Hasil pencarian
9793 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mencari Arah Pendidikan Sejarah
DIRJEN Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, pendidikan sejarah sekarang kurang menarik: membosankan, mengundang kantuk, dan penuh hafalan. Akibatnya, menjelang ujian kompetensi, banyak murid mengeluarkan jurus hafalan satu malam. Materi sejarah pun tak banyak masuk ke kepala mereka karena mayoritas pengajaran sejarah di sekolah semata membacakan ulang isi buku tanpa pemahaman sejarah yang riil dan relevan. Hal itu menjadi satu masalah yang disoroti Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak penyelenggaraan Seminar Sejarah Nasional (SSN) tahun 2017. Banyak hal dalam pembelajaran sejarah yang perlu dibahas secara mendalam dan dirumuskan ulang, seperti cakupan materi, kisah-kisah terpinggirkan, dan pengajaran sejarah lokal. Bertolak dari situ, Direktorat Jenderal Sejarah mengambil “Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia” sebagai tema SSN tahun ini. “Tema [SSN] merupakan amanat SSN yang pertama. Kita belum menemukan arah pendidikan sejarah. Seminar ini memberi masukan penting untuk pemerintah pada praktik pelajaran sejarah di sekolah,” kata Ketua Panitia Sri Margana dalam sambutannya di UGM, Senin (3/12) malam.
- Memperjuangkan Pendidikan dan Perlindungan untuk Perempuan
KERICUHAN melanda Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, 1935 yang dipimpin Sri Wulandari Mangunsarkoro. Dua peserta, Suwarni Pringgodigdio dari Istri Sedar dan Ratna Sari dari organisasi perempuan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), berdebat hebat soal poligami. Suwarni tak sepakat dengan pendapat Ratna Sari yang memandang poligami dari segi Islam yang sangat konservatif. Toh, kongres berakhir damai. Salah satu hasilnya, kesepakatan membentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI) dengan Sri Wulandari sebagai ketuanya. Badan ini bertugas menyelediki keadaan buruh perempuan di Indonesia, khususnya yang bergaji kurang dari 15 gulden sebulan. Selain itu, kongres menghasilkan pembentukan Biro Konsultasi yang bertugas mendampingi perempuan dalam masalah perceraian. Biro ini dipimpin Maria Ullfah. Namun, malang menimpa Sri Wulandari. Usai kongres, dia dipanggil PID (Dinas Intelijen Hindia Belanda) dan diinterogasi. Kepada pada petugas PID, Sri Wulandari mengatakan bahwa kongres mereka membahas tentang masalah-masalah perempuan dalam perkawinan, hak pilih, juga tentang kemerdekaan Indonesia. “Sejak itu beliau diawasi Belanda,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Sri Wulandari, kepada Historia.ID.
- Tempat Pendidikan Buddha di Nusantara
TAK semua tinggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia merupakan candi pemujaan. Seperti Situs Nalanda di India, Indonesia juga punya bangunan kuno sebagai tempat belajar ajaran Buddha dan asrama bagi para pendeta. Arkeolog Agus Widiatmoko menguraikan pusat-pusat pendidikan Buddha di India muncul sejak awal masehi. Ditandai dengan adanya Situs Piprahwa dari abad 1 dan 2 M, Situs Nagarjunakonda abad 3 M, Situs Ganwaria dari abad 4 M, dan Situs Nalanda yang didirikan masa pemerintahan Gupta pada abad 5 M. Masa Gupta, ditandai dengan pendirian tempat pendidikan Nalanda yang membawa ajaran Buddha memasuki era sumber ilmu pengetahuan. Memasuki abad 6 M, tak hanya dikenal dengan institusi Buddha yang menghasilkan karya seni, Nalanda juga menjadi pusat ajaran Mahayana.
