan bahwa Sudjojono melawan seni rupa Barat. Menurut Aminudin, kesalahan awal para sejarawan ini disebabkan oleh pembacaan terhadap Sudjojono tanpa melihat konteks. Padahal, tiap tulisan Sudjojono yang berbeda-beda tahun terbitnya memiliki konteks masing-masing. “Ada dua artikel ditulis di zaman Jepang. Itu sudah beda. Kemudian ada beberapa artikel ditulis di zaman Belanda. Satu artikel ditulis tahun 1946. Sudjojono sudah berubah cara berpikirnya. Nah , tapi sejarawan atau siapapun seringkali menyamaratakan, seakan-akan buku ini satu (bagian) sekaligus,” kata Aminudin. Jika dibaca konteksnya, Sudjojono sendiri tidak pernah bermasalah dengan seni rupa Barat. Pasalnya, menurut Aminudin, seniman Indonesia saat itu tidak bisa memberikan alternatif artistik untuk melawan seni lukis Barat atau Eropa yang dominan di Hindia Belanda khususnya Batavia saat itu. “Melawan dengan apa? Melawan dengan gambar wayang? Nggak mungkin. Sudjojono nggak mau itu. Sudjojono itu nggak mau banget menggambar wayang. Dia justru megatakan bahwa keindonesiaan dalam seni lukis hanya bisa dihasilkan dengan cara kita mempelajari Barat,” kata Aminudin. Menangkap Modernitas Sudjojono menegaskan bahwa dengan mempelajari Barat, seniman Indonesia akan memahami apa itu Timur. Sementara itu, menganggap Timur itu otentik justru akan berbahaya. Kala itu, seringkali seniman-seniman Barat di Batavia mendatangi museum untuk melihat karya-karya seni Nusantara dan menjadikannya inspirasi. Hal ini yang juga ditentang Sudjojono jika dilakukan oleh seniman-seniman Indonesia. Menurutnya, meski karya-karya itu warisan kesenian Indonesia, perlu adanya kekinian sebagai representasi zaman. “Kekontemporeran kita itu hanya bisa didapat, kata dia, kemodernan kita itu kalau kita melihat realitas itu sendiri. Apa realitas itu, yaitu kata dia, para pemuda yang ada di jalanan, sepatu orang kaya, mobil. Itu scenery modern saat itu di Hindia Belanda. Itulah kemodernan yang mau dia tangkap,” kata Aminudin. Visi modernitas itu kemudian juga dibarengi dengan semangat belajar yang tak membedakan mana Barat dan Timur. Aminudin mencontohkan, dalam lukisan yang berjudul Cap Go Meh, Sudjojono terpengaruh oleh lukisan Carnival in Flanders dan Intrigue karya pelukis Belgia James Ensor. Kedua lukisan Ensor itu pernah dipamerkan oleh kolektor Maurice Raynal antara tahun 1935 hingga 1940-an di Kunstkring, Batavia. “Dia (Sudjojono) melihat pameran itu dan kemudian dia mencoba meramu. Saya kira itu yang dia bilang, kita jangan segan-segan belajar sama Barat untuk menemukan ini (identitas) kita,” kata Aminudin. Sudjojono juga percaya, tema-tema yang diangkat oleh pelukis Barat akan tetap berbeda jika dibuat oleh pelukis-pelukis Indonesia. Hal inilah yang terlihat dalam lukisan Cap Go Meh yang dilukis dengan cara dan warna khas Sudjojono sendiri. Sudjojono juga mengagumi pelukis Jerman, Marc Chagall. Lukisan Sudjojono berjudul Di Depan Kelambu Terbuka disebut Aminuddin terinspirasi secara artistik dari lukisan Bella in Green karya Chagall. Modernitas yang ditawarkan Sudjojono serta anjurannya untuk belajar dari Barat agar dapat menemukan identitas seni lukis Indonesia inilah yang kemudian hari melambungkan nama Sudjojono. Namun , perjalanannya sebagai pelukis masih panjang melalui zaman Jepang, Revolusi, Orde Lama , dan Orde Baru kelak.
- Klepon, Makanan Istana
Letjen TNI Achmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat, mengirim utusan ke Malaysia pada awal 1965 untuk melakukan penjajakan guna mengakhiri Konfrontasi. Setelah Achmad Yani dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, operasi itu dilanjutkan Mayjen TNI Soeharto. Soeharto membentuk tim operasi khusus yang dipimpin oleh Ali Moertopo. Salah satu anggota tim adalah Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, yang bersahabat dengan tokoh-tokoh Malaysia, seperti Tun Abdul Razak, Tunku Abdul Rahman, Tan Sri Ghazali Shafei, sejak sama-sama kuliah di Inggris tahun 1947. Ketika liburan kuliah pada 1948, Des Alwi mengajak Tun Abdul Razak ke Indonesia dan memperkenalkannya kepada Soeharto yang saat itu masih berpangkat mayor. Perundingan dilakukan di Malaysia dan Bangkok, Thailand, pada Mei 1966. Setelah itu, Tun Abdul Razak, Menteri Luar Negeri merangkap Deputi Perdana Menteri Malaysia, diundang ke Indonesia. Presiden Sukarno menerimanya sebagai tamu negara. Meski suasana kedua negara masih tegang, selama pertemuan itu tidak ada kesan kaku. “Ada peristiwa menaik, Presiden Sukarno menawarkan kue onde-onde dan klepon, kepada Tun Abdul Razak. Kue ini makanan khas Indonesia yang menjadi menu wajib istana untuk tamu negara. Suasana semakin akrab. Saya hanya tersenyum saja menyaksikan,” kata Des Alwi dalam “Juru Damai Saudara Serumpun” di majalah Tempo , 19–25 November 2007. Dari pertemuan kenegaraan itu, Des Alwi percaya jalan perundingan damai kian terbuka lebar. Soeharto menunjuk Adam Malik mewakili pemerintah Indonesia dalam pertemuan puncak mengakhiri Konfrontasi. Pada 11 Agustus 1966 di Bangkok, Adam Malik dan Tun Abdul Razak menandatangani perjanjian damai. Secara resmi Konfrontasi berakhir dan hubungan Indonesia-Malaysia pulih kembali. Manisnya kue klepon dalam pertemuan Sukarno dan Tun Abul Razak seakan menjadi saksi perdamaian antara negara serumpun. Budayawan Agus Dermawan T. dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden menyebut bahwa masakan di Istana Negara pada semua era presiden ternyata sangatlah Nusantara, meski pernah