top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tradisi Berbuka Puasa Masyarakat Melayu

    SELAMA bulan puasa hampir seluruh masyarakat gampong senang berkumpul di meunasah (masjid) untuk menunggu waktu magrib. Menjelang waktu berbuka, orang-orang kampung yang sudah berkumpul masing-masing mengambil batok kelapa atau mangkuk kecil. Mereka lalu mengambil makanan yang telah disiapkan dari hasil sumbangan masyarakat di bawah pengawasan teungku . Makanan yang biasanya dihidangkan untuk berbuka puasa adalah bubur ( kanji ) yang terbuat dari beras dan berbagai sayuran yang diaduk rata. Bubur ini dimasak oleh beberapa orang tua miskin di gampong yang nantinya mendapat bagian fitrah dari teungku atas jerih payahnya. Setelah berbuka puasa dengan bubur, orang-orang lalu ikut seumayang mugreb atau sembahyang magrib. Yang tidak salat, mereka akan tetap di masjid menyaksikan orang melakukan salat berjamaah. Saat salat magrib selesai, semuanya kembali ke rumah untuk memuaskan rasa lapar mereka. Begitulah C. Snouck Hurgronje mengabadikan suasana bulan puasa di Aceh dalam laporan yang telah diterjemahkan berjudul Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial. Judul aslinya dalam bahasa Belanda, De Atjehers  terbit dari dua jilid laporan yang disusun tak lama setelah Snouck mengunjungi Aceh antara 16 Juli 1891–4 Februari 1892. Makanan yang disebut Snouck sebagai hidangan yang dinantikan masyarakat Aceh ketika berbuka puasa di masjid mungkin adalah ie bu peudah atau bubur pedas. Bubur ini telah menjadi makanan tradisi masyarakat Aceh saat bulan suci Ramadan hingga kini. Dikenal Luas Masyarakat Melayu Tradisi berbuka puasa dengan bubur pedas telah dikenal luas oleh masyarakat Melayu. Sartika dan Siti Wahidah dalam "Analisis dan Kebermaknaan Bahan Bubur Pedas sebagai Warisan Kuliner Melayu Stabat dan Tanjung Balai" yang terbit dalam   Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Medan, menyebutkan bahwa masyarakat di daerah Stabat dan Tanjung Balai di Sumatra Utara juga selalu membuat bubur pedas kala bulan puasa tiba. "Daerah Tanjung Balai dan Stabat merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah Melayu. Bubur pedas merupakan salah satu menu wajib yang harus ada pada saat bulan Ramadan," catatnya. Menurut Sartika dan Wahidah yang telah mewawancarai tetua Melayu dan pengusaha bubur pedas di Stabat dan Tanjung Balai, bubur pedas hanya dibuat saat Ramadan dan perayaan keluarga karena cukup repot dalam pembuatannya. Bahannya pun tak sedikit. Di antaranya beberapa jenis kacang-kacangan, ikan, rempah, dan daun-daunan. Dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan pada 2004, dijelaskan bahwa resep ie bu peudah  yang tradisional biasanya dilengkapi bahan-bahan dari 44 macam daun kayu dari hutan. Karena sulit, muncullah beberapa variasi ie bu peudah . Cara membuatnya, daun-daunan itu ditumbuk hingga menjadi dedak dan dijemur. Setelah itu, daun-daun itu dicampur ke dalam breueh (beras) dan dimasak bersama air hingga menjadi bubur. " Ie bu peudah  yang sudah jadi bila waktu berbuka puasa hampir tiba dibagikan setiap orang yang akan berbuka puasa," sebut ensiklopedi. " Ie bu peudah  ini disajikan dalam wadah berupa cawan (mangkok) atau pinggan (piring)." Sementara itu, menurut Fariani, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh dalam "Bubur Pedas Makanan Khas Melayu di Bulan Ramadan" yang terbit dalam Haba No. 79 Th. XXI,   jika dicicipi ie bu peudah  tak sesuai dengan namanya. Bubur ini tak pedas, melainkan gurih, bahkan sedikit manis. Kisah di Balik Bubur Pedas Saat bulan puasa tiba, bubur pedas biasanya disajikan di masjid-masjid secara gratis sebagai menu berbuka. Bubur ini dimasak seusai salat zuhur secara bergotong-royong. "Tradisi makan bubur pedas ini dapat membina kerja   sama dan gotong royong antarumat muslim, karena bubur ini dimasak dan dimakan bersama-sama sehingga kebersamaan akan semakin terjaga," tulis Fariani. Konon bubur pedas ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli yang berdiri pada 1632 di bekas wilayah Kerajaan Haru atau Aru.  Wilayah Haru mendapatkan kemerdekaan dari Aceh pada 1669 dengan nama Kesultanan Deli. Menurut Fariani, pada masa kesultanan, tradisi makan bubur pedas dilakukan sebagai wujud kebersamaan antara kerajaan Melayu dan rakyatnya. Bubur pedas menjadi media bagi keluarga kerajaan untuk mendekatkan diri kepada rakyatnya. "Sultan dapat mendengarkan keluh kesah dan mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyatnya, oleh karena itulah Kesultanan Deli menjadikan bubur pedas ini sebagai makanan tradisi saat Ramadan datang," tulis Fariani. Namun, Sartika dan Wahidah mencatat kisah asal-usul bubur pedas ini berbeda-beda di beberapa tempat. Masyarakat di daerah Stabat berpendapat bubur pedas dibuat karena pada zaman dahulu banyak rakyat yang hidup susah. Karenanya rakyat membuat makanan yang dicampur dengan banyak macam bahan agar bisa dimakan oleh banyak orang. "Kemudian makanan tersebut disuguhkan kepada raja-raja dengan tujuan agar mereka dapat merasakan penderitaan rakyat-rakyatnya yang susah," tulisnya. Masyarakat di Tanjung Balai memiliki cerita berbeda. Pada waktu penobatan Sultan Deli, sang raja membuat sayembara bagi rakyat untuk membuat suatu makanan yang layak disuguhkan kepada tamu-tamu kerajaan. Rakyat pun secara bersama-sama membuat berbagai macam masakan. Salah satunya bubur pedas. "Maka dari itu sampai saat ini masyarakat Melayu masih melestarikan bubur pedas tersebut," catatnya. Namun, sebagaimana disebut Fariani, tak sembarang orang bisa membuatnya. Biasanya yang bisa memasak bubur ini adalah orang-orang yang sudah berumur.  " Anak-anak muda Melayu, sudah jarang sekali yang bisa memasak bubur ini," tulisnya.*

