Hasil pencarian
9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza
HARI Minggu pagi, 29 September 1957, Kapal Talise bersandar di Pelabuhan II Tanjung Priok. Kapal itu mengangkut pasukan perdamaian Indonesia Batalion Garuda I setelah delapan bulan bertugas untuk misi perdamaian di Mesir. Seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang, kedatangan mereka disambut ribuan handai tolan. Mulai dari Wakil Perdana Menteri III Hardi, pembesar militer dan sipil, perwakilan negara asing, hingga atase-atase militer. Selain para pembesar, rakyat biasa termasuk keluarga prajurit turut menyongsong para pasukan. “Pada umumnya anggota-anggota Batalion Garuda yang baru tiba kembali di tanah air itu, tampak segar-segar dan sehat walaupun tampak agak letih; mereka berpakaian uniform TNI lengkap dengan senjata-senjatanya memakai pet baret berwarna biru muda yang ditempeli dengan lencana PBB,” demikian diberitakan Harian Nasional , 1 Oktober 1957.
- Aksi Heroik Niek De Koning, Kawan Pendiri Kopassus
NIKOLAAS Jakobus de Koning, yang disapa Niek, sedang berada di Argentina waktu Perang Dunia II meletus. Tanah airnya, Belanda, diduduki tentara Jerman akibat perang itu. Maka demi membela tanah airnya, Niek pun meninggalkan benua Amerika. Niek, sebagaimana disebut kawan seperjuangannya Rudy Albert Blatt dalam laporannya berjudul To Live You Fight: A War Diary , adalah “mantan guru sekolah di Belanda, yang telah menguasai pasar domba di Argentina.” Bisnis itu dijalaninya sebelum Perang Dunia II meletus. Maka Perang pun agak mengganggu bisnisnya. Hidup baru akibat perang terpaksa harus dijalani Niek. Algemeene Dagblad tanggal 22 Oktober 1955 memberitakan, Niek mencapai Inggris dari Argentina pada 1941 dan dia lalu menjadi prajurit bawahan di sana. Ketika memulai karier militernya, itu usianya sudah 34 tahun. Dia kelahiran di Krabbendijke, Zeeland, Belanda, 16 September 1907. Setelah mengikuti pelatihan komando di Achnacerry, Skotlandia, Niek tergabung dengan pasukan komando Belanda di Inggris, Dutch Army nomor 2. Di sana juga tergabung pria bernama Raymond Paul Pierre Westerling (1919-1987) dan Rodes Barendrecht Visser (1915-1977). Bila Westerling kelak dikenal sebagai jagal dalam sejarah Indonesia, Visser dikenal sebagai pendiri pasukan khusus Angkatan Darat Indonesia, Kopassus. Sebagian dari pasukan itu kemudian dikirim melawan tentara Jepang di Burma, termasuk Niek dan Blatt. Setelah ditempatkan di Komando Nomor 5 ketika berada di India, keduanya lalu ikut diberangkatkan ke Arakan, Burma. “Rudy dan Niek duduk di dek depan kapal kecil yang mengangkut pasukan komando dari sebuah dusun yang agak tidak penting di semenanjung, entah di mana, ke pantai Burma. Mereka mengamati siluet pilot Arakan yang setiap dua menit menancapkan tiang bambu panjang ke dalam air untuk mengukur kedalaman, karena Sungai Naaf, terutama di muaranya, terkenal dengan dataran lumpurnya yang berbahaya,” kenang Wim van der Veer, atasan Niek dan Blatt di India, di koran Algemeene Dagblad tanggal 22 Oktober 1955. Sepanjang perjalanan, mereka hanya bisa bertanya-tanya apakah tentara Jepang akan muncul di tempat pendaratan mereka. Ini pertanyaan lazim dalam benak pasukan pendarat. Sebab, pasukan musuh di tempat pendaratan adalah lawan yang pertama kali akan mereka hadapi. Lamunan itu “buyar” di sekitar rawa-rawa jelang titik pendaratan karena terdengar long-longan anjing liar. “Setidaknya kita akan punya teman saat mendarat,” kata Niek. “Aku akan senang jika akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah, walaupun hanya rawa-rawa di sini.” Ternyata tak ada tentara Jepang yang menanti mereka di titik pendaratan. Suasana