top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pemburuan Terhadap Guru Agama

    SELAMA hampir sebulan pada Juli 1888, Cilegon dilanda huru-hara. Para haji, guru agama, dan petani menyerang pegawai pemerintah. Peristiwa itu disebut sebagai Pemberontakan Petani Banten 1888. Korban tewas berjatuhan: 17 orang dari pemerintah, 30 orang dari pemberontak. Secara jumlah, korbannya sedikit. Tapi cukup membuat sibuk orang-orang Belanda. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut pemberontakan itu menimbulkan dendam bagi orang-orang Belanda. “Hasrat berkobar untuk melakukan pembalasan seringkali dilampiaskan terhadap haji yang pertama-tama dijumpai Belanda,” catat Sartono dalam karya monumentalnya, Pemberontakan Petani Banten 1888 . Haji, petani, dan guru agama seringkali membaur dalam identitas seseorang. Tapi ada kalanya pula identitas itu terbagi secara ketat. Tapi beberapa pegawai Belanda tak mau tahu. Mereka mengalami trauma akibat huru-hara itu sehingga mengubah pandangan mereka terhadap semua guru agama dan haji selepas peristiwa itu. “Penumpasannya berupa pemburuan para guru agama dan ulama,” tulis Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda . Tak jarang pula guru agama dan ulama itu diperas agar terhindar dari tuduhan palsu. “Di mana sang korban hanya bisa bebas dari tuduhan kalau sudah memberikan suatu bayaran tertentu,” lanjut Aqib. Pemerintah kolonial bersikap keras terhadap ekspresi keagamaan guru dan ulama. Mereka menangkapi orang-orang yang diduga mempunyai potensi menggerakkan massa seperti di Cilegon. Orang-orang itu lalu dibuang atau diasingkan. Tak hanya pemerintah kolonial, pegawai anak negeri dan sesama agamawan pun ikut memanfaatkan keresahan ini. “Di sana-sini terlihat usaha menyalahgunakan suasana resah di kalangan pemerintah daerah, sesudah terjadinya huru-hara di Cilegon, yaitu untuk menyingkirkan oknum-oknum yang oleh satu dan lain sebab tidak mereka senangi,” ungkap Snouck Hurgronje dalam Nasihat—Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda X. Snouck kala itu berada di Batavia dan membaca laporan-laporan dari pegawai pemerintah daerah setelah peristiwa Geger Cilegon 1888. Dia menemukan banyak penangkapan dan pembuangan terhadap guru agama di beberapa tempat di Jawa. Sebagian besar penangkapan dan pembuangan itu tak mempunyai dasar kuat. Di Ponorogo, misalnya, sebuah kota di Jawa Timur yang berjarak 786 kilometer jauhnya dari Cilegon, penangkapan tanpa alasan kuat menimpa Haji Rahwin. Dia seorang guru agama dan penyebar ajaran tarekat Naksyabandiah. Sehari-hari Haji Rahwin mengajarkan zikir dan wirid kepada 130 muridnya. Tapi akibat peristiwa Geger Cilegon 1888, aktivitasnya mengundang kecurigaan. Apalagi mata-mata Belanda melaporkan pintu masjid tempat Rahwin mengajar pernah tertutup. Dia pun ditangkap dan diperiksa dengan teliti atas perintah bupati Ponorogo. Setelah membaca dan mempelajari berkas penangkapan Haji Rahwin, Snouck tak menemukan kesalahan ajaran dan tindakan Haji Rahwin. “Kecuali bahwa ia ‘mengajar’ 130 orang murid tentang tarekat itu,” tulis Snouck. Snouck juga menemukan indikasi keterlibatan kiai mazhab atau aliran lain yang mengompori penangkapan Haji Rahwin. Kiai-kiai itu antipati terhadap aliran mistik atau tarekat yang diajarkan Rahwin sehingga ikut memberikan keterangan palsu kepada pemerintah kolonial. “Mungkin boleh diduga, timbul kecemburuan atau kebencian terhadap Imam Rahwin dari empat orang guru agama,” sebut Snouck. Bergerak ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, pemburuan terhadap guru agama kian masif. “Secara umum terlihat adanya perasaan takut terhadap haji yang sama sekali tidak beralasan. Guru-guru agama dan para santri yang paling tidak berbahaya pun lalu merasa selalu dibuntuti oleh pandangan mata kecurigaan,” terang Snouck. Dalam pandangan Snouck, Yogyakarta menjadi wilayah paling menyedihkan dalam mengajukan orang-orang yang harus diasingkan. “Uraian tentang guru-guru yang namanya tercantum dalam daftar tidak masuk akal, dan ternyata memang belum pernah diperiksa kebenarannya,” ungkap Snouck. Daftar itu antara lain memuat tiga nama guru agama: Kiai Haji Krapyak, Abdul Jalil, dan Abdul Fatah. Menurut residen dan sultan, ketiganya dianggap berbahaya. Krapyak dicurigai karena mengajarkan tarekat Naksyabandiah dan Satariyah. Sedangkan Abdul Jalil dan Abdul Fatah lantaran “melakukan kewajiban ibadah dengan kesalehan yang mencolok, dan sering meninggalkan tempat tinggalnya”. Padahal dalam pandangan Snouck, ketiganya sama sekali tak berbahaya. Dia menyebut pengetahuan residen dan sultan tentang Islam sangat dangkal. Karena itu, Snouck menolak keras upaya penangkapan dan pemeriksaan tiga orang tersebut beserta murid-muridnya. Snouck melanjutkan, yang perlu dikhawatirkan dari ketiganya adalah ikatan mereka dengan murid-muridnya. “Maka seandainya ada guru dari tarekat ini yang ingin berbuat sesuatu yang membahayakan tatanan yang ada, dengan mudah ia akan terjamin mendapat sejumlah pengikut yang setia,” catat Snouck. Daripada menangkap dan membuang orang-orang tersebut, Snouck mengusulkan agar para pegawai pemerintah dan sultan mendalami pengetahuan mereka tentang ajaran Islam. Pendalaman pengetahuan ini penting untuk membuat keadaan lebih tenang dan mengubur salah paham. Snouck lebih suka penanganan orang-orang itu dengan memanggil dan mengadilinya. Bagi Snouck, penangkapan dan pengasingan orang tak bersalah akan merugikan pemerintah kolonial. Keluarga dan murid-murid orang tersebut akan menyimpan dendam dan berpotensi menyerang pemerintah kolonial di kemudian hari. Penentangan Snouck terhadap pemburuan guru agama berlangsung sampai masa kerjanya berakhir di Hindia Belanda pada 1906. Selama itu, ratusan guru agama menjalani pemeriksaan. Sebagian kecil mereka bahkan sempat dibuang bertahun-tahun. Sampai orang melupakan nasib mereka. Tapi Snouck masih berupaya membela mereka yang tak bersalah. “Snouck Hurgronje mengingatkan kembali nasib mereka yang terlupakan dalam buangannya itu,” sebut Aqib.*