  • Mula Komentator Iringi Laga Sepakbola

    RAMAI, semarak, berisik, kadang juga jenaka meski cenderung nyeleneh  bahkan “ngaco” merupakan kesan yang ditinggalkan Valentino Simanjuntak kala menjadi komentator laga Bali United vs PSS Sleman di ajang Piala Menpora 2021, Senin (12/4/2021) malam di sebuah stasiun tv swasta nasional. Kosakata yang diucapkannya sering hiperbolis dan tak edukatif. Di kanal Youtube -nya pada tahun lalu, komentator yang sohor dengan jargon “Jebret!” itu memang mengakui gayanya sengaja dibuat ramai dan “ngaco” sejak debutnya pada 2013. Semata demi hiburan. Namun, kali ini gayanya membawakan siaran sepakbola berujung pada kemunculan kampanye #GerakanMuteMassal.  Kampanye itu dipicu oleh kicauan akun resmi Twitter  @BaliUtd pada Minggu (11/4/2021): “rikues besok jangan terlalu hiperbola.” Para haters  pun memanfaatkan momen untuk menggaungkan tagar # GerakanMuteMassal . Dari beragam komentar di linimasa, ada yang mengomentari Valentino sebagai komentator yang polutif, mencari sensasi semata, hingga tak edukatif. Sebagaimana disitat Kumparan , Senin (12/4/2021), Valentino mengakui bahwa itu merupakan kreasi gimmick dari perpaduan inisiatifnya sendiri dan permintaan industri televisi. Dia menyanggah tudingan bahwa komentar-komentarnya tak edukatif. “Saya kan juga host yang harus mencari sensasi supaya penonton semakin banyak. Penonton yang dimaksud TV itu kan bukan hanya penonton bola, tetapi penonton di luar bola yang sekarang larinya ke (sinetron) Ikatan Cinta . Soal edukasi, saya sudah lakukan, misalnya dalam 90 menit pesepakbola rata-rata berlari 8-11 km tapi enggak ada yang merespon apa-apa. Saya keluarin semua catatan saya yang tebal banget tapi enggak ada yang diomongin orang,” ujar Valentino. Komentator nyentrik Valentino Simanjuntak yang kondang dengan jargon "Jebret!". (Instagram @radotvalent). Edukatif dan Deskriptif Edukatif dan deskriptif selalu jadi poin penting bagi setiap komentator untuk menyampaikan aksi-aksi detail sebuah pertandingan kepada audiensnya. Dengan demikian, berkomentar baik dalam laga yang ditayangkan via layar kaca maupun gelombang radio, bukan pekerjaan gampang. “Orang-orang berpikir Anda sekadar berkomentar secara sederhana di luar kepala. Saya pastikan tidak sama sekali. Anda harus tahu bahwa itu adalah salah satu bentuk seni, itu adalah skill. Di radio, Anda harus mencari kosakata yang lebih banyak karena Anda harus deskriptif sembari mengikuti pertandingan. Tapi televisi bisa jadi tricky juga karena Anda harus melengkapi gambar yang ditonton orang dengan cara-cara tertentu. Di TV Anda harus lebih disiplin dalam seni (berkomentar) dan bisa sangat tricky untuk Anda sempurnakan,” terang komentator kawakan BBC dan kemudian Fox Sports , Simon Hill, dikutip Medium , 13 Desember 2017. Hadirnya komentator sepakbola tak lepas dari perkembangan pesat siaran radio. Demi bisa dihayati para pendengarnya yang tak kesampaian datang langsung ke stadion, para komentator di radio mesti menggambarkan suasana dan jalannya pertandingan secara mendetail dan deskriptif. Syarat-syarat itulah yang dilakoni Kapten Henry Blythe Thornhill ‘Teddy’ Wakelam, veteran Perang Dunia I yang tercatat jadi komentator sepakbola pertama via siaran radio BBC. Menurut sejarawan Dick Booth dalam Talking of Sport: The Story of Radio Commentary , Wakelam adalah pemain rugby di tim Harlequin FC. Sebelum jadi komentator sepakbola, Wakelam lebih dulu jadi komentator pertandingan rugby antara Inggris kontra Wales di Stadion Twickenham, 15 Januari 1927yang disiarkan BBC . Momen tersebut jadi momen pertama BBC meliput pertandingan rugby dilengkapi komentator, yang gagasannya datang dari bos BBC John Reith. “Reith punya visinya sendiri tentang betapa berharganya transmisi (radio). Dia bukan pecinta olahraga, namun dia ingin BBC menyiarkan ajang-ajang besar di era kontemporer. Reith paham keunikan kualitas radio saat dia membandingkan alat-alat komunikasi lain, di mana radio bisa menjangkau langsung ke hati masyarakat di rumah masing-masing,” tulis Booth. Sosok Henry Blythe Thornhill ‘Teddy’ Wakelam, komentator pertama dalam pertandingan rugby dan sepakbola. ( Twickenham: The Home of England Rugby ). Menindaklanjuti gagasan Reith, produser BBC Lance Sieveking lantas mengontak Wakelam, yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi setelah pensiun dari ketentaraan, untuk dijadikan komentator laga rubgy Inggris-Wales itu. “Pada suatu hari di Januari, saat saya sedang mengerjakan suatu detail tender (konstruksi), datang sebuah panggilan telepon. Sosok yang belum saya kenal di ujung telepon bertanya apakah saya Wakelam yang sama yang pernah bermain untuk (tim) Harlequins, dan saya bilang: ‘Ya.’ Dia menginformasikan bahwa dia utusan dari BBC yang ingin bertemu untuk membicarakan urusan penting,” ungkap Wakelam dalam otobiografinya, Half Time: The Mike and Me. Saat bertemu Wakelam, Sieveking menyampaikan keinginannya agar Wakelam jadi komentator rugby untuk BBC. “Tentu saya akan mencobanya, Pak Tua,” kata Wakelam mengiyakan permintaan Sieveking. Gubuk panggung kayu tempat komentator BBC menyiarkan dan memandu pertandingan rugby. (World Rugby Museum). Sieveking kemudian menguji Wakelam dengan menjadikannya komentator sebuah pertandingan tingkat sekolah. Sieveking terkesan dengan Wakelam yang sebagai pembicara di depan mikrofon, amat natural dengan keragaman kosakata apik namun tidak “ journalese ” atau hiperbolis. Wakelam pun jadi komentator radio pertama, yakni di pertandingan rugby antara Inggris kontra Wales. Wakelam hadir di Stadion Twickenham dan bekerja dari sebuah gubuk panggung kayu di bagian tenggara stadion yang mirip sarang burung. Bermodalkan buku catatan, pulpen, mikrofon, dan sebuah binokular, ia dengan lancar menyampaikan informasi jalannya pertandingan yang berkesudahan 11-9 untuk kemenangan Inggris itu. Dari laga rugby, BBC kemudian meminta Wakelam untuk mengomentari pertandingan sepakbola antara Arsenal kontra Sheffield United di Stadion Highbury, London, 22 Januari 1927. “Saya ingat orang dari BBC memperingatkan agar saya tak mengeluarkan kata-kata sumpah-serapah,” imbuh Wakelam. Diagram lapangan untuk memudahkan pendengar BBC kala komentator memandu laga Arsenal vs Sheffield United. ( Radio Times , 22 Januari 1927). Tuntutan untuk selalu edukatif dan deskriptif membuat Wakelam meminjam istilah rugby dalam mengomentari pertandingan sepakbola itu. Peminjaman itu dimaksudkannya agar pendengar bisa lebih paham tentang detail permainan dan posisi bola. “Seminggu setelah pertandingan rugby (Inggris vs Wales), Wakelam jadi komentator pertandingan sepakbola pertama di radio Inggris: Arsenal v. Sheffield. Dipercaya istilah ‘ back to square one ’ asalnya dari sini, karena Radio Times ikut mencetak diagram lapangan yang dibagi delapan bidang agar pendengar bisa lebih paham tentang posisi bola. ‘ Back to square one ’ artinya pertandingan dimulai lagi dengan tendangan gawang,” singkap Martin Kelner dalam Sit Down and Cheer: A History of Sport on TV. Dalam laga sepakbola itu, Wakelam tak sendirian jadi komentator di “sarang burung”. Ia ditemani Cecil Arthur Lewis, veteran Perang Dunia I berpangkat mayor Udara yang kemudian menjadi penulis merangkap produser untuk BBC. “Perannya (Lewis) di laga Arsenal lebih kepada sebagai cameo. Dia bertindak sebagai penanggap nomor dua yang menyampaikan posisi bola ada di bidang nomor berapa,” kata Roger Domeneghetti dalam From the Back Page to the Front Room . Setelah itu Wakelam makin laris diminta jadi komentator sepakbola. Termasuk di laga puncak FA Cup yang mempertemukan Cardiff City kontra Arsenal di Stadion Wembley, 23 April 1927. Hanya saja, pihak yang kontra terhadap makin meluasnya penyiaran dan maraknya komentator sepakbola tetap ada. Hingga awal 1931, lebih dari 100 laga Football League sudah di- cover BBC lengkap dengan para komentatornya. Hal itu turut berimbas pada pemasukan klub yang memburuk sejak diterpa Depresi Ekonomi 1930. Pendapatan klub dari tiket menukik tajam. Publik yang biasanya memadati stadion, memilih berhemat dengan menikmati pertandingan via radio. Akibatnya, sejumlah petinggi klub menekan Football League untuk melarang ratusan laga sepakbola disiarkan BBC. Larangan ini baru dicabut pasca-Perang Dunia II. Bersamaan dengan pencabutan larangan ini, komentator sepakbola kembali jadi penyambung lidah tak hanya via radio melainkan juga televisi di seluruh dunia. Seorang komentator di salah satu laga Piala Dunia 1934 di Italia di mana di tahun itu juga untuk pertamakali disiarkan via radio. ( fifa.com ). Di Indonesia, kemunculan komentator sepakbola secara masif berjalan seiring dengan menjamurnya stasiun tv swasta pada awal 1990-an yang membeli hak siar laga-laga sepakbola nasional maupun liga-liga Eropa. Komentator merangkap presenter yang memandu jalannya pertandingan pun bermunculan. Mulai dari Sambas Mangundikarta, Andi Darussalam Tabussala, Rayana Djakasurya, Edi Sofyan hingga generasi selanjutnya macam Ricky Johanes dan M. Kusnaeni, dan generasi Valentino Simanjuntak si “Jebret” yang juga diramaikan Hadi Gunawan dengan jargon “Ahay”-nya. Perubahan gaya gimmick komentator menjadi lebih kreatif sekaligus menghibur, diakui Valentino, tak lepas dari permintaan stasiun TV. “ I’m not born with this, but I made by and created , ini semua hingga menjadi sebuah tampilan. Saya pikir bukan hanya karena kebutuhan pihak TV, itu hanya salah satu tetapi lebih kepada pemirsa bola kok lagi adem aja ya? Kok bola ini enggak jadi bahan pembicaraan asyik masyarakat. Kalau bawakan kayak zaman 90-an, bisa. Saya akan bawakan juga dengan gaya begitu, why not ? Karena saya muncul tahun 2013 dengan gaya begini pun itu kan transformasi dari gaya saya sebelumnya yang tidak begini,” pungkasnya.

  • Kapten Herman Rante dan Pembajakan Pesawat Garuda

    KAPTEN A. Sapari, pilot pesawat Garuda F-28 baru saja lepas landas dari Pekanbaru. Sesuai jadwal, Sapari mestinya berpapasan dengan Kapten Herman Rante, pilot pesawat Garuda DC-9 “Woyla” bernomor penerbangan 206 di ketinggian 25.000 kaki. Saling tegur sapa untuk memberitahu posisi masing-masing lazimnya terjadi antara sesama pilot di atas udara. Hari itu, 28 Maret 1981 pukul 10.18, Sapari merasakan sesuatu yang ganjil. Herman Rante tetap terbang pada ketinggian 24.000 kaki. Sapari mencoba melakukan kontak komunikasi lewat frekuensi radio. Setelah tersambung dengan “Woyla”, Sapari menerima sinyal yang dikirimkan Herman Rante berupa berisi pesan bermakna gawat: “ Being hijacked... being hijacked  (Dibajak... dibajak).” Sapari terkejut begitu menyadari sejawatnya itu kena bajak.