disela sebentar oleh makanan Eropa kala B.J. Habibie menjabat presiden. “Penganannya pun sederhana dan sangat Indonesia, seperti wajik, nogosari, lemper, lopis, semar mendem, dan klepon,” tulis Agus Dermawan. Makanan yang termasuk menu itu, lanjut Agus, termasuk jagung rebus berurap parutan kelapa, yang syahdan merupakan tanda kenangan kedekatan Sukarno dengan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Berkaitan dengan makanan itu, Sukarno pernah bilang, “ Go to hell , croissant , spekkoek , dan glace !” Bahkan, Sukarno pernah mencanangkan gerakan makan jagung dalam revolusi menu makan orang Indonesia. Gerakan ini gagal karena orang Indonesia sehidup semati bersama nasi. Mingguan Panji Masyarakat , No. 20 Tahun IV, 6 September 2000, melaporkan bahwa jangan anggap remeh jajanan pasar. Kue seperti onde-onde, lemper, atau pukis yang lebih dikenal sebagai makanan rakyat, rupanya disukai juga kalangan Istana. Presiden dan pejabat negara menyukai jajanan tradisional ini. “Hampir semua jenis jajanan pasar disukai keluarga Presiden Durrahman (Gus Dur, red .). Begitu pula Soeharto ketika masih berkuasa. Sementara Habibie lebih suka makanan ala Eropa,” demikian laporan Panji Masyarakat . Panji Masyarakat melanjutkan, biasanya kue-kue itu dihidangkan di bagian belakang ruang utama Istana Negara. Setelah acara resmi seperti pelantikan menteri atau peresmian program pemerintah, para tamu beranjak ke bagian belakang untuk menikmati berbagai jajanan tradisional itu sembari berbincang. Kue-kue tersebut selain dihidangkan pada acara resmi, juga menjadi suguhan sehari-hari keluarga presiden. Ada tiga pemasok hidangan itu untuk Istana Negara, yakni Ibu Nasution, Ibu Supit, dan Kukuh Pudjiantoro. Di antara ketiga pemilik katering itu, kue-kue buatan Kukuh, pemilik Katering Proklamasi, yang paling digemari keluarga presiden. Bahkan, kue buatan Kukuh beberapa kali dipesan khusus untuk hidangan pribadi keluarga Gus Dur di Ciganjur. Gagas Ulung dalam All About Wedding (2010) menyebut bahwa Katering Proklamasi berdiri sejak 1979 dengan spesialis jajanan tradisional khas Jawa, seperti klepon, lunpia, kue mangkok, carabikang, pisang goreng, apem, semar mendem, dan lain-lain. Katering ini berusaha melestarikan dan mengembangkan makanan tradisional. Alhasil, sejak 1987 hingga kini, pihak Istana Negara selalu menunjuk Katering Proklamasi sebagai penyedia hidangan tradisional khas Jawa untuk jamuan kenegaraan. Kue-kue jajanan pasar dihidangkan di Istana Negara, selain untuk melestarikan makanan khas Indonesia, ternyata juga memiliki makna. Agus Dermawan menyebut klepon, tepung berbalut kelapa dengan gula Jawa di dalamnya , dimaknai sebagai “negara yang berhati manis”.
- Dari Kopi hingga Anggur
Kopi Tersebar ke Seluruh Dunia Kopi tersebar ke seluruh dunia secara tak terduga. Selepas tunai berhaji, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji kopi ke kampungnya pada abad ke-15. Dia hanya berniat ingin menikmatinya sendiri. O rang - orang kampung mendorongnya lebih jauh. Sejak itu, kopi mulai dikenal di beberapa kota pelabuhan dunia seperti Venezia, Lisabon, dan Amsterdam. Orang-orang pun segera gandrung minum kopi. Melihat permintaan yang tinggi, pedagang-pedagang Eropa mencari cara mendatangkan kopi. Mereka membawa pulang kopi dari wilayah Timur Tengah seperti Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria. Belanda kemudian membawa biji kopi dari Yaman ke Ceylon (Srilanka). Di sana, mereka membudidayakannya. Tak puas dengan Ceylon, Belanda meluaskan ekspansinya ke Nusantara. Bersama itu, mereka juga menjadikan Nusantara, terutama Jawa, sebagai tanah budidaya kopi pada abad ke-17. Tak beberapa lama, Belanda berhasil menguasai penjualan kopi dunia. Tradisi Minum Teh Teh memiliki beragam kisah muasal. Salah satunya menyebut berasal dari Tiongkok. Disebutkan seorang Kaisar Tiongkok pada 2737 SM, Shen Nung, tengah duduk di bawah pohon sembari memasak air. Tiba-tiba helai daun teh jatuh dan masuk ke dalamnya. Aroma wangi menyeruak saat daun itu diseduh. Seduhan itu lalu diminum. Rasanya pahit dan sepat. Namun , kaisar menyukainya karena tubuhnya terasa segar. Sekarang daun itu dikena l dengan Camellia sinensis , sedangkan seduhannya disebut teh. Meski telah diminum khalayak sejak lama, pengolahan daun teh baru berkembang pada masa Dinasti Tang (618-906). Teh diolah dengan cara ditumbuk lalu dicetak dalam bentuk bata. Setelah mengering, teh bisa diseduh. Kala itu teh sudah menjadi minuman mewah. Tak sembarang orang bisa menikmatinya. Keluarga kaisar meminumnya sebagai simbol status. Saat upacara pengadilan kekaisaran dihelat, teh wajib dihidangkan. Bersama keluarga kaisar, sastrawan mendapat kehormatan ikut meminumnya. Kebiasaan ini diperkenalkan ke Jepang pada masa Dinasti Song (960-1279). Secara bertahap, teh akhirnya menyebar ke wilayah Eropa dan belahan dunia lainnya. Budidaya teh di Indonesia Awalnya teh hanyalah tanaman hias yang ditanam di beberapa lokasi, termasuk Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Harga teh yang tinggi di pasar Eropa mendorong pemerintah Hindia Belanda melakukan percobaan membudidayakan teh. Pada 1826, teh berhasil dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Setahun kemudian penanaman dilakukan di Cisurupan, Garut, lalu dalam skala besar di Purwakarta dan Banyuwangi. Keberhasilan ini mendorong Jacob Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, untuk mendirikan perkebunan teh komersial di Jawa. Pada 1835, untuk kali pertama teh dari Jawa diekspor dan sebanyak 200 peti dilelang di Amsterdam. Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch menjadikan teh sebagai salah satu tanaman yang harus ditanam di masa Tanam Paksa. Teh adalah salah satu komoditas ekspor penting. Penemuan dan Pemanfaatan Tuak Minuman keras ini khas Nusantara. Penduduk lokal meracik tuak dengan menyadap pohon aren –sejenis palem. Pohon ini tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Air sadapannya disebut nira. Cara menyadap ini bertahan turun-temurun. Catatan historis tertua mengenai minuman ini berasal dari berita Tiongkok masa Dinasti T’ang (618-906 M). Berita itu menyebut penduduk Ho-ling –sebuah kerajaan di Jawa Tengah– gemar meracik minuman keras dari nira kelapa. Sementara itu, Prasasti Taji (901 M), Kembang Arum (902 M), dan Rukam (907 M) mengisahkan pemanfaatan tuak yang dihidangkan saat penetapan suatu sima (tanah perdikan/bebas pajak). Penyulingan Anggur Tertua Sejumlah arkeolog mengungkap beberapa tempat yang diduga sebagai penyulingan anggur tertua. Tempatnya tersebar di pelbagai penjuru dunia. Pada 1963, arkeolog menemukan sebuah penyulingan anggur kuno di Tepi Barat, Palestina. Tempat itu diperkirakan dibangun pada 1650 SM. Temuan lain pada 1996 mengungkap sisa-sisa penyulingan anggur berusia 7400 tahun di desa Neolitik Hajji Firuz, bagian utara Iran. Sedangkan temuan paling mutakhir pada Juni 2010 mengungkap wilayah Areni, selatan Armenia, sebagai penyulingan anggur berusia lebih 5500 tahun.
- Dari Nina Bobo hingga Salam Metal
Lagu untuk Menidurkan Anak Ada banyak kisah mengenai lagu ini. Mulai terkait lagu kematian hingga pemujaan terhadap setan. Tapi semua kisah itu tak bersandar pada catatan sejarah yang terang. Lagu itu sebenarnya sejenis lullaby , sebuah lagu yang enak didengar, menyejukkan hati, dan biasa didendangkan kepada anak kecil agar tertidur. Tiap bangsa punya lagu seperti itu. Tak ada catatan sejarah yang terang menyebut kapan lagu itu mulai dikenal masyarakat Indonesia. Tapi Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menyebut judul lagu itu berasal dari gabungan bahasa Portugis dan Spanyol; Menina (gadis kecil) dan Bobo (bodoh dalam pengertian disayang). Mungkin mula lagu ini bisa terjejaki dari sejarah interaksi penduduk Nusantara dengan bangsa Portugis dan Spanyol pada abad ke-15. Sejarah Titilaras di Indonesia Sebelum berjumpa dengan kebudayaan Barat (diatonik, tujuh nada), titilaras yang dikenal di Indonesia adalah pentatonik (lima nada). Sebutannya berbeda di tiap daerah: selonding di Bali, pelog dan slendro di Jawa, maoling di Minahasa, dan sorog atau madenda di Sunda. Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menulis, di antara semua titilaras yang dipunyai kebudayaan Indonesia, hanya slendro yang diketahui sejarahnya.” Dalam catatan Tiongkok terungkap titilaras itu dikenal pada masa pemerintahan Buddha, Syailendra, di sekitar Candi Borobudur pada abad ke-8. Orang Jawa mengenal titilaras itu melalui seorang guru agama Buddha dari Tiongkok, Hwi Ming. Titilaras itu sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak 2700 SM. Fenomena British invasion British invasion adalah fenomena dalam dunia musik Amerika Serikat pada dekade 1960-an. “Invasi Inggris” ini merujuk pada grup band legendaris Inggris asal Liverpool, The Beatles. Mengusung genre rock n roll , lagu bertajuk “I Want to hold Your Hand” sukses merajai tangga lagu Amerika saat dirilis pada 26 Desember 1963. Dalam kurun dua bulan, singel itu mencapai penjualan album tertinggi di Amerika. Ketika melakukan tur ke Amerika pada Februari 1964, penampilan The Beatles disaksikan 74 juta pemirsa ketika tampil di acara The Ed Sullivan Show.The Beatles, sejak itu, menguasai industri musik Amerika lewat lagu-lagu mereka. Korps Marching Band Bermula Bentuk awal korps marching band tercatat bermula di Kesultanan Ottoman pada abad ke-13. Dalam setiap pertempuran, sebuah korps khusus akan mengiringi pasukan Ottoman dengan memainkan musik-musik yang menggetarkan musuh sekaligus meningkatkan semangat juang prajurit kesultanan. Korps ini dinamakan mehter , yang juga merupakan bagian dari korps elite Janissary , pasukan budak milik sultan. Pada awalnya, musik-musik mehter hanya dimainkan di medan pertempuran. Namun kemudian berkembang menjadi musik orkestra dan dipertunjukkan dalam acara-acara seremonial di istana. Dengan perantaraan perang antara Ottoman dan kerajaan-kerajaan Eropa, pada abad ke-17 musik mehter pun merambah dunia Barat dan mempengaruhi karya-karya komposer kenamaan Eropa saat itu, seperti Mozart dan Beethoven. Salam Metal Jadi Populer Salam berupa isyarat tangan yang mengangkat jari telunjuk dan kelingking ke udara kali pertama dipopulerkan Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath, grup musik asal Inggris yang sering disebut sebagai perintis genre musik heavy metal . Dalam setiap konsernya, Dio melakukan salam ini sebagai sarana berkomunikasi dengan penonton. Salam ini kemudian melekat dengan musik-musik metal; juga rock dan pop. Menurut Dio, dia tahu “salam metal” ini sejak kecil dari neneknya yang seorang keturunan Italia. “Saya diberitahu bahwa hal ini disebut malocchio . Jika seseorang dilanda nasib buruk karena pengaruh setan, nenek saya akan menunjukkan malocchio untuk menghindari nasib buruk tersebut,” ujar Dio dalam Louder Than Hell: The Definitive Oral History of Metal yang disusun Jon Wiederhorn dan Katherine Turman.