di sana justru tenang. Namun, di kejauhan terdengar gemuruh artileri yang samar dengan kilatannya. Pasukan komando Belanda itupun langsung menyebar. Mereka pun menggali lubang perlindungan dan terus waspada. Rudy mengambil senapannya lalu berlutut dengan satu kaki dan kaki lainnya menopang tangan yang siap menembakkan senapannya. Dalam posisi tersebut, tiba-tiba Rudy mendapat pukulan keras di bahu dan dada hingga senapannya terlepas. “Senapanku, senapanku!" teriaknya. Rudy terluka dan nafasnya tersengal-sengal dalam posisi berbaring. Matanya melihat bintang-bintang di langit malam itu. Ternyata, dalam kegelapan itu ada beberapa orang yang terjatuh. “Niek! Niek!” teriak Rudy mencari kawan-kawannya. Lantaran tak ada jawaban, Rudy berusaha berdiri. Dia harus segera pergi dari tempat berlumpur itu meski tubuhnya lelah, pusing, dan mual. Dalam gelap, lalu terlihat olehnya sesosok tentara mendatanginya. “Niek ... Niek! Niek!” Rudy kembali berteriak. Kali ini dia benar, orang itu adalah Niek. mengetahui kawannya terluka, Niek langsung memapahnya. Sementara itu, tentara Jepang terus menembaki mereka. Niek pun lari terengah-engah dan sempat jatuh karena beban berat yang dibawanya. Mereka akhirnya sampai di tempat aman. Berkat Niek, Rudy bisa dirawat dan selamat. Kisah penyelamatan Rudy oleh Niek yang diceritakan Wim van der Veer itu membuat Niek mendapat apresiasi. Dia lalu dianugerahi medali kehormatan Bronze Kross (Salib Perunggu) karenanya. Niek meneruskan karier militernya setelah Perang Dunia II selesai. Pangkatnya sudah letnan. Pada awal 1961, suratkabar Twentsche Courant tanggal 3 Februari 1961 memberitakan, Letnan Kolonel de Koning diangkat menjadi komandan Pasukan Komando Korps Speciale Troepen (KST) di Roosendaal. Jabatan tersebut terus diembannya hingga menjelang usia pensiun. Niek tutup usia pada 19 Mei 1997 di Apeldoorn, Gelderland, Belanda.
- Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda
MINAT besar Christiaan Snouck Hurgronje terhadap pemikiran dan kehidupan umat Islam Hindia Belanda yang ditemui di Arab Saudi membawanya berlayar ke wilayah koloni itu. Perjalanannya dimulai pada 1889, setahun setelah pria kelahiran Oosterhout, 8 Februari 1857 itu ditunjuk menjadi pejabat negara yang diutus ke Hindia Belanda. Menurut peneliti sekaligus dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jajang A. Rohmana, keputusan Snouck menerima tugas sebagai pejabat negara di wilayah koloni cukup menarik perhatian sejumlah pihak. “Setelah melakukan perjalanan ke Makkah dan banyak menulis tentang komunitas ulama-ulama Nusantara yang ada di Makkah, Snouck kembali ke Belanda. Kemudian barulah dia datang ke Hindia Belanda. Banyak orang yang menebak-nebak apa motif dan tujuan Snouck melakukan perjalanan ke Hindia Belanda, terlebih pada saat itu Snouck ditawari untuk menjadi seorang profesor di Leiden,” jelas Jajang dalam dialog sejarah Historia.ID berjudul “Snouck Hurgronje: Agen Pengetahuan atau Spionase Belanda?” Meski begitu, di balik beragam pertanyaan terkait motif dan tujuan Snouck, Jajang menyebut dorongan untuk pergi ke wilayah koloni sesungguhnya sejalan dengan minat Snouck terhadap pandangan dan kehidupan masyarakat dunia Timur, khususnya yang berkaitan dengan Islam. “Yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa Snouck merupakan sosok yang memiliki komitmen terhadap ilmu pengetahuan, terutama tentang Islam dan dunia Arab saat itu. Latar belakangnya sebagai seorang sarjana, dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang juga menaruh minat besar pada ilmu pengetahuan membuatnya totalitas untuk secara mendalam bergabung dengan umat Islam untuk