Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Wanita (Tak) Dijajah Pria Sejak Dulu?
BEGITU malam tiba, 20-30 perempuan keluar dari rumah masing-masing. Di bawah cahaya rembulan, mereka saling bergandengan tangan lalu berjalan keliling. Sebaris tembang keluar dari mulut pemimpin mereka dan segera diikuti yang lainnya. Mereka menyambangi rumah sanak-famili, orang-orang kaya, dan orang-orang terpandang. Uang kepeng dan bermacam barang lain menjadi buah tangan yang mereka bawa pulang. Para perempuan Jawa kuno itu rutin menggelar seni hiburan bernama “musik dalam cahaya bulan”. Aktivitas mereka tercatat dalam berita Tiongkok Ying yai Sheng-lan (1416 M), dan menjadi bukti perempuan sudah berkiprah di ranah publik. Mereka tak hanya menjadi penonton, tapi juga aktif sebagai aktor/pemain. Banyak pula yang menjadi pemain seni pertunjukan untuk mencari nafkah.
- Citarasa Hadrami, Citarasa Indonesia
SEJARAWAN Yunani, Herodotus, pada abad kelima sebelum masehi mencatat munculnya keingintahuan orang Barat akan asal-muasal rempah-rempah. Namun, pedagang Arab yang kala itu menjadi perantara niaga rempah di Eropa berhasil menyembunyikan asal-usul rempah-rempah itu. Dalam The Spice Route karya Jhon Keay disebutkan ketika orang Arab ditanya muasalnya rempah, mereka hanya menjawab bahwa kayu manis, salah satu jenis rempah, asalnya dari sarang burung. Burung-burunglah yang membawa potongan kayu manis itu dan menjadikannya bagian dari sarang. Dari mana burung-burung menemukan kayu manis? Hanya burung-burung itulah yang tahu.
- Petikan Gambus Entakkan Gendang
MUNIF Bahasuan, kelahiran tahun 1935, seorang penyanyi, komponis, dan pimpinan grup musik di era purwa-dangdut pada 1960-an. Ayahnya lahir di Hadramaut. Pada 1901, ketika usianya 12 tahun, ayahnya dibawa orangtuanya berdagang rempah-rempah ke Batavia. Ibunda Munif berasal dari Gresik, Jawa Timur. Keluarga ini sangat mapan secara ekonomi dan mengembangkan selera kosmopolitan. Kakak perempuan Munif, memainkan komposisi-komposisi piano gubahan Mozart dan Beethoven. Namun, Munif lebih memilih menyanyi dengan iringan musik leluhurnya: gambus. Dia sering menyanyi pada pesta-pesta dengan iringan orkes gambus. Dia mulai menjadi penyanyi bersama grup Orkes Gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfi di Radio Republik Indonesia Jakarta.
- Tentang Dua Kelenteng yang Bersejarah
LAKSAMANA Muslim Cheng Ho (Sam Po) tiba di Semarang pada paruh pertama abad ke-15. Dia menyinggahi sebuah masjid, yang didirikan komunitas Tionghoa Muslim, di bukit Simongan. Di dekat masjid ada sebuah gua. Karena nyaman, Cheng Ho menggunakannya untuk bersemedi dan beristirahat. Sambil menunggu angin untuk berlayar, Cheng Ho dan rombongannya berinteraksi dengan penduduk setempat. Dia pun digelari Kong oleh penduduk, artinya orangtua yang dihormati.
- Generasi Para Penghibur
ABU Bakar Bafagih muda diminta mengelola pabrik batik milik keluarga di Pekalongan. Namun, Bafagih tak punya minat berbisnis. Hatinya tertambat pada sandiwara stambul. Maka, dia pergi dari rumah, ikut rombongan kelompok stambul di Jawa Timur. Setelah keluar-masuk menimba ilmu di beberapa rombongan, dia membentuk kelompok stambulnya sendiri: Opera Valencia. Opera Valencia lantas hijrah ke tanah Priangan. Di Sumedang dia bertemu seorang biduanita tonil Sunda bernama Nyi Tjitjih. Terkesima, Bafagih mengajaknya bergabung. Gayung pun bersambut.
