Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bertahan di Tanah Sultan
MAGRIB, 24 Maret 1946, terdengar ledakan dinamit sebagai tanda pembumihangusan. Bandung memerah. Komandan Resimen VIII TRI dan pelindung Laswi, Omon Abdulrachman, memerintahkan agar Laswi segera mundur sampai melewati jembatan Dayeuh Kolot, sebelum jembatan dihancurkan. Pukul 22.00, semua anggota Laswi melewati Dayeuh Kolot dan lalu langsung menuju Ciparay. Di bawah MP3, Laswi mendapat tugas menangani dapur perjuangan di seluruh sektor Bandung. Anggota Laswi mulai disebar ke setiap kesatuan untuk melaksanakan tugas dapur umum dan palang merah. Pusat dapur umum tetap berada di Ciparay untuk mengurus para pejuang di garis depan Dayeuh Kolot. Empat brigade Laswi diperbantukan ke dalam Batalyon I sampai Batalyon V. “Saya diperbantukan di daerah Sapan di bawah Batalyon III yang dipimpin Ahmad Wiranatakusumah. Tahunya di Sapan banyak teman waktu SMP,” ujar Euis Sari’ah alias Saartje menyebut nama anak bupati Bandung Wiranatakusumah V, yang kemudian jadi kepala staf Kostrad dan wakil panglima II Komando Siaga Ganyang Malaysia.
- Perempuan di Garis Depan
SEORANG perempuan muda nan cantik, berseragam tentara, memakai topi pet dengan rambut berkepang dua, berdiri tegak di Jalan Viaduct, Bandung. Ia memegang senjata. Gestur tubuhnya terlihat seperti terperangah dan geram. Ekspresi wajahnya keras, tengadah menatap tajam jauh ke arah tenggara. Lekuk tubuhnya menonjol, memberikan citra feminin. “Ketika saya membuat patung Tentara Pelajar, para veteran Laswi meminta saya membuat patung yang menyimbolkan perjuangan mereka,” kata seniman serbabisa Sunaryo, yang mengerjakan patung itu. “Saya membayangkan bagaimana membuat sosok wanita yang berani berjuang tapi tetap mempertahankan sisi kewanitaannya.” Rekan kerjanya, Amrizal Salayan St. Parpatih bilang desain awal patung dibuat agak kurus dan berdiri tegak, lebih realistis tapi menonjolkan sisi psikologis. Para veteran Laswi protes, karena kurang estetis. Untuk merealisasikannya, para veteran Laswi menggalang dana, sementara pemerintah kota Bandung menyediakan lahan dan membebaskannya dari pajak. Monumen Laskar Wanita Indonesia (Laswi) ini terbuat dari perunggu setinggi sekitar tiga meter, berdiri tegak di atas pondasi setinggi dua meter.
- Habis Gelap Terbitlah Sekolah
DALAM surat-suratnya, RA Kartini meratapi buta huruf di kalangan perempuan karena tidak tersedianya peluang pendidikan bagi mereka. “Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini dengan getir kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, 8/9 Agustus 1901. Setelah Kartini meninggal pada 1904, perjuangannya untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan dilanjutkan teman-teman Belandanya. Surat-surat Kartini antara 1899-1904 kepada teman-teman Belandanya, terutama Rosa Manuela Abendanon-Mandri, istri mantan direktur pendidikan, agama, dan industri Hindia Belanda Mr. Jacques Henry Abendanon, disunting secara selektif dan diterbitkan pada 1911 di Belanda dengan judul Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku tersebut meraih sukses besar di kalangan publik Belanda, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Indonesia, Melayu, Sunda, dan Jawa.
- Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi
DENGAN mendekap selimut dan mantel seadanya, sejumlah tawanan perang Jerman turun dengan hati-hati dari tangga kapal. Udara di Pelabuhan Hoboken, New Jersey, Amerika Serikat di awal Januari 1945 itu dingin dan bersalju. Roman muka muram para tawanan itu seketika berubah kala salah seorang di antara mereka melihat papan iklan di pelabuhan yang sangat familiar buat mereka. Dari kasak-kusuk satu tawanan yang kemudian menyebar, hampir semua takjub dan saling menunjuk ke reklame itu hingga membuat para penjaga keheranan. “Seorang penjaga berteriak memerintahkan para tawanan untuk tenang dan menuntut penjelasan. Seorang tawanan yang bisa berbahasa Inggris menguraikan, ‘kami terkejut. Bahwa kalian juga punya Coca-Cola di sini’,” tulis Mark Pendergrast dalam For God, Country and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink and the Company That Makes It.
- Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi
DI mobil Mercedes 320 convertible hijau yang menggelinding dari rumahnya menuju markasnya di Kastil Praha, 27 Mei 1942 pukul 10.32, SS-Gruppenführer (setara jenderal) Reinhard Heydrich mengobrol santai dengan sopir cum pengawalnya, Oberscharführer (sersan mayor) Hans Klein. Namun tak lama usai melewati tikungan di Distrik Libeň, sang Reichsprotektor Bohemia dan Moravia (kini Rep. Ceko) itu terkejut. Seorang pemuda membidikkan senapan mesin ringan Sten ke arahnya. Seketika Heydrich panik. Untung dia bisa mengendalikan diri untuk kemudian mengambil pistol Luger dari pinggangnya. Lebih beruntung lagi, si pemuda itu gagal melepaskan tembakan lantaran Sten-nya macet. Tetapi hanya sampai di situ keberuntungan Heydrich. Saat ia tengah gencar membalas tembakan dan memerintahkan Klein mengejarnya, seorang pemuda lain melemparkan granat dari arah belakang dan meledak mengenai ban belakang mobil berplat SS 3 itu. Paru-paru, limpa, dan tulang rusuk Heydrich terluka oleh pecahan granat itu.
- Seragam Jerman Nazi Buatan Hugo Boss
STYLISH dan tampak gagah. Demikianlah penampakan seragam perwira hingga para serdadu Jerman Nazi di Perang Dunia II. “Kalau saya lihat memang obyektif ya. Orang yang mengenakan seragam Jerman itu lebih (tampak) gagah dibandingkan seragam militer Amerika, Inggris, dll. Pertama , mungkin karena desainnya. Kedua , karena reputasi militer mereka juga. Kalau seragam Jerman sekeren itu tapi (reputasi militernya) acak-acakan kayak Italia, enggak akan heboh sampai sekarang. Jadi ada korelasinya,” ujar pemerhati sejarah militer Jerman Nazi, Alif Rafik Khan kepada Historia.ID. Kendati reputasi militer Jerman kala Perang Dunia II menuai banyak decak kagum, keputusannya memulai perang dan kekejian para kombatannya dalam holocaust atau pembantaian jutaan orang Yahudi dan sejumlah ras yang dianggap inferior membuatnya diabadikan sebagai penjahat.
- Kombatan Yahudi Mantan Nazi
CAT kamuflase wajah yang dikenakan tak melunturkan kejelitaannya. Seragam hijau yang membalut tubuh gemulainya dan sepatu bot merah khas IDF (Tentara Israel) yang membungkus kakinya juga tak mengurangi keanggunannya. Balutan keanggunan dan daya mematikannya kian lengkap dengan baret hijau muda yang bertengger di kepala Sersan Gaya Bertele. Bintara dari kesatuan Batalyon ke-227 “Bardelas”, salah satu batalyon campuran (prajurit pria-wanita) di bawah Brigade Regional Eilat, Komando Militer Selatan IDF, itu amat bangga dengan profesinya. Sersan Gaya sempat berkiprah hingga menjadi komandan skuad di salah satu batalyonnya yang punya lingkup tugas di wilayah Arava di perbatasan Israel-Mesir. Tetapi lantaran sebuah insiden yang membuatnya cedera, Gaya dipindah dari kombatan di lapangan ke belakang meja di markas brigade. Namun itu tak mengurangi rasa bangga prajurit cantik berusia 23 tahun itu, yang mungkin bisa bikin kakek dari pihak ayahnya bangkit dari kubur.
- Swastika, Lambang Mulia yang Dicemari Nazi
SWASTIKA. Simbol yang sejatinya eksis sejak ribuan tahun lampau itu tak dimungkiri sudah ternoda maknanya gegara Adolf Hitler cs. menggunakannya ketika menguasai Jerman lewat Partai Nazi. Pasca-Perang Dunia II, simbol itupun jadi hal yang haram dipergunakan lagi, kecuali oleh Ilmavoimat alias Angkatan Udara Finlandia. Unit Komando AU Finlandia menggunakan logo swastika sejak 1918 walau akhirnya ditanggalkan. Logonya berupa simbol swastika dihiasi sayap keemasan diganti menjadi elang berwarna emas di dalam perisai bulat berwarna biru yang dikelilingi enam sayap putih. Perubahan itu tak menimbulkan kegaduhan apapun lantaran Ilmavoimat mengubahnya tanpa pengumuman publik pada 2017. Publik baru aware ketika sejarawan dan pengamat politik internasional Universitas Helsinki Profesor Teivo Teivainen mengunggah sebuah utas di akun Twitter -nya, @TeivoTeivainen, 30 Juni 2020.
- Adik Goering Anti-Nazi dan Penyelamat Yahudi
HALAMAN kamp tahanan transit Augsburg suatu siang medio Mei 1945. Albert Goering (dalam bahasa Jerman ditulis Göring) sedang cari angin di saat waktu rehat sembari memikirkan nasibnya jelang dikirim ke Pengadilan Nuremberg itu. Rona mukanya sontak berbinar kala dari kejauhan sang kakak menyapa. Siapa lagi kalau bukan Hermann Goering. Sang kakak merupakan orang nomor dua di rezim Nazi setelah Adolf Hitler. Hermann juga tinggal menunggu waktu dikirim ke Pengadilan Nuremberg untuk mempertanggungjawabkan pecahnya Perang Dunia II dan holocaust yang menelan korban sekira enam juta nyawa Yahudi dan sejumlah ras lain yang dianggap Nazi sebagai ras rendahan. “Saya sangat menyesal, Albert, bahwa Engkau juga harus amat menderita karena aku. Engkau akan segera bebas. Lalu jagalah istri dan anakku. Selamat tinggal!” cetus Hermann, dikutip sejarawan William Hastings Burke dalam Thirty Four: The Keys to Göring’s Last Secret .
- Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman
HARI-hari kejayaan Reich Ketiga Nazi sudah berlalu. Tetapi gestur Hermann Goering (dalam bahasa Jerman ditulis Göring) menampakkan seolah tak terjadi satu hal apapun. Di hari yang cerah itu, 16 Mei 1945, di bawah pohon rindang Goering dengan seragam kebanggaannya duduk di hadapan sejumlah wartawan Inggris dan Amerika Serikat di Augsburg. Setelah menyerahkan diri ke pasukan Amerika Serikat di akhir Perang Dunia II, Goering masih membanggakan diri sebagai pemimpin Jerman yang sah pengganti Adolf Hitler. Dengan santai Goering melayani setiap pertanyaan yang terlontar di sesi konferensi pers, beberapa bulan sebelum ia diajukan ke Pengadilan Nürnberg, pengadilan penjahat perang yang digelar Sekutu, 20 November 1945-1 Oktober 1946. “Apakah Anda tahu bahwa Anda masuk dalam daftar penjahat perang?” tanya seorang wartawan, dikutip Ann dan John Tulsa dalam The Nuremberg Trial. “Tidak. Pertanyaan itu sangat mengejutkan saya karena saya tak bisa bayangkan alasan kenapa saya harus dimasukkan daftar itu,” jawab Goering.
- Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati
MESKI wajah kakunya tampak tenang, pikiran Dr. Joseph Goebbels tengah berkecamuk. Pagi itu, 29 April 1945, situasi kota Berlin kian mencekam mengingat pasukan Uni Soviet kian mendekati Führerbunker atau bunker di kompleks Reichkanzlei (Kekanseliran Jerman). Di hari itulah untuk pertamakali Goebbels menolak perintah Hitler. Setelah mengikuti sarapan “pesta” pernikahan Hitler dengan Eva Braun, Goebbels diminta Hitler untuk berusaha keluar dari kota Berlin. Hitler merasa harus menjadi kapten yang ikut tenggelam bersama kapalnya. Traudl Junge, sekretaris pribadi Hitler, masih ingat betul ketika Goebbels masuk ke ruangannya. Kala itu, Junge sedang mengalihwahanakan wasiat Hitler yang ditulis tangan ke mesin ketiknya. “Tiba-tiba Goebbels masuk tanpa saya sadari. Wajahnya tampak pucat seputih kapur. Air mata mengalir di pipinya…suaranya yang biasanya jernih menjadi bergetar. ‘ Führer ingin saya keluar dari Berlin, Nona Junge. Saya diperintah memimpin pemerintahan baru di utara. Tetapi saya tak bisa meninggalkan Berlin dan Führer ! Saya Gauleiter (kepala distrik) Berlin dan di sinilah tempat saya. Jika Führer mati, hidup saya tiada artinya’,” kata Junge dikutip T. Thacker dalam Joseph Goebbels: Life and Death.
- Pembantaian Penduduk Desa Kondomari oleh Serdadu Jerman-Nazi
DALAM perjalanan ke Desa Kondomari, sekira tiga kilometer dari lapangan terbang Maleme di Pulau Kreta, Yunani, Franz Peter Weixler, fotografer XI Fliegerkorps Division Wehrmacht (AD Jerman), sempat singgah di Desa Maleme. Di sana dia ditunjukkan kondisi beberapa mayat prajurit Jerman yang membusuk oleh Kapten Horst Trebes, komandan salah satu kompi di Batalion II Resimen Badai Lintas Udara 1 AD Jerman. Weixler dan Trebes pun berdebat. Weixler menyatakan mayat-mayat itu membusuk bukan disebabkan oleh penyiksaan yang dilakukan penduduk, tapi Trebes bersikeras mayat-mayat itu membusuk akibat siksaan penduduk. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Kondomari, tempat di mana Trebes akan memimpin ekspedisi untuk menghukum penduduk desa yang diyakini menyiksa tentara Jerman dalam Pertempuran Kreta (Mei-Juni 1941). Pertempuran Kreta terjadi pada fase awal Perang Dunia II. Merebut Kreta mendadak jadi obsesi Hitler setelah berhasil menduduki Yunani daratan pada April 1941. Upaya meyakinkan yang terus diutarakan jenderal-jenderalnya di Luftwaffe (angkatan udara) membuat Hitler khawatir Kreta, yang masih dikuasai Inggris (Sekutu), akan dijadikan sebaagi basis untuk menyerang pangkalan minyak terpenting Jerman di Rumania, Ploiesti, dan serangan-serangan lain di sisi selatan daratan Eropa. Hitler jadi ragu karena dia mesti membagi fokus yang tadinya tercurah seluruhnya untuk pematangan rencana invasi ke Uni Soviet.





