  • Sisi Terang dan Gelap Diego Maradona

    SUASANA kota Napoli begitu ramai pada 5 Juli 1984. Dari sebuah kamera amatir di sebuah mobil, konvoi tiga mobil tampak sedang menuju Stadio San Paolo, markas klub SSC Napoli. Salah satu mobil di konvoi itu membawa sosok yang dinanti: Diego Maradona. Tempo cepat musik disko tekno 1980-an yang ‘nge -beat ’ mengiringi beberapa sisipan foto dan video tentang Maradona sebelum tiba di Napoli. Sisipan foto maupun footage- nya beragam, mulai saat dia masih jadi pemain Boca Juniors hingga setelah jadi pemain yang mulai terseret kehidupan malam di Barcelona. “Dia pemain bertalenta dan punya semua hal yang dibutuhkan. Tetapi dia belum siap secara psikologis,” ujar Pelé  dalam sebuah cuplikan wawancara mengomentari gagalnya Maradona bersinar di Barcelona. Music scoring yang sama masih mengiringi saat alur cerita kembali ke konvoi mobil tadi setibanya di San Paolo. Maradona langsung disambut ratusan wartawan dan juru foto pada konferensi pers jelang diperkenalkan ke 85 ribu fans Napoli yang sudah menyesaki stadion. Raut wajah Maradona begitu cerah saat menyapa puluhan ribu fans di dalam lapangan yang terus menggemakan chant “Diego, Diego, Diego!” Ia berterimakasih setelah Napoli bersedia memungutnya dari Barcelona, dan siap untuk memberi mukjizat kepada warga kota termiskin di Italia itu. Stadio San Paolo yang berjejal manusia demi menyambut Maradona (Twitter @MaradonaMovie) Maradona jelas belum mengetahui hidupnya bakal melejit tinggi sekaligus akan menukik tajam dengan menyakitkan selama hampir delapan tahun di Napoli. Ini yang jadi fokus sutradara Asif Kapadia kala membuka film dokumenter bertajuk Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God. Sejumlah narasumber primer dan sekunder turut menuturkan narasi yang mengiringi rangkaian cuplikan video lawas. Tentang pergulatan Maradona baik di dalam maupun di luar lapangan. Selain Maradona sendiri, ada sejarawan John Foot, jurnalis olahraga Gonzalo Bonadeo dan Daniel Arcucci, pelatih pribadi Maradona  Fernando Signorini, eks-bek Napoli Ciro Ferrara, eks-Presiden SSC Napoli Corrado Ferlaino, perwakilan fans Napoli Gennaro Montuori; kakak Maradona Maria Rosa Maradona, Claudia Villafañe sang istri, hingga pengacaranya Vincenzo Siniscalchi. Narasi yang dituturkan mereka seolah mengajak penonton untuk melihat lebih dalam sisi lain kehidupan Maradona di masa jaya hingga kejatuhannya di Napoli. Apa yang dicapai Maradona bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia dipuja setara Tuhan oleh publik Napoli, tetapi di sisi lain ia bagaikan hidup terpenjara akibat tekanan dari mafia dan petinggi klub. Sisi gelap tak membiarkan Maradona bernaung dalam kemasyhurannya. Lingkaran setan memaksanya bergaul dengan kelompok mafia dari Keluarga Giuliano hingga jadi pemadat. Kegelapan Maradona makin ditambah dengan belenggu dari Ferlaino yang enggan melepasnya kendati Maradona mulai tak kerasan. Presiden SSC Napoli (1983-1993) yang "memenjarakan" Maradona (Wikipedia) Jeratan kegelapan itu mulai timbul setelah Maradona memberikan mukjizat berupa scudetto (gelar juara) Liga Italia pertama pada publik Napoli di musim 1986-1987 dan musim 1989-1990, serta satu juara UEFA Cup pada 1988-1989. “Setelah pertandingan (final UEFA Cup) Maradona minta saya untuk menjualnya. Dia ingin meninggalkan Napoli. Tetapi saya tidak mau menjual Maradona dan ingin dia bertahan dengan semua cara. Jadi sayalah yang memenjarakan Maradona,” aku Ferlaino. Publik tak pernah menyangka Maradona makin hari makin mengalami pergulatan batin. Hanya Signorino yang menyadarinya. Sang pelatih pribadi itu bisa melihat Maradona makin jelas memperlihatkan kepribadian gandanya: sebagai Diego, seorang anak dari Villa Fiorito, sebuah kampung kumuh di Buenos Aires, yang polos dan mulai tersiksa batinnya; dan sebagai Maradona, yang dipuja publik dan tak boleh memperlihatkan sisi lemahnya. “Saya melihat ada Diego dan ada Maradona. Diego seorang anak manis yang selalu gelisah. Maradona adalah karakter yang mesti ia ciptakan untuk menghadapi tuntutan bisnis sepakbola dan media. Maradona tak boleh menunjukkan kelemahannya. Saya pernah bilang padanya bahwa saya akan mengikuti Diego sampai ujung dunia tapi tidak dengan Maradona. Dia bilang: ‘Tentu, tapi tanpa Maradona, saya masih akan berada di Villa Fiorito,’” kata Signorino mengisahkan dialognya dengan sang bintang. Tampak wajah tertekan Maradona dalam perayaan UEFA Cup lantaran sudah tak kerasan di Napoli ( fifa.com ) Villa Fiorito oleh sang sineas juga dihadirkan lewat potongan-potongan video lama dan foto lingkungan kumuh itu yang jadi tempat tinggal Maradona saat kecil. Di sanalah Maradona sejak usia 15 tahun sudah jadi tulang punggung keluarga. Keinginan kuatnya untuk membawa keluarganya dari jurang kemiskinan membuatnya mau berjuang menjadi “Maradona” ketimbang “Diego” walau harus membayar mahal. “Adik saya sedari umur 15 tak lagi punya kehidupan sendiri. Dia menjelma jadi orang yang berbeda. Dia selalu mengurus segalanya. Adalah sebuah beban baginya untuk jadi terkenal. Dia selalu menjadi pahlawan. Tetapi dia tak bisa melakukannya sendiri,” ujar Maria. Namun, kesohoran pula yang menjatuhkan Maradona. Bermula dari pujian tinggi publik pasca-dia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, ketenaran Maradona mencapai titik balik di Piala Dunia 1990. Ia mulai dibenci publik Italia maupun publik Napoli gegara Italia kalah dari Argentina di semifinal Piala Dunia 1990. “Tuhan yang dipuja dan disembah publik Napoli kala mengangkat derajat kota kecil yang dikucilkan publik kota-kota di utara Italia itu, kini berbalik dilaknat. Itu jadi titik balik kehidupan Maradona yang lantas puncaknya diperparah kasus narkoba. Untuk menyelami lebih dalam insight dari kisah manis dan getir Maradona itu, baiknya tonton sendiri di aplikasi daring Mola TV . Publik Italia dan Napoli berbalik membencinya setelah Argentina mengandaskan Italia di semifinal Piala Dunia 1990 ( fifa.com ) Harga Mahal Kemasyhuran Walau dikemas dalam genre dokumenter, kisah Maradona garapan Kapadia diracik dengan gaya melankolis dan klasik: from hero to zero . Kendati begitu, dokumenter garapan Kapadia tak membosankan, pasalnya dari awal hingga akhir sarat kisah terpendam yang jarang diketahui publik, terutama oleh para pemuja Maradona. Kisah yang disajikan beragam. Dari tentang bagaimana Maradona harus berlatih ekstra untuk beradaptasi dengan gaya permainan Italia yang berbeda dari Argentina atau Spanyol, hingga tentang bagaimana Maradona memanggul ekspektasi besar sebagai juru selamat yang diharapkan bisa mengangkat martabat warga Napoli yang acap dirundung dan jadi sasaran rasisme warga kota-kota di utara. Yang juga penting adalah tentang kisah pergulatan batinnya. Di balik kenikmatannya sebagai pesohor, Maradona mulai tak nyaman dengan beragam bentuk pemujaan yang diterimanya dari publik Napoli. Tak hanya fotonya terpajang sejajar dengan foto Bunda Maria atau Yesus Kristus di hampir semua rumah warga Napoli, darahnya yang diambil dari tes medis pun diletakkan di Katedral San Gennaro. Camorra (mafia) dari keluarga Giuliano yang memperlakukan Maradona seperti properti pribadinya ( Blood Brothers: A History of Italy's Three Mafias ) Pergulatan batin Maradona makin berat dengan tekanan media yang memberitakan perselingkuhannya dengan Cristiana Sinagra hingga melahirkan seorang putra yang tak diakui Maradona. Lalu, bos Camorra (mafia) Carmine Giuliano memperlakukanya bak propertinya sendiri. Tekanan-tekanan itu menyeret Maradona makin dalam ke lingkaran setan dunia malam dan narkoba. Semua itu dijahit dengan apik oleh Kapadia yang menggunakan total 500 arsip video yang belum pernah dipublikasikan. Arsip video itu berisi wawancara para narasumber maupun gambar hasil dua tim kameramen yang dipekerjakan agen Maradona, Jorge Cyterszpiler. Untuk menambah daya tarik, Kapadia melengkapi jahitan gambarnya dengan music scoring bergenre disko untuk menggambarkan suasana era 1980-an, dan alunan musik klasik menegangkan dan mengharukan yang mengiringi cuplikan-cuplikan aksi Maradona di lapangan. Tak ayal, sejumlah kritikus memuji karya Kapadia sebagai berhasil menyajikan pencerahan dan kedalaman cerita hidup Maradona sebagai subyek. “Semua ada di sini: pertandingan-pertandingan hebat, gol-gol dan skandal-skandal besar. Semua menjadi satu dalam kehidupan (Maradona) dan ini yang menjadikannya tidak sama dengan biopik para legenda olahraga lain. Dokumenter ini menyuguhkan sebuah perasaan yang lebih tajam dari atmosfer yang ada di sekitarnya,” tulis kritikus John Doyle di kolomnya yang dimuat The Globe and Mail , 16 Desember 2020. Anak yang Tak Diakui Maradona Kapadia juga menyisipkan kisah tersembunyi tentang Maradona dan kekasih gelapnya, Christina Sinagra. Di pengujung film, Kapadia menyelipkan rekaman pertemuan pertama Maradona dengan putra yang tak pernah diakuinya, Diego Armando Maradona Junior Sinagra, pada 2016. Kapadia melengkapinya dengan keterangan: “Pada 2016, setelah 30 tahun penyangkalan, Diego Maradona akhirnya mengakui kebenaran tentang hubungannya dengan Cristiana Sinagra.” Namun, bagian penutup ini jadi titik mula ketidakakuratan fakta biopik. Maradona bertemu pertama kal i dengan putranya yang lahir dari rahim Cristiana faktanya adalah tahun 2007. Dalam narasi yang disampaikan Cristiana, dia pertamakali bertemu Maradona pada Desember 1985. Menurut Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God , pertemuan Maradona dan Cristiana terjadi dalam sebuah pesta yang digelar Maria Rosa, kakak Maradona. Cristiana yang kala itu baru lulus kuliah di jurusan akuntansi dengan paras cantik berambut pirang, begitu memesona mata Maradona. Kebetulan di akhir tahun itu tunangannya, Claudia Villafañe, sedang mudik ke Argentina. “Dia (Cristiana) adalah teman di kalangan pergaulan Maria, suaminya Gabriel Esposito dan dua adik Maradona, Hugo dan Lalo. Adalah ide Maria yang memperkenalkan Cristiana kepada Diego,” tulis Burns. Maradona yang dikultuskan publik Napoli. ( fifa.com /Wikipedia ). Dari pesta itu, Maradona dan Cristiana pun sering bertemu. Terutama ketika Maradona tengah kesepian tanpa Claudia. Cristiana sendiri kagum dengan kepribadian Maradona kendati tahu sang pemain sudah ada yang punya. “Kami bertemu hanya pada saat-saat tertentu. Saya melihat sesuatu hal yang lain pada dirinya dari apa yang eksis di imej publik. Diego yang saya kenal bukanlah Diego yang ada di suratkabar. Dia sosok yang peduli dan perhatian pada keluarga, dia bukan sosok yang arogan,” ungkap Cristiana dikutip Burns. Namun, Maradona cenderung ingin menyudahi hubungan terlarang mereka setelah medio April 1986. Pasalnya, Cristiana memberitahu keluarga Maradona bahwa dia mengandung anak Maradona. Walau keluarga Maradona mendesaknya menggugurkan kandungan, Cristiana bertahan menolaknya. “Pada suatu saat, ayah Cristiana bahkan diam-diam mendatangi Maradona dan memohon kepadanya untuk menunjukkan rasa tanggung jawabnya kepada putrinya. ‘Ya, anak yang dikandungnya itu adalah anak saya tapi saya tidak ingin melihat Cristiana sampai melahirkannya.’ Hanya kata-kata itu yang didapat ayah Cristiana dari Maradona,” imbuhnya. Cristiana Sinagra dan putranya, Diego Junior (kiri) & Maradona bersama tunangannya, Claudia Villafañe. (Altitude Film/ clarin.com ). Maradona seolah tak peduli. Terlebih ia ingin fokus pada persiapan Timnas Argentina di Piala Dunia 1986. Kasus “anak haram” Maradona itu baru digegerkan media-media Italia kala Cristiana melahirkan putranya pada 20 September 1986. Kepada media, Cristiana menyatakan ia menamai putranya Diego Armando Maradona Junior. Sebab, dia memang anak Maradona. Claudia yang menyaksikan wawancara Cristiana itu via televisi jelas syok. Apalagi saat itu Claudia juga tengah mengandung dua bulan. Kepada Claudia, Maradona berulangkali menyanggah bayi yang dilahirkan Cristiana itu darah dagingnya. “Di sisi lain keluarga Sinagra harus menghadapi kepopuleran Maradona di publik Napoli. Saat Cristiana dan putranya, Diego Armando Junior, meninggalkan rumahsakit, mereka harus keluar diam-diam pada jam dua dini hari demi menghindari kemarahan fans Napoli. Fans Napoli khawatir performa idola mereka terganggu sebagai hasil dari tuntutan hukum dari keluarga Sinagra,” ungkap Paddy Agnew dalam Forza Italia: The Fall and Rise of Italian Football. Diego Junior yang akhirnya diakui sang ayah setelah 30 tahun. (Instagram @diegomaradonajunior). Sembilan tahun Cristiana dan keluarganya memperjuangkan tuntutan itu di pengadilan. Mereka menuntut Diego Armando Junior bisa diakui pengadilan Italia agar kemudian sang bayi berhak menyandang nama belakang “Maradona”. Selama itu pula, termasuk ketika tengah diterpa skandal narkoba, Maradona enggan mengakuinya. Pada akhirnya di tahun 1995 pengadilan Italia menyatakan bahwa Diego Junior adalah benar anak dari Diego Maradona. Oleh karenanya secara hukum berhak menggunakan nama ‘Maradona’. “Tetapi sampai 10 tahun setelahnya, pada musim gugur 2005, Maradona masih menyanggah. Dalam acara televisi yang dibawakannya, ‘La Noche del 10’, dia mengatakan: ‘Diego Junior mesti menerima untuk tidak diakui. Saya punya dua putri yang saya cintai. Hakim bisa memaksa saya membayar sejumlah uang tapi tidak cinta saya. Cinta saya hanya untuk Dalma dan Giannina. Suka atau tidak, saya takkan pernah menerima bahwa Diego Junior adalah putra saya,’” sambung Agnew Di tahun 2005 itu, Diego Junior sudah merintis kariernya sebagai pesepakbola di akademi SSC Napoli dan Cervia 1920. Ia bahkan sempat mengenakan kostum Timnas Italia U-17 sejak 2001. Namun pada 2008 dia beralih karier ke sepakbola pantai. Kendati Maradona bertemu pertamakali dengan Diego Junior di sebuah turnamen golf tahun 2003, Maradona baru mau mengakui Diego Junior adalah darah dagingnya pada 2007. Footage tahun 2016 yang disisipkan Kapadia di akhir film adalah momen pertemuan dan pengakuan resmi Maradona di depan publik. Pertemuan yang terjadi di Buenos Aires itu diatur oleh kekasih Diego Junior, Rocio Oliva. Data Film Judul: Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God | Sutradara: Asif Kapadia | Produser: James Gray-Rees, Paul Martin | Produksi: , Lorton Entertainment, On the Corner, Film4 | Distributor: Altitude Film Distribution | Genre: Dokumenter | Durasi: 130 Menit | Rilis: 14 Juni 2019 (Inggris), Mola TV