- Kasus Perampokan Kereta Api Terbesar
MALAM telah larut saat rangkaian kereta api yang mengangkut berbagai barang dan paket bernilai tinggi melintas menuju London pada awal Agustus 1963. Mulanya tak ada hal aneh yang terjadi di sepanjang perjalanan kereta api yang berangkat dari Glasgow, Skotlandia, tersebut. Namun, ketika kereta melintasi kawasan Buckinghamshire di Sears Crossing, dekat desa Ledburn, terjadi aksi perampokan yang di kemudian dikenal dengan The Great Train Robbery . Sejumlah nama yang disebut sebagai pelaku aksi perampokan itu, di antaranya Bruce Reynolds, pria jangkung dan berambut cokelat berusia 32 tahun yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang barang antik; Ronald Christopher “Buster” Edwards, mantan petinju bertubuh kekar yang mengelola sebuah klub malam; Charlie Wilson, pria berusia 31 tahun yang mengelola sebuah toko bahan makanan; serta Gordon Goody, seorang pria muda yang pernah ikut ambil bagian dalam Perang Dunia II.
- Pangeran Makassar Membela Raja Louis-Prancis
SETELAH Daeng Mangalle terbunuh di Siam atas tuduhan konspirasi melawan raja Siam, dua anak laki-lakinya yakni Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, kemudian jadi tawanan perang. Beberapa pengikut Daeng Mangelle memang sempat menghabisi istri dan anak Daeng dalam pertempuran September 1686 agar tidak menjadi tawanan atau budak, namun Daeng Ruru dan Daeng Tulolo tidak berhasil. Keduanya lantas dikapalkan ke Brest, Prancis pada November 1686 dan tiba di sana pada 15 Agustus 1687. “Keduanya masih muda, berumur masing-masing 14 dan 12 tahun,” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan . Keduanya disukai Raja Louis XIV yang berkuasa di Perancis hingga dipersilahkan belajar bahasa Perancis. Bahkan keduanya diperbolehkan memakai nama Louis sehingga Daeng Ruru sebagai Louis Pierre Makassar dan Daeng Tulolo sebagai Louis Dauphin Makassar.
- Di Balik Operasi Bayi Biru yang Bersejarah
Film Something the Lord Made yang dirilis pada 2004 diadaptasi dari sebuah peristiwa bersejarah dalam dunia kedokteran, yaitu operasi bayi biru yang dilakukan seorang ahli bedah bernama Alfred Blalock di John Hopkins, Amerika Serikat pada November 1944. Dalam film yang disutradarai Joseph Sargent itu dikisahkan Blalock, diperankan aktor kawakan Inggris Alan Rickman, menerima tantangan untuk melakukan operasi terhadap seorang bayi perempuan berusia delapan belas bulan yang sakit parah dengan penyakit jantung sianotik yang fatal. Kelainan jantung ini menyebabkan tubuh pasien mungil tersebut tampak membiru. Menurut dokter bedah jantung, Wililiam S. Stoney dalam Pioneers of Cardiac Surgery , istilah “bayi biru” menggambarkan pasien dengan kelainan jantung bawaan yang mengedarkan darah arteri yang tidak jenuh. Hal ini menyebabkan perubahan warna kebiruan pada anak, yang paling terlihat pada bibir, mata, dan kuku. Meskipun terdapat banyak kelainan jantung yang menyebabkan “penyakit jantung sianotik”, namun yang paling umum terjadi setelah masa bayi adalah Tetralogy of Fallot (ToF), yang dinamai sesuai nama dokter Prancis, Etienne Fallot, yang pertama kali mendeskripsikannya secara akurat pada 1888. Dua ciri penting yang berkaitan dengan ToF adalah terhalangnya aliran darah ke paru-paru (stenosis paru) dan defek septum ventrikel yang besar (celah di antara dua bilik pemompaan jantung), yang memungkinkan darah vena biru disalurkan ke dalam sirkulasi sistemik.
- Kisah Perwira TNI Sekolah di Luar Negeri
UNTUK naik ke jenjang perwira tinggi, perwira menengah TNI diharuskan sekolah staf dan komando lebih dulu. Para perwira ini biasanya dikursuskan mulai dari pangkat mayor yang dipersiapkan menduduki jabatan staf dan komando setingkat lebih tinggi. Pada dekade 1950—1960-an, banyak perwira menengah TNI Angkatan Darat (AD) yang disekolahkan ke luar negeri. Pada 1957, enam orang perwira menengah TNI AD disekolahkan ke Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Mereka antara lain: Letkol Maraden Panggabean, Letkol Moersjid, Letkol Prijatna, Mayor Soehario Padmowirio, Mayor Subroto (Brotosewodjo), dan Mayor Chris Sudono. Maraden dan kawan-kawan ditugaskan mengikuti kursus lanjutan perwira infantri selama delapan bulan hingga setahun. Mereka berangkat ke Amerika pada pertengahan April 1957.