- Sukarno Produk Pendidikan yang Berhasil
DI DUNIA seni peran, nama Agustinus Adi Kurdi tentu tidak asing lagi. Ketika melihatnya, orang teringat serial Keluarga Cemara yang populer pada 1997. Aktor kelahiran Pekalongan, 22 September 1948 itu dikenal berkat perannya sebagai "Abah". Bengkel Teater, yang dipimpin W.S Rendra, menjadi tempat pertama bagi Adi Kurdi mengawali karier. Dari panggung teater, dia menjajal layar lebar. Kepiawaiannya berakting dalam film Gadis Penakluk (1980) membuatnya masuk nominasi pemeran utama pria terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1981. Setelah itu, dia membintangi sejumlah judul film dan serial drama televisi, termasuk Kapan Kawin? dan serial Masalembo yang tayang 2015. Abah Kurdi, yang juga mengajar, menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Di balik popularitasnya sebagai aktor, dia begitu mengidolakan sosok Sukarno, sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. Dengan logat Jawanya, Kurdi menyebut Sukarno sebagai salah produk pendidikan yang berhasil.
- Pendidikan Agama di Kadewaguruan
DI MASA lampau, tempat pendidikan berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Letaknya di lereng gunung dan di tengah hutan, terpisah dari pusat pemerintahan. “Selain sebagai tempat pendidikan agama, ia juga digunakan sebagai tempat bersemedi,” kata Agus Aris Munanadar, arkeolog Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Area itu disebut kadewaguruan, dipimpin seorang Dewaguru. Dalam melaksanakan tugasnya, Dewaguru dibantu murid-murid senior (ubwan dan manguyu). Kadewaguruan merupakan kompleks pertapa yang dirancang khusus. Tempat tinggal Dewaguru berada di tengah, sedangkan para murid mengelilinginya, disusun berjenjang berdasarkan tingkat pengetahuan mereka. Karena tataletak seperti ini, kompleks perumahan pertapa itu disebut mandala (konfigurasi lingkaran).
- Kunjungan Sukarno ke Maroko
PRESIDEN Sukarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 2.40 siang tanggal 2 Mei 1960. Disambut oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Abdullah Ibrahim, para menteri, pembesar sipil dan militer, serta korps diplomatik. Pasukan berkuda dari suku Berber dikerahkan di dekat bandara. Mereka menembakkan bedil sebagai tanda gembira. Rakyat menyambut di sepanjang jalan dari bandara sampai kota Rabat. “Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuka dengan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat,” kata H. Imrad Idris dalam Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat. Imrad bergabung dalam misi khusus yang mempersiapkan kunjungan Sukarno ke Maroko.
- Mula Pertentangan Dua Kubu
PADA November 1954, Ahmad Sadali, But Muchtar, Edie Kartasubarna, Hety Udit, Kartono Yudokusumo, Sie Hauw Tjong, Srihadi, Karnaedi, Sudjoko, Soebhakto, dan Popo Iskandar mengadakan pameran di Balai Budaya, Jakarta. Mereka semua mahasiswa Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar, cikal bakal Seni Rupa ITB. Pameran tersebut langsung menarik perhatian beberapa kritikus seni, menimbulkan polemik, dan membagi peta kesenian Indonesia menjadi Kubu Yogyakarta dan Kubu Bandung. Trisno Sumardjo lewat artikelnya di Mingguan Siasat November 1954, “Bandung Mengabdi Laboratorium Barat”, mengecam absennya “jiwa” dalam karya-karya di pameran itu. Sitor Situmorang juga berkomentar dengan nada serupa. Menurut mereka, karya-karya seniman Bandung berjiwa kosong dan merupakan perwujudan laboratorium seni Barat.
- Ketika Dua Kubu Seniman Muda Membuat Gebrakan
MUAK dengan keputusan dewan juri Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (18-31 Desember 1974) yang tak menganggap karya seni modern usungan pelukis-pelukis muda, sejumlah seniman muda melakukan protes. Mereka membuat keputusan bersama yang menganggap keputusan itu sebagai wajah asli kemunduruan seni rupa Indonesia, kemudian dikenal dengan “Desember Hitam”. Para seniman muda itu lalu bergabung dan melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sebelum Desember Hitam ada, dunia seni rupa terbagi dalam dua kubu: Bandung dan Yogyakarta. Kubu Bandung berisi seniman lulusan ITB, karya-karyanya bergaya abstrak, berkeyakinan bahwa praktik seni rupa bersifat universal, dan tak percaya adanya seni rupa khas Indonesia. Karya-karya kubu Bandung sudah memperlihatkan gejala apolitis sejak awal keunculannya pada 1950-an.