  • Wali Kota Padang Berpulang di Bulan Ramadan

    Hari itu, Minggu, 19 Juli 1947, memasuki awal puasa Ramadan. Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan dan istri, Zaura Usman, dalam perjalanan menuju Padang Panjang. Sekitar pukul enam sore, mereka disetop tentara Belanda di jembatan Ulak Karang. Komandan tentara Belanda , Letnan Kolonel J.C.C. van Erp  memberi tahu Aziz Chan bahwa ada lagi aksi ekstremis , sebutan pihak Belanda kepada pejuang Indonesia, yang melakukan kekacauan di wilayah Belanda. Dia mengajak Aziz Chan untuk melihat tempat kejadian. Aziz Chan lalu naik mobil tentara Belanda itu menuju ke Lapai, Padang Luar Kota. Itulah hari terakhir bagi Aziz Chan. Tentara Belanda kemudian memberi tahu istrinya bahwa Aziz Chan ditembak ekstremis di Lapai. “Ketika Zaura Usman menjenguk suaminya di RST (Rumah Sakit Tentara) Ganting, ternyata dia sudah meninggal dengan kepalanya rusak,” kata Joeir Moehamad dalam Memoar Seorang Sosialis . Baca juga:  Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda Bagindo Aziz Chan lahir di Padang pada 30 September 1910 dari orang tua Bagindo Montok dan Djamilah. Dia menempuh pendidikan sekolah dasar (Hollandsch Inlandsche School) di Padang. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Jawa: sekolah menengah pertama (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya, sekolah menengah umum (Algemene Middelbare School) di Batavia, dan Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool) di Batavia. Aziz Chan terjun ke pegerakan kemerdekaan dengan bergabung dalam organisasi Jong Islamieten Bond. Setelah kembali ke kampung halamannya, dia mengajar di Modern Islamic Kweekschool. Dia sempat aktif di Persatuan Muslim Indonesia (Permi) sampai dibubarkan pada 1937. “Saya mengenal dan bekerja sama dengan Aziz Chan sejak zaman Jepang, karena kami sama-sama bekerja di kantor Gunseikan (pemerintah militer Jepang),” kata Joeir. Setelah Indonesia merdeka, Aziz Chan memimpin PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) dan menjadi anggota KNI (Komite Nasional Indonesia) Sumatra Barat. Dia diangkat menjadi wali kota Padangpada Agustus 1946 menggantikan Mr. Abubakar Djaar yang dipindahkan ke Sumatra Timur. Dia menjabat wali kota Padang kedua sampai dibunuh tentara Belanda pada 19 Juli 1947. Bagindo Aziz Chan, Wali Kota Padang (1946–1947). (Wikimedia).  Joeir bersama Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Residen Sumatra Barat,naik kereta api untuk menjemput jenazah Aziz Chan ke Padang. “Kami hanya sampai di Tabing karena diperingatkan oleh banyak pejuang Republik agar tidak masuk kota Padang berhubung ada hal yang tidak wajar dengan kematian Aziz Chan,” kata Joeir. Jenazah Aziz Chan dijemput oleh pasukan Mobrig (kini Brimob). Sore hari jenazah yang didampingi kerabat diantarkan oleh ambulans ke stasiun Tabing. Jenazah lalu dinaikkan ke dalam kereta api untuk dibawa ke Bukittinggi. Sesampai di Bukittinggi, malam itu jenazah di otopsi oleh dokter Indonesia. Baca juga:  Tentara India dan Gurkha dalam Pasukan Sekutu Joeir menyebut bahwa hasil otopsi menyatakan Aziz Chan meninggal karena pukulan benda keras di bagian belakang kepalanya. Jadi, bertentangan dengan keterangan pihak Belanda yang menyatakan bahwa dia ditembak ekstremis Indonesia. “Memang ada lubang yang dibuat tembakan peluru di wajahnya, namun menurut tim dokter lubang itu adalah hasil tembakan setelah Aziz Chan menjadi mayat,” kata Joeir. Jenazah Aziz Chan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Bukittinggi malam harinya dalam upacara yang dihadiri para pejabat sipil dan militer. “Esoknya <21 juli 1947>, Belanda melancarkan agresi militernya,” kata Joeir. Baca juga:  Serangan dan Penghadangan terhadap Pasukan Sekutu Sejarawan Mestika Zed dalam Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945–1995 menyebut bahwa sejak semula Belanda benar-benar berniat melakukan agresi yang meletus secara serentak di Jawa dan Sumatra. Di Sumatra Barat khususnya, awal agresi militer pertama didahului oleh intimidasi dan provokasi yang puncaknya pembunuhan brutal terhadap WaliKota Padang Bagindo Aziz Chan. “Peristiwa itu menandai awal konflik yang lebih serius, saat Belanda pada hari-hari berikutnya menerobos ke front pertahanan Republik di luar kota.Sejak itu semua front tanpa kecuali bergolak dan pertempuran demi pertempuran, pencegatan dan maju-mundur perjuangan membawa jatuhnya korban di kedua belah pihak,” tulis Mestika. Baca juga:  Pasukan Sekutu di Sumatra Mestika menyebut agresi militer Belanda pertama di Sumatra Barat hanya mencapai hasil terbatas karena sebagian besar wilayah tetap dapat dipertahankan oleh tentara Republik. Meskipun telah mengerahkan seluruh kekuatannya, Belanda hanya dapat memperluas daerah pendudukannya secara terbatas keluar Kota Padang. Untuk menghormati perjuangannya, Bagindo Aziz Chan diabadikan menjadi nama jalan di Padang dan Bukittinggi serta dibuatkan patung dan monumen. Pemerintah memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional pada 2005.

  • Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya

    MALANG, Jawa Timur, 19 Maret 1946 siang. Ketika tengah sibuk memperbaiki beberapa pesawat di Hangar I Pangkalan Udara (Lanud) Bugis, Lettu Hanandjoeddin, akrab disapa Anan, dan anak buahnya kedatangan tamu dari Yogya. Tamu itu Letkol Umar Slamet, mantan Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Yogya yang kemudian jadi salah satu pimpinan TRI Divisi IX Yogya merangkap anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogya. Umar datang didampingi Imam Soepeno. Menurut Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI , agenda kunjungan Umar adalah mencari pesawat yang bisa terbang jarak jauh menuju Australia untuk keperluan pengiriman delegasi diplomasi RI ke Australia. Umar berharap bisa mendapatkan pesawat yang dapat mengangkut penumpang sampai tujuh orang. Namun, harapan Umar belum tentu dapat terwujud. Kendati Umar memiliki posisi penting dan kedatangannya untuk kepentingan perjuangan, kala itu Lanud Bugis masih di bawah kekuasaan Divisi VIII/Untung Suropati pimpinan Jenderal Mayor Imam Soedja’i dan berdiri independen alias terpisah dari pusat. Baca juga: Panglima Soedirman menjajal pesawat "Pangeran Diponegoro-I" Sejak direbut dari tangan Jepang pada September 1945, Lanud Bugis dipegang Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi VIII. Warisan yang ditinggalkan Jepang di sana adalah 105 pesawat bekas yang mayoritas tak siap terbang. Satu di antaranya adalah pesawat pembom bermesin ganda Kawasaki Ki-48 “Sokei”. Aset itu tentu dilirik Suryadi Suryadarma sebagai pimpinan TRI Djawatan Penerbangan. Namun baru pada 9 April 1947, ketika TRI Djawatan Penerbangan sudah bertransformasi menjadi AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia/kini TNI AU) pada 9 April 1946, Lanud Bugis berikut ratusan alutsista di dalamnya beralih kepemilikan dari Divisi VIII ke AURI. Jalan untuk perpindahan kepemilikan itu cukup berliku dengan beragam konflik di dalamnya, antara Malang dan Yogyakarta (pusat). Ilustrasi kru teknik memperbaiki pesawat bekas Jepang. (Repro  Sang Elang /Dispenau). Konflik itu menggelisahkan Lettu Anan bersama krunya di bagian teknik yang jadi penanggungjawab semua alutsista di Lanud Bugis. Walau secara garis komando masih di bawah TRI Udara Malang yang jadi bagian TRI Divisi VIII (Mei 1946 menjadi TRI Divisi VII), Hananjoeddin dan anak buahnya sesama bekas montir pesawat Jepang merasa lebih sebagai warga AURI. “Posisi TRI Udara Malang laiknya tali tambang dengan dua ujung yang saling menarik. Tegasnya penyatuan Lanud Bugis mengalami keseretan, sehingga timbul semacam ketegangan diakibatkan kesalahpahaman siapa yang berkuasa. Garis komando memang masih dipegang Divisi VII, namun secara psikologis para prajurit Lanud Bugis yang dimotori Hanandjoeddin lebih merasa sebagai warga TRI Udara. Terlihat dari tindakan-tindakan berani Bung Anan (panggilan Hanandjoeddin) yang terkesan tak sejalan dengan kebijakan pimpinan Divisi VII,” tulis Haril . Baca juga: Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang Di antara tindakan tak sejalan Lettu Anan kepada divisinya adalah kala memberikan sumbangan sebuah pesawat pemburu Tachikawa Ki-55 “Cukiu” ke Lanud Maguwo (Yogyakarta). Pesawat itu disumbangkan guna dijadikan pesawat latih para kadet penerbang di Lanud Maguwo. Sebelumnya, Februari 1946, Komodor Adisutjipto memintanya baik-baik kepada Divisi VII. Namun permintaan itu tak dikabulkan. Mengetahui hal itu, Anan dan Lettu Imam Soepeno, ketua TRI Udara Malang, diam-diam nekat memberikannya kepada Adisutjipto. Pesawat Cukiu itu berhasil dibawa ke Maguwo dengan dipiloti langsung Adisutjipto pada 17 Februari 1946. Imam Soepeno dan Anan kompak tutup mulut akan “pemberontakan” itu. Replika pesawat pemburu Tachikawa Ki-55 “Cukiu” milik Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. (Randy Wirayudha/ Historia.id ). Kabar para kadet Yogya mendapat pesawat dari Lanud Bugis terdengar sampai ke Lanud Panasan Solo. Maka pada 5 Maret 1946, utusan dari Lanud Panasan datang ke Malang untuk meminta bantuan pengadaan pesawat. Upaya mereka berhasil. Anan menyanggupi dengan syarat satu pesawat Cukiu dibarter –tanpa izin Divisi VIII–dengan kain batik. Deal . Kabar terdapat banyak pesawat di Malang akhirnya diketahui pula oleh pimpinan penerbangan di Cibeureum (Tasik) dan Maospati (Madiun). Pada 16 Maret 1946, utusan dari kedua lanud itu datang untuk minta bantuan pesawat. Lagi-lagi “tamu” itu “dihadiahi” Cukiu. Pembom Disulap Jadi Pesawat Angkut Kabar Lanud Bugis punya banyak pesawat sampai juga ke Letkol Umar Slamet. Lantaran sedang membutuhkan pesawat untuk diplomasi RI ke Australia, dia pun ke Malang untuk meminta pengadaan pesawat besar. Kebetulan salah satu pesawat yang sedang diperbaiki Lettu Anan dan anak buahnya saat kunjungan Umar adalah pembom Kawasaki Ki-48 “Sokei” Type 99. Anan pun mendampingi Umar Slamet melihat-lihat ke bagian dalam pesawat. Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu Pesawat itu, sebagaimana ditulis Richard Bueschel dalam Aircam Aviation Series No. 32: Kawasaki Ki.48-I/II Sokei in Japanese Army Air Force-CNAF & IPSF Service , adalah pesawat pembom ringan bermesin ganda yang dikembangkan pabrikan Kawasaki setelah mendapat kontrak dari JAAF (Unit Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang) pada 1940. Pesawat itu terinspirasi dari pesawat pembom berkecepatan tinggi Uni Soviet Tupolev ANT-40 “ Skorostnoi Bombardirovschik ” (Tupolev SB). “Soviet yang mendukung pemerintah nasionalis China, Chiang Kai-shek, menerbangkan banyak pembom ringan Tupolev SB-2 dan membuat syok JAAF. Pesawat itu hampir sama cepatnya dengan pesawat pemburu Jepang baru, (Nakajima) Ki.27. Pesawat SB-2 mengungguli pembom-pembom ringan JAAF saat itu dan mengetahui potensi perang dengan Soviet, JAAF bereaksi pada tantangan yang sama,” tulis Bueschel. Pesawat pembom ringan Uni Soviet. Tupolev ANT-40 “ Skorostnoi Bombardirovschik ” di Pangkalan Udara Hankou. ( j.people.com ). Pengembangannya dipercayakan kepada pakar pesawat Takeo Doi yang bereksperimen dengan memodifikasi rangka pesawat pembom berat bermesin ganda, Ki-45 “Toryu”, pada Januari 1938. Setelah purwarupanya rampung pada Juli 1939, pesawat Ki-48 “Sokei” masuk produksi massal pada 1940 dalam 11 varian. Sokei lalu digunakan untuk kampanye di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. “Hingga akhirnya Jepang meninggalkan Jawa, banyak pesawatnya dikanibal dan hanya menjadi tumpukan bangkai. Para revolusioner Indonesia mengambilalihnya dan mulai membangun kembali semua pesawat yang bisa diperbaiki. Satu (pesawat) Sokei 99 dibangun dari sisa-sisa bangkai banyak pesawat lain untuk menjadi pesawat pembom bermesin ganda pertama yang dimiliki Tentara Keamanan Rakyat,” tambah Bueschel. Pesawat Sokei yang dibangun Lettu Anan dan anak buahnya adalah Sokei varian Ki-48-IIa yang berdimensi panjang 12,75 meter dan lebar (termasuk sayap) 17,45 meter serta bobot kosong 4.550 kilogram. Dipasok sepasang mesin Nakajima Ha.115, Sokei bisa melaju hingga kecepatan maksimal 505 km/jam dan bisa terbang sejauh 2.400 km dalam kondisi full tank . Baca juga: Empat Alutsista Jerman yang Mengubah Dunia Salah satu grup pembom ringan Kawasaki Ki-48 Jepang yang beroperasi di front Pasifik. ( Aircam Aviation Series No.32 ). Namun karena tak mendapatkan spek aslinya, Anan dan anak buahnya di Hangar I membangunnya hampir dari nol. Problem utamanya adalah pesawat itu sebelumnya mangkrak tanpa mesin setelah dikanibal militer Jepang. Ini juga yang jadi kekhawatiran Umar Slamet saat menengok ke bagian dalam pesawat. “Lho, ke mana mesin pesawat ini? tanya Umar seketika. “Ini masalahnya, Pak, sejak ditinggalkan Jepang sudah dalam kondisi begini. Prajurit Jepang memang terkenal jago kanibal, Pak,” jawab Anan. “Berapa lama kira-kira perbaikan bisa selesai?” “Kami perkirakan satu bulan selesai, Pak.” “Satu bulan? Apa bisa selesai hanya waktu satu bulan?” “Insha Allah Pak! Satu bulan lagi silakan datang ke mari,” tandas Anan. Baca juga: Kombatan AURI Gempur-menggempur di Malang Timur Pesawat Ki-48 Sokei yang disulap jadi pesawat angkut Pangeran Diponegoro-II. (Repro  Sang Elang ). Janji itu membuat Anan dan kawan-kawan bekerja keras siang-malam. Semua bagian pesawat Sokei Ki-48 itu, termasuk mesin, dibangun menggunakan spare part pesawat lain. Pesawat pembom berkru empat itu lalu disulap jadi pesawat angkut yang bisa memuat sampai 15 orang. Pada 17 April 1946, pesawat itu dites terbangoleh eks-pilot Jepang bernama Atmo dan berhasil. Pesawat itu kemudian dinamai “Pangeran Diponegoro-II” (PD-II). Hanya saja, lanjut Haril, Umar batal kembali ke Malang. Tepat sebulan setelah memesan pesawatnya, ia mengalami kecelakaan. Pesawat pembom tukik Mitsubishi Ki-51 “Guntai” yang ditumpanginya dari Yogya ke Malang mengalami kerusakan dan mendarat darurat di Sundeng, Pacitan. Kendati selamat, Umar tak pernah datang lagi ke Malang dan PD-II pun kembali mangkrak di Hangar I Lanud Bugis. Baca juga: Akhir Tragis Alutsista AURI nan Legendaris Pesawat itu pula yang dilirik Wakil II Kepala Staf AURI Komodor Muda Udara Adisutjipto saat berkunjung ke Lanud Bugis pada 4 Agustus 1946. Di sela berunding dengan Jenderal Imam Soedja’i, Adisutjipto bahkan memberanikan diri menjajal menerbangkan PD-II. Walau baru pertama kali menerbangkan pesawat jenis itu,  Adisutjipto berhasil mendarat dengan selamat. “Pesawat tidak langsung dimasukkan ke hangar tapi diparkir begitu saja di apron. Rupanya Pak Cip punya pemikiran lain. Timbul keinginannya membawa PD-II ke Yogya. Tapi tidak mungkin keinginan itu disampaikan kepada Imam Soepeno karena Pak Cip tahu, Imam Soepeno orang kepercayaan panglima divisi,” sambung Haril. Kolase Wakil Kepala Staf II AURI, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto. (Repro  Sejarah Pendidikan Perwira Penerbang: Periode 1945-1950 ). Tahu Lettu Anan lebih condong ke AURI, Adisutjipto membujuknya dalam sebuah pembicaraan rahasia. Adisutjipto menyampaikan keinginannya untuk membawa PD-II ke Maguwo tanpa melalui notifikasi resmi ke Divisi VII. Hal itu membuat Anan ragu. “Ketimbang hanya nongkrong di sini, akan lebih banyak manfaatnya untuk perjuangan bila pesawatnya berada di Yogyakarta. Bagaimana?” tanya Adisutjipto pada Anan. “Yang Pak Cip katakan memang benar. Hanya saja Panglima Divisi akan marah besar bila sampai pesawat dibawa ke Jogja,” jawab Anan. “Bukankah tadi Anda bilang pesawat ini awalnya pesanan Pak Umar Slamet? Beliau tinggal di Jogja. Nanti kalau delegasi mau berangkat, pesawatnya sudah siap di Maguwo,” kata Adisutjipto. “Baik Pak, kalau lebih besar untuk kepentingan negara, saya siap ikut mengantarkan,” jawab Anan. Baca juga: Militer Myanmar Sewa Pesawat Indonesia “Operasi” klandestin itu pun dirancang Anan dengan cermat. Kali ini tanpa memberitahu ke anak buahnya, apalagi Imam Soepeno. Tepat pukul delapan pagi 5 Agustus 1946, pesawat itu diterbangkan Adisutjipto ke Maguwo dengan dikawal lima teknisi, termasuk Anan. “Jarak Malang-Jogja sebetulnya sekitar 350 km dan bisa ditempuh satu jam. Namun dengan maksud mencari aman, Pak Cip terbang ke barat melewati Semarang. Tak tahunya sekitar satu jam penerbangan di atas kota Semarang, terdengar rentetan tembakan dari bawah: Dor! Dor! Dor! Musuh menembaki pesawat dan bikin kaget. Untung saja Pak Cip segera bermanuver keluar dari radius tembakan dan terbang lebih tinggi. Untung tidak mengenai body pesawat dan mereka lolos dari target penembakan musuh,” tambah Haril. Kolase Lettu/Opsir Muda Udara III Hanandjoeddin. (Repro  Sang Elang ). Dari Semarang, Adisutjipto mengarahkan PD-II ke Solo. Kendati saat di atas Solo mesin kiri pesawat sudah mulai “batuk-batuk”, PD-II selamat tiba di Maguwo pada pukul 11. Mereka disambut meriah para kru lanud, kadet, hingga KSAU Suryadarma. Namun, sial menimpa Anan. Pada 6 Agustus, datang radiogram dari Malang. Dia insyaf bakal “diadili” oleh Divisi VII lantaran ketahuan melarikan pesawat. Suryadarma dan Adisutjipto pun turun tangan. Pada 8 Agustus 1946, Anan yang bersedia pasang badan, diantarkan pulang menggunakan pesawat latih Yokosuka K5Y “Cureng” yang dipiloti kadet Tukijo. Keempat anak buahnya tetap di Yogya. Baca juga: Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947 Setibanya di Lanud Bugis, Lettu Anan langsung digelandang ke markas Polisi Tentara. Dia diinterogasi oleh Mayor Bambang Soepeno. “Siapa yang menyuruhmu membawa pesawat Pangeran Diponegoro II ke Jogja?” kata interogator. “Siap, Dan! Saya sendiri atas inisiatif sendiri,” jawab Anan. “Saudara jangan bohong. Apa sepengetahuan Imam Soepeno?” “Siap, Dan! Tidak. Bung Imam sama sekali tidak tahu. Semua inisiatif saya sendiri.” “Lalu mengapa saudara sampai membawa lari pesawat ke Jogja? Kenapa tidak meminta izin dengan Panglima?” “Siap, Dan! Jogja lebih membutuhkan pesawat itu karena sebelumnya Pak Umar Slamet yang minta disiapkan pesawat angkut untuk delegasi RI ke Australia. Bila pesawat itu berada di Jogja akan lebih manfaatnya bagi negara karena banyak pilot di sana. Mohon maaf kalau tidak minta izin Panglima, karena Panglima sudah pasti tidak akan mengizinkan.” “Kalau begitu, Saudara melawan atasan.” Lettu Anan lantas divonis bersalah melawan atasan. Dia dijebloskan ke bui selama satu minggu. Begitu dibebaskan pada 15 Agustus 1946, Anan disambut gembira para anak buahnya. “Kalau komandan (Lettu Anan) mau lari dari tanggung jawab, bisa saja beliau berlindung di Markas Tinggi Jogja. Atau bersama Pak Cip menghadap Panglima Besar Soedirman di Jogja. Tapi itu tidak dilakukannya. Beliau justru menghadapi hukuman apapun yang dijatuhkan Divisi (VII) kepadanya,” kata kru bernama Mohammad Usar yang terharu menyambut bebasnya Anan. Baca juga: Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947