- Selamat Jalan Gogon, Si Rambut Jambul
KABAR duka datang dari salah seorang pelawak anggota Srimulat yang memiliki ciri khas berambut jambul dan berkumis ala Adolf Hitler. Jhoni Margono, atau dikenal dengan Gogon Srimulat, meninggal dunia dalam usia 59 tahun, di sebuah rumah sakit di Kotabumi, Lampung, 15 Mei 2018 pagi. Lika-liku Gogon di panggung komedi terbilang singkat. Dia bergabung ke Srimulat pada 1982. Srimulat melambungkan namanya di dunia lawak tanah air. Gogon lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 31 Januari 1959. Gogon muda sebenarnya tertarik seni lukis. Dia bahkan bertekad menjadi seorang pelukis.
- Insiden Menghebohkan di Stasiun Kroya
STASIUN Kroya salah satu stasiun kereta api terpadat di Pulau Jawa. Ia terletak di Desa Bajing, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Letaknya yang terletak di tengah Jawa berperan menghubungkan jalur kereta api lintas tengah dan selatan Pulau Jawa. Stasiun ini telah beroperasi sejak zaman kolonial Belanda. Berdasarkan laporan yang diterbitkan Staatsspoorwegen, perusahaan pemerintah yang menangani jalur kereta api dan trem di Hindia Belanda, dalam Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-193 2, Stasiun Kroya termasuk salah satu stasiun kereta api tertua di Jawa. Pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Cilacap-Kroya-Kutoarjo-Yogyakarta pada tanggal 20 Juli 1887. Pada 1 Juli 1916, jalur kereta api Prupuk-Kroya dibangun untuk menjaring penumpang dari wilayah Cirebon. Pada 1 November 1929, Staatsspoorwegen meresmikan kereta api Eendaagsche Express yang melayani rute Batavia-Surabaya. Stasiun Kroya kemudian difungsikan sebagai tempat penggabungan rangkaian Eendaagsche Express dengan pengumpannya yang datang dari Bandung. Seiring waktu, rute jalur kereta api dari dan melalui Stasiun Kroya semakin meluas menuju ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Pada jalur selatan, Stasiun Kroya menghubungkan Bandung dengan Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Sementara pada lintas tengah, menghubungkan Jakarta dengan Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Tak pelak, stasiun ini memiliki tingkat lalu lintas kereta api terpadat di Daerah Operasi dan Divisi Regional Kereta Api Indonesia (Daop) V Purwokerto. Sekali waktu, terjadilah peristiwa yang menghebohkan di Stasiun Kroya. Pada hari Sabtu, 31 Januari 1959, suasana stasiun pada pagi hari masih tenang seperti biasa. Seketika perhatian orang-orang teralih kepada seorang laki-laki yang tergopoh-gopoh keluar dari toilet stasiun. Si pria berusaha mengejar kereta api yang baru saja berangkat. Tapi, gelagatnya agak kurang wajar. Kedua belah tangannya tampak masih repot memegang celana yang belum terkancing. Dalam keadaan demikian, dia masih berupaya meraih gerbong terakhir. Usahanya sia-sia belaka. “Sudahlah, sudah,” orang-orang coba menenangkannya. “Jangan memburu-buru, nanti malah celaka kelindas sepur.” Si pria belum rela dirinya ditinggal kereta. Dengan nafas terengah-engah, dia menggerutu sekonyong-konyong. Rupanya kawannya sudah masuk duluan ke dalam kereta. Itulah yang membuat hatinya gelisah gundah gulana. “Dia terbawa dalam sepur itu, padahal tidak punya karcis,” kata si pria. “Lo, kok bisa begitu?” tanya orang-orang. “Begini. Tadi saya datang ke stasiun diantar teman saya itu. Karena saya mau berak, teman itu saya suruh beset (menduduki) tempat duduk di dalam gerbong. Sedang saya berak dalam kakus, saya dengar sepur sudah berangkat,” tuturnya. Orang-orang tersenyum geli mendengar keluhan si pria. Tapi, mereka coba menghiburnya. “Tunggulah saja sepur nanti siang. Mari kita duduk dulu.” “Mana bisa saya duduk,” sahut laki-laki itu. “Lo, bagaimana?” “Habis, saya belum... belum... belum cebok,” jawabnya tersipu malu. “Aaaii,” seru orang-orang serentak, “Pantas baunya begini macam. Sana tunggu duduk di kakus saja!” hardik salah satu di antara mereka. Demikian dikisahkan dalam koran pagi Harian Umum , 4 Februari 1959. Tak disebutkan siapa nama penumpang malang itu. Namun, dari kejadian itu kiranya memunculkan pesan kepada khalayak yang masih berlaku bahkan sampai saat ini, supaya jangan makan banyak-banyak jelang bepergian jarak jauh, khususnya bagi pengguna kereta api. Kalau kebelet, bisa repot urusannya.*
- Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia
BANGUNAN di Italia itu tampak biasa jika dilihat secara kasat mata. Namun, bagi para perempuan muda yang menjadi korban kekerasan rumah tangga oleh suami mereka, atau orang-orang yang ingin menguasai harta kekayaan pasangannya, bangunan tersebut menjadi tujuan yang tepat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yakni, Aqua Tofana, sebuah racun yang dikemas seperti produk kecantikan yang memiliki efek mematikan pada abad ke-17. Menurut sejarawan Mike Dash dalam “Aqua Tofana”, termuat di Toxicology in the Middle Ages and Renaissance , Aqua Tofana adalah nama yang diberikan kepada racun yang, menurut catatan kontemporer, pertama kali diciptakan di Sisilia sekitar tahun 1630 dan digunakan secara luas di Roma pada pertengahan abad ke-17. “Racun ini dibuat dan didistribusikan oleh sekelompok ‘wanita bijak’ kepada klien yang hampir seluruhnya perempuan, dan digunakan terutama untuk membunuh suami yang kejam atau tidak diinginkan.... Racun Aqua Tofana merupakan larutan yang mengandung arsenik dan timbal, dan mungkin juga ditambahkan corrosive sublimate yang merupakan istilah kontemporer untuk klorida merkuri,” tulis Dash. Catatan pertama tentang Aqua Tofana berasal dari tahun 1632-1633, ketika itu dua persidangan pembunuhan dengan racun berlangsung di Palermo, Sisilia. Dalam persidangan pertama pada 1632, seorang wanita bernama Francesca la Sarda dieksekusi karena menggunakan racun untuk membunuh korbannya dalam waktu tiga hari. Sedangkan pada Juli 1633, wanita lain, Teofania di Adamo, dihukum mati karena kejahatan serupa. Informasi mengenai pembuat racun yang bereaksi secara lambat tapi mematikan itu cukup beragam. Andrew Bisset menulis dalam Essay on Historical Truth , Tofana atau Tofania merupakan otak di balik terciptanya Aqua Tofana. Ia penduduk Sisilia yang pernah tinggal di Palermo lalu Naples. “Kapan dia mulai menjalankan profesinya tidak pernah dicatat; tetapi pasti pada usia yang sangat muda, dan sebelum tahun 1659,” tulis Bisset. Sementara itu, James C. Whorton mencatat dalam The Arsenic Century , Toffania, Tophana, atau Tophania menjual Aqua Toffana yang mengandung arsenik dengan kedok sebagai losion kosmetik. Senyawa arsenik memiliki sifat tertentu jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat, tetapi klien Tofana tampaknya lebih berminat menggunakan senyawa tersebut untuk melenyapkan pasangan mereka daripada memanfaatkannya untuk menghilangkan noda di kulit. Aqua Tofana bekerja sangat lambat, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Inilah yang membuat produk tersebut menjadi primadona bagi mereka yang “membutuhkannya”. Jika diberikan sesuai dengan instruksi yang diberikan, Aqua Tofana dapat menyebabkan kematian pada hari yang telah ditentukan. Seorang dokter dari abad ke-18 memeriksa pasien yang mengonsumsi Aqua Tofana dalam kurun waktu tertentu akan sulit mengidentifikasi bahwa ia telah diracuni. “Seorang dokter di abad itu bisa saja menyatakan seseorang yang mengonsumsi racun tersebut mengalami ‘penurunan bertahap pada vitalitas hidupnya tanpa gejala yang parah; perasaan sakit yang tak terdefinisikan, kehilangan tenaga, demam ringan, kurang tidur, nafsu makan dan minum yang menurun, serta perasaan kehilangan semangat serta kenikmatan hidup lainnya’, setelah sejumlah hal itu terjadi, tinggal menunggu waktu hingga hidup sang korban benar-benar berakhir,” jelas Whorton. Melalui kerahasiaan yang ketat, perubahan alamat, dan penyamaran