merasakan bagaimana kehidupan umat Islam itu yang sebenarnya. Dan itu yang dilakukan Snouck sebagai seorang sarjana dan termasuk salah satu perintis bagaimana seorang ilmuwan dan antropolog yang hidup dan masuk secara langsung ke jantung kehidupan umat Islam itu sendiri,” tambah Jajang. Setibanya di Hindia Belanda, Snouck menjalin kontak dan berkorespondensi dengan sejumlah orang, tidak hanya kenalannya selama tinggal di Arab Saudi, tetapi juga dengan beberapa tokoh yang membuatnya mendapat gambaran lebih lengkap terkait pandangan dan kebiasaan penduduk lokal, khususnya yang beragama Islam. Snouck melaporkan hasil pengamatannya kepada pemerintah kolonial di Batavia dalam bentuk saran dan nasihat. Dia pernah menasihati pemerintah kolonial agar pandai-pandai melacak kelompok muslim yang dianggap berbahaya dan mengayomi mereka yang awam tetapi taat. Catatan-catatan Snouck juga dipublikasikan secara luas, salah satunya dalam Neerlands Indie Jilid I yang terbit di Amsterdam pada 1911. Catatan itu berisi tentang pengamatannya terhadap perkembangan Islam dan kehidupan umat Islam di Hindia Belanda. Snouck mencatat, Islam telah dikenal di Nusantara jauh sebelum eksplorasi besar-besaran orang Belanda. Sekitar pertengahan abad ke-14, datang seorang musafir Arab, Ibnu Battutah di Sumatra Pasai dan menemukan kerajaan Islam yang makmur; menurut nisan yang ditemukan dalam keadaan baik, kerajaan itu sudah berdiri satu abad. Di Gresik, di pantai utara Jawa, nisan Maulana Ibrahim, salah seorang dari sembilan wali, menjadi bukti untuk orang Jawa tentang masuknya Islam di negeri mereka, bahwa di awal abad ke-15, daerah ini sudah diislamkan. “Kita juga cukup mengetahui bahwa kira-kira sejak tahun 1200, pedagang yang beragama Islam dari jazirah India menetap di pelabuhan-pelabuhan dagang utama dari pulau-pulau Sunda Besar, dan di sana lambat laun berhasil mengajak penduduk pribumi untuk memeluk agama mereka... Seorang pedagang beragama Islam yang menetap di suatu negara untuk kepentingan dagang dan di sana tidak menemui teman seagama, ingin mengawini seorang wanita... Dengan demikian terbentuk masyarakat keluarga Islam... Demikianlah masuknya Islam di Hindia Timur,” tulis Snouck dalam Neerlands Indie Jilid I yang dipublikasikan oleh H. Colijn dan termuat dalam Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje IX . Selain mengamati proses masuknya Islam hingga menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara, Snouck juga mencari tahu tentang aktivitas umat Islam dan bagaimana masyarakat menerima serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dia mencatat bahwa bangunan yang disebut masjid sebagai tempat penduduk Muslim beribadah, sebagai penanda waktu salat telah tiba terdapat seseorang yang ditugaskan mengumandangkan azan. “Supaya mereka yang akan salat mengetahui saat salat sudah tiba, modin (juru azan) naik ke bagian atap atau menara masjid, lalu dengan suara nyaring dan nada yang enak didengar, mengumandangkan azan menurut lafal yang sudah ditetapkan,” tulis Snouck. Di desa-desa di Nusantara yang banyak pepohonan, azan tidak terdengar sampai jauh dan karena itu waktu melakukan ibadah diberi tahu dengan cara lain, yakni melalui bedug. Selain ditabuh untuk menandai waktu salat, bedug juga dipukul pada beberapa peristiwa penting lainnya. Misalnya, selama bulan puasa Ramadan, bedug dipukul dua kali sehari, yaitu sebelum fajar menyingsing sebagai tanda untuk mereka yang akan berpuasa bahwa saat menahan nafsu sudah tiba dan tidak boleh lagi makan dan minum, serta pada saat matahari terbenam, ketika orang berbuka puasa. “Bahkan untuk mayoritas yang tidak berpuasa, pukulan bedug