  • Penemuan Kota Emas yang Hilang

    TAHUN lalu, tim peneliti yang dipimpin oleh   arkeolog Zahi Hawass memulai penggalian di daerah antara kuil Ramses III dan Amenhotep III dekat Luxor, sekira 500 km di selatan ibu   kota Mesir, Kairo. Pencarian ini dilakukan dengan harapan menemukan kuil bagi Firaun Tutankhamun.  “Tim memilih untuk mencari di wilayah ini karena kuil Horemheb dan Ay ditemukan di daerah ini,” kata Zahi Hawass yang juga mantan menteri negara urusan barang antik Mesir, sebagaimana dikutip Live Science ,   10 April 2021. Namun, para peneliti justru dikejutkan oleh temuan hebat ketika formasi bata lumpur mulai bermunculan dari bawah tanah yang mereka gali. Mereka menyadari baru saja menemukan sisa-sisa kota besar yang kondisinya masih sangat baik. Tampak jalan-jalan kota diapit oleh rumah-rumah. Beberapa tempat dindingnya setinggi 3 m. Rumah-rumah itu memiliki ruangan yang dipenuhi pernak-pernik dan perkakas kehidupan sehari-hari orang Mesir Kuno. Kota ini berasal dari masa keemasan Mesir Kuno   di bawah Raja Amenhotep III,   raja ke-9 dari dinasti ke-18.   “Lapisan budayanya tidak tersentuh selama ribuan tahun, ditinggalkan oleh penduduk kuno seolah-olah baru terjadi kemarin,” kata Hawass sebagaimana dilansir Phys ,   9 April 2021. Penemuan Mesir Terhebat Kedua Para arkeolog menyebut kota kuno itu sebagai Kota Emas yang Hilang. Kota ini terkubur di bawah ibu   kota Mesir Kuno, Luxor, selama 3.000 tahun terakhir. Secara historis kota ini dikenal sebagai The Rise of Aten. Pendirinya adalah Firaun Amenhotep III yang memerintah pada 1391–1353 SM. Ia merupakan kakek dari Firaun Tutankhamun atau Raja Tut.  Kota Emas masih terus dipakai selama pemerintahan bersama Amenhotep III dan putranya, Amenhotep IV atau Akhenaten. Kota itu bahkan terus digunakan selama pemerintahan Tut dan firaun berikutnya, yang dikenal sebagai Ay. Menurut dokumen sejarah kota itu adalah lokasi bagi tiga istana kerajaan masa Raja Amenhotep III. Kota ini juga merupakan permukiman administratif dan industri terbesar di Luxor pada saat itu. Tapi peninggalannya tidak dapat ditemukan oleh para arkeolog hingga sekarang. “Banyak peneliti asing mencari kota ini, tapi tidak pernah menemukannya,” kata Hawass. Maka tak heran kalau kemudian Betsy M. Bryan, profesor Egiptologi di Universitas John Hopkins, berpendapat bahwa kota kuno yang hilang ini merupakan penemuan arkeologi terpenting kedua sejak penemuan makam Tutankhamun pada 1922. “Penemuan kali ini tak hanya akan memberi gambaran langka tentang kehidupan orang Mesir kuno di era keemasannya,” kata Betsy. “Tetapi juga membantu kita menjelaskan salah satu misteri terbesar dalam sejarah: Mengapa Akhenaten dan [Ratu] Nefertiti memutuskan untuk pindah ke Amarna?” Seperti diketahui, beberapa tahun setelah Akhenaten memulai pemerintahannya pada awal 1350 SM, Kota Emas ditinggalkan. Ibu   kota Mesir dipindahkan ke Amarna. Wilayah Aten yang Mempesona Para peneliti menentukan penanggalan Kota Emas yang Hilang dengan mencari benda-benda kuno, seperti tablet berukir dengan segel Amenhotep III. Mereka menemukan benda itu di mana-mana.  Mereka juga memukan bejana anggur, cincin, kumbang scarab, tembikar berwarna, dan bata lumpur. Temuan ini menegaskan kota itu aktif pada masa pemerintahan Amenhotep III. Selama tujuh bulan penggalian, para arkeolog telah menemukan beberapa kawasan hunian. Misalnya, mereka menemukan sisa-sisa toko roti di bagian selatan kota. Di dalamnya terdapat area persiapan makanan dan memasak yang berisi oven dan wadah penyimpanan keramik. “Dapurnya besar, jadi kemungkinan besar melayani pelanggan besar,” catat Live Science . ​ Di wilayah lain yang sebagiannya belum banyak digali, para arkeolog menemukan sebuah distrik administratif dan permukiman dengan unit-unit yang lebih besar dan tertata rapi. Pagar zigzag, desain arsitektur yang digunakan menjelang akhir dinasti ke-18, menutup area itu. Untuk masuk ke area permukiman, hanya ada satu pintu masuk. Fungsinya sebagai langkah pengamanan, yakni dengan memberi orang Mesir kuno kendali penuh atas siapa yang masuk dan meninggalkan daerah itu. Di tempat   lain, para arkeolog menemukan area produksi bata lumpur, bahan baku yang digunakan untuk membangun kuil dan bangunan tambahan. Bata lumpur ini memiliki segel Amenhotep III. Para peneliti juga menemukan lusinan cetakan yang digunakan untuk membuat jimat dan barang-barang dekoratif. “Bukti bahwa kota tersebut memiliki jalur produksi yang ramai yang membuat dekorasi untuk kuil dan makam,” tulis   Live Science . Sementara di seluruh kota, para arkeolog menemukan perkakas yang berhubungan dengan pekerjaan industri. Misalnya, alat pemintal dan tenun.  Beberapa lokasi penguburan juga ditemukan. Dua kuburan yang ditemukan menyimpan sisa jasad sapi atau banteng dan kuburan seseorang yang lengannya direntangkan ke samping dengan tali yang melilit di lutut. Para peneliti masih menganalisis penguburan ini. Baru-baru ini, tim menemukan sebuah wadah berisi sekira 10 kg daging kering atau rebus. Pada wadah ini tertulis angka tahun 37. Selain itu, tim menemukan segel lumpur bertuliskan gm pa Aton . Artinya kira-kira “wilayah Aten yang mempesona”, yakni nama sebuah kuil di Karnak yang dibangun oleh Akhenaten. “Informasi berharga ini menegaskan bahwa kota itu aktif pada waktu pemerintahan Raja Amenhotep III dan putranya Akhenaten,” kata para arkeolog dalam pernyataan resmi di Antiquities.gov.eg  yang diterjemahkan Live Science .

  • Refleksi Intelektualitas Daniel Dhakidae

    INDONESIA baru saja kehilangan salah satu intelektual terkemukanya: Daniel Dhakidae. Daniel meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021 di Jakarta pada usia 76 tahun. Ia merupakan salah satu intelektual penting dalam sejarah Indonesia yang berada dalam satu barisan dengan mereka yang kritis terhadap Orde Baru. Lahir di Ngada, 22 Agustus 1945, Daniel Dhakidae lulus dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975 sebagai sarjana Ilmu Administrasi. Sejak 1976, ia bergabung dengan Majalah Prisma  dan menjadi Ketua Dewan Redaksi Prisma  periode 1979-1984. Selain lekat dengan Prisma , Daniel dikenal sebagai Wakil Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 1982-1984. Daniel meneruskan studinya di Cornell University dan mendapat gelar Master of Arts bidang Ilmu Politik pada 1987 dan gelar PhD di bidang pemerintahan dari universitas yang sama pada 1991. Disertasinya yang bertajuk The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry  mendapat penghargaan Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University.

  • Zona Gempa Selatan Malang

    GEMPA bumi Magnitudo 6,1 mengguncang selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Sabtu, 10 April 2021 sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga pukul 20.00 WIB dilaporkan korban meninggal tujuh orang,   dua orang luka berat, dan sepuluh orang luka ringan. Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, melalui akun twitter  @DaryonoBMKG, menjelaskan bahwa Gempa Selatan Malang M 6,1 ini terjadi di kedalaman 60 km dan tidak berpotensi tsunami. G empa ini memiliki spektrum guncangan yang luas sehingga dirasakan hingga Banjarnegara di barat dan Bali di timur. Gempa ini, lanjut Daryono, bukan gempa megathrust , melainkan gempa menengah akibat adanya deformasi atau patahan di zona Benioff, yaitu pada bagian Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi atau menunjam dan menukik ke bawah Lempeng Eurasia di bawah lepas pantai selatan Malang. “Mekanisme sumber gempa ini berupa pergerakan sesar naik ( thrust fault ). Sesar naik sebenarnya sensitif terhadap potensi tsunami, namun patut disyukuri bahwa gempa ini di kedalaman menengah dan dengan M 6,1 sehingga tidak cukup kuat untuk mengganggu kolom air laut, sehingga tidak berpotensi tsunami,” kata Daryono. Selain tidak berpotensi tsunami, kata Daryono, gempa ini kemungkinan sangat kecil dapat memicu aktifnya gunung api, kecuali gunung api tersebut memang sedang aktif. Jika gunung api sedang tidak aktif, maka gempa tektonik tidak akan dapat mempengaruhi aktivitas vulkanisme. Kendati demikian, gempa ini mencapai intensitas maksimum sehingga berpotensi merusak. “Estimasi peta guncangan BMKG yang dikeluarkan 15 menit setelah gempa cukup akurat dan ternyata benar gempa ini banyak menimbulkan kerusakan bangunan rumah,” kata Daryono. Hasil monitoring BMKG hingga sore menunjukkan telah terjadi tiga kali gempa susulan ( aftershock ) dengan kekuatan kurang dari M 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan. Sejarah Gempa Selatan Malang Daryono menyebut zona Gempa Selatan Malang merupakan kawasan aktif gempa. Catatan sejarah menunjukkan Gempa Selatan Malang M 6,1 ini berdekatan dengan pusat gempa merusak Jawa Timur pada masa lalu, yaitu tahun 1896, 1937, 1958, 1962, 1963, dan 1972. Sementara itu, Petrus Demon Sili, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V Jayapura, dalam Penentuan Seismisitas dan Tingkat Risiko Gempa Bumi , mendata sejarah gempa bumi merusak di Jawa Timur, khususnya di Malang terjadi pada 15 Agustus 1896, 1 Desember 1936, 20 Oktober 1958, 21 Desember 1962, 19 Februari 1967, 4 November 1972, dan 28 September 1998. Dalam Katalog Gempa Bumi Signifikan dan Merusak 1821–2017  yang diterbitkan Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, disebutkan bahwa gempa bumi pada 15 Agustus 1896 menyebabkan banyak bangunan rumah dan fasilitas umum rusak di Brangah dan Wlingi. Katalog mendata gempa pada 1937 terjadi di Jawa Tengah pada 27 September 1937. Sedangkan pada 1936, gempa terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 1 Maret 1936. Pada 20 November 1958, gempa M 6,7 mengakibatkan rumah-rumah rusak serius di Malang dan sekitarnya, tanah rekah-rekah di beberapa tempat, dan tanah longsor di daerah pegunungan. Selain kerusakan, gempa ini juga menelan korban jiwa delapan orang. Gempa berikutnya pada 21 Desember 1962 dirasakan di Timur Pulau Bali, Wlingi, Kediri, dan Madiun. Mengakibatkan dinding bangunan retak-retak di bagian selatan Jawa Timur. Gempa pada 27 Juni 1963 dirasakan di Jawa bagian tengah dan timur, Ponorogo, Yogyakarta, dan Besuki. Kerusakan ringan terjadi di Ponorogo. Gempa M 6,3 terjadi pada 28 September 1998 mengakibatkan satu orang meninggal, 38 rumah hancur dan 62 lainnya rusak di Malang, serta beberapa bangunan dan rumah rusak di Blitar dan Bantur. Terakhir, tiga gempa bumi mengguncang Selatan Malang pada 2019. Gempa pertama M 3,9 pada 8 Januari 2019, gempa kedua M 5,0 pada 14 Februari 2019, dan gempa ketiga M 5,6 pada 19 Februari 2019. “Gempa Selatan Malang yang destruktif merupakan alarm untuk kita semua bahwa ancaman sumber gempa subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli gempa adalah benar. Kita patut waspada,” kata Daryono.*