yang rutin dilakukan, Tofana berhasil menghindari deteksi selama puluhan tahun....Diperkirakan 600 orang telah tewas akibat produk racikannya, “termasuk rumor, dua orang paus turut menjadi korban. Jadi, bukan hanya suami yang harus takut pada Tofana, tetapi orang-orang yang memiliki kekuasaan juga rentan. Pejabat Naples bahkan melaporkan bahwa Aqua Tofana ‘menjadi momok bagi setiap keluarga bangsawan di kota itu’,” tambah Whorton. Tofana meracik ramuan racun dengan teliti dan berhati-hati, sehingga sulit mengidentifikasi apakah produk kecantikan di meja rias para wanita Italia benar-benar untuk bersolek atau alat untuk merenggut nyawa seseorang. Racun Tofana digambarkan sebagai cairan jernih tak berasa. Empat atau enam tetes dianggap dosis yang cukup. Namun, pendapat umum menyatakan cairan itu dapat disesuaikan atau diatur sedemikian rupa sehingga dapat membunuh dalam waktu tertentu, mulai dari beberapa hari hingga setahun atau lebih. Meskipun mampu menutupi praktiknya selama kurun waktu tertentu, Tofana atau Teofania di Adamo dan Francesca la Sarda, yang berperan sebagai asisten Tofana, akhirnya terbongkar. “Hukuman yang sangat berat dijatuhkan kepada di Adamo menunjukkan bahwa kejahatannya dianggap tindakan yang sangat kejam; ada sejumlah catatan yang menyampaikan bahwa ia dihukum gantung, dipotong menjadi empat bagian, atau dibungkus dan diikat hidup-hidup dalam sebuah kantong....[dan] dilemparkan dari atap istana uskup ke jalan di hadapan rakyat,” jelas Dash. Rekan-rekan Tofana yang selamat dari penangkapan massal di Palermo melarikan diri ke Roma. Mereka terus memproduksi dan menjual Aqua Tofana. Kelompok ini dipimpin oleh Giulia Tofana, putri Tofana, yang memelajari cara membuat ramuan racun itu dari ibunya. Ia didampingi oleh Girolama Spara dan merekrut beberapa orang di Roma yang memiliki pengetahuan tentang kota dan penduduknya. Menurut penyelidikan pada akhir 1650-an, kelompok Tofana memeroleh arsenik melalui seorang pemuka agama di Roma, dari saudaranya seorang apoteker yang memiliki akses ke senyawa beracun tersebut. Dash mencatat, setelah Guilia Tofana meninggal sekitar tahun 1651, Spara mengambil alih pimpinan jaringan rahasia tersebut. Spara merupakan janda bangsawan Florentine dan memiliki koneksi yang cukup kuat ke kalangan aristokrat. Sementara rekan kerjanya, Giovanna de Grandis, menangani klien dari kelas sosial yang lebih rendah. Penyelidikan menyatakan, kedua wanita itu mendapatkan arsenik dari seorang pemuka agama dan menyamarkannya dengan mengubahnya menjadi cairan dalam botol kaca yang disebut “Manna of St. Nicholas”, sebuah produk yang dipromosikan sebagai minyak penyembuh populer dan dijual sebagai ramuan untuk menghilangkan noda di wajah. Jaringan yang dipimpin Spara akhirnya menarik perhatian otoritas Romawi pada 1658. Dalam biografi tentang Paus Alexander VII disebutkan bahwa kabar tentang racun pertama kali bocor di ruang pengakuan dosa. Sementara itu, catatan pengadilan menceritakan kisah pernikahan yang tidak bahagia dan menawarkan jumlah besar untuk racun yang akan membunuh suaminya. “Sidang terhadap anggota jaringan Aqua Tofana yang tersisa mendengarkan bukti tentang 46 pembunuhan. Lima pemimpin jaringan, termasuk Spara dan de Grandis, digantung di hadapan kerumunan orang dan lebih dari 40 pelanggan kelas bawah jaringan tersebut diadili bersamaan, kebanyakan di antaranya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup....[tahun] 1838 sejarawan Alessandro Ademollo menemukan bukti yang menunjukkan bahwa nama-nama beberapa korban yang lebih terkemuka secara sosial sengaja dihilangkan dari persidangan atas perintah Paus. Yang paling terkenal di antaranya adalah Duke of Ceri, bangsawan Roma yang dikabarkan diracuni oleh istrinya yang jauh lebih muda. Duchess tersebut lolos dari hukuman, tetapi diperintahkan untuk menikah lagi,” catat Dash.*






















