top of page

Hasil pencarian

9793 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Yang Mati yang Bercerita di Toraja

    DI DESA Bulu Langkan, Kabupaten Tana Toraja –pada 2009 mekar menjadi Kabupaten Toraja Utara– penduduk bicara tentang kematian, seakan-akan begitu akrab. Di sana tak ada pemisahan, orang mati diperlakukan sebagai moyang yang harus dijaga terus-menerus dan kelak akan bercerita tentang silsilah keluarganya. Tempat itu begitu sejuk. Dingin dengan pohon-pohon kecil. Entah di mana pohon-pohon besar yang seharusnya menghuni pegunungan; semua menjadi hamparan sawah. Tak ada yang tahu kapan itu bermula. Namun penduduk setempat meyakini, dengan menggarap perbukitan yang curam dan menanaminya padi cukup menjadi bukti keuletan masyarakat Toraja. Ketika mengunjungi daerah itu saya menyaksikan sebuah ritual sakral. Namanya ma′nene. Semua jenazah yang berumur puluhan hingga ratusan tahun dikeluarkan dari sebuah liang batu dan patane (kuburan modern yang terbuat dari dinding beton) untuk dijemur. Seluruh keluarga yang hadir ikut bersorak melihat keadaan jenazah, dari sanak famili, ayah, nenek, kakek, dan moyang. Satu per satu dijemur.

  • Di Balik Kisah Raksasa Pemakan Manusia di Ratu Boko

    DAHULU kala hiduplah raksasa pemakan manusia bernama Prabu Boko. Setiap hari ia mengirim prajurit untuk mencari manusia untuk dimakan. Jika prajurit itu gagal, ia yang akan dilahap. Teror itu membuat penduduknya mencari perlindungan ke kerajaan tetangga. Penguasanya baik hati. Ia segera mengirim putranya, Bandung Bondowoso untuk melawan raksasa itu. Pertempuran terjadi selama sepuluh hari. Prabu Boko pun kalah. Prabu Boko dipercaya menguasai Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Menurut Veronique Degroot, arkeolog Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), dalam "The Archaeological Ramains of Ratu Boko: From Sri Lankan Buddhism to Hinduism" yang diterbitkan dalam Indonesia and the Malay World, wisatawan Belanda pada abad ke-19 menerima legenda itu tanpa ragu. Mereka menganggap situs yang sudah ada sejak abad ke-8 itu sebagai kompleks keraton dari masa Hindu dan Buddha.

  • Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara

    SEJARAH kerajaan di Nusantara tidak hanya berisi catatan soal kebesaran dan jatuh bangunnya raja-raja mereka. Tidak semua raja-raja tersebut mampu berlaku adil dan bijaksana. Kekuasaan absolut menjadi ajang mempertunjukkan kelaliman. Berikut ini raja-raja dan kekejamannya yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara.

  • Bukan Raja Jawa Biasa

    DALAM sejarah Praja Mangkunegaran, tersebutlah raja-raja pembawa kejayaan. Mangkunegoro IV dikenal karena keberhasilannya mendirikan pabrik gula di Colomadu dan Tasik Madu yang menjadikan Mangkunegaran salah satu kerajaan terkaya di Nusantara. Sementara cucunya, Mangkunegoro VII, adalah raja yang gemar ilmu pengetahuan sehingga Mangkunegaran bersolek bak kerajaan modern. Di antara kedua raja tersebut, terselip periode kepemimpinan yang tidak banyak dibeberkan dalam penulisan sejarah Mangkunegaran. Kekosongan historiografi itulah yang coba diisi oleh buku Mangkunegoro VI: Sang Reformis yang ditulis Mega Janis, Fachmi Ardi, Insan Praditya, dan Tika Ramadhini. Para penulis muda ini tergabung dalam komunitas sejarah History Inc. Buku karya mereka ini diklaim sebagai biografi pertama yang meneliti sosok Mangkunegoro VI.