- Aliansi Amerika-Jerman di Pertempuran Kastil Itter
KAPTEN John C. ‘Jack’ Lee Jr. duduk mengaso di atas turet tank M4 Sherman yang dinamainya “Besotten Jenny” pada sore yang terbalut udara hangat musim semi, 4 Mei 1945. Tank itu “istirahat” di sebuah simpang jalan setelah memimpin tank-tank lain mengamankan Kota Kufstein, Austria. Namun belum juga lama bersantai, kewaspadaan kapten muda komandan Kompi B Batalyon Tank ke-23, Divisi Lapis Baja ke-12, Korps XXI Amerika Serikat itu tergugah. Dari kejauhan tampak sebuah mobil mirip kodok menggelinding mendekati persimpangan tempat tank Kapten Lee. Mobil yang ternyata Kübelwagen buatan Volkswagen (VW) itu jelas kendaraan punya tentara Jerman. Namun Lee mengurungkan aba-aba bersiap pasukannya setelah muncul bendera putih dari kodok besi itu. Seorang mayor Wehrmacht lalu turun dari kodok itu dan disapa Lee seadanya. Sang mayor memperkenalkan dirinya sebagai Josef ‘Sepp’ Gangl, lalu menyerahkan sepucuk surat dan memberitahu dia dan sisa pasukannya dari Resimen Artileri ke-83 yang bertahan di Wörgl, tak jauh dari Kufstein, siap menyerahkan diri ke pasukan Amerika. John C. 'Jack' Lee Jr. (kanan) saat masih berpangkat letnan (Foto: spiegel.de/Robert D. Lee) Gangl mengklaim surat berbahasa Inggris itu berasal dari salah seorang tahanan di Kastil Itter. Isi suratnya berintikan permintaan bantuan penyelamatan para tahanan VIP tokoh-tokoh penting asal Prancis. Meski diragukan Lee, Gangl menguraikan bahwa surat itu didapatkannya dari seorang anggota pemberontak bawah tanah Austria. Si pemberontak itu sendiri mendapat suratnya dari Andreas Krobot, tahanan asal Cekoslovakia yang menjadi koki di Kastil Itter. Krobot bersepeda delapan kilometer ke Kota Wörgl demi menitipkan surat itu. “Jack Lee kemudian berkomunikasi lewat radio dengan Letkol Kelso G. Clow (dan-yon Lapis Baja ke-23) dan dari komunikasi itu Lee diarahkan untuk mengatasi situasi di Wörgl dan Kastil Itter semampunya. Untuk menguji kebenaran cerita dan kesungguhan niat Gangl, ia mengatakan akan ikut dengan mobil sang mayor untuk melakukan pengintaian areanya,” tulis Stephen Harding dalam The Last Battle: When U.S. and German Soldiers Joined Forces in Waning Hours of World War II in Europe . Baca juga: Aksi Gila Michael Wittmann si Jago Tank Jerman Kapten berusia 27 tahun itupun ikut dalam Kübelwagen Mayor Gangl yang di sampingnya turut serta Kopral Keblitsch. Lee mengajak Kopral Edward Szymczyk sebagai pengawal. Untuk kian meyakinkan Lee, Gangl mengutarakan alasan dan motifnya bersedia jadi “perantara” pesan dari Kastil Itter. Gangl, lanjut Harding, juga sudah diperintahkan komandannya, Letkol Johann Giehl, untuk mengosongkan Wörgl sejak akhir April dengan terlebih dulu menghancurkan sejumlah jembatan. Namun Gangl urung menuruti perintah itu karena melihat situasi, Jerman sudah kalah dan Hitler sudah bunuh diri pada 30 April. Mayor Josef 'Sepp' Gangl (Foto: Garnisonmuseum Ludwigsburg/Stephen Harding) Baca juga: Seragam Jerman Nazi Buatan Hugo Boss Gangl juga melihat warga Wörgl sudah muak dengan perang dan banyak yang memajang kain putih dalam rangka menyongsong pasukan Amerika yang sudah mendekat. Namun Gangl insyaf bahwa mereka bakal jadi korban keganasan pasukan Schutzstaffel (SS, paramiliter Nazi) jika kedapatan mengibarkan bendera putih di permukiman. Pasukan SS itu adalah sisa-sisa dari Divisi SS ke-17 “Götz von Berlichingen” yang akan mengisi kekosongan pendudukan Wörgl setelah ditinggalkan angkatan darat Jerman. Gangl memutuskan untuk bertahan di Wörgl bersama tak lebih dari 10 serdadu artileri dan juga bekerjama dengan mempersenjatai para pemberontak bawah tanah Austria. Sesampainya di Wörgl, Kapten Lee resmi menerima penyerahan sisa pasukan Gangl. Lee mengizinkan mereka tetap menyandang senjata sebagai perbantuan pengamanan bersama para partisan Austria. Sementara itu, Lee dan Gangl melanjutkan perjalanan ke Kastil Itter. Kastil peninggalan abad ke-13 di puncak Bukit Brixental itu terpisahkan sebuah ngarai dan aksesnya hanya sebuah jembatan. Aliansi dalam Misi Dramatis Berkat info Rupert Hagleitner dan Alois Mayr, partisan Austria di Wörgl, Lee dan Gangl mendapati rute-rute aman menuju Desa Itter yang terletak di lembah bukit. “Jalan tikus” itulah yang mereka tempuh untuk menghindari blokade pasukan SS. Saat melewati Gereja St. Joseph, Lee-Gangl bertemu perwira SS Hauptsturmführer (setara kapten) Kurt-Siegfried Schrader. “Schrader sedang dalam perjalanan pulang ke Desa Itter setelah bertemu para tahanan (VIP) Prancis di Kastil Itter. Schrader sebelumnya salah satu anggota pasukan gabungan (Wehrmacht-SS) dari Grup Tempur Giehl. Ia baru pulih setelah terluka dalam sebuah pertempuran,” ungkap Scott Baron dalam Valor of Many Stripes: Remarkable Americans in World War II. Schrader, lanjut Baron, sudah akrab dengan para tahanan VIP di Kastil Itter karena beberapa anggota keluarganya turut bekerja menyediakan kebutuhan mereka. Dari Schrader pula Lee mendapat info bahwa kastil itu