  • Sri Sultan, Es Puter, dan Pedagang Beras

    SUATU senja di tahun 1946. Kereta Api Luar Biasa yang datang dari Yogyakarta terhenti di Stasiun Klender, Jakarta Timur. Kendati memuat sejumlah pejabat RI (Republik Indonesia) yang akan melakukan perundingan dengan pihak Sekutu dan Belanda di Jakarta, namun tak urung izin masuk Jakarta dari NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) tetap diperlukan. Sudah beberapa menit kereta api tak jalan jua. Cuaca Klender yang panas membuat para penumpang kegerahan. Rasa dahaga pun mendera. Dokter Abdoel Halim memutuskan keluar dari gerbong untuk mencari minuman dingin. Baru saja meloncat keluar tetiba terdengar suara Sri Sultan Hemengkubuwono IX di belakangnya. “Hei Dok, mau kemana?” tanya Raja Jawa itu. “Ah tidak…Saya mau mencari minuman,” jawab Halim. “ Ik ga met u mee, ” jawab Sri Sultan sambil meloncat dari dalam kereta api. Sang adik Pangeran Bintoro lantas mengikutinya. Menyaksikan itu, Halim agak terperangah. Dia tak berani mengajak Sri Sultan karena berpikir mana mungkin seorang bangsawan yang kedudukannya sangat tinggi mau nongkrong  dengannya sambil minum di pinggir jalan. “Ini bisa bikin repot, mana ada restoran yang lumayan di dekat stasiun ini,” pikir Halim seperti dikisahkannya dalam buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX  (disunting oleh Atmakusumah). Meskipun agak segan, Halim menunggu Sri Sultan dan Pangeran Bintoro untuk menyertainya cari minuman. Mereka kemudian jalan beriringan keluar dari lingkungan Stasiun Klender. Beberapa meter dari stasiun nampaklah seorang tukang es puter tengah melayani para pembelinya. Merasa jengah jika harus mengajak Sri Sultan dan adiknya itu jajan minuman di pinggir jalan, Halim terus melewati gerobak es puter tersebut. “Hai Dok, mengapa berjalan terus? Ini kan ada es puter, di sini saja kita minum,” kata Sri Sultan. Jadilah mereka bertiga jajan es puter di depan Stasiun Klender. Anehnya, tak nampak gelagat dua bangsawan itu terlihat rikuh. Dengan santainya mereka menikmati es puter sambil berdiri di sela lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki. “Dengan kejadian itu, mendadak hilanglah sikap segan dari saya terhadap orang bangsawan yang feodal itu dan mulai terpikir oleh saya bahwa orang ini selanjutnya mungkin dapat menjadi kawan yang akrab,” ungkap Abdoel Halim. Kebersahajaan Sri Sultan juga terceritakan Komandan Komando Militer Kota (KMK) Yogyakarta Mayor Pranoto Reksosamodra pada 1950. Suatu hari Sri Sultan pulang blusukan dari pelosok. Di Desa Godean, tetiba Land Rover-nya dihentikan oleh seorang perempuan penjual beras. Tanpa pikir panjang, Sri Sultan menghentikan jip buatan Inggris itu. Belum Sri Sultan mengeluarkan sepatah kata, perempuan itu sudah berseru:  “Niki, karung-karung beras niki diunggahake!”  Rupanya, sang penjual beras yang tak mengenal wajah Sri Sultan mengira raja Jawa itu sebagai sopir angkutan beras yang biasa membawa para pedagang ke Pasar Kranggan di wilayah kota Yogyakarta. Sri Sultan pun mengangkat dua karung besar beras ke bagian belakang kendaraannya. Sementara itu sang penjual beras langsung menaiki jip dan duduk di samping Sri Sultan. Sepanjang jalan, mereka  ngobrol  dengan akrabnya hingga tak terasa sampai tujuan. Tanpa diperintah, Sri Sultan lantas keluar dari mobil. Dengan tangkas diturunkannya karung-karung berisi beras tersebut. Begitu selesai, penjual beras itu lantas merogoh kemben usangnya dan mengeluarkan uang lembaran dan disodorkan ke Sri Sultan. Lelaki ramah itu tersenyum dan menggelengkan kepala. Disikapi seperti itu, alih-alih berterimakasih, sang penjual beras malah  ngomel-ngomel , dikiranya “sang sopir” tidak mau menerima  ongkos karena jumlah uangnya yang kurang. Dengan sabar, Sri Sultan mengatakan ,” Pun boten sisah, Mbakyu.”   Artinya: tidak usah bayar, Mbak. Tanpa menunggu jawaban dari si penjual beras, Sri Sultan lantas memacu Land Rover-nya ke arah keraton. “E, eee…Diwenehi duwit kok nampik. Sumengkean temen ta sopir kuwi,”  gerutu penjual beras itu. Ya, siapa yang tak berkata demikian di zaman susah itu jika ada sopir angkutan yang begitu “belagu” menampik duit. Kendaraan Sri Sultan sudah berlalu, namun perempuan itu tetap saja mengomel. Tanpa disadarinya  sudah lama prilakunya disaksikan banyak orang yang ada di sekitarnya. Seorang polisi lantas menghampiri penjual beras itu dan memberitahu jika “sopir” yang baru diomelinya itu adalah  Ngarsa Dalem . Bukan main kagetnya penjual beras itu. Bahkan saking kagetnya, ia lantas terhuyung-huyung dan jatuh pingsan hingga dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda. Kejadian itu lantas berkembang dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga Sri Sultan. “Sri Sultan mendapat laporan bahwa si penjual beras dirawat di Rumah Sakit Bethesda, maka beliau pun memerlukan datang untuk menengoknya,” ungkap Pranoto Reksosamodra dalam otobiografinya, Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra: Dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya .*

  • Kisah Cinta Dua Dunia Sudhana dan Manohara

    Pada suatu masa hiduplah Sudhana, putra mahkota Pancala Utara, tanah makmur di mana ayahnyamemerintah dengan penuh kebajikan. Saat sedang berburu,dia melihat kinnari , manusia setengah burung, bernama Manohara yang ditangkap pemburu saat sedang mandi di danau. Dia jatuh cinta pada Manohara. Sudhana memberi kan hadiah yang mahal kepada pemburu untuk mendapatkan Manohara. D ia kemudian menikahinya. Manohara memberi kan permata kekuatan di dahinya kepada Sudhana. Pertanda Manohara menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya. Suatu hari, dua brahmana datang ke Pancala Utara. Brahmana pertama ingin menjadi imam bagi raja yang sedang bertakhta. Sementara brahmana kedua dijanjikan Sudhana akan menjadi imam kerajaan ketika dia duduk di singgasana. Mengetahui hal itu, brahmana pertama berusaha melenyapkan Sudhana. Dia membujuk raja untuk menugaskan Sudhana meredam pemberontakan. Baca juga:  Kisah Naga di Jawa Sudhana memberikan permata Manohara kepada ibunya. Dia meminta ibunya menjaga istrinya selama dia tidak ada.  Sudhana berhasil mengalahkan para pemberontak dengan bantuan pasukan raksasa hutan. Pada malam yang sama, ayahnya bermimpi. Dia meminta pendeta menafsirkannya. Pendeta itu mengetahui bahwa mimpi raja merupakan pertanda kemenangan Sudhana. Namun, dia mengatakan kepada raja bahwa mimpi itu pertanda bencana akan datang. Bencana bisa dicegah hanya dengan mengorbankan seorang kinnari .  “Raja menolak, tetapi pada akhirnya menyetujui permintaan tersebut,” tulis John N. Miksic, arkeolog National University of Singapore, dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas.  Mengetahui menantunya dalam bahaya, ratu menyuruhnya pergi. D ia kembalikan permata Manohara agar kinnari itu bisa terbang kembali ke kampung halamannya.  Manohara tak ingin pergi begitu saja meninggalkan Sudhana. Dia pun mampir ke rumah rsi di tepi danau. Dia menitipkan cincin bagi Sudhana dan memberi tahu bagaimana cara bisa menemukanya di negeri Kinnara dan Kinnari. Baca juga:  Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno Sudhana pulang membawa kemenangan,namun Manohara telah kembali ke istana ayahanya, Raja Kinnara. Dia lalu mendatangi kediaman rsi . Dia diberi cincin dan cara mencapai Kerajaan Kinnara. Sudhana meminta izin pada Raja Kinnara agar bisa kembali tinggal bersamaManohara. Setelah melewati serangkaian ujian, hubungan mereka direstui. Pasangan itu pun kembali bersatu. Kisah cinta dua dunia antara Sudhana dan Manohara tersua dalam relief Avadana di dinding Candi Borobudur. Dua dunia karena Sudhana adalah manusia sementara Manohara adalah kinnari yang menghuni khayangan. “Meski di dalam relief, Manohara digambarkan sepenuhnya berbadan manusia,” tulis Miksic. Kisah Paling Terkenal Dalam mitologinya, kinnari diperlakukan sebagai makhluk setengah dewa. Ia kerap muncul pada relief candi, baik yang berlatar Buddha seperti di Borobudur, Sewu, Mendut, maupun Hindu seperti Prambanan. Penampilannya dalam relief agak mencolok. Berbeda dengan penggambaran Manohara, kinnari lebih sering berwujud perempuan cantik dari kepala sampai pinggang, dan bagian tubuh ke bawahnya berwujud burung. Kinnari biasanya dilukiskan berpasangan dengan kinnara , wujudnya yang laki-laki. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari.  Mitologi kinnara-kinnari dikenal pula di wilayah Asia Tenggara. Khususnya yang mendapat pengaruh Hindu dan Buddha, seperti Thailand, Kamboja, dan Myanmar.  Di Candi Borobudur, kisah Putri Manohara bisa ditemukan di deretan cerita Avadana di tingkat tiga, pada relief dinding candi lorong pertama. “Avadana adalah kisah Buddha yang terkenal, termasuk tentang Putri Manohara,” tulis sejarawan Peter Levenda dalam Tantric Temples: Eros and Magic in Java . Manohara di Candi Borobudur. ( borobudurpedia.id ). Praktik Tantra Dalam kesusaatraan India, kisah tentang seorang pangeran yang kehilangan putri dan kemudian menemukannya kembali adalah gagasan yang akrab. Contoh yang paling terkenal adalah Ramayana . Ceritanya tentang Rama yang istrinya, Sita diculik oleh Rahwana, tapi kemudian merebutnya kembali dengan mengalahkan sang raksasa.  “Pernikahan Sudhana dengan seorang kinnari mungkin menunjukkan pesan Tantra yang lebih dalam,” tulis Levenda.  Baca juga:  Ketika Sumatra Menjadi Pusat Peribadatan Tantrayana Levenda menjelaskan dalam kisah Avadana, Sudhana melakukan pencarian untuk menemukan dan membawa kembali istrinya. Dia menyoroti, dalam kisah Manohara dan Sudhana rumah Manohara disebutkan berada di Kailasa, gunung suci Buddha Tibet dan Hindu Tantra yang terkenal. “Bagi umat Hindu, Gunung Kailasa adalah tempat tinggal Siwa dan Parvati,” tulis Levenda. Di gunung itulah Sudhana melakukan dan menemukan pencariannya, yakni Manohara. Lalu d ia bawa pulang setelah melalui serangkaian ujian.  “Seorang lelaki dan istri yang dipisahkan kemudian bersatu kembali. Istri adalah makhluk spiritual, yang tinggal di kerajaan ajaib dan dengan demikian dapat diartikan sebagai sumber kekuatan spiritual, shakti ,” jelas Levenda.  Menurut Levenda, pertemuan kembali Sudhana dan Manoharamewakili ide penyatuan bumi dan langit, duniawi dan ilahi. Kisah Avadana tentang Sudhana dan Manohara dapat diartikan sebagai pendekatan dualis terhadap penyatuan spiritual.  Baca juga:  Kisah Romansa Masa Lalu Kisah Sudhana setelah di Avada masih berlanjut di kisah Gandabvyuha. Dalam kisah Gandavyuha, Sudhana sekali lagi menjalankan misi suci. Bedanya, kali ini untuk pencerahan pribadinya.  Selama perjalanan pencarian ini, Sudhana mengunjungi 52 orang bijak dan suci. Ia mengumpulkan pelajaran penting dari masing-masing guru spiritualnya, hingga akhirnya dia menyadari bahwa rahasia pencerahan ada di dalam dirinya selama ini. “Sudhana, oleh karena itu, menjadi wakil untuk kemanusiaan secara umum, sarana untuk menunjukkan pencarian spiritual Buddha yang keras dan dengan praktik Tantra yang berkaitan dengan keseimbangan aspek kesadaran laki-laki dan perempuan,” jelas Levenda.  Baca juga:  Romansa dalam Relief Candi Beberapa waktu yang lampau, kata arkeolog Bambang Sulistya dalam “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara” yang terbit dalam Berkala Arkeologi Vol. 6 No. 2 (1985),keberadaan Tantrayana di Borobudur masih menjadi bahan perdebatan. Di antara ahli yang membahasnya adalah Noerhadi Magetsari, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasi berjudul “Candi Borobudur Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya” pada 1997. Dia menempatkan Tantrayana dalam kaitannya dengan ajaran keagamaan yang terdapat di Candi Borobudur.   Berdasarkan kajian terhadap kitab Sang Hyang Kamahayanikan (SHK), Noerhadi menjelaskan bahwa Candi Borobudur menunjukkan tahap perkembangan pengalaman seorang Yogin yang sejalan dengan uraian ajaran yang terangkum dalam SHK. Ajaran Paramita atau kebajikan diwujudkan melalui relief-relief Lalitavistara, Avadana, dan Jataka. Aliran Yogacara diwujudkan oleh relief Gandavyuha dan Badrawati. Sementara unsur Tantrayana diwujudkan dalam arca-arca Panca Tathagata. Melalui penempatan arca-arca yang memagari semua relief, Noerhadi pun menyimpulkan, Candi Borobudur sama dengan SHK, lebih menitikberatkan pada ajaran Tantrayana. Baca juga:  Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa

  • Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang

    BUKAN hal mudah bagi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Komodor Suryadi Suryadarma mengonsolidasikan kekuatan semenjak AURI (kini TNI AU) didirikan via Penetapan Pemerintah No. 6/SD tanggal 9 April 1946. Sejak masih bernama Tentara Republik Indonesia (TRI) Jawatan Udara, alutsista maupun sumber daya manusianya (SDM) masih tersebar dan belum satu komando. “Sejak diresmikannya AURI, praktis telah mendorong pimpinan untuk menyempurnakan organisasi. Betapapun sulitnya masalah waktu itu, khususnya dalam usaha mempersatukan TKR Bagian Penerbangan yang otonom telah kuat kedudukannya di masing-masing daerah, tidak jarang terbentur ketegangan pendirian yang sebetulnya tak perlu terjadi,” tulis Irna HN Sowito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950. Ketegangan pendirian itu terjadi antara lain di Pangkalan Udara (Lanud) Bugis di Malang, Jawa Timur (kini Lanud Abdulrachman Saleh). Butuh waktu hingga setahun sejak AURI berdiri sampai Lanud Bugis bisa diambil alih Markas AURI di Yogyakarta dari TRI Divisi VII/Suropati di bawah Jenderal Mayor Imam Soedja’i. Baca juga: Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara Ketua BKRO Malang Imam Soepeno (kiri) & Hanandjoeddin (kedua dari kiri) tengah memeriksa peninggalan Jepang di Lanud Bugis. (Repro  Sang Elang ). Lanud Bugis sejak 22 September 1945 direbut Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari tangan Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Pada 10 Oktober 1945, lima hari pasca-perubahan status dari BKR ke TKR, TKR Oedara (TKRO) Malang pun dibentuk untuk tempat sekolah penerbang dan bagian teknis untuk mengurusi 105 pesawat bekas Jepang yang menghampar di hangar-hangar Lanud Bugis. “Sebenarnya sekolah (penerbang Bugis) ini sudah berdiri sejak September 1945. Penggagasnya H. Soejono, eks-siswa penerbang Kalijati yang sudah meraih Klein Militaire Brevet (KMB), Soelistyo (eks-penerbang yang juga sudah memiliki KMB), Hendro Soewarno (eks-PETA), dan Soehoed, seorang teknisi,” ungkap Yos Bintoro dalam Fly to Fight: Biografi Komodor Udara Agustinus Adisutjipto. Baca juga: Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis Imam Soepeno ditetapkan sebagai ketua TKRO Malang. Untuk pimpinan teknis di lapangan dipercayakan kepada Anan alias Hanandjoeddin, pemuda kelahiran Pulau Belitung yang sebelumnya jadi kepala montir bengkel pesawat Jepang di bawah satuan tempur Ozawa Butai dan Tomimuri Butai. Anan membawahi sejumlah montir yang bertanggungjawab atas perbaikan dan perawatan 105 pesawat peninggalan Jepang. Mengutip Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI , Anan dan anak buahnya memanfaatkan pengetahuannya semasa bekerja untuk Jepang demi menghidupkan empat pesawat Cukiu (Tachikawa Ki-55) yang sebelumnya tak bernafas dalam waktu sepekan setelah berdiriya TKRO Malang. Dua di antara Cukiu itu sudah bisa test flight pada 17 Oktober dengan dipiloti Anan sendiri dan Atmo, eks-pilot Jepang, lantaran para kadet belum lulus sekolah penerbangan. Tarik-Ulur antara Yogya dan Malang Keberhasilan itu jadi pendorong Divisi VIII/Untung Surapati untuk kian dalam menancapkan kukunya sebagai pemegang otoritas lanud. Terlebih pasca-Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, Anan dkk. dari TKRO Malang diinstruksikan ikut pendidikan tempur. TKRO Malang sendiri nyaris dilikuidasi demi para personelnya dilebur ke Divisi VIII. “Pada waktu bersamaan, 12 November 1945 di Yogyakarta, sedang berlangsung Konferensi Markas Tertinggi TKR. Dalam konferensi itu diputuskan bahwa semua yang berhubungan dengan tugas-tugas penerbangan, diselenggarakan oleh Markas Besar Oemoem (MBO) Penerbangan di Yogyakarta. Dengan keputusan itu semestinya Lanud Bugis otomatis berada di bawah MBO Penerbangan. Namun kenyataannya Lanud Bugis berada dalam kendali Divisi VIII dan menghendaki dilebur saja karena ketiadaan biaya,” tulis Haril. Baca juga: Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma Konflik itu berlangsung hingga akhir November dan sampai jadi perhatian Sutomo alias Bung Tomo. Setelah pihak MBO Penerbangan Yogya menghubungi Bung Tomo, komandan Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) itu pun mencegah pembubaran TKRO Malang. “Bung Tomo figur yang sangat disegani semua jajaran petinggi pejuang Jawa Timur. Ketua BPRI ini menyambut keberadaan TKRO dengan antusias: ‘Tidak ada yang boleh membubarkannya!’ Atas prakarsa Bung Tomo, diadakanlah perundingan di Jalan Dr. Soecipto Nomor 1 Malang. Petinggi Divisi VIII dan pentolan TKRO Malang, Bung Anan, ikut diminta hadir membahas kelanjutan TKRO,” sambungnya. Suryadi Suryadarma & Agustinus Adisutjipto intens merundingkan proses integrasi Lanud Bugis. (Repro  Sejarah Pendidikan Perwira Penerbang: Periode 1945-1950 ). Dari perundingan itu diputuskan TKRO Malang sebagai unit pelaksana lapangan di Lanud Bugis tetap dipertahankan di bawah kewenangan Divisi III. Namun TKRO harus kompromi lantaran anggotanya secara bergilir dilatih dan ditugaskan ke front tempur. Walau statusnya tetap belum berpindah ke MBO Yogya, utusan-utusan dari ibukota acap mendatangi Lanud Bugis. Komodor Suryadarma bersama Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto melawat ke sana pada November 1945. Adisutjipto kembali lagi ke Bugis pada Desember 1945 untuk inspeksi pesawat dan kadet. Hal itu makin menumbuhkan keinginan Anan dan krunya untuk mencari cara-cara diplomatis agar bisa menginduk ke Yogyakarta. “Hingga memasuki Januari 1946, status Lanud Bugis belum juga jelas. Masih ingin mencari induk organisasi. Pihak Divisi VIII mengklaim Lapangan Bugis berada di bawah komandonya. Namun di kalangan anggota TKRO mulai menyadari sesungguhnya induk mereka adalah Markas Tertinggi Jawatan Penerbangan di Yogyakarta,” imbuh Haril. Baca juga: Peristiwa di Malang yang Terus Dikenang Suryadi Suryadarma Pada pertengahan Januari, perundingan antara pimpinan TKRO Malang dengan Suryadarma dan Adisutjipto digelar di Yogya dan Madiun, namun tak juga mendapat titik terang. Tarik-ulur makin terasa kala memasuki Februari 1946 dengan terjadinya pergantian status dari TKR menjadi TRI. “Seiring terbentuknya TRI Udara, pimpinan Suryadarma terus berupaya melakukan pengintegrasian semua lanud dengan maksud penyatuan kekuatan udara, tak terkecuali Lanud Bugis. Hingga saat itu status Lanud Bugis belum sepenuhnya di bawah Markas Tinggi TRI Udara Yogyakarta. Divisi VII (sebelumnya Divisi III) Jawa Timur tetap mengklaim Lanud Bugis di bawah komandonya,” ungkap Haril. Satu dari sekian pesawat Tachikawa Ki-55 "Cukiu" hasil perbaikan kru teknik Lanud Bugis. (Dispenau/Repro  Sang Elang ). Menjawab klaim itu Suryadarma terus-menerus mengirim utusan, seperti Opsir Udara (OU) H. Soejono, Opsir Muda Udara (OMU) III RA Wiriadinata, OMU II R. Soedirman, dan OMU I Soerjono untuk berkoordinasi dengan Ketua TKRO Imam Soepeno dan Lettu Anan. Mereka mengemban misi mendorong pengintegrasian TRI Udara Malang ke bawah komando Yogya. “Namun upaya itu tak serta-merta terwujud. Posisi TRI Udara Malang laiknya tali tambang dengan dua ujung yang saling menarik. Tegasnya penyatuan Lanud Bugis mengalami keseretan sehingga timbul semacam ketegangan diakibatkan kesalahpahaman siapa yang berkuasa. Garis komando memang masih dipegang Divisi VII, namun secara psikologis para prajurit Lanud Bugis yang dimotori Anan lebih merasa sebagai warga TRI Udara. Terlihat dari tindakan-tindakan berani Bung Anan yang terkesan tak sejalan dengan kebijakan pimpinan Divisi II,” tambahnya. Baca juga: Prajurit AURI-Belanda Gempur-menggempur di Malang Timur Kondisi psikologis para anggota TKRO yang merasa lebih sebagai bagian TRI Udara membuat Anan beberapakali melakukan tindakan nekat. Dia bahkan sampai dibui sepekan. Sebaliknya, banyaknya pesawat yang dimiliki Lanud Bugis membuat banyak pihak meminta bantuan pesawat ke sana. Termasuk Lanud Maguwo yang diwakili langsung oleh Komodor Muda Adjisutjipto. Kolase kepala teknik Lanud Bugis, Lettu/OMU III Hanandjoeddin. (Repro  Sang Elang ). Seiring berdirinya AURI pada 9 April 1946, pengintegrasian semua kekuatan udara diintensifkan lagi oleh KSAU Komodor Suryadarma. Momen itu berpengaruh pada Anan dkk. Mereka mendapat pangkat lagi selain dari Divisi VII. Selain punya pangkat lettu dari Divisi VII, Anan kini juga berpangkat OMU III. “Seingat kami ketika AURI baru terbentuk itu hanya ada 20 orang perwira di seluruh Indonesia, termasuk kami sendiri,” tulis Anan di buku hariannya yang dikutip Haril. Baca juga: Panglima Soedirman Diterbangkan AURI ke Bali Pemberian pangkat oleh komando dari Yogya itu, lanjut Haril, sebagai strategi mempercepat integrasi. Namun pangkat Anan itu baru berlaku secara resmi pada 9 April 1947 bersamaan dengan penunjukan Komodor dr. Abdulrachman Saleh sebagai komandan Lanud Bugis merangkap Lanud Madiun. Apresiasi itu dibalas Anak dkk. dengan mengirimkan sejumlah pakaian militer bekas Jepang yang terbuat dari wol kepada Presiden Sukarno dan para pimpinan AURI di Yogyakarta. Sebagai balasan atas apresiasi itu, Suryadarma berkunjung lagi ke Lanud Bugis pada 10 Mei 1946. Lawatan Suryadarma sekaligus untuk memberi ucapan selamat secara langsung pada keberhasilan percobaan penerbangan pesawat pembom Nakajima Ki-49 yang dinamai “Pangeran Diponegoro-I”. Testflight itu berlangsung pada 27 April 1946, turut membawa Pangsar Jenderal Sudirman keliling Malang hingga Bali. “Pak Surya sengaja datang untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada TRI Udara Lanud Bugis yang dinilainya telah banyak membantu kelangsungan perjuangan bangsa, baik berupa bantuan pesawat maupun barang-barang lain, terutama untuk membentuk kekuatan udara nasional. Kedatangan Pak Surya juga dalam rangka diplomasi untuk mempercepat proses integrasi,” sambung Haril. Panglima TRI Jenderal Soedirman usai diterbangkan ke Bali dengan pesawat pembom Nakajima Ki-49 "Pangeran Diponegoro-I" ( Angkasa  I No. 5 tahun 1950/Repro  Sang Elang ) Akan tetapi setelah mengetahui Anan dibui, pimpinan AURI mengirim Komodor Abdulrachman Saleh ke Malang beberapa kali sejak September 1946. “Pak Karbol (sapaan Abdulrachman Saleh) lebih mengedepankan kekuatan otak ketimbang otot, untuk menghindari terjadinya konfik antar-kesatuan. Ia melakukan berbagai upaya pendekatan sebelum melaksanakan pengambilalihan komando. Proses ini cukup panjang dan berliku, memakan waktu satu tahun,” ungkap Haril. Abdulrachman Saleh juga memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bersamaan dengan serangan Belanda atas Mojokerto pada 17 Maret 1947, ia menyarankan agar beberapa pesawat yang siap terbang lebih baik diamankan ke Yogya. Divisi VII lantas memberi restu pemberangkatan satu pesawat pemburu Nakajima Ki-43 “Hayabusa” ke Yogya. Baca juga: Selayang Pandang Lanud Atang Sendjaja Pesawat itu diterbangkan Abdulrachman Saleh bersama Anan. Anan kemudian diajak KSAU Suryadarma menemui Presiden Sukarno di Gedung Agung. Peristiwa itu turut mendorong kesepakatan antara pimpinan sipil dan militer di Yogyakarta guna mengintegrasikan Lanud Bugis ke bawah komando AURI di Yogya. “Upaya penyatuan Lanud Bugis dengan Markas Tinggi AURI akhirnya membuahkan hasil. Setahun lebih terombang-ambing, Lanud Bugis resmi di bawah komando Yogya. Pada 9 April 1947, Komodor Muda I Abdulrachman Saleh dilantik sebagai komandan Lanud Bugis merangkap Lanud Maospati Madiun. Upacara serah terima disaksikan utusan Divisi VII, Letkol Soekotjo,” tandas Haril.