  • Revolusi Kultural Walisongo

    BEBERAPA catatan sejarah menyimpulkan, Islam masuk ke Nusantara sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8. Kala itu, penyebaran ajaran Nabi Muhammad SAW ini belum begitu pesat. Namun, sejak awal abad ke-15, Walisongo memulai tonggak baru dakwah Islam yang membawa era keemasan Islam di Nusantara, terutama Jawa. Budayawan Nahdlatul Ulama Ngatawi Al-Zastrouw dalam Dialog Sejarah “Dakwah Walisongo dan Corak Islam di Jawa” di saluran Youtube  dan Facebook Historia, Jumat, 16 April 2021, menyebut konsep dakwah Walisongo merupakan sebuah Revolusi Kultural. Ngatawi menjelaskan, salah satu penyebar agama Islam pra-Walisongo adalah para saudagar Timur Tengah. Sambil berdagang, mereka juga melakukan dakwah. Namun, kala itu konstruksi sosial masyarakat Nusantara masih didominasi pemahaman Hindu-Buddha di mana salah satunya menggunakan sistem kasta yang meyakini bahwa penyebar agama ialah seorang Brahmana. Saudagar yang berkasta Waisya kemudian tak dipercaya ketika menyebarkan agama. “Orang Waisya kok nyebarin agama, ya nggak dipercaya. Inilah salah satu yang dikoreksi Walisongo. Nah kemudian walisongo melakukan koreksi sehingga menggunakan kebudayaan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran agama,” kata budayawan yang pernah menjadi asisten pribadi Gus Dur itu. Walisongo sendiri, jelas Ngatawi, bermula pada 1404. Ia terdiri dari beberapa wali, di antaranya Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Ahmad Maghribi, dan Maulana Malik Israil. Meski bernama Walisongo yang berarti Wali Sembilan, jumlah Walisongo kemungkinan berbeda-beda dan meliputi beberapa angkatan. Sejak 50 tahun awal dakwah Walisongo, ungkap Ngatawi, Islam secara pesat bisa diterima masyarakat Jawa. Pendekatan kebudayaan memang menjadi kunci dakwahnya. Hal ini didukung dengan profesionalitas para wali di bidangnya masing-masing. Sunan Ampel yang menggantikan Maulana Malik Ibrahim (wafat pada 1419), misalnya, merupakan wali yang ahli di bidang pendidikan. Ia mewariskan konsep pesantren yang masih bertahan hingga kini. Konsep pesantren merupakan transformasi dari padepokan, sanggar hingga karesian yang telah ada pada masa Hindu-Buddha. Kitab-kitab pendidikan seperti Tingkahing Wiku  dan Silakrama masih dipakai dan dipadukan dengan kitab Islam tentang pendidikan seperti Ta'limul Muta'alim dan Adabud Dunya Waddin. “Itu dikolaborasikan. Nilai-nilai yang sama, misalnya penghormatan pada guru, akhlak guru kepada murid, tanggung jawab guru kepada siswa, itu yang sama-sama itu, karena sudah sama tidak dilakukan perubahan,” terang Ngatawi. Lalu, Sunan Bonang (1465-1525), merupakan seorang intelektual. Ia banyak melahirkan karya tulis dan karya seni. Salah satu yang monumental ialah tembang “Tombo Ati”. Tembang ini digubah Sunan Bonang yang terispirasi dari “Syiir Abu Nawas”. “Tombo Ati” juga merupakan intisari ajaran Sunan Bonang yang terkandung dalam Suluk Wuragil . Sementara, Sunan Kalijogo (1460-1513) merupakan wali yang ahli di bidang kebudayaan. Ia juga terkenal sebagai penyebar dakwah melalui pertunjukan wayang kulit. Warisan ajarannya bisa ditelusuri dalam beberapa suluk dan serat, misalnya Suluk Sujinah  dan Serat Kaki Walaka . Kemudian, ada Sunan Muria (wafat 1551) yang merupakan ahli lingkungan. Salah satu jejaknya bisa ditelusuri jika berziarah ke makam Sunan Muria di Kudus, di mana salah satu oleh-oleh terkenalnya ialah kayu pakis. “Jadi beliau itu dulu membina petani, jadi kalau ada hama tikus itu, menurut Sunan Muria tidak boleh dimatikan. Tikus itu hanya boleh diusir karena ini makhluk Tuhan. Kalau tikus dimatikan dengan gropyokan , ekosistem alam akan terganggu. Maka dia menemukan kayu pakis itu, ditaruh,” kata Ngatawi. Kayu pakis ini memiliki dua makna. Makna spiritualnya sebagai karomah, sementara secara ilmiah kayu pakis bisa mengusir hama tikus karena aromanya tak disukai tikus. Ada pula Sunan Gunung Jati (1448-1568) yang merupakan ahli strategi perang. Ia mewariskan lima nilai dasar yang disebut dengan Panca Laku . Ia kemudian juga dikenal dengan adagiumnya “ Ingsun titip tajug lan fakir miskin ”, yang artinya bahwa Sunan Gunung Jati berpesan kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga masjid dan peka terhadap kehidupan rakyat miskin. Menurut Ngatawi, sebelum kedatangan Walisongo, orang Islam tidak memakai pendekatan kebudayaan untuk berdakwah. Mereka mengajarkan mengenai apa itu Islam serta ritual-ritual apa saja yang wajib dilakukan. Itupun dilakukan sambil berdagang. Walisongo datang dengan dakwah yang lebih mudah dipahami dan dekat dengan rakyat Jawa. Dakwah Walisongo juga mencoba menyentuh aspek “rasa” yang memang erat dengan konstruksi sosial masyarakat Jawa. “Jadi bukan aspek kognitifnya dulu, tetapi aspek afektifnya dulu. Maka yang diberikan kepada masyarakat Jawa terutama itu ya yang terkait dengan etik, moral, terus kemudian spiritualitas,” ujar mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) itu. Hal-hal yang bersifat simbolik, syariah maupun akidah diajarkan belakangan. Walisongo mengutamakan agar masyarakat merasa senang, nyaman, tak terpinggirkan dan tak terancam dengan agama Islam. “Nah itu yang disebut sekarang ini dengan istilah agama publik,” jelas Ngatawi. Pesatnya perkembangan Islam di Jawa pada abad ke-15 sebenarnya juga tak lepas dari peran Kesultanan Demak. Meski demikian, jelas Ngatawi, instrumen yang dipakai tetap kebudayaan. “Harus diakui sedikit banyak ada faktor kekuasaan yang mempercepat proses Islamisasi. Tetapi metode, pola yang dipakai tetap pendekatan kebudayaan. Penggunaan tradisi, penggunaan kultur setempat sebagai instrumen. Bukan dengan kekuatan birokratik, bukan dengan kekuatan militer, bukan dengan kekuatan kohersi,” terang Ngatawi.*