  • Reformis Itu Bernama Mangkunegara VI

    PEREKONOMIAN negeri berdarah-darah. Ratusan juta rakyat tertatih-tatih menyambung hidup di tengah pagebluk yang melanda sejak 2020. Meski begitu, masyarakat, terutama para pemimpin, negeri ini tak pernah kehabisan sumber inspirasi untuk bangkit dan keluar dari krisis. Salah satu teladan itu adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI. “KGPAA Mangkunegara VI berhasil melaksanakan reformasi dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam utang kepada Belanda menjadi terlunasi, bahkan mencapai surplus. Stabilitas perekonomian meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik. Kisah ini sangat menginspirasi di saat kita masih berjuang memulihkan ekonomi pascapandemi COVID-19,” tutur Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka dalam sambutannya pada “Virtual Talk Show: The Game Changer ala Mangkunegoro VI”, Minggu (28/11/2021) petang. Diskusi daring yang dihelat Penerbit Buku Kompas di platform Zoom dan Youtube itu dihelat untuk memperingati 125 tahun penobatan Raden Mas Suyitno menjadi penguasa Kadipaten/Praja Mangkunegaran bergelar Mangkunegara VI pada 21 November 1896. Diskusi juga dalam rangka peluncuran buku Mangkunegara VI Sang Reformis: Sebuah Biografi karangan tim penulis komunitas History Inc.

  • Pembaruan di Mangkunegaran

    PENDOPO Ageng, kompleks Istana Pura Mangkunegaran. Atap limasnya yang luas dan tinggi seolah tak mengizinkan terik mentari memanasi para pengunjungnya. Dengan “tubuh” hanya berupa tiang-tiang, ia justru membiarkan hembusan angin memberi suasana adem kepada para pengunjung di siang 17 Maret 2019 yang terik itu. Baiknya fungsionalitas pendopo tak lepas dari tangan dingin Thomas Karsten. Arsitek Belanda kelahiran 1885 itu ditunjuk sahabatnya, Mangkunegara VII, untuk memugar langit-langit Pendopo Ageng dan sejumlah bangunan lain di Pura Mangkunegaran pada 1938. “Gagasannya datang dari Stutterheim ketika konsultasi dengan Karsten dan sang Pengeran. Stutterheim membuat dua foto lukisan pada langit-langit kayu yang ia lihat di Ceylon (Sri Langka), menyimbolkan planet-planet, meski di dalam foto terdapat sembilan planet (bukan delapan seperti yang direncanakan untuk hiasan langit-langit pendopo astana),” tulis Madelon Djajadiningrat dalam “Tidak Adakah yang Bisa Kita Perbuat dengan Cermin yang Buruk Itu?” termuat dalam Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia suntingan Peter J.M. Nas.

  • Awal Modernisasi Perekonomian Mangkunegaran

    BISING kendaraan seolah lenyap begitu memasuki Mangkunegaran. Luasnya kompleks keraton seolah membuat suara kendaraan-kendaraan tak mampu memasukinya. Sebagai gantinya, yang terdengar hanya suara desis angin, kicau burung, dan tawa riang anak-anak yang berlarian. Siang 18 Maret 2019 itu, Mangkunegaran tak ramai. Selain serombongan turis asing, hanya ada satu-dua keluarga dan beberapa mahasiswa yang berkunjung. “Kalau musim liburan, dari berbagai kota itu banyak ke sini. Satu sekolah kadang-kadang 10 bus, 15 bus. Ya dari berbagai kota,” ujar Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID. Para turis itu terlihat kagum terhadap bangunan maupun benda-benda antik koleksi Museum Puro Mangkunegaran. Mayoritas kondisinya masih terawat baik. “Ada kewajiban turun-temurun untuk memelihara. Memelihara biar generasi berikutnya tidak kehilangan sumber, kehilangan arah. Nah itu diupayakan tetap terpelihara,” sambungnya.

  • Jembatan Perlawanan Mangkunegaran

    DARI sekian banyak barang antik dan foto serta lukisan yang ada di Museum Puro Mangkunegaran, barang-barang koleksi milik serta tentang Mangkunegara VII mungkin paling banyak jumlahnya. Mangkunegara VII merupakan raja yang peduli terhadap budaya dan sejarah bangsanya. Selain itu, hidupnya sudah di era modern di mana fotografi telah masuk Hindia-Belanda. “Memang beliau ini, Mangkunegoro VII ini, multi talenta,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID, 18 Maret 2019. Selain peduli terhadap seni-budaya dan politik, raja yang bernama lahir RM Soerjo Soeparto ini juga peduli terhadap ekonomi dan yang terpenting, terhadap rakyatnya. Kepedulian terhadap rakyatnya itu antara lain dia tuliskan usai mengunjungi kota-kota di Eropa semasa menuntut ilmu di Belanda.

  • Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran

    DUA set gamelan di pendopo Pura Mangkunegaran itu sedang “menganggur”. Kecuali alat musik-alat musik lain seperti kendang, dua set gamelan tadi ditutupi kain hijau siang itu, 18 Maret 2019. “Kalau Rabu malam sama Jumat malam dimainkan,” ujar Doni Irawan, tour guide Pura Mangkunegaran, kepada Historia.ID. Di depan seperangkat gamelan yang berada di utara, berdiri papan keterangan bertuliskan: Kyai Kanyut Mesem. Usia gamelan itu lebih dari 200 tahun. Saat Raden Mas Said naik takhta menjadi Mangkunegara I, gamelan itu sudah ada. “Nah, [gamelan] itu yang dipakai untuk siaran langsung dengan peralatan radio,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia.ID.

  • Pendidikan Fondasi Kemajuan Mangkunegaran

    DALAM rangka merayakan Hari Penyiaran Nasional 2019, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melakukan napak tilas ke Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 2019. “Dipilihnya Kota Solo sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan Napak Tilas Penyiaran Pemilihan Indonesia tahun ini menjadi alasan pihak KPID Jawa Tengah sebagai upaya menelisik kembali tentang sejarah penyiaran nasional yang notabene lahir di Kota Solo yang diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegara VII," tulis laman solotrust.com. Mangkunegara VII yang bernama lahir RM Soerjo Soeparto dikenal sebagai raja yang berpandangan ke jauh depan. Selain amat peduli pada rakyat, Mangkunegara VII peduli pada kebudayaan, kemajuan, dan pendidikan.

  • Mencari Arah Pendidikan Sejarah

    DIRJEN Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, pendidikan sejarah sekarang kurang menarik: membosankan, mengundang kantuk, dan penuh hafalan. Akibatnya, menjelang ujian kompetensi, banyak murid mengeluarkan jurus hafalan satu malam. Materi sejarah pun tak banyak masuk ke kepala mereka karena mayoritas pengajaran sejarah di sekolah semata membacakan ulang isi buku tanpa pemahaman sejarah yang riil dan relevan. Hal itu menjadi satu masalah yang disoroti Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak penyelenggaraan Seminar Sejarah Nasional (SSN) tahun 2017. Banyak hal dalam pembelajaran sejarah yang perlu dibahas secara mendalam dan dirumuskan ulang, seperti cakupan materi, kisah-kisah terpinggirkan, dan pengajaran sejarah lokal. Bertolak dari situ, Direktorat Jenderal Sejarah mengambil “Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia” sebagai tema SSN tahun ini. “Tema [SSN] merupakan amanat SSN yang pertama. Kita belum menemukan arah pendidikan sejarah. Seminar ini memberi masukan penting untuk pemerintah pada praktik pelajaran sejarah di sekolah,” kata Ketua Panitia Sri Margana dalam sambutannya di UGM, Senin (3/12) malam.

  • Memperjuangkan Pendidikan dan Perlindungan untuk Perempuan

    KERICUHAN melanda Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, 1935 yang dipimpin Sri Wulandari Mangunsarkoro. Dua peserta, Suwarni Pringgodigdio dari Istri Sedar dan Ratna Sari dari organisasi perempuan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), berdebat hebat soal poligami. Suwarni tak sepakat dengan pendapat Ratna Sari yang memandang poligami dari segi Islam yang sangat konservatif. Toh, kongres berakhir damai. Salah satu hasilnya, kesepakatan membentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI) dengan Sri Wulandari sebagai ketuanya. Badan ini bertugas menyelediki keadaan buruh perempuan di Indonesia, khususnya yang bergaji kurang dari 15 gulden sebulan. Selain itu, kongres menghasilkan pembentukan Biro Konsultasi yang bertugas mendampingi perempuan dalam masalah perceraian. Biro ini dipimpin Maria Ullfah. Namun, malang menimpa Sri Wulandari. Usai kongres, dia dipanggil PID (Dinas Intelijen Hindia Belanda) dan diinterogasi. Kepada pada petugas PID, Sri Wulandari mengatakan bahwa kongres mereka membahas tentang masalah-masalah perempuan dalam perkawinan, hak pilih, juga tentang kemerdekaan Indonesia. “Sejak itu beliau diawasi Belanda,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Sri Wulandari, kepada Historia.ID.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page