tak lagi dikawal pasukan penjaga SS-Totenkopf karena Komandan SS-Totenkopf Sebastian Wimmer melarikan diri bersama semua penjaga Kamp Konsentrasi Dachau. Para tahanan Kastil Itter merupakan bagian darinya. Baca juga: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Hauptsturmführer Kurt-Siegfried Schrader (Foto: National Archives) Schrader menginformasikan kepada Lee siapa saja tahanan VIP yang harus diselamatkan. Selain dua eks-perdana menteri (PM) Prancis Édouard Daladier dan Paul Reynaud, ada eks-Menteri Pertahanan Maxim Weygand, eks-Panglima Tentara Prancis Jenderal Maurice Gamelin, dan Marie-Agnès de Gaulle yang merupakan kakak Jenderal Charles de Gaulle, pemimpin pemerintahan pengasingan Prancis di Inggris. Kastil Itter sudah diambilalih oleh para tahanan VIP serta para tahanan asal Balkan, yang sebelumnya dipekerjakan di kastil, berbekal sisa-sisa senjata ringan yang ditinggalkan penjaga. Sesampainya Lee di gerbang kastil, ia disambut figur-figur penting di atas. Lee berjanji akan kembali membawa pasukan untuk menyelamatkan mereka. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Satu hal yang mengganjal di pikiran Lee hanyalah bisa-tidaknya Schrader dipercaya mengingat ia perwira SS, bukan Wehrmacht sebagaimana Gangl. “Gangl melihat sikap skeptis Lee terhadap Schrader. Ia lalu menjamin bahwa Schrader takkan mengkhianati Lee. Gangl percaya karena ia sudah mengenal Schrader sejak mereka saling mengenal di Grup Tempur Giehl,” sambung Harding. Kastil Itter di salah satu pelosok Tyrol atau bukit di Pegunungan Alpen (Foto: bildarchivaustria.at ) Lee lalu bergegas kembali ke Kufstein. Dia meminta bantuan Komandan Resimen Infantri ke-142 Letkol George E. Lynch dan diberi tiga skuad pasukannya berisi 14 prajurit. Lee juga mengumpulkan lima tank Sherman lagi dari kompinya. Didukung pasukan Gangl, kini Lee punya misi membebaskan para tahanan VIP itu dengan kekuatan enam tank Sherman, 14 tentara Amerika, dan 10 serdadu Jerman. Kekuatan tank-nya ia sebar, dua di jembatan di atas Sungai Inn, dua lagi di Wörgl untuk menemani para partisan Austria menjaga kota dari potensi serangan pasukan SS. Satu tank Sherman ia perintahkan berjaga di jembatan yang jadi akses dari Wörgl menuju Desa Itter. Sementara Tank Lee, “Besotten Jenny”, datang ke Kastil Itter bersama 24 pasukan gabungan Amerika-Jerman. Baca juga: Tank Gaek "Stuart" yang Bertahan Hidup Para tahanan di dalam kastil meyakinkan Lee bahwa mereka wajib ikut mempertahankan diri. Pasalnya Schrader mengabarkan bahwa satu kompi pasukan SS “Götz von Berlichingen” berkekuatan 100-200 serdadu akan ke kastil untuk menghabisi para tahanan. “Lee sadar bahwa dia akan menghadapi peperangan di sebuah kastil di Pegunungan Alpen bersama sekelompok tahanan VIP Prancis, aliansi yang mengkhawatirkan dengan musuh (tentara Jerman), dan berada dalam situasi hidup-mati dalam sebuah pertempuran yang bisa dibilang aneh di Perang Dunia II front Eropa,” sambung Harding. Ilustrasi Tank M4 Sherman, serupa dengan tank "Besotten Jenny" yang dikendarai Kapten Jack Lee (Foto: archive.gov ) Pada pagi buta 5 Mei 1945, Kapten Lee yang tengah melepas lelah dikagetkan oleh bunyi rentetan senjata dari luar kastil. Sekitar 100 pasukan SS melakukan serbuan, demikian yang dilihatnya lewat binokular dari atas menara kastil. Pertempuran Kastil Itter dimulai. Pada serangan gelombang pertama, 24 pasukan di kastil dengan beberapa tahanan masih mampu menghalau serangan pasukan SS. Tetapi pada serangan gelombang kedua, pasukan SS mendapati hasil pengintaian bahwa kastil itu hanya dilindungi seonggok tank Sherman. Satu tembakan meriam Flak 88 (Flugabwehrkanone 18 kaliber 8,8 cm) pasukan SS pun langsung melumpuhkan satu-satunya tank di Kastil Itter berikut radio komunikasi di dalamnya. Baca juga: Texel, Palagan Terakhir di Eropa Kehancuran tank itu ikut menambah masalah Lee. “Padahal Lee teringat bahwa dia mendapat jaminan Kolonel Lynch bahwa pasukan inti Resimen ke-142 akan segera menyusulnya kala Lee berangkat dari Kufstein. Lynch memerintahkan Letkol Marvin Coyle, komandan Batalyon ke-2, bergerak dari Kufstein menuju Lembah Brixental dengan tujuan Kastil Itter. Tetapi pasukan berkekuatan empat kompi dan sejumlah tank Sherman lainnya tak bisa lekas bergerak karena banyaknya blokade,” singkap Baron lagi. Situasi di Kastil Itter kian genting seiring meningginya mentari. Mayor Gangl ambruk ditembak sniper SS kala menyelamatkan Reynaud di tengah sengitnya pertempuran. Kekhawatiran Lee diperparah oleh menipisnya stok amunisi. Ilustrasi pasukan SS Divisi ke-17 Panzergrenadier "Götz von Berlichingen" yang menyerang Kastil Itter (Foto: Repro "The 17th Waffen-SS Panzergrenadier Division Götz von Berlichingen") Dalam situasi kacau itu, Jean Borotra, mantan atlet tenis yang jadi tahanan di sana, mengajukan diri untuk keluar meminta bantuan kepada pasukan Amerika terdekat. “Jean Borotra selalu bersemangat ketika kami menahan gempuran. Dia mengajukan diri menyelinap keluar tembok kastil