  • Gus Dur dan Film Dakwah

    Setiap Ramadan tiba, film-film dakwah Islam tayang sangat sering di televisi. Film-film itu berupaya menyampaikan pesan Islam lewat bentuk-bentuk lahir yang kentara. Misalnya terlihat pada busana, ucapan, adegan di masjid, dan suasana keluarga dalam rumah. Tak jarang orang merasa dikhotbahi ketika menontonnya sehingga menjadi kurang nyaman. Akhirnya, film itu justru ditinggalkan. K.H. Abdurrachman Wahid, mantan presiden Indonesia 1999–2001, punya rumus jitu agar film dakwah tak terjebak pada formalitas semacam itu. Gus Dur, sapaan akrabnya, selain dikenal sebagai sosok gemar membaca, juga gandrung pada film. Sejak remaja dan tinggal di Yogyakarta, pada 1950-an dia gemar menonton film-film serius. “Hampir sebagian besar waktunya selama tinggal di kota ini ia habiskan dengan menonton film,” sebut Greg Barton dalam Biografi Gus Dur . Kegemarannya ini jelas tak lazim bagi seorang anak kyai dan tumbuh di lingkungan orang-orang tradisionalis. Dia diharapkan akan menjadi pemimpin agama. Menonton film bukanlah kegiatan yang bisa diterima oleh lingkungannya. Karena itulah Gus Dur sering bersiasat agar tetap bisa menonton film. Pilihan film Gus Dur juga berbeda dari teman sebayanya. “Apresiasi Gus Dur terhadap film jauh lebih serius daripada yang ditunjukkan oleh kebanyakan teman-teman sebayanya,” lanjut Greg. Kegemaran Gus Dur pada film masih berlanjut ketika dia belajar di Kairo, Mesir, pada 1960-an. Di sini waktunya lebih banyak habis untuk menonton film daripada belajar di kampus. Film favoritnya adalah film-film terbaik dari Prancis. Tapi dia juga senang menonton film negara Eropa lainnya dan Amerika. Kegemaran menonton film ditambah hasrat membaca yang tinggi membuat Gus Dur memiliki pandangan yang luas dalam mengapresiasi film. Memasuki 1980-an, dia menyoroti film-film dakwah Indonesia yang mulai banyak beredar. Tapi Gus Dur melihat film-film dakwah itu masih mengedepankan bentuk-bentuk lahir ketimbang esensi ajaran Islam. Menurut Gus Dur, film-film dakwah buatan anak negeri berbeda sekali dibandingkan dengan film dakwah buatan sineas asing. Gus Dur membandingkan film Panggilan Tanah Suci karya Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani, dan Atheis dengan The Messenger dan Lion of the Dessert . Gus Dur melihat empat film ini sama-sama berupaya menggambarkan apa itu Islam. Bedanya, dua film asing itu mampu keluar dari ungkapan formal keagamaan. “Film-film dakwah kita menjadi forum khotbah akan kebenaran subordinasi ilmu pengetahuan kepada kebenaran agama,” kata Gus Dur dalam “Filem Dakwah Kita Menjadi Forum Khotbah”, termuat dalam Aktuil , No. 21 Tahun 1982. Meski tak menampik adanya bentuk formal dalam dua film asing itu, Gus Dur menyebut dua film itu adalah “penggambaran Islam sebagai keyakinan akan kebenaran esensial dari Islam bukannya kebenaran formalnya seperti tercermin dalam Panggilan Tanah Suci .. Atheis ,” tulis Gus Dur dalam “Film Dakwah: Diperlukan Keragaman Wajah dan Kebebasan Bentuk” yang termuat dalam Seni Dalam Masyarakat Indonesia. Gus Dur kemudian menyajikan contoh film tentang pesan agama lain seperti The Priest of St. Pauli , Boys Town , dan The Singer not Song. Film pertama mengetengahkan kisah hidup pastor dan kemerosotan moral dan agama di sarang penjahat. Pastor itu harus menenggang keadaan demikian. Film kedua bercerita pula tentang seorang pastor, tapi jauh dari kesan film agama. Film ketiga mengangkat sisi historis kehidupan beragama kaum Katolik dan mempertanyakan kebenaran klaim sang gadis yang dianggap telah melihat Tuhan. Film terakhir menggambarkan pengorbanan seorang pendeta untuk membela seorang bajingan. Pada akhir film, bajingan itu memeluk agama Kristen. Tapi bukan karena kebenarannya, melainkan lantaran dia takluk pada tindak-tanduk si pendeta. Sementara itu, film Atheis justru harus berakhir dengan penegasan pada kebenaran dan kemenangan agama. Hasan, salah satu tokoh utama film tersebut yang sinis pada agama, mengucapkan kalimat Laa ilaaha ilallah sebelum tewas. “Seolah-olah tanpa itu ia akan tetap kafir dan tidak akan diterima Tuhan di sisi-Nya,” tulis Gus Dur. Padahal film itu berangkat dari karya sastra anggitan Achdiat Kartamihardja yang tak dianggap sebagai sastra agama. Tapi dalam versi filmnya, karya itu berakhir sebagai sarana khotbah. Panggilan Tanah Suci pun terjebak dalam pendekatan serupa. Kisahnya tentang seorang dokter yang memuja ilmu pengetahuan tapi meremehkan kebenaran agama. Tokoh ini lalu dituntun kembali menuju jalan yang benar. “Tidak ada dialog antara dua pandangan yang sama-sama kuat, tetapi kemudian yang satu menundukkan yang lain melalui kesulitan yang luar biasa,” terang Gus Dur. Gus Dur mengkritik pendekatan satu sisi film-film dakwah tadi. “Yang belum yakin nantinya akan menjadi orang beriman penuh pada akhir film, yang menghina kebenaran agama nantinya akan insyaf pada ujung cerita, dan yang menentang agama nantinya akan menerimanya dengan tulus pada kesudahan kisah,” lanjut Gus Dur. Sehingga, menurut Gus Dur, pendekatan satu sisi seperti ini membelenggu ekspresi seni film tersebut. Gus Dur melihat pendekatan demikian tumbuh dari masyarakat yang memang masih memperlakukan agama sebagai sesuatu yang formal saja. “Kegiatan masjid-masjid kampus, terutama dalam bulan Ramadan, menyajikan sebuah contoh sederhana dari ‘kebangkitan Islam’ secara formal tersebut,” kata Gus Dur. Gus Dur menyarankan agar insan film berani mempertanyakan validitas penyajian agama dalam bentuknya yang paling formal itu. Dia yakin insan film Indonesia mampu membuat film dakwah yang berbicara lebih kompleks daripada sekadar menyampaikan bentuk-bentuk formal agama. Contohnya sudah ada dalam film Bulan di Atas Kuburan. Karya Asrul Sani ini tampil lebih menarik dan filmis daripada Panggilan Tanah Suci. Pada akhirnya, Gus Dur menilai film dakwah pada masa mendatang akan berharga jika mampu mengembangkan keberanian untuk lepas dari bentuk penyampaian pesan formal. “Kebebasan bentuk penggarapan masalah dan keragaman penyajian masalah adalah keharusan mutlak kalau kita merasa ikut terlibat dengan masa depan film sebagai medium dakwah agama Islam,” kata Gus Dur.

  • Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran

    JAKARTA, 1981. Kunjungan itu berakhir di kantor polisi. Baru saja keluar dari wilayah Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Fadli (bukan nama sebenarnya) langsung dicokok tiga petugas berpakaian preman. Mereka kemudian membawa mahasiswa Bandung itu ke kantor polisi terdekat. Setelah ditanya ini-itu dan dicatat namanya, barulah Fadli dibolehkan pulang. “Saya ingat salah satu pertanyaan polisi itu adalah: apakah saya anggota Jamaah Imran?” kenang lelaki kelahiran tahun 1958 itu. Fadli sebetulnya tidak salah. Kunjungannya ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran hanya untuk kepentingan penyusunan skripsinya terkait dengan Iran. Dia sama sekali tidak paham jika beberapa bulan sebelumnya, Iran pernah dihubung-hubungkan dengan nama kelompok Islam garis keras tersebut.