mempunyai makna, sebab semua orang merayakan berakhirnya bulan puasa (hari raya puasa), bagaikan tahun baru –ini yang menyebabkan kebanyakan orang Eropa dengan salah menamakan perayaan ini tahun baru pribumi– dan pada malam puasa yang terakhir, awal perayaan ini ditandai dengan memukul bedug sampai larut malam,” jelas Snouck. Tak hanya menjadi tempat untuk beribadah, masjid juga berfungsi sebagai area untuk berkumpul dan bersosialisasi, di mana melalui pertemuan demi pertemuan muncul pertukaran gagasan dan ilmu di antara masing-masing orang. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, ketika perjalanan menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji semakin mudah, minat para pelajar di Nusantara untuk menempuh pendidikan di Makkah pun meningkat. Mereka yang telah lama menimba ilmu dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara di Arab Saudi kembali dengan membawa bekal ilmu yang disebarkan kepada penduduk. Snouck melihat pemikiran pan-Islam yang diperluas oleh mereka yang baru kembali dari Tanah Suci dapat memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah kolonial. Oleh sebab itu, untuk menahannya diperlukan suatu cara yang strategis, salah satunya dengan mendorong pendidikan dan pengajaran menurut cara Barat bagi penduduk lokal. “Untuk banyak orang akan terdengar aneh, namun toh benar secara harafiah, bahwa pemerintah kolonial Belanda dalam pers Islam yang luas, tercatat sebagai negara Eropa yang paling lalim dan tidak sabar terhadap kaum muslimin. Ini sebagian karena keluhan mengenai rintangan terhadap kebebasan bergerak mereka yang bertahun-tahun diumumkan ke seluruh dunia oleh orang-orang Arab yang menetap di Hindia dalam pers Arab dan Turki; sebagian lagi oleh apa yang sering diceritakan oleh pribumi yang ada di Makkah tentang gangguan yang pernah dilakukan beberapa pegawai pamong praja terhadap orang-orang Islam yang saleh atau ahli hukum Islam, sesudah terjadi suatu gerakan yang cenderung menimbulkan keonaran,” tulis Snouck. Perayaan Umat Islam Snouck juga mencatat kebiasaan penduduk Muslim di Hindia Belanda yang berkaitan dengan perayaan maupun hari-hari suci. Bila ada perkawinan, di desa-desa diadakan berbagai selamatan. Jamuan seperti itu, menurut tempat dan keadaan dikenal dengan nama slametan , sedekah , hajat , atau kenduri , juga diberikan pada waktu kelahiran, sunatan, masa tertentu dari kehamilan dan peristiwa lain dalam hidup manusia, pada hari kematian dan sesudah itu pada hari ke-3, ke-7, kadang-kadang juga ke-10, ke-100, dan ke-1000. Selain itu, perayaan hari ke-10 bulan yang pertama, Muharam atau Sura, dengan memakan semacam bubur yang disebut bubur Sura . Di bulan kedua, Safar, orang takut kepada pengaruh jahat yang mengancam manusia pada hari Rabu terakhir, dan di antara senjata sebagai penangkal, termasuk pula selamatan. Lalu, tanggal 12 bulan ketiga, Maulud, peringatan hari lahir Nabi Muhammad, dan sekaligus hari wafatnya. Perayaan ini dirayakan dengan meriah. Di keraton Jawa berlangsung grebeg dan para abdi dalem menghadap ke keraton. Di rumah bupati, orang-orang saleh dijamu dengan santapan maulud, dan di desa-desa tak jarang diadakan perayaan yang terbuka untuk umum. Pertemuan pada malam ke-27 bulan ketujuh, Rajab, terbatas pada lingkungan yang saleh, mendengarkan uraian tentang Isra dan Mikraj Nabi Muhammad. Sebaliknya, yang umum adalah perhatian dalam bulan kedelapan, di mana masyarakat umum membersihkan kuburan dan berziarah ke makam. Di bulan puasa, para raja dan bupati di Jawa mengadakan maleman , selamatan atau kenduri pada malam tanggal-tanggal ganjil antara tanggal 20 hingga tiba hari lebaran. Tak