dan lari menuju Wörgl untuk minta bantuan. Itu artinya dia harus berlari 40 yard di medan terbuka sebelum bisa menyembunyikan diri di pepohonan. Saya sempat menolaknya tetapi dia bersikukuh,” tutur Lee kepada suratkabar militer AS, Hellcat News , 26 Mei 1945. Baca juga: Halt Order dari Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk Pertaruhan nyawa Borotra tak sia-sia. Ia bertemu empat kompi Resimen ke-142 Amerika di Wörgl yang kemudian bergegas membantu ke Kastil Itter. Di Kastil, misi Lee dan mendiang Gangl berada di ujung tanduk. Pasukan SS makin dekat ke tembok kastil. Sisa-sisa pasukan gabungan Amerika-Wehrmacht nyaris tak punya amunisi dan hanya bisa mengundurkan diri ke salah satu menara jaga. Maurice Gamelin, Michel Clemenceau & Paul Reynaud, tiga dari sekian tokoh VIP yang ditahan di Kastil Itter turut bertempur (Foto: riddip.com ) Sekira pukul empat sore, Lee mendengar gemuruh suara tank dari luar. Baru sedikit ia melongok ke jendela, wajah kusutnya seketika berubah. Pasukan bantuan akhirnya tiba dan pasukan SS yang mengepung kastil lari kocar-kacir. Mission impossible Lee dan Gangl membebaskan para tahanan VIP berhasil. Atas keberaniannya, Kapten Lee dianugerahi medali Distinguished Service Cross. Mendiang Gangl diakui sebagai pahlawan Austria dan namanya diabadikan jadi nama sebuah jalan di kota Wörgl. Schrader dibebaskan dari semua peradilan yang lazim dihadapi para serdadu SS berkat kesaksiannya. Baca juga: Gedoran Corregidor
- Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud
PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho , namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam. “Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul. Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan. “Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar. Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud. Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel. Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar. Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud. “Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang ,” jawab Cornel. Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta. Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.
- CIA Ungkap Peristiwa APRA Westerling
SETELAH melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, Kapten Raymond Westerling, komandan Korps Speciale Troepen (Pasukan Khusus Belanda) kembali melakukan operasi brutal di Jawa Barat. Puncaknya ketika seorang komandan batalion dari Divisi 7 Desember melaporkan Westerling karena pasukan yang dipimpinya telah membunuh sepuluh warga sipil di jalanan kota Ciamis. Atas perintah Panglima Tentara Belanda di Batavia, Jenderal Simon Spoor, Westerling pun dibebastugaskan pada 11 November 1948. Westerling kemudian memasuki kehidupan baru sebagai warga sipil. Dia menikahi kekasihnya, Fernanda Yvonne Fournier, wanita keturunan Indo-Prancis. Fernanda adalah putri seorang pengelola hotel asal Prancis yang menikah dengan wanita pribumi (versi lain menyebutkan wanita Vietnam).
- Bioskop Garuda, Dulu Primadona kini Tinggal Nama
Bicara tentang film tak akan bisa lepas dari bioskop. Film menjadi salah satu kesenian yang memikat banyak orang hingga masa kini, sedangkan bioskop menjadi tempat untuk menikmati film. Sejarah penyebaran film berhubungan erat dengan pendirian bioskop di berbagai tempat. Film masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Bersama itu bioskop pertama muncul di Batavia dan menarik perhatian banyak orang. Waktu itu bioskopnya masih berupa rumah. Tapi apa yang dipertunjukan sungguh suatu keajaiban. Gambar idoep, itulah sebutan film saat itu. Maka, orang berbondong-bondong ke bioskop. Orang-orang bermodal tebal mendirikan bioskop di berbagai tempat di luar Batavia. Makin hari, makin bagus bentuknya. Tapi seperti bisnis lainnya, bisnis bioskop juga merasakan masanya bangun dan jatuh, naik dan turun, manis dan pahit, hidup dan mati. Di Kediri, Jawa Timur, masa-masa itu terekam jelas dalam bioskop Garuda. Patung Panji Asmoro Bangun simbol kota Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda di Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda terletak di Jalan Yos Sudarso, kawasan Pecinan, tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berbatasan dengan Kali Brantas. Pendirian bioskop ini sebati dengan tumbuhnya minat orang Kediri pada film selama era 1970-an. Selain Garuda, Kediri punya empat bioskop lain pada masa 1980-an. Tempat duduknya selalu terisi penuh. Baca juga: Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop “Dulu di Kediri itu tidak banyak tempat hiburan. Ketika bioskop dibangun, warga penasaran dan akhirnya masuk dan nonton film,” ujar Ismanto (48), salah satu guru di kota Kediri. Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berlokasi tidak jauh dari bioskop Garuda. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Bioskop Garuda yang tampak angker. (Fernando Randy/Historia). Dari lima bioskop itu, Garuda paling elite. “Bioskop Garuda itu salah satu bioskop untuk yang punya duit lebih mas, karena harga tiketnya cukup mahal zaman itu, seingat saya harga tiketnya sekitar Rp350-an,” kata Ismanto. Baca juga: Konflik Aceh Mereda Tapi Bioskop Terlupa Jika dikonversi ke nilai uang sekarang, nilainya sekira Rp35.000. Selain itu, film-film yang diputar bioskop Garuda pun berbeda dari bioskop lainnya. Mereka lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia: Tiongkok dan India. Tapi seiring perkembangan zaman, bioskop Garuda mulai ditinggalkan orang pada 2000-an. Bangunan gedung bioskop Garuda yang tampak tidak terurus. (Fernando Randy/Historia). Lambang Garuda yang melekat pada pintu utama gedung bioskop. (Fernando Randy/Historia). Bioskop ini sekarang tak aktif lagi. Tapi bangunannya masih berdiri. Ada papan nama bertulis "Garuda" lengkap dengan logo burung Garuda yang juga merupakan lambang negara Indonesia. Baca juga: Asal-Usul Profesi Tukang Catut di Bioskop Penyebab matinya bioskop Garuda antara lain maraknya pembajakan, kemunculan perangkat pemutar film rumahan, dan kalah bersaing dengan jaringan bioskop modern. Pengunjung Garuda pun berkurang. Pemasukan tak ada sehingga membuat manajemen Garuda limbung. Setelah didera kerugian, Garuda tersungkur dan mati. Salah satu sisi bangunan bioskop Garuda yang rusak. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Garuda tampak tak terurus. Catnya terkelupas. Lumut menutup sebagian sisi dinding bangunan. Karat menggerogoti besi-besi untuk ornamen, pagar, dan fondasinya. Baca juga: Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra Bila malam tiba, bangunan ini menyeramkan. Tak sedikit warga yang ngeri ketika harus melewatinya pada malam hari karena bangunannya mirip dengan gedung berhantu dalam film horor. Cat yang sudah tampak terkelupas. ( Foto : Fernando Randy/Historia ) Sisi bangunan tampak sudah mulai mengelupas. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda yang jaya pada masanya kini tinggal kenangan. (Fernando Randy/Historia).
- Kerajaan Aru, Riwayat Negeri Perompak
Lima abad lalu, pelaut Portugis Tome Pires menggambarkan penguasa negeri Aru sebagai raja paling besar di seluruh Sumatra. Ia memiliki banyak penduduk dan lanchara (kapal). Ia juga menguasai banyak aliran sungai di wilayahnya. Sang raja menguasai barang-barang rampasan hasil penyerbuan. Rakyat dan aparat kerajaan pergi melaut untuk merompak. Mereka membagi hasil jarahannya dengan raja. Aru bermusuhan dengan tetangganya, Malaka. Negeri lain pun memandang Aru dengan buruk. “Tanpa mencuri, mereka tak akan bisa hidup, karena itu tak ada yang bisa berkawan dengan mereka,” catat Pires dalam Suma Oriental. Raja Aru seorang Moor yang tinggal di istana di pedalaman. Tanah di sekitarnya berawa-rawa, sehingga tak mungkin ditembus. Di balik reputasinya sebagai negeri perompak, Aru adalah penghasil beras kualitas baik, buah-buahan dan hasil ternak melimpah, serta segala rupa hasil hutan, seperti kamper, kemenyan, rotan, dan madu. Jika Teluk Aru di Selat Malaka sekarang bisa dikaitkan dengan wilayah Kerajaan Aru pada masa lalu, maka kondisi geografis itu mendukungnya menjadi pemain penting dalam perniagaan di Selat Malaka. Itu sebelum keramaian niaga bergeser. Penguasa Malayu-Batak Aru pun harus mengadopsi strategi baru untuk menemukan pamornya kembali, sebagaimana dikatakan sejarawan Anthony C. Milner, dkk. dalam “A Note on Aru and Kota Cina” yang terbit di jurnal Indonesia , No. 26 (Oktober 1978). Pernah Berjaya dalam Niaga Pasca Sriwijaya diserang Kerajaan Chola pada 1025, semua wilayah bawahannya di Sumatra bagian utara dan Semenanjung Malaya semakin aktif dalam perniagaan internasional. Ini dikatakan Ery Soedewo, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara dalam “Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan dan Keruntuhan Perniagaaan Pulau Kampai” yang terbit di jurnal Kalpataru , Vol. 24 No. 2 (2015). Situs Kota Cina yang oleh Milner dihubungkan dengan Kerajaan Aru, menunjukkan kebangkitan kerajaan ini setelah mengendurnya pengaruh Sriwijaya. Situs ini berada di antara Sungai Belawan dan Sungai Deli yang bermuara di Selat Malaka. Dari temuan arkeologis di situs itu, diduga kontak dagang dan budaya telah berkembang sejak abad ke-11. “Mungkin telah membangkitkan ambisi para kepala daerah,” tulis Milner. Bukti arkeologis itu menunjukkan kemakmuran dan pengaruh terbesar Aru terjadi sejak pertengahan abad ke-12 hingga ke-14. “Pada saat kapal Dinasti Sung berdagang dengan Sriwijaya, tepat sebelum Aru menarik perhatian Kubilai Khan,” lanjut Milner. Nama Aru tercatat dalam sumber-sumber lokal dan mancanegara. Teks tertua, Nagarakrtagama yang selesai ditulis pada 1356, menyebut nama Haru atau Aru. Nama Aru juga tercatat dalam Pararaton . Ketika menyerukan Sumpah Palapa, Mahapatih Gajah Mada menyebut nama-nama negeri yang diharapkan bisa bersatu di bawah Majapahit, salah satunya Haru (Sumatra Utara). Catatan Tiongkok