  • Bogem Mentah Leo Wattimena

    SUATU pagi yang cerah di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakumah. Komodor (Udara) Leo Wattimena sedang memanasi pesawat P-51 Mustangnya di pinggir landasan. Namun, kondisi landasan Pangkalan Halim saat itu tidak begitu mulus. Pada pertengahan 1965, salah satu pangkalan udara tertua itu tengah direnovasi. Pengerjaannya meliputi  perpanjangan landasan 24 sepanjang 1000 meter dan pengurukan kerendahan tanah setinggi 20 meter. Proyek itu dinamakan Proyek Pringgodani. “Kami mendapat bantuan sepenuhnya dari Zeni Angkatan Darat berupa truk-truk dan alat-alat berat beserta personil-personilnya,” kata Kolonel (Udara) Wisnu Djajengminardo dalam Kesaksian: Memoir Seorang Kelana Angkasa . Wisnu saat itu menjabat sebagai komandan PAU Halim Perdanakusuma. Dia juga merupakan teman baik Leo Wattimena. Mereka seangkatan ketika sama-sama mengikuti sekolah penerbangan di Akademi TALOA, California, Amerika Serikat. Meski keduanya sejawat akrab, namun secara kedinasan, Leo yang menjabat Panglima Komando Operasi (Pang Koops) AURI adalah atasan Wisnu.    Ketika Leo bersiap-siap untuk tinggal landas, tiba-tiba truk tanah melintas. Tidak pelak lagi, tanah dan debu mengotori pesawat Mustang yang akan dikemudikan Leo. Kontan saja pilot tempur berdarah Ambon itu tersulut amarahnya. Dari dalam pesawat, Leo berteriak memerintahkan agar truk itu berhenti. Leo lantas turun dari kokpit dan dengan geram menghampiri truk yang sudah menepi tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Leo langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah  sopir truk. Sang sopir yang berpangkat kopral itu mulutnya berdarah. Beberapa buah giginya pun tanggal akibat ditinju Leo Wattimena. Setelah Leo melampiaskan emosinya, Si Kopral malang itu malah ditahan di Pangkalan Halim. Insiden pemukulan itu sampai kepada Wisnu yang bertanggung jawab atas keamanan di PAU Halim. Untuk memperoleh penjelasan, Wisnu mendatangi kantor Panglima Koops. Di sana, Wisnu mempertanyakan kelakuan sahabat sekaligus atasannya itu. “ Lee, wat heb je nou weer gedaaan?  (Lee, kau bikin gara-gara apa lagi?),” tanya Wisnu. “ Sorry , Nu, saya khilaf. Tolong temui Komandan Zeni untuk minta maaf. Biaya pengobatan akan saya tanggung,” balas Leo. “Komodor Leo yang harus pergi sendiri dan selesaikan masalah ini,” Wisnu menyanggah. “Ah, saya kan kostjongen  (anak kos) dan kamu kostbaas  (induk semang)-nya,” kata Leo berkilah. Secara administratif, ungkap Wisnu, Pang Koops memang berumah di Pangkalan Halim. Wisnu kemudian memerintah anggota Polisi Angkatan Udara untuk melepaskan si kopral yang ditahan tadi. Dari Halim, Wisnu mendatangi Direktorat Zeni di Jalan Matraman dengan berat hati. Tapi, apa boleh buat. Dia mesti pasang badan agar tidak menimbulkan ketegangan antar matra. Semula, Komandan Zeni Kolonel Soeratmo menerima Wisnu dengan muka masam. Namun, setelah melihat Komandan Pangkalan Halim yang menghadap untuk menyelesaikan persoalan, hati sang kolonel melunak juga. “Tolong sampaikan ke Komodor Leo agar tak semena-mena memukul anak buah,” begitu pesannya. Dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer di Indonesia  suntingan Soemakno Iswadi disebut Leo Wattimena memang diakui sebagai pilot legendaris Mustang yang temperamental. Namun, dibalik pribadinya yang keras, sebetulnya Leo seorang yang menyenangkan. “Tetap ada sisi halus dalam dirinya,” kata kolega sesama penerbang AURI Marsekal Ashadi Tjahjadi (Kepala Staf AU 1978—1982). Pesawat Mustang sendiri ibarat cinta pertama bagi Leo Wattimena. Begitu sayangnya sehingga dia tidak rela tunggangan tempurnya itu dijamah apalagi dinodai. Kecintaan itupun kiranya terkilas ketika Leo akhirnya ditugaskan ke Vatikan sebagai duta besar pada 1969. Tiada lagi pesawat andalan yang biasa diterbangkannya dengan manuver akrobatik. Leo menjadi terpukul lantaran harus berpisah dengan pesawat P-51 Mustang. “Begitu pensiun, ia seperti kehilangan orientasi,” tulis Iswadi. Sementara itu, meski dirinya sempat dibikin repot oleh ulah Leo yang lepas kendali, relasi pertemanan antara Wisnu dengan Leo tidak pernah berubah. “Sampai akhir hayatnya Leo adalah teman karib saya, Perwira Tinggi ABRI yang pertama menginjakkan kaki di bumi Irian Barat itu,” kenang Wisnu.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page