jarang rakyat kecil mengikuti contoh ini dengan cara yang lebih sederhana. Perayaan mengakhiri puasa, pada tanggal 1 bulan ke-10, adalah satu dari dua hari raya resmi, yang disertai peraturan tentang salat pagi di masjid, yang diiringi khotbah seperti salat Jumat. Pada hari-hari itu umat Muslim mengenakan pakaian terbaik untuk berbondong-bondong menuju masjid. Dalam catatannya, Snouck juga menyebut umat Islam di Hindia Belanda turut merayakan hari raya haji meski perayaannya tidak semeriah lebaran setelah berakhirnya bulan puasa. “Hari raya haji mempunyai arti sekunder, sedangkan perayaan sesudah puasa tidak pernah dilupakan orang, dan pada hari itu dan hari-hari berikutnya, orang meminta maaf kepada yang tua dan atasannya atas segala kekurangan selama tahun yang lampau. Yang mampu pada hari itu memberi atas nama dirinya dan oleh setiap keluarganya setakaran beras (fitrah) kepada yang miskin, yang dalam hal ini kebanyakan diwakili oleh pamong desa,” catat Snouck. Snouck menyebut pemerintah menjamin kebebasan kaum Muslimin dalam memeluk agama mereka. Namun, untuk penanggulangan penyalahgunaan maupun jaminan pemeliharaan ketertiban umum, pemerintah menganggap wajib mengadakan peraturan terhadap beberapa hal yang berhubungan dengan agama Islam. “Politik pemerintah Belanda terhadap Islam yang sesungguhnya dan telah diuji ialah: di bidang agama yang sejati, memelihara kebebasan beragama dengan jujur dan tanpa syarat; di bidang masyarakat (sosial), menghormati pranata rakyat yang ada, dengan membuka jalan yang dapat membawa kita ke evolusi yang diinginkan... Di bidang politik, penolakan dengan tegas semua tuntutan yang pan-Islamistik atau pretensi yang bertujuan memberikan hak kepada kekuasaan asing untuk memengaruhi hubungan antara pemerintah Belanda dan kawulanya di Timur,” tulis Snouck.*
- Ketika Presiden Soeharto Naik KRL
PRESIDEN Joko Widodo naik Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta bersama sejumlah figur publik pada Sabtu, 20 April 2019. Dia melakukannya setelah menghadiri sebuah pertemuan di pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Sebelumnya, dia telah beberapa kali menjajal MRT. Dia juga pernah menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk pulang ke Bogor pada 6 Maret 2019. Saat itu jam sibuk sehingga dia harus berdesakan dengan penumpang lain. Selain Presiden Jokowi, presiden lain yang pernah menjajal transportasi publik berbasis rel di dalam kota adalah Soeharto. “Penggunaan KRL untuk pertama kali dilakukan Presiden Soeharto dalam rangka peninjauan dan peresmian rumah sederhana di Depok Baru pada 12 Agustus 1976,” tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950—1990-an. Perjalanan Presiden Soeharto ke Depok, Jawa Barat, menandai penghidupan kembali layanan KRL. Moda ini berhenti melayani warga sejak 1965. KRL hidup kembali lantaran penerapan konsep Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).
- Kunjungan Sukarno ke Bulgaria
DALAM situs kemlu.go.id disebut bahwa Bulgaria merupakan salah satu negara yang memberikan dukungan dan pengakuan terhadap Republik Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Barangkali maksudnya Bulgaria termasuk negara yang cukup awal mengakui Republik Indonesia bersama negara-negara Uni Soviet lainnya. Pengakuan tersebut dikabarkan oleh Suripno, wakil mahasiswa Indonesia di International Union of Students (IUS), yang mengikuti Festival Pemuda Sedunia Pertama di Praha, Cekoslowakia, pada 1947. Selain membuka hubungan diplomatik dengan Uni Soviet yang tidak diakui pemerintah Indonesia, Suripno juga memberitahukan bahwa negara-negara blok Uni Soviet juga mengakui Republik Indonesia.
- Kecelakaan Helikopter di Puncak
LAKSAMANA Madya R.E. Martadinata menjabat Menteri/Panglima TNI AL (kini KSAL) dua periode selama tujuh tahun (Juli 1959–Februari 1966). Dia kemudian diperbantukan pada penggantinya, Laksamana Madya R. Moeljadi, selama beberapa bulan. Setelah itu, R.E. Martadinata ditunjuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia Berkuasa Penuh untuk Republik Pakistan pada 1 September 1966. Dia berangkat ke Pakistan tanpa disertai keluarga karena baru akan menyerahkan surat kepercayaan sebagai duta besar kepada presiden Pakistan. R.E. Martadinata sudah dikenal oleh pemerintah Pakistan, khususnya Angkatan Laut Pakistan, karena sewaktu menjabat Menteri/Panglima TNI AL pada 1965 dia mengirimkan satuan TNI AL untuk latihan bersama AL Pakistan.
- Tiga Prasasti Tarumanagara (Bagian I)
KAMPUNG Cibuaya di Karawang geger pada suatu hari di tahun 1951. Muasalnya dari warga bernama Warsinah yang sedang menggali sumur. Bukan air yang didapat, dia malah menemukan sebuah arca. Kaget, warga awam itu pun segera melapor ke aparat setempat. “Benda ini ditemukan oleh Pak Warsinah dari Kampung Cibuaya, ditemukan ketika ia menggali sedalam 21 meter. Patung ini setelah dilaporkan kepada Lurah Erman langsung diberikan kepada Camat pada waktu itu,” tulis sejarawan Halwany Michrob dalam artikel di Buletin Kebudayaan Jawa Barat, edisi No. 2, tahun 1976, “Beberapa Masalah dan Latar Belakang Kepurbakalaan di Indonesia”. Belakangan, yang ditemukan Warsinah ternyata adalah arca Dewa Wisnu –kelak dikenal sebagai Arca Wisnu Cibuaya I. Kemudian pada 1957 dan 1975, berturut-turut ditemukan arca mirip sehingga disebut sebagai Wisnu Cibuaya II dan Wisnu Cibuaya III. Kampung Cibuaya pun pun mulai jadi situs penggalian para arkeolog. Semua ternyata masih berkaitan dengan sejarah Tarumanagara.
- Jenderal Yoga Soegomo dan Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
JARAK antara pesawat Garuda DC-9 “Woyla” dengan pusat pengendalian krisis sekira 2.5 km. Di pusat krisis itulah Jenderal Yoga Soegomo, kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang menjadi negosiator pemerintah menjalin kontak dengan para pembajak. Sejak kedatangannya ke Bangkok, perundingan alot terus berlangsung antara Yoga dengan para pembajak. Minggu malam, 30 Maret 1981 pukul 22.30, komunikasi antara Yoga dengan Mahrizal, pimpinan pembajak ditutup untuk sementara. Di luar Bandara Don Mueang, suasana cukup tegang. Ratusan wartawan dari berbagai negara memburu berita pesawat Garuda yang tengah dibajak kelompok itu. Mereka terpaut jarak kurang lebih 300 meter. Dari pinggir jalan raya Vibhavadhi Rangsit yang menghubungkan Bandara Don Mueang dengan kota Bangkok. Semuanya harap-harap cemas dengan bidikan kamera yang terpasang. Sebagian besar dari mereka sudah menebak malapetaka terjadi sebentar lagi: pembajak akan meledakkan pesawat. Keadaan di pusat krisis lebih dari tegang. Jenderal Yoga memilih bungkam. Dari Jakarta, Pukul 23.00, Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mengontak Yoga. Soedomo melempar tanya, kapan jam D operasi militer dilancarkan. Yoga tidak menggubris. “Maaf”, katanya, “Situasi tidak memungkinkan.” Jawaban senada pula yang dikatakan Yoga ketika Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf meminta penjelasan serupa.
- Sebait Puisi dari Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
PADA 1 April 1981, Suryohadi, wartawan harian sore Sinar Harapan mereportase keadaan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang baru saja dibebaskan dari upaya pembajakan. Saat melongok ke dalam kabin, dia menemukan sehelai kertas bertuliskan puisi. Perasaan getir terungkap dari sajak berjudul “Oh Kapal” itu, yang kemudian diberitakan Sinar Harapan, 2 April 1981. Bila hari tiba dengan terang Tentu engkau akan padam pada dari derita Tetapi jika engkau waktu itu Sudah habis nasibmu yang baik Tentu ajalmu akan bersamaku Dan semua itu akan harus Berpisah dengan dunia ini Yang fana ini Selain bau amis darah yang mengering, sajak itu menjadi saksi bisu peristiwa teror dalam pesawat “Woyla” yang dibajak selama 65 jam. Penderitaan itu berakhir pada selasa dini hari, 31 Maret 1981 dalam operasi militer yang dilakukan pasukan elite Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Laporan resmi pemerintah menyebutkan semua pelaku pembajakan berhasil ditewaskan.