tertua, Sejarah Dinasti Yuan , menyebut Aru mengirim utusan dua kali ke istana Kubilai Khan pada 1282 dan 1295. Dalam Xingcha Shenglan (1436), Fei Xin, pejabat yang empat kali mendampingi Cheng Ho, menyebut masyarakat Aru mengumpulkan kamper dari hutan untuk dijual ke pedagang asing yang singgah. Mereka juga mengimpor sutra berwarna, tembikar, manik-manik, dan sebagainya. Sementara itu, menurut Ma Huan (1433), penerjemah Cheng Ho, dalam Yingyai Shenglan , Kerajaan Aru memiliki sungai bernama Sungai Air Tawar. Orang-orangnya hanya sedikit menggunakan barang impor. Mereka banyak mengkonsumsi susu. Negara ini kecil dan tak ada produk yang bisa diekspor kecuali resin berbau wangi dan sebagainya. “Ada kemungkinan Fei Xin dan Ma Huan menggambarkan daerah yang berbeda,” tulis Milner. Dalam masa yang sama, Sejarah Dinasti Ming mencatatnya sebagai negeri yang tandus dan hanya menghasilkan sedikit panen. Namun, utusan-utusan dari Aru ke Tiongkok masih dikirim pada 1411, 1419, 1421, dan 1423. Begitu juga Cheng Ho yang diutus kaisar Tiongkok ke Aru pada 1412. Persinggahannya yang kedua terjadi pada 1431. Ia berkunjung dengan membawa hadiah untuk raja Aru. Inilah kontak formal terakhir Tiongkok dengan Aru. Nama Haru atau Aru kemudian menghilang dari catatan Tiongkok. Aru muncul kembali dalam catatan Tome Pires di Suma Oriental pada abad ke-16, sebagai negara yang rakyatnya merompak muatan kapal di Selat Malaka . Pamor yang Berubah Milner menilai potret Aru dalam laporan-laporan itu menunjukkan bahwa pada awal 1400-an kedudukannya menjadi tidak penting. Dibandingkan dengan Samudera Pasai, negeri ini lebih banyak mendapat perhatian dalam catatan Tiongkok. Kala itu hanya ada sedikit perdagangan di Aru. Sedangkan kronik-kronik Tiongkok begitu rinci menyebutkan hasil bumi dan kebiasaan penduduk Samudera Pasai. “Para pedagang dari segala penjuru datang ke tempat ini,” catat Sejarah Dinasti Ming. Maka, setelah tahun 1423, penguasa Aru tak lagi mengirim utusan ke Tiongkok. Sebaliknya, laporan yang berusia lebih muda menyebut minat Aru beralih dari perdagangan yang sah ke pembajakan. “Dihadapkan dengan kegagalan komersial, penguasa Malayu-Batak Aru mengadopsi strategi baru,” tulis Milner. Lokasi ibu kota pun pindah. Milner menunjuk Deli Tua sebagai lokasi baru setelah Kota Cina. Lokasi ini lebih ideal untuk pamor Aru yang baru. Letaknya sekira 25 km lebih ke pedalaman dari Kota Cina, dikelilingi hutan, berada di dekat aliran Sungai Petani, yang merupakan nama Karo untuk hulu Sungai Deli. Pires menyebut kawasan itu tak dapat ditembus. Lokasi sempurna bagi penguasa Aru untuk mengatur siasat perompakan di Selat Melaka. Kendati begitu, menurut Milner, Deli Tua bukanlah permukiman baru. Didapati fragmen keramik dari masa Sung dan Yuan yang semasa dengan tahun-tahun kejayaan Kota Cina. Namun, fragmen keramik dari abad ke-14 hingga ke-16 ditemukan di Deli Tua dalam jumlah yang cukup besar. Bersamaan dengan itu ditemuan peluru senjata api berbahan timah. Repelita Wahyu Oetomo, peneliti Balai Arkeologi Medan , menyebut peluru itu adalah peluru laras panjang yang umum digunakan pada abad ke-15 hingga ke-19 atau dikenal dengan senapan musket. Ada juga meriam dengan tulisan berbunyi “Sanat… 03 Alamat Balun Haru”. “Apabila 03 berarti tahun 1003 Hijriyah, berarti cocok dengan 1539 Masehi, yang menurut Pinto merupakan ditaklukkannya Haru oleh Sultan Aceh, Al Qahhar,” tulis Repelita dalam “Benteng Putri Hijau Berdasarkan Data Sejarah dan Arkeologis” di laman Kemendikbud . Menurut Milner, temuan itu menunjukkan bahwa (Deli Tua, red. ) diarahkan untuk perang daripada perdagangan. Sedangkan kegagalan Aru untuk kembali naik di dunia perdagangan sulit dijelaskan alasannya. Milner menyebut sangat mungkin pelabuhan kerajaan ini lama kelamaan tak lagi mudah untuk dilayari. “Pantai Sumatra Timur telah banyak berubah bahkan dalam sejarah yang tercatat,” tulis Milner. Salah satu indikasinya, banyak toponim yang merujuk pada “sungai mati”. Beberapa lokasi yang jauh di pedalaman juga disebut pernah menjadi pelabuhan. Hingga hari ini pun pendangkalan sungai terus terjadi. Namun tak pasti kapan prosesnya mulai terjadi. “Kita tahu bahwa seorang penulis Arab abad ke-16 mengeluh tentang pelabuhan Aru yang dangkal,” tulis Milner. Aru, bagaimanapun, pada akhirnya bernasib buruk dalam kontes perniagaan. Pencapaian komersial Aru hanya sampai abad ke-14. “Kehadiran komunitas pedagang Tionghoa yang ramai tidak lebih dari kenangan, perdagangan dengan Tiongkok telah bergeser ke kerajaan-kerajaan seperti Pasai dan Malaka,” tulis Milner. Nasibnya pun tak bertahan lama sejak catatan Tome Pires melukiskan Aru sebagai kekuatan yang ditakuti di perairan Selat Malaka. Ini menjadi riwayat terakhir Aru sebagai sebuah kerajaan dalam sumber sejarah. “Kekuatan yang baru berkembang, Aceh mengakhiri eksistensi Aru sebagai salah satu kekuatan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di kawasan Selat Malaka,” tulis Ery Soedewo.





