- Rencana Ibukota Pindah ke Surabaya
PRESIDEN Joko Widodo telah memutuskan ibukota negara pindah ke Kalimantan Timur. Ternyata, pemindahan ibukota sudah direncanakan sejak zaman kolonial. Dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels ingin memindahkan ibukota dari Batavia ke Surabaya. Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia, mengatakan ada dua faktor yang membuat Daendels ingin memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Surabaya. Pertama, alasan kesehatan karena di Batavia banyak sumber penyakit. Kedua, alasan pertahanan, di Surabaya terdapat benteng dan pelabuhan. “Batavia sempat dijuluki sebagai Koningin van den Oost (Ratu dari Timur), namun kemudian terkenal sebagai kuburan orang Belanda karena banyaknya penyakit malaria dan kolera,” kata Sunjayadi. Kematian Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen karena penyakit kolera membuktikan betapa buruknya kawasan Batavia.
- Aksi Jenderal Salon
PADA 9 Juli 1810 Belanda ditaklukan oleh Napoléon Bonaparte. Dengan demikian seluruh daerah koloni Belanda juga berada di bawah kekuasaan Prancis sebagai penakluk, tak terkecuali Jawa. Telah sejak lama Jawa dikenal sebagai pulau yang subur nan kaya, namun Prancis sepertinya agak gegabah dalam mempertahankan pulau ini. Alih-alih memerintahkan pertahanan total bagi Jawa, Napoléon malah memilih seorang jenderal logistik: Jean-Guillaume Janssens. Janssens memulai karirnya di usia sembilan tahun sebagai kadet pada 1771. Karena jujur dan cermat, dia naik pangkat menjadi letnan di usia 15 tahun dan menjadi pejabat logistik. Ketika terjadi pemberontakan kaum patriotik pada 1787, dia memihak Stadtholder (raja). Pada 1795, berdiri Republik Belanda yang pro-Prancis, maka Janssens pensiun karena terluka di medan perang. Sejak itu dia bekerja di administrasi, namun tetap bertugas menyediakan makanan dan sandang kepada prajurit baru kiriman Prancis yang kelaparan dan compang-camping. Ternyata Napoléon puas dengan perlakuan baik itu.
- Cerita di Balik Cadas Pangeran
YANA Supriatna, warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, hilang misterius di Cadas Pangeran, Sumedang, pada Selasa (16/11/2021) malam. Akhirnya, Yana berhasil ditemukan di Cirebon pada Kamis (18/11/2021) petang. Cadas Pangeran memang terkenal angker. Banyak orang bercerita mengalami kejadian menakutkan ketika melewati jalan ini. Nama Cadas Pangeran sendiri diambil dari nama Bupati Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal dengan Pangeran Kornel, yang berani menghadapi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, menyebutkan, Daendels dalam pembangunan Jalan Raya Pos menghadapi kesulitan dengan penguasa pribumi setempat terutama dalam melaksanakan bagian Cadas Pangeran.
- Dugaan Korupsi dalam Pembangunan Jalan Raya Daendels
INSTRUKSI Daendels pada 5 Mei 1808 merupakan landasan hukum yang kuat untuk melaksanakan pembangunan jalan raya di wilayah Priangan yang dilakukan dengan sistem upah. Pembangunan jalan ini dibayangi dugaan korupsi usai ditemukan laporan di lapangan yang menyebut pembayaran upah para pekerja tidak lancar, yang akhirnya menjadi salah satu penyebab utama kematian begitu banyak pekerja. “Dalam pembikinan jalan [raya Daendels] inilah untuk pertama kali ada angka jumlah kurban yang jatuh 5.000 orang. Bahwa angka yang diberikan begitu bulatnya telah menunjukkan tidak rincinya laporan, hanya taksiran. Mungkin kurang, mungkin lebih. Setidak-tidaknya ini adalah genosida tidak langsung demi pembangunan, demi kelangsungan penjajahan dan kebesaran, kekayaan dan kemajuan Eropa.” Demikian sastrawan Pramoedya Ananta Toer menggambarkan pembangunan jalan raya Daendels, yang membentang dari ujung barat hingga timur pulau Jawa, dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.





