- Kisah Nenek yang Dilepas Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
SETELAH berhasil dikuasai, para pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” mulai beraksi. Dengan menodongkan pistol ke tubuh kapten pilot Herman Rante, para pembajak memerintahkan pesawat bergerak menuju Kolombo, Sri Lanka. Meski dalam tekanan, Herman Rante menolak karena bahan bakar pesawat yang terbatas. Lagi pula pesawat yang dikemudikannya tidak dilengkapi dengan peta penerbangan internasional. Akhirnya, pembajak setuju terbang ke Penang, Malaysia, sebagai tujuan sementara. Para penumpang, dikisahkan dalam majalah Senakatha No. 8, April 1990, awalnya bingung menghadapi keadaan tersebut. Hiromi Higa, penumpang kebangsaan Jepang tidak memahami apa yang terjadi. Kebanyakan penumpang semula menyangka bahwa aparatur keamanan sedang menangkap buronan. Ada pula yang mengira sedang ada pengambilan adegan film aksi dan menganggap aksi bersenjata itu sebagai guyonan belaka. Penumpang baru menyadari pesawat tengah dibajak setelah barang-barang milik mereka mereka ditadah oleh para teroris itu.
- Soeharto di Tengah Perang Dingin
BAGI seorang dengan ketertarikan studi terkait sejarah dan politik Asia Tenggara, sudah barang tentu mengetahui Soeharto. Sebagai presiden kedua Indonesia, ia masyhur karena sikap tangan besi dan laku korupsi, di samping label dirinya sebagai Bapak Pembangunan. Sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S), nama Soeharto belum banyak dikenal publik. Pasca kejadian tersebut, barulah ia mulai masuk dalam percaturan politik nasional. Hal ini tidak terlepas dari manuvernya di sekitar kejadian yang menewaskan enam jenderal dan satu perwira, di mana Soeharto memegang jabatan vital sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Tentu sosok Soeharto yang tiba-tiba muncul menggantikan Sukarno di tengah gejolak perpolitikan dan ekonomi, mengundang banyak akademisi menulis tentang dirinya. Teranyar, Mattias Fibiger, seorang peneliti hubungan internasional dan ekonomi-politik dari Harvard Business School, menjabarkan analisis mendalam bagaimana Soeharto memainkan peta politik internasional, guna meraih sekaligus mempertahankan kekuasaannya dalam buku berjudul Suharto’s Cold War: Indonesia, Southeast Asia, and the World .
- Cerita Korban Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
TEPAT 40 tahun silam terjadi peristiwa paling mencekam dalam sejarah penerbangan Indonesia: Tragedi Woyla. Pada 28 Maret 1981, pesawat Garuda DC-9 “Woyla” dengan nomor penerbangan 206 mengalami pembajakan oleh sekelompok teroris. Dari rute semula Jakarta–Palembang–Medan, pembajak berencana membawa pesawat berikut penumpangnya menuju Libya via transit di Colombo, Sri Lanka. “Mereka bersenjata api ketika memaksa pilot 25 mil menjelang Pekanbaru. Dari Penang para pembajak memerintahkan pilot terbang ke Bangkok setelah menurunkan Ny. Panjaitan (76 tahun) di Penang,” demikian diberitakan harian Angkatan Bersenjata , 31 Maret 1981 Pembajak terdiri dari lima orang. Mereka masing-masing bernama Mahrizal, Zulfikar, Abdullah Mulyono, Sofyan Effendy alias Abu Sofyan dan yang paling muda Wendy. Selama melakukan aksinya, mereka mengintimidasi, menganiaya, hingga melakukan pelecehan terhadap penumpang perempuan.






