  • Naskah Pegon Tertua di Jawa

    Sebuah naskah kuno Islam dari masa keemasan Majapahit ditemukan. Naskah ini ditulis dengan huruf Arab dalam bahasa Jawa atau disebut pegon. Berdasarkan angka tahun yang terbaca di dalamnya, diduga naskah ini ditulis pada 1347 Masehi. Naskah ini sekaligus menjadi naskah pegon tertua di Jawa sejauh ini. Isinya tentang sejarah para nabi dan ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. “Naskah ini dimiliki seorang kolektor, katanya ditemukan di NTB (Nusa Tenggara Barat). Ternyata, menurut beberapa info dan beberapa temuan lain, ada upaya membawa naskah ini ke luar negeri. Saya berterimakasih kepada kolektor yang membawa naskah ini ke Salatiga,” kata Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021. Baca juga:  Naskah Ajaran Islam Awal di Jawa Saat ditemukan oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2019, naskah ini dalam kondisi kurang terawat. Naskah berbahan daluwang ini disimpan di dalam kotak kayu yang di dalamnya terdapat botol berisi minyak. Bahan daluwang dibuat dari kulit kayu atau serat tanaman. “Sangat mungkin tua karena dibuat dengan bahan deluwang yang sangat asli,” ujar Masyhudi. Sampulnya tipis dari kulit binatang. Warnanya cok e lat kehitaman. Bagian depan dan belakangnya sudah rapuh, berlubang, dan mengelupas. Serangan serangga juga membuat beberapa lubang pada lembarannya. Baca juga:  Dreamsea, Pusat Data Naskah Kuno Se-Asia Tenggara Tinta yang dipakai berwarna hitam dan merah. Bahannya dari tumbuh-tumbuhan. Alat tulisnya dari ilalang atau lidi aren. Naskah ditulis dengan huruf Arab berbahasa Jawa (pegon) dengan menggunakan jenis khath naskhi dalam bentuk yang sangat sederhana. Khat naskhi merupakan salah satu jenis seni menulis dalam tradisi tulisan Arab, yang tidak terlalu rumit dalam penulisannya, mudah untuk ditulis dan dipelajari. “Kenapa masih sederhana? Dugaan kami ini bentuk keterbatasan penulis. Belum mampu menerapkan kaidah-kaidah penulisan yang bagus,” kata Masyhudi. Baca juga:  Xiaojing, Arab Pegon Ala Cina Sayangnya, nama penulis naskah belum diketahui. Pun soal di mana naskah ini ditulis. “Kalau bahasa yang digunakan, istilah-istilahnya untuk zaman sekarang sudah sulit dimengerti. Mungkin sebagian Jawa Kuno dan sebagian lagi Jawa Pertengahan,” jelasnya. Kendati begitu, Masyhudi mengakui belum terlalu mengkaji naskah itu dari sisi filologi dan kebahasaan. Tetapi,dia yakin naskah ini bukanlah naskah salinan.   Dari Masa Kejayaan Majapahit Menariknya, naskah pegon ini ditulis pada masa Majapahit masih berjaya. Pada 1347 Masehi, sebagaimana angka tahun yang tertera dalam naskah,Gajah Mada masih menjabat sebagai Mahapatih. Berdasarkan pemberitaan Kakawin Nagarakretagama  Gajah Mada mangkat pada 1364. Saat itu, Tribhuwana Tunggadewi masih berkuasa, yang kemudian digantikan putranya, Hayam Wuruk pada 1350. Islam memang bukan agama resmi negara kala itu. Namun, jejak Islam sudah kuat di Majapahit. Selain dari naskah pegon itu, keberadaan umat Islam di tengah periode emas Majapahit sudah banyak dibuktikan sebelumnya. Salah satunya lewat keberadaan permakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trowulan, Mojokerto. Tak jauh dari makam-makan itu terdapat area yang diduga kompleks Kedaton Majapahit. Baca juga:  Agama-Agama di Majapahit Muhammad Chawari, peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta,dalam “Fenomena Islam pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit” yang termuat dalam Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaannya , menjelaskan bahwa yang dimakamkan di sana adalah penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah memeluk agama Islam. “Khususnya tujuh makam bertuliskan aksara Arab yang letaknya tak jauh dari pusat kota Majapahit,” tulis Chawari. Dari nisannya, makam-makam ini berasal dari tahun 874 H atau 1391 Saka (1469 M) dan 1533 Saka (1611 M). “Artinya, muslim atau mungkin kerabat raja Majapahit yang muslim sudah ada sejak Hayam Wuruk berkuasa,” lanjut Chawari. Baca juga:  Aksara Menunjukkan Peradaban Nusantara Bahkan, ada sebuah balok batu berangka tahun 1204 Saka atau 1282 M. Jika dilihat dari usianya, balok batu ini berasal dari masa sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. “Apakah balok batu itu benar-benar merupakan nisan atau hanyalah bagian dari sebuah bangunan yang bercorak Hindu yang kemudian dimanfaatkan untuk nisan,” tulis Chawari. Baca juga:  Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit Ditambah lagi keterangan Ma Huan, penerjemah resmi Laksamana Cheng Ho, dalam karyanya Ying-yai Sheng-lan. Ma Huan mencatat,terdapat tiga golongan penduduk di Majapahit. Salah satunya penduduk muslim. Mereka adalah saudagar yang datang dari berbagai kerajaan di Barat. “Naskah ini berkaitan dengan masa Majapahit. Karena pada masa Majapahit ada komunitas muslim,” kata Chawari dalam diskusi tersebut. “Tapi kalau secara langsung menyebut soal kerajaan-kerajaan semasa Majapahit, tak ada . Di sini hanya menceritakan riwayat para nabi, termasuk Nabi Muhammad,” kata Masyhudi.

  • Lima Peristiwa Bersejarah di Rumah Ahmad Subardjo

    SEBUAH rumah bergaya lama hendak dijual di Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah dengan luas tanah 2.951 meter persegi dan luas bangunan 1.796 meter persegi itu adalah rumah bekas kediaman Menteri Luar Negeri RI yang pertama, Ahmad Subardjo. Harga jual rumah bersejarah itu ditaksir mencapai 400 miliar rupiah. Masyarakat pun bertanya-tanya tentang kebenaran kabar itu. Dilansir laman  Kompas , salah seorang cucu Subardjo, Syahbudi, membenarkan kabar dijualnya rumah tersebut. Dia menyatakan bahwa rumah kakeknya itu merupakan aset pribadi, sehingga keluarga berhak untuk menjualnya. Syahbudi juga mengklaim sudah ada pihak yang membuat penawaran. “Memang Kemenlu pernah berkantor di sana, di rumah milik almarhum AS (Ahmad Subardjo), Menlu pertama RI. Bisa saya konfirmasi gedung itu bukan milik Kemenlu,” ujar Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah kepada Kompas , Senin (12/04/2021). Rumah di Cikini Raya telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang mengiringi perjalanan hidup sang pendiri bangsa. Tidak hanya peristiwa yang melibatkan dirinya sendiri, tetapi juga tokoh-tokoh besar di republik ini. Tan Malaka, misalnya, dia berhasil bertemu dengan Sukarno-Hatta dan membuat janji penting di halaman belakang rumah Ahmad Subardjo. Absen di Acara Proklamasi Rumah itu menjadi saksi absennya Ahmad Subardjo dari peristiwa pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dikisahkan Subardjo dalam otobiografinya  Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , sekira pukul 10 pagi, datang dua utusan Sukarno dan Hatta ke rumahnya. Mereka hendak menjemput Subardjo yang tak kunjung datang ke Pegangsaan Timur No. 56 untuk menghadiri acara pengibaran bendera merah-putih dan pembacaan teks proklamasi. Kedua utusan itu lalu melaporkan bahwa telah banyak orang menunggu di Pegangsaan Timur. Upacara pengibaran bendera merah-putih dan pembacaan proklamasi tidak akan dimulai sebelum kehadirannya. Begitu pesan Sukarno-Hatta. Mereka pun meminta Ahmad Subardjo segera berapakaian rapi dan pergi bersama ke kediaman Sukarno. Ahmad Subardjo meminta kedua utusan itu menunggu. Namun ketika keluar, bukannya berpakaian rapi, dia malah memberi sepucuk surat untuk diberikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Di dalam surat itu dia menuliskan permintaan maaf kepada kedua kawannya itu karena tidak dapat hadir mendampingi mereka. Ahmad Subardjo juga meminta agar supaya proklamasi kemerdekaan segera dilangsungkan tanpa menunggu kehadirannya. “Apalagi yang saya inginkan? Mimpi Indonesia merdeka telah menjadi kenyataan. Apa bedanya saya hadir atau tidak? Hal yang terpenting ialah bahwa kita sendiri dan generasi penerus rakyat telah menjadi warganegara yang bebas dari sebuah negara merdeka: Republik Indonesia!,” tegas Subardjo. Rupanya alasan ketidakhadiran Ahmad Subardjo dalam proklamasi disebabkan rasa lelah atas berbagai kejadian di malam-malam sebelumnya. Pada peristiwa pengamanan Sukarno-Hatta oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok, Ahmad Subardjo-lah yang berusaha meyakinkan para pemuda untuk melepas keduanya. Dia juga yang menjemput Bung Karno dan Bung Hatta dari Rengasdengklok dan memastikan dua tokoh penting itu tiba dengan selamat di Jakarta. Setelah itu Ahmad Subardjo lalu ikut ke kediaman Laksamana Tadashi Maeda untuk merancang perumusan naskah proklamasi bersama Sukarno-Hatta. Dimulai sejak tengah malam 16 Agustus 1945, rapat perumusan baru selesai pukul 06.00 pagi hari berikutnya. “Saya sungguh merasa lelah atas kejadian yang menegangkan syaraf, yang baru saja saya alami sepanjang hari dan malam sebelumnya,” lanjutnya. Setelah kedua utusan mengerti situasi yang dialami Ahmad Subarjo, mereka kembali ke Pegangsaan Timur. Sementara itu dia sendiri langsung masuk kamar kembali untuk melanjutkan tidurnya. Kantor Pertama Deplu Pasca menyatakan diri merdeka, Indonesia segera membentuk pemerintahan untuk menjalankan republik yang ajeg. Maka terbentuklah Kabinet Sukarno-Hatta. Kabinet pertama itu dilengkapi sepuluh departemen dan enam menteri negara. Tugas mereka adalah memastikan seluruh elemen negara berjalan baik. Dicatat Mohammad Hatta dalam  Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi , semua posisi menteri diisi oleh tokoh-tokoh yang ahli di bidangnya. Seperti Ahamd Subardjo yang menduduki kursi Departemen Luar Negeri. Namun bukan perkara mudah menjalankan tugas menteri di negara yang baru terbentuk. Di dalam otobiografinya, Subardjo menceritakan bagaimana dia menghadapi kesukaran memenuhi kewajiban di departemen yang dipimpinnya. Terutama ketika harus menghadapi kenyataan bahwa dia belum memiliki kantor beserta alat-alat penunjang tugas. Bahkan pegawai pun tidak ada. Subardjo benar-benar memulainya dari nol. “Teman-teman saya beruntung sudah dapat mulai kerja secara normal, mempunyai segala sesuatu untuk memimpin departemen pemerintahan, namun belum banyak hal yang diurusnya. Mereka hanya berkewajiban agar pegawai-pegawainya bersumpah untuk setia kepada pemerintah republik,” kata Subardjo Subardjo memulai tugasnya dengan memasang iklan di Asia Raya  untuk mencari pegawai. Dia mengumumkan: “Siapakah yang ingin menjadi pegawai Departemen Luar Negeri?”. Rupanya hanya dalam beberapa hari iklan dipasang, Subardjo sudah bisa memulai pekerjaannya. Dia mendapat 10 orang pelamar. Seluruhnya diterima bekerja. Lima orang ditempatkan sebagai sekretaris, lima lainnya diberi tugas mengatur administrasi. Selesai dengan soal kepegawaian, Subardjo segera mencari tempat untuk dijadikan kantor. Dia pun memakai rumah pribadinya di Jalan Cikini Raya No. 82. Rumah itu hanya sementara digunakan karena tidak ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat operasional bagi Deplu kala itu. Departemennya perlu mendapat gedung yang lebih layak, mengingat tugas dan fungsi departemen luar negeri yang begitu penting untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia (RI). Meski belum mendapat perangkat kerja yang lengkap, Subardjo tetap menjalankan semua tugasnya dengan baik. Baginya, keberadaan departemen luar negeri sangat penting dan merupakan sebuah hal mendesak. Kekalahan Jepang bisa menjadi gerbang masuknya kembali Belanda ke Indonesia. Menurut hukum internasional mengenai perang, negara-negara yang menang perang harus melucuti mereka yang kalah dan mengembalikan ke tanah airnya. Penting untuk tidak lengah dalam situasi tersebut karena Belanda bisa kembali masuk ke Indonesia yang masih lemah. “Segera setelah Departemen Luar Negeri mulai menunaikan kewajibannya, kami menghadapi soal-soal yang memerlukan penyelesaian dengan cepat dan tepat. Hal demikian membawa kami ke dalam keadaan di mana kami memecahkan soal demi soal asal saja dapat diselesaikan. Tapi kita tidak melupakan dasar dan tujuan revolusi kita,” ungkap Subardjo. Tempat Singgah Perwakilan Inggris Pada 29 September 1945, Deplu menerima kabar bahwa tentara Sekutu di bawah pimpinan Letjen. Sir Philip Christison akan mendarat di Tanjung Priok. Mereka bermaksud melindungi dan membebaskan tawan perang, melucuti tentara Jepang, dan mengadakan ketertiban. Christison juga mengumumkan pelaksanaan administrasi militer di Jakarta, Surabaya, Padang, dan Medan. Namun secara tegas menyebut bahwa pihaknya tidak akan mencampuri urusan dalam negeri RI. Tidak lama setelah tentara Sekutu tiba di Jakarta, seorang intel Inggris datang menemui Subardjo di kantor sementara itu. Dia memperkenalkan diri sebagai opsir yang diperbantukan kepada Denning, penasehat Christison. Kedatangannya dimaksudkan untuk meminta izin pergi ke pedalaman Pulau Jawa. Dia juga meminta kepada Subardjo surat izin resmi yang ditandatangani Presiden Sukarno, serta seorang penunjuk jalan beserta kendaraannya. Subardjo sempat ragu mengabulkan permintaan tersebut. Namun di sisi lain dia ingin menjaga hubungan baik dengan pejabat tinggi Sekutu. Akhirnya setelah didesak, Subardjo bersedia memenuhi permintaan itu. Subardjo lalu menemui presiden dan menjelaskan situasinya. Setelah izin berhasil didapat, opsir Inggris itu segera merencanakan perjalanannya. Dia sempat menginap semalam di rumah Subardjo. Besoknya, pagi-pagi sekali, bersama seorang pemuda salah satu pembantu Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, si opsir memulai perjalanannya ke pedalaman Jawa. “Dalam hati saya, saya khawatir bahwa dia tidak akan kembali hidup. Tetapi setelah satu minggu lewat, dia kembali dengan selamat dengan pemuda tersebut,” kata Subardjo. Opsir Inggris itu tiba dengan pengalaman baru. Dia berkata: “Sekarang saya yakin bahwa pemerintah Tuan mempunyai penuh dukungan rakyat, sebab saya lihat dengan mata kepala saya sendiri betapa rakyat di mana-mana, di desa-desa kecil, di pedalaman dihinggapi oleh perasaan riang gembira, dengan semangat yang bergelora. Dan saya lihat bendera merah-putih berkibar di mana-mana”. Bertemu Tan Malaka Di rumahnya, Subardjo bertemu kembali dengan seorang kawan yang dia kira sudah wafat. Kawan itu adalah Tan Malaka. Suatu pagi, ketika hari belum terlalu terik, Subardjo kedatangan seseorang yang telah lama tak pernah ditemuinya. Kali terakhir bertemu pada sekitar 1930-an, ketika Subardjo tinggal di Leiden, Belanda. “Wah, kau Tan Malaka?” kata Subardjo setengah kaget. “Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau disebut menjadi korban dalam kerusuhan Birma, ada lagi kabar bahwa kau berada di Yerusalem, dan dikatakan mati dalam kerusuhan di Israel”. Sambil tertawa Tan menjawab dalam bahasa Belanda: “ Onkruid vergaat toch niet ”, artinya: alang-alang tak dapat musnah kalau tak dicabut dengan akar-akarnya. Setelah saling sapa, juga sedikit senda-gurau, Subardjo menanyakan maksud kawan lama itu menemuinya. Tan menjawab, “Sampai sekarang saya hidup incognito  (tidak resmi) di bawah tanah. Sekarang Indonesia sudah merdeka, saya ingin hidup dan bergerak di atas tanah secara resmi. Saya ingin menemui dan mengenal pemimpin-pemimpin Indonesia.” Pernyataan Tan tersebut terdengar aneh bagi Subardjo. Dia bertanya-tanya apa maksud sebenarnya dari “menemui dan mengenal pemimpin-pemimpin Indonesia”, apakah Tan ingin memengaruhi jalannya revolusi dengan pandangan hidupnya sebagai seorang penganut ajaran Marx dan Lenin? Sebagai seorang yang pandai memberi pengaruh terhadap orang-orang yang tidak berpikir kritis, Subardjo khawatir Tan akan sungguh memengaruhi pemimpin-pemimpin revolusi Indonesia. Singkat cerita, Tan Malaka tinggal beberapa hari di kediaman Menteri Luar Negeri Pertama RI itu. Dia bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya. Tan rupanya kembali ke tanah air pada 1920. Bermodal ijazah Hoofdacte, dia diterima kerja di Senembah Maatschappij, sebuah perusahaan perkebunan milik Belanda di Sumatra. Tan menjadi guru anak-anak pegawai Belanda di sana. Namun baru beberapa bulan mengajar, dia mendapat teguran dan berakhir dipecat. Alasannya karena Tan mengajari para pekerja di perusahaan itu sejarah pergerakan kaum buruh internasional. Akibatnya tingkah laku para pekerja menjadi kurang ajar terhadap atasannya, terutama kepada para pegawai Belanda. Selesai dengan urusan di Sumatra, Tan pergi menemui Semaun di Semarang. Di sana, dia mendirikan Sekolah Rakyat. Tetapi lagi-lagi tidak bertahan lama, karena larangan untuknya tinggal di Semarang segera diterbitkan. Akhirnya dia memutuskan pergi ke Belanda dan aktif di Partai Komunis negeri itu. Setelah gagal menjadi anggota parlemen, Tan meninggalkan Belanda menuju Rusia, lalu ke Tiongkok. “Setelah mendengarkan cerita Tan Malaka mengenai pengalamannya dalam buangan di Eropa, maka saya mengerti mengapa dia ingin hidup turut menikmati alam kemerdekaan Indonesia,” kata Subardjo. Pertemuan Tan Malaka dengan Sukarno-Hatta Salah satu tujuan kedatangan Tan ke kediaman Subardjo adalah untuk meminta kawannya itu mengenalkan dirinya kepada pucuk pimpinan Republik Indonesia, terutama Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo setuju dengan keinginan Tan tersebut. Sebelum bertemu Sukarno-Hatta, Tan terlebih dahulu dikenalkan dengan pimpinan revolusi lainnya, seperti Gatot Tarunomihardjo, Iwa Kusuma Sumantri, Sajuti Melik, dan lainnya. Semua pertemuan diadakan di rumah Subardjo. Suatu hari, Sajuti Melik mengajak Tan menemui Dr. Suharto di Kramat Raya. Di sana Tan bertemu Bung Karno. Menurut cerita yang didengar Subardjo, dalam pertemuan itu Bung Karno mengatakan bahwa dalam perjuangannnya dia banyak mengambil petunjuk-petunjuk dari buku Aksi Massa  karya Tan. Bung Karno juga memberi tahu kekhawatirannya akan kondisi gawat pasca kemerdekaan yang dalam waktu dekat akan menimpa seluruh rakyat Indonesia. Dia lalu meminta Tan memberi petunjuk kepada pemimpin-pemimpin republik tentang strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. “Saya tidak dikenal oleh pemimpin-pemimpin yang saudara singgung. Saya sanggup menunaikan tugas saya apabila Bung Karno memberi surat kepada saya sebagai tanda pengenalan,” ujar Tan. Namun setelah berhari-hari ditunggu, surat itu tak kunjung diterima. Tan juga sudah meminta Subardjo mengingatkan Sukarno. Sampai pada suatu hari, melalui sambungan telepon, Subardjo menerima kabar presiden akan datang ke rumahnya. Kali ini, Bung Hatta ikut mendampingi. Maksud kedatangan dua lakon utama proklamasi itu adalah membuat surat yang telah Tan tunggu-tunggu. Subardjo lalu membawa para tamu ke ruangan belakang rumahnya. Tan pun diminta menyusun surat itu dengan kata-katanya sendiri. Surat yang kemudian dikenal sebagai testamen politik itu pokoknya berbunyi: “Kalau seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atas diri Sukarno dan Hatta, maka pimpinan perjuangan kemerdekaan diteruskan oleh Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, dan Wongsonegoro”. Subardjo diminta mengetiknya dan membuat tiga salinan agar tokoh lain dapat segera menerima amanat tersebut. Tetapi kondisi revolusi, serta berbagai persitiwa yang terjadi membuat Subardjo tidak dapat memberikan salinan itu. Pesan di dalamnya pun pada akhirnya tidak terlaksana. “Tan Malaka tinggal kira-kira tujuh hari di tempat saya. Kemudian dia minta diri, katanya mau pergi ke Jawa Tengah,” ujar Subardjo.*

  • Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadan

    Pada Maret 1946, Mayor Slamet Riyadi, komandan Batalion II Resimen 26 Divisi X, mendapat tugas di front selatan Semarang, yaitu di Srondol. Kekuatannya hampir satu batalion (Kompi I, III, dan IV), sedangkan Kompi II bertugas di Padalarang, Jawa Barat. Tiga batalion dikerahkan untuk menahan gerakan pasukan Belanda dengan garis pertahanan membentang dari Srondol ke arah timur sampai di Mranggen. Laporan intelijen menyebutkan dalam mempertahankan Semarang sebagian besar pasukan Belanda tinggal di asrama Jatingaleh. Asrama militer bekas pasukan Jepang ini dijadikan pusat pertahanan Belanda di Jawa Tengah, sehingga dihuni oleh pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri, lengkap dengan kendaraan lapis baja. “Posisi strategis Jatingaleh agaknya menggoda Mayor Slamet Riyadi untuk mencoba menghancurkan asrama militer tersebut,” tulis Julius Pour dalam biografi Slamet Riyadi, Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS . Slamet Riyadi mengajak rekannya sesama anggota Resimen 26, yaitu Batalion Soenitioso dan Batalion Soeharto Goegoet. Mereka sepakat membagi tugas penyerangan. Pasukan Soenitioso dan Soeharto menyerang dari arah selatan sebagai serangan pancingan ( afleidings actie ). Sedangkan pasukan Slamet Riyadi dengan kekuatan Kompi Suradji dan Kompi Sadono menyerang dari arah timur masuk ke asrama Jatingaleh. Serangan pancingan tidak perlu besar, tapi cukup untuk menyibukkan musuh agar sulit konsentrasi menghadapi serangan Slamet Riyadi. “Peristiwa penyerangan ke tangsi Jatingaleh terjadi pada 8 Agustus 1946 atau bertepatan dengan tanggal 9 bulan puasa. Ini merupakan gagasan Mayor Slamet Riyadi untuk memperingati ulang tahun pertama Republik Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1946 sebagai ulang tahun pertama Republik Indonesia harus diperingati secara militer, bukan dengan penaikan bendera dan berbaris, tetapi dengan menggempur Belanda,” tulis Keluarga Besar SA/CSA dalam Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal (anumerta). Tiba saatnya melakukan serangan pada dini hari tanggal 8 Agustus 1946. Slamet Riyadi dan pasukannya bergerak dari arah timur mendekati pagar asrama. Dengan tiga buah tang, mereka membuat dua lubang pada pagar kawat yang hanya dapat dilewati satu orang. Slamet Riyadi menunggu serangan pancingan, namun pasukan Soenitioso dan Soeharto belum juga muncul. Setelah ditunggu beberapa waktu tetap tidak ada tanda-tanda serangan pancingan datang dari arah selatan. “ Afleidings acties  (serangan pancingan) yang telah disepakati bersama ternyata gagal muncul justru pada saat kritis,” tulis Keluarga Besar SA/CSA. Letnan Kolonel Slamet Riyadi menandatangani serah terima kekuasaan militer daerah Solo dari Belanda yang diwakili Kolonel J.H.M.U.L.E. van Ohl pada 12 November 1949. (Wikimedia Commons/Arsip Nasional Belanda). Slamet Riyadi pun memutuskan tetap menyerang asrama meskipun tanpa serangan pancingan. “Ketika sebagian anak buah Slamet Riyadi sudah berhasil masuk ke halaman asrama, tiba-tiba menyala lampu sorot. Sinarnya terang benderang, membikin suasana di sekitar pagar yang sudah bobol bagaikan tengah hari,” tulis Julius Pour. Sorotan lampu itu diikuti rentetan tembakan senjata otomatis dan mortir ke arah pasukan Slamet Riyadi, baik yang telah masuk ke halaman asrama maupun yang masih bergerombol untuk melewati lubang-lubang pagar kawat . Pasukan yang berhasil masuk lewat pagar kawat dan berada di halaman asrama sebanyak 52 orang. Yang masih berada di luar pagar jumlahnya kurang lebih sama. Pasukan yang sudah berada di halaman asramasegera mengalihkan penyerangannya, tidak lagi kepada para penghuni gedung, tetapi ke arah lampu-lampu sorot. “ Dua buah lampu besar yang bersifat stasioner dapat dilumpuhkan dan satu unit senapan mesin dapat dibungkam. Kesempatan ini dipergunakan untuk meloloskan diri serta untuk mengungsikan korban-korban ke tempat-tempat yang lebih aman,” tulis Keluarga Besar SA/CSA. Slamet Riyadi menyadari berada dalam keadaan gawat. Rencana serangannya telah gagal. Bila terlambat menarik pasukan akan terjebak di dalam asrama. Dia pun segera memerintahkan pasukannya mundur. Slamet Riyadikehilangan 57 orang atau sekitar separuh pasukannya: 27 orang gugur di dalam asrama, 10 orang gugur di luar asrama termasuk Komandan Kompi Kapten Sadono, 9 orang ditawan,dan 1 orang luka-luka. Setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, tentara Belanda menyerahkan 8 orang tawanan: 3 orang dalam keadaan sehat dan tidak invalid ( cacat ), 2 orang kehilangan kedua kakinya , 1 orang kehilangan satu kakinya , 2 orang kehilangan kedua lengannya , dan 1 orang tidak diketahui atau missing in action ( hilang dalam pertempuran ) . Menurut Julius Pour, kegagalan dalam aksi penyusupan ke asrama Jatingaleh sangat memukul Slamet Riyadi. Meskipun demikian, dia tidak pernah mempersoalkan mengapa dua batalion rekannya, yang seharusnya mengawali serangan pancingan tidak muncul. “Peristiwa Jatingaleh merupakan tragedi besar bagi Slamet Riyadi dan Batalion II. Namun, dari pengalaman itu pahlawan kita menjadi lebih bijak di samping lebih pandai berperang. Sayang, kenekatannya pantang reda. Rupanya dia memang ditakdirkan untuk mati dalam pertempuran, atau menurut orang Jepang ‘pecah sebagai ratna’,” tulis Keluarga Besar SA/CSA. Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur pada 4 November 1950 ketika memimpin operasi menumpas Republik Maluku Selatan oleh tembakan sniper di depan Fort Victoria, Ambon, Maluku.

  • Menteri Korup Era Orde Lama

    Disebut sebagai menteri paling korup pada era Orde Lama. Jusuf Muda Dalam mendapat vonis hukuman mati.

  • Ada Intel di Jamaah Imran

    DI RUMAH Imam Im (panggilan akrab pengikutnya untuk Imran bin Muhammad Zein Sutan Sinaro) Kopral Dua Nadjamudin tersungkur dengan berlumuran darah. Anggota Korps Angkutan Militer Angkatan Darat di Cimahi itu akhirnya menemui ajal pada Jumat siang, 27 Maret 1981, setelah Imam Hidayat menancapkan sebilah belati di bagian perutnya. “Saya yang bunuh (Nadjamudin),” ungkap lelaki kelahiran tahun 1959 itu di hadapan majelis hakim pada Januari 1982. Sebelum ditusuk, Nadjamudin dipukuli secara beramai-ramai oleh 6 anggota Jamaah Imran yang lainnya. Lantas mengapa nyawa sang kopral harus melayang? Menurut Imam, sejatinya Nadjamudin adalah seorang anggota yang berharga bagi Imran. Selain ikut menyediakan sepucuk  laras panjang berjenis M1 Garand, dia pun terlibat dalam rencana penyerangan Pos Polisi Kosekta 8606 di wilayah Cicendo, Bandung pada 11 Maret 1981. Namun lambat laun kawan-kawan sejamaahnya mencium gelagat tidak beres. Mereka mendapatkan informasi bahwa sesungguhnya Nadjamudin adalah seorang intel tentara yang sengaja diselusupkan ke Jamaah Imran guna membongkar rahasia kelompok tersebut sekaligus melakukan “provokasi”. Soal itu kemudian dilaporkan kepada Imam Im. Tanpa banyak bicara, sang imam hanya memerintahkan kepada para anggotanya itu agar Nadjamudin “dilibas” saja. Kata “dilibas” itulah yang kemudian ditafsirkan para pengikut Imam Im sebagai instruksi untuk menghabisi Nadjamudin. “Gagasan untuk membunuh Nadjamudin datang dari Mahrizal (pemimpin pembajakan pesawat Woyla milik Garuda),” ungkap Imam Hidayat seperti termaktub dalam buku Imran: Dari Hukum sampai Islam  yang ditulis dan diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Keberadaan Nadjamudin sebagai agen intel tentara dikonfirmasi oleh pihak militer Indonesia sendiri puluhan tahun kemudian. Hal itu disebutkan oleh mantan staf intelijen Hankam, Teddy Rusdy dalam biografinya yang ditulis Servas Pandur, 70 Tahun Teddy Rusdy: Think Ahead. “Menjelang subuh hari terjadinya pembajakan pada Sabtu 28 Maret 1981 (diberitakan) seorang anggota intelijen yang disusupkan telah dibunuh…Karena kedoknya telah terbuka,” ungkap Servas berdasarkan wawancaranya dengan Teddy Rusdy. Selain Nadjamudin ada dua orang lain dari unsur militer yang dihubungkan dengan Jamaah Imran. Mereka adalah Mayor (Udara) Ir. Jacob Ishak dan Mayor Jenderal (Purnawirawan) Ishak Djuarsa. Namun sebagai saksi di depan pengadilan, Jacob dan Ishak menyanggah bahwa mereka merupakan bagian dari Jamaah Imran. Jacob mengaku bahwa hubungannya dengan Imran terjalin berkat keponakannya yakni Ir. Armi Noor. Armi bersama ayah dan dua adiknya merupakan anggota aktif  Jamaah Imran. Bahkan ayah dan salah satu adik Armi ditahan karena ikut menyerang Pos Polisi Kosekta 8606 Cicendo. Tentang rencana aksi teror Jamaah Imran didengar langsung Jacob dari mulut Imam Im sendiri. Ceritanya, dua hari sebelum aksi pembajakan, Amri dan salah satu adiknya yakni Azhar Zulkarnain serta Imran sendiri datang ke rumah Jacob di kawasan Cipinang Timur, Jakarta Timur. Tujuan mereka datang adalah untuk meminjam pistol berjenis Makarov kepada Jacob. “Gunanya untuk apa?” tanya Hakim Soebandi. “Bajak pesawat udara,” jawab Jacob. “Terus bagaimana?” cecar hakim. “Saya tidak berikan,” ujar Jacob. Karena tidak mau memberikan, secara emosional Armi mengingatkan bahwa saat itu kakak kandung dari dan dua keponakan Jacob tengah ditahan aparat. Dengan Makarov kepunyaan Jacob, Armi menegaskan dirinya akan membebaskan mereka. “Jika senjata api itu tidak diberikan, saya akan bunuh diri!” teriak Armi. “Tapi itu rencana tidak baik!” jawab Jacob. Imran lalu menengahi pertengkaran paman dan keponakan tersebut. Sambil mengutip beberapa ayat Al Qur’an, dia lalu menyarankan agar Jacob memberikan saja Makarov itu kepada mereka. “Berilah dengan ikhlas,” ujar Imran. Namun Jacob tetap bersikeras. Alih-alih mengamini, dia malah langsung meninggalkan ketiga orang tersebut dan berangkat langsung ke kantornya. Singkat cerita, sepulang ngantor , Jacob langsung memeriksa lemari. Alangkah terkejutnya saat dia menyaksikan pintu lemari telah dirusak dan pistol Makarov miliknya yang biasa dia simpan di balik lempitan baju-baju tak ditemukan. Pistol buatan Uni Soviet itu bahkan raib beserta semua pelurunya dan sebuah kamera. Khawatir terjadi sesuatu, Jacob kemudian melaporkan kehilangan tersebut ke kantor polisi setempat. Namun dia tak menyertakan kecurigaannya kepada seseorang mengingat Armi Noor merupakan keponakannya sendiri. “Dia tidak sampai hati berbuat demikian,” ungkap Jacob. Sebelumnya Jacob juga diminta oleh Imran dan Armi Noor untuk menyediakan 10 pucuk senjata api genggam untuk menjalankan rencana pembunuhan Menteri Penerangan Ali Moertopo. Menurut kesaksian Jacob, permintaan itu ditolaknya mentah-mentah. Namun tak urung, Mayor Jacob tetap ditahan oleh Polisi Militer. Sama seperti Jacob, Ishak Djuarsa pun memberikan kesaksian di pengadilan bahwa hubungannya dengan Imran tak lebih sebagai kolega bisnis semata. Kendati rencana bisnis itu tak pernah berlanjut secara nyata, namun Ishak mengakui bahwa dirinya kerap berdiskusi soal-soal bisnis dengan Imran. Ishak menjalin hubungan dengan Imran karena dikenalkan oleh salah seorang eks anak buahnya bernama Joni. Saat berkenalan itulah, Imran mengaku sebagai wakil suatu perusahaan kontraktor umum dari Saudi Arabia. Untuk meyakinkan Ishak, dia kemudian memperlihatkan surat keterangan dari perusahaan itu. Imran beberapa kali bertemu dengan mantan Panglima Kodam I Iskandar Muda itu. Bahkan Ishak mengakui, dia pernah satu kali menginap di rumahnya yang ada di Bogor. Saat berhubungan itulah, Imran kerap membicarakan soal penyelewengan-penyelewengan dan korupsi yang tengah merajalela di negeri ini. “Semua orang sudah tahu soal itu,” ujar mantan pejuang kemerdekaan RI tersebut. Berbeda dengan keterangan Ishak sebagai saksi, Imran sendiri menyatakan bahwa selain soal bisnis, dirinya kerap berdiskusi mengenai soal-soal politik dan pengalamannya memberantas praktek penyelundupan saat menjabat sebagai pangdam di Aceh sehingga dia “dipanggil” ke Jakarta dan dipindahkan ke Palembang. Selain diskusi tersebut, kata Imran, Ishak juga pernah memberikan sejumlah dokumen kepada Imran. Dokumen itu antara lain terjemahan dari buku The Last Day Indonesian Soeharto,  salinan dokumen CSIS (lembaga yang dibidani Ali Moertopo) dan dokumen hasil rapat Ali Moertopo dengan pimpinan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) dan Dewan Gereja Indonesia (DGI). “Semua itu saya dapatkan ketika menginap di rumah Ishak Djuarsa,” ungkap Imran di depan Hakim Soebandi. Keterlibatan unsur-unsur militer dalam gerakan Jamaah Imran menyebabkan banyak kalangan mencurigai kelompok tersebut tak lebih sebagai “peliharaan” salah satu faksi di tubuh badan intelijen Indonesia. Hal itu pernah dilontarkan oleh seorang agen CIA berkode Friendly/2 dalam buku karya Ken Conboy, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. “Dia melaporkan bahwa salah seorang pengikut Imran menghambur-hamburkan dana dengan sumber dananya yang misterius,” ungkap Conboy. Bukan hanya CIA, pimpinan Badan Intelijen Strategis (BAIS) sekaligus Asisten Intelijen Hankam L.B. Moerdani juga mencium adanya keterlibatan “intelijen pemerintah” lainnya dalam kasus Jamaah Imran. Menurut Ken Conboy, kecurigaan itu bukanlah tanpa dasar —walaupun secara teori, Ali Moertopo tidak terlibat dalam urusan operasi khusus—, namun desas-desus tentang ikut campur tangannya dalam kasus tersebut bertiup kencang kala itu. Begitu marahnya Benny (panggilan akrab L.B. Moerdani) atas situasi tersebut, kata Conboy, hingga dia menelepon langsung Deputi III Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) Aswis Sumarmo. “Bilang pada Pitut (Soeharto) untuk menghentikannya! Atau dia akan kutangkap!” ujar Benny. Pitut Soeharto adalah agen intelijen kepercayaan Ali Moertopo. Saat awal Orde Baru, dia ditugaskan untuk “masuk” ke jaringan kelompok Islam garis keras guna menjalankan operasi penjinakan sekaligus melakukan pembusukan terhadap kekuatan-kekuatan Islam politik. Ketidakpercayaan Benny kepada “intel lain” secara tersamar dibuktikan oleh keinginannya untuk menjadi koordinator langsung penanganan Operasi Woyla. Ketika Teddy menyampaikan pertanyaan Duta Besar RI untuk Thailand Hasnan Habib: apakah koordinasi dalam pengendalian pembajakan ada pada tangan Hasnan Habib, Kepala BAKIN Yoga Soegomo atau berada di Jakarta? “…di Jakarta!” jawab Benny setengah membentak.*

  • Perselisihan dan Perbedaan Awal Puasa Masa Kolonial

    AWAL Ramadan 1442 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021. Tak ada perbedaan mula bulan puasa antara dua ormas besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Dua ormas ini menggunakan konsep astronomi dan perhitungan yang berbeda. Tak jarang awal puasa bisa berlainan. Perbedaan mula bulan puasa seringkali terjadi pada masa lampau. Kisah paling sohor berasal dari abad ke-16. H.J. de Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa mencatat, kala itu ulama Kesultanan Demak bermusyawarah menjelang bulan puasa. Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga menggunakan pandangan dan pendekatan berbeda dalam menentukan awal puasa.

  • Tragedi Kematian Magellan

    MACTAN, Filipina, 27 April 1521. Ferdinand Magellan bersama 60 anak buahnya telah bersiap perang melawan penduduk Mactan tiga jam sebelum fajar. Mereka sudah berbaju zirah lengkap dengan helm. Mereka juga disertai raja lokal, pangeran, beberapa pemimpin lokal dan sekitar 30 perahu tradisional balanghai. Perang tersebut disebabkan karena penduduk Mactan tidak mau tunduk pada perintah Magellan maupun pada raja-raja lokal yang telah memeluk Katolik. Merekapun siap bertempur. Tombak-tombak bambu dengan pucuk besi tajam dan panah-panah beracun telah disiapkan. Lubang-lubang jebakan juga telah digali di sekitar rumah-rumah penduduk. Mactan tak ingin jatuh ke tangan Magellan. “Kapten tidak ingin berperang saat itu, tetapi mengirim pesan kepada penduduk asli melalui orang Moor yang menyatakan bahwa jika mereka mematuhi raja Spanyol, mengakui raja Kristen sebagai penguasa mereka, dan memberi upeti, kapten akan menjadi teman mereka; tetapi jika mereka menginginkan sebaliknya, mereka akan melihat bagaimana tombak kami melukai,” tulis Antonio Pigafetta dalam The First Voyage around the World (1519– 1522): An Account of Magellan’s Expedition (Theodore J. Cachey Jr